Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Liputan6.com, Jakarta – Decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan menjadi kondisi yang semakin sering dialami ketika seseorang harus menghadapi banyak pilihan dalam satu hari. Memilih menu makan siang, menentukan pakaian yang dikenakan, hingga memutuskan kapan harus membalas pesan mungkin terlihat sebagai hal sederhana.

Namun, keputusan-keputusan kecil yang terus menumpuk dapat membuat otak kehilangan energi untuk memproses pilihan berikutnya. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan seseorang dalam membuat keputusan mulai menurun setelah dihadapkan pada banyak pilihan dalam waktu berdekatan.

Akibatnya, seseorang dapat mengambil keputusan secara terburu-buru, merasa ragu, bahkan memilih untuk menghindari keputusan sama sekali, melansir Cleveland Clinic, Rabu, 5 Agustus 2026.

Setiap keputusan membutuhkan energi mental. Semakin banyak pilihan yang harus dipertimbangkan, semakin besar pula beban yang diterima otak. Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan aktivitas berikutnya.

Decision fatigue tidak hanya dialami oleh orang dengan tanggung jawab besar dalam pekerjaan. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja ketika menjalani hari yang dipenuhi berbagai pilihan, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, hingga aktivitas pribadi.

Mengenali tanda-tanda decision fatigue menjadi langkah awal untuk menjaga energi mental. Kondisi ini dapat dikurangi dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti menentukan prioritas, membatasi pilihan yang kurang penting, dan membuat rutinitas harian agar otak memiliki ruang untuk fokus pada keputusan yang lebih bermakna.

Kurangi Pilihan yang Tidak Perlu

Salah satu cara mengurangi decision fatigue adalah membatasi jumlah keputusan yang perlu diambil setiap hari. Pilihan sederhana, seperti menentukan pakaian, menyusun menu makan, atau mengatur jadwal aktivitas, dapat dibuat lebih praktis melalui rutinitas.

Kebiasaan ini membantu menghemat energi mental agar otak tetap fokus pada keputusan yang lebih penting. Selain itu, menyusun prioritas juga dapat membuat pikiran lebih terarah.

Buat daftar tugas sejak pagi, lalu tentukan pekerjaan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu dan hal-hal yang masih bisa ditunda. Dengan mengurangi keputusan kecil yang berulang, seseorang dapat menjaga kualitas berpikir dan lebih siap menghadapi pilihan besar yang membutuhkan perhatian lebih.

Istirahatkan Pikiran

Memberikan waktu istirahat di sela aktivitas dapat membantu mengurangi kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan. Ketika otak terus bekerja tanpa jeda, kemampuan untuk berpikir jernih dapat menurun sehingga seseorang lebih rentan mengambil keputusan secara impulsif atau merasa kesulitan menentukan pilihan.

Berjalan kaki sejenak, melakukan peregangan, menarik napas dalam, atau menjauh dari layar komputer selama beberapa menit dapat membantu mengembalikan fokus. Selain itu, tidur yang cukup juga penting karena otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah menjalani berbagai aktivitas.

Tubuh dan pikiran yang lebih segar membuat seseorang mampu mempertimbangkan pilihan dengan lebih tenang dan rasional. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas keputusan sekaligus meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.

Kenali Batas Diri

Ketika pikiran mulai terasa penuh atau emosi sedang tidak stabil, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat menjadi langkah yang bijak. Waktu sejenak untuk berhenti membantu seseorang berpikir lebih tenang dan mengurangi risiko membuat pilihan secara terburu-buru.

Selain mengelola pikiran, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga berperan penting. Mengonsumsi makanan secara teratur, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga, serta memiliki waktu istirahat yang cukup dapat membantu menjaga energi fisik dan fungsi otak.

Kondisi tubuh yang lebih sehat membuat seseorang lebih siap menghadapi berbagai pilihan dalam keseharian. Jika kelelahan mental mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8262550/decision-fatigue-saat-terlalu-banyak-pilihan-membuat-pikiran-lelah-dan-emosi-terkuras

Primal Movement: Saat Gerakan Dasar Tubuh Jadi Kunci Kebugaran

Primal Movement: Saat Gerakan Dasar Tubuh Jadi Kunci Kebugaran

Liputan6.com, Jakarta – Primal movement merupakan tren olahraga yang mengajak tubuh kembali pada pola gerakan dasar yang sebenarnya sudah dilakukan manusia sejak lama dalam aktivitas sehari-hari.

Pada masa ketika olahraga belum menjadi bagian khusus dari rutinitas, aktivitas fisik sudah melekat dalam kehidupan. Manusia perlu berjalan jauh, mengangkat benda berat, hingga membangun tempat tinggal. Gerakan tersebut membuat tubuh terbiasa bekerja secara aktif tanpa membutuhkan sesi latihan khusus.

Primal movement mengambil inspirasi dari kondisi tersebut. Latihan ini berfokus pada kemampuan tubuh untuk menjalankan gerakan fundamental secara lebih baik. Pendekatan tersebut bukan berarti seseorang harus meninggalkan rutinitas olahraga yang sudah dijalankan.

Gerakan dasar justru dapat menjadi fondasi dari berbagai jenis latihan yang sudah familiar. Istilah primal movement merujuk pada tujuh pola gerakan utama yang terdiri dari pushpulltwistsquathingelunge, dan gait.

Setiap gerakan memiliki fungsi yang berbeda dalam membantu tubuh melakukan aktivitas fisik secara lebih efisien, melansir Men’s Health, Rabu, 26 Agustus 2026.

Primal movement melatih tubuh untuk memahami kembali pola gerak yang digunakan dalam berbagai aktivitas. Pendekatan ini membuat latihan tidak hanya berorientasi pada kekuatan, melainkan pada koordinasi, keseimbangan, keluwesan, dan kontrol tubuh yang menjadi bagian yang diperhatikan.

Primal Movement mengajak seseorang untuk memberikan perhatian lebih pada kemampuan tersebut melalui latihan yang terstruktur.

Mengapa Gerakan Dasar Penting untuk Tubuh?

Latihan dengan pola gerakan dasar dapat membantu seseorang memahami cara tubuh bekerja ketika melakukan aktivitas fisik. Fokus pada teknik membuat setiap gerakan dilakukan secara lebih terarah. Tubuh juga dapat belajar menggunakan kekuatan dengan cara yang lebih efisien.

Primal movement memiliki kemiripan dengan konsep functional training. Perbedaannya terletak pada perhatian yang lebih besar terhadap pola gerak fundamental. Kemampuan tersebut dapat berguna ketika seseorang melakukan aktivitas sederhana di luar tempat latihan.

Popularitas primal movement turut dipengaruhi oleh meningkatnya perhatian terhadap latihan yang terasa lebih relevan dengan aktivitas sehari-hari. Konsep ini tidak menempatkan olahraga semata-mata sebagai cara membentuk otot atau mengejar target tertentu, tetapi juga melihat kualitas gerak sebagai bagian penting dari kebugaran.

7 Gerakan Dasar yang Bisa Dilatih

Push-upinverted rowspiderman lunge with thoracic rotationair squat, Romanian deadlift, lunge, dan farmer’s walk menjadi tujuh latihan yang dapat digunakan untuk melatih pola gerak dasar dalam konsep primal movement. Setiap latihan memiliki karakter berbeda, mulai dari penggunaan berat badan hingga tambahan beban eksternal.

Rangkaian tersebut mencakup latihan untuk tubuh bagian atas, tubuh bagian bawah, mobilitas, keseimbangan, serta kemampuan mempertahankan posisi tubuh ketika bergerak. Push-up dan inverted row dapat menjadi pilihan untuk melatih kekuatan tubuh bagian atas.

Spiderman lunge with thoracic rotation memberikan kombinasi gerakan kaki dan rotasi tubuh. Air squat membantu membangun dasar pola jongkok, sedangkan Romanian deadlift menekankan pergerakan dari pinggul.

Lunge melatih gerakan secara unilateral, sementara farmer’s walk menggabungkan aktivitas membawa beban dengan gerakan berjalan. Ketujuh latihan tersebut dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan pengalaman berolahraga.

Cara Memasukkan Primal Movement ke Rutinitas Olahraga

Konsep primal movement tidak mengharuskan seseorang membuat program latihan yang sepenuhnya baru. Pola gerak dasar tersebut sebenarnya sudah dapat ditemukan dalam berbagai jenis latihan yang umum dilakukan di pusat kebugaran maupun di rumah.

Pendekatan ini lebih menekankan perhatian terhadap cara tubuh bergerak daripada sekadar menambah jumlah latihan dalam satu sesi. Penguasaan teknik dapat menjadi dasar sebelum seseorang meningkatkan beban, intensitas, atau jumlah repetisi.

Latihan dengan konsep tersebut juga dapat disesuaikan berdasarkan tujuan kebugaran. Seseorang yang baru mulai berolahraga dapat menggunakan variasi berat badan terlebih dahulu untuk mengenali pola gerakan.

Individu yang sudah terbiasa berlatih dapat menambahkan beban atau mengubah tingkat kesulitan sesuai kemampuan. Penyesuaian tersebut membuat latihan tetap fleksibel tanpa menghilangkan prinsip utama primal movement.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8277775/primal-movement-saat-gerakan-dasar-tubuh-jadi-kunci-kebugaran

Nonton Film Porno Bisa Merusak Hati, Ini Penjelasan dalam Islam

Nonton Film Porno Bisa Merusak Hati, Ini Penjelasan dalam Islam

Jakarta – Akses informasi dan media digital yang serba cepat kerap memberi kemudahan sekaligus tantangan baru bagi umat Islam. Salah satu isu yang sering menjadi perhatian adalah hukum serta dampak dari kebiasaan mengonsumsi konten pornografi atau film dewasa.

Secara tegas, Islam melarang umatnya menyaksikan film porno. Ibadah dan kesehatan spiritual seorang muslim sangat bergantung pada kebersihan hati, sementara tontonan bermuatan maksiat dinilai dapat mengotori hati, memicu halusinasi, hingga merusak akhlak.

Hukum Menonton Film Porno Menurut Fikih dan Syariat

Mengutip buku Mengembangkan Fikih Sosial karya Jamal Ma’mur Asmani yang membahas pemikiran KH M.A. Sahal Mahfudh, hukum menyaksikan film dewasa adalah haram. Penetapan hukum ini berlandaskan pada kaidah fikih sadd adz-dzara’i (tindakan preventif untuk menyumbat pintu kemaksiatan) serta kaidah lil-wasa’il hukm al-maqashid (hukum sarana mengikuti hukum tujuan).

Karena film porno membangkitkan syahwat dan menjadi perantara yang sangat kuat menuju perbuatan zina, maka sarana tersebut otomatis dihukumi haram. Islam secara tegas melarang perbuatan zina maupun segala pintu yang mendekatinya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Selain itu, Al-Qur’an secara spesifik memerintahkan setiap muslim-baik laki-laki maupun perempuan-untuk menjaga pandangan (ghadhul bashar) dan memelihara kehormatan diri. Perintah ini tertuang dalam Surah An-Nur ayat 30-31:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur: 30)

Ulama terkemuka Syekh Yusuf Al-Qardhawi dalam karyanya Karakteristik Islam: Kajian Analitik menegaskan bahwa aurat-terutama kemaluan-haram diperlihatkan kepada orang lain yang bukan haknya. Perantara seperti layar smartphone, televisi, atau komputer tidak mengubah hukum dasar tersebut. Menontonnya di layar tetap diqiyaskan sebagai tindakan melihat aurat bukan muhrim secara langsung.

Sementara itu, Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan adanya konsensus (ijmak) para ulama terkait keharaman melihat aurat sesama jenis maupun lawan jenis. Hal ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

Artinya: “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain. Janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita lain.” (HR Muslim)

Bagaimana Hukumnya bagi Pasangan Suami Istri?

Sebagian orang menganggap menonton film porno bersama pasangan halal dilakukan untuk membangkitkan gairah. Namun, para ulama menegaskan bahwa hukumnya tetap haram.

Status pernikahan tidak menghalalkan seseorang untuk memandang aurat orang asing (pemeran dalam film) yang bukan mahramnya. Media digital hanyalah perantara, sehingga batasan ghadhul bashar tetap berlaku.

Ditinjau dari sisi psikologis dan keharmonisan rumah tangga, kebiasaan ini juga membawa dampak buruk. Berdasarkan riset Ria Amanda Putri dan Aqeela Adhyanie Hernowo dalam Jurnal Pendidikan Islam (Vol. 2 No. 4, Desember 2024) bertajuk Pengaruh Konten Pornografi Terhadap Kesehatan Otak dan Mental dalam Perspektif Islam, pecandu pornografi cenderung membangun ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangannya.

Ekspektasi semu tersebut memicu rasa tidak puas, menurunkan kualitas komunikasi dan keintiman, hingga meningkatkan risiko keretakan rumah tangga dan perselingkuhan.

Dampak Menonton Film Porno

Tidak hanya merusak kesucian hati dan iman, mengonsumsi tontonan dewasa berulang kali juga menimbulkan ilusi serta halusinasi pada otak. Sebagaimana dijelaskan Abdel Wahab Bouhdiba dalam buku Sexuality in Islam, paparan pornografi mengaktifkan emosi dan syahwat secara tidak alami yang setara efek buruknya dengan perbuatan zina.

Dikutip dari laporan Times of India, dampak negatif pornografi dari sisi kesehatan dan sosial meliputi:

  • Gangguan disfungsi seksual dan ketidakpuasan dalam hubungan suami istri.
  • Mengganggu kontrol emosi serta memicu sifat mudah marah.
  • Menurunnya kemampuan bersosialisasi dan menarik diri dari lingkungan.
  • Meningkatkan risiko perilaku seks bebas yang memicu penyakit menular berbahaya seperti HIV, gonore, dan sifilis.

Tips Mengatasi Kecanduan Film Porno Menurut Buya Yahya
Menyadari kesalahan dan bertekad untuk berubah merupakan langkah awal yang mulia. Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Al-Bahjah TV bertajuk “Ingin Berhenti Kecanduan Pornografi, Bagaimana Caranya?”, Buya Yahya membagikan sejumlah langkah praktis bagi siapa saja yang ingin terbebas dari kebiasaan buruk ini:

1. Perbanyak Istighfar

Langkah awal untuk membersihkan kotoran dosa di dalam hati adalah bertobat dan memperbanyak istighfar. Allah SWT berjanji mengampuni hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertobat, sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 110:

وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Artinya: “Dan barang siapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Pertama, banyak istighfar, karena itu adalah sebuah kesalahan. Istighfar yang banyak agar bersih hati,” terang Buya Yahya.

2. Disiplin Menjaga Pandangan

Latih diri untuk membentengi mata dari hal-hal yang tidak pantas. Dorongan nafsu sering kali muncul karena sengaja dipancing melalui tontonan media digital.

“Sebetulnya syahwat Anda tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kan Anda sendiri, Anda mengundang syahwat di saat tidak ada pelampiasan. Dengan menonton film dewasa, berarti yang mengundang hawa nafsu kan Anda,” tegas Buya Yahya.

3. Menyibukkan Diri dengan Aktivitas Ibadah dan Positif

Niat berhenti harus diimbangi dengan mengalihkan waktu ke kegiatan bermanfaat. Rutinkan ibadah harian mulai dari berwudhu, memperbanyak sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, hingga berpuasa untuk menekan gejolak syahwat.

“Untuk urusan ibadah lakukan saja, nanti sambil meminta semoga Allah menerima. Sebab, dengan semakin banyak melakukan ibadah, maka semakin menyejukkan hati,” pungkas Buya Yahya.

Selain ibadah, mengalihkan perhatian dengan berolahraga, mendatangi majelis ilmu, serta menekuni hobi positif akan sangat membantu proses pemulihan fisik dan mental dari kecanduan.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8634682/nonton-film-porno-bisa-merusak-hati-ini-penjelasan-dalam-islam

Ternyata Kesepian Bisa Pengaruhi Otak, Efeknya Seperti Ini

Ternyata Kesepian Bisa Pengaruhi Otak, Efeknya Seperti Ini

Jakarta – Mungkin banyak yang belum sadar, rasa kesepian rupanya menyimpan efek yang besar pada bagaimana otak bekerja. Semakin banyak bukti yang menunjukkan hubungan sosial sama pentingnya bagi kesehatan manusia seperti kebutuhan lain seperti makanan dan air.

Menurut para ahli, rasa kesepian dapat memicu sinyal stres yang nyata dan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan. Dikutip dari Every Day Health, berikut ini sederet perubahan pada otak yang terjadi akibat kesepian:

1. Membuat Lebih Craving Ingin Makan

Penelitian menunjukkan kesepian dapat memicu respons saraf di otak yang serupa dengan kondisi ketika seseorang merasa lapar dan menginginkan makanan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2020, para ahli saraf meminta 40 peserta sehat menjalani isolasi selama 10 jam, kemudian berpuasa selama 10 jam. Setelah masing-masing periode 10 jam tersebut, peneliti menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengukur aktivitas otak dan membandingkannya dengan hasil pemindaian fMRI peserta dalam kondisi normal.

Peneliti menemukan ketika seseorang yang lapar merasakan lapar dan seseorang yang terisolasi merasakan kesepian, kedua kondisi tersebut menghasilkan jenis aktivitas otak yang serupa. Para ahli berteori respons tersebut mungkin merupakan cara otak memberikan sinyal agar seseorang kembali terhubung dengan orang lain.

2. Membangun Mental Bermusuhan dan Pesimistis

Rasa kesepian dapat membuat seseorang lebih mudah berfokus pada sisi negatif dari suatu situasi. Sebuah penelitian menemukan kesepian memicu respons pada lobus posterior, yaitu bagian otak yang berkaitan dengan perhatian.

Peningkatan perhatian ini mungkin menjelaskan mengapa kesepian dapat membuat seseorang lebih berfokus pada dirinya sendiri.

Penelitian lain juga menunjukkan pola pikir negatif ini dapat menciptakan lingkaran setan. Kesepian cenderung memicu pikiran negatif, sementara semakin banyak pikiran negatif juga berkaitan dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi.

Pada sebagian orang, kesepian bahkan dapat memicu sikap bermusuhan atau agresif. Sikap tersebut dapat menjadi mekanisme pertahanan karena orang yang kesepian takut mengalami penolakan lebih lanjut.

Ironisnya, perilaku tersebut justru dapat membuat orang lain dan hubungan sosial yang sebenarnya mereka butuhkan, semakin menjauh.

3. Membuat Sulit Percaya Orang Lain

Orang yang kesepian cenderung lebih waspada terhadap potensi ancaman di sekitarnya. Kondisi tersebut dapat membuat mereka lebih sulit mempercayai orang lain.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2021, peneliti merekrut 42 orang yang mengalami kesepian berat dan terus-menerus tanpa diagnosis gangguan kesehatan mental serius. Mereka kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol yang juga terdiri dari 42 orang.

Dalam salah satu tugas, peserta diberi sejumlah uang secara virtual dan diminta menentukan apakah mereka ingin menyimpan seluruh uang tersebut atau membagikannya dengan peserta lain. Jika mereka membagikan uang tersebut, nilainya akan menjadi tiga kali lipat dan orang yang menerima uang dapat mengembalikan sebagian dana tersebut. Artinya, peserta bisa mendapatkan lebih banyak uang dalam eksperimen, tetapi harus mengambil risiko dengan mempercayai peserta lain.

Peserta yang kesepian membagikan lebih sedikit uang kepada orang lain dibandingkan peserta yang tidak kesepian. Hasil pemindaian fMRI juga menunjukkan peserta yang kesepian memiliki aktivitas lebih rendah di beberapa bagian otak yang berkaitan dengan pembentukan rasa percaya.

Selain itu, peneliti menganalisis sampel darah dan air liur untuk mengukur kadar oksitosin, yaitu hormon yang antara lain berperan dalam membangun ikatan dan keterikatan dengan orang lain. Hasilnya menunjukkan suasana hati peserta yang tidak kesepian meningkat setelah melakukan percakapan ringan. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada peserta yang kesepian.

Peserta yang kesepian juga lebih mungkin mengatakan mereka tidak mempercayai para asisten penelitian. Mereka juga menghasilkan kadar oksitosin yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.

4. Menurunkan Fungsi Kognitif

Bersosialisasi juga dapat menjadi salah satu cara penting untuk menstimulasi otak. Tanpa stimulasi tersebut, terdapat bukti fungsi kognitif seseorang dapat mengalami penurunan.

Penelitian menunjukkan adanya perubahan pada otak ketika seseorang mengalami tingkat kesepian yang lebih tinggi dari rata-rata. Salah satu penelitian mengikuti kondisi kesehatan 25 peserta ekspedisi kutub yang hidup dalam kondisi terisolasi di Antartika selama 12 bulan.

Selama menjalani isolasi tersebut, para anggota ekspedisi mengalami penurunan volume materi abu-abu (gray matter) di otak, terutama pada area seperti hipokampus dan talamus. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya risiko demensia pada orang yang mengalami isolasi sosial.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8634004/ternyata-kesepian-bisa-pengaruhi-otak-efeknya-seperti-ini

Tren ‘Fitness Travel’ Gen Z demi Kebugaran, Padel di Spanyol-Maraton di Tokyo

Tren ‘Fitness Travel’ Gen Z demi Kebugaran, Padel di Spanyol-Maraton di Tokyo

Jakarta – Tren fitness travel kini mulai diminati oleh mereka yang mengusung gaya hidup aktif untuk menghabiskan liburan. Rutinitas bersantai yang identik dengan liburan, sekarang diganti dengan aktivitas yang menguras keringat.

Dikutip dari Far Out Magazine, para generasi muda sekarang mulai mencoba ‘keluar’ dari stigma sedentary lifestyle, dengan menjadikan aktivitas fisik seperti padel dan maraton sebagai bagian utama saat liburan.

Dalam tren ini, aplikasi pelacak kebugaran Strava memegang satu peran penting. Berdasarkan survei dari aplikasi tersebut terhadap lebih dari 30.000 orang, menemukan bahwa Generasi Z merasa menjaga kebugaran saat liburan merupakan hal mutlak, bahkan 23 persen lebih tinggi daripada Generasi X.

Berbeda dengan wellness travel yang membuat generasi milenial berbondong-bondong ke Bali untuk mengikuti retret yoga dan melakukan detoks dengan jus sayuran, fitness travel lebih menyenangkan dan aktif.

Banyak yang ‘Terpadel-padel’

Salah satu olahraga yang menjadi favorit banyak generasi muda saat ini adalah padel, yakni olahraga raket olahraga raket yang memadukan unsur permainan tenis lapangan dan squash.

Di Eropa sendiri, padel jadi olahraga yang paling cepat berkembang, khususnya di Inggris. Namun, Spanyol masih dikenal sebagai negara dengan pelatih dan pemain padel terbaik di Benua Biru.

Tak ayal, banyak orang-orang yang memilih berlibur ke Spanyol dengan salah satu agendanya untuk mendapatkan pelatihan padel.

Antusiasme Tinggi di Lari

Tak jauh berbeda dengan padel, olahraga lari seperti maraton juga banyak digandrungi para generasi muda. Banyak para pelari yang berwisata untuk menjelajahi berbagai negara, sekaligus mengejar personal best (PB) atau catatan waktu pribadi terbaik.

Saat ini Tokyo menjadi destinasi populer untuk wisata maraton. Pada 2025, dilaporkan bahwa 18.000 dari 38.000 pelari Tokyo Marathon berasal dari luar Jepang, mewakili 130 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Selain Tokyo, Kota Berlin di Jerman juga dikenal dengan medannya yang relatif datar, dan Amerika Serikat juga memiliki sejumlah maraton kelas dunia.

Sumber : https://health.detik.com/kebugaran/d-8634564/tren-fitness-travel-gen-z-demi-kebugaran-padel-di-spanyol-maraton-di-tokyo

Studi: Terlalu Sering Bermain Gadget Bisa Bikin Prestasi Anak di Sekolah Jadi Jeblok

Studi: Terlalu Sering Bermain Gadget Bisa Bikin Prestasi Anak di Sekolah Jadi Jeblok

Jakarta – Pada zaman sekarang, layar digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak usia dini. Padahal, studi menemukan bahwa terlalu sering menatap layar (screen time) bisa berdampak pada perkembangan kognitif anak, terutama usia 1-8 tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk menghindari penggunaan layar sebelum anak berusia 18-24 bulan. Anak-anak usia 2-5 tahun dibatasi hingga kurang dari satu jam per hari.

Penggunaan layar atau screen time mencakup bermain smartphone atau HP, laptop atau komputer, TV, hingga bermain game elektronik.

Turunkan Prestasi di Sekolah

Banyak temuan mengungkapkan bahwa anak-anak cenderung menghabiskan waktu lebih lama di depan layar dibandingkan anjuran WHO dan yang lainnya. Dampak negatifnya juga telah banyak diperbincangkan oleh para ahli.

Dalam penelitian terhadap anak usia 1-8 tahun ini contohnya. Riset tersebut mengungkapkan bahwa durasi screen time yang lebih lama, terutama saat masa bayi dan mulai bersekolah, berkaitan dengan prestasi akademik yang lebih rendah pada usia 9 tahun serta memori yang lebih lemah pada usia 10,5 tahun.

Hasil penelitian ini mengindikasikan waktu anak-anak bermain gadget mungkin juga sama pentingnya dengan durasi waktu yang dihabiskan mereka dalam menggunakannya. Penelitian tersebut berjudul “Screen viewing time from age 1 to 8 years and subsequent academic performance and working memory” dalam World Joournal of Pediatrics Volume 22

Dalam studinya, peneliti menganalisis durasi penggunaan layar pada enam tahapan usia yang berbeda. Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan prestasi akademik dan kemampuan memori anak beberapa tahun kemudian.

Analisis ini melibatkan 502 anak di Singapura yang dipantau perkembangannya sejak masa bayi hingga pertengahan masa kanak-kanak. Durasi penggunaan layar yang lebih tinggi pada tahap perkembangan tertentu dikaitkan dengan hasil akademik yang lebih rendah serta memori yang lebih lemah di kemudian hari.

Pola yang paling jelas terlihat pada paparan layar saat masa bayi dan menjelang awal masa sekolah formal. Hal ini mengindikasikan periode-periode tersebut mungkin merupakan masa yang sangat sensitif bagi perkembangan kognitif anak.

Anak-anak yang terpapar layar lebih lama sepanjang masa kanak-kanak juga cenderung memiliki prestasi akademik yang kurang baik. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan total durasi penggunaan layar hanyalah salah satu aspek dari gambaran besarnya.

Usia Krusial Jelang Pendidikan Formal

Usia saat penggunaan layar secara intens juga mungkin berperan penting. Masa kanak-kanak awal berpotensi menjadi periode di mana kebiasaan penggunaan layar memiliki dampak jangka panjang terhadap kemampuan belajar dan memori.

“Besaran efek yang kami amati pada usia 1 tahun merupakan yang terbesar dibandingkan seluruh titik waktu yang kami teliti,” ungkap para peneliti, dikutip dari Science Daily.

“Hal ini mengisyaratkan masa bayi awal mungkin merupakan periode dengan tingkat sensitivitas tinggi, saat otak yang sedang berkembang, sangat rentan terhadap tergantikannya interaksi pembelajaran oleh aktivitas penggunaan layar,” kata mereka.

Pola yang ditemukan peneliti tidak sama persis di setiap usia. Penggunaan layar pada usia 2 dan 3 tahun tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan hasil yang diukur dalam studi ini.

Akan tetapi, kaitan tersebut kembali terlihat pada usia 6 tahun. Waktu tersebut bertepatan dengan masa transisi menuju pendidikan formal, saat anak-anak menghadapi tuntutan yang semakin besar terkait perhatian, memori, dan kemampuan belajar.

Menurut para peneliti, hasil studi ini mendukung prinsip umum “semakin sedikit, semakin baik”. Penambahan durasi menonton satu jam setiap hari mungkin tidak memberikan dampak yang nyata pada setiap anak secara individu.

Meski begitu, perubahan yang relatif kecil pada keseluruhan populasi tetap dapat menyebabkan sejumlah besar anak mengalami penurunan hasil akademik.

Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi durasi menonton layar, mungkin akan paling bermanfaat jika dimulai sejak masa bayi dan diperkuat saat anak-anak mendekati usia masuk sekolah. Para peneliti juga mengingatkan bahwa durasi penggunaan layar saja tidak memberikan gambaran yang utuh.

Peneliti menilai studi di masa mendatang perlu meneliti apakah perkembangan anak akan berbeda, bergantung pada kualitas konten yang ditonton, jenis perangkat yang digunakan, serta apakah orang tua turut menonton bersama anak-anak mereka.

Sumber :https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8634096/studi-terlalu-sering-bermain-gadget-bisa-bikin-prestasi-anak-di-sekolah-jadi-jeblok

Bahaya Membuka Aib Dosa Sendiri

Bahaya Membuka Aib Dosa Sendiri

Ada dosa yang awalnya dilakukan sembunyi-sembunyi, tetapi karena terus diulang, rasa malu perlahan menghilang. Lebih berbahaya lagi ketika dosa yang telah Allah tutupi justru diceritakan, dipamerkan, bahkan dibanggakan kepada orang lain. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa salah satu dampak maksiat adalah hilangnya rasa jijik terhadap dosa hingga maksiat menjadi kebiasaan.

Maksiat Bisa Menghilangkan Rasa Jijik terhadap Dosa

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَمِنْهَا: أَنَّهُ يَنْسَلِخُ مِنَ الْقَلْبِ اسْتِقْبَاحُهَا، فَتَصِيرُ لَهُ عَادَةً، فَلَا يَسْتَقْبِحُ مِنْ نَفْسِهِ رُؤْيَةَ النَّاسِ لَهُ، وَلَا كَلَامَهُمْ فِيهِ.
وَهَذَا عِنْدَ أَرْبَابِ الْفُسُوقِ هُوَ غَايَةُ التَّهَتُّكِ وَتَمَامُ اللَّذَّةِ، حَتَّى يَفْتَخِرَ أَحَدُهُمْ بِالْمَعْصِيَةِ، وَيُحَدِّثَ بِهَا مَنْ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ عَمِلَهَا، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ كَذَا وَكَذَا.
وَهَذَا الضَّرْبُ مِنَ النَّاسِ لَا يُعَافَوْنَ، وَتُسَدُّ عَلَيْهِمْ طَرِيقُ التَّوْبَةِ، وَتُغْلَقُ عَنْهُمْ أَبْوَابُهَا فِي الْغَالِبِ.

“Di antara dampak buruk dosa adalah hilangnya rasa jijik terhadap perbuatan maksiat dalam hati. Akibatnya, dosa tersebut menjadi kebiasaan. Orang yang terjerumus dalam kebiasaan maksiat tidak lagi merasa malu meskipun orang lain melihat atau membicarakan perbuatannya.

Bagi sebagian pelaku maksiat, kondisi ini dianggap sebagai puncak keberanian dan kenikmatan. Bahkan, mereka tidak segan-segan membanggakan dosa-dosanya. Mereka menceritakan keburukan yang telah dilakukan kepada orang lain yang mungkin sebelumnya tidak tahu. Misalnya, seseorang berkata, ‘Hai Fulan, aku pernah melakukan ini dan itu.’

Orang seperti ini sering kali sulit untuk disembuhkan dari penyakitnya. Jalan taubat tertutup bagi mereka dalam banyak kasus, dan pintu-pintunya menjadi sulit dimasuki.”

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ.

“Setiap umatku mendapatkan ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk bentuk terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian pagi harinya Allah telah menutupi perbuatannya, tetapi ia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.’ Padahal malam harinya Rabbnya telah menutupi dosanya, tetapi pada pagi harinya ia justru menyingkap penutup Allah dari dirinya.” (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990) (Lihat Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’, hlm. 89–90)

Allah Sudah Menutupi Dosa, Mengapa Kita Membukanya?

Hadits di atas menunjukkan besarnya nikmat sitr, yaitu Allah menutupi keburukan seorang hamba sehingga tidak diketahui manusia.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَالْحَدِيثُ مُصَرِّحٌ بِذَمِّ مَنْ جَاهَرَ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَسْتَلْزِمُ مَدْحَ مَنْ يَسْتَتِرُ، وَأَيْضًا فَإِنَّ سَتْرَ اللَّهِ مُسْتَلْزِمٌ لِسَتْرِ الْمُؤْمِنِ عَلَى نَفْسِهِ.

“Hadits ini secara tegas mencela orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Hal itu sekaligus menunjukkan terpujinya orang yang menutupi maksiatnya. Demikian pula, ketika Allah telah menutupi aib seseorang, seorang mukmin hendaknya menutupi aib dirinya sendiri.” (Lihat Fath Al-Bārī, 10:487–488)

Karena itu, ketika Allah telah menutupi dosa kita dari manusia, janganlah kita sendiri yang membuka penutup tersebut.

Namun, menutup dosa bukan berarti merasa aman untuk terus bermaksiat. Yang benar adalah menutup dosa dari manusia, lalu membukanya di hadapan Allah dengan penyesalan, istighfar, dan taubat yang sungguh-sungguh.

Membuka Aib Sendiri adalah Tidak Mensyukuri Nikmat Allah

Al-Munawi rahimahullah berkata,

وَهَذَا لِأَنَّ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ وَنِعَمِهِ إِظْهَارَ الْجَمِيلِ وَسَتْرَ الْقَبِيحِ، فَالْإِظْهَارُ كُفْرَانٌ لِهَذِهِ النِّعْمَةِ، وَتَهَاوُنٌ بِسَتْرِ اللَّهِ.

“Hal itu karena di antara sifat Allah dan nikmat-Nya adalah menampakkan yang baik dan menutupi yang buruk. Maka menampakkan kembali keburukan tersebut merupakan bentuk tidak mensyukuri nikmat ini dan meremehkan penutup yang telah Allah berikan.”

Allah telah memberi kesempatan kepada seorang hamba untuk memperbaiki dirinya tanpa mempermalukannya di hadapan manusia. Maka, sungguh tidak pantas jika seorang hamba justru dengan bangga menyingkap sendiri aib yang telah Allah tutupi.

Dosa yang Diceritakan Bisa Terasa Biasa

Bahaya mujāharah tidak berhenti pada pelakunya. Ketika dosa diceritakan dan dipertontonkan berulang kali, orang lain dapat menganggap dosa tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

لِأَنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْهُ قَدْ عَمِلَ الْمَعْصِيَةَ، هَانَتْ فِي نُفُوسِهِمْ، وَفَعَلُوا مِثْلَهُ.

“Karena apabila manusia melihatnya melakukan maksiat, maksiat itu menjadi terasa ringan dalam jiwa mereka, lalu mereka pun melakukan seperti yang ia lakukan.”

Inilah salah satu bahaya menampakkan maksiat. Dosa yang dahulu dianggap memalukan, karena terus diperlihatkan dan dibicarakan, akhirnya dianggap lumrah.

Jangan Bangga dengan Masa Lalu yang Penuh Maksiat

Salah satu tanda berbahaya yang disebutkan Ibnul Qayyim adalah ketika seseorang mulai bangga dengan maksiatnya.

Dahulu ia malu jika diketahui orang. Setelah hatinya terbiasa dengan dosa, justru ia sendiri yang menceritakannya.

Ada yang menceritakan pengalaman pacaran dan pergaulan bebasnya. Ada yang membanggakan masa lalu ketika mabuk, berjudi, atau melakukan berbagai kenakalan. Ada pula yang menjadikan pengalaman maksiat sebagai bahan hiburan dan konten media sosial.

Padahal seorang yang benar-benar bertaubat semestinya sedih mengingat dosa masa lalunya, bukan bangga dengannya.

Media Sosial Jangan Menjadi Tempat Membuka Aib

Pada zaman media sosial, mujāharah semakin mudah dilakukan.

Seseorang dapat mengunggah dosa dalam hitungan detik. Maksiat tersebut kemudian dilihat ribuan bahkan jutaan orang, disimpan, dibagikan, dan mungkin tetap beredar meskipun pelakunya kelak telah bertaubat.

Karena itu, berhati-hatilah sebelum mengunggah sesuatu. Jangan sampai dosa yang seharusnya cukup diketahui antara kita dengan Allah malah menjadi jejak digital yang mengundang orang lain ikut meremehkan maksiat.

Apakah Sama Sekali Tidak Boleh Menceritakan Dosa?

Pada asalnya, dosa yang telah Allah tutupi tidak perlu diceritakan kepada orang lain.

Namun, ada keadaan ketika seseorang perlu menjelaskan masalahnya karena adanya kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan syariat, misalnya meminta fatwa, berkonsultasi untuk mendapatkan solusi, mencari pertolongan agar dapat meninggalkan maksiat, menjalani pengobatan, menyelesaikan hak orang lain, atau memberikan keterangan dalam perkara hukum.

Dalam kondisi semacam itu, ceritakan sebatas yang dibutuhkan. Tujuannya bukan membanggakan maksiat, bukan pula menikmati cerita dosa masa lalu, tetapi mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan.

Jangan Pula Senang Membuka Aib Orang Lain

Jika kita diperintahkan menutupi aib sendiri yang telah Allah tutupi, kita pun hendaknya tidak gemar mencari dan menyebarkan aib saudara kita.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ.

“Seorang mukmin itu menutupi aib dan memberikan nasihat. Adapun orang fajir, ia membuka aib dan mencela.” (Lihat Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam, 1:225)

Nasihat diberikan untuk memperbaiki, bukan mempermalukan. Mengetahui kesalahan saudara seharusnya membuat kita ingin menyelamatkannya, bukan menjadikannya bahan cerita.

Kenapa Tidak Boleh Membuka Aib Dosa Sendiri?

Ada beberapa alasan penting:

  1. Allah sudah memberikan nikmat dengan menutupi dosa tersebut. Membukanya kembali berarti tidak menjaga nikmat sitr (penutupan aib) dari Allah.
  2. Membuka dosa dapat menghilangkan rasa malu. Awalnya seseorang malu berbuat dosa. Ketika dosa mulai diceritakan, lama-kelamaan ia bisa merasa biasa, bahkan bangga dengannya. Inilah yang diperingatkan Ibnul Qayyim rahimahullah.
  3. Dosa bisa dianggap ringan oleh orang lain. Ketika maksiat diceritakan atau ditampilkan, orang lain dapat berpikir, “Ternyata hal seperti ini biasa.” Akhirnya batas antara yang halal dan haram semakin kabur.
  4. Bisa menjadi contoh buruk. Apalagi pada zaman media sosial. Satu unggahan maksiat dapat dilihat, disimpan, dan ditiru banyak orang. Dosa pribadi akhirnya mempunyai dampak sosial.
  5. Membuka aib dapat merusak kehormatan diri sendiri. Syariat menjaga kehormatan seorang muslim. Tidak selayaknya seseorang merobohkan kehormatan yang telah Allah jaga dengan tangannya sendiri.
  6. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus mencela mujāharah. Beliau menyebut orang yang malam harinya ditutupi Allah, tetapi pagi harinya justru menceritakan maksiatnya sendiri. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990)

Namun, menutup aib bukan berarti menyembunyikan dosa agar bebas melanjutkannya. Dosa ditutupi dari manusia, tetapi pelakunya segera kembali kepada Allah.

Lalu Bagaimana Cara Bertaubat dari Maksiat?

Allah Ta‘ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Taubat yang benar memiliki beberapa syarat:

Pertama, berhenti dari maksiat tersebut. Tidak disebut taubat jika seseorang masih sengaja mempertahankan dosa yang sedang ia lakukan.

Kedua, benar-benar menyesal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah, no. 4252; Ahmad, 6:264. Dinilai sahih oleh Al-Albani)

Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Boleh jadi manusia kemudian tergelincir lagi karena kelemahannya. Namun, ketika bertaubat, hatinya harus benar-benar bertekad meninggalkan dosa tersebut.

Keempat, jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut harus diselesaikan. Harta yang diambil dikembalikan, utang dibayar, dan kezaliman diselesaikan sesuai tuntunan syariat. Adapun jika berkaitan dengan kehormatan orang lain, cara menyelesaikannya perlu melihat maslahat dan mafsadat, tidak selalu dengan menceritakan seluruh kesalahan kepadanya.

Kelima, taubat dilakukan sebelum waktunya tertutup. Taubat diterima selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan sebelum matahari terbit dari barat.

Setelah itu, iringilah keburukan dengan kebaikan. Allah Ta‘ala berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

Maka, setelah bertaubat, perbanyak shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu, dan amal saleh lainnya.

Yang juga penting: tidak perlu menceritakan detail maksiat kepada orang lain agar taubat diterima. Tidak ada syarat taubat berupa pengakuan dosa kepada ustadz, teman, keluarga, atau publik. Jika Allah sudah menutupi dosa itu, bertaubatlah langsung kepada Allah.

Waspadai Tahapan Dosa yang Merusak Hati

Dari penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, kita dapat melihat sebuah tahapan yang sangat berbahaya:

Melakukan maksiat → mengulangi maksiat → hilang rasa jijik → berkurang rasa malu → dosa menjadi kebiasaan → dosa mulai diceritakan → dosa dibanggakan → orang lain menganggap dosa itu biasa.

Karena itu, jangan meremehkan rasa bersalah setelah melakukan dosa. Rasa malu dan penyesalan justru dapat menjadi pintu menuju taubat jika segera diikuti dengan kembali kepada Allah.

Tutupi dosa dari manusia, tetapi bukalah dosa itu di hadapan Allah dengan taubat dan penyesalan.

Nasihat Terakhir

Di zaman media sosial, tidak semua pengalaman masa lalu layak dijadikan cerita dan konten. Jika Allah telah menutupi dosa kita, jangan kita sendiri yang menyingkap tirainya hanya demi perhatian manusia. Hapus jejak maksiat yang masih mampu kita hapus, tinggalkan lingkungan yang menyeret kepada dosa, dan gantilah keburukan dengan amal saleh. Yang kita butuhkan bukan manusia mengetahui masa lalu kita, tetapi Allah menerima taubat dan memperbaiki masa depan kita.

Semoga Allah senantiasa menutupi aib kita, mengampuni dosa kita, dan menganugerahkan taubat yang tulus.

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.

Allāhumma-stur ‘aurātinā, wa āmin rau‘ātinā, waghfir lanā dzunūbanā, warzuqnā taubatan naṣūḥā.

“Ya Allah, tutupilah aib-aib kami, berilah rasa aman dari ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang tulus.”

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi

  • Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’.
  • Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fath Al-Bārī.
  • Ibnu Rajab Al-Hambali, Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Hikam.
  • IslamQA, pembahasan tentang al-mujāharah bil-ma‘ṣiyah.
  • Islamweb, pembahasan tentang batasan terang-terangan dalam maksiat.
  • Rumaysho.Com, pembahasan tentang menutup aib, taubat, dan bahaya dosa karena lisan.

Sumber : https://rumaysho.com/42709-bahaya-membuka-aib-dosa-sendiri.html

Adab Menutup Majelis dengan Doa Kafaratul Majelis

Adab Menutup Majelis dengan Doa Kafaratul Majelis

Jakarta – Setiap kali menghadiri majelis ilmu, pengajian, maupun pertemuan kebaikan, umat Islam diajarkan untuk menjaga adab dan kesantunan.

Sebagai manusia, seseorang tidak selalu luput dari kata-kata yang kurang berguna, prasangka, atau kekhilafan lisan selama majelis berlangsung.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dibaca ketika hendak meninggalkan majelis. Doa tersebut dikenal sebagai doa kafaratul majelis dan berisi permohonan ampun kepada Allah atas kekhilafan yang terjadi selama majelis.

Adab-adab Mengakhiri dan Menutup Majelis

Mengutip kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, terdapat beberapa adab dalam majelis, yaitu:

Melapangkan Ruang Majelis

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang paling luas.” (HR. Abu Dawud).

Umat Islam dianjurkan untuk saling melapangkan tempat duduk bagi saudaranya yang baru datang.

Tidak Menyuruh Orang Lain Berdiri

Dilarang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya hanya untuk kita tempati. Ibnu Umar RA bahkan menolak menduduki tempat orang yang dengan sukarela berdiri untuknya.

Menjaga Hak Tempat Duduk

“Apabila seseorang berdiri sejenak dari tempat duduknya lalu kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak atas tempat duduk tersebut.” (HR. Muslim)

Duduk di Tempat yang Masih Kosong

Para sahabat memiliki kebiasaan jika menghadiri majelis Nabi SAW, mereka akan langsung duduk di barisan atau tempat paling belakang yang masih kosong tanpa mengganggu jemaah lain.

Tidak Memisahkan Dua Orang Tanpa Izin

“Tidak halal bagi seseorang memisahkan di antara dua orang (dari tempat duduk keduanya), kecuali dengan izin mereka berdua.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tidak Duduk di Tengah Lingkaran Majelis

“Allah melaknat atas lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang duduk di tengah lingkaran (kumpulan orang).” (HR. Tirmidzi)

Bacaan Doa Kafaratul Majelis Lengkap dengan Artinya

Merujuk buku Kumpulan Doa dan Zikir Nabawi karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi, Rasulullah SAW biasa membaca doa ini saat hendak meninggalkan majelis.:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Latin: Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Artinya: “Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.” (HR. Abu Daud)

Selain doa kafaratul majelis, terdapat pula doa lain yang diajarkan Rasulullah SAW dan berisi permohonan perlindungan serta kebaikan dalam kehidupan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Latin: Allahummaqsim lana min khasy-yatik, maa tahuulu bainanaa wa baina ma’shiyyatik, wa min thaa’atika maa tuballighuna bihi jannatak wa minal yaqiini ma tuhawwinu bihi ‘alaina mashaaibad dunya.

Allahumma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarina wa quwwatinaa ma ahyaytana waj’alhul waaritsa minna waj’alhu tsa’ranaa ‘alaa man ‘aadanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dunya akbara hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa.

Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.

Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.”

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8633569/adab-menutup-majelis-dengan-doa-kafaratul-majelis

Marketing Nabi Muhammad SAW

Marketing Nabi Muhammad SAW

Sebuah pesan masuk ke email saya, minta agar kolom rutin di hari Rabu, yang kali ini berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, membahas  tentang Strategi Marketing yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau berbisnis atau berdagang. Maka, ijinkan saya membahasnya pada tulisan kali ini.

Merujuk pada Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa ketika memimpin armada dagang milik Khadijah RA ke Syam bersama Maysarah, Rasulullah SAW sukses menghasilkan keuntungan berlipat ganda (ribhan mudha’afan) melebihi rata-rata pedagang lain.

Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-bidayah wan Nihayah mencatat, mahar pernikahan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA adalah 20 ekor unta betina muda yang berkualitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa posisi finansial Rasulullah SAW yang sangat kuat sebagai pengusaha sukses pada usianya yang baru 25 tahun.

Lantas, strategi bisnis atau strategi marketing seperti apa yang dijalankan oleh Rasulullah SAW?

Jauh sebelum Philip Kotler merumuskan pergeseran paradigma dari “product-centric” menuju “human-centric marketing”, Rasulullah SAW telah mendemonstrasikan praktik bisnis yang melampaui zamannya. Berbagai riwayat menuliskan, selama lebih dari dua dekade mengarungi rute perdagangan dari Semenanjung Arabia hingga Syam, Rasulullah SAW membangun legitimasi bisnisnya bukan berbasis manipulasi pasar. Melainkan reputasi etis yang tak tergoyahkan.

Dari berbagai riwayat hadits, dapat dijelaskan bahwa prinsip marketing yang dijalankan oleh Rasulullah SAW berporos pada empat pilar utama: Siddiq (kejujuran), Amanah (kepercayaan), Tabligh (transparansi komunikasi) dan Fathanah (kecerdasan strategis). Rasulullah SAW secara tegas melarang praktik “tadlis” dan “najasy”. “Tadlis” adalah menyembunyikan cacat barang dari konsumen. Sedangkan “najasy” adalah menciptakan permintaan palsu untuk menaikkan harga secara artifisial. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan berada bersama para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada” (HR Tirmidzi). Larangan Rasulullah SAW tersebut, saat ini cukup relevan untuk mengoreksi semakin maraknya berbagai praktik dalam iklan deseptif, terutama di media sosial.

Iklan deseptif (deceptive advertising) adalah bentuk periklanan yang menyesatkan, memanipulasi, atau menyembunyikan fakta penting, sehingga memicu pemahaman yang salah pada calon pembeli mengenai kualitas, harga atau manfaat produk. Karakteristik iklan seperti ini mengandung kebohongan (misleading claims), klaim berlebihan (overclaiming), atau sengaja menyembunyikan cacat barang (tadlis). Misalnya yang marak di medsos adalah penggunaan foto produk yang sangat berbeda dari wujud aslinya, klaim kesehatan tanpa bukti ilmiah, atau menyembunyikan biaya tersembunyi dalam tulisan kecil (fine print).

Prinsip dan strategi marketing yang dijalankan oleh Rasulullah sangat relevan dengan teori marketing modern. Hal ini dapat dilihat pada evolusi Marketing 3.0 hingga Marketing 5.0 yang ditulis oleh Philip Kotler. Dunia bisnis hari ini menyadari bahwa konsumen tidak lagi sekadar membeli fungsi produk (Marketing 1.0). Melainkan mencari nilai (value), etika, dan otentisitas dari sebuah brand. Rasulullah SAW telah menerapkan apa yang saat ini disebut “value-based marketing” sejak 14 abad yang lalu. Yaitu ketika Rasulullah SAW menunjukkan cacat gandum yang basah kena air hujan kepada pembeli di pasar, sebelum mereka bertanya. Saat itu, Rasulullah sedang membangun bentuk dari “brand equity” tertinggi, yakni: integritas absolut.

Dalam berdagang, Rasulullah SAW tidak pernah mengandalkan apa yang saat ini disebut dengan “coercive selling” atau tekanan emosional. Sebaliknya, beliau menerapkan prinsip transaksi berbasis kerelaan (‘an taradin), dimana kepuasan dan keadilan bagi kedua belah pihak menjadi tolok ukur utama. Dalam istilah marketing kontemporer, ini adalah bentuk transparansi yang radikal, dimana dapat menciptakan “customer lifetime value” dan loyalitas organik. Pelanggan bertransaksi bukan karena iming-iming promosi semu, melainkan karena kepastian rasa aman.

Wal akhir, keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnisnya hingga menjadi pengusaha terpandang, membuktikan bahwa etika bukan lah penghambat profitabilitas. Tapi, menjaga etika adalah sebuah keunggulan kompetitif yang paling berkelanjutan (sustainable competitive advantage). Di tengah lanskap marketing modern yang kerap terjebak pada algoritma dan manipulasi psikologis, merefleksikan kembali strategi Marketing yang diterapkan Rasulullah SAW, seperti memberikan kompas moral yang fundamental, bahwa marketing sejati bukan lah seni mengelabui mata. Melainkan seni memenangkan kepercayaan hati. Sollu ‘alan Nabi Muhammad SAW.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/marketing-on-wednesday/2608260006/marketing-nabi-muhammad-saw

Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?

Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?

JP Radar Kediri – Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang mulai meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Bukan berarti ingin menjauh dari orang lain, tetapi hanya ingin memiliki waktu untuk diri sendiri agar pikiran menjadi lebih tenang.

Istilah me time sekarang semakin sering digunakan untuk menyebut waktu yang sengaja disisihkan seseorang untuk melakukan hal yang disukai atau sekadar beristirahat tanpa harus memikirkan banyak tuntutan dari orang lain.

Bagi sebagian orang, menghabiskan waktu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti membaca buku, jalan-jalan santai, mendengarkan musik, menjalankan hobi, menonton film, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan dan kegiatan lainnya.

Namun, masih ada yang menganggap bahwa menghabiskan waktu sendiri berarti seseorang sedang menjauh dari orang lain atau tidak ingin bergaul.

Padahal, meluangkan waktu untuk diri sendiri bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

Bukan Berarti Kesepian

Me time berbeda dengan rasa kesepian. Kesepian biasanya terjadi ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan atau dukungan dari orang lain, sedangkan me time adalah waktu yang sengaja dipilih untuk dinikmati sendiri dan memberi kesempatan bagi diri untuk beristirahat.

Ketika seseorang terus melakukan banyak kegiatan tanpa cukup waktu untuk beristirahat, tubuh dan pikiran bisa menjadi lelah.

Meluangkan waktu untuk beristirahat dapat membantu seseorang merasa lebih siap untuk kembali menjalani pekerjaan, kuliah, maupun aktivitas lainnya.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa memahami kondisi diri dan menyediakan waktu untuk beristirahat merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan mental.

Menurutnya, seseorang perlu mengetahui batas kemampuan dirinya agar tidak terus memaksakan diri ketika sedang menghadapi tekanan.

Cara Sederhana Mengembalikan Energi

Me time tidak harus dilakukan dengan mengeluarkan banyak biaya atau pergi jauh dari rumah.

Kegiatan sederhana yang membuat seseorang merasa nyaman dan tenang juga bisa menjadi cara untuk menikmati waktu sendiri.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Melakukan hobi yang disukai.
  2. Mengurangi penggunaan media sosial untuk sementara.

  3. Jalan-jalan santai atau melakukan olahraga ringan.

  4. Membaca buku atau mendengarkan musik.

  5. Menikmati waktu luang tanpa harus selalu melakukan sesuatu yang produktif.

Bagi mahasiswa dan pekerja muda, me time juga bisa digunakan untuk melihat kembali kegiatan yang sedang dijalani.

Dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri, seseorang bisa memahami hal-hal yang membuatnya lelah dan mengetahui kegiatan yang dapat membuat semangatnya kembali.

Tetap Perlu Menjaga Hubungan dengan Orang Lain

Meskipun meluangkan waktu sendiri memiliki manfaat, bukan berarti seseorang harus menjauh dari orang lain.

Tetap berinteraksi dengan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar juga penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penting untuk menjaga keseimbangan antara menghabiskan waktu bersama orang lain dan menyediakan waktu untuk diri sendiri.

Terlalu banyak kegiatan tanpa waktu istirahat bisa membuat seseorang merasa lelah dan kewalahan.

Namun, terlalu sering menyendiri juga bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi semakin jauh.

Pada akhirnya, me time bukan berarti harus menjauh dari orang-orang di sekitar.

Waktu yang digunakan untuk diri sendiri dapat menjadi kesempatan untuk memahami kondisi diri, mengembalikan tenaga, dan kembali menjalani berbagai kegiatan dengan pikiran yang lebih tenang dan siap.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/lifestyle/2608240004/me-time-bukan-berarti-menjauh-mengapa-waktu-sendiri-penting-untuk-menjaga-pikiran