Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Di zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,

إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]

Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.

Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi

Ilmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]

Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]

Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.

AI sebagai alat bantu, bukan sandaran

Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.

AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,

ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ

“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]

Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.

Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.

Risiko ketika terlalu bergantung pada AI

Bergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]

Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.

Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة

Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]

Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]

Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ

“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]

Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.

Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.

Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,

أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ

“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]

Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.

Adab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AI

Di era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.

Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awal

AI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,

الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب

Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]

Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.

Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmu

Apa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)

Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]

AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalil

Jangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,

إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم

Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]

Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.

Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guru

Kemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]

Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.

Kelima, perbaiki niat sejak awal

Pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]

Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?

Kesimpulan

Ujian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,

وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم

“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]

Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.

Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)

Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Sumber : https://muslim.or.id/113560-catatan-adab-bagi-penuntut-ilmu-di-era-ai-artificial-intelligence.html

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian Menurut Ajaran Islam, Jangan Menunda

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian Menurut Ajaran Islam, Jangan Menunda

Liputan6.com, Jakarta – Dalam perspektif Islam, kematian adalah gerbang awal menuju alam keabadian, akhirat. Untuk itu, umat perlu melakukan berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian menurut ajaran Islam. Sebab, kehidupan akhirat kelak tergantung pada amal dan perbuatan semasa di dunia.

Menurut para ulama, melalaikan persiapan di dunia adalah sebuah kerugian besar. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa meyakini adanya alam barzakh dan mempersiapkannya adalah bagian dari akidah. Persiapan ini tidak bisa ditunda.

Padahal tiap manusia akan menemui ajal. Allah berfirman: “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat…” (QS. Al-Waqi’ah: 83-84). Ayat ini menjadi pengingat akan datangnya maut.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur mengutip pandangan ulama salaf seperti Umar bin Abdul Aziz yang menangis membayangkan kubur, menyadarkan kita bahwa dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal amal.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya menggambarkan bahwa kesusahan dunia terasa ringan bila dibandingkan dengan apa yang mungkin akan menimpa diri dalam gelap dan sempitnya kubur. Kesadaran akan realitas ini seharusnya membangkitkan semangat untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya.

Merujuk berbagai literatur, berikut ini adalah berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian dalam ajaran Islam.

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian

1. Memperbanyak Amal Saleh

Amal saleh adalah bekal utama yang paling fundamental dalam menghadapi kematian. Allah SAW berfirman: “Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Amal saleh yang dimaksud adalah segala bentuk perbuatan baik yang steril dari riya (pamer) dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Para ulama mendefinisikan amal saleh dengan syarat-syarat yang ketat. Syekh Sahl at-Tustari berkata: “Amal saleh adalah amal yang sunyi dari pamer dan diikat dengan (tuntunan) sunah Nabi”.

Syekh Mu’adz, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa amal saleh adalah amal yang di dalamnya terdapat empat hal: ilmu, niat, kesabaran, dan ikhlas. Amal saleh ini harus dilakukan secara istiqamah atau terus-menerus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik amal adalah yang paling kontinu (terus-menerus) meskipun sedikit”.

Profesor Quraish Shihab mengibaratkan amal saleh sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Sekalipun sakaratul maut itu menyakitkan, namun jika seseorang telah “dibius” dengan amal saleh, maka ia tidak akan terlalu berat merasakan kesakitan menjelang wafat.

2. Mengingat Kematian Secara Terus-Menerus

Mengingat kematian adalah kunci untuk membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan segala kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu juga menyebut bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti tapi seringkali dilupakan oleh manusia.

Orang yang gemar mengingat kematian akan memperoleh beberapa keutamaan, di antaranya: menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk akhirat.

Mengingat kematian juga akan menumbuhkan optimisme dalam kesempitan dan membantu seseorang mengendalikan diri karena mengingat kehidupan akhirat.

Allah SAW berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (QS. Al-Anbiya: 1). Kelalaian inilah yang harus diwaspadai. Sebaliknya, orang yang bertaubat akan banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya, lalu ia menyempurnakan taubatnya.

3. Menjaga Shalat Lima Waktu dengan Khusyuk

Shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya salat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan bagi pemiliknya pada hari Kiamat” (HR. Ahmad). Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan ikhlas akan menjadi penerang di alam kubur.

Gus Fahmi Amrullah Hadzik, Ketua PCNU Jombang, menyebutkan bahwa menjaga shalat adalah salah satu dari empat perkara yang dapat menerangi alam kubur. Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa.

Konsistensi dalam menjaga shalat dengan penuh kesadaran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk memperoleh keselamatan di akhirat, termasuk di alam kubur.

4. Membaca, Menghafal, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia dan akan menjadi syafaat (pemberi pertolongan) bagi orang-orang yang rajin membacanya pada hari Kiamat (HR. Muslim). Membaca Al-Qur’an secara rutin tidak hanya akan memberikan pahala, tetapi juga menjadi cahaya penerang di alam kubur.

Beberapa surat memiliki keutamaan khusus sebagai bekal di alam kubur:

• Surat Al-Mulk: Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Mulk dapat memberikan perlindungan dari siksa kubur (HR. Tirmidzi). Surat ini juga disebut sebagai al-Mani’ah (yang menghalangi) karena akan membela dan melindungi pembacanya dari azab kubur.

• Surat Yasin: Membaca Surat Yasin pada hari-hari tertentu dan membacakannya untuk orang yang sedang sakit atau menjelang wafat memiliki keutamaan besar.

• Surat Al-Ikhlas: Meskipun pendek, Surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali setara dengan membaca sepertiga Al-Qur’an (HR. Abu Dawud).

5. Memperbanyak Sedekah dan Amal Jariyah

Sedekah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan memadamkan api siksaan di dalam kubur dan menjadi penerang di alam barzakh.

Amal jariyah seperti membangun masjid, menggali sumur, menanam pohon yang bermanfaat, atau mewakafkan Al-Qur’an akan terus mengalir pahalanya meskipun pelakunya telah tiada. Inilah yang disebut sebagai investasi akhirat yang tidak akan pernah rugi.

6. Memperbanyak Dzikir dan Kalimat Thayyibah

Dzikir adalah amalan yang sangat ringan di lisan tetapi berat timbangannya di sisi Allah. Gus Fahmi menyebutkan bahwa memperbanyak membaca kalimat thayyibah adalah salah satu amalan yang dapat menerangi alam kubur.

Kalimat-kalimat seperti Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu Akbar akan menjadi bekal yang sangat berharga.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati” (HR. Bukhari).

Dzikir akan menghidupkan hati dan menjadi cahaya di alam kubur. Bergabung dalam majelis dzikir dan tarekat juga disebut sebagai salah satu cara untuk mempersiapkan datangnya kematian dengan terus-menerus mengingat Allah.

7. Menjaga Silaturahmi dan Berbuat Baik kepada Sesama

Menjaga tali silaturahmi adalah amalan yang sangat dianjurkan dan dapat menjadi penerang di alam kubur. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memutuskan tali silaturahmi, maka ia tidak akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang kita jaga silaturahminya akan terus mendoakan kita setelah kita meninggal.

Selain itu, berbuat baik kepada sesama, seperti memberi makan orang lapar, membantu orang yang kesulitan, melunasi utang orang lain, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah amalan-amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

8. Mempersiapkan Wasiat dan Menyelesaikan Utang

Persiapan menghadapi kematian juga mencakup aspek duniawi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan, untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya tertulis di sisinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menulis wasiat dan menyelesaikan utang-utang adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan sesama manusia yang harus diselesaikan sebelum ajal menjemput.

9. Belajar Ilmu Agama dan Memperbaiki Akidah

Ilmu agama adalah bekal utama untuk menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Memperdalam pemahaman tentang tauhid, rukun iman, dan rukun Islam akan memudahkan seseorang dalam menghadapi ujian kubur.

Imam Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam kitab Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa keyakinan adanya adzab dan nikmat kubur adalah bagian dari akidah Islam yang absolut. Mempelajari dan meyakini hal ini adalah bentuk persiapan fundamental.

10. Berzikir dan Berdoa Memohon Husnul Khatimah

Husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik adalah dambaan setiap Muslim. Tanda-tanda husnul khatimah antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat.

Berdoa memohon husnul khatimah adalah bagian dari persiapan spiritual. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, jadikanlah akhir kehidupanku adalah husnul khatimah, dan janganlah Engkau jadikan akhir kehidupanku adalah su’ul khatimah.”

Memohon perlindungan dari siksa kubur dalam setiap shalat juga merupakan bentuk persiapan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Pertanyaan Seputar Bekal Menghadapi Kematian Dalam Islam

1. Apa bekal terbaik untuk menghadapi kematian menurut Islam?

Bekal terbaik untuk menghadapi kematian adalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian” (HR. Tirmidzi). Amal saleh ini mencakup ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, serta amalan sunnah seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

2. Bagaimana cara mempersiapkan diri menghadapi sakaratul maut?

Persiapan menghadapi sakaratul maut dilakukan dengan memperbanyak amal saleh selama hidup, karena amal saleh diibaratkan sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Selain itu, dianjurkan untuk selalu berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah, bertaubat dari segala dosa, dan membaca kalimat syahadat sebagai ucapan terakhir.

3. Amalan apa saja yang pahalanya terus mengalir setelah meninggal?

Ada tiga amalan yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (seperti membangun masjid, menggali sumur, atau mewakafkan Al-Qur’an), ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya (HR. Muslim). Selain itu, amal yang sifatnya memberkahi dan bermanfaat bagi orang lain juga akan terus mengalir pahalanya.

4. Mengapa mengingat kematian itu penting dalam Islam?

Mengingat kematian sangat penting karena dapat membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri untuk kehidupan setelah kematian. Orang yang gemar mengingat kematian akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan. Rasulullah SAW menyeru umatnya untuk memperbanyak mengingat kematian karena dengan begitu hidup akan lebih berhati-hati.

5. Apa yang dimaksud dengan husnul khatimah dan bagaimana cara meraihnya?

Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik, di mana seseorang meninggal dalam keadaan beriman dan diridhai oleh Allah. Tanda-tandanya antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat. Cara meraihnya adalah dengan senantiasa beramal saleh, bertaubat dari dosa, dan berdoa memohon husnul khatimah kepada Allah.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8245977/10-persiapan-menghadapi-kehidupan-setelah-kematian-menurut-ajaran-islam-jangan-menunda

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Malapetaka di Alam Barzakh

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Malapetaka di Alam Barzakh

Liputan6.com, Jakarta – Keadaan mayit di alam barzahh tergantung pada amal dan perbuatannya semasa di dunia. Maka itu, selain menghindarkan diri dari dosa-dosa besar, umat Islam perlu sungguh-sungguh mewaspadai penyebab siksa kubur yang sering dianggap sepele.

Sebab dosa kecil yang dilakukan dalam keseharian itu seringkali justru menjadi pemicu malapetaka di alam barzakh. Gara-gara dosa yang dianggap sepele tersebut, seseorang justru menghadapi siksa kubur.

Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan, kondisi di alam kubur ini wajib diimani setiap muslim. Rasulullah SAW mengisahkan dua penghuni kubur yang disiksa bukan karena dosa besar, melainkan murni akibat kebiasaan harian yang selalu diremehkan.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya Sampai ke Hari Kebangkitan juga mengingatkan agar umat Islam tak lalai. Sebab, dosa-dosa kesalahan-kesalahan yang dianggap sepele itu akan turut dihisab di hari kiamat.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah penyebab-penyebab siksa kubur yang kerap kali dianggap sepele sehingga sering dilakukan tanpa sadar.

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele

1. Tidak Bersuci (Istinja’) Secara Sempurna

Kecerobohan dalam membersihkan sisa buang air kecil merupakan pemicu utama datangnya azab barzakh. Percikan najis yang tertinggal di pakaian atau badan akan merusak keabsahan shalat seorang hamba.

Rasulullah SAW melewati dua kuburan dan bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa yang dianggap besar… yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut memaparkan bahwa menyepelekan percikan air kencing membatalkan kesucian yang merupakan syarat mutlak shalat. Hal ini sejalan dengan pandangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari yang menegaskan bahwa mayoritas azab kubur bermula dari kecerobohan menjaga kebersihan dari najis ringan ini.

2. Namimah (Mengadu Domba)

Menyebarkan perkataan untuk merusak hubungan antarmanusia adalah kejahatan lisan yang dampaknya sangat merusak. Meskipun terkesan sekadar “obrolan ringan”, hukumannya dibayar tunai di alam kubur.

Lanjutan dari hadits di atas, Rasulullah SAW bersabda, “…dan yang lainnya disiksa karena ia senantiasa berjalan ke sana-kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyebutkan bahwa dosa lisan mematikan empati dan ukhuwah sosial. Imam An-Nawawi dalam Kitab Syarh Shahih Muslim menguraikan bahwa adu domba menghancurkan kehormatan masyarakat, sehingga Allah menyegerakan balasan fisik di alam barzakh bagi pelakunya.

3. Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain)

Menggunjing saudara sesama muslim acapkali dianggap sebagai bumbu pergaulan. Namun, di alam kubur, ghibah termanifestasi menjadi siksaan fisik yang mengerikan.

“Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakari wajah dan dada mereka sendiri… merekalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah).” (HR. Abu Dawud).

Abu Asma Andre merujuk dalil ini untuk menekankan betapa hinanya ghibah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Majmu’ Al-Fatawa menyatakan bahwa ghibah adalah kezaliman hak manusia (Haqqul Adami) yang tidak akan dimaafkan Allah SWT sebelum orang yang dighibahi memberikan kemaafan.

4. Berkhianat dan Korupsi Skala Kecil (Ghulul)

Mengambil hak orang lain atau barang fasilitas umum secara diam-diam (ghulul), walau nominalnya teramat kecil, akan mendatangkan kobaran api di alam kubur.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mantel yang ia ambil dari harta rampasan perang pada hari Khaibar… benar-benar akan menyala menjadi api yang membakarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut, Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi menjelaskan bahwa korupsi selembar kain atau hal remeh lainnya langsung menjadi api di dalam kubur.

Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi dalam Kitab At-Tadzkirah mengategorikan ghulul sebagai dosa besar yang mengunci rahmat Tuhan di alam barzakh.

5. Utang yang Dibiarkan Tidak Terbayar

Menunda-nunda pembayaran utang padahal mampu, atau meninggal dunia dengan meninggalkan utang tanpa wasiat penyelesaian, akan menyandera kebebasan roh di alam penantian.

“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung (tertahan) karena utangnya, sampai utangnya itu dilunasi.” (HR. Tirmidzi).

Sutejo Ibnu Pakar melalui Buku Tradisi Amaliyah Warga NU Tahlilan, Hadiyuan, Dzikir, Yasinan, Ziarah Kubur memaparkan urgensi solidaritas sosial di mana keluarga yang ditinggalkan atau kerabat harus segera mengambil alih dan melunasi utang jenazah.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain secara spesifik menegaskan bahwa utang menahan roh dari nikmat dan ampunan, sehingga pembebasan tanggungan menjadi prioritas sebelum pemakaman.

6. Niyahah (Meratapi Jenazah Secara Berlebihan)

Banyak keluarga yang meratap, menjerit, dan memukul-mukul dada karena kehilangan sanak famili. Ratapan yang melampaui batas kewajaran ini justru menyiksa jenazah di alam kubur.

“Sesungguhnya mayit itu disiksa di dalam kuburnya karena ratapan (keluarganya) kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyoroti bahwa bersedih dan menangis diperbolehkan, namun meratap histeris (niyahah) adalah bentuk ketidakterimaan terhadap takdir Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Ar-Ruh merincikan bahwa azab ini menimpa mayit apabila semasa hidup ia membiarkan atau bahkan mewasiatkan keluarganya untuk meratap dengan tradisi jahiliyah.

Pertanyaan Seputar Penyebab Siksa Kubur

1. Apa penyebab utama siksa kubur menurut Islam?

Penyebab utama siksa kubur terbagi menjadi dosa akidah (kesyirikan, kekafiran, kemunafikan) dan dosa maksiat harian (seperti tidak suci usai kencing, ghibah, adu domba, dan utang) yang terus dilakukan tanpa bertaubat sebelum maut menjemput.

2. Apakah kencing sembarangan benar-benar bisa menyebabkan siksa kubur?

Ya. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim secara definitif menyebutkan bahwa salah satu dari dua penghuni kubur yang diazab adalah karena ia tidak membersihkan sisa kencingnya dengan benar, yang berakibat langsung pada batalnya ibadah shalat yang ia kerjakan.

3. Mengapa adu domba (namimah) dihukum sangat berat di alam kubur?

Karena namimah adalah penyakit lisan yang merusak tatanan sosial, memutus tali silaturahmi, dan memicu permusuhan serta pertumpahan darah di antara manusia. Islam sangat melindungi kehormatan dan persaudaraan sesama muslim.

4. Bagaimana cara agar mayit terhindar dari azab kubur akibat utang?

Ahli waris wajib mengambil alih tanggung jawab tersebut dengan segera melunasi utang sang mayit menggunakan harta peninggalan (tirkah) sang mayit. Jika tirkah tidak mencukupi, keluarga sangat dianjurkan melunasinya dari harta pribadi mereka agar roh mayit terbebas dari penangguhan.

5. Apakah menangisi orang meninggal akan menyebabkan mayit disiksa?

Menangis secara wajar karena kesedihan yang fitri diperbolehkan dalam Islam. Yang menyebabkan mayit disiksa adalah niyahah, yakni ratapan berlebihan seperti menjerit-jerit, merobek pakaian, menampar pipi, dan melontarkan kata-kata yang menentang takdir Allah.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8244902/6-penyebab-siksa-kubur-yang-sering-dianggap-sepele-malapetaka-di-alam-barzakh

Apakah Semua Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal? Simak Penjelasan Ini

Apakah Semua Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal? Simak Penjelasan Ini

Jakarta, MUI Digital — Sertifikasi halal selama ini lebih banyak dikaitkan dengan makanan dan minuman. Namun, hal ini juga dikembangkan lebih luas menyangkut barang gunaan.

Lalu terkait hal itu, menjelang pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal bagi sejumlah kategori barang gunaan pada 17 Oktober 2026, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: Mengapa produk seperti pakaian, alat masak, botol minum, alat tulis, hingga perlengkapan ibadah juga perlu bersertifikat halal? Apakah ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar mengikuti tren?

Dikutip dari Jurnal Halal LPPOM, sertifikasi halal pada barang gunaan bukan sekadar mengikuti perkembangan pasar. Kebijakan ini lahir sebagai upaya menjaga kehalalan produk dari potensi kontaminasi najis sepanjang proses produksi hingga digunakan oleh konsumen, sehingga memberikan kepastian dan ketenangan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat.

Dalam Islam, konsep halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup upaya menjaga diri dari najis. Karena itu, kehalalan suatu produk tidak dapat dipisahkan dari proses produksi, bahan yang digunakan, hingga kemungkinan terjadinya kontaminasi selama proses pengolahan.

Dalam fiqih, najis dibagi menjadi tiga kategori, yakni najis ringan (mukhaffafah), najis sedang (mutawassithah), dan najis berat (mughalladhah). Masing-masing memiliki tata cara penyucian yang berbeda.

Najis berat, seperti babi, anjing, dan turunannya, menjadi salah satu perhatian dalam proses produksi barang gunaan. Pasalnya, bahan turunan babi dapat ditemukan pada berbagai komponen industri, seperti gelatin, enzim, lemak, hingga senyawa kimia yang digunakan dalam pelumas mesin, bahan plastik, pewarna tekstil, maupun perekat. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya kontaminasi pada barang yang digunakan sehari-hari.

Karena itu, sertifikasi halal pada barang gunaan tidak hanya berfokus pada bahan utama produk, tetapi juga mencakup penelusuran asal bahan, bahan penolong, fasilitas produksi, serta penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).

Seluruh tahapan tersebut bertujuan memastikan produk yang digunakan masyarakat bebas dari unsur najis dan memenuhi ketentuan halal. Meski demikian, tidak semua barang gunaan diwajibkan memiliki sertifikat halal.

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 741 Tahun 2021 yang kemudian disempurnakan dengan KMA Nomor 944 Tahun 2024 telah menetapkan jenis barang gunaan yang termasuk dalam kategori wajib bersertifikat halal.

Kelompok tersebut meliputi sandang, penutup kepala, aksesori, peralatan rumah tangga, alat kesehatan, perlengkapan ibadah, alat tulis kantor, kemasan produk, serta bahan penyusun barang gunaan.

Sementara itu, produk di luar kelompok tersebut, seperti kendaraan atau peralatan pertukangan, tidak termasuk kategori yang wajib bersertifikat halal selama tidak bersentuhan langsung dengan konsumsi maupun penggunaan yang berkaitan dengan kebutuhan umat.

Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus menjadi panduan bagi masyarakat mengenai produk apa saja yang wajib memenuhi ketentuan sertifikasi halal.

Dengan demikian, kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk mewajibkan seluruh barang memiliki sertifikat halal, melainkan diterapkan pada kelompok produk yang telah ditetapkan dalam regulasi.

Menjelang batas waktu implementasi pada 17 Oktober 2026, pelaku usaha di sektor barang gunaan didorong untuk mulai mempersiapkan proses sertifikasi halal.

Pada tanggal yang sama, kewajiban sertifikasi halal juga mulai berlaku bagi sejumlah kategori lain, seperti kosmetik, sebagian jenis obat, produk impor, dan produk usaha mikro dan kecil (UMK).

Di sisi lain, sertifikasi halal juga memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Selain meningkatkan kepercayaan konsumen, sertifikasi halal dapat memperkuat daya saing produk serta membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar halal global.

Sumber : https://mui.or.id/baca/halal/apakah-semua-barang-gunaan-wajib-bersertifikat-halal-simak-penjelasan-ini

Sekjen MUI: Gagasan Penguatan UMKM APKLI Jadi Masukan Strategis di KUII VIII

Sekjen MUI: Gagasan Penguatan UMKM APKLI Jadi Masukan Strategis di KUII VIII

Jakarta, MUI Digital–Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan bahwa gagasan penguatan ekonomi kerakyatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan menjadi salah satu masukan materi yang sangat strategis dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang akan digelar pada 24-26 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Dr H Amirsyah Tambunan, saat menerima audiensi dari jajaran Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (DPP APKLI) di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026).

​”Gagasan dan aspirasi yang disampaikan APKLI hari ini menjadi bagian penting yang akan memperkaya rekomendasi dalam Kongres Umat Islam Indonesia VIII nanti. Ini momentum besar untuk merumuskan arah baru kedaulatan ekonomi umat,” ujar tokoh yang akrab disapa Buya Amirsyah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum APKLI, Dr Ali Mahsun Atmo, menyampaikan sejumlah poin krusial terkait peran organisasi sebagai mitra pemerintah.

Ali menegaskan tiga fungsi utama APKLI saat ini yakni memperjuangkan aspirasi kesejahteraan rakyat di tingkat nasional hingga daerah, melakukan advokasi kebijakan agar UMKM naik kelas, serta mendampingi akses permodalan bagi para pedagang di berbagai daerah.

Merespons paparan tersebut, Buya Amirsyah memberikan apresiasi tinggi terhadap struktur kepengurusan APKLI yang mengakar kuat dari pusat (DPP), provinsi (DPW), hingga kota/kabupaten (DPD). Namun, di tengah situasi ekonomi nasional yang sedang lesu, ia mengingatkan bahwa UMKM harus didorong untuk bergerak lebih agresif.

Menurut Buya Amirsyah, saat ini ada sekitar 65,5 juta hingga 66 juta unit usaha mikro di Indonesia yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Sektor ini terbukti menyerap 117 juta tenaga kerja atau mencakup 97 persen angkatan kerja, serta menyumbang hingga 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

​”Sektor ini adalah stabilisator kita saat krisis. Maka kuncinya ada dua: pertama, penguatan sistem penyaluran pembiayaan yang langsung dirasakan masyarakat di bawah. Kedua, penguatan SDM melalui pelatihan usaha dan kemudahan akses modal dari pemerintah,” jelasnya.

Untuk memaksimalkan langkah tersebut, Buya Amirsyah menyarankan agar APKLI segera membangun sinergi konkret dengan lembaga internal MUI, seperti Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) untuk fungsi mediasi/advokasi hukum, serta Lembaga Penggerak Ekonomi Umat (LPEU) MUI.

Lebih lanjut, Sekjen MUI ini mendorong APKLI untuk melakukan gerakan progresif yang spektakuler demi mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Menurutnya, Kedaulatan ini, harus mencakup tiga aspek utama yakni ketahanan nasional di komunitas lokal, pemerataan pendapatan ke daerah, dan kemandirian finansial melalui transformasi digital seperti pemanfaatan platform KADIN Indonesia serta sistem pembayaran QRIS.

Buya Amirsyah juga memberikan catatan kepada pemerintah agar lebih tegas melindungi produk lokal dari serbuan barang impor, seperti gawai, pakaian jadi, alas kaki, kosmetik, hingga perabotan rumah tangga.

​”Pemerintah harus konsisten menerapkan aturan pembatasan, termasuk pengenaan bea masuk dan pajak yang ketat bagi produk luar negeri. Ini penting untuk memperkuat neraca perdagangan kita, sekaligus sebagai bukti nyata bahwa Indonesia berdaulat, baik secara ekonomi maupun politik,” kata Buya Amirsyah.

Sumber : https://mui.or.id/baca/berita/sekjen-mui-gagasan-penguatan-umkm-apkli-jadi-masukan-strategis-di-kuii-viii

Matahari Tepat di Atas Ka’bah, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar: Momentum Pastikan Arah Kiblat

Matahari Tepat di Atas Ka’bah, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar: Momentum Pastikan Arah Kiblat

Jakarta, MUI Digital–Menteri Agama RI KH  Nasaruddin Umar mengajak umat Islam memanfaatkan fenomena Matahari berada tepat di atas Ka’bah untuk memastikan kembali ketepatan arah kiblat. Momentum astronomi yang dalam ilmu falak dikenal sebagai Rashdul Qiblat ini dinilai menjadi cara yang mudah, praktis, dan presisi untuk memverifikasi arah kiblat, sehingga dapat dimanfaatkan secara luas melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026.

Menurut Menag, menghadap kiblat merupakan bagian penting dalam kesempurnaan ibadah sholat. Karena itu, memastikan arah kiblat yang benar menjadi ikhtiar yang perlu dilakukan agar pelaksanaan ibadah semakin sempurna.

“Saudara-saudaraku, umat Islam di seluruh Indonesia. Menghadap kiblat adalah bagian penting dalam kesempurnaan ibadah sholat kita. Karena itu, Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026,” ujar Menag dalam keterangan yang diterima MUI Digital di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menag menjelaskan, fenomena Matahari tepat di atas Ka’bah merupakan peristiwa astronomi yang terjadi dua kali setiap tahun. Pada saat itu, sinar Matahari berada tepat di titik zenit Ka’bah, sehingga bayangan benda yang berdiri tegak lurus di permukaan bumi dapat dijadikan acuan untuk menentukan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang tinggi. Metode ilmiah ini untuk memverifikasi arah kiblat.

Tahun ini, fenomena tersebut dapat diamati pada Rabu dan Kamis, 15 – 16 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB, 17.27 WITA, dan 18.27 WIT. Masyarakat cukup menyiapkan tongkat atau benda yang dipasang tegak lurus di tempat terbuka, kemudian mengamati arah bayangan yang terbentuk. Garis yang ditarik dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat menunjukkan arah Ka’bah dan dapat dijadikan acuan untuk mengecek ketepatan arah kiblat.

“Pada Hari Rabu dan Kamis, 15 dan 16 Juli 2026, tepat pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA, kita akan memanfaatkan momentum saat posisi Matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga dapat digunakan untuk memverifikasi arah kiblat secara mudah, praktis, dan presisi,” kata Menag.

Melalui Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini mengajak seluruh masyarakat, para takmir masjid dan musala, Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, pondok pesantren, perguruan tinggi, instansi pemerintah, kantor swasta, hotel, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat di lingkungan rumah untuk bersama-sama melakukan verifikasi arah kiblat.

Partisipasi dalam gerakan nasional ini dilakukan dengan mendaftarkan lokasi pengukuran melalui portal https://indonesiaberkiblat.kemenag.dev. Setelah membuat akun dan mengisi data lokasi, peserta dapat mengikuti pengukuran secara serentak sesuai waktu fenomena Matahari di atas Ka’bah di wilayah masing-masing. Dalam portal tersebut, terdapat juga panduan teknis pelaksanaan sehingga masyarakat dapat melakukan pengukuran secara mandiri maupun bersama petugas Kementerian Agama di daerah.

Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026 tidak hanya bertujuan memastikan ketepatan arah kiblat, tetapi juga meningkatkan literasi masyarakat mengenai ilmu falak sebagai salah satu instrumen penting dalam pelayanan keagamaan. Gerakan ini juga diharapkan menjadi momentum edukasi publik tentang pentingnya ilmu falak sekaligus memperkuat akurasi arah kiblat di berbagai tempat ibadah dan fasilitas umum.

“Mari kita sukseskan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026. Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari upaya kita menyempurnakan kualitas ibadah kepada Allah SWT,” pungkas Menag.

Sumber : https://mui.or.id/baca/berita/matahari-tepat-di-atas-kabah-menteri-agama-kh-nasaruddin-umar-momentum-pastikan-arah-kiblat

10 Cara Berbakti kepada Orang Tua agar Dapat Rida Allah SWT

10 Cara Berbakti kepada Orang Tua agar Dapat Rida Allah SWT

Berbakti kepada orang tua tertulis setelah perintah menyembah Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 23:

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua…”

Selain itu, rida Allah SWT juga bergantung pada rida orang tua, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Rida Allah bergantung pada rida kedua orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka kedua orang tua.” (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Lantas, bagaimana cara berbakti kepada orang tua menurut Islam?

Begini Cara Berbakti kepada Orang Tua yang Baik Menurut Islam

Bertutur kata dengan sopan, taat perintah orang tua, rendah hati, menafkahi dan merawat orang tua, mengajarkan agama dengan benar, sabar, mendoakan orang tua, bersedekah atas nama orang tua, dan juga menjalin silaturahmi dengan kenalan orang tua merupakan cara berbakti yang baik kepada mereka.

Untuk lebih lengkapnya, mari simak penjelasan berikut:

1. Berkata Lemah Lembut dan Sopan

Cara berbakti kepada orang tua yang pertama adalah menjaga cara berbicara, yakni harus sopan dan penuh kelembutan.

Dalam surah Al-Isra ayat 23, Allah SWT berfirman:

“Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Selain berkata baik dan lemah lembut, seorang anak juga harus segera menjawab panggilan orang tuanya.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Suatu hari datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai engkau melihat wajah pelacur” (HR. Al Bukhari)

2. Menaati Perintah Orang Tua

Seorang anak wajib menaati perintah orang tua selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 8:

“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

3. Bersikap Rendah Hati (Tawadhu)

Dalam Islam, seorang anak dianjurkan bersikap tawadhu atau rendah hati dan penuh kasih sayang kepada orang tua.

Artinya, setiap anak tidak berhak merasa sombong, meskipun ilmu yang dimiliki atau hartanya melebihi orang tuanya.

Dalam surah Al-Isra ayat 24, Allah SWT berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

4. Merawat Orang Tua

Bentuk bakti lainnya adalah merawat orang tua, khususnya ketika masa tua mereka. Dalam surah Al-Isra ayat 23, Allah SWT juga berfirman:

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan “ah” dan jangan membentaknya.”

5. Menafkahi Orang Tua

Pada dasarnya, Islam mengajarkan bahwa harta seorang anak juga milik orang tuanya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 215:

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”

Oleh karena itu, jika seorang Muslim memiliki rezeki yang berkecukupan, hendaknya ia mengutamakan menafkahkan hartanya kepada kedua orang tuanya.

6. Mengajarkan Agama dengan Benar

Mengajarkan agama yang benar termasuk bakti yang diwajibkan dalam Islam. Hal ini pernah dilakukan Nabi Ibrahim AS yang ingin ayahnya berhenti menyembah berhala.

Kisah Nabi Ibrahim AS itu tertulis dalam surah Maryam ayat 42-45:

“Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”

7. Bersikap Sabar

Bersikap sabar saat merawat orang tua termasuk bentuk bakti kepada mereka. Ini mencakup menahan emosi, berkata dengan lemah lembut, mendengarkan keluh kesah mereka, dan tidak memotong pembicaraan mereka.

8. Mendoakan Orang Tua

Cara berbakti kepada orang tua selanjutnya adalah mendoakan keduanya, baik ketika masih hidup atau sudah wafat.

Bahkan, ada doa khusus orang tua yang diajarkan dalam Islam yaitu sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku, dan kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.”

9. Bersedekah atas Nama Orang Tua

Bersedekah atas nama orang tua, terutama yang sudah meninggal, bisa menjadi pahala jariyah bagi mereka.

Dari Aisyah radhiyallahu anhuma, ia berkata:

“Bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara tiba-tiba (dan tidak memberikan wasiat), dan aku mengira jika ia bisa berbicara, maka ia akan bersedekah. Apakah ia memperoleh pahala jika aku bersedekah atas namanya (dan aku pun mendapatkan pahala?)” Beliau menjawab, “Ya (maka bersedekahlah untuknya).” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Baihaqi)

Bersedekah atas nama orang tua juga termasuk ciri anak saleh. Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa anak saleh menjadi amalan yang tidak terputus bagi orang tua yang sudah wafat.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim)

10. Menjalin Silaturahmi dengan Kerabat Orang Tua

Menyambung silaturahmi dengan kerabat orang tua, khususnya setelah mereka wafat, termasuk bakti yang sangat dianjurkan.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya kebaikan yang utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturahmi) dengan keluarga sahabat baik ayahnya.” (HR Muslim)

Selain itu, menjaga tali silaturahmi juga pada dasarnya memiliki banyak keutamaan, termasuk dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/10-cara-berbakti-kepada-orang-tua-agar-dapat-rida-allah-swt

Tulisan Arab Astaghfirullah Lengkap dengan Harakat, Latin, Makna dan Tajwidnya

Tulisan Arab Astaghfirullah Lengkap dengan Harakat, Latin, Makna dan Tajwidnya

Liputan6.com, Jakarta – Mempelajari tulisan arab astaghfirullah lengkap dengan harakat merupakan langkah esensial bagi setiap muslim yang ingin menyempurnakan amal zikirnya. Pemahaman bentuk tulisan serta pelafalan huruf hijaiyah yang akurat menjadi ikhtiar menyempurnakaan bacaan sekaligus meresapi maknanya.

Kewajiban membaca dan menulis ini sangat jelas tercermin dalam wahyu pertama Surah Al-‘Alaq. Allah SWT secara nyata menegaskan perintah membaca (belajar) yang lantas dimaknai pula sebagai kewajiban mengajarkan ilmu.

Dalam Buku Belajar Menulis Huruf Hijaiyah 1, Ummu Abdillah al-Buthoniyah menjelaskan penguasaan kecakapan menulis adalah kunci untuk belajar. Konsep serupa ditegaskan juga dalam Buku Aku Bisa Baca Tulis Al-Qur’an susunan Hanik Mahliatussikah, dkk.

Keakuratan menulis menunjang kelancaran tajwid, sehingga ibadah istighfar umat tidak menyimpang dari kaidah Islam. Merangkum literatur kredibel, berikut ini adalah tulisan Arab Astaghfirullah lengkap dengan harakat, tajwid, makna hingga fadhilahnya untuk umat Islam.

Tulisan Arab Astaghfirullah Lengkap dengan Harakat

Tulisan Arab, Latin, dan Artinya

Tulisan astaghfirullah yang benar lengkap dengan harakat adalah sebagai berikut:

Arab: اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

Latin: Astaghfirullahal ‘adziim

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

Selain bentuk pendek tersebut, terdapat pula versi panjang yang lebih sempurna:

Arab: أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Latin: Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Dan aku bertobat kepada-Nya.”

Terdapat pula variasi istighfar lainnya, seperti:

استغفر الله العظيم إن الله غفور رحيم (Astaghfirullahaladzim innallaha ghofururrohim) yang berarti “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

استغفر الله العظيم من كلّ ذنب العظيم (Astaghfirullahaladzim minkulli dzambin ‘adzim) yang berarti “Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, dari segala dosa besar”.

Tajwid dalam Lafal Astaghfirullah

Penting memperhatikan ketepatan kaidah tajwid saat mengucapkan Astaghfirullahal ‘adziim (اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ) agar esensi lafalnya tidak berubah:

• Tafkhim (Tebal) pada Lam Jalalah: Pada kata “Astaghfirullah”, huruf Ra (ر) sebelum lam jalalah (lafaz Allah) memiliki harakat dhommah, sehingga lam jalalah dibaca secara tebal (tafkhim) yang berbunyi “rullah”.

• Sifat Huruf Ghain (غ): Huruf ghain berharakat sukun (mati) didahului fathah. Cara melafalkannya adalah dilepaskan (rakhawah) dengan pangkal tenggorokan terangkat, dan tidak boleh dipantulkan (bukan qalqalah).

• Alif Lam Qamariyah: Terletak pada kata “Al-‘Adziim” (الْعَظِيْمَ), karena alif lam (ال) langsung berhadapan dengan huruf ‘ain (ع). Suara huruf lam wajib dibaca secara tajam dan jelas.

• Makharijul Huruf Zha (ظ): Pengucapan huruf ini tidak boleh tersamar dengan huruf Za (ز) atau Dza (ذ). Lidah bagian ujung diselipkan dan dijepit tipis pada sela dua gigi seri bagian atas.

• Mad ‘Aridh Lissukun: Di penghujung kata “dziim” (ظِيْمَ), huruf mad thabi’i (yakni ya sukun yang didahului kasrah) bertemu dengan huruf hidup (mim) lalu diwaqafkan. Bacaan ini ditarik panjang sejauh 2, 4, atau 6 harakat.

Dalam praktik pembacaan istighfar secara berulang-ulang, para ulama mengajarkan untuk mengakhiri setiap bacaan dengan jazm (sukun) pada huruf terakhir, sehingga menjadi “Astaghfirul-lāh”. Hal ini penting untuk diperhatikan agar bacaan istighfar sesuai dengan tuntunan yang diajarkan.

Makna Astaghfirullahaladzim

Secara etimologi, kata istighfar berasal dari akar kata غ-ف-ر (ghafara) yang berarti menutup atau menyembunyikan. Dalam kalimat Astaghfirullahaladzim, terdapat tambahan kata Al-‘Adzim yang berfungsi sebagai na’at atau sifat Allah yang berarti “Yang Maha Agung”. Dengan demikian, makna lengkapnya adalah permohonan ampun kepada Allah yang memiliki sifat keagungan yang sempurna.

Menurut Quraish Shihab, makna istighfar tidak sekadar memohon agar dosa dihapus, tetapi juga memohon kepada Allah agar menutupi kekurangan dan keburukan seorang hamba dari pandangan orang lain. Lebih dalam lagi, istighfar mengandung permohonan agar Allah memperbaiki kondisi diri sehingga menjadi lebih baik, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Dalil utama tentang istighfar terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 33 yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama mereka masih memohon ampunan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan keutamaan istighfar sebagai amalan yang dapat menutupi dosa-dosa hamba. Sementara itu, Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya mengungkapkan bahwa hakikat maghfirah (keampunan) ialah melindungi diri dari kejahatan dosa. Dalam Kitab Riyadhush Shalihin, Imam Nawawi secara khusus menyusun bab tentang keutamaan istighfar dan perintah untuk mengamalkannya.

Waktu Tepat Mengamalkan Dzikir Astaghfirullahaladzim

Istighfar dapat diamalkan kapan saja, namun terdapat beberapa waktu yang sangat dianjurkan:

1. Sepertiga Malam Terakhir (Waktu Sahur): Waktu ini merupakan saat yang paling mustajab untuk memohon ampunan, di mana Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-Nya yang bermunajat. Syekh Ali Jaber menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk istighfar adalah 30 menit sebelum adzan, terutama saat sahur hingga menjelang subuh.

2. Setelah Shalat Wajib: Salah satu waktu yang dianjurkan untuk membaca istighfar adalah setelah shalat wajib, sebagai bentuk permohonan ampun atas segala khilaf dalam ibadah.

3. Pagi dan Sore Hari: Imam Nawawi menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk membaca istighfar adalah pada pagi dan sore hari, karena kedua waktu tersebut memiliki keutamaan yang besar.

4. Setelah Berwudhu: Istighfar juga disyariatkan untuk dibaca setelah berwudhu.

5. Setiap Saat Setelah Melakukan Dosa: Istighfar menjadi wajib hukumnya saat seseorang melakukan perbuatan dosa, sebagai bentuk taubat segera.

Fadhilah Istighfar bagi Umat Islam

Membaca istighfar memiliki banyak keutamaan dan manfaat bagi kehidupan seorang Muslim:

1. Mendapat Ampunan Dosa: Keutamaan utama istighfar adalah diampuninya dosa-dosa oleh Allah SWT.

2. Dibukakan Pintu Rezeki: Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah SWT akan melapangkan setiap kesusahannya, mengeluarkannya daripada setiap kesempitan dan memberinya rezeki daripada jalan yang tidak dia sangka”. Istighfar juga dapat melapangkan rezeki, menambah kekuatan, memudahkan urusan, serta menenangkan hati.

3. Terhindar dari Azab: Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anfal ayat 33, istighfar menjadi benteng yang melindungi umat dari azab Allah.

4. Dicintai Allah: Orang yang gemar beristighfar akan mendapatkan kecintaan dari Allah SWT.

5. Mendapat Balasan Surga: Inilah sayyidul istighfar yang jika diamalkan dengan ikhlas dan taubatan nasuha, Allah akan mengampuni dosa dan berpotensi menghantarkan pelakunya ke surga.

6. Pengakuan atas Kekurangan Ibadah: Istighfar di akhir ibadah merupakan bentuk pengakuan bahwa ibadah yang dilakukan masih memiliki kekurangan.

Pertanyaan Seputar Penulisan Astaghfirullah

1. Apa tulisan astaghfirullah yang benar dalam Arab?

Tulisan astaghfirullah yang benar adalah اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ (Astaghfirullahal ‘adziim).

2. Apa perbedaan astaghfirullah dan astaghfirullahaladzim?

Perbedaannya terletak pada tambahan kata Al-‘Adzim (Yang Maha Agung) pada astaghfirullahaladzim, yang berfungsi sebagai sifat Allah dan menunjukkan pengagungan terhadap Dzat yang dimintai ampunan.

3. Bagaimana cara membaca astaghfirullah dengan tajwid yang benar?

Dalam membaca astaghfirullah, perlu memperhatikan mad thabi’i, mad jaiz munfashil, alif lam qamariyah, dan mad ‘aridh lissukun ketika berhenti di akhir bacaan.

4. Kapan waktu terbaik membaca istighfar?

Waktu terbaik membaca istighfar adalah pada sepertiga malam terakhir (sahur), setelah shalat wajib, serta pada pagi dan sore hari.

5. Apa keutamaan membaca istighfar 100 kali?

Membaca istighfar 100 kali memiliki keutamaan besar, di antaranya dibukakannya pintu rezeki, dilapangkannya kesempitan, dan diampuninya dosa-dosa.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8244915/tulisan-arab-astaghfirullah-lengkap-dengan-harakat-latin-makna-dan-tajwidnya

Bacaan Arab Sayyidul Istighfar Latin dan Artinya, Simak Makna dan Fadhilahnya bagi Umat Islam

Bacaan Arab Sayyidul Istighfar Latin dan Artinya, Simak Makna dan Fadhilahnya bagi Umat Islam

Liputan6.com, Jakarta – Umat Islam dianjurkan untuk senantiasa merendahkan diri dan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan beristighfar terutama sayyidul istighfar. Untuk itu, umat Islam perlu memahami dan mengamalkan bacaan Arab Sayyidul Istighfar Latin dan artinya secara berkesinambungan dalam keseharian.

Perintah untuk memperbanyak istighfar ini termaktub amat jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Nuh ayat 10: “Maka, aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.'”

Selain mengerti bunyinya, seorang muslim lebih utama menguasai ilmu membaca aksara Arab. Faidah membaca dengan benar sangatlah krusial untuk mencegah distorsi tajwid yang bisa membiaskan makna kesucian dalam doa tersebut.

Para ulama menekankan bahwa ketepatan mahraj dan struktur tulisan merupakan keutamaan agar esensi permohonan ampunan dapat tersampaikan dengan sempurna.

Tulisan Arab Sayyidul Istighfar Lengkap, Latin dan Artinya

Sebagai doa yang dijuluki sebagai rajanya permohonan ampun, pelafalannya harus dilakukan secara tartil. Berikut adalah lafal lengkapnya:

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu. A’ûdzu bika min syarri mâ shana’tu. Abû’u laka bini’matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada Rabb yang berhak disembah, kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa, kecuali Engkau.”

Makna Sayyidul Istighfar bagi Umat Islam

Sayyidul istighfar berarti penghulu atau rajanya istighfar. Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menjelaskan, makna sayyidul istighfar bukan sekadar ucapan permohonan ampun belaka, melainkan sumpah kepatuhan tauhid, pengakuan kelemahan seorang hamba, dan penyerahan diri atas seluruh limpahan nikmat Tuhan yang acapkali dibalas dengan kemaksiatan oleh manusia.

Sayid Utsman bin Yahya dalam Kitab Maslakul Akhyar dan menjelaskan bahwa bobot dan keindahan pengakuan dalam doa ini meletakkannya di posisi paling agung. Lafal ini mengandung pengakuan nikmat dan dosa serta status penciptaan, yang menjadikannya lebih utama dari bentuk-bentuk istighfar lainnya.

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari (syarah Shahih Bukhari) menukil perkataan Ibn Jamrah bahwa dalam hadits Sayyidul Istighfar, Nabi SAW telah menghimpunkan seni makna-makna serta lafaz-lafaz yang indah, dan dengan itu layak disebut sebagai penghulu segala istighfar. Ibn Hajar juga mencatat bahwa doa ini “menggabungkan pujian, penghambaan, perjanjian, pengakuan, dan harapan eksklusif—lima pilar taubat sejati”.

Secara lebih rinci, Sayyidul Istighfar mengandung beberapa makna penting:

• Pengakuan Tauhid: Diawali dengan pengakuan bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan) dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain-Nya.

• Pengakuan sebagai Hamba: Mengakui bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang wajib tunduk dan patuh kepada-Nya.

• Komitmen Perjanjian: Menegaskan komitmen untuk menjaga perjanjian dengan Allah semampunya.

• Permohonan Perlindungan: Meminta perlindungan dari keburukan perbuatan sendiri.

• Pengakuan Nikmat dan Dosa: Mengakui nikmat Allah yang telah diberikan serta mengakui dosa-dosa yang telah diperbuat.

Fadhilah Sayyidul Istighfar

Sayyidul istighfar menjanjikan ganjaran yang tak tertandingi jika diamalkan dengan penuh keikhlasan:

1. Jaminan Masuk Surga: Rasulullah SAW bersabda (HR. Bukhari no. 6306) bahwa barangsiapa mengucapkan doa ini di siang hari dengan keyakinan, lalu meninggal sebelum petang, ia adalah penghuni surga. Demikian pula jika dibaca di malam hari dan wafat sebelum subuh.

2. Mendapat Pengampunan: Menurut Kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, keagungan pengakuan dosa di dalamnya menjadikannya perantara terbaik agar rahmat dan maghfirah (ampunan) Allah SWT turun menutupi seluruh dosa.

3. Solusi dari Kesempitan Hidup: Istighfar membuka jalan keluar bagi mereka yang merasa buntu. Hal ini dikuatkan hadits riwayat Imam Ahmad, di mana Allah SWT akan memberi jalan keluar dari setiap kesempitan.

4. Menghilangkan Kesedihan Hati: Doa ini menggugurkan duka lara dan keresahan batin, menggantinya dengan ketenangan jiwa karena kesadaran penuh bersandar hanya kepada Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri.

5. Membuka Pintu Rezeki yang Luas: Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Nuh, permohonan ampun (istighfar) yang sungguh-sungguh akan memancing datangnya nikmat yang melimpah dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Waktu Tepat Mengamalkan Sayyidul Istighfar

Rasulullah SAW menuntunkan agar lafal agung ini dibaca pada waktu-waktu utama:

Pagi Hari: Dibaca setelah terbit fajar (setelah ibadah Subuh) sebagai bagian dari dzikir pagi, untuk memagari hari dengan penjagaan Allah.

Petang / Malam Hari: Dibaca ketika memasuki waktu Ashar atau usai sholat Maghrib sebagai pelengkap dzikir petang, guna menutup hari dengan pengakuan tobat sebelum tidur.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa seseorang yang membaca Sayyidul Istighfar di sore hari dalam keadaan beriman lalu meninggal pada malam hari, maka ia akan masuk surga. Begitu pula sebaliknya, bila membaca di pagi hari lalu meninggal di waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga.

Sayyidul Istighfar juga dianjurkan untuk dibaca setelah salat fardhu sebagai upaya untuk menghindari dosa. Dengan demikian, amalan ini dapat dilakukan kapan saja, namun waktu pagi dan petang adalah waktu yang paling utama dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

 

Pertanyaan Seputar Sayyidul Istighfar

1. Apa itu Sayyidul Istighfar?

Sayyidul Istighfar adalah doa istighfar terbaik yang diajarkan Rasulullah SAW, disebut sebagai “penghulu” atau “raja” dari semua istighfar karena mengandung pengakuan tauhid, dosa, nikmat, dan permohonan ampun yang sempurna.

2. Kapan waktu terbaik membaca Sayyidul Istighfar?

Waktu terbaik adalah pada pagi hari (setelah Subuh hingga sebelum Ashar) dan sore hari (setelah Ashar atau Maghrib hingga malam).

3. Apa keutamaan membaca Sayyidul Istighfar?

Keutamaan utamanya adalah jaminan masuk surga bagi yang membacanya dengan keyakinan, selain itu juga menghapus dosa, mendekatkan diri kepada Allah, membuka pintu rezeki, dan menenangkan hati.

4. Di mana disebutkan dalil Sayyidul Istighfar?

Dalilnya terdapat dalam Shahih Bukhari (no. 6306 dan 6323) yang diriwayatkan dari Syaddad bin Aus RA, serta disebutkan dalam kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dan Fath al-Bari karya Imam Ibn Hajar

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8244945/bacaan-arab-sayyidul-istighfar-latin-dan-artinya-simak-makna-dan-fadhilahnya-bagi-umat-islam

SEMANGAT BEKERJA MENCARI NAFKAH MENUAI PAHALA BESAR

SEMANGAT BEKERJA MENCARI NAFKAH MENUAI PAHALA BESAR

Kediri – Setiap pagi, jutaan manusia bergegas meninggalkan rumah mereka. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi maupun di dalam ruang-ruang kantor yang sibuk, peluh dan pikiran dicurahkan demi satu tujuan yang mulia: mencari nafkah. Tidak jarang, rutinitas ini terasa menjemukan, berat, dan menguras energi hingga ke titik terendah. Kelelahan fisik dan mental sering kali membayangi setiap langkah kaki. Namun, di balik setiap kepayahan tersebut, Islam menyimpan sebuah rahasia spiritual yang luar biasa, sebuah janji yang mampu mengubah setiap tetes keringat menjadi aliran pahala yang tiada terkira.

Niat Sebagai Pengubah Lelah Menjadi Lillah

Meskipun kadang terasa melelahkan mencari nafkah yang sebenarnya itu adalah suatu amalan yang mulia, maka harus diniatkan dengan ikhlas karena Allah sehingga bisa meraih pahala yang besar. Dalam pandangan seorang mukmin, bekerja bukanlah sekadar aktivitas ekonomi untuk mempertahankan hidup atau menumpuk kekayaan materi semata. Bekerja adalah manifestasi kepatuhan kepada Sang Pencipta yang telah memerintahkan hamba-Nya untuk bertebaran di muka bumi mencari karunia-Nya.

Ketika orientasi berpikir kita diubah—dari yang semula hanya demi mengejar materi duniawi beralih menjadi bentuk ibadah—maka atmosfer batin pun akan ikut berubah. Kelelahan yang mendera tidak lagi dipandang sebagai penderitaan tanpa arti, melainkan sebagai sebuah perjuangan spiritual yang berharga. Niat yang tulus (ikhlas) adalah kunci utama yang akan mengubah status aktivitas duniawi murni menjadi sebuah amal saleh yang bernilai tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa niat yang benar, lelah hanyalah menjadi lelah yang sia-sia di akhirat kelak.

Kemuliaan Memberi Nafkah dalam Tuntunan Sunnah

Islam sangat memuliakan individu yang mandiri secara finansial dan bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya. Memberi kecukupan bagi orang-orang yang berada di bawah tanggungan kita bukanlah sebuah beban sosial, melainkan kewajiban syar’i yang dijanjikan ganjaran sangat besar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56)

Hadits yang agung ini memberikan pemahaman mendalam bagi kita semua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara spesifik memberikan perumpamaan tentang sebutir makanan yang disuapkan atau diberikan kepada istri. Hal yang tampak sangat sederhana dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari di dalam rumah tangga, ternyata memiliki bobot pahala yang sangat berat apabila dilakukan dengan satu syarat utama: mengharapkan wajah Allah. Ini menegaskan bahwa ruang lingkup sedekah yang paling utama dan paling berhak didahulukan adalah nafkah kepada keluarga tercinta sebelum kepada orang lain.

Keberkahan Rezeki yang Halal dan Thayyib

Mencari rezeki dengan cara yang jujur, profesional, dan jauh dari korupsi atau manipulasi merupakan pilar dari tegaknya harga diri seorang Muslim. Setiap usaha yang dihabiskan untuk menjauhi meminta-minta kepada orang lain dinilai sebagai tindakan yang dicintai oleh Allah. Proses yang berat dalam memeras keringat secara halal memancarkan keberkahan yang akan berdampak langsung pada:

  • Ketenangan hati dan kedamaian batin dalam bekerja.
  • Keharmonisan dan kehangatan di dalam rumah tangga.
  • Tumbuh kembang anak-anak yang diberi makan dari harta yang bersih.

Setiap peluh yang menetes dari tubuh seorang pekerja yang mencari nafkah halal dengan penuh keikhlasan adalah saksi kebaikan di hadapan Allah kelak. Jangan pernah meremehkan setiap detik waktu yang Anda habiskan dalam pekerjaan Anda, selama itu berada dalam koridor keridaan-Nya.

Kesimpulan dan Harapan

Pada akhirnya, mari kita bangun setiap pagi dengan paradigma baru. Rasa lelah yang datang menyapa di tengah padatnya aktivitas pekerjaan adalah hal yang manusiawi, namun jangan sampai kelelahan tersebut memadamkan api semangat di dalam jiwa kita. Jadikanlah setiap tantangan kerja sebagai sarana penggugur dosa-dosa masa lalu dan jembatan menuju surga-Nya.

Semoga kita selalu semangat bekerja dengan sebaik-baiknya dengan niat untuk mentaati perintah dari Allah dan agar kita senantiasa dalam lindungan-Nya, dimudahkan dalam pekerjaan kita dan menuai pahala yang besar. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

sumber : https://www.instagram.com/p/DauZRqZk1O_/