Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana, Bagaimana Seorang Muslim Bersikap?

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana, Bagaimana Seorang Muslim Bersikap?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia tidak pernah sepenuhnya berjalan dalam keadaan pasti. Ketika kesehatan terganggu, keluarga menghadapi persoalan, ekonomi mengalami kesulitan, atau masa depan terasa tidak menentu, cara seseorang menjalankan kehidupannya pun dapat berubah. Dalam keadaan seperti itulah, seorang Muslim dituntut untuk tetap memegang teguh keimanan dan tuntunan Islam.

Pesan tersebut disampaikan Dewan Pakar Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Untung Cahyono, dalam Pengajian Malam Selasa pada Senin (24/08).

Untung mengawali kajiannya dengan mengajak jamaah untuk merenungkan makna berislam di tengah ketidakpastian situasi dan kondisi. Menurutnya, menjalankan ajaran Islam tentu terasa lebih mudah ketika kehidupan berada dalam keadaan baik, kebutuhan terpenuhi, kesehatan terjaga, dan suasana keluarga berlangsung dengan tenang.

Namun, keadaan dapat berubah sewaktu-waktu. Seseorang yang biasanya memiliki waktu untuk beribadah dengan leluasa, misalnya, dapat menghadapi situasi berbeda ketika anggota keluarganya jatuh sakit dan membutuhkan perhatian serta perawatan.

“Berislam dalam kondisi yang seperti itu menjadi tidak mudah,” ujarnya.

Persoalan kehidupan, menurut Untung, juga memiliki tingkat dan cakupan yang berbeda. Ketidakpastian dapat dialami seseorang secara pribadi, kemudian meluas dalam kehidupan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, umat Islam perlu memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terbaik dalam berbagai keadaan tanpa kehilangan pegangan keagamaannya.

Dalam pandangannya, salah satu dasar penting untuk menghadapi ketidakpastian adalah kesadaran bahwa dunia memang bersifat sementara dan selalu mengalami perubahan. Apa yang hari ini terasa baik, nyaman, dan stabil, pada waktu lain dapat berubah.

Untung menggambarkan hal tersebut melalui berbagai pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Harta, kendaraan, rumah, fasilitas, bahkan kesenangan yang pernah memberikan kepuasan, semuanya memiliki keterbatasan. Tidak ada sesuatu yang bersifat duniawi yang benar-benar tetap dan kekal.

“Dunia itu bersifat sementara dan penuh perubahan,” katanya.

Karena sifat dunia yang demikian, ia mengingatkan agar manusia tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai bentuk kepuasan materi dapat menjadi bagian dari kehidupan, tetapi semuanya memiliki batas. Kesenangan dunia dapat hilang, rusak, berubah, dan akhirnya ditinggalkan.

Sebaliknya, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal. Untung menekankan bahwa kenikmatan akhirat, dalam keyakinan Islam, tidak dibatasi oleh kerusakan, rasa lelah, kesedihan, ataupun kebosanan. Puncak kenikmatan itu adalah rida Allah SWT.
Dalam kajiannya, ia juga mengutip makna Surah an-Nahl ayat 96 bahwa apa yang ada pada manusia akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Bagi Untung, ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menggantungkan seluruh orientasi hidupnya pada sesuatu yang sementara.

Kesadaran tentang dunia yang berubah juga berkaitan dengan cara seorang Muslim memahami ujian hidup. Untung menjelaskan bahwa ketidakpastian bukan semata-mata sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dapat menjadi ujian untuk mengukur kualitas iman manusia.

Ia merujuk Surah al-Ankabut ayat 2 yang menegaskan bahwa manusia tidak cukup hanya mengatakan telah beriman tanpa mengalami ujian. Kehidupan, menurutnya, tidak boleh dijalani dengan sikap terlalu merasa aman atau terlena. Setiap orang perlu menyadari bahwa ujian merupakan bagian dari perjalanan manusia.

Ujian itu dapat hadir dalam bentuk ketakutan, kekurangan harta, kehilangan orang yang dicintai, persoalan kesehatan, maupun kesulitan hidup lainnya. Yang menjadi penting adalah bagaimana seseorang dapat menerima, menjalani, dan mengambil pelajaran dari ujian tersebut dengan kesabaran.
“Ketidakpastian adalah ujian untuk menguji kualitas iman manusia,” katanya.

Pada bagian lain, Untung menghubungkan persoalan ketidakpastian dengan konsep qada dan qadar. Menurutnya, iman kepada takdir semestinya memberikan ketenangan kepada manusia dalam menghadapi berbagai peristiwa kehidupan.

Ia menjelaskan qada sebagai ketetapan Allah SWT yang bersifat azali, sedangkan qadar dipahami sebagai ketentuan atau ukuran nyata dari ketetapan Allah dalam kehidupan manusia. Keduanya merupakan bagian dari landasan keimanan seorang Muslim dalam memahami perjalanan hidup.
Meski demikian, Untung menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak boleh berubah menjadi sikap fatalistis. Meyakini qada dan qadar bukan berarti manusia berhenti berusaha dan menyerahkan seluruh kehidupannya tanpa ikhtiar.

“Iman kepada takdir bukan berarti diam tanpa usaha,” tegasnya.

Seorang Muslim, menurut Untung, tetap harus bekerja, berusaha, dan berdoa. Tawakal ditempatkan setelah seseorang melakukan ikhtiar secara maksimal, bukan dijadikan alasan untuk menutup jalan usaha. Sikap pasrah tanpa ikhtiar justru berbahaya, terutama apabila berkembang di kalangan generasi muda.

Ia mencontohkan bahwa seseorang tidak seharusnya hanya menunggu perubahan datang dengan alasan semuanya telah ditentukan. Manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berhati-hati, mencari jalan keluar, bekerja, dan memperbaiki keadaan. Setelah usaha dilakukan, hasil akhirnya kemudian diserahkan kepada Allah SWT.

Menurut Untung, hikmah beriman kepada qada dan qadar antara lain adalah menumbuhkan kesabaran dan ketabahan ketika menghadapi musibah, melahirkan kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan, serta menjaga optimisme ketika seseorang mengalami kegagalan.

Keimanan kepada Allah, katanya, seharusnya membuat manusia tidak mudah putus asa. Sebab, kesulitan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Dalam kehidupan, seseorang dapat mengalami kegagalan, kehilangan, atau kenyataan yang tidak sesuai dengan rencana, tetapi semua itu tidak boleh menghentikan usaha untuk bangkit.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/ketika-hidup-tidak-berjalan-sesuai-rencana-bagaimana-seorang-muslim-bersikap/