Mengubah Keringat Menjadi Pahala: Niatkan Olahraga untuk Ibadah

Mengubah Keringat Menjadi Pahala: Niatkan Olahraga untuk Ibadah

Kediri – Bagi sebagian besar orang, olahraga adalah sarana untuk menurunkan berat badan, membentuk otot, menjaga penampilan, atau sekadar menjaga stamina agar tidak mudah lelah. Tentu saja, tujuan-tujuan tersebut tidak salah. Namun, pernahkah kita berpikir untuk membawa aktivitas fisik ini ke level yang lebih tinggi?

Sebagai seorang Muslim, olahraga sebenarnya bisa bernilai jauh lebih mulia dari sekadar urusan fisik. Tujuan utamanya adalah sebagai bentuk syukur dalam rangka menjaga nikmat besar yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan kepada kita: yaitu nikmat kesehatan dan kesempurnaan tubuh agar kita bisa lebih semangat beribadah.

Menjadi “Bahan Bakar” untuk Beribadah

Bayangkan saat Anda sedang melakukan easy run (lari santai) sejauh 3 kilometer di pagi hari. Jika niatnya diubah, setiap langkah kaki kita bukan lagi sekadar membakar kalori, melainkan sarana agar ke depannya kita lebih mudah melangkahkan kaki menuju masjid, untuk umroh, maupun untuk ibadah Haji.

Tubuh yang bugar dan terlatih akan membuat kita lebih kuat untuk salat dan lebih kokoh untuk sujud. Dengan menata niat seperti ini, setiap tetesan keringat saat berolahraga akan langsung mendulang pahala dan menjadi bernilai ibadah di sisi Allah.

Stamina untuk Menjemput Nafkah yang Halal

Selain untuk ibadah ritual, kesehatan yang kita jaga melalui olahraga juga berfungsi sebagai modal utama untuk mencari nafkah. Tubuh yang kuat dan tidak sekadar kuat fisik akan membuat kita lebih bersemangat dalam bekerja menjemput rezeki yang halal untuk keluarga.

Bagi seorang laki-laki, bekerja mencari nafkah yang halal bukanlah tugas biasa—itu adalah termasuk bagian dari jihadnya seorang laki-laki. Maka, olahraga yang kita lakukan untuk mendukung stamina kerja secara tidak langsung menjadi bagian dari persiapan tersebut.

Kesimpulan

Oleh karena itu jamaah sekalian para ikhwan, ketika kita berolahraga maka niatkan bukan cuman sekedar sehat belaka, bukan sekedar kuat belaka. Jadi jadikan ini sebagai sarana untuk lebih kuat beribadah, maka lari kita akan mendulang pahala, maka lari kita akan menjadi bernilai ibadah Insya Allah.


Sumber Materi / Narasumber:

Ustadz Abû Salmâ Muhammad

Sumber : https://www.instagram.com/p/Daw_EjySmEx/

Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman

Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman

Jakarta, MUI Digital — Pada sekitar akhir bulan Juni 2026, publik dikagetkan dengan dugaan sebuah peristiwa intimidasi yang membuat seorang tenaga medis di Nusa Tenggara Timur (NTT) tertekan dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.

Peristiwa intimidasi berawal dari pertolongan medis terhadap pasien yang terkena gigitan ular. Diduga dokter yang menangani pasien kurang memberikan penanganan yang maksimal. Tapi hal ini dibantah oleh pihak rumah sakit dan ditegaskan bahwa penanganannya telah sesuai SOP.

Intimidasi menjadi ramai dan pemberitaannya luar biasa viral karena diduga melibatkan anggota legislatif daerah yang terhormat, yang seharusnya berjuang bersama rakyat dalam membenahi berbagai ketimpangan sosial dan persoalan tata kelola daerah, termasuk tata kelola di dunia kesehatan.

Ternyata belakangan terbukti, pasien telah sembuh. Sementara intimidasi yang terlanjur dilakukan telah membuat hidup seorang dokter tertekan dan bahkan merenggut nyawanya. Sungguh ironis.

Memang sekarang ini sejatinya kita hidup di zaman ketika orang merasa bebas berbicara apa saja, tanpa sadar bahwa kata-kata bisa lebih melukai daripada luka fisik. Intimidasi, ejekan, sindiran tajam, bahkan ujaran kebencian kini sering dianggap “hal biasa”.

Di media sosial, di tempat kerja, di rumah tangga, bahkan di mimbar-mimbar yang seharusnya menenangkan, lisan sering berubah menjadi alat kekerasan.

Ironisnya, banyak yang merasa tidak bersalah. “Saya kan cuma ngomong,” begitu dalih yang kerap terdengar. Padahal, dalam pandangan Islam, “cuma kata-kata” justru bisa menjadi sumber kezaliman yang paling berbahaya.

Alquran sejak awal telah mengingatkan dengan tegas: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini bukan sekadar etika sosial, tetapi peringatan spiritual: merendahkan orang lain sejatinya adalah cermin dari kerendahan diri sendiri.

Lebih jauh lagi, Allah memerintahkan: “Katakanlah perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53). Menariknya, para ulama seperti Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini bukan hanya sebagai anjuran berkata baik, tetapi larangan keras terhadap segala ucapan yang berpotensi melukai.

Rasulullah SAW bahkan menempatkan lisan sebagai indikator utama kualitas keislaman seseorang: “Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis ini, lisan disebut lebih dulu daripada tangan, seakan memberi pesan bahwa kekerasan verbal sering menjadi pintu awal segala bentuk kezaliman.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kita menyaksikan budaya komunikasi yang semakin kasar. Di media sosial, orang berlomba-lomba menjadi paling pedas. Di dunia kerja, sebagian pemimpin merasa wajar merendahkan bawahan demi “kedisiplinan”. Di rumah, kata-kata kasar kerap dianggap bagian dari “mendidik”.

Padahal, psikologi modern telah lama menegaskan bahwa kekerasan verbal dapat meninggalkan luka yang dalam, trauma, hilangnya rasa percaya diri, bahkan depresi. Luka ini tidak terlihat, tetapi menetap. Tidak berdarah, tetapi membekas.

Islam jauh lebih dahulu memahami ini. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa dosa lisan, seperti menghina, mencela, atau mempermalukan, semua bersumber dari penyakit hati, antara lain kesombongan, iri, dan kemarahan yang tak terkendali. Lisan hanyalah pintu keluar sementara, tetapi sumbernya ada di dalam jiwa.

Sementara Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa menyakiti orang lain tanpa hak, baik dengan tangan maupun ucapan, adalah bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada “kata-kata yang sepele” dalam timbangan Allah.

Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Ujaran kebencian tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu. Satu kalimat bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Yusuf al-Qaradawi menyebut fenomena ini sebagai bentuk baru kezaliman yaitu kekerasan verbal yang terakumulasi dan meluas tanpa kontrol.

Yang lebih mengkhawatirkan, intimidasi kini juga sering tampil dalam bentuk yang halus. Bukan lagi bentakan, tetapi tekanan psikologis. Bukan lagi hinaan langsung, tetapi sindiran yang merendahkan. Bukan lagi ancaman terbuka, tetapi pembungkaman dengan kekuasaan. Semua ini tetaplah kezaliman, meski dibungkus dengan bahasa yang tampak “sopan”.

Di sinilah Islam menawarkan jalan yang sederhana namun mendasar, yaitu mengendalikan lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari). Ini bukan sekadar etika, tetapi disiplin spiritual.

Berbicara dalam Islam bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal dampak. Apakah kata-kata kita menyembuhkan atau melukai? Menguatkan atau meruntuhkan? Mendekatkan atau menjauhkan?

Kita mungkin tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkata kasar. Tetapi kita bisa memutus rantai itu dari diri sendiri. Karena perubahan budaya selalu dimulai dari kesadaran individu.

Lisan adalah amanah. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya justru menyeret ke dalam kehancuran.

Dalam dunia yang semakin bising dan hiruk-pikuk oleh kata-kata, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak suara, tetapi lebih banyak kesadaran. Sebab bisa jadi, satu kalimat yang kita anggap biasa adalah luka yang tak pernah sembuh bagi orang lain.

Sumber : https://mui.or.id/baca/opini/intimidasi-dan-kekerasan-verbal-antara-lisan-dan-kezaliman

Hanya Nabi Sulaiman yang Mengerti Bahasa Semut

Hanya Nabi Sulaiman yang Mengerti Bahasa Semut

Nabi Sulaiman dikenal sebagai salah satu nabi yang diberkahi dengan berbagai mukjizat oleh Allah SWT, salah satunya adalah kemampuannya untuk memahami bahasa hewan. Kisah tentang Sulaiman dan semut yang diceritakan dalam Al-Qur’an adalah salah satu kisah yang mengilustrasikan kebijaksanaan dan kemurahan hatinya.

Dalam perjalanan bersama tentaranya, Nabi Sulaiman dan pasukannya sampai di sebuah lembah yang dipenuhi oleh semut. Ketika mereka mendekati lembah tersebut, Ratu Semut yang memimpin koloni melihat kedatangan rombongan Nabi Sulaiman dan segera memberikan peringatan kepada koloni semut lainnya.

Perkataan semut ini diabadikan dalam QS. An-Naml ayat 18:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌۭ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَـٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَـٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ [٢٧:١٨]

“Ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml 18).

Perluasan ayat ini menarik karena seorang ulama besar, Abu Hanifah, ditanya oleh seseorang tentang jenis kelamin semut yang berbicara tersebut. Dalam kitab Madārik at-Tanzīl wa-Ḥaqāʾiq at-Taʾwīl karya Abū al-Barakāt an-Nasafī, Abu Hanifah menjawab bahwa semut itu adalah betina, dengan alasan bahwa Al-Qur’an menggunakan kata “قالت” yang berarti “dia berkata” untuk perempuan. Jika semut tersebut adalah jantan, maka akan digunakan kata “قال” yang berarti “dia berkata” untuk laki-laki.

Karenanya dapat diasumsikan bahwa semut yang berkata itu ialah ratu koloni. Pengetahuan ini menunjukkan betapa detailnya bahasa Al-Qur’an dan bagaimana setiap kata memiliki makna dan konteks yang tepat.

Kembali ke kisah Nabi Sulaiman, mendengar peringatan dari semut tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum dan merasa bersyukur atas anugerah kemampuan yang diberikan Allah kepadanya untuk memahami bahasa semut. Dia kemudian memastikan bahwa pasukannya tidak akan membahayakan koloni semut tersebut. Ini menunjukkan betapa bijaksananya Nabi Sulaiman dalam memimpin dan betapa besarnya rasa tanggung jawabnya untuk melindungi semua makhluk, sekecil apapun mereka.

Peristiwa ini diabadikan dalam QS. An-Naml ayat 19:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًۭا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ [٢٧:١٩]

“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml: 19).

Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, di antaranya:

Pertama, kepemimpinan yang bijaksana adalah yang memperhatikan kesejahteraan semua makhluk, bukan hanya manusia. Kedua, pentingnya berkomunikasi dan memberi peringatan dalam menghadapi bahaya. Dan ketiga, kebijaksanaan dan pengetahuan adalah anugerah yang harus digunakan untuk kebaikan dan perlindungan bagi semua makhluk hidup.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2024/06/mukjizat-nabi-sulaiman-berbicara-dengan-binatang/

7 Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemberat Timbangan Amal, Ringan tapi Berpahala Besar

7 Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemberat Timbangan Amal, Ringan tapi Berpahala Besar

Liputan6.com, Jakarta – Dalam Islam, nilai pahala tak hanya dilihat dari besarnya amalan atau banyaknya ibadah tersebut. Terdapat berbagai kebiasaan kecil yang menjadi pemberat timbangan amal yang dapat dilakukan secara rutin sehari-hari.

Meski ringan, kebiasaan kecil ini bisa menjadi penentu nasib seseorang pada Yaumul Mizan, hari ketika seluruh amal perbuatan manusia ditimbang dengan keadilan yang sempurna. Allah berfirman: ” Kami akan meletakkan timbangan (amal) yang tepat pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun dirugikan walaupun sedikit. Sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47).

Pada hari yang mencekam itu, setiap perbuatan, sebesar gunung atau sekecil debu, akan dipertaruhkan. Di sanalah, kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap sepele justru bisa menjadi penentu antara keselamatan dan kebinasaan.

Abdullah Hamud al-Furaih dalam kitabnya Hadiah Indah: Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari menegaskan bahwa sunnah adalah “hadiah” dari Allah untuk umat ini, karena padanya terkandung berlipat pahala yang tidak Allah karuniakan kepada umat-umat terdahulu.

Lalu, kebiasaan-kebiasaan kecil apa sajakah yang dapat menjadi pemberat timbangan amal kita kelak? Berikut pemaparannya.

1. Dzikir: Dua Kalimat yang Ringan di Lisan, Berat di Timbangan

Dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun paling berat di timbangan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim (Mahasuci Allah dan segala pujian bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694).

Ibnu Hajar as-Qalani dalam Muqaddimah Kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud “berat di timbangan” dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT

Imam An-Nawawi juga menukil hadits ini dalam Riyadhus Shalihin dan Al-Adzkar, serta meriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dzikir Subhanallah wa bi hamdih adalah dzikir yang paling disukai Allah.

Selain itu, terdapat dzikir yang diajarkan Rasulullah kepada Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau mendapati Juwairiyah masih berdzikir hingga waktu Dhuha, beliau mengajarkan empat kalimat yang jika diucapkan tiga kali, timbangannya menyamai dzikir panjang yang telah ia baca sepanjang pagi:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatih.” (HR Muslim).

2. Senyuman, Sedekah Paling Ringan yang Mengundang Pahala

Tersenyum adalah salah satu sunnah yang paling mudah dilakukan, namun sering dianggap sepele. Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi).

Abdullah Hamud al-Furaih dalam Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari menjelaskan bahwa disunnahkan untuk tersenyum dan menampilkan wajah yang menyenangkan ketika bertemu dengan orang lain.

Kebiasaan kecil ini memiliki dampak besar, tidak hanya membuat orang lain merasa senang, tetapi juga menjadi sedekah yang memberatkan timbangan amal. Dalam buku yang sama, disebutkan bahwa mengucapkan kata-kata yang baik juga termasuk sedekah, sebagaimana sabda Rasulullah: “Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Siwak, Sunnah Kecil dengan Pahala Besar

Menggunakan siwak untuk membersihkan gigi adalah kebiasaan yang selalu dijaga Rasulullah. Beliau bahkan membawanya ke mana pun beliau pergi. Keutamaan siwak sangat luar biasa. Disebutkan bahwa shalat dua rakaat dengan bersiwak dianggap setara dengan shalat 70 rakaat tanpa bersiwak.

Rasulullah bersabda: “Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kebiasaan kecil ini, menggosok gigi dengan kayu siwak sebelum shalat, bukan hanya menjaga kesehatan mulut, tetapi juga menjadi amalan yang memberatkan timbangan karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

4. Berkata Baik atau Diam: Menjaga Lisan, Menjaga Timbangan

Salah satu kebiasaan yang paling berat di timbangan adalah menjaga lisan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah Hamud al-Furaih menjelaskan bahwa kebiasaan berkata baik termasuk sedekah, dan setiap kata-kata baik yang diucapkan dengan niat karena Allah akan mendatangkan pahala.

Sebaliknya, diam ketika hendak mengucapkan keburukan juga merupakan amalan yang mulia. Kebiasaan sederhana ini—memilih untuk diam daripada berkata buruk—bisa menjadi penentu beratnya timbangan amal kita.

5. Bangun Lebih Awal: Mengais Keberkahan di Waktu Mustajab

Bangun lebih awal, terutama sebelum waktu Subuh, adalah kebiasaan yang diajarkan Rasulullah. Beliau mencontohkan untuk tidak tidur terlalu malam setelah shalat Isya, sehingga dengan sendirinya akan bangun lebih awal.

Waktu sahur dan sepertiga malam terakhir adalah waktu yang penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa.

Kebiasaan ini mungkin terasa berat bagi yang belum terbiasa, namun dampaknya terhadap timbangan amal sangat besar. Setiap langkah menuju masjid di waktu Subuh, setiap doa yang dipanjatkan di waktu sahur, akan menjadi pemberat timbangan kebaikan.

6. Tidur dalam Keadaan Suci dan Menghadap Kanan

Kebiasaan tidur sesuai sunnah juga termasuk amalan ringan yang memberatkan timbangan. Rasulullah mengajarkan: “Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat, lalu berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tidur dalam keadaan suci membuat malaikat menyertai dan mendoakan kebaikan sepanjang malam. Kebiasaan kecil ini—berwudhu sebelum tidur dan berbaring menghadap kanan—adalah amalan yang sangat ringan namun memiliki pahala yang besar.

7. Makan dan Minum Sambil Duduk

Hal sederhana seperti makan dan minum juga bisa menjadi amalan sunnah yang memberatkan timbangan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk makan dan minum dengan duduk, serta menggunakan tangan kanan.

Dalam Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari, disebutkan bahwa makan dan minum sambil duduk termasuk kebiasaan yang diajarkan Rasulullah dan menjadi amalan sunnah.

Hikmah Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemberat Timbangan Amal

· Mendekatkan Diri kepada Allah Tanpa Beban: Amalan-amalan kecil seperti dzikir, senyum, dan siwak dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan waktu, tenaga, atau biaya khusus, namun efeknya sangat besar di sisi Allah.

· Melatih Konsistensi dan Istiqamah: Kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin akan membentuk karakter dan melatih jiwa untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

· Menjadi Penyelamat di Hari Kiamat: Di hari ketika manusia mencari-cari amal kebaikan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin kita anggap sepele bisa menjadi penentu keselamatan, sebagaimana sabda Rasulullah tentang dua kalimat yang berat di timbangan.

· Menggugurkan Dosa-dosa Kecil: Dzikir dan istighfar yang dibaca secara rutin dapat menghapus dosa-dosa, sebagaimana janji Rasulullah bahwa membaca Subhanallah wa bihamdih 100 kali akan menghapus dosa meski sebanyak buih di lautan.

· Menginspirasi Orang Lain untuk Berbuat Baik: Kebiasaan baik yang kita lakukan akan menjadi teladan bagi orang lain. Setiap orang yang terinspirasi dan mengamalkannya, maka kita akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala mereka.

Pertanyaan Seputar Amalan Ringan

Apa saja amalan ringan yang berat di timbangan di akhirat?

Amalan ringan yang berat di timbangan antara lain dzikir Subhanallahi wa bihamdihi Subhanallahil ‘azhim, tersenyum kepada sesama muslim, menggunakan siwak sebelum shalat, menjaga lisan dari perkataan buruk, dan makan-minum sambil duduk.

Mengapa dzikir dua kalimat bisa berat di timbangan?

Karena dzikir tersebut adalah pujian dan pengagungan kepada Allah yang diucapkan dengan ikhlas. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa beratnya timbangan menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang mengucapkannya.

Apakah tersenyum termasuk amalan yang berpahala?

Ya, tersenyum kepada sesama muslim adalah sedekah, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Kebiasaan ini sangat ringan namun memiliki pahala yang besar dan menjadi pemberat timbangan amal.

Bagaimana cara menghidupkan sunnah-sunnah kecil dalam sehari-hari?

Mulailah dengan kebiasaan sederhana seperti membaca basmalah sebelum makan, menggunakan siwak, tersenyum, membaca dzikir pagi dan petang, serta tidur dalam keadaan suci. Konsistensi adalah kunci utama.

Apa dalil bahwa amal kecil bisa memberatkan timbangan?

Dalilnya adalah firman Allah dalam QS. Al-Anbiya’: 47 bahwa amal seberat biji sawi pun akan didatangkan pahalanya, serta hadits tentang dua kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan (HR Bukhari dan Muslim).

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8242346/7-kebiasaan-kecil-yang-menjadi-pemberat-timbangan-amal-ringan-tapi-berpahala-besar

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Sholat safar merupakan salat sunah dua rakaat yang dilakukan sebelum melakukan safar atau perjalanan jauh.

Ibadah itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar atau permohonan perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT.

Amalan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian jauh, sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik berikut:

“Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan salat dua rakaat.”

Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan apa keutamaan sholat safar?

Niat Sholat Safar

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatas safari rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Safar

Cara salat safar tidak berbeda dengan salat sunah pada umumnya, yakni diawali niat, takbiratul ihram, rukuk, iktidal, sujud, dan tasyahud.

Berikut adalah tata cara sholat safar secara lengkap:

  1. Membaca niat
  2. Melakukan takbiratul ihram
  3. Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan surah Al-Kafirun
  4. Surah lain yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah Al-Falaq
  5. Rukuk, iktidal, sujud
  6. Berdiri untuk mengerjakan rakaat kedua
  7. Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas atau An-Nas
  8. Melakukan gerakan seperti rakaat pertama
  9. Setelah salat, dianjurkan memperbanyak membaca ayat kursi dan surah Quraisy

Kapan Waktu Salat Safar?

Salat safar boleh dilakukan kapan pun oleh seorang Muslim yang hendak bepergian jauh. Artinya, boleh dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam sebelum perjalanan.

Doa setelah Salat Safar

Di bawah ini adalah doa yang dibaca setelah mengerjakan salat safar:

اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ

Allahumma bika asta’inu, wa ‘alaika atawakkalu. Allahumma zallil li su’ubata amri, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safari, warzuqni minal khairi mim ma atlubu, wasrif ‘anni kulla syarr, rabbisrah li sadri wa yassir li amri.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”

Apa Keutamaan Salat Safar?

Beberapa keutamaan salat safar di antaranya:

  • Memohon perlindungan Allah SWT dari segala keburukan dan bahaya selama perjalanan
  • Menghalangi keburukan setelah keluar dari rumah
  • Bekal untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah
  • Mendapat keberkahan dari Allah SWT

Selain itu, mengerjakan salat Safar dan salat sunah lainnya juga bisa menjadi penyempurna salat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal laili fatahajjad bihee naafilatal laka ‘asaaa any yab’asaka Rabbuka Maqaamam Mahmoodaa

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/salat-sunah-safar-tata-cara-niat-doa-dan-keutamaannya

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri.

Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.

Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.

Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)

Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”.

Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.

So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik.

Moga kita dapat hidayah.

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus sunnah, akhlaqnya kok gitu? Ahlus sunnah kok tidak murah senyum pada orang lain? Ahlus sunnah kok enggan mengucapkan salam atau membalas salam orang lain? Ahlus sunnah kok kasar dengan orang tua, keras pada yang lain? Ahlus Sunnah kok cepat mencap sesat orang lain?

Yang benar, Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlaq. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku aqidah mereka.

Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,

وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .

“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.”

Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.

Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlaq yang mulia dan melarang dari akhlaq yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaqlah yang mulia. Jangan berakhlaq bengis, kasar, dan bejat.

Hanya Allah yang memberi taufiq.

Sumber : https://radiomutiaraquran.com/2026/07/14/mengaku-ahlus-sunnah-namun-tidak-berakhlaq/

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.

Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.

Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).

Takdir Abu Lahab

Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)

Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.

Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?

Mukjizat Al-Qur’an

Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.

Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.

Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.

Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.

Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.

Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.

Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.

Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.

Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.

Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.

Wallahu A’lam.

Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

QARUN adalah orang yang mendapat ujian nikmat harta. Tetapi ia terlena, teranestesi, oleh kekayaan itu. Ia bahkan merasa bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri.

Sementara itu, Utsman bin Affan ra. adalah sahabat Nabi SAW yang juga dalam kondisi mengalami ujian kekayaan. Namun, Utsman ra. mampu memilih jalan takwa. Mengapa kedua orang itu berbeda pilihan hidup?

Jelas, masalahnya bukan pada harta, tapi dari cara keduanya dalam menjadikan harta sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT. Qarun bangga dan kagum pada harta. Utsman ra. sadar bahwa ia harus lebih kagum, takjub dan taat kepada yang memberi nikmat kekayaan itu.

Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang ia anggap paling bernilai. Nilai tertinggi seseorang menentukan arah hidupnya. Jika nilai tertingginya diri dan materi, nikmat menjadi pusat. Jika nilai tertingginya Allah dan kemaslahatan, nikmat menjadi sarana.

Berjuang adalah Nikmat

Nikmat itu netral. Pada realitanya, nikmat akan semakin bernilai ketika kita sikapi sebagai penggerak jiwa terus dalam kebaikan. Pada kondisi itu nikmat bisa jadi bahan bakar perjuangan.

Namun, ketika sikap kita keliru, maka nikmat juga bisa menjadi bantal empuk yang menidurkan idealisme, cita-cita, bahkan visi.

Untuk itu, penting kita merenung sejenak, bagaimana cara kita memperlakukan nikmat iman, nikmat hidup ini untuk merasakan nikmat dalam berjuang.

Ini karena otak manusia secara biologis memang cenderung mencari kenyamanan dan menghindari risiko. Itu mekanisme bertahan hidup. Namun, manusia bukan hanya makhluk biologis; ia makhluk bernilai dan bermakna. Ketika seluruh hidup hanya mengikuti dorongan nyaman, manusia turun derajatnya menjadi sekadar pencari sensasi aman.

Karena manusia menemukan makna ketika ia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, maka sebenarnya berjuang itu nikmat. Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, sebagaimana Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari tegaskan dalam kajian online yang Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah selenggarakan (Jumat, 27/2/26), bahwa berjuang adalah kenikmatan.

Lelahnya orang yang berjuang, sakitnya orang yang berjuang, merupakan anak tangga merasakan kenikmatan iman yang luar biasa.

“Kenikmatan hidup tidak hanya karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman. Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” tegas KH. Hamim Tohari.

Semakin Berat Semakin Nikmat

Secara umum, otak manusia suka pada hal-hal yang ringan, menghemat energi dan tak terlalu makan tenaga apalagi biaya. Begitupun secara psikologis, rasa nyaman selalu menjadi prioritas bagi kebanyakan orang. Meski itu beresiko terhadap kurangnya sens of urgency.

Logikanya sederhana, seringkali kesulitan memaksa manusia keluar dari zona nyaman dan zona otomatis. Ia menjadi lebih sadar, lebih fokus, lebih bergantung pada Allah. Kesadaran yang meningkat itulah yang menghadirkan rasa nikmat iman.

Sebagaimana dahulu semakin ada tantangan semakin datang rasa nikmat. Seperti sikap mental kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW.

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa itu adalah sikap mental orang beriman. Ketika tantangan besar, yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan koalisi kaum kuffar terjadi, umat Islam tidak gentar apalagi mengeluh. Mereka malah semakin yakin bahwa janji Allah dan Rasul-Nya akan segera menjadi kenyataan. Tantangan yang tidak ringan itu malah meningkatkan kualitas iman mereka.

Makna Hidup

Belajar dari sejarah tersebut, tepat sekali apa yang Ust. Abdullah Said sampaikan. Bahwa berjuang adalah kenikmatan. Hal ini karena manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya. Ketika ia memusatkan hidup pada diri sendiri, ruang jiwanya menyempit. Ketika ia memberi, ruang jiwanya melebar.

Secara empiris kita mengetahui bahwa manusia semakin punya kontribusi bagi kehidupan umat manusia semakin bahagia. Sikap mental yang selalu ingin mengambil peran, berkontribusi pada kebaikan, akan melahirkan hidup yang penuh makna. Makna itu akan mendatangkan ketenangan.

Sebaliknya kita memahami bahwa semakin orang individualis, mau menggenggam harta sebagai sandaran kebahagiaan, semakin ia akan gelisah. Hidupnya pun mengalami stagnasi. Stagnasi menjadi sebab hidup yang penuh kehampaan.

Belajar Pada Kader dan Santri Awal Hidayatullah

Oleh karena itu kalau kita belajar kepada kader dan santri awal Hidayatullah. Bukan karena mereka kebal terhadap kesulitan, tetapi karena mereka memiliki visi yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.

Alhasil, mereka tidak takut akan segala kondisi. Bukan karena mereka tahu, ada uang dan punya hal yang bisa diandalkan. Tetapi karena mereka yakin, hidup yang nikmat adalah ketika diri mau totalitas berjuang.

Lantas bagaimana dengan saat ini? Jika dahulu bisa, apa yang menghambat hari ini kita menjadi tidak bisa merasakan nikmat dalam berjuang. Di sinilah kita penting terus ingat akan nikmat-nikmat hebat dalam perjuangan.

Sungguh perbedaan masa bukanlah kunci jawaban untuk melegitimasi bahwa berjuang bisa kita kurangi powernya. Perbedaan masa adalah sunnatullah, tapi tekad dan semangat adalah sikap mental yang harus kita rawat agar sama, menyala-nyala sebagaimana generasi terdahulu.

Tidak samanya masa hanyalah sebuah kondisi yang menuntut kita lebih adaptif dalam hal cara dan strategi. Bukan mengubah apalagi mengganti nilai dan idealisme dengan logika materi.

Dengan demikian, kita sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa nikmat yang tidak diarahkan pada perjuangan akan mempersempit jiwa. Nikmat yang digunakan untuk perjuangan akan meluaskan makna hidup.[]

Mas Imam Nawawi

Sumber : https://hidayatullah.or.id/menghadirkan-rasa-nikmat-dalam-berjuang/

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

SETIAP muslim pasti meyakini bahwa ia lebih unggul, mulia, luhur derajatnya daripada kafir. Sehingga realitas kehidupan diliputi keamanan, kejayaan, kesucian, keberkahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 139)

Allah memberi rahmat, maghfirah, pertolongan di dunia kepada muslim dan memasukkannya ke dalam surga-Nya sebagai wujud perhatian dan kecintaan-Nya kepadanya.

Sedangkan Allah tidak merahmati, tidak mengampuni, dan tidak mencintai orang kafir dan memasukkannya ke dalam neraka-Nya secara permanen.

Yang diperlu diberi garis tebal di sini, mengapa demikian mulia posisi muslim dan demikian rendah/hina kedudukan kafir disisi Allah ? Sedangkan sama-sama hamba-Nya, sama-sama manusia, sama-sama keturunan Nabi Adam, sama-sama menikmati wasilatul hayah (sarana kehidupan) secara gratis, sama-sama mengkonsumsi karunia-Nya, sama-sama penghuni bumi dan langit-Nya.

Mereka juga sama-sama dilahirkan oleh ibu dalam keadaan lemah dan sama-sama meninggal dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa, dan sama-sama dikubur di alam barzakh-Nya!

Kalau tidak ada perbedaan atribut lahiriyahnya muslim dengan kafir, mengapa demikian menganga perbedaan kedua makhluk-Nya tersebut ?

Apakah karena muslim bernama Ahmad, Sumayya, Shabiyya dan kafir bernama Robert, Kristiani, Kristianto? Apakah karena muslim berkhitan, tidak makan daging babi, yang menjadi standar perbedaan kedudukan keduanya? Bukankah Allah sudah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya untuk memperlakukan seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini?

Perbedaan

Sesungguhnya Islam tidak membedakan seseorang dengan lainnya karena faktor keturunan, status sosial, jabatan, asesoris lahiriyah, tetapi yang paling mulia disisi-Nya adalah yang paling berkulitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat : 13).

Dengan demikian, perbedaan muslim dan kafir adalah diukur dari seberapa jauh sikap ridha Allah sebagai Rabbul Alamin, Islam sebagai din, Rasulullah sebagai utusan-Nya. Jadi, turunnya rahmat, maghfirah, pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan keterikatannya yang kokoh (iltizam) dengan Rabb, Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu diantara zikir yang matsur, dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir berikut ia panjatkan dengan hati yang tulus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda :

من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة

“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya” (HR. Abu Dawud & dishahihkan Albani).

Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung inti dari pada rukun iman. Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah dan mentauhidkan-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus dan total mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya (manhajul hayah).

Setelah hadits di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadits lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,

أن رَجُلاً قال : يا رسول الله إن شرائِع الإسلام قد كثُرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبَّث به، فقال : لا يزال لِسانك رَطبًا مِن ذكر الله تعالى

Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassaku (berpegang teguh), yakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku. Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.

Dalam hadits terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut. Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.

Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama. Namun jika ingin membuat timbangan amalnya berat, maka bisa dengan melantunkan zikir yang lain.

ومعناه اي قنعت بان الله تعالى هو الخالق والسيد والمالك والمصلح والمربي لخلقه والمدبر امورهم ولستُ بمكره على ذلك بل انا راضٍ به ، وكذلك رضيت ان ادين بدين الاسلام عما سواه من الاديان ، وكذلك رضيت بحمّد صلى الله عليه وسلم رسولا من الله مخالفا من عائدٍ وكفر به ، اي : ان من يقول هذا الدعاء كان حقّا على الله ان يدخله الجنة

Makna hadits di atas, aku puas bahwa Allah sebagai Al Kholiq, Tuan, Raja, Mushlih dan Murabbi kepada seluruh makhluk-Nya, dan Pengatur segala urusannya, dan aku tidak benci dengan itu semua, bahkan aku ridha dengannya, demikian pula aku ridha untuk memeluk dinul Islam yang unggul diatas seluruh agama.

Disamping itu aku ridha Muhammad sebagai Rasulullah, menyelisihi dengan para pengingkar dan penentangnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, merupakan kewajiban Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika seorang muslim yang tidak ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai manhajul hayah, dan Rasulullah sebagai figur sentralnya ?

Apakah perlu dibedakan jika ucapan dan perilaku muslim beririsan (tasyabbuh) dengan orang kafir? Bahkan secara lahiriyah negara kafir lebih bersih, jujur, disiplin, manajemen lebih rapi, sumber daya manusianya lebih berkelas.

Realitas kehidupan kaum muslimin menjadi bukti, paradok dengan isi kitab sucinya. Al Islamu mahjubun bilmuslimin. Umat islam lebih culas, tidak disiplin, konsumtif, kurang bersih dan kurang disiplin dan mutu sumber daya mukmin yang dibawah standar umum.

Jika muslim tidak melakukan cabang keimanan yang prinsip, mentauhidkan Rabb, mencintai Islam, memuliakan Rasulullah, karena faktor kebodohan, maka urusannya terserah Allah diampuni ataupun disiksa dengan azab-Nya.

Berbeda status hukumnya jika muslim sengaja secara struktur dan masif untuk menentang Rabb, menyudutkan dinul Islam, merendahkan derajat Rasulullah, secara otomatis bisa menggugurkan keislamannya.

Langkah kongkritnya adalah meyakinkan diri dan orang lain agar lebih mengenal Rabb, memahami dan mengamalkan Islam, meneladani Rasulullah, agar kaum muslimin lebih berkualitas dalam berbagai dimensi kehidupannya..

Justru ketetapan Allah membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama adalah sikap adil. Alangkah zalimnya jika manusia yang shalih di dunia dengan kafir yang kerjanya berbuat kerusakan, ujung kehidupannya disamakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam 68: 35)

مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ

“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)

Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)

Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

Sumber : https://hidayatullah.or.id/mengapa-muslim-dan-kafir-dibedakan/