Momen Kebersamaan Fun Hiking 2026

Momen Kebersamaan Fun Hiking 2026

Kediri, 29 Agustus 2026 — Momen memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia dirayakan secara berbeda dan penuh kehangatan oleh keluarga besar Trisna Group. Dipimpin langsung oleh sang CEO, Eggy Adityawan, lebih dari 100 karyawan dari berbagai divisi melangkah bersama menaklukkan jalur pendakian Gunung Klotok, Mojoroto, dalam ajang bertajuk Fun Hiking 2026.

Selain untuk menyemarakkan hari kemerdekaan, kegiatan ini digelar untuk mempererat tali silaturahmi serta membangun keakraban antarstaf dan manajemen. Suasana kekeluargaan terasa kental sepanjang jalur pendakian; para peserta saling menyemangati dan bahu-membahu melewati setiap medan.

Di sela-sela perjalanan, Eggy Adityawan memberikan pesan mendalam kepada seluruh jajarannya untuk menikmati setiap langkah tanpa menjadikannya sebagai beban.

“Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Kalau capek, berhenti. Jangan dijadikan beban, gunakan sebagai tadabur ciptaan ALLAH Subhanahu wa ta’ala—bahwa ALLAH menciptakan gunung, udara yang segar, hewan-hewan, dan lain sebagainya. Bersikap ramahlah ke pendaki lain. Ingat, baca takbir saat menanjak dan baca tasbih saat menurun,” pesan Bapak Eggy Adityawan.

Rasa lelah para peserta terbayar tuntas saat rombongan berhasil menapakkan kaki di puncak Gunung Klotok. Suasana haru dan bangga tak terbendung, terutama bagi beberapa karyawan yang baru pertama kali meraskan pengalaman mendaki gunung. Kepuasan berhasil melampaui batas diri bersama rekan sejawat menjadi momen yang tak terlupakan.

Setibanya di garis finish, acara berlanjut dengan sesi sarapan bersama untuk mengembalikan stamina seluruh rombongan. Untuk menambah keceriaan dan mengapresiasi semangat para karyawan, Eggy Adityawan juga membagi-bagikan hadiah berupa uang tunai kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan kuis.

Berjalan sukses, aman, dan lancar, Fun Hiking 2026 meninggalkan kesan yang mendalam. Tak sedikit karyawan yang berharap kegiatan positif seperti ini dapat rutin diadakan kembali di tahun-tahun mendatang.

Sumber : https://www.instagram.com/p/DcVg8Q6CqqD/

Tak Cuma soal Energi, Begini Cara Pertamina Jaga Lingkungan

Tak Cuma soal Energi, Begini Cara Pertamina Jaga Lingkungan

Jakarta – Pertamina berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui penggunaan energi terbarukan, tetapi juga kebiasaan-kebiasaan sederhana.

Perwira Subholding Downstream Pertamina, Yoga Pratama, mengatakan salah satu penerapannya dilakukan melalui Green Energy Station atau SPBU ramah lingkungan yang memanfaatkan panel surya untuk mendukung kebutuhan energi di sejumlah unit bisnis Pertamina.

“Kalau di Pertamina ini contohnya ada Green Energy Station. Kita pakai solar panel. Jadi nanti itu untuk mendukung transisi energi di beberapa SPBU Pertamina,” kata Yoga dalam Pertamina Talks Episode 2 bertema ‘Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi’ di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, penerapan prinsip keberlanjutan juga dilakukan di terminal BBM dengan memilah sampah serta mendorong pekerja membawa tempat air minum atau tumbler dalam aktivitas sehari-hari.

“Jadi nggak cuma tentang energi, tapi mulai dari pilah sampah, bawa tumbler juga kita lakukan sebagai bentuk dari keberlanjutan itu sendiri,” ujarnya.

Di luar operasional perusahaan, Pertamina juga menjalankan program Desa Energi Berdikari. Melalui program ini, energi terbarukan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi desa, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Yoga mencontohkan salah satu penerapannya di Cilacap yang memanfaatkan energi surya dan angin. Energi tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pompa air hingga mendukung proses pengolahan makanan.

“Jadi, untuk energi di desa itu udah energi terbarukan. Kayak misalnya di Cilacap itu sudah ada energi surya dan juga energi angin. Nah, dari itu dia menggerakkan lagi nih untuk air bersihnya, pompanya, baru nanti masuk lagi untuk mengolah makanannya,” bebernya.

Sementara di Palembang, energi digunakan untuk mendukung pengolahan kopi, termasuk proses sangrai. Adapun di Sulawesi, energi dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa dalam kegiatan urban farming.

“Kalau misalnya di Palembang itu juga ada untuk mengolah kopi, jadi untuk sangrai kopinya. Nah, kalau di Sulawesi itu juga ada pompanya itu untuk urban farming. Jadi, dari energi mekanis nanti diubah menjadi energi yang juga untuk meningkatkan ekonomi dari masyarakat kita,” tutup Yoga.

Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8637191/tak-cuma-soal-energi-begini-cara-pertamina-jaga-lingkungan

Penelitian NASA Ungkap Cara Matahari Membentuk Iklim Bumi

Penelitian NASA Ungkap Cara Matahari Membentuk Iklim Bumi

Jakarta, CNN Indonesia — Sebuah penelitian yang didanai oleh NASA mengungkap bahwa peristiwa kuno dalam sejarah Matahari kemungkinan memengaruhi iklim Bumi dan mendorong perubahan iklim.

Selama puluhan juta tahun Bumi terus mengalami perubahan iklim yang signifikan. Untuk menjelaskan periode pemanasan dan pendinginan Bumi, para ilmuwan meneliti faktor-faktor internal Bumi (perubahan orbit, gas rumah kaca, dan es).

Penelitian terbaru dari SHIELD (Solar Wind with Hydrogen Ion charge Exchange and Large-Scale Dynamics) yang merupakan bagian dari pusat sains DRIVE (Diversify, Realize, Integrate, Venture, Educate) milik NASA mengungkapkan faktor eksternal berupa perubahan lingkungan Matahari yang berhubungan dengan perubahan suhu Bumi.

Penelitian tersebut menelusuri lintasan heliosfer atau gelembung pelindung besar (seperti atmosfer) yang terbentuk oleh angin dan partikel yang mengalir keluar dari Matahari ke segala arah.

Penelitian yang diterbitkan pada 21 Agustus di Annual Review of Astronomy and Astrophysics mengungkapkan bahwa lingkungan yang dilalui heliosfer dapat memicu perubahan di Bumi.

Peneliti utama SHIELD Merav Opher dan timnya mengungkapkan bahwa Matahari bertemu dengan hamparan gas dan debu yang sangat dingin setidaknya tiga kali dalam beberapa juta tahun terakhir.

Gas dan debu dingin ini menekan heliosfer sehingga menyusut. Paparan ini membuat Bumi berada di luar perlindungan heliosfer dan terpapar lingkungan antarbintang.

Paparan-paparan ini terjadi sekitar 2-3 juta tahun, 6-7 juta tahun, dan 13-14 juta tahun yang lalu.

Hasil simulasi menunjukkan kecocokan dengan bukti geologis bahwa unsur-unsur yang ada dalam debu antarbintang juga ditemukan dalam sampel inti sedimen laut dalam, salju Antartika, dan sampel Bulan selama rentang waktu tersebut.

Ketika atmosfer terpapar awan hidrogen galaksi yang dingin dan padat, kandungan uap air meningkat dan dinamika atmosfer atas bergeser, mengubah kondisi di permukaan.

Penelitian mengenai heliosfer dan heliofisika ini dapat menjelaskan perubahan iklim kuno di Bumi, termasuk misteri evolusi, kemungkinan zaman es (ice age), dan mengungkap sistem bintang layak huni lainnya.

Matahari Muda

Penelitian lain dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA Vladimir Airapetian yang diterbitkan di Astrophysical Journal Letters, berfokus pada paradoks bagaimana Bumi bertahan dari Matahari purba yang redup.

Tiga miliar tahun lalu, Matahari hanya memiliki 70 persen kecerahan dibanding kecerahan saat ini. Dalam kondisi ini, seharusnya Bumi membeku sepenuhnya.

Paradoks ini dipecahkan dari bintang-bintang muda mirip Matahari yang secara teratur meletus dengan superflare besar-besaran yang melontarkan partikel berenergi tinggi ke segala arah.

Airapetian berpendapat bahwa jika Matahari muda kita sama seperti yang lain, lontaran partikel berenergi tinggi itu yang memicu reaksi kimia yang menghasilkan pemanasan Bumi purba.

Para peneliti membuat simulasi atmosfer Bumi dengan mencampurkan nitrogen molekuler, amonia, karbon dioksida, dan karbon monoksida.Kemudian mereka menembakkan proton ke dalam campurannya untuk meniru serangan partikel superflare.

Paparan proton ini memicu produksi nitrogen oksida (nitrous oxide), gas rumah kaca yang 300 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Nitrogen oksida ini dapat membantu Bumi mempertahankan panas.

Radiasi ultraviolet intens Matahari mungkin akan menguraikannya, tapi 10 persen nitrogen oksida saja mampu menghangatkan wilayah khatulistiwa Bumi hingga 5 derajat Celcius di atas titik beku air.

Kondisi dingin tapi tidak beku tersebut mempercepat prebiotik sintesis yang dapat efisien membangun rantai asam amino kompleks (pembentuk protein) yang memungkinkan kehidupan makhluk hidup.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260827144325-199-1396973/penelitian-nasa-ungkap-cara-matahari-membentuk-iklim-bumi

Daftar 10 Perusahaan Penghasil Gas Terbesar RI

Daftar 10 Perusahaan Penghasil Gas Terbesar RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memaparkan produksi gas nasional hingga 31 Juli 2026 rata-rata mencapai 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka ini masih lebih rendah dari target dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 6.837 MMSCFD.

Begitu juga dengan realisasi salur gas. Hingga Juli 2026 baru tercatat rata-rata sebesar 5.208 MMSCFD, lebih rendah dari target APBN 2026 sebesar 5.508 MMSCFD.

Bila dibandingkan dengan realisasi pada 2025, produksi dan salur gas sepanjang 2026 ini juga terlihat mengalami penurunan. Pada 2025, produksi gas tercatat mencapai 6.753 MMSCFD dan salur gas tercatat sebesar 5.425 MMSCFD.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan, belum tercapainya target produksi dan salur gas ini karena terdapat beberapa kendala.

Pertama, terjadinya insiden kebocoran pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada awal 2026 yang berdampak pada pengapalan migas 9 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), antara lain PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Bumi Siak Pusako (BSP), SPR Langgak, APGWI, EMP Gandewa, EMP Tonga, PHE Jambi Merang, MEPG, dan PetroChina Jabung.

Lalu, terjadinya gangguan pada Wilayah Kerja (WK) Berau atau Lapangan Gas Tangguh yang dikelola BP Berau Ltd, yang menyebabkan penghentian operasional yang tak diduga (unplanned shutdown) berulang.

“Nah untuk gas tadi itu menurun. Tadi saya sampaikan di TGI pipa putus 200 MMSCFD, di Subang juga ada kecelakaan dan baru saja selesai perbaikan, dan di BP ada kebakaran switchgear yang sampai hari ini belum 100% perbaikannya,” jęłas Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (27/8/2026).

Meski demikian, BP Berau Ltd merupakan produsen gas terbesar di RI saat ini. Dari Lapangan Gas Tangguh, Blok Berau di Papua Barat, BP Berau Ltd telah menyalurkan 1.478 MMSCFD atau 95,4% dari target pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 1.550 MMSCFD.

Produsen gas terbesar kedua yaitu PT Pertamina EP. Pertamina EP tercatat telah menyalurkan gas sebesar 563 MMSCFD tau 89,4% dari target 630 MMSCFD.

Kemudian, posisi ketiga ENI East Sepinggan Ltd dengan jumlah penyaluran gas sebesar 466 MMSCFD, lebih tinggi dari target atau 120,9% dari target APBN 385 MMSCFD.

Berikut daftar 10 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan penyaluran gas bumi terbesar hingga 31 Juli 2026:

1. BP Berau Ltd.: 1.478 MMSCFD

2. PT Pertamina EP: 563 MMSCFD

3. ENI East Sepinggan Ltd.: 466 MMSCFD

4. Medco E&P Grissik Ltd.: 458 MMSCFD

5. PT Pertamina Hulu Mahakam: 365 MMSCFD

6. JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi: 317 MMSCFD

7. Husky-CNOOC Madura Ltd.: 213 MMSCFD

8. ENI Muara Bakau B.V.: 101 MMSCFD

9. PetroChina International Jabung Ltd.: 121 MMSCFD

10. PT Pertamina EP Cepu: 151 MMSCFD

Dan lainnya dengan total realisasi salur gas 5.208 MMSCFD atau 94,5% dari target 5.508 MMSCFD.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20260827135449-4-762757/daftar-10-perusahaan-penghasil-gas-terbesar-ri

Bukan Hujan Lebat, Angin Kencang Mengintai Kediri dan Nganjuk Dua Hari, Begini Prediksi BMKG

Bukan Hujan Lebat, Angin Kencang Mengintai Kediri dan Nganjuk Dua Hari, Begini Prediksi BMKG

KEDIRI, JP Radar Kediri – Warga Kediri Raya diminta lebih waspada terhadap kondisi cuaca dalam dua hari ke depan.

Bukan hujan lebat yang menjadi perhatian, melainkan potensi angin kencang yang diprakirakan melanda Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Nganjuk pada 27–28 Agustus.

Peringatan dini tersebut disampaikan Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri melalui informasi peringatan dini cuaca tiga harian.

Dalam prakiraan untuk Kamis (27/8) dan Jumat (28/8), potensi angin kencang tercantum pada wilayah Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Nganjuk.

Menariknya, pada dua hari tersebut BMKG tidak mencantumkan potensi hujan dengan kategori waspada, siaga, maupun awas.

 Potensi hujan sedang hingga lebat tercatat nihil, begitu pula hujan lebat hingga sangat lebat serta hujan sangat lebat hingga ekstrem.

Potensi hujan petir juga tercatat nihil. Kondisi tersebut membuat angin kencang menjadi satu-satunya peringatan cuaca yang ditampilkan dalam informasi BMKG Dhoho Kediri untuk wilayah tersebut.

Meski tidak disertai peringatan hujan ekstrem, masyarakat tetap diminta berhati-hati.

Angin kencang berpotensi meningkatkan risiko dahan atau pohon tumbang, terutama di kawasan yang banyak terdapat pepohonan serta bangunan dengan struktur yang kurang kokoh.

Pengendara sepeda motor juga perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melintas di jalan yang terbuka.

Hembusan angin yang kuat dapat mengganggu keseimbangan kendaraan, terlebih bagi pengendara yang membawa barang atau menggunakan kendaraan dengan muatan tinggi.

BMKG Dhoho Kediri mengeluarkan peringatan tersebut sebagai bagian dari pemantauan kondisi atmosfer di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Masyarakat diimbau terus mengikuti pembaruan informasi cuaca karena kondisi atmosfer dapat berubah dalam waktu singkat.

Selain Kabupaten dan Kota Kediri, wilayah Nganjuk juga masuk dalam daerah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang.

Karena itu, warga yang beraktivitas di luar ruangan pada Kamis hingga Jumat mendatang diharapkan memperhatikan perkembangan cuaca sebelum bepergian.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/kediri-raya/2608270015/bukan-hujan-lebat-angin-kencang-mengintai-kediri-dan-nganjuk-dua-hari-begini-prediksi-bmkg

Cara Berpikir Ternyata Bisa Memengaruhi Stres dan Kesehatan

Cara Berpikir Ternyata Bisa Memengaruhi Stres dan Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta – Cara seseorang memandang suatu masalah dapat memengaruhi bagaimana dia menghadapi stres dan kecemasan. Sikap optimistis serta kebiasaan berpikir positif (positive thinking) menjadi bagian penting dalam pengelolaan stres yang efektif.

Optimisme dan pesimisme juga dapat berkaitan dengan kesehatan serta kesejahteraan seseorang. Namun, positive thinking bukan berarti mengabaikan situasi yang tidak menyenangkan atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Melansir Mayo Clinic, Senin (24/8/2026), berpikir positif berarti menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan cara yang lebih lembut dan produktif. Kebiasaan tersebut sering kali dimulai dari self-talk atau dialog batin, yaitu aliran pikiran yang muncul dalam diri seseorang.

Pikiran otomatis dapat bersifat positif maupun negatif. Sebagian muncul berdasarkan logika, sementara lainnya dapat terbentuk akibat kesalahpahaman, kurangnya informasi, atau asumsi mengenai apa yang akan terjadi.

Berpikir Positif untuk Kesehatan

Sejumlah penelitian menemukan kemungkinan manfaat berpikir positif dan optimisme terhadap kesehatan. Beberapa di antaranya meliputi tingkat depresi dan tekanan psikologis yang lebih rendah, kemampuan menghadapi masa sulit yang lebih baik, serta peningkatan kesejahteraan psikologis dan fisik.

Berpikir positif juga dikaitkan dengan kesehatan kardiovaskular yang lebih baik. Selain itu, optimisme dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan stroke yang lebih rendah. Beberapa penelitian juga menemukan kaitan antara pola pikir positif dan risiko kematian yang lebih rendah akibat kanker, gangguan pernapasan, serta infeksi.

Meski demikian, alasan pasti di balik kaitan tersebut belum sepenuhnya diketahui. Salah satu teorinya adalah pandangan positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi penuh tekanan dengan lebih baik sehingga mengurangi dampak buruk stres terhadap tubuh.

Kenali Pola Pikiran Negatif

Sebelum melatih pola pikir positif, seseorang dapat mulai dengan mengenali bentuk self-talk negatif yang muncul dalam keseharian. Beberapa di antaranya:

  • Filtering, yaitu hanya berfokus pada sisi buruk dari suatu kondisi.
  • Personalizing, ketika seseorang langsung menyalahkan diri sendiri atas suatu kejadian.
  • Catastrophizing, yaitu selalu memperkirakan kemungkinan terburuk tanpa bukti yang jelas dan mendukung.

Selain itu, pola pikir negatif juga dapat berupa kebiasaan membesar-besarkan masalah kecil, menetapkan standar yang tidak mungkin dicapai, bersikap terlalu perfeksionis, serta melihat segala sesuatu secara hitam-putih tanpa mempertimbangkan kemungkinan yang lebih realistis.

Cara Melatih Pikiran Lebih Positif

Seseorang dapat memulai dengan memilih satu aspek dalam kehidupan sehari-hari yang paling sering memicu pikiran negatif. Selanjutnya, periksa pola pikir tersebut secara berkala dan cobalah melihat situasi dari sudut pandang yang lebih positif serta membangun.

Pola pikir positif juga dapat dilatih dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, tidur yang cukup, mencari hal-hal yang dapat mengundang tawa dalam keseharian, serta berada di lingkungan yang suportif.

Selain itu, positive self-talk dapat dilatih dengan berhenti mengatakan sesuatu kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak akan dikatakan kepada orang lain.

Perlu diingat, mengubah pola pikir dari sesuatu yang tidak nyaman menjadi lebih positif membutuhkan waktu dan latihan.

Seseorang tidak perlu langsung menjadi optimistis. Perubahan dapat dimulai secara bertahap dengan mengurangi kritik keras dan kebiasaan menyalahkan diri sendiri hingga akhirnya mampu mencapai penerimaan diri (self-acceptance).

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/psikologi/read/8276902/cara-berpikir-ternyata-bisa-memengaruhi-stres-dan-kesehatan

Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Decision Fatigue, Saat Terlalu Banyak Pilihan Membuat Pikiran Lelah dan Emosi Terkuras

Liputan6.com, Jakarta – Decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan menjadi kondisi yang semakin sering dialami ketika seseorang harus menghadapi banyak pilihan dalam satu hari. Memilih menu makan siang, menentukan pakaian yang dikenakan, hingga memutuskan kapan harus membalas pesan mungkin terlihat sebagai hal sederhana.

Namun, keputusan-keputusan kecil yang terus menumpuk dapat membuat otak kehilangan energi untuk memproses pilihan berikutnya. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan seseorang dalam membuat keputusan mulai menurun setelah dihadapkan pada banyak pilihan dalam waktu berdekatan.

Akibatnya, seseorang dapat mengambil keputusan secara terburu-buru, merasa ragu, bahkan memilih untuk menghindari keputusan sama sekali, melansir Cleveland Clinic, Rabu, 5 Agustus 2026.

Setiap keputusan membutuhkan energi mental. Semakin banyak pilihan yang harus dipertimbangkan, semakin besar pula beban yang diterima otak. Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi untuk menyelesaikan aktivitas berikutnya.

Decision fatigue tidak hanya dialami oleh orang dengan tanggung jawab besar dalam pekerjaan. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja ketika menjalani hari yang dipenuhi berbagai pilihan, mulai dari urusan pekerjaan, keluarga, hingga aktivitas pribadi.

Mengenali tanda-tanda decision fatigue menjadi langkah awal untuk menjaga energi mental. Kondisi ini dapat dikurangi dengan membangun kebiasaan sederhana, seperti menentukan prioritas, membatasi pilihan yang kurang penting, dan membuat rutinitas harian agar otak memiliki ruang untuk fokus pada keputusan yang lebih bermakna.

Kurangi Pilihan yang Tidak Perlu

Salah satu cara mengurangi decision fatigue adalah membatasi jumlah keputusan yang perlu diambil setiap hari. Pilihan sederhana, seperti menentukan pakaian, menyusun menu makan, atau mengatur jadwal aktivitas, dapat dibuat lebih praktis melalui rutinitas.

Kebiasaan ini membantu menghemat energi mental agar otak tetap fokus pada keputusan yang lebih penting. Selain itu, menyusun prioritas juga dapat membuat pikiran lebih terarah.

Buat daftar tugas sejak pagi, lalu tentukan pekerjaan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu dan hal-hal yang masih bisa ditunda. Dengan mengurangi keputusan kecil yang berulang, seseorang dapat menjaga kualitas berpikir dan lebih siap menghadapi pilihan besar yang membutuhkan perhatian lebih.

Istirahatkan Pikiran

Memberikan waktu istirahat di sela aktivitas dapat membantu mengurangi kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan. Ketika otak terus bekerja tanpa jeda, kemampuan untuk berpikir jernih dapat menurun sehingga seseorang lebih rentan mengambil keputusan secara impulsif atau merasa kesulitan menentukan pilihan.

Berjalan kaki sejenak, melakukan peregangan, menarik napas dalam, atau menjauh dari layar komputer selama beberapa menit dapat membantu mengembalikan fokus. Selain itu, tidur yang cukup juga penting karena otak membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah menjalani berbagai aktivitas.

Tubuh dan pikiran yang lebih segar membuat seseorang mampu mempertimbangkan pilihan dengan lebih tenang dan rasional. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kualitas keputusan sekaligus meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.

Kenali Batas Diri

Ketika pikiran mulai terasa penuh atau emosi sedang tidak stabil, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan dapat menjadi langkah yang bijak. Waktu sejenak untuk berhenti membantu seseorang berpikir lebih tenang dan mengurangi risiko membuat pilihan secara terburu-buru.

Selain mengelola pikiran, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga berperan penting. Mengonsumsi makanan secara teratur, mencukupi kebutuhan cairan, berolahraga, serta memiliki waktu istirahat yang cukup dapat membantu menjaga energi fisik dan fungsi otak.

Kondisi tubuh yang lebih sehat membuat seseorang lebih siap menghadapi berbagai pilihan dalam keseharian. Jika kelelahan mental mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8262550/decision-fatigue-saat-terlalu-banyak-pilihan-membuat-pikiran-lelah-dan-emosi-terkuras

Studi: Terlalu Sering Bermain Gadget Bisa Bikin Prestasi Anak di Sekolah Jadi Jeblok

Studi: Terlalu Sering Bermain Gadget Bisa Bikin Prestasi Anak di Sekolah Jadi Jeblok

Jakarta – Pada zaman sekarang, layar digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak usia dini. Padahal, studi menemukan bahwa terlalu sering menatap layar (screen time) bisa berdampak pada perkembangan kognitif anak, terutama usia 1-8 tahun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk menghindari penggunaan layar sebelum anak berusia 18-24 bulan. Anak-anak usia 2-5 tahun dibatasi hingga kurang dari satu jam per hari.

Penggunaan layar atau screen time mencakup bermain smartphone atau HP, laptop atau komputer, TV, hingga bermain game elektronik.

Turunkan Prestasi di Sekolah

Banyak temuan mengungkapkan bahwa anak-anak cenderung menghabiskan waktu lebih lama di depan layar dibandingkan anjuran WHO dan yang lainnya. Dampak negatifnya juga telah banyak diperbincangkan oleh para ahli.

Dalam penelitian terhadap anak usia 1-8 tahun ini contohnya. Riset tersebut mengungkapkan bahwa durasi screen time yang lebih lama, terutama saat masa bayi dan mulai bersekolah, berkaitan dengan prestasi akademik yang lebih rendah pada usia 9 tahun serta memori yang lebih lemah pada usia 10,5 tahun.

Hasil penelitian ini mengindikasikan waktu anak-anak bermain gadget mungkin juga sama pentingnya dengan durasi waktu yang dihabiskan mereka dalam menggunakannya. Penelitian tersebut berjudul “Screen viewing time from age 1 to 8 years and subsequent academic performance and working memory” dalam World Joournal of Pediatrics Volume 22

Dalam studinya, peneliti menganalisis durasi penggunaan layar pada enam tahapan usia yang berbeda. Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan prestasi akademik dan kemampuan memori anak beberapa tahun kemudian.

Analisis ini melibatkan 502 anak di Singapura yang dipantau perkembangannya sejak masa bayi hingga pertengahan masa kanak-kanak. Durasi penggunaan layar yang lebih tinggi pada tahap perkembangan tertentu dikaitkan dengan hasil akademik yang lebih rendah serta memori yang lebih lemah di kemudian hari.

Pola yang paling jelas terlihat pada paparan layar saat masa bayi dan menjelang awal masa sekolah formal. Hal ini mengindikasikan periode-periode tersebut mungkin merupakan masa yang sangat sensitif bagi perkembangan kognitif anak.

Anak-anak yang terpapar layar lebih lama sepanjang masa kanak-kanak juga cenderung memiliki prestasi akademik yang kurang baik. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan total durasi penggunaan layar hanyalah salah satu aspek dari gambaran besarnya.

Usia Krusial Jelang Pendidikan Formal

Usia saat penggunaan layar secara intens juga mungkin berperan penting. Masa kanak-kanak awal berpotensi menjadi periode di mana kebiasaan penggunaan layar memiliki dampak jangka panjang terhadap kemampuan belajar dan memori.

“Besaran efek yang kami amati pada usia 1 tahun merupakan yang terbesar dibandingkan seluruh titik waktu yang kami teliti,” ungkap para peneliti, dikutip dari Science Daily.

“Hal ini mengisyaratkan masa bayi awal mungkin merupakan periode dengan tingkat sensitivitas tinggi, saat otak yang sedang berkembang, sangat rentan terhadap tergantikannya interaksi pembelajaran oleh aktivitas penggunaan layar,” kata mereka.

Pola yang ditemukan peneliti tidak sama persis di setiap usia. Penggunaan layar pada usia 2 dan 3 tahun tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan hasil yang diukur dalam studi ini.

Akan tetapi, kaitan tersebut kembali terlihat pada usia 6 tahun. Waktu tersebut bertepatan dengan masa transisi menuju pendidikan formal, saat anak-anak menghadapi tuntutan yang semakin besar terkait perhatian, memori, dan kemampuan belajar.

Menurut para peneliti, hasil studi ini mendukung prinsip umum “semakin sedikit, semakin baik”. Penambahan durasi menonton satu jam setiap hari mungkin tidak memberikan dampak yang nyata pada setiap anak secara individu.

Meski begitu, perubahan yang relatif kecil pada keseluruhan populasi tetap dapat menyebabkan sejumlah besar anak mengalami penurunan hasil akademik.

Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi durasi menonton layar, mungkin akan paling bermanfaat jika dimulai sejak masa bayi dan diperkuat saat anak-anak mendekati usia masuk sekolah. Para peneliti juga mengingatkan bahwa durasi penggunaan layar saja tidak memberikan gambaran yang utuh.

Peneliti menilai studi di masa mendatang perlu meneliti apakah perkembangan anak akan berbeda, bergantung pada kualitas konten yang ditonton, jenis perangkat yang digunakan, serta apakah orang tua turut menonton bersama anak-anak mereka.

Sumber :https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8634096/studi-terlalu-sering-bermain-gadget-bisa-bikin-prestasi-anak-di-sekolah-jadi-jeblok

Marketing Nabi Muhammad SAW

Marketing Nabi Muhammad SAW

Sebuah pesan masuk ke email saya, minta agar kolom rutin di hari Rabu, yang kali ini berdekatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, membahas  tentang Strategi Marketing yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau berbisnis atau berdagang. Maka, ijinkan saya membahasnya pada tulisan kali ini.

Merujuk pada Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam, disebutkan bahwa ketika memimpin armada dagang milik Khadijah RA ke Syam bersama Maysarah, Rasulullah SAW sukses menghasilkan keuntungan berlipat ganda (ribhan mudha’afan) melebihi rata-rata pedagang lain.

Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-bidayah wan Nihayah mencatat, mahar pernikahan Rasulullah SAW kepada Khadijah RA adalah 20 ekor unta betina muda yang berkualitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa posisi finansial Rasulullah SAW yang sangat kuat sebagai pengusaha sukses pada usianya yang baru 25 tahun.

Lantas, strategi bisnis atau strategi marketing seperti apa yang dijalankan oleh Rasulullah SAW?

Jauh sebelum Philip Kotler merumuskan pergeseran paradigma dari “product-centric” menuju “human-centric marketing”, Rasulullah SAW telah mendemonstrasikan praktik bisnis yang melampaui zamannya. Berbagai riwayat menuliskan, selama lebih dari dua dekade mengarungi rute perdagangan dari Semenanjung Arabia hingga Syam, Rasulullah SAW membangun legitimasi bisnisnya bukan berbasis manipulasi pasar. Melainkan reputasi etis yang tak tergoyahkan.

Dari berbagai riwayat hadits, dapat dijelaskan bahwa prinsip marketing yang dijalankan oleh Rasulullah SAW berporos pada empat pilar utama: Siddiq (kejujuran), Amanah (kepercayaan), Tabligh (transparansi komunikasi) dan Fathanah (kecerdasan strategis). Rasulullah SAW secara tegas melarang praktik “tadlis” dan “najasy”. “Tadlis” adalah menyembunyikan cacat barang dari konsumen. Sedangkan “najasy” adalah menciptakan permintaan palsu untuk menaikkan harga secara artifisial. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan berada bersama para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada” (HR Tirmidzi). Larangan Rasulullah SAW tersebut, saat ini cukup relevan untuk mengoreksi semakin maraknya berbagai praktik dalam iklan deseptif, terutama di media sosial.

Iklan deseptif (deceptive advertising) adalah bentuk periklanan yang menyesatkan, memanipulasi, atau menyembunyikan fakta penting, sehingga memicu pemahaman yang salah pada calon pembeli mengenai kualitas, harga atau manfaat produk. Karakteristik iklan seperti ini mengandung kebohongan (misleading claims), klaim berlebihan (overclaiming), atau sengaja menyembunyikan cacat barang (tadlis). Misalnya yang marak di medsos adalah penggunaan foto produk yang sangat berbeda dari wujud aslinya, klaim kesehatan tanpa bukti ilmiah, atau menyembunyikan biaya tersembunyi dalam tulisan kecil (fine print).

Prinsip dan strategi marketing yang dijalankan oleh Rasulullah sangat relevan dengan teori marketing modern. Hal ini dapat dilihat pada evolusi Marketing 3.0 hingga Marketing 5.0 yang ditulis oleh Philip Kotler. Dunia bisnis hari ini menyadari bahwa konsumen tidak lagi sekadar membeli fungsi produk (Marketing 1.0). Melainkan mencari nilai (value), etika, dan otentisitas dari sebuah brand. Rasulullah SAW telah menerapkan apa yang saat ini disebut “value-based marketing” sejak 14 abad yang lalu. Yaitu ketika Rasulullah SAW menunjukkan cacat gandum yang basah kena air hujan kepada pembeli di pasar, sebelum mereka bertanya. Saat itu, Rasulullah sedang membangun bentuk dari “brand equity” tertinggi, yakni: integritas absolut.

Dalam berdagang, Rasulullah SAW tidak pernah mengandalkan apa yang saat ini disebut dengan “coercive selling” atau tekanan emosional. Sebaliknya, beliau menerapkan prinsip transaksi berbasis kerelaan (‘an taradin), dimana kepuasan dan keadilan bagi kedua belah pihak menjadi tolok ukur utama. Dalam istilah marketing kontemporer, ini adalah bentuk transparansi yang radikal, dimana dapat menciptakan “customer lifetime value” dan loyalitas organik. Pelanggan bertransaksi bukan karena iming-iming promosi semu, melainkan karena kepastian rasa aman.

Wal akhir, keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan bisnisnya hingga menjadi pengusaha terpandang, membuktikan bahwa etika bukan lah penghambat profitabilitas. Tapi, menjaga etika adalah sebuah keunggulan kompetitif yang paling berkelanjutan (sustainable competitive advantage). Di tengah lanskap marketing modern yang kerap terjebak pada algoritma dan manipulasi psikologis, merefleksikan kembali strategi Marketing yang diterapkan Rasulullah SAW, seperti memberikan kompas moral yang fundamental, bahwa marketing sejati bukan lah seni mengelabui mata. Melainkan seni memenangkan kepercayaan hati. Sollu ‘alan Nabi Muhammad SAW.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/marketing-on-wednesday/2608260006/marketing-nabi-muhammad-saw

Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?

Me Time Bukan Berarti Menjauh, Mengapa Waktu Sendiri Penting untuk Menjaga Pikiran?

JP Radar Kediri – Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang mulai meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Bukan berarti ingin menjauh dari orang lain, tetapi hanya ingin memiliki waktu untuk diri sendiri agar pikiran menjadi lebih tenang.

Istilah me time sekarang semakin sering digunakan untuk menyebut waktu yang sengaja disisihkan seseorang untuk melakukan hal yang disukai atau sekadar beristirahat tanpa harus memikirkan banyak tuntutan dari orang lain.

Bagi sebagian orang, menghabiskan waktu sendiri dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti membaca buku, jalan-jalan santai, mendengarkan musik, menjalankan hobi, menonton film, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan pekerjaan dan kegiatan lainnya.

Namun, masih ada yang menganggap bahwa menghabiskan waktu sendiri berarti seseorang sedang menjauh dari orang lain atau tidak ingin bergaul.

Padahal, meluangkan waktu untuk diri sendiri bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

Bukan Berarti Kesepian

Me time berbeda dengan rasa kesepian. Kesepian biasanya terjadi ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan atau dukungan dari orang lain, sedangkan me time adalah waktu yang sengaja dipilih untuk dinikmati sendiri dan memberi kesempatan bagi diri untuk beristirahat.

Ketika seseorang terus melakukan banyak kegiatan tanpa cukup waktu untuk beristirahat, tubuh dan pikiran bisa menjadi lelah.

Meluangkan waktu untuk beristirahat dapat membantu seseorang merasa lebih siap untuk kembali menjalani pekerjaan, kuliah, maupun aktivitas lainnya.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa memahami kondisi diri dan menyediakan waktu untuk beristirahat merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan mental.

Menurutnya, seseorang perlu mengetahui batas kemampuan dirinya agar tidak terus memaksakan diri ketika sedang menghadapi tekanan.

Cara Sederhana Mengembalikan Energi

Me time tidak harus dilakukan dengan mengeluarkan banyak biaya atau pergi jauh dari rumah.

Kegiatan sederhana yang membuat seseorang merasa nyaman dan tenang juga bisa menjadi cara untuk menikmati waktu sendiri.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Melakukan hobi yang disukai.
  2. Mengurangi penggunaan media sosial untuk sementara.

  3. Jalan-jalan santai atau melakukan olahraga ringan.

  4. Membaca buku atau mendengarkan musik.

  5. Menikmati waktu luang tanpa harus selalu melakukan sesuatu yang produktif.

Bagi mahasiswa dan pekerja muda, me time juga bisa digunakan untuk melihat kembali kegiatan yang sedang dijalani.

Dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri, seseorang bisa memahami hal-hal yang membuatnya lelah dan mengetahui kegiatan yang dapat membuat semangatnya kembali.

Tetap Perlu Menjaga Hubungan dengan Orang Lain

Meskipun meluangkan waktu sendiri memiliki manfaat, bukan berarti seseorang harus menjauh dari orang lain.

Tetap berinteraksi dengan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar juga penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penting untuk menjaga keseimbangan antara menghabiskan waktu bersama orang lain dan menyediakan waktu untuk diri sendiri.

Terlalu banyak kegiatan tanpa waktu istirahat bisa membuat seseorang merasa lelah dan kewalahan.

Namun, terlalu sering menyendiri juga bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi semakin jauh.

Pada akhirnya, me time bukan berarti harus menjauh dari orang-orang di sekitar.

Waktu yang digunakan untuk diri sendiri dapat menjadi kesempatan untuk memahami kondisi diri, mengembalikan tenaga, dan kembali menjalani berbagai kegiatan dengan pikiran yang lebih tenang dan siap.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/lifestyle/2608240004/me-time-bukan-berarti-menjauh-mengapa-waktu-sendiri-penting-untuk-menjaga-pikiran