Benarkah Berat Badan Turun, Tekanan Darah Ikut Stabil? Ini Kata Dokter Gizi

Benarkah Berat Badan Turun, Tekanan Darah Ikut Stabil? Ini Kata Dokter Gizi

Jakarta – Penurunan berat badan melalui program diet tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah pada orang dengan hipertensi.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan penurunan berat badan dapat mengurangi penumpukan lemak viseral. Lemak berlebih tersebut dapat meningkatkan beban kerja jantung dan berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.

Menurut dr Yaze, ketika berat badan dan lemak berlebih mulai berkurang, kerja jantung dapat menjadi lebih optimal sehingga tekanan darah berangsur lebih stabil.

“Ketika lemaknya sudah mulai berkurang, pasti pompa jantungnya akan baik-baik saja dan lega lagi karena tidak ada yang membuat dia berat,” terang dr Yaze dalam Live TikTok detikHealth, Kamis (20/8/2026).

“Tensinya pasti akan kembali stabil,” tambahnya.

dr Yaze mengungkapkan orang dengan hipertensi umumnya memiliki masalah berat badan berlebih. Ketika mereka berhasil menurunkan berat badan melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat, tekanan darah pun perlahan kembali normal.

Selain menstabilkan tensi, proses penurunan berat badan juga membantu mengurangi berbagai tingkat peradangan kronis di dalam tubuh.

“Jadi memang dengan penurunan berat badan itu menurunkan berbagai macam peradangan lain, termasuk tensi yang naik, jadi bisa lebih stabil,” jelas dr Yaze.

“Termasuk misalnya gula darah yang tadinya tinggi bisa jadi lebih stabil,” pungkasnya.

Sumber : https://health.detik.com/diet/d-8635862/benarkah-berat-badan-turun-tekanan-darah-ikut-stabil-ini-kata-dokter-gizi

Yomif Kejelcha Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon, Lari 21 Km 56 Menit

Yomif Kejelcha Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon, Lari 21 Km 56 Menit

Jakarta – Yomif Kejelcha, pelari dari Ethiopia memecahkan rekor dunia lari Half Marathon dengan catatan waktu 56 menit dan 51 detik di Media Maratón Ciudad de Buenos Aires 2026, pada 23 Agustus. Ini berarti, Kejelcha kurang lebih berlari dengan pace 2:42/km.

Dikutip dari ABC, Kejelcha memangkas 29 detik dari rekor sebelumnya yaitu 57:20, yang dicetak oleh Jacob Kiplimo dari Uganda yang dicetaknya di EDP Lisbon Half Marathon, Portugal, pada 8 Maret 2026.

“Aku sangat senang dan saat ini aku tidak merasa lelah sama sekali. Perjalanan dari Ethiopia terlalu panjang dan aku merasa lelah di hari-hari pertama di sini, tetapi kemudian aku merasa lebih baik dan hari ini aku sangat bersemangat,” kata Kejelcha kepada World Athletics.

“Awalnya saya berencana untuk berlari dengan hati-hati di tahap awal, tetapi saya merasa baik dan memutuskan untuk mengerahkan seluruh kemampuan saya.”

Cara Ethiopia Menciptakan ‘Monster’ Lari

Kejelcha merupakan salah satu produk dari metode latihan khusus yang dilakukan oleh Ethiopia.

Dalam penelitian berjudul ‘Effects of training modalities on physiology, hematology, and performance in elite Ethiopian distance male athletes’ yang terbit tahun 2026 ditemukan bahwa para pelari elit putra nomor 3.000-10.000 meter memiliki pola latihan khusus. Mereka menjalani tiga blok latihan masing-masing enam minggu:

  • Endurance training
  • Strength training
  • Speed training

Hasilnya menarik: latihan endurance meningkatkan estimasi VO2 Max rata-rata 6,2 ml/kg/menit, sementara latihan kekuatan meningkatkan running economy dengan menurunkan kebutuhan oksigen saat berlari sekitar 4,2 persen. Latihan kecepatan juga memperbaiki running economy dan kecepatan 400 meter.

Dengan demikian, bisa dijelaskan bahwa kemampuan berlari Half Marathon atau 21,1 km dengan pace sekitar 2:42/km bukan cuma soal paru-paru kuat. Ada kombinasi kapasitas aerobik, kekuatan otot, kecepatan, dan efisiensi gerakan.

Sumber : https://health.detik.com/kebugaran/d-8635988/yomif-kejelcha-pecahkan-rekor-dunia-half-marathon-lari-21-km-56-menit

Stop Jilati Bibir! Begini Cara Paling Efektif Atasi Bibir Kering

Stop Jilati Bibir! Begini Cara Paling Efektif Atasi Bibir Kering

Jakarta – Bibir kering dan pecah-pecah kerap dianggap masalah sepele yang bisa diatasi dengan lip balm sembarangan. Padahal, bibir termasuk bagian dari jaringan lunak rongga mulut yang punya karakteristik berbeda dari kulit wajah pada umumnya.

Dikutip dari sejumlah studi, ada penjelasan ilmiah di balik kenapa beberapa pelembab bibir bekerja lebih efektif dibanding yang lain. Berikut penjelasannya.

Bibir Rentan Pecah karena Terus Bergerak

Bibir menjadi semacam “jembatan” antara kulit wajah dan bagian dalam mulut. Area ini aktif bergerak saat seseorang berbicara, makan, atau tersenyum, sehingga rentan mengalami retakan-retakan halus atau microcracks ketika kondisinya kering.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi peradangan pada bibir atau yang dikenal dengan istilah cheilitis. Pada kasus tertentu, peradangan juga bisa muncul di sudut mulut, dikenal sebagai angular cheilitis, dengan gejala kulit merah, perih, dan retak di ujung bibir kiri-kanan.

Tiga Cara Kerja Pelembab Bibir

Secara umum, pelembab bibir bekerja lewat tiga mekanisme berbeda.

  • Oklusif, yaitu membentuk lapisan tipis di permukaan bibir agar air yang sudah ada di kulit tidak menguap. Bahan seperti petroleum jelly masuk kategori ini.
  • Humektan, yang bekerja menarik air dari udara atau lapisan kulit yang lebih dalam ke permukaan. Gliserin dan hyaluronic acid adalah contohnya.
  • Emolien, yang berfungsi mengisi celah-celah kecil di antara sel kulit sehingga bibir terasa lebih halus. Lanolin dan shea butter termasuk dalam golongan ini.

Petroleum Jelly Disebut Paling Efektif Kunci Air

Dari ketiga mekanisme tersebut, petroleum jelly kerap disebut sebagai salah satu bahan paling efektif dalam mencegah penguapan air dari kulit. Petrolatum merupakan bahan oklusif yang sangat efektif dalam mengurangi kehilangan air dari kulit. Sejumlah literatur melaporkan penurunan transepidermal water loss sekitar 50-99%, bergantung pada kondisi penggunaannya.

Meski begitu, petroleum jelly perlu dipahami bukan sebagai bahan yang menambahkan kelembapan baru, melainkan hanya mengunci kelembapan yang sudah ada di bibir. Karena itu, penggunaannya disarankan saat bibir masih dalam kondisi agak lembap, misalnya setelah minum air atau mandi, bukan ketika bibir sudah dalam kondisi kering.

Lazim Dipakai di Praktik Dokter Gigi

Di dunia kedokteran gigi, petroleum jelly grade medis bukan bahan asing. Bahan ini biasa dipakai untuk melumasi area sekitar mulut pasien saat prosedur gigi berlangsung, agar sarung tangan dokter tidak lengket ke gusi maupun bibir. Hal ini menunjukkan bahan tersebut relatif aman digunakan di area mulut.

Berkaitan dengan Masalah Mulut Kering

Kesehatan bibir ternyata juga berkaitan dengan kondisi mulut kering atau xerostomia. Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan pelembab khusus rongga mulut secara rutin dapat mengurangi rasa tidak nyaman pada pasien, sekaligus membantu menjaga produksi air liur tetap normal.

Jadi Pilihan Pertama untuk Sudut Bibir Pecah

Untuk kasus sudut bibir pecah-pecah atau angular cheilitis, penggunaan salep berbahan petroleum jelly kerap menjadi langkah pertama yang disarankan. Sebab, penyebab utama kondisi ini biasanya berasal dari kulit yang terus-menerus terpapar air liur hingga mengalami iritasi atau maserasi.

Perlu Diimbangi dengan Hentikan Kebiasaan Menjilat Bibir

Meski terbilang efektif, penggunaan pelembab bibir berbahan petroleum jelly secara berlebihan tanpa menghentikan kebiasaan menjilat bibir justru bisa berisiko. Area yang terus-menerus lembap berpotensi memicu munculnya infeksi jamur atau cheilocandidiasis.

Dengan kata lain, pelembab bibir berfungsi sebagai pelindung, bukan pengganti untuk menghilangkan kebiasaan menjilat bibir yang sebaiknya tetap dihentikan.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8633438/stop-jilati-bibir-begini-cara-paling-efektif-atasi-bibir-kering

Ketika Rasulullah Mencintai Umatnya, Sudahkah Kita Mencintai Beliau?

Ketika Rasulullah Mencintai Umatnya, Sudahkah Kita Mencintai Beliau?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Momentum bulan Rabiulawal hendaknya tidak berhenti pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Lebih dari itu, umat Islam perlu menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani kehidupan Rasulullah saw.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dalam kajian di Masjid KH Sudja pada Senin (24/08). Dalam kesempatan itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role model atau uswatun hasanah dalam seluruh aspek kehidupan.

Asep menjelaskan, bulan Rabiulawal memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam karena pada bulan inilah lahir manusia pilihan yang diutus Allah sebagai penutup para nabi dan rasul. Kelahiran Nabi Muhammad Saw, menurutnya, semestinya mengingatkan umat kepada konsekuensi dari syahadat yang setiap hari diucapkan.

“Konsekuensi dari syahadat kita yang kedua ini adalah kita menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai role modeluswatun hasanah,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah al-Ahzab ayat 21, Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah, yang menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik.

Keteladanan Nabi, kata Asep, relevan bagi siapa pun dan dalam peran apa pun. Seorang pemimpin yang ingin menjalankan amanah dengan baik perlu melihat bagaimana Rasulullah memimpin. Seorang ayah dan suami dapat belajar dari kehidupan rumah tangga Nabi. Demikian pula setiap Muslim yang ingin menjadi hamba Allah yang saleh perlu menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai rujukan.

“Kalau kita ingin menjadi manusia, hamba Allah yang baik, hamba Allah yang saleh, hendaklah kita mencontoh bagaimana kehidupan Nabi Muhammad Saw,” tuturnya.

Menurut Asep, keteladanan harus diawali dengan pengenalan. Seseorang sulit mencintai tokoh yang tidak dikenalnya. Karena itu, umat Islam perlu mempelajari kepribadian, akhlak, ibadah, keluarga, muamalah, serta perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.

Ia mengingatkan bahwa generasi saat ini sering kali sangat mengenal figur-figur populer. Anak-anak dan remaja dapat menghafal nama pemain sepak bola, selebritas, atau bintang hiburan, tetapi belum tentu mengenal kehidupan Rasulullah dengan baik. Karena itu, keluarga memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan Nabi kepada generasi berikutnya.

“Tak kenal maka tak sayang. Kita perlu mengenal bagaimana kepribadian beliau, kehidupan sehari-hari beliau, akhlak beliau, keluarga beliau,” katanya.

Asep kemudian menyinggung kajian sirah Nabawiyah sebagai salah satu jalan untuk semakin mengenal Rasulullah. Setelah mengenal kehidupan Nabi, umat dituntut untuk menerjemahkan kecintaan tersebut ke dalam usaha nyata meneladani akhlak dan sunahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Betapa Besarnya Cinta Rasulullah kepada Umatnya

Dalam kajiannya, Asep juga menggambarkan besarnya cinta Rasulullah kepada umatnya. Ia menyampaikan sebuah riwayat tentang kerinduan Nabi kepada orang-orang yang belum pernah bertemu dengannya, tetapi tetap beriman dan berusaha mengikuti ajarannya.

Dalam riwayat yang disampaikannya, ketika para sahabat bertanya mengenai orang-orang yang dirindukan Rasulullah, Nabi menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang datang setelah masa beliau, tidak pernah bertemu secara langsung, tetapi tetap beriman dan berusaha menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Asep mengajak jamaah untuk merenungkan apakah generasi Muslim yang hidup berabad-abad setelah Rasulullah benar-benar telah menunjukkan kecintaan kepada Nabi melalui iman dan pengamalan sunahnya.

“Kita ini, insyaallah, termasuk umat yang belum pernah bertemu dengan Kanjeng Nabi, tetapi mengimani beliau,” ujarnya.

Besarnya cinta Rasulullah kepada umat juga, menurut Asep, tampak dari doa-doa beliau. Ia menceritakan sebuah riwayat tentang Aisyah ra. yang meminta Rasulullah berdoa untuknya. Setelah Nabi memanjatkan doa yang begitu luas bagi Aisyah, beliau menjelaskan bahwa doa serupa juga dipanjatkan untuk umatnya.

Bagi Asep, kisah tersebut menggambarkan perhatian Rasulullah yang besar kepada keselamatan umat. Bahkan dalam riwayat yang disampaikannya, ketika menghadapi sakaratul maut, Nabi masih mengingat umatnya.

“Yang diingat adalah umatku, umatku, umatku,” katanya.

Gambaran tersebut, menurutnya, seharusnya menimbulkan pertanyaan di dalam diri setiap Muslim mengenai bagaimana cinta itu dibalas. Jika Rasulullah begitu besar perhatiannya kepada umat, maka kecintaan umat kepada beliau harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan kesediaan mengikuti jalan yang telah diajarkan.

Syafaat Rasulullah

Asep juga menyinggung hadis tentang syafaat Nabi Muhammad Saw di hari kiamat. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah menyimpan salah satu doa mustajabnya untuk umatnya pada hari akhir. Doa itu berkaitan dengan syafaat yang diharapkan dapat menjadi pertolongan bagi umat di padang mahsyar.

Ia menggambarkan hari akhir sebagai saat ketika setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia. Dalam keadaan demikian, manusia membutuhkan pertolongan. Dalam riwayat yang ia sampaikan, manusia akan mendatangi para nabi untuk memohon syafaat hingga akhirnya Rasulullah Muhammad Saw mendapat kedudukan untuk memberikan syafaat tersebut.

Karena itu, Asep mengajak jamaah untuk tidak sekadar berharap memperoleh syafaat, melainkan juga berusaha menjalani kehidupan sesuai tuntunan Nabi.

Hal tersebut, menurut Asep, sejalan dengan sabda Rasulullah bahwa seluruh umatnya akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Keengganan itu, jelasnya, bukan berarti seseorang secara lisan mengatakan tidak ingin masuk surga, melainkan tampak dalam sikap menolak ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Orang yang mengetahui perintah dan larangan agama, tetapi dengan sengaja mengabaikannya dan memperturutkan hawa nafsu, menurutnya, telah memilih jalan yang menjauh dari keselamatan.

Ia menegaskan bahwa manusia telah diberi akal, hati, dan kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berhadapan dengan dorongan menuju kebaikan dan godaan untuk melakukan keburukan. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan pilihan yang akan diambil.

“Hidup kita adalah pilihan kita,” katanya.

Asep mengilustrasikan kehidupan manusia sebagai perjalanan antara birth dan death. Di antara kelahiran dan kematian terdapat choice, yakni pilihan. Manusia dapat memilih jalan yang mengarah kepada ketaatan atau memperturutkan hawa nafsu yang menjerumuskannya kepada kemaksiatan.

Namun, ia mengingatkan bahwa memilih jalan ketaatan tidak selalu mudah. Dalam diri manusia terdapat hawa nafsu yang sering membuat maksiat terasa lebih menyenangkan daripada ibadah. Karena itu, perjuangan seorang Muslim adalah berusaha menemukan kenikmatan dalam ketaatan.

Asep menyebut salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tetap menjalankan ibadah, tetapi kehilangan rasa nikmat dalam beribadah. Salat dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, Al-Qur’an dibaca tanpa menghadirkan kesungguhan hati, dan doa dipanjatkan tanpa kekhusyukan.

“Maka bagaimana kemudian kita bisa menikmati ketaatan kita? Salat khusyuk, baca Al-Qur’an khusyuk, berdoa sungguh-sungguh,” ujarnya.

Baginya, membangun kenikmatan dalam ketaatan merupakan bagian dari usaha untuk membalas cinta Rasulullah kepada umatnya.

Asep kemudian mengutip hadis tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan datangnya hari kiamat. Alih-alih langsung menjawab waktunya, Rasulullah bertanya apa yang telah dipersiapkan orang tersebut untuk menghadapinya.

Orang itu mengakui bahwa amalnya biasa-biasa saja, tetapi ia menyatakan memiliki kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah kemudian bersabda, Anta ma‘a man aḥbabta, engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.

Menurut Asep, hadis tersebut menunjukkan kedudukan penting cinta kepada Rasulullah. Akan tetapi, cinta tersebut tidak cukup berhenti pada pengakuan. Cinta perlu dibuktikan dengan upaya mengenal Nabi, memahami ajarannya, dan menjadikannya sebagai teladan.

“Kalau kita cinta kepada Rasulullah, insyaallah di akhirat kelak kita pun akan bersama Rasulullah saw,” katanya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/ketika-rasulullah-mencintai-umatnya-sudahkah-kita-mencintai-beliau/

Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

Dunia Digital Mengubah Cara Berinteraksi, Nilai Islam Tetap harus Menjadi Pedoman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia kini semakin sulit dipisahkan dari dunia digital. Media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai platform komunikasi telah menjadi bagian dari keseharian lintas generasi. Kondisi tersebut menghadirkan kemudahan sekaligus tantangan baru.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Talqis Nurdianto mengatakan, Islam memiliki prinsip-prinsip yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi perkembangan dunia digital. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari bahwa tidak seluruh informasi digital bersifat buruk, tetapi juga tidak semuanya dapat diterima begitu saja.

“Tidak semuanya isinya digital itu buruk, tapi juga ada yang baik. Tapi tidak semuanya baik. Maka kita menjadi filternya,” kata Talqis dalam podcast Indahnya Cahaya Islam, Senin (24/8).

Karena itu, pengguna media digital perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang menggunakan media sosial sebagai sumber pengetahuan dan berita. Talqis menekankan bahwa seseorang perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai persoalan yang sedang dicari agar mampu membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan.

Menurutnya, keterbatasan pengetahuan justru dapat membuat seseorang mudah digiring oleh arus informasi di media sosial. Alih-alih memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, seseorang dapat terbawa pada informasi yang menjauhkan dirinya dari persoalan sebenarnya.

Dalam konteks penggunaan AI, Talqis juga mengingatkan pentingnya tetap menghargai otoritas keilmuan. Perkembangan AI, menurutnya, tetap lahir dari pengetahuan dan kerja para pakar. Karena itu, keberadaan teknologi tidak semestinya membuat manusia meninggalkan sumber-sumber pengetahuan yang memiliki otoritas.

“Bagi kita yang kemudian ingin mendalami lebih orisinal kepada sumber utamanya, kita kembali ke pakar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu prinsip utama dalam menghadapi informasi digital adalah melakukan klarifikasi atau tabayyun. Setiap informasi yang diterima perlu diperiksa kembali sebelum dipercaya dan disebarkan. Prinsip tersebut, menurutnya, telah ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 6.

Tabayyun diperlukan karena informasi yang beredar di ruang digital tidak selalu benar. Bahkan, teknologi AI sendiri dapat menghasilkan informasi yang perlu dikonfirmasi kembali. Karena itu, pengguna teknologi tetap memiliki tanggung jawab untuk memeriksa sumber dan kualitas data yang diperoleh.

Setelah melakukan klarifikasi, prinsip berikutnya adalah menjaga kesantunan. Talqis mengingatkan bahwa etika komunikasi dalam Islam tidak berubah hanya karena medium komunikasinya berubah. Larangan mencela, merendahkan, atau menyakiti orang lain berlaku di dunia nyata maupun dunia maya.

Kekerasan verbal, misalnya, dapat muncul dalam bentuk komentar, unggahan, maupun perundungan di media sosial. Karena itu, perilaku di ruang digital tetap harus berada dalam koridor akhlak Islam.

“Kalau dulu mulutmu harimau, sekarang jarimu harimau,” kata Talqis menggambarkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan dari aktivitas seseorang di media sosial.

Talqis juga menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat memilih sumber keagamaan secara selektif berdasarkan kepentingan dan keinginan pribadi. Kemudahan mengakses berbagai ustaz dan referensi melalui internet membuat seseorang dapat memilih pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya.

Menurutnya, pola semacam ini dapat menyebabkan pemahaman agama menjadi tidak utuh. Seseorang bisa saja memilih satu pendapat ketika menguntungkan dirinya, kemudian berpindah kepada pendapat lain ketika menemukan pilihan yang dianggap lebih mudah.

Masalahnya bukan sekadar banyaknya pilihan, melainkan ketika pilihan tersebut ditentukan semata-mata oleh keinginan pribadi tanpa pertimbangan keilmuan yang memadai. Talqis menilai generasi sekarang perlu memperkuat kemampuan berpikir kritis agar tidak sekadar mencari referensi yang membenarkan keinginannya.

“Dia mencari referensi-referensi yang linier dengan keinginannya. Nah, ini kemudian menjadi berbahaya,” tegasnya.

Karena itu, belajar kepada guru tetap memiliki posisi penting meskipun teknologi telah menyediakan akses pengetahuan yang sangat luas. Media sosial dan teknologi dapat menjadi sarana belajar, tetapi hubungan dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan tidak semestinya ditinggalkan.

“Belajar dari sang guru itu tidak bisa ditinggalkan,” ujar Talqis. Ia menegaskan bahwa interaksi dengan media sosial maupun teknologi tetap perlu disertai proses belajar kepada guru.

Persoalan lain yang muncul di tengah masyarakat digital adalah berubahnya pola interaksi antarmanusia. Di ruang virtual, seseorang tidak selalu dapat mengetahui kondisi psikologis lawan bicaranya sebagaimana ketika berhadapan secara langsung. Bahkan, teknologi memungkinkan munculnya berbagai bentuk manipulasi terhadap realitas.

Talqis karena itu menekankan pentingnya kejujuran digital. Apa yang berlaku dalam kehidupan nyata pada prinsipnya juga berlaku di dunia maya. Jika suatu tindakan dianggap tidak patut dilakukan dalam kehidupan nyata, perubahan medium tidak otomatis menjadikannya boleh dilakukan di ruang digital.

Dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan, Talqis memperkenalkan istilah “khalwat digital”. Menurutnya, bentuk interaksi berdua-duaan yang dahulu terjadi secara fisik kini dapat berlangsung melalui ruang digital. Percakapan pribadi antara laki-laki dan perempuan yang mengarah pada dorongan nafsu tetap perlu dihindari karena dapat menjadi pintu munculnya fitnah dan perilaku menyimpang.

Untuk menjaga diri dari berbagai godaan tersebut, Talqis menawarkan konsep muraqabatullah, yakni kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini berbeda dari pengawasan eksternal seperti kamera pengawas. Muraqabatullah harus tumbuh dari dalam hati.

Menurut Talqis, kesadaran tersebut dapat dibangun dengan memperbanyak dan memperbaiki kualitas ibadah. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, ia akan lebih berhati-hati sebelum melakukan sesuatu di ruang digital.

Pada akhirnya, tantangan digital bukan persoalan satu generasi. Setiap generasi memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Generasi muda, misalnya, relatif unggul dalam kemampuan beradaptasi dengan teknologi karena tumbuh di tengah lingkungan digital. Namun, mereka belum tentu memiliki pengalaman yang cukup dalam mengambil keputusan.

Sebaliknya, generasi yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih panjang, tetapi tidak selalu secepat generasi muda dalam beradaptasi dengan teknologi. Karena itu, Talqis menilai hubungan antargenerasi seharusnya dibangun dalam semangat saling melengkapi, bukan saling memberi sekat.

“Harusnya tidak ada sekat. Maka ketika saling melengkapi ini, maka berinteraksi dengan digital menjadi lebih smooth, lebih baik,” tuturnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/dunia-digital-mengubah-cara-berinteraksi-nilai-islam-tetap-harus-menjadi-pedoman/

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

Menjadi Lansia Sehat dan Bahagia dalam Tuntunan Islam

MUHAMMADIHAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Tubuh yang sehat merupakan amanah Allah yang harus dijaga. Karena itu, menjaga kesehatan memiliki kaitan dengan cara seorang Muslim mensyukuri nikmat sekaligus menjalankan kehidupan sesuai tuntunan agama.

Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Joko Murdiyanto, dalam kajian di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Ahad (23/08). Mengangkat tema tentang hidup sehat dan bahagia, ia mengajak jamaah melihat kesehatan secara menyeluruh, mencakup kesehatan jasmani, sosial, dan spiritual.

Menurut Joko, manusia sering kali baru menyadari besarnya nikmat kesehatan ketika sebagian fungsi tubuh mulai terganggu. Padahal, setiap organ yang bekerja dalam tubuh merupakan karunia sekaligus titipan dari Allah. Karena itu, mengabaikan kesehatan berarti tidak menjalankan amanah tersebut dengan baik.

Ia mengajak jamaah untuk memulai kesadaran menjaga kesehatan dari kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari perilaku yang secara sadar merusak tubuh, termasuk kebiasaan merokok.

“Kenapa menzalimi diri, merusak kita?” ujarnya ketika mengingatkan jamaah agar meninggalkan kebiasaan yang membahayakan kesehatan.

Menjaga Pola Makan

Joko kemudian menjelaskan pentingnya mengatur pola konsumsi. Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi gula dan garam secara berlebihan yang dapat menimbulkan persoalan kesehatan. Menurutnya, perubahan pola makan dapat dimulai dari langkah sederhana, misalnya membiasakan minum teh atau kopi dengan sedikit gula atau tanpa gula.

Ia juga mengingatkan bahwa rasa terhadap makanan dan minuman dapat dibentuk melalui kebiasaan. Karena itu, perubahan menuju pola hidup sehat tidak harus dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai secara bertahap dan konsisten.

Dalam soal makanan, Joko mendorong jamaah untuk kembali memperbanyak konsumsi makanan alami. Ia mencontohkan pola makan generasi terdahulu yang dekat dengan sayuran, buah-buahan, dan makanan sederhana. Sebaliknya, ia menyayangkan kebiasaan anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa mengonsumsi makanan yang kurang sehat.

“Mestinya anak-anak itu kita latih untuk makan yang sehat, buah,” katanya.

Pola hidup sehat, menurut Joko, juga berkaitan dengan keseimbangan. Ia menggunakan istilah tawazun untuk menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Manusia memiliki waktu untuk beraktivitas dan beristirahat. Tubuh pun bekerja mengikuti ritme tertentu yang tidak semestinya diabaikan.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak membalik pola hidup secara terus-menerus dengan menjadikan malam sebagai waktu utama untuk beraktivitas dan siang sebagai waktu utama untuk tidur. Baginya, kehidupan yang sehat memerlukan keteraturan antara aktivitas, makan, dan istirahat.

Pentingnya Aktivitas Fisik, Bermasyarakat dan Beribadah

Salah satu kebiasaan yang mendapat perhatian khusus dalam kajian tersebut adalah pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui aktivitas fisik. Joko meminta jamaah, terutama mereka yang telah berusia lanjut, untuk tidak terlalu memanjakan tubuh dan kaki.

Berjalan kaki, menggunakan tangga, serta melakukan aktivitas fisik ringan dan teratur, menurutnya, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebugaran. Ia mengingatkan bahwa massa otot dapat berkurang ketika tubuh jarang digunakan untuk bergerak.

“Jangan manjakan kaki kita yang Allah amanahkan untuk menjadi sehat,” pesannya.

Ia bahkan mengajak jamaah melihat perjalanan menuju masjid sebagai kesempatan untuk memperoleh manfaat sekaligus. Bagi mereka yang tinggal dalam jarak terjangkau, berjalan kaki ke masjid dapat menjadi aktivitas fisik, sarana berzikir, dan bagian dari ibadah.

Dalam pandangannya, ajaran Islam sesungguhnya menyediakan banyak jalan menuju kehidupan yang baik. Karena itu, seorang Muslim memiliki banyak kesempatan untuk merawat kesehatan sambil menjalankan ibadah.

“Orang Islam itu kalau tidak sehat, orang Islam itu kalau tidak baik kok saya rugi. Karena jalan untuk sehat, jalan untuk baik itu banyak,” tuturnya.

Kesehatan, menurut Joko, tidak berhenti pada persoalan jasmani. Seseorang yang tekanan darah, gula darah, dan kolesterolnya baik belum tentu dapat disebut sehat sepenuhnya apabila ia menarik diri dari kehidupan sosial.

Ia mendorong jamaah untuk tetap aktif dalam masyarakat, menghadiri majelis, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan lingkungan, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain. Kehadiran dalam kehidupan sosial, katanya, dapat menjadi bagian dari kesehatan dan kebahagiaan manusia.

Di tengah pembahasan mengenai kesehatan fisik dan sosial, Joko menempatkan dimensi spiritual sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat Allah melalui zikir dan doa, menjaga salat, membaca Al-Qur’an, serta berpuasa, menurutnya, merupakan bagian dari jalan seorang Muslim untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak seharusnya dipandang sebagai beban. Sebaliknya, aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk terus mengingat Allah. Ketika berjalan, berkendara, atau melakukan pekerjaan, seorang Muslim masih dapat menghidupkan zikir dalam dirinya.

Joko juga mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi terhadap perkembangan spiritual dari waktu ke waktu. Seorang Muslim, menurutnya, perlu bertanya apakah kualitas salatnya semakin baik, apakah kedekatannya dengan Al-Qur’an semakin meningkat, dan apakah ibadah-ibadahnya menunjukkan kemajuan.

Ia menyebut perjalanan spiritual sebagai sebuah proses menuju peningkatan. Tujuannya bukan mencapai kesempurnaan dalam sekejap, melainkan memastikan bahwa kehidupan seorang Muslim terus bergerak ke arah yang lebih baik.

“Setiap tahun kita harus evaluasi diri, rapotan diri kita sendiri,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Joko menaruh perhatian besar pada salat. Baginya, memperbaiki salat merupakan pintu awal untuk memperbaiki kehidupan secara lebih luas.

“Kalau kita ingin memperbaiki hidup dan kehidupan kita, perbaiki salat kita. Titik,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa ketika salat diperbaiki, seorang Muslim akan lebih mudah memperbaiki ibadah lainnya, mulai dari puasa, salat sunah, hingga kedekatan dengan Al-Qur’an.

Selain menjaga hubungan dengan Allah, Joko mengingatkan pentingnya membangun kebahagiaan melalui kepedulian kepada sesama. Ia menceritakan sebuah penelitian yang, menurut penuturannya, menunjukkan bahwa berbagi kepada orang lain dapat menimbulkan rasa bahagia.

Pesan yang ingin ditekankannya sederhana, kebahagiaan tidak selalu ditemukan dengan terus-menerus memusatkan perhatian pada diri sendiri. Ada kebahagiaan yang justru tumbuh ketika seseorang mampu membuat orang lain merasa terbantu dan bahagia.

“Kalau kita ingin bahagia, bahagiakan orang lain walaupun itu sekadar senyuman,” katanya.

Di akhir kajian, Joko merangkum seluruh pesannya dalam satu ajakan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, ajaran Islam memberikan panduan yang luas, mulai dari cara menjaga tubuh, mengatur makan, bergerak, beristirahat, beribadah, bersosialisasi, hingga berbagi kepada sesama.

“Kalau kita ingin sehat, kita ingin bahagia, ikuti perintah-perintah Rasul. Titik,” ujarnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/menjadi-lansia-sehat-dan-bahagia-dalam-tuntunan-islam/

Soal Muhasabah, Kita Sering Menunggu Musibah

Soal Muhasabah, Kita Sering Menunggu Musibah

Manusia sebenarnya tahu banyak tentang hidup. Tahu bahwa usia terbatas, kesehatan bisa berganti sakit, orang-orang yang hari ini bersama kita suatu waktu dapat pergi, dan apa yang dimiliki sekarang belum tentu masih berada dalam genggaman esok hari. Masalahnya, mengetahui tidak selalu berarti menyadari.

Selama semuanya berjalan normal, nasihat tentang kefanaan mudah terdengar seperti kalimat yang sudah terlalu sering diulang. Kita tetap sibuk mengejar yang belum dimiliki, memikirkan banyak hal yang belum tentu terjadi, lalu merasa masih punya cukup waktu untuk memperbaiki diri. Lebih rajin bisa nanti, meminta maaf bisa nanti, lebih peduli bisa nanti, bahkan bertobat pun sering diletakkan pada suatu waktu yang kita sebut nanti.

Musibah kemudian mempunyai cara tersendiri untuk mengusik keyakinan itu. Sesuatu yang sebelumnya terasa begitu penting mendadak kehilangan nilainya. Kita lebih mudah mengingat Allah, lebih dekat dengan doa, memikirkan kembali kematian, dan mulai melihat hidup dari ukuran yang berbeda. Namun ketika keadaan kembali tenang, kesadaran itu tidak jarang ikut mereda.

Musibah sebagai I‘tibar

Lebih dari dua dekade lalu, Suara Muhammadiyah memuat khutbah Jumat Abdul Malik Fadjar berjudul “Bersegera Bertaubat Sebelum Bencana Lebih Dahsyat”. Abdul Malik Fadjar dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan pendidikan nasional yang pernah mengemban amanah sebagai Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional.

Khutbah tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai musibah yang terjadi ketika itu. Namun Abdul Malik Fadjar tidak berhenti pada rasa takut terhadap bencana. Dengan mengutip QS. Al-Hasyr ayat 2, ia mengajak jamaah mengambil i‘tibar, menjadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran untuk melihat kembali kehidupan.

Ajakan bermuhasabah itu kemudian dibawa lebih jauh. Dengan QS. Ar-Rum ayat 41, Abdul Malik Fadjar menyinggung kerusakan yang lahir dari perbuatan manusia dan menghubungkannya dengan persoalan sosial seperti kejahatan, korupsi, pembunuhan, perampokan, rusaknya ukhuwah, hingga hukum yang semakin diremehkan.

Pembacaan seperti ini tentu perlu ditempatkan secara hati-hati. Kita tidak dapat menarik garis lurus bahwa setiap bencana merupakan hukuman atas dosa masyarakat tertentu. Fikih Kebencanaan Muhammadiyah membedakan peristiwa yang lahir dari dinamika alam dengan bencana yang berkaitan dengan perilaku manusia. Gempa bumi, misalnya, terjadi melalui mekanisme alam, sementara kerentanan dapat diperbesar ketika manusia salah memperhitungkan risiko atau mengeksploitasi lingkungan.

Karena itu, musibah tidak semestinya menjadi kesempatan untuk mengadili mereka yang sedang menderita. Dalam Fikih Kebencanaan, musibah dapat dipahami sebagai ujian dan ketetapan Allah yang tetap berada dalam cakupan kasih sayang-Nya. Orang yang tertimpa musibah tidak otomatis lebih buruk daripada mereka yang sedang berada dalam keadaan aman.

Justru di sinilah muhasabah menemukan arahnya. Pertanyaan tentang bencana tidak selalu harus diarahkan kepada orang lain. Ada saatnya ia dikembalikan kepada diri sendiri. Apakah penderitaan orang lain membuat kita semakin mudah menilai atau justru semakin tergerak untuk menolong.

Muhasabah Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Khutbah Abdul Malik Fadjar menarik karena ajakan untuk “kembali” tidak berhenti pada urusan pribadi. Ia mengajak manusia kembali kepada jalan Rasulullah, mengubah kefasikan dan kebakhilan menjadi ketaatan serta kedermawanan, tidak mengikuti pemimpin dan pembesar dengan taklid buta, serta keluar dari keengganan mendengar dan memahami Al-Qur’an.

Di sini muhasabah mempunyai dimensi sosial. Kita mungkin cukup terbiasa memeriksa dosa pribadi, tetapi belum tentu memiliki kegelisahan yang sama ketika kelalaian tumbuh menjadi kebiasaan bersama, keserakahan memperoleh pembenaran, atau keputusan yang keliru terus diwariskan tanpa koreksi.

Fikih Kebencanaan menyebut salah satu persoalan tersebut sebagai “dosa sosiologis”, ketika manusia salah memperhitungkan alam dan harus berhadapan dengan akibat dari pilihannya. Alam memiliki hukum dan batasnya sendiri. Manusia tidak mampu menghilangkan seluruh risiko, tetapi dapat memperkecil ataupun memperbesar dampaknya melalui cara membangun, mengelola lingkungan, dan mengambil keputusan.

Dalam konteks itu, QS. Ar-Rum ayat 41 menjadi relevan.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”

Takdir Tidak Menghapus Ikhtiar

Kata “kembali” di penghujung ayat itu menjadi penting. Muhasabah tidak selesai pada rasa takut dan penyesalan. Kalau ada yang salah, sesuatu harus diperbaiki. Jika kerusakan lahir dari keserakahan, cara memperlakukan alam perlu berubah. Jika keselamatan dikalahkan kepentingan, prioritas harus ditata ulang. Jika ilmu telah menunjukkan adanya risiko, tawakal tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikannya.

Keimanan kepada takdir tidak menghapus ikhtiar. Manusia memang tidak mampu mencegah seluruh peristiwa alam, tetapi diberi akal dan ilmu untuk mengenali risiko, mempersiapkan diri, serta mengurangi dampaknya.

Doa, ilmu, dan ikhtiar karena itu tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Kita memohon perlindungan kepada Allah sambil mempersiapkan keselamatan, bertawakal sambil membaca risiko, serta mengakui keterbatasan manusia tanpa menjadikannya alasan untuk lalai.

Mereka Diuji, Kita Pun Diuji

Muhasabah juga tidak hanya berlaku kepada mereka yang tertimpa musibah. Ketika seseorang diuji dengan kehilangan, orang yang masih memiliki banyak hal diuji dengan kepedulian. Ketika ada yang membutuhkan pertolongan, mereka yang hidup dalam kenyamanan diuji dengan kepekaannya.

Di sinilah semangat Al-Ma’un menjadi nyata. Iman tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan hikmah sebuah musibah, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir. Ada kalanya makanan, tempat berlindung, bantuan tenaga, atau pendampingan jauh lebih dibutuhkan daripada penjelasan panjang tentang mengapa penderitaan terjadi.

Pada bagian akhir khutbahnya, Abdul Malik Fadjar mengingatkan jamaah agar tidak enggan mendengar dan memahami peringatan Al-Qur’an. Pesannya terasa dekat hingga hari ini. Persoalan manusia sering kali bukan karena tidak pernah mendengar nasihat, melainkan karena terlalu terbiasa mendengarnya tanpa merasa harus berubah.

Jangan Menunggu Kehilangan

Kita tahu alam harus dijaga, hubungan perlu dirawat, kesehatan berharga, dan hidup mempunyai batas. Namun semua itu sering baru terasa mendesak ketika sesuatu mulai hilang.

Padahal muhasabah tidak harus menunggu kehidupan mengguncang kita. Hari yang tenang justru memberi ruang terbaik untuk berbenah, ketika keluarga masih lengkap, tubuh masih sehat, kesempatan masih tersedia, dan tidak ada kehilangan yang memaksa.

Kita tidak pernah benar-benar kekurangan nasihat. Yang sering kurang adalah kesediaan untuk menjalankannya sebelum terlambat.

Sebab tidak semua pelajaran harus datang bersama kehilangan.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/soal-muhasabah-kita-sering-menunggu-musibah/

Tak harus istirahat total, ini cara atur pemulihan usai olahraga

Tak harus istirahat total, ini cara atur pemulihan usai olahraga

Jakarta (ANTARA) – Tubuh tidak harus pulih sepenuhnya sebelum seseorang kembali berolahraga. Rasa lelah ringan setelah latihan sebelumnya merupakan hal yang normal selama intensitas dan beban latihan tetap disesuaikan.

Melansir Lifehacker pada Selasa (18/8), ​​​​​​Senior Health Editor laman tersebut, Beth Skwarecki yang juga seorang personal trainer bersertifikasi, menjelaskan bahwa kebutuhan pemulihan bergantung pada seberapa sering dan seberapa berat seseorang berolahraga. Karena itu, mengambil hari istirahat setiap kali tubuh terasa sedikit lelah bukan satu-satunya cara untuk mengatur pemulihan.

Bagi pemula, jeda satu hari di antara sesi latihan dapat membantu mengatur beban latihan. Strategi tersebut membuat tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi sekaligus mencegah terlalu banyak hari latihan berat dalam satu pekan.

Namun menurutnya, setelah rutin berolahraga selama beberapa bulan, tubuh biasanya mampu melakukan aktivitas dengan intensitas ringan pada hari yang sebelumnya dianggap sebagai hari istirahat. Pelari berpengalaman, misalnya, dapat melakukan lari ringan secara rutin. Dalam latihan angkat beban, seseorang juga dapat mengatur jadwal dengan melatih bagian tubuh yang berbeda pada hari lain.

Kunci utamanya adalah mengatur total beban latihan. Latihan dengan intensitas tinggi dapat diselingi sesi yang lebih ringan, seperti latihan teknik, kardio ringan, atau latihan tambahan dengan beban yang lebih rendah.

Pada latihan untuk olahraga ketahanan, prinsip serupa dapat diterapkan dengan mengatur variasi jarak dan intensitas. Latihan berat seperti lari cepat atau lari jarak jauh dapat ditempatkan pada hari tertentu, sementara hari lainnya diisi dengan latihan ringan.

Sedikit penurunan kemampuan dari satu sesi ke sesi berikutnya juga tidak selalu menunjukkan seseorang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Skwarecki mencontohkan, seseorang yang mampu melakukan 10 push-up pada Senin dan hanya tujuh repetisi pada Rabu masih berada dalam kondisi yang wajar.

Namun, kelelahan yang terus-menerus dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak waktu pemulihan. Peningkatan beban latihan secara drastis dalam waktu singkat juga dapat membuat seseorang berlatih terlalu keras.

Pemulihan penuh tetap memiliki manfaat ketika seseorang membutuhkan performa terbaik, misalnya sebelum perlombaan atau kompetisi angkat beban. Atlet biasanya mengurangi volume latihan menjelang kompetisi agar tubuh dapat mengurangi kelelahan tanpa kehilangan hasil latihan yang sudah diperoleh.

Untuk lomba maraton, Skwarecki menyarankan periode pengurangan latihan atau tapering dapat berlangsung sekitar tiga pekan. Pada lomba 5 kilometer, periode tersebut dapat berlangsung hanya satu hingga dua hari. Sementara untuk kompetisi angkat beban, pengurangan latihan dapat dilakukan sekitar satu hingga dua pekan sebelum pertandingan.

Dengan demikian, menurutnya, latihan tidak harus selalu menunggu tubuh berada dalam kondisi pulih 100 persen. Mengatur variasi intensitas, durasi, dan frekuensi latihan dapat membantu tubuh tetap aktif sekaligus memberikan waktu pemulihan yang cukup.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5710645/tak-harus-istirahat-total-ini-cara-atur-pemulihan-usai-olahraga

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Jakarta (ANTARA) – Secangkir kopi pada pagi hari dapat membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus berpotensi mendukung kesehatan otak dalam jangka panjang, menurut laporan Eating Well pada Selasa (25/8) waktu setempat.

Kandungan kafein dan polifenol dalam kopi disebut dapat membantu meningkatkan konsentrasi sekaligus dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Ahli gizi Talia Follador, RDN, LDN, menjelaskan kafein bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa dalam otak yang mendorong rasa kantuk.

Satu cangkir kopi seduh berukuran sekitar 237 mililiter mengandung rata-rata 96 miligram kafein. Penelitian menunjukkan konsumsi satu hingga dua cangkir kopi atau hingga sekitar 200 miligram kafein dapat membantu meningkatkan waktu reaksi dan akurasi pada orang dewasa sehat.

Namun, konsumsi kafein dalam jumlah lebih tinggi tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Dosis 300 miligram atau lebih menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan dapat meningkatkan rasa gelisah atau tubuh terasa gemetar.

Ahli gizi Caitlin Beale, M.S., RDN, mengatakan kopi kaya akan antioksidan yang membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada otak. Kopi juga dapat mendukung aliran darah ke otak.

Sebuah penelitian populasi besar yang dikutip Eating Well menemukan bahwa peminum kopi harian memiliki risiko demensia terkait Alzheimer 34 persen lebih rendah dan risiko Parkinson 37 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Namun, manfaat tersebut terlihat pada konsumsi kopi berkafein tanpa tambahan gula.

Follador juga mengatakan konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi berkafein per hari dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dan hasil kognitif yang lebih baik.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa kopi dapat mencegah demensia atau penurunan fungsi kognitif. Penelitian jangka panjang terhadap lebih dari 130.000 orang selama 43 tahun menemukan bahwa kelompok dengan konsumsi kafein dari kopi tertinggi memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi sangat sedikit atau tanpa kafein.

Ahli gizi Johannah Katz, M.A., RD, menyarankan konsumsi kopi dilakukan pada pagi atau awal siang hari agar kafein membantu meningkatkan kewaspadaan tanpa mengganggu tidur malam. Ia juga menyarankan memberikan jarak sekitar sembilan jam antara konsumsi kopi terakhir dan waktu tidur.

Katz juga mengingatkan setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan konsumsi kafein tidak lebih dari 400 miligram per hari bagi orang dewasa, meski jumlah tersebut belum tentu dapat ditoleransi semua orang.

Bagi orang yang tidak dapat mengonsumsi kopi, para ahli menyarankan teh hijau atau hitam, air putih, dan kefir sebagai alternatif minuman yang dapat mendukung kesehatan otak. Teh mengandung kafein dalam jumlah lebih rendah serta polifenol, sementara kefir menyediakan probiotik yang mendukung kesehatan mikrobioma usus dan kaitannya dengan otak.

Follador mengatakan menjaga hidrasi dengan minum air juga membantu komunikasi sel otak, aliran darah, serta pengiriman nutrisi ke otak yang berperan dalam menjaga fokus dan konsentrasi.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5711473/ahli-ungkap-manfaat-kopi-pagi-bagi-konsentrasi-dan-kesehatan-otak

Waktu Terbaik Olahraga Berbeda pada Tiap Orang, Ini Alasannya

Waktu Terbaik Olahraga Berbeda pada Tiap Orang, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta – Masih banyak orang yang mempertanyakan waktu terbaik untuk berolahraga di tengah kesibukan sehari-hari. Sebagian orang percaya pagi hari merupakan waktu yang ideal karena tubuh masih segar dan belum dipengaruhi berbagai aktivitas.

Di sisi lain, ada yang lebih memilih berolahraga pada sore atau malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan. Lantas, adakah waktu yang benar-benar paling efektif untuk memaksimalkan manfaat olahraga?

Menurut para ahli, seperti dikutip dari Healthline pada Jumat, 3 Juli 2026, jawabannya tidak sesederhana memilih antara pagi atau sore. Tidak ada satu waktu yang paling tepat untuk semua orang.

Waktu terbaik untuk berolahraga bergantung pada berbagai faktor, seperti tujuan kebugaran, kondisi fisik, ritme biologis, tingkat energi, serta rutinitas harian masing-masing individu.

Karena itu, berolahraga secara teratur pada waktu yang sesuai dengan gaya hidup akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan memaksakan diri berolahraga pada waktu tertentu yang sulit dijalani.

Meski demikian, setiap waktu memiliki kelebihan tersendiri. Olahraga pagi dapat membantu membangun kebiasaan karena kemungkinan terganggu oleh agenda lain sepanjang hari lebih kecil. Sementara itu, olahraga pada sore hingga awal malam dapat mendukung performa fisik karena suhu tubuh berada pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga otot menjadi lebih hangat dan fleksibel.

Lalu, apa saja manfaat olahraga pada pagi, sore, dan malam hari?

Olahraga Pagi

Berolahraga pada pagi hari merupakan pilihan baik bagi individu yang ingin membangun pola hidup sehat sekaligus mencapai tujuan kebugaran dalam jangka panjang. Sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang rutin berolahraga pada pagi hari cenderung lebih konsisten karena dapat menyelesaikan sesi latihan sebelum berbagai aktivitas lain mengganggu waktu mereka.

Selain itu, olahraga pagi dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati, energi, dan produktivitas sepanjang hari, seperti dikutip dari Lifestyle Liputan6.com pada Senin, 24 Agustus 2026.

Aktivitas fisik pada pagi hari juga memberikan manfaat bagi metabolisme tubuh. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berolahraga sebelum sarapan dapat meningkatkan pembakaran lemak dan membantu mengatur nafsu makan, yang pada akhirnya dapat mendukung program penurunan berat badan.

Olahraga pagi juga dikaitkan dengan peningkatan kualitas tidur. Namun, suhu tubuh pada pagi hari masih relatif rendah sehingga penting melakukan pemanasan dinamis secara bertahap. Langkah ini membantu mempersiapkan otot untuk bergerak sekaligus mengurangi risiko cedera.

Olahraga Sore

Jika tujuan Anda adalah memperkuat otot melalui angkat beban atau latihan berintensitas tinggi, sore hari dapat menjadi waktu yang tepat untuk berolahraga. Pada waktu ini, suhu tubuh biasanya lebih tinggi sehingga otot menjadi lebih hangat dan fleksibel.

Kondisi tersebut dapat mendukung kekuatan, koordinasi, kecepatan reaksi, dan daya tahan fisik. Dengan demikian, latihan seperti angkat beban dan high-intensity interval training (HIIT) dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Kemampuan tubuh dalam menyerap dan memanfaatkan oksigen juga cenderung lebih baik pada sore hari. Kondisi ini dapat membuat latihan berat terasa lebih nyaman sekaligus membantu meningkatkan performa fisik.

Agar sesi latihan tidak terganggu oleh aktivitas lain, rencanakan waktu olahraga sejak awal. Pastikan pula mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang mengandung karbohidrat dan protein, agar energi tetap terjaga selama berolahraga.

Olahraga Malam

Olahraga pada malam hari memiliki sejumlah manfaat, terutama membantu meredakan stres dan mengurangi kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Namun, para ahli mengingatkan agar latihan berintensitas tinggi tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu tidur. Pasalnya, aktivitas tersebut dapat meningkatkan detak jantung dan suhu tubuh sehingga tubuh lebih sulit rileks.

Jika memilih berolahraga pada malam hari, sebaiknya selesaikan latihan setidaknya dua hingga tiga jam sebelum tidur.

Pilih aktivitas dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti yoga, peregangan, atau latihan kekuatan ringan. Akhiri sesi dengan pendinginan dan pastikan tubuh tetap terhidrasi agar kualitas tidur tetap terjaga.

Pada akhirnya, tidak ada satu waktu yang paling ideal untuk semua orang. Waktu terbaik untuk berolahraga adalah waktu yang sesuai dengan rutinitas, kondisi fisik, dan tingkat energi masing-masing individu sehingga olahraga dapat dilakukan secara konsisten.

Konsistensi dalam berolahraga memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar berfokus pada waktu latihan. Karena itu, temukan waktu yang paling sesuai agar olahraga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang dapat dijalani secara rutin dan berkelanjutan.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/diet-dan-kebugaran/read/8276850/waktu-terbaik-olahraga-berbeda-pada-tiap-orang-ini-alasannya