Donor ASI Diperbolehkan dalam Islam, Kejelasan Sumber dan Konsekuensi Kemahraman Jadi Perhatian

Donor ASI Diperbolehkan dalam Islam, Kejelasan Sumber dan Konsekuensi Kemahraman Jadi Perhatian

KOMPAS.com – Donor ASI dapat menjadi pilihan ketika bayi tidak memperoleh asupan ASI yang cukup dari ibu kandung, termasuk dalam kondisi tertentu yang membuat ibu tidak dapat menyusui.

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan praktik tersebut diperbolehkan dalam Islam, tetapi pengelolaannya harus memperhatikan aspek kesehatan sekaligus konsekuensi hukum persusuan.

Donor ASI Bukan Praktik Baru dalam Islam

Menyusukan bayi kepada perempuan lain bukanlah praktik yang baru muncul seiring perkembangan teknologi kesehatan.

Tradisi tersebut sudah dikenal sejak sebelum Islam dan tetap berlangsung pada masa Rasulullah SAW.

Dilansir dari muhammadiyah.or.id, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ruslan Fariadi menjelaskan hal itu dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (25/8/2026).

Menurutnya, persoalan menyusukan anak kepada perempuan lain termasuk dalam pembahasan fikih perlindungan anak yang telah masuk dalam putusan dan fatwa tarjih Muhammadiyah.

Pada masa Rasulullah SAW, praktik penyusuan oleh perempuan lain bahkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah disusukan oleh Halimah al-Sa’diyah dari Bani Sa’ad.

Kebiasaan tersebut pada masa itu juga tidak semata-mata dilakukan karena ibu kandung mengalami persoalan dalam menghasilkan ASI. Ada pula latar belakang sosial dan budaya yang mendorong keluarga menyusukan anak kepada perempuan dari kelompok tertentu.

Dalam komunitas tertentu, anak sengaja disusukan kepada perempuan dari kelompok atau kabilah yang dinilai mempunyai status sosial, kecerdasan, maupun kebudayaan yang lebih baik. Artinya, penyusuan oleh perempuan lain sejak dahulu tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan nutrisi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dalam masyarakat.

Perkembangan zaman kemudian mengubah cara praktik tersebut dilakukan. Jika dahulu bayi menyusu langsung kepada perempuan lain, kini ASI dapat diperah, disimpan, dan diberikan kembali kepada bayi melalui berbagai media.

Perubahan cara pemberian itu melahirkan praktik donor ASI dan kemudian berkembang menjadi Bank ASI. Meski bentuknya berbeda, menurut Ruslan, perkembangan tersebut pada dasarnya tidak mengubah prinsip hukum mengenai penyusuan bayi oleh perempuan lain.

Pemberian ASI Bagian dari Tanggung Jawab Orang Tua

Di balik pembahasan mengenai donor ASI, kebutuhan bayi terhadap ASI menjadi salah satu pertimbangan utama. Dalam pandangan Islam, pemenuhan kebutuhan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua.

Ruslan menjelaskan, ASI mempunyai posisi penting bagi bayi karena mengandung berbagai zat yang diperlukan selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Kandungan tersebut mendukung kebutuhan bayi pada fase awal kehidupan yang sangat menentukan.

“ASI ini merupakan satu zat yang paling ideal bagi seorang bayi untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Menurut Ruslan, manfaat ASI tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik. Pemberian ASI juga berhubungan dengan perkembangan organ serta sistem saraf bayi.

ASI juga berkontribusi terhadap pembentukan imunitas pada masa awal kehidupan. Karena itu, apabila seorang ibu mampu memproduksi ASI dengan baik, pemberian ASI kepada bayi perlu diupayakan semaksimal mungkin.

Persoalan pemberian ASI juga tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab ibu. Ayah mempunyai peran untuk memastikan kebutuhan ASI anak terpenuhi, termasuk dengan mendukung kondisi ibu agar mampu menghasilkan ASI secara optimal.

Dukungan tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan kesehatan dan nutrisi ibu. Dengan kondisi ibu yang terjaga, produksi ASI diharapkan dapat berlangsung secara baik sehingga kebutuhan bayi tetap terpenuhi.

Al-Qur’an Membolehkan Bayi Disusukan kepada Perempuan Lain

Ketika ibu kandung tidak dapat memberikan ASI, Islam memberikan alternatif melalui penyusuan oleh perempuan lain. Ruslan merujuk Surah al-Baqarah ayat 233 yang memberikan dasar mengenai kebolehan tersebut.

“Jika kamu sekalian ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka itu tidak mengapa, itu tidak dosa,” jelasnya.

Landasan tersebut menjadi salah satu dasar bahwa donor ASI dapat digunakan ketika bayi tidak mendapatkan ASI dari ibu kandung. Terlebih apabila terdapat persoalan produksi ASI atau kondisi tertentu yang menyebabkan ibu tidak dapat menyusui.

Dengan demikian, donor ASI dapat ditempatkan sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan bayi. Pilihan tersebut dapat dipertimbangkan sebelum menggunakan alternatif lainnya ketika kebutuhan ASI bayi tidak dapat dipenuhi secara langsung oleh ibu kandung.

Dalam praktik modern, kebutuhan itu dapat dipenuhi melalui ASI perah. Ibu pendonor menggunakan pompa ASI, kemudian ASI disimpan dalam wadah tertentu agar dapat diberikan kepada bayi pada waktu yang diperlukan.

Dari mekanisme tersebut kemudian berkembang Bank ASI. Sistem ini memungkinkan ASI dikumpulkan dari banyak perempuan untuk selanjutnya disalurkan kepada bayi yang membutuhkan.

Ruslan menilai perubahan sistem tersebut tidak otomatis membuat hukum donor ASI berubah. Bank ASI pada dasarnya merupakan bentuk pelembagaan dari praktik donor ASI yang sebelumnya telah dikenal.

Karena itu, prinsip dasarnya tetap sama, yakni menyusukan bayi kepada perempuan lain diperbolehkan. Yang kemudian menjadi persoalan adalah bagaimana praktik tersebut dikelola ketika melibatkan banyak pendonor dan banyak bayi penerima.

Bank ASI Membutuhkan Aturan yang Jelas

Jumlah pendonor yang banyak membuat Bank ASI mempunyai persoalan berbeda dibandingkan donor ASI yang dilakukan secara langsung antara satu ibu dan satu bayi. Ketika ASI berasal dari banyak perempuan, aspek keamanan dan identitas sumber ASI menjadi semakin penting.

Ruslan menilai pengelolaan Bank ASI tidak cukup hanya berorientasi pada tersedianya ASI untuk bayi. Potensi manfaat harus berjalan bersama dengan upaya mencegah munculnya persoalan kesehatan dan hukum.

“Sekalipun Bank ASI itu salah satu solusi kontemporer untuk penyediaan ASI bagi bayi-bayi yang keadaannya macam-macam, diperlukan regulasi,” katanya.

Menurutnya, regulasi diperlukan sejak awal proses. Perekrutan pendonor perlu memiliki ketentuan, begitu pula pemeriksaan kesehatan, penyimpanan, hingga pendistribusian ASI kepada bayi.

Pengelola Bank ASI juga harus mempunyai kompetensi yang memadai. Hal tersebut diperlukan agar proses pengumpulan dan penyimpanan ASI tetap memenuhi aspek higienitas serta mencegah terjadinya kontaminasi.

Namun, persoalan yang tidak kalah penting adalah mengetahui dari mana ASI berasal. Setiap ASI yang dikumpulkan dan diberikan kepada bayi harus memiliki sumber yang dapat ditelusuri.

Identitas perempuan yang menjadi pendonor perlu dicatat. Langkah tersebut bukan sekadar kebutuhan administrasi, tetapi berkaitan langsung dengan kemungkinan munculnya konsekuensi hukum persusuan pada masa mendatang.

Lima Kali Susuan Bisa Menimbulkan Kemahraman

Dalam fatwa tarjih Muhammadiyah, hubungan kemahraman karena persusuan mempunyai ketentuan tertentu. Bayi yang menyusu kepada perempuan yang sama sebanyak lima kali susuan dalam masa menyusui dapat memiliki hubungan kemahraman.

Masa menyusui tersebut berlangsung sejak bayi lahir hingga maksimal berusia dua tahun. Karena itu, usia bayi ketika menerima donor ASI juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Ruslan menjelaskan bahwa istilah lima kali susuan tidak sama dengan lima kali isapan. Penghitungan tersebut merujuk pada satu sesi menyusu, bukan berapa kali bayi mengisap ASI.

Satu kali susuan dihitung sejak bayi mulai menyusu sampai merasa cukup atau kenyang dan kemudian berhenti. Jika setelah berhenti bayi kembali menyusu pada kesempatan berikutnya dari sumber ASI yang sama, sesi tersebut dihitung sebagai susuan berikutnya.

“Kalau sampai lima kali dari sumber yang sama, maka terjadilah apa yang disebut dengan kemahraman,” ujarnya.

Ketentuan tersebut juga tidak hilang hanya karena ASI tidak diberikan secara langsung. Artinya, bayi tidak harus menyusu langsung dari payudara ibu susuan agar hubungan persusuan dapat memiliki konsekuensi hukum.

ASI yang telah diperah kemudian diberikan menggunakan botol tetap diperhitungkan selama memenuhi ketentuan persusuan. Cara pemberian ASI bukan menjadi faktor yang otomatis menghapus hubungan tersebut.

Dengan demikian, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam konteks ini, yakni sumber ASI, jumlah susuan, dan usia bayi. Ketiganya menjadi penting terutama ketika donor ASI dilakukan melalui sistem yang melibatkan banyak pendonor.

Pemberian ASI melalui botol karena itu tidak dapat langsung dianggap bebas dari konsekuensi persusuan. Jika seorang bayi mengonsumsi ASI dari perempuan yang sama hingga memenuhi lima kali susuan dalam masa menyusui, hubungan kemahraman tetap dapat muncul.

Kemahraman Memiliki Konsekuensi dalam Perkawinan

Hubungan persusuan yang telah memenuhi ketentuan bukan hanya menjadi hubungan sosial antara bayi dan perempuan yang memberikan ASI. Ada konsekuensi hukum yang berkaitan dengan hubungan mahram, termasuk dalam persoalan perkawinan.

Anak susuan menjadi mahram bagi ibu susuan dan keluarga tertentu melalui jalur persusuan. Karena hubungan tersebut memiliki implikasi hukum, identitas perempuan yang memberikan ASI perlu diketahui dan dicatat.

Anak susuan tidak boleh menikah dengan ibu susuannya. Larangan tersebut juga mencakup ibu dari ibu susuannya maupun anak perempuan dari ibu susuannya.

Namun, status tersebut tidak otomatis berlaku kepada semua anak yang berada dalam satu keluarga. Hubungan kemahraman berkaitan dengan anak yang benar-benar memenuhi ketentuan persusuan dengan perempuan tersebut.

Ruslan memberikan gambaran melalui kasus anak kembar. Apabila hanya satu dari dua anak kembar yang memenuhi ketentuan persusuan, maka hubungan kemahraman hanya berlaku kepada anak yang menerima ASI sesuai ketentuan.

Saudara kembar yang tidak memenuhi ketentuan tersebut tidak otomatis mempunyai status mahram dengan perempuan yang memberikan ASI. Contoh ini sekaligus menunjukkan mengapa pencatatan dalam sistem donor ASI menjadi persoalan yang penting.

Pencampuran ASI Pendonor Perlu Dihindari

Persoalan sumber ASI menjadi lebih rumit apabila ASI dari beberapa perempuan dicampurkan dalam satu wadah. Ruslan menyoroti praktik tersebut karena pencampuran dapat membuat asal ASI sulit dilacak.

Kesulitan pelacakan semakin besar ketika seorang bayi mendapatkan ASI campuran tersebut berulang kali. Dalam kondisi demikian, pengelola akan kesulitan menentukan berapa kali bayi telah mengonsumsi ASI yang berasal dari masing-masing pendonor.

Misalnya, ASI dari seorang ibu dicampurkan dengan ASI dari beberapa perempuan lain. Campuran tersebut kemudian diberikan kepada seorang bayi dalam beberapa kesempatan.

Dalam situasi seperti itu, sulit memastikan berapa kali bayi mengonsumsi ASI dari setiap sumber. Padahal, jumlah konsumsi dari sumber yang sama menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya hubungan kemahraman.

Karena itu, pemisahan ASI berdasarkan sumber pendonor menjadi penting. Sistem pencatatan yang jelas juga diperlukan agar setiap pemberian ASI dapat ditelusuri apabila pada kemudian hari muncul persoalan mengenai status persusuan.

Dengan cara tersebut, Bank ASI tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyediaan ASI. Sistem tersebut juga perlu mampu menjaga rekam jejak sumber ASI dari pendonor sampai bayi penerima.

Seleksi Pendonor Berkaitan dengan Keamanan Bayi

Selain persoalan kemahraman, donor ASI juga mempunyai aspek kesehatan yang tidak dapat diabaikan. Bayi merupakan kelompok yang masih rentan sehingga ASI yang diberikan kepadanya harus berasal dari pendonor yang telah memenuhi persyaratan kesehatan.

Karena itu, calon pendonor tidak seharusnya langsung memberikan ASI tanpa melalui pemeriksaan. Kondisi kesehatan pendonor perlu diketahui terlebih dahulu untuk mengurangi risiko penularan penyakit kepada bayi.

Ruslan menggunakan mekanisme donor darah sebagai gambaran. Seseorang yang hendak mendonorkan darah tidak bisa langsung memberikan darah sebelum kondisi kesehatannya diperiksa.

Prinsip serupa berlaku pada donor ASI. Pemeriksaan kesehatan menjadi bagian dari upaya memastikan ASI yang diberikan tidak membahayakan bayi penerima.

Dengan demikian, pengelolaan donor ASI membutuhkan perhatian terhadap dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ASI perlu tersedia bagi bayi yang membutuhkan, sedangkan di sisi lain keamanan dan kesehatan penerima harus menjadi prioritas.

Donor ASI Dilihat dari Tiga Pendekatan Manhaj Tarjih

Pembahasan donor ASI dalam perspektif manhaj tarjih Muhammadiyah juga tidak hanya bertumpu pada satu pendekatan. Ruslan menjelaskan bahwa persoalan tersebut mempertemukan aspek bayani, burhani, dan irfani.

Pendekatan bayani berkaitan dengan dasar normatif. Kebolehan menyusukan anak kepada perempuan lain memiliki landasan dalam Al-Qur’an dan hadis.

Pendekatan burhani kemudian melihat persoalan berdasarkan pertimbangan rasional dan pengetahuan medis. Dalam konteks donor ASI, manfaat ASI serta faktor kesehatan bayi menjadi bagian yang harus diperhitungkan.

Sementara pendekatan irfani berkaitan dengan dimensi penghargaan dan hubungan sosial. Kejelasan identitas perempuan yang menjadi pendonor memungkinkan terbangunnya penghargaan serta hubungan sosial antara anak susuan dengan perempuan yang memberikan ASI.

Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa donor ASI tidak hanya dipandang sebagai persoalan boleh atau tidak boleh. Pelaksanaannya juga perlu memperhatikan keamanan bayi, tata kelola, identitas pendonor, serta konsekuensi sosial dan hukum yang mungkin muncul.

Biaya Bank ASI Berkaitan dengan Jasa Pengelolaan

Persoalan lain yang muncul dalam pengelolaan Bank ASI adalah akad ketika terdapat biaya yang harus dibayarkan. Ruslan menjelaskan bahwa biaya tersebut tidak boleh ditempatkan sebagai harga jual ASI.

Pemberian ASI tidak diposisikan sebagai transaksi jual beli bagian tubuh manusia. Jika terdapat biaya dalam pengelolaan Bank ASI, biaya tersebut berkaitan dengan jasa yang diberikan oleh pengelola.

Jasa tersebut mencakup penyediaan, penyimpanan, perawatan, serta distribusi ASI. Dengan demikian, objek akad bukan ASI yang diperdagangkan sebagai komoditas, melainkan layanan yang diperlukan agar ASI dapat dikelola dan disalurkan.

“Akadnya bukan jual beli ASI, tetapi jasa saja di situ untuk penyediaan dan lain sebagainya,” katanya.

Bank ASI Bisa Menjadi Alternatif dalam Kondisi Tertentu

Berdasarkan keseluruhan pertimbangan tersebut, Ruslan menyatakan donor ASI diperbolehkan, baik diberikan secara langsung maupun melalui perantara. Bank ASI juga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif ketika bayi membutuhkan sumber ASI selain dari ibu kandung.

Kebutuhan tersebut dapat muncul dalam berbagai keadaan. Di antaranya ketika ibu meninggal setelah melahirkan, bayi merupakan yatim piatu, terjadi bencana, atau terdapat kondisi lain yang menyebabkan bayi membutuhkan sumber ASI.

Namun, kebolehan tersebut tidak berarti pengelolaan Bank ASI dapat dilakukan secara bebas tanpa sistem pengawasan. Regulasi pemerintah dan standar kesehatan tetap perlu dipenuhi agar penyediaan ASI berlangsung secara aman.

Pengelola juga harus mempunyai keahlian yang sesuai, sementara calon pendonor perlu menjalani pemeriksaan kesehatan. Pada saat yang sama, identitas pendonor dan sumber ASI harus dicatat secara jelas.

Pencatatan tersebut penting bukan hanya untuk kepentingan administrasi dan kesehatan, tetapi juga untuk mengetahui kemungkinan hubungan persusuan yang dapat menimbulkan konsekuensi kemahraman.

“Kalau muncul pertanyaan bagaimana hukum menyusukan bayi kepada ibu yang lain, jawabannya boleh,” tegas Ruslan. “Kapan terjadi hubungan kemahraman dalam fatwa kita? Kalau itu dari sumber yang sama sebanyak lima kali susuan.”

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26H31121220090/donor-asi-diperbolehkan-dalam-islam-kejelasan-sumber-dan-konsekuensi-kemahraman

Bukan Mitos, Main Tanah Bisa Bantu Imun Anak Lawan Alergi

Bukan Mitos, Main Tanah Bisa Bantu Imun Anak Lawan Alergi

KOMPAS.com – Sewaktu kecil, kamu mungkin pernah diberi tahu bahwa main tanah itu baik karena memperkuat sistem imun. Tapi, benarkah ada bukti ilmiah di balik klaim ini?

Singkatnya, ya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan tanah sejak dini dapat menurunkan risiko anak mengalami alergi dan kondisi autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap alergen atau bahkan menyerang jaringan tubuh sendiri.

Saat sistem imun anak berkembang di tahun-tahun awal kehidupan, pasukan sel pelindung dalam tubuh harus belajar membedakan sel tubuh sendiri dari zat asing yang bisa jadi tidak berbahaya atau justru menyebabkan penyakit, seperti bakteri dan virus.

Sistem imun perlu mengenali patogen penyebab penyakit agar bisa menyerangnya secara tepat.

Mikrobioma Usus dan “Teman Lama” dalam Tubuh

Sinyal molekuler yang mendorong perkembangan bagian regulasi dari sistem imun ini ternyata sebagian besar berasal dari mikroba di usus, kata Graham Rook, profesor emeritus mikrobiologi medis di University College London, kepada Live Science.

Kumpulan mikroba ini disebut “mikrobioma usus” dan sangat penting bagi kesehatan manusia. Sebagian mikroba ini, misalnya, membantu memproduksi vitamin yang dibutuhkan tubuh dan membantu proses pencernaan.

Tahun pertama kehidupan adalah masa krusial bagi perkembangan mikrobioma. Bayi menerima bakteri saat melewati jalan lahir jika dilahirkan secara normal, dan dari ASI jika disusui. Seiring bertambahnya usia, anak-anak terus terpapar mikroba dari berbagai sumber di sekitarnya.

Sebuah teori bernama “old friends hypothesis” (hipotesis teman lama) menyebutkan bahwa semakin beragam mikroba yang ditemui anak sejak dini, semakin beragam pula mikrobioma yang mereka miliki, dan semakin baik pula kemampuan sistem imun mereka membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Istilah “teman lama” merujuk pada mikroba menguntungkan atau “komensal” yang hidup di dalam dan di permukaan tubuh tanpa membahayakan kesehatan.

Teori ini pertama kali diajukan oleh Rook pada 2003 dan mirip dengan hipotesis yang lebih dikenal luas, yaitu “hygiene hypothesis” (hipotesis higienitas), yang menyatakan bahwa kurangnya paparan kuman sejak dini membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan imun.

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kaitan antara tumbuh di peternakan atau di rumah yang memelihara hewan dengan risiko alergi yang lebih rendah pada anak, dibandingkan anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan atau tanpa hewan peliharaan.

Bukan Sembarang Kuman

Namun, hipotesis teman lama menekankan pentingnya paparan terhadap mikroba komensal di masa kecil, bukan patogen infeksius. Sejumlah penelitian di Eropa justru menunjukkan bahwa paparan kuman penyebab infeksi sejak dini tidak melindungi anak dari risiko alergi.

Kritik lain terhadap hipotesis higienitas adalah anggapan bahwa teori ini meremehkan pentingnya kebersihan dalam mencegah penyakit, dan mendorong gagasan keliru bahwa manusia modern telah menjadi “terlalu bersih,” tulis Rook dan koleganya dalam sebuah tinjauan ilmiah tahun 2016.

Di sisi lain, hipotesis teman lama bisa membantu menjelaskan mengapa penggunaan antibiotik berlebihan di masa awal kehidupan — yang dapat memusnahkan sebagian besar mikrobioma usus — serta persalinan caesar, yang membuat bayi tidak terpapar bakteri vagina, dikaitkan dengan peningkatan risiko alergi.

Bukti dari Finlandia dan Swedia

Sebuah uji coba di Finlandia meneliti apakah sistem imun anak-anak kota bisa diperkuat dengan rumput dan tanah yang diambil dari lantai hutan.

Hasilnya, dalam waktu satu bulan, anak-anak yang bermain di tanah memiliki kumpulan bakteri tak berbahaya yang lebih beragam di kulit mereka, serta lebih banyak sel dan molekul sinyal pengatur imun dalam darah mereka, dibandingkan anak-anak yang bermain di taman berkerikil.

Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan bakteri dalam tanah dapat membantu sistem imun matang secara lebih baik, yang secara teoretis dapat mengurangi kemungkinan sistem imun menjadi terlalu aktif.

Sejalan dengan itu, sebuah studi di Swedia yang dipublikasikan pada 2024 menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh di peternakan sapi perah atau memiliki hewan peliharaan memiliki tingkat alergi yang lebih rendah dibanding anak-anak yang tidak.

Mereka juga memiliki lebih banyak bakteri tak berbahaya dalam usus, sehingga para peneliti menyimpulkan kedua fenomena ini kemungkinan saling berkaitan.

Tetap Ada Batasnya

“Meski mikrobioma penting, ada banyak faktor lain yang memengaruhi risiko seseorang mengalami alergi, termasuk faktor genetik,” kata Dr. Robert Wood, profesor pediatri di Johns Hopkins Medicine, Baltimore, kepada Live Science.

Meski begitu, secara umum anak-anak tetap perlu didorong untuk bermain di luar rumah dan bermain di tanah, tambahnya.

Namun, pemahaman ilmuwan saat ini soal faktor risiko gangguan imun tidak selalu bisa langsung diterjemahkan menjadi saran praktis.

Misalnya, orang yang memelihara anjing mungkin memiliki peluang lebih rendah mengalami alergi dibanding yang tidak, tapi bukan berarti seseorang bisa disarankan memelihara anjing sebagai cara pasti mencegah alergi, kata Wood.

Tanah di kawasan yang tercemar berat juga bisa berbahaya bagi anak, karena berpotensi mengandung zat kontaminan berbahaya, ia menambahkan. Jenis tanah semacam ini jelas bukan yang seharusnya menjadi tempat bermain anak.

Karena tanah juga bisa mengandung bahan kimia berbahaya seperti timbal serta parasit, orang tua perlu memastikan anak tidak menghirup atau menelan tanah saat bermain.

Sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/31/130400120/bukan-mitos-main-tanah-bisa-bantu-imun-anak-lawan-alergi

Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Dalam kehidupan di dunia ini, tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Ada kalanya kita merasa bahagia, namun ada juga saat kita harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Di tengah berbagai keadaan tersebut, keimanan kepada qada dan qadar menjadi salah satu pegangan penting bagi seorang Muslim.

Lantas, apa saja hikmah yang bisa kita dapatkan dari beriman kepada qada dan qadar dalam kehidupan sehari-hari?

Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar bagi Kehidupan Muslim

1. Tergolong sebagai Kelompok Orang yang Beriman

Mengimani qada dan qadar merupakan bagian penting dalam kesempurnaan iman seorang Muslim.

Keyakinan terhadap takdir, baik yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan, menjadi bagian dari keimanan yang harus dijaga.

Dengan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas ketetapan Allah SWT, seorang Muslim termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah riwayat Imam Muslim.

2. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan kepada Allah SWT

Ketika kita memperhatikan bagaimana alam semesta berjalan dengan begitu teratur, seimbang, dan penuh ketetapan, kita akan semakin menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Keteraturan tersebut merupakan bagian dari sunnatullah, yaitu ketentuan dan hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan.

Kesadaran ini perlahan dapat menumbuhkan rasa kagum, cinta, takut, dan takwa yang semakin kuat kepada Sang Pencipta.

3. Menumbuhkan Rasa Sabar yang Mendalam ketika Menghadapi Ujian

Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kesedihan, rasa sakit, kehilangan, dan berbagai ujian kehidupan.

Namun, keimanan kepada qada dan qadar membantu kita memahami bahwa setiap kejadian berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT.

Keyakinan tersebut dapat membuat hati lebih sabar ketika menghadapi musibah.

Kita pun menjadi lebih tenang, tidak mudah terbawa emosi, dan mampu menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih sambil berusaha mencari jalan keluarnya.

4. Melatih dan Mendidik Diri untuk Selalu Bersyukur

Ketika sedang mendapatkan kesehatan, rezeki yang cukup, keluarga yang menyayangi, atau berbagai kemudahan dalam hidup, iman kepada takdir mengingatkan kita bahwa semua itu merupakan karunia dari Allah SWT.

Kesadaran ini membuat kita tidak mudah terlena dengan kenikmatan yang dimiliki.

Sebaliknya, kita terdorong untuk mensyukurinya dan menyadari bahwa segala nikmat yang ada pada diri kita pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 53:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Latin: Wa maa bikum minni’matin faminal laahi summa izaa massakumud durru fa ilaihi taj’aroon

Artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

5. Menjauhkan Diri dari Sifat Sombong dan Angkuh

Kesuksesan dalam pekerjaan, kondisi finansial yang baik, maupun prestasi yang membanggakan terkadang membuat seseorang merasa bahwa semua itu semata-mata berasal dari kemampuan dirinya sendiri.

Di sinilah iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk tetap rendah hati.

Kita menyadari bahwa keberhasilan yang diraih tidak terlepas dari izin, pertolongan, dan ketetapan Allah SWT.

Karena itu, pencapaian yang dimiliki seharusnya mendorong kita untuk bersyukur, bukan menyombongkan diri. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Latin: Wa laa tusa’ir khaddaka linnaasi wa laa tamshi fil ardi maarahan innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhoor

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.

Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

6. Menjauhkan Diri dari Sifat Putus Asa

Kegagalan dalam pekerjaan, usaha, pendidikan, maupun kehidupan pribadi bisa membuat seseorang kehilangan semangat.

Namun, seorang Muslim yang beriman kepada qada dan qadar tidak seharusnya larut dalam keputusasaan.

Ia percaya bahwa apa yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah SWT, sehingga kegagalan yang dialami tidak selalu menjadi akhir dari segalanya.

Bisa jadi, ada kebaikan dan pelajaran yang belum terlihat di balik kejadian tersebut.

Karena itu, iman kepada takdir membantu kita untuk tetap memiliki harapan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 87:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Latin: Yaa baniyyaz haboo fatahassasoo miny Yoosufa wa akheehi wa laa tai’asoo mir rawhil laahi innahoo laa yai’asu mir rawhil laahi illal qawmul kaafiroon

Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

7. Menumbuhkan Sifat Optimis dan Semangat Berikhtiar

Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa pun.

Justru, keyakinan kepada qada dan qadar seharusnya membuat seorang Muslim semakin terdorong untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kita menjalankan ikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Sikap ini membuat kita tetap optimis dalam menghadapi kehidupan dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Semangat untuk bekerja dan berusaha juga ditegaskan Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Latin: Wa quli’maloo fasayaral laahu ‘amalakum wa Rasooluhoo walmu’minoona wa saturaddoona ilaa ‘Aalimil Ghaibi washshahaadati fa yunabbi’ukum bimaa kuntum ta’maloon

Artinya: Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,

dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

8. Membentuk Prasangka Baik kepada Allah SWT

Ada kalanya, kenyataan yang kita hadapi berjalan jauh dari apa yang telah direncanakan.

Pada saat seperti itu, iman kepada qada dan qadar membantu kita untuk tetap berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah SWT.

Kita percaya bahwa setiap ketetapan-Nya memiliki hikmah, meskipun hikmah tersebut belum tentu langsung terlihat.

Peristiwa yang terasa berat atau menyakitkan pun dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk belajar, tumbuh, dan menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

9. Menumbuhkan Sikap Tawakal

Iman kepada qada dan qadar juga mengajarkan kita tentang makna tawakal yang sebenarnya.

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar sebaik mungkin.

Dengan sikap ini, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang karena ia memahami bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah SWT.

Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengasih.

Allah SWT berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

10. Membentuk Mental yang Kuat dan Mandiri

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menghadapi kegagalan, kehilangan, kesulitan, atau keadaan yang terasa sangat berat.

Keimanan kepada qada dan qadar membantu membentuk mental yang lebih kuat dalam menghadapi semua itu.

Seorang Muslim belajar untuk tidak mudah menyerah, tidak terlalu larut dalam keadaan, dan berani bangkit ketika mengalami kegagalan.

Keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui dan menetapkan segala sesuatu juga membuat kita lebih mampu menghadapi perubahan hidup dengan sabar dan tetap berusaha.

11. Memotivasi Manusia untuk Kreatif Mengungkap Sunnatullah

Beriman kepada takdir Allah SWT juga tidak menghalangi manusia untuk berpikir, belajar, dan melakukan penelitian.

Sebaliknya, keyakinan bahwa alam semesta berjalan berdasarkan ketentuan dan keteraturan yang Allah ciptakan dapat mendorong rasa ingin tahu manusia untuk mempelajarinya lebih jauh.

Dari sinilah manusia terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengungkap berbagai sunnatullah yang terdapat di alam.

Pengetahuan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk memberikan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

12. Menenangkan Jiwa dan Menenteramkan Hati

Salah satu hikmah yang paling terasa dari iman kepada qada dan qadar adalah hadirnya ketenangan dalam hati.

Ketika seseorang menyadari bahwa hidup berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT, ia tidak perlu terus-menerus dikuasai oleh rasa takut terhadap masa depan.

Bukan berarti ia tidak memiliki kekhawatiran sama sekali, tetapi ia belajar untuk menghadapinya dengan keyakinan dan tawakal.

Ketenangan hati tersebut juga berkaitan erat dengan kebiasaan mengingat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

13. Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta

Pada akhirnya, salah satu hikmah terbesar dari beriman kepada qada dan qadar adalah semakin dekatnya hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Dalam keadaan senang maupun susah, ia belajar untuk selalu mengingat Allah, berdoa, bersandar, dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Keyakinan terhadap takdir juga membantu hati agar tidak terlalu terpaut pada kehidupan dunia dan segala sesuatu yang bersifat sementara.

Dengan begitu, orientasi hidup perlahan diarahkan kepada hal yang lebih utama, yaitu mencari keridaan Allah SWT.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/termasuk-rukun-iman-ini-13-hikmah-beriman-kepada-qada-dan-qadar-dalam-islam

Bukan Hanya Kebahagiaan dan Uang, Ini 6 Dimensi yang Membentuk Kehidupan yang Berkembang

Bukan Hanya Kebahagiaan dan Uang, Ini 6 Dimensi yang Membentuk Kehidupan yang Berkembang

TRIBUNNEWS.COM – Setiap orang tentu memiliki pandangan berbeda tentang seperti apa kehidupan yang baik. Bagi sebagian orang, kehidupan ideal mungkin berarti sejahtera secara finansial sementara bagi yang lain, kehidupan yang baik berarti mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekat.

Pandangan tersebut juga dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Setelah menjalani berbagai pengalaman, ukuran kehidupan yang dianggap baik bisa menjadi lebih luas. Dari sinilah muncul berbagai pertanyaan seperti:

“Apa artinya memiliki penghasilan tinggi jika tubuh selalu kelelahan?”

“Apa artinya memiliki karir yang sukses jika pekerjaan justru membuat kita terus-menerus merasa burnout?”

“Apa artinya memiliki banyak kenalan jika tidak ada orang yang benar-benar bisa diandalkan ketika menghadapi masalah?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa ada beragam aspek yang menentukan apakah seseorang memiliki kehidupan yang terasa utuh, bermakna, dan terus berkembang.

Gagasan tentang kehidupan yang terus berkembang inilah yang kemudian dikenal dengan istilah human flourishing. Dikutip dari yadema.org, menurut Global Flourishing Study (GDS), konsep human flourishing adalah kondisi ketika seluruh aspek kehidupan seseorang berada dalam keadaan paripurna. Perspektif ini melihat kehidupan manusia secara lebih menyeluruh, bukan sekadar kebahagiaan atau keberhasilan material.

6 Dimensi yang Membentuk Kehidupan yang Berkembang

Human flourishing dapat dipahami dengan melihat berbagai sisi kehidupan secara utuh. Dalam konsep ini, terdapat enam dimensi yang dapat membantu menggambarkan seperti apa kehidupan yang berkembang dan bahwa kehidupan yang baik tidak berdiri di atas satu aspek saja.

Keenam aspek itu terdiri dari happiness and life satisfaction, mental and physical health, meaning and purpose, character and virtue, close social relationships, serta financial and material stability.

1. Happiness and Life Satisfaction (Kebahagiaan dan Kepuasan Hidup)

Kebahagiaan mungkin menjadi hal pertama yang terlintas ketika membicarakan kehidupan yang baik. Namun, bahagia bukan berarti seseorang harus selalu merasa senang setiap saat.

Dimensi happiness and life satisfaction melihat seberapa puas seseorang terhadap kehidupannya secara keseluruhan dan seberapa bahagia yang biasanya ia rasakan. Dengan demikian, pengalaman seperti kecewa, lelah, atau menghadapi hari yang buruk tidak serta-merta berarti seseorang memiliki kehidupan yang tidak baik.

Contohnya, seseorang mungkin tidak memiliki pekerjaan dengan gaji tertinggi di lingkungannya. Namun, ia merasa cukup puas karena pekerjaan tersebut sesuai dengan minat, lingkungan kerjanya nyaman, dan masih memiliki waktu untuk keluarga maupun kegiatan yang disukai.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki pencapaian karier tinggi belum tentu merasa puas apabila setiap hari dipenuhi tekanan dan tidak memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Artinya, kehidupan yang berkembang bukan hanya tentang mendapatkan sebanyak mungkin hal yang menyenangkan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memandang dan menilai kehidupannya secara keseluruhan.

2. Mental and Physical Health (Kesehatan Mental dan Fisik)

Kehidupan yang berkembang juga sulit dipisahkan dari kondisi tubuh dan pikiran. Dimensi mental and physical health melihat bagaimana seseorang menilai kondisi kesehatan fisik dan kesehatan mentalnya secara keseluruhan.

Seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang menjanjikan dan penghasilan yang cukup, akan tetapi tubuh dan mentalnya terus terasa lelah karena kesibukannya sehari-hari, sehingga kualitas kehidupannya dapat ikut terdampak.

Sebaliknya, memiliki waktu istirahat yang cukup, rutin bergerak, menjaga kondisi tubuh, serta memperhatikan kesehatan mental dapat membantu seseorang menjalani berbagai aktivitas dengan lebih baik. Sebab, pencapaian akan sulit dinikmati apabila tubuh dan pikiran tidak berada dalam kondisi yang mendukung.

Dengan kata lain, kehidupan yang berkembang bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dicapai, tetapi juga apakah seseorang memiliki kondisi fisik dan mental yang memungkinkan dirinya menjalani kehidupan tersebut.

3. Meaning and Purpose (Makna dan Tujuan Hidup)

Apakah kamu pernah merasa sudah sangat sibuk sepanjang hari, tetapi ketika berhenti sejenak justru bertanya, “Sebenarnya saya melakukan semua ini untuk apa?”

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan dimensi meaning and purpose. Dimensi ini melihat apakah seseorang memahami tujuan hidupnya dan merasa bahwa hal-hal yang dilakukan dalam kehidupannya memiliki nilai.

Makna hidup tidak harus selalu berupa pencapaian besar. Seseorang mungkin bekerja setiap hari dan merasa lelah dengan rutinitasnya, tetapi tetap merasa pekerjaannya bernilai karena penghasilan yang diperoleh dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Begitu pula seorang guru yang mungkin merasa lelah setelah seharian mengajar. Namun, ketika melihat muridnya memahami pelajaran atau berkembang menjadi lebih percaya diri, pekerjaan tersebut dapat terasa memiliki arti.

Makna juga dapat ditemukan melalui kegiatan seperti belajar, berkarya, membantu orang lain, membangun keluarga, atau melakukan sesuatu yang dianggap penting. Ketika seseorang memahami alasan di balik apa yang dilakukan, rutinitas sehari-hari tidak hanya terasa sebagai kewajiban, tetapi juga memiliki tujuan.

4. Character and Virtue (Karakter dan Kebajikan)

Dimensi character and virtue berkaitan dengan upaya seseorang untuk melakukan kebaikan dalam berbagai keadaan, termasuk ketika menghadapi situasi yang sulit. Dimensi ini juga melihat kemampuan untuk mengorbankan sebagian kebahagiaan saat ini, demi sesuatu yang dianggap lebih baik di masa depan.

Contohnya, seseorang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara yang tidak jujur. Ia mungkin tidak akan ketahuan saat mengambil kesempatan tersebut, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya karena menganggap kejujuran lebih penting.

Contoh lain dapat ditemukan dalam keputusan sehari-hari. Seseorang mungkin ingin menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membeli barang yang sudah lama diinginkan. Namun, ia memilih menyisihkan sebagian uang untuk tabungan atau kebutuhan masa depan.

Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan yang berkembang juga berkaitan dengan nilai-nilai yang dipegang seseorang serta kemampuannya menentukan tindakan berdasarkan hal yang dianggap baik.

Dengan kata lain, flourishing bukan hanya tentang merasa baik, tetapi juga tentang berusaha melakukan hal yang baik.

5. Close Social Relationships (Hubungan Sosial yang Dekat)

Manusia tidak menjalani kehidupannya seorang diri. Kedekatan dalam hubungan sosial menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan yang berkembang. Dimensi ini melihat apakah seseorang merasa puas dengan pertemanan dan hubungan yang dimiliki serta apakah hubungan tersebut memberikan kepuasan sesuai dengan yang diharapkan.

Seseorang mungkin memiliki ratusan teman atau pengikut di media sosial, tetapi ketika menghadapi masalah belum tentu ia memiliki orang yang benar-benar dapat dihubungi. Sebaliknya, seseorang dengan lingkaran pertemanan yang kecil bisa merasa kehidupannya lebih baik karena memiliki beberapa orang yang dekat, saling mendukung, dan dapat dipercaya.

Hubungan seperti ini juga membutuhkan perhatian. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar, meluangkan waktu untuk bertemu, mendengarkan cerita dengan sungguh-sungguh, atau sekadar makan bersama keluarga dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan.

6. Financial and Material Stability (Stabilitas Finansial dan Material)

Setelah membahas berbagai aspek kehidupan yang bersifat personal dan sosial, kondisi finansial juga tetap memiliki peran penting. Financial and material stability berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup serta merasa aman terhadap kondisi kehidupan sehari-hari.

Seseorang tidak harus memiliki rumah mewah, mobil mahal, atau tabungan dalam jumlah besar untuk merasa stabil secara finansial. Dalam pengukurannya, dimensi ini melihat apakah seseorang mampu memenuhi pengeluaran hidup bulanan serta kebutuhan dasar seperti keamanan, makanan, dan tempat tinggal.

Jika ia memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar kebutuhan dasar tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran, kondisi tersebut dapat memberikan rasa aman.

Sebaliknya, penghasilan yang besar belum tentu berarti seseorang memiliki kehidupan yang stabil apabila pengeluaran terus meningkat atau kondisi keuangannya tidak memberikan rasa aman.

Hal ini menunjukkan bahwa materi memang penting dalam kehidupan yang baik, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Kondisi finansial dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan rasa aman, tetapi tetap perlu berjalan berdampingan dengan aspek kehidupan lainnya.

Kehidupan yang Baik Tidak Hanya Soal Materi

Enam dimensi dari konsep flourishing memperlihatkan bahwa kualitas kehidupan manusia tidak dapat diukur hanya dari satu sisi. Konsep ini juga tidak menuntut kehidupan yang sepenuhnya bebas dari kesulitan. Yang penting adalah bagaimana berbagai aspek kehidupan tetap dapat berkembang dan memiliki nilai bagi seseorang.

Human flourishing melihat kehidupan sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar pencapaian material. Rasa puas terhadap hidup, kesehatan, makna dan tujuan, karakter, hubungan dengan orang lain, serta kestabilan finansial dan material menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membentuk kehidupan yang berkembang.

Sebagai informasi, artikel ini merupakan bagian dari rangkaian acara Global Ethics Forum (GEF) 2026 bertema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology, and Policy”.

Sumber : https://www.tribunnews.com/lifestyle/7875609/bukan-hanya-kebahagiaan-dan-uang-ini-6-dimensi-yang-membentuk-kehidupan-yang-berkembang

Bukan Sekadar Teman, Begini Cara Orangtua Jadi ‘Bestie’ yang Dipercaya Anak

Bukan Sekadar Teman, Begini Cara Orangtua Jadi ‘Bestie’ yang Dipercaya Anak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjadi orangtua yang dekat dengan anak bukan sekadar membuat mereka nyaman bercerita.

Kedekatan dapat menjadi fondasi agar anak memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan perasaan, meminta bantuan, hingga berdiskusi ketika menghadapi masalah.

Namun, menjadi “bestie” bagi anak bukan berarti orangtua harus selalu menuruti keinginan anak atau menghilangkan batas antara orangtua dan anak.

Kedekatan justru perlu dibangun dengan memahami cara anak berpikir, mengenali karakternya, serta menyesuaikan pola komunikasi dengan kebutuhannya.

Praktisi neuroparenting, dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt, CI, mengatakan langkah awal membangun kedekatan adalah memahami bahwa anak memiliki cara berpikir dan merespons lingkungan yang berbeda dengan orang dewasa.

“Kita manusia punya rata-rata neuron atau sel otak sebanyak 100 miliar,” ujar Aisah dalam seminar parenting bertajuk “Maukah Menjadi Orangtua yang Bahagia dan Bestie Anak Kita?” yang digelar SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, anak-anak yang tumbuh di era digital juga menghadapi lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa mengakses informasi dengan cepat melalui berbagai perangkat dan sumber.

“Sekarang era baru yang lebih canggih. Ibarat komputer, anak zaman sekarang RAM-nya lebih besar. Daya akses mencari data juga lebih cepat,” katanya.

Karena itu, menurut Aisah, pola pengasuhan juga perlu berkembang. Orangtua tidak cukup hanya mengandalkan cara mendidik yang pernah diterima ketika kecil.

Salah satu pendekatan yang perlu dikedepankan adalah komunikasi yang lebih lembut atau soft touch. Anak tetap membutuhkan aturan dan disiplin, tetapi prosesnya tidak harus melalui kekerasan, bentakan atau ancaman.

Kenali Karakter Anak

Aisah juga mengajak orangtua memahami bahwa setiap anak memiliki karakter berbeda sehingga pola pengasuhan tidak bisa diterapkan secara seragam.

Dalam seminar tersebut, orangtua diperkenalkan dengan empat kategori watak, yakni sanguinis, plegmatis, koleris dan melankolis. Peserta juga diajak mengenali kecenderungan kepribadian introvert, ekstrovert atau ambivert.

Pemahaman mengenai karakter dapat membantu orangtua melihat perilaku anak dari sudut pandang yang berbeda.

Anak yang banyak berbicara, misalnya, belum tentu sekadar “cerewet”. Begitu pula anak yang lebih banyak diam belum tentu tidak memiliki pendapat.

“Mengenali karakter bukan berarti memberikan label permanen kepada anak. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi pijakan bagi orangtua untuk menemukan cara komunikasi yang lebih sesuai,” kata Aisyah.

Tetap Ada Batasan

Menjadi “bestie” dalam pengasuhan bukan berarti orangtua berubah menjadi teman sebaya anak.

Orangtua tetap memiliki tanggung jawab menetapkan batasan, mengajarkan konsekuensi dan membantu anak memahami mana yang baik dan tidak baik.

Kedekatan justru akan lebih sehat jika berjalan bersama batasan yang jelas. Orangtua dapat memulainya dengan mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi, menanyakan perasaannya, menghargai pendapat, dan memberikan ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan.

“Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua juga dapat membuka dialog melalui pertanyaan seperti, “Menurut kamu, apa yang terjadi?” atau “Kalau kejadian ini terulang, apa yang bisa kamu lakukan berbeda?,” katanya.

Dengan cara tersebut, disiplin tetap berjalan tanpa membuat anak merasa hubungan dengan orangtuanya terancam ketika melakukan kesalahan.

Kepala SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Manar Imam Muhammadi, mengatakan kegiatan parenting penting karena membangun kedekatan dengan anak tidak selalu mudah.

“Parenting ini sangat bermanfaat, terutama bagi orangtua yang ingin menjadi bestie bagi anaknya,” ujar Manar.

Ketua Komite SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Indah Chairun Nisa, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari upaya mendampingi orangtua dalam membimbing anak.

“Ini sebagai bentuk komitmen untuk selalu membersamai orangtua murid SD Muhammadiyah 5 untuk menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam membimbing buah hati,” kata Indah.

Sumber : https://www.tribunnews.com/lifestyle/7875456/bukan-sekadar-teman-begini-cara-orangtua-jadi-bestie-yang-dipercaya-anak

Mengenal Food Noise, Obsesi Makan di Balik Kegagalan Diet

Mengenal Food Noise, Obsesi Makan di Balik Kegagalan Diet

TRIBUNNEWS.COM – Bagi banyak orang, mempertahankan konsistensi dalam menjalani program penurunan berat badan atau diet terasa seperti perjuangan yang tak pernah menang. Banyak yang meyakini kegagalan diet disebabkan oleh minimnya disiplin diri atau kurangnya niat.

Padahal, riset medis menunjukkan adanya gangguan biologis di balik dorongan makan yang tak tertahankan, yang dikenal sebagai food noise.

Food noise adalah kondisi psikologis dan biologis ketika pikiran seseorang terus-menerus dipenuhi oleh obsesi atau keinginan terhadap makanan, meskipun tubuh sebenarnya tidak sedang membutuhkan asupan energi.

Medical Manager LIGHT Group, dr. Guadelupe Maria Melissa, menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami kelebihan berat badan dalam waktu lama, otak menyesuaikan titik acuan berat badan. Ketika diet dimulai dan berat badan turun, tubuh justru meresponsnya sebagai ancaman dan memicu gangguan sinyal hormon incretin seperti GLP-1 dan GIP yang diproduksi oleh usus.

“Akibatnya, rasa lapar meningkat dan rasa kenyang berkurang. Penurunan berat badan merangsang otak untuk memicu food noise. Jadi, kegagalan diet bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan ada mekanisme pengaturan nafsu makan di otak yang terganggu,” ujar dr. Guadelupe dalam keterangannya.

Senada dengan dr. Guadelupe, Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menegaskan bahwa food noise sering kali menimbulkan stigma keliru bahwa penderita obesitas tidak memiliki kontrol diri.

“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang mengambil keputusan terkait makanan. Food noise memiliki keterkaitan kompleks antara faktor biologis, emosional, dan kebiasaan,” terang Tara.

Inilah alasan program penanganan obesitas tidak boleh hanya berfokus pada angka timbangan. Selama lebih dari dua dekade, LIGHThouse menitikberatkan pendekatan berbasis perubahan perilaku dan edukasi nutrisi yang berkelanjutan.

“Pendekatan psikologis sangat dibutuhkan untuk mengatasi dorongan makan yang tidak tepat dari akar masalahnya. Tujuannya bukan hanya membantu pasien menurunkan berat badan, tetapi juga membangun kemampuan untuk mempertahankan hasil tersebut dalam jangka panjang,” lanjut dia.

Menjawab tantangan tersebut, hadir inovasi medis berbasis tirzepatide melalui terapi TirzePen dan TirzeSlim. Terapi ini bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh.

“Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise,” terang dr. Guadelup.

Kendati demikian, para ahli sepakat bahwa terapi medis berbasis injeksi hanyalah satu bagian dari proses penyembuhan.

Keberhasilan jangka panjang tetap menuntut pendekatan multidisiplin yang memadukan intervensi medis, edukasi nutrisi dari ahli gizi, serta pendampingan psikologis guna mengubah perilaku makan secara berkelanjutan.

Sumber : https://www.tribunnews.com/lifestyle/7874940/mengenal-food-noise-obsesi-makan-di-balik-kegagalan-diet

Kaya Cadangan Mineral, Indonesia Hadapi Tantangan Besar Membangun Industri Bernilai Tambah

Kaya Cadangan Mineral, Indonesia Hadapi Tantangan Besar Membangun Industri Bernilai Tambah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia memiliki modal besar untuk membangun industri berbasis sumber daya alam. Namun, besarnya cadangan mineral dan batu bara belum otomatis membuat nilai ekonomi yang dihasilkan semakin tinggi.

Berdasarkan data Badan Geologi, Indonesia memiliki sekitar 42 persen cadangan nikel dunia. Indonesia juga menempati peringkat pertama dunia untuk cadangan timah, peringkat keempat untuk bauksit dan emas, peringkat kesembilan untuk tembaga, serta peringkat keenam untuk batu bara.

Kekayaan tersebut selama ini masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada penjualan komoditas. Model tersebut membuat penerimaan dari sektor pertambangan relatif rentan terhadap perubahan harga komoditas di pasar global.

Padahal, mineral dan batu bara merupakan sumber daya yang terbatas. Karena itu, tantangannya bukan sekadar meningkatkan produksi tambang, melainkan memastikan setiap ton mineral yang dihasilkan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Division Head of Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan Indonesia perlu memasuki tahap baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dengan memperluas penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Menurutnya, kekayaan mineral perlu menjadi bagian dari pembangunan industri nasional, bukan berhenti sebagai komoditas yang diekspor setelah melalui proses pengolahan terbatas.

“Pemerintah menugaskan MIND ID untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses ekstraksi. Sumber daya alam tersebut harus menjadi fondasi industrialisasi yang mampu memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia,” kata Selly, dikutip Senin (31/8/2026).

Dari Tambang ke Rantai Industri

Transformasi tersebut berarti memperpanjang rantai nilai mineral dari tambang menuju industri pengolahan, manufaktur, hingga produk akhir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan pendekatan itu, manfaat pertambangan tidak hanya berasal dari aktivitas penambangan, tetapi juga dari tumbuhnya industri pengolahan, kebutuhan teknologi, tenaga kerja, jasa pendukung, hingga munculnya industri baru yang menggunakan bahan baku mineral dalam negeri.

Selly mengatakan pengembangan sektor pertambangan perlu diarahkan pada penguatan pengolahan dan pemurnian sehingga menghasilkan bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan industri nasional.

“Pada saat yang sama, Indonesia perlu membangun kemitraan strategis dengan pelaku industri dan investor internasional. Kemitraan tersebut dibutuhkan untuk mempercepat penguasaan teknologi, meningkatkan kapasitas pengolahan, sekaligus membuka akses ke pasar global,” katanya.

Langkah ini menjadi penting karena hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. Industri membutuhkan teknologi, modal, pasar, infrastruktur, serta kepastian pasokan bahan baku agar rantai nilai dapat berjalan secara berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan mineral strategis perlu diarahkan menjadi ekosistem industri yang saling terhubung. Nikel, tembaga, bauksit, timah, emas, dan mineral lainnya tidak hanya dilihat berdasarkan nilai jualnya sebagai komoditas, tetapi juga berdasarkan industri apa yang dapat dibangun dari sumber daya tersebut.

Tantangan Mengubah Cadangan Menjadi Nilai Ekonomi

Besarnya cadangan mineral pada akhirnya hanya menjadi modal awal. Nilai ekonominya sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mengolah sumber daya tersebut, menguasai teknologi, menciptakan industri pengguna, dan mendapatkan posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok global.

Di sinilah pengelolaan sumber daya menjadi bagian dari agenda industrialisasi. Semakin panjang rantai nilai yang dapat dibangun di dalam negeri, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja, investasi, transfer teknologi, serta penerimaan ekonomi yang lebih luas.

Arah tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Dalam konteks itu, MIND ID mendapat mandat untuk memperkuat penguasaan dan pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara strategis sebagai bagian dari kepentingan nasional.

Penguasaan atas sumber daya tersebut juga diarahkan untuk memastikan cadangan strategis yang sebelumnya berada dalam penguasaan asing dapat dikelola dengan orientasi manfaat jangka panjang bagi Indonesia.

“Tujuan kami tidak berhenti pada pengelolaan tambang. Yang ingin diwujudkan adalah bagaimana seluruh kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dioptimalkan untuk memperkuat kedaulatan ekonomi, serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Indonesia,” pungkas Selly.

Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kekayaan mineral Indonesia dapat diterjemahkan menjadi kapasitas industri yang nyata.

Artinya, keberhasilan pengelolaan tambang ke depan tidak cukup diukur dari besarnya produksi atau nilai ekspor komoditas.

Indikator yang lebih penting adalah seberapa jauh sumber daya tersebut mampu mendorong tumbuhnya industri domestik, menciptakan pekerjaan bernilai tambah, meningkatkan penguasaan teknologi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

“Pemerintah dan pelaku industri juga perlu memastikan hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter atau fasilitas pemurnian. Tahap berikutnya adalah membangun industri pengguna yang menyerap produk hasil pengolahan tersebut sehingga nilai tambah terus bergerak dari hulu ke hilir di dalam negeri,” katanya.

Sumber : https://www.tribunnews.com/bisnis/7875717/kaya-cadangan-mineral-indonesia-hadapi-tantangan-besar-membangun-industri-bernilai-tambah

5 Cara Keluar dari Grup WA Tanpa Ketahuan, Cocok Buat yang Gak Enakan

5 Cara Keluar dari Grup WA Tanpa Ketahuan, Cocok Buat yang Gak Enakan

Keluar dari grup WhatsApp terkadang terasa serba salah, terutama ketika grup tersebut masih aktif dan berisi banyak orang yang dikenal seperti teman lama.

Ada kalanya kita ingin meninggalkan grup karena sudah tidak searah, terlalu banyak notifikasi, atau sekadar ingin mengurangi percakapan, tetapi takut dianggap sombong dan membuat anggota lain merasa tidak enak.

Kabar baiknya, ada beberapa cara keluar dari grup WA tanpa terlalu menarik perhatian.

Jika kamu sedang mencari cara keluar dari grup WA tanpa ketahuan karena takut bikin suasana canggung, simak beberapa langkah dan tipsnya berikut ini.

Cara Keluar dari Grup WA Secara Diam-Diam

1. Hapus Akun WA

Cara termudah untuk keluar dari grup WA secara diam-diam adalah menghapus akun WA. Dengan fitur ini, pemberitahuan bahwa kamu meninggalkan grup tidak akan diketahui seluruh anggota

Caranya sangat mudah, kamu hanya perlu mengikuti langkah-langkah berikut ini:

  • Buka WhatsApp.
  • Buka ‘Settings’ di bagian titik tiga.
  • Pilih ‘Account’.
  • Pilih ‘Delete account’.
  • Muncul pemberitahuan apa saja yang akan terjadi jika kamu menghapus akun.
  • Klik ‘Delete account’

Setelah mengonfirmasi pilihan tersebut, kamu tidak lagi menjadi anggota grup dan tidak akan menerima pesan baru dari percakapan tersebut.

2. Ganti Profil WA

Cara lain agar kamu tidak diketahui saat meninggalkan grup adalah dengan mengganti nama dan foto profil WA.

Perlu dicatat, cara ini mungkin tetap diketahui anggota lain jika mereka sudah menyimpan kontak kamu.

Berikut caranya:

  • Buka WhatsApp.
  • Klik titik tiga di kanan atas.
  • Pilih ‘Settings’.
  • Ganti nama profil dan hapus foto profil kamu.
  • Masuk grup yang kamu inginkan.
  • Klik titik tiga, pilih ‘More’.
  • Klik “Exit group”.

3. Report Group

Bila benar-benar tidak ingin ketahuan, kamu bisa coba menggunakan cara kasar dengan melakukan report group. Berikut caranya:

  • Masuk ke grup WA yang kamu ingin keluar.
  • Klik titik tiga di sudut kanan atas.
  • Pilih ‘More’ lalu ‘Report’.
  • Centang ‘Exit group and delete chat’, lalu ‘Report’.

Setelah menekan “report” kamu akan keluar grup dan tidak ada yang mengetahuinya.

Penting untuk diketahui kalau cara ini bisa berdampak secara langsung pada grup terjadi, terutama jika WhatsApp merasa telah terjadi pelanggaran di dalamnya.

4. Ganti Nomor

Kamu bisa keluar dari grup secara diam-diam dengan mengganti nomor WA lama dengan nomor baru. Berikut caranya:

  • Buka WhatsApp.
  • Klik tiga titik di sudut kanan atas, lalu pilih ‘Settings’.
  • Pilih ‘Account’ lalu ‘Change Number’.
  • Masukkan nomor lama dan nomor pengganti untuk WhatsApp kamu.
  • Pilih ‘Done’.

Perlu diketahui, dengan mengganti nomor WA, maka nomor yang biasa kamu gunakan tidak lagi berada di grup manapun, jadi kamu tidak hanya keluar dari satu grup tapi semua grup percakapan.

5. Hanya Diketahui Admin Grup

Kamu juga bisa keluar dari grup WA, namun hanya diketahui admin grup saja. Berikut caranya:

  • Lakukan update WhatsApp versi terbaru.
  • Buka WA dan masuk ke grup yang kamu inginkan.
  • Klik titik tiga di kanan, pilih ‘More’ atau ‘Lainnya’.
  • Pilih ‘Exit Group’ atau ‘Keluar Grup’ seperti cara biasa.
  • Pastikan muncul notifikasi bahwa hanya admin yang akan diberi pemberitahuan.
  • Pilih ‘Keluar’.

Tips Keluar dari Grup WA agar Tidak Terasa Canggung

Jika masih merasa canggung menggunakan langkah-langkah di atas, kamu bisa ikuti cara berikut ini untuk meninggalkan grup percakapan. Berikut tipsnya:

  • Keluar ketika grup sedang tidak aktif.
  • Jika grup berisi teman dekat, sampaikan alasan secara singkat.
  • Tidak perlu memberikan penjelasan panjang jika tidak diperlukan.
  • Jika hanya terganggu notifikasi, gunakan fitur mute atau arsip.
  • Jangan menggunakan alasan yang berlebihan atau dibuat-buat.

Sumber : https://www.inilah.com/5-cara-keluar-dari-grup-wa-tanpa-ketahuan-cocok-buat-yang-gak-enakan

Ciri-Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat, Simak Amalannya

Ciri-Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat, Simak Amalannya

Liputan6.com, Jakarta – Pada hari kiamat, seluruh manusia dibangkitkan dari kubur untuk mempertanggungjawabkan setiap amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Di antara berbagai golongan, ada yang wajahnya bercahaya dan berseri sebagai tanda kebahagiaan. Maka itu, perlu mengetahui ciri orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat.

Dalam berbagai riwayat digambarkan kondisi di Padang Mahsyar. Manusia akan berada dalam kondisi yang berbeda-beda. Al-Qur’an menggambarkan perbedaan kondisi tersebut dengan jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 106, “Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.”

Sementara, gambaran orang yang berbahagia disebutkan dalam QS. Al-Qiyamah ayat 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya.” Ayat-ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa wajah yang berseri pada hari kiamat merupakan gambaran kebahagiaan orang-orang beriman.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa wajah yang bercahaya berkaitan dengan iman dan amal saleh yang dimiliki seseorang. Penjelasan tersebut sejalan dengan uraian Dr. Yusuf al-Wabil dalam kitab Yaumul Qiyamah: Tanda-Tanda dan Gambaran Hari Kiamat Berdasarkan Sumber-sumber yang Otentik. Ia menjelaskan bahwa wajah yang bercahaya merupakan salah satu tanda kebahagiaan di akhirat.

Kondisi itu juga berkaitan dengan datangnya syafaat dan rahmat Allah serta menjadi pertanda bahwa seseorang termasuk golongan yang memperoleh keselamatan dan kenikmatan surga.

Ciri-Ciri Orang yang Wajahnya Bercahaya pada Hari Kiamat

1. Orang-Orang yang Bertakwa kepada Allah SWT

Golongan pertama yang wajahnya bercahaya adalah mereka yang bertakwa kepada Allah Swt. Takwa adalah landasan utama yang membawa seseorang kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Allah SWT berfirman: “Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS. Ali Imran: 107). Ketakwaan inilah yang akan memancarkan cahaya pada wajah mereka di hari kiamat. Mereka akan dibangkitkan dengan wajah putih berseri dan ceria karena amalan mereka selama di dunia.

2. Orang-Orang yang Selalu Mengingat Allah (Ahli Dzikir)

Golongan kedua yang wajahnya bercahaya adalah mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dalam kitab Al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim, dijelaskan bahwa berdzikir kepada Allah akan memberikan hiasan pada wajah seorang hamba berupa kecerahan di dunia dan cahaya di akhirat.

Orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik saat senang maupun susah, akan memiliki wajah berseri ketika dibangkitkan di Padang Mahsyar. Dzikir bukan hanya sekadar bacaan lisan, tetapi juga penghayatan hati yang mendalam akan kebesaran Allah. Cahaya dzikir inilah yang akan menerangi wajah mereka pada hari kiamat.

3. Orang-Orang yang Berjihad di Jalan Allah

Golongan ketiga adalah mereka yang berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan harta, jiwa, dan segala yang mereka miliki untuk membela agama dan kebenaran. Mereka yang berjihad dengan ikhlas akan dibangkitkan di hari kiamat dengan wajah yang berseri karena pengorbanan mereka yang besar di jalan Allah.

Jihad tidak selalu berarti perang fisik, tetapi juga mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, mempertahankan kebenaran, dan menyebarkan kebaikan. Setiap orang yang berjuang menegakkan agama Allah dengan tulus akan mendapatkan cahaya di wajahnya pada hari kebangkitan.

4. Orang-Orang yang Rajin Berwudhu dan Menjaga Kebersihan

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjalin (wajahnya bercahaya) karena bekas wudhu mereka” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Wudhu bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga menyucikan jiwa.

Orang yang mendengar adzan lalu segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat berjamaah termasuk golongan yang akan dibangkitkan dengan wajah ceria di hari kiamat. Semakin sering seseorang berwudhu dengan niat yang ikhlas, semakin indah dan cerah wajahnya di hari kiamat karena cahaya Allah. Mereka yang menjaga wudhu dengan baik, tidak hanya wajah mereka yang bercahaya tetapi juga tangan, kaki, dan dahinya.

5. Golongan Pertama yang Masuk Surga

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya golongan pertama yang akan masuk surga, wajahnya tampak seperti bulan di malam purnama. Sedangkan golongan sesudahnya wajahnya bercahaya, seperti bintang kejora di langit” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Golongan pertama yang masuk surga ini adalah mereka yang memiliki keimanan dan amal saleh yang sempurna. Mereka akan memasuki surga dengan wajah yang bersinar terang seperti bulan purnama, tanpa mengalami kesusahan dan kesulitan.

Wajah mereka yang bercahaya menunjukkan bahwa mereka mendapatkan rahmat Allah dan akan mendapatkan kemudahan dalam hisab serta diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

6. Orang-Orang yang Beramal Saleh dengan Ikhlas

Setiap orang yang beramal saleh dengan keikhlasan akan mendapatkan cahaya di wajahnya pada hari kiamat. Amal saleh yang dimaksud mencakup berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya yang dilakukan semata-mata karena Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa orang-orang yang berwajah cerah di hari kiamat adalah mereka yang menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Wajah mereka nampak cerah, penuh suka cita dan optimisme sesuai dengan amal ibadah mereka selama di dunia.

7. Orang-Orang yang Mendapat Naungan Allah

Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan tentang wajah bercahaya, namun tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, pastilah termasuk golongan yang berbahagia dan bercahaya wajahnya.

Mereka adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah, orang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang yang diajak berzina oleh wanita berkedudukan namun menolak, orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan orang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu meneteskan air mata.

Amalan-Amalan Agar Wajah Bercahaya di Hari Kiamat

1. Meningkatkan Takwa

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah pondasi utama yang akan memancarkan cahaya di wajah seseorang.

2. Dzikir dan Mengingat Allah

Memperbanyak dzikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dzikir akan memberikan kecerahan di dunia dan cahaya di akhirat.

3. Menjaga Wudhu

Menjaga wudhu dan menyempurnakannya. Setiap kali berwudhu, seseorang mendapatkan cahaya yang akan terpancar dari anggota tubuhnya, termasuk wajahnya, pada hari kiamat. Sebelum membasuh wajah, Muslim dapat membaca doa agar Allah SWT menggolongkannya sebagai orang yang wajahnya berseri di hari kiamat.

4. Istighfar dan Taubat

Beristighfar secara rutin. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah”. Istighfar adalah sebab yang mendatangkan rahmat Allah SWT.

6. Jihad Fi Sabilillah

Berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan harta, jiwa, dan tenaga untuk membela agama dan kebenaran.

6. Sholat Berjamaah

Melaksanakan shalat berjamaah dan bersegera ke masjid ketika mendengar adzan. Orang yang rajin shalat berjamaah dan mengambil wudhu sebelum adzan termasuk golongan yang wajahnya ceria saat dibangkitkan di hari kiamat.

7. Memperbanyak Amal Saleh

Memperbanyak amal saleh dengan ikhlas karena Allah, seperti sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan lainnya.

Hikmah Mengetahui Ciri Orang yang Mendapat Cahaya di Wajah pada Hari Kiamat

1. Meningkatkan Motivasi Beribadah

Dengan mengetahui bahwa ada golongan yang wajahnya bercahaya di hari kiamat, seorang muslim akan termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Pengetahuan ini menjadi pendorong untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat.

2. Memperkuat Keimanan kepada Hari Akhir

Memahami gambaran hari kiamat, termasuk kondisi wajah manusia, akan memperkuat keyakinan seorang muslim terhadap hari kebangkitan dan pembalasan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang mewajibkan iman kepada hari akhir sebagai salah satu rukun iman.

3. Menjadi Pengingat agar Selalu Bertakwa

Pengetahuan tentang ciri orang yang wajahnya bercahaya mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ini menjadi peringatan agar tidak terlena dengan kehidupan dunia yang fana.

4. Mendorong untuk Memperbanyak Amal Saleh

Dengan mengetahui amalan-amalan yang menyebabkan wajah bercahaya, seorang muslim akan terdorong untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa yang dapat menyebabkan wajah hitam muram di hari kiamat.

5. Memberikan Pengharapan dan Optimisme

Pengetahuan ini memberikan harapan kepada orang-orang yang beriman bahwa amal-amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang besar di akhirat. Wajah yang bercahaya menjadi simbol kebahagiaan dan keberuntungan di sisi Allah.

Pertanyaan Seputar golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat

1. Apa ciri utama orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat?

Ciri utama orang yang mendapat cahaya di wajah pada hari kiamat adalah wajahnya putih berseri, bercahaya, dan tampak kebahagiaan serta kesenangan karena pahala dari amal kebajikan mereka selama hidup di dunia. Mereka akan memandang Tuhannya dengan penuh kebahagiaan sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qiyamah ayat 22-23.

2. Siapa saja golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat?

Golongan yang wajahnya bercahaya pada hari kiamat antara lain: orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang selalu mengingat Allah (ahli dzikir), orang-orang yang berjihad di jalan Allah, orang-orang yang rajin berwudhu, golongan pertama yang masuk surga, orang-orang yang beramal saleh dengan ikhlas, dan orang-orang yang mendapat naungan Allah di Padang Mahsyar.

3. Apa dalil tentang wajah bercahaya pada hari kiamat?

Dalil tentang wajah bercahaya pada hari kiamat terdapat dalam al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 106: “Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram”, dan Surah Al-Qiyamah ayat 22-23: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. Juga dalam hadis riwayat al-Bukhari tentang umat yang dipanggil dengan wajah bercahaya karena bekas wudhu.

4. Apa amalan agar wajah bercahaya di hari kiamat?

Amalan agar wajah bercahaya di hari kiamat antara lain: bertakwa kepada Allah, memperbanyak dzikir, menjaga wudhu dan menyempurnakannya, beristighfar secara rutin, berjihad di jalan Allah, melaksanakan shalat berjamaah dan bersegera ke masjid ketika mendengar adzan, serta memperbanyak amal saleh dengan ikhlas.

5. Apakah wajah bercahaya di hari kiamat merupakan tanda masuk surga?

Ya, wajah bercahaya di hari kiamat merupakan tanda bahwa seseorang akan masuk surga. Sebagaimana firman Allah: “Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS. Ali Imran: 107). Wajah yang bercahaya menunjukkan bahwa mereka mendapatkan rahmat Allah dan akan mendapatkan kemudahan dalam hisab serta diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8278596/ciri-ciri-orang-yang-mendapat-cahaya-di-wajah-pada-hari-kiamat-simak-amalannya

Obesitas Tingkatkan Risiko Osteoartritis Lutut 4 Kali Lebih Tinggi

Obesitas Tingkatkan Risiko Osteoartritis Lutut 4 Kali Lebih Tinggi

Liputan6.com, Jakarta – Obesitas bukan hanya berkaitan dengan risiko berbagai penyakit kronis, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan sendi. Berat badan berlebih membuat lutut menerima beban lebih besar sehingga meningkatkan risiko mengalami osteoartritis.

Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi subspesialis kaki dan pergelangan kaki, Ihsan Oesman, orang dengan indeks massa tubuh (IMT) 25 hingga 29,9 atau tergolong memiliki berat badan berlebih risikonya mengalami osteoartritis lutut 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Sementara itu, seseorang obesitas alias punya IMT 30 ke atas risiko mengalami osteoartritis lutut sekitar 4,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal. Kenapa bisa begitu? Oesman menyampaikan bahwa berat badan berlebih menimbulkan tekanan mekanis lebih besar pada sendi lutut, yang menopang sebagian besar beban tubuh ketika orang berdiri, berjalan, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

“Ketika beban tubuh lebih besar, tentu beban pada lutut juga akan bertambah,” katanya mengutip Antara.

Lalu, jaringan lemak berlebih dapat memicu perubahan pada tingkat sel yang berkaitan dengan proses peradangan kronis, yang berpotensi mempercepat kerusakan jaringan sendi.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi tulang rawan dan struktur lain pada sendi lutut yang berperan dalam pergerakan.

Seiring waktu, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi lutut yang membatasi kemampuan melakukan aktivitas seperti berdiri lama, berjalan, dan berolahraga.

Mengelola Berat Badan

Assoc. Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha menambahkan, berat badan bukan satu-satunya variabel yang memengaruhi keluhan pada lutut.

“Pengelolaan berat badan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya pendekatan dalam mencegah maupun menangani osteoartritis lutut,” katanya.

Menurut dia, faktor-faktor lain yang berpeluang menyebabkan nyeri lutut juga perlu dievaluasi untuk menentukan penanganan dan pengobatan yang tepat.

Osteoartritis lutut adalah kondisi degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan di ujung tulang persendian mulai menipis dan aus. Kondisi ini seiring waktu dapat menyebabkan tulang saling bergesekan, mengakibatkan nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan gerak.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8279932/obesitas-tingkatkan-risiko-osteoartritis-lutut-4-kali-lebih-tinggi