Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

MUHAMMADIHAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Tubuh yang sehat merupakan amanah Allah yang harus dijaga. Karena itu, menjaga kesehatan memiliki kaitan dengan cara seorang Muslim mensyukuri nikmat sekaligus menjalankan kehidupan sesuai tuntunan agama.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Joko Murdiyanto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Ahad (23/08). Mengangkat tema tentang hidup sehat dan bahagia, ia mengajak jamaah melihat kesehatan secara menyeluruh, mencakup kesehatan jasmani, sosial, dan spiritual.

Menurut Joko, manusia sering kali baru menyadari besarnya nikmat kesehatan ketika sebagian fungsi tubuh mulai terganggu. Padahal, setiap organ yang bekerja dalam tubuh merupakan karunia sekaligus titipan dari Allah. Karena itu, mengabaikan kesehatan berarti tidak menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Ia mengajak jamaah untuk memulai kesadaran menjaga kesehatan dari kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari perilaku yang secara sadar merusak tubuh, termasuk kebiasaan merokok.

“Kenapa menzalimi diri, merusak kita?” ujarnya ketika mengingatkan jamaah agar meninggalkan kebiasaan yang membahayakan kesehatan.

Menjaga Pola Makan

Joko kemudian menjelaskan pentingnya mengatur pola konsumsi. Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi gula dan garam secara berlebihan yang dapat menimbulkan persoalan kesehatan. Menurutnya, perubahan pola makan dapat dimulai dari langkah sederhana, misalnya membiasakan minum teh atau kopi dengan sedikit gula atau tanpa gula.

Ia juga mengingatkan bahwa rasa terhadap makanan dan minuman dapat dibentuk melalui kebiasaan. Karena itu, perubahan menuju pola hidup sehat tidak harus dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai secara bertahap dan konsisten.

Dalam soal makanan, Joko mendorong jamaah untuk kembali memperbanyak konsumsi makanan alami. Ia mencontohkan pola makan generasi terdahulu yang dekat dengan sayuran, buah-buahan, dan makanan sederhana. Sebaliknya, ia menyayangkan kebiasaan anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang kurang sehat.

“Mestinya anak-anak itu kita latih untuk makan yang sehat, buah,” katanya.

Pola hidup sehat, menurut Joko, juga berkaitan dengan keseimbangan. Ia menggunakan istilah tawazun untuk menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Manusia memiliki waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. Tubuh pun bekerja mengikuti ritme tertentu yang tidak semestinya diabaikan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak membalik pola hidup secara terus-menerus dengan menjadikan malam sebagai waktu utama untuk beraktivitas dan siang sebagai waktu utama untuk tidur. Baginya, kehidupan yang sehat memerlukan keteraturan antara aktivitas, makan, dan istirahat.

Pentingnya Aktivitas Fisik, Bermasyarakat dan Beribadah

Salah satu kebiasaan yang mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui aktivitas fisik. Joko meminta jamaah, terutama mereka yang telah berusia lanjut, untuk tidak terlalu memanjakan tubuh dan kaki.

Berjalan kaki, menggunakan tangga, serta melakukan aktivitas fisik ringan dan teratur, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran. Ia mengingatkan bahwa massa otot dapat berkurang ketika tubuh jarang digunakan untuk bergerak.

“Jangan manjakan kaki kita yang Allah amanahkan untuk menjadi sehat,” pesannya.

Ia bahkan mengajak jamaah melihat perjalanan menuju masjid sebagai kesempatan untuk memperoleh manfaat sekaligus. Bagi mereka yang tinggal dalam jarak terjangkau, berjalan kaki ke masjid dapat menjadi aktivitas fisik, sarana berzikir, dan bagian dari ibadah.

Dalam pandangannya, ajaran Islam sesungguhnya menyediakan banyak jalan menuju kehidupan yang baik. Karena itu, seorang Muslim memiliki banyak kesempatan untuk merawat kesehatan sambil menjalankan ibadah.

“Orang Islam itu kalau tidak sehat, orang Islam itu kalau tidak baik kok saya rugi. Karena jalan untuk sehat, jalan untuk baik itu banyak,” tuturnya.

Kesehatan, menurut Joko, tidak berhenti pada persoalan jasmani. Seseorang yang tekanan darah, gula darah, dan kolesterolnya baik belum tentu dapat disebut sehat sepenuhnya apabila ia menarik diri dari kehidupan sosial.

Ia mendorong jamaah untuk tetap aktif dalam masyarakat, menghadiri majelis, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan lingkungan, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Kehadiran dalam kehidupan sosial, katanya, dapat menjadi bagian dari kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Di tengah pembahasan mengenai kesehatan fisik dan sosial, Joko menempatkan dimensi spiritual sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat Allah melalui zikir dan doa, menjaga salat, membaca Al-Qur’an, serta berpuasa, menurutnya, merupakan bagian dari jalan seorang Muslim untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak seharusnya dipandang sebagai beban. Sebaliknya, aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk terus mengingat Allah. Ketika berjalan, berkendara, atau melakukan pekerjaan, seorang Muslim masih dapat menghidupkan zikir dalam dirinya.

Joko juga mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan spiritual dari waktu ke waktu. Seorang Muslim, menurutnya, perlu bertanya apakah kualitas salatnya semakin baik, apakah kedekatannya dengan Al-Qur’an semakin meningkat, dan apakah ibadah-ibadahnya menunjukkan kemajuan.

Ia menyebut perjalanan spiritual sebagai sebuah proses menuju peningkatan. Tujuannya bukan mencapai kesempurnaan dalam sekejap, melainkan memastikan bahwa kehidupan seorang Muslim terus bergerak ke arah yang lebih baik.

“Setiap tahun kita harus evaluasi diri, rapotan diri kita sendiri,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Joko menaruh perhatian besar pada salat. Baginya, memperbaiki salat merupakan pintu awal untuk memperbaiki kehidupan secara lebih luas.

“Kalau kita ingin memperbaiki hidup dan kehidupan kita, perbaiki salat kita. Titik,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa ketika salat diperbaiki, seorang Muslim akan lebih mudah memperbaiki ibadah lainnya, mulai dari puasa, salat sunah, hingga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Selain menjaga hubungan dengan Allah, Joko mengingatkan pentingnya membangun kebahagiaan melalui kepedulian kepada sesama. Ia menceritakan sebuah penelitian yang, menurut penuturannya, menunjukkan bahwa berbagi kepada orang lain dapat menimbulkan rasa bahagia.

Pesan yang ingin ditekankannya sederhana, kebahagiaan tidak selalu ditemukan dengan terus-menerus memusatkan perhatian pada diri sendiri. Ada kebahagiaan yang justru tumbuh ketika seseorang mampu membuat orang lain merasa terbantu dan bahagia.

“Kalau kita ingin bahagia, bahagiakan orang lain walaupun itu sekadar senyuman,” katanya.

Di akhir kajian, Joko merangkum seluruh pesannya dalam satu ajakan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, ajaran Islam memberikan panduan yang luas, mulai dari cara menjaga tubuh, mengatur makan, bergerak, beristirahat, beribadah, bersosialisasi, hingga berbagi kepada sesama.

“Kalau kita ingin sehat, kita ingin bahagia, ikuti perintah-perintah Rasul. Titik,” ujarnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/menjadi-lansia-sehat-dan-bahagia-dalam-tuntunan-islam/