Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

KEDIRI, JP Radar Kediri–Tekanan ekonomi memicu bertambahnya kasus gangguan jiwa di Kota Kediri. Hingga Juni lalu, sedikitnya ada total ada 361 warga di Kota Kediri yang mengidap skizofrenia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, di periode yang sama 2025 lalu, total ada 287 penderita skizofrenia. Adapun hingga Juni 2026 ini, total ditemukan 361 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 185 di antaranya berjenis kelamin laki-laki. Adapun sisanya perempuan. “2026 ini penderita gangguan jiwa juga didominasi laki-laki,” kata Hendik.

Terkait peningkatan penderita gangguan jiwa, menurut Hendik penyakit gangguan mental kronis itu terdeteksi lewat kesehatan gratis (CKG). Selebihnya, kesadaran publik untuk melapor atau berobat juga semakin tinggi.

“Masyarakat kini semakin teredukasi dengan baik. Keluarga juga tidak lagi takut atau malu melaporkan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa,” lanjutnya.

Dari sembilan puskesmas di Kota Kediri, penderita gangguan mental terbanyak ditemukan dari Puskesmas Campurejo dan Puskesmas Pesantren II. Rinciannya, masing-masing ada 82 orang. Sebanyak 57 orang laki-laki dan 25 lainnya perempuan.

Hendik menegaskan, ratusan penderita skizofrenia ditangani di total sembilan puskesmas. “Semua puskesmas di Kota Kediri sudah mampu menangani dan mengobati pasien. Jika kondisi pasien memerlukan penanganan lanjutan, maka akan segera dirujuk ke rumah sakit,” terang Hendik.

Mengapa ratusan orang tersebut mengalami skizofrenia? Hendik menyebut ada beberapa faktor pemicunya. Di antaranya karena faktor bilogis dan genetik.

Misalnya ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa, keturunannya akan berisiko besar untuk mengalaminya. Yang kedua adalah faktor fisik, medis, dan perkembangan janin. Masalah saat di dalam kandungan seperti kekurangan nutrisi berat, infeksi virus, dan paparan racun bisa berdampak pada perkembangan otak janin.

Termasuk mereka yang memiliki riwayat cedera kepala akibat kecelakaan. Serta penyakit fisik tertentu yang menyerang sistem saraf pusat. Selebihnya, faktor psikologis dan trauma. Seseorang yang memiliki pengalaman buruk di masa lalu, mulai kekerasan fisik, pelecehan seksual, hingga perundungan (bullying) berat bisa mengalami gangguan jiwa.

“Ada pula yang menderita karena faktor sosial dan ekonomi. Tekanan hidup yang berat dan menahun,” tandasnya sembari menyebut lingkungan dan gaya hidup juga bisa membuat seseorang menderita gangguan jiwa.

Termasuk mereka yang terbiasa mengonsumsi obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jangka panjang. Kebiasaan itu bisa merusak sel-sel otak dan memicu gangguan mental berat.

Dengan banyaknya pengidap, Hendik menyebut pihaknya terus melakukan pembinaan pada posyandu jiwa di setiap puskesmas. Melalui posyandu jiwa dan program pembinaan, para penyintas dilatih berbagai keterampilan. Baik bernyanyi, membuat kerajinan tangan hingga diikutsertakan dalam berbagai festival dan lomba khusus.

“Berkat pengobatan yang terkontrol, banyak penderita (skizofrenia, Red) yang kondisinya membaik dan dapat kembali berdaya,” tegasnya.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/kesehatan/2608240013/tekanan-ekonomi-ratusan-orang-di-kota-kediri-idap-gangguan-jiwa-ini-yang-wajib-kamu-ketahui

Luka Psikologis Tak Selalu Terlihat, Bagaimana Sekolah Mengenalinya?

Luka Psikologis Tak Selalu Terlihat, Bagaimana Sekolah Mengenalinya?

JP Radar Kediri – Tidak semua persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja terlihat jelas. Seorang siswa yang mengalami tekanan psikologis tidak selalu menunjukkan kesedihan atau menarik diri.

Perubahan perilaku, kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti persoalan tersebut melalui kegiatan edukasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah Jenjang SMP dan SMA pada April 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dasar dalam mengenali dan merespons persoalan kesehatan mental di lingkungan sekolah.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan luka psikologis sering kali tidak terlihat, tetapi dapat berdampak besar terhadap kehidupan remaja apabila tidak ditangani dengan tepat.

Perubahan Perilaku Perlu Diperhatikan

Sekolah merupakan salah satu lingkungan utama tempat anak menghabiskan waktunya. Karena itu, perubahan yang muncul dalam keseharian siswa dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh guru maupun teman sebaya.

Siswa yang biasanya aktif, misalnya, tiba-tiba lebih sering diam atau menghindari interaksi. Ada pula yang menjadi mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi saat pelajaran, mengalami penurunan motivasi, atau tidak lagi tertarik pada kegiatan yang sebelumnya disukai.

Satu perubahan perilaku tentu tidak dapat langsung diartikan sebagai masalah kesehatan mental. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus dan memengaruhi kehidupan belajar maupun hubungan sosial perlu mendapat perhatian.

Pendekatan semacam ini membuat sekolah tidak hanya bertindak ketika masalah sudah menjadi serius, tetapi juga berperan dalam mengenali kondisi siswa sejak lebih awal.

Sekolah Perlu Menjadi Ruang Aman

Upaya mengenali kondisi psikologis siswa juga sejalan dengan kebijakan baru mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, pemerintah menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai salah satu unsur yang harus diperhatikan di lingkungan sekolah, bersama perlindungan fisik, keamanan sosial, dan keamanan digital.

Kemendikdasmen juga menegaskan sekolah perlu menjadi ruang yang aman, suportif, dan memanusiakan murid. Dalam penerapannya, sekolah diharapkan mampu mengenali persoalan yang dihadapi peserta didik sekaligus membantu mereka berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.

Artinya, kesehatan mental tidak seharusnya hanya dibicarakan ketika terjadi kasus. Lingkungan belajar sehari-hari juga perlu dirancang agar siswa merasa aman untuk berkomunikasi, meminta bantuan, dan menyampaikan kesulitan yang dihadapi.

Teman Juga Bisa Berperan

Kemenkes dalam kegiatan first aider di sekolah menekankan pentingnya keterampilan dasar bagi siswa untuk mengenali dan merespons masalah kesehatan mental di lingkungan sekitarnya.

Hal ini penting karena teman sebaya sering menjadi orang pertama yang menyadari adanya perubahan pada seorang siswa.

Namun, membantu bukan berarti mendiagnosis. Ketika melihat teman mengalami perubahan yang mengkhawatirkan, langkah yang lebih tepat adalah mendengarkan tanpa menghakimi, menunjukkan kepedulian, dan menghubungkannya dengan orang dewasa yang dapat membantu.

Guru, wali kelas, guru BK, orang tua, atau tenaga profesional dapat dilibatkan ketika kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Guru Tidak Harus Menjadi Psikolog

Peran sekolah dalam kesehatan mental bukan berarti seluruh guru harus mampu memberikan diagnosis atau terapi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengenali tanda awal, memberikan respons yang aman, dan mengetahui kapan siswa perlu dirujuk.

Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen juga menempatkan layanan bimbingan dan konseling sebagai bagian penting dalam mendukung kesehatan mental murid serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Dengan pendekatan tersebut, guru dapat menjadi bagian dari sistem dukungan bagi siswa tanpa mengambil alih peran tenaga kesehatan mental.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan psikologis siswa bukan hanya tentang menangani masalah setelah muncul. Sekolah juga perlu membangun lingkungan yang memungkinkan anak merasa aman, dihargai, dan didengar.

Sebab, ketika luka fisik terlihat, orang biasanya tahu bahwa seseorang membutuhkan bantuan.

Sementara luka psikologis bisa tersembunyi di balik perubahan sikap, nilai yang menurun, atau keheningan seorang anak. Di situlah kepekaan lingkungan sekolah menjadi penting.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/pendidikan/2608240008/luka-psikologis-tak-selalu-terlihat-bagaimana-sekolah-mengenalinya

Study Burnout, Ketika Belajar Terus-Menerus Justru Membuat Lelah

Study Burnout, Ketika Belajar Terus-Menerus Justru Membuat Lelah

JP Radar Kediri – Belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan pelajar. Tugas, ujian, target nilai, hingga berbagai kegiatan akademik perlu diselesaikan dalam waktu tertentu.

Namun, tuntutan belajar yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat membuat siswa maupun mahasiswa mengalami kelelahan dalam menjalani aktivitas akademik.

Kondisi tersebut sering dibahas dengan istilah academic burnout atau kelelahan akademik. Kondisi ini dapat muncul ketika tekanan dan beban akademik berlangsung secara berkepanjangan.

Kelelahan, berkurangnya keterlibatan dalam belajar, hingga munculnya pandangan negatif terhadap kegiatan akademik menjadi beberapa hal yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai academic burnout.

Academic burnout tidak sama dengan rasa lelah setelah belajar seharian. Kelelahan biasa dapat muncul setelah menjalani aktivitas yang padat dan membaik setelah beristirahat.

Sementara itu, academic burnout berkaitan dengan tekanan akademik yang berlangsung lebih lama dan dapat memengaruhi motivasi maupun keterlibatan dalam belajar.

Beban tugas menjadi salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan munculnya kelelahan akademik. Selain itu, tekanan untuk memperoleh hasil tertentu, kurangnya dukungan, kesulitan mengatur waktu, hingga tuntutan akademik yang terus berlangsung juga dapat ikut memengaruhi kondisi siswa dan mahasiswa.

Kelelahan dalam belajar juga dapat membuat kegiatan akademik yang sebelumnya dapat dijalani dengan baik terasa semakin berat. Motivasi untuk belajar dapat menurun dan siswa menjadi lebih sulit terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan academic burnout dengan penurunan motivasi, kesejahteraan, serta pencapaian akademik. Karena itu, belajar dalam waktu lama tidak selalu berarti belajar secara efektif.

Memberikan waktu untuk beristirahat, menyusun prioritas tugas, dan membuat target belajar yang realistis dapat membantu menjaga kegiatan belajar tetap teratur. Lingkungan sekolah dan keluarga juga memiliki peran dalam memberikan dukungan ketika tuntutan akademik mulai terasa terlalu berat.

Kegiatan belajar pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca atau mengerjakan tugas. Waktu istirahat, cara mengatur beban belajar, serta kesempatan untuk melakukan aktivitas lain juga menjadi bagian penting dalam menjaga proses belajar tetap berjalan dengan baik.

Academic burnout menunjukkan bahwa mengejar hasil akademik perlu diimbangi dengan pengelolaan kegiatan belajar yang sehat. Belajar tetap penting, tetapi prosesnya juga perlu memberikan ruang bagi siswa dan mahasiswa untuk beristirahat dan memulihkan energi sebelum kembali menjalani aktivitas akademik.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/pendidikan/2608230008/study-burnout-ketika-belajar-terus-menerus-justru-membuat-lelah

Belajar Lewat Komik, Visual dan Cerita Bisa Bantu Memahami Materi

Belajar Lewat Komik, Visual dan Cerita Bisa Bantu Memahami Materi

JP Radar Kediri – Materi pembelajaran tidak selalu harus disampaikan melalui teks panjang atau penjelasan lisan. Gambar, dialog, dan alur cerita dalam komik juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dengan cara yang lebih visual dan menarik.

Komik pembelajaran memadukan teks dan gambar untuk menjelaskan suatu materi. Informasi dapat disampaikan melalui karakter, percakapan, ilustrasi, hingga rangkaian cerita yang membantu pembaca mengikuti pembahasan secara bertahap.

Penggunaan visual dapat membantu ketika materi memiliki konsep yang sulit dibayangkan hanya melalui tulisan. Proses, urutan kejadian, maupun hubungan antar informasi dapat diperlihatkan melalui beberapa panel sehingga materi memiliki gambaran yang lebih konkret.

Berbagai materi dapat dikemas melalui komik, mulai dari sejarah, bahasa, sains, hingga pendidikan karakter. Cerita dapat digunakan sebagai konteks untuk menghubungkan konsep pembelajaran dengan situasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penyajian melalui cerita juga membuat informasi dapat disusun secara berurutan. Pembaca mengikuti materi dari satu bagian ke bagian berikutnya sehingga penjelasan tidak harus diberikan sekaligus dalam satu teks yang panjang.

Meski demikian, penggunaan komik tidak otomatis membuat setiap materi menjadi lebih mudah dipahami. Tingkat kesulitan tetap dipengaruhi oleh isi, penggunaan bahasa, desain visual, serta cara informasi disusun dalam setiap bagian.

Komik yang terlalu banyak memuat teks dapat membuat halaman terasa padat dan sulit dibaca. Sebaliknya, penggunaan gambar yang terlalu banyak tanpa penjelasan yang cukup juga dapat membuat pesan utama dari materi menjadi kurang jelas.

Hubungan antara gambar dan teks karena itu menjadi bagian penting dalam komik pembelajaran. Ilustrasi tidak hanya digunakan sebagai hiasan, tetapi perlu membantu menjelaskan informasi yang sedang dibahas.

Alur cerita juga perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Cerita yang terlalu panjang atau memiliki banyak bagian tambahan dapat membuat perhatian pembaca lebih tertuju pada jalan cerita dibandingkan materi yang ingin disampaikan.

Komik juga tidak harus digunakan sebagai satu-satunya sumber belajar. Media ini dapat menjadi pengantar sebelum siswa mempelajari materi lebih mendalam melalui buku, video, diskusi, maupun aktivitas pembelajaran lainnya.

Perkembangan teknologi turut membuat komik pembelajaran dapat disajikan secara digital. Siswa dapat mengaksesnya melalui ponsel, tablet, maupun komputer sehingga penggunaannya lebih fleksibel dalam kegiatan belajar.

Namun, tidak semua materi dapat disampaikan secara lengkap melalui komik. Materi yang membutuhkan perhitungan panjang, praktik langsung, atau pembahasan yang lebih rinci tetap membutuhkan media maupun sumber belajar tambahan.

Penggunaan komik dalam pembelajaran karena itu perlu disesuaikan dengan karakteristik materi dan kebutuhan siswa. Pemilihan visual, jumlah teks, alur cerita, hingga informasi yang dimasukkan perlu dirancang agar tidak membuat siswa justru kesulitan mengikuti isi.

Belajar lewat komik menunjukkan bahwa visual dan cerita dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menyampaikan materi. Dengan perancangan yang tepat, komik dapat membuat informasi lebih menarik sekaligus membantu siswa memahami konsep tanpa menghilangkan tujuan utama pembelajaran.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/pendidikan/2608230003/belajar-lewat-komik-visual-dan-cerita-bisa-bantu-memahami-materi

Bukan Sekadar Menghafal, Apa Itu Higher Order Thinking Skills?

Bukan Sekadar Menghafal, Apa Itu Higher Order Thinking Skills?

JP Radar Kediri – Dalam pembelajaran, siswa tidak hanya dituntut mengingat informasi, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami masalah, menganalisis informasi, hingga menemukan solusi. Kemampuan tersebut dikenal sebagai Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi.

HOTS berkaitan dengan proses berpikir yang lebih kompleks daripada sekadar mengingat fakta.

Dalam Taksonomi Bloom yang telah direvisi, proses kognitif terdiri dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Tiga tingkat terakhir umumnya dikaitkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Enam Tingkatan Proses Berpikir

Taksonomi Bloom membantu menggambarkan bagaimana kemampuan berpikir siswa dapat berkembang dari tingkat sederhana hingga lebih kompleks.

  • Mengingat: mengambil kembali informasi yang telah dipelajari.
  • Memahami: menjelaskan atau menginterpretasikan suatu konsep.
  • Menerapkan: menggunakan pengetahuan dalam situasi tertentu.
  • Menganalisis: menguraikan informasi dan melihat hubungan antarbagian.
  • Mengevaluasi: membuat penilaian berdasarkan kriteria atau bukti.
  • Mencipta: menggabungkan berbagai informasi untuk menghasilkan gagasan atau produk baru.

Tidak berarti siswa harus langsung berada pada tingkat tertinggi. Kemampuan mengingat dan memahami tetap menjadi dasar sebelum siswa dapat menganalisis, mengevaluasi, atau menciptakan sesuatu.

Soal Sulit Belum Tentu HOTS

HOTS juga tidak sama dengan soal yang dibuat sesulit mungkin. Yang membedakan adalah proses berpikir yang diperlukan untuk menemukan jawabannya.

Misalnya dalam materi pencemaran lingkungan, pertanyaan: “Sebutkan tiga jenis pencemaran lingkungan.”

lebih banyak menguji kemampuan mengingat.

Sementara pertanyaan: “Sebuah sungai di sekitar permukiman berubah warna dan mengeluarkan bau. Analisis kemungkinan penyebab dan dampaknya terhadap lingkungan.”

meminta siswa menggunakan pengetahuan untuk menganalisis sebuah situasi.

Soal HOTS juga dapat meminta siswa mengevaluasi suatu pendapat berdasarkan bukti atau membuat solusi terhadap sebuah permasalahan.

Mengapa HOTS Penting?

Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan yang dihadapi siswa tidak selalu memiliki jawaban yang dapat langsung ditemukan dalam buku. Mereka perlu memilah informasi, memahami hubungan sebab-akibat, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan mengambil keputusan.

Karena itu, pembelajaran yang mengembangkan HOTS dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menganalisis masalah, memberikan alasan, mengevaluasi informasi, dan menghasilkan solusi.

Namun, kemampuan berpikir tingkat tinggi tetap membutuhkan pengetahuan dasar. Siswa perlu memiliki informasi dan pemahaman yang cukup sebelum dapat menggunakannya untuk melakukan analisis atau evaluasi.

Pada akhirnya, HOTS bukan tentang membuat soal yang rumit atau menjebak siswa. Intinya adalah mendorong siswa menggunakan pengetahuan untuk berpikir, bukan sekadar mengingatnya.

Sumber : http://Bukan Sekadar Menghafal, Apa Itu Higher Order Thinking Skills?

Benarkah Warna Cat Rumah Menentukan Kepribadian Introvert dan Ekstrovert?

Benarkah Warna Cat Rumah Menentukan Kepribadian Introvert dan Ekstrovert?

Jakarta – Warna cat tidak hanya merefleksikan atmosfer yang diinginkan dari sebuah ruangan, tapi juga bisa memengaruhi mood penghuni rumah. Hal ini jadi salah satu elemen yang paling menentukan dalam sebuah hunian.
Hal itu juga menjelaskan alasan kaum introvert dan ekstrovert menyukai warna-warna yang sangat berbeda.

“Kepribadian kita dapat memengaruhi warna-warna yang secara alami menarik minat kita, sehingga warna yang kita pilih bisa menjadi cerminan jati diri kita. Gaya hidup kita kemudian memengaruhi pemilihan warna untuk ruang tertentu, bergantung pada aktivitas yang kita lakukan di sana serta bagaimana kita ingin berpikir, merasa, dan bersikap,” kata pakar psikologi warna dan desain perilaku, Karen Haller, dikutip dari Livingetc.

Banyak yang beranggapan bahwa seorang introvert lebih tertarik pada warna-warna yang merangsang dunia batin dan menenangkan indra, sementara seorang ekstrovert memilih warna-warna yang menghadirkan sosial dan membangun koneksi. Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu.

“Menjadi seorang introvert atau ekstrovert tidak secara otomatis menentukan warna-warna yang akan menarik minat Anda. Introversi dan ekstroversi hanyalah aspek dari kepribadian kita, dan banyak dari kita memiliki perpaduan dari kedua kecenderungan tersebut, sehingga hal-hal ini tidak dapat menentukan palet warna yang pasti,” kata Karen.

Menurut ahli warna Charlotte Cropper, penghuni rumah bisa bertanya kepada diri sendiri sebelum menentukan warna cat yang diinginkan. Misalnya, bagaimana rumah ini akan digunakan? Mau jadi tempat beristirahat atau sering jadi tempat kumpul keluarga? Dan lainnya. Mendefinisikan diri sebagai ‘introvert’ maupun ekstrovert’ hanya membantu diri memilih warna yang pas, bukan serta merta pilihan yang saklek.

Warna yang Biasanya Cocok untuk Introvert

Ingat, pemilihan warna yang tepat selalu bergantung pada suasana ruangan yang diinginkan, siapa yang menggunakannya, dan fungsi ruangan tersebut. Skema warna netral dan palet warna alami tersebut sangat masuk akal untuk menciptakan suasana interior yang lebih tenang, sesuatu yang memang lazim diharapkan oleh seorang introvert.

“Kaum introvert umumnya cenderung menciptakan hunian yang terasa menenangkan dan memulihkan energi, sehingga warna-warna yang mencerminkan suasana tersebut sering kali lebih lembut dan kalem,” tutur Charlotte.

Beberapa contoh warnanya adalah warna putih, hijau, biru, dan merah muda.

Warna yang Biasanya Cocok untuk Ekstrovert

Untuk rumah yang biasanya dipakai untuk berkumpul, bisa menggunakan warna yang lebih kaya untuk menciptakan suasana yang khas. Misalnya, warna-warna yang pekat atau cerah seperti merah tua kecokelatan, pink, jingga, teal, bisa juga warna biru, dan turquoise.

Apakah Introvert dan Extrovert Selalu Pilih Warna yang Bertolak Belakang?

Tidak juga. Apakah seseorang cenderung introvert atau ekstrovert tidak serta-merta menentukan pilihan warna mana yang mereka inginkan karena hal itu tergantung pada kepribadian secara keseluruhan dan kebutuhan akan ruang tersebut.

“Kaum introvert tidak selalu cenderung memilih warna lembut dengan saturasi rendah, begitu pula kaum ekstrovert tidak selalu memilih warna cerah dengan saturasi tinggi,” kata Karen.

Jadi, daripada beranggapan bahwa ada warna-warna khusus bagi kaum introvert atau ekstrovert, kuncinya terletak pada penciptaan pengalaman yang tepat bagi individu tersebut.

Sumber : https://www.detik.com/properti/interior/d-8630931/benarkah-warna-cat-rumah-menentukan-kepribadian-introvert-dan-ekstrovert

3 Trik Simpan Bawang Kupas agar Tetap Segar dan Tak Bau ke Mana-mana

3 Trik Simpan Bawang Kupas agar Tetap Segar dan Tak Bau ke Mana-mana

Jakarta – Bawang merah, putih, dan bombay yang sudah dikupas ternyata tak boleh disimpan sembarangan. Ada cara khusus agar bawang tetap segar.

Bawang belakangan ikut ramai dibahas setelah muncul isu upah mengupas yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram. Angka ini pun membuat banyak netizen penasaran dengan pekerjaan mengupas bawang.

Terlepas dari isu tersebut, memang kini banyak penjual di pasar yang menawarkan bawang kupas agar lebih praktis. Biasanya pembeli memesan banyak untuk stok di rumah.

Namun, bawang yang sudah dikupas tidak bisa diperlakukan sama seperti bawang yang belum dikupas. Cara penyimpanannya perlu diperhatikan agar bawang tetap segar dan tidak rusak.

Dikutip dari Food Republic (10/5) berikut 3 tipsnya!

1. Masukkan ke Kulkas

Bawang yang sudah dikupas dan dipotong sebaiknya disimpan dalam kulkas. Masukkan ke wadah kedap udara agar tetap segar selama sekitar 7-10 hari.

Wadah kedap udara juga mencegah aroma bawang menyebar ke makanan lain. Cara ini penting karena bawang memiliki aroma kuat yang mudah terserap makanan.

Bawang juga dapat mempercepat pematangan kentang dan beberapa buah serta sayuran. Menyimpannya dalam wadah tertutup membantu mengurangi pengaruh tersebut.

2. Bawang Utuh Jangan di Kulkas

Bawang utuh atau bawang yang belum diiris sebaiknya tidak disimpan di kulkas karena bisa menjadi lembek. Simpan di tempat yang sejuk, kering, dan gelap.

Gunakan keranjang atau kantong berjaring agar udara tetap bisa bersirkulasi. Dalam kondisi tepat, bawang utuh dapat bertahan selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

Jangan menyimpan bawang utuh dalam wadah kedap udara. Sirkulasi udara yang buruk dapat membuat kualitas bawang lebih cepat menurun.

3. Dinginkan Sebelum Mengiris

Bawang bisa membuat mata perih dan berair saat dipotong. Masukkan bawang ke kulkas sekitar 30 menit sebelum mengiris untuk membantu mengurangi efek tersebut.

Saat memotong, pilih tempat yang memiliki ventilasi baik atau dekatkan dengan kipas. Aliran udara membantu menjauhkan senyawa bawang yang mengiritasi mata.

Untuk hasil rapi, potong bagian atas dan biarkan akarnya tetap utuh. Iris dari bagian atas menuju akar, lalu berhenti sebelum mencapai bagian akar.

Sumber : https://food.detik.com/info-kuliner/d-8628696/3-trik-simpan-bawang-kupas-agar-tetap-segar-dan-tak-bau-ke-mana-mana

Ketika Perubahan Iklim Menguji Ketahanan Air Indonesia

Ketika Perubahan Iklim Menguji Ketahanan Air Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap kali musim hujan datang, berita tentang banjir hampir selalu memenuhi ruang media. Sungai meluap, jalan-jalan terendam, ribuan rumah tergenang. Namun hanya beberapa bulan kemudian, ketika kemarau tiba, berita berubah drastis. Waduk menyusut, sawah mengering, masyarakat mengantri air bersih, dan pemerintah harus mengirimkan bantuan air ke berbagai daerah.

Paradoks ini terus berulang dari tahun ke tahun. Di musim hujan kita seolah kelebihan air, tetapi pada musim kemarau justru mengalami kekurangan air. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin negara yang memiliki lebih dari 5.500 sungai, sekitar 840 danau, serta curah hujan rata-rata sekitar 2.700 milimeter per tahun justru semakin rentan mengalami krisis air?

Jawabannya terletak pada satu kata yang semakin sering kita dengar, tetapi mungkin belum sepenuhnya kita pahami dampaknya, yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim bukan hanya menyebabkan suhu bumi meningkat. Dampaknya jauh lebih kompleks, termasuk mengubah pola hujan, memperpanjang musim kemarau, meningkatkan intensitas hujan ekstrem, memperbesar risiko banjir, dan pada saat yang sama meningkatkan ancaman kekeringan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan dan kejadian cuaca ekstrem. Seperti yang sudah terjadi, Indonesia mengalami musim hujan yang semakin tidak menentu, hujan ekstrem yang lebih sering, serta periode kemarau yang lebih panjang di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berimplikasi langsung terhadap ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, industri, dan pembangkit listrik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan bahwa fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña kini semakin memengaruhi distribusi hujan di Indonesia. Tahun-tahun ketika El Niño kuat terjadi, ratusan kabupaten mengalami kekeringan, debit sungai menurun drastis, dan produksi pertanian ikut terdampak. Sebaliknya, pada saat La Niña, curah hujan meningkat tajam sehingga memicu banjir dan longsor di banyak daerah.

Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya menyediakan air, melainkan menjaga ketahanan air (water security) di tengah iklim yang semakin tidak menentu.

Ketahanan Air Belum Menjadi Arus Utama Kebijakan

Selama ini kebijakan pembangunan air di Indonesia cenderung masih didominasi oleh pendekatan penyediaan infrastruktur. Ini meliputi pembangunan bendungan, embung, jaringan irigasi, dan sistem penyediaan air minum. Dalam satu dekade terakhir, Pemerintah telah membangun puluhan bendungan baru yang meningkatkan kapasitas tampungan air nasional. Namun, perubahan iklim menghadirkan tantangan baru yang tidak selalu dapat dijawab hanya dengan pembangunan infrastruktur.

Persoalan utama adalah kebijakan ketahanan air masih cenderung bersifat sektoral. Pengelolaan sumber daya air, tata ruang, kehutanan, pertanian, energi, dan pembangunan perkotaan sering kali berjalan sendiri-sendiri. Padahal, perubahan pada satu sektor akan berdampak langsung terhadap sektor lainnya.

Sebagai contoh, pembukaan kawasan hutan di daerah hulu dapat meningkatkan limpasan air pada musim hujan, Namun, pada saat yang sama mengurangi cadangan air tanah pada musim kemarau. Juga pembangunan kawasan perkotaan yang semakin masif tanpa ruang resapan menyebabkan air hujan lebih cepat mengalir ke laut daripada disimpan sebagai cadangan air.

Masalah lain adalah tingginya kehilangan air (non-revenue water) pada sistem penyediaan air minum di berbagai daerah. Kebocoran jaringan, sambungan ilegal, dan inefisiensi operasional menyebabkan sebagian air yang telah diproduksi tidak pernah sampai kepada pelanggan. Dalam kondisi perubahan iklim, setiap liter air yang hilang merupakan kerugian yang semakin mahal.

Ketahanan air juga belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. Banyak pemerintah daerah masih lebih fokus pada penanganan banjir ketika musim hujan dan penyediaan bantuan air bersih saat kemarau. Mereka tidak membangun sistem yang mampu mengurangi risiko kedua bencana tersebut secara bersamaan.

Penyebab Ancaman Ketahanan Air

Beberapa faktor saling berkaitan dan memperbesar ancaman terhadap ketahanan air Indonesia. Pertama, perubahan iklim mengubah pola hidrologi. Hujan turun dalam intensitas yang lebih tinggi tetapi dalam durasi yang lebih singkat. Air tidak sempat meresap ke dalam tanah dan lebih banyak menjadi limpasan yang memicu banjir.

Kedua, kerusakan daerah aliran sungai (DAS). Berkurangnya tutupan hutan dan kawasan resapan menyebabkan kemampuan alam menyimpan air terus menurun. Padahal, hutan merupakan “waduk alami” yang menjaga ketersediaan air sepanjang tahun.

Ketiga, pertumbuhan penduduk dan urbanisasi meningkatkan kebutuhan air secara signifikan. Kota-kota besar membutuhkan pasokan air yang terus bertambah, sementara sumber air baku tidak berkembang secepat pertumbuhan kebutuhan.

Keempat, pengelolaan air yang belum terintegrasi. Konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) yang direkomendasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan bahwa air harus dikelola secara menyeluruh, mulai dari daerah hulu hingga hilir, lintas sektor, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia.

Kelima, rendahnya efisiensi penggunaan air. Sektor pertanian masih menjadi pengguna air terbesar, sementara sebagian sistem irigasi belum efisien. Di kawasan perkotaan, konsumsi air juga terus meningkat tanpa diimbangi budaya hemat air.

Dalam perspektif teori Water Security, ketahanan air tidak hanya berarti tersedia cukup air. Tetapi harus menjamin kualitas, keterjangkauan, keberlanjutan, dan kemampuan masyarakat menghadapi risiko banjir dan kekeringan. Didasarkan atas teori tersebut, tantangan Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar membangun lebih banyak bendungan.

Alternatif Solusi

Menghadapi perubahan iklim, diperlukan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya air. Pertama, membangun ketahanan air berbasis ekosistem. Konservasi hutan, rehabilitasi daerah aliran sungai, perlindungan mata air, dan pemulihan lahan basah harus dipandang sebagai investasi infrastruktur alami yang sama pentingnya dengan pembangunan bendungan.

Untuk itu Pemerintah perlu menyusun “Strategi Nasional Ketahanan Air Berbasis Adaptasi Perubahan Iklim” yang mengintegrasikan kebijakan sumber daya air, kehutanan, pertanian, tata ruang, energi, dan pembangunan daerah.

Kedua, mempercepat penerapan konsep kota spons (sponge city). Melalui ruang terbuka hijau, taman resapan, sumur resapan, kolam retensi, serta pemanenan air hujan, kota dapat menyimpan lebih banyak air ketika musim hujan dan menggunakannya kembali pada musim kemarau. Untuk itu, anggaran rehabilitasi hutan dan perlindungan kawasan imbuhan perlu dipandang sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur, bukan sekadar program lingkungan.

Ketiga, meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui teknologi irigasi hemat air, pemanfaatan kembali air limbah yang telah diolah (water recycling), dan pengurangan kebocoran jaringan air minum. Untuk itu, perlu mempercepat perluasan layanan air minum perpipaan dan mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, terutama di kota-kota besar yang mengalami penurunan muka tanah.

Keempat, memperkuat sistem informasi iklim dan hidrologi. Data BMKG, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Informasi Geospasial, serta pemerintah daerah perlu diintegrasikan sehingga perencanaan sumber daya air lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Kelima, memperluas edukasi publik. Ketahanan air tidak mungkin diwujudkan hanya melalui kebijakan Pemerintah. Masyarakat juga harus memahami bahwa menghemat air hari ini merupakan investasi untuk menghadapi iklim masa depan.

Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/tk3wab368/ketika-perubahan-iklim-menguji-ketahanan-air-indonesia

Craving Cemilan Sehabis Makan? Dokter Gizi Bagikan Tips Mengatasinya

Craving Cemilan Sehabis Makan? Dokter Gizi Bagikan Tips Mengatasinya

Jakarta – Keinginan kuat untuk ngemil (craving), terutama makanan atau minuman manis setelah selesai makan sering kali menjadi tantangan terbesar saat menjaga pola makan. Jika terus dituruti, kebiasaan ini dapat mengganggu program diet dan kesehatan secara keseluruhan.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa ‘craving’ manis sehabis makan biasanya terbentuk dari kebiasaan yang terus-menerus diulang hingga menjadi pola ketagihan.

“Begitu sudah enggak minum atau makan manis lagi, kayak nyariin. Kayak jadi ada yang kurang, mood-nya jadi enggak bagus tuh, karena masih pengin makan manis terus. Terus ‘craving’ melulu gitu kan,” beber dalam live TikTok detikHealth, Kamis (13/8/2026)

Untuk memutus rantai ‘craving’ tersebut, dr Yaze menyarankan perbaikan pada susunan komposisi makanan utama. Salah satu trik praktis yang dia bagikan adalah membagi piring makan dengan metode pembagian.

“Nah, dalam satu porsi ketika kita makan, itu dibagi. Jadi dibagi nih, aku kasih kayak huruf T gitu (di piring),” jelasnya.

Berikut panduan pembagian piring metode ‘Huruf T’ ala dr Yaze:

  • Separuh Piring (setengah bagian atas): Diisi penuh dengan sayuran dan buah-buahan sebagai sumber serat utama.
  • Seperempat Piring (seperempat bagian bawah kiri): Diisi dengan sumber protein tinggi, seperti ayam, ikan, tahu, tempe, atau telur.
  • Seperempat Piring (seperempat bagian bawah kanan): Diisi dengan karbohidrat, misalnya nasi, kentang, atau ubi.

dr Yaze menegaskan bahwa kuncinya ada pada kebiasaan mengonsumsi cukup protein dan serat saat makan utama. Kedua nutrisi ini membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga rasa kenyang dapat bertahan lama dan keinginan ngemil manis tidak muncul kembali.

“Supaya kenyangnya lebih lama gara-gara si protein dan serat tadi, sehingga enggak craving’ lagi setelah makan,” tutupnya.

Sumber : https://health.detik.com/diet/d-8626636/craving-cemilan-sehabis-makan-dokter-gizi-bagikan-tips-mengatasinya

Kawal Transparansi Pengadaan BBM hingga LPG, PPN Gandeng Jamintel

Kawal Transparansi Pengadaan BBM hingga LPG, PPN Gandeng Jamintel

Liputan6.com, Jakarta – Pertamina Patra Niaga menggandeng Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI untuk memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan transparansi, serta meminimalkan risiko hukum dalam proses pengadaan Minyak Mentah (Crude Oil), Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk periode 2026–2027.

Kesepakatan dituangkan dalam penandatanganan Pakta Integritas Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Direktur Niaga Pertamina Patra Niaga, Erwin Suryadi, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi benteng utama dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah tingginya volatilitas harga minyak dunia, dinamika supply-demand, serta ketidakpastian geopolitik global.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat, tetapi juga memicu fluktuasi harga komoditas yang signifikan.

“Kami menyadari bahwa Direktorat Niaga adalah garda terdepan dalam menjamin pasokan energi, baik crude oil untuk kilang maupun BBM dan LPG untuk masyarakat. Dengan adanya pendampingan Jamintel, kami ingin memastikan setiap keputusan pengadaan dilakukan secara terbuka, sesuai hukum, dan berorientasi pada kepentingan bangsa,” ujar Erwin.

Erwin menambahkan, hadirnya pendampingan dari Jamintel Kejaksaan Agung merupakan langkah Pertamina Patra Niaga dalam membuka diri secara transparan pada setiap proses tender dan pengadaan.

Selain itu, perusahaan siap menerima masukan serta evaluasi demi perbaikan tata kelola secara berkelanjutan yang selaras dengan hukum positif Indonesia dan regulasi internasional.

“Kerja sama ini menjadi panduan strategis yang sangat berharga. Kami berharap sinergi ini menjadi awal yang baik untuk menunjukkan bahwa pengelolaan energi Indonesia semakin profesional, efisien, akuntabel, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ungkapnya.

Awasi 3 Kegiatan

Plt. Sekretaris Jamintel Kejaksaan Agung, Sarjono Turin, menyampaikan bahwa pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG oleh Pertamina Patra Niaga merupakan bagian dari proyek pembangunan prioritas nasional dalam Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.

Menurut Sarjono, disinilah titik temu diantara Kejagung dan Pertamina Patra Niaga. Ia mengatakan, kerja sama ini selaras dengan tugas dan wewenang kejaksaan di bidang intelijen untuk menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan strategis melalui fungsi Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS).

“Tugas dan wewenang kejaksaan ini tertuang dalam Pasal 30B Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021,” jelas Sarjono.

Adapun ruang lingkup Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) periode 2026–2027 ini mencakup tiga kegiatan pengadaan impor utama, yakni impor crude oil, impor BBM serta impor LPG.

Sarjono menegaskan, pendampingan ini dilakukan secara profesional, netral, dan akuntabel sesuai Pedoman Jaksa Agung Nomor 5 Tahun 2023. Tim PPS disiagakan untuk memitigasi potensi Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) dalam rantai pasok energi.

“Pengadaan energi ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kami mengapresiasi transformasi tata kelola yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga. Kejaksaan hadir untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan, tepat waktu, tepat guna, serta taat regulasi sehingga menjadi percontohan tata kelola energi yang bersih,” tegas Sarjono.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8273553/kawal-transparansi-pengadaan-bbm-hingga-lpg-ppn-gandeng-jamintel