Bukan Mitos, Main Tanah Bisa Bantu Imun Anak Lawan Alergi

Bukan Mitos, Main Tanah Bisa Bantu Imun Anak Lawan Alergi

KOMPAS.com – Sewaktu kecil, kamu mungkin pernah diberi tahu bahwa main tanah itu baik karena memperkuat sistem imun. Tapi, benarkah ada bukti ilmiah di balik klaim ini?

Singkatnya, ya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan tanah sejak dini dapat menurunkan risiko anak mengalami alergi dan kondisi autoimun, yaitu kondisi ketika sistem imun bereaksi berlebihan terhadap alergen atau bahkan menyerang jaringan tubuh sendiri.

Saat sistem imun anak berkembang di tahun-tahun awal kehidupan, pasukan sel pelindung dalam tubuh harus belajar membedakan sel tubuh sendiri dari zat asing yang bisa jadi tidak berbahaya atau justru menyebabkan penyakit, seperti bakteri dan virus.

Sistem imun perlu mengenali patogen penyebab penyakit agar bisa menyerangnya secara tepat.

Mikrobioma Usus dan “Teman Lama” dalam Tubuh

Sinyal molekuler yang mendorong perkembangan bagian regulasi dari sistem imun ini ternyata sebagian besar berasal dari mikroba di usus, kata Graham Rook, profesor emeritus mikrobiologi medis di University College London, kepada Live Science.

Kumpulan mikroba ini disebut “mikrobioma usus” dan sangat penting bagi kesehatan manusia. Sebagian mikroba ini, misalnya, membantu memproduksi vitamin yang dibutuhkan tubuh dan membantu proses pencernaan.

Tahun pertama kehidupan adalah masa krusial bagi perkembangan mikrobioma. Bayi menerima bakteri saat melewati jalan lahir jika dilahirkan secara normal, dan dari ASI jika disusui. Seiring bertambahnya usia, anak-anak terus terpapar mikroba dari berbagai sumber di sekitarnya.

Sebuah teori bernama “old friends hypothesis” (hipotesis teman lama) menyebutkan bahwa semakin beragam mikroba yang ditemui anak sejak dini, semakin beragam pula mikrobioma yang mereka miliki, dan semakin baik pula kemampuan sistem imun mereka membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Istilah “teman lama” merujuk pada mikroba menguntungkan atau “komensal” yang hidup di dalam dan di permukaan tubuh tanpa membahayakan kesehatan.

Teori ini pertama kali diajukan oleh Rook pada 2003 dan mirip dengan hipotesis yang lebih dikenal luas, yaitu “hygiene hypothesis” (hipotesis higienitas), yang menyatakan bahwa kurangnya paparan kuman sejak dini membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan imun.

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kaitan antara tumbuh di peternakan atau di rumah yang memelihara hewan dengan risiko alergi yang lebih rendah pada anak, dibandingkan anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan atau tanpa hewan peliharaan.

Bukan Sembarang Kuman

Namun, hipotesis teman lama menekankan pentingnya paparan terhadap mikroba komensal di masa kecil, bukan patogen infeksius. Sejumlah penelitian di Eropa justru menunjukkan bahwa paparan kuman penyebab infeksi sejak dini tidak melindungi anak dari risiko alergi.

Kritik lain terhadap hipotesis higienitas adalah anggapan bahwa teori ini meremehkan pentingnya kebersihan dalam mencegah penyakit, dan mendorong gagasan keliru bahwa manusia modern telah menjadi “terlalu bersih,” tulis Rook dan koleganya dalam sebuah tinjauan ilmiah tahun 2016.

Di sisi lain, hipotesis teman lama bisa membantu menjelaskan mengapa penggunaan antibiotik berlebihan di masa awal kehidupan — yang dapat memusnahkan sebagian besar mikrobioma usus — serta persalinan caesar, yang membuat bayi tidak terpapar bakteri vagina, dikaitkan dengan peningkatan risiko alergi.

Bukti dari Finlandia dan Swedia

Sebuah uji coba di Finlandia meneliti apakah sistem imun anak-anak kota bisa diperkuat dengan rumput dan tanah yang diambil dari lantai hutan.

Hasilnya, dalam waktu satu bulan, anak-anak yang bermain di tanah memiliki kumpulan bakteri tak berbahaya yang lebih beragam di kulit mereka, serta lebih banyak sel dan molekul sinyal pengatur imun dalam darah mereka, dibandingkan anak-anak yang bermain di taman berkerikil.

Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan bakteri dalam tanah dapat membantu sistem imun matang secara lebih baik, yang secara teoretis dapat mengurangi kemungkinan sistem imun menjadi terlalu aktif.

Sejalan dengan itu, sebuah studi di Swedia yang dipublikasikan pada 2024 menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh di peternakan sapi perah atau memiliki hewan peliharaan memiliki tingkat alergi yang lebih rendah dibanding anak-anak yang tidak.

Mereka juga memiliki lebih banyak bakteri tak berbahaya dalam usus, sehingga para peneliti menyimpulkan kedua fenomena ini kemungkinan saling berkaitan.

Tetap Ada Batasnya

“Meski mikrobioma penting, ada banyak faktor lain yang memengaruhi risiko seseorang mengalami alergi, termasuk faktor genetik,” kata Dr. Robert Wood, profesor pediatri di Johns Hopkins Medicine, Baltimore, kepada Live Science.

Meski begitu, secara umum anak-anak tetap perlu didorong untuk bermain di luar rumah dan bermain di tanah, tambahnya.

Namun, pemahaman ilmuwan saat ini soal faktor risiko gangguan imun tidak selalu bisa langsung diterjemahkan menjadi saran praktis.

Misalnya, orang yang memelihara anjing mungkin memiliki peluang lebih rendah mengalami alergi dibanding yang tidak, tapi bukan berarti seseorang bisa disarankan memelihara anjing sebagai cara pasti mencegah alergi, kata Wood.

Tanah di kawasan yang tercemar berat juga bisa berbahaya bagi anak, karena berpotensi mengandung zat kontaminan berbahaya, ia menambahkan. Jenis tanah semacam ini jelas bukan yang seharusnya menjadi tempat bermain anak.

Karena tanah juga bisa mengandung bahan kimia berbahaya seperti timbal serta parasit, orang tua perlu memastikan anak tidak menghirup atau menelan tanah saat bermain.

Sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/31/130400120/bukan-mitos-main-tanah-bisa-bantu-imun-anak-lawan-alergi

Mengenal Food Noise, Obsesi Makan di Balik Kegagalan Diet

Mengenal Food Noise, Obsesi Makan di Balik Kegagalan Diet

TRIBUNNEWS.COM – Bagi banyak orang, mempertahankan konsistensi dalam menjalani program penurunan berat badan atau diet terasa seperti perjuangan yang tak pernah menang. Banyak yang meyakini kegagalan diet disebabkan oleh minimnya disiplin diri atau kurangnya niat.

Padahal, riset medis menunjukkan adanya gangguan biologis di balik dorongan makan yang tak tertahankan, yang dikenal sebagai food noise.

Food noise adalah kondisi psikologis dan biologis ketika pikiran seseorang terus-menerus dipenuhi oleh obsesi atau keinginan terhadap makanan, meskipun tubuh sebenarnya tidak sedang membutuhkan asupan energi.

Medical Manager LIGHT Group, dr. Guadelupe Maria Melissa, menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami kelebihan berat badan dalam waktu lama, otak menyesuaikan titik acuan berat badan. Ketika diet dimulai dan berat badan turun, tubuh justru meresponsnya sebagai ancaman dan memicu gangguan sinyal hormon incretin seperti GLP-1 dan GIP yang diproduksi oleh usus.

“Akibatnya, rasa lapar meningkat dan rasa kenyang berkurang. Penurunan berat badan merangsang otak untuk memicu food noise. Jadi, kegagalan diet bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan ada mekanisme pengaturan nafsu makan di otak yang terganggu,” ujar dr. Guadelupe dalam keterangannya.

Senada dengan dr. Guadelupe, Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menegaskan bahwa food noise sering kali menimbulkan stigma keliru bahwa penderita obesitas tidak memiliki kontrol diri.

“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang mengambil keputusan terkait makanan. Food noise memiliki keterkaitan kompleks antara faktor biologis, emosional, dan kebiasaan,” terang Tara.

Inilah alasan program penanganan obesitas tidak boleh hanya berfokus pada angka timbangan. Selama lebih dari dua dekade, LIGHThouse menitikberatkan pendekatan berbasis perubahan perilaku dan edukasi nutrisi yang berkelanjutan.

“Pendekatan psikologis sangat dibutuhkan untuk mengatasi dorongan makan yang tidak tepat dari akar masalahnya. Tujuannya bukan hanya membantu pasien menurunkan berat badan, tetapi juga membangun kemampuan untuk mempertahankan hasil tersebut dalam jangka panjang,” lanjut dia.

Menjawab tantangan tersebut, hadir inovasi medis berbasis tirzepatide melalui terapi TirzePen dan TirzeSlim. Terapi ini bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh.

“Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise,” terang dr. Guadelup.

Kendati demikian, para ahli sepakat bahwa terapi medis berbasis injeksi hanyalah satu bagian dari proses penyembuhan.

Keberhasilan jangka panjang tetap menuntut pendekatan multidisiplin yang memadukan intervensi medis, edukasi nutrisi dari ahli gizi, serta pendampingan psikologis guna mengubah perilaku makan secara berkelanjutan.

Sumber : https://www.tribunnews.com/lifestyle/7874940/mengenal-food-noise-obsesi-makan-di-balik-kegagalan-diet

Obesitas Tingkatkan Risiko Osteoartritis Lutut 4 Kali Lebih Tinggi

Obesitas Tingkatkan Risiko Osteoartritis Lutut 4 Kali Lebih Tinggi

Liputan6.com, Jakarta – Obesitas bukan hanya berkaitan dengan risiko berbagai penyakit kronis, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan sendi. Berat badan berlebih membuat lutut menerima beban lebih besar sehingga meningkatkan risiko mengalami osteoartritis.

Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi subspesialis kaki dan pergelangan kaki, Ihsan Oesman, orang dengan indeks massa tubuh (IMT) 25 hingga 29,9 atau tergolong memiliki berat badan berlebih risikonya mengalami osteoartritis lutut 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan berat badan normal.

Sementara itu, seseorang obesitas alias punya IMT 30 ke atas risiko mengalami osteoartritis lutut sekitar 4,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal. Kenapa bisa begitu? Oesman menyampaikan bahwa berat badan berlebih menimbulkan tekanan mekanis lebih besar pada sendi lutut, yang menopang sebagian besar beban tubuh ketika orang berdiri, berjalan, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

“Ketika beban tubuh lebih besar, tentu beban pada lutut juga akan bertambah,” katanya mengutip Antara.

Lalu, jaringan lemak berlebih dapat memicu perubahan pada tingkat sel yang berkaitan dengan proses peradangan kronis, yang berpotensi mempercepat kerusakan jaringan sendi.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi tulang rawan dan struktur lain pada sendi lutut yang berperan dalam pergerakan.

Seiring waktu, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri, kekakuan, dan penurunan fungsi lutut yang membatasi kemampuan melakukan aktivitas seperti berdiri lama, berjalan, dan berolahraga.

Mengelola Berat Badan

Assoc. Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr. Riyanny Meisha menambahkan, berat badan bukan satu-satunya variabel yang memengaruhi keluhan pada lutut.

“Pengelolaan berat badan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya pendekatan dalam mencegah maupun menangani osteoartritis lutut,” katanya.

Menurut dia, faktor-faktor lain yang berpeluang menyebabkan nyeri lutut juga perlu dievaluasi untuk menentukan penanganan dan pengobatan yang tepat.

Osteoartritis lutut adalah kondisi degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan di ujung tulang persendian mulai menipis dan aus. Kondisi ini seiring waktu dapat menyebabkan tulang saling bergesekan, mengakibatkan nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan gerak.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8279932/obesitas-tingkatkan-risiko-osteoartritis-lutut-4-kali-lebih-tinggi

Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Niat Istirahat Lima Menit, Malah Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

JP Radar Kediri – Istirahat sebentar sering terdengar sederhana. Namun, lima menit setelah mambuka media sosial bisa berubah menjadi berjam-jam.

Satu video pendek selesai, berlanjut ke video berikutnya, lalu bergeser ke platform lain tanpa terasa wakti berjalan.

Kebiasaan tersebut tidak selalu muncul karena sengaja ingin menghabiskan waktu di depan layar. Cara platform digital menyajikan konten juga dapat membuat aktivitas scrolling terus berlanjut.

Kenapa Lima Menit Bisa Berubah Menjadi Satu Jam?

Salah satu alasannya adalah tidak adanya batas alami dalam media sosial.

Pada media konvensional, sebuah acara atau tayangan biasanya memiliki titik akhir.

Berbeda dengan media sosial yang menggunakan fitur seperti infinite scroll, rekomendasi personal, autoplay, notifikasi, dan sistem likes.

Fitur-fitur tersebut membuat pengguna dapat terus menerima konten tanpa harus berhenti untuk memutuskan kapan aktivitas selesai.

Konten yang muncul juga tidak selalu sama. Setelah satu unggahan selesai, pengguna bisa mendapatkan video lucu, berita, konten yang sedang tren, atau sesuatu yang sesuai dengan minatnya.

Ketidakpastian mengenai apa yang muncul berikutnya dapat membuat aktivitas scrolling terasa seperti selalu ada sesuatu yang menarik untuk dilihat, sehingga tak akan ada hentinya.

Penelitian terbaru tentang binge-scrolling juga mengaitkannya dengan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kekhawatiran bahwa seseorang akan tertinggal informasi, percakapan, atau hal menarik yang sedang terjadi di lingkungan sosialnya.

Bukan Sekadar Soal Kurang Disiplin

Ketika seseorang sulit untuk meletakkan ponselnya, penyebabnya tidak selalu sesederhana “kurang disiplin”.

Kebiasaan terbentuk ketika sesuatu tindakan berulang kali dilakukan dlam situasi yang sama.

Misalnya, ketika merasa bosan lalu membuka sosial media, menunggu sesuatu lalu membuka media sosial, atau ketika ingin beristirahat lalu otomatis mengambil ponsel.

Dari kebiasaan sederhana itulah lama-kelamaan mengambil ponsel dapat menjadi respons otomatis terhadap rasa bosan atau jeda aktivitas.

Penelitian mengenai penggunaan media sosial juga menunjukkan bahwa pengendalian diri berhubungan dengan kebiasaan penggunaan yang bermasalah.

Dengan demiian, persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tetapi apakah penggunaan tersebut mulai mengganggu kegiatan lain yang sebenarnya lebih penting.

Istirahat Tidak Harus Selalu Berarti Scrolling

Masalahnya, scrolling sering dianggap sebagai bentuk istirahat. Padahal, aktivitas tersebut tetap membuat otak menerima aliran informasi secara terus-menerus.

Tinjauan mengenai dampak teknologi digital terhadap fungsi kognitif menunjukkan bahwa notifikasi, autoplay, dan infinite scroll dapat meningkatkan beban perhatian serta mendorong pengguna untuk terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain.

Karena itu, “istirahat” dengan membuka media sosial belum tentu memberikan jeda yang sama dengan benar-benar berhenti dari rangsangan digital.

Beristirahat bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, seperti berjalan sebentar, minum air, berbicara dengan orang lain, melihat ke luar ruangan, atau sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

Cara Membuat Waktu Istirahat Tidak Kebobolan

Mengurangi kebiasaan scrolling tidak selalu harus dilakukan dengan langsung menghapus seluruh media sosial. Langkah yang lebih realistis adalah membuat batas yang jelas.

Salah satunya dengan menentukan durasi sebelum membuka aplikasi. Misalnya, bukan sekadar berkata “sebentar”, tetapi menetapkan waktu istirahat selama 10 menit dan menggunakan alarm sebagai pengingat.

Notifikasi yang tidak penting juga dapat dimatikan. Langkah ini mengurangi pemicu eksternal yang membuat seseorang berulang kali memeriksa ponsel.

Penelitian terhadap intervensi digital pada 2026 menemukan bahwa pengingat yang muncul ketika pengguna melewati batas waktu yang ditentukan sendiri dapat membantu menurunkan waktu penggunaan aplikasi yang paling bermasalah sekitar 29 menit per hari.

Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa strategi seperti ini tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan penggunaan media sosial.

Cara lain adalah menyediakan alternatif ketika ingin beristirahat. Penelitian 2026 mengenai penggunaan ponsel bermasalah menemukan bahwa aktivitas alternatif yang dinilai bernilai oleh seseorang dapat berkaitan dengan kecenderungan penggunaan ponsel yang lebih rendah.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah media sosial boleh digunakan atau tidak. Media sosial tetap menjadi sarana komunikasi, hiburan, dan informasi yang berguna. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan menentukan kapan harus masuk dan kapan harus keluar.

Karena itu, ketika niat awalnya hanya “scroll sebentar”, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Masih ada video menarik apa?”, melainkan “Saya sebenarnya sedang beristirahat atau sedang mencari alasan untuk terus scrolling?”

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/lifestyle/2608300005/niat-istirahat-lima-menit-malah-satu-jam-kenapa-kita-sulit-berhenti-scrolling

Tahu dan Tempe Jadi Andalan, Ini Alasan Perlu Ditambah Protein Hewani

Tahu dan Tempe Jadi Andalan, Ini Alasan Perlu Ditambah Protein Hewani

Liputan6.com, Jakarta – Bagi banyak masyarakat Indonesia, tahu dan tempe hampir selalu hadir di meja makan. Harganya terjangkau, mudah diolah, dan menjadi sumber protein yang cukup populer. Namun, ahli nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengingatkan pentingnya melengkapi asupan protein nabati dengan protein hewani karena memiliki tingkat ketersediaan hayati (bioavailability) yang lebih tinggi.

Tara mengungkapkan pola makan masyarakat masih cenderung lebih banyak mengandalkan protein nabati dibandingkan protein hewani. Padahal asupan protein hewani penting karena umumnya memiliki profil asam amino yang lebih lengkap dan lebih mudah dimanfaatkan tubuh dibandingkan sebagian sumber protein nabati.

“Budaya tahu tempe kita cukup tinggi. Keseimbangan antara tahu tempe dan juga protein hewani itu masih timpang, jadi masih lebih berat ke tahu tempe, mungkin karena lebih ekonomis. Tapi protein hewani itu jauh lebih dapat diserap, bioavailability-nya itu lebih tinggi, alias lebih dapat diserap,” terang Tara dalam acara “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” pada Forum Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Tara mencontohkan sumber protein hewani seperti telur, susu, dan daging lebih tinggi diserap tubuh ketimbang tahu dan tempe.

“Kalau misalnya tahu tempe itu diserap hanya sampai 90 persen dari total yang dikonsumsi. Kalau protein hewani, kayak daging sapi, telur, susu itu bisa sampai 99 persen diserap,” kata Tara.

Selain tingkat penyerapan, kualitas protein juga dapat dinilai melalui Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS), yang mempertimbangkan kecernaan dan kandungan asam amino esensial dalam protein.

Tara mengatakan susu termasuk salah satu sumber protein dengan kualitas tinggi. Namun, konsumsi susu di masyarakat masih perlu ditingkatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

Protein Hewani Tak Harus Mahal

Tara memahami bahwa sebagian masyarakat masih menganggap protein hewani identik dengan daging sapi yang harganya relatif mahal. Padahal, terdapat berbagai sumber protein hewani yang lebih terjangkau dan mudah ditemukan.

Telur dan ikan kembung, misalnya, dapat menjadi pilihan protein hewani dengan harga yang relatif ramah di kantong. Ikan kembung juga mengandung lemak sehat, termasuk Omega-3, DHA, dan EPA.

Karena itu, pemenuhan kebutuhan protein tidak harus bergantung pada satu jenis makanan. Tahu dan tempe tetap dapat dikonsumsi sebagai sumber protein nabati, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan sumber protein hewani.

Dengan mengombinasikan keduanya, masyarakat dapat memperoleh asupan protein yang lebih beragam sekaligus memenuhi kebutuhan berbagai zat gizi penting dalam pola makan sehari-hari.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/diet-dan-kebugaran/read/8278745/tahu-dan-tempe-jadi-andalan-ini-alasan-perlu-ditambah-protein-hewani

Protein Hewani Tak Harus Mahal, Ikan Kembung Bisa Jadi Pilihan

Protein Hewani Tak Harus Mahal, Ikan Kembung Bisa Jadi Pilihan

Liputan6.com, Jakarta – Memenuhi asupan protein hewani tidak harus mahal. Jika ikan salmon identik dengan pangan ideal untuk kebutuhan protein dan perkembangan anak, maka dari sumber daya lokal, ikan kembung bisa menjadi pilihan.

Tidak hanya ekonomis, ikan kembung juga  mengandung banyak gizi dan manfaat. Ikan kembung adalah salah satu jenis bahan pangan lokal yang melimpah dan terjangkau di pasar tradisional. Ahli Gizi Tara Mutiara Ramdani mengungkapkan ikan kembung memiliki kandungan protein lebih tinggi dari salmon.

“Per 100 gram, proteinnya banyak yang lebih tinggi dibandingkan ikan salmon, contohnya ikan kembung. Ikan kembung ini juga salah satu yang paling tinggi protein. Kalau di ikan lebih tinggi omega-3, DHA, EPA, jadi lebih sehat juga, untuk lemaknya lebih baik,” jelas Tara dalam sesi Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” pada Rabu (25/8/2026).

Omega-3, DHA, dan EPA merupakan nutrisi penting yang berperan penting dalam perkembangan sel otak, menjaga kesehatan jantung, serta menekan peradangan dalam tubuh.

Selain kaya akan nutrisi dan lemak baik, keunggulan lain dari konsumsi ikan terletak pada tingkat kemudahan tubuh dalam memprosesnya.

Berbeda dengan daging sapi yang membutuhkan waktu pengolahan yang cukup lama di dalam lambung, ikan jauh lebih ramah dalam proses penyerapan di tubuh.

Jika daging sapi memerlukan waktu 3-4 jam untuk diserap tubuh, ikan butuh 1 hingga 2 jam.

“Selain ekonomis, ikan juga jauh lebih gampang diserap. Kalau misalnya daging sapi itu butuh 3-4 jam untuk dicerna, ikan butuh 1,5 jam sampai 2 jam maksimal untuk dicerna, jadi lebih oke,” tambah Tara.

Sifatnya yang cepat dicerna dan memiliki daya bioavailability, menjadikan ikan kembung sebagai sumber protein hewani yang sangat efisien untuk dikonsumsi harian oleh keluarga, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Sumber Protein Hewani Tak Harus Daging Sapi

Dari kacamata ekonomi, penyebab utama masyarakat menganggap protein hewani itu mahal dipicu oleh anggapan keliru atau “bias daging sapi”.

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, I Dewa Gede Karma Wisana, menyoroti bahwa ketergantungan persepsi pada daging sapi, khususnya daging yang masih diimpor dengan harga lebih tinggi, membuat masyarakat merasa tak mampu memenuhi asupan protein keluarga.

Dewa menuturkan bahwa ada alternatif lain berupa telur, ikan, dan susu yang pasti lebih terjangkau, dengan tetap bermutu gizi untuk menambah komponen lain.

“Kalau bayangan dapat protein yang mahal itu lebih karena sebenarnya bias dengan daging sapi. Padahal kalau kita lihat, kita sebenarnya bisa memiliki telur dan susu lebih banyak dibanding daging sapi. Telur dan ikan kembung itu protein yang sebenarnya sangat terjangkau,” tutur Dewa.

Ia juga menambahkan, kondisi ekonomi menekan anggaran rumah tangga, di mana pengeluaran untuk kebutuhan non-makanan, seperti energi dan transportasi, terus melonjak.

Sayangnya, hal yang kerap dikorbankan adalah pemenuhan mutu gizi makanan harian. Padahal, jika kesenjangan gizi ini dibiarkan dalam jangka panjang, kemampuan fisik dan produktivitas generasi muda Indonesia 10 hingga 20 tahun ke depan menjadi kekhawatiran serius.

“Jadi kita nggak melulu berkutat dengan daging mahal sehingga kita berhenti mengalokasikan (untuk) protein, padahal pilihannya tadi banyak. Ada ikan, telur, susu,”.

Bijak dalam Konsumsi Rumah Tangga

Sebagai langkah menutup celah kekurangan protein tanpa menguras dompet, Dewa menyarankan perubahan perilaku konsumsi sederhana pada rumah tangga.

Mengurangi sekitar 10 persen dari kebiasaan jajan di luar. Cara ini dinilai setara dengan memangkas Rp50.000 per bulan.

Hasilnya, pemangkasan tersebut dapat dialihkan untuk membeli pangan protein, seperti ikan kembung atau telur. Langkah kecil ini mampu menambah asupan protein hewani hingga 6 gram per hari bagi anggota keluarga.

“Contohnya, di sini kalau kita bisa kurangin 10 persen, itu 50 ribu per bulan, kita bisa dapet tambahan sekitar 6 gram protein per hari,” ujar Dewa.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8278965/protein-hewani-tak-harus-mahal-ikan-kembung-bisa-jadi-pilihan

Kurang Tidur Bisa Bahayakan Jantung Meski Olahraga Teratur? Ini Kata Dokter

Kurang Tidur Bisa Bahayakan Jantung Meski Olahraga Teratur? Ini Kata Dokter

Jakarta – Ada orang-orang yang rutin berolahraga dan menghindari makanan tidak sehat, tetapi diam-diam dapat membahayakan jantungnya pada malam hari. Hal ini bisa terjadi karena kualitas tidur tidak diperhatikan.

Dikutip dari laman Hindustan Times, Direktur Kardiologi di Rumah Sakit CK Birla, Delhi, Dr Anshul Kumar Jain, menjelaskan alasan mengapa kurang tidur bisa memengaruhi kesehatan.

1. Tekanan Darah yang Tidak Turun

Menurut Dr Anshul, jantung yang sehat seharusnya mendapat waktu untuk beristirahat di malam hari. Selama tidur dengan kualitas baik, tekanan darah secara alami turun sekitar 10-20 persen. Kondisi ini memberi pembuluh darah kesempatan untuk beristirahat.

“Tidur yang buruk atau terfragmentasi mengganggu penurunan tekanan darah tersebut. Tubuh tetap dalam keadaan lebih waspada, didorong oleh sistem saraf simpatik, detak jantung tetap lebih tinggi dari seharusnya, dan tekanan darah tidak turun sebagaimana mestinya,” katanya.

Jika hal ini cukup sering terjadi, sistem kardiovaskular mulai beroperasi dalam keadaan siaga ringan yang hampir permanen, dengan kadar kortisol dan adrenalin yang lebih tinggi dari normal. Hal tersebut menambah tekanan lebih lanjut pada jantung yang sudah bekerja keras.

2. Kerusakan Pembuluh Darah secara Perlahan

Dr Jain mengungkapkan, kurang tidur kronis juga memicu peradangan tingkat rendah di seluruh tubuh. Selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, aktivitas peradangan dapat berkontribusi pada kerusakan lapisan pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak lemak atau aterosklerosis. Kondisi ini dapat menyebabkan pembuluh darah menuju jantung menyempit.

Hal ini berkaitan erat dengan fungsi endotelium, yaitu lapisan bagian dalam pembuluh darah yang berperan membantu pembuluh darah rileks dan melebar saat dibutuhkan. Kurang tidur dapat mengganggu kemampuan tersebut sehingga pembuluh darah menjadi lebih kaku dan kurang responsif. Selanjutnya, kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, bahkan pada orang yang secara umum terlihat bugar dan sehat.

3. Efek Domino Metabolik

Tak hanya berdampak pada jantung, Dr Jain mengatakan bahwa kurang tidur juga memengaruhi metabolisme.

Kurang tidur dapat mengurangi sensitivitas insulin, mengganggu pengaturan gula darah, serta meningkatkan risiko jangka panjang diabetes tipe 2, yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Tidur juga berperan dalam mengatur hormon yang berkaitan dengan nafsu makan. Saat pola tidur terganggu, sinyal lapar menjadi kurang dapat diandalkan sehingga keinginan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi meningkat. Berat badan pun cenderung naik.

Mengapa Olahraga dan Pola Makan Sehat Saja Tidak Cukup untuk Menjaga Kesehatan Jantung?

Menurut Dr Jain, aktivitas fisik dan pola makan yang baik memang dapat membantu melindungi kesehatan jantung, tetapi keduanya tidak sepenuhnya mampu mengimbangi dampak kurang tidur berkepanjangan.

Beberapa mekanismenya memang saling berkaitan, tetapi masing-masing, seperti tekanan darah, peradangan, fungsi pembuluh darah, dan metabolisme, juga bekerja melalui jalur yang berbeda.

Seseorang yang rutin berolahraga tetapi hanya tidur lima jam dan sering terbangun di malam hari tetap dapat memberikan tekanan terus-menerus pada jantung yang tidak sepenuhnya bisa diimbangi hanya dengan aktif bergerak dan mengonsumsi makanan sehat.

Bukan hanya durasi tidur yang perlu diperhatikan, konsistensi waktu tidur dan bangun juga memiliki peran penting. Kebiasaan tidur dan bangun pada waktu yang sangat berbeda setiap harinya, atau mencoba mengganti kekurangan tidur di hari kerja dengan tidur lebih lama saat akhir pekan, tidak sepenuhnya menghilangkan dampak buruk dari kurang tidur atau tidur yang terganggu.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8640133/kurang-tidur-bisa-bahayakan-jantung-meski-olahraga-teratur-ini-kata-dokter

Pakar Ungkap Kepribadian Otrovert, Apakah Kamu Termasuk?

Pakar Ungkap Kepribadian Otrovert, Apakah Kamu Termasuk?

Jakarta – Ada tipe kepribadian yang dikenal dengan nama otrovert. Konsep kepribadian tersebut diperkenalkan ke dalam kosakata pada tahun 2025 oleh psikiater Rami Kaminski, MD, dalam bukunya The Gift of Not Belonging.

Tak seperti introvert, ekstrovert, atau ambivert, otrovert bukan tipe kepribadian yang diakui secara resmi.

“Ini lebih merupakan gagasan yang dilihat orang dalam diri mereka sendiri dan dirasakan keterkaitannya,” kata peneliti psikolog kesehatan, Dr Alivia Murdock-Frazier.

Apa Itu Otrovert?

Otrovert digambarkan sebagai seseorang yang bisa bersosialisasi dengan baik, tetapi tidak terlalu peduli untuk diterima dalam kelompok. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, mereka tidak merasa terlalu terikat pada identitas kelompok atau persetujuan orang lain.

Ciri-ciri Otrovert

Kaminski menjelaskan bahwa otrovert bisa menyesuaikan diri secara sosial, bahkan membentuk hubungan individu yang kuat. Namun, lingkungan kelompok bukan sesuatu yang mereka sukai.

“Otrovert dapat diterima dalam kelompok dan bahkan menjadi populer, tetapi mereka tetap menjadi orang luar secara emosional,” jelas Kaminski, dikutip dari laman India Today. Berikut ciri-ciri dari otrovert:

1. Rasa Kemandirian yang Kuat

Dari sudut pandang psikologis, otrovert dianggap sebagai individu yang mandiri dan tidak membutuhkan validasi eksternal. Otrovert cenderung fokus menjadi diri mereka sendiri daripada mengikuti norma atau kebiasaan yang dilakukan dalam sebuah kelompok.

“Mereka mungkin menjalani hidup mereka secara otonom dan mandiri, tanpa terlalu mempertimbangkan apa yang dipikirkan orang lain,” kata Dr Murdock-Frazier.

2. Lebih Menyukai Hubungan Personal

Otrovert bisa berinteraksi dalam berbagai situasi sosial. Namun, mereka tidak bergantung pada interaksi sosial untuk membangun identitas atau menentukan harga diri.

Otrovert juga cenderung lebih menyukai hubungan yang mendalam secara personal, seperti percakapan satu lawan satu, dibandingkan dinamika dalam kelompok besar. Terkadang, orang otrovert memang merasa kesepian, tetapi tidak terlalu parah.

“Orang otrovert sering merasa kesepian dalam kelompok, tetapi jarang bosan saat sendirian atau bersama beberapa teman dekat,” kata Kaminski.

3. Tidak Terlalu Memikirkan Penerimaan Sosial

Otrovert dapat merasakan adanya perbedaan atau jarak dengan orang-orang di sekitarnya dan tidak terlalu membutuhkan validasi dari lingkungan.

“Anda mungkin merasa tidak cocok dengan orang lain. Atau sebenarnya bisa menyesuaikan diri, tetapi Anda tidak peduli apakah Anda cocok atau tidak,” kata Dr Murdock-Frazier.

Dalam bukunya, Kaminski menunjuk seniman Frida Kahlo sebagai salah satu contoh yang mungkin menggambarkan karakter otrovert.

“Dia adalah sosok yang mandiri,” kata Dr Murdock-Frazier. “Kehidupan dan pekerjaannya mencerminkan seseorang yang mampu terhubung dengan orang lain sekaligus tetap nyaman berdiri terpisah dari norma dan harapan kelompok.”

Perbedaan Otrovert dengan Tipe Kepribadian Introvert-Ekstrovert-Ambivert

Berikut tipe kepribadian introvert-ekstrovert-ambivert dan perbedaannya dengan otrovert.

  1. Introvert: Cenderung menyukai tingkat stimulasi yang lebih rendah dan bisa merasa lelah setelah banyak bersosialisasi. Sementara itu, otrovert tidak selalu mencari kesendirian atau suasana yang tenang untuk melakukan refleksi diri.
  2. Ekstrovert: Biasanya mendapatkan energi dari interaksi dengan orang lain. Otrovert juga dapat berbaur dalam pesta dan berada dalam kelompok, tetapi mereka tidak merasa harus selalu dikelilingi banyak orang.
  3. Ambivert: Dapat memperoleh energi baik saat sendirian maupun ketika berada dalam kelompok, sehingga posisinya berada di tengah antara ekstrovert dan introvert.
    Sementara itu, otrovert kemungkinan berada di posisi yang berbeda dalam spektrum tersebut.

Otrovert kemungkinan tidak menggantikan tipe kepribadian lain yang sudah dikenal dan juga belum diakui secara resmi sebagai kategori kepribadian tersendiri.
Jadi, seseorang bisa mengidentifikasi diri sebagai introvert atau ekstrovert dan juga merasa cocok dengan karakter otrovert.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8639259/pakar-ungkap-kepribadian-otrovert-apakah-kamu-termasuk

Warna Ungu Luntur saat Dimasak, Manfaat Ube Berkurang? Ini Faktanya

Warna Ungu Luntur saat Dimasak, Manfaat Ube Berkurang? Ini Faktanya

Jakarta – Ube (Dioscorea alata) atau yang dikenal juga dengan sebutan purple yam kerap menjadi primadona dalam berbagai olahan makanan kekinian berkat warna ungunya yang menggugah selera. Namun, saat diolah, terkadang warna ungu pekat pada ube bisa memudar atau luntur.

Warna ungu pada ube dihasilkan oleh antosianin yang merupakan senyawa antioksidan. Sehingga, banyak orang beranggapan bahwa memudarnya warna ungu ini menjadi pertanda hilangnya kandungan antioksidan di dalamnya.

Kaitan Warna Ungu dengan Antioksidan

Meluruskan kesalahpahaman tersebut, ahli Ilmu Pangan dan Teknologi Pangan dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Aldila Din Pangawikan menjelaskan mekanisme sebenarnya di balik warna dan antioksidan pada ube.

Karena ube cenderung lebih tahan panas dibandingkan umbi ungu lainnya, banyak yang menyimpulkan bahwa kadar antioksidannya otomatis lebih terjaga.

Namun, meski warna dan antioksidan memiliki benang merah yang saling berkaitan melalui struktur antosianin, Aldi menegaskan, keduanya bukanlah parameter yang identik.

“Jadi, kalau ditanya apakah warna yang memudar itu berarti antioksidannya hilang, jawabannya nggak selalu. Jadi, perubahan warna itu terutama berkaitan dengan perubahan struktur kromofor, sebetulnya,” jelas Aldi kepada detikcom, Kamis (27/8/2026).

Kromofor adalah zat pada molekul yang menyebabkan ube berwarna ungu saat memantulkan cahaya tampak.

Jika struktur kromofor ini rusak atau berubah akibat pemanasan, warnanya akan pudar. Namun, pudarnya kromofor ini tidak selalu berarti kemampuan antioksidannya lenyap.

Mengapa Antioksidan Bertahan Meski Warna Pudar?

Secara ilmiah, antioksidan adalah senyawa yang dengan rela mendonorkan elektron atau hidrogennya untuk menangkap radikal bebas (senyawa yang tidak memiliki elektron berpasangan).

Menariknya, warna ungu bisa hilang lebih cepat daripada hilangnya total aktivitas antioksidan itu sendiri.

Aldi mengatakan hal tersebut dibuktikan oleh berbagai literatur ilmiah yang menunjukkan bukti bahwa kapasitas antioksidan bisa tetap relatif stabil meskipun pigmen warnanya mengalami perubahan.

Perubahan warna akibat pemanasan memang menunjukkan adanya degradasi kimia, tetapi hal ini tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan aktivitas antioksidannya.

Setelah melalui perlakuan panas tertentu, aktivitas antioksidan bisa tetap bertahan sementara warnanya sudah hilang.

“Kenapa seperti itu? Karena degradasi antosianin enggak otomatis berarti senyawanya enggak aktif. Jadi, sebagian produk degradasi atau transformasi kromofor tadi tetap memiliki kemampuan menangkap radikal,” papar Aldi.

Selain itu, antioksidan di dalam umbi-umbian seperti Dioscorea alata tidak hanya berasal dari antosianin. Terdapat senyawa bioaktif lain yang melimpah, seperti senyawa fenolat dan flavonoid, yang juga berperan aktif sebagai antioksidan.

Warna Ungu Pekat Juga Bukan Jaminan

Lebih lanjut, Aldi menjelaskan, warna ube yang masih sangat ungu menandakan antioksidannya masih utuh sempurna.

“Sebaiknya kita juga enggak bisa mengatakan misalnya dari satu sisi warnanya masih ungu, berarti antioksidannya pasti masih utuh. Nah, ini juga sebenarnya enggak tepat,” tegasnya.

Untuk mengetahui secara pasti apakah aktivitas antioksidan masih baik, tidak bisa hanya dengan melihat warna dengan mata telanjang. Peneliti harus melakukan uji retensi bioaktif melalui pengujian kimia.

Kesimpulannya, hubungan antara warna ungu pada ube dan kandungan antioksidannya tidaklah linier. Warna ube yang luntur saat dimasak tidak serta-merta mengindikasikan bahwa manfaat kesehatan dari antioksidannya telah hilang sepenuhnya.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8638921/warna-ungu-luntur-saat-dimasak-manfaat-ube-berkurang-ini-faktanya

Merdeka Run 2026 Resmi Dimulai, Ribuan Peserta Antusias

Merdeka Run 2026 Resmi Dimulai, Ribuan Peserta Antusias

Jakarta, CNN Indonesia — Merdeka Run 2026 yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (29/6) resmi dimulai. Ribuan peserta antusias memulai Merdeka Run 2026.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir berdiri di garis start untuk melepas peserta Merdeka Run 2026. Start dilakukan di Istana Merdeka.

Seiring rombongan pesawat F16 melintas, bendera start pun dikibarkan. Para peserta lalu berlari memulai Merdeka Run.

Prasetyo Hadi, Teddy Indra Wijaya, dan Erick Thohir ikut menyalami peserta yang melintas di dekat mereka.

Sebelum Merdeka Run dimulai, ada atraksi pesawat F16. Para peserta yang membawa telepon genggam pun berusaha mengabadikan momen tersebut.

Selain itu, lagu Indonesia Raya lebih dulu diputar sebelum Merdeka Run dimulai. Para peserta dengan khidmat ikut bernyanyi.

Doa bersama lalu dilakukan sebelum Merdeka Run dimulai agar perlombaan berlangsung lancar. Selain itu, peserta juga berdoa atas sejumlah bencana yang sedang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia.

Dari deretan pelari elite nasional, ada Odekta Naibaho, Agustina Mardika Manik, Novia Nur Nirwani di kategori putri. Sedangkan di kategori putra ada Pandu Sukarya, Robi Sianturi, Riki Martin Simbolon, dan Agus Prayogo.

Tak hanya itu, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman juga ikut meramaikan Merdeka Run 2026.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260829055607-178-1397653/merdeka-run-2026-resmi-dimulai-ribuan-peserta-antusias