Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Dalam kehidupan di dunia ini, tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Ada kalanya kita merasa bahagia, namun ada juga saat kita harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Di tengah berbagai keadaan tersebut, keimanan kepada qada dan qadar menjadi salah satu pegangan penting bagi seorang Muslim.

Lantas, apa saja hikmah yang bisa kita dapatkan dari beriman kepada qada dan qadar dalam kehidupan sehari-hari?

Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar bagi Kehidupan Muslim

1. Tergolong sebagai Kelompok Orang yang Beriman

Mengimani qada dan qadar merupakan bagian penting dalam kesempurnaan iman seorang Muslim.

Keyakinan terhadap takdir, baik yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan, menjadi bagian dari keimanan yang harus dijaga.

Dengan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas ketetapan Allah SWT, seorang Muslim termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah riwayat Imam Muslim.

2. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan kepada Allah SWT

Ketika kita memperhatikan bagaimana alam semesta berjalan dengan begitu teratur, seimbang, dan penuh ketetapan, kita akan semakin menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Keteraturan tersebut merupakan bagian dari sunnatullah, yaitu ketentuan dan hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan.

Kesadaran ini perlahan dapat menumbuhkan rasa kagum, cinta, takut, dan takwa yang semakin kuat kepada Sang Pencipta.

3. Menumbuhkan Rasa Sabar yang Mendalam ketika Menghadapi Ujian

Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kesedihan, rasa sakit, kehilangan, dan berbagai ujian kehidupan.

Namun, keimanan kepada qada dan qadar membantu kita memahami bahwa setiap kejadian berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT.

Keyakinan tersebut dapat membuat hati lebih sabar ketika menghadapi musibah.

Kita pun menjadi lebih tenang, tidak mudah terbawa emosi, dan mampu menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih sambil berusaha mencari jalan keluarnya.

4. Melatih dan Mendidik Diri untuk Selalu Bersyukur

Ketika sedang mendapatkan kesehatan, rezeki yang cukup, keluarga yang menyayangi, atau berbagai kemudahan dalam hidup, iman kepada takdir mengingatkan kita bahwa semua itu merupakan karunia dari Allah SWT.

Kesadaran ini membuat kita tidak mudah terlena dengan kenikmatan yang dimiliki.

Sebaliknya, kita terdorong untuk mensyukurinya dan menyadari bahwa segala nikmat yang ada pada diri kita pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 53:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Latin: Wa maa bikum minni’matin faminal laahi summa izaa massakumud durru fa ilaihi taj’aroon

Artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

5. Menjauhkan Diri dari Sifat Sombong dan Angkuh

Kesuksesan dalam pekerjaan, kondisi finansial yang baik, maupun prestasi yang membanggakan terkadang membuat seseorang merasa bahwa semua itu semata-mata berasal dari kemampuan dirinya sendiri.

Di sinilah iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk tetap rendah hati.

Kita menyadari bahwa keberhasilan yang diraih tidak terlepas dari izin, pertolongan, dan ketetapan Allah SWT.

Karena itu, pencapaian yang dimiliki seharusnya mendorong kita untuk bersyukur, bukan menyombongkan diri. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Latin: Wa laa tusa’ir khaddaka linnaasi wa laa tamshi fil ardi maarahan innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhoor

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.

Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

6. Menjauhkan Diri dari Sifat Putus Asa

Kegagalan dalam pekerjaan, usaha, pendidikan, maupun kehidupan pribadi bisa membuat seseorang kehilangan semangat.

Namun, seorang Muslim yang beriman kepada qada dan qadar tidak seharusnya larut dalam keputusasaan.

Ia percaya bahwa apa yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah SWT, sehingga kegagalan yang dialami tidak selalu menjadi akhir dari segalanya.

Bisa jadi, ada kebaikan dan pelajaran yang belum terlihat di balik kejadian tersebut.

Karena itu, iman kepada takdir membantu kita untuk tetap memiliki harapan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 87:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Latin: Yaa baniyyaz haboo fatahassasoo miny Yoosufa wa akheehi wa laa tai’asoo mir rawhil laahi innahoo laa yai’asu mir rawhil laahi illal qawmul kaafiroon

Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

7. Menumbuhkan Sifat Optimis dan Semangat Berikhtiar

Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa pun.

Justru, keyakinan kepada qada dan qadar seharusnya membuat seorang Muslim semakin terdorong untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kita menjalankan ikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Sikap ini membuat kita tetap optimis dalam menghadapi kehidupan dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Semangat untuk bekerja dan berusaha juga ditegaskan Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Latin: Wa quli’maloo fasayaral laahu ‘amalakum wa Rasooluhoo walmu’minoona wa saturaddoona ilaa ‘Aalimil Ghaibi washshahaadati fa yunabbi’ukum bimaa kuntum ta’maloon

Artinya: Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,

dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

8. Membentuk Prasangka Baik kepada Allah SWT

Ada kalanya, kenyataan yang kita hadapi berjalan jauh dari apa yang telah direncanakan.

Pada saat seperti itu, iman kepada qada dan qadar membantu kita untuk tetap berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah SWT.

Kita percaya bahwa setiap ketetapan-Nya memiliki hikmah, meskipun hikmah tersebut belum tentu langsung terlihat.

Peristiwa yang terasa berat atau menyakitkan pun dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk belajar, tumbuh, dan menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

9. Menumbuhkan Sikap Tawakal

Iman kepada qada dan qadar juga mengajarkan kita tentang makna tawakal yang sebenarnya.

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar sebaik mungkin.

Dengan sikap ini, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang karena ia memahami bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah SWT.

Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengasih.

Allah SWT berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

10. Membentuk Mental yang Kuat dan Mandiri

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menghadapi kegagalan, kehilangan, kesulitan, atau keadaan yang terasa sangat berat.

Keimanan kepada qada dan qadar membantu membentuk mental yang lebih kuat dalam menghadapi semua itu.

Seorang Muslim belajar untuk tidak mudah menyerah, tidak terlalu larut dalam keadaan, dan berani bangkit ketika mengalami kegagalan.

Keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui dan menetapkan segala sesuatu juga membuat kita lebih mampu menghadapi perubahan hidup dengan sabar dan tetap berusaha.

11. Memotivasi Manusia untuk Kreatif Mengungkap Sunnatullah

Beriman kepada takdir Allah SWT juga tidak menghalangi manusia untuk berpikir, belajar, dan melakukan penelitian.

Sebaliknya, keyakinan bahwa alam semesta berjalan berdasarkan ketentuan dan keteraturan yang Allah ciptakan dapat mendorong rasa ingin tahu manusia untuk mempelajarinya lebih jauh.

Dari sinilah manusia terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengungkap berbagai sunnatullah yang terdapat di alam.

Pengetahuan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk memberikan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

12. Menenangkan Jiwa dan Menenteramkan Hati

Salah satu hikmah yang paling terasa dari iman kepada qada dan qadar adalah hadirnya ketenangan dalam hati.

Ketika seseorang menyadari bahwa hidup berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT, ia tidak perlu terus-menerus dikuasai oleh rasa takut terhadap masa depan.

Bukan berarti ia tidak memiliki kekhawatiran sama sekali, tetapi ia belajar untuk menghadapinya dengan keyakinan dan tawakal.

Ketenangan hati tersebut juga berkaitan erat dengan kebiasaan mengingat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

13. Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta

Pada akhirnya, salah satu hikmah terbesar dari beriman kepada qada dan qadar adalah semakin dekatnya hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Dalam keadaan senang maupun susah, ia belajar untuk selalu mengingat Allah, berdoa, bersandar, dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Keyakinan terhadap takdir juga membantu hati agar tidak terlalu terpaut pada kehidupan dunia dan segala sesuatu yang bersifat sementara.

Dengan begitu, orientasi hidup perlahan diarahkan kepada hal yang lebih utama, yaitu mencari keridaan Allah SWT.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/termasuk-rukun-iman-ini-13-hikmah-beriman-kepada-qada-dan-qadar-dalam-islam

Ciri-Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat, Simak Amalannya

Ciri-Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat, Simak Amalannya

Liputan6.com, Jakarta – Pada hari kiamat, seluruh manusia dibangkitkan dari kubur untuk mempertanggungjawabkan setiap amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Di antara berbagai golongan, ada yang wajahnya bercahaya dan berseri sebagai tanda kebahagiaan. Maka itu, perlu mengetahui ciri orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat.

Dalam berbagai riwayat digambarkan kondisi di Padang Mahsyar. Manusia akan berada dalam kondisi yang berbeda-beda. Al-Qur’an menggambarkan perbedaan kondisi tersebut dengan jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 106, “Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.”

Sementara, gambaran orang yang berbahagia disebutkan dalam QS. Al-Qiyamah ayat 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.” Ayat-ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa wajah yang berseri pada hari kiamat merupakan gambaran kebahagiaan orang-orang beriman.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa wajah yang bercahaya berkaitan dengan iman dan amal saleh yang dimiliki seseorang. Penjelasan tersebut sejalan dengan uraian Dr. Yusuf al-Wabil dalam kitab Yaumul Qiyamah: Tanda-Tanda dan Gambaran Hari Kiamat Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik. Ia menjelaskan bahwa wajah yang bercahaya merupakan salah satu tanda kebahagiaan di akhirat.

Kondisi itu juga berkaitan dengan datangnya syafaat dan rahmat Allah serta menjadi pertanda bahwa seseorang termasuk golongan yang memperoleh keselamatan dan kenikmatan surga.

Ciri-Ciri Orang yang Wajahnya Bercahaya pada Hari Kiamat

1. Orang-Orang yang Bertakwa kepada Allah SWT

Golongan pertama yang wajahnya bercahaya adalah mereka yang bertakwa kepada Allah Swt. Takwa adalah landasan utama yang membawa seseorang kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Allah SWT berfirman: “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS. Ali Imran: 107). Ketakwaan inilah yang akan memancarkan cahaya pada wajah mereka di hari kiamat. Mereka akan dibangkitkan dengan wajah putih berseri dan ceria karena amalan mereka selama di dunia.

2. Orang-Orang yang Selalu Mengingat Allah (Ahli Dzikir)

Golongan kedua yang wajahnya bercahaya adalah mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dalam kitab Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim, dijelaskan bahwa berdzikir kepada Allah akan memberikan hiasan pada wajah seorang hamba berupa kecerahan di dunia dan cahaya di akhirat.

Orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik saat senang maupun susah, akan memiliki wajah berseri ketika dibangkitkan di Padang Mahsyar. Dzikir bukan hanya sekadar bacaan lisan, tetapi juga penghayatan hati yang mendalam akan kebesaran Allah. Cahaya dzikir inilah yang akan menerangi wajah mereka pada hari kiamat.

3. Orang-Orang yang Berjihad di Jalan Allah

Golongan ketiga adalah mereka yang berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan harta, jiwa, dan segala yang mereka miliki untuk membela agama dan kebenaran. Mereka yang berjihad dengan ikhlas akan dibangkitkan di hari kiamat dengan wajah yang berseri karena pengorbanan mereka yang besar di jalan Allah.

Jihad tidak selalu berarti perang fisik, tetapi juga mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, mempertahankan kebenaran, dan menyebarkan kebaikan. Setiap orang yang berjuang menegakkan agama Allah dengan tulus akan mendapatkan cahaya di wajahnya pada hari kebangkitan.

4. Orang-Orang yang Rajin Berwudhu dan Menjaga Kebersihan

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjalin (wajahnya bercahaya) karena bekas wudhu mereka” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Wudhu bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga menyucikan jiwa.

Orang yang mendengar adzan lalu segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat berjamaah termasuk golongan yang akan dibangkitkan dengan wajah ceria di hari kiamat. Semakin sering seseorang berwudhu dengan niat yang ikhlas, semakin indah dan cerah wajahnya di hari kiamat karena cahaya Allah. Mereka yang menjaga wudhu dengan baik, tidak hanya wajah mereka yang bercahaya tetapi juga tangan, kaki, dan dahinya.

5. Golongan Pertama yang Masuk Surga

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya golongan pertama yang akan masuk surga, wajahnya tampak seperti bulan di malam purnama. Sedangkan golongan sesudahnya wajahnya bercahaya, seperti bintang kejora di langit” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Golongan pertama yang masuk surga ini adalah mereka yang memiliki keimanan dan amal saleh yang sempurna. Mereka akan memasuki surga dengan wajah yang bersinar terang seperti bulan purnama, tanpa mengalami kesusahan dan kesulitan.

Wajah mereka yang bercahaya menunjukkan bahwa mereka mendapatkan rahmat Allah dan akan mendapatkan kemudahan dalam hisab serta diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

6. Orang-Orang yang Beramal Saleh dengan Ikhlas

Setiap orang yang beramal saleh dengan keikhlasan akan mendapatkan cahaya di wajahnya pada hari kiamat. Amal saleh yang dimaksud mencakup berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya yang dilakukan semata-mata karena Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang berwajah cerah di hari kiamat adalah mereka yang menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wajah mereka nampak cerah, penuh suka cita dan optimisme sesuai dengan amal ibadah mereka selama di dunia.

7. Orang-Orang yang Mendapat Naungan Allah

Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan tentang wajah bercahaya, namun tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, pastilah termasuk golongan yang berbahagia dan bercahaya wajahnya.

Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah, orang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang yang diajak berzina oleh wanita berkedudukan namun menolak, orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan orang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu meneteskan air mata.

Amalan-Amalan Agar Wajah Bercahaya di Hari Kiamat

1. Meningkatkan Takwa

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah pondasi utama yang akan memancarkan cahaya di wajah seseorang.

2. Dzikir dan Mengingat Allah

Memperbanyak dzikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dzikir akan memberikan kecerahan di dunia dan cahaya di akhirat.

3. Menjaga Wudhu

Menjaga wudhu dan menyempurnakannya. Setiap kali berwudhu, seseorang mendapatkan cahaya yang akan terpancar dari anggota tubuhnya, termasuk wajahnya, pada hari kiamat. Sebelum membasuh wajah, Muslim dapat membaca doa agar Allah SWT menggolongkannya sebagai orang yang wajahnya berseri di hari kiamat.

4. Istighfar dan Taubat

Beristighfar secara rutin. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah”. Istighfar adalah sebab yang mendatangkan rahmat Allah SWT.

6. Jihad Fi Sabilillah

Berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan harta, jiwa, dan tenaga untuk membela agama dan kebenaran.

6. Sholat Berjamaah

Melaksanakan shalat berjamaah dan bersegera ke masjid ketika mendengar adzan. Orang yang rajin shalat berjamaah dan mengambil wudhu sebelum adzan termasuk golongan yang wajahnya ceria saat dibangkitkan di hari kiamat.

7. Memperbanyak Amal Saleh

Memperbanyak amal saleh dengan ikhlas karena Allah, seperti sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan lainnya.

Hikmah Mengetahui Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat

1. Meningkatkan Motivasi Beribadah

Dengan mengetahui bahwa ada golongan yang wajahnya bercahaya di hari kiamat, seorang muslim akan termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Pengetahuan ini menjadi pendorong untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat.

2. Memperkuat Keimanan kepada Hari Akhir

Memahami gambaran hari kiamat, termasuk kondisi wajah manusia, akan memperkuat keyakinan seorang muslim terhadap hari kebangkitan dan pembalasan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mewajibkan iman kepada hari akhir sebagai salah satu rukun iman.

3. Menjadi Pengingat agar Selalu Bertakwa

Pengetahuan tentang ciri orang yang wajahnya bercahaya mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ini menjadi peringatan agar tidak terlena dengan kehidupan dunia yang fana.

4. Mendorong untuk Memperbanyak Amal Saleh

Dengan mengetahui amalan-amalan yang menyebabkan wajah bercahaya, seorang muslim akan terdorong untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa yang dapat menyebabkan wajah hitam muram di hari kiamat.

5. Memberikan Pengharapan dan Optimisme

Pengetahuan ini memberikan harapan kepada orang-orang yang beriman bahwa amal-amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang besar di akhirat. Wajah yang bercahaya menjadi simbol kebahagiaan dan keberuntungan di sisi Allah.

Pertanyaan Seputar golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat

1. Apa ciri utama orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat?

Ciri utama orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat adalah wajahnya putih berseri, bercahaya, dan tampak kebahagiaan serta kesenangan karena pahala dari amal kebajikan mereka selama hidup di dunia. Mereka akan memandang Tuhannya dengan penuh kebahagiaan sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qiyamah ayat 22-23.

2. Siapa saja golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat?

Golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat antara lain: orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang selalu mengingat Allah (ahli dzikir), orang-orang yang berjihad di jalan Allah, orang-orang yang rajin berwudhu, golongan pertama yang masuk surga, orang-orang yang beramal saleh dengan ikhlas, dan orang-orang yang mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar.

3. Apa dalil tentang wajah bercahaya pada hari kiamat?

Dalil tentang wajah bercahaya pada hari kiamat terdapat dalam al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 106: “Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram”, dan Surah Al-Qiyamah ayat 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. Juga dalam hadis riwayat al-Bukhari tentang umat yang dipanggil dengan wajah bercahaya karena bekas wudhu.

4. Apa amalan agar wajah bercahaya di hari kiamat?

Amalan agar wajah bercahaya di hari kiamat antara lain: bertakwa kepada Allah, memperbanyak dzikir, menjaga wudhu dan menyempurnakannya, beristighfar secara rutin, berjihad di jalan Allah, melaksanakan shalat berjamaah dan bersegera ke masjid ketika mendengar adzan, serta memperbanyak amal saleh dengan ikhlas.

5. Apakah wajah bercahaya di hari kiamat merupakan tanda masuk surga?

Ya, wajah bercahaya di hari kiamat merupakan tanda bahwa seseorang akan masuk surga. Sebagaimana firman Allah: “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS. Ali Imran: 107). Wajah yang bercahaya menunjukkan bahwa mereka mendapatkan rahmat Allah dan akan mendapatkan kemudahan dalam hisab serta diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8278596/ciri-ciri-orang-yang-mendapat-cahaya-di-wajah-pada-hari-kiamat-simak-amalannya

Arti Amin Ya Mujibassailin Lengkap dan waktu Tepat Mengucapkannya

Arti Amin Ya Mujibassailin Lengkap dan waktu Tepat Mengucapkannya

Liputan6.com, Jakarta – Bagi sebagian Muslim, arti amin ya mujibassailin mungkin belum banyak diketahui meski ungkapan ini kerap terdengar setelah seseorang memanjatkan doa atau mendengar harapan tertentu. Kalimat tersebut berisi permohonan agar Allah SWT mengabulkan doa.

Ungkapan amin ya mujibassailin memiliki keistimewaan tersendiri karena di dalamnya terdapat seruan langsung kepada Allah dengan salah satu nama-Nya yang agung, Al-Mujib (Yang Maha Mengabulkan). Dengan menyebut sifat ini, seorang hamba mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berkuasa menjawab dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

Merujuk buku Doa-Doa Pilihan Terbaik karya Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr, ebook Koleksi Doa dan Zikir karya Ustaz Salehuddin bin Abu Samah, dan sumber kredibel lain, berikut ini adalah bacaan lengkap, makna mendalam, waktu tepat pengamalan, serta fadhilah kalimat amin ya mujibassailin.

Bacaan Amin Ya Mujibassailin Lengkap, Latin, dan Arti

Tulisan Arab: آمِينَ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ

Latin: Aamiin ya Mujibassailin

Artinya: “Kabulkanlah doa kami, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan (Allah SWT) para peminta (orang-orang yang berdoa).”

Ungkapan ini juga dapat diartikan sebagai “Terimalah doa kami, wahai Engkau Tuhan yang mengabulkan segala permintaan orang yang meminta.”

Makna per Kata

1. Aamiin (آمِينَ)

Kata aamiin berasal dari bahasa Arab yang berarti “kabulkanlah” atau “terimalah.”Menurut kitab Al-Alfaazh: Buku Pintar Memahami Kata-kata Dalam Al-Qur’an karya Masduha, kata aamiin bukanlah lafazh Al-Qur’an, melainkan kalimat isim yang berarti istijab atau permohonan agar dikabulkan.

Imam Al-Maragi mengutip pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengenai kandungan aamiin. Beliau mengatakan bahwa aamiin adalah lafazh penutup dari Allah SWT, Tuhan semesta alam. Artinya, Allah menutup doa hamba-Nya dengan aamiin. Kata aamiin akan menghilangkan kekecewaan dari doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya karena doanya dikabulkan.

As-Shabuni dalam kitabnya menjelaskan bahwa pada dasarnya kata āmīn berarti “Terimalah doa kami.”

2. Ya (يَا)

Huruf ya adalah huruf nida’ (seruan/panggilan) yang berfungsi untuk memanggil atau menyeru. Dalam konteks ini, ya berarti “Wahai.”

3. Mujib (مُجِيبَ)

Kata Mujib merupakan bentuk isim fa’il dari kata kerja ajaaba (أَجَابَ) yang berarti “menjawab” atau “mengabulkan.”Secara terminologi, Al-Mujib adalah salah satu nama Allah yang berarti “Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya.”

4. As-Sa’ilin (السَّائِلِينَ)

Kata as-sa’ilin adalah bentuk plural (jamak) dari sa’il (سَائِلٌ) yang berarti “orang yang meminta” atau “orang yang memohon/berdoa.”Jadi, as-sa’ilin bermakna “orang-orang yang meminta/memohon/berdoa.”

Dengan demikian, amin ya mujibassailin secara utuh berarti seruan kepada Allah dengan menyebut sifat-Nya sebagai Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa, disertai permohonan agar doa yang telah dipanjatkan dikabulkan.

Makna Mendalam Amin Ya Mujibassailin

Ungkapan amin ya mujibassailin mengandung makna yang sangat dalam bagi kehidupan seorang Muslim.

1. Pengakuan atas Sifat Allah Al-Mujib

Dengan mengucapkan ya mujibassailin, seorang hamba mengakui bahwa Allah adalah Al-Mujib—Dzat Yang Maha Mengabulkan. Ini adalah pengakuan tauhid yang kuat, bahwa hanya Allah-lah yang berkuasa mengabulkan doa dan permohonan. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kemampuan ini.

2. Peneguhan Harapan dan Keyakinan

Ucapan ini menunjukkan keyakinan kuat bahwa Allah SWT akan menjawab dan mengabulkan apa yang dimohonkan dalam doa-doa. Seorang Muslim yang mengucapkan amin ya mujibassailin sedang meneguhkan hatinya bahwa doa yang telah dipanjatkan tidak sia-sia, melainkan akan mendapat jawaban dari Allah.

3. Kerendahan Hati di Hadapan Allah

Dengan mengucapkan amin, seorang hamba menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa dirinya sangat membutuhkan pertolongan Allah. Ini adalah bentuk tawadhu’ (rendah hati) di hadapan Sang Pencipta.

4. Doa sebagai Ibadah

Perintah berdoa ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Mu’min ayat 60: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.'” (QS. Al-Mu’min: 60)

Dengan mengakhiri doa menggunakan amin ya mujibassailin, seorang hamba menyempurnakan ibadah doanya dan menyerahkan sepenuhnya hasil kepada Allah.

Waktu Tepat Mengamalkan Amin Ya Mujibassailin

Ungkapan amin ya mujibassailin dapat digunakan dalam berbagai konteks dan situasi. Berikut waktu-waktu yang tepat untuk mengucapkannya:

1. Setelah Membaca atau Memanjatkan Doa

Amin ya mujibassailin sering diucapkan setelah seorang muslim selesai berdoa, baik doa wajib seperti dalam salat maupun doa-doa sunnah lainnya. Pengucapan kalimat ini dimaksudkan untuk meneguhkan dan memohon agar doa yang telah dipanjatkan dikabulkan oleh Allah SWT.Dalam salat berjamaah, kata amin juga diucapkan setelah imam selesai membaca surat Al-Fatihah.

2. Setelah Mendengar Orang Lain Berdoa

Ketika seseorang mendengar orang lain sedang berdoa, maka disunahkan untuk mengucapkan amin ya mujibassailin setelah doanya selesai. Ini menunjukkan dukungan dan harapan agar doa tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.

3. Dalam Perayaan atau Acara Keagamaan

Setelah pembacaan doa bersama dalam perayaan atau acara-acara keagamaan Islam, mengucapkan amin ya mujibassailin biasanya dilakukan secara bersama-sama. Hal ini menunjukkan kebersamaan umat dalam memohon ampunan dan keberkahan dari Allah.

4. Sebagai Doa Akhir dalam Khutbah atau Pengajian

Pada akhir khutbah Jumat atau ceramah keagamaan, biasanya khatib atau penceramah mengakhiri dengan membaca doa yang diakhiri dengan ucapan amin ya mujibassailin. Ini dimaksudkan agar doa dan pesan yang disampaikan dapat terkabulkan dan bermanfaat bagi jemaah.

5. Setelah Membaca Ayat Al-Qur’an

Ungkapan ini juga digunakan setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an, terutama setelah membaca surat Al-Fatihah.

Fadhilah Ucapan Amin Ya Mujibassailin

1. Mendapatkan Pengabulan Doa dari Allah

Keutamaan utama dari mengucapkan amin adalah doa yang dipanjatkan akan lebih dekat untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seorang imam mengucapkan amin, dan para makmum juga mengucapkan amin, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka. Ini menunjukkan bahwa ucapan amin memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.

2. Meneguhkan Keyakinan kepada Allah

Dengan mengucapkan amin ya mujibassailin, seorang hamba meneguhkan keyakinannya bahwa hanya Allah-lah Dzat yang Maha Mengabulkan. Ini memperkuat tauhid dan keimanan seseorang kepada Allah SWT.

3. Menghilangkan Kekecewaan dari Doa

Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidina Ali RA, kata aamiin akan menghilangkan kekecewaan dari doa yang dipanjatkan oleh hamba-Nya karena doanya dikabulkan. Ini memberikan ketenangan hati dan optimisme kepada seorang Muslim.

4. Mendapatkan Pahala dari Malaikat

Dalam sebuah riwayat, ketika seorang hamba mengucapkan amin, malaikat juga mengucapkan amin. Hal ini menunjukkan bahwa ucapan amin mendapat dukungan dari para malaikat, yang tentu saja akan menambah keberkahan dan pahala bagi yang mengucapkannya.

5. Menyempurnakan Ibadah Doa

Mengucapkan amin ya mujibassailin sebagai penutup doa merupakan bentuk penyempurnaan ibadah doa. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab doa dan zikir, doa yang diakhiri dengan amin lebih sempurna dan lebih berpeluang untuk dikabulkan oleh Allah SWT.

Pertanyaan Seputar arti amin ya mujibassailin

1. Apa arti amin ya mujibassailin secara lengkap?

Artinya adalah: “Kabulkanlah doa kami, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan (Allah SWT) para peminta (orang-orang yang berdoa).”Ungkapan ini merupakan seruan kepada Allah agar doa yang telah dipanjatkan dikabulkan.

2. Kapan waktu yang tepat mengucapkan amin ya mujibassailin?

Waktu yang tepat mengucapkannya adalah setelah selesai berdoa, setelah mendengar orang lain berdoa, setelah membaca surat Al-Fatihah dalam salat, pada akhir khutbah atau pengajian, serta dalam acara-acara keagamaan.

3. Apa perbedaan amin, aamiin, dan amiin?

Keempat kata tersebut memiliki makna berbeda. Aamiin (dengan “a” dan “mim” panjang) berarti “Ya Allah, terimalah doa kami.” Aamin (dengan “a” panjang dan “mim” pendek) berarti “percayalah atau amankanlah.” Amiin (dengan “a” pendek dan “mim” panjang) berarti “jujur.” Amin (dengan “a” dan “mim” pendek) berarti “amanlah.”

4. Apakah amin ya mujibassailin terdapat dalam Al-Qur’an?

Kata aamiin bukanlah lafazh Al-Qur’an, melainkan kalimat yang berasal dari bahasa Arab yang berarti permohonan agar dikabulkan. Namun, doa-doa dalam Al-Qur’an sering diakhiri dengan ungkapan pengabulan seperti ini.

5. Apakah boleh mengucapkan amin ya mujibassailin dalam salat?

Dalam salat, ucapan amin disunahkan setelah membaca surat Al-Fatihah, baik dalam salat sendirian maupun berjamaah. Imam dan makmum sama-sama mengucapkan amin setelah selesai membaca Al-Fatihah.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8280084/arti-amin-ya-mujibassailin-lengkap-dan-waktu-tepat-mengucapkannya

Penjelasan Sunat Perempuan Menurut Islam, Wajibkah?

Penjelasan Sunat Perempuan Menurut Islam, Wajibkah?

Jakarta – Sunat umumnya dilakukan untuk laki-laki. Bagaimana dengan perempuan? Apa hukum sunat bagi perempuan dalam pandangan Islam?   Sumber : https://www.detik.com/hikmah/infografis/d-8639873/penjelasan-sunat-perempuan-menurut-islam-wajibkah
Perbedaan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik

Perbedaan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik

Jakarta – Ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik sangat akrab di telinga umat Islam. Ketiga ucapan ini sering diucapkan saat melihat hal-hal yang menakjubkan, keindahan, atau ketika mendoakan keberhasilan seseorang.

Meskipun sama-sama mengandung puji-pujian kepada Allah SWT, masih banyak orang yang keliru dalam memahami perbedaan arti serta waktu penggunaan yang tepat.

Lantas, bagaimanakah perbedaan ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik? Bagaimana tulisan Arab, Latin, dan artinya serta kapan waktu diucapkannya ketiga ucapan tersebut?

Bacaan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik

Berikut adalah lafaz dan arti dari masing-masing ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik:

1. Masya Allah

مَا شَاءَ اللَّهُ

Latin: Masya Allah

Arti: “Sesuatu yang Allah SWT kehendaki.”

Kata Masya Allah sudah tercantum dalam KBBI dengan makna apa yang dikehendaki Allah SWT.

2. Tabarakallah

تَبَارَكَ اللَّهُ

Latin: Tabarakallah

Arti: “Maha Suci Allah.”

Dalam kitab Al Tahrir wa al Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, kata tabarak menampakkan sifat pada sesuatu yang disifati. Dan Tabaraka ini dalam banyak hadits selalu berdampingan dengan kata Ta’ala, yang digunakan untuk Keagungan Allah SWT.

3. Allahumma Baarik

اللَّهُمَّ بَارِكْ

Latin: Allahumma Baarik (atau lengkapnya Allahumma baarik ‘alaih / ‘alaihi / ‘alaika)

Arti: “Ya Allah, berkahilah dia/hal ini.”

Perbedaan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik
Perbedaan mendasar dari ketiga ucapan ini terletak pada fokus ucapan dan tujuan spiritualnya:

Masya Allah (Bentuk Pengakuan)

Diucapkan sebagai bentuk ikrar bahwa segala bentuk keindahan, kehebatan, atau keberhasilan yang kita lihat terjadi semata-mata atas kehendak dan izin Allah SWT, bukan karena kehebatan manusia.

Tabarakallah (Bentuk Pujian Agung)

Diucapkan untuk memuji keagungan Allah SWT yang Maha Melimpahkan keberkahan atas penciptaan atau karunia-Nya yang menakjubkan.

Allahumma Baarik (Bentuk Doa Permohonan)

Berbeda dengan dua ucapan sebelumnya yang berupa pujian dan pengakuan, Allahumma Baarik secara khusus berbentuk doa permohonan keberkahan (mubarak) langsung kepada Allah untuk orang lain atau barang/hal yang sedang dilihat.

Waktu Mengucapkan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik

Agar tidak salah tempat, berikut panduan waktu dan situasi yang tepat untuk mengucapkan ketiga ucapan tersebut:

1. Waktu Mengucapkan Masya Allah

Diucapkan saat merasa kagum, takjub dan heran akan suatu hal yang berhasil diraih oleh diri sendiri.

Contoh: Saat melihat anak sendiri mendapat nilai bagus, melihat kendaraan pribadi yang baru dibeli, atau memiliki bangunan yang megah.

2. Waktu Mengucapkan Tabarakallah

Diucapkan saat menyaksikan kekuasaan atau keindahan ciptaan Allah yang sangat menakjubkan di alam semesta maupun kelebihan pada diri seseorang.

Contoh: Saat melihat pemandangan alam yang sangat indah, kelahiran bayi yang lucu, atau mengagumi bakat seseorang.

3. Waktu Mengucapkan Allahumma Baarik

Sangat dianjurkan diucapkan ketika memuji atau melihat kenikmatan maupun keberhasilan orang lain dengan memohon keberkahan Allah SWT.

Contoh: Saat memuji tumbuh kembang anak teman, melihat usaha teman yang makin sukses, atau mendatangi acara pernikahan.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8639104/perbedaan-masya-allah-tabarakallah-dan-allahumma-baarik

Doa Kebaikan Dunia Akhirat dan Manfaat Mengamalkannya

Doa Kebaikan Dunia Akhirat dan Manfaat Mengamalkannya

Jakarta – Doa kebaikan dunia akhirat jadi salah satu bacaan yang sering diamalkan muslim. Sesuai dengan namanya, doa tersebut berisi permohonan agar diberi kebaikan di dunia maupun akhirat.

Melalui doa kebaikan dunia akhirat, muslim juga meminta perlindungan dari Allah SWT. Dengan begitu, seseorang akan mendapat keselamatan fisik maupun rohani serta terhindar dari segala keburukan.

Menurut buku Dahsyatanya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, doa kebaikan dunia akhirat juga memiliki nama lain yaitu doa sapu jagat. Bacaan tersebut bersumber dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA.

Turut dijelaskan dalam buku 165 Kebiasaan Nabi SAW yang ditulis Abduh Zulfidar Akaha, Nabi Muhammad SAW menyukai doa kebaikan dunia akhirat karena ringkas dan memiliki keutamaan luar biasa.

Sejatinya, doa tak hanya sekadar permintaan melainkan wujud tawakal serta pengakuan bahwa Allah SWT sumber petunjuk serta perlindungan bagi muslim. Perintah berdoa sendiri tertuang dalam surah Gafir ayat 60, Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Doa Kebaikan Dunia Akhirat: Arab, Latin dan Arti

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fiddun yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.”

Doa tersebut sering dibaca Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Doa yang paling banya dibaca oleh Nabi SAW, yaitu ‘Allaahumma aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar’ (doa kebaikan dunia-akhirat).” (HR Muttafaq Alaih)

Doa Memohon Kebaikan Dunia Akhirat Hadits Muslim

Dikutip dari Buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah yang disusun Abdullah Zaedan, ada juga doa lainnya yang berisi permohonan kebaikan di dunia maupun akhirat. Berikut bunyinya,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةٌ لِي مِنْ كُلِّ شَرٍ

Allaahumma ashlih lii diinil ladzii huwa ‘ishmatu amriiwaashlih liidun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ashlih lii aakhiratiil latii fiihaa ma’aadii waj-‘alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khairin waj-‘alil mauta raahatan lii min kulli syarrin.

Artinya: “Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang menjadi urusan kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.” (HR Muslim)

Waktu Mengamalkan Doa Kebaikan Dunia Akhirat

Menurut buku Zikir dan Doa Setelah Sholat Ala Rasulullah tulisan Hamdan Hamedan, doa kebaikan dunia akhirat sering dibaca setelah salat. Baik itu salat sunnah maupun fardhu.

Meski begitu, sebetulnya muslim bisa membaca doa kebaikan dunia akhirat kapan saja tanpa ketentuan waktu.

Manfaat Mengamalkan Doa Kebaikan Dunia Akhirat

Terdapat sejumlah manfaat yang bisa diraih muslim dari membaca doa kebaikan dunia akhirat, berikut bahasannya yang dinukil dari buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa karya Ustaz Zacky El Syafa.

  1. Berisi permohonan agar mendapat ketenteraman, keselamatan dan harta yang cukup
  2. Diberikan nikmat sehat, rumah lapang, pasangan yang penuh dengan kebaikan
  3. Rezekinya dilancarkan
  4. Mendapat harta yang cukup
  5. Mengandung permohonan agar masuk surga
  6. Dijauhkan dari segala keburukan

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-8639223/doa-kebaikan-dunia-akhirat-dan-manfaat-mengamalkannya

Kenapa Tape dan Durian Halal meski Mengandung Alkohol?

Kenapa Tape dan Durian Halal meski Mengandung Alkohol?

Umat Islam dilarang mengonsumsi minuman keras atau yang memabukkan. Perintah itu tertulis dalam surah Al-Maidah ayat 90:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Sementara itu, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa semua yang memabukkan haram hukumnya.

“Setiap yang memabukkan hukumnya haram dan apa yang banyak memabukkan, maka sedikitnya pun tetap haram.” (HR Ibnu Majah)

Namun, ternyata ada makanan yang sering dikonsumsi, termasuk oleh umat Islam Indonesia dan ada kandungan alkoholnya, yakni tape serta durian.

Lantas, kenapa tape dan durian halal dimakan?

Alasan Kenapa Tape dan Durian Halal Walau Mengandung Alkohol

Tape dan durian halal dikonsumsi sebab alkohol yang terkandung di dalamnya terbentuk secara alami lewat proses fermentasi.

Hal ini beda dengan khamr atau minuman alkohol lainnya yang memang diproses dari anggur atau bahan lain dengan tujuan menghasilkan minuman memabukkan.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa khamr atau minuman keras pasti mengandung alkohol dan haram. Sementara, alkohol belum tentu khamr.

Contohnya yang seperti terkandung di dalam durian dan tape.

Fatwa MUI tentang Tape Halal Dimakan

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatur kehalalan tape dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2003 tentang Standardisasi Fatwa Halal.

Di dalamnya ditegaskan bahwa tape dan air tape tidak termasuk kategori khamr, kecuali jika terbukti memabukkan.

Ketentuan ini diperkuat lewat Fatwa MUI Nomor 10 Tahun 2018 tentang Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol.

Fatwa itu menyatakan bahwa etanol hasil fermentasi non-industri khamr tidak digolongkan sebagai najis atau haram, selama kadarnya tidak sampai memabukkan.

Kapan Tape dan Durian Haram Dimakan?

Tape bisa menjadi minuman haram dikonsumsi jika sengaja difermentasi menjadi minuman. Jadi, air tapenya dipisah dan disimpan khusus agar menjadi minuman keras atau yang disebut angciu.

Haram juga apabila tape sudah terlalu lama dibiarkan hingga busuk, berjamur, atau berubah rasanya hingga membahayakan kesehatan.

Begitu juga dengan durian. Memakan durian bisa menjadi haram jika sengaja dibiarkan untuk menghasilkan minuman keras atau berbahaya bagi tubuh.

Sumber :https://mozaik.inilah.com/dakwah/kenapa-tape-dan-durian-halal-meski-mengandung-alkohol

Memahami Arti Syahadatain, Makna Lengkap, Rukun, Syarat Sah, dan Pembatalnya dalam Islam

Memahami Arti Syahadatain, Makna Lengkap, Rukun, Syarat Sah, dan Pembatalnya dalam Islam

Sebagai fondasi terpenting dalam kehidupan seorang Muslim, dua kalimat syahadat menduduki posisi yang sangat sakral.

Syahadat menjadi ikrar keimanan yang menegaskan keyakinan seorang Muslim kepada Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Lantas, syahadatain artinya apa dan apa makna yang terkandung di dalam dua kalimat syahadat tersebut?

Dengan memahami arti syahadatain, kita tidak hanya membantu mengetahui terjemahannya, tetapi juga memahami makna keimanan yang menjadi das

Syahadatain Artinya Apa?

Secara bahasa, kata syahadat berasal dari kata kerja dalam bahasa Arab, syahida (شَهِدَ), yang berarti menyaksikan, melihat secara langsung, atau memberikan kesaksian.

Ketika bentuk kata ini diubah menjadi bentuk ganda (tasniyah), terbentuklah kata syahadatain, yang secara harfiah berarti “dua kesaksian” atau “dua kalimat syahadat”.

Sementara itu, secara istilah dalam syariat Islam, syahadatain adalah pernyataan keyakinan dan pengakuan terhadap dua hal utama.

Pertama, meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Kedua, meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasul Allah yang membawa risalah Islam.

Adapun lafal dua kalimat syahadat yang perlu diketahui adalah:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ

Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar-rasulullah.

Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Kedudukan dan Pentingnya Syahadatain dalam Islam

Dua kalimat syahadat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Syahadatain menjadi dasar keimanan sekaligus menjadi awal bagi seseorang untuk menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.

Berikut beberapa alasan mengapa syahadatain memiliki kedudukan yang begitu penting:

1. Pintu Gerbang Masuk Islam

Bagi seseorang yang ingin memeluk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bagian penting dari proses masuk Islam.

Ikrar ini menunjukkan bahwa ia meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan menerima keyakinan Islam.

2. Inti Ajaran Tauhid

Syahadatain merangkum inti ajaran tauhid. Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang berhak menerima ibadah dan menjadi tempat penghambaan manusia.

Pada saat yang sama, seorang Muslim juga mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang membawa ajaran Islam.

3. Dasar dalam Menjalani Kehidupan sebagai Muslim

Syahadat menjadi komitmen awal bagi seorang Muslim untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan ajaran Islam.

Setelah mengucapkannya, seorang Muslim berusaha menyesuaikan perkataan, perbuatan, dan gaya hidupnya dengan tuntunan syariat serta mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

4. Mencakup Tiga Dimensi Keimanan

Keimanan terhadap syahadatain tidak hanya berkaitan dengan ucapan.

Para ulama menjelaskan bahwa syahadat perlu diwujudkan melalui tiga hal, yaitu diucapkan dengan lisan, diyakini di dalam hati, dan dibuktikan melalui perbuatan.

Dengan begitu, syahadatain menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim secara menyeluruh.

Apa yang diucapkan melalui lisan sejalan dengan keyakinan dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Memahami Rukun-Rukun Syahadatain

Agar syahadat yang kita ucapkan tidak sekadar menjadi sebuah kalimat, penting untuk memahami apa saja yang terkandung di dalamnya.

Dua kalimat syahadat pada dasarnya memiliki rukun dan makna yang saling berkaitan.

Dengan memahaminya, kita bisa lebih mengerti apa yang sebenarnya kita persaksikan ketika mengucapkan syahadat.

A. Empat Rukun Utama dalam Syahadat

Dalam pembahasan ushul fikih, ada empat unsur yang menjadi bagian dari sebuah persaksian dalam syahadat, yaitu:

  • Syahidun: orang yang memberikan kesaksian, dalam hal ini adalah diri kita sendiri.
  • Masyhudun: Zat yang kita persaksikan keesaan-Nya, yaitu Allah SWT.
  • Masyhudun bih: sifat-sifat keagungan dan ketuhanan Allah SWT yang kita yakini.
  • Masyhudun ilaih: Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT.

Keempat unsur ini saling melengkapi dalam membentuk persaksian yang kita ucapkan melalui dua kalimat syahadat.

B. Rukun Kalimat “Laa Ilaaha Illallah”

Kalimat Laa Ilaaha Illallah memiliki dua bagian yang tidak bisa dipisahkan, yaitu nafyu (peniadaan) dan itsbat (penetapan).

Pertama, an-nafyu terdapat pada bagian “Laa ilaha”, yang berarti “tidak ada tuhan”.

Maksudnya adalah menolak semua bentuk sesembahan selain Allah dan mengingkari thaghut, yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah.

Kemudian, al-itsbat terdapat pada bagian “illallah”, yang berarti “kecuali Allah”.

Bagian ini menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang benar-benar berhak disembah dan menerima segala bentuk ibadah.

Jadi, makna Laa Ilaaha Illallah tidak berhenti pada keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta.

Ada penegasan bahwa hanya Allah yang berhak menjadi sesembahan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 256:

فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا

Artinya: “Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

C. Rukun Kalimat “Muhammad Rasulullah”

Kalimat kedua, “Muhammad Rasulullah”, juga memiliki dua hal penting yang perlu dipahami. Nabi Muhammad SAW adalah hamba Allah (‘abduhu) sekaligus utusan-Nya (rasuluhu).

Mengapa kedua kedudukan ini perlu disebutkan?

Karena keduanya membantu kita menempatkan Nabi Muhammad SAW secara tepat, tidak berlebihan dalam memuliakan beliau, tetapi juga tidak meremehkan kedudukannya sebagai rasul.

Pembatal Syahadatain yang Wajib Diwaspadai

Dalam pembahasan fikih dan akidah, terdapat beberapa hal yang bisa membatalkan syahadat yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam.

Pembatal tersebut, di antaranya sebagai berikut:

1. Syirik dalam Beribadah kepada Allah

Menyekutukan Allah dalam ibadah termasuk salah satu pembatal syahadat.

Contohnya adalah menyembelih hewan untuk selain Allah, seperti untuk penunggu pohon yang dianggap keramat, jin, atau kuburan yang dikeramatkan.

Hal ini didasarkan pada QS. An-Nisa ayat 48 dan QS. Al-Ma’idah ayat 72.

2. Menjadikan Perantara antara Diri dan Allah

Menjadikan seseorang atau sesuatu sebagai perantara untuk meminta syafaat, perlindungan, atau tempat bersandar kepada Allah termasuk hal yang dibahas sebagai pembatal syahadat.

Dalam pandangan yang menjadi rujukan teks ini, perbuatan tersebut dikategorikan sebagai kekufuran berdasarkan ijma’ ulama.

3. Tidak Menganggap Orang Musyrik sebagai Kafir

Termasuk pembatal syahadat adalah tidak menganggap orang-orang musyrik sebagai kafir, meragukan status kekafiran mereka, atau membenarkan keyakinan dan ajaran mereka yang bertentangan dengan tauhid.

4. Meyakini Hukum Selain Hukum Nabi Lebih Sempurna

Hal lainnya adalah meyakini bahwa hukum selain yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW lebih baik atau lebih sempurna.

Contohnya adalah mengutamakan hukum thaghut atau aturan buatan manusia di atas hukum syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

5. Membenci Ajaran yang Dibawa Rasulullah SAW

Membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW juga termasuk pembatal syahadat, meskipun seseorang tetap menjalankannya secara lahiriah karena alasan tertentu, seperti tekanan atau tuntutan sosial.

6. Menghina atau Mengolok-olok Agama

Menghina atau menjadikan ajaran agama sebagai bahan olok-olok juga termasuk hal yang perlu diwaspadai.

Bentuknya dapat berupa melecehkan ayat Alquran, para nabi, atau perkara yang berkaitan dengan pahala dan siksa di akhirat.

Hal ini tetap dianggap serius meskipun dilakukan dengan bercanda, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 65-66.

7. Mempraktikkan Sihir

Mempraktikkan sihir, termasuk pelet, sharf atau sihir untuk memisahkan seseorang, dan ‘athf atau sihir untuk menumbuhkan rasa cinta, juga termasuk dalam pembatal syahadat menurut pembahasan ini.

Demikian pula dengan meridai praktik sihir. Dalil yang berkaitan dengan hal ini antara lain terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 102.

8. Mendukung Kaum Musyirikin untuk Memusuhi Umat Islam

Memberikan bantuan kepada kaum musyrikin untuk memusuhi atau menindas umat Islam juga termasuk pembatal syahadat.

Bantuan tersebut dapat berupa dukungan moral, bantuan fisik, maupun strategi yang digunakan untuk memerangi atau menindas umat Islam.

Pembahasan ini dikaitkan dengan QS. Al-Ma’idah ayat 51.

9. Meyakini Seseorang Boleh Keluar dari Syariat Nabi Muhammad SAW

Seorang Muslim juga tidak boleh meyakini bahwa ada manusia yang sudah tidak lagi wajib mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW.

Contohnya adalah keyakinan sebagian kelompok ekstrem (ghulat sufiyah) yang menganggap seseorang tidak lagi membutuhkan syariat setelah mencapai tingkat atau maqam spiritual tertentu.

10. Berpaling dari Agama Allah

Terakhir, berpaling sepenuhnya dari agama Allah juga termasuk pembatal syahadat.

Misalnya, seseorang dengan sengaja tidak mau mempelajari prinsip-prinsip dasar Islam dan sama sekali tidak peduli untuk mengamalkannya dalam kehidupan.

Hal ini dikaitkan dengan QS. As-Sajdah ayat 22.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/syahadatain-artinya-apa-ini-makna-lengkap-rukun-syarat-sah-dan-pembatalnya-dalam-islam

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana, Bagaimana Seorang Muslim Bersikap?

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana, Bagaimana Seorang Muslim Bersikap?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia tidak pernah sepenuhnya berjalan dalam keadaan pasti. Ketika kesehatan terganggu, keluarga menghadapi persoalan, ekonomi mengalami kesulitan, atau masa depan terasa tidak menentu, cara seseorang menjalankan kehidupannya pun dapat berubah. Dalam keadaan seperti itulah, seorang Muslim dituntut untuk tetap memegang teguh keimanan dan tuntunan Islam.

Pesan tersebut disampaikan Dewan Pakar Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Untung Cahyono, dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (24/08).

Untung mengawali kajiannya dengan mengajak jamaah untuk merenungkan makna berislam di tengah ketidakpastian situasi dan kondisi. Menurutnya, menjalankan ajaran Islam tentu terasa lebih mudah ketika kehidupan berada dalam keadaan baik, kebutuhan terpenuhi, kesehatan terjaga, dan suasana keluarga berlangsung dengan tenang.

Namun, keadaan dapat berubah sewaktu-waktu. Seseorang yang biasanya memiliki waktu untuk beribadah dengan leluasa, misalnya, dapat menghadapi situasi berbeda ketika anggota keluarganya jatuh sakit dan membutuhkan perhatian serta perawatan.

“Berislam dalam kondisi yang seperti itu menjadi tidak mudah,” ujarnya.

Persoalan kehidupan, menurut Untung, juga memiliki tingkat dan cakupan yang berbeda. Ketidakpastian dapat dialami seseorang secara pribadi, kemudian meluas dalam kehidupan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, umat Islam perlu memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terbaik dalam berbagai keadaan tanpa kehilangan pegangan keagamaannya.

Dalam pandangannya, salah satu dasar penting untuk menghadapi ketidakpastian adalah kesadaran bahwa dunia memang bersifat sementara dan selalu mengalami perubahan. Apa yang hari ini terasa baik, nyaman, dan stabil, pada waktu lain dapat berubah.

Untung menggambarkan hal tersebut melalui berbagai pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Harta, kendaraan, rumah, fasilitas, bahkan kesenangan yang pernah memberikan kepuasan, semuanya memiliki keterbatasan. Tidak ada sesuatu yang bersifat duniawi yang benar-benar tetap dan kekal.

“Dunia itu bersifat sementara dan penuh perubahan,” katanya.

Karena sifat dunia yang demikian, ia mengingatkan agar manusia tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kepuasan materi dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi semuanya memiliki batas. Kesenangan dunia dapat hilang, rusak, berubah, dan akhirnya ditinggalkan.

Sebaliknya, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal. Untung menekankan bahwa kenikmatan akhirat, dalam keyakinan Islam, tidak dibatasi oleh kerusakan, rasa lelah, kesedihan, ataupun kebosanan. Puncak kenikmatan itu adalah rida Allah SWT.
Dalam kajiannya, ia juga mengutip makna Surah an-Nahl ayat 96 bahwa apa yang ada pada manusia akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Bagi Untung, ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menggantungkan seluruh orientasi hidupnya pada sesuatu yang sementara.

Kesadaran tentang dunia yang berubah juga berkaitan dengan cara seorang Muslim memahami ujian hidup. Untung menjelaskan bahwa ketidakpastian bukan semata-mata sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dapat menjadi ujian untuk mengukur kualitas iman manusia.

Ia merujuk Surah al-Ankabut ayat 2 yang menegaskan bahwa manusia tidak cukup hanya mengatakan telah beriman tanpa mengalami ujian. Kehidupan, menurutnya, tidak boleh dijalani dengan sikap terlalu merasa aman atau terlena. Setiap orang perlu menyadari bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan manusia.

Ujian itu dapat hadir dalam bentuk ketakutan, kekurangan harta, kehilangan orang yang dicintai, persoalan kesehatan, maupun kesulitan hidup lainnya. Yang menjadi penting adalah bagaimana seseorang dapat menerima, menjalani, dan mengambil pelajaran dari ujian tersebut dengan kesabaran.
“Ketidakpastian adalah ujian untuk menguji kualitas iman manusia,” katanya.

Pada bagian lain, Untung menghubungkan persoalan ketidakpastian dengan konsep qada dan qadar. Menurutnya, iman kepada takdir semestinya memberikan ketenangan kepada manusia dalam menghadapi berbagai peristiwa kehidupan.

Ia menjelaskan qada sebagai ketetapan Allah SWT yang bersifat azali, sedangkan qadar dipahami sebagai ketentuan atau ukuran nyata dari ketetapan Allah dalam kehidupan manusia. Keduanya merupakan bagian dari landasan keimanan seorang Muslim dalam memahami perjalanan hidup.
Meski demikian, Untung menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak boleh berubah menjadi sikap fatalistis. Meyakini qada dan qadar bukan berarti manusia berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh kehidupannya tanpa ikhtiar.

“Iman kepada takdir bukan berarti diam tanpa usaha,” tegasnya.

Seorang Muslim, menurut Untung, tetap harus bekerja, berusaha, dan berdoa. Tawakal ditempatkan setelah seseorang melakukan ikhtiar secara maksimal, bukan dijadikan alasan untuk menutup jalan usaha. Sikap pasrah tanpa ikhtiar justru berbahaya, terutama apabila berkembang di kalangan generasi muda.

Ia mencontohkan bahwa seseorang tidak seharusnya hanya menunggu perubahan datang dengan alasan semuanya telah ditentukan. Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berhati-hati, mencari jalan keluar, bekerja, dan memperbaiki keadaan. Setelah usaha dilakukan, hasil akhirnya kemudian diserahkan kepada Allah SWT.

Menurut Untung, hikmah beriman kepada qada dan qadar antara lain adalah menumbuhkan kesabaran dan ketabahan ketika menghadapi musibah, melahirkan kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan, serta menjaga optimisme ketika seseorang mengalami kegagalan.

Keimanan kepada Allah, katanya, seharusnya membuat manusia tidak mudah putus asa. Sebab, kesulitan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Dalam kehidupan, seseorang dapat mengalami kegagalan, kehilangan, atau kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana, tetapi semua itu tidak boleh menghentikan usaha untuk bangkit.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/ketika-hidup-tidak-berjalan-sesuai-rencana-bagaimana-seorang-muslim-bersikap/

Bacaan Doa Attahiyatul Mubarakatus Lengkap: Arab, Latin, Arti, Hukum, dan Panduan Duduknya

Bacaan Doa Attahiyatul Mubarakatus Lengkap: Arab, Latin, Arti, Hukum, dan Panduan Duduknya

Menjalankan ibadah salat lima waktu merupakan rutinitas sekaligus momen sakral bagi umat Muslim untuk berdialog langsung dengan Allah SWT.

Di dalam rangkaian gerakan salat, terdapat berbagai doa yang diamalkan, salah satunya adalah doa attahiyatul mubarakatus.

Mungkin, kita selama ini sering melafalkannya secara refleks. Namun, tahukah kamu apa arti dan makna di balik bacaan doa attahiyatul mubarakatus?

Apa Itu Doa Attahiyatul Mubarakatus?

Doa attahiyatul mubarakatus merupakan bagian dari bacaan tasyahud atau tahiyat dalam salat.

Secara harfiah, kalimat ini berisi pujian tinggi, salam penuh berkah, penghormatan, serta persaksian iman yang diucapkan oleh seorang Muslim secara langsung.

Mengenai hukum bacaannya, jumhur ulama, termasuk Imam Syafi’i, Imam Maliki, dan Imam Abu Hanifah, sepakat menyatakan bahwa membaca doa ini berstatus sunnah.

Meski begitu, Mazhab Syafi’i memberikan penekanan khusus. Jika ada jemaah yang melewatkan atau meninggalkan tasyahud awal ini, maka salatnya tetap dinilai sah.

Namun, jemaah tersebut sangat dianjurkan untuk menambal kekurangan tersebut dengan melakukan sujud sahwi di akhir salat sebelum salam.

Bacaan Doa Attahiyatul Mubarakatus Lengkap dengan Maknanya

Agar lebih mudah dipahami dan dihafalkan oleh siapa saja yang sedang belajar menyempurnakan bacaan salatnya, berikut adalah lafaz doa tahiyat awal dan akhir yang ditulis secara lengkap:

1. Bacaan Doa Tahiyat Awal

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Latin: Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillaahi. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. 

Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiina. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi.

Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan, serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah.

Keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad).

Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Allah yang saleh.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

2. Bacaan Doa Tahiyat Akhir

Setelah selesai membaca doa tahiyat awal di rakaat terakhir salat, seorang muslim wajib menyambungnya dengan membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS.

Bacaan ini disebut juga sebagai Selawat Ibrahimiyah. Berikut lafaz lengkapnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Latin: Allaahumma Shalli ‘Alaa Muhammad, Wa ‘Alaa Aali Muhammad. Kamaa Shallaita ‘Alaa Ibraahiim Wa ‘Alaa Aali Ibraahiim. 

Allahumma barik ‘Alaa Muhammad Wa ‘Alaa Aali Muhammad. Kamaa Baarakta ‘Alaa Ibraahiim Wa ‘Alaa Aali Ibraahiim, Innaka Hamiidum Majiid.

Artinya: “Ya Allah! Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya, sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia.”

Tata Cara dan Panduan Posisi Duduk Iftirasy

Selain membaca tasyahud dengan benar, posisi tubuh saat tahiyat awal juga perlu diperhatikan agar sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Posisi duduk pada tasyahud awal ini dikenal sebagai duduk iftirasy.

Secara umum, duduk iftirasy dilakukan dengan menjadikan kaki kiri sebagai alas duduk, sementara kaki kanan ditegakkan. Berikut tata caranya:

1. Duduk di Atas Kaki Kiri

Duduklah di atas mata kaki kiri, dengan punggung kaki kiri diletakkan mendatar di atas sajadah sehingga menjadi alas tubuh saat duduk.

2. Menegakkan Kaki Kanan

Setelah kaki kiri digunakan sebagai alas, tegakkan kaki kanan. Jari-jari kaki kanan ditekuk ke bawah sehingga mengarah ke kiblat.

3. Meletakkan Tangan Kiri

Letakkan telapak tangan kiri di atas paha kiri dengan posisi terbuka dan rileks.

4. Mengatur Posisi Tangan Kanan

Tangan kanan diletakkan di atas paha kanan. Dalam penjelasan Kitab Salat Empat Mazhab karya Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, posisi jari-jari tangan kanan diatur sebagai berikut:

  • Jari kelingking dan jari manis digenggam.
  • Jari tengah dilingkarkan bersama ibu jari hingga membentuk lingkaran.
  • Jari telunjuk diangkat sebagai isyarat dan diarahkan ke depan. Posisi telunjuk tidak harus tegak lurus, tetapi sedikit condong ke depan saat berdoa.
  • Pandangan mata diarahkan ke jari telunjuk tersebut selama membaca tasyahud.

Posisi ini pada dasarnya menyerupai cara duduk Rasulullah SAW ketika berada di antara dua sujud.

Dalam hadis riwayat An-Nasa’i, beliau digambarkan duduk di atas kaki kiri dengan kaki kanan dalam posisi ditegakkan.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/bacaan-doa-attahiyatul-mubarakatus-lengkap-arab-latin-arti-hukum-dan-panduan-duduknya