Puasa dan Kejujuran

Puasa dan Kejujuran

Eramuslim.com – Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.

Nabi muhammad Saw pernah mempredeksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim).

Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas.

Era reformasi yang telah berlangsung lebih tujuh tahun, dengan tekad untuk memberantas segala bentuk kolusi,korupsi dan nepotisme, -bahkan telah ditetapkan lewat Tap MPR- belum menunjukkan tanda-tanda dan hasil yang mengembirakan,sebab, praktek kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan.

Puasa melatih kejujuran

Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt..

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.

Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong

Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.

Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.

Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.

Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita.

Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.

Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak semakin parah.

PENUTUP

Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orang tersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.

Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa.

Oleh : Agustianto,  Dosen Pascasarjana UI

sumber : https://www.eramuslim.com/agustianto-mingka-puasa-dan-kejujuran

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Arrahmah.id – Dalam menjelaskan tauhid, sering orang memakai kalimat tauhid ( لا إله إلا الله ) tak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah sebagai tolok ukur penjelasan. Kata disembah sama dengan diberi ibadah atau ubudiyah. Dan salah satu jenis ubudiyah adalah cinta.

Lalu lahirlah frasa “tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah” sebagai padanan frasa “tiada Tuhan kecuali Allah”. Frasa ini mudah dipahami oleh pendengar, tapi tidak akurat. Sebab jika penjelasan tauhid adalah tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah, maka kita menjadi salah jika mencintai ibu, bapak, anak dan sebagainya. Padahal cinta kepada orang tua selain sebagai naluri manusia, ia juga bagian dari birrul walidain. Tentu ada yang salah di sini.

Pada sisi lain, wala’ dikampanyekan oleh kaum Liberal atau Pluralis agar tidak bersifat tunggal, tapi fleksibel. Jika ada Nasrani yang sedang Natal, dianjurkan mengucapkan selamat Natal. Jika salam, tak cukup dengan salam versi Islam, harus pula salam versi agama lain. Tindakan ini adalah refleksi wala’ yang ada di hati.

Begitu banyak simpang siur pemahaman soal cinta dan wala’. Karena itu, perlu ada penjelasan yang memadai terhadap kosa kata cinta dan wala’. Bagaimana menempatkan cinta dan wala’ dalam Islam. Apakah cinta sama dengan kesetiaan atau wala’ atau loyalitas? Jika beda, apa perbedaannya?

Cinta Itu Bisa Dibagi

Cinta adalah rasa suka yang ada di hati seseorang terhadap sesuatu. Kata yang paling sering dipakai adalah hubb ( حب ). Manusia punya potensi untuk mencintai banyak hal sekaligus. Misalnya, cinta terhadap rumah, mobil, uang dan sebagainya. Dalam mencintai sesama manusia juga bisa terjadi pada banyak orang. Seorang ayah bisa mencintai seluruh anaknya yang berjumlah 10 orang misalnya.

Demikian pula orang beriman. ia diminta mencintai banyak hal. Cinta terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, As-Sunnah, Islam, Masjid, Sahabat Nabi saw dan sebagainya. Masing-masing dicintai meski dengan kadar cinta yang berbeda.

Rasulullah saw menggambarkan cintanya kepada beberapa orang:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلاَسِلِ، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: (عَائِشَةُ) ، فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ ، فَقَالَ: (أَبُوهَا)، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّاب )، فَعَدَّ رِجَالًا”. رواه البخاري في “صحيحه” (رقم/3662) ، ومسلم في “صحيحه” (رقم/2384) .

Amru bin Ash ra menuturkan bahwa Nabi saw mengutusnya dalam ekpedisi Dzat Salasil: Aku menemui Nabi saw, lalu aku tanya: Siapa orang yang paling Anda cintai ? Nabi saw: Aisyah. Aku: Siapa dari laki-laki? Nabi saw: Ayahnya. Aku: Lalu siapa? Nabi saw: Umar bin Khattab. Nabi saw meneruskan dengan menyebut nama-nama lain. (HR. Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)

Dalam hadits yang lain Nabi saw mengungkapkan cintanya kepada banyak hal:

قالَ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم (حُبّبَ إِلَيَّ مِنْ دنياكُمُ النّساءُ والطيبُ وجُعِلَتْ قرةُ عينِي في الصّلاةِ)

Rasulullah saw bersabda: Dijadikan hatiku mencintai beberapa hal dari duniamu: wanita dan parfum, dan dijadikan hatiku nyaman dengan shalat. (HR. Hakim)

Dua hadits ini cukup menjadi bukti bahwa di hati Nabi saw ada banyak cinta. Semuanya diungkapkan dengan kata hubb ( حب ). Sudah pasti Nabi saw cinta kepada Allah, Al-Qur’an, orang tua, kerabat, dan seterusnya. Selain itu, sebagaimana dalam dua hadits di atas, ditambah cinta terhadap Aisyah dan tentu saja istri-istrinya yang lain, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan parfum.

Jika di hati Nabi saw sebagai panutan terdapat cinta yang bercabang terhadap banyak hal, tentu umatnya juga dibolehkan untuk memiliki cinta terhadap banyak hal. Selain bercabang, cinta juga memiliki prosentase masing-masing. Ketika Nabi saw ditanya, siapa orang yang paling dicintai, beliau menjawab: Aisyah. Berarti cinta Nabi saw terhadap Aisyah lebih besar dibanding cintanya terhadap orang lain, misalnya istri yang lain. Lalu cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar As-Shiddiq juga lebih besar dibanding cintanya terhadap Umar bin Khattab dan orang-orang lain.

Karena itu, cinta bisa diperbandingkan. Besar mana cinta Nabi saw terhadap Aisyah ra atau terhadap Ummu Salamah ra yang sama-sama istrinya? Jelas jawabannya: Aisyah ra. Demikian pula, besar mana cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar ra atau Umar bin Khattab yang sama-sama sahabatnya? Jelas jawabannya: Abu Bakar.

Perbandingan cinta tak terbatas, bisa antara siapa saja dan apa saja. Tapi ujung dari semua itu, Allah harus ditempatkan sebagai yang paling dicintai, tak boleh dikalahkan oleh cinta terhadap siapapun dan apapun. Inilah makna firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ١٦٥ ( البقرة/2: 165)

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman cinta mereka paling hebat (tak ada tandingannya) kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqarah/2:165)

Ayat ini menerangkan bahwa cinta orang beriman paling besar kepada Allah dengan tanpa tandingan. Sementara cinta kaum musyrik terbagi, cinta kepada berhala-berhala pujaan mereka sama besarnya dengan cinta kepada Allah.

Jika kita kombinasikan antara ayat ini dan hadits Nabi saw di atas, diperoleh kesimpulan bahwa seorang mukmin tidak dilarang untuk mencintai selain Allah, seperti cinta terhadap wanita atau parfum. Atau cinta terhadap rumah, mobil, pekarangan, perhiasan dan sebagainya.

Cinta yang dilarang adalah memperbandingkan cinta kepada Allah dengan selain-Nya. Atau meletakkan cinta kepada selain Allah sama besarnya dengan cinta kepada Allah. Apalagi meletakkan cinta kepada selain Allah lebih besar dibanding cinta kepada Allah. Inilah makna dari ayat di bawah ini:

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٢٤ ( التوبة/9: 24)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At-Taubah/9:24)

Jadi kita tidak dilarang mencintai selain Allah sepanjang tidak melanggar ketentuan cinta yang diatur dalam Islam. Satu hati bisa diisi dengan banyak cinta, dengan prosentase masing-masing sesuai arahan Islam. Cinta kepada satu hal tidak harus membatalkan cinta kepada yang lain. Cinta kepada Allah tak harus membatalkan cinta kepada parfum, wanita, mobil, rumah dan sebagainya, selagi tertata dengan benar.

Wala’ Itu Tunggal

Wala’ adalah kesetiaan atau loyalitas. Kesetiaan bisa berupa rasa dalam hati, bisa tindakan di luar hati, bisa juga kombinasi keduanya. Ini jika kita mengukur kesetiaan dengan kaca mata manusia. Tapi jika kesetiaan diukur menurut pandangan Allah, maka kesetiaan dalam hati wajib ada, lalu dibuktikan dengan kesetiaan lahir (luar hati).

Seorang prajurit pasti setia terhadap komandannya. Apapun perintahnya dia laksanakan. Jika kita mengukur kesetiaan sang prajurit, kita hanya bisa melihat aspek lahirnya, sebab kita tak bisa membaca hatinya. Seandainya hatinya benci terhadap sang komandan, sepanjang si prajurit tetap setia dan taat secara lahir, sudah cukup hal itu menjadi bukti kesetiaan. Berarti, manusia dalam mengukur kesetiaan (wala) manusia lain, hanya mengandalkan indikator lahir, tanpa batin.

Namun kesetiaan manusia jika diukur oleh Allah, karena Allah Maha Tahu isi hati manusia, maka Allah memasukkan dua aspek sekaligus, yaitu kesetiaan batin, dan kesetiaan lahir. Kesetiaan batin wujudnya adalah cinta dan kecondongan hati. Sementara kesetiaan lahir adalah tindakan non hati yang mencerminkan kesetiaan hati tersebut.

Berbeda dengan cinta, kesetiaan itu bersifat tunggal. Sebab orang hanya bisa setia pada satu pihak. Orang tidak mungkin melaksanakan perintah yang berbeda dari dua pihak pada waktu bersamaan. Ia harus memilih, melaksanakan perintah si A atau si B. Sementara cinta, ia bisa membaginya di saat bersamaan. Sebab cinta hanya rasa dalam hati, tak harus ada konsekwensi tindakan non hati.

Seseorang dimungkinkan punya cinta dalam hati kepada dua atau tiga klub sekaligus. Misalnya Barcelona, MU dan Juventus. Tapi saat dua klub yang sama-sama ia cintai itu bertanding – misalnya Barcelona vs MU bertemu di final piala Champion – tentu ia dipaksa oleh keadaan untuk memilih. Hatinya pasti muncul kecondongan klub mana yang lebih dia inginkan untuk menang. Cinta bisa diberikan terhadap lebih dari satu obyek, tapi kecondongan atau keperpihakan hati pasti hanya kepada satu obyek. Inilah perumpamaan antara cinta dengan wala’.

Inilah alasan mengapa wala’ dalam Al-Qur’an tak pernah diperbandingkan. Wala’ ditampilkan dalam diksi pembatasan. Simak ayat berikut:

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ ٥٥ ( الماۤئدة/5: 55)

Wala’mu (kesetiaanmu) itu hanyalah untuk Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah). (Al-Ma’idah/5:55)

Ayat ini dimulai dengan diksi ( إنما ) yang memiliki arti hanya atau cuma atau saja. Ikatan kesetiaan dibatasi hanya untuk Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sementara orang beriman yang boleh diberi wala’ hanyalah yang berkarakter menegakkan shalat, menunaikan zakat dan selalu ruku atau tunduk kepada Allah.

Pembatasan pada tiga pihak ini tidak bersifat kontradiktif, sebab semuanya pada hakekatnya setia kepada obyek yang satu yaitu Allah. Ketesiaan kepada Rasul-Nya dan orang beriman hanya turunan dari kesetiaan kepada Allah, sebab Rasul-Nya dan orang beriman sama-sama memberikan kesetiaan kepada Allah.

Mari kita lihat pembandingnya di ayat yang lain.

بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ ١٣٨ ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ ١٣٩ ( النساۤء/4: 138-139)

  1. Berilah kabar ‘gembira’ kepada orang-orang munafik bahwa sesungguhnya bagi mereka azab yang sangat pedih. 139. (Yaitu) orang-orang yang memberikan wala’ kepada orang-orang kafir dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah. (An-Nisa’/4:138-139)

Ayat ini menerangkan, orang munafiq dimurkai Allah karena memberikan wala’ kepada orang kafir dengan mengabaikan orang beriman. Inilah karakter wala’ yang bersifat tunggal tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Wala’ munafiq terhadap orang kafir bersifat meniadakan wala’nya terhadap orang beriman.

Karakter khas orang munafiq adalah menjaga hubungan kepada kedua pihak; mukmin dan kafir. Ia ingin dicitrakan berada di tengah. Moderat. Pluralis. Bhinekais. Liberalis. Humanis. Orang yang luwes dalam pergaulan dan kesetiaan. Kadang ke mukmin kadang ke kafir, tergantung kalkulasi keuntungan yang akan kembali pada dirinya.

Namun ayat ini membantah pencitraan yang dilakukan si munafiq itu. Jika ia memberikan wala’ kepada kafir, itu artinya membatalkan wala’ terhadap mukmin. Sebab tidak ada wala’ ganda. Inilah makna ayat di bawah ini:

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ ۚوَمَا جَعَلَ اَزْوَاجَكُمُ الّٰـِٕۤيْ تُظٰهِرُوْنَ مِنْهُنَّ اُمَّهٰتِكُمْ ۚوَمَا جَعَلَ اَدْعِيَاۤءَكُمْ اَبْنَاۤءَكُمْۗ ذٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِاَفْوَاهِكُمْ ۗوَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ ٤ ( الاحزاب/33: 4)

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga (dada)nya, Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia pun tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan sesuatu yang hak dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (Al-Ahzab/33:4)

Ayat ini berbicara tentang hubungan wala’ dalam keluarga. Bahwa anak angkat tetap harus diposisikan sebagai anak angkat, tak bisa dirubah menjadi anak kandung. Meski wala’ dalam keluarga, tapi Al-Qur’an memberikan kesamaan pandangan bahwa wala’ pada dasarnya bersifat tunggal baik dalam masalah ideologi maupun keluarga. Wala’ tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Satu rongga dada hanya bisa diisi satu ikatan wala’, mustahil untuk diisi dengan dua ikatan wala’ sekaligus.

Karena itu, siapapun yang memenunjukkan wala’ terhadap kaum kafir, baik wala’ batin maupun wala’ lahir atau kombinasi keduanya, maka wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal. Pembatalan wala’ ini diberikan contohnya oleh ayat di bawah ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٥١ ( الماۤئدة/5: 51)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memberikan wala’ kepada orang Yahudi dan Nasrani, sebab sebagian mereka terikat wala’ dengan sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang memberikan wala’ kepada mereka, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ma’idah/5:51)

Ayat ini menjelaskan, jika mukmin memberikan wala’ kepada orang Yahudi atau Nasrani, maka Allah akan golongkan ia bersama Yahudi atau Nasrani. Mengapa demikian? Sebab wal’a bersifat tunggal, tak bisa dibagi. Ketika orang beriman memberikan wala’ kepada kafir, saat itu juga wala’nya kepada mukmin dinyatakan batal. Dan wala’ terhadap mukmin satu paket dengan wala’ kepada Allah dan Rasul-Nya, karenanya jika dinyatakan batal, maka batal terhadap semuanya.

Lalu statusnya apa jika seorang mukmin wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal? Ayat berikutnya memberi penjelasan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٥٤ ( الماۤئدة/5: 54)

Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum(pengganti) yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Ma’idah/5:54)

Ayat ini menjelaskan, jika ada mukmin yang murtad maka Allah akan datangkan orang lain yang akan menggantikan posisinya. Tentu saja dengan karekter yang bertolak belakang. Tidak mungkin Allah datangkan pengganti dengan karakter yang sama. Sebab didatangkannya sosok pengganti adalah dalam rangka mengoreksi kesalahan orang sebelumnya. Jika karekaternya sama, percuma diganti.

Sebagai contoh, seorang suami menceraikan istrinya karena sebuah pelanggaran. Tentu ketika mencari istri lagi sebagai pengganti, pasti mencari yang mengoreksi sebelumnya. Jika sebelumnya boros, pasti mencari istri baru yang pandai mengatur keuangan. Jika sebelumnya selingkuh, pasti mencari istriu baru yang setia. Begitulah sunnatullah kehidupan.

Ayat tersebut tidak menyebutkan apa kesalahan si mukmin sehingga dianggap murtad oleh Allah. Tapi hal itu bisa disimpulkan dari sosok pengganti yang Allah datangkan. Mari kita analisa ciri-ciri sosok pengganti:

Pertama, Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. Bukankah timbal balik cinta merupakan akar wala’?

Kedua, bersikap lemah lembut atau penyayang kepada mukmin dan tegas kepada kafir. Bukankah ini refleksi lahir dari wala’ yang ada di hatinya?

Ketiga, berjihad di jalan Allah yang maksudnya adalah berperang di jalan Allah. Bukanlah jihad penuh resiko, baik harta dan nyawa. Ketika seseorang sukarela berangkat jihad, bukanlah itu bermakna puncak pengorbanan kepada Allah? Dan itu artinya cerminan wala’ yang ada di hatinya?

Keempat, tidak takut celaan orang yang mencela demi sang Kekasih yaitu Allah SWT. Bukankah ini mental yang lahir dari wala’ yang ada dalam hati?

Jadi ayat tersebut secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa siapapun mukmin yang mencintai kafir dan orang kafir mencintai mereka (kebalikan dari dicintai dan mencintai Allah), hatinya lebih condong kepada kafir dan galak kepada mukmin, enggan berkorban jiwa raga demi membela Allah, dan serba takut mendapat cibiran di jalan Allah, maka dianggap murtad oleh Allah. Sebab sikap-sikap tersebut menunjukkan bahwa wala’nya bukan untuk Allah tapi untuk musuh Allah.

Mukmin yang punya karakter pengkhianat tersebut disingkirkan oleh Allah, tidak lagi diakui sebagai loyalis Allah. Dalam dunia partai, dipecat oleh partai karena terbukti main mata dengan partai lain. Meski yang bersangkutan masih pakai atribut partai, tapi partai sudah berlepas diri darinya.

Jadi betapa seriusnya wala’ ganda. Siapapun yang punya wala’ ganda; satu kaki bersama mukmin dan kaki yang lain bersama kafir, maka Allah akan batalkan wala’nya kepada mukmin dan yang diakui hanya wala’ kepada kafir. Sebab Allah itu idealis, tak mau diduakan atau dikhianati. Allah tidak bisa menerima orang yang bermain-main dalam masalah loyalitas.

Konsistensi Al-Qur’an dalam memandang wala’ sebagai kesetiaan tunggal bisa dilihat di bawah ini:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ ٢٥٧ ( البقرة/2: 257)

Allah adalah wali (ikatan wala’) orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang kafir, wali-wali (ikatan wala’) mereka adalah taghut. Mereka (taghut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah/2:257)

Ayat ini menjelaskan bahwa garis loyalitas mukmin adalah Allah. Sementara garis loyalitas kafir adalah Thaghut dengan beragam versinya, seperti berhala, dewa dan sebagainya. Garis loyalitas itu tunggal, tak bisa ganda apalagi lebih.

Suporter Persija saja punya semboyan loyalitas tanpa batas terhadap klubnya. Loyalitas tunggal. Jika terhadap Persija orang bisa memahami, tentu ketika Allah meminta loyalitas tunggal lebih harus bisa dipahami. Sebab Allah adalah Rabbul Alamin, Pencipta jagat raya. Sudah sepantasnya Allah meminta itu. Dan sudah wajar jika Allah menganggap murtad siapapun yang punya loyalitas ganda.

Tauhid Cinta dan Tauhid Wala’

Mentauhidkan Allah dalam bab cinta adalah mencintai Allah dengan tanpa memperbandingkan cinta itu dengan selain Allah. Tapi bukan berarti tidak boleh mencintai yang lain. Kita masih boleh mencintai selain Allah dalam porsi yang secukupnya, seperti cinta terhadap wanita dan parfum. Sementara memberikan porsi cinta kepada musuh atau tandingan Allah sama sekali dilarang, seperti berhala dan semacamnya.

Adapun tauhid dalam bab wala’ adalah memberikan kesetiaan dan loyalitas tunggal hanya kepada Allah dan turunannya yaitu Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kita dilarang memberikan wala’ kepada selain Allah apalagi musuh Allah, sebab hal itu bermakna membatalkan wala’ kepada Allah. Pada akhirnya yang bersangkutan akan diberi status murtad oleh Allah.

Mentauhidkan Allah bukan hanya menganggap Allah tunggal, one and anly secara jumlah. Tapi juga menjadikan Allah sebagai one and only dalam masalah loyalitas. Mari kita jaga wala’ kita. Jangan sampai kita menyekutukan Allah dalam hal wala’ jika tak ingin ‘dipecat’ oleh Allah.

والله أعلم بالصواب

Sumber : https://www.arrahmah.id/perbedaan-cinta-dan-wala-dalam-islam

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Dalam kehidupan ini, banyak orang tua berlomba-lomba memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Sekolah terbaik, les tambahan, hingga berbagai kursus demi masa depan yang cerah. Namun, Syekh Abdur Rasyid Shufi** mengingatkan bahwa ada satu investasi yang jauh lebih berharga dan berdampak kekal: mendidik anak dengan Al-Qur’an.

Dalam sebuah kajian Ramadan, beliau menegaskan bahwa mengajarkan anak Al-Qur’an sejak dini bukan sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membangun pondasi kehidupan yang kokoh, baik di dunia maupun di akhirat.

Mengapa Al-Qur’an adalah Investasi Terbesar?

Menurut Syekh Shufi, banyak orang tua fokus pada pendidikan duniawi tanpa menyadari bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang membawa keberkahan dalam segala aspek kehidupan. Anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an tidak hanya lebih berakhlak, tetapi juga cenderung lebih cerdas dan sukses dalam bidang lain.

“Anak yang menghafal Al-Qur’an biasanya lebih unggul dalam pelajaran lainnya, karena mereka terbiasa dengan konsentrasi, disiplin, dan daya ingat yang kuat,” ujar beliau.

Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah satu-satunya investasi yang terus mengalirkan pahala hingga setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Seorang anak yang dibekali dengan Al-Qur’an akan terus mengirimkan pahala bagi orang tuanya, bahkan setelah mereka tiada.

Pola Asuh yang Salah, Penyebab Anak Menjauhi Al-Qur’an

Sayangnya, banyak anak yang justru menjauhi Al-Qur’an karena pola asuh yang kurang tepat. Syekh Shufi menyoroti kesalahan dalam mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang keras dan penuh paksaan.

“Jangan pernah memaksa anak belajar Al-Qur’an dengan cara yang kasar, karena itu hanya akan membuat mereka semakin menjauh,” tegasnya.

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, dan begitu pula dalam mengajarkan Al-Qur’an. Daripada memaksa dan menghukum, orang tua seharusnya membuat anak mencintai Al-Qur’an dengan metode yang menyenangkan, seperti melalui kisah-kisah inspiratif, permainan, atau mengikuti kompetisi hafalan.

Al-Qur’an: Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Syekh Shufi juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ketenangan hati dan kekuatan dalam menghadapi ujian hidup. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak di Gaza tetap tegar menghadapi peperangan karena mereka dekat dengan Al-Qur’an.

“Lihatlah anak-anak Gaza, mereka begitu kuat meskipun hidup dalam penderitaan. Rahasianya? Al-Qur’an ada di hati mereka,” ungkapnya.

Kita semua pasti menghadapi ujian dalam hidup, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, kesehatan, atau masalah keluarga. Namun, orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan selalu memiliki ketenangan dan jalan keluar dari setiap masalah.

Kesimpulan: Jangan Sampai Menyesal!

Di akhir ceramahnya, Syekh Shufi mengingatkan agar jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena tidak mengajarkan anak-anak kita Al-Qur’an sejak dini.

“Jadikanlah Al-Qur’an sebagai bagian dari hidup kita dan anak-anak kita. Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membacanya, merenungkannya, dan mengamalkannya.”

Maka, jika ingin anak-anak sukses di dunia dan akhirat, mulailah dari sekarang. Tanamkan cinta Al-Qur’an dalam hati mereka, dan lihat bagaimana hidup mereka dipenuhi keberkahan.

** Syekh Abdur Rasyid Shufi adalah seorang qāriʾ asal Somalia yang ahli dalam sepuluh qirā’āt Al-Qur’an. Lahir di Mogadishu pada 1962, beliau menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar dan pernah menjadi mufti di Somalia. Sejak 1991, ia menetap di Qatar dan aktif mengajarkan Al-Qur’an, mendirikan pusat pembelajaran, serta membimbing banyak murid. Bacaan Al-Qur’annya yang merdu dikenal luas di dunia Islam.

Sumber : https://www.arrahmah.id/syekh-abdur-rasyid-shufi-al-quran-investasi-terbesar-untuk-anak-yang-mengantarkan-ke-surga

4 Syafaat Nabi di Hari Kiamat

4 Syafaat Nabi di Hari Kiamat

Pada Hari Kiamat nanti, setiap manusia akan membawa satu hal yang sama, berhajat akan rahmat Allah Ta’ala. Tidak ada yang dapat mengandalkan kekuatan, jabatan, kekayaan, atau keturunannya. Semua berdiri sendiri di hadapan Allah Ta’ala. Di hari yang penuh kegelisahan itu, ada satu karunia besar yang menjadi harapan kaum beriman, yaitu syafaat Rasulullah ﷺ.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata:
شَفَاعَاتُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَرْبَعَةٌ
“Syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada Hari Kiamat ada empat macam.”

1. Syafaat yang Mempercepat Manusia dari Hisab yang Sangat Berat

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:
الْأُولَى: الشَّفَاعَةُ الْعَامَّةُ لِأَهْلِ الْمَوْقِفِ، لِيُعَجَّلَ حِسَابُهُمْ وَيُرَاحُوا مِنْ هَوْلِ ذَلِكَ الْمَوْقِفِ
“Syafaat umum bagi seluruh manusia yang berada di Padang Mahsyar agar hisab mereka dipercepat dan mereka dibebaskan dari dahsyatnya keadaan tersebut.”

Bayangkan sebuah penantian yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Semua makhluk berkumpul. Hati dipenuhi kecemasan. Setiap orang hanya memikirkan nasib dirinya sendiri.

Di saat itulah Rasulullah ﷺ memohon kepada Allah agar proses hisab segera dimulai.

2. Syafaat untuk Masuk Surga Tanpa Hisab

الثَّانِيَةُ: فِي إِدْخَالِ طَائِفَةٍ مِنْ أُمَّتِهِ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ
“Syafaat untuk memasukkan sekelompok umat beliau ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

Ini adalah karunia yang luar biasa.

Ada hamba-hamba Allah yang memperoleh anugerah khusus. Mereka tidak melewati hisab yang panjang. Tidak menunggu dengan penuh ketegangan. Tidak pula merasakan azab.

Dengan rahmat Allah dan syafaat Nabi ﷺ, mereka dipersilakan memasuki surga secara langsung.

3. Syafaat untuk Mengeluarkan Ahli Tauhid dari Neraka

Inilah salah satu bentuk syafaat yang paling menunjukkan luasnya rahmat Allah.
الثَّالِثَةُ: فِي إِخْرَاجِ مُوَحِّدِي أُمَّتِهِ مِمَّنْ دَخَلَ النَّارَ بِذُنُوبِهِمْ، فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا وَيُدْخَلُونَ الْجَنَّةَ
“Syafaat untuk mengeluarkan orang-orang yang bertauhid dari umat beliau yang masuk neraka karena dosa-dosa mereka, lalu mereka dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.”

Manusia bukan malaikat. Ia bisa tergelincir, lalai, dan berbuat dosa.

Namun selama seseorang masih membawa tauhid dan tidak mati dalam kekafiran, pintu rahmat Allah tetap terbuka.

Setelah menjalani hukuman yang Allah kehendaki, mereka mendapatkan syafaat Nabi ﷺ. Mereka dikeluarkan dari neraka dan akhirnya masuk ke dalam surga.

Karena itulah, seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari dosa, tetapi juga tidak boleh putus asa dari rahmat Allah.

4. Syafaat untuk Meninggikan Derajat Penghuni Surga.

Banyak orang mengira bahwa setelah masuk surga semua urusan selesai.

Padahal surga memiliki tingkatan yang sangat banyak.

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:
الرَّابِعَةُ: فِي زِيَادَةِ دَرَجَاتِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَرَفْعِ مَنَازِلِهِمْ فِيهَا
“Syafaat untuk menambah derajat dan meninggikan kedudukan penghuni surga.”

Ada orang yang masuk surga karena amalnya. Namun dengan syafaat Nabi ﷺ, kedudukannya diangkat lebih tinggi lagi. Nikmatnya bertambah. Kemuliaannya bertambah. Derajatnya ditinggikan melebihi apa yang ia bayangkan. Inilah bukti bahwa karunia Allah jauh lebih luas daripada amal yang kita lakukan.

Semoga kita termasuk orang yang mendapat syafaat di hari kiamat.

Sumber : https://portal-islam.id/4-syafaat-nabi-di-hari-kiamat/

Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis

Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis

Hidayatullah.com | DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan istilah masjid dan mushalla secara bergantian. Namun dalam kajian fiqih, keduanya memiliki pengertian, fungsi, dan konsekuensi hukum yang berbeda.

Mari kita pahami bersama apa saja perbedaan antara masjid dan mushalla, sekaligus makna spiritual yang menyertainya.

Masjid: Tempat Sujud yang Dimuliakan

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Para Malaikat berdoa untuk salah seorang dari kalian selama ia masih pada posisi shalatnya dan belum berhadats, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat. Tidak ada yang menghalanginya untuk kembali kepada keluarganya kecuali karena shalat itu.” (HR. al-Bukhari, 619)

Secara bahasa, masjid berarti tempat sujud. Secara istilah, masjid adalah tempat yang dipersiapkan secara khusus dan diwakafkan untuk pelaksanaan shalat lima waktu berjamaah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 114)

Masjid disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali, menunjukkan betapa pentingnya kedudukannya dalam Islam.

Ada pula istilah Masjid al-Jami’, yakni masjid yang digunakan untuk shalat Jumat atau dapat menampung jamaah dalam jumlah besar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam al-Masajid (hal. 7), disebut “al-Jami’” karena pada hari Jumat banyak orang berkumpul di dalamnya. Namun, walau ukurannya kecil, jika masjid itu digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat, maka ia tetap disebut masjid jami’.

Mushalla: Tempat Shalat yang Lebih Fleksibel

Sementara itu, istilah mushalla memiliki beberapa makna dalam konteks syariat:

Pertama, lapangan terbuka untuk Shalat Id

Dalam hadits Abu Umair bin Anas disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk menuju mushalla saat Idul Fitri setelah terlihat hilal.

Mushalla dalam konteks ini merujuk pada tanah lapang yang dipakai untuk pelaksanaan shalat hari raya.

Kedua, tempat shalat pribadi atau sementara

Mushalla juga dapat bermakna tempat shalat seseorang, baik di rumah, kantor, atau sudut ruangan. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan bahwa malaikat akan mendoakan orang yang masih berada di mushalla-nya.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ إِلَى الْمُصَلَّى

“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para wanita haid pada dua hari raya menuju musholla.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ…

“Para malaikat terus mendoakan salah satu dari kalian selama ia berada di mushollanya (tempat shalatnya)…” (HR. Bukhari, no. 619 dan Muslim, no. 649)

Di sini, mushalla bisa merujuk pada tempat shalat pribadi, bukan masjid secara umum.

Dari kedua pengertian tersebut, disimpulkan bahwa setiap masjid adalah mushalla, tetapi tidak setiap mushalla adalah masjid.

Penjelasan Ulama tentang Perbedaan Keduanya

Imam Az-Zarkasyi dalam kitab I’lam as-Sajid bi Ahkami al-Masajid menjelaskan bahwa penyebutan masjid berasal dari kata sujud, sebagai posisi paling mulia dan dekat kepada Allah dalam shalat.

Sedangkan mushalla lebih merujuk pada tempat berkumpulnya jamaah untuk shalat Id atau shalat sunnah lainnya yang tidak rutin lima waktu.

Adapun menurut masyarakat Indonesia, masjid umumnya dipahami sebagai tempat shalat berjamaah lima waktu dan juga digunakan untuk shalat Jumat.

Sementara mushalla (sering disebut surau atau langgar) adalah tempat shalat dengan kapasitas terbatas, yang tidak digunakan untuk shalat Jumat.

Namun, ulama seperti Syihabuddin ar-Ramli menegaskan bahwa shalat Jumat tidak disyaratkan harus dilakukan di masjid, selama tempatnya memadai.

Status Kepemilikan

Masjid adalah tempat yang telah diwakafkan dan tidak boleh diperjualbelikan. Imam Nawawi dalam Minhaj ath-Thalibin menjelaskan bahwa kepemilikan tanah masjid berpindah kepada Allah secara hukum.

Sebaliknya, mushalla masih bisa dimiliki pribadi dan boleh dipindahkan, dijual, atau disewa.

Orang yang junub atau haid dilarang tinggal di masjid, namun tidak di mushalla.

Ibadah Tertentu

I’tikaf, thawaf, dan shalat tahiyatul masjid hanya sah dilakukan di masjid. Hal ini ditegaskan al-Khatib asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj“Tidak ada suatu ibadah yang membutuhkan masjid kecuali tahiyatul masjid, i’tikaf, dan thawaf.”

Bangunan Tambahan

Tidak diperbolehkan membangun tempat tinggal di atas masjid. Ibnu ‘Abidin menegaskan dalam Hasyiyah-nya bahwa jika masjid telah selesai dibangun, maka membangun rumah imam di atasnya harus dicegah.

Kemuliaan Shalat

Baik masjid maupun mushalla adalah tempat-tempat mulia yang menjadi penghubung antara hamba dengan Rabb-nya. Rasulullah ﷺ menyebut tempat sujud sebagai tempat yang dihadiri malaikat, bahkan doa-doa dari para malaikat senantiasa mengiringi siapa pun yang menunggu shalat berikutnya di mushallanya.

Sebagai umat Islam, memahami perbedaan antara keduanya bukan hanya masalah istilah, tapi juga menjadi pijakan dalam menghidupkan sunnah dan menegakkan hukum-hukum syariat dalam beribadah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimuliakan karena menjaga masjid, menghidupkan mushalla, dan istiqamah dalam shalat berjamaah. Wallahu a’lam.*/Dr. Ahmad Zain an-Najah, Pusat Kajian Fiqih Indonesia)

sumber : https://hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/2025/05/05/293796/masjid-dan-mushalla-menurut-al-quran-dan-hadis.html

Doa Agar Terhindar Dari Gangguan Sihir dan Hasad, Amalan Perlindungan Islam

Doa Agar Terhindar Dari Gangguan Sihir dan Hasad, Amalan Perlindungan Islam

Liputan6.com, Jakarta – Doa Agar Terhindar Dari Gangguan Sihir Dan Hasad menjadi salah satu amalan yang banyak dicari umat Islam ketika ingin memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, sihir dan hasad diakui keberadaannya sebagai bentuk gangguan yang dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan seseorang. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperkuat keimanan sekaligus memperbanyak doa dan zikir perlindungan.

Doa Agar Terhindar Dari Gangguan Sihir Dan Hasad juga menjadi pengingat bahwa perlindungan sejati hanya datang dari Allah SWT. Sejak zaman Rasulullah SAW, praktik sihir telah dikenal dan bahkan pernah digunakan untuk mencelakai orang lain. Meski demikian, Islam mengajarkan agar umat tidak takut berlebihan karena Allah telah menyediakan jalan perlindungan melalui doa dan ibadah.

Sihir termasuk salah satu dosa besar dalam Islam. Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim memasukkan sihir ke dalam tujuh dosa yang membinasakan. Hal ini menunjukkan betapa beratnya pelanggaran tersebut di sisi Allah SWT.

Selain itu, sihir sering kali berkaitan dengan unsur syirik karena melibatkan bantuan kekuatan gaib selain Allah. Padahal, syirik merupakan dosa yang sangat besar dan mendapat peringatan keras dalam Al-Qur’an. Karena itu, seorang Muslim harus menjauhi segala bentuk praktik sihir maupun kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid.

Bahaya Sihir dan Hasad dalam Kehidupan

Hasad atau iri dengki juga menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai keburukan di tengah masyarakat. Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Dalam banyak kesempatan, Islam mengajarkan umatnya untuk membersihkan hati dari rasa dengki dan kebencian.

Gangguan sihir dan hasad tidak boleh disikapi dengan ketakutan yang berlebihan. Seorang Muslim dianjurkan untuk memperkuat keyakinan kepada Allah SWT dan memperbanyak amalan perlindungan. Sikap tawakal menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai bentuk gangguan tersebut.

Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya memohon perlindungan dari keburukan makhluk dan kejahatan manusia. Surah Al-Falaq dan An-Nas menjadi dua surah yang sangat dianjurkan untuk dibaca secara rutin. Kedua surah ini dikenal sebagai Al-Mu’awwidzatain atau dua surah perlindungan.

Rasulullah SAW sendiri membiasakan membaca Al-Falaq dan An-Nas sebelum tidur. Amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan dari gangguan sihir, hasad, dan berbagai keburukan lainnya. Kebiasaan itu kemudian menjadi sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam.

Doa Perlindungan dari Gangguan Jin dan Sihir

Salah satu doa yang dianjurkan dibaca sebelum tidur untuk memohon perlindungan adalah doa yang diriwayatkan dalam berbagai kitab doa dan dikutip oleh NU Online. Doa ini berisi permohonan agar Allah menjaga diri, keluarga, dan seluruh nikmat yang telah diberikan. Selain itu, doa tersebut juga memohon perlindungan dari gangguan setan dan orang-orang yang berniat jahat.

 Doa Perlindungan dari Gangguan Jin dan Mata Jahat

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا

Latin: *Allahumma inna nastahfidhuka wa nastaudi’uka dinana wa anfusana wa ahlana wa auladana wa amwalana wa kulla syai’in a’thaitana.*

Artinya: “Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan agama, diri, keluarga, anak-anak, harta, serta seluruh nikmat yang Engkau berikan kepada kami.”

Doa tersebut mengandung makna penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Seorang Muslim diajarkan untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki berada dalam perlindungan-Nya. Dengan keyakinan tersebut, hati menjadi lebih tenang dan tidak mudah diliputi rasa takut.

Selain doa panjang tersebut, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak membaca Al-Falaq dan An-Nas. Kedua surah itu menjadi amalan perlindungan yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Banyak ulama menjelaskan bahwa surah tersebut mengandung permohonan perlindungan dari kejahatan makhluk dan hasad.

Sunnah Rasulullah Menghadapi Sihir

Dalam sejumlah riwayat hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengalami gangguan sihir yang dilakukan oleh Labid bin Al-A’sham. Namun gangguan tersebut hanya memengaruhi kondisi fisik dan tidak memengaruhi wahyu maupun keyakinan Rasulullah SAW. Allah SWT kemudian menurunkan petunjuk dan memberikan kesembuhan kepada beliau.

Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa sihir memang ada, tetapi kekuatannya tetap berada di bawah kehendak Allah SWT. Rasulullah SAW tidak mengajarkan ketakutan berlebihan terhadap sihir. Sebaliknya, beliau mengajarkan umat untuk memperbanyak doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an.

Doa Keselamatan yang Diajarkan Rasulullah SAW

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin: Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma’as-mihi syai’un fil-arḍi wa lā fis-samā’i wa huwa as-samī’ul ‘alīm.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat membahayakan. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Doa ini dianjurkan dibaca pada pagi dan petang hari. Banyak ulama menjelaskan bahwa doa tersebut menjadi salah satu zikir perlindungan yang sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membacanya secara rutin, seorang Muslim berharap selalu berada dalam penjagaan Allah SWT.

Perlindungan dari sihir dan hasad tidak hanya diperoleh melalui doa. Menjaga salat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan menjauhi maksiat juga menjadi bagian penting dalam membangun benteng spiritual. Amalan-amalan tersebut membantu memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Zikir yang Dianjurkan untuk Menolak Gangguan Setan

Membaca zikir harian menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk menjaga diri dari gangguan sihir dan hasad. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dengan hati yang dekat kepada Allah, seseorang akan memperoleh ketenangan dan perlindungan.

Zikir Perlindungan dari Godaan Jin dan Setan

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.

Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian. Dia menghidupkan dan mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Zikir tersebut mengandung pengakuan akan keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Dengan memperbanyak bacaan itu, seorang Muslim diingatkan bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi kekuasaan-Nya. Keyakinan tersebut menjadi benteng utama dalam menghadapi berbagai gangguan yang tidak terlihat.

Zikir Terhindar dari Sihir

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Latin: A’udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq.

Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa pun yang Dia ciptakan.”

Zikir ini termasuk amalan yang dianjurkan ketika berada di tempat baru atau menjelang malam hari. Banyak ulama menjelaskan bahwa bacaan tersebut menjadi salah satu bentuk tawakal kepada Allah SWT. Perlindungan yang dimohon bukan berasal dari makhluk, melainkan langsung kepada Sang Pencipta.

Doa Tolak Bala dan Memohon Keselamatan

Selain zikir pendek, umat Islam juga mengenal doa-doa panjang yang berisi permohonan keselamatan dan keberkahan hidup. Doa ini memohon agar Allah membuka pintu kebaikan, kesehatan, serta menjauhkan berbagai musibah. Amalan seperti ini sering dibaca dalam majelis doa dan kegiatan keagamaan.

Doa Selamat dan Tolak Bala

اَللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الْخَيْرِ وَأَبْوَابَ الْبَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ الْقُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ الْعَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الْجَنَّةِ

Latin: Allâhumma-ftaḫ lanâ abwâbal khair wa abwâbal barakah wa abwâban ni’mah wa abwâbar rizqi wa abwâbal quwwah wa abwâbas sihhah wa abwâbas salamah wa abwâbal ‘afiyah wa abwâbal jannah.

Artinya: “Ya Allah, bukakanlah bagi kami pintu kebaikan, keberkahan, kenikmatan, rezeki, kekuatan, kesehatan, keselamatan, afiyah, dan pintu surga.”

Doa tersebut mencerminkan harapan seorang hamba agar hidupnya dipenuhi keberkahan. Permohonan keselamatan tidak hanya berkaitan dengan urusan dunia, tetapi juga perlindungan di akhirat kelak. Karena itu, doa ini kerap dibaca sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Keselamatan keluarga dan keturunan juga menjadi perhatian penting dalam Islam. Orang tua dianjurkan untuk selalu mendoakan anak-anaknya agar terhindar dari keburukan dan gangguan yang tidak terlihat. Doa menjadi salah satu bentuk kasih sayang dan tanggung jawab dalam keluarga Muslim.

Memperkuat Keimanan sebagai Benteng Utama

Selain membaca doa, memperkuat keimanan menjadi langkah paling utama dalam menghadapi sihir dan hasad. Orang yang dekat dengan Allah akan memiliki ketenangan hati yang lebih kuat dibandingkan rasa takut terhadap makhluk. Keyakinan tersebut membuat seorang Muslim lebih fokus pada ibadah dan amal saleh.

Ulama juga mengingatkan bahwa sihir tidak akan mampu memberi mudarat tanpa izin Allah SWT. Karena itu, sikap yang dianjurkan adalah memperbanyak tawakal sambil tetap menjalankan ikhtiar yang dibenarkan syariat. Keseimbangan antara doa dan usaha menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Membaca Al-Qur’an secara rutin juga termasuk amalan yang dianjurkan untuk memperoleh perlindungan. Surah Al-Baqarah, Al-Falaq, dan An-Nas sering disebut memiliki keutamaan dalam menjaga rumah dan penghuninya. Kebiasaan tersebut dapat membangun suasana yang penuh keberkahan dalam keluarga.

Rasulullah SAW mencontohkan agar umat Islam tidak menggantungkan perlindungan kepada benda-benda tertentu. Semua bentuk perlindungan harus dikembalikan kepada Allah SWT melalui doa dan ibadah. Dengan demikian, kemurnian tauhid tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

Menjaga Hati dari Penyakit Hasad

Hasad atau iri dengki tidak hanya membahayakan orang lain, tetapi juga merusak ketenangan hati pelakunya sendiri. Islam mengajarkan agar setiap Muslim bersyukur atas nikmat yang dimiliki dan mendoakan kebaikan bagi sesama. Sikap tersebut menjadi cara terbaik untuk menghindari penyakit hati.

Membiasakan diri berzikir dan memperbanyak istighfar dapat membantu membersihkan hati dari perasaan negatif. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, ruang untuk iri dan dengki akan semakin sempit. Inilah salah satu hikmah besar yang diajarkan dalam Islam.

Lingkungan pergaulan yang baik juga berperan penting dalam menjaga keimanan. Berteman dengan orang-orang saleh dapat mendorong seseorang untuk lebih rajin beribadah dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Dukungan lingkungan positif membantu memperkuat ketahanan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua juga dianjurkan membiasakan anak-anak membaca doa perlindungan sejak dini. Pendidikan agama yang baik akan menjadi bekal penting bagi generasi berikutnya. Dengan demikian, keluarga dapat tumbuh dalam suasana yang penuh keberkahan dan ketenangan.

Ikhtiar dan Tawakal dalam Menghadapi Gangguan Gaib

Islam mengajarkan bahwa setiap ujian harus dihadapi dengan ikhtiar dan tawakal secara seimbang. Membaca doa, menjaga ibadah, dan memperbanyak zikir merupakan bentuk ikhtiar yang dianjurkan syariat. Setelah itu, seorang Muslim menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT dengan penuh keyakinan.

Keberadaan sihir dan hasad memang diakui dalam Islam, tetapi umat tidak diperbolehkan hidup dalam ketakutan yang berlebihan. Keyakinan kepada kekuasaan Allah harus lebih besar daripada rasa khawatir terhadap gangguan makhluk. Sikap inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Doa Agar Terhindar Dari Gangguan Sihir Dan Hasad menjadi salah satu amalan penting yang dapat diamalkan setiap hari oleh umat Islam. Dengan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, dan menjaga ketakwaan, seorang Muslim berharap selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Perlindungan terbaik tetap berasal dari-Nya, sehingga hati menjadi tenang dan kehidupan berjalan dengan penuh keberkahan.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8028691/doa-agar-terhindar-dari-gangguan-sihir-dan-hasad-amalan-perlindungan-islam

Bukan Bulan Sial, Mari Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram

Bukan Bulan Sial, Mari Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram

YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Royan Utsani mengajak umat Islam menjadikan bulan Muharam sebagai momentum memperbaiki diri. Menurutnya, Muharam merupakan bulan mulia yang sarat dengan pelajaran sejarah dan keutamaan ibadah.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kajian Kitab Riyādhuṣ Ṣāliḥīn di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (25/06).

Memasuki pembahasan tentang Muharam, Royan meluruskan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat, khususnya mitos Jawa yang menganggap bulan Sura sebagai waktu yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan.

Menurutnya, keyakinan tersebut bertentangan dengan syariat Islam karena Muharam justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah.

“Kadang-kadang mitos dan syariat itu tidak bertemu. Padahal Muharam adalah bulan yang baik dan penuh pahala,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah memang diawali dengan bulan Muharam meskipun hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah menuju Madinah berlangsung mulai bulan Safar dan tiba di Madinah pada Rabiulawal.

Menurut Royan, Muharam dipilih sebagai awal kalender Hijriah karena menjadi masa persiapan hijrah. Ia mengibaratkannya seperti membangun rumah yang diawali dengan menyiapkan pondasi sebelum bangunan benar-benar berdiri.

“Dalam hidup itu perlu perencanaan. Hijrah mengajarkan pentingnya planning sebelum melangkah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi simbol perjuangan hidup seorang Muslim.

“Hidup itu adalah perjuangan. Seorang Muslim akan terus berjuang hingga kedua kakinya masuk ke dalam surga.”

Peristiwa Penting di Bulan Muharam

Royan menjelaskan bahwa Muharam menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi.

Di antaranya adalah keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun yang terjadi pada tanggal 10 Muharam atau hari Asyura. Peristiwa inilah yang menjadi dasar disyariatkannya puasa Asyura.

Ia mengisahkan bahwa ketika Rasulullah saw. melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut, beliau menjelaskan bahwa umat Islam lebih berhak menghormati Nabi Musa. Karena itu, Rasulullah menganjurkan berpuasa pada tanggal 10 Muharam dan berniat menambah puasa pada tanggal 9 Muharam (Tasua) agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi.

Selain kisah Nabi Musa, Royan juga menyinggung beberapa riwayat yang mengaitkan bulan Muharam dengan diterimanya tobat Nabi Adam a.s., keselamatan Nabi Nuh a.s. setelah banjir besar, serta kisah Nabi Yunus yang diselamatkan Allah setelah berdoa di dalam perut ikan.

Menurutnya, seluruh kisah tersebut mengandung pesan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bersabar, dan terus berzikir kepada-Nya.

Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharam

Royan menjelaskan bahwa Muharam merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. at-Taubah ayat 36.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah saw.:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharam.” (HR. Muslim)

Menurutnya, penyebutan Muharam sebagai Syahrullah (bulan Allah) menunjukkan kemuliaan bulan tersebut sehingga umat Islam hendaknya memperbanyak ibadah.

Ia mengingatkan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Sebagai penutup, Royan mengajak jamaah memanfaatkan momentum Muharam untuk memperbanyak puasa sunah, zikir, menuntut ilmu, serta melakukan berbagai amal saleh sebagai bekal memperbaiki kualitas keimanan.

“Semoga kita semua mampu memaksimalkan bulan Muharam dengan amal-amal terbaik dan memperoleh pahala yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya.

sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/06/bukan-bulan-sial-mari-perbanyak-puasa-sunah-di-bulan-muharram/

Mari Menikmati Piala Dunia Tanpa Terjerumus Judi

Mari Menikmati Piala Dunia Tanpa Terjerumus Judi

Piala Dunia 2026 sedang berlangsung. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ajang sepak bola terbesar di dunia itu digelar bersama oleh tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini juga menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti 48 negara peserta, sehingga antusiasme masyarakat dunia semakin besar.

Di berbagai penjuru dunia, jutaan orang berkumpul menyaksikan pertandingan. Kadang diselingi diskusi tentang strategi permainan. Sepak bola memang telah menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai bangsa, suku, dan budaya.

Islam pada dasarnya tidak mengharamkan olahraga maupun hiburan yang bermanfaat. Bahkan olahraga dapat menjadi sarana menjaga kesehatan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat sportivitas. Karena itu, menikmati pertandingan sepak bola sebagai hiburan yang wajar merupakan perkara yang dibolehkan selama tidak melalaikan kewajiban dan tidak mengandung unsur yang diharamkan.

Namun, di balik gegap gempita Piala Dunia, terdapat fenomena yang patut diwaspadai, yaitu maraknya praktik perjudian berkedok prediksi skor, taruhan pertandingan, hingga berbagai bentuk perjudian daring yang memanfaatkan euforia sepak bola.

Banyak orang yang awalnya hanya ingin menonton pertandingan akhirnya tergoda memasang taruhan dengan harapan memperoleh keuntungan instan. Padahal, di sinilah letak bahaya yang sering tidak disadari.

Al-Qur’an secara tegas mengharamkan perjudian. Allah SWT berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Mā’idah [5]: 90).

Ayat ini menyatakan bahwa perjudian haram. Ayat itu juga menyebut judi sebagai “rijs” (perbuatan keji) dan bagian dari tipu daya setan. Larangan tersebut menunjukkan bahwa dampak perjudian bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga kerusakan moral dan spiritual.

Allah SWT melanjutkan:

﴿إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ﴾

“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan perjudian, serta menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat. Maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS. al-Mā’idah [5]: 91).

Ayat ini menjelaskan bahwa perjudian memicu permusuhan, kebencian, kecanduan, serta melalaikan manusia dari ibadah. Tidak sedikit keluarga yang retak, persahabatan yang rusak, dan kehidupan ekonomi yang hancur akibat kebiasaan berjudi.

Rasulullah Saw juga memberikan peringatan keras terhadap segala bentuk perjudian. Dalam sebuah hadis disebutkan:

مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ

“Barang siapa berkata kepada temannya, ‘Mari kita berjudi,’ maka hendaklah ia bersedekah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang perjudian. Bahkan sekadar mengajak berjudi sudah dianggap sebagai perbuatan yang harus ditebus dengan sedekah, apalagi jika benar-benar melakukannya.

Perjudian sering kali dibungkus dengan istilah yang tampak modern, seperti betting, sportsbook, prediksi berhadiah, atau taruhan online. Namun hakikatnya tetap sama: mempertaruhkan sejumlah harta dengan kemungkinan untung atau rugi yang bergantung pada hasil suatu peristiwa yang tidak pasti. Dalam fikih Islam, praktik seperti ini termasuk kategori maisir yang diharamkan.

Karena itu, momentum Piala Dunia hendaknya dimanfaatkan secara positif. Kita boleh menikmati pertandingan, mengagumi keterampilan para pemain, mempelajari strategi permainan, dan merasakan kegembiraan olahraga. Akan tetapi, semua itu harus dilakukan dalam koridor syariat.

sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/06/mari-menikmati-piala-dunia-tanpa-terjerumus-judi/

Dalil-Dalil Sunnah Mengenai Keutamaan Ucapan Alhamdulillah

Dalil-Dalil Sunnah Mengenai Keutamaan Ucapan Alhamdulillah

Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 23 Dzulhijjah 1447 H / 9 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah

Pembahasan kini memasuki bab ke-42, yaitu dalil-dalil dari sunnah tentang keutamaan ucapan Alhamdulillah. Sebagaimana Al-Qur’anul Karim telah menunjukkan keutamaan, keistimewaan, serta keagungan ucapan alhamdu dengan berbagai macam dalil yang banyak, demikian pula sunnah atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak sekali menyebutkan dalil tentang agungnya kedudukan pujian tersebut.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan pemilik bendera pujian (liwaul hamdi) pada hari kiamat kelak. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan yang besar serta kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dianugerahkan khusus kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada Hari Kiamat

Imam Ahmad, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari sahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ، وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَائِي، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلَا فَخْرَ

“Aku adalah sayyid (pemimpin) anak Adam pada hari kiamat dan bukan untuk berbangga, di tanganku ada bendera pujian dan bukan untuk berbangga, dan tidak ada seorang nabi pun pada hari itu, baik Nabi Adam maupun yang lainnya, kecuali berada di bawah benderaku, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat serta yang pertama kali dikabulkan syafaatnya dan bukan untuk berbangga.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan kelebihan diri beliau bukan dalam rangka menyombongkan diri atau berbangga-bangga, melainkan sebatas memberitahukan kepada umat mengenai kedudukan mulia beliau pada hari kiamat kelak. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seseorang diperbolehkan menyebutkan kelebihan dirinya saat dibutuhkan, dengan syarat mutlak tidak berniat untuk pamer atau menyombongkan diri.

Di dalam hadits riwayat Imam Muslim dikisahkan bahwa pada hari kiamat kaum mukminin akan mendatangi para nabi besar, mulai dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa Alaihimussallam. Kaum mukminin berharap agar para nabi tersebut memberikan syafaat, namun seluruh nabi tersebut menolaknya. Akhirnya, manusia datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda:

أَنَا لَهَا

“Akulah pemilik syafaat itu.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hak kepemilikan syafaat yang paling agung (syafaatul uzma) pada hari kiamat diputuskan khusus hanya untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Alasan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan bendera pujian kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah karena beliau merupakan manusia yang paling terpuji, baik dari segi akhlak maupun kualitas ibadahnya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna di dalam mendedikasikan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bendera pujian tersebut dihadirkan agar menjadi tempat bernaung dan berlindung bagi seluruh golongan manusia yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari generasi manusia awal hingga generasi yang paling akhir. Sesuai dengan isyarat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits, keberadaan seluruh nabi termasuk Nabi Adam Alaihissalam di bawah naungan bendera beliau merupakan bukti nyata atas keagungan makam pujian tersebut.

Perlu dipahami secara saksama bahwa bendera pujian (liwaul hamdi) yang dimaksud di dalam hadits ini merupakan sebuah bendera fisik yang berwujud hakiki, dan bukan sekadar bahasa kiasan atau metafora. Umat Islam diwajibkan untuk memahami setiap amanat kalimat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sesuai dengan makna hakikinya selama tidak ada dalil yang memalingkannya.

Setiap mukmin wajib memahami ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sesuai dengan makna hakikatnya, serta tidak boleh mengalihkan makna tersebut kepada bentuk kiasan kecuali apabila terdapat dalil yang mengharuskannya. Makna hakiki adalah makna awal yang langsung dipahami oleh akal tanpa harus melalui proses berpikir yang panjang.

Sebagai contoh di dalam penggunaan bahasa, saat seseorang mengatakan bahwa ia melihat seekor singa, maka makna yang langsung ditangkap oleh pikiran adalah binatang buas. Begitu pula ketika seseorang mengatakan bahwa kemarin ia membeli seekor kambing, maka makna hakiki yang langsung dipahami adalah hewan ternak kambing yang sudah masyhur.

Berdasarkan kaidah tersebut, keberadaan bendera pujian (liwaul hamdi) pada hari kiamat wajib dipahami secara hakiki sebagai sebuah bendera fisik yang nyata. Makna ini tidak boleh dianggap sebagai kiasan atau metafora semata sebelum ada dalil sah yang memalingkan maknanya.

Karakteristik Pengikut Bendera Pujian

Bendera yang hakiki tersebut akan dibawa langsung oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan tangan beliau pada hari kiamat. Di bawah naungan bendera itulah, seluruh golongan manusia yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (al-hammadun), mulai dari generasi awal hingga generasi paling akhir, akan datang untuk bergabung bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedekatan posisi seorang hamba dengan bendera Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditentukan oleh kadar aktivitasnya selama di dunia. Orang yang posisinya paling dekat dengan bendera tersebut adalah mereka yang paling banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, paling sering mengingat-Nya (dzikrullah), serta paling kuat dalam menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Umat Nabi Muhammad Sebagai Umat Terbaik yang Gemar Memuji

Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditetapkan sebagai umat manusia yang terbaik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 110)

Predikat sebagai umat terbaik ini disandang karena umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan golongan yang paling banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam berbagai momentum kehidupan. Di dalam ibadah shalat, pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa diucapkan saat membaca surat Al-Fatihah maupun ketika bangkit dari rukuk (i’tidal).

Kebiasaan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dipraktikkan oleh seorang muslim di luar ibadah shalat, seperti saat menaiki kendaraan, selesai menyantap makanan, serta dalam berbagai aktivitas harian lainnya.

Mengenai keutamaan orang yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, terdapat sebuah riwayat yang berbunyi:

أَوَّلُ مَنْ يُدْعَى إِلَى الْجَنَّةِ الْحَمَّادُونَ، الَّذِينَ يَحْمَدُونَ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

“Orang yang pertama kali dipanggil ke surga adalah orang-orang yang suka memuji Allah, yaitu mereka yang senantiasa memuji Allah baik dalam keadaan senang maupun susah.” (HR. Ibnu Mubarak)

Syaikh Al-Albani menilai hadits ini berstatus dhaif (lemah). Namun, Syaikh Abdur Razzaq menjelaskan bahwa riwayat ini dimuat oleh Imam Ibnu Mubarak di dalam kitab Az-Zuhd dengan sanad yang sahih secara maukuf (berhenti pada perkataan sahabat). Mengingat redaksi riwayat tersebut berbicara mengenai perkara gaib yang tidak mungkin berasal dari hasil ijtihad atau pemikiran pribadi seorang sahabat, maka riwayat maukuf ini secara hukum memiliki kedudukan yang sama dengan hadits marfu’.

Riwayat tersebut menunjukkan penegasan yang luar biasa bahwa manusia yang pertama kali dipanggil untuk memasuki surga adalah mereka yang konsisten mengucap tahmid dalam segala situasi. Sebagian besar manusia sering kali hanya mengucap alhamdulillah saat menerima limpahan nikmat atau kelancaran bisnis saja, namun langsung merespons dengan cemberut saat menghadapi kerugian.

Perilaku tersebut berbeda dengan teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saat melihat perkara yang menyenangkan, beliau membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.” (HR. Ibnu Majah)

Sementara itu, saat menyaksikan perkara yang tidak menyenangkan atau disukainya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.” (HR. Ibnu Majah)

Sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Umatnya di Dalam Kitab Terdahulu

Terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, seorang ulama ahli kitab yang kemudian memeluk Islam. Beliau menyatakan bahwa di dalam kitab Taurat yang asli ditemukan tulisan mengenai karakteristik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta umatnya:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَا فَظٌّ وَلَا غَلِيظٌ، وَلَا صَخَّابٌ بِالْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنَّهُ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ، وَيَحْمَدُونَهُ فِي كُلِّ مَنْزِلَةٍ

“Muhammad adalah Rasul Allah ﷺ; beliau bukan orang yang kasar dalam perkataan, bukan pula berhati keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Akan tetapi beliau memaafkan dan mengampuni. Umat beliau adalah orang-orang yang banyak memuji Allah; mereka mengagungkan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi di setiap tempat yang tinggi, dan mereka memuji-Nya di setiap tempat persinggahan.” (HR. Ad-Darimi)

Keterangan tersebut memberikan kepastian bahwa gambaran kelembutan pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta identitas umatnya yang gemar mengucap tahmid dan takbir sudah diabadikan sejak dahulu di dalam kitab suci sebelum Al-Qur’an, meskipun kitab Taurat yang beredar pada masa sekarang telah mengalami banyak perubahan tangan manusia.

Fasilitas Rumah Pujian (Baitul Hamdi) di Surga

Di dalam surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan sebuah fasilitas istimewa berupa rumah yang dinamakan Rumah Pujian (Baitul Hamdi). Rumah ini dibangun khusus bagi para hamba yang konsisten memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kondisi senang maupun susah, serta memiliki keteguhan sabar saat menghadapi keputusan takdir yang pahit.

Mengenai latar belakang pembangunan Rumah Pujian ini, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirman: ‘Lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirjā‘ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).’” (HR. At-Tirmidzi)

Pengucapan kalimat alhamdulillah saat ditimpa musibah kematian anak lahir dari keyakinan penuh bahwa setiap ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya mengandung kebaikan. Kematian anak yang belum balig dijanjikan akan menjadi dinding penghalang (hijab) bagi orang tuanya dari siksaan api neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sengaja mewafatkan anak tersebut lebih dini agar ia langsung menempati surga dan menjadi penyelamat bagi orang tuanya, yang mana hal ini merupakan sebuah keuntungan besar bagi sang anak maupun orang tuanya. Oleh karena itu, setiap kali ditimpa musibah apa pun, seorang hamba dianjurkan untuk tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melafalkan kalimat istirja:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami pengembara kembali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)

Seluruh musibah yang terjadi di dunia pada hakikatnya berfungsi sebagai penggugur dosa atau sarana pengangkat derajat seorang mukmin, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berlaku zalim kepada hamba-Nya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil sesuatu dari hambanya, kecuali karena Dia ingin memberi ganti yang jauh lebih baik berupa pahala, surga, maupun kematangan iman.

Kemampuan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah situasi yang sulit inilah yang mengantarkan seorang hamba meraih kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui pemahaman ini, muncul sebuah pertanyaan penting mengenai metode dan cara operasional yang harus ditempuh oleh seorang hamba agar dapat menggapai tingkatan derajat yang mulia tersebut.

Setiap mukmin tentu memiliki keinginan yang kuat agar bisa sampai kepada derajat yang mulia tersebut. Berkaitan dengan hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa kemampuan seorang hamba untuk memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala saat ditimpa kesusahan didasari oleh dua persaksian atau dua perkara:

  • Persaksian Pertama: Hamba tersebut memiliki ilmu dan keyakinan penuh bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghendaki semua takdir tersebut. Dia meyakini bahwa segala ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bernilai baik, tertata rapi, dan mapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana, Maha Mengetahui secara mendalam, lagi Maha Penyayang.
  • Persaksian Kedua: Hamba tersebut meyakini bahwa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dirinya jauh lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri untuk dirinya.

Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk hamba-Nya pasti merupakan perkara yang paling baik. Manusia sering kali menginginkan hal-hal yang enak saja, padahal sesuatu yang enak itu belum tentu berakibat baik bagi dirinya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menetapkan takdir yang pahit agar terdapat kebaikan serta hikmah yang agung di balik peristiwa tersebut. Manusia mungkin tidak memahaminya secara langsung, tetapi pada kemudian hari mereka baru menyadari adanya faedah-faedah besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan dari takdir yang pahit tersebut.

Sikap Mukmin Menghadapi Fluktuasi Ekonomi

Seorang mukmin yang sejati akan selalu memiliki keyakinan yang kokoh dalam menghadapi segala dinamika kehidupan, termasuk saat terjadi kenaikan harga atau nilai mata uang. Dia yakin bahwa di balik semua fenomena tersebut pasti terdapat hikmah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil dan tidak mungkin berbuat zalim kepada makhluk-Nya.

Peristiwa kenaikan harga ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika harga barang-barang di pasar melonjak mahal, para sahabat datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengadu dan meminta solusi:

يَا رَسُولَ اللَّهِ غَلَا السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا

“Wahai Rasulullah, harga-harga barang telah mahal, maka tentukanlah harga untuk kami.” (HR. Abu Dawud)

Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang meluruskan akidah mereka:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ

“Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menyempitkan rezeki, yang meluaskan rezeki, dan Yang Maha Pemberi rezeki.” (HR. Abu Dawud)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah prinsip akidah yang fundamental, yaitu meyakini bahwa seluruh perubahan kondisi ekonomi tidak pernah lepas dari takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Zat yang memegang kendali atas luas dan sempitnya rezeki hamba-Nya.

Kesadaran terhadap takdir mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntut seorang hamba untuk tidak terburu-buru mengeluh atau menyalahkan keadaan saat ditimpa kesulitan ekonomi. Umat Islam diperintahkan untuk menghadapi situasi tersebut dengan tawakal dan ikhtiar.

Perlu ditegaskan bahwa konsep tawakal yang benar sudah pasti mencakup aktivitas ikhtiar (usaha) di dalamnya. Tawakal memiliki dua rukun utama yang saling mengikat, yaitu melakukan ikhtiar secara maksimal secara lahiriah dan menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara batiniah. Seseorang yang memahami hakikat tawakal dengan benar tidak akan mempertanyakan urgensi ikhtiar, karena ikhtiar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tawakal itu sendiri.

Keistimewaan Sikap Mukmin di Setiap Ketetapan Takdir

Segala bentuk musibah dan takdir pahit yang menimpa seorang muslim pada hakikatnya bermuara pada kebaikan dirinya. Keistimewaan respons terhadap takdir ini hanya dianugerahkan khusus kepada orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah Allah menetapkan suatu takdir bagi seorang mukmin melainkan takdir itu baik baginya. Dan hal itu tidaklah dimiliki oleh siapapun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu urusan kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka hal itu pun urusan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Melalui hadits ini, Kehidupan seorang mukmin diwarnai oleh sikap bersyukur saat menerima kesenangan dengan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhi larangan-Nya, dan bersikap sabar saat menghadapi kesusahan. Seorang mukmin memiliki keyakinan kuat bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada maksud baik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa seluruh takdir yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seorang mukmin akan membuahkan kebaikan apabila dihadapi dengan sabar saat susah dan dengan bersyukur saat senang.

Kehidupan di dunia memang sengaja Allah Subhanahu wa Ta’ala pergilirkan. Ada kalanya manusia berada di atas, dan ada kalanya berada di bawah. Ada kalanya merasakan kesenangan, dan ada kalanya merasakan kesusahan. Hikmah di balik pergiliran kondisi ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid[57]: 23)

Apabila manusia terus-menerus merasakan kesenangan, mereka akan rentan tertipu oleh kehidupan dunia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian agar mereka tidak terlena. Sebaliknya, apabila manusia terus-menerus merasakan kesusahan, mereka akan rentan berputus asa, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesenangan agar harapan mereka tetap terjaga.

Kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan bagi seorang mukmin melalui siklus ini adalah agar hamba tersebut dapat merealisasikan penghambaan (ubudiyah) dalam segala situasi, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Keadaan yang selalu senang tanpa ada kesusahan sama sekali hanya akan didapatkan kelak di dalam surga. Dunia pada hakikatnya merupakan negeri ujian (darul bala). Seseorang yang hanya menghendaki kesenangan tanpa mau menerima kesusahan di dunia akan menjadi pribadi yang kufur nikmat, mudah berputus asa, bahkan berprasangka buruk (suuzon) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Konsistensi Memuji Allah dan Kisah Yunus bin Ubaid

Seorang hamba yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa seluruh takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kebaikan bagi dirinya pasti akan selalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap keadaan, baik saat lapang, sempit, senang, maupun susah.

Terkait hal ini, dikisahkan ada seorang laki-laki yang datang menemui Yunus bin Ubaid untuk mengadukan perihal sempitnya kondisi kehidupan dan ekonomi yang sedang dialaminya. Menanggapi pengaduan tersebut, Yunus bin Ubaid mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengingatkan nikmat kesehatan yang ada pada diri laki-laki tersebut. Yunus bertanya mengenai kesediaan laki-laki itu apabila matanya dibeli dengan harga seratus ribu dirham, dan laki-laki itu menolaknya. Yunus kemudian bertanya lagi mengenai kesediaan jika kedua tangan serta kedua kakinya dihargai masing-masing seratus ribu dirham, dan laki-laki itu tetap menolak.

Setelah Yunus bin Ubaid menjabarkan berbagai macam nikmat fisik yang tidak ternilai tersebut, beliau memberikan teguran yang mendalam kepada laki-laki itu:

أَرَى عِنْدَكَ مِئِينَ الْأُلُوفِ وَأَنْتَ تَشْكُو الْحَاجَةَ

“Aku melihat dirimu sebenarnya memiliki harta senilai ratusan ribu dirham, namun kamu masih saja mengadukan kesusahan dan keperluanmu.” (dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa setiap kesusahan yang menimpa harus dihadapi dengan kesabaran. Kehidupan manusia tidak akan selamanya berjalan mendalam di dalam kesusahan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan masa kesenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan janji yang pasti di dalam Al-Qur’an:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah[94]: 5-6)

Kisah Kehilangan Harta Dunia dalam Atsar Salman Al-Farisi

Pelajaran mengenai perubahan takdir dunia juga disebutkan di dalam sebuah atsar dari sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu anhu. Beliau menceritakan perihal kisah seorang laki-laki pada masa lalu:

إِنَّ رَجُلًا بُسِطَ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا، فَانْتُزِعَ مَا فِي يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang telah diluaskan rezekinya di dunia, kemudian seluruh kenikmatan dan kesenangan yang ada di tangannya tersebut dicabut hingga habis ludes oleh Allah, namun laki-laki itu justru tetap memuji Allah dan menyanjung-Nya.” (Dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Laki-laki di dalam atsar Salman Al-Farisi radhiallahu anhu tersebut terus memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kondisinya sedemikian memprihatinkan hingga ia tidak memiliki harta benda apa pun lagi selain selembar tikar ranggas untuk tidur. Meskipun berada di dalam kemiskinan yang ekstrem, ia secara konsisten tetap mengucap tahmid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada waktu yang sama, ada seorang laki-laki lain yang mendapatkan kelapangan rezeki duniawi menyaksikan keteguhan hamba tersebut. Orang kaya itu merasa heran lalu bertanya kepada sang pemilik tikar:

أَرَأَيْتَكَ أَنْتَ عَلَى مَا تَحْمَدُ اللَّهَ؟

“Kabarkan kepadaku, atas dasar apa kamu terus memuji Allah?” (Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam ‘Uddat as-Sabirin, hlm. 167 : Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Pertanyaan tersebut diajukan untuk mencari tahu alasan di balik pujian yang terus mengalir dari seorang hamba yang kondisi rezekinya sangat sempit dan hidupnya penuh kesusahan. Pemilik tikar itu kemudian memberikan jawaban yang sangat berharga:

أَحْمَدُهُ عَلَى مَا لَوْ أُعْطِيتُ بِهِ مَا أُعْطِيَ الْخَلْقُ لَمْ أُعْطِهِمْ إِيَّاهُ

“Aku memuji Allah atas karunia nikmat yang apabila aku ditawarkan untuk menukarnya dengan seluruh ciptaan yang ada, aku tidak akan pernah sudi memberikannya kepada siapa pun.” (Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam ‘Uddat as-Sabirin, hlm. 167 : Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Laki-laki kaya itu bertanya kembali mengenai wujud dari nikmat luar biasa yang dimaksud. Pemilik tikar menjelaskan bahwa nikmat yang ia maksud adalah karunia berupa penglihatan mata, lisan untuk berbicara, dua tangan, serta dua kaki yang melekat pada tubuhnya. Karunia fisik tersebut merupakan nikmat yang sangat agung yang wajib disyukuri dengan ucapan alhamdulillah.

Manusia sering kali tidak menyadari bahwa kesehatan indra dan anggota tubuh merupakan nikmat yang sangat besar. Kemampuan mata untuk melihat serta telinga untuk mendengar merupakan karunia yang luar biasa. Masalah yang sering terjadi adalah karena nikmat sehat tersebut sudah menjadi kebiasaan harian, manusia menjadi tidak merasakannya sebagai sebuah kenikmatan. Kebanyakan manusia mempersempit definisi nikmat hanya pada bentuk uang, harta, atau makanan saja, sementara mereka mengabaikan nikmat fungsi mata yang mereka gunakan setiap hari.

Alhamdulillah sebagai Doa yang Paling Utama

Keutamaan ucapan alhamdulillah juga ditetapkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu. Beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Zikir yang paling utama adalah la ilaha illallah dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah.” (HR. At-Tirmidzi)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan bahwa bentuk doa yang paling utama dan tinggi kedudukannya adalah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan ini terhitung unik karena secara hakikat, kalimat pujian (tahmid) merupakan bentuk sanjungan yang ditujukan kepada Zat Yang Maha Terpuji yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diucapkan dengan penuh rasa cinta dan pengagungan di dalam hati.

Mengenai alasan mengapa kalimat pujian dikategorikan sebagai doa, ulama besar Sufyan bin Uyainah rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang yang meminta penjelasan mengenai status ucapan alhamdulillah sebagai doa. Menjawab pertanyaan tersebut, Sufyan bin Uyainah memberikan penjelasan dengan mengambil analogi dari tradisi sastra Arab kuno. Beliau mengutip bait syair yang digubah oleh Umayyah bin Abi Shalt ketika hendak mendatangi seorang tokoh dermawan bernama Abdullah bin Jud’an untuk meminta bantuan demi menikahi seorang wanita bernama Nailah:

أَأَذْكُرُ حَاجَتِي أَمْ قَدْ كَفَانِي حَبَاؤُكَ إِنَّ شِيمَتَكَ الْحَيَاءُ

إِذَا أَثْنَى عَلَيْكَ الْمَرْءُ يَوْمًا كَفَاهُ مِنْ تَعَرُّضِهِ الثَّنَاءُ

“Apakah aku perlu menyebutkan kebutuhanku, ataukah pemberianmu telah mencukupiku? Sesungguhnya sifatmu adalah rasa malu (sehingga engkau memberi sebelum diminta).”

“Apabila seseorang memujimu suatu hari, maka pujian itu sudah cukup sebagai ungkapan kebutuhannya tanpa harus memintanya secara langsung.” (Dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Bait syair tersebut menunjukkan suatu kaidah sosial bahwa ketika seseorang melayangkan pujian dan sanjungan yang indah kepada sosok yang dermawan, maka esensi dari pujian tersebut pada hakikatnya adalah sebuah isyarat permohonan bantuan. Orang yang memuji tidak perlu lagi memperjelas maksud kebutuhannya karena sang dermawan sudah memahami maksud di balik sanjungan tersebut.

Jika prinsip ini berlaku di antara sesama makhluk, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Zat Yang Maha Dermawan tentu jauh lebih mengetahui maksud dan kebutuhan hamba-Nya yang datang menghadap dengan mengagungkan kalimat alhamdulillah. Pujian murni yang dialamatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara otomatis bernilai sebagai sebuah doa permohonan yang paling agung di sisi-Nya.

Metode memuji seseorang dengan tujuan tersembunyi untuk meminta bantuan menunjukkan bahwa aktivitas memuji pada hakikatnya sudah termasuk ke dalam bentuk permohonan. Ketika seseorang melayangkan pujian yang tinggi kepada temannya mengenai kedermawanannya, esensi dari tujuan tersebut adalah meminta sesuatu. Atas dasar logika inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan bahwa bentuk doa yang paling utama adalah kalimat pujian (tahmid).

Prinsip tersebut dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai karakteristik penduduk surga:

وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin’ (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).” (QS. Yunus[10]: 10)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa doa terbagi menjadi dua macam, yaitu doa permohonan (dua’ul mas’alah) dan doa ibadah (dua’ul ibadah). Seseorang yang memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia-Nya secara otomatis telah menunaikan kedua macam doa tersebut sekaligus. Dia telah meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus beribadah kepada-Nya, sehingga ia disebut sebagai orang yang berdoa secara hakiki. Ketentuan ini sejalan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah yang hidup kekal, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Allah; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir[40]: 65)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat manusia untuk berdoa dengan cara mengikhlaskan amal semata-mata untuk-Nya, kemudian Dia menyebutkan redaksi doa tersebut dalam wujud kalimat alhamdulillahirabbil ‘alamin. Hal ini menjadi hujah yang kuat bahwa kalimat tahmid dikategorikan sebagai bagian dari doa.

Kedudukan Kalimat Thayyibah di Dalam Timbangan Amal

Dalil lain yang menyebutkan tentang keutamaan ucapan alhamdulillah serta besarnya nilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala termuat di dalam kitab Sahih Muslim dari sahabat Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ ـ أَوْ تَمْلَأُ ـ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci itu separuh keimanan, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan, dan ucapan subhanallah serta alhamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau menghujatmu. Setiap manusia pergi pada pagi hari untuk menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR. Muslim)

Mengingat kesucian terbagi menjadi dua aspek, yaitu kesucian hati dan kesucian anggota badan, aktivitas bersuci fisik seperti berwudu dinilai sebagai separuh keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa ucapan alhamdulillah memiliki bobot pahala yang sangat besar hingga mampu memenuhi mizan (timbangan amal).

Sebagian ulama berpendapat bahwa makna memenuhi timbangan tersebut berarti apabila kalimat alhamdulillah diwujudkan dalam bentuk fisik, maka ukurannya akan memenuhi mizan. Namun, pendapat tersebut dinilai kurang tepat. Pendapat yang benar adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengubah amalan-amalan keduniaan para hamba-Nya menjadi bentuk rupa materi pada hari kiamat untuk kemudian ditimbang. Di antara sekian banyak amal saleh yang ditimbang, ucapan alhamdulillah merupakan salah satu komponen yang paling memberatkan mizan.

Keutamaan timbangan amal ini berkaitan erat dengan hadits masyhur mengenai dua kalimat yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman, ringan di lisan, namun berat di dalam timbangan, yaitu: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘adzim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua kalimat thayyibah tersebut sangat mudah dan hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk dilafalkan. Manusia sering kali mengalami kerugian karena lebih senang menghabiskan waktu untuk menyebut nama orang lain atau membicarakan urusan sesama makhluk daripada melafalkan kalimat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Ucapan alhamdulillah memiliki kedudukan yang sangat agung serta pahala yang melimpah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak boleh dipandang remeh oleh seorang hamba.

sumber : https://www.radiorodja.com/56321-dalil-dalil-sunnah-mengenai-keutamaan-ucapan-alhamdulillah/

Bacaan Dzikir Saat Sakit Gigi Sesuai Tuntunan Islam, Amalan Penenang Saat Nyeri Menyerang

Bacaan Dzikir Saat Sakit Gigi Sesuai Tuntunan Islam, Amalan Penenang Saat Nyeri Menyerang

Jakarta – bacaan dzikir saat sakit gigi sesuai tuntunan islam menjadi salah satu amalan yang banyak dicari umat Muslim ketika rasa nyeri pada gigi datang secara tiba-tiba. Sakit gigi sering membuat seseorang kesulitan makan, berbicara, bahkan beristirahat dengan nyaman.

bacaan dzikir saat sakit gigi sesuai tuntunan islam tidak hanya menjadi bentuk ikhtiar batin, tetapi juga pengingat bahwa setiap penyakit dan kesembuhan berada dalam kuasa Allah SWT. Karena itu, dzikir dan doa dianjurkan untuk dibaca bersamaan dengan usaha pengobatan yang tepat.

Rasa sakit pada gigi dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari gigi berlubang, infeksi gusi, hingga masalah saraf gigi. Kondisi tersebut sering kali menimbulkan rasa berdenyut yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam Islam, seseorang yang sedang sakit dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Amalan ini menjadi sarana memohon pertolongan sekaligus menguatkan hati agar tetap sabar menghadapi ujian kesehatan.

Dzikir dan Doa Saat Rasa Nyeri Muncul

Salah satu dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW ketika merasakan sakit adalah meletakkan tangan pada bagian yang sakit sambil membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ

Latin: Bismillah (3 kali)

Artinya: Dengan menyebut nama Allah.

Setelah itu dilanjutkan dengan membaca:

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Latin: A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (7 kali)

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan.

Doa tersebut diriwayatkan dalam hadits sahih dan sering diamalkan ketika seseorang mengalami rasa sakit pada bagian tubuh tertentu. Termasuk ketika nyeri gigi terasa sangat mengganggu.

Selain membaca dzikir tersebut, seseorang dianjurkan untuk menghadirkan keyakinan bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Keyakinan itu menjadi bagian penting dalam setiap doa yang dipanjatkan.

Doa Memohon Kesembuhan dari Sakit Gigi

Para ulama juga menukil doa yang dibaca untuk memohon hilangnya rasa sakit. Doa ini dikenal luas dalam kitab-kitab doa dan amalan harian umat Islam.

اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنْهُ سُوءَ مَا يَجِدُ وَفُحْشَهُ بِدَعْوَةِ نَبِيِّكَ الْمُبَارَكِ الْمَكِينِ عِنْدَكَ

Latin: Allahumma adzhib ‘anhu suu-a ma yajidu wa fuhsyahu bida’wati nabiyyikal mubarakil makini ‘indaka.

Artinya: Ya Allah, hilangkan darinya keburukan yang ia rasakan dan penderitaannya dengan doa Nabi-Mu yang mulia di sisi-Mu.

Doa tersebut dapat dibaca sambil meletakkan tangan pada bagian wajah atau pipi yang berdekatan dengan gigi yang terasa sakit. Banyak ulama menganjurkan membacanya sebanyak tiga hingga tujuh kali.

Amalan ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti pengobatan medis. Islam mengajarkan keseimbangan antara berdoa dan berikhtiar mencari pengobatan yang sesuai.

Teladan Rasulullah SAW Saat Menghadapi Rasa Sakit

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan berbagai doa ketika menghadapi penyakit. Tujuannya agar umat Islam senantiasa bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan.

Ketika rasa sakit datang, seorang Muslim dianjurkan tetap menjaga kesabaran. Kesabaran tersebut menjadi salah satu sebab datangnya pahala dan penghapusan dosa.

Sakit gigi yang terlihat ringan terkadang mampu mengganggu seluruh aktivitas seseorang. Karena itu, menjaga kesehatan gigi sejak dini menjadi langkah penting agar terhindar dari gangguan yang berkepanjangan.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Menurut Islam

Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan kebersihan. Kebersihan mulut dan gigi termasuk bagian yang mendapat perhatian khusus dalam ajaran Rasulullah SAW.

Salah satu sunnah yang terkenal adalah bersiwak. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siwak dapat membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah SWT.

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

Latin: As-siwaku mathharatun lil fami mardhatun lir rabb.

Artinya: Siwak membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah.

Kebiasaan menjaga kebersihan mulut membantu mengurangi risiko munculnya berbagai penyakit gigi dan gusi. Karena itu, ajaran bersiwak tetap relevan hingga sekarang.

Selain bersiwak, menyikat gigi secara teratur juga menjadi bagian dari menjaga amanah tubuh yang diberikan Allah SWT. Langkah sederhana ini dapat mencegah banyak masalah kesehatan mulut.

Ikhtiar Medis dan Ikhtiar Spiritual

Islam tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga mendorong umatnya untuk mencari pengobatan. Ketika sakit gigi terjadi, konsultasi dengan dokter gigi menjadi langkah yang sangat dianjurkan.

Dokter dapat membantu menemukan penyebab utama nyeri sehingga penanganan yang diberikan lebih tepat. Dengan demikian, proses penyembuhan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

Di sisi lain, dzikir dan doa tetap menjadi penguat hati selama menjalani pengobatan. Kombinasi keduanya mencerminkan ajaran Islam yang seimbang antara usaha lahir dan batin.

Menjaga Kebiasaan yang Mendukung Kesembuhan

Selain pengobatan medis, ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu mengurangi keluhan sakit gigi. Salah satunya adalah menjaga pola makan dan menghindari makanan yang terlalu manis atau terlalu dingin.

Mengurangi konsumsi makanan pemicu nyeri dapat membantu saraf gigi menjadi lebih tenang. Langkah sederhana ini sering dianjurkan oleh tenaga kesehatan saat seseorang mengalami gangguan pada gigi.

Memperbanyak minum air putih juga menjadi kebiasaan yang baik selama masa pemulihan. Air membantu menjaga kelembapan rongga mulut dan membersihkan sisa makanan yang menempel.

Terapi Air Putih Sebagai Pendamping Ikhtiar

Banyak orang menjadikan air putih sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari. Konsumsi air yang cukup membantu menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

Saat bangun tidur, sebagian orang membiasakan diri meminum beberapa gelas air putih hangat. Kebiasaan tersebut dipercaya membantu tubuh memulai aktivitas dengan lebih baik.

Air hangat juga sering memberikan rasa nyaman pada area mulut dan tenggorokan. Meski bukan obat utama, kebiasaan ini dapat menjadi pendamping ikhtiar kesehatan yang aman.

Meskipun demikian, terapi air putih tidak menggantikan pemeriksaan medis. Jika sakit gigi berlangsung lama, pemeriksaan dokter tetap menjadi langkah yang paling dianjurkan.

Dzikir Membantu Menenangkan Hati

Ketika sakit menyerang, bukan hanya tubuh yang merasakan dampaknya. Pikiran juga sering menjadi tidak tenang akibat rasa nyeri yang terus muncul.

Di sinilah dzikir memiliki peran penting dalam kehidupan seorang Muslim. Mengingat Allah SWT dapat membantu hati menjadi lebih tenang dan lebih kuat menghadapi ujian.

Allah SWT menjelaskan bahwa dengan mengingat-Nya, hati akan memperoleh ketenangan. Karena itu, memperbanyak dzikir menjadi amalan yang sangat dianjurkan ketika sakit.

Selain dzikir khusus saat sakit, seseorang juga dapat memperbanyak istighfar dan membaca tasbih. Amalan tersebut menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Doa Kesembuhan yang Bisa Diamalkan

Di antara doa kesembuhan yang juga dapat dibaca saat sakit gigi adalah:

أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يُعَافِيَكَ وَيَشْفِيَكَ

Latin: As’alullahal ‘azhim rabbal ‘arsyil ‘azhim an yu’afiyaka wa yasyfiyaka.

Artinya: Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Pemilik Arsy yang agung, agar memberikan kesehatan dan kesembuhan kepadamu.

Doa ini termasuk doa yang populer dibaca ketika menjenguk orang sakit maupun saat mendoakan diri sendiri. Kandungannya berisi permohonan langsung kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan.

Pengulangan doa dengan penuh keyakinan menjadi bagian dari adab berdoa. Semakin kuat harapan kepada Allah, semakin besar pula semangat untuk menjalani proses penyembuhan.

Kesabaran Menjadi Kunci Menghadapi Ujian

Sakit gigi sering dianggap masalah ringan, padahal rasa nyerinya dapat mengganggu hampir seluruh aktivitas. Tidak sedikit orang yang kesulitan tidur akibat rasa berdenyut yang muncul sepanjang malam.

Dalam kondisi seperti itu, kesabaran menjadi bekal yang sangat penting. Seorang Muslim diajarkan untuk tetap berbaik sangka kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.

Ujian sakit juga menjadi pengingat bahwa kesehatan merupakan nikmat yang sangat besar. Ketika sehat, seseorang sering kali tidak menyadari betapa berharganya kemampuan makan, berbicara, dan beraktivitas tanpa rasa sakit.

Karena itu, menjaga kesehatan gigi dan mulut perlu menjadi perhatian sejak dini. Kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi secara rutin dapat memberikan manfaat besar dalam jangka panjang.

Mengamalkan doa dan dzikir ketika sakit merupakan bagian dari tuntunan Islam yang penuh hikmah. Selain memohon kesembuhan, amalan tersebut juga membantu menenangkan hati dan menguatkan keyakinan kepada Allah SWT.

Pada saat yang sama, umat Islam tetap dianjurkan melakukan ikhtiar medis sesuai kebutuhan. Pengobatan dan doa merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam proses penyembuhan.

Dengan menjaga kebersihan gigi, rutin memeriksakan kesehatan mulut, serta memperbanyak doa dan dzikir, risiko gangguan gigi dapat diminimalkan. Kebiasaan baik ini juga mendukung kualitas ibadah sehari-hari.

Sebagai penutup, bacaan dzikir saat sakit gigi sesuai tuntunan islam dapat diamalkan bersamaan dengan pengobatan yang tepat agar seorang Muslim memperoleh ketenangan hati sekaligus berharap datangnya kesembuhan dari Allah SWT.

Pertanyaan Seputar Doa Sakit Gigi

    1. Apa bacaan dzikir saat sakit gigi sesuai tuntunan Islam? Dzikir yang dianjurkan adalah membaca “Bismillah” tiga kali lalu membaca “A’udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru” sebanyak tujuh kali.
    2. Apakah doa sakit gigi bisa menggantikan pengobatan dokter? Tidak. Doa merupakan ikhtiar spiritual yang sebaiknya disertai pemeriksaan dan pengobatan medis.
    3. Berapa kali doa sakit gigi dibaca? Umumnya dianjurkan tiga hingga tujuh kali sambil meletakkan tangan pada bagian yang terasa sakit.
    4. Apakah siwak dapat membantu menjaga kesehatan gigi? Ya. Siwak dianjurkan dalam Islam karena membantu membersihkan mulut dan menjaga kesehatan gigi.
    5. Apa yang harus dilakukan jika sakit gigi tidak kunjung sembuh? Segera periksakan diri ke dokter gigi untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.

sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/7962326/bacaan-dzikir-saat-sakit-gigi-sesuai-tuntunan-islam-amalan-penenang-saat-nyeri-menyerang