Ciri Orang Psikopat Mudah Dikenali, Bisa Dilihat dari Makanan Kesukaan

Ciri Orang Psikopat Mudah Dikenali, Bisa Dilihat dari Makanan Kesukaan

Jakarta, CNBC Indonesia – Kepribadian seseorang ternyata dapat tercermin dari banyak hal, termasuk pilihan makanan favoritnya. Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara preferensi terhadap rasa tertentu dengan sifat-sifat kepribadian, termasuk kecenderungan perilaku antisosial yang kerap dikaitkan dengan psikopat.

Meski begitu, para ahli menegaskan, menyukai makanan tertentu bukan berarti seseorang otomatis merupakan psikopat. Preferensi makanan hanya menunjukkan korelasi dalam penelitian, bukan menjadi alat diagnosis gangguan kepribadian.

Eric Patterson, seorang konselor profesional berlisensi yang berbasis di Cabot, Pennsylvania menjelaskan, dalam dunia kesehatan mental sendiri, istilah psikopat bukan merupakan diagnosis medis resmi.

Kondisi yang paling dekat dengan istilah tersebut adalah gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD), yang hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan oleh tenaga profesional. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala ASPD mengutip Psych Central, Minggu (19/7/2026).

1. Mengabaikan hak orang lain dan nilai-nilai di masyarakat

Patterson bilang, mengabaikan hak orang lain adalah salah satu tanda ASPD yang paling menonjol. Perilaku ini melanggar hak-hak orang lain dan hukum yang telah ditetapkan oleh masyarakat.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 mencatat, penderita ASPD menunjukkan pola pengabaian terhadap hak orang lain. Seseorang dengan ASPD mungkin tidak mengikuti norma-norma sosial, dan mereka mungkin melakukan hal-hal yang dianggap melanggar hukum oleh orang lain.

Penelitian pada tahun 2018 menunjukkan, orang-orang dengan psikopati memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain tetapi mereka tidak terampil dalam hal ini, sehingga berkontribusi pada ketidakpedulian mereka terhadap orang-orang di sekitar mereka.

2. Berbohong dan manipulatif

Orang dengan ASPD juga cenderung melakukan kebohongan. Mereka bahkan berbohong tentang namanya dan menggunakan nama samaran atau identitas lainnya.

Biasanya, kebohongan dilakukan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain, seperti seks atau keuntungan finansial. Mereka mungkin memanipulasi orang dengan menggunakan pesona dan pujian. Manipulasi ini mungkin juga melibatkan pelecehan emosional atau pemerasan.

3. Agresif

Penting untuk diperhatikan tidak semua psikopat agresif secara fisik. Namun ciri umum di antara orang-orang dengan ASPD adalah mereka bertindak agresif atau sangat mudah tersinggung. Agresif tidak harus bersifat fisik, tapi juga bisa melibatkan pelecehan verbal.

4. Impulsif

Orang dengan ASPD mungkin bertindak impulsif. Artinya mereka melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.

Ketika melakukan hal berisiko, mereka mungkin tidak memikirkan keselamatan mereka sendiri atau keselamatan orang lain. Sebagian karena sifat impulsif ini, orang dengan ASPD lebih mungkin mengalami gangguan penggunaan narkoba dibandingkan orang lain.

Orang dengan ASPD juga memiliki peluang lebih tinggi tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) karena perilaku seksual impulsif, dan mungkin memiliki angka kematian lebih awal dibandingkan orang tanpa gangguan tersebut karena kecelakaan, cedera, dan bunuh diri.

5. Tidak memiliki rasa penyesalan

Seseorang dengan ASPD tidak memiliki penyesalan atas tindakan mereka, meskipun mereka telah berbohong hingga melanggar hak orang lain. Dengan kata lain, mereka tidak merasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan.

Hubungan antara makanan dan kepribadian

Para peneliti dari University of Innsbruck di Austria menyelidiki preferensi selera 953 orang Amerika. Para peserta ditanya tentang keberpihakan mereka terhadap makanan dan minuman manis, asam, asin, dan pahit.

Mereka juga harus menjawab empat survei kepribadian berbeda yang menilai ciri-ciri kepribadian antisosial seperti psikopat, narsisme, agresi, dan sadisme. Para peneliti mengatakan mereka menemukan hubungan antara peningkatan kenikmatan makanan pahit dan kecenderungan perilaku sadis.

Secara khusus, perilaku sadisme sehari-hari secara signifikan berkorelasi positif dengan preferensi rasa pahit secara umum.

Makanan yang disukai orang dengan kecenderungan psikopat

Dalam mempelajari preferensi makanan, penelitian lain yang dilakukan Sagioglou dan Greitemeyer juga menunjukkan korelasi positif antara preferensi rasa pahit dan sifat kejam.

Makanan dan minuman pahit itu di antaranya adalah kopi, lobak, bir, air tonik, dan seledri. Dibandingkan dengan rasa lain, pahit lebih menunjukkan “sisi psikopat” pada masing-masing orang.

Sagioglou dan Greitemeyer mencatat, supertasting, yang didefinisikan sebagai peningkatan kepekaan terhadap rasa pahit, berkaitan dengan tingkat emosi yang lebih tinggi pada manusia. Hal yang sama juga ditemukan pada tikus.

Dan sesuai dengan sifatnya, orang yang ramah lebih suka makanan manis, seperti permen dan cokelat, serta tidak suka makanan pahit.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20260719112710-4-751945/ciri-orang-psikopat-mudah-dikenali-bisa-dilihat-dari-makanan-kesukaan

Menakar Pergeseran Pola Pikir Gen Z dan Milenial Indonesia yang Mulai Mengutamakan Keseimbangan Hidup

Menakar Pergeseran Pola Pikir Gen Z dan Milenial Indonesia yang Mulai Mengutamakan Keseimbangan Hidup

PORTALBERITA.CO.ID – Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan fisik kini tengah mengalami transformasi besar di kalangan generasi muda Indonesia. Kelompok usia produktif ini mulai meninggalkan paradigma lama yang hanya mengagungkan produktivitas tanpa batas.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, khususnya di kawasan perkotaan Indonesia, tekanan kerja sering kali memicu kejenuhan ekstrem. Fenomena ini akhirnya mendorong para pemuda untuk mengevaluasi kembali makna kesuksesan yang sesungguhnya.

Pergeseran prioritas ini terjadi bukan karena menurunnya etos kerja, melainkan sebagai bentuk adaptasi yang realistis terhadap kondisi kesehatan mereka. Generasi muda menyadari bahwa bekerja terus-menerus tanpa jeda justru dapat menurunkan kualitas hidup dan efektivitas kerja dalam jangka panjang.

Kini, fokus utama mereka beralih pada pemulihan energi secara berkala dan pencapaian keseimbangan hidup yang lebih harmonis. Langkah ini diimplementasikan melalui pengelolaan waktu yang lebih bijak, termasuk membatasi jam kerja dan meluangkan waktu untuk rekreasi.

Perubahan perilaku tersebut mencerminkan adanya evolusi pemahaman yang mendalam mengenai konsep kesehatan secara holistik. Kesehatan tidak lagi didefinisikan hanya sebagai kondisi bebas dari penyakit fisik, melainkan juga mencakup kebugaran mental dan emosional yang stabil.

Fenomena pergeseran nilai kehidupan ini menjadi sinyal positif bagi masa depan dunia kerja yang lebih sehat di tanah air. Informasi mengenai perubahan tren gaya hidup anak muda ini dikutip dari INFOTREN.ID.

Pada akhirnya, tren baru ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan dan pelaku industri pun dituntut untuk mulai beradaptasi dengan menyediakan ruang bagi kesejahteraan karyawan mereka.

Sumber : https://portalberita.co.id/post/menakar-pergeseran-pola-pikir-gen-z-dan-milenial-indonesia-yang-mulai-mengutamakan-keseimbangan-hidup

Bukan Harus Dipendam, Ini Cara Mengelola Amarah agar Lebih Sehat

Bukan Harus Dipendam, Ini Cara Mengelola Amarah agar Lebih Sehat

KOMPAS.com – Kemarahan kerap dianggap sebagai emosi yang harus dihindari.

Tak sedikit orang merasa bangga karena mengaku “tidak pernah marah” atau selalu mampu menahan emosi.

Namun, menurut penulis buku Good Anger, Sam Parker, anggapan tersebut belum tentu benar.

Seseorang yang merasa tidak pernah marah bisa jadi sebenarnya hanya terbiasa memendam amarah.

“Ketika orang berkata, ‘Saya tidak pernah marah,’ yang sebenarnya mereka maksud adalah mereka sangat pandai menahan amarah, sering kali dengan mengorbankan diri sendiri,” kata Parker, dikutip dari The Guardian, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, kemarahan bukanlah emosi yang buruk.

Sama seperti sedih, takut, atau bahagia, marah merupakan respons alami yang membantu seseorang mengenali ketika ada batasan yang dilanggar, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau ketidakadilan yang dialami.

Yang perlu dipelajari bukanlah menghilangkan rasa marah, melainkan mengelolanya dengan cara yang sehat.

Mengapa amarah tidak sebaiknya dipendam?

Parker menjelaskan bahwa banyak orang terbiasa menyamakan kemarahan dengan agresi atau kekerasan. Padahal, keduanya berbeda.

Agresi merupakan perilaku, sedangkan kemarahan adalah emosi.

Seseorang bisa merasakan marah tanpa harus melampiaskannya dengan cara yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya, memendam amarah dalam waktu lama justru dapat menimbulkan dampak negatif.

Menurut Parker, kemarahan yang terus ditekan dapat memperpanjang respons stres tubuh, termasuk meningkatkan kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan.

Ia juga menemukan bahwa orang yang terbiasa menekan amarah kerap mengalami kecemasan, karena emosi tersebut tidak pernah benar-benar diproses.

Cara mengelola amarah dengan lebih sehat

Alih-alih menekan atau meluapkan amarah secara berlebihan, Parker menyarankan beberapa cara yang lebih sehat untuk mengelola emosi tersebut.

1. Akui bahwa Anda sedang marah

Langkah pertama adalah menerima bahwa rasa marah memang sedang muncul.

Mengakui emosi bukan berarti membenarkan tindakan agresif.

Sebaliknya, hal ini membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Dengan mengenali emosi, seseorang dapat berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan.

2. Cari tahu penyebab sebenarnya

Menurut Parker, kemarahan sering kali bukan semata-mata disebabkan oleh orang lain.

Emosi tersebut justru dapat menjadi petunjuk bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi, batasan yang dilanggar, atau pengalaman masa lalu yang belum selesai.

Karena itu, cobalah bertanya kepada diri sendiri mengenai alasan di balik kemarahan yang muncul.

3. Salurkan melalui aktivitas fisik

Parker mengaku mulai memahami emosinya setelah rutin berlatih tinju.

Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, jogging, menari, atau olahraga lainnya dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan sehingga emosi menjadi lebih terkendali.

Cara ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar melampiaskan amarah dengan berteriak atau memukul benda.

4. Ekspresikan lewat cara yang kreatif

Selain bergerak, kemarahan juga dapat disalurkan melalui kegiatan kreatif.

Menulis jurnal, menggambar, melukis, atau menuangkan perasaan dalam bentuk karya dapat membantu seseorang memahami emosinya tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

5. Putuskan langkah yang perlu diambil setelah emosi mereda

Setelah perasaan lebih tenang, barulah tentukan apakah situasi tersebut memang memerlukan tindakan.

Dalam beberapa kondisi, seseorang mungkin perlu menyampaikan keberatan, menetapkan batasan, atau melakukan percakapan yang sulit dengan orang lain.

Namun, ada pula situasi yang cukup diselesaikan dengan memahami emosi yang muncul tanpa harus bereaksi berlebihan.

Sumber :https://lifestyle.kompas.com/read/2026/07/13/160000820/bukan-harus-dipendam-ini-cara-mengelola-amarah-agar-lebih-sehat

Mengapa Ada Bisnis yang Bertahan Hingga Ratusan Tahun?

Mengapa Ada Bisnis yang Bertahan Hingga Ratusan Tahun?

Saya baru saja membaca sebuah postingan dari CEO Trisna Group yang menurut saya sangat menarik untuk direnungkan.

Dalam postingannya, beliau mengungkapkan bahwa bisnis yang mampu bertahan lebih dari 10 tahun saja sudah merupakan pencapaian yang luar biasa. Apalagi jika sebuah perusahaan mampu bertahan hingga lebih dari 50 tahun. Namun, yang benar-benar mengundang pertanyaan adalah bagaimana ada perusahaan yang usianya telah mencapai lebih dari 200 tahun.

Pemikiran tersebut membuat saya berpikir, apa sebenarnya yang membuat sebuah bisnis mampu bertahan begitu lama?

Menurut saya, ada dua faktor yang sangat menentukan.

1. Besarnya dan Keberlanjutan Market

Hal pertama yang perlu dilihat adalah market. Seberapa besar pasar yang dilayani? Apakah kebutuhan tersebut akan tetap ada dalam jangka panjang?

Bisnis tidak dapat bertahan hanya karena produknya bagus. Ia harus berada di pasar yang terus hidup atau mampu menyesuaikan diri ketika kebutuhan pasar berubah.

Perusahaan yang mampu bertahan puluhan hingga ratusan tahun biasanya selalu menemukan cara agar tetap relevan bagi konsumennya.

2. Visi Founder yang Sangat Jelas

Dalam postingannya, CEO Trisna Group juga menyoroti pentingnya visi seorang founder. Menurut beliau, founder harus memiliki tujuan yang benar-benar jelas, bahkan untuk 10, 20, hingga 30 tahun ke depan. Tidak hanya itu, visi tersebut juga harus mampu dipecah menjadi langkah-langkah yang dapat dijalankan agar benar-benar tercapai.

Saya sependapat dengan pandangan tersebut. Founder yang membangun perusahaan dengan orientasi jangka panjang akan mengambil keputusan yang berbeda dibandingkan founder yang hanya mengejar keuntungan sesaat.

Visi yang besar tidak cukup hanya menjadi slogan. Visi harus diterjemahkan menjadi target, strategi, sistem, dan budaya kerja yang bisa dijalankan oleh seluruh organisasi.

Mengapa Banyak Bisnis Tidak Bertahan Lama?

Dalam akhir postingannya, CEO Trisna Group juga menyampaikan pandangannya bahwa banyak bisnis gagal karena founder tidak memiliki visi yang jelas.

Terlepas dari masih banyak faktor lain yang dapat menyebabkan kegagalan sebuah bisnis, saya melihat bahwa visi memang merupakan fondasi yang sangat penting. Tanpa arah yang jelas, perusahaan akan lebih mudah kehilangan fokus ketika menghadapi perubahan pasar, persaingan, maupun tantangan ekonomi.

Sebaliknya, ketika visi menjadi kompas dalam setiap pengambilan keputusan, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan dan membangun bisnis yang dapat bertahan lintas generasi.

Referensi : https://www.instagram.com/p/DaSQ-u2Cdam/

Suhu Minus Nol Derajat di Dieng Lebih Sering Terjadi Tahun Ini, BMKG Ingatkan Wisatawan

Suhu Minus Nol Derajat di Dieng Lebih Sering Terjadi Tahun Ini, BMKG Ingatkan Wisatawan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berpotensi lebih sering terjadi selama musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dari dua tahun sebelumnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Guruh Tjiptanto mengatakan suhu nol derajat Celsius atau bahkan minus yang kerap dilaporkan saat embun upas muncul bukan merupakan suhu udara, melainkan suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus.

“Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput,” ujar Guruh saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu (18/7/2026).

Di Bawah Kondisi Normal

Selanjutnya Guruh menerangkan, peluang munculnya embun upas akan semakin besar apabila sifat musim kemarau lebih kering atau berada di bawah kondisi normal.

“Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya,” kata dia.

Ia juga menjelaskan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan kondisi kering masih berlanjut hingga September.

Oleh karena itu, peluang terbentuknya embun upas diprakirakan meningkat pada periode tersebut.

Menurut Guruh, musim kemarau 2026 diprakirakan lebih dingin dibandingkan musim kemarau 2025 maupun 2024, bahkan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan musim kemarau 2023 yang juga ditandai kemunculan embun upas di kawasan Dieng.

“Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September ‘mbediding’ (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa,” katanya.

Persiapkan Diri

Lebih jauh Guruh mengimbau wisatawan yang ingin menyaksikan embun upas mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian berlapis (layering system), mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal tahan angin agar tetap hangat selama berada di kawasan Dieng.

Selain itu, wisatawan disarankan menggunakan kupluk yang menutup telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu yang nyaman, serta memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat.

Bagi yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin, diminta membawa obat-obatan pribadi atau inhaler.

Ia juga mengingatkan udara pegunungan pada musim kemarau sangat kering sehingga pengunjung dianjurkan membawa pelembap kulit dan pelembap bibir untuk mencegah kulit maupun bibir pecah-pecah.

“Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi,” ungkap Guruh menambahkan.

Sumber : https://www.inilah.com/suhu-minus-nol-derajat-di-dieng-lebih-sering-terjadi-tahun-ini-bmkg-ingatkan-wisatawan

Cara Mencuci Sayuran Hijau agar Aman Dikonsumsi, Jangan Cuma Dibilas

Cara Mencuci Sayuran Hijau agar Aman Dikonsumsi, Jangan Cuma Dibilas

Jakarta, CNN Indonesia — Sayuran hijau seperti selada, bayam, sawi, brokoli, hingga kale dikenal kaya akan vitamin, mineral, dan serat. Namun, sayuran berdaun juga menjadi salah satu makanan yang rentan menyebabkan keracunan apabila terkontaminasi.
Dikutip dari laman Everyday Health, para ahli menyebut sayuran hijau rentan terkontaminasi karena tumbuh dekat dengan permukaan tanah.

Karenanya, potensi terpapar tanah, air irigasi, maupun kotoran hewan sangat besar. Terlebih lagi sebagian besar sayuran tersebut biasa dikonsumsi mentah.

“Sayuran berdaun sering dikaitkan dengan wabah penyakit bawaan makanan karena dikonsumsi tanpa melalui proses yang dapat membunuh mikroorganisme setelah dipanen dari lahan,” ujar Direktur Pusat Keamanan Pangan sekaligus profesor ilmu pangan di University of Georgia, Francisco Diez-Gonzalez.

Meski tidak ada cara yang dapat menghilangkan seluruh kuman, para ahli mengatakan memilih, mencuci, dan menyimpan sayuran dengan benar dapat membantu menurunkan risiko keracunan makanan.

Tips mencuci sayuran hijau
Semua sayuran berdaun hijau harus dicuci sebelum dikonsumsi. Berikut langkahnya.

  1. Sebelum mencuci sayuran, pastikan cuci tangan, talenan, pisau, meja dapur, dan peralatan lain menggunakan air hangat dan sabun untuk mencegah kontaminasi silang.
  2. Jika sayuran tampak berpasir atau sangat kotor, rendam terlebih dahulu di dalam mangkuk berisi air dingin sambil digerakkan perlahan agar kotoran terlepas.
  3. Setelah itu, angkat daun satu per satu lalu bilas di bawah air mengalir hingga bersih.
  4. Usai dicuci, keringkan sayuran menggunakan salad spinner atau tisu dapur bersih agar sisa air dan kotoran berkurang sekaligus memperlambat pembusukan.

“Proses pencucian dapat mengurangi sekitar 90 persen mikroba yang menempel di permukaan daun, dan mengeringkannya dengan tisu membantu menyempurnakan proses tersebut,” ujar Diez-Gonzalez.

Perlukah sayuran direbus sebentar?
Untuk sayuran dengan daun lebih kokoh, seperti kale, brokoli, atau bayam, para ahli menyarankan teknik blanching atau merebus sebentar sebagai cara tambahan agar lebih aman dikonsumsi.

Caranya cukup sederhana. Sayuran dimasukkan ke air mendidih selama beberapa saat, kemudian segera pindahkan ke air es untuk menghentikan proses pematangan sayur.

Pakar keamanan pangan dari Penn State University, Martin Bucknavage, prosedur blanching juga umum dilakukan sebelum sayuran dibekukan untuk membantu menjaga warna dan mencegah teksturnya menjadi lembek setelah dicairkan kembali.

“Blanching juga menghancurkan kuman, sehingga memang memiliki fungsi sanitasi,” ujarnya.

Namun, metode ini tidak disarankan untuk sayuran yang bertekstur lembut seperti selada karena panas dapat merusak kerenyahan dan cita rasanya.

Para ahli juga mengingatkan agar tidak mencuci sayuran menggunakan sabun, pemutih, atau cairan pembersih rumah tangga karena residunya justru dapat menyerap ke dalam daun dan berbahaya jika dikonsumsi.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260715144504-262-1381035/cara-mencuci-sayuran-hijau-agar-aman-dikonsumsi-jangan-cuma-dibilas

7 Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Enggan Terbuka dan Bercerita

7 Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Enggan Terbuka dan Bercerita

Jakarta, CNN Indonesia — Banyak orang tua berharap anak mau menceritakan masalahnya, mulai dari persoalan sekolah, pertemanan, hingga perasaan yang sedang mereka alami.

Namun, tanpa disadari ada beberapa kesalahan orang tua yang membuat anak tidak terbuka untuk menyampaikan perasaannya. Berikut penyebab anak jarang bercerita kepada orang tuanya.

Sikap anak yang mulai tertutup biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Pasalnya, anak cenderung menyimpan perasaannya sendiri ketika merasa tidak mendapatkan respons yang membuat mereka nyaman dari orang tuanya.

Hal ini juga berlaku pada remaja yang memiliki kebutuhan untuk didengarkan tanpa selalu dihakimi atau langsung diberikan solusi. Memahami alasan di balik sikap tertutup anak bisa membantu orang tua membangun kembali komunikasi yang lebih sehat.

Penyebab anak jarang bercerita kepada orang tuanya

Dikutip dari berbagai sumber, berikut penyebab anak jarang bercerita kepada orang tuanya yang perlu diketahui.

1. Selalu mengubah percakapan menjadi nasihat panjang

Memberikan arahan kepada anak memang penting, tetapi terlalu sering mengubah setiap cerita menjadi sesi nasihat panjang bisa membuat anak enggan terbuka.

Berdasarkan penjelasan The Times of India, anak biasanya datang kepada orang tua karena ingin merasa dipahami terlebih dahulu sebelum menerima solusi.

Jika setiap kali bercerita anak langsung mendapatkan ceramah tentang kesalahan atau tanggung jawab, mereka dapat menghubungkan kejujuran dengan pengalaman yang kurang menyenangkan.

Mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan masukan dapat membantu menjaga komunikasi tetap terbuka.

2. Bereaksi dengan marah sebelum memahami situasi

Salah satu penyebab anak memilih diam adalah takut menghadapi reaksi negatif dari orang tua. Ketika anak mengakui kesalahan, seperti mendapat nilai buruk atau mengambil keputusan yang keliru, respons berupa kemarahan dapat membuat mereka berpikir bahwa berkata jujur memiliki risiko besar.

Dengan bersikap tenang saat mendengarkan penjelasan anak bukan berarti membenarkan kesalahan mereka. Sikap ini justru memberi ruang bagi orang tua untuk memahami situasi sebelum memberikan arahan yang tepat.

3. Sering mengabaikan perasaan anak

Kalimat seperti “itu bukan masalah besar” atau “tidak perlu menangis karena hal seperti itu” mungkin bertujuan menenangkan anak. Namun, bagi anak, perkataan tersebut bisa membuat mereka merasa emosinya tidak dianggap.

Masalah yang terlihat sederhana bagi orang dewasa dapat terasa sangat berat bagi anak. Mengakui perasaan anak bukan berarti selalu menyetujui semua reaksinya, tetapi menunjukkan bahwa apa yang mereka rasakan tetap dihargai.

4. Membandingkan anak dengan orang lain

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain sering dilakukan dengan tujuan memberikan motivasi. Namun, kebiasaan ini dapat menjadi salah satu penyebab anak jarang bercerita kepada orang tuanya.

Menurut penjelasan psikologi yang dikutip dari The Times of India, perbandingan yang terjadi berulang dapat mempengaruhi rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa tidak cukup baik. Akibatnya, anak mungkin lebih memilih menyembunyikan masalah agar tidak dibandingkan lagi.

5. Memotong pembicaraan sebelum anak selesai bercerita

Anak terkadang membutuhkan waktu lebih lama untuk menjelaskan sesuatu, terutama ketika sedang memproses emosi. Ketika orang tua terlalu cepat menyela, memberikan asumsi, atau langsung menyimpulkan, anak bisa merasa pendapatnya tidak penting.

Memberikan kesempatan anak menyelesaikan cerita menunjukkan bahwa suara mereka dihargai. Sikap mendengarkan secara aktif dapat membantu anak merasa lebih nyaman untuk berbagi.

6. Mengungkit kesalahan anak di kemudian hari

Kepercayaan anak bisa berkurang ketika cerita pribadi atau kesalahan yang pernah mereka ungkapkan digunakan kembali saat terjadi konflik. Anak dapat merasa bahwa keterbukaan mereka justru menjadi sesuatu yang merugikan.

Oleh karena itu, anak perlu mengetahui bahwa momen ketika mereka jujur tidak akan digunakan untuk mempermalukan mereka di masa depan.

7. Anak takut membuat orang tua khawatir atau kecewa

Tidak semua anak diam karena tidak percaya kepada orang tuanya. Dikutip dari organisasi kesehatan mental Didi Hirsch, sebagian anak memilih menyimpan masalah karena tidak ingin membuat orang tua semakin khawatir atau terbebani.

Selain itu, anak merasa orang tua mungkin tidak memahami situasi mereka atau akan langsung mencoba menyelesaikan masalah tanpa mendengarkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, membangun hubungan yang penuh empati dapat membantu anak merasa lebih aman untuk berbagi cerita.

Memahami penyebab anak jarang bercerita dapat membantu orang tua memperbaiki cara berkomunikasi dan merespons. Dengan begitu hubungan antara orang tua dan anak bisa menjadi lebih terbuka serta penuh kepercayaan.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260710100225-284-1379057/7-kesalahan-orang-tua-yang-membuat-anak-enggan-terbuka-dan-bercerita?mtype=mpc.ctr.A-boxccxmpcxmp-modelA

Ramai-Ramai Kembali ke Perpustakaan

Ramai-Ramai Kembali ke Perpustakaan

Liputan6.com, Jakarta – Minat masyarakat terhadap Perpustakaan Jakarta terus menunjukkan tren peningkatan. Hal itu tercermin dari tingginya angka kunjungan sepanjang Semester I 2026 hingga antusiasme warga yang langsung memenuhi kuota kegiatan Night at the Library (NATL) dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat, 17 Juli 2026 malam.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono mengatakan, ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Menurut dia, perpustakaan kini tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial.

“Ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Perpustakaan kini tak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial,” tutur Nasruddin, Sabtu (18/7/2026), seperti dilansir dari Antara.

Ia berharap, Perpustakaan Jakarta dapat terus menjadi inovasi layanan yang menghadirkan konsep third place atau ruang ketiga bagi masyarakat.

Nasruddin menjelaskan, HUT ke-4 Perpustakaan Jakarta yang diperingati pada 7 Juli 2026 bertepatan dengan peluncuran Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang telah diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Menurut dia, kehadiran perpustakaan baru tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang bahkan mampu menarik sekitar 1.000 pengunjung setiap hari.

“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Jakarta terus meningkat,” jelas dia.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dalam penyelenggaraan Night at the Library. Seluruh kuota peserta sebanyak 800 orang habis hanya sesaat setelah pendaftaran dibuka.

Data Peningkatan Minat

Data Dispusip DKI Jakarta mencatat, sepanjang Semester I 2026, Perpustakaan Jakarta menerima 320.352 kunjungan atau rata-rata sekitar 13 ribu pengunjung setiap pekan. Sementara sejak kembali dibuka hingga memasuki usia empat tahun, jumlah kunjungan telah mencapai sekitar 1,96 juta orang.

“Angka ini menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring,” ungkap Nasruddin.

Nasruddin menambahkan, penguatan budaya literasi menjadi bagian penting dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui ruang-ruang literasi yang terbuka dan inklusif.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Diki Lukman Hakim mengatakan, transformasi layanan perpustakaan bertujuan memperkuat perannya sebagai third place atau ruang ketiga yang nyaman bagi masyarakat.

“Kami berharap transformasi layanan ini dapat memantapkan peran Perpustakaan Jakarta sebagai ruang ketiga tempat interaksi sosial yang inklusif, nyaman, dan hidup di luar rumah serta tempat kerja,” ujarnya.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim mengapresiasi inovasi layanan yang terus dilakukan Dispusip DKI Jakarta. Menurut dia, perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan kreativitas, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

”Kami berharap, program seperti Night at the Library terus digelar agar Perpustakaan Jakarta semakin menjadi pusat literasi, kreativitas, pengembangan sumber daya manusia, sekaligus ruang kolaborasi yang memperkuat interaksi sosial masyarakat Jakarta,” Ali menandaskan.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/8249057/ramai-ramai-kembali-ke-perpustakaan

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Di banyak negara, bantuan pangan masih identik dengan pembagian sembako atau dapur umum saat terjadi bencana. Namun Dubai memilih pendekatan berbeda.

Kota Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di Jazirah Arab dan terkenal sebagai pusat modernitas ini membangun sebuah sistem yang memungkinkan masyarakat memperoleh makanan pokok kapan saja melalui teknologi, tanpa antre, tanpa birokrasi, dan tetap menjaga martabat penerima manfaat.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Bread for All, sebuah inisiatif kemanusiaan yang digagas oleh Penguasa Dubai, Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Program tersebut menghadirkan mesin pintar yang memproduksi roti segar selama 24 jam dan dapat diakses secara gratis oleh warga yang membutuhkan.

Berbeda dengan bantuan sosial konvensional yang bersifat insidental, Bread for All dirancang sebagai model filantropi yang berkelanjutan.

Teknologi ditempatkan sebagai penghubung antara para dermawan dan masyarakat yang membutuhkan, sehingga bantuan dapat terus mengalir tanpa bergantung pada momentum tertentu.

Syekh Mohammed ingin memastikan kebutuhan paling mendasar masyarakat tetap terpenuhi. Dia tak ingin ada warga Dubai yang tidur dalam keadaan lapar.

Dilansir dari Khaleej Times, Selasa (14/7/2026), melalui yayasannya, The Mohammed bin Rashid Global Centre for Endowment Consultancy (MBRGCEC), ia meluncurkan Bread for All sebagai bagian dari visi membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Menurut laporan itu, inisiatif digital tersebut telah diluncurkan sejak 2022. Mesin pintar Bread for All memproduksi roti segar yang dapat diambil secara gratis sebagai bagian dari model kerja amal modern dan berkelanjutan. Mesin-mesin itu ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Dubai.

Sedekah tak Lagi Sekadar Memberi, tetapi Membangun Sistem

Keunikan Bread for All bukan hanya pada mesin pembuat rotinya. Program tersebut juga membuka ruang partisipasi publik.

Siapa pun dapat menyumbang langsung melalui mesin tersebut atau bahkan berkontribusi menghadirkan mesin baru di lokasi lain. Dengan demikian, setiap mesin bukan sekadar tempat mengambil roti, melainkan menjadi simpul filantropi yang terus bergerak.

Pendekatan seperti ini menunjukkan perubahan besar dalam praktik wakaf dan sedekah di era digital. Jika selama ini donasi umumnya diberikan secara langsung kepada penerima, kini teknologi memungkinkan bantuan dikelola sebagai sistem yang bekerja sepanjang waktu.

Visi besar itu sejalan dengan pesan yang disampaikan Syekh Mohammed pada awal pandemi COVID-19. Proyek itu mewujudkan visi Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA dan Penguasa Dubai, yang menekankan bahwa ‘Di UEA, tidak seorang pun tidur dalam keadaan lapar atau kekurangan’ pada awal pandemi COVID-19.”

Wakaf Produktif Berbasis Teknologi

Direktur MBRGCEC, Zainab Juma Al Tamimi, menegaskan Bread for All merupakan bagian dari pengembangan model wakaf yang mampu menjawab tantangan sosial masa depan.

“Wakaf inovatif adalah alat yang berkontribusi pada pembangunan sosial-ekonomi. Masyarakat Emirat adalah masyarakat yang simpatik, dan kami ingin mengembangkan solusi untuk masa depan yang lebih baik dan orang-orang lebih bahagia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan wakaf tidak lagi dipandang sebatas pembangunan masjid atau fasilitas pendidikan, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan perlindungan sosial.

Dalam konteks ini, mesin roti pintar menjadi aset wakaf produktif yang manfaatnya terus mengalir kepada masyarakat setiap hari.

MBRGCEC juga menyebut Bread for All sebagai inisiatif pertama yang menerapkan konsep short-term community funding, yaitu pendanaan gotong royong masyarakat yang langsung dihubungkan dengan layanan sosial.

Selain melalui mesin, masyarakat dapat berdonasi menggunakan aplikasi Dubai Now, layanan pesan singkat (SMS), maupun situs resmi MBRGCEC dengan nominal sesuai kemampuan.

Pendekatan tersebut membuat setiap warga dapat menjadi bagian dari solusi tanpa harus menjadi donatur besar. Dengan kata lain, teknologi menghilangkan jarak antara pemberi dan penerima manfaat.

Sekretaris Jenderal Awqaf and Minors Affairs Foundation (AMAF), Ali Al Mutawa, menilai Bread for All merupakan contoh baru pengelolaan wakaf yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Inisiatif tersebut, lanjutnya, merupakan model teladan bagi wakaf komunitas yang inovatif yang memungkinkan semua orang berpartisipasi, menciptakan gerakan amal yang menyeluruh serta memperkuat semangat solidaritas di berbagai lapisan masyarakat.

“Kami berharap dapat memperluas kerja sama dengan para mitra agar manfaatnya menjangkau lebih banyak penerima,” ujarnya.

Menjaga Martabat Penerima Bantuan

Bread for All bekerja sama dengan jaringan supermarket Aswaaq untuk memasang mesin roti pintar di sejumlah cabang, seperti Al Mizhar, Al Warqa’a, Mirdif, Nad Alsheba, Nadd Al Hamar, Al Qouz, dan Al Bada’a.

Mesin tersebut dirancang sederhana dan mudah digunakan. Pengguna cukup menekan tombol pemesanan, kemudian mesin akan memanggang roti hangat dan mengeluarkannya beberapa saat kemudian.

Selain di supermarket, layanan ini juga tersedia di sejumlah masjid. Menurut Dubai Scoops, roti segar tersedia selama 24 jam bagi masyarakat yang memenuhi syarat.

Hanya dengan memindai Kartu Identitas Emirates mereka di supermarket dan masjid-masjid terpilih yang berpartisipasi, warga bisa mengambil roti harian mereka dengan mudah, pribadi, dan bermartabat.

Aspek terakhir itulah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Program ini tidak hanya memastikan bantuan tersedia, tetapi juga menjaga harga diri penerimanya. Mereka tidak perlu mengantre panjang atau memperlihatkan kondisi ekonominya di depan publik.

Deputi CEO Aswaaq, Affan Khouri, menyebut Bread for All sebagai bagian dari pembangunan social safety net atau jaring pengaman sosial.

“Kami senang dapat bermitra dengan MBRGCEC dalam inisiatif Bread for All yang menciptakan jaring pengaman sosial, di mana semua orang dapat bekerja sama untuk membantu keluarga kurang mampu, individu, dan para pekerja. Kami berharap dapat menyediakan roti bagi mereka yang membutuhkan di sejumlah cabang supermarket di seluruh Dubai,” pungkasnya.

Konsep jaring pengaman sosial inilah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Bantuan tidak hadir sebagai respons terhadap krisis semata, melainkan sebagai layanan permanen yang selalu tersedia.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi negara-negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia, Bread for All menawarkan pelajaran penting. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf nasional sangat besar, tetapi efektivitas distribusi masih menjadi tantangan.

Model yang dikembangkan Dubai memperlihatkan teknologi dapat mengubah filantropi dari sekadar kegiatan karitatif menjadi infrastruktur sosial yang bekerja tanpa henti.

Jika konsep serupa diterapkan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga zakat, badan wakaf, pelaku usaha, dan komunitas, bukan tidak mungkin mesin-mesin pangan berbasis wakaf produktif dapat hadir di kawasan padat penduduk, kampus, rumah sakit, terminal, hingga masjid-masjid besar di Indonesia.

Dengan demikian, filantropi Islam tidak lagi berhenti pada pemberian bantuan sesaat, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Bread for All pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang roti gratis. Program ini merupakan contoh bagaimana kepemimpinan, teknologi, dan nilai-nilai Islam dipadukan menjadi sistem ketahanan pangan yang menjaga martabat manusia sekaligus memperkuat budaya berbagi di tengah masyarakat modern.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/berbagi/emir-dubai-bangun-mesin-roti-gratis-24-jam-ubah-sedekah-jadi-sistem-ketahanan-pangan

Prancis Segera Legalkan Aturan Pasien Akhiri Hidup Secara Medis

Prancis Segera Legalkan Aturan Pasien Akhiri Hidup Secara Medis

Liputan6.com, Paris – Prancis semakin dekat menjadi salah satu negara yang melegalkan hak untuk meninggal dengan bantuan medis (assisted dying) setelah parlemen menyetujui rancangan undang-undang yang didukung Presiden Emmanuel Macron.

Jika nantinya disahkan oleh Dewan Konstitusi, regulasi tersebut akan menjadi salah satu reformasi sosial terbesar di negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (17/7/2026), Macron sebelumnya berjanji akan mendorong lahirnya undang-undang mengenai assisted dying setelah kembali terpilih sebagai presiden untuk masa jabatan kedua pada 2022. Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu perubahan sosial paling signifikan sejak Prancis melegalkan pernikahan sesama jenis pada 2012.

Melalui unggahan di platform X, Macron menyatakan bahwa komitmen yang ia buat kepada rakyat Prancis akhirnya berhasil diwujudkan.

“Saya berjanji pada 2022 untuk membuka jalan ini bersama rakyat Prancis. Dengan keseriusan, kerendahan hati, dan penghormatan penuh terhadap demokrasi, komitmen itu kini telah dipenuhi,” tulis Macron.

Apabila Dewan Konstitusi menyatakan undang-undang tersebut sesuai dengan konstitusi, Prancis akan bergabung dengan sejumlah negara seperti Belanda, Belgia, Swiss, dan Kanada yang telah lebih dulu melegalkan assisted dying.

Rancangan undang-undang tersebut sebelumnya lolos dengan mudah di Majelis Nasional. Namun, Senat yang didominasi partai-partai konservatif menolaknya. Meski demikian, pemerintah memanfaatkan ketentuan konstitusi yang memungkinkan Majelis Nasional memberikan persetujuan akhir tanpa harus memperoleh restu dari Senat.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu kemudian meminta Dewan Konstitusi untuk meninjau kembali isi undang-undang tersebut sebelum resmi diberlakukan. Pemerintah menilai minimnya pembahasan di Senat membuat naskah akhir belum sepenuhnya mengakomodasi aspirasi para pendukung maupun kekhawatiran pihak yang menolak penerapannya.

Dewan Konstitusi memiliki kewenangan untuk menyatakan suatu undang-undang sah atau tidak. Dalam kondisi tertentu, lembaga tersebut bahkan dapat membatalkan seluruh isi undang-undang atau memberikan catatan terhadap pasal-pasal tertentu.

Sejumlah tokoh dari Partai Republik yang menguasai Senat tetap menentang kebijakan tersebut. Di antaranya Ketua Senat Gerard Larcher dan mantan Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau yang sejak awal menyuarakan penolakan terhadap legalisasi assisted dying.

Siapa yang Berhak Mengajukan?

Undang-undang ini memberikan hak untuk mengakhiri hidup dengan bantuan medis kepada orang dewasa yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Pemohon harus mampu menyampaikan keinginannya secara bebas dan sadar, serta mengalami penderitaan fisik yang berat. Rasa sakit tersebut harus tidak lagi dapat diatasi melalui pengobatan atau dianggap tidak tertahankan oleh pasien, termasuk jika pasien memilih menghentikan atau menolak pengobatan.

Seorang dokter akan memverifikasi apakah pasien memenuhi seluruh persyaratan. Setelah itu, sebuah panel akan melakukan penilaian sebelum dokter mengambil keputusan akhir. Pasien juga berhak membatalkan persetujuannya kapan saja sebelum prosedur dilakukan.

Dalam pelaksanaannya, pasien diwajibkan memberikan sendiri obat yang mengakhiri hidupnya. Namun, bagi pasien yang secara fisik tidak mampu melakukannya, tenaga kesehatan dapat memberikan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.

Agnes Firmin Le Bodo, anggota parlemen dari kubu tengah-kanan sekaligus mantan Menteri Kesehatan yang ikut menyusun rancangan undang-undang tersebut pada 2024, menilai regulasi ini akan disahkan karena telah disusun secara seimbang dan mempertimbangkan berbagai kepentingan.

Sebaliknya, Christophe Bentz dari partai sayap kanan National Rally menilai aturan tersebut sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan penyalahgunaan dalam praktiknya.

Polemik mengenai legalisasi assisted dying masih terus berlangsung di Prancis. Meski mendapat dukungan luas dari kelompok yang memperjuangkan hak pasien untuk menentukan akhir hidupnya, kebijakan tersebut juga menuai penolakan dari kalangan konservatif yang mengkhawatirkan dampak etis dan potensi penyalahgunaannya.

Sumber : https://www.liputan6.com/global/read/8247517/prancis-segera-legalkan-aturan-pasien-akhiri-hidup-secara-medis