Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia kini semakin sulit dipisahkan dari dunia digital. Media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai platform komunikasi telah menjadi bagian dari keseharian lintas generasi. Kondisi tersebut menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan baru.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto mengatakan, Islam memiliki prinsip-prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi perkembangan dunia digital. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa tidak seluruh informasi digital bersifat buruk, tetapi juga tidak semuanya dapat diterima begitu saja.

“Tidak semuanya isinya digital itu buruk, tapi juga ada yang baik. Tapi tidak semuanya baik. Maka kita menjadi filternya,” kata Talqis dalam podcast Indahnya Cahaya Islam, Senin (24/8).

Karena itu, pengguna media digital perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang menggunakan media sosial sebagai sumber pengetahuan dan berita. Talqis menekankan bahwa seseorang perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai persoalan yang sedang dicari agar mampu membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan.

Menurutnya, keterbatasan pengetahuan justru dapat membuat seseorang mudah digiring oleh arus informasi di media sosial. Alih-alih memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, seseorang dapat terbawa pada informasi yang menjauhkan dirinya dari persoalan sebenarnya.

Dalam konteks penggunaan AI, Talqis juga mengingatkan pentingnya tetap menghargai otoritas keilmuan. Perkembangan AI, menurutnya, tetap lahir dari pengetahuan dan kerja para pakar. Karena itu, keberadaan teknologi tidak semestinya membuat manusia meninggalkan sumber-sumber pengetahuan yang memiliki otoritas.

“Bagi kita yang kemudian ingin mendalami lebih orisinal kepada sumber utamanya, kita kembali ke pakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam menghadapi informasi digital adalah melakukan klarifikasi atau tabayyun. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa kembali sebelum dipercaya dan disebarkan. Prinsip tersebut, menurutnya, telah ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 6.

Tabayyun diperlukan karena informasi yang beredar di ruang digital tidak selalu benar. Bahkan, teknologi AI sendiri dapat menghasilkan informasi yang perlu dikonfirmasi kembali. Karena itu, pengguna teknologi tetap memiliki tanggung jawab untuk memeriksa sumber dan kualitas data yang diperoleh.

Setelah melakukan klarifikasi, prinsip berikutnya adalah menjaga kesantunan. Talqis mengingatkan bahwa etika komunikasi dalam Islam tidak berubah hanya karena medium komunikasinya berubah. Larangan mencela, merendahkan, atau menyakiti orang lain berlaku di dunia nyata maupun dunia maya.

Kekerasan verbal, misalnya, dapat muncul dalam bentuk komentar, unggahan, maupun perundungan di media sosial. Karena itu, perilaku di ruang digital tetap harus berada dalam koridor akhlak Islam.

“Kalau dulu mulutmu harimau, sekarang jarimu harimau,” kata Talqis menggambarkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan dari aktivitas seseorang di media sosial.

Talqis juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat memilih sumber keagamaan secara selektif berdasarkan kepentingan dan keinginan pribadi. Kemudahan mengakses berbagai ustaz dan referensi melalui internet membuat seseorang dapat memilih pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya.

Menurutnya, pola semacam ini dapat menyebabkan pemahaman agama menjadi tidak utuh. Seseorang bisa saja memilih satu pendapat ketika menguntungkan dirinya, kemudian berpindah kepada pendapat lain ketika menemukan pilihan yang dianggap lebih mudah.

Masalahnya bukan sekadar banyaknya pilihan, melainkan ketika pilihan tersebut ditentukan semata-mata oleh keinginan pribadi tanpa pertimbangan keilmuan yang memadai. Talqis menilai generasi sekarang perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis agar tidak sekadar mencari referensi yang membenarkan keinginannya.

“Dia mencari referensi-referensi yang linier dengan keinginannya. Nah, ini kemudian menjadi berbahaya,” tegasnya.

Karena itu, belajar kepada guru tetap memiliki posisi penting meskipun teknologi telah menyediakan akses pengetahuan yang sangat luas. Media sosial dan teknologi dapat menjadi sarana belajar, tetapi hubungan dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan tidak semestinya ditinggalkan.

“Belajar dari sang guru itu tidak bisa ditinggalkan,” ujar Talqis. Ia menegaskan bahwa interaksi dengan media sosial maupun teknologi tetap perlu disertai proses belajar kepada guru.

Persoalan lain yang muncul di tengah masyarakat digital adalah berubahnya pola interaksi antarmanusia. Di ruang virtual, seseorang tidak selalu dapat mengetahui kondisi psikologis lawan bicaranya sebagaimana ketika berhadapan secara langsung. Bahkan, teknologi memungkinkan munculnya berbagai bentuk manipulasi terhadap realitas.

Talqis karena itu menekankan pentingnya kejujuran digital. Apa yang berlaku dalam kehidupan nyata pada prinsipnya juga berlaku di dunia maya. Jika suatu tindakan dianggap tidak patut dilakukan dalam kehidupan nyata, perubahan medium tidak otomatis menjadikannya boleh dilakukan di ruang digital.

Dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan, Talqis memperkenalkan istilah “khalwat digital”. Menurutnya, bentuk interaksi berdua-duaan yang dahulu terjadi secara fisik kini dapat berlangsung melalui ruang digital. Percakapan pribadi antara laki-laki dan perempuan yang mengarah pada dorongan nafsu tetap perlu dihindari karena dapat menjadi pintu munculnya fitnah dan perilaku menyimpang.

Untuk menjaga diri dari berbagai godaan tersebut, Talqis menawarkan konsep muraqabatullah, yakni kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini berbeda dari pengawasan eksternal seperti kamera pengawas. Muraqabatullah harus tumbuh dari dalam hati.

Menurut Talqis, kesadaran tersebut dapat dibangun dengan memperbanyak dan memperbaiki kualitas ibadah. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, ia akan lebih berhati-hati sebelum melakukan sesuatu di ruang digital.

Pada akhirnya, tantangan digital bukan persoalan satu generasi. Setiap generasi memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Generasi muda, misalnya, relatif unggul dalam kemampuan beradaptasi dengan teknologi karena tumbuh di tengah lingkungan digital. Namun, mereka belum tentu memiliki pengalaman yang cukup dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, generasi yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih panjang, tetapi tidak selalu secepat generasi muda dalam beradaptasi dengan teknologi. Karena itu, Talqis menilai hubungan antargenerasi seharusnya dibangun dalam semangat saling melengkapi, bukan saling memberi sekat.

“Harusnya tidak ada sekat. Maka ketika saling melengkapi ini, maka berinteraksi dengan digital menjadi lebih smooth, lebih baik,” tuturnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/dunia-digital-mengubah-cara-berinteraksi-nilai-islam-tetap-harus-menjadi-pedoman/