Jakarta – Dalam ajaran Islam merujuk pada sabda Rasulullah SAW, hati merupakan segumpal daging yang menentukan segalanya. Apabila hati baik, maka seluruh tubuh baik. Sementara jika hati rusak, maka seluruh tubuh ikut rusak.
Lantas, apa tanda-tanda apabila hati mulai jauh dari Allah SWT tanpa disadari?
Tanda-tanda Hati Jauh dari Allah SWT
Berikut adalah tanda-tanda ketika hati telah jauh dari Allah SWT:
1. Malas Beribadah kepada Allah SWT
Ketika malas menunaikan ibadah, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah sebagai berikut:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah SWT, tetapi Allah SWT membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah SWT, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
2. Mengutamakan Dunia
Ketika mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga Allah SWT akan mengacaukan segala urusan manusia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam hadis berikut:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ، وَهُوَ الرَّقَاشِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Artinya: “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menjadikan kekayaannya dalam hatinya, dan mengatur urusannya, dan dunia datang kepadanya meskipun ia tidak menginginkannya. Dan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menempatkan kemiskinannya di depan matanya, dan mengacaukan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.” (HR. Tirmidzi No. 2465)
3. Tidak Merasa Gelisah dan Tak Malu Melakukan Dosa
Ketika tidak merasa gelisah dan malu melakukan dosa. Hal ini karena dosa seharusnya membuat hati menjadi gelisah dan tidak suka apabila orang lain mengetahuinya, sebagaimana yang tercantum dalam hadis berikut:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ سَأَلْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ ” الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ
فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ ” .
Atinya: “Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang mengganggu dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim No. 2553)
4. Melakukan Dosa Berulang-ulang
Ketika melakukan dosa berulang-ulang hingga menutupi seluruh hatinya, berdasarkan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam hadis berikut:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ : ( كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ) ” . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .
Artinya: “Sesungguhnya, ketika seorang hamba (Allah) melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Ketika ia menahan diri, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan bersih kembali. Namun jika ia kembali, maka titik tersebut akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Dan itulah ‘Ran’ yang disebutkan Allah: ‘Sekali-kali tidak, tetapi pada hati mereka ada Ran yang mereka peroleh.” (HR. Tirmidzi No. 3334)
Bahaya Hati yang Jauh dari Allah SWT
Hati yang keras, hati yang lalai, hati yang jauh dari Allah SWT merupakan hambatan besar dikabulkannya doa.
وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا
Artinya: “Kami jadikan di atas hati mereka penutup-penutup (sesuai dengan kehendak dan sikap mereka) sehingga mereka tidak memahaminya dan di telinga mereka ada penyumbat (sehingga tidak mendengarnya). Apabila engkau menyebut (nama) Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci). ” (QS. Al-Isra’: 46)
Melansir dari tafsir Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI), ayat di atas menjelaskan bahwa hati yang ditutup akan menjadikan pemiliknya tidak dapat menerima kebenaran apalagi mengikutinya, melainkan hanya mampu mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan. Hati yang tertutup ini merupakan ganjaran yang diberikan Allah SWT sebagai dampak dari perbuatan mereka sendiri.
Terdapat peringatan bagi setiap umat Islam, bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengijabah doa dari orang yang hatinya lalai terhadap-Nya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، – وَهُوَ رَجُلٌ صَالِحٌ حَدَّثَنَا صَالِحٌ الْمُرِّيُّ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ ” . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ . سَمِعْتُ عَبَّاسًا الْعَنْبَرِيَّ يَقُولُ اكْتُبُوا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيِّ فَإِنَّهُ ثِقَةٌ .
Artinya: “Berdoalah kepada Allah SWT dengan keyakinan akan dikabulkan, dan ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai dan sibuk dengan permainan.” (HR. Tirmidzi N0. 3479)




