MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Momentum bulan Rabiulawal hendaknya tidak berhenti pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Lebih dari itu, umat Islam perlu menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani kehidupan Rasulullah saw.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dalam kajian di Masjid KH Sudja pada Senin (24/08). Dalam kesempatan itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model atau uswatun hasanah dalam seluruh aspek kehidupan.
Asep menjelaskan, bulan Rabiulawal memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam karena pada bulan inilah lahir manusia pilihan yang diutus Allah sebagai penutup para nabi dan rasul. Kelahiran Nabi Muhammad Saw, menurutnya, semestinya mengingatkan umat kepada konsekuensi dari syahadat yang setiap hari diucapkan.
“Konsekuensi dari syahadat kita yang kedua ini adalah kita menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model, uswatun hasanah,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 21, Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah, yang menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik.
Keteladanan Nabi, kata Asep, relevan bagi siapa pun dan dalam peran apa pun. Seorang pemimpin yang ingin menjalankan amanah dengan baik perlu melihat bagaimana Rasulullah memimpin. Seorang ayah dan suami dapat belajar dari kehidupan rumah tangga Nabi. Demikian pula setiap Muslim yang ingin menjadi hamba Allah yang saleh perlu menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai rujukan.
“Kalau kita ingin menjadi manusia, hamba Allah yang baik, hamba Allah yang saleh, hendaklah kita mencontoh bagaimana kehidupan Nabi Muhammad Saw,” tuturnya.
Menurut Asep, keteladanan harus diawali dengan pengenalan. Seseorang sulit mencintai tokoh yang tidak dikenalnya. Karena itu, umat Islam perlu mempelajari kepribadian, akhlak, ibadah, keluarga, muamalah, serta perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.
Ia mengingatkan bahwa generasi saat ini sering kali sangat mengenal figur-figur populer. Anak-anak dan remaja dapat menghafal nama pemain sepak bola, selebritas, atau bintang hiburan, tetapi belum tentu mengenal kehidupan Rasulullah dengan baik. Karena itu, keluarga memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan Nabi kepada generasi berikutnya.
“Tak kenal maka tak sayang. Kita perlu mengenal bagaimana kepribadian beliau, kehidupan sehari-hari beliau, akhlak beliau, keluarga beliau,” katanya.
Asep kemudian menyinggung kajian sirah Nabawiyah sebagai salah satu jalan untuk semakin mengenal Rasulullah. Setelah mengenal kehidupan Nabi, umat dituntut untuk menerjemahkan kecintaan tersebut ke dalam usaha nyata meneladani akhlak dan sunahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Betapa Besarnya Cinta Rasulullah kepada Umatnya
Dalam kajiannya, Asep juga menggambarkan besarnya cinta Rasulullah kepada umatnya. Ia menyampaikan sebuah riwayat tentang kerinduan Nabi kepada orang-orang yang belum pernah bertemu dengannya, tetapi tetap beriman dan berusaha mengikuti ajarannya.
Dalam riwayat yang disampaikannya, ketika para sahabat bertanya mengenai orang-orang yang dirindukan Rasulullah, Nabi menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang datang setelah masa beliau, tidak pernah bertemu secara langsung, tetapi tetap beriman dan berusaha menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Asep mengajak jamaah untuk merenungkan apakah generasi Muslim yang hidup berabad-abad setelah Rasulullah benar-benar telah menunjukkan kecintaan kepada Nabi melalui iman dan pengamalan sunahnya.
“Kita ini, insyaallah, termasuk umat yang belum pernah bertemu dengan Kanjeng Nabi, tetapi mengimani beliau,” ujarnya.
Besarnya cinta Rasulullah kepada umat juga, menurut Asep, tampak dari doa-doa beliau. Ia menceritakan sebuah riwayat tentang Aisyah ra. yang meminta Rasulullah berdoa untuknya. Setelah Nabi memanjatkan doa yang begitu luas bagi Aisyah, beliau menjelaskan bahwa doa serupa juga dipanjatkan untuk umatnya.
Bagi Asep, kisah tersebut menggambarkan perhatian Rasulullah yang besar kepada keselamatan umat. Bahkan dalam riwayat yang disampaikannya, ketika menghadapi sakaratul maut, Nabi masih mengingat umatnya.
“Yang diingat adalah umatku, umatku, umatku,” katanya.
Gambaran tersebut, menurutnya, seharusnya menimbulkan pertanyaan di dalam diri setiap Muslim mengenai bagaimana cinta itu dibalas. Jika Rasulullah begitu besar perhatiannya kepada umat, maka kecintaan umat kepada beliau harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan kesediaan mengikuti jalan yang telah diajarkan.
Syafaat Rasulullah
Asep juga menyinggung hadis tentang syafaat Nabi Muhammad Saw di hari kiamat. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah menyimpan salah satu doa mustajabnya untuk umatnya pada hari akhir. Doa itu berkaitan dengan syafaat yang diharapkan dapat menjadi pertolongan bagi umat di padang mahsyar.
Ia menggambarkan hari akhir sebagai saat ketika setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia. Dalam keadaan demikian, manusia membutuhkan pertolongan. Dalam riwayat yang ia sampaikan, manusia akan mendatangi para nabi untuk memohon syafaat hingga akhirnya Rasulullah Muhammad Saw mendapat kedudukan untuk memberikan syafaat tersebut.
Karena itu, Asep mengajak jamaah untuk tidak sekadar berharap memperoleh syafaat, melainkan juga berusaha menjalani kehidupan sesuai tuntunan Nabi.
Hal tersebut, menurut Asep, sejalan dengan sabda Rasulullah bahwa seluruh umatnya akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Keengganan itu, jelasnya, bukan berarti seseorang secara lisan mengatakan tidak ingin masuk surga, melainkan tampak dalam sikap menolak ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Orang yang mengetahui perintah dan larangan agama, tetapi dengan sengaja mengabaikannya dan memperturutkan hawa nafsu, menurutnya, telah memilih jalan yang menjauh dari keselamatan.
Ia menegaskan bahwa manusia telah diberi akal, hati, dan kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan dorongan menuju kebaikan dan godaan untuk melakukan keburukan. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan pilihan yang akan diambil.
“Hidup kita adalah pilihan kita,” katanya.
Asep mengilustrasikan kehidupan manusia sebagai perjalanan antara birth dan death. Di antara kelahiran dan kematian terdapat choice, yakni pilihan. Manusia dapat memilih jalan yang mengarah kepada ketaatan atau memperturutkan hawa nafsu yang menjerumuskannya kepada kemaksiatan.
Namun, ia mengingatkan bahwa memilih jalan ketaatan tidak selalu mudah. Dalam diri manusia terdapat hawa nafsu yang sering membuat maksiat terasa lebih menyenangkan daripada ibadah. Karena itu, perjuangan seorang Muslim adalah berusaha menemukan kenikmatan dalam ketaatan.
Asep menyebut salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tetap menjalankan ibadah, tetapi kehilangan rasa nikmat dalam beribadah. Salat dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, Al-Qur’an dibaca tanpa menghadirkan kesungguhan hati, dan doa dipanjatkan tanpa kekhusyukan.
“Maka bagaimana kemudian kita bisa menikmati ketaatan kita? Salat khusyuk, baca Al-Qur’an khusyuk, berdoa sungguh-sungguh,” ujarnya.
Baginya, membangun kenikmatan dalam ketaatan merupakan bagian dari usaha untuk membalas cinta Rasulullah kepada umatnya.
Asep kemudian mengutip hadis tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya hari kiamat. Alih-alih langsung menjawab waktunya, Rasulullah bertanya apa yang telah dipersiapkan orang tersebut untuk menghadapinya.
Orang itu mengakui bahwa amalnya biasa-biasa saja, tetapi ia menyatakan memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian bersabda, Anta ma‘a man aḥbabta, engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.
Menurut Asep, hadis tersebut menunjukkan kedudukan penting cinta kepada Rasulullah. Akan tetapi, cinta tersebut tidak cukup berhenti pada pengakuan. Cinta perlu dibuktikan dengan upaya mengenal Nabi, memahami ajarannya, dan menjadikannya sebagai teladan.
“Kalau kita cinta kepada Rasulullah, insyaallah di akhirat kelak kita pun akan bersama Rasulullah saw,” katanya.




