JP Radar Kediri – Tidak semua persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja terlihat jelas. Seorang siswa yang mengalami tekanan psikologis tidak selalu menunjukkan kesedihan atau menarik diri.
Perubahan perilaku, kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti persoalan tersebut melalui kegiatan edukasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah Jenjang SMP dan SMA pada April 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dasar dalam mengenali dan merespons persoalan kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan luka psikologis sering kali tidak terlihat, tetapi dapat berdampak besar terhadap kehidupan remaja apabila tidak ditangani dengan tepat.
Perubahan Perilaku Perlu Diperhatikan
Sekolah merupakan salah satu lingkungan utama tempat anak menghabiskan waktunya. Karena itu, perubahan yang muncul dalam keseharian siswa dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh guru maupun teman sebaya.
Siswa yang biasanya aktif, misalnya, tiba-tiba lebih sering diam atau menghindari interaksi. Ada pula yang menjadi mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi saat pelajaran, mengalami penurunan motivasi, atau tidak lagi tertarik pada kegiatan yang sebelumnya disukai.
Satu perubahan perilaku tentu tidak dapat langsung diartikan sebagai masalah kesehatan mental. Namun, perubahan yang berlangsung terus-menerus dan memengaruhi kehidupan belajar maupun hubungan sosial perlu mendapat perhatian.
Pendekatan semacam ini membuat sekolah tidak hanya bertindak ketika masalah sudah menjadi serius, tetapi juga berperan dalam mengenali kondisi siswa sejak lebih awal.
Sekolah Perlu Menjadi Ruang Aman
Upaya mengenali kondisi psikologis siswa juga sejalan dengan kebijakan baru mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, pemerintah menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai salah satu unsur yang harus diperhatikan di lingkungan sekolah, bersama perlindungan fisik, keamanan sosial, dan keamanan digital.
Kemendikdasmen juga menegaskan sekolah perlu menjadi ruang yang aman, suportif, dan memanusiakan murid. Dalam penerapannya, sekolah diharapkan mampu mengenali persoalan yang dihadapi peserta didik sekaligus membantu mereka berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.
Artinya, kesehatan mental tidak seharusnya hanya dibicarakan ketika terjadi kasus. Lingkungan belajar sehari-hari juga perlu dirancang agar siswa merasa aman untuk berkomunikasi, meminta bantuan, dan menyampaikan kesulitan yang dihadapi.
Teman Juga Bisa Berperan
Kemenkes dalam kegiatan first aider di sekolah menekankan pentingnya keterampilan dasar bagi siswa untuk mengenali dan merespons masalah kesehatan mental di lingkungan sekitarnya.
Hal ini penting karena teman sebaya sering menjadi orang pertama yang menyadari adanya perubahan pada seorang siswa.
Namun, membantu bukan berarti mendiagnosis. Ketika melihat teman mengalami perubahan yang mengkhawatirkan, langkah yang lebih tepat adalah mendengarkan tanpa menghakimi, menunjukkan kepedulian, dan menghubungkannya dengan orang dewasa yang dapat membantu.
Guru, wali kelas, guru BK, orang tua, atau tenaga profesional dapat dilibatkan ketika kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Guru Tidak Harus Menjadi Psikolog
Peran sekolah dalam kesehatan mental bukan berarti seluruh guru harus mampu memberikan diagnosis atau terapi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengenali tanda awal, memberikan respons yang aman, dan mengetahui kapan siswa perlu dirujuk.
Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen juga menempatkan layanan bimbingan dan konseling sebagai bagian penting dalam mendukung kesehatan mental murid serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Dengan pendekatan tersebut, guru dapat menjadi bagian dari sistem dukungan bagi siswa tanpa mengambil alih peran tenaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan psikologis siswa bukan hanya tentang menangani masalah setelah muncul. Sekolah juga perlu membangun lingkungan yang memungkinkan anak merasa aman, dihargai, dan didengar.
Sebab, ketika luka fisik terlihat, orang biasanya tahu bahwa seseorang membutuhkan bantuan.
Sementara luka psikologis bisa tersembunyi di balik perubahan sikap, nilai yang menurun, atau keheningan seorang anak. Di situlah kepekaan lingkungan sekolah menjadi penting.




