Pengamat: Pola konsumsi masyarakat jadi penentu keberhasilan Harbolnas

Pengamat: Pola konsumsi masyarakat jadi penentu keberhasilan Harbolnas

Jakarta (ANTARA) – Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Heru Sutadi menilai perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) di tengah semakin banyaknya program promosi dan diskon yang ditawarkan platform perdagangan elektronik sepanjang tahun.

Heru mengatakan konsumen kini semakin selektif dalam menentukan barang yang dibeli, sehingga keberhasilan Harbolnas perlu dilihat dari kemampuan program tersebut menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen.

“Indikator Harbolnas sebaiknya dibaca bersamaan dengan kondisi pendapatan masyarakat, konsumsi rumah tangga, tabungan, kredit konsumsi dan kemampuan membeli barang nonesensial. Jangan sampai angka transaksi terlihat besar, tetapi sebenarnya konsumen sedang semakin berhati-hati,” kata Heru kepada ANTARA, Jumat.

Ia mengatakan di tengah tekanan daya beli masyarakat, target pemerintah sebesar Rp40 triliun dalam Harbolnas tahun ini cukup menantang dan cenderung optimistis. Namun perilaku masyarakat yang semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya di e-commerce tidak serta-merta dapat diartikan sebagai tanda bahwa daya beli masyarakat telah menguat.

Ia menjelaskan, masyarakat tetap melakukan transaksi meski kondisi ekonomi sedang tertekan. Namun, pola belanja cenderung bergeser menjadi lebih sensitif terhadap harga dan mengutamakan promosi.

“Transaksi e-commerce meningkat belum tentu berarti daya beli masyarakat membaik. Bisa saja masyarakat berpindah dari belanja offline ke online, membeli karena promo, atau mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan tertentu,” katanya.

Di sisi lain, Heru memperkirakan konsumen kelas menengah yang melek digital, terutama kelompok Gen Z dan milenial, masih menjadi salah satu segmen potensial dalam Harbolnas. Namun, karakter belanja kelompok tersebut dinilai semakin rasional dan sensitif terhadap harga.

Menurutnya generasi tersebut cenderung terbiasa membandingkan harga, mencari voucher, menggunakan free shipping, dan menunggu momentum promo. Namun pola belanjanya akan lebih rasional dibanding sekadar impulsif.

Menurut Heru, kondisi tersebut membuat strategi Harbolnas perlu bergeser dari sekadar mendorong volume transaksi menuju penciptaan nilai bagi konsumen dan pelaku usaha. Program promosi sebaiknya diarahkan pada produk yang benar-benar dibutuhkan masyarakat sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi produk lokal dan UMKM.

“Produk kebutuhan sehari-hari, elektronik dengan harga terjangkau, fesyen, serta produk UMKM yang menawarkan value for money dinilai masih memiliki peluang untuk menarik konsumen,” kata Heru.

Heru menilai perubahan pola konsumsi juga perlu dibaca sebagai peluang bagi UMKM untuk memperbaiki strategi pemasaran. Pelaku usaha tidak cukup hanya memberikan diskon, tetapi perlu memahami kebutuhan konsumen, meningkatkan kualitas produk, memperkuat layanan, serta memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, intensitas promosi digital yang berlangsung hampir sepanjang tahun melalui berbagai kampanye tanggal kembar membuat Harbolnas menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya tariknya. Konsumen kini memiliki banyak kesempatan memperoleh diskon tanpa harus menunggu momentum Harbolnas.

Karena itu, menurut Heru, Harbolnas perlu menawarkan nilai tambah yang membedakannya dari kampanye promosi rutin. Salah satunya dengan memperkuat produk lokal dan UMKM serta memastikan peningkatan transaksi memberikan dampak terhadap penjualan dan perluasan pasar pelaku usaha.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5715097/pengamat-pola-konsumsi-masyarakat-jadi-penentu-keberhasilan-harbolnas