Pengaruh Penguasa Terhadap Rakyatnya

Pengaruh Penguasa Terhadap Rakyatnya

وقال ابن جرير: حدثني عمر ثنا علي – يعني ابن محمد المدائني – قال: كان الوليد بن عبد الملك عند أهل الشام أفضل خلائفهم، بنى المساجد بدمشق (2)، ووضع المنائر، وأعطى الناس، وأعطى المجذومين، وقال لهم: لا تسألوا الناس، وأعطى كل مقعد خادما، وكل ضرير قائدا (3)، وفتح في ولايته فتوحات كثيرة عظاما، وكان يرسل بنيه في كل غزوة إلى بلاد الروم، ففتح الهند والسند والاندلس وأقاليم بلاد العجم، حتى دخلت جيوشه إلى الصين وغير ذلك،

Ibnu Jarir mengutip perkataan Ali bin Muhammad al Madaini yang mengatakan, “al Walid bin Abdul Malik menurut pandangan penduduk Syam adalah penguasa mereka yang terbaik. Beliaulah yang membangun berbagai masjid di kota Damaskus, membangun berbagai menara, memberi rakyat yang perlu bantuan financial dan menggaji bulanan para penyandang lepra dan berkata kepada mereka, para penyandang lepra, “Janganlah kalian mengemis”. Beliau memberikan kepada setiap orang yang lumpuh pelayan dan kepada setiap orang yang buta penuntun. Ketika beliau berkuasa beliau menaklukkan banyak negeri-negeri kafir. Beliau kirimkan semua anak laki-lakinya dalam setiap peperangan dengan Romawi. Beliau berhasil menaklukkan India, Spanyol dan berbagai negeri non arab. Pasukan beliau bahkan sudah memasuki Cina dan selainnya.

قال: وكان مع هذا يمر بالبقال فيأخذ حزمة البقل بيده ويقول: بكم تبيع هذه ؟ فيقول: بفلس، فيقول: زد فيها فإنك تربح. وذكروا أنه كان يبر حملة القرآن ويكرمهم ويقضي عنهم ديونهم،

Meski demikian, suatu ketika beliau melewati penjual sayur mayor lantas beliau mengambil satu ikat sayuran dengan tangannya lalu bertanya kepada penjual, “Berapa harganya?”. “Satu fulus”, jawab sang penjual sayur. Beliau kemudian mengatakan, “Tambahi sayurannya karena engkau terlalu untung dengan harga tersebut”.

قالوا: وكانت همة الوليد في البناء، وكان الناس كذلك يلقى الرجل الرجل فيقول: ماذا بنيت ؟ ماذا عمرت ؟

Para pakar sejarah mengatakan bahwa obsesi al Walid bin Abdul Malik adalah membangun. Rakyatnya pun demikian. Jika ada seseorang bertemu kawannya maka pertanyaan yang terlontar, “Apa yang telah kaubangun saat ini? Kau makmurkan dengan bangunan apa tanah yang kau miliki?”.

وكانت همة أخيه سليمان في النساء، وكان الناس كذلك، يلقى الرجل الرجل فيقول: كم تزوجت ؟ ماذا عندك من السراري ؟

Sedangkan obsesi saudaranya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah perempuan sehingga rakyatnya pun demikian. Jika ada seseorang bertemu dengan kawannya maka yang pertama kali ditanyakan, “Berapa kali engkau menikah? Berapa budak perempuan yang kau gauli?”.

وكانت همة عمر بن عبد العزيز في قراءة القرآن، وفي الصلاة والعبادة، وكان الناس كذلك، يلقى الرجل الرجل فيقول: كم وردك ؟ كم تقرأ كل يوم ؟ ماذا صليت البارحة ؟ والناس يقولون: الناس على دين مليكهم، إن كان خمارا كثر الخمر.

Sedangkan obsesi Umar bin Abdul Aziz adalah membaca al Qur’an, shalat dan ibadah. Kondisi rakyat di masa beliau seperti itu. Jika ada seorang bersua dengan kawannya maka pertanyaan yang pertama kali terlontar adalah “Berapa rakaat shalat malam yang kau rutinkan? Berapa lembar mushaf al Qur’an yang kau baca setiap harinya? Shalat apa yang kau kerjakan semalam?”.

Banyak orang mengatakan, “Rakyat itu mengikuti agama atau ketaatan penguasanya. Jika sang penguasa hobi menenggak khamr maka akan banyak khamr yang beredar di masyarakat”.

وإن كان لوطيا فكذلك وإن كان شحيحا حريصا كان الناس كذلك، وإن كان جوادا كريما شجاعا كان الناس كذلك، وإن كان طماعا ظلوما غشوما فكذلك، وإن كان ذا دين وتقوى وبر وإحسان كان الناس كذلك وهذا يوجد في بعض الازمان وبعض الاشخاص، والله أعلم.

Jika penguasa memiliki penyimpangan seksual berupa homoseksual maka kondisi rakyat juga demikian. Jika penguasa itu pelit dan rakus dengan harta maka kondisi rakyat juga demikian. Namun jika penguasa dermawan dan berjiwa sosial tinggi maka kondisi rakyat juga serupa. Jika penguasanya rakus dan suka bertindak kezaliman maka kondisi rakyat juga demikian. Jika penguasa adalah seorang yang bagus agamanya, bertakwa, suka berbuat baik dan menolong maka kondisi rakyat juga demikian. Pengaruh penguasa semacam ini dijumpai pada sebagian masa pada sebagian person penguasa tertentu (Al Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir 9/186).

Sumber : https://muslim.or.id/22486-pengaruh-penguasa-terhadap-rakyatnya.html

Bercanda Tetapi Berbohong

Bercanda Tetapi Berbohong

Sempat menjadi trend kaum muda di zaman sekarang, bercanda tapi berbohong, yaitu trend “seberapa gregetnya kamu”. Bercanda dengan cara seperti ini umumnya dengan cara mengarang cerita yang umumnya tidak benar atau berbohong dalam candaan.

Kami nukilkan contohnya (tidak boleh diikuti):

“Kemaren gue lewati polisi tidur, trus gue selimuti polisinya”

“Kemaren gue beli lumpia basah, trus gue jemur supaya kering”

Contoh-contoh di atas adalah bercanda dan mengandung kebohongan. Hal ini tidak diperbolehkan oleh agama. Bagaimana pun juga hukum asal berbohong itu tidak boleh dan masih banyak cara lainnya untuk bercanda yang diperkenankan oleh syariat.

Bercanda seperti ini dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” [HR Abu Dawud no. 4990. Hasan]

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin rumah di surga bagi mereka yang meninggalkan berkata dusta walaupun dalam hal bercanda. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” [HR. Abu Dawud, no. 4800; shahih]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa berbohong dalam bercanda dapat menimbulkan permusuhan atau salah paham di antara manusia. Syariat ini dalam rangka untuk menuntup jalan ke arah yang lebih buruk, jadi meskipun tidak menyebabkan langsung, tetapi bisa jadi menjadi penyebab permusuhan dan salah paham di kemudian hari. Beliau berkata,

وقد قال ابن مسعود : ” إن الكذب لا يصلح في جَدٍّ ، ولا هزل ” … .
وأما إن كان في ذلك ما فيه عدوان على المسلمين ، وضرر في الدين : فهو أشد تحريماً من ذلك ، وعلى كل حال : ففاعل ذلك – أي : مضحك القوم بالكذب – مستحق للعقوبة الشرعية التي تردعه عن ذلك .

“Ibnu Ma’sud berkata, ‘Berbohong itu tidak layak baik dalam keadaan serius maupun bercanda’. Apabila dalam candaan menimbulkan permusuhan di antara manusia dan menimbulkan madharat dalam agama, maka lebih diharamkan lagi. Pelakunya berhak mendapatkan hukuman yang bisa membuat jera.” (Majmu’ Al-Fatawa 32/256]

Bisa jadi seseorang menganggap bercanda, tetapi bagi orang lain itu bukanlah bercanda dan menyakiti hatinya. Perhatikan hadits berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا

“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.” [HR. Abu Dawud, shahih]

Bercanda dengan berbohong juga termasuk membuang-buang waktu kita yang sangat berharga. Lebih baik kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan semoga Allah memudahkan kita.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” [HR. at-Tirmidzi, hasan]

sumber : https://muslim.or.id/43730-bolehkah-bercanda-dengan-cara-berbohong.html

Pentingnya Tauhid

Pentingnya Tauhid

Tauhid adalah sesuatu yang sudah akrab di telinga kita. Namun tidak ada salahnya kita mengingat beberapa keutamaan dan pentingnya tauhid. Karena dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang kita yang selama ini yang mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan berujung pada kehancuran dunia dan akhirat.

Tujuan Diciptakannya Makhluk Adalah untuk Bertauhid

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat).

Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.

Tujuan Diutusnya Para Rasul Adalah untuk Mendakwahkan Tauhid

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (QS. An Nahl: 36).

Thoghut adalah sesembahan selain Allah.

Syaikh As Sa’di berkata, Allah Ta’ala memberitakan bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang dahulu maupun yang belakangan, kecuali Allah telah mengutus dalam umat tersebut seorang Rasul. Dan seluruh Rasul itu sepakat dalam menyerukan dakwah dan agama yang satu yaitu beribadah kepada Allah saja yang tidak boleh ada satupun sekutu bagi-Nya (Taisir Karimirrohman, Tafsir surat An Nahl).

Beribadah kepada Allah dan mengingkari thoghut itulah hakikat makna tauhid.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama dan Terakhir

Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu“Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).

Tauhid Adalah Kewajiban yang Paling Wajib

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki.” (QS. An Nisaa’: 116).

Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu tauhid menjadi kewajiban yang terbesar pula. Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba.

Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” (QS. An Nisaa’: 36)

Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (QS. Luqman: 15)

Hati yang Saliim Adalah Hati yang Bertauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Allah Ta’ala berfirman, “Hari dimana harta dan keturunan tidak bermanfaat lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” (QS. Asy Syu’araa’: 88-89).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, yaitu hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Asy Syu’araa’).

Maka orang yang ingin hatinya bening hendaklah ia memahami tauhid dengan benar.

Tauhid Adalah Hak Allah yang Harus Ditunaikan Hamba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya artinya mentauhidkan Allah dalam beribadah. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam beribadah, sehingga wajib membersihkan diri dari syirik dalam ibadah. Orang yang tidak membersihkan diri dari syirik maka belumlah dia dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah saja (diringkas dari Fathul Majid).

Ibadah adalah hak Allah semata, maka barangsiapa menyerahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Maka orang yang ingin menegakkan keadilan dengan menunaikan hak kepada pemiliknya sudah semestinya menjadikan tauhid sebagai ruh perjuangan mereka.

Tauhid Adalah Sebab Kemenangan di Dunia dan di Akhirat

Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor radhiyallahu ta’ala ‘anhum adalah bukti sejarah atas hal ini. Keteguhan para sahabat dalam mewujudkan tauhid sebagai ruh kehidupan mereka adalah contoh sebuah generasi yang telah mendapatkan jaminan surga dari Allah serta telah meraih kemenangan dalam berbagai medan pertempuran, sehingga banyak negeri takluk dan ingin hidup di bawah naungan Islam. Inilah generasi teladan yang dianugerahi kemenangan oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridho kepada mereka dan mereka pun telah ridho kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)

Namun sangat disayangkan, kenyataan umat Islam di zaman ini yang diliputi kebodohan bahkan dalam masalah tauhid! Maka pantaslah kalau kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Islam di masa ini. Ini menunjukkan bahwa ada yang salah dalam akidah.

Ketahuilah Bahwa Penghuni Surga Itu Sedikit

Yang jadi masalah adalah ketika penghuni surga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penghuni neraka sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu delegasi neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah itu delegasi neraka?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal kita ketahui bahwa kaum muslimin saat ini adalah hampir separuh penduduk dunia dan terus bertambah, sedangkan kaum kuffar di Eropa jumlahnya kian berkurang karena mereka ‘malas’ untuk menikah dan punya anak. Bahkan ada di antara negara-negara Eropa yang memberikan tunjangan agar penduduknya mau menikah dan punya anak.

Kabar yang sedikit menggembirakan kita adalah kenyataan bahwa Ya’juj dan Ma’juj yang akan keluar menjelang hari kiamat itu jumlahnya sangat banyak, hingga mampu meminum air danau thobariah hingga kering, sebagaimana dikabarkan dalam hadits yang shahih. Akan tetapi kita tidak mengetahui berapa perbandingan sebenarnya antara orang yang mengaku islam dengan orang-orang kafir. Sedangkan orang yang mengaku Islam dan mengucapkan kalimat syahadat belum tentu masuk surga. Sebab…

Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga

“Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)

Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?).

Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته

“Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”

Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya?

Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah

Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin). Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106)

Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah.

Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut:

Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk Mentauhidkan Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya.

Tauhid Merupakan Tujuan Diutusnya Para Rasul

Sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.

Iblis terbilang cukup ‘sabar’ dalam melancarkan aksinya selama sepuluh abad untuk menggelincirkan keturunan Adam ‘alaihissalam kepada kemusyrikan -sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)- Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.

Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama Bagi Manusia Dewasa dan Berakal

Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu & bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)

Pelanggaran Tauhid Adalah Keharaman yang Terbesar

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)

Allah mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah yang terbesar.

Tauhid Harus Diajarkan Sejak Dini

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas tentang tauhid sejak beliau masih kecil.

إذا سألت فاسأل الله و إذ استعنت فستعن بالله

“Jika engkau hendak memohon, maka mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, maka memohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Tauhid Adalah Materi Dakwah yang Pertama Kali Harus Diserukan

Saat mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – و في رواية : إلي أن يوحدوا الله

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari, Muslim)

Jika kita masih menganggap bahwa, itu jika yang menjadi objek dakwah kita adalah orang kafir. Jika kaum muslimin maka tidak demikian. Maka ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang jika tidak mendapatkan kesembuhan dari penyakit secara medis mereka berbondong-bondong mengunjungi dukun atau yang dikenal dengan istilah sekarang sebagi paranormal.

Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di pesisir pantai yang melakukan penyembelihan kurban kepada selain Allah (baca: Nyi Roro Kidul) yang mereka istilahkan dengan sedekah laut. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang menyembelih kerbau untuk ditanam kepalanya di bawah jembatan yang hendak mereka bangun, sebagai persembahan agar mereka tidak diganggu oleh jin penunggu daerah tersebut?

Berapa banyak kemusyrikan-kemusyrikan yang merajalela di tengah umat ini, sedangkan sebagian kaum muslimin yang lain mengatakan bahwa hal tersebut adalah ‘kebudayaan’ bangsa yang harus dilestarikan? Betapa sedikitnya kaum muslimin yang memahami dan mengamalkan tauhid? Lahan dakwah tauhid masih terlalu luas, akankah kita berdiam diri dan tetap meremehkan masalah ini? Wallahu waliyyut taufiiq.

Sumber : https://muslim.or.id/469-pentingnya-tauhid.html

Cara Al-Qur’an Menguatkan Nabi Muhammad saat Dakwahnya Ditolak

Cara Al-Qur’an Menguatkan Nabi Muhammad saat Dakwahnya Ditolak

Hidup tidak selalu berjalan dalam satu warna. Ada siang dan malam, senang dan sedih, lapang dan sempit, berhasil dan gagal. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari masalah. Orang kaya punya ujiannya sendiri, orang biasa pun demikian. Orang saleh diuji, orang yang belum baik pun diuji.

Karena itu, yang membedakan seseorang bukan terletak pada apakah ia punya masalah atau tidak, melainkan pada bagaimana ia bersikap ketika masalah itu datang. Ada orang yang runtuh karena masalah, tetapi ada pula yang justru semakin matang, semakin dekat dengan Allah, dan semakin kuat menjalani hidup.

Menariknya, Al-Qur’an memiliki cara tersendiri untuk mendidik manusia agar mampu menghadapi masalah. Cara itu tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang atau perintah langsung. Sering kali, Al-Qur’an mendidik melalui kisah. Dari kisah itulah manusia diajak untuk melihat, merenung, lalu menemukan kekuatan baru.

Bahkan, sasaran pertama pendidikan itu adalah manusia paling mulia, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. Melalui kisah para nabi terdahulu, Allah menguatkan hati beliau ketika dakwahnya ditolak dan ketika kesedihan yang begitu berat dirasakan.

Saat Nabi Muhammad Bersedih karena Dakwahnya Ditolak

Ada anggapan yang kadang muncul di tengah masyarakat bahwa para nabi tidak pernah merasa sedih atau kecewa. Seolah-olah, karena mereka dekat dengan Allah, mereka tidak merasakan luka batin sebagaimana manusia pada umumnya.

Padahal, para nabi tetap manusia. Mereka merasa sedih, kecewa, berat, dan lelah. Bedanya, mereka tidak menyerah pada perasaan itu. Mereka tetap berjalan dalam bimbingan Allah.

Baginda Nabi Muhammad SAW pun demikian. Beliau pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam ketika dakwahnya ditolak oleh kaum Quraisy. Bukan hanya ditolak, beliau juga dimusuhi, dihina, dan dituduh dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan.

Kesedihan itu sampai diabadikan oleh Allah dalam
surah asy-Syu‘ara’ ayat 3:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya, “Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.” (QS. asy-Syu‘ara’ [26]: 3)

Imam Abu Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustari (w. 283 H) dalam Tafsir at-Tustari menjelaskan ayat ini dengan sangat menyentuh:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَيْ مُهْلِكٌ نَفْسَكَ بِاتِّبَاعِ الْمُرَادِ فِي هِدَايَتِهِمْ، وَقَدْ سَبَقَ الْحُكْمُ مِنَّا بِمَا يَكُونُ مِنْ إِيمَانِ الْمُؤْمِنِ وَكُفْرِ الْكَافِرِ، فَلَا تَغْيِيرَ وَلَا تَبْدِيلَ، وَبَاطِنُ ذَلِكَ أَنَّكَ شَغَلْتَ نَفْسَكَ عَنَّا بِالِاشْتِغَالِ بِهِمْ حِرْصًا عَلَى إِيمَانِهِمْ، مَا عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ، فَلَا يَشْغَلْكَ الْحُزْنُ فِي أَمْرِهِمْ عَنَّا

Artinya, “‘Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan)’; yakni engkau sedang membinasakan dirimu dengan terus mengikuti keinginanmu agar mereka mendapat hidayah, padahal keputusan telah Kami tetapkan sejak awal—tentang siapa yang beriman dan siapa yang kafir, dan itu tidak dapat diubah atau diganti.

Sedangkan makna batinnya adalah: engkau telah menyibukkan dirimu dari Kami dengan terlalu larut memikirkan mereka karena besarnya keinginanmu agar mereka beriman. Tugasmu hanyalah menyampaikan; jangan biarkan kesedihan atas urusan mereka memalingkanmu dari Kami.” (Sahl bin Abdullah at-Tustari, Tafsir at-Tustari, [Baerut, Lebanon, Dar al-Kutub al-Ilmiyah: 1423 H/2002 M] hlm. 115)

Penjelasan at-Tustari ini memuat pesan yang sangat mendalam. Di satu sisi, Allah mengingatkan bahwa hidayah ada dalam ketetapan-Nya. Nabi hanya bertugas menyampaikan, bukan memaksa hati manusia untuk beriman.

Di sisi lain, Allah juga menegur dengan penuh kasih. Jangan sampai kesedihan atas manusia membuat seseorang terlalu jauh dari ketenangan bersama Allah. Dakwah memang penting, perjuangan memang mulia, tetapi hati tetap harus bersandar pada Allah, bukan pada hasil yang tampak di hadapan manusia. Pesan inilah yang kemudian dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui cara yang khas, yaitu kisah para nabi terdahulu.

Al-Qur’an Menguatkan Nabi dengan Kisah Nabi Musa
Ketika menenangkan Baginda Nabi, Allah tidak hanya memberi nasihat secara langsung. Allah juga mengajak beliau melihat perjalanan nabi-nabi sebelumnya. Seakan-akan, Allah memperlihatkan bahwa jalan dakwah memang berat, dan Nabi Muhammad SAW tidak sendirian dalam menghadapi penolakan.

Kisah pertama yang dihadirkan dalam surah Asy-Syu’ara’ adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah menampilkan perjuangan panjang Nabi Musa melawan Fir’aun, hingga akhirnya Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari kejaran musuh.

Allah berfirman dalam surah asy-Syu’ara’ ayat 63-67:

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ ﴿٦٣﴾ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ ﴿٦٤﴾ وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ﴿٦٥﴾ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ ﴿٦٦﴾ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ ٦٧

Artinya, “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Dan di sana Kami dekatkan (ke tepi laut) golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa beserta orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak  beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 63-67)

Bagian akhir ayat ini penting untuk diperhatikan: “tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” Kalimat ini seakan mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Musa juga pernah menghadapi penolakan. Tidak semua orang yang melihat tanda-tanda kekuasaan Allah langsung beriman.

Namun, penolakan itu tidak membuat perjuangan Nabi Musa menjadi sia-sia. Pada akhirnya, Allah menyelamatkan beliau dan orang-orang yang beriman bersamanya. Dari sini, Nabi Muhammad SAW dikuatkan agar tidak mengukur dakwah hanya dari banyaknya atau sedikitnya orang yang menerima saat itu juga.

Kisah Nabi Ibrahim dan Kesedihan yang Lebih Berat
Setelah kisah Nabi Musa, Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam kisah ini, Nabi Ibrahim berhadapan langsung dengan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala.

Allah berfirman dalam surah asy-Syu‘ara’ ayat 69-77:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ ﴿٦٩﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٧٠﴾ قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ ﴿٧١﴾ قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ﴿٧٢﴾ أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ ﴿٧٣﴾ قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ﴿٧٤﴾ قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ ﴿٧٥﴾ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ ﴿٧٦﴾ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ ﴿٧٧

Artinya, “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar kamu ketika kamu berdoa? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?’

Mereka menjawab, ‘Bukan, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Ibrahim berkata, ‘Sudahkah kamu pikirkan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka semua adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.’” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 69-77)

Mengapa kisah Nabi Ibrahim dihadirkan setelah kisah Nabi Musa?
Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatihul Ghayb menjelaskan:

اعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ شِدَّةَ حُزْنِ مُحَمَّدٍ ﷺ بِسَبَبِ كُفْرِ قَوْمِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ ذَكَرَ قِصَّةَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَنَّ مِثْلَ تِلْكَ الْمِحْنَةِ كَانَتْ حَاصِلَةً لِمُوسَى، ثُمَّ ذَكَرَ عَقِبَهَا قِصَّةَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَيْضًا أَنَّ حُزْنَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِهَذَا السَّبَبِ كَانَ أَشَدَّ مِنْ حُزْنِهِ، لِأَنَّ مِنْ عَظِيمِ الْمِحْنَةِ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَرَى أَبَاهُ وَقَوْمَهُ فِي النَّارِ وَهُوَ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ إِنْقَاذِهِمْ إِلَّا بِقَدْرِ الدُّعَاءِ وَالتَّنْبِيهِ

Artinya, “Ketahuilah bahwa Allah menyebut di awal surah ini beratnya kesedihan Nabi Muhammad SAW akibat kekufuran kaumnya. Kemudian Allah menghadirkan kisah Nabi Musa AS agar Muhammad tahu bahwa cobaan semacam itu pernah juga menimpa Musa.

Lalu setelahnya Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS agar Muhammad juga tahu bahwa kesedihan Ibrahim atas sebab yang sama ternyata jauh lebih berat daripada kesedihannya sendiri.

Karena termasuk ujian terbesar yang menimpa Ibrahim adalah menyaksikan ayah dan kaumnya sendiri berada di neraka, sementara ia tidak mampu menyelamatkan mereka selain sebatas doa dan peringatan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghayb [Tafsir al-Kabir], [Baerut, Lebanon, Dar Ihya at-Turats al-Arabi: 1420 H] juz 21, hlm. 541)

Penjelasan ar-Razi ini memperlihatkan betapa halus cara Al-Qur’an mendidik hati Nabi Muhammad SAW. Allah tidak hanya berkata, “Jangan bersedih.” Allah justru menghadirkan kisah orang-orang mulia yang pernah merasakan beban yang sama.

Kisah Nabi Musa menunjukkan bahwa penolakan merupakan bagian dari perjalanan dakwah. Sementara kisah Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa ada kesedihan yang jauh lebih berat, yaitu ketika seseorang menyaksikan orang terdekatnya sendiri menolak kebenaran.

Bagi Nabi Ibrahim, yang menolak bukan hanya orang-orang yang jauh. Ayah dan kaumnya sendiri berada dalam kesesatan. Beliau tidak mampu memaksa mereka menerima kebenaran. Yang bisa beliau lakukan hanyalah berdoa, mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran sebaik-baiknya.

Belajar Kuat dari Kisah Orang-Orang Saleh

Di sinilah tampak salah satu metode pendidikan Al-Qur’an yang sangat penting. Ketika seseorang dilanda masalah, Al-Qur’an tidak selalu mengajaknya untuk melupakan masalah tersebut. Al-Qur’an justru mengajaknya untuk melihat masalah tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.

Caranya adalah dengan menghadirkan kisah para orang-orang terdahulu. Bukan agar kita membanding-bandingkan penderitaan secara menyakitkan, melainkan agar kita sadar bahwa jalan hidup orang beriman memang tidak selalu mudah.

Para nabi pun pernah ditolak. Mereka pernah disakiti. Mereka pernah kehilangan orang yang mereka cintai. Mereka pernah menghadapi pengkhianatan, permusuhan, dan kesedihan yang dalam. Namun, mereka tetap bertahan karena hati mereka bersandar pada Allah.

Dari sini, kita belajar bahwa masalah yang kita hadapi hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Boleh jadi ia berat, tetapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Boleh jadi ia membuat hati lelah, tetapi bukan berarti Allah meninggalkan kita.

Kisah para nabi mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak sedih. Sabar adalah tetap berada di jalan yang benar meskipun hati sedang terluka. Sabar adalah tetap percaya kepada Allah meskipun hasilnya belum terlihat. Sabar adalah terus melakukan yang terbaik, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Maka, ketika kita menghadapi masalah, penolakan, kegagalan, atau kesedihan, salah satu cara Al-Qur’an menguatkan kita adalah dengan mengingatkan bahwa orang-orang terbaik pun pernah melewati jalan yang berat. Jika mereka mampu bertahan dengan pertolongan Allah, maka kita pun semestinya tidak boleh kehilangan harapan.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu membaca setiap masalah dengan hati yang lebih jernih, mengambil pelajaran dari kisah para nabi, dan tetap teguh berjalan di jalan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.

Sumber : https://islam.nu.or.id/hikmah/cara-al-qur-an-menguatkan-nabi-muhammad-saat-dakwahnya-ditolak-exO43

Mengapa Rasulullah Jarang Sakit? Ini Rahasia Beserta Dalilnya

Mengapa Rasulullah Jarang Sakit? Ini Rahasia Beserta Dalilnya

Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki stamina dan kekuatan fisik yang luar biasa. Beliau tidak hanya berdakwah di atas mimbar, tetapi juga turun langsung memimpin berbagai peperangan.

Menariknya, dalam catatan sejarah Islam, sangat jarang disebutkan bahwa Rasulullah SAW jatuh sakit.

Berdasarkan beberapa riwayat hadis, beliau hanya tercatat mengalami sakit parah sebanyak tiga kali sepanjang hidupnya, yaitu ketika menerima wahyu pertama, saat diracun oleh seorang wanita Yahudi, dan menjelang wafatnya.

Lalu, apa yang membuat Rasulullah SAW begitu jarang sakit?

Ini Alasan Kenapa Rasulullah Jarang Sakit

1. Menjaga Pola Makan

Rasulullah SAW jarang sakit parah karena selalu menjaga pola makannya. Segala yang masuk ke dalam tubuhnya adalah makanan yang halal dan thayyiban.

Halal maksudnya didapat dengan cara yang benar, sedangkan thayyiban berarti baik, menyehatkan, berkualitas, dan bermanfaat bagi tubuh.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah makan berlebihan, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 31:

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

“Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus (melebihi itu), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

2. Pola Tidur Teratur

Alasan lain kenapa Rasulullah SAW jarang sakit adalah mengatur pola tidurnya dengan teratur. Nabi Muhammad SAW terbiasa tidur pada awal malam atau setelah salat Isya.

Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Aisyah radhiyallahu anha. Ia berkata:

“Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa tidur pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu salat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW juga selalu bangun sebelum subuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa tidur di awal malam dan beliau menghidupkan akhir malam (dengan salat). Jika beliau memiliki hajat (hubungan suami istri), beliau menunaikan hajat tersebut kemudian tidur. Pada azan Subuh pertama, beliau duduk. Kemudian, beliau menuangkan air. Jika beliau tidak dalam keadaan junub, beliau berwudu seperti wudu seseorang yang hendak salat. Kemudian, beliau salat dua rakaat.” (HR Muslim)

3. Menjaga Kebersihan Diri

Islam sangat mementingkan kebersihan. Rasulullah SAW rutin berwudu, menjaga kebersihan pakaiannya, memotong kuku, bersiwak (menyikat gigi), serta menjaga kebersihan lingkungan.

Semua yang dilakukan Rasulullah SAW itu semata-mata mentaati perintah Allah SWT yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 222:

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”

Saking cintanya dengan kebersihan, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan ingin umatnya bersiwak setiap hendak salat.

Namun, hal itu tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW sebab memberatkan umatnya.

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak salat.” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Olahraga

Nabi Muhammad SAW jarang sakit karena rajin berolahraga. Dalam berbagai riwayat, dijelaskan  bahwa beliau sering berjalan kaki, bepergian, serta melakukan banyak aktivitas bersama para sahabatnya.

5. Rutin Puasa Sunah

Nabi Muhammad SAW juga rutin melakukan puasa sunah yang membuat staminanya terjaga dan tidak gampang sakit.

Rasulullah SAW rutin puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, hingga puasa Nabi Daud. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Pada hari Senin dan Kamis semua amal (manusia) diserahkan kepada Allah. Maka, aku sangat menyukai ketika amalku diangkat, aku sedang dalam keadaan berpuasa.” (HR Muslim)

6. Tidur di Siang Hari

Nabi Muhammad SAW selalu menyempatkan qailulah atau tidur singkat yang dilakukan pada siang hari sebelum waktu Zuhur.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Lakukanlah qailulah karena setan tidak melakukan qailulah.” (HR Thabrani)

Anjuran Nabi Muhammad SAW ini pun terbukti secara ilmiah. Tidur siang ternyata bagus untuk memulihkan tenaga, meningkatkan fokus, hingga memperbaiki suasana hati.

Namun, harus dipahami bahwa tidur siang ini dilakukan dengan singkat dan tidak berlebihan agar tak mengganggu pola hidup lainnya.

7. Menyambung Silaturahmi

Alasan lain yang membuat Rasulullah SAW jarang sakit adalah menyambung tali silaturahmi. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Siapa yang menginginkan rezekinya dimudahkan dan usianya dipanjangkan maka hendaklah dia menyambung silaturahmi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

8. Tidak Mengonsumsi yang Haram

Nabi Muhammad SAW juga jarang sakit karena beliau tidak pernah mengonsumsi sesuatu yang haram, baik dari cara mendapatkannya maupun wujud makanan dan minumannya.

Dalam Alquran, Allah SWT juga sudah mengingatkan hamba-Nya untuk tidak menjerumuskan diri sendiri ke dalam kerusakan.

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/mengapa-rasulullah-jarang-sakit-ini-rahasia-beserta-dalilnya

Apa Hukum Menolak Meminjamkan Uang dalam Islam?

Apa Hukum Menolak Meminjamkan Uang dalam Islam?

Utang piutang diperbolehkan dalam Islam selama bertujuan menolong sesama Muslim. Mayoritas ulama juga sepakat bahwa hukum pinjaman adalah nadb alias dianjurkan.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Setiap pinjaman yang diberikan kepada seorang muslim sebanyak dua kali, maka nilainya seperti satu kali sedekah.” (HR Ibnu Majah)

Meski begitu, Islam tetap mengatur etika yang berkaitan dengan harta dan pinjaman.

Bahkan, ayat terpanjang dalam Alquran yaitu surah Al-Baqarah ayat 282 berisi tentang pencatatan transaksi dan kehadiran saksi dalam proses utang piutang.

Aturan ini dibuat Allah SWT untuk menjaga keadilan, melindungi hak masing-masing, dan mencegah terjadinya perselisihan.

Lantas, bagaimana hukum menolak meminjamkan uang dalam Islam? Apakah otomatis menjadi haram dan kita berdosa?

Hukum Menolak Meminjamkan Uang dalam Islam

Menolak meminjamkan uang tidak otomatis menjadi haram atau berdosa sebab pada dasarnya, hukum meminjamkan uang pun dianjurkan bukan wajib.

Oleh karena itu, seseorang boleh menolak meminjamkan uangnya apabila terdapat alasan yang dibenarkan.

Alasan yang Dibenarkan untuk Menolak Pinjaman

1. Ketidakmampuan Penerima Pinjaman

Jika peminjam tidak mampu mengembalikan uang dalam waktu yang ditentukan, menolak memberikan pinjaman bisa dipertimbangkan.

2. Potensi Kerugian Finansial

Seorang Muslim juga berhak menolak meminjamkan uang jika merasa ada potensi kerugian finansial atau memberatkan kondisi ekonomi.

3. Peminjam Tidak Jujur

Alasan lainnya yang dibenarkan untuk menolak pinjaman adalah sifat tidak amanah atau tidak jujur dari sang peminjam.

Jika si peminjam dianggap tidak jujur berdasarkan informasi yang didapat, menolak untuk meminjamkan uang juga keputusan yang tepat.

4. Menimbulkan Kemudaratan

Ketidakjujuran si peminjam bisa saja menimbulkan sesuatu yang berdampak buruk atau membawa kemudaratan.

Misalnya, mengaku butuh uang untuk membayar sekolah anak, tetapi justru dipakai untuk foya-foya mengonsumsi barang haram.

Pemberi pinjaman berhak menolak karena tidak sesuai dengan syariat Islam.

Kapan Hukum Menolak Meminjamkan Uang Jadi Wajib atau Makruh?

Hukum menolak meminjamkan uang bisa menjadi wajib jika uang yang dipinjamkan digunakan untuk perbuatan maksiat.

Misalnya, membiayai praktik riba, membeli khamr atau minuman keras, berzina, dan perbuatan maksiat lainnya yang sangat dilarang.

Sementara, meminjamkan uang juga menjadi makruh jika uangnya dipakai untuk hal-hal yang dimakruhkan dalam agama.

Sebagai contoh, menggunakan uang pinjaman untuk membeli rokok, membeli sesuatu secara berlebihan atau boros, atau untuk membiayai kesenangan duniawi yang membuat lupa beribadah.

Adapun Allah SWT juga telah melarang hamba-Nya untuk tolong-menolong dalam berbuat dosa, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Maidah ayat 2:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/apa-hukum-menolak-meminjamkan-uang-dalam-islam

Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

Imam Malik bin Anas: Pelita Ilmu dari Kota Madinah dan Keteguhan di Tengah Badai Fitnah

SIAPA PUN yang memasuki Masjid Nabawi pada pertengahan abad kedua Hijriah akan melihat seorang pria bertubuh tinggi, berpakaian indah, dan berpenampilan agung. Pria yang memancarkan wibawa serta ketenangan itu sedang duduk di dalam halakah ilmiah terbesar pada masa itu.

Pria tersebut adalah Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu. Allah Swt. telah menganugerahinya kelebihan yang luas dalam hal ilmu, fisik, dan akhlak.

Beliau memilih untuk menyelenggarakan majelis keilmuannya di dalam masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masjid ini merupakan masjid ketiga dari tiga masjid yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi dalam perjalanan ibadah.

Beliau juga memilih tempat duduk di lokasi yang dahulu sering ditempati oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Pengaruh dan reputasi Malik pun menjadi buah bibir penduduk di berbagai kota dan wilayah strategis Islam.

Fatwa-fatwanya tersebar luas dan menjadi rujukan utama di Mesir, Syam, hingga ke seluruh wilayah Maroko. Di Andalusia, beliau menjelma sebagai ulama nomor satu yang kealimannya tidak tertandingi oleh siapa pun.

Beliau memiliki otoritas kuat di Madinah, bahkan pengaruhnya setara dengan wewenang para gubernur di sana. Kedudukan tinggi tersebut tentu tidak diperoleh secara cuma-cuma, melainkan karena latar belakang pertumbuhan, kerja keras, guru-guru, dan karakter pribadinya.

Faktor pendukung lainnya adalah limpahan ilmu yang luas, kemampuan istinbat fikih yang akurat, kepekaan terhadap kemaslahatan manusia, serta penguasaan mendalam atas Al-Qur’an dan sunah. Imam Darul Hijrah ini dilahirkan pada tahun 93 Hijriah.

Keluarganya memiliki perhatian yang sangat besar terhadap hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kisah-kisah para sahabat, serta fatwa-fatwa mereka. Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Malik radhiyallahu ‘anhu lahir di tengah keluarga yang tersohor dalam bidang periwayatan ilmu.

Pada masa tersebut, ilmu fikih masih bercampur baur dengan ilmu hadis. Setelah menghafal Al-Qur’an dan mendalami bahasa Arab, Imam Malik memfokuskan diri untuk menuntut ilmu periwayatan hadis sekaligus ilmu fikih.

Lingkungan masyarakat di sekitarnya, sebagaimana lingkungan internal keluarganya, turut mengarahkannya pada pengetahuan dan pencarian riwayat hadis. Beliau lahir dan tumbuh besar di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan ibu kota Daulah Islamiah pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum.

Pada masa Umar, kota ini dipenuhi oleh sebagian besar sahabat yang ahli dalam bidang fikih. Para tabi’in yang ingin menimba ilmu fikih sahabat pun berbondong-bondong menuju Madinah.

Madinah memegang kedudukan ilmiah yang sangat tinggi pada masa Dinasti Umayyah. Kota suci ini menjadi tempat lahirnya sunah-sunah dan fatwa-fatwa berharga yang diriwayatkan secara turun-temurun.

Inilah lingkungan tempat Malik menjalani kehidupan, dan itulah keluarganya. Kedua faktor tersebut terus memotivasi dirinya untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Ada pula faktor ketiga yang tidak kalah penting, yaitu ibundanya. Sang ibu mengawasi langsung arah pendidikan Malik, memilihkan guru-guru terbaik, serta membimbingnya dalam menyerap sari pati ilmu yang paling berharga dari setiap guru.

Malik pun melangkah untuk menuntut ilmu dengan kepribadian yang dikenal penuh wibawa dan ketenangan. Ketika masih kecil, beliau pernah berjalan melewati salah seorang gurunya yang sedang menyampaikan pelajaran hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena kondisi tempat belajar saat itu sangat sempit, beliau memilih untuk tidak duduk dan tidak menyimak pelajaran tersebut. Ketika sang guru menemuinya di kemudian hari, guru tersebut menegurnya, “Apa yang menghalangimu duduk di majelisku?”

Malik menjawab, “Tempatnya sangat sempit, dan saya tidak suka menulis hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam posisi berdiri.” Beliau kemudian menimba ilmu dari banyak guru, termasuk dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah menguasai ilmu-ilmu yang ada pada zamannya dan merasa mantap dengan kapasitas keilmuannya, beliau mulai mengajar. Beliau membagi majelisnya menjadi dua sesi, yaitu sesi periwayatan hadis dan sesi fikih yang beliau sebut sebagai pembahasan masalah-masalah hukum (al-masa’il).

Dalam mengajar, beliau selalu menjauhkan diri dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw). Sebagian muridnya menceritakan bahwa ketika Imam Malik duduk bersama mereka, beliau tampak bersahaja seperti orang biasa dan mengalir dalam obrolan umum.

Namun, ketika beliau mulai menyampaikan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para murid langsung merasa segan dan takjub, seolah-olah mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya. Ketika hendak menyampaikan hadis, beliau selalu berwudu dan mengenakan pakaian terbaiknya.

Saat beliau jatuh sakit, majelis keilmuannya dipindahkan ke rumah pribadinya. Dedikasi beliau dalam mengajar ini berlangsung selama kurang lebih lima puluh tahun.

Malik hidup pada masa yang penuh dengan fitnah dan pergolakan politik. Beliau memilih untuk mengasingkan diri dari para pelaku fitnah dan tidak melibatkan diri di dalamnya.

Beliau memandang fitnah-fitnah tersebut bagaikan serpihan malam yang gelap gulita. Beliau menyadari bahwa sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin dalam kondisi penuh fitnah adalah mengambil pedangnya, menghancurkannya, lalu beralih profesi menjadi petani atau peternak domba.

Jika tidak memiliki lahan pertanian atau hewan ternak, seorang mukmin hendaknya mengungsi ke puncak-puncak gunung demi menyelamatkan agamanya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Malik benar-benar menjauhkan diri dari pusaran konflik tersebut.

Beliau konsisten menyuarakan kebenaran agama tanpa terpengaruh oleh opini penguasa maupun kelompok yang menentangnya. Sikap teguh ini bahkan sempat menyebabkannya dijatuhi hukuman cambuk, meskipun saat itu beliau telah menjadi seorang syekh yang dihormati.

Malik selalu memberikan nasihat yang tulus kepada para penguasa, dan mereka pun kerap meminta pandangannya. Beliau sangat mengkhawatirkan para penguasa terjerumus ke dalam pujian palsu dari orang-orang di sekitar mereka, sebab pujian tersebut dapat memutarbalikkan amalan buruk terkesan menjadi baik.

Kecerdasan, kejeniusan hafalan, dan kesabaran Malik senantiasa beriringan dengan keikhlasan yang memancar terang. Beliau sangat ikhlas dalam mencari kebenaran dan menuntut ilmu.

Karena keikhlasannya, beliau tidak menyukai ketergesaan dalam memberikan fatwa dan lebih mengutamakan sikap berhati-hati. Beliau terkadang berkata kepada penanya, “Pulanglah dahulu sampai aku mengkaji masalah ini.”

Demi menjaga keikhlasannya terhadap kitabullah dan sunah serta karena takut terjatuh dalam kesalahan, beliau enggan berkata, “Ini halal dan ini haram,” jika perkara tersebut murni bersandar pada opini dan ijtihad. Malik sangat membenci perdebatan.

Beliau hidup pada masa ketika perdebatan dan adu argumen antarkelompok sekte agama sedang marak terjadi. Malik ingin menjauhkan ilmu fikih dan hadis dari wilayah perdebatan karena keduanya merupakan ilmu tentang halal dan haram yang membutuhkan sudut pandang komprehensif, bukan parsial.

Beliau memandang bahwa perdebatan hanya akan memenangkan orang yang paling pandai bersilat lidah, bukan yang paling benar. Allah Swt. mengistimewakan Malik dengan satu sifat yang selalu melekat pada dirinya, yaitu kewibawaan yang besar.

Para penguasa merasa segan kepadanya dan merasa kecil saat berada di hadapannya. Kewibawaannya mencapai tingkat yang bahkan tidak dimiliki oleh para raja dan khalifah, sehingga beliau menjadi sosok yang disegani meskipun tanpa memegang takhta kekuasaan.

Malik hidup dengan menjaga harga dirinya dan senantiasa dimuliakan oleh masyarakat hingga ajalnya tiba pada tahun 179 Hijriah. Cahaya fisiknya memang telah padam, tetapi cahaya ilmunya tidak akan pernah redup karena beliau meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.

Sumber : https://mediaislam.id/imam-malik-bin-anas-pelita-ilmu-dari-kota-madinah-dan-keteguhan-di-tengah-badai-fitnah/

Siapa Saja Mahram bagi Perempuan dan Laki-Laki?

Siapa Saja Mahram bagi Perempuan dan Laki-Laki?

Islam mengatur dengan rinci semua aspek kehidupan manusia. Salah satunya interaksi antara laki-laki dan perempuan agar tidak terjadi fitnah.

Bayangkan jika ada seorang laki-laki yang sudah beristri, kemudian berduaan dengan lawan jenisnya. Situasi itu tentu akan menimbulkan berbagai fitnah dan isu liar.

Oleh karena itu, Islam mengatur dengan tegas dan mengenalkan konsep mahram atau orang yang tidak bisa dinikahi.

Lantas, siapa saja mahram bagi laki-laki dan perempuan?

Mengenal Perbedaan Mahram dan Muhrim

Sebelum membahas topik utamanya, umat Islam perlu mengetahui perbedaan antara mahram dan muhrim agar tidak tertukar.

Mahram merujuk pada laki-laki atau perempuan yang tidak bisa dinikahi karena sebab-sebab syar’i, seperti keturunan, sepersusuan, atau hubungan pernikahan.

Sementara, muhrim adalah sebutan untuk seseorang yang sedang dalam keadaan ihram (niat untuk memulai ibadah) saat menunaikan haji atau umrah.

Selama masa ihram, seorang muhrim dilarang melakukan beberapa hal, yakni menikah, mengenakan pakaian berjahit, hingga memotong kuku.

Golongan Mahram dalam Islam

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 23:

“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Berdasarkan ayat tersebut, bisa disimpulkan golongan mahram dalam Islam adalah sebagai berikut:

1. Mahram karena Keturunan

Orang-orang yang haram dinikahi karena keturunan adalah sebagai berikut:

  • ibu-ibumu;
  • anak-anakmu yang perempuan;
  • saudara-saudaramu yang perempuan;
  • saudara-saudara ayahmu yang perempuan;
  • saudara-saudara ibumu yang perempuan;
  • anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki;
  • anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan.

2. Mahram karena Sepersusuan

Mahram karena sepersusuan adalah ibu-ibu yang menyusui kamu dan saudara-saudara perempuan atau laki-laki sepersusuan.

Nabi Muhammad SAW bersabda tentang putri Hamzah:

“Dia tidak halal bagiku, darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah keturunan, dan dia adalah putri saudara sepersusuanku (hamzah).” (HR Al-Bukhari)

3. Mahram karena Hubungan Pernikahan

Mahram karena hubungan pernikahan adalah sebagai berikut:

  • Ibu-ibu istrimu (mertua)
  • Istri-istri anak kandungmu (menantu)
  • Anak-anak istrimu yang dalam penjagaanmu dari istri yang telah kamu campuri
  • Wanita-wanita yang dinikahi ayahmu (ibu tiri)
  • Menikah dua perempuan bersaudara sekaligus
  • Wanita yang bersuami

Siapa Saja Mahram bagi Laki-Laki dan Perempuan?

Dapat disimpulkan bahwa mahram atau orang yang haram dinikahi untuk laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut:

Mahram bagi Laki-Laki

  1. Ibu, nenek, buyut, dan seterusnya ke atas
  2. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah
  3. Saudara perempuan, baik kandung, satu ayah, atau satu ibu
  4. Saudara perempuan ayah (bibi)
  5. Saudara perempuan ibu (bibi)
  6. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan)
  7. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)
  8. Ibu susuan
  9. Saudara perempuan sepersusuan
  10. Bibi susuan, baik dari pihak ibu susuan atau ayah susuan
  11. Ibu mertua dan seterusnya ke atas
  12. Anak tiri (anak perempuan istri dari pernikahan sebelumnya, dengan syarat sudah terjadi hubungan suami-istri dengan ibunya)
  13. Menantu perempuan
  14. Ibu tiri (tidak boleh menikahi istri ayah, meski belum pernah digauli oleh ayahnya)

Mahram bagi Perempuan

Mahram bagi perempuan pada dasarnya adalah kebalikan dari mahram bagi laki-laki, yakni sebagai berikut:

  1. Ayah (termasuk kakek dari pihak ayah atau ibu dan seterusnya ke atas)
  2. Anak  laki-laki, termasuk cucu laki-laki dan seterusnya ke bawah
  3. Saudara laki-laki, baik kandung, satu ayah, atau seibu
  4. Paman dari pihak ayah
  5. Paman dari pihak ibu
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki (keponakan)
  7. Anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan)
  8. Ayah sepersusuan atau suami dari wanita yang menyusui
  9. Saudara laki-laki sepersusuan (anak laki-laki dari wanita yang menyusuinya atau anak laki-laki dari ibu susuan yang sama)
  10. Paman sepersusuan
  11. Ayah mertua
  12. Anak tiri
  13. Menantu laki-laki
  14. Suami dari ibu (ayah tiri)

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/siapa-saja-mahram-bagi-perempuan-dan-laki-laki

Dua Alumni MAN 1 Tapteng Lolos Kuliah Gratis ke China, Rahasianya Ternyata Bukan Nilai Semata

Dua Alumni MAN 1 Tapteng Lolos Kuliah Gratis ke China, Rahasianya Ternyata Bukan Nilai Semata

Dua lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tapanuli Tengah (Tapteng) menorehkan prestasi yang menjadi penanda baru bagi pendidikan madrasah di Indonesia.

Sri Mupliha Purba dan Nur Khafipa Lubis diterima di Shaanxi Polytechnic Institute, China melalui Program Studi Power Battery Technology dengan beasiswa penuh.

Keduanya menjadi alumni pertama MAN 1 Tapanuli Tengah yang berhasil menembus perguruan tinggi di China melalui skema tersebut.

Pencapaian itu bukan sekadar kabar menggembirakan bagi sebuah sekolah. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja pada industri kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan dunia, keberhasilan dua lulusan madrasah memasuki program Power Battery Technology menunjukkan pendidikan Islam mulai mengambil posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk sektor industri masa depan.

Selama ini, madrasah kerap dipersepsikan hanya unggul dalam pendidikan keagamaan. Namun keberhasilan ini memperlihatkan wajah lain pendidikan madrasah yang mampu menggabungkan penguatan karakter, kompetensi akademik, dan kesiapan menghadapi persaingan global.

Hal tersebut menjadi sinyal bahwa lulusan madrasah memiliki peluang yang sama untuk memasuki bidang-bidang teknologi yang kini menjadi perhatian banyak negara.

Awal Kesempatan

Nur Khafipa menjelaskan bahwa peluang tersebut bermula ketika guru MAN 1 Tapanuli Tengah, Ardi Wandana, menyampaikan informasi mengenai program beasiswa ke China.

Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan persiapan dokumen dan mengikuti seluruh tahapan seleksi, mulai dari pendaftaran, seleksi administrasi hingga wawancara.

Bekal Nur Khafipa tidak hanya berasal dari prestasi akademik. Ia merupakan hafidzah delapan juz Al-Qur’an sekaligus Juara I Olimpiade Bahasa Arab tingkat Kabupaten pada 2025.

Kombinasi kemampuan akademik, disiplin, serta pendidikan karakter menjadi modal penting dalam menghadapi seleksi internasional.

“Alhamdulillah, berkat doa kedua orang tua, dukungan guru-guru, serta usaha yang konsisten, saya dinyatakan lolos dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di China,” ungkap Nur Khafipa, di Tapanuli Tengah, dilansir dari Kemenag, Sabtu (11/7/2026).

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi adik-adik kelas untuk terus berprestasi, berani mencoba berbagai peluang, dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.

Industri Masa Depan

Pilihan Program Studi Power Battery Technology memiliki nilai strategis yang jarang menjadi perhatian publik. Bidang ini berkaitan langsung dengan pengembangan teknologi baterai untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi, dua sektor yang diproyeksikan menjadi tulang punggung transformasi industri global dalam beberapa dekade mendatang.

Dengan demikian, keberangkatan kedua alumni madrasah tersebut tidak hanya membuka akses pendidikan internasional, tetapi juga memperbesar peluang lahirnya tenaga profesional Indonesia yang memiliki kompetensi pada sektor teknologi energi baru.

Program pendidikan yang mereka ikuti juga memberikan berbagai fasilitas berupa beasiswa penuh yang mencakup biaya kuliah dan asrama, bantuan uang buku, serta kesempatan memasuki dunia kerja setelah lulus sesuai bidang keahlian yang dipelajari.

Hal sama disampaikan Sri Mupliha. Dia sangat bersyukur atas beasiswa yang diraih.

“Alhamdulillah, berkat doa kedua orang tua, dukungan guru-guru, serta usaha yang konsisten, saya dinyatakan lolos dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di China,” ungkapnya.

Ia juga berharap pengalaman yang didapat menjadi motivasi bagi adik kelas untuk tidak ragu memanfaatkan setiap peluang pendidikan yang tersedia serta terus berusaha meraih cita-cita.

Daya Saing Madrasah

Kepala MAN 1 Tapanuli Tengah, Elmaryanti Marbun, mengatakan keberhasilan kedua alumninya merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, doa, serta dukungan orang tua, guru, dan seluruh keluarga besar madrasah.

Menurutnya, capaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa madrasah mampu mencetak lulusan yang siap bersaing pada level internasional tanpa meninggalkan fondasi karakter dan nilai-nilai keislaman.

Keberhasilan Sri Mupliha Purba dan Nur Khafipa Lubis juga memperkuat komitmen MAN 1 Tapanuli Tengah dalam meningkatkan mutu pendidikan serta menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan memiliki daya saing global.

Keberhasilan dua alumni tersebut memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan Islam. Persaingan global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan karakter, kemampuan beradaptasi, penguasaan bahasa asing, serta keberanian memanfaatkan peluang internasional.

Elmaryanti berharap keberhasilan ini menjadi pemantik semangat bagi seluruh peserta didik untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memperluas wawasan.

“Madrasah terus mendorong peserta didik untuk mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik agar mampu meraih berbagai peluang pendidikan, baik di dalam maupun di luar negeri,” pungkasnya.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/news/dua-alumni-man-1-tapteng-lolos-kuliah-gratis-ke-china-rahasianya-ternyata-bukan-nilai-semata

10 Fakta Menarik Alquran, Umat Islam Harus Tahu!

10 Fakta Menarik Alquran, Umat Islam Harus Tahu!

Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia.

Mempelajari fakta menarik Alquran bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan serta motivasi bagi seorang mukmin untuk terus membacanya.

Lantas, apa saja fakta-fakta Alquran yang harus diketahui umat Islam?

Kumpulan Fakta Menarik Alquran yang Wajib Dikethaui Umat Muslim

Alquran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara bertahap selama sekitar 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.

Wahyu pertama turun pada 17 Ramadan di Gua Hira, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1–5 yang berisi perintah membaca.

Nabi yang paling banyak disebut dalam Alquran adalah Nabi Musa AS sebanyak 136 kali, bukan Nabi Muhammad SAW.

Adapun satu-satunya wanita yang namanya dijadikan nama surah adalah Maryam, ibunda Nabi Isa AS, yang diabadikan dalam Surah Maryam.

Mari ketahui fakta menarik lainnya tentang Alquran pada penjelasan di bawah ini:

1. Diturunkan Bertahap

Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara bertahap selama kurang lebih 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.

Tahap penurunan Alquran pun dibagi menjadi dua periode, yakni periode Makkah selama 13 tahun dan periode Madinah selama 10 tahun.

Ayat-ayat Makkiyah atau yang turun di Makkah berfokus pada akidah, tauhid, dan keimanan. Sementara, ayat Madaniyah (Madinah) fokus membahas syariat, hukum, dan muamalah (bermasyarakat).

2. Diturunkan pada Bulan Ramadan

Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadan di Gua Hira, ketika beliau berusia 40 tahun.

3. Ayat Pertama yang Diturunkan

Dalam berbagai riwayat, dijelaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah Al-Alaq ayat 1-5 sebagai berikut:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

4. Jumlah Surah dan Juz dalam Alquran

Alquran terdiri dari 114 surah yang terbagi menjadi 30 juz.

Sementara, ada perbedaan metode dalam menghitung total ayatnya.

Meski begitu, mayoritas ulama sepakat bahwa jumlah ayat Alquran mencapai sekitar 6.200 ayat.

5. Surah Terpanjang

Surah terpanjang dalam Alquran adalah Al-Baqarah sebanyak 286 ayat yang tergolong surah Madaniyyah.

Secara garis besar, Al-Baqarah berisi tentang akidah, ibadah, muamalah, dan hukum Islam. Di dalamnya termasuk perintah salat dan zakat yaitu:

“Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.”

6. Surah Terpendek

Surah terpendek dalam Alquran adalah Al-Kausar (Nikmat yang Banyak) dan Al-Asr (Demi Masa) yang terdiri dari tiga ayat.

Surah Al-Kausar menjelaskan karunia yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah SAW.

Dalam surah  yang sama juga disebutkan kabar terputusnya rahmat Allah SWT bagi orang-orang yang membenci Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Al-Kausar juga berisi perintah untuk salat dan berkurban. Sementara, Al-Asr menerangkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

7. Ayat Terpanjang

Ayat terpanjang dalam Alquran adalah Al-Baqarah ayat 282 yang membahas tentang utang piutang secara rinci.

Dalam ayat tersebut, dijelaskan kewajiban mencatat utang piutang, menghadirkan saksi, dan bersikap adil dalam bermuamalah.

Islam memang mengatur secara tegas persoalan utang piutang. Bahkan, siapa pun yang wafat dalam keadaan meninggalkan utang akan terhalang masuk surga.

8. Ayat Terpendek dalam Alquran

Ayat  terpendek dalam Alquran adalah surah Ar-Rahman ayat 64 yang berbunyi sebagai berikut:

مُدْهَامَّتَانِ

Mudhaammataan

Artinya: “Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.”

9. Nabi yang Paling Banyak Disebut

Bukan Nabi Muhammad SAW, tetapi Nabi Musa AS merupakan nabi yang paling banyak disebut dalam Alquran yaitu sebanyak 136 kali.

Dalam Alquran, Nabi Musa AS juga disebut sebagai Kalimullah karena keistimewaannya bisa berbicara langsung dengan Allah SWT.

Mukjizat Nabi Musa AS itu tercantum dalam surah An-Nisa ayat 164:

“Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.”

10. Wanita yang Diabadikan sebagai Nama Surah

Ada beberapa wanita yang disebut dalam Alquran. Namun, hanya Maryam ibunya Nabi Isa AS yang diabadikan sebagai nama surah ke-19, yakni surah Maryam.

Adapun surah Maryam terdiri dari 98 ayat dan tergolong surah Makkiyah karena diturunkan di Makkah. Secara keseluruhan, surah ini berisi tentang tauhid dan kekuasaan Allah SWT.

Salah satunya tentu kisah kesucian Maryam yang diberikan anugerah oleh Allah SWT berupa kehamilan tanpa suami.

Maryam mengandung Nabi Isa AS dalam keadaan belum pernah menikah setelah malaikat Jibril diperintahkan Allah SWT meniupkan ruh kepadanya.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/10-fakta-menarik-alquran-umat-islam-harus-tahu