Cerahkan peradaban dengan nanoteknologi

Cerahkan peradaban dengan nanoteknologi

Jakarta (ANTARA) – Indonesia tidak kekurangan riset nanoteknologi. Di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, kita dapat menemukan studi tentang nanopartikel, nanomaterial, nanosensor, membran, biomaterial, sistem penghantaran obat, material energi, hingga pemanfaatan biomassa dan sumber daya alam.

Paper terbit, prototipe dibuat, paten didaftarkan. Namun pertanyaan terpenting justru muncul setelah itu: Berapa banyak hasil penelitian tersebut yang benar-benar menjadi produk, layanan, atau teknologi yang digunakan masyarakat?

Di sinilah persoalan utama pengembangan nanoteknologi kita berada. Tantangannya bukan semata-mata kemampuan menghasilkan pengetahuan baru, melainkan kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi manfaat.

Banyak inovasi berhenti di wilayah yang dikenal sebagai valley of death, lembah kematian inovasi, yaitu tahap ketika hasil laboratorium belum cukup matang, belum cukup konsisten, belum cukup ekonomis, atau belum memiliki jalur regulasi dan pasar untuk menjadi produk nyata.

Jarak antara laboratorium dan aplikasi memang tidak sederhana. Material yang bekerja sangat baik pada skala miligram atau gram belum tentu mempertahankan karakter yang sama ketika diproduksi dalam jumlah besar.

Perubahan suhu, kecepatan pencampuran, kualitas bahan baku, kelembaban, metode pengeringan, urutan proses, atau kondisi penyimpanan dapat mengubah sifat akhir nanomaterial.

Dalam aplikasi kesehatan, persoalannya bertambah karena produk juga harus memenuhi tuntutan keamanan, toksikologi, biodistribusi, stabilitas, konsistensi antar-batch, efektivitas, serta regulasi.

Karena itu, kesalahan yang perlu dihentikan adalah memperlakukan hilirisasi sebagai pekerjaan yang baru dimulai setelah penelitian selesai. Translasi bukan bab terakhir penelitian. Ia harus menjadi bagian dari desain penelitian sejak pertanyaan pertama dirumuskan.

Sejak awal, peneliti perlu mengetahui masalah apa yang hendak diselesaikan, siapa pengguna akhirnya, atribut mutu apa yang harus dipertahankan, bagaimana teknologi akan diproduksi dalam skala lebih besar, berapa kira-kira biayanya, regulasi apa yang harus dipenuhi, dan siapa mitra yang dapat membawanya ke tahap berikutnya.

Pertama, riset nanoteknologi perlu lebih kuat berbasis problematika, bukan semata-mata berbasis material. Pertanyaan “nanomaterial apa yang dapat kita buat?” perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih penting dan spesifik: “masalah apa yang dapat kita selesaikan dengan lebih baik?”

Indonesia memiliki kebutuhan nyata dalam kesehatan, air bersih, pangan, lingkungan, energi, dan material maju. Fokus pada kebutuhan konkret akan membantu riset memiliki jalur translasi yang lebih jelas sekaligus mencegah inovasi berhenti sebagai demonstrasi teknologi yang menarik tetapi tidak memiliki pengguna.

Kedua, industri harus dilibatkan lebih awal. Hubungan peneliti dan industri tidak seharusnya baru dimulai ketika prototipe sudah selesai dan peneliti sedang mencari pihak yang bersedia memproduksinya.

Industri perlu hadir sejak fase pengembangan untuk memberi masukan mengenai bahan baku, proses produksi, kendali mutu, rantai pasok, biaya, kebutuhan pasar, dan persyaratan teknis. Dengan demikian, desain laboratorium tidak berjalan terpisah dari realitas manufaktur.

Ketiga, Indonesia membutuhkan fasilitas translasi bersama. Banyak kelompok riset mampu melakukan sintesis dan karakterisasi awal, tetapi tidak semuanya memiliki akses terhadap instrumen karakterisasi lanjutan, fasilitas manufaktur percontohan, pengujian keamanan, standardisasi, ataupun quality assurance yang diperlukan untuk melangkah menuju produk.

Infrastruktur semacam ini tidak harus dimiliki oleh setiap institusi. Yang lebih penting adalah membangun jejaring fasilitas yang dapat diakses secara transparan, memiliki standar layanan yang jelas, dan mampu menjembatani universitas, lembaga riset, rumah sakit, regulator, serta industri.

Keempat, pembiayaan riset perlu memiliki jalur khusus untuk tahap translasi. Skema pendanaan akademik sering kuat untuk menghasilkan publikasi, tetapi fase setelah prototipe justru membutuhkan jenis dukungan yang berbeda: optimasi proses, scale-up, validasi, pengujian mutu, studi keamanan, dokumentasi regulatori, desain manufaktur, dan uji pasar.

Tahap ini sering terlalu aplikatif untuk hibah riset dasar, tetapi masih terlalu berisiko bagi investasi komersial. Tanpa instrumen pembiayaan yang dirancang untuk menutup celah tersebut, valley of death akan terus berulang.

Kelima, ukuran keberhasilan perlu diperluas. Publikasi dan paten tetap penting, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya indikator. Ekosistem inovasi juga perlu menghargai lisensi teknologi, kemitraan industri, produk yang lolos validasi, standar yang dihasilkan, prototipe yang berhasil ditingkatkan skalanya, teknologi yang masuk pengadaan, serta dampak yang benar-benar dirasakan pengguna.

Dengan ukuran seperti ini, peneliti tidak didorong hanya untuk “menyelesaikan proyek”, melainkan untuk membangun kesinambungan dari pengetahuan menuju pemanfaatan.

Semua itu menuntut kolaborasi lintas disiplin. Nanoteknologi tidak dapat berkembang hanya di tangan ahli material.

Untuk aplikasi kesehatan, misalnya, dibutuhkan dokter yang memahami kebutuhan klinis, ahli material yang memahami karakter nano, farmakolog dan toksikolog yang menilai keamanan, insinyur yang memikirkan proses produksi, ilmuwan data yang mengolah bukti, ekonom yang menilai kelayakan, regulator yang memahami risiko, serta industri yang mampu memproduksi secara konsisten.

Inovasi lahir di laboratorium, tetapi keberhasilan translasi lahir dari ekosistem.

Indonesia tidak perlu mengejar seluruh frontier nanoteknologi sekaligus. Kita justru perlu memilih sejumlah misi yang mempertemukan tiga hal: masalah nasional yang mendesak, kapasitas ilmiah yang sudah dimiliki, dan peluang untuk diproduksi serta digunakan.

Kesehatan presisi dan regeneratif, air dan lingkungan, pemanfaatan biomassa serta sumber daya kelautan, serta energi dan material maju dapat menjadi contoh wilayah prioritas. Fokus semacam ini membuat sumber daya, infrastruktur, regulasi, dan pembiayaan dapat diarahkan secara lebih konsisten.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang masa depan nanoteknologi Indonesia bukanlah berapa banyak nanopartikel yang mampu kita sintesis atau berapa banyak paper yang dapat kita terbitkan.

Pertanyaannya adalah berapa banyak masalah nyata yang dapat kita selesaikan secara aman, terukur, terjangkau, dan berkelanjutan. Kekayaan sumber daya baru menjadi kekuatan ketika diubah menjadi pengetahuan; pengetahuan menjadi teknologi; teknologi menjadi produk; dan produk bermanfaat dan berdampak positif bagi masyarakat.

Nanoteknologi bekerja pada skala yang sangat kecil, tetapi tantangan terbesarnya justru berada pada skala sistem. Kita memerlukan perubahan cara merancang riset, membangun kemitraan, membiayai translasi, menyediakan infrastruktur, mengelola regulasi, dan menilai keberhasilan.

Bila rantai itu dapat dibangun secara konsisten, maka laboratorium tidak lagi menjadi titik akhir inovasi, melainkan titik awal perjalanan menuju manfaat. Dari sanalah, nanoteknologi benar-benar berperan mencerahkan peradaban.

*) Penulis adalah alumnus PhD IPCTRM Taipei Medical University, dokter riset, dosen, peneliti, penulis, kolumnis, reviewer jurnal internasional, trainer berlisensi BNSP

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5687580/cerahkan-peradaban-dengan-nanoteknologi

Pertamina Patra Niaga rampungkan proses docking 12 unit kapal

Pertamina Patra Niaga rampungkan proses docking 12 unit kapal

Jakarta (ANTARA) – PT Pertamina Patra Niaga merampungkan proses docking terhadap 12 unit kapal pada periode Februari 2026 hingga Juli 2026 sebagai bagian dari program pemeliharaan berkala (planned maintenance).

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan pelaksanaan docking tersebut merupakan komitmen perusahaan dalam memastikan armada laut selalu memenuhi standar keselamatan, keamanan, dan kelaiklautan guna mendukung kelancaran distribusi energi nasional.

Sebanyak 12 kapal yang telah menyelesaikan proses docking terdiri atas 2 kapal minyak mentah, 3 kapal gas dan petrokimia, 4 kapal produk I, dan 3 kapal produk II.

Armada kapal tersebut meliputi MT Serui, MT Gede, Transko Bima, Transko Aquila, Transko Aries, PIS Cepu, MT Matindok, MT Kasim, MT Pegadun, MT Sambu, MT Kamojang, dan MT Pasaman.

“Seluruh kegiatan pemeliharaan dilaksanakan di beberapa galangan kapal nasional melalui inspeksi, perawatan menyeluruh, penggantian komponen, serta pengujian operasional sebelum kapal kembali bertugas mendukung distribusi energi nasional,” ujar Kitty.

Kitty melanjutkan seluruh proses docking dirancang agar pemeliharaan armada dapat berjalan beriringan dengan operasional distribusi energi, sehingga tidak mengganggu pasokan kepada masyarakat.

“Program docking merupakan bentuk komitmen kami untuk memastikan pemeliharaan armada berjalan beriringan dengan operasional distribusi energi. Melalui pengaturan jadwal armada yang terencana, kami memastikan kontinuitas pasokan BBM, LPG, avtur, dan produk energi lainnya kepada masyarakat tetap terjaga,” ujar Kitty.

Selama proses docking, setiap kapal menjalani pemeriksaan menyeluruh terhadap struktur lambung, sistem propulsi, mesin utama dan mesin bantu, sistem perpipaan, tangki muatan, peralatan navigasi, hingga perangkat keselamatan.

Selain itu, dilakukan pemeliharaan preventif, pengecatan ulang lambung kapal, penggantian komponen yang telah mencapai masa pakai, serta pengujian kelaiklautan sesuai standar industri maritim dan ketentuan klasifikasi yang berlaku.

Kitty menambahkan pemeliharaan armada secara berkala menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memastikan setiap kapal selalu berada dalam kondisi prima dan siap mendukung distribusi energi di seluruh Indonesia.

“Keandalan armada laut menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi kepada masyarakat. Melalui program docking yang dilakukan secara berkala, Pertamina Patra Niaga memastikan setiap kapal berada dalam kondisi prima sehingga siap mendukung distribusi BBM, LPG, avtur, maupun produk energi lainnya secara aman, andal, dan berkelanjutan,” sebutnya.

Sebagai bagian dari penguatan sistem logistik energi nasional, lanjutnya, Pertamina Patra Niaga akan terus melaksanakan program pemeliharaan armada secara berkelanjutan dengan mengedepankan aspek health, safety, security, and environment (HSSE), kepatuhan terhadap regulasi maritim, serta penerapan praktik operasional terbaik.

“Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga distribusi energi nasional yang aman, andal, dan berkelanjutan,” jelas Kitty.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5688944/pertamina-patra-niaga-rampungkan-proses-docking-12-unit-kapal

Jenis suplemen berikut dapat bantu tidur jadi lebih nyenyak

Jenis suplemen berikut dapat bantu tidur jadi lebih nyenyak

Jakarta (ANTARA) – Menurut banyak penelitian, magnesium adalah jenis mineral yang diketahui dapat mendukung kualitas tidur jadi lebih baik dan membantu proses relaksasi tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan magnesium dapat membantu meningkatkan kualitas tidur, terutama pada orang yang memiliki kadar magnesium rendah, meskipun temuannya beragam dan dibutuhkan lebih banyak penelitian berkualitas tinggi sebagaimana dikutip dari siaran Eating Well pada Senin (10/8).

Ahli gizi terdaftar Toby Amidor, M.S., RDN, CDN mengatakan magnesium dapat dikonsumsi tanpa dicampur dengan kandungan dalam suplemen lain terlebih dahulu untuk dapat melihat respons tubuh. Hal ini dilakukan guna menghindari variabel yang mempersulit untuk mengetahui hasil sebenarnya.

“Saya lebih suka seseorang melihat bagaimana magnesium bekerja untuk mereka terlebih dahulu, kemudian mempertimbangkan untuk menambahkan satu suplemen lain dengan bijak, daripada mengonsumsi beberapa suplemen sekaligus dan berharap ada yang membantu,” kata Amidor.

Meski demikian, dia tidak menutup kemungkinan bahwa magnesium dapat dikonsumsi bersama dengan suplemen lain seperti beberapa jenis berikut.

Ashwagandha
Ashwagandha adalah ramuan yang digunakan dalam pengobatan tradisional, sering digambarkan sebagai adaptogen yaitu zat yang dipercaya membantu tubuh beradaptasi dengan stres.

Beberapa studi kecil menunjukkan bahwa ashwagandha dapat meningkatkan kualitas tidur dan membantu orang merasa kurang stres, yang secara tidak langsung dapat mendukung tidur. Namun, para ahli sepakat bahwa penelitian masih terus berkembang karena desain studi sangat bervariasi, dan data keamanan jangka panjang terbatas.

“Ashwagandha menunjukkan beberapa potensi, terutama bagi orang yang tidurnya terpengaruh oleh stres. Tetapi saya selalu mengingatkan klien bahwa studi-studi tersebut berskala kecil dan jangka pendek. Ini mungkin melengkapi magnesium bagi seseorang yang mengalami masalah tidur terkait stres, namun kita tidak boleh melebih-lebihkan apa yang dapat dilakukannya,” kata Amidor.

Catatan lain yakni ashwagandha dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu dan tidak dianjurkan selama kehamilan, menyusui, atau untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

L-Theanine
L-theanine adalah asam amino yang ditemukan secara alami dalam daun teh. Jenis ini sering dipelajari karena efek menenangkan dan membantu rileksasi tubuh dari rasa mengantuk di siang hari.

Beberapa temuan menunjukkan bahwa L-theanine dapat membantu orang lebih mudah tertidur dan merasa lebih segar, mungkin dengan meningkatkan relaksasi dan mengurangi stres daripada secara langsung menyebabkan tidur.

Meskipun demikian, penelitian masih terbatas, dan banyak studi menggunakan ukuran sampel kecil atau menggabungkan L-theanine dengan bahan lain, sehingga sulit untuk mengisolasi efeknya.

Ahli gizi Jamie Lee McIntyre, M.S., RDN menyebut bila dipadukan dengan magnesium yang juga mendukung relaksasi, keduanya mungkin merupakan kombinasi yang masuk akal untuk dicoba.

Walaupun untuk dosis yang tepat sebaiknya dikonsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan terlebih dahulu, terutama jika sedang mengonsumsi obat atau suplemen lain.

Melatonin
Melatonin adalah hormon yang diproduksi tubuh secara alami, dan kadarnya meningkat saat malam tiba. Melatonin membantu mengatur siklus tidur-bangun dan memberi sinyal kepada tubuh bahwa sudah waktunya untuk tidur.

Studi menunjukkan bahwa melatonin dapat membantu tertidur sedikit lebih cepat dan dapat sangat bermanfaat jika jadwal tidur yang terganggu, seperti karena jet lag atau kerja shift.

Secara umum, melatonin dianggap paling bermanfaat untuk masalah tidur yang berkaitan dengan waktu daripada sebagai alat bantu tidur setiap malam.

“Jika seseorang sudah menggunakan magnesium dan menambahkan dosis rendah melatonin untuk jangka waktu singkat, itu mungkin pendekatan yang masuk akal dan berdasarkan bukti, tetapi tidak dimaksudkan untuk penggunaan setiap malam tanpa batas waktu tanpa panduan,” ujar Mclntyre

Dikarenakan melatonin dapat memengaruhi orang secara berbeda, sebaiknya mulai dengan dosis terendah dan berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan, terutama bagi ibu hamil, menyusui atau mengonsumsi obat lain.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5688929/jenis-suplemen-berikut-dapat-bantu-tidur-jadi-lebih-nyenyak

ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen

ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen

KOMPAS.com – Guru Besar ke-254 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Arip Dwiyantoro mengembangkan teknologi energi surya terintegrasi (integrated solar cell) untuk meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Hasil penelitian Bambang menunjukkan, konfigurasi teknologi yang dikembangkan mampu meningkatkan daya listrik hingga lebih dari 750 persen dibandingkan model standar.

Menurut Bambang, temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja PLTS tidak selalu harus dilakukan dengan memperbesar ukuran sistem. Efisiensi juga dapat ditingkatkan melalui rekayasa desain dan integrasi sejumlah teknologi.

“Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia,” ujar Bambang, dilansir dari laman resmi ITS, Kamis (6/8/2026).

Salah satu teknologi yang dikembangkan Bambang adalah Solar Chimney Power Plant (SCPP). Sistem ini memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara yang kemudian digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Bambang mengoptimalkan desain absorber dan geometri cerobong melalui pendekatan eksperimen serta simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Optimalisasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan performa sistem dalam mengonversi energi matahari menjadi listrik.

Manfaatkan limbah untuk pendingin panel

Selain mengembangkan sistem solar chimney, Bambang merancang teknologi pendingin pasif untuk panel surya menggunakan serat kelapa sawit dan ampas tebu.

Pemanfaatan limbah biomassa lokal tersebut ditujukan untuk menjaga temperatur panel tetap optimal tanpa membutuhkan tambahan energi listrik.

“Ini sekaligus meningkatkan nilai guna limbah pertanian melalui konsep ekonomi sirkular,” kata Bambang yang merupakan alumnus doktoral National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Bambang juga mengembangkan teknologi solar tracking untuk PLTS terapung serta sistem PLTS hibrida berbasis Energy Management System (EMS).

Berbagai inovasi tersebut kemudian diintegrasikan dalam konsep Integrated Sustainable Solar Energy System, yakni sistem yang menggabungkan peningkatan efisiensi panel surya, penyimpanan energi, dan pengelolaan distribusi daya secara berkelanjutan.

Ke depan, Bambang berencana mengembangkan teknologi Solar Chimney melalui integrasi thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain dalam skala yang lebih besar.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi konversi energi sekaligus mendukung sistem energi yang lebih bersih dan tangguh.

“Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa,” tutur dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.

Bambang menyampaikan berbagai inovasi tersebut dalam orasi ilmiah bertajuk “Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi”.

Menurut dia, pengembangan teknologi energi surya menjadi penting bagi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tuntutan transisi menuju energi bersih.

PLTS Indonesia masih tertinggal

Di sisi lain, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi pertumbuhan kapasitas.

Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha, mengatakan pemanfaatan PLTS berkembang pesat secara global, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Namun, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Menurut Alvin, semakin efisiennya modul surya dan semakin rendahnya biaya produksi, terutama produk dari China, menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan PLTS di berbagai negara.

Di Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga telah lebih dahulu mendorong pengembangan PLTS melalui kebijakan feed-in tariff (FiT) sebelum 2020.

Meskipun kebijakan FiT tersebut kini telah dihentikan, kapasitas PLTS di ketiga negara tersebut terus bertambah. Kapasitas PLTS atap di masing-masing negara bahkan telah mencapai lebih dari 1 gigawatt (GW).

Sementara itu, pertumbuhan PLTS di Indonesia dinilai masih relatif lambat.

“PLTS atap memang tumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pendorong utamanya adalah sektor industri dan komersial yang menerapkan standar hijau,” ujar Alvin dalam webinar, Selasa (2/9/2025).

Sumber : https://lestari.kompas.com/read/2026/08/08/105249986/its-kembangkan-teknologi-plts-terintegrasi-efisiensi-daya-bisa-naik-750

Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan

Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan

KOMPAS.com-Hilangnya keanekaragaman hayati telah menjadi topik utama dalam perdebatan publik, politik, dan ilmu pengetahuan selama beberapa dekade.

Meskipun dampaknya sudah disadari secara luas, mengolah data keanekaragaman hayati yang sangat banyak supaya bisa menjadi indikator terpercaya dalam pembuatan kebijakan masih menjadi tantangan yang membutuhkan waktu dan tenaga teknis yang besar.

Melansir Phys, Sabtu (1/8/2026) untuk membantu mengatasi masalah tersebut, proyek Uni Eropa bernama B-Cubed mengembangkan sistem pemrosesan data otomatis dan terintegrasi yang telah diuji melalui berbagai studi kasus.

Dengan memanfaatkan teknologi tersebut pengguna bisa merangkum ribuan data keberadaan hewan atau tumbuhan menjadi ringkasan yang rapi dan konsisten sebagai dasar pengambilan keputusan.

Mengubah data menjadi langkah nyata

Sejak diluncurkan Maret 2023, B-Cubed telah mengembangkan sebuah layanan di Global Biodiversity Information Facility (GBIF) dengan membuat “kubus keberadaan spesies” (species occurrence cubes).

Lewat fitur ini, pengguna dapat mengolah data keberadaan spesies yang melimpah misalnya saja data keberadaan lebah Bombus humilis di Belgia dari tahun 2012 hingga 2022 menjadi bentuk kubus data khusus.

Hal ini membantu pelaporan indikator yang konsisten serta penilaian perubahan keanekaragaman hayati yang efisien untuk pengambilan keputusan.

Dengan menggunakan kubus data keanekaragaman hayati tersebut, para peneliti dapat menghasilkan indikator yang menyederhanakan data rumit menjadi ukuran yang mudah dipahami untuk melihat status dan tren keanekaragaman hayati.

Indikator yang dihasilkan mencakup berbagai hal, mulai dari tren keberadaan spesies, penilaian invasi makhluk hidup asing, hingga pengukuran tingkat hilangnya keanekaragaman hayati secara mendalam.

Dengan indikator ini, kondisi keanekaragaman hayati dapat dipantau dan dihitung ulang kapan saja, sehingga bisa merespons ancaman dengan cepat, seperti misalnya serangan spesies invasif atau perubahan iklim.

Setelah data dianalisis menggunakan indikator tersebut, hasilnya dapat disajikan kepada pembuat kebijakan melalui laporan, tampilan visual, serta ukuran-ukuran yang relevan dengan arah kebijakan.

Sistem ini juga membantu memperlihatkan dan memperbaiki masalah klasik dalam penelitian, yaitu perbedaan tingkat kesulitan dalam menemukan spesies serta perbedaan seberapa besar upaya survei yang telah dilakukan.

Selain itu, informasi indikator dapat diperluas dengan bantuan simulasi kubus data. Fitur ini memberikan peringatan dini dan perencanaan manajemen yang lebih baik dengan cara menghubungkan data pengamatan keanekaragaman hayati dengan faktor lingkungan lainnya, seperti proses ekologi, masuknya spesies asing, atau perubahan struktur komunitas makhluk hidup.

Untuk memastikan metode ini dapat digunakan terus-menerus dan diulang dengan mudah di masa depan, proyek B-Cubed menyediakan panduan lengkap, tutorial, dan materi teknis yang ramah pengguna.

Semua materi ini tidak hanya bisa dipakai oleh ilmuwan data dan peneliti, tetapi juga oleh berbagai gerakan keanekaragaman hayati saat ini maupun di masa depan yang ingin menerapkan sistem kubus data ini ke dalam kerja mereka.

Sumber : https://lestari.kompas.com/read/2026/08/10/171050786/peran-teknologi-informatika-bantu-olah-data-biodiversitas-jadi-panduan

4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial

4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemenaker bersama KLH/BPLH dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan program perlindungan sosial bagi pekerja sektor persampahan. Program ini ditujukan untuk memberikan jaminan sosial kepada pekerja yang menghadapi risiko kecelakaan dalam menjalankan pekerjaannya. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyatakan, pemerintah memberikan subsidi iuran untuk Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Besaran iuran yang sebelumnya Rp 16.800 per bulan menjadi Rp 8.400 setelah mendapatkan subsidi 50 persen.

“Iuran yang awalnya sebesar Rp 16.800 per bulan, kini mendapatkan diskon 50 persen sehingga teman-teman pekerja hanya perlu membayar Rp 8.400 per bulan,” ujar Yassierli, Senin (10/8/2026). Menurut dia, pemerintah daerah juga dapat ikut mendukung pembayaran iuran tersebut. Ia menilai langkah yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memberikan perlindungan kepada pekerja sektor informal persampahan.

Selain jaminan sosial, perlindungan pekerja juga perlu didukung penggunaan alat pelindung diri (APD), seperti masker dan sarung tangan.

4.000 pekerja Bantargebang sudah terdaftar BPJS

Di Jakarta, sebanyak 4.000 pekerja pemilah sampah di TPST Bantargebang telah terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Program tersebut merupakan kelanjutan dari perlindungan sosial yang telah berjalan sejak 2017. Pemprov DKI Jakarta selama ini mengalokasikan anggaran untuk membayar iuran perlindungan sosial para pekerja tersebut. Berdasarkan laporan terbaru, Pemprov DKI Jakarta telah mengalokasikan sekitar Rp 806 juta untuk membayar iuran tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, adanya subsidi iuran dari pemerintah pusat nantinya dapat mengurangi beban pembiayaan perlindungan sosial bagi pekerja persampahan. “Tadi oleh Bapak Menteri Ketenagakerjaan disampaikan akan ada PP yang mengatur bahwa diskonnya (iuran) 50 persen. Dengan demikian, dari hulu sampai hilir hal yang menyangkut ketenagakerjaan di sektor persampahan bisa tertangani,” ujar Pramono. Meski demikian, perlindungan sosial di TPST Bantargebang belum mencakup seluruh pekerja.

Pramono menyebut terdapat sekitar 6.000 pekerja di kawasan tersebut, sementara baru sekitar 4.000 orang yang telah terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta akan kembali melakukan pendataan terhadap pekerja yang belum terdaftar.

“Kami terbuka untuk itu. Saya akan minta kepada Dinas Lingkungan Hidup untuk mendata kembali para pemulung yang ada di Bantargebang agar semuanya bisa ter-cover,” kata Pramono.

Ia berharap perlindungan sosial bagi pekerja pemilah sampah tidak hanya diterapkan di Jakarta, tetapi dapat menjadi model bagi daerah lain. Menurut Pramono, pekerja pemilah sampah memiliki peran penting dalam sistem pengelolaan sampah sehingga negara perlu memastikan mereka mendapatkan perlindungan atas risiko pekerjaan yang dihadapi setiap hari. “Kami ingin memastikan para pekerja pemilah sampah betul-betul mendapatkan perlindungan dari negara atas risiko kerja yang mereka hadapi setiap hari,” tutur Pramono.

Perubahan penyebutan

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat mengusulkan perubahan penyebutan “pemulung” menjadi “pekerja pemilah sampah”. perubahan istilah tersebut ditujukan untuk memberikan penghargaan yang lebih layak terhadap pekerjaan memilah sampah.

Menurut dia, pekerja pemilah sampah memiliki peran penting dalam rantai pengelolaan sampah karena menjadi pihak yang memilah sampah sejak dari sumbernya sebelum masuk ke fasilitas pengolahan.

“Karena di sini ada sosok pemilah sampah. ‘Memulung’ kami ganti dengan ‘kerja memilah sampah’. Mereka berjasa karena mereka ini front depan gitu ya, memilah, dan itu yang paling dasar sebelum masuk ke tempat-tempat seperti ini (fasilitas pengelolaan sampah RDF Plant Rorotan),” ujar Jumhur, Senin (10/8/2026).

Jumhur mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, perubahan nomenklatur pekerjaan tersebut akan segera diresmikan melalui Kamus Besar Jabatan Indonesia (KBJI).
“Insyaallah kita akan segera keluarkan KBJI-nya, Kamus Besar Jabatan Indonesia-nya, sehingga ini kemudian bisa secara sistem untuk mengubah ya, nama pekerjaan yang mulia ini,” kata Yassierli.

Sumber : https://lestari.kompas.com/read/2026/08/11/070908086/4000-pekerja-pemilah-sampah-informal-di-bantargebang-dapat-jaminan-sosial

Pendiri Strategy Michael Saylor Raup Rp 268 Triliun Berkat ChatGPT

Pendiri Strategy Michael Saylor Raup Rp 268 Triliun Berkat ChatGPT

Liputan6.com, Jakarta – Miliarder sekaligus pendiri Strategy, Michael Saylor memanfaatkan ChatGPT untuk membantu perusahaannya menghasilkan pendapatan US$ 15 miliar atau Rp 268,94 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.930).

“Jika Anda berada di usia produktif dan ingin memajukan dunia, membuat perubahan nyata, serta dikenang karena suatu pencapaian, prinsipnya cukup sederhana: jangan terus menerus melakukan hal yang sama, bekerja semakin keras setiap tahun atau melawan arus otomatisasi modern,” ujar Saylor saat wawancara dengan Diary of a CEO, yang diterbitkan pada Kamis, dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (7/8/2026).

“Jangan mencoba mengalahkan robot dalam hal kerja keras,” ia menambahkan.

Pria berusia 61 tahun itu melontarkan komentar tersebut setelah podcaster Steven Bartlett bertanya kepadanya tentang apa yang diperlukan untuk membangun warisan (legacy) berskala besar, seperti yang dimiliki Michael Jackson atau Elon Musk serta mendapatkan pengakuan global atas dampak yang dihasilkan.

Saran Saylor didasarkan pada pengalamannya sendiri dalam mentransformasi Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy.

Ia mendirikan perusahaan perangkat lunak tersebut pada 1989, tetapi dalam lima tahun terakhir mengalihkan fokusnya ke Bitcoin, menjadikannya perusahaan publik pertama yang mengadopsi mata uang kripto tersebut sebagai bagian utama dari strategi perbendaharaan (treasury) perusahaan.

Setelah cara-cara konvensional untuk menggalang modal guna membeli lebih banyak  kripto dirasa tidak lagi memadai, Saylor beralih ke ChatGPT untuk membantu merancang saham preferen berbasis Bitcoin.

Produk ini awalnya diragukan oleh para pengacara dan bankir karena belum pernah ada yang menciptakan produk serupa sebelumnya. Pada akhirnya, Strategy berhasil menggalang dana sekitar US$ 15 miliar melalui initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana dan penawaran terkait yang membuat Saylor mengatakan AI telah membantunya menghasilkan US$ 15 miliar tersebut.

Kemampuan Mengajukan Pertanyaan

Bagi para wirausahawan dan pekerja yang ingin memanfaatkan tren pesat AI, Saylor berpendapat menggunakan teknologi ini adalah langkah yang sangat logis dan jelas menguntungkan (no-brainer). Akan tetapi, keunggulan sesungguhnya terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang lebih baik, bukan sekadar mengotomatisasi tugas-tugas yang sudah ada.

“Anda tidak perlu mempelajari cara melakukan hal-hal yang sudah bisa dikerjakan oleh AI. Sebaliknya, Anda perlu belajar cara meminta AI melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

“Jika Anda ingin menciptakan kesuksesan luar biasa, Anda harus menemukan peluang emas yang istimewa,” ia menambahkan.

Taruhan Bitcoin Saylor membawa risiko yang tak asing: mempertaruhkan segalanya (going all in)

Meskipun kekayaan bersih Saylor saat ini mencapai US$ 3,3 miliar atau Rp 59,16 triliun menurut Forbes, strategi terbarunya yang didorong oleh AI bukannya tanpa risiko. Pendekatan MicroStrategy yang sangat bergantung pada Bitcoin serta penggunaan saham preferen untuk menggalang modal tambahan telah membuat perusahaan semakin terikat pada kinerja mata uang kripto tersebut. Shawn Tully dari Fortune menggambarkan struktur ini memiliki tingkat leverage (daya ungkit) yang “berbahaya” terhadap harga Bitcoin.

Harga Bitcoin Turun

Eksposur tersebut menjadi sorotan tahun ini: harga Bitcoin turun 26%, sementara saham MicroStrategy anjlok 38%. Namun, Saylor berpendapat terobosan besar sering kali menuntut ketangguhan dalam menghadapi kemunduran, dan kesediaan perusahaannya untuk beradaptasi di tengah tantangan telah menjadi kunci kesuksesannya.

“Kami menemukan sesuatu yang luar biasa keren. Kami berkomitmen penuh dengan segenap jiwa raga dan bertekad untuk mewujudkannya, apa pun rintangan yang menghadang,” ujar Saylor.

“Kami berkali-kali dihantam keras. Namun, setiap kali menghadapi masalah, kami berhenti sejenak, melakukan penyesuaian ulang, dan mengambil arah yang berbeda,” ia menambahkan.

Ini bukan kali pertama langkah agresif Saylor berujung pada konsekuensi besar. Setelah lonjakan saham MicroStrategy di era boom dot-com menjadikannya seorang miliarder, perusahaan terpaksa menyajikan ulang laporan keuangan mereka setelah terungkap pendapatan 1999 telah dilaporkan terlalu tinggi sebesar 25%.

Skandal akuntansi tersebut menyebabkan kerugian sebesar US$ 6 miliar atau Rp 107,7 triliun dalam satu hari, jumlah kerugian terbesar yang pernah dialami seseorang dalam kurun waktu 24 jam pada saat itu. Kemudian pada tahun yang sama, SEC menuduhnya melanggar undang-undang sekuritas federal; ia akhirnya menyelesaikan kasus tersebut dengan membayar US$ 8 juta atau Rp 143,4 miliar kepada badan pengawas itu tanpa pernah mengakui adanya kesalahan. Fortune telah menghubungi MicroStrategy untuk meminta komentar lebih lanjut.

Sumber : https://www.liputan6.com/crypto/read/8264056/pendiri-strategy-michael-saylor-raup-rp-268-triliun-berkat-chatgpt

Akun Gratis ChatGPT Kini Bisa Chat Tanpa Limit

Akun Gratis ChatGPT Kini Bisa Chat Tanpa Limit

Liputan6.com, Jakarta – OpenAI memperkenalkan banyak pembaruan pada ChatGPT dan membawa angin segar bagi para pengguna, terutama pengguna akun gratis. Kini, mereka dapat menikmati obrolan tanpa batas (chat tanpa limit).

Perusahaan mengatakan pengguna akun gratis tidak lagi mendapat batasan harian untuk menggunakan layanan obrolan berbasis teks. Selain itu, model bawaan akun gratis resmi ditingkatkan ke GPT-5.6 Luna.

Diwartakan Digital Trends, Minggu (8/8/2026), model ini dilengkapi context window raksasa sebesar 1.050.000 token dan basis pengetahuan hingga 16 Februari 2026.

Sifatnya juga multimodal, mampu memproses input teks serta media. Meskipun demikian, sistem ini belum mendukung audio atau video, dan batasan unggahan berkas media untuk akun gratis tetap berlaku.

Tidak hanya itu, OpenAI menawarkan fitur tombol “Think” untuk akun gratis. Fitur ini memungkinkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) beralih ke mode berpikir mendalam saat ditanya pertanyaan rumit yang membutuhkan penalaran beserta penggalian informasi ekstra.

Secara teknis, model Luna mirip dengan lini model “nano” sebelum OpenAI memperbarui nama seri GPT-5.6 awal tahun ini.

Bagi pengguna berbayar Plus maupun Pro, OpenAI turut memperbarui kemampuan model GPT-5.6 Sol, dengan mendapat optimalisasi agar dapat merespons lebih fokus, adaptif terhadap pertanyaan rumit, serta mengurangi format teks yang tidak diperlukan.

Klaim Perusahaan

“Kami telah memperbarui GPT0-5.6 Sol menjadi lebih baik. Model ini memberikan jawaban lebih fokus, menyesuaikan tingkat detail pertanyaan, menghindari format tidak diperlukan, dan menawarkan koreksi alih-alih hanya mengiyakan,” kata OpenAI menjelaskan.

Perusahaan mengklaim jawaban dari GPT-5.6 Sol jauh lebih tegas dengan minim kesalahan.

Berdasarkan pengujian internal OpenAI, tingkat kesalahan model ini berhasil ditekan hingga 68% dibandingkan versi sebelumnya.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8264600/akun-gratis-chatgpt-kini-bisa-chat-tanpa-limit

Friendship Recession, Kenapa Makin Susah Punya Teman Dekat di Usia 30-an?

Friendship Recession, Kenapa Makin Susah Punya Teman Dekat di Usia 30-an?

Liputan6.com, Jakarta – Memiliki teman dekat terasa semakin sulit ketika seseorang memasuki usia 30-an. Kesibukan pekerjaan, hubungan romantis, keluarga, tekanan finansial, dan perubahan tempat tinggal membuat waktu untuk membangun hubungan sosial semakin terbatas.

Fenomena tersebut menjadi bagian dari friendship recession, istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan kualitas dan jumlah hubungan pertemanan dekat di kalangan orang dewasa. Sejumlah peneliti di berbagai negara mencatat, semakin banyak orang yang memiliki lebih sedikit teman dekat sekaligus mengalami kesepian.

Melansir Mirage News, Selasa (11/8/2026), persahabatan tidak pernah benar-benar menjadi sekadar kesenangan tambahan. Sepanjang sejarah manusia, hubungan sosial menjadi bagian penting untuk bertahan hidup.

Kondisi kehidupan modern membuat pola tersebut berubah. Masyarakat kini lebih sering berpindah kota untuk pekerjaan, pendidikan, atau mencari biaya hidup yang lebih terjangkau. Perpindahan tersebut dapat membuka kesempatan baru, tapi juga memutus jaringan sosial yang terbentuk sejak lama.

Orang yang pindah tempat tinggal harus kembali membangun lingkaran pertemanan dari awal. Proses tersebut membutuhkan waktu dan kesempatan untuk bertemu orang yang sama secara berulang. Situasi ini berbeda dengan masa sekolah atau kuliah ketika seseorang berada dalam lingkungan yang sama setiap hari.

Ruang sosial yang memungkinkan orang bertemu secara spontan juga semakin terbatas. Kafe, taman, perpustakaan, pusat komunitas, dan berbagai tempat berkumpul informal sebelumnya menjadi ruang yang memungkinkan hubungan berkembang secara alami.

Perubahan pola hidup membuat kesempatan tersebut berkurang. Biaya hidup yang meningkat, kawasan permukiman yang semakin menyebar, serta kebiasaan berinteraksi secara digital turut mengubah cara orang bertemu dan berkomunikasi.

Faktor-Faktor Lainnya

Kesibukan menjadi tantangan lain bagi pertemanan di usia 30-an. Karier memasuki fase yang lebih menuntut, sementara sebagian orang mulai membangun keluarga dan menghadapi kebutuhan finansial yang lebih besar. Orang yang memiliki anak juga harus membagi waktu untuk mengurus keluarga dan pekerjaan.

Persahabatan membutuhkan konsistensi, waktu, dan keterbukaan emosional. Ketika energi untuk menjalani aktivitas sehari-hari sudah terkuras, seseorang cenderung menempatkan pertemanan di urutan belakang.

Faktor psikologis turut membuat proses mencari teman baru terasa lebih rumit. Orang dewasa biasanya lebih sadar terhadap penilaian sosial dan pengalaman buruk dari hubungan sebelumnya. Mereka dapat merasa khawatir dianggap terlalu membutuhkan perhatian, mengganggu, atau tidak diterima oleh lingkungan baru.

Keraguan tersebut membuat banyak orang menunggu pihak lain mengambil langkah pertama. Dua orang yang sebenarnya sama-sama ingin berteman akhirnya tidak melakukan apa pun karena sama-sama takut memulai.

Teknologi Jadi Solusi?

Perubahan identitas juga memengaruhi proses tersebut. Memasuki usia dewasa, seseorang biasanya sudah memiliki kebiasaan, nilai, batasan, serta preferensi yang lebih jelas. Kondisi itu dapat membantu memperkuat hubungan yang sudah ada, tapi sekaligus mempersempit kemungkinan menemukan orang baru yang benar-benar cocok.

Teknologi menawarkan cara baru untuk mempertahankan hubungan, tapi tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional. Media sosial memungkinkan seseorang mengikuti kehidupan teman tanpa benar-benar berinteraksi secara mendalam.

Kebiasaan mengirim meme, memberikan reaksi pada unggahan, atau bertukar pesan singkat dapat menjaga komunikasi. Interaksi tersebut belum tentu menggantikan pengalaman bertemu secara langsung dan menjalani rutinitas bersama.

Teknologi tetap dapat membantu orang dewasa membangun hubungan sosial. Komunitas daring, aplikasi pertemanan, dan platform berbasis minat dapat mempertemukan orang dengan ketertarikan yang sama. Fungsinya menjadi lebih efektif ketika interaksi digital berlanjut ke pertemuan langsung.

Tak Sama untuk Semua Orang

Friendship recession tidak dialami semua orang dengan cara yang sama. Pria dapat menghadapi hambatan untuk membangun pertemanan dekat karena norma yang menuntut kemandirian dan membatasi ekspresi emosional. Orangtua baru juga menghadapi keterbatasan waktu akibat tanggung jawab pengasuhan.

Memasuki usia 30-an, tekanan karier, hubungan romantis, kebutuhan finansial, pengasuhan anak, dan tanggung jawab terhadap orangtua membuat pertemanan kerap tersisihkan, padahal hubungan sosial yang kuat berkaitan dengan kesehatan mental, kemampuan menghadapi tekanan, serta kesehatan fisik.

Kesepian kronis juga dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan. Orang dewasa tetap dapat membangun pertemanan dengan mengikuti aktivitas yang mempertemukan orang secara rutin, seperti olahraga, komunitas hobi, kursus, atau kegiatan sukarela.

Mengambil inisiatif untuk mengajak bertemu juga penting. Menghidupkan kembali hubungan dengan teman lama dapat menjadi cara lain memperluas dukungan sosial.

Memasuki usia 30-an bukan berarti kehilangan kesempatan memiliki teman dekat. Pertemanan hanya membutuhkan waktu, konsistensi, dan ruang untuk berkembang.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8266753/friendship-recession-kenapa-makin-susah-punya-teman-dekat-di-usia-30-an

Cara Tepat Mengolah Kimpul agar Tak Bikin Bibir Gatal

Cara Tepat Mengolah Kimpul agar Tak Bikin Bibir Gatal

Liputan6.com, Jakarta – Umbi lokal, kimpul, tengah naik daun akhir-akhir ini berkat content creator pemilik akun Instagram @black.sheep8208. Namun, di balik kepopulerannya, Anda mesti tahu cara mengolah kimpul yang benar agar tidak bikin bibir gatal.

Ahli Gizi IPB University sekaligus pakar Nutrition and Food Safety, Prof. Ahmad Sulaeman, mengatakan kimpul perlu dicuci dan dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

“Iya kalau dimakan mentah (bisa bikin bibir gatal), Tapi kalau sudah dimasak dengan proses pengolahan yang benar, kimpul tersebut tidak akan menyebabkan gatal pada bibir,” ujar Ahmad menjawab pertanyaan Kesehatan Liputan6.com ditulis Senin (10/8/2026).

Ahmad mengatakan sebelum dimasak, kimpul perlu dicuci terlebih dahulu menggunakan air mengalir hingga getahnya hilang. Selain itu, kimpul yang telah dikupas sebaiknya dipotong dengan bagian kulit yang dikupas cukup tebal.

Rendam Kimpul Mentah di Air Garam

Prof Ahmad juga menyarankan potongan kimpul direndam dalam air garam selama sekitar 30 menit hingga satu jam. Setelah itu, kimpul perlu dimasak hingga benar-benar matang.

“Memasak kimpul harus sampai benar-benar matang,” pesan Prof Ahmad.

Apa Itu Kimpul?

Kimpul merupakan umbi lokal dengan nama latin Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott.

Kimpul merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang masih satu kelompok dengan talas. Umbi ini dikenal sebagai talas Belitung, sedangkan dalam bahasa Inggris sering disebut Blue Taro, cocoyam atau tannia.

Di Indonesia, kimpul dikenal dengan beragam nama sesuai daerahnya. Sebagian masyarakat menyebutnya talas Belitung, sementara di daerah lain lebih populer dengan nama kimpul, talas kimpul, busil, atau bote. Meski memiliki sebutan yang berbeda, semuanya merujuk pada spesies tanaman yang sama.

Kimpul memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kandungan gizinya.

– Indeks Glikemik Rendah

Kimpul memiliki indeks glikemik yang rendah. Indeks glikemik menggambarkan seberapa cepat makanan yang mengandung karbohidrat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.

Karena itu, kimpul berpotensi menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat. Namun, jumlah konsumsi dan cara pengolahan tetap perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sedang mengatur kadar gula darah.

– Kandungan Protein Tinggi dengan Lemak Rendah

Ahmad juga menyebut kimpul memiliki kandungan protein yang relatif lebih tinggi, sementara kandungan lemaknya lebih rendah. Karakteristik tersebut membuat kimpul berpotensi digunakan sebagai salah satu pilihan makanan bagi pasien diabetes maupun yang tengah mengontrol berat badan.

“Kimpul juga mempunyai indeks glikemik yang rendah sehingga aman untuk penderita diabetes ataupun diet yang ketat lainya. Sementara itu kandungan proteinnya lebih tinggi, namun kandungan lemaknya lebih rendah sehingga baik untuk yang akan menurunkan berat badan,” tutur Prof Ahmad.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/diet-dan-kebugaran/read/8266390/cara-tepat-mengolah-kimpul-agar-tak-bikin-bibir-gatal