Opsi minuman pembangkit semangat pada sore hari

Opsi minuman pembangkit semangat pada sore hari

Jakarta (ANTARA) – Alih-alih kopi, minuman berenergi, atau minuman soda berkafein, ahli gizi lebih merekomendasikan minuman teh hitam bagi mereka yang ingin meningkatkan kembali semangat kerja pada sore hari.

Ahli diet Paloma Vega sebagaimana dikutip dalam publikasi Eating Well pada Senin (24/8) menyampaikan bahwa teh hitam mengandung kafein yang bisa membantu meningkatkan kewaspadaan.

“Teh hitam bisa menjadi pilihan tepat untuk membangkitkan semangat di sore hari karena secara alami mengandung kafein, yang dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa lelah,” katanya.

Ahli diet Juliana Crimi menyampaikan bahwa kandungan kafein teh hitam lebih rendah dibandingkan dengan kopi, jadi orang-orang yang sensitif terhadap kafein menjelang akhir hari bisa meminumnya tanpa mengkhawatirkan dampak kelebihan asupan kafein.

Secangkir teh hitam mengandung sekitar 47 miligram kafein sedangkan secangkir kopi seduh kandungan kafeinnya bisa sekitar 95 mg.

Faktanya, kafein dapat bertahan di dalam tubuh selama enam hingga delapan jam atau lebih.

Jadi, ada baiknya mempertimbangkan pilihan minuman yang rendah kafein pada sore hari guna menghindari risiko susah tidur pada malam hari.

Selain kafein, teh hitam mengandung L-theanine. Menurut ahli gizi Talia Follador, asam amino ini dapat bekerja bersama kafein untuk membantu meningkatkan fokus dan perhatian.

Mengonsumsi teh hitam tanpa gula bersama camilan bergizi seimbang seperti biskuit gandum dan selai kacang yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak dapat memberikan tambahan energi untuk mendukung aktivitas sore hari sampai waktu makan malam tiba.

Selain minum teh hitam, Follador menyampaikan pentingnya mengupayakan tidur malam selama setidaknya tujuh jam agar badan bisa tetap bugar hingga sore hari.

Upaya lain yang dapat dilakukan menambah energi pada sore hari adalah mengonsumsi makanan sumber karbohidrat kaya serat bersama protein untuk menyediakan pasokan energi yang lebih tahan lama.

“Sebagai contoh, cobalah padukan apel dengan selai kacang, atau yogurt Yunani dengan buah beri,” kata Vega.

Olahraga juga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan. Jadi, kalau mulai menguap di meja kerja, aktivitas seperti jalan santai di lingkungan kerja bisa jadi opsi.

Di samping itu, Follador mengatakan, penting pula memastikan kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi sepanjang hari dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang setiap tiga hingga lima jam sekali agar pasokan energi stabil.

“Makanan menyediakan energi bagi tubuh, sehingga tidak makan dalam waktu terlalu lama dapat membuat Anda merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan fokus,” katanya.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5710011/opsi-minuman-pembangkit-semangat-pada-sore-hari

Anak Sering Ngorok Saat Tidur, Kapan Harus Diperiksa?

Anak Sering Ngorok Saat Tidur, Kapan Harus Diperiksa?

Jakarta, CNN Indonesia — Suara ngorok saat anak tidur mungkin terdengar biasa, terutama ketika anak sedang pilek atau kelelahan. Namun, jika anak hampir selalu mengorok setiap kali tidur, orang tua sebaiknya mulai memperhatikannya.

Anak yang sering mengorok dapat mengalami gangguan pernapasan saat tidur, salah satunya obstructive sleep apnea (OSA). Kondisi ini terjadi ketika saluran napas menyempit atau tertutup sehingga aliran udara terganggu dan napas dapat berhenti beberapa kali selama tidur.

Meski demikian, anak yang mengorok belum tentu mengalami sleep apnea. Lantas, apa saja penyebab anak mengorok dan kapan kondisi tersebut perlu diperiksakan?

Penyebab anak mengorok

Ada sejumlah kondisi yang dapat membuat anak lebih mudah mengorok saat tidur, antara lain:

1. Amandel dan adenoid membesar

Melansir Journal of Pediatric Health Care, pembesaran amandel dan adenoid, yakni jaringan yang berada di belakang hidung, merupakan salah satu kondisi yang berkaitan dengan OSA pada anak.

Ketika kedua jaringan tersebut membesar, saluran napas dapat menjadi lebih sempit, terutama saat anak tidur. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan suara ngorok dan, pada sebagian anak, gangguan pernapasan saat tidur.

2. Berat badan berlebih atau obesitas

Berat badan berlebih juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan saat tidur. Jaringan di sekitar saluran napas dapat membuat saluran tersebut lebih mudah menyempit ketika anak tidur.

Karena itu, kondisi berat badan anak juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika anak memiliki kebiasaan mengorok.

3. Hidung tersumbat atau infeksi saluran pernapasan

Pilek dan infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan hidung tersumbat. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit bernapas melalui hidung dan cenderung bernapas melalui mulut saat tidur.

Kondisi tersebut dapat membuat anak lebih mudah mengorok. Biasanya, ngorok akibat hidung tersumbat akan membaik setelah infeksi atau pilek mereda.

4. Kelainan bentuk wajah atau saluran napas

Mengutip American Academy of Pediatrics (AAP), beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko OSA pada anak, termasuk kelainan bentuk wajah atau tengkorak.

Gangguan pada otot dan saraf yang berperan dalam proses pernapasan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan napas saat tidur.

Jangan hanya memperhatikan suara ngorok

Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan apakah anak mengorok, tetapi juga mengamati pola napas dan kualitas tidurnya.

Kebiasaan mengorok pada anak dan remaja dapat ditanyakan saat pemeriksaan kesehatan. Jika anak sering mengorok dan menunjukkan tanda gangguan pernapasan saat tidur, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan tidur.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan orang tua antara lain:

• anak mengorok hampir setiap kali tidur, bukan hanya ketika sedang pilek;
• terdapat jeda ketika anak bernapas;
• anak tiba-tiba tersentak atau seperti terengah-engah saat tidur;
• tidur terlihat gelisah;
• anak sering bernapas melalui mulut;
• anak sulit berkonsentrasi atau mengalami perubahan perilaku;
• pertumbuhan anak tidak optimal.

Jika menemukan tanda-tanda tersebut, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260820111909-255-1394351/anak-sering-ngorok-saat-tidur-kapan-harus-diperiksa

Dosen Khawatir AI Bikin Mahasiswa Kehilangan Kemampuan Berpikir

Dosen Khawatir AI Bikin Mahasiswa Kehilangan Kemampuan Berpikir

Liputan6.com, Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan mahasiswa untuk membantu mengerjakan tugas kuliah. Namun, kemudahan tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan dosen karena mahasiswa dinilai berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Fenomena ini diungkap dalam laporan Futurism, dikutip Sabtu (22/8/2026), yang mengumpulkan keluhan sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi. Para pengajar mengaku semakin sering menemukan tugas mahasiswa yang terlihat rapi, tetapi penulisnya justru kesulitan menjelaskan isi tulisan atau mempertahankan argumennya ketika berdiskusi di kelas.

Kekhawatiran tersebut salah satunya disampaikan profesor filsafat dari University of Central Arkansas, Kevin Gary. Ia mengingatkan bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan sebuah teks, tetapi juga merupakan bagian dari proses seseorang membangun pola pikir.

“Jika menulis adalah berpikir, maka setiap bagian dari perjuangan yang dialihkan ke teknologi berarti melepaskan sebagian kebebasan untuk memahami,” ujarnya.

Menurut sejumlah dosen, penggunaan AI oleh mahasiswa kini tidak sebatas membantu memperbaiki tata bahasa atau menemukan referensi.

AI juga mulai digunakan untuk membuat kerangka tulisan, menyusun esai hingga merangkum bahan bacaan. Akibatnya, mahasiswa berisiko melewatkan proses intelektual yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pembelajaran di perguruan tinggi.

Tantangan Terbesar

Meski demikian, laporan tersebut tidak menyimpulkan bahwa AI sepenuhnya menjadi penyebab menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Sejumlah penelitian menunjukkan AI tetap dapat memberikan manfaat dalam proses belajar apabila digunakan sebagai pendamping, bukan menggantikan proses berpikir mahasiswa.

Tantangan utamanya adalah bagaimana mahasiswa menentukan batas penggunaan teknologi. AI dapat membantu memberikan ide, menjelaskan materi atau memberikan masukan, tetapi mahasiswa tetap perlu memahami, mengolah, dan mengembangkan informasi tersebut secara mandiri.

Perdebatan mengenai dampak AI terhadap dunia pendidikan pun terus berkembang. Berbagai survei dan penelitian menunjukkan kekhawatiran pendidik terhadap ketergantungan berlebihan pada AI, terutama karena dapat memengaruhi kemampuan dasar seperti menulis, menganalisis, dan memecahkan masalah.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai perlu memiliki aturan yang lebih jelas mengenai penggunaan AI dalam kegiatan akademik.

Tujuannya bukan melarang teknologi tersebut, melainkan memastikan AI menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8275123/dosen-khawatir-ai-bikin-mahasiswa-kehilangan-kemampuan-berpikir

Studi Harvard: Kecelakaan Fatal Naik 15% Saat Peluncuran Album Musik

Studi Harvard: Kecelakaan Fatal Naik 15% Saat Peluncuran Album Musik

Liputan6.com, Jakarta – Saat masa perilisan album musik baru, angka kecelakaan meningkat 15% di Amerika Serikat. Hal ini terungkap melalui studi terbaru dari para peneliti di Harvard Medical School. Studi tersebut menganalisis 233.809 kecelakaan pada rentang tahun 2017 hingga 2022 dengan membandingkan tingkat kecelakaan pada hari sebelum dan sesudah peluncuran album.

Para peneliti mencocokkan data kecelakaan dari Fatality Analysis Reporting System (FARS) dengan data pemutaran lagu harian dari Spotify.

Dikutip dari Engadget, Sabtu (22/8/2026), data menunjukkan adanya lonjakan aktivitas pemutaran musik secara nasional sebesar 43% pada hari pertama peluncuran album musisi besar.

Terdapat rata-rata 18,2 kematian tambahan setiap kali lonjakan tersebut terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa para pengemudi cenderung sibuk mengoperasikan dan memilih musik saat menyetir.

Distraksi Layar Sentuh dan Profil Korban

Pengemudi berpotensi tinggi terdistraksi karena belum akrab dengan daftar lagu baru di layar navigasi mobil.

Menariknya, jika kecelakaan lalu lintas biasanya terjadi pada malam hari atau saat cuaca buruk, studi ini menemukan bahwa lonjakan kecelakaan fatal akibat pemutaran musik justru terjadi saat cuaca cerah.

Selain itu, tercatat tambahan 13,9 angka kematian pada pengemudi yang tidak dalam pengaruh alkohol. Peneliti menduga fenomena ini berkaitan dengan penurunan kewaspadaan pengemudi saat berkendara dalam situasi lingkungan yang tenang.

Korban kecelakaan fatal paling dominan berasal dari kelompok pengemudi laki-laki berusia muda, dengan rata-rata 13,5 kasus kematian pada hari peluncuran album. Pengemudi yang berkendara seorang diri juga lebih berisiko karena tidak memiliki penumpang yang bisa membantu mengoperasikan musik.

Hubungan Sebab-Akibat

Kehadiran layar sentuh pada mobil modern terbukti memperparah risiko distraksi. Meski fitur asisten suara seperti Siri atau Gemini dan antarmuka yang simpel memberikan kesan praktis, hal tersebut justru membuat pengemudi lengah dan makin tergiur untuk terus mengganti lagu di layar.

Meski peneliti belum dapat membuktikan secara pasti hubungan sebab-akibat langsung antara penggunaan ponsel atau streaming musik dengan tiap kasus kecelakaan, gelombang kritik publik mulai berdampak. Beberapa pabrikan mobil mulai mengurangi ketergantungan pada layar sentuh. Bahkan, merek mewah seperti Porsche dan Mercedes-Benz kembali menghadirkan tombol fisik agar pengemudi tidak perlu sering menatap layar.

Langkah ini sejalan dengan temuan survei J.D. Power yang mencatat bahwa 46% gangguan saat berkendara bersumber dari sistem layar sentuh bawaan kendaraan.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8275200/studi-harvard-kecelakaan-fatal-naik-15-saat-peluncuran-album-musik

Ekoenzim, solusi hemat dengan limbah bermanfaat

Ekoenzim, solusi hemat dengan limbah bermanfaat

Jakarta (ANTARA) – Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah dengan baik, yang menyebabkan kondisi di tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) terdapat penumpukan dan timbunan sampah.

Banyak hal menjadi penyebab menumpuknya sampah, antara lain peningkatan populasi, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga ketiadaan sistem pengolahan limbah yang belum memadai. Tingginya pertumbuhan penduduk dan banyaknya urbanisasi menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat juga mengalami peningkatan.

Kemudian, kebiasaan membeli makanan, daripada memasak sendiri di rumah, menjadi lebih praktis dan menyisakan sampah plastik pembungkus, hingga sampah sisa makanan. Apabila pertumbuhan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat sulit untuk dikendalikan, maka menciptakan ekosistem pengolahan limbah menjadi pemberi harapan pasti untuk mengatasi masalah sampah.

Menurut data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), angka sampah nasional mencapai angka 31,9 juta ton di tahun 2023. Dari jumlah sampah tersebut, sebanyak 11,3 juta ton di antaranya atau sekitar 35,6 persen tidak dapat dikelola.

Penumpukan sampah tak terkelola itu berisiko tinggi akan longsor dan kebakaran akibat gas metana yang diproduksi sampah-sampah organik di TPA. Bencana akibat menumpuk sampah begitu saja tanpa dikelola dengan benar, atau disebut juga open dumping, kerap terjadi.

Pada Juni lalu, kebakaran besar terjadi di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga menyebabkan ratusan warga mengungsi dan terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kebakaran terjadi di hampir separuh dari luas TPA tersebut karena akumulasi gas metana dari sampah organik di tempat pembuangan itu terpantik oleh cuaca panas. Pemadamannya pun memerlukan waktu yang tidak singkat, yakni lebih dari 10 hari.

Penumpukan sampah di TPA juga menjadi risiko di Bogor. Sampah produksi rumah tangga di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dialihkan ke TPA Galuga, yang setiap hari menampung hingga sekitar 2.000 ton sampah dari dua daerah tersebut. Hingga kini, diperkirakan sudah ada 15 juta ton sampah yang tidak terolah di TPA seluas 31,8 hektare itu. TPA Galuga, bahkan pernah longsor di tahun 2019 hingga menyebabkan 18 warga kehilangan lahan pertanian dan aset mereka.

Masalah sampah bisa menjadi bom waktu apabila tidak segera ditangani. Guna meminimalkan risiko akibat penumpukan sampah di TPA Galuga, salah satu desa di Kabupaten Bogor berupaya mengolah sampah organik dari rumah warga untuk menjadi hal lebih bermanfaat.

Di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, masyarakat antusias untuk mengolah sampah organik mereka menjadi ekoenzim, cairan fermentasi yang diproduksi dari limbah organik ampas buah dan sayuran dengan ditambah molase atau air gula.

Sebelum mengolah sampah organik, masyarakat perlu memilah sampah dari rumah mereka dengan memisahkan limbah organik dan anorganik terlebih dahulu. Sampah organik dari rumah tangga itu kemudian yang dapat dikumpulkan untuk dijadikan cairan ekoenzim.

Dalam pelatihan ekoenzim di Desa Benteng pada akhir Juli lalu, sekira 40 orang, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga di desa itu, mendapat pengetahuan baru tentang membuat ekoenzim.

Dengan didampingi penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Pemkab Bogor serta pegiat ekoenzim dari Komunitas Eco-enzyme Nusantara Bogor Raya, para ibu rumah tangga di Desa Benteng membuat carian ekoenzim dan disimpan di rumah mereka masing-masing.

Nantinya, setelah tiga hingga empat bulan, cairan ekoenzim itu dapat digunakan sebagai obat luka dan sanitasi udara ruangan. Bahkan, cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju dengan ditambahkan methyl esther sulfonate (MES) dan biang sabun atau garam.

Tati, seorang ibu berusia 54 tahun yang sehari-hari berkebun, mengaku baru pertama kali mengenal ekoenzim. Dia memang selalu memproduksi sampah organik di rumahnya, yang biasanya dia buang ke tempat sampah lalu dibakar. Tati mengatakan tidak sulit untuk membuat cairan ekoenzim dari sampah organik. Setelah membuat cairan ekoenzim dalam pelatihan tersebut, Tati merasa tidak sabar untuk menunggu cairan fermentasi sampah organik yang dia buat dapat berhasil menjadi ekoenzim.

“Kalau soal cairan ekoenzim, saya baru tahu dan baru pertama kali ini, ternyata gampang membuatnya. Nanti kalau sudah jadi, mau saya pakai untuk menyemprot tanaman. Di rumah saya memang selalu ada sampah dari kulit buah dan sayuran. Jadi, nanti saya mau coba bikin,” kata Tati.

Sebagian besar masyarakat di Desa Benteng memang berkegiatan sebagai petani kebun untuk tanaman palawija, seperti singkong, jagung, kacang, dan jambu. Neneng (56 tahun) telah memilah sampah di rumahnya sejak tahun 2019 setelah mendapat penyuluhan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Hanya saja, selama ini Neneng hanya mengolah sampah organik dari rumahnya untuk menjadi maggot sebagai pakan ikan dan ayam yang dia pelihara.

“Maggot di kolam ikan saya banyak sekali, sampai menumpuk. Bahkan, saking banyaknya maggot yang sudah ada, sampah sisa buah dan sayur dari dapur saya buang begitu saja. Dengan pelatihan (membuat) ekoenzim ini, saya jadi tahu ada cara lain untuk mengolah sampah organik,” kata Neneng.

Membuat ekoenzim tidaklah sulit karena hanya memerlukan tiga bahan, yakni sampah organik dari sisa kulit buah dan sayur, molase atau air gula, serta air, masing-masing dengan perbandingan 3:1:10. Sehingga, dengan sisa kulit buah dan sayur seberat 300 gram, maka perlu ditambah dengan molase sebanyak 100 gram dan air satu liter.

Semua bahan itu lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik bertutup rapat dan jangan menggunakan wadah kaca, karena fermentasi ekoenzim menghasilkan gas. Sebaiknya, wadah plastik yang dipakai agak lebih besar supaya masih ada ruang untuk gas hasil fermentasi. Seminggu pertama setelah memasukkan semua bahan tersebut ke dalam wadah plastik, sebaiknya tutupnya dibuka sesekali untuk melepaskan gas hasil fermentasi. Kemudian, setelah tiga bulan, cairan ekoenzim tersebut sudah dapat digunakan.

Pelatihan membuat ekoenzim, yang menjadi bagian dari kegiatan Sustainable Journalism Fellowship 2026 oleh CIMB Niaga bersama Indonesian Institute of Journalism, menjadi sangat bermanfaat bagi ibu-ibu di Desa Benteng itu. Salah satu penyuluh di Desa Benteng Titik Mulyati mengatakan pernah memberikan pelatihan serupa dengan dibantu pegiat ekoenzim Siti Maryam.

“Sudah pernah membuat ekoenzim yang biasanya dimanfaatkan untuk mengobati luka, menyemprot tanaman; justru ini ilmu baru karena ternyata cairan ekoenzim bisa untuk membuat sabun cuci piring dan sabun cuci baju. Mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan oleh ibu-ibu di Desa Benteng,” ujar Titik.

Dengan adanya ekoenzim, sampah ternyata bisa menjadi banyak manfaat, karena dengan cairan serbaguna tersebut, masyarakat menjadi sadar untuk memilah dan mengelola sampah serta menggunakan produk-produk sanitasi alami. Selain itu, dengan membuat ekoenzim secara mandiri, masyarakat dapat mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir dan dapat membuat sabun cuci lebih alami tanpa harus membeli.

Semoga, ekoenzim dapat dikenal dan diaplikasikan semakin luas dan menjadi solusi hemat bagi masyarakat dengan limbah bermanfaat.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5707365/ekoenzim-solusi-hemat-dengan-limbah-bermanfaat

Benarkah tabir surya mengakibatkan kekurangan vitamin D?

Benarkah tabir surya mengakibatkan kekurangan vitamin D?

Jakarta (ANTARA) – Penggunaan tabir surya atau sunscreen setiap hari tidak terbukti secara signifikan menurunkan kadar vitamin D dalam tubuh, meski produk tersebut menghalangi sebagian sinar ultraviolet B (UVB) yang dibutuhkan kulit untuk memproduksi vitamin D.

Mengutip laman Health pada Sabtu, dokter spesialis onkologi radiasi Robert Den, MD mengatakan penggunaan sunscreen tidak terbukti berkaitan dengan kekurangan vitamin D. Salah satu penelitian juga menemukan pengguna sunscreen secara rutin tidak lebih berisiko mengalami kekurangan vitamin D dibandingkan orang yang tidak menggunakannya.

Dermatolog Kellie Reed, MD mengatakan sebagian sinar UVB tetap dapat mencapai kulit meski seseorang menggunakan sunscreen. Sunscreen dengan SPF 30, misalnya, dapat menghalangi sekitar 97 persen sinar UVB jika digunakan dengan benar.

Menurut Reed, sejumlah kecil sinar UVB yang mencapai kulit umumnya masih cukup untuk merangsang produksi vitamin D. Selain itu, penggunaan sunscreen dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak sempurna sehingga sebagian kulit tetap terpapar sinar matahari.

Jumlah vitamin D yang diproduksi tubuh dari paparan sinar matahari berbeda pada setiap orang. Faktor seperti usia, warna kulit, waktu berada di luar ruangan, pakaian, awan, dan polusi udara dapat memengaruhinya.

Orang dengan warna kulit lebih gelap umumnya menghasilkan lebih sedikit vitamin D dari paparan sinar matahari. Tubuh juga lebih efisien memproduksi vitamin D di sekitar tengah hari ketika sinar UVB lebih kuat.

Meski demikian, para ahli tidak menyarankan mengabaikan sunscreen demi mendapatkan vitamin D. Paparan sinar UV berlebihan dapat menyebabkan kulit terbakar, kerusakan kulit, dan meningkatkan risiko kanker kulit.

Kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi melalui makanan dan suplemen. Orang dewasa berusia 19 hingga 70 tahun umumnya membutuhkan 600 IU atau 15 mikrogram vitamin D per hari.

Vitamin D dapat diperoleh dari makanan seperti salmon, tuna, dan jamur, serta produk yang diperkaya vitamin D seperti susu dan jus jeruk.

Bagi orang yang khawatir mengalami kekurangan vitamin D, pemeriksaan darah dapat membantu mengetahui kadarnya. Konsultasi dengan dokter juga dapat membantu menentukan kebutuhan suplemen sesuai kondisi masing-masing.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5706921/benarkah-tabir-surya-mengakibatkan-kekurangan-vitamin-d

Hitung Kebutuhan Hidrasi Harian Berdasarkan Berat Badan dan Gaya Hidup, Bukan Cuma 8 Gelas Sehari

Hitung Kebutuhan Hidrasi Harian Berdasarkan Berat Badan dan Gaya Hidup, Bukan Cuma 8 Gelas Sehari

Liputan6.com, Jakarta – Anjuran umum untuk mengonsumsi delapan gelas air setiap hari telah lama menjadi pedoman hidrasi. Namun, para ahli kini sepakat bahwa kebutuhan cairan tubuh seseorang sangat personal, tidak ada ukuran tunggal yang cocok untuk semua individu. Jumlah air yang diperlukan sangat bergantung pada berbagai faktor, terutama berat badan dan gaya hidup.

Air merupakan komponen esensial yang membentuk sekitar 60 hingga 70 persen dari total berat badan manusia. Perannya krusial dalam menjaga fungsi vital tubuh, mulai dari mengangkut nutrisi ke seluruh sel, mengatur suhu tubuh, melumasi sendi, hingga memfasilitasi pembuangan sisa metabolisme. Bahkan kekurangan cairan yang ringan sekalipun dapat berdampak pada fungsi kognitif dan fisik.

Pergeseran pandangan ini menegaskan bahwa rekomendasi hidrasi harus disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap orang. “Hampir setiap orang akrab dengan frasa, ‘Minum delapan gelas air berukuran delapan ons setiap hari.’ Ketika pernyataan ini muncul, itu benar untuk orang rata-rata yang, pada saat itu, memiliki berat sekitar 128 pon,” demikian dijelaskan dalam Pusat Sumber Daya Kinetico.

“Banyak hal telah berubah sejak saat itu, ditambah lagi kita telah belajar bahwa sebenarnya tidak ada rekomendasi yang mencakup semua untuk jumlah air yang tepat untuk diminum. Itu semua tergantung pada tubuh dan gaya hidup Anda.” Ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih terpersonalisasi dalam memenuhi kebutuhan cairan.

Menguak Berbagai Metode Perhitungan Kebutuhan Air Harian

Untuk membantu individu memenuhi kebutuhan hidrasi yang tepat, para ahli telah mengembangkan beberapa metode perhitungan yang berlandaskan pada berat badan. Pendekatan ini menawarkan panduan yang lebih akurat dibandingkan anjuran umum.

Salah satu metode yang sering digunakan adalah perhitungan ons per pon. Aturan umumnya menyarankan konsumsi satu ons air untuk setiap dua pon berat badan. Sebagai contoh, seseorang dengan berat 150 pon diperkirakan membutuhkan sekitar 75 ons air setiap hari. Beberapa sumber lain bahkan merekomendasikan antara 0,5 hingga 1 ons air per pon berat badan per hari.

Metode lain yang praktis adalah mengalikan berat badan dalam kilogram dengan 30-35 mililiter air. Misalnya, individu dengan berat 60 kg akan membutuhkan 1.800 ml hingga 2.100 ml (1,8 hingga 2,1 liter) air setiap hari. Bagi mereka yang cukup aktif, perkalian dengan 40 ml per kg berat badan sering disarankan. Ada pula rekomendasi yang lebih luas, yaitu 40-50 ml per kg berat badan per 24 jam.

Selain itu, terdapat metode pengali 2/3 atau 0,67. Cara ini melibatkan perkalian berat badan dengan 2/3 untuk mendapatkan jumlah ons air yang dibutuhkan. Dr. Deepa A. Iyengar, seorang profesor kedokteran keluarga dan komunitas, menjelaskan bahwa sekitar dua pertiga tubuh manusia adalah air, dan kita membutuhkannya untuk semua fungsi seluler. Ia menyarankan untuk mengalikan berat badan Anda dengan 0,67 untuk menghitung kebutuhan air harian. Contohnya, seseorang dengan berat 190 pon memerlukan sekitar 127 ons air setiap hari, atau setara dengan 17 cangkir.

Rumus Holliday-Segar juga menjadi acuan, khususnya untuk remaja. Rumus ini menetapkan 1 liter air untuk 10 kg pertama berat badan, ditambah 500 ml untuk 10 kg kedua, dan 20 ml air untuk setiap kilogram berat badan sisanya. Dengan demikian, seorang remaja berbobot 30 kg akan membutuhkan 1 liter + 500 ml + (10 kg x 20 ml) = 1.700 ml atau 1,7 liter cairan setiap hari.

Faktor Eksternal dan Kondisi Tubuh yang Mempengaruhi Hidrasi Optimal

Meskipun perhitungan berdasarkan berat badan memberikan dasar yang kuat, kebutuhan air harian seseorang tidak statis dan dapat berfluktuasi secara signifikan karena berbagai faktor gaya hidup dan lingkungan.

Tingkat aktivitas fisik menjadi penentu utama. Individu yang rutin berolahraga atau melakukan aktivitas intens akan kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat. Para ahli menyarankan untuk menambah 8 ons air untuk setiap 30 menit olahraga atau saat berada di cuaca panas, atau sekitar 0,35 liter air untuk setiap 30 menit latihan.

Iklim dan lingkungan tempat tinggal juga berperan. Tinggal di daerah yang panas, lembap, kering, atau dataran tinggi akan meningkatkan kebutuhan cairan tubuh karena peningkatan kehilangan air. Kondisi kesehatan tertentu, seperti demam, muntah, atau diare, dapat menyebabkan dehidrasi dan memerlukan asupan cairan yang lebih tinggi. Demikian pula, kondisi medis seperti batu ginjal atau infeksi saluran kemih mungkin membutuhkan peningkatan hidrasi.

Selain itu, wanita hamil dan menyusui memiliki kebutuhan cairan yang lebih tinggi karena tubuh mereka bekerja untuk mendukung lebih dari satu individu. Pola makan juga berkontribusi pada total asupan cairan; buah-buahan dan sayuran yang kaya air dapat membantu menjaga hidrasi.

Secara umum, terdapat rekomendasi hidrasi berdasarkan usia dan jenis kelamin. The Academy of Nutrition and Dietetics merekomendasikan sekitar 3,1 liter (13 cangkir) cairan untuk pria dan 2,1 liter (9 cangkir) untuk wanita setiap hari, termasuk cairan dari makanan dan minuman. Dr. Saadia Hussain, seorang spesialis kedokteran keluarga, menegaskan bahwa ukuran tubuh, metabolisme, lokasi, diet, aktivitas fisik, dan kesehatan secara keseluruhan adalah faktor-faktor penentu berapa banyak air yang perlu diminum setiap hari.

Pentingnya Hidrasi Optimal dan Risiko Overhidrasi

Hidrasi yang memadai sangat penting untuk menjaga berbagai fungsi tubuh agar berjalan optimal. Air berperan dalam mengatur suhu tubuh, melumasi sendi, membantu proses pencernaan, serta mendukung sirkulasi darah yang sehat.

Dehidrasi, bahkan yang ringan sekalipun, dapat menimbulkan dampak negatif. Kekurangan cairan dapat menyebabkan kelelahan, pusing, dan gangguan pada fungsi ginjal. Bahkan kehilangan 1-2% air tubuh dapat mengganggu kinerja kognitif.

Untuk memastikan tubuh tetap terhidrasi sepanjang hari, ada beberapa tips praktis yang bisa diterapkan. Mendengarkan sinyal tubuh, seperti rasa haus, adalah indikator terbaik untuk minum air. Warna urine juga dapat menjadi petunjuk; urine berwarna kuning pucat menandakan hidrasi yang baik, sementara kuning gelap atau berbau kuat bisa menjadi tanda dehidrasi. Memulai hari dengan segelas air, minum secara teratur sepanjang hari, dan sebelum setiap makan dapat membantu menjadikannya kebiasaan. Membawa botol air yang dapat diisi ulang juga akan terus mengingatkan untuk minum. Prioritaskan air dibandingkan minuman manis atau berkafein, dan tingkatkan asupan air saat berolahraga atau berada di lingkungan panas.

Meskipun penting, perlu diingat bahwa minum terlalu banyak air dalam waktu singkat tanpa asupan elektrolit yang cukup dapat berisiko. Kondisi ini dikenal sebagai keracunan air atau hiponatremia, di mana kadar natrium dalam darah menjadi terlalu rendah. Gejala yang muncul bisa berupa mual, sakit kepala, kebingungan, dan dalam kasus yang parah, dapat menyebabkan kejang atau koma.

Pada tahun 2002, Heinz Valtin, MD, membantah gagasan bahwa minum 64 ons air sehari (sekitar dua liter) adalah keharusan medis. Ia menyatakan, “Tidak ada studi ilmiah yang ditemukan mendukung 8×8.” Hal ini semakin memperkuat bahwa kebutuhan hidrasi setiap orang bersifat unik. Penting untuk menemukan keseimbangan yang paling sesuai dan selalu berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan jika ada kekhawatiran khusus atau kondisi medis.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8267733/hitung-kebutuhan-hidrasi-harian-berdasarkan-berat-badan-dan-gaya-hidup-bukan-cuma-8-gelas-sehari

Bintang Tercepat di Bima Sakti Terdeteksi, Kecepatan 25 Ribu Km/Detik

Bintang Tercepat di Bima Sakti Terdeteksi, Kecepatan 25 Ribu Km/Detik

Jakarta, CNN Indonesia — Sebuah bintang tercepat yang mengelilingi lubang hitam supermasif di jantung Galaksi Bima Sakti terdeteksi oleh para astronom. Bintang ini disebut S301.

Bintang S301 bergerak dengan kecepatan sekitar 25.000 km per detik, atau 100.000 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pesawat komersial.Jarak bintang S301 sangat dekat dengan lubang hitam di pusat Bima Sakti, Sagittarius A*, dengan titik sejarak Saturnus ke Matahari.

Felix Mang, mahasiswa PhD di Institut Max Planck untuk Fisika Ekstraterestrial (MPE) Jerman, menjelaskan bahwa orbit bintang S310 ini sangat rapat mengelilingi Sagittarius A*. Hal ini menjadi keistimewaannya.

“Bintang ini hanya membutuhkan waktu 8,7 tahun untuk menyelesaikan satu putaran orbit, dan mendekati lubang hitam hingga jarak hanya 12 kali jarak Bumi ke Matahari. Hal seperti ini belum pernah ditemukan sebelumnya,” ungkap Mang, dikutip dari The Guardian, Rabu (19/8).

Lubang hitam diprediksi berputar pada porosnya, seperti kebanyakan objek di luar angkasa.

Menurut teori relativitas umum Einstein, lubang hitam yang berputar akan menyeret ruang-waktu di sekitarnya, sehingga melengkungkan jalur orbit bintang-bintang terdekat.

Efek ini hanya bisa teramati jelas pada objek yang mengorbit dekat dengan lubang hitam yang berputar cepat. Bintang S301 memiliki kombinasi orbit yang unik, yakni sangat sempit dan sangat lonjong (eksentrik).

Sebelumnya, para ilmuwan mengira butuh waktu berpuluh-puluh tahun dan data dari banyak bintang untuk mengukur putaran Sagittarius A*. Namun, orbit S301 sudah dideteksi sejak 2017.

Dengan mengamati pergerakan bintang S301 hingga titik terdekat berikutnya pada tahun 2031, para peneliti optimistis bisa mengumpulkan cukup data.

“Dengan bintang ini, kami berharap dapat mengukur putaran lubang hitam dalam 10 tahun ke depan,” tambah Mang.

Para peneliti melakukan pengamatan menggunakan Very Large Telescope Interferometer (VLTI) milik European Southern Observatory (ESO) di Paranal, Cili. Dengan cara menggabungkan cahaya dari empat teleskop raksasa berdiameter 8 meter.

Meski melintas sangat dekat, bintang ini diperkirakan tidak akan masuk ke dalam event horizon (batas titik tak kembali) dari lubang hitam tersebut.

Menurut Mang, orang-orang sering diibaratkan seperti penyedot debu kosmik yang dapat menelan apa saja. Padahal, lubang hitam pada dasarnya merupakan hanyalah objek bermassa sangat besar.

“Bintang yang mengorbitnya mirip seperti planet mengelilingi Matahari dan akan tetap berada di jalur orbitnya,” imbuh Mang.

Ziri Younsi, astrofisikawan dari University College London yang tidak terlibat dalam penelitian ini, turut berkomentar. Menurutnya, penemuan bintang S301 ini dapat menjadi terobosan besar dalam memahami sejarah dan evolusi Galaksi Bima Sakti.

“Ini adalah penemuan yang sangat penting dan luar biasa. Pada titik tercepatnya, bintang ini bergerak hingga 8 persen dari kecepatan cahaya,” turut Younsi.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260821154808-199-1394989/bintang-tercepat-di-bima-sakti-terdeteksi-kecepatan-25-ribu-km-detik

Cara Perpanjang STNK Tanpa Perlu ke Samsat

Cara Perpanjang STNK Tanpa Perlu ke Samsat

Jakarta, CNN Indonesia — Memperpanjang STNK merupakan kewajiban bagi setiap pemilik kendaraan. Perpanjangan STNK dilakukan secara tahunan dan lima tahunan yang disertai penggantian pelat nomor.

Saat ini proses perpanjangan tidak lagi mengharuskan pemilik datang ke Samsat karena dapat diurus secara daring melalui aplikasi SIGNAL (Samsat Digital Nasional) yang resmi beroperasi mulai Juni 2026. Namun, aplikasi Signal ini hanya dapat melakukan perpanjang secara tahunan mengutip dari laman resmi Samsat Digital Nasional, Rabu (19/8).

Untuk perpanjang pada Agustus 2026 syarat dan caranya perpanjang STNK online tak berbeda dari sebelumnya. Berikut uraiannya:

– Siapkan e-KTP asli pemilik kendaraan yang sesuai tertera di BPKB/STNK untuk verifikasi foto dan biometrik

– Siapkan Nomor Registrasi Kendaraan Bermotor (NRKB/Nomor Polisi) dan 5 digit terakhir nomor rangka.

– Siapkan biaya sesuai besaran pajak yang dikenakan pada kendaraan bermotor

Bagaimana cara perpanjang secara online?

1. Pastikan untuk mengunduh aplikasi Signal melalui peramban atau platform unduh aplikasi yang tersedia.

2. Buka aplikasi, lalu lakukan pendaftaran akun dengan memasukkan data diri (NIK, nama sesuai KTP, alamat email, dan nomor HP)

3. Setelah selesai, Unggah foto e-KTP asli dan lakukan verifikasi biometrik wajah (swafoto) sesuai petunjuk aplikasi. Masukkan kode OTP yang dikirimkan via SMS untuk menyelesaikan registrasi.

4. Pilih menu Pendaftaran Pengesahan STNK, lalu tambahkan data kendaraan (baik kendaraan milik sendiri maupun milik keluarga dalam satu KK) dengan memasukkan NRKB dan 5 digit terakhir nomor rangka.

5. Lakukan pengajuan pengesahan STNK. Setelah data terverifikasi, aplikasi akan menerbitkan e-SKKP (Elektronik Surat Ketetapan Kewajiban Pembayaran) beserta kode pembayaran yang berlaku selama 2 jam.

6. Segera lakukan pembayaran sebelum kode expired melalui mitra bank penyedia (seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, BSI, atau Bank Daerah/BPD) maupun kanal e-commerce dan minimarket yang bermitra.

7. Setelah pembayaran berhasil, Anda akan menerima e-TBPKP dan e-Pengesahan STNK secara digital di dalam aplikasi. Jika menginginkan TBPKP fisik, Anda dapat memilih layanan pengiriman dokumen ke alamat rumah melalui PT Pos Indonesia atau ambil sendiri di Samsat terdekat.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20260819145050-579-1394020/cara-perpanjang-stnk-tanpa-perlu-ke-samsat

Jangan Langsung Bereaksi Saat Emosi Naik, Jeda Sejenak Bisa Bantu Mengelolanya

Jangan Langsung Bereaksi Saat Emosi Naik, Jeda Sejenak Bisa Bantu Mengelolanya

JP Radar Kediri – Ketika emosi sedang memuncak, seseorang cenderung ingin langsung bertindak atau memberikan respons.

Namun, penelitian terbaru dari University of Sydney menunjukkan bahwa memberi jeda untuk memeriksa kembali respons sebelum bertindak dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik.

Penelitian yang dipimpin Riley Leckie bersama Carolyn MacCann dan Kit S. Double tersebut memperkenalkan peran metakognisi, yakni kemampuan seseorang untuk memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri, dalam pengelolaan emosi. Studi itu diterbitkan di jurnal Affective Science pada Juni 2026.

Berpikir Sebelum Bereaksi

Metakognisi umumnya dikenal dalam konteks proses berpikir dan belajar. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memantau pikiran juga berkaitan dengan cara seseorang menghadapi situasi emosional.

Saat mengalami perubahan emosi, seseorang dapat memperhatikan apa yang sedang dirasakan, menilai seberapa kuat emosinya, mencari kemungkinan penyebab, kemudian mempertimbangkan apakah perlu memberikan respons tertentu.

Dengan kata lain, ada ruang di antara emosi yang muncul dan tindakan yang dilakukan. Ruang singkat tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah respons yang akan diberikan memang sesuai dengan situasi.

Contohnya, ketika seorang teman tiba-tiba membatalkan janji, rasa kecewa atau marah bisa muncul. Alih-alih langsung mengirim pesan dengan nada keras, seseorang dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan kemungkinan alasan di balik pembatalan tersebut.

Diuji dalam Dua Studi

Penelitian ini dilakukan melalui dua studi.

Pada studi pertama, sebanyak 226 peserta mengikuti tugas yang mengukur kemampuan metakognitif dan pengelolaan emosi.

Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan seseorang menyesuaikan tingkat keyakinannya dengan ketepatan respons berkaitan positif dengan kemampuan mengelola emosi.

Sebaliknya, tingkat keyakinan yang terlalu tinggi secara umum berkaitan negatif dengan performa pengelolaan emosi.

Pada studi kedua, 200 peserta dibagi secara acak ke dalam kondisi yang meminta mereka memberikan penilaian terhadap keyakinan atau tanpa penilaian tersebut ketika mengerjakan tugas pengelolaan emosi.

Peserta yang diminta melakukan penilaian metakognitif menunjukkan performa yang lebih baik. Temuan ini memberikan bukti bahwa keterlibatan dalam proses memantau pikiran tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan emosi, tetapi juga dapat membantu meningkatkannya.

Jeda Tidak Berarti Menekan Emosi

Memberi waktu sebelum bereaksi bukan berarti mengabaikan atau menekan emosi. Justru, jeda tersebut dapat digunakan untuk memahami apa yang sedang terjadi sebelum menentukan tindakan.

Menurut penelitian, proses pemantauan membantu seseorang mengenali perubahan emosi, menilai intensitas dan penyebabnya, lalu menentukan strategi yang paling sesuai dengan situasi.

Karena itu, ketika sedang marah, kecewa, atau tersinggung, seseorang tidak selalu harus langsung mencari cara untuk menghilangkan perasaan tersebut.

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa emosi sedang muncul dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengevaluasi respons.

Kebiasaan sederhana seperti bertanya, “Apakah saya benar-benar perlu merespons seperti ini?” dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Pada akhirnya, mengelola emosi bukan hanya soal menahan reaksi. Kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami apa yang dirasakan, dan menilai kembali pilihan respons dapat membantu seseorang mengambil tindakan yang lebih tepat.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/lifestyle/2608240005/jangan-langsung-bereaksi-saat-emosi-naik-jeda-sejenak-bisa-bantu-mengelolanya