Ketika Rasulullah Mencintai Umatnya, Sudahkah Kita Mencintai Beliau?

Ketika Rasulullah Mencintai Umatnya, Sudahkah Kita Mencintai Beliau?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Momentum bulan Rabiulawal hendaknya tidak berhenti pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Lebih dari itu, umat Islam perlu menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani kehidupan Rasulullah saw.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dalam kajian di Masjid KH Sudja pada Senin (24/08). Dalam kesempatan itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model atau uswatun hasanah dalam seluruh aspek kehidupan.

Asep menjelaskan, bulan Rabiulawal memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam karena pada bulan inilah lahir manusia pilihan yang diutus Allah sebagai penutup para nabi dan rasul. Kelahiran Nabi Muhammad Saw, menurutnya, semestinya mengingatkan umat kepada konsekuensi dari syahadat yang setiap hari diucapkan.

“Konsekuensi dari syahadat kita yang kedua ini adalah kita menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model, uswatun hasanah,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 21, Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah, yang menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik.

Keteladanan Nabi, kata Asep, relevan bagi siapa pun dan dalam peran apa pun. Seorang pemimpin yang ingin menjalankan amanah dengan baik perlu melihat bagaimana Rasulullah memimpin. Seorang ayah dan suami dapat belajar dari kehidupan rumah tangga Nabi. Demikian pula setiap Muslim yang ingin menjadi hamba Allah yang saleh perlu menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai rujukan.

“Kalau kita ingin menjadi manusia, hamba Allah yang baik, hamba Allah yang saleh, hendaklah kita mencontoh bagaimana kehidupan Nabi Muhammad Saw,” tuturnya.

Menurut Asep, keteladanan harus diawali dengan pengenalan. Seseorang sulit mencintai tokoh yang tidak dikenalnya. Karena itu, umat Islam perlu mempelajari kepribadian, akhlak, ibadah, keluarga, muamalah, serta perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.

Ia mengingatkan bahwa generasi saat ini sering kali sangat mengenal figur-figur populer. Anak-anak dan remaja dapat menghafal nama pemain sepak bola, selebritas, atau bintang hiburan, tetapi belum tentu mengenal kehidupan Rasulullah dengan baik. Karena itu, keluarga memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan Nabi kepada generasi berikutnya.

“Tak kenal maka tak sayang. Kita perlu mengenal bagaimana kepribadian beliau, kehidupan sehari-hari beliau, akhlak beliau, keluarga beliau,” katanya.

Asep kemudian menyinggung kajian sirah Nabawiyah sebagai salah satu jalan untuk semakin mengenal Rasulullah. Setelah mengenal kehidupan Nabi, umat dituntut untuk menerjemahkan kecintaan tersebut ke dalam usaha nyata meneladani akhlak dan sunahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Betapa Besarnya Cinta Rasulullah kepada Umatnya

Dalam kajiannya, Asep juga menggambarkan besarnya cinta Rasulullah kepada umatnya. Ia menyampaikan sebuah riwayat tentang kerinduan Nabi kepada orang-orang yang belum pernah bertemu dengannya, tetapi tetap beriman dan berusaha mengikuti ajarannya.

Dalam riwayat yang disampaikannya, ketika para sahabat bertanya mengenai orang-orang yang dirindukan Rasulullah, Nabi menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang datang setelah masa beliau, tidak pernah bertemu secara langsung, tetapi tetap beriman dan berusaha menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Asep mengajak jamaah untuk merenungkan apakah generasi Muslim yang hidup berabad-abad setelah Rasulullah benar-benar telah menunjukkan kecintaan kepada Nabi melalui iman dan pengamalan sunahnya.

“Kita ini, insyaallah, termasuk umat yang belum pernah bertemu dengan Kanjeng Nabi, tetapi mengimani beliau,” ujarnya.

Besarnya cinta Rasulullah kepada umat juga, menurut Asep, tampak dari doa-doa beliau. Ia menceritakan sebuah riwayat tentang Aisyah ra. yang meminta Rasulullah berdoa untuknya. Setelah Nabi memanjatkan doa yang begitu luas bagi Aisyah, beliau menjelaskan bahwa doa serupa juga dipanjatkan untuk umatnya.

Bagi Asep, kisah tersebut menggambarkan perhatian Rasulullah yang besar kepada keselamatan umat. Bahkan dalam riwayat yang disampaikannya, ketika menghadapi sakaratul maut, Nabi masih mengingat umatnya.

“Yang diingat adalah umatku, umatku, umatku,” katanya.

Gambaran tersebut, menurutnya, seharusnya menimbulkan pertanyaan di dalam diri setiap Muslim mengenai bagaimana cinta itu dibalas. Jika Rasulullah begitu besar perhatiannya kepada umat, maka kecintaan umat kepada beliau harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan kesediaan mengikuti jalan yang telah diajarkan.

Syafaat Rasulullah

Asep juga menyinggung hadis tentang syafaat Nabi Muhammad Saw di hari kiamat. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah menyimpan salah satu doa mustajabnya untuk umatnya pada hari akhir. Doa itu berkaitan dengan syafaat yang diharapkan dapat menjadi pertolongan bagi umat di padang mahsyar.

Ia menggambarkan hari akhir sebagai saat ketika setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia. Dalam keadaan demikian, manusia membutuhkan pertolongan. Dalam riwayat yang ia sampaikan, manusia akan mendatangi para nabi untuk memohon syafaat hingga akhirnya Rasulullah Muhammad Saw mendapat kedudukan untuk memberikan syafaat tersebut.

Karena itu, Asep mengajak jamaah untuk tidak sekadar berharap memperoleh syafaat, melainkan juga berusaha menjalani kehidupan sesuai tuntunan Nabi.

Hal tersebut, menurut Asep, sejalan dengan sabda Rasulullah bahwa seluruh umatnya akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Keengganan itu, jelasnya, bukan berarti seseorang secara lisan mengatakan tidak ingin masuk surga, melainkan tampak dalam sikap menolak ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Orang yang mengetahui perintah dan larangan agama, tetapi dengan sengaja mengabaikannya dan memperturutkan hawa nafsu, menurutnya, telah memilih jalan yang menjauh dari keselamatan.

Ia menegaskan bahwa manusia telah diberi akal, hati, dan kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan dorongan menuju kebaikan dan godaan untuk melakukan keburukan. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan pilihan yang akan diambil.

“Hidup kita adalah pilihan kita,” katanya.

Asep mengilustrasikan kehidupan manusia sebagai perjalanan antara birth dan death. Di antara kelahiran dan kematian terdapat choice, yakni pilihan. Manusia dapat memilih jalan yang mengarah kepada ketaatan atau memperturutkan hawa nafsu yang menjerumuskannya kepada kemaksiatan.

Namun, ia mengingatkan bahwa memilih jalan ketaatan tidak selalu mudah. Dalam diri manusia terdapat hawa nafsu yang sering membuat maksiat terasa lebih menyenangkan daripada ibadah. Karena itu, perjuangan seorang Muslim adalah berusaha menemukan kenikmatan dalam ketaatan.

Asep menyebut salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tetap menjalankan ibadah, tetapi kehilangan rasa nikmat dalam beribadah. Salat dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, Al-Qur’an dibaca tanpa menghadirkan kesungguhan hati, dan doa dipanjatkan tanpa kekhusyukan.

“Maka bagaimana kemudian kita bisa menikmati ketaatan kita? Salat khusyuk, baca Al-Qur’an khusyuk, berdoa sungguh-sungguh,” ujarnya.

Baginya, membangun kenikmatan dalam ketaatan merupakan bagian dari usaha untuk membalas cinta Rasulullah kepada umatnya.

Asep kemudian mengutip hadis tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya hari kiamat. Alih-alih langsung menjawab waktunya, Rasulullah bertanya apa yang telah dipersiapkan orang tersebut untuk menghadapinya.

Orang itu mengakui bahwa amalnya biasa-biasa saja, tetapi ia menyatakan memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian bersabda, Anta ma‘a man aḥbabta, engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.

Menurut Asep, hadis tersebut menunjukkan kedudukan penting cinta kepada Rasulullah. Akan tetapi, cinta tersebut tidak cukup berhenti pada pengakuan. Cinta perlu dibuktikan dengan upaya mengenal Nabi, memahami ajarannya, dan menjadikannya sebagai teladan.

“Kalau kita cinta kepada Rasulullah, insyaallah di akhirat kelak kita pun akan bersama Rasulullah saw,” katanya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/ketika-rasulullah-mencintai-umatnya-sudahkah-kita-mencintai-beliau/

Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia kini semakin sulit dipisahkan dari dunia digital. Media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai platform komunikasi telah menjadi bagian dari keseharian lintas generasi. Kondisi tersebut menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan baru.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto mengatakan, Islam memiliki prinsip-prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi perkembangan dunia digital. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa tidak seluruh informasi digital bersifat buruk, tetapi juga tidak semuanya dapat diterima begitu saja.

“Tidak semuanya isinya digital itu buruk, tapi juga ada yang baik. Tapi tidak semuanya baik. Maka kita menjadi filternya,” kata Talqis dalam podcast Indahnya Cahaya Islam, Senin (24/8).

Karena itu, pengguna media digital perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang menggunakan media sosial sebagai sumber pengetahuan dan berita. Talqis menekankan bahwa seseorang perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai persoalan yang sedang dicari agar mampu membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan.

Menurutnya, keterbatasan pengetahuan justru dapat membuat seseorang mudah digiring oleh arus informasi di media sosial. Alih-alih memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, seseorang dapat terbawa pada informasi yang menjauhkan dirinya dari persoalan sebenarnya.

Dalam konteks penggunaan AI, Talqis juga mengingatkan pentingnya tetap menghargai otoritas keilmuan. Perkembangan AI, menurutnya, tetap lahir dari pengetahuan dan kerja para pakar. Karena itu, keberadaan teknologi tidak semestinya membuat manusia meninggalkan sumber-sumber pengetahuan yang memiliki otoritas.

“Bagi kita yang kemudian ingin mendalami lebih orisinal kepada sumber utamanya, kita kembali ke pakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam menghadapi informasi digital adalah melakukan klarifikasi atau tabayyun. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa kembali sebelum dipercaya dan disebarkan. Prinsip tersebut, menurutnya, telah ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 6.

Tabayyun diperlukan karena informasi yang beredar di ruang digital tidak selalu benar. Bahkan, teknologi AI sendiri dapat menghasilkan informasi yang perlu dikonfirmasi kembali. Karena itu, pengguna teknologi tetap memiliki tanggung jawab untuk memeriksa sumber dan kualitas data yang diperoleh.

Setelah melakukan klarifikasi, prinsip berikutnya adalah menjaga kesantunan. Talqis mengingatkan bahwa etika komunikasi dalam Islam tidak berubah hanya karena medium komunikasinya berubah. Larangan mencela, merendahkan, atau menyakiti orang lain berlaku di dunia nyata maupun dunia maya.

Kekerasan verbal, misalnya, dapat muncul dalam bentuk komentar, unggahan, maupun perundungan di media sosial. Karena itu, perilaku di ruang digital tetap harus berada dalam koridor akhlak Islam.

“Kalau dulu mulutmu harimau, sekarang jarimu harimau,” kata Talqis menggambarkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan dari aktivitas seseorang di media sosial.

Talqis juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat memilih sumber keagamaan secara selektif berdasarkan kepentingan dan keinginan pribadi. Kemudahan mengakses berbagai ustaz dan referensi melalui internet membuat seseorang dapat memilih pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya.

Menurutnya, pola semacam ini dapat menyebabkan pemahaman agama menjadi tidak utuh. Seseorang bisa saja memilih satu pendapat ketika menguntungkan dirinya, kemudian berpindah kepada pendapat lain ketika menemukan pilihan yang dianggap lebih mudah.

Masalahnya bukan sekadar banyaknya pilihan, melainkan ketika pilihan tersebut ditentukan semata-mata oleh keinginan pribadi tanpa pertimbangan keilmuan yang memadai. Talqis menilai generasi sekarang perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis agar tidak sekadar mencari referensi yang membenarkan keinginannya.

“Dia mencari referensi-referensi yang linier dengan keinginannya. Nah, ini kemudian menjadi berbahaya,” tegasnya.

Karena itu, belajar kepada guru tetap memiliki posisi penting meskipun teknologi telah menyediakan akses pengetahuan yang sangat luas. Media sosial dan teknologi dapat menjadi sarana belajar, tetapi hubungan dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan tidak semestinya ditinggalkan.

“Belajar dari sang guru itu tidak bisa ditinggalkan,” ujar Talqis. Ia menegaskan bahwa interaksi dengan media sosial maupun teknologi tetap perlu disertai proses belajar kepada guru.

Persoalan lain yang muncul di tengah masyarakat digital adalah berubahnya pola interaksi antarmanusia. Di ruang virtual, seseorang tidak selalu dapat mengetahui kondisi psikologis lawan bicaranya sebagaimana ketika berhadapan secara langsung. Bahkan, teknologi memungkinkan munculnya berbagai bentuk manipulasi terhadap realitas.

Talqis karena itu menekankan pentingnya kejujuran digital. Apa yang berlaku dalam kehidupan nyata pada prinsipnya juga berlaku di dunia maya. Jika suatu tindakan dianggap tidak patut dilakukan dalam kehidupan nyata, perubahan medium tidak otomatis menjadikannya boleh dilakukan di ruang digital.

Dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan, Talqis memperkenalkan istilah “khalwat digital”. Menurutnya, bentuk interaksi berdua-duaan yang dahulu terjadi secara fisik kini dapat berlangsung melalui ruang digital. Percakapan pribadi antara laki-laki dan perempuan yang mengarah pada dorongan nafsu tetap perlu dihindari karena dapat menjadi pintu munculnya fitnah dan perilaku menyimpang.

Untuk menjaga diri dari berbagai godaan tersebut, Talqis menawarkan konsep muraqabatullah, yakni kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini berbeda dari pengawasan eksternal seperti kamera pengawas. Muraqabatullah harus tumbuh dari dalam hati.

Menurut Talqis, kesadaran tersebut dapat dibangun dengan memperbanyak dan memperbaiki kualitas ibadah. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, ia akan lebih berhati-hati sebelum melakukan sesuatu di ruang digital.

Pada akhirnya, tantangan digital bukan persoalan satu generasi. Setiap generasi memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Generasi muda, misalnya, relatif unggul dalam kemampuan beradaptasi dengan teknologi karena tumbuh di tengah lingkungan digital. Namun, mereka belum tentu memiliki pengalaman yang cukup dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, generasi yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih panjang, tetapi tidak selalu secepat generasi muda dalam beradaptasi dengan teknologi. Karena itu, Talqis menilai hubungan antargenerasi seharusnya dibangun dalam semangat saling melengkapi, bukan saling memberi sekat.

“Harusnya tidak ada sekat. Maka ketika saling melengkapi ini, maka berinteraksi dengan digital menjadi lebih smooth, lebih baik,” tuturnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/dunia-digital-mengubah-cara-berinteraksi-nilai-islam-tetap-harus-menjadi-pedoman/

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

MUHAMMADIHAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Tubuh yang sehat merupakan amanah Allah yang harus dijaga. Karena itu, menjaga kesehatan memiliki kaitan dengan cara seorang Muslim mensyukuri nikmat sekaligus menjalankan kehidupan sesuai tuntunan agama.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Joko Murdiyanto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Ahad (23/08). Mengangkat tema tentang hidup sehat dan bahagia, ia mengajak jamaah melihat kesehatan secara menyeluruh, mencakup kesehatan jasmani, sosial, dan spiritual.

Menurut Joko, manusia sering kali baru menyadari besarnya nikmat kesehatan ketika sebagian fungsi tubuh mulai terganggu. Padahal, setiap organ yang bekerja dalam tubuh merupakan karunia sekaligus titipan dari Allah. Karena itu, mengabaikan kesehatan berarti tidak menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Ia mengajak jamaah untuk memulai kesadaran menjaga kesehatan dari kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari perilaku yang secara sadar merusak tubuh, termasuk kebiasaan merokok.

“Kenapa menzalimi diri, merusak kita?” ujarnya ketika mengingatkan jamaah agar meninggalkan kebiasaan yang membahayakan kesehatan.

Menjaga Pola Makan

Joko kemudian menjelaskan pentingnya mengatur pola konsumsi. Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi gula dan garam secara berlebihan yang dapat menimbulkan persoalan kesehatan. Menurutnya, perubahan pola makan dapat dimulai dari langkah sederhana, misalnya membiasakan minum teh atau kopi dengan sedikit gula atau tanpa gula.

Ia juga mengingatkan bahwa rasa terhadap makanan dan minuman dapat dibentuk melalui kebiasaan. Karena itu, perubahan menuju pola hidup sehat tidak harus dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai secara bertahap dan konsisten.

Dalam soal makanan, Joko mendorong jamaah untuk kembali memperbanyak konsumsi makanan alami. Ia mencontohkan pola makan generasi terdahulu yang dekat dengan sayuran, buah-buahan, dan makanan sederhana. Sebaliknya, ia menyayangkan kebiasaan anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang kurang sehat.

“Mestinya anak-anak itu kita latih untuk makan yang sehat, buah,” katanya.

Pola hidup sehat, menurut Joko, juga berkaitan dengan keseimbangan. Ia menggunakan istilah tawazun untuk menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Manusia memiliki waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. Tubuh pun bekerja mengikuti ritme tertentu yang tidak semestinya diabaikan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak membalik pola hidup secara terus-menerus dengan menjadikan malam sebagai waktu utama untuk beraktivitas dan siang sebagai waktu utama untuk tidur. Baginya, kehidupan yang sehat memerlukan keteraturan antara aktivitas, makan, dan istirahat.

Pentingnya Aktivitas Fisik, Bermasyarakat dan Beribadah

Salah satu kebiasaan yang mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui aktivitas fisik. Joko meminta jamaah, terutama mereka yang telah berusia lanjut, untuk tidak terlalu memanjakan tubuh dan kaki.

Berjalan kaki, menggunakan tangga, serta melakukan aktivitas fisik ringan dan teratur, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran. Ia mengingatkan bahwa massa otot dapat berkurang ketika tubuh jarang digunakan untuk bergerak.

“Jangan manjakan kaki kita yang Allah amanahkan untuk menjadi sehat,” pesannya.

Ia bahkan mengajak jamaah melihat perjalanan menuju masjid sebagai kesempatan untuk memperoleh manfaat sekaligus. Bagi mereka yang tinggal dalam jarak terjangkau, berjalan kaki ke masjid dapat menjadi aktivitas fisik, sarana berzikir, dan bagian dari ibadah.

Dalam pandangannya, ajaran Islam sesungguhnya menyediakan banyak jalan menuju kehidupan yang baik. Karena itu, seorang Muslim memiliki banyak kesempatan untuk merawat kesehatan sambil menjalankan ibadah.

“Orang Islam itu kalau tidak sehat, orang Islam itu kalau tidak baik kok saya rugi. Karena jalan untuk sehat, jalan untuk baik itu banyak,” tuturnya.

Kesehatan, menurut Joko, tidak berhenti pada persoalan jasmani. Seseorang yang tekanan darah, gula darah, dan kolesterolnya baik belum tentu dapat disebut sehat sepenuhnya apabila ia menarik diri dari kehidupan sosial.

Ia mendorong jamaah untuk tetap aktif dalam masyarakat, menghadiri majelis, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan lingkungan, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Kehadiran dalam kehidupan sosial, katanya, dapat menjadi bagian dari kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Di tengah pembahasan mengenai kesehatan fisik dan sosial, Joko menempatkan dimensi spiritual sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat Allah melalui zikir dan doa, menjaga salat, membaca Al-Qur’an, serta berpuasa, menurutnya, merupakan bagian dari jalan seorang Muslim untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak seharusnya dipandang sebagai beban. Sebaliknya, aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk terus mengingat Allah. Ketika berjalan, berkendara, atau melakukan pekerjaan, seorang Muslim masih dapat menghidupkan zikir dalam dirinya.

Joko juga mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan spiritual dari waktu ke waktu. Seorang Muslim, menurutnya, perlu bertanya apakah kualitas salatnya semakin baik, apakah kedekatannya dengan Al-Qur’an semakin meningkat, dan apakah ibadah-ibadahnya menunjukkan kemajuan.

Ia menyebut perjalanan spiritual sebagai sebuah proses menuju peningkatan. Tujuannya bukan mencapai kesempurnaan dalam sekejap, melainkan memastikan bahwa kehidupan seorang Muslim terus bergerak ke arah yang lebih baik.

“Setiap tahun kita harus evaluasi diri, rapotan diri kita sendiri,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Joko menaruh perhatian besar pada salat. Baginya, memperbaiki salat merupakan pintu awal untuk memperbaiki kehidupan secara lebih luas.

“Kalau kita ingin memperbaiki hidup dan kehidupan kita, perbaiki salat kita. Titik,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa ketika salat diperbaiki, seorang Muslim akan lebih mudah memperbaiki ibadah lainnya, mulai dari puasa, salat sunah, hingga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Selain menjaga hubungan dengan Allah, Joko mengingatkan pentingnya membangun kebahagiaan melalui kepedulian kepada sesama. Ia menceritakan sebuah penelitian yang, menurut penuturannya, menunjukkan bahwa berbagi kepada orang lain dapat menimbulkan rasa bahagia.

Pesan yang ingin ditekankannya sederhana, kebahagiaan tidak selalu ditemukan dengan terus-menerus memusatkan perhatian pada diri sendiri. Ada kebahagiaan yang justru tumbuh ketika seseorang mampu membuat orang lain merasa terbantu dan bahagia.

“Kalau kita ingin bahagia, bahagiakan orang lain walaupun itu sekadar senyuman,” katanya.

Di akhir kajian, Joko merangkum seluruh pesannya dalam satu ajakan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, ajaran Islam memberikan panduan yang luas, mulai dari cara menjaga tubuh, mengatur makan, bergerak, beristirahat, beribadah, bersosialisasi, hingga berbagi kepada sesama.

“Kalau kita ingin sehat, kita ingin bahagia, ikuti perintah-perintah Rasul. Titik,” ujarnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/menjadi-lansia-sehat-dan-bahagia-dalam-tuntunan-islam/

Soal Muhasabah, Kita Sering Menunggu Musibah

Soal Muhasabah, Kita Sering Menunggu Musibah

Manusia sebenarnya tahu banyak tentang hidup. Tahu bahwa usia terbatas, kesehatan bisa berganti sakit, orang-orang yang hari ini bersama kita suatu waktu dapat pergi, dan apa yang dimiliki sekarang belum tentu masih berada dalam genggaman esok hari. Masalahnya, mengetahui tidak selalu berarti menyadari.

Selama semuanya berjalan normal, nasihat tentang kefanaan mudah terdengar seperti kalimat yang sudah terlalu sering diulang. Kita tetap sibuk mengejar yang belum dimiliki, memikirkan banyak hal yang belum tentu terjadi, lalu merasa masih punya cukup waktu untuk memperbaiki diri. Lebih rajin bisa nanti, meminta maaf bisa nanti, lebih peduli bisa nanti, bahkan bertobat pun sering diletakkan pada suatu waktu yang kita sebut nanti.

Musibah kemudian mempunyai cara tersendiri untuk mengusik keyakinan itu. Sesuatu yang sebelumnya terasa begitu penting mendadak kehilangan nilainya. Kita lebih mudah mengingat Allah, lebih dekat dengan doa, memikirkan kembali kematian, dan mulai melihat hidup dari ukuran yang berbeda. Namun ketika keadaan kembali tenang, kesadaran itu tidak jarang ikut mereda.

Musibah sebagai I‘tibar

Lebih dari dua dekade lalu, Suara Muhammadiyah memuat khutbah Jumat Abdul Malik Fadjar berjudul “Bersegera Bertaubat Sebelum Bencana Lebih Dahsyat”. Abdul Malik Fadjar dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan pendidikan nasional yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional.

Khutbah tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai musibah yang terjadi ketika itu. Namun Abdul Malik Fadjar tidak berhenti pada rasa takut terhadap bencana. Dengan mengutip QS. Al-Hasyr ayat 2, ia mengajak jamaah mengambil i‘tibar, menjadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran untuk melihat kembali kehidupan.

Ajakan bermuhasabah itu kemudian dibawa lebih jauh. Dengan QS. Ar-Rum ayat 41, Abdul Malik Fadjar menyinggung kerusakan yang lahir dari perbuatan manusia dan menghubungkannya dengan persoalan sosial seperti kejahatan, korupsi, pembunuhan, perampokan, rusaknya ukhuwah, hingga hukum yang semakin diremehkan.

Pembacaan seperti ini tentu perlu ditempatkan secara hati-hati. Kita tidak dapat menarik garis lurus bahwa setiap bencana merupakan hukuman atas dosa masyarakat tertentu. Fikih Kebencanaan Muhammadiyah membedakan peristiwa yang lahir dari dinamika alam dengan bencana yang berkaitan dengan perilaku manusia. Gempa bumi, misalnya, terjadi melalui mekanisme alam, sementara kerentanan dapat diperbesar ketika manusia salah memperhitungkan risiko atau mengeksploitasi lingkungan.

Karena itu, musibah tidak semestinya menjadi kesempatan untuk mengadili mereka yang sedang menderita. Dalam Fikih Kebencanaan, musibah dapat dipahami sebagai ujian dan ketetapan Allah yang tetap berada dalam cakupan kasih sayang-Nya. Orang yang tertimpa musibah tidak otomatis lebih buruk daripada mereka yang sedang berada dalam keadaan aman.

Justru di sinilah muhasabah menemukan arahnya. Pertanyaan tentang bencana tidak selalu harus diarahkan kepada orang lain. Ada saatnya ia dikembalikan kepada diri sendiri. Apakah penderitaan orang lain membuat kita semakin mudah menilai atau justru semakin tergerak untuk menolong.

Muhasabah Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Khutbah Abdul Malik Fadjar menarik karena ajakan untuk “kembali” tidak berhenti pada urusan pribadi. Ia mengajak manusia kembali kepada jalan Rasulullah, mengubah kefasikan dan kebakhilan menjadi ketaatan serta kedermawanan, tidak mengikuti pemimpin dan pembesar dengan taklid buta, serta keluar dari keengganan mendengar dan memahami Al-Qur’an.

Di sini muhasabah mempunyai dimensi sosial. Kita mungkin cukup terbiasa memeriksa dosa pribadi, tetapi belum tentu memiliki kegelisahan yang sama ketika kelalaian tumbuh menjadi kebiasaan bersama, keserakahan memperoleh pembenaran, atau keputusan yang keliru terus diwariskan tanpa koreksi.

Fikih Kebencanaan menyebut salah satu persoalan tersebut sebagai “dosa sosiologis”, ketika manusia salah memperhitungkan alam dan harus berhadapan dengan akibat dari pilihannya. Alam memiliki hukum dan batasnya sendiri. Manusia tidak mampu menghilangkan seluruh risiko, tetapi dapat memperkecil ataupun memperbesar dampaknya melalui cara membangun, mengelola lingkungan, dan mengambil keputusan.

Dalam konteks itu, QS. Ar-Rum ayat 41 menjadi relevan.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”

Takdir Tidak Menghapus Ikhtiar

Kata “kembali” di penghujung ayat itu menjadi penting. Muhasabah tidak selesai pada rasa takut dan penyesalan. Kalau ada yang salah, sesuatu harus diperbaiki. Jika kerusakan lahir dari keserakahan, cara memperlakukan alam perlu berubah. Jika keselamatan dikalahkan kepentingan, prioritas harus ditata ulang. Jika ilmu telah menunjukkan adanya risiko, tawakal tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikannya.

Keimanan kepada takdir tidak menghapus ikhtiar. Manusia memang tidak mampu mencegah seluruh peristiwa alam, tetapi diberi akal dan ilmu untuk mengenali risiko, mempersiapkan diri, serta mengurangi dampaknya.

Doa, ilmu, dan ikhtiar karena itu tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Kita memohon perlindungan kepada Allah sambil mempersiapkan keselamatan, bertawakal sambil membaca risiko, serta mengakui keterbatasan manusia tanpa menjadikannya alasan untuk lalai.

Mereka Diuji, Kita Pun Diuji

Muhasabah juga tidak hanya berlaku kepada mereka yang tertimpa musibah. Ketika seseorang diuji dengan kehilangan, orang yang masih memiliki banyak hal diuji dengan kepedulian. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, mereka yang hidup dalam kenyamanan diuji dengan kepekaannya.

Di sinilah semangat Al-Ma’un menjadi nyata. Iman tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan hikmah sebuah musibah, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir. Ada kalanya makanan, tempat berlindung, bantuan tenaga, atau pendampingan jauh lebih dibutuhkan daripada penjelasan panjang tentang mengapa penderitaan terjadi.

Pada bagian akhir khutbahnya, Abdul Malik Fadjar mengingatkan jamaah agar tidak enggan mendengar dan memahami peringatan Al-Qur’an. Pesannya terasa dekat hingga hari ini. Persoalan manusia sering kali bukan karena tidak pernah mendengar nasihat, melainkan karena terlalu terbiasa mendengarnya tanpa merasa harus berubah.

Jangan Menunggu Kehilangan

Kita tahu alam harus dijaga, hubungan perlu dirawat, kesehatan berharga, dan hidup mempunyai batas. Namun semua itu sering baru terasa mendesak ketika sesuatu mulai hilang.

Padahal muhasabah tidak harus menunggu kehidupan mengguncang kita. Hari yang tenang justru memberi ruang terbaik untuk berbenah, ketika keluarga masih lengkap, tubuh masih sehat, kesempatan masih tersedia, dan tidak ada kehilangan yang memaksa.

Kita tidak pernah benar-benar kekurangan nasihat. Yang sering kurang adalah kesediaan untuk menjalankannya sebelum terlambat.

Sebab tidak semua pelajaran harus datang bersama kehilangan.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/soal-muhasabah-kita-sering-menunggu-musibah/

Tak harus istirahat total, ini cara atur pemulihan usai olahraga

Tak harus istirahat total, ini cara atur pemulihan usai olahraga

Jakarta (ANTARA) – Tubuh tidak harus pulih sepenuhnya sebelum seseorang kembali berolahraga. Rasa lelah ringan setelah latihan sebelumnya merupakan hal yang normal selama intensitas dan beban latihan tetap disesuaikan.

Melansir Lifehacker pada Selasa (18/8), ​​​​​​Senior Health Editor laman tersebut, Beth Skwarecki yang juga seorang personal trainer bersertifikasi, menjelaskan bahwa kebutuhan pemulihan bergantung pada seberapa sering dan seberapa berat seseorang berolahraga. Karena itu, mengambil hari istirahat setiap kali tubuh terasa sedikit lelah bukan satu-satunya cara untuk mengatur pemulihan.

Bagi pemula, jeda satu hari di antara sesi latihan dapat membantu mengatur beban latihan. Strategi tersebut membuat tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi sekaligus mencegah terlalu banyak hari latihan berat dalam satu pekan.

Namun menurutnya, setelah rutin berolahraga selama beberapa bulan, tubuh biasanya mampu melakukan aktivitas dengan intensitas ringan pada hari yang sebelumnya dianggap sebagai hari istirahat. Pelari berpengalaman, misalnya, dapat melakukan lari ringan secara rutin. Dalam latihan angkat beban, seseorang juga dapat mengatur jadwal dengan melatih bagian tubuh yang berbeda pada hari lain.

Kunci utamanya adalah mengatur total beban latihan. Latihan dengan intensitas tinggi dapat diselingi sesi yang lebih ringan, seperti latihan teknik, kardio ringan, atau latihan tambahan dengan beban yang lebih rendah.

Pada latihan untuk olahraga ketahanan, prinsip serupa dapat diterapkan dengan mengatur variasi jarak dan intensitas. Latihan berat seperti lari cepat atau lari jarak jauh dapat ditempatkan pada hari tertentu, sementara hari lainnya diisi dengan latihan ringan.

Sedikit penurunan kemampuan dari satu sesi ke sesi berikutnya juga tidak selalu menunjukkan seseorang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Skwarecki mencontohkan, seseorang yang mampu melakukan 10 push-up pada Senin dan hanya tujuh repetisi pada Rabu masih berada dalam kondisi yang wajar.

Namun, kelelahan yang terus-menerus dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak waktu pemulihan. Peningkatan beban latihan secara drastis dalam waktu singkat juga dapat membuat seseorang berlatih terlalu keras.

Pemulihan penuh tetap memiliki manfaat ketika seseorang membutuhkan performa terbaik, misalnya sebelum perlombaan atau kompetisi angkat beban. Atlet biasanya mengurangi volume latihan menjelang kompetisi agar tubuh dapat mengurangi kelelahan tanpa kehilangan hasil latihan yang sudah diperoleh.

Untuk lomba maraton, Skwarecki menyarankan periode pengurangan latihan atau tapering dapat berlangsung sekitar tiga pekan. Pada lomba 5 kilometer, periode tersebut dapat berlangsung hanya satu hingga dua hari. Sementara untuk kompetisi angkat beban, pengurangan latihan dapat dilakukan sekitar satu hingga dua pekan sebelum pertandingan.

Dengan demikian, menurutnya, latihan tidak harus selalu menunggu tubuh berada dalam kondisi pulih 100 persen. Mengatur variasi intensitas, durasi, dan frekuensi latihan dapat membantu tubuh tetap aktif sekaligus memberikan waktu pemulihan yang cukup.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5710645/tak-harus-istirahat-total-ini-cara-atur-pemulihan-usai-olahraga

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Jakarta (ANTARA) – Secangkir kopi pada pagi hari dapat membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus berpotensi mendukung kesehatan otak dalam jangka panjang, menurut laporan Eating Well pada Selasa (25/8) waktu setempat.

Kandungan kafein dan polifenol dalam kopi disebut dapat membantu meningkatkan konsentrasi sekaligus dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Ahli gizi Talia Follador, RDN, LDN, menjelaskan kafein bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa dalam otak yang mendorong rasa kantuk.

Satu cangkir kopi seduh berukuran sekitar 237 mililiter mengandung rata-rata 96 miligram kafein. Penelitian menunjukkan konsumsi satu hingga dua cangkir kopi atau hingga sekitar 200 miligram kafein dapat membantu meningkatkan waktu reaksi dan akurasi pada orang dewasa sehat.

Namun, konsumsi kafein dalam jumlah lebih tinggi tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Dosis 300 miligram atau lebih menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan dapat meningkatkan rasa gelisah atau tubuh terasa gemetar.

Ahli gizi Caitlin Beale, M.S., RDN, mengatakan kopi kaya akan antioksidan yang membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada otak. Kopi juga dapat mendukung aliran darah ke otak.

Sebuah penelitian populasi besar yang dikutip Eating Well menemukan bahwa peminum kopi harian memiliki risiko demensia terkait Alzheimer 34 persen lebih rendah dan risiko Parkinson 37 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Namun, manfaat tersebut terlihat pada konsumsi kopi berkafein tanpa tambahan gula.

Follador juga mengatakan konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi berkafein per hari dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dan hasil kognitif yang lebih baik.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa kopi dapat mencegah demensia atau penurunan fungsi kognitif. Penelitian jangka panjang terhadap lebih dari 130.000 orang selama 43 tahun menemukan bahwa kelompok dengan konsumsi kafein dari kopi tertinggi memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi sangat sedikit atau tanpa kafein.

Ahli gizi Johannah Katz, M.A., RD, menyarankan konsumsi kopi dilakukan pada pagi atau awal siang hari agar kafein membantu meningkatkan kewaspadaan tanpa mengganggu tidur malam. Ia juga menyarankan memberikan jarak sekitar sembilan jam antara konsumsi kopi terakhir dan waktu tidur.

Katz juga mengingatkan setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan konsumsi kafein tidak lebih dari 400 miligram per hari bagi orang dewasa, meski jumlah tersebut belum tentu dapat ditoleransi semua orang.

Bagi orang yang tidak dapat mengonsumsi kopi, para ahli menyarankan teh hijau atau hitam, air putih, dan kefir sebagai alternatif minuman yang dapat mendukung kesehatan otak. Teh mengandung kafein dalam jumlah lebih rendah serta polifenol, sementara kefir menyediakan probiotik yang mendukung kesehatan mikrobioma usus dan kaitannya dengan otak.

Follador mengatakan menjaga hidrasi dengan minum air juga membantu komunikasi sel otak, aliran darah, serta pengiriman nutrisi ke otak yang berperan dalam menjaga fokus dan konsentrasi.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5711473/ahli-ungkap-manfaat-kopi-pagi-bagi-konsentrasi-dan-kesehatan-otak

Waktu Terbaik Olahraga Berbeda pada Tiap Orang, Ini Alasannya

Waktu Terbaik Olahraga Berbeda pada Tiap Orang, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta – Masih banyak orang yang mempertanyakan waktu terbaik untuk berolahraga di tengah kesibukan sehari-hari. Sebagian orang percaya pagi hari merupakan waktu yang ideal karena tubuh masih segar dan belum dipengaruhi berbagai aktivitas.

Di sisi lain, ada yang lebih memilih berolahraga pada sore atau malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan. Lantas, adakah waktu yang benar-benar paling efektif untuk memaksimalkan manfaat olahraga?

Menurut para ahli, seperti dikutip dari Healthline pada Jumat, 3 Juli 2026, jawabannya tidak sesederhana memilih antara pagi atau sore. Tidak ada satu waktu yang paling tepat untuk semua orang.

Waktu terbaik untuk berolahraga bergantung pada berbagai faktor, seperti tujuan kebugaran, kondisi fisik, ritme biologis, tingkat energi, serta rutinitas harian masing-masing individu.

Karena itu, berolahraga secara teratur pada waktu yang sesuai dengan gaya hidup akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan memaksakan diri berolahraga pada waktu tertentu yang sulit dijalani.

Meski demikian, setiap waktu memiliki kelebihan tersendiri. Olahraga pagi dapat membantu membangun kebiasaan karena kemungkinan terganggu oleh agenda lain sepanjang hari lebih kecil. Sementara itu, olahraga pada sore hingga awal malam dapat mendukung performa fisik karena suhu tubuh berada pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga otot menjadi lebih hangat dan fleksibel.

Lalu, apa saja manfaat olahraga pada pagi, sore, dan malam hari?

Olahraga Pagi

Berolahraga pada pagi hari merupakan pilihan baik bagi individu yang ingin membangun pola hidup sehat sekaligus mencapai tujuan kebugaran dalam jangka panjang. Sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang rutin berolahraga pada pagi hari cenderung lebih konsisten karena dapat menyelesaikan sesi latihan sebelum berbagai aktivitas lain mengganggu waktu mereka.

Selain itu, olahraga pagi dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati, energi, dan produktivitas sepanjang hari, seperti dikutip dari Lifestyle Liputan6.com pada Senin, 24 Agustus 2026.

Aktivitas fisik pada pagi hari juga memberikan manfaat bagi metabolisme tubuh. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berolahraga sebelum sarapan dapat meningkatkan pembakaran lemak dan membantu mengatur nafsu makan, yang pada akhirnya dapat mendukung program penurunan berat badan.

Olahraga pagi juga dikaitkan dengan peningkatan kualitas tidur. Namun, suhu tubuh pada pagi hari masih relatif rendah sehingga penting melakukan pemanasan dinamis secara bertahap. Langkah ini membantu mempersiapkan otot untuk bergerak sekaligus mengurangi risiko cedera.

Olahraga Sore

Jika tujuan Anda adalah memperkuat otot melalui angkat beban atau latihan berintensitas tinggi, sore hari dapat menjadi waktu yang tepat untuk berolahraga. Pada waktu ini, suhu tubuh biasanya lebih tinggi sehingga otot menjadi lebih hangat dan fleksibel.

Kondisi tersebut dapat mendukung kekuatan, koordinasi, kecepatan reaksi, dan daya tahan fisik. Dengan demikian, latihan seperti angkat beban dan high-intensity interval training (HIIT) dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Kemampuan tubuh dalam menyerap dan memanfaatkan oksigen juga cenderung lebih baik pada sore hari. Kondisi ini dapat membuat latihan berat terasa lebih nyaman sekaligus membantu meningkatkan performa fisik.

Agar sesi latihan tidak terganggu oleh aktivitas lain, rencanakan waktu olahraga sejak awal. Pastikan pula mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang mengandung karbohidrat dan protein, agar energi tetap terjaga selama berolahraga.

Olahraga Malam

Olahraga pada malam hari memiliki sejumlah manfaat, terutama membantu meredakan stres dan mengurangi kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Namun, para ahli mengingatkan agar latihan berintensitas tinggi tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur. Pasalnya, aktivitas tersebut dapat meningkatkan detak jantung dan suhu tubuh sehingga tubuh lebih sulit rileks.

Jika memilih berolahraga pada malam hari, sebaiknya selesaikan latihan setidaknya dua hingga tiga jam sebelum tidur.

Pilih aktivitas dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti yoga, peregangan, atau latihan kekuatan ringan. Akhiri sesi dengan pendinginan dan pastikan tubuh tetap terhidrasi agar kualitas tidur tetap terjaga.

Pada akhirnya, tidak ada satu waktu yang paling ideal untuk semua orang. Waktu terbaik untuk berolahraga adalah waktu yang sesuai dengan rutinitas, kondisi fisik, dan tingkat energi masing-masing individu sehingga olahraga dapat dilakukan secara konsisten.

Konsistensi dalam berolahraga memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar berfokus pada waktu latihan. Karena itu, temukan waktu yang paling sesuai agar olahraga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang dapat dijalani secara rutin dan berkelanjutan.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/diet-dan-kebugaran/read/8276850/waktu-terbaik-olahraga-berbeda-pada-tiap-orang-ini-alasannya

Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Liputan6.com, Jakarta – Decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan menjadi kondisi yang semakin sering dialami ketika seseorang harus menghadapi banyak pilihan dalam satu hari. Memilih menu makan siang, menentukan pakaian yang dikenakan, hingga memutuskan kapan harus membalas pesan mungkin terlihat sebagai hal sederhana.

Namun, keputusan-keputusan kecil yang terus menumpuk dapat membuat otak kehilangan energi untuk memproses pilihan berikutnya. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan seseorang dalam membuat keputusan mulai menurun setelah dihadapkan pada banyak pilihan dalam waktu berdekatan.

Akibatnya, seseorang dapat mengambil keputusan secara terburu-buru, merasa ragu, bahkan memilih untuk menghindari keputusan sama sekali, melansir Cleveland Clinic, Rabu, 5 Agustus 2026.

Setiap keputusan membutuhkan energi mental. Semakin banyak pilihan yang harus dipertimbangkan, semakin besar pula beban yang diterima otak. Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan aktivitas berikutnya.

Decision fatigue tidak hanya dialami oleh orang dengan tanggung jawab besar dalam pekerjaan. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja ketika menjalani hari yang dipenuhi berbagai pilihan, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, hingga aktivitas pribadi.

Mengenali tanda-tanda decision fatigue menjadi langkah awal untuk menjaga energi mental. Kondisi ini dapat dikurangi dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti menentukan prioritas, membatasi pilihan yang kurang penting, dan membuat rutinitas harian agar otak memiliki ruang untuk fokus pada keputusan yang lebih bermakna.

Kurangi Pilihan yang Tidak Perlu

Salah satu cara mengurangi decision fatigue adalah membatasi jumlah keputusan yang perlu diambil setiap hari. Pilihan sederhana, seperti menentukan pakaian, menyusun menu makan, atau mengatur jadwal aktivitas, dapat dibuat lebih praktis melalui rutinitas.

Kebiasaan ini membantu menghemat energi mental agar otak tetap fokus pada keputusan yang lebih penting. Selain itu, menyusun prioritas juga dapat membuat pikiran lebih terarah.

Buat daftar tugas sejak pagi, lalu tentukan pekerjaan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu dan hal-hal yang masih bisa ditunda. Dengan mengurangi keputusan kecil yang berulang, seseorang dapat menjaga kualitas berpikir dan lebih siap menghadapi pilihan besar yang membutuhkan perhatian lebih.

Istirahatkan Pikiran

Memberikan waktu istirahat di sela aktivitas dapat membantu mengurangi kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan. Ketika otak terus bekerja tanpa jeda, kemampuan untuk berpikir jernih dapat menurun sehingga seseorang lebih rentan mengambil keputusan secara impulsif atau merasa kesulitan menentukan pilihan.

Berjalan kaki sejenak, melakukan peregangan, menarik napas dalam, atau menjauh dari layar komputer selama beberapa menit dapat membantu mengembalikan fokus. Selain itu, tidur yang cukup juga penting karena otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah menjalani berbagai aktivitas.

Tubuh dan pikiran yang lebih segar membuat seseorang mampu mempertimbangkan pilihan dengan lebih tenang dan rasional. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas keputusan sekaligus meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.

Kenali Batas Diri

Ketika pikiran mulai terasa penuh atau emosi sedang tidak stabil, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat menjadi langkah yang bijak. Waktu sejenak untuk berhenti membantu seseorang berpikir lebih tenang dan mengurangi risiko membuat pilihan secara terburu-buru.

Selain mengelola pikiran, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga berperan penting. Mengonsumsi makanan secara teratur, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga, serta memiliki waktu istirahat yang cukup dapat membantu menjaga energi fisik dan fungsi otak.

Kondisi tubuh yang lebih sehat membuat seseorang lebih siap menghadapi berbagai pilihan dalam keseharian. Jika kelelahan mental mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8262550/decision-fatigue-saat-terlalu-banyak-pilihan-membuat-pikiran-lelah-dan-emosi-terkuras

Primal Movement: Saat Gerakan Dasar Tubuh Jadi Kunci Kebugaran

Primal Movement: Saat Gerakan Dasar Tubuh Jadi Kunci Kebugaran

Liputan6.com, Jakarta – Primal movement merupakan tren olahraga yang mengajak tubuh kembali pada pola gerakan dasar yang sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak lama dalam aktivitas sehari-hari.

Pada masa ketika olahraga belum menjadi bagian khusus dari rutinitas, aktivitas fisik sudah melekat dalam kehidupan. Manusia perlu berjalan jauh, mengangkat benda berat, hingga membangun tempat tinggal. Gerakan tersebut membuat tubuh terbiasa bekerja secara aktif tanpa membutuhkan sesi latihan khusus.

Primal movement mengambil inspirasi dari kondisi tersebut. Latihan ini berfokus pada kemampuan tubuh untuk menjalankan gerakan fundamental secara lebih baik. Pendekatan tersebut bukan berarti seseorang harus meninggalkan rutinitas olahraga yang sudah dijalankan.

Gerakan dasar justru dapat menjadi fondasi dari berbagai jenis latihan yang sudah familiar. Istilah primal movement merujuk pada tujuh pola gerakan utama yang terdiri dari push, pull, twist, squat, hinge, lunge, dan gait.

Setiap gerakan memiliki fungsi yang berbeda dalam membantu tubuh melakukan aktivitas fisik secara lebih efisien, melansir Men’s Health, Rabu, 26 Agustus 2026.

Primal movement melatih tubuh untuk memahami kembali pola gerak yang digunakan dalam berbagai aktivitas. Pendekatan ini membuat latihan tidak hanya berorientasi pada kekuatan, melainkan pada koordinasi, keseimbangan, keluwesan, dan kontrol tubuh yang menjadi bagian yang diperhatikan.

Primal Movement mengajak seseorang untuk memberikan perhatian lebih pada kemampuan tersebut melalui latihan yang terstruktur.

Mengapa Gerakan Dasar Penting untuk Tubuh?

Latihan dengan pola gerakan dasar dapat membantu seseorang memahami cara tubuh bekerja ketika melakukan aktivitas fisik. Fokus pada teknik membuat setiap gerakan dilakukan secara lebih terarah. Tubuh juga dapat belajar menggunakan kekuatan dengan cara yang lebih efisien.

Primal movement memiliki kemiripan dengan konsep functional training. Perbedaannya terletak pada perhatian yang lebih besar terhadap pola gerak fundamental. Kemampuan tersebut dapat berguna ketika seseorang melakukan aktivitas sederhana di luar tempat latihan.

Popularitas primal movement turut dipengaruhi oleh meningkatnya perhatian terhadap latihan yang terasa lebih relevan dengan aktivitas sehari-hari. Konsep ini tidak menempatkan olahraga semata-mata sebagai cara membentuk otot atau mengejar target tertentu, tetapi juga melihat kualitas gerak sebagai bagian penting dari kebugaran.

7 Gerakan Dasar yang Bisa Dilatih

Push-up, inverted row, spiderman lunge with thoracic rotation, air squat, Romanian deadlift, lunge, dan farmer’s walk menjadi tujuh latihan yang dapat digunakan untuk melatih pola gerak dasar dalam konsep primal movement. Setiap latihan memiliki karakter berbeda, mulai dari penggunaan berat badan hingga tambahan beban eksternal.

Rangkaian tersebut mencakup latihan untuk tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah, mobilitas, keseimbangan, serta kemampuan mempertahankan posisi tubuh ketika bergerak. Push-up dan inverted row dapat menjadi pilihan untuk melatih kekuatan tubuh bagian atas.

Spiderman lunge with thoracic rotation memberikan kombinasi gerakan kaki dan rotasi tubuh. Air squat membantu membangun dasar pola jongkok, sedangkan Romanian deadlift menekankan pergerakan dari pinggul.

Lunge melatih gerakan secara unilateral, sementara farmer’s walk menggabungkan aktivitas membawa beban dengan gerakan berjalan. Ketujuh latihan tersebut dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan pengalaman berolahraga.

Cara Memasukkan Primal Movement ke Rutinitas Olahraga

Konsep primal movement tidak mengharuskan seseorang membuat program latihan yang sepenuhnya baru. Pola gerak dasar tersebut sebenarnya sudah dapat ditemukan dalam berbagai jenis latihan yang umum dilakukan di pusat kebugaran maupun di rumah.

Pendekatan ini lebih menekankan perhatian terhadap cara tubuh bergerak daripada sekadar menambah jumlah latihan dalam satu sesi. Penguasaan teknik dapat menjadi dasar sebelum seseorang meningkatkan beban, intensitas, atau jumlah repetisi.

Latihan dengan konsep tersebut juga dapat disesuaikan berdasarkan tujuan kebugaran. Seseorang yang baru mulai berolahraga dapat menggunakan variasi berat badan terlebih dahulu untuk mengenali pola gerakan.

Individu yang sudah terbiasa berlatih dapat menambahkan beban atau mengubah tingkat kesulitan sesuai kemampuan. Penyesuaian tersebut membuat latihan tetap fleksibel tanpa menghilangkan prinsip utama primal movement.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8277775/primal-movement-saat-gerakan-dasar-tubuh-jadi-kunci-kebugaran

Nonton Film Porno Bisa Merusak Hati, Ini Penjelasan dalam Islam

Nonton Film Porno Bisa Merusak Hati, Ini Penjelasan dalam Islam

Jakarta – Akses informasi dan media digital yang serba cepat kerap memberi kemudahan sekaligus tantangan baru bagi umat Islam. Salah satu isu yang sering menjadi perhatian adalah hukum serta dampak dari kebiasaan mengonsumsi konten pornografi atau film dewasa.

Secara tegas, Islam melarang umatnya menyaksikan film porno. Ibadah dan kesehatan spiritual seorang muslim sangat bergantung pada kebersihan hati, sementara tontonan bermuatan maksiat dinilai dapat mengotori hati, memicu halusinasi, hingga merusak akhlak.

Hukum Menonton Film Porno Menurut Fikih dan Syariat

Mengutip buku Mengembangkan Fikih Sosial karya Jamal Ma’mur Asmani yang membahas pemikiran KH M.A. Sahal Mahfudh, hukum menyaksikan film dewasa adalah haram. Penetapan hukum ini berlandaskan pada kaidah fikih sadd adz-dzara’i (tindakan preventif untuk menyumbat pintu kemaksiatan) serta kaidah lil-wasa’il hukm al-maqashid (hukum sarana mengikuti hukum tujuan).

Karena film porno membangkitkan syahwat dan menjadi perantara yang sangat kuat menuju perbuatan zina, maka sarana tersebut otomatis dihukumi haram. Islam secara tegas melarang perbuatan zina maupun segala pintu yang mendekatinya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Selain itu, Al-Qur’an secara spesifik memerintahkan setiap muslim-baik laki-laki maupun perempuan-untuk menjaga pandangan (ghadhul bashar) dan memelihara kehormatan diri. Perintah ini tertuang dalam Surah An-Nur ayat 30-31:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur: 30)

Ulama terkemuka Syekh Yusuf Al-Qardhawi dalam karyanya Karakteristik Islam: Kajian Analitik menegaskan bahwa aurat-terutama kemaluan-haram diperlihatkan kepada orang lain yang bukan haknya. Perantara seperti layar smartphone, televisi, atau komputer tidak mengubah hukum dasar tersebut. Menontonnya di layar tetap diqiyaskan sebagai tindakan melihat aurat bukan muhrim secara langsung.

Sementara itu, Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan adanya konsensus (ijmak) para ulama terkait keharaman melihat aurat sesama jenis maupun lawan jenis. Hal ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

Artinya: “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita lain.” (HR Muslim)

Bagaimana Hukumnya bagi Pasangan Suami Istri?

Sebagian orang menganggap menonton film porno bersama pasangan halal dilakukan untuk membangkitkan gairah. Namun, para ulama menegaskan bahwa hukumnya tetap haram.

Status pernikahan tidak menghalalkan seseorang untuk memandang aurat orang asing (pemeran dalam film) yang bukan mahramnya. Media digital hanyalah perantara, sehingga batasan ghadhul bashar tetap berlaku.

Ditinjau dari sisi psikologis dan keharmonisan rumah tangga, kebiasaan ini juga membawa dampak buruk. Berdasarkan riset Ria Amanda Putri dan Aqeela Adhyanie Hernowo dalam Jurnal Pendidikan Islam (Vol. 2 No. 4, Desember 2024) bertajuk Pengaruh Konten Pornografi Terhadap Kesehatan Otak dan Mental dalam Perspektif Islam, pecandu pornografi cenderung membangun ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangannya.

Ekspektasi semu tersebut memicu rasa tidak puas, menurunkan kualitas komunikasi dan keintiman, hingga meningkatkan risiko keretakan rumah tangga dan perselingkuhan.

Dampak Menonton Film Porno

Tidak hanya merusak kesucian hati dan iman, mengonsumsi tontonan dewasa berulang kali juga menimbulkan ilusi serta halusinasi pada otak. Sebagaimana dijelaskan Abdel Wahab Bouhdiba dalam buku Sexuality in Islam, paparan pornografi mengaktifkan emosi dan syahwat secara tidak alami yang setara efek buruknya dengan perbuatan zina.

Dikutip dari laporan Times of India, dampak negatif pornografi dari sisi kesehatan dan sosial meliputi:

  • Gangguan disfungsi seksual dan ketidakpuasan dalam hubungan suami istri.
  • Mengganggu kontrol emosi serta memicu sifat mudah marah.
  • Menurunnya kemampuan bersosialisasi dan menarik diri dari lingkungan.
  • Meningkatkan risiko perilaku seks bebas yang memicu penyakit menular berbahaya seperti HIV, gonore, dan sifilis.

Tips Mengatasi Kecanduan Film Porno Menurut Buya Yahya
Menyadari kesalahan dan bertekad untuk berubah merupakan langkah awal yang mulia. Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Al-Bahjah TV bertajuk “Ingin Berhenti Kecanduan Pornografi, Bagaimana Caranya?”, Buya Yahya membagikan sejumlah langkah praktis bagi siapa saja yang ingin terbebas dari kebiasaan buruk ini:

1. Perbanyak Istighfar

Langkah awal untuk membersihkan kotoran dosa di dalam hati adalah bertobat dan memperbanyak istighfar. Allah SWT berjanji mengampuni hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertobat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Artinya: “Dan barang siapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Pertama, banyak istighfar, karena itu adalah sebuah kesalahan. Istighfar yang banyak agar bersih hati,” terang Buya Yahya.

2. Disiplin Menjaga Pandangan

Latih diri untuk membentengi mata dari hal-hal yang tidak pantas. Dorongan nafsu sering kali muncul karena sengaja dipancing melalui tontonan media digital.

“Sebetulnya syahwat Anda tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kan Anda sendiri, Anda mengundang syahwat di saat tidak ada pelampiasan. Dengan menonton film dewasa, berarti yang mengundang hawa nafsu kan Anda,” tegas Buya Yahya.

3. Menyibukkan Diri dengan Aktivitas Ibadah dan Positif

Niat berhenti harus diimbangi dengan mengalihkan waktu ke kegiatan bermanfaat. Rutinkan ibadah harian mulai dari berwudhu, memperbanyak sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, hingga berpuasa untuk menekan gejolak syahwat.

“Untuk urusan ibadah lakukan saja, nanti sambil meminta semoga Allah menerima. Sebab, dengan semakin banyak melakukan ibadah, maka semakin menyejukkan hati,” pungkas Buya Yahya.

Selain ibadah, mengalihkan perhatian dengan berolahraga, mendatangi majelis ilmu, serta menekuni hobi positif akan sangat membantu proses pemulihan fisik dan mental dari kecanduan.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8634682/nonton-film-porno-bisa-merusak-hati-ini-penjelasan-dalam-islam