Media sosial Indonesia lagi ramai soal dugaan penistaan agama yang terjadi di booth minuman beralkohol, Newport, di acara The Sounds Project 2026.
Semua berawal dari sebuah video yang memperlihatkan seorang pengunjung mengikuti tantangan menghafal surah Ad-Duha dan mendapatkan minuman beralkohol gratis.
Banyak orang yang marah, khususnya umat muslim karena dianggap melakukan promosi minuman alkohol, yang dilarang dalam Islam, dengan ayat Alquran.
Tak sedikit juga yang menyebutnya sebagai penghinaan agama. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum menghina agama Islam?
Hukum Menghina Agama Islam
Hukum menghina agama adalah haram dan termasuk dosa besar dalam Islam. Bentuk penghinaan agama Islam mencakup mengolok-golok Allah SWT, rasul-rasul, dan ayat Alquran.
Dalam hukum Islam, penghina agama Islam dijatuhi hukuman sebagai berikut:
Penghina Agama Islam dari Kalangan Muslim
Seorang muslim yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, menunaikan segala kewajibannya, dan meyakininya bisa menjadi kafir dan murtad jika menistakan agamanya.
Mayoritas ulama juga berpandangan bahwa hukuman berat bagi penghina agama Islam adalah hukuman mati.
Namun, dalam hukum Islam terdapat syarat ketat dalam penerapannya agar tidak menimbulkan kekacauan yaitu eksekusi hanya boleh dilakukan lewat proses peradilan yang diputuskan oleh ulil amri atau pemerintah sah.
Umat muslim juga tidak boleh langsung memvonis seseorang kafir setelah ia mengolok-olok agama Islam.
Para ulama menetapkan dua syarat dalam menyebut seorang muslim sebagai kafir yaitu:
- Adanya dalil yang jelas dan tegas bahwa sebuah perkataan, perbuatan, atau keyakinannya termasuk kekufuran dalam syariat Islam.
- Perlu diperhatikan bahwa orang itu sudah memahami larangan yang dilanggarnya, seluruh syarat penerapan hukum telah terpenuhi, dan tidak ada kondisi yang menjadi penghalang dalam penerapan hukumnya.
Penghina Agama Islam dari Kalangan Kafir Harbi
Kafir harbi merupakan sebutan bagi seseorang yang secara terang-terangan memusuhi, memerangi, atau berada dalam keadaan perang melawan umat Islam.
Hukuman bagi golongan ini jika menghina Islam adalah dibunuh, sebagaimana tertulis dalam surah Al-Baqarah ayat 193:
“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.”
Selain harbi, ada jenis kafir lainnya dalam Islam, yakni:
- Kafir dzimmi: Orang yang membayar upeti yang dipungut setiap tahun sebagai imbalan atas diizinkannya mereka tinggal di negeri kaum muslimin.
- Kafir mu’ahad: Orang yang menjalin kesepakatan dengan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang sudah ditentukan.
- Kafir musta’man: Orang yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin.
Orang mana saja dari tiga jenis kafir itu juga dihukum berat berupa hukuman mati jika menistakan agama Islam.
Penghina Agama Islam dari Kalangan Munafik dan Zindiq
Golongan ini adalah orang-orang yang menunjukkan keislamannya, tetapi dalam hatinya mereka memusuhi Allah SWT, ayat-ayat-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
Dalam syariat Islam, hukumnya adalah hukuman mati jika mereka menghina agama Islam. Allah SWT juga memberi azab pedih di dunia dan akhirat.
Hal ini dijelaskan dalam surah At-Taubah ayat 74:
“Mereka (orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakiti Muhammad). Sungguh, mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir setelah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), sekiranya Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.”
Adapun secara hukum di Indonesia, pelaku penghinaan agama, baik dari kalangan muslim maupun non muslim bisa dijerat Pasal 156a KUHP dan hukuman penjara paling lama lima tahun.
Dalil tentang Orang yang Menghina Agama Islam
Dalil terkait orang yang menghina atau mencela agama Islam banyak disebutkan dalam surah-surah Alquran sebagai berikut:
1. Surah At-Taubah Ayat 65-66
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
Wala’in sa altahum layaqoolunna innamaa kunnaa nakhoodu wa nal’ab; qul abillaahi wa ‘Aayaatihee wa Rasoolihee kuntum tastahzi’oon
65) Artinya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ
Laa ta’taziroo qad kafartum ba’da eemaanikum; in na’fu ‘an taaa’ifatim minkum nu’az zib taaa’ifatam bi annahum kaanoo mujrimeen
66) Artinya: “Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.”
Pada ayat 65, ditegaskan bahwa kaum munafik tidak patut mengejek Allah SWT, ayat-ayat, dan rasul-Nya. Perbuatan itu melewati batas dan tidak ada yang melakukannya kecuali yang ingkar kepada Allah SWT.
Selanjutnya, ayat 66 menekankan tidak ada gunanya pelaku yang menghina Allah SWT, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya untuk meminta maaf karena mereka sudah menjadi kafir setelah beriman.
Ayat 66 lalu ditutup dengan penegasan bahwa pintu ampunan Allah SWT terbuka lebar bagi setiap hamba-Nya yang bertobat.
2. Surah Al-Ma’idah Ayat 57
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Yaaa aiyuhal lazeena aamanoo laa tattakhizul lazeenat takhazoo deenakum huzuwanw wa la’ibam minal lazeena ootul Kitaaba min qablikum walkuffaara awliyaaa’; wattaqul laaha in kuntum muu’mineen
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”
Ayat ini turun karena banyak orang Islam yang berteman akrab dengan Rifa’ah bin Zaid bin Attabut dan Suwaid Ibnu Haris.
Keduanya merupakan orang-orang munafik yang menyatakan beragama Islam, tetapi sebenarnya mengingkari agama Allah SWT.
Oleh karena itu, turunlah ayat ini yang melarang tegas orang beriman untuk menjadikan orang kafir yang gemar mengejek dan mempermainkan agama Islam sebagai sahabat sejati atau penolongnya.
3. Surah Al-Kahfi Ayat 56
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ ۚ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ۖ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنذِرُوا هُزُوًا
Wa maa nursilul mursaleena illaa mubashshireena wa munzireen; wa yujaadilul lazeena kafaroo bilbaatili liyudhidoo bihil haqqa wattakhazooo Aayaatee wa maaa unziroo huzuwaa
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan.”
Dalam tafsir Kemenag, ayat ini menjelaskan siapa pun yang membantah atau menentang ajaran Allah SWT yang dibawa rasul-Nya, berarti menolak kebenaran mutlak.
Mereka sudah jauh dari jalan yang diridai Allah SWT, sehingga apa yang mereka lakukan tidak akan membawa kebaikan.
4. Surah An-Nisa Ayat 140
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا
Wa qad nazzala ‘alaikum fil Kitaabi an izaa sami’tum Aayaatil laahi yukfaru bihaa wa yustahza u bihaa falaa taq’udoo ma’ahum hattaa yakhoodoo fee hadeesin ghairih; innakum izam misluhum; innal laaha jaami’ul munaafiqeena wal kaafireena fee jahannama jamee’aa
Artinya: “Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.”
Melalui ayat ini, Allah SWT melarang keras orang mukmin berkumpul dengan orang-orang yang menghina agama Islam.
Jika muslim yang berkumpul tidak mau pergi ketika ada yang menghina Islam, Allah SWT menganggapnya bersekongkol dengan orang-orang kafir itu.
Ayat ini juga menegaskan bahwa siapa saja yang membenarkan perbuatan mungkar dan diam saja terhadap kemungkaran, ia sama saja dengan orang yang berbuat dosa itu.
5. Surah Al-An’am Ayat 68
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Wa izaa ra aital lazeena yakhoodoona feee Aayaatinaa fa a’rid ‘anhum hattaa yakkhoodoo fee hadeesin ghairih; wa immaa yunsiyannakash Shaitaanu falaa taq’ud ba’dazzikraa ma’al qawmiz zaalimeen
Artinya: “Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.”
Kisah Penghinaan Agama Islam pada Zaman Nabi Muhammad SAW
Ada hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar tentang seorang laki-laki yang mengejek Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang ahli membaca (menghafal) Alquran.
Ketika Perang Tabuk, seseorang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Alquran ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam peperangan.”
Salah satu sahabat bernama ‘Auf bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Yang kamu katakan itu dusta. Bahkan, kamu adalah orang munafik. Niscaya akan aku beritakan kepada Rasulullah SAW.”
Namun, sebelum ‘Auf bin Malik sampai ke hadapan Rasulullah SAW, Allah SWT menurunkan wahyu berupa surah At-Taubah ayat 65.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Sahabat lainnya, Abdullah bin Umar lalu berkata, “Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah SAW, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata, “Sebenarnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja.”
Kemudian, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/hukum-menghina-agama-islam-dan-ancaman-bagi-pelakunya