Merdeka Run 2026 Resmi Dimulai, Ribuan Peserta Antusias

Merdeka Run 2026 Resmi Dimulai, Ribuan Peserta Antusias

Jakarta, CNN Indonesia — Merdeka Run 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (29/6) resmi dimulai. Ribuan peserta antusias memulai Merdeka Run 2026.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir berdiri di garis start untuk melepas peserta Merdeka Run 2026. Start dilakukan di Istana Merdeka.

Seiring rombongan pesawat F16 melintas, bendera start pun dikibarkan. Para peserta lalu berlari memulai Merdeka Run.

Prasetyo Hadi, Teddy Indra Wijaya, dan Erick Thohir ikut menyalami peserta yang melintas di dekat mereka.

Sebelum Merdeka Run dimulai, ada atraksi pesawat F16. Para peserta yang membawa telepon genggam pun berusaha mengabadikan momen tersebut.

Selain itu, lagu Indonesia Raya lebih dulu diputar sebelum Merdeka Run dimulai. Para peserta dengan khidmat ikut bernyanyi.

Doa bersama lalu dilakukan sebelum Merdeka Run dimulai agar perlombaan berlangsung lancar. Selain itu, peserta juga berdoa atas sejumlah bencana yang sedang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia.

Dari deretan pelari elite nasional, ada Odekta Naibaho, Agustina Mardika Manik, Novia Nur Nirwani di kategori putri. Sedangkan di kategori putra ada Pandu Sukarya, Robi Sianturi, Riki Martin Simbolon, dan Agus Prayogo.

Tak hanya itu, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman juga ikut meramaikan Merdeka Run 2026.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260829055607-178-1397653/merdeka-run-2026-resmi-dimulai-ribuan-peserta-antusias

NASA Berencana Bangun Pangkalan di Bulan, Modalnya Rp538 T

NASA Berencana Bangun Pangkalan di Bulan, Modalnya Rp538 T

Jakarta, CNN Indonesia — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana membangun pangkalan permanen di Bulan dengan total anggaran sekitar US$30 miliar atau setara Rp538 triliun. Rencana ini merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat (AS) mempertahankan dominasi di luar angkasa di tengah persaingan ketat dengan China.

Sebagai langkah awal, NASA mengumumkan kontrak senilai sekitar US$590 juta kepada tiga perusahaan, yakni Astrobotic, Firefly, dan Intuitive Machines. Kontrak tersebut diberikan untuk empat misi pengiriman instrumen sains dan kargo ke permukaan Bulan, dengan Astrobotic menjadi satu-satunya vendor yang mendapatkan dua kontrak sekaligus.

Keempat misi ini merupakan bagian dari “Fase 1” rencana pembangunan permukiman Bulan permanen, di mana para astronaut nantinya akan tinggal dan bekerja di sana. Fase pertama ditargetkan selesai pada 2028 dengan biaya sekitar US$10 miliar.

Sementara itu, fase 2 dan 3 yang mencakup pembangunan habitat bertekanan pertama di Bulan serta instalasi generator listrik akan dilanjutkan pada 2030-an.

NASA berharap nantinya para astronaut dapat menghuni permukiman “semi-permanen” di Bulan.

Selain kontrak kargo, NASA juga menyebut kemungkinan mengalihfungsikan rover Mars bernama Promise untuk digunakan di Bulan. Kehadiran wahana ini mencerminkan ambisi luas program Moon Base yang menginginkan infrastruktur robotik beragam sebelum manusia tiba.

Meski demikian, rencana besar NASA ke Bulan tidak luput dari hambatan. Blue Origin, perusahaan luar angkasa milik Jeff Bezos, mengalami kemunduran serius pada Mei lalu ketika roket New Glenn meledak di landasan peluncuran, menghancurkan infrastruktur vital yang butuh waktu berbulan-bulan untuk dibangun ulang.

Hal tersebut berpotensi menunda peluncuran lander robotik raksasa milik Blue Origin, Blue Moon, yang seharusnya dikirim ke kutub selatan Bulan akhir tahun ini.

Carlos García-Galán, eksekutif program Moon Base NASA, menyiratkan bahwa Blue Moon mungkin akan diluncurkan menggunakan roket lain jika diperlukan.

“Kami sedang melihat opsi lain,” ujarnya, dikutip dari CNN.

Kutub selatan Bulan menjadi incaran utama karena diyakini menyimpan cadangan es air yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar roket atau air minum.

Di antara mitra NASA, Firefly hingga kini menjadi satu-satunya perusahaan yang berhasil menyelesaikan misi pendaratan secara penuh, setelah wahana Blue Ghost-nya mendarat di dekat ekuator Bulan tahun lalu.

Intuitive Machines juga dua kali menempatkan lander di dekat kutub selatan Bulan, namun keduanya terbalik saat mendarat.

“Jika kamu berada di industri dan bertanya-tanya apakah perlu melakukan investasi untuk meningkatkan kapasitas fasilitas dan jaringan rantai pasok – ini adalah sinyal untuk mengatakan: kami hadir untuk jangka panjang, dan kami sedang membangun pangkalan di Bulan,” kata García-Galán dalam konferensi Space Symposium pada April lalu.

Sebagai informasi, misi Moon Base merupakan bagian tak terpisahkan dari program Artemis.

Program Artemis diketahui telah menghabiskan sekitar US$100 miliar sejak awal berdiri, dengan capaian terbaru berupa penerbangan berawak melampaui Bulan pada April lalu.

Dari sisi pendanaan, RUU “Big Beautiful Bill” pemerintahan Trump mengalokasikan sekitar US$10 miliar untuk NASA selama enam tahun. Namun, sekitar US$2,6 miliar yang semula disiapkan untuk stasiun luar angkasa lunar Gateway justru dialihkan setelah NASA secara tiba-tiba menghentikan proyek tersebut pada Maret lalu, dengan alasan dana lebih baik digunakan untuk infrastruktur langsung di permukaan Bulan.

Para ahli mengingatkan bahwa tantangan teknologi yang dihadapi masih sangat besar.

Hal mendasar seperti penetapan standar waktu di Bulan di mana detik berlalu sedikit lebih cepat dibandingkan di Bumi bahkan belum terpecahkan.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260701193431-199-1375719/nasa-berencana-bangun-pangkalan-di-bulan-modalnya-rp538-t

Apa Benar Gorengan Rumahan Lebih Sehat? Ternyata Ini Kata Ahli Gizi

Apa Benar Gorengan Rumahan Lebih Sehat? Ternyata Ini Kata Ahli Gizi

Jakarta, CNN Indonesia — Gorengan menjadi salah satu camilan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng kerap tersedia di rumah karena bahan dan cara membuatnya relatif mudah.

Memasak sendiri juga sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak dapat dipilih sendiri, bahan makanan bisa dicuci dan diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak digunakan berkali-kali.

Namun, apakah gorengan yang dibuat di rumah benar-benar lebih sehat?

Spesialis Gizi Klinik Igus Ulfa Yaze mengatakan gorengan rumahan memang memiliki kelebihan, terutama dari sisi higiene. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak juga lebih mudah dikontrol, termasuk memastikan minyak diganti ketika sudah tidak layak digunakan.

“Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kita beli di luar, kita tidak tahu minyaknya sudah digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kita tahu minyaknya sudah harus diganti atau belum,” kata Yaze mengutip DetikHealth.

Meski demikian, faktor kebersihan bukan berarti membuat gorengan rumahan otomatis menjadi makanan sehat. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhatikan, terutama jika gorengan dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terlalu sering.

Kurangi gorengan secara bertahap

Bagi orang yang terbiasa makan gorengan setiap hari Yaze menyarankan agar kebiasaan tersebut dikurangi secara bertahap. Misalnya, jika biasanya mengonsumsi lima gorengan dalam sekali makan, jumlahnya bisa diturunkan menjadi dua atau tiga buah. Frekuensinya juga dapat dikurangi dari hampir setiap hari menjadi beberapa kali dalam sepekan.

“Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, sekarang berarti dua saja,” ujar Yaze.

Pengurangan secara bertahap dinilai lebih realistis untuk membangun pola makan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Menghilangkan gorengan secara mendadak juga bisa membuat seseorang semakin menginginkan makanan dengan rasa gurih dan tekstur renyah.

Karena itu, frekuensi dan porsi dapat dikurangi perlahan agar kebiasaan makan yang baru lebih mudah dijalani.

Keinginan untuk menyantap makanan yang renyah tidak selalu harus dipenuhi dengan menggorengnya menggunakan banyak minyak. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah air fryer. Alat tersebut dapat membantu menghasilkan tekstur renyah dengan penggunaan minyak yang lebih sedikit.

“Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus,” kata Yaze.

Metode memasak seperti memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer dapat menjadi pilihan untuk mengurangi penggunaan minyak. Namun, pilihan metode memasak tetap perlu disesuaikan dengan jenis bahan makanan dan kebutuhan.

Tetap perhatikan porsi

Gorengan umumnya menggunakan bahan makanan yang dilapisi tepung sebelum dimasak dalam minyak. Ketika makanan bertepung tersebut digoreng, kandungan karbohidrat dan lemaknya perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan harian.

Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, gorengan dapat menyumbang kalori cukup besar. Apalagi, makanan dengan tekstur renyah dan rasa gurih sering membuat seseorang sulit berhenti setelah menyantap satu atau dua buah.

Yaze mengatakan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi. Namun, porsi dan frekuensinya perlu diperhatikan. Dengan demikian, gorengan rumahan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan.

Memasak sendiri memberikan keuntungan karena kebersihan bahan, jenis minyak, cara pengolahan, dan jumlah makanan lebih mudah dikontrol. Namun, label ‘homemade’ bukan berarti gorengan bisa dikonsumsi tanpa batas. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhitungkan.

“Jadi enggak bisa dibilang sehat juga ya. Tapi kalau secara higiene, ya oke lah,” pungkas Yaze.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827102630-262-1396832/apa-benar-gorengan-rumahan-lebih-sehat-ternyata-ini-kata-ahli-gizi

Kenapa Tape dan Durian Halal meski Mengandung Alkohol?

Kenapa Tape dan Durian Halal meski Mengandung Alkohol?

Umat Islam dilarang mengonsumsi minuman keras atau yang memabukkan. Perintah itu tertulis dalam surah Al-Maidah ayat 90:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Sementara itu, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa semua yang memabukkan haram hukumnya.

“Setiap yang memabukkan hukumnya haram dan apa yang banyak memabukkan, maka sedikitnya pun tetap haram.” (HR Ibnu Majah)

Namun, ternyata ada makanan yang sering dikonsumsi, termasuk oleh umat Islam Indonesia dan ada kandungan alkoholnya, yakni tape serta durian.

Lantas, kenapa tape dan durian halal dimakan?

Alasan Kenapa Tape dan Durian Halal Walau Mengandung Alkohol

Tape dan durian halal dikonsumsi sebab alkohol yang terkandung di dalamnya terbentuk secara alami lewat proses fermentasi.

Hal ini beda dengan khamr atau minuman alkohol lainnya yang memang diproses dari anggur atau bahan lain dengan tujuan menghasilkan minuman memabukkan.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa khamr atau minuman keras pasti mengandung alkohol dan haram. Sementara, alkohol belum tentu khamr.

Contohnya yang seperti terkandung di dalam durian dan tape.

Fatwa MUI tentang Tape Halal Dimakan

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatur kehalalan tape dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2003 tentang Standardisasi Fatwa Halal.

Di dalamnya ditegaskan bahwa tape dan air tape tidak termasuk kategori khamr, kecuali jika terbukti memabukkan.

Ketentuan ini diperkuat lewat Fatwa MUI Nomor 10 Tahun 2018 tentang Produk Makanan dan Minuman yang Mengandung Alkohol/Etanol.

Fatwa itu menyatakan bahwa etanol hasil fermentasi non-industri khamr tidak digolongkan sebagai najis atau haram, selama kadarnya tidak sampai memabukkan.

Kapan Tape dan Durian Haram Dimakan?

Tape bisa menjadi minuman haram dikonsumsi jika sengaja difermentasi menjadi minuman. Jadi, air tapenya dipisah dan disimpan khusus agar menjadi minuman keras atau yang disebut angciu.

Haram juga apabila tape sudah terlalu lama dibiarkan hingga busuk, berjamur, atau berubah rasanya hingga membahayakan kesehatan.

Begitu juga dengan durian. Memakan durian bisa menjadi haram jika sengaja dibiarkan untuk menghasilkan minuman keras atau berbahaya bagi tubuh.

Sumber :https://mozaik.inilah.com/dakwah/kenapa-tape-dan-durian-halal-meski-mengandung-alkohol

Protein Pacing, Strategi Atur Asupan Protein untuk Menurunkan Berat Badan

Protein Pacing, Strategi Atur Asupan Protein untuk Menurunkan Berat Badan

Liputan6.com, Jakarta – Protein pacing merupakan pola mengatur asupan protein dengan membaginya secara merata ke beberapa waktu makan sepanjang hari. Pendekatan ini kini mulai mendapat perhatian karena tidak hanya menyoroti jumlah protein yang dikonsumsi, tapi juga waktu dan distribusinya dalam pola makan harian.

Melansir Healthline, Jumat (28/8/2026), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications membandingkan efek puasa intermiten yang dipadukan dengan protein pacing dan pola pembatasan kalori yang menyehatkan jantung. Peneliti turut mengamati perubahan mikrobiota usus, serta profil metabolomik para peserta.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kelompok yang menjalani puasa intermiten sekaligus menerapkan protein pacing mengalami penurunan berat badan, massa lemak perut, dan lemak viseral yang lebih besar. Kelompok tersebut juga memiliki persentase massa bebas lemak yang lebih tinggi.

Para peneliti mengaitkan temuan ini dengan perubahan metabolisme dan respons tubuh terhadap pola makan. Sementara itu, Indian Express menjelaskan bahwa konsep protein pacing banyak digunakan dalam bidang nutrisi olahraga.

Metode ini tidak hanya berfokus pada total protein yang dikonsumsi, namun juga bagaimana asupannya didistribusikan secara berkala sepanjang hari. Dengan pembagian tersebut, protein dapat menjadi bagian dari beberapa waktu makan, bukan terkonsentrasi dalam satu kali konsumsi.

Meski hasil penelitian menunjukkan potensi manfaat, protein pacing tetap perlu diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi dan kondisi setiap individu yang bisa saja berbeda.

Cara Menerapkan Protein Pacing

Dalam penelitian tersebut, pola protein pacing diterapkan melalui empat kali waktu makan, dengan masing-masing porsi menyediakan sekitar 25–50 gram protein. Jarak antarwaktu makan juga diatur secara teratur agar asupan protein tersebar sepanjang hari, bukan terkonsentrasi hanya pada satu atau dua kali makan.

Marilia Chamon, terapis gizi terdaftar sekaligus pakar kesehatan usus, menjelaskan bahwa protein pacing umumnya dilakukan dengan mengonsumsi empat kali makan tinggi protein dalam interval sekitar tiga hingga empat jam. Menurutnya, strategi tersebut dapat membantu tubuh mempertahankan massa otot sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.

Distribusi protein yang konsisten sepanjang hari juga berpotensi membantu mengendalikan nafsu makan. Dengan rasa kenyang yang lebih tahan lama, keinginan untuk makan berlebihan maupun munculnya cravings dapat lebih terkendali. Pola ini sekaligus mendukung pemeliharaan massa otot selama menjalani pengaturan pola makan.

Kombinasi Protein Pacing dan Puasa Intermiten

Kombinasi protein pacing dan puasa intermiten dinilai berpotensi memengaruhi cara tubuh menggunakan energi. Ketika kadar insulin berada pada tingkat lebih rendah selama periode tertentu, tubuh dapat lebih mudah menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Pola tersebut juga dikaitkan dengan perubahan keragaman mikrobioma usus yang berperan dalam kesehatan pencernaan dan fungsi metabolisme. Tak hanya itu, penerapan keduanya memberikan perubahan lebih besar pada metabolit yang beredar dalam tubuh dibandingkan pembatasan kalori saja.

Metabolit merupakan molekul kecil yang terbentuk dan terlibat dalam berbagai proses metabolisme. Ahli diet terdaftar Kelsey Costa menjelaskan, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan efek yang saling melengkapi.

Puasa intermiten, misalnya, berpotensi mendukung fleksibilitas metabolik, yakni kemampuan tubuh beralih menggunakan karbohidrat atau lemak sebagai sumber energi. Sementara itu, distribusi protein sepanjang hari dapat membantu memenuhi kebutuhan protein secara lebih konsisten.

Jaga Pola Makan Tetap Seimbang

Penerapan protein pacing juga perlu memperhatikan pilihan sumber protein dalam menu harian. Beberapa makanan yang dapat menjadi pilihan antara lain daging tanpa lemak, ikan, telur, produk susu, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.

Meski menekankan asupan protein, pola ini tetap perlu diimbangi dengan nutrisi lainnya. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta sumber lemak sehat sebaiknya tetap hadir dalam menu untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh secara menyeluruh.

Makanan utuh dan minim proses juga lebih dianjurkan karena umumnya mengandung lebih banyak nutrisi. Selain komposisi makanan, kecukupan cairan tidak kalah penting.

Hidrasi perlu dijaga agar tubuh tetap berfungsi dengan baik selama menjalani pengaturan pola makan. Dengan begitu, protein pacing tidak sekadar mengejar target protein, tapi juga memperhatikan keseimbangan asupan, kualitas makanan, dan kebutuhan cairan sepanjang hari.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8279552/protein-pacing-strategi-atur-asupan-protein-untuk-menurunkan-berat-badan

Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Pakar kedokteran fungsional yang berbasis di Pennsylvania, Dr. Will Cole menyampaikan faktor dalam gaya hidup modern hingga paparan lingkungan dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi sel yang memengaruhi kesehatan, salah satunya penuaan biologis.

Menurut dia, genetika dalam tubuh tidak berubah selama ribuan tahun, namun, dunia tempat hidup telah berubah secara drastis dalam waktu yang sangat singkat.

“Ini berkaitan dengan makanan yang kita konsumsi atau tidak kita konsumsi, racun lingkungan yang sebelumnya tidak ada di sekitar kita, serta stres dan trauma,” kata Cole, dikutip laporan New York Post, Kamis (27/8) waktu setempat.

Cole mengatakan berbagai tekanan tersebut dapat berkontribusi yang dinilainya mempercepat penuaan, yaitu kondisi ketika usia biologis seseorang berbeda dari usia kronologisnya.

“Banyak orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an memiliki sel seperti orang lanjut usia. Hal itu umum terjadi, tetapi bukan sesuatu yang normal,” ujar dia.

Ia mengidentifikasi tiga faktor yang paling mengganggu komunikasi antarsel, sehingga menciptakan cellular noise atau kebisingan seluler yang berpotensi terhadap penuaan lebih cepat dan penyakit.

Pola makan yang tidak sehat

Menurut Cole, mengonsumsi makanan yang tidak memberikan manfaat bagi tubuh menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengganggu kesehatan sel, terutama makanan yang memicu peradangan.

Selain itu, tidak memiliki waktu makan yang konsisten juga dapat mengganggu keseimbangan sel. Alih-alih memberikan jeda bagi tubuh untuk mencerna makanan dan berpuasa, makan dalam rentang waktu yang terlalu panjang sepanjang hari dinilai dapat memengaruhi keseimbangan tersebut.

Paparan racun dari lingkungan

Cole menyoroti sejumlah paparan dari lingkungan, termasuk pestisida, herbisida yang terkadang disebut sebagai forever chemicals atau bahan kimia yang sulit terurai, sebagai hal yang berpotensi memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Para ahli menyebut dampak paparan bergantung pada jenis zat, dosis, serta lamanya seseorang terpapar.

Cole juga menyebut patogen penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus, serta paparan jamur sebagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan.

Paparan cahaya yang kaya cahaya biru pada malam hari juga dapat mengganggu ritme sirkadian pada sebagian orang.

Sebaliknya, menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta mendapatkan paparan cahaya pada siang hari dapat membantu mendukung kualitas tidur dan kesehatan sel.

Stres kronis, trauma, dan kurangnya koneksi sosial

Cole juga menyampaikan stres kronis, trauma yang belum terselesaikan, serta kurangnya hubungan sosial atau spiritual sebagai faktor yang mungkin berkaitan dengan meningkatnya kebisingan seluler.

Sejumlah penelitian observasional mengaitkan keterlibatan dalam aktivitas keagamaan atau spiritual dengan tingkat beberapa penanda peradangan yang lebih rendah serta kondisi kesehatan yang lebih baik.

Menurut Cole, seseorang dapat memperoleh manfaat serupa melalui sistem kepercayaan atau komunitas apa pun yang dapat “mengubah kondisi diri”, termasuk melalui hubungan dengan alam.

Cole menilai berbagai tekanan kehidupan modern dapat memengaruhi tubuh dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat.

Ia menyarankan menjaga kesejahteraan fisik, mental-emosional, dan spiritual dapat membantu mengurangi apa yang disebutnya sebagai epigenetic noise atau kebisingan epigenetik.

“Sel menjadi kebingungan dan tidak tahu bagaimana berfungsi dengan baik maupun memperbaiki dirinya sendiri. Kita hanya perlu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melawan dan mampu mendengar di tengah kebisingan tersebut,” ujar dia.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5715083/tiga-faktor-pemicu-penuaan-lebih-cepat

Pengamat: Pola konsumsi masyarakat jadi penentu keberhasilan Harbolnas

Pengamat: Pola konsumsi masyarakat jadi penentu keberhasilan Harbolnas

Jakarta (ANTARA) – Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Heru Sutadi menilai perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di tengah semakin banyaknya program promosi dan diskon yang ditawarkan platform perdagangan elektronik sepanjang tahun.

Heru mengatakan konsumen kini semakin selektif dalam menentukan barang yang dibeli, sehingga keberhasilan Harbolnas perlu dilihat dari kemampuan program tersebut menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen.

“Indikator Harbolnas sebaiknya dibaca bersamaan dengan kondisi pendapatan masyarakat, konsumsi rumah tangga, tabungan, kredit konsumsi dan kemampuan membeli barang nonesensial. Jangan sampai angka transaksi terlihat besar, tetapi sebenarnya konsumen sedang semakin berhati-hati,” kata Heru kepada ANTARA, Jumat.

Ia mengatakan di tengah tekanan daya beli masyarakat, target pemerintah sebesar Rp40 triliun dalam Harbolnas tahun ini cukup menantang dan cenderung optimistis. Namun perilaku masyarakat yang semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya di e-commerce tidak serta-merta dapat diartikan sebagai tanda bahwa daya beli masyarakat telah menguat.

Ia menjelaskan, masyarakat tetap melakukan transaksi meski kondisi ekonomi sedang tertekan. Namun, pola belanja cenderung bergeser menjadi lebih sensitif terhadap harga dan mengutamakan promosi.

“Transaksi e-commerce meningkat belum tentu berarti daya beli masyarakat membaik. Bisa saja masyarakat berpindah dari belanja offline ke online, membeli karena promo, atau mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan tertentu,” katanya.

Di sisi lain, Heru memperkirakan konsumen kelas menengah yang melek digital, terutama kelompok Gen Z dan milenial, masih menjadi salah satu segmen potensial dalam Harbolnas. Namun, karakter belanja kelompok tersebut dinilai semakin rasional dan sensitif terhadap harga.

Menurutnya generasi tersebut cenderung terbiasa membandingkan harga, mencari voucher, menggunakan free shipping, dan menunggu momentum promo. Namun pola belanjanya akan lebih rasional dibanding sekadar impulsif.

Menurut Heru, kondisi tersebut membuat strategi Harbolnas perlu bergeser dari sekadar mendorong volume transaksi menuju penciptaan nilai bagi konsumen dan pelaku usaha. Program promosi sebaiknya diarahkan pada produk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi produk lokal dan UMKM.

“Produk kebutuhan sehari-hari, elektronik dengan harga terjangkau, fesyen, serta produk UMKM yang menawarkan value for money dinilai masih memiliki peluang untuk menarik konsumen,” kata Heru.

Heru menilai perubahan pola konsumsi juga perlu dibaca sebagai peluang bagi UMKM untuk memperbaiki strategi pemasaran. Pelaku usaha tidak cukup hanya memberikan diskon, tetapi perlu memahami kebutuhan konsumen, meningkatkan kualitas produk, memperkuat layanan, serta memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, intensitas promosi digital yang berlangsung hampir sepanjang tahun melalui berbagai kampanye tanggal kembar membuat Harbolnas menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya tariknya. Konsumen kini memiliki banyak kesempatan memperoleh diskon tanpa harus menunggu momentum Harbolnas.

Karena itu, menurut Heru, Harbolnas perlu menawarkan nilai tambah yang membedakannya dari kampanye promosi rutin. Salah satunya dengan memperkuat produk lokal dan UMKM serta memastikan peningkatan transaksi memberikan dampak terhadap penjualan dan perluasan pasar pelaku usaha.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5715097/pengamat-pola-konsumsi-masyarakat-jadi-penentu-keberhasilan-harbolnas

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Jakarta (ANTARA) – Ketika sedang menghadapi masa-masa yang berat, apakah itu yang berkaitan dengan masalah pribadi atau pekerjaan, seseorang biasanya berada pada survival mode (mode bertahan hidup) dalam menjalani hari-harinya.

Seseorang yang berada dalam mode bertahan hidup seringkali terlihat baik-baik saja, namun, di dalam hatinya sedang berada dalam tekanan.

Menurut siaran Real Simple, Kamis (27/8) seseorang yang berada dalam kondisi itu cenderung menjalani hari-hari dengan penuh semangat, menutup mata terhadap hal-hal lain, dan melakukan segala yang hal yang bisa dilakukan untuk sampai ke sisi lain tanpa menambah stres.

Berikut adalah tanda-tanda sedang memasuki mode bertahan hidup.

1. Pelupa

Pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Temperance Psychotherapy Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan bahwa salah satu tanda otak sudah kelelahan adalah menjadi pelupa. Gejala yang umum terjadi, seseorang lupa arah cerita yang ingin disampaikan atau lupa di mana meletakkan barang.

“Karena otak anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif,” kata Ivelevitch.

2. Sering terbangun dini hari

Dokter spesialis gawat darurat bersertifikasi, ahli pemulihan kelelahan kerja, dan kepala petugas kesehatan di Physician Wellness Solutions Archana Shrestha, MD, menyampaikan terbangun secara konsisten dan sulit untuk kembali tidur di tengah malam bukanlah hal yang normal.

Menurut dia, ini merupakan tanda bahwa meski fisik sudah beristirahat, pikiran dalam kepala tidak sepenuhnya berhenti sehingga seseorang terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir tentang berbagai hal.

“Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik anda,” kata Shrestha.

3. Mudah tersinggung

Ivelevitch menambahkan bahwa ketika mengalami kelelahan kerja dan sistem saraf menjadi tidak teratur, seseorang menjadi lebih mudah marah.

Hal ini disebabkan oleh amigdala menjadi lebih reaktif, dan korteks prefrontal menjadi kurang berperan. Apa yang dulunya hanya gangguan kecil kini dapat memicu emosi negatif.

“Pada dasarnya, alih-alih naik dari nol ke lima, Anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat Anda mencapai angka sepuluh,” ujar Ivelevitch.

4. Terlalu lama merenungkan emosi

Jika berada dalam mode bertahan hidup, seseorang mungkin mendapati diri merenungkan emosi negatif lebih dari biasanya. Sangat sedikit emosi positif yang muncul.

Meskipun tidak apa-apa untuk merasakan emosi ini dari waktu ke waktu, Shrestha mencatat bahwa merenungkan emosi tersebut terlalu lama dapat menyebabkan stres kronis dan masalah kesehatan lainnya.

5. Ingin mengendalikan situasi

Ketika segala sesuatu dalam hidup terasa kacau, seseorang cenderung mencoba mengendalikan situasi untuk menghilangkan potensi ancaman.

“Seseorang yang biasanya cukup santai (ketika berada dalam mode bertahan hidup) mungkin mulai merasa lebih perfeksionis atau merasa perlu segala sesuatunya berjalan persis seperti yang direncanakan,” kata Ivelevitch.

Menurut dia, ini bukan upaya untuk mengendalikan orang lain, tetapi upaya untuk menciptakan prediktabilitas.

Shrestha menyampaikan sebenarnya terdapat sebuah cara untuk keluar dari mode tersebut. Biasakanlah untuk berkata pada diri sendiri bahwa semuanya tetap membuat diri kita aman, sambil menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan kembali melalui mulut.

Perhatikan apa yang ada di sekitar kita sambil melihat, mendengar dan merasakannya. Lalu ulangi berkata pada diri sendiri bahwa kita aman.

“Ini sangat efektif untuk membantu orang beralih dari mode bertahan hidup ‘lawan atau lari’, di mana sistem saraf simpatik mereka diaktifkan dan mengalihkan mereka ke sistem saraf parasimpatik,” kata Shrestha.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5714756/lima-tanda-diri-sedang-masuk-dalam-mode-bertahan-hidup

Radang Usus Buntu: Kenali Gejala dan Risiko Komplikasinya

Radang Usus Buntu: Kenali Gejala dan Risiko Komplikasinya

Jakarta, MCI News – Radang usus buntu atau apendisitis perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak segera ditangani. Informasi mengenai penyakit ini kembali menjadi perhatian publik setelah seorang selebgram, Fahira Almira, mengungkap diagnosis yang dialaminya dan memilih menjalani pengobatan di Penang, Malaysia, sebagaimana diberitakan pada Kamis (20/08/2026) Melansir dari Mayo Clinic.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Profesor Ari Fahrial Syah menjelaskan, apendisitis merupakan peradangan pada apendiks atau bagian kecil yang menempel pada usus besar. Kondisi tersebut dapat muncul secara akut dan membutuhkan penanganan medis sesuai tingkat keparahannya.

Gejala yang paling umum pada apendisitis akut berupa nyeri pada bagian kanan bawah perut. Rasa sakit biasanya dapat mengganggu aktivitas dan semakin terasa ketika peradangan berkembang.

“Jadi itu radang usus buntu bisa pasien datang dalam keadaan akut. Akut itu biasanya ditandai dengan nyeri tertekan di perut kanan bawah, dan bahkan pada pasien yang khas itu, dia merasakan nyeri yang luar biasa,” ujar Prof. Ari, Rabu.

Selain nyeri, penderita dapat mengalami sejumlah gejala lain. Keluhan tersebut antara lain demam, tubuh terasa lelah, perut membengkak atau kembung, mual dan muntah, diare, sembelit, hingga kesulitan mengeluarkan gas.

Pada sebagian kasus, rasa sakit awalnya muncul di sekitar pusar kemudian berpindah menuju bagian kanan bawah perut. Intensitas nyeri dapat meningkat seiring bertambahnya peradangan sehingga pasien perlu memperhatikan perubahan gejala dan segera mencari pertolongan medis ketika keluhan memburuk.

Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah pecahnya apendiks atau ruptur usus buntu.

Ketika apendiks pecah, infeksi dapat menyebar ke rongga perut dan menimbulkan kondisi yang mengancam keselamatan pasien. Dokter dapat melakukan tindakan operasi untuk mengangkat apendiks sekaligus menangani infeksi yang telah menyebar.

Komplikasi lain dapat berupa terbentuknya abses atau kantung berisi nanah di dalam rongga perut. Pada kondisi tertentu, tenaga medis dapat melakukan pengeringan abses terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan lanjutan, termasuk operasi pengangkatan apendiks.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali perubahan gejala pada bagian perut, terutama ketika nyeri muncul dan berpindah ke sisi kanan bawah. Pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab keluhan karena gejala sakit perut dapat muncul akibat berbagai kondisi kesehatan.

Kasus yang dialami Fahira Almira juga menunjukkan bahwa keputusan mengenai tempat dan metode pengobatan merupakan bagian dari penanganan medis yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Publik tetap perlu mengacu pada pemeriksaan dokter dan sumber kesehatan yang kredibel ketika menghadapi gejala yang mengarah pada apendisitis.

Radang usus buntu tidak selalu menunjukkan gejala yang sama pada setiap orang. Oleh sebab itu, munculnya nyeri perut yang semakin berat, terutama jika disertai demam, mual, muntah, atau gangguan pencernaan, perlu mendapat perhatian dan evaluasi

Sumber : https://mcinews.id/2026/08/24/radang-usus-buntu-kenali-gejala-dan-risiko-komplikasinya/

Ini Sederet Tantangan yang Hambat Bisnis Hijau

Ini Sederet Tantangan yang Hambat Bisnis Hijau

Jakarta – Membangun bisnis yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan atau green business bukan perkara mudah. Apalagi, persoalan yang dihadapi setiap wilayah berbeda-beda.

Menurut Sustainable Energy Expert sekaligus pendiri Komodo Water, Shana Fatina, salah satu tantangannya adalah keterbatasan informasi, akses, dan peluang untuk menjalankan inisiatif di sektor keberlanjutan.

Menurutnya, tantangan membangun bisnis berkelanjutan di perkotaan tidak bisa disamakan dengan di pulau-pulau kecil. Karena itu, perlu ada upaya untuk mempertemukan kebutuhan dengan pasokan sekaligus memastikan distribusinya.

“Tantangannya informasi kali ya. Kesamaan informasi, akses, dan peluang melakukan sesuatu. Karena kalau kita lihat, tantangan melakukan sustainability di perkotaan dan pulau-pulau kecil itu hal berbeda,” kata Shana dalam Pertamina Talks Episode 2 bertema ‘Hobi Jaga Bumi, Eh Jadi Profesi’ di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).

Di sisi lain, Shana melihat masih sedikit anak muda yang mau terjun langsung ke sektor sustainability. Padahal, kelompok ini dinilai memiliki energi dan kreativitas yang dibutuhkan untuk mencari solusi baru.

“Nah kita kurang anak muda yang turun langsung di lapangan untuk mengerjakan sektor suistanibility,” tutur Shana.

Menurutnya, semangat green jobs juga bukan hanya soal menciptakan profesi baru. Pekerjaan dan usaha yang sudah ada juga bisa ditransformasikan agar lebih ramah lingkungan.

“Green jobs ini gimana kita mentransformasikan usaha-usaha yang sudah ada menjadi ramah lingkungan. Yang tadinya lebih banyak mengambil dari lingkungan, sekarang give back ke lingkungan, ke komunitasnya,” tutup Shana.

Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8637155/ini-sederet-tantangan-yang-hambat-bisnis-hijau