Kandungan air dan serat semangka bantu lancarkan BAB

Kandungan air dan serat semangka bantu lancarkan BAB

Jakarta (ANTARA) – Mengonsumsi semangka dapat membantu melancarkan buang air besar (BAB) karena buah tersebut kaya akan air dan mengandung serat yang mendukung kesehatan pencernaan.

Ahli gizi Chelsea Rae Bourgeois, RDN, LD, pada laman Health, Senin, menjelaskan bahwa sekitar 92 persen kandungan semangka merupakan air. Kandungan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan menjaga tinja tetap lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Semangka juga mengandung serat, meski jumlahnya tidak terlalu tinggi. Serat membantu menambah volume tinja dan mendukung pergerakannya melalui saluran pencernaan.

Satu potong semangka, atau sekitar seperenam bagian dari buah berukuran sedang, mengandung sekitar 1,14 gram serat. Sementara itu, dua cangkir semangka mengandung kurang dari dua gram serat.

Mengonsumsi semangka dapat menjadi salah satu cara untuk menambah asupan cairan dan buah dalam pola makan sehari-hari. Namun, semangka sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber serat karena kebutuhan serat tubuh juga perlu dipenuhi dari makanan lain.

Beberapa makanan yang kaya serat antara lain kacang-kacangan, lentil, biji-bijian utuh, sayuran, buah beri, serta buah-buahan lain.

Meski dapat membantu pencernaan, konsumsi semangka dalam jumlah banyak juga dapat menimbulkan gangguan pada sebagian orang.

Semangka mengandung fruktosa, yaitu salah satu jenis gula alami. Pada sebagian orang, fruktosa dapat sulit diserap tubuh dan mencapai usus besar. Di sana, fruktosa dapat difermentasi oleh bakteri sehingga menghasilkan gas dan memicu kembung, sakit perut, atau diare.

Orang dengan sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS) juga dapat lebih sensitif terhadap makanan yang mengandung fruktosa dan karbohidrat tertentu yang mudah difermentasi.

Karena itu, jumlah semangka yang dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan keluhan dapat berbeda pada setiap orang.

Bourgeois juga menyarankan agar konsumsi buah dilakukan secara beragam. Buah seperti apel, pir, jeruk, kiwi, beri, dan alpukat dapat menjadi sumber serat tambahan dalam pola makan.

Selain makanan, kecukupan cairan juga penting untuk membantu serat bekerja dengan baik. Peningkatan asupan serat secara tiba-tiba tanpa diimbangi cairan yang cukup justru dapat menyebabkan kembung atau sembelit.

Bagi orang dewasa sehat, konsumsi sekitar dua cangkir semangka dalam sehari secara umum masih dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, kebutuhan setiap orang dapat berbeda tergantung kondisi tubuh dan pola makan secara keseluruhan.

Dengan kandungan air dan seratnya, semangka dapat membantu mendukung kelancaran BAB. Namun, manfaat tersebut tetap perlu didukung dengan konsumsi makanan kaya serat yang beragam, cukup minum, serta aktivitas fisik yang teratur.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5718888/kandungan-air-dan-serat-semangka-bantu-lancarkan-bab

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Ikon di Serambi Makkah

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Aceh, Ikon di Serambi Makkah

Jakarta – Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu ikon penting bagi masyarakat Aceh. Berdiri di jantung Kota Banda Aceh, masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang sejarah Aceh.

Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman juga membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi. Masjid megah yang memiliki kubah, menara, serta halaman luas dengan payung elektrik ini menjadi pemandangan khas yang mudah dikenali.

Awal Berdirinya Masjid Raya Baiturrahman

Mengutip laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, sejarah awal Masjid Raya Baiturrahman memiliki beberapa versi. Salah satu riwayat menyebutkan masjid pertama dibangun pada 1292 M, pada masa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada masa awal tersebut, bangunan masjid disebut menggunakan konstruksi kayu.

Riwayat lainnya mengaitkan pembangunan atau pendirian kembali Masjid Raya Baiturrahman dengan masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), ketika Kesultanan Aceh berada pada masa kejayaannya.

Pada masa tersebut, masjid menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat melaksanakan ibadah, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan agama serta kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.

Bangunan awal masjid memiliki karakter arsitektur Aceh. Bentuknya berupa bangunan persegi dengan atap bertingkat menyerupai piramida atau meru. Struktur tersebut mencerminkan karakter arsitektur masjid tradisional Aceh pada masa itu.

Bangunan masjid juga dikelilingi beberapa lapis benteng yang memperlihatkan bahwa kawasan tersebut memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat.

Masjid Dibakar dalam Perang Aceh

Perjalanan Masjid Raya Baiturrahman tidak dapat dipisahkan dari sejarah Perang Aceh dan kedatangan kolonial Belanda.

Pada 10 April 1873, pasukan Belanda menyerang Koetaradja, nama lama Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu lokasi penting dalam perlawanan masyarakat Aceh.

Dalam pertempuran tersebut, masyarakat menggunakan kawasan masjid sebagai salah satu titik pertahanan menghadapi pasukan kolonial.

Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler memimpin ekspedisi pertama Belanda ke Aceh. Dalam pertempuran, Kohler tewas di sekitar halaman Masjid Raya Baiturrahman.

Belanda kemudian melancarkan ekspedisi berikutnya di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten. Dalam serangan tersebut, kawasan masjid kembali menjadi bagian dari medan pertempuran dan bangunan Masjid Raya Baiturrahman akhirnya terbakar.

Dibangun Kembali oleh Pemerintah Kolonial

Setelah masjid terbakar, pemerintah kolonial Belanda menyadari besarnya arti Masjid Raya Baiturrahman bagi masyarakat Aceh.

Pembangunan kembali kemudian dilakukan pada 1879. Peletakan batu pertama disebut dilakukan oleh Tengku Malikul Adil.

Dalam proses pembangunan kembali tersebut, Belanda menghadirkan arsitektur yang berbeda dari bentuk masjid sebelumnya. Bangunan baru menggunakan gaya Indo-Saracenic atau Mughal, yang menghasilkan tampilan khas dengan kubah dan elemen arsitektur yang terinspirasi dari kawasan India dan Persia.

Pembangunan masjid baru tersebut rampung pada 27 Desember 1881 berdasarkan riwayat yang tercantum dalam bahan sejarah mengenai masjid ini.

Pada awalnya, sebagian masyarakat Aceh disebut menolak beribadah di masjid yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Namun, seiring berjalannya waktu, Masjid Raya Baiturrahman kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Masjid Raya Baiturrahman kemudian mengalami sejumlah perluasan. Perubahan tersebut membuat bentuk bangunan semakin megah sekaligus menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah jamaah.

Pada awal pembangunan kembali oleh Belanda, masjid memiliki satu kubah utama.

Kemudian, pada sekitar 1935-1936, dilakukan perluasan dengan menambahkan dua kubah di sisi kiri dan kanan. Dengan penambahan tersebut, jumlah kubah menjadi tiga.

Perkembangan berikutnya berlangsung pada masa setelah Indonesia merdeka. Pada 1957, Masjid Raya Baiturrahman kembali diperluas. Dua kubah tambahan dibangun sehingga jumlah kubah menjadi lima.

Perluasan tersebut dilakukan berdasarkan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tertanggal 31 Oktober 1957. Pekerjaan perluasan kemudian berlangsung hingga beberapa tahun berikutnya.

Pada perkembangan selanjutnya, jumlah kubah kembali bertambah menjadi tujuh kubah. Masjid juga memiliki beberapa menara.

Selamat dari Tsunami Aceh 2004

Salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Masjid Raya Baiturrahman terjadi pada 26 Desember 2004.

Gempa bumi dahsyat yang kemudian disusul tsunami menghantam sebagian besar wilayah pesisir Aceh. Banda Aceh menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan sangat parah.

Di tengah kehancuran tersebut, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh.

Bangunan masjid mengalami dampak bencana, tetapi secara umum tetap berdiri gagah dibandingkan banyak bangunan lain di sekitarnya. Kawasan masjid juga menjadi tempat berlindung bagi warga yang berhasil menyelamatkan diri dari terjangan tsunami.

Pemandangan Masjid Raya Baiturrahman yang tetap berdiri ketika sebagian besar kawasan di sekitarnya porak-poranda kemudian menjadi salah satu simbol keteguhan masyarakat Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman kemudian mengalami pembenahan setelah tsunami. Salah satu revitalisasi besar dilakukan pada periode 2015-2017.

Area halaman masjid ditata kembali dengan penggunaan lantai marmer. Selain itu, dipasang 12 payung elektrik berukuran besar.

Keberadaan payung tersebut membuat halaman masjid terlihat semakin megah. Desainnya juga mengingatkan pada payung elektrik yang terdapat di kawasan Masjid Nabawi di Madinah.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8641051/sejarah-masjid-raya-baiturrahman-aceh-ikon-di-serambi-makkah

Adab Bertamu dalam Islam: Etika Meminta Izin hingga Mengucapkan Salam

Adab Bertamu dalam Islam: Etika Meminta Izin hingga Mengucapkan Salam

KOMPAS.com – Bertamu merupakan bagian dari kehidupan sosial yang dianjurkan dalam Islam.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa bertamu bukan sekadar datang ke rumah orang lain, melainkan harus dilakukan dengan adab yang baik, mulai dari meminta izin, mengucapkan salam, hingga menghormati privasi tuan rumah.

Dalam Al-Quran dan hadis, Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang jelas agar hubungan antarsesama tetap terjaga dengan penuh penghormatan. Karena itu, memahami adab bertamu menjadi penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Meminta Izin Sebelum Masuk Rumah

Salah satu adab paling utama ketika bertamu adalah meminta izin sebelum memasuki rumah orang lain. Perintah ini ditegaskan Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 27:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Yā ayyuhalladzīna āmanū lā tadkhulū buyūtan ghaira buyūtikum hattā tasta’nisū wa tusallimū ‘alā ahlihā, dzālikum khairul lakum la’allakum tadzakkarūn

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa rumah memiliki kehormatan dan privasi yang harus dihargai. Karena itu, seorang tamu tidak diperkenankan langsung masuk meskipun pintu rumah terbuka.

Mengucapkan Salam Ketika Bertamu

Setelah meminta izin, Islam menganjurkan tamu mengucapkan salam kepada penghuni rumah.

Salam bukan sekadar sapaan, tetapi juga doa agar penghuni rumah memperoleh keselamatan dan keberkahan.

Rasulullah SAW mengajarkan agar salam didahulukan sebelum berbicara mengenai keperluan bertamu.

Dengan demikian, pertemuan dimulai dengan doa dan penghormatan kepada tuan rumah.

Apabila penghuni rumah menjawab salam dan mengizinkan masuk, barulah tamu dapat memasuki rumah dengan sopan.

Tidak Mengintip ke Dalam Rumah

Islam juga melarang seseorang mengintip ke dalam rumah orang lain ketika bertamu.

Larangan ini bertujuan menjaga kehormatan dan privasi keluarga yang berada di dalam rumah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa meminta izin disyariatkan karena adanya kewajiban menjaga pandangan.

Artinya, tamu tidak boleh berusaha melihat isi rumah sebelum mendapatkan izin dari pemiliknya.

Karena itu, ketika menunggu jawaban dari penghuni rumah, seorang tamu sebaiknya berdiri di samping pintu dan tidak mengarahkan pandangan ke dalam rumah.

Meminta Izin Maksimal Tiga Kali

Bagaimana jika salam atau ketukan pintu tidak dijawab? Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang jelas melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ

Idzastā’dzana ahadukum tsalātsan fa lam yu’dzan lahu falyarji’

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan, maka hendaklah ia pulang.”

Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang tamu tidak perlu memaksa bertemu dengan tuan rumah.

Bisa jadi penghuni rumah sedang beristirahat, memiliki urusan, atau memang belum dapat menerima tamu.

Sikap lapang dada ketika tidak diizinkan justru menjadi bagian dari adab yang diajarkan Islam.

Menghormati Privasi Tuan Rumah

Setelah dipersilakan masuk, tamu juga dianjurkan menjaga sikap selama berada di rumah orang lain.

Islam mengajarkan agar tamu tidak membuka lemari, memasuki ruangan tanpa izin, atau memperhatikan hal-hal yang menjadi privasi keluarga.

Selain itu, tamu sebaiknya tidak berlama-lama apabila keperluannya telah selesai. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 53:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ وَلٰكِنْ اِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَاِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيٖ مِنْكُمْ ۖوَاللّٰهُ لَا يَسْتَحْيٖ مِنَ الْحَقِّۗ وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا

Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tadkhulū buyūtan-nabiyyi illā ay yu’żana lakum ilā ṭa‘āmin gaira nāẓirīna ināhu wa lākin iżā du‘ītum fadkhulū fa iżā ṭa‘imtum fantasyirū wa lā musta’nisīna liḥadīṡ(in), inna żālikum kāna yu’żin-nabiyya fayastaḥyī minkum, wallāhu lā yastaḥyī minal-ḥaqq(i), wa iżā sa’altumūhunna matā‘an fas’alūhunna miw warā’i ḥijāb(in), żālikum aṭharu liqulūbikum wa qulūbihinn(a), wa mā kāna lakum an tu’żū rasūlallāhi wa lā an tankiḥū azwājahū mim ba‘dihī abadā(n), inna żālikum kāna ‘indallāhi ‘aẓīmā(n).

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi, kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang, masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar). Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Kamu tidak boleh menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah Nabi (wafat). Sesungguhnya yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.

Etika tersebut menunjukkan bahwa bertamu bukan hanya hak tamu, tetapi juga harus mempertimbangkan kenyamanan pemilik rumah.

Adab Menjadi Tuan Rumah

Islam tidak hanya mengatur etika tamu, tetapi juga adab sebagai tuan rumah. Rasulullah SAW menganjurkan agar seorang Muslim memuliakan tamunya sebagai bagian dari keimanan.

Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil ākhiri fal yukrim dhaifah

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR Bukhari dan Muslim)

Memuliakan tamu dapat dilakukan dengan menyambutnya secara ramah, mempersilakan duduk, serta memberikan jamuan sesuai kemampuan. Islam tidak mewajibkan jamuan yang berlebihan, melainkan mendorong sikap ikhlas dan penuh penghormatan.

Bertamu Sebagai Bentuk Menjaga Silaturahmi

Pada akhirnya, adab bertamu bertujuan menjaga hubungan baik antarsesama. Meminta izin, mengucapkan salam, menghormati privasi, dan memuliakan tamu merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW.

Dengan menerapkan adab tersebut, silaturahmi tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi amalan yang bernilai ibadah.

Bertamu pun menjadi sarana menyebarkan salam, kasih sayang, dan penghormatan di tengah kehidupan bermasyarakat.

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26I01074300790/adab-bertamu-dalam-islam–etika-meminta-izin-hingga-mengucapkan-salam

Apa Itu Zuhud? Haedar Nashir: Bukan Hidup Serba Kekurangan

Apa Itu Zuhud? Haedar Nashir: Bukan Hidup Serba Kekurangan

KOMPAS.com — Zuhud kerap dipahami sebagai sikap menjauhi kehidupan dunia dengan memilih hidup serba kekurangan. Padahal, zuhud bukan berarti seseorang harus hidup dalam kesusahan atau nestapa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, zuhud justru menempatkan kesederhanaan secara proporsional, yakni tidak berlebihan tetapi juga tidak berkekurangan.

Pandangan tersebut disampaikan Haedar dalam peluncuran buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar”, Senin (31/8/2026).

Menurut Haedar, pemahaman yang menyamakan zuhud dengan kehidupan serba kekurangan masih banyak ditemukan di tengah masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia Islam.

Ia tidak sepakat apabila kehidupan yang serba kekurangan kemudian diagungkan seolah-olah menjadi puncak kebaikan akhlak. Pandangan semacam itu dapat menimbulkan kesan bahwa semakin seseorang hidup dalam kesusahan, semakin baik pula kualitas dirinya.

Padahal, zuhud tidak mengharuskan seorang Muslim meninggalkan kehidupan dunia ataupun menolak tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

Zuhud Bukan Menolak Amanah

Haedar mencontohkan sikap tersebut melalui pengalaman sejumlah pimpinan Muhammadiyah yang pada awalnya tidak berkeinginan menduduki jabatan organisasi.

Keengganan mengejar jabatan, menurut dia, tidak berarti seseorang harus menolak ketika mendapatkan amanah yang dapat memberikan manfaat.

“Sebenarnya semua kita ini tidak ingin, tetapi amanah baik itu jika ditunaikan oleh orang baik, dan lebih baik itu kan jadi amal jariyah yang utama,” ujar Haedar.

Dengan demikian, sikap zuhud tidak identik dengan menarik diri dari tanggung jawab. Amanah justru dapat menjadi jalan untuk melakukan kebaikan selama dijalankan dengan tujuan yang benar.

Zuhud Jangan Membuat Muslim Fatalistis

Haedar juga mengingatkan agar pemaknaan terhadap zuhud tidak membuat seseorang terjebak dalam fatalisme.

Fatalisme merupakan pandangan yang menganggap segala sesuatu telah ditentukan oleh nasib sehingga manusia seolah tidak memiliki ruang untuk berikhtiar dan melakukan perubahan.

Menurut Haedar, sikap zuhud tetap harus berjalan beriringan dengan kehidupan yang dinamis, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Sebagaimana tokoh-tokoh Muhammadiyah, terlebih dalam aspek keilmuan. Tetapi dinamis, bahkan progresif itu tetap dalam Muhammadiyah itu selalu ada bingkainya,” tuturnya.

Sikap dinamis dan progresif tersebut, menurut Haedar, tetap membutuhkan pedoman agar tidak kehilangan arah.

Al Quran, Sunnah, dan Ijtihad Jadi Bingkai

Dikutip dari laman Muhammadiyah, Haedar menyebut terdapat tiga bingkai yang menjadi pedoman dalam Muhammadiyah, yakni Al Quran, As Sunnah, dan ijtihad.

Ketiganya penting karena kemampuan dan pengetahuan manusia memiliki keterbatasan.

Karena itu, perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan tidak semestinya membuat manusia merasa paling mengetahui segala sesuatu atau menempatkan dirinya melampaui tuntunan Al Quran dan Sunnah Nabi.

Dengan pemahaman tersebut, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia ataupun memilih hidup dalam kekurangan.

Sikap zuhud justru menempatkan kehidupan dunia secara proporsional sembari tetap menjalankan amanah, mengembangkan ilmu, dan melakukan ikhtiar untuk menghadirkan kebaikan.

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26I01084500190/apa-itu-zuhud-haedar-nashir–bukan-hidup-serba-kekurangan

Birrul Walidain: Bukan Sekadar Taat, Ini Cara Berbakti kepada Orangtua

Birrul Walidain: Bukan Sekadar Taat, Ini Cara Berbakti kepada Orangtua

KOMPAS.com – Berbakti kepada orangtua dalam Islam bukan hanya soal menuruti setiap keinginan mereka. Sikap menghormati, berbicara dengan santun, membantu kebutuhan, hingga mendoakan orangtua juga menjadi bagian dari birrul walidain.

Birrul walidain merupakan istilah dalam Islam yang berarti berbuat baik kepada kedua orangtua. Ajaran ini memiliki kedudukan penting karena perintah untuk berbakti kepada orangtua disebutkan setelah perintah menyembah Allah SWT dalam Al-Quran.

Namun, Islam juga memberikan batasan dalam hubungan antara anak dan orangtua. Seorang Muslim tetap diperintahkan berbuat baik kepada orangtua meskipun terdapat perbedaan dalam hal tertentu.

Di sisi lain, ketaatan kepada orangtua tidak berlaku apabila mereka meminta anak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Perintah Berbakti Kepada Orangtua

Perintah untuk berbuat baik kepada orangtua salah satunya terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 23. Allah SWT berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Wa qadhaa rabbuka allaa ta’buduu illaa iyyaahu wa bil-waalidayni ihsaanan. Immaa yablughanna ‘indakal-kibaru ahaduhumaa aw kilaahumaa falaa taqul lahumaa uffin wa laa tanharhumaa wa qul lahumaa qawlan kariimaa

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa berbakti kepada orangtua tidak hanya berkaitan dengan tindakan besar. Bahkan mengucapkan perkataan yang menunjukkan kejengkelan kepada orangtua juga dilarang.

Cara Mengamalkan Birrul Walidain

Birrul walidain dapat diwujudkan melalui berbagai perilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, berbicara dengan sopan kepada orangtua. Anak dianjurkan menggunakan perkataan yang baik dan menghindari ucapan yang dapat menyakiti hati mereka.

Kedua, membantu orangtua sesuai kemampuan. Bantuan tersebut dapat berupa mengerjakan pekerjaan rumah, membantu kebutuhan sehari-hari, atau memberikan perhatian ketika orangtua membutuhkan pertolongan.

Ketiga, menghormati dan menjaga perasaan orangtua. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang dapat terjadi dalam keluarga. Namun, perbedaan tersebut sebaiknya disampaikan dengan cara yang santun.

Keempat, mendoakan orangtua. Al-Quran mengajarkan doa yang dapat dipanjatkan seorang anak:

رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Rabbir-hamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.

Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku pada waktu aku kecil.”

Doa tersebut terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 24 dan menjadi salah satu bentuk kasih sayang anak kepada orangtuanya.

Berbakti Bukan Berarti Selalu Menuruti

Birrul Walidain tidak berarti seorang anak harus selalu mengikuti seluruh keinginan orangtua tanpa mempertimbangkan benar dan salah.

Al-Qur’an juga menjelaskan kondisi ketika orangtua mengajak anak mempersekutukan Allah. Dalam Surah Luqman ayat 15:

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun falā tuṭi‘humā wa ṣāḥibhumā fid-dun-yā ma‘rūfā(n), wattabi‘ sabīla man anāba ilayya, ṡumma ilayya marji‘ukum fa unabbi’ukum bimā kuntum ta‘malūna

Artinya: Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.

Allah SWT memerintahkan agar anak tidak mengikuti ajakan tersebut, tetapi tetap memperlakukan kedua orangtuanya dengan baik.

Artinya, Islam membedakan antara ketaatan dan berbuat baik. Apabila permintaan orangtua bertentangan dengan ajaran agama, seorang anak tidak boleh mengikutinya dalam perkara tersebut. Namun, hubungan dengan orangtua tetap harus dijaga dengan sikap baik dan penuh hormat.

Prinsip ini menunjukkan bahwa birrul walidain bukan sekadar kepatuhan, melainkan juga cara seorang anak menjaga hubungan dengan orangtua tanpa meninggalkan prinsip agama.

Tetap Berbakti Ketika Orangtua Berusia Lanjut

Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap orangtua yang telah memasuki usia lanjut. Dalam Surah Al-Isra ayat 23, anak dilarang mengatakan “ah”, membentak, atau memperlakukan orangtua dengan perkataan yang kasar.

Ketika usia bertambah, orangtua mungkin mengalami perubahan kondisi fisik dan membutuhkan bantuan lebih banyak.

Pada kondisi tersebut, anak dapat menunjukkan birrul walidain dengan memberikan perhatian, membantu kebutuhan mereka, serta menjaga komunikasi dengan penuh kesabaran.

Berbakti kepada orangtua juga tidak harus menunggu sampai mereka lanjut usia. Sikap tersebut dapat dimulai sejak sekarang melalui kebiasaan sederhana dalam keluarga.

Berbakti Setelah Orangtua Meninggal

Birrul walidain tidak berhenti ketika orangtua meninggal dunia. Seorang anak masih dapat melakukan berbagai kebaikan yang berkaitan dengan orangtuanya.

Salah satunya adalah mendoakan mereka. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Idzā mātal-insānu inqatha’a ‘anhu ‘amaluhu illā min tsalāthin: illā min shadaqatin jāriyah, aw ‘ilmin yuntafa’u bih, aw waladin shālihin yad’ū lah.

Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim No. 1631).

Selain berdoa, seorang anak juga dapat menjaga hubungan baik dengan kerabat dan orang-orang yang dahulu memiliki hubungan dekat dengan orangtuanya.

Hal tersebut menjadi bentuk penghormatan dan kelanjutan dari hubungan baik yang telah dibangun orangtua semasa hidup.

Birrul Walidain Dimulai dari Hal Sederhana

Berbakti kepada orangtua tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Mengucapkan perkataan yang lembut, membantu ketika dibutuhkan, mendengarkan dengan baik, menjaga perasaan, dan mendoakan mereka merupakan bagian dari birrul walidain.

Islam menempatkan hubungan anak dan orangtua sebagai hubungan yang memiliki kedudukan penting. Karena itu, birrul walidain dapat diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari, baik ketika orangtua masih sehat maupun ketika mereka mulai membutuhkan perhatian lebih.

Pada akhirnya, berbakti kepada orangtua bukan hanya tentang menaati perintah mereka, tetapi juga memperlakukan mereka dengan hormat, kasih sayang, dan kebaikan selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah SWT.

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26I01102100890/birrul-walidain–bukan-sekadar-taat-ini-cara-berbakti-kepada-orangtua

Benarkah Uban Tanda Tubuh Sedang Lawan Kanker? Ini Kata Pakar IPB

Benarkah Uban Tanda Tubuh Sedang Lawan Kanker? Ini Kata Pakar IPB

KOMPAS.com – Mungkin ada beberapa kalangan masyarakat yang memercayai bahwa kemunculan uban merupakan tanda tubuh sedang melawan penyakit kanker.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) Institut Pertabian Bogor (IPB) University dr Yenny Rachmawati, MBiomed, anggapan tersebut tidak tepat karena munculnya uban tidak berarti sistem imun sedang bekerja melindungi tubuh dari kanker.

“Warna rambut dihasilkan oleh melanosit yang memproduksi pigmen melanin. Sel tersebut berasal dari sel punca melanosit yang tersimpan di folikel rambut,” kata dr Yenny dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (1/9/2026).

“Seiring bertambahnya usia, sebagian sel punca dapat berkurang, kehilangan fungsi, atau tidak lagi berada pada lokasi yang tepat. Akibatnya, rambut yang tumbuh kekurangan pigmen sehingga tampak putih atau abu-abu,” lanjut dia.

Belum terdapat bukti epidemiologis yang memadai

Yenny menjelaskan, penelitian eksperimental pada tikus menunjukkan bahwa ketika sel punca melanosit mengalami kerusakan DNA, sel dapat mengambil jalur berbeda.

Sebagian mengalami penuaan sel yang berujung pada pemutihan rambut. Namun, dalam kondisi tertentu.

Terutama ketika dipengaruhi zat karsinogenik, sel dapat mempertahankan diri dan berpotensi berkembang menjadi lesi melanositik yang mengarah pada melanoma.

Meski demikian, dr Yenny menegaskan belum terdapat bukti epidemiologis yang memadai bahwa orang yang cepat beruban memiliki risiko melanoma atau kanker lain yang lebih rendah.

Cepat beruban tidak berarti seseorang lebih terlindungi

Oleh karena itu, cepat beruban tidak berarti seseorang lebih terlindungi, begitu pula belum beruban tidak otomatis menunjukkan risiko kanker lebih tinggi.

Menurut dr Yenny, kecepatan munculnya uban dipengaruhi berbagai faktor seperti usia dan genetik menjadi faktor utama.

Sementara stres oksidatif, merokok, polusi, serta paparan lingkungan tertentu juga dapat berperan. Stres psikologis berat diduga mempercepat berkurangnya sel punca melanosit melalui aktivasi sistem saraf simpatis.

Selain itu, uban yang muncul dini dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin B12 atau zat besi, gangguan tiroid, maupun beberapa penyakit autoimun.

Uban tidak selalu menunjukkan kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu.

Namun, uban tidak selalu menunjukkan kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu.

“Oleh karena itu, kita tidak perlu mengaitkan kemunculan uban dengan kemampuan tubuh menghentikan kanker. Pemahaman yang tepat ini penting agar kita tidak mengabaikan faktor risiko kanker hanya karena rambut mulai memutih,” ungkapnya.

Sebaliknya, lanjut dia, perubahan pada kulit, terutama tahi lalat yang berubah bentuk, warna, ukuran, atau menimbulkan keluhan, perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Pemeriksaan juga dapat dipertimbangkan bila uban muncul sangat dini dan disertai keluhan lain.

Sehingga kemungkinan faktor nutrisi atau gangguan kesehatan dapat dinilai sesuai kondisi individu.

“Pencegahan kanker tetap perlu dilakukan tanpa melihat warna rambut, antara lain dengan pola hidup sehat, menghindari rokok, melindungi kulit dari paparan ultraviolet berlebihan, serta memperhatikan perubahan tahi lalat atau lesi kulit yang mencurigakan,” pungkas dia.

Sumber : https://www.kompas.com/edu/read/2026/09/01/100632771/benarkah-uban-tanda-tubuh-sedang-lawan-kanker-ini-kata-pakar-ipb

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Liputan6.com, Jakarta Jeruk nipis selama ini lebih akrab sebagai bahan pelengkap di dapur. Rasa asamnya dapat memberikan sentuhan segar pada makanan dan minuman, tetapi buah berwarna hijau ini juga kerap digunakan dalam berbagai perawatan kulit alami. Tidak sedikit orang yang mengoleskan perasan jeruk nipis pada wajah karena percaya kandungan vitamin C di dalamnya dapat membantu membuat kulit tampak lebih cerah. Dari kebiasaan tersebut kemudian muncul pertanyaan yang cukup penting: apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari, atau penggunaan terlalu sering justru dapat menimbulkan masalah pada kulit?

Keinginan untuk memanfaatkan bahan alami sebagai bagian dari rutinitas perawatan wajah memang cukup umum. Bahan yang mudah ditemukan di rumah sering dianggap lebih praktis dan aman karena berasal dari alam. Padahal, alami tidak selalu berarti cocok digunakan secara langsung pada kulit, terlebih jika diaplikasikan terlalu sering. Jeruk nipis memiliki sifat yang sangat asam sehingga penggunaannya pada wajah perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. Pemakaian setiap hari umumnya tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko kulit mengalami iritasi, terutama pada kulit yang sensitif atau memiliki kondisi skin barrier yang sedang terganggu.

Kandungan vitamin C memang menjadi salah satu alasan jeruk nipis banyak dilirik sebagai bahan perawatan kulit. Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta membuat perasan jeruk nipis aman dijadikan pengganti produk skincare dan digunakan setiap hari. Konsentrasi asam, cara pemakaian, kondisi kulit, serta paparan sinar matahari setelah penggunaannya menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, sebelum mencoba tren perawatan wajah berbahan jeruk nipis, penting untuk memahami terlebih dahulu bagaimana bahan tersebut dapat bereaksi terhadap kulit.

Penggunaan jeruk nipis sebagai bagian dari pengobatan atau perawatan tradisional sebenarnya bukan hal baru. Dalam buku Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis karya B. Sarwono, disebutkan bahwa bangsa-bangsa di Asia Tenggara telah lama memanfaatkan jeruk nipis sebagai bahan dalam berbagai ramuan tradisional. Pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa jeruk nipis memang memiliki sejarah panjang dalam pemanfaatan sehari-hari. Meski demikian, penggunaan secara tradisional tetap perlu dibedakan dengan penerapan langsung pada kulit wajah yang memiliki karakteristik lebih sensitif. Memahami manfaat sekaligus risikonya dapat membantu menentukan cara penggunaan yang lebih bijak, sehingga keinginan mendapatkan manfaat dari jeruk nipis tidak justru berakhir dengan masalah pada kulit, berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (1/9/2026).

Mengenal Jeruk Nipis untuk Perawatan Wajah

Jeruk nipis (Citrus aurantiifolia) merupakan buah sitrus berukuran kecil dengan rasa asam yang khas. Buah ini mengandung vitamin C, asam sitrat, serta berbagai senyawa antioksidan yang membuatnya kerap dilirik sebagai salah satu bahan dalam perawatan kulit alami. Kandungan tersebut pula yang membuat jeruk nipis cukup populer dalam berbagai resep skincare rumahan, terutama untuk membantu membuat kulit tampak lebih cerah.

Dilansir dari Healthline, vitamin C sebagai antioksidan berperan dalam membantu melindungi kulit dari radikal bebas yang dapat merusak kolagen. Kolagen sendiri merupakan salah satu protein penting yang membantu menjaga struktur dan elastisitas kulit. Pemanfaatan bahan yang mengandung vitamin C kemudian sering dikaitkan dengan upaya menjaga kulit agar tetap tampak sehat dan halus.

Hal tersebut turut membuat berbagai manfaat jeruk nipis untuk wajah banyak dibicarakan dan dipromosikan melalui resep perawatan alami. Jeruk nipis dipercaya dapat membantu mencerahkan kulit, mengurangi minyak berlebih, hingga membantu mengangkat sel kulit mati. Harganya yang relatif murah dan mudah ditemukan juga membuat buah ini menarik bagi orang yang ingin mencoba perawatan kulit dengan bahan sederhana yang tersedia di rumah.

Namun, penggunaan jeruk nipis pada wajah tidak cukup hanya mempertimbangkan kandungan vitamin C atau manfaat yang dipercaya dimilikinya. Sifatnya yang asam menjadi hal penting yang perlu diperhatikan, terutama ketika air perasan jeruk nipis digunakan secara langsung tanpa melalui proses formulasi khusus.

Kekuatan air perasan jeruk nipis juga tidak dapat ditakar secara pasti. Tingkat keasaman setiap buah dapat berbeda, sehingga jumlah asam yang mengenai kulit ketika seseorang mengoleskannya secara langsung pun tidak selalu sama. Pada kulit tertentu, paparan bahan yang terlalu asam dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, kering, atau iritasi. Risiko tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan jika penggunaannya dilakukan berulang kali.

Kondisi ini menjadi salah satu perbedaan mendasar antara jeruk nipis segar dan produk skincare yang memang diformulasikan untuk kulit. Produk perawatan kulit umumnya dibuat dengan mempertimbangkan konsentrasi bahan aktif, tingkat keasaman, stabilitas formula, serta cara penggunaan yang sesuai. Karena itu, meski jeruk nipis memiliki kandungan yang menarik untuk kulit, penggunaannya secara langsung tetap membutuhkan kehati-hatian, terlebih jika hendak dijadikan bagian dari rutinitas perawatan wajah sehari-hari.

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Jika pertanyaannya adalah apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari, jawaban praktisnya adalah sebaiknya tidak. Meski jeruk nipis mengandung vitamin C dan senyawa lain yang menarik untuk perawatan kulit, air perasannya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Penggunaan langsung dan terlalu sering dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi, terlebih jika kondisi skin barrier sedang tidak optimal.

Risikonya tidak hanya berkaitan dengan rasa perih atau kemerahan yang mungkin muncul setelah pemakaian. Senyawa tertentu dalam buah sitrus juga dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari. Ketika kulit yang terkena bahan tersebut kemudian terpapar sinar matahari, reaksi pada kulit dapat menjadi lebih berat. Karena itu, penggunaan jeruk nipis secara sembarangan justru berpotensi menimbulkan masalah baru alih-alih memberikan manfaat seperti yang diharapkan.

Ulasan dalam jurnal Clinical and Molecular Allergy juga mencatat bahwa Citrus aurantiifolia termasuk buah yang memiliki sejumlah reaksi merugikan dan manifestasi klinis yang telah terdokumentasi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa bahan alami tetap dapat menimbulkan reaksi tertentu ketika bersentuhan dengan kulit. Risiko tersebut dapat lebih besar pada orang yang memiliki kulit sensitif, kering, atau sedang mengalami iritasi.

Pendapat serupa juga disampaikan dermatolog Melissa Piliang, MD, yang dikutip oleh Cleveland Clinic. Menurutnya, reaksi kulit akibat paparan buah sitrus berkaitan dengan jumlah bahan yang mengenai kulit dan lamanya seseorang berada di bawah sinar matahari. Artinya, cara penggunaan dan kondisi setelah pemakaian menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan ketika membicarakan keamanan bahan sitrus untuk kulit.

Lantas, apakah jeruk nipis sama sekali tidak boleh digunakan pada wajah? Tidak selalu demikian. Persoalannya terletak pada cara dan frekuensi pemakaian. Mengoleskan air perasan jeruk nipis murni secara rutin bukan pilihan yang ideal untuk perawatan wajah, terutama karena konsentrasi asamnya tidak dapat dikontrol seperti pada produk skincare yang telah diformulasikan khusus untuk kulit.

Jika tetap ingin mencoba perawatan berbahan jeruk nipis, penggunaan sebaiknya tidak dilakukan setiap hari dan perlu menghindari paparan sinar matahari setelahnya. Namun, perlu diingat bahwa mengencerkan air perasan jeruk nipis di rumah pun tidak memberikan ukuran konsentrasi yang benar-benar pasti. Bagi pemilik kulit sensitif atau yang memiliki masalah kulit tertentu, berkonsultasi dengan dokter kulit merupakan pilihan yang lebih aman sebelum mencoba bahan tersebut secara langsung.

Manfaat Jeruk Nipis untuk Wajah

Sebelum membahas lebih jauh mengenai batasan penggunaannya, wajar jika muncul pertanyaan mengapa jeruk nipis begitu populer sebagai bahan perawatan kulit alami. Ketertarikan tersebut tidak lepas dari kandungan vitamin C, asam sitrat, dan berbagai senyawa antioksidan di dalamnya. Kandungan tersebut memang memiliki peran tertentu dalam kesehatan kulit, tetapi manfaatnya perlu dipahami secara proporsional agar tidak membuat penggunaan jeruk nipis secara langsung dianggap sama dengan penggunaan produk skincare yang telah diformulasikan.

Salah satu kandungan yang menarik perhatian adalah senyawa flavonoid dalam buah sitrus. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Investigative Dermatology pada 2007, misalnya, meneliti nobiletin, salah satu flavonoid yang ditemukan pada buah sitrus, dan kaitannya dengan produksi sebum serta proliferasi sebosit dalam penelitian pada hewan. Temuan semacam ini memberikan gambaran awal mengenai potensi senyawa dari buah sitrus terhadap kulit, tetapi hasil penelitian pada hewan belum dapat digunakan untuk memastikan efek yang sama ketika jeruk nipis digunakan langsung pada kulit manusia.

Berbagai manfaat jeruk nipis untuk wajah yang beredar di masyarakat pun umumnya berkaitan dengan kandungan-kandungan tersebut. Berikut beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan penggunaan jeruk nipis pada kulit:

  1. Membantu mencerahkan kulit – Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang dapat berperan dalam proses pembentukan melanin pada kulit. Karena itu, vitamin C sering digunakan dalam produk perawatan untuk membantu membuat warna kulit tampak lebih merata. Namun, efek tersebut tidak berarti bahwa mengoleskan air perasan jeruk nipis secara langsung akan memberikan hasil yang sama.
  2. Membantu merawat kulit yang rentan berjerawat – Jeruk nipis kerap dikaitkan dengan perawatan jerawat karena sifat asam dan kandungan senyawa tertentu di dalamnya. Klaim mengenai manfaat jeruk nipis untuk membantu mengatasi jerawat memang cukup populer, tetapi bukti klinis yang secara khusus mendukung penggunaan air perasan jeruk nipis langsung pada wajah masih terbatas.
  3. Memberikan efek eksfoliasi – Asam sitrat termasuk kelompok alpha hydroxy acid (AHA) yang dalam formulasi skincare dapat membantu melepaskan sel-sel kulit mati dari permukaan kulit. Meski demikian, kandungan asam dalam jeruk nipis segar tidak dapat disamakan begitu saja dengan AHA dalam produk skincare yang konsentrasinya telah diatur dan diformulasikan untuk penggunaan pada kulit.
  4. Membantu mengurangi minyak berlebih – Jeruk nipis juga sering digunakan dalam resep perawatan alami yang ditujukan untuk kulit berminyak. Beberapa penelitian terhadap senyawa buah sitrus menunjukkan adanya potensi pengaruh terhadap produksi sebum, tetapi temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa air perasan jeruk nipis dapat secara aman dan efektif mengontrol minyak berlebih ketika dioleskan langsung ke wajah.
  5. Membantu menyamarkan tampilan noda gelap – Kandungan vitamin C sering digunakan dalam skincare untuk membantu meratakan warna kulit dan mengurangi tampilan hiperpigmentasi. Karena alasan tersebut, jeruk nipis juga kerap dipercaya dapat membantu menyamarkan noda atau bekas jerawat. Namun, penggunaan air perasan secara langsung justru dapat memicu iritasi pada sebagian orang, yang berpotensi membuat perubahan warna kulit semakin terlihat.
  6. Mendukung pembentukan kolagen – Vitamin C memiliki peran penting dalam proses pembentukan kolagen. Protein ini membantu menjaga struktur dan elastisitas kulit. Manfaat vitamin C tersebut telah menjadi salah satu alasan bahan ini banyak digunakan dalam produk skincare, meskipun bukan berarti penggunaan jeruk nipis segar pada wajah merupakan cara yang paling aman untuk mendapatkan manfaat tersebut.
  7. Membantu melindungi kulit dari radikal bebas – Vitamin C dan senyawa antioksidan lainnya dapat membantu melindungi sel dari stres oksidatif akibat paparan lingkungan. Potensi antioksidan inilah yang turut membuat buah sitrus menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan kulit.

Berbagai manfaat tersebut perlu dipahami dengan konteks yang tepat. Sebagian merupakan manfaat yang berkaitan dengan kandungan tertentu dalam jeruk nipis, sementara sebagian lainnya masih berupa klaim populer atau didukung oleh penelitian awal yang belum secara khusus menguji penggunaan air perasan jeruk nipis pada wajah manusia. Karena itu, manfaatnya tidak bisa dianggap sebagai hasil yang pasti, apalagi diperoleh secara instan.

Hal yang tidak kalah penting, manfaat suatu bahan aktif tidak selalu berarti bahan mentah yang mengandungnya aman digunakan langsung pada kulit. Dalam skincare, konsentrasi, pH, stabilitas, serta kombinasi bahan diperhitungkan untuk mendapatkan manfaat sekaligus meminimalkan risiko iritasi. Inilah alasan mengapa kandungan vitamin C dalam jeruk nipis tidak otomatis membuat air perasannya cocok digunakan sebagai skincare harian.

Efek Samping Memakai Jeruk Nipis Setiap Hari

Sisi yang tidak kalah penting untuk dibahas adalah risikonya. Popularitas jeruk nipis sebagai bahan perawatan kulit alami terkadang membuat aspek keamanannya terlewatkan. Padahal, memahami efek samping jeruk nipis dapat membantu menentukan apakah bahan ini memang layak digunakan pada wajah, terutama jika pemakaiannya direncanakan sebagai rutinitas.

Salah satu risiko yang paling perlu diperhatikan adalah fitofotodermatitis. Kondisi ini terjadi ketika kulit bersentuhan dengan senyawa fototoksik yang terdapat pada tumbuhan atau buah tertentu, kemudian terpapar sinar ultraviolet, khususnya UVA. Buah sitrus seperti jeruk nipis termasuk salah satu sumber yang dapat memicu reaksi tersebut karena mengandung senyawa furokumarIn. Reaksinya dapat menyerupai luka bakar atau masalah kulit lainnya sehingga terkadang tidak langsung dikenali sebagai fitofotodermatitis.

Reaksi tersebut tidak selalu muncul seketika setelah kulit terkena air perasan jeruk nipis. Gejala dapat berkembang beberapa jam hingga beberapa hari kemudian, terutama setelah area kulit yang terpapar kembali terkena sinar matahari. Tingkat keparahannya pun dapat berbeda pada setiap orang. Berikut beberapa efek yang perlu diperhatikan:

  1. Fitofotodermatitis atau “margarita burn” – Setelah kulit terkena jeruk nipis dan kemudian terpapar sinar matahari, dapat muncul kemerahan, rasa gatal, nyeri, pembengkakan, bahkan lepuhan. Reaksi ini dikenal sebagai fitofotodermatitis dan tidak sama dengan alergi kulit biasa.
  2. Hiperpigmentasi yang sulit hilang – Setelah peradangan mereda, kulit pada area yang terkena dapat meninggalkan bercak berwarna lebih gelap. Hiperpigmentasi pascaperadangan ini dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada tingkat keparahan reaksi dan kondisi kulit masing-masing.
  3. Perubahan warna kulit atau chemical leukoderma – Penggunaan bahan berbasis buah sitrus pada kulit juga pernah dikaitkan dengan munculnya bercak putih akibat hilangnya pigmen pada area tertentu. Sebuah laporan kasus mendokumentasikan kondisi tersebut setelah penggunaan toner lemon buatan sendiri. Meski kasus seperti ini tergolong jarang, hal tersebut menunjukkan bahwa bahan alami tetap dapat menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan.
  4. Iritasi dan sensasi terbakar – Tingkat keasaman jeruk nipis dapat membuat kulit terasa perih, panas, atau terbakar. Reaksi ini lebih mungkin terasa pada kulit yang sensitif, kering, atau sedang mengalami gangguan pada lapisan pelindungnya.
  5. Kulit kering dan terganggunya skin barrier – Penggunaan bahan yang terlalu asam dan terlalu sering dapat membuat kulit terasa semakin kering dan tidak nyaman. Jika lapisan pelindung kulit terganggu, kulit juga dapat menjadi lebih mudah bereaksi terhadap produk atau bahan lain.
  6. Reaksi yang lebih berat pada kondisi tertentu – Risiko reaksi fototoksik dapat dialami siapa saja, tetapi tingkat keparahannya dipengaruhi oleh jumlah bahan yang mengenai kulit, durasi paparan sinar matahari, serta kondisi kulit masing-masing. Karena itu, tidak tepat menganggap jeruk nipis aman hanya karena sebelumnya tidak pernah menimbulkan masalah pada kulit.

Dermatolog Samer Jaber, MD, dari Washington Square Dermatology di New York, dikutip CBS News, menjelaskan bahwa reaksi tersebut berkaitan dengan paparan senyawa furanokumarin yang membuat kulit lebih rentan terhadap sinar UVA. Penjelasan ini menunjukkan mengapa penggunaan jeruk nipis pada kulit perlu memperhitungkan aktivitas setelah pemakaian, bukan hanya reaksi yang muncul sesaat setelah air perasan dioleskan.

Risiko tersebut menjadi alasan penting untuk tidak menjadikan air perasan jeruk nipis sebagai bahan skincare harian. Jika setelah menggunakan jeruk nipis kulit mengalami kemerahan, nyeri, lepuhan, atau perubahan warna yang menetap, sebaiknya hentikan penggunaannya dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit.

Cara Aman Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah

Jika kamu tetap ingin mencoba jeruk nipis sebagai bagian dari perawatan kulit, kehati-hatian menjadi hal yang paling penting. Berbagai resep memutihkan wajah dengan jeruk nipis memang banyak ditemukan, tetapi tidak semua cara tersebut memiliki tingkat keamanan yang sama. Mengingat air perasan jeruk nipis dapat menyebabkan iritasi dan meningkatkan risiko reaksi fototoksik, penggunaannya sebaiknya tidak diperlakukan seperti produk skincare biasa.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelah kulit terkena jeruk nipis. Menurut Poison Control, mencuci area kulit yang terkena sesegera mungkin dapat membantu mengurangi paparan senyawa furokumarin pada kulit. Perlindungan dari sinar matahari juga penting, sebab tabir surya tidak selalu dapat mencegah terjadinya fitofotodermatitis sepenuhnya. Karena itu, paparan sinar matahari setelah kulit bersentuhan dengan jeruk nipis sebaiknya benar-benar dihindari.

Kesalahan dalam menggunakan bahan alami juga dapat terjadi ketika seseorang menganggap bahan tersebut otomatis aman hanya karena berasal dari buah. Doro Cubillo, kreator konten kecantikan, yang dikutip dari Stylecraze, pernah mengingatkan melalui pengalamannya tentang penggunaan air lemon secara langsung pada wajah. Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa bahan alami tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati, terutama ketika digunakan pada kulit wajah.

Jika kamu masih mempertimbangkan penggunaannya, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko:

  1. Lakukan uji tempel terlebih dahulu – Sebelum mengaplikasikan bahan apa pun pada wajah, lakukan uji tempel pada area kulit yang kecil. Namun, perlu dipahami bahwa uji tempel tidak dapat menjamin seseorang terbebas dari reaksi fototoksik, karena reaksi tersebut juga dipengaruhi oleh paparan sinar ultraviolet.
  2. Jangan mengoleskan air perasan jeruk nipis murni secara langsung – Konsentrasi dan tingkat keasaman air perasan buah tidak dapat dikontrol dengan pasti di rumah. Pengenceran mungkin mengurangi keasaman, tetapi tidak membuat campuran tersebut otomatis aman atau bebas dari risiko fototoksik.
  3. Hindari paparan sinar matahari – Jangan menggunakan jeruk nipis pada kulit sebelum beraktivitas di luar ruangan. Senyawa fotoreaktif dari buah sitrus dapat berinteraksi dengan sinar UVA dan memicu reaksi pada kulit.
  4. Jauhkan dari area mata dan bagian kulit yang terluka – Kulit di sekitar mata relatif tipis dan lebih rentan mengalami iritasi. Air perasan jeruk nipis juga sebaiknya tidak digunakan pada kulit yang sedang mengalami luka, peradangan, atau iritasi.
  5. Jangan menjadikannya perawatan harian – Tidak ada alasan untuk menggunakan air perasan jeruk nipis setiap hari demi mendapatkan hasil yang lebih cepat. Paparan berulang justru dapat meningkatkan kemungkinan kulit mengalami iritasi dan gangguan pada lapisan pelindungnya.
  6. Segera bilas jika terkena kulit – Jika air perasan jeruk nipis mengenai kulit, terutama sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari, segera cuci area tersebut dengan air dan sabun. Langkah ini dapat membantu mengurangi sisa senyawa yang masih menempel pada permukaan kulit.
  7. Hentikan penggunaan jika muncul reaksi – Rasa perih, panas, kemerahan, gatal, pembengkakan, atau lepuhan merupakan tanda bahwa kulit sedang mengalami reaksi. Jangan memaksakan penggunaan dengan harapan kulit akan terbiasa. Jika reaksinya cukup berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya periksakan kondisi kulit kepada dokter.

Tips singkat: jeruk nipis sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti skincare harian. Jika tujuanmu adalah mencerahkan kulit, merawat noda hitam, atau mendapatkan manfaat vitamin C secara rutin, produk skincare yang telah diformulasikan dengan konsentrasi dan cara penggunaan yang jelas merupakan pilihan yang lebih terukur. Bahan aktif dalam produk tersebut juga dapat dirancang agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan toleransi kulit dibandingkan penggunaan air perasan buah secara langsung.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Jeruk Nipis untuk Wajah

Apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari?

Sebaiknya tidak. Kandungan asam yang tinggi membuat pemakaian harian berisiko menimbulkan iritasi, kekeringan, dan kerusakan barier kulit. Lebih aman digunakan sesekali dalam kondisi sudah diencerkan.

Kenapa jeruk nipis tidak boleh terkena sinar matahari langsung?

Karena kandungan furokumarin di dalamnya membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar UV. Kombinasi jeruk nipis dan matahari bisa memicu fitofotodermatitis, yaitu reaksi seperti luka bakar yang meninggalkan bercak gelap.

Apa alternatif jeruk nipis yang lebih aman untuk mencerahkan wajah?

Serum atau produk perawatan berbahan vitamin C yang sudah diformulasikan bisa menjadi pilihan. Kadarnya terukur, teruji secara dermatologis, dan risikonya jauh lebih kecil dibanding air perasan jeruk nipis murni.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8272158/apakah-boleh-memakai-jeruk-nipis-untuk-wajah-setiap-hari

Orang Indonesia Ternyata Paling Doyan Makan Mi Instan di Dunia, Ini Buktinya

Orang Indonesia Ternyata Paling Doyan Makan Mi Instan di Dunia, Ini Buktinya

Liputan6.com, Jakarta – 4 negara di Asia Tenggara masuk menjadi penguasa pasar mi instan terbesar di dunia. Keempatnya, yaitu Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Gabungan konsumsi mi instan keempat negara tersebut mencapai 31,3 miliar porsi pada 2025.

Bahkan, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia setelah Cina, dengan total konsumsi 14,5 miliar porsi. Angka ini 51% lebih tinggi daripada India sebagai pasar terbesar ketiga dunia.

Ini terkuak dari Laporan Asosiasi Mi Instan Dunia (WINA), dikutip VnExpress, Senin (31/8/2026). Adapun mi instan yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia adalah mi goreng, mulai dari rasa sayur, ayam, hingga udang dengan bumbu cabai. Sebagian besar produk mi negara ini sudah bersertifikat halal karena mayoritas penduduknya Islam.

Vietnam menempati peringkat keempat dengan 8,2 miliar porsi. Namun, jika dilihat dari konsumsi per kapita, negara ini memimpin dunia dengan 81 porsi per orang.

Menurut laporan WINA, campuran udang dan jeruk nipis adalah rasa yang paling populer di Vietnam, dengan jenis mi kenyal yang paling diminati dan tambahan topping bawang bombai, lemon, dan cabai. Selain mi dari tepung terigu, banyak pula produk yang menggunakan mi beras “pho”, yang merupakan mi khas Vietnam.

Filipina menyusul di peringkat ketujuh di dunia dengan konsumsi 4,3 miliar porsi, turun 3,5% dari 2024. Jenis yang paling populer adalah mi goreng “Pancit Canton”.

Rasa Calamondin (buah jeruk) dan cabai pedas banyak diminati, begitu juga dengan rasa makanan laut, khususnya untuk mi kuah. Karena masyarakat Filipina suka ngemil, mereka sering menikmati mi instan pada kemasan cup mini.

Dari China hingga Nigeria

Thailand kemudian menempati peringkat kedelapan dengan hampir 4,2 miliar porsi, angka tertinggi yang pernah tercatat. Rasa-rasa seperti tom yum, suki Thailand, dan daging babi cincang sangat populer di sana, terutama rasa pedas karena tambahan cabai.

Dalam daftar 10 besar, Jepang, tempat mi instan pertama kali diproduksi secara komersial, berada di peringkat kelima dengan 5,9 miliar porsi.

Amerika Serikat menyusul di peringkat keenam dengan 5,2 miliar porsi, sementara Korea Selatan dan Nigeria melengkapi daftar tersebut dengan masing-masing 4,1 miliar dan 3,1 miliar porsi.

China tentunya tetap menjadi pasar mi instan terbesar di dunia, dengan 43,3 miliar porsi, atau dengan total gabungan dari lima pasar terbesar berikutnya.

Hingga 2025, permintaan global untuk mi instan mencapai 124 miliar porsi, naik 0,7% dari 2024.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8281311/orang-indonesia-ternyata-paling-doyan-makan-mi-instan-di-dunia-ini-buktinya

Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi Mulai Hari Ini, Cek Ketentuannya

Garuda Indonesia Ubah Aturan Bagasi Mulai Hari Ini, Cek Ketentuannya

Liputan6.com, Jakarta – Garuda Indonesia mengubah ketentuan bagasi mulai 1 September 2026. Untuk tiket yang dibeli atau diterbitkan sejak tanggal tersebut, maskapai nasional ini akan menerapkan sistem berdasarkan jumlah koli atau Piece Concept, bukan lagi hanya berdasarkan total berat bagasi.

Perubahan ini diharapkan membuat penumpang lebih mudah mengetahui jumlah koper yang dapat dibawa sekaligus batas berat setiap koper sebelum melakukan perjalanan.

Direktur Transformasi Garuda Indonesia Neil Raymond Mills mengatakan, penerapan sistem tersebut ditujukan untuk memberikan informasi yang lebih jelas kepada pelanggan sejak tahap perencanaan perjalanan.

“Yang ingin kami dorong adalah agar pelanggan memiliki informasi yang semakin jelas sejak merencanakan perjalanan berapa jumlah bagasi yang dapat dibawa dan berapa batas berat setiap bagasi. Dengan begitu, persiapan dapat dilakukan lebih awal dan proses perjalanan di bandara pun diharapkan semakin seamless,” ujar Neil dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Dalam sistem Piece Concept, jumlah koper dan batas berat masing-masing koper menjadi hal penting. Misalnya, jika tiket mencantumkan 1 piece maksimal 23 kilogram, penumpang hanya dapat membawa satu koper dengan berat maksimal 23 kilogram.

Jika penumpang membawa dua koper dengan total berat tetap 23 kilogram, bagasi tersebut tetap dihitung sebagai dua koli.

Begitu pula dengan tiket yang mencantumkan 2 pieces x 23 kilogram. Penumpang dapat membawa dua koper dengan berat maksimal 23 kilogram untuk masing-masing koper. Kuota tersebut tidak dapat digabung menjadi satu koper dengan berat 46 kilogram.

Berbeda Tiap Kelas Penerbangan

Ketentuan bagasi Garuda Indonesia dalam skema Piece Concept berbeda berdasarkan kelas penerbangan dan rute perjalanan.

Untuk penerbangan domestik kelas ekonomi, alokasi bagasi dapat mencapai satu koli dengan berat maksimal 23 kilogram. Sementara untuk penerbangan internasional kelas ekonomi, alokasi bagasi dapat mencapai dua koli dengan berat maksimal masing-masing 23 kilogram.

Adapun penumpang kelas Business dan First dapat memperoleh alokasi hingga dua koli dengan batas berat maksimal masing-masing 32 kilogram. Namun, ketentuan tersebut tetap bergantung pada rute dan jenis tiket yang dibeli.

Garuda Indonesia menegaskan informasi yang tercantum dalam e-ticket menjadi acuan utama terkait jatah bagasi setiap penumpang.

Karena itu, penumpang disarankan memeriksa kembali ketentuan pada tiket sebelum berangkat. Setiap koper juga sebaiknya ditimbang secara terpisah untuk memastikan tidak ada yang melebihi batas berat.

Penumpang yang berencana membawa lebih banyak barang saat perjalanan pulang juga disarankan menyisakan ruang di dalam koper.

Jika berat bagasi melebihi ketentuan, penumpang perlu mengecek apakah kelebihan berasal dari jumlah koper, berat masing-masing koper, atau keduanya.

Aturan Pindah Koper

Apabila memungkinkan, kelebihan barang dapat dipindahkan ke koper lain selama setiap koli tetap memenuhi batas berat yang ditentukan. Namun, jika jumlah koper melebihi jatah yang tercantum dalam tiket, penumpang perlu menggunakan opsi excess baggage sesuai ketentuan yang berlaku.

Garuda Indonesia juga mengingatkan penumpang tidak memindahkan seluruh kelebihan bagasi ke kabin. Bagasi kabin tetap memiliki batas ukuran dan berat.

Penumpang diperbolehkan membawa satu tas atau koper kabin dengan ukuran maksimal panjang 56 cm, lebar 36 cm, atau tebal 23 cm. Total tiga dimensinya tidak boleh melebihi 115 cm dengan berat maksimal 7 kilogram.

Sementara itu, tiket yang dibeli atau diterbitkan sebelum 1 September 2026 masih mengikuti ketentuan lama berdasarkan total berat keseluruhan atau Weight Concept.

Untuk penerbangan yang melibatkan lebih dari satu maskapai, seperti codeshare, interline, atau penerbangan lanjutan dengan operator berbeda, ketentuan bagasi dapat berbeda.

Karena itu, penumpang tetap perlu memeriksa informasi bagasi sebelum keberangkatan agar dapat mempersiapkan barang sesuai jumlah dan batas berat yang tercantum pada tiket.

Perubahan sistem ini membuat penumpang tidak hanya perlu memperhatikan total berat bagasi, tetapi juga jumlah koper dan berat setiap koli yang dibawa selama perjalanan.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8278536/garuda-indonesia-ubah-aturan-bagasi-mulai-hari-ini-cek-ketentuannya