Apa Benar Gorengan Rumahan Lebih Sehat? Ternyata Ini Kata Ahli Gizi

Apa Benar Gorengan Rumahan Lebih Sehat? Ternyata Ini Kata Ahli Gizi

Jakarta, CNN Indonesia — Gorengan menjadi salah satu camilan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng kerap tersedia di rumah karena bahan dan cara membuatnya relatif mudah.

Memasak sendiri juga sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak dapat dipilih sendiri, bahan makanan bisa dicuci dan diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak digunakan berkali-kali.

Namun, apakah gorengan yang dibuat di rumah benar-benar lebih sehat?

Spesialis Gizi Klinik Igus Ulfa Yaze mengatakan gorengan rumahan memang memiliki kelebihan, terutama dari sisi higiene. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak juga lebih mudah dikontrol, termasuk memastikan minyak diganti ketika sudah tidak layak digunakan.

“Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kita beli di luar, kita tidak tahu minyaknya sudah digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kita tahu minyaknya sudah harus diganti atau belum,” kata Yaze mengutip DetikHealth.

Meski demikian, faktor kebersihan bukan berarti membuat gorengan rumahan otomatis menjadi makanan sehat. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhatikan, terutama jika gorengan dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terlalu sering.

Kurangi gorengan secara bertahap

Bagi orang yang terbiasa makan gorengan setiap hari Yaze menyarankan agar kebiasaan tersebut dikurangi secara bertahap. Misalnya, jika biasanya mengonsumsi lima gorengan dalam sekali makan, jumlahnya bisa diturunkan menjadi dua atau tiga buah. Frekuensinya juga dapat dikurangi dari hampir setiap hari menjadi beberapa kali dalam sepekan.

“Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, sekarang berarti dua saja,” ujar Yaze.

Pengurangan secara bertahap dinilai lebih realistis untuk membangun pola makan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Menghilangkan gorengan secara mendadak juga bisa membuat seseorang semakin menginginkan makanan dengan rasa gurih dan tekstur renyah.

Karena itu, frekuensi dan porsi dapat dikurangi perlahan agar kebiasaan makan yang baru lebih mudah dijalani.

Keinginan untuk menyantap makanan yang renyah tidak selalu harus dipenuhi dengan menggorengnya menggunakan banyak minyak. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah air fryer. Alat tersebut dapat membantu menghasilkan tekstur renyah dengan penggunaan minyak yang lebih sedikit.

“Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus,” kata Yaze.

Metode memasak seperti memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer dapat menjadi pilihan untuk mengurangi penggunaan minyak. Namun, pilihan metode memasak tetap perlu disesuaikan dengan jenis bahan makanan dan kebutuhan.

Tetap perhatikan porsi

Gorengan umumnya menggunakan bahan makanan yang dilapisi tepung sebelum dimasak dalam minyak. Ketika makanan bertepung tersebut digoreng, kandungan karbohidrat dan lemaknya perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan harian.

Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, gorengan dapat menyumbang kalori cukup besar. Apalagi, makanan dengan tekstur renyah dan rasa gurih sering membuat seseorang sulit berhenti setelah menyantap satu atau dua buah.

Yaze mengatakan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi. Namun, porsi dan frekuensinya perlu diperhatikan. Dengan demikian, gorengan rumahan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan.

Memasak sendiri memberikan keuntungan karena kebersihan bahan, jenis minyak, cara pengolahan, dan jumlah makanan lebih mudah dikontrol. Namun, label ‘homemade’ bukan berarti gorengan bisa dikonsumsi tanpa batas. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhitungkan.

“Jadi enggak bisa dibilang sehat juga ya. Tapi kalau secara higiene, ya oke lah,” pungkas Yaze.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827102630-262-1396832/apa-benar-gorengan-rumahan-lebih-sehat-ternyata-ini-kata-ahli-gizi

Protein Pacing, Strategi Atur Asupan Protein untuk Menurunkan Berat Badan

Protein Pacing, Strategi Atur Asupan Protein untuk Menurunkan Berat Badan

Liputan6.com, Jakarta – Protein pacing merupakan pola mengatur asupan protein dengan membaginya secara merata ke beberapa waktu makan sepanjang hari. Pendekatan ini kini mulai mendapat perhatian karena tidak hanya menyoroti jumlah protein yang dikonsumsi, tapi juga waktu dan distribusinya dalam pola makan harian.

Melansir Healthline, Jumat (28/8/2026), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications membandingkan efek puasa intermiten yang dipadukan dengan protein pacing dan pola pembatasan kalori yang menyehatkan jantung. Peneliti turut mengamati perubahan mikrobiota usus, serta profil metabolomik para peserta.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kelompok yang menjalani puasa intermiten sekaligus menerapkan protein pacing mengalami penurunan berat badan, massa lemak perut, dan lemak viseral yang lebih besar. Kelompok tersebut juga memiliki persentase massa bebas lemak yang lebih tinggi.

Para peneliti mengaitkan temuan ini dengan perubahan metabolisme dan respons tubuh terhadap pola makan. Sementara itu, Indian Express menjelaskan bahwa konsep protein pacing banyak digunakan dalam bidang nutrisi olahraga.

Metode ini tidak hanya berfokus pada total protein yang dikonsumsi, namun juga bagaimana asupannya didistribusikan secara berkala sepanjang hari. Dengan pembagian tersebut, protein dapat menjadi bagian dari beberapa waktu makan, bukan terkonsentrasi dalam satu kali konsumsi.

Meski hasil penelitian menunjukkan potensi manfaat, protein pacing tetap perlu diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi dan kondisi setiap individu yang bisa saja berbeda.

Cara Menerapkan Protein Pacing

Dalam penelitian tersebut, pola protein pacing diterapkan melalui empat kali waktu makan, dengan masing-masing porsi menyediakan sekitar 25–50 gram protein. Jarak antarwaktu makan juga diatur secara teratur agar asupan protein tersebar sepanjang hari, bukan terkonsentrasi hanya pada satu atau dua kali makan.

Marilia Chamon, terapis gizi terdaftar sekaligus pakar kesehatan usus, menjelaskan bahwa protein pacing umumnya dilakukan dengan mengonsumsi empat kali makan tinggi protein dalam interval sekitar tiga hingga empat jam. Menurutnya, strategi tersebut dapat membantu tubuh mempertahankan massa otot sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.

Distribusi protein yang konsisten sepanjang hari juga berpotensi membantu mengendalikan nafsu makan. Dengan rasa kenyang yang lebih tahan lama, keinginan untuk makan berlebihan maupun munculnya cravings dapat lebih terkendali. Pola ini sekaligus mendukung pemeliharaan massa otot selama menjalani pengaturan pola makan.

Kombinasi Protein Pacing dan Puasa Intermiten

Kombinasi protein pacing dan puasa intermiten dinilai berpotensi memengaruhi cara tubuh menggunakan energi. Ketika kadar insulin berada pada tingkat lebih rendah selama periode tertentu, tubuh dapat lebih mudah menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Pola tersebut juga dikaitkan dengan perubahan keragaman mikrobioma usus yang berperan dalam kesehatan pencernaan dan fungsi metabolisme. Tak hanya itu, penerapan keduanya memberikan perubahan lebih besar pada metabolit yang beredar dalam tubuh dibandingkan pembatasan kalori saja.

Metabolit merupakan molekul kecil yang terbentuk dan terlibat dalam berbagai proses metabolisme. Ahli diet terdaftar Kelsey Costa menjelaskan, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan efek yang saling melengkapi.

Puasa intermiten, misalnya, berpotensi mendukung fleksibilitas metabolik, yakni kemampuan tubuh beralih menggunakan karbohidrat atau lemak sebagai sumber energi. Sementara itu, distribusi protein sepanjang hari dapat membantu memenuhi kebutuhan protein secara lebih konsisten.

Jaga Pola Makan Tetap Seimbang

Penerapan protein pacing juga perlu memperhatikan pilihan sumber protein dalam menu harian. Beberapa makanan yang dapat menjadi pilihan antara lain daging tanpa lemak, ikan, telur, produk susu, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.

Meski menekankan asupan protein, pola ini tetap perlu diimbangi dengan nutrisi lainnya. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, serta sumber lemak sehat sebaiknya tetap hadir dalam menu untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh secara menyeluruh.

Makanan utuh dan minim proses juga lebih dianjurkan karena umumnya mengandung lebih banyak nutrisi. Selain komposisi makanan, kecukupan cairan tidak kalah penting.

Hidrasi perlu dijaga agar tubuh tetap berfungsi dengan baik selama menjalani pengaturan pola makan. Dengan begitu, protein pacing tidak sekadar mengejar target protein, tapi juga memperhatikan keseimbangan asupan, kualitas makanan, dan kebutuhan cairan sepanjang hari.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8279552/protein-pacing-strategi-atur-asupan-protein-untuk-menurunkan-berat-badan

Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Pakar kedokteran fungsional yang berbasis di Pennsylvania, Dr. Will Cole menyampaikan faktor dalam gaya hidup modern hingga paparan lingkungan dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi sel yang memengaruhi kesehatan, salah satunya penuaan biologis.

Menurut dia, genetika dalam tubuh tidak berubah selama ribuan tahun, namun, dunia tempat hidup telah berubah secara drastis dalam waktu yang sangat singkat.

“Ini berkaitan dengan makanan yang kita konsumsi atau tidak kita konsumsi, racun lingkungan yang sebelumnya tidak ada di sekitar kita, serta stres dan trauma,” kata Cole, dikutip laporan New York Post, Kamis (27/8) waktu setempat.

Cole mengatakan berbagai tekanan tersebut dapat berkontribusi yang dinilainya mempercepat penuaan, yaitu kondisi ketika usia biologis seseorang berbeda dari usia kronologisnya.

“Banyak orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an memiliki sel seperti orang lanjut usia. Hal itu umum terjadi, tetapi bukan sesuatu yang normal,” ujar dia.

Ia mengidentifikasi tiga faktor yang paling mengganggu komunikasi antarsel, sehingga menciptakan cellular noise atau kebisingan seluler yang berpotensi terhadap penuaan lebih cepat dan penyakit.

Pola makan yang tidak sehat

Menurut Cole, mengonsumsi makanan yang tidak memberikan manfaat bagi tubuh menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengganggu kesehatan sel, terutama makanan yang memicu peradangan.

Selain itu, tidak memiliki waktu makan yang konsisten juga dapat mengganggu keseimbangan sel. Alih-alih memberikan jeda bagi tubuh untuk mencerna makanan dan berpuasa, makan dalam rentang waktu yang terlalu panjang sepanjang hari dinilai dapat memengaruhi keseimbangan tersebut.

Paparan racun dari lingkungan

Cole menyoroti sejumlah paparan dari lingkungan, termasuk pestisida, herbisida yang terkadang disebut sebagai forever chemicals atau bahan kimia yang sulit terurai, sebagai hal yang berpotensi memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Para ahli menyebut dampak paparan bergantung pada jenis zat, dosis, serta lamanya seseorang terpapar.

Cole juga menyebut patogen penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus, serta paparan jamur sebagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan.

Paparan cahaya yang kaya cahaya biru pada malam hari juga dapat mengganggu ritme sirkadian pada sebagian orang.

Sebaliknya, menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta mendapatkan paparan cahaya pada siang hari dapat membantu mendukung kualitas tidur dan kesehatan sel.

Stres kronis, trauma, dan kurangnya koneksi sosial

Cole juga menyampaikan stres kronis, trauma yang belum terselesaikan, serta kurangnya hubungan sosial atau spiritual sebagai faktor yang mungkin berkaitan dengan meningkatnya kebisingan seluler.

Sejumlah penelitian observasional mengaitkan keterlibatan dalam aktivitas keagamaan atau spiritual dengan tingkat beberapa penanda peradangan yang lebih rendah serta kondisi kesehatan yang lebih baik.

Menurut Cole, seseorang dapat memperoleh manfaat serupa melalui sistem kepercayaan atau komunitas apa pun yang dapat “mengubah kondisi diri”, termasuk melalui hubungan dengan alam.

Cole menilai berbagai tekanan kehidupan modern dapat memengaruhi tubuh dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat.

Ia menyarankan menjaga kesejahteraan fisik, mental-emosional, dan spiritual dapat membantu mengurangi apa yang disebutnya sebagai epigenetic noise atau kebisingan epigenetik.

“Sel menjadi kebingungan dan tidak tahu bagaimana berfungsi dengan baik maupun memperbaiki dirinya sendiri. Kita hanya perlu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melawan dan mampu mendengar di tengah kebisingan tersebut,” ujar dia.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5715083/tiga-faktor-pemicu-penuaan-lebih-cepat

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Jakarta (ANTARA) – Ketika sedang menghadapi masa-masa yang berat, apakah itu yang berkaitan dengan masalah pribadi atau pekerjaan, seseorang biasanya berada pada survival mode (mode bertahan hidup) dalam menjalani hari-harinya.

Seseorang yang berada dalam mode bertahan hidup seringkali terlihat baik-baik saja, namun, di dalam hatinya sedang berada dalam tekanan.

Menurut siaran Real Simple, Kamis (27/8) seseorang yang berada dalam kondisi itu cenderung menjalani hari-hari dengan penuh semangat, menutup mata terhadap hal-hal lain, dan melakukan segala yang hal yang bisa dilakukan untuk sampai ke sisi lain tanpa menambah stres.

Berikut adalah tanda-tanda sedang memasuki mode bertahan hidup.

1. Pelupa

Pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Temperance Psychotherapy Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan bahwa salah satu tanda otak sudah kelelahan adalah menjadi pelupa. Gejala yang umum terjadi, seseorang lupa arah cerita yang ingin disampaikan atau lupa di mana meletakkan barang.

“Karena otak anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif,” kata Ivelevitch.

2. Sering terbangun dini hari

Dokter spesialis gawat darurat bersertifikasi, ahli pemulihan kelelahan kerja, dan kepala petugas kesehatan di Physician Wellness Solutions Archana Shrestha, MD, menyampaikan terbangun secara konsisten dan sulit untuk kembali tidur di tengah malam bukanlah hal yang normal.

Menurut dia, ini merupakan tanda bahwa meski fisik sudah beristirahat, pikiran dalam kepala tidak sepenuhnya berhenti sehingga seseorang terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir tentang berbagai hal.

“Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik anda,” kata Shrestha.

3. Mudah tersinggung

Ivelevitch menambahkan bahwa ketika mengalami kelelahan kerja dan sistem saraf menjadi tidak teratur, seseorang menjadi lebih mudah marah.

Hal ini disebabkan oleh amigdala menjadi lebih reaktif, dan korteks prefrontal menjadi kurang berperan. Apa yang dulunya hanya gangguan kecil kini dapat memicu emosi negatif.

“Pada dasarnya, alih-alih naik dari nol ke lima, Anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat Anda mencapai angka sepuluh,” ujar Ivelevitch.

4. Terlalu lama merenungkan emosi

Jika berada dalam mode bertahan hidup, seseorang mungkin mendapati diri merenungkan emosi negatif lebih dari biasanya. Sangat sedikit emosi positif yang muncul.

Meskipun tidak apa-apa untuk merasakan emosi ini dari waktu ke waktu, Shrestha mencatat bahwa merenungkan emosi tersebut terlalu lama dapat menyebabkan stres kronis dan masalah kesehatan lainnya.

5. Ingin mengendalikan situasi

Ketika segala sesuatu dalam hidup terasa kacau, seseorang cenderung mencoba mengendalikan situasi untuk menghilangkan potensi ancaman.

“Seseorang yang biasanya cukup santai (ketika berada dalam mode bertahan hidup) mungkin mulai merasa lebih perfeksionis atau merasa perlu segala sesuatunya berjalan persis seperti yang direncanakan,” kata Ivelevitch.

Menurut dia, ini bukan upaya untuk mengendalikan orang lain, tetapi upaya untuk menciptakan prediktabilitas.

Shrestha menyampaikan sebenarnya terdapat sebuah cara untuk keluar dari mode tersebut. Biasakanlah untuk berkata pada diri sendiri bahwa semuanya tetap membuat diri kita aman, sambil menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan kembali melalui mulut.

Perhatikan apa yang ada di sekitar kita sambil melihat, mendengar dan merasakannya. Lalu ulangi berkata pada diri sendiri bahwa kita aman.

“Ini sangat efektif untuk membantu orang beralih dari mode bertahan hidup ‘lawan atau lari’, di mana sistem saraf simpatik mereka diaktifkan dan mengalihkan mereka ke sistem saraf parasimpatik,” kata Shrestha.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5714756/lima-tanda-diri-sedang-masuk-dalam-mode-bertahan-hidup

Radang Usus Buntu: Kenali Gejala dan Risiko Komplikasinya

Radang Usus Buntu: Kenali Gejala dan Risiko Komplikasinya

Jakarta, MCI News – Radang usus buntu atau apendisitis perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang menjadi kondisi serius jika tidak segera ditangani. Informasi mengenai penyakit ini kembali menjadi perhatian publik setelah seorang selebgram, Fahira Almira, mengungkap diagnosis yang dialaminya dan memilih menjalani pengobatan di Penang, Malaysia, sebagaimana diberitakan pada Kamis (20/08/2026) Melansir dari Mayo Clinic.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Profesor Ari Fahrial Syah menjelaskan, apendisitis merupakan peradangan pada apendiks atau bagian kecil yang menempel pada usus besar. Kondisi tersebut dapat muncul secara akut dan membutuhkan penanganan medis sesuai tingkat keparahannya.

Gejala yang paling umum pada apendisitis akut berupa nyeri pada bagian kanan bawah perut. Rasa sakit biasanya dapat mengganggu aktivitas dan semakin terasa ketika peradangan berkembang.

“Jadi itu radang usus buntu bisa pasien datang dalam keadaan akut. Akut itu biasanya ditandai dengan nyeri tertekan di perut kanan bawah, dan bahkan pada pasien yang khas itu, dia merasakan nyeri yang luar biasa,” ujar Prof. Ari, Rabu.

Selain nyeri, penderita dapat mengalami sejumlah gejala lain. Keluhan tersebut antara lain demam, tubuh terasa lelah, perut membengkak atau kembung, mual dan muntah, diare, sembelit, hingga kesulitan mengeluarkan gas.

Pada sebagian kasus, rasa sakit awalnya muncul di sekitar pusar kemudian berpindah menuju bagian kanan bawah perut. Intensitas nyeri dapat meningkat seiring bertambahnya peradangan sehingga pasien perlu memperhatikan perubahan gejala dan segera mencari pertolongan medis ketika keluhan memburuk.

Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah pecahnya apendiks atau ruptur usus buntu.

Ketika apendiks pecah, infeksi dapat menyebar ke rongga perut dan menimbulkan kondisi yang mengancam keselamatan pasien. Dokter dapat melakukan tindakan operasi untuk mengangkat apendiks sekaligus menangani infeksi yang telah menyebar.

Komplikasi lain dapat berupa terbentuknya abses atau kantung berisi nanah di dalam rongga perut. Pada kondisi tertentu, tenaga medis dapat melakukan pengeringan abses terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan lanjutan, termasuk operasi pengangkatan apendiks.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali perubahan gejala pada bagian perut, terutama ketika nyeri muncul dan berpindah ke sisi kanan bawah. Pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab keluhan karena gejala sakit perut dapat muncul akibat berbagai kondisi kesehatan.

Kasus yang dialami Fahira Almira juga menunjukkan bahwa keputusan mengenai tempat dan metode pengobatan merupakan bagian dari penanganan medis yang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Publik tetap perlu mengacu pada pemeriksaan dokter dan sumber kesehatan yang kredibel ketika menghadapi gejala yang mengarah pada apendisitis.

Radang usus buntu tidak selalu menunjukkan gejala yang sama pada setiap orang. Oleh sebab itu, munculnya nyeri perut yang semakin berat, terutama jika disertai demam, mual, muntah, atau gangguan pencernaan, perlu mendapat perhatian dan evaluasi

Sumber : https://mcinews.id/2026/08/24/radang-usus-buntu-kenali-gejala-dan-risiko-komplikasinya/

Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak Hingga Tumbuh Kembang Anak

Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak Hingga Tumbuh Kembang Anak

Jakarta, CNN Indonesia — Kekurangan zat besi pada anak menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan orang tua. Meski kerap tidak disadari sejak awal, kondisi ini dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi dan memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang anak.

Zat besi merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh, salah satunya untuk membentuk hemoglobin. Protein dalam sel darah merah tersebut berfungsi membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh, termasuk otak.

Dokter Spesialis Anak Ria Yoanita mengatakan kecukupan zat besi memiliki kaitan dengan aktivitas dan kemampuan belajar anak.

“Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Kecukupan zat besi sangat memengaruhi aktivitas, kemampuan belajar, dan perkembangan anak sesuai usianya,” jelas Ria dalam keterangannya.

Ketika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, tubuh dapat kesulitan memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Pada anak, anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kekurangan zat besi juga perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari serta proses belajar dan perkembangan sesuai usia.

“Karena itu, pemenuhan zat besi sebaiknya menjadi bagian dari pola makan anak sehari-hari. Orang tua juga perlu memperhatikan variasi makanan agar kebutuhan berbagai zat gizi dapat terpenuhi,” katanya.

Ria menyarankan orang tua memberikan makanan dengan gizi seimbang yang mengandung sumber zat besi, seperti daging merah, ikan, telur, sayuran hijau, hingga susu. Selain memilih sumber makanan yang beragam, orang tua juga dapat memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi anak untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Menurut Ria, susu yang telah difortifikasi juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi asupan nutrisi anak. Ia menyarankan orang tua lebih cermat membaca label nutrisi pada kemasan sebelum memilih produk susu.

“Orang tua perlu lebih cermat membaca label nutrisi kemasan untuk memastikan produk yang dipilih memiliki kandungan nutrisi yang lengkap,” ujarnya.

Pada dasarnya, pemenuhan zat gizi anak perlu disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan kebutuhannya. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang.

Pentingnya perhatian terhadap kebutuhan nutrisi anak juga menjadi salah satu hal yang diangkat dalam rangkaian perayaan 72 tahun PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada). Sarihusada berkolaborasi dengan Raja Susu menggelar kegiatan edukasi nutrisi dan aktivitas keluarga secara serentak di 17 titik wilayah Jabodetabek.

Kegiatan tersebut mencakup edukasi bersama pakar kesehatan, permainan edukatif untuk ibu dan anak, serta sesi minum susu bersama. Dalam kesempatan tersebut, General Secretary Director Danone Indonesia Agung Laksamana mengatakan pemenuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga membutuhkan edukasi agar orang tua dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai kebutuhan anak.

Sementara itu, Sales Director Danone Specialized Nutrition Indonesia Rizki Imam Ardhi menilai kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan agar informasi mengenai nutrisi dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

“Kegiatan edukasi menjadi bagian dari upaya kami untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dini,” kata dia.

Bagi orang tua, perhatian terhadap asupan zat besi dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyediakan makanan yang beragam, memperhatikan kebutuhan nutrisi sesuai usia, serta membiasakan diri membaca informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman yang diberikan kepada anak.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827234230-255-1397172/kekurangan-zat-besi-bisa-ganggu-otak-hingga-tumbuh-kembang-anak

Dokter Sebut Gaya Hidup Sehat Tak Jamin Bebas dari Limfoma

Dokter Sebut Gaya Hidup Sehat Tak Jamin Bebas dari Limfoma

Jakarta, CNN Indonesia — Seorang perempuan asal Tangerang, Naya Nika Mulyani (30), harus menghadapi diagnosis limfoma atau kanker getah bening stadium 4 yang telah bermetastasis ke otak.

Diagnosis tersebut menjadi pukulan besar bagi Naya, terlebih ia merasa selama ini telah menjalani gaya hidup yang cukup sehat.

“Karena, lifestyle aku tuh cukup baik. Aku olahraga, makan aku juga terjaga, aku enggak ngerokok, aku enggak minum [alkohol], aku juga jarang begadang,” ujar Naya dalam unggahan akun Instagram milik pribadinya. CNNIndonesia.com telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang bisa mengalami limfoma?

Dokter spesialis penyakit dalam Ario Perbowo Putra mengatakan, limfoma terjadi pada limfosit, salah satu jenis sel darah putih. Limfoma terjadi saat limfosit mengalami perubahan genetik hingga tubuh secara tidak terkendali.

“Pada sebagian besar pasien, penyebab tunggal mengapa perubahan tersebut terjadi tidak dapat ditentukan,” kata Ario kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

Menurutnya, ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko limfoma. Di antaranya gangguan atau penurunan sistem imun, termasuk HIV dan penggunaan obat penekan imun.

Infeksi tertentu juga dapat meningkatkan risiko pada jenis limfoma tertentu, seperti Epstein-Barr virus, hepatitis C, dan bakteri H. pylori. Selain itu, penyakit autoimun tertentu, riwayat terapi radiasi atau kemoterapi, serta faktor usia, genetik, dan riwayat keluarga juga dapat berperan, bergantung pada jenis limfoma.

“Namun, faktor risiko bukan berarti penyebab pasti. Banyak pasien limfoma tidak memiliki faktor risiko yang jelas,” tutur Ario.

Gaya hidup sehat bukan jaminan bebas kanker

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang yang rutin berolahraga, menjaga pola makan, tidak merokok, atau tidak mengonsumsi alkohol tetap dapat mengalami limfoma.

“Sebaliknya, memiliki pola makan sehat, rajin berolahraga, tidak merokok, dan menjaga berat badan memang sangat bermanfaat, tetapi tidak dapat memberikan perlindungan 100 persen terhadap seluruh kanker,” kata Ario.

Karena itu, diagnosis limfoma tidak berarti seseorang sebelumnya menjalani gaya hidup yang buruk. Pada banyak kasus, penyebab pasti perubahan sel yang memicu limfoma memang tidak dapat diketahui.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827202941-255-1397135/dokter-sebut-gaya-hidup-sehat-tak-jamin-bebas-dari-limfoma

Cara Membedakan Gejala Asam Lambung Biasa dan Kanker Getah Bening

Cara Membedakan Gejala Asam Lambung Biasa dan Kanker Getah Bening

Jakarta, CNN Indonesia — Seorang penyintas kanker kelenjar getah bening atau limfoma bercerita tentang gejala awal yang muncul. Gejala yang mulanya diduga asam lambung itu berujung pada diagnosis limfoma.

Pertanyaannya, bagaimana cara membedakan gejala asam lambung biasa dengan gejala yang mengarah pada limfoma?

Dokter spesialis penyakit dalam Ario Perbowo Putra mengatakan, gejala asam lambung dan limfoma tidak selalu bisa dibedakan hanya dari keluhan.

“Tidak selalu dapat dibedakan hanya berdasarkan keluhan, tetapi polanya dapat memberikan petunjuk,” kata Ario kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).
Ario menuturkan penjelasan sebagai berikut.

Gejala lebih mengarah ke GERD/asam lambung:

1. Rasa panas dari ulu hati ke dada.
2. Rasa asam atau pahit naik ke mulut.
3. Memburuk setelah makan besar atau saat berbaring.
4. Memburuk setelah makanan pemicu tertentu.
5. Biasanya membaik dengan perubahan pola makan atau obat lambung.
6. Tidak disertai pembesaran kelenjar.

Sementara gejala liforma, perlu mencurigai kondisi yang menyertai seperti:

1. Benjolan menetap atau membesar, terutama bila tidak nyeri.
2. Demam berulang tanpa penyebab jelas.
3. Keringat malam berlebihan.
4. Berat badan turun tanpa disengaja.
5. Sesak, batuk, cepat kenyang, atau nyeri yang progresif.
6. Keluhan menetap meski sudah mendapat terapi lambung yang memadai.

Kendati demikian, Ario menegaskan, respons terhadap obat lambung tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis.

“Bila ada benjolan yang menetap lebih dari sekitar 2-4 minggu, terus membesar, terasa keras atau melekat, disertai gejala sistemik, atau keluhan tidak membaik, pasien perlu diperiksa langsung,” katanya.

Pemeriksaan dapat meliputi pemeriksaan fisik, darah lengkap, USG, foto toraks, atau CT scan sesuai indikasi. Untuk memastikan limfoma, diagnosis umumnya memerlukan biopsi jaringan kelenjar dan pemeriksaan patologi anatomi.

Jika muncul gejala berat, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda.

“Sesak berat, sulit bernapas ketika berbaring, pembengkakan wajah atau leher, nyeri dada berat, atau penurunan kesadaran memerlukan pertolongan segera karena dapat menandakan penekanan struktur penting di rongga dada,” tegas Ario.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827201914-255-1397125/cara-membedakan-gejala-asam-lambung-biasa-dan-kanker-getah-bening

7 Makanan Terbaik agar Paru-paru Tetap Sehat, Jadikan Menu Harian

7 Makanan Terbaik agar Paru-paru Tetap Sehat, Jadikan Menu Harian

Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah daerah di Indonesia dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyisakan asap tebal yang bisa mengganggu pernapasan. Di tengah kondisi ini, menjaga kesehatan paru-paru menjadi penting untuk dilakukan.

Paru-paru sendiri merupakan salah satu organ tubuh yang punya peran penting. Paru-paru bertugas untuk menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Tanpa paru-paru yang sehat, tubuh jadi rapuh.

Makanan terbaik untuk menjaga paru-paru

1. Bit

Bit mengandung senyawa nitrat yang dapat mengoptimalkan fungsi paru-paru. Healthline mencatat, nitrat membantu mengendurkan pembuluh darah dan mengomtimalkan pengambilan oksigen.

Suplemen bit sendiri telah terbukti meningkatkan fungsi paru pada orang dengan penyakit paru-paru obstruktif kronis (PPOK).

2. Kunyit

Kunyit dikenal akan khasiat kesehatannya, termasuk yang bermanfaat untuk paru-paru. Khasiat ini didapat dari efek antioksidan dan anti-inflamasi yang dimiliki kunyit.

Kurkumin, senyawa aktif pada kunyit, dapat mendukung fungsi paru-paru. Studi menemukan, kelompok perokok yang rutin mengonsumsi kurkumin memiliki fungsi paru 9,2 persen lebih baik daripada mereka yang tidak mengonsumsi kunyit.

3. Tomat

Tomat kaya akan likopen yang bisa meningkatkan kesehatan paru-paru. Konsumsi tomat terbukti dapat mengurangi peradangan di saluran pernapasan pada penderita asma.

4. Kol ungu

Kaya akan antosianin, kol ungu dapat membantu memperlambat penurunan fungsi paru-paru.

Kol juga mengandung banyak serat. Studi menunjukkan, orang yang mengonsumsi lebih banyak serat memiliki fungsi paru-paru yang lebih baik.

5. Kacang kenari

Kacang kenari menjadi salah satu sumber asam lemak omega-3. Menukil NDTV, asupan omega-3 membantu melawan asma dan masalah pernapasan lainnya.

Selain itu, omega-3 juga bersifat anti-inflamasi yang dapat melindungi tubuh dari peradangan, termasuk yang bisa menyerang paru-paru.

6. Jahe

Selain bersifat anti-inflamasi, jahe juga bisa mendetoksifikasi sekaligus mengeliminasi polutan yang memenuhi paru-paru.

Tak cuma itu, jahe juga membantu mengatasi penyumbatan saluran udara dan meningkatkan sirkulasi ke paru-paru.

7. Telur

Telur juga jadi salah satu pilihan makanan terbaik untuk menjaga kesehatan paru-paru. Manfaat ini didapat dari kandungan omega-3, protein, dan vitamin A di dalamnya.

Mengutip Eating Well, protein dalam telur dapat menjaga kekuatan otot pernapasan. Sementara vitamin A dapat memperbaiki sel-sel yang rusak dan menumbuhkan sel sehat.

Mengonsumsi daftar makanan di atas bisa jadi pilihan untuk menjaga paru-paru tetap sehat. Namun, jangan lupa untuk tetap mengkombinasikannya dengan menerapkan gaya hidup sehat agar pernapasan terjaga.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827120305-255-1396887/7-makanan-terbaik-agar-paru-paru-tetap-sehat-jadikan-menu-harian

Calon Pengantin Wajib Tahu, Ini 5 Tes Kesehatan Sebelum Nikah

Calon Pengantin Wajib Tahu, Ini 5 Tes Kesehatan Sebelum Nikah

Liputan6.com, Jakarta – Menjelang pernikahan, pasangan biasanya sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari tempat acara hingga daftar tamu. Namun, ada satu persiapan yang tidak kalah penting, yaitu tes kesehatan sebelum nikah atau premarital medical check-up (MCU).

Menurut laman EMC dalam tulisan praktisi umum dr. Levica A. Tiranda, MKK, pemeriksaan kesehatan pranikah bukan sekadar formalitas. Pemeriksaan ini merupakan langkah preventif untuk membantu pasangan mengetahui kondisi kesehatan masing-masing sebelum membangun keluarga.

Pemeriksaan tersebut juga dapat membantu mendeteksi penyakit yang mungkin belum menimbulkan gejala, tetapi berpotensi memengaruhi pasangan maupun keturunan, dikutip pada Senin (24/8/2026).

Melalui MCU pranikah, pasangan dapat:

  • Mengetahui kondisi kesehatan satu sama lain.
  • Mendeteksi penyakit lebih awal.
  • Mengurangi risiko penularan penyakit tertentu.
  • Merencanakan kehamilan dengan lebih aman.
  • Mendapatkan edukasi kesehatan yang sesuai.

Jenis pemeriksaan dapat berbeda-beda, tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing pasangan serta rekomendasi dokter. Namun, secara umum, premarital medical check-up dapat meliputi beberapa pemeriksaan berikut.

1. Tes Darah Rutin

Pemeriksaan darah menjadi salah satu bagian dari MCU pranikah. Tes ini dapat membantu melihat kondisi umum tubuh, termasuk kadar hemoglobin, gula darah, serta fungsi hati dan ginjal.

2. Skrining Penyakit Menular

Pasangan juga dapat menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi sejumlah penyakit menular, seperti:

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV
  • Sifilis

Menurut Levica, deteksi lebih awal penting untuk membantu mencegah penularan kepada pasangan maupun calon bayi di masa mendatang.

3. Pemeriksaan Golongan Darah dan Rhesus

Pemeriksaan selanjutnya adalah mengetahui golongan darah dan rhesus. Rhesus merupakan jenis protein yang terdapat pada permukaan sel darah merah.

Levica melalui laman EMC menjelaskan bahwa perbedaan rhesus tertentu dapat berpengaruh terhadap kehamilan. Karena itu, informasi mengenai rhesus penting diketahui sejak awal.

4. Skrining Penyakit Genetik

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penyakit genetik, seperti talasemia.

Pemeriksaan ini terutama dapat dipertimbangkan jika terdapat riwayat penyakit genetik dalam keluarga.

5. Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi

Pemeriksaan kesehatan reproduksi mencakup evaluasi organ reproduksi serta konsultasi mengenai rencana kehamilan.

Jenis pemeriksaan yang dilakukan dapat berbeda pada setiap pasangan, sesuai kondisi kesehatan dan rekomendasi dokter.

Manfaat Jangka Panjang

MCU pranikah tidak hanya bermanfaat bagi pasangan, tetapi juga dapat membantu mempersiapkan kesehatan generasi selanjutnya.

Deteksi dini memungkinkan suatu kondisi kesehatan ditangani lebih cepat dan dikendalikan secara efektif. Pasangan juga dapat merencanakan kehamilan dengan lebih aman.

Misalnya, jika salah satu pasangan mengalami anemia, infeksi, atau kondisi medis tertentu, penanganan dapat dilakukan sebelum pasangan mulai menjalani program kehamilan.

Kapan Sebaiknya Dilakukan?

MCU pranikah idealnya dilakukan beberapa bulan sebelum pernikahan. Dengan demikian, pasangan masih memiliki waktu untuk menjalani pemeriksaan lanjutan atau mendapatkan pengobatan jika ditemukan masalah kesehatan.

Pemeriksaan ini juga tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk kecurigaan terhadap pasangan. Sebaliknya, MCU pranikah dapat menjadi bentuk keterbukaan dan tanggung jawab dalam mempersiapkan kehidupan bersama.

Pemeriksaan pranikah pun tidak berarti setiap pasangan harus menjalani seluruh jenis tes. Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, riwayat kesehatan, dan rekomendasi dokter.

Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari, melainkan perjalanan panjang bersama. Selain kesiapan mental, emosional, dan finansial, kesiapan kesehatan juga menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak sebelum menikah.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/relationship/read/8276842/calon-pengantin-wajib-tahu-ini-5-tes-kesehatan-sebelum-nikah