Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, Islam memberikan batas tegas ketika perbedaan berubah menjadi kebiasaan membantah, keras kepala, dan mempertajam permusuhan.
Peringatan tersebut disampaikan Aisyah radhiyallahu ‘anha melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Orang yang paling Allah benci adalah orang yang suka membantah dan sengit permusuhannya.” (HR. Bukhari No. 4161)
Pesan hadis ini menjadi penting di tengah budaya komunikasi yang semakin mudah memicu perdebatan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ruang digital.
Menang Debat Bukan Tujuan
Hadis tersebut tidak sekadar berbicara tentang aktivitas berargumentasi. Persoalan utamanya adalah ketika seseorang menjadikan perdebatan sebagai kebiasaan dan permusuhan sebagai cara berinteraksi.
Perdebatan yang kehilangan kendali dapat membuat seseorang lebih sibuk membuktikan dirinya benar daripada mencari kebenaran.
Dalam kondisi seperti ini, argumen mudah berubah menjadi serangan pribadi, penghinaan, bahkan permusuhan berkepanjangan.
Karena itu, ukuran keberhasilan dalam berdiskusi bukan selalu siapa yang mampu memenangkan perdebatan, melainkan apakah percakapan tersebut membawa seseorang semakin dekat kepada kebenaran dan tetap menjaga akhlak.
Relevan di Era Digital
Pesan hadis ini semakin strategis ketika diterapkan pada kehidupan digital. Media sosial memungkinkan perdebatan berlangsung cepat, terbuka, dan melibatkan banyak orang.
Satu perbedaan pandangan dapat berkembang menjadi saling serang hanya karena masing-masing pihak ingin mendapatkan pengakuan.
Ketika tujuan diskusi bergeser menjadi memenangkan lawan, substansi persoalan justru mudah hilang.
Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan, menahan emosi, dan menghindari permusuhan merupakan bagian dari akhlak. Maka, tidak semua perdebatan harus dilayani dan tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran.
Hadis Aisyah Radhiyallahu ‘anha tersebut pada akhirnya mengingatkan satu prinsip penting: mencari kebenaran harus lebih utama daripada memenangkan perdebatan.
Bagi masyarakat produktif yang setiap hari berhadapan dengan beragam informasi dan perbedaan pandangan, kemampuan berdiskusi dengan tenang sekaligus mengetahui kapan harus berhenti justru menjadi bentuk kedewasaan.




