Gejala Penyakit Ginjal Tahap Awal, Pasien Diabetes dan Hipertensi Perlu Waspada

Gejala Penyakit Ginjal Tahap Awal, Pasien Diabetes dan Hipertensi Perlu Waspada

Liputan6.com, Jakarta – Tidak semua penyakit menunjukkan gejala atau keluhan khas pada tahap awal, begitu halnya dengan penyakit ginjal kronis.

“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas,” tutur dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, Mutalib Abdullah.

Lantaran tidak menimbulkan gejala, Mutalib menyarankan bagi orang dengan faktor risiko terutama hipertensi dan diabetes untuk secara berkala memeriksakan kondisi fungsi ginjal.

Mutalib mengatakan gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal.

“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar dokter yang praktik di Urology and Nephrology Clinic, Bethsaida Hospital Gading Serpong itu dalam pesan tertulis.

Pola makan tinggi garam, kurang bergerak, merokok, berat badan tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan juga perlu diperhatikan. Penyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.

Meski pada tahap awal penyakit ginjal tidak memiliki gejala, beberapa tanda yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Perubahan frekuensi atau jumlah urine
  • Urine berbusa secara menetap
  • Pembengkakan pada kaki
  • Mudah lelah
  • Mual
  • Penurunan nafsu makan
  • Tekanan darah yang sulit dikontrol.

Jika mengalami beberapa tanda tersebut, terutama secara menetap atau disertai faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi, sebaiknya lakukan pemeriksaan fungsi ginjal.

Apa Tujuan Pemeriksaan Fungsi Ginjal?

Pemeriksaan fungsi ginjal dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal sejak dini. Pasalnya, penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal.

Dengan pemeriksaan, penurunan fungsi ginjal bisa diketahui lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisinya semakin berat.

Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui tes darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya albumin atau protein.

“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” pesan Mutalib.

Hal senada disampaikan dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong. Menurutnya, penanganan gangguan ginjal dan saluran kemih perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga pemantauan kondisi pasien.

“Kami percaya bahwa penanganan penyakit ginjal dan saluran kemih membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar wanita yang karib disapa Magi itu.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8282411/gejala-penyakit-ginjal-tahap-awal-pasien-diabetes-dan-hipertensi-perlu-waspada

Penyebab Utama Kanker Paru adalah Rokok, Bagaimana Risikonya pada Perokok Pasif?

Penyebab Utama Kanker Paru adalah Rokok, Bagaimana Risikonya pada Perokok Pasif?

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -Kebiasaan merokok masih menjadi penyebab utama terjadinya kanker paru. Namun, ancaman penyakit ini juga mengintai perokok pasif.

Dokter spesialis paru Linda Masniari mengatakan, orang yang tidak merokok tetapi sering terpapar asap rokok juga memiliki risiko mengalami kanker paru.

“Kalau menjadi perokok pasif, risiko kanker paru meningkat sekitar 20 sampai 30 persen,” kata Linda Masniari dalam media talk di kawasan Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).

Dalam asap rokok mengandung ribuan bahan kimia dan zat penyebab kanker (karsinogen) seperti yang dihirup oleh perokok aktif.

Menurut dr. Linda, hubungan antara paparan asap rokok dan kanker paru sangat kuat sehingga upaya berhenti merokok menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit tersebut.

Kanker paru di Indonesia banyak ditemukan pada usia di atas 50 tahun.

Karena itu, deteksi dini menjadi penting terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko.

“Di Indonesia, kanker paru paling banyak ditemukan pada usia sekitar 52 tahun ke atas. Karena itu skrining sebaiknya mulai dipertimbangkan sejak usia 40 tahun untuk kelompok berisiko,” katanya.

Skrining dapat membantu menemukan kanker paru lebih awal, sebelum muncul gejala yang berat. Hal ini penting karena kanker paru pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas.

Selain pemeriksaan rutin, upaya pencegahan juga harus dimulai dari lingkungan terdekat.

“Kalau ada keluarga seperti orang tua, suami, abang, atau kakak yang masih merokok, perlu diajak berhenti merokok. Hubungan antara rokok dan kanker paru sangat kuat,” pesan dr. Linda.

Faktor Lingkungan

Selain rokok, faktor lingkungan seperti polusi udara juga dapat meningkatkan risiko kanker paru yaitu adanya komponen particle matter (PM) atau partikel halus di udara.

“Particle matter, terutama PM 2,5, juga berpengaruh. Setiap peningkatan satu unit particle matter dapat meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru sekitar 8 persen,” jelas dia.

Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat polusi tinggi sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan, terutama kelompok yang memiliki faktor risiko.

Selain mengurangi paparan polusi, masyarakat juga perlu menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko kanker paru.

“Kalau udara di lingkungan sekitar tidak bagus, sebisa mungkin kurangi paparan. Karena udara yang tidak sehat dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk kanker paru,” ujarnya.

Sumber : https://www.tribunnews.com/kesehatan/7876595/penyebab-utama-kanker-paru-adalah-rokok-bagaimana-risikonya-pada-perokok-pasif

Terapi Sel Imun untuk Kanker Bukan Pengganti Kemoterapi, Begini Penjelasan Pakar

Terapi Sel Imun untuk Kanker Bukan Pengganti Kemoterapi, Begini Penjelasan Pakar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika mendengar istilah terapi sel untuk kanker, sebagian masyarakat mungkin membayangkan adanya pengobatan baru yang dapat langsung menggantikan kemoterapi atau pengobatan kanker lainnya.

Padahal, terapi sel imun tidak berdiri sendiri. Dokter, pakar terapi sel punca kedokteran regeneratif di Indonesia, sekaligus Deputy Director of Stem Cell and Cancer Institute, dr. Sandy Qlintang, M.Biomed, menjelaskan terapi sel untuk kanker memiliki posisi sebagai bagian dari rangkaian pengobatan.

Hal ini penting dipahami masyarakat agar terapi sel tidak dianggap sebagai jalan pintas dalam pengobatan kanker.

Terapi Kanker Memiliki Tahapan

Lebih lanjut, dr Sandi yang juga merupakan Presiden Direktur Regenic, Director of PT Bifarma ini menjelaskan, pengobatan kanker memiliki sejumlah tahapan.

Kemoterapi menjadi salah satu terapi yang paling terstandar.

Selain itu terdapat tindakan pembedahan untuk membuang jaringan kanker serta radioterapi.

Dalam perkembangan berikutnya, terdapat terapi yang lebih advanced, salah satunya produk biologi berupa monoclonal antibody yang bekerja secara targeted.

Ia mencontohkan penggunaan terapi targeted seperti trastuzumab dan terapi sejenisnya pada kanker payudara.

Setelah berbagai modalitas tersebut, terapi sel menjadi salah satu bagian yang dapat digunakan dalam rangkaian pengobatan.

Dengan demikian, terapi sel bukan berarti seluruh pengobatan sebelumnya harus ditinggalkan.

Justru, menurut Sandy, berbagai modalitas tersebut perlu diintegrasikan.

“Jadi terapi cell itu adalah ajufan. Jadi menambah memperkuat,”ungkapnya pada Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 bertema “Where Science Meets Purpose, Growth and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy” yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) di The St. Regis Jakarta, Senin (31/8/2026).

Sel Imun Pasien Diperkuat di Laboratorium

Dalam terapi sel imun, sel yang digunakan berasal dari tubuh pasien sendiri.
Sel sistem imun pasien diambil terlebih dahulu.

Sel tersebut kemudian diperkuat di laboratorium sebelum dimasukkan kembali ke tubuh pasien.
Tujuannya adalah membantu sel tersebut menyerang sel kanker.

Sandy menjelaskan terapi sel imun dapat bekerja lebih efektif ketika kondisi sel kanker memungkinkan untuk diserang.

Dalam penjelasannya, kemoterapi dapat membuat sel kanker berada dalam kondisi yang disebut lebih “panas”.
Pada kondisi tersebut, terapi sel kemudian diarahkan untuk menyerang sel kanker.

Karena itu, terapi sel tidak diposisikan sebagai pengobatan yang berjalan sendirian.

Sandy menekankan perlunya integrasi dengan modalitas pengobatan kanker yang sudah ada.

“Harus barengan. Harus membuat suatu integrasi yang baik antara terapi-terapi modalitas yang sudah ada,”imbuhnya.

Tidak Semua Kanker Bisa Langsung Menggunakan Terapi Sel

Hal lain yang perlu diketahui masyarakat adalah terapi sel imun untuk kanker masih dalam tahap penelitian.

Artinya, tidak semua jenis kanker saat ini dapat langsung mendapatkan terapi tersebut sebagai pengobatan yang sudah tersedia secara umum.

Sandy menyebut terapi sel imun untuk kanker di seluruh dunia masih berada dalam penelitian.

Di Indonesia, salah satu pengembangan yang disebutnya adalah Kintara.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Green Cross Korea.

Produk tersebut dikembangkan untuk terapi kanker hati dan telah mendapatkan persetujuan dari Korean FDA di Korea.

Sementara di Indonesia, terapi tersebut masih berada dalam konteks penelitian.

Proses untuk mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga masih berlangsung.

Untuk kanker selain kanker hati, pengembangannya masih dalam penelitian.

Artinya, masyarakat perlu berhati-hati membedakan antara terapi yang sedang dikembangkan melalui penelitian dengan terapi yang sudah mendapatkan izin untuk digunakan secara luas.

Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci

Meskipun teknologi pengobatan kanker terus berkembang, Sandy kembali menekankan pentingnya deteksi dini.

Menurutnya, tingkat keberhasilan atau kelangsungan hidup pasien kanker sangat berkaitan dengan seberapa dini kanker ditemukan.

Karena itu, pemeriksaan untuk mendeteksi kanker sejak awal tetap penting.

Ia menyebut sejumlah pemeriksaan, antara lain pap smear, kolonoskopi, dan mammografi.

Semakin dini kanker ditemukan, peluang survival rate juga semakin tinggi.

Sebaliknya, ketika kanker sudah berada pada kondisi lebih lanjut dan telah menyebar ke berbagai bagian tubuh, pengobatan menjadi lebih sulit.

Karena itu, pemeriksaan diagnostik juga menjadi penting ketika kanker sudah ditemukan.

Pemeriksaan biomarker dan diagnostik dapat membantu menentukan pengobatan yang lebih tepat.

Pengembangan pemeriksaan genomik, ctDNA atau circulating tumor cell DNA, serta pemeriksaan marker kanker juga menjadi bagian yang dibutuhkan untuk menentukan terapi yang lebih tepat sasaran.

Pendekatan tersebut berkaitan dengan targeted immunotherapy.

Jangan Menunggu Kanker Sudah Menyebar

Menurut Sandy, masyarakat juga perlu mendapatkan pengobatan dari dokter yang memiliki kompetensi di bidang kanker.

Hal tersebut menjadi penting karena kanker bukan penyakit yang dapat ditangani hanya dengan memilih terapi berdasarkan tren atau tawaran pengobatan tertentu.

Ketika kanker sudah memasuki kondisi lebih lanjut dan menyebar, pilihan penanganannya menjadi lebih sulit.

Karena itu, perkembangan terapi sel tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pemeriksaan dan pengobatan kanker yang sudah ada.

Justru, teknologi tersebut perlu ditempatkan dalam rangkaian pengobatan yang tepat.

Sumber : https://www.tribunnews.com/kesehatan/7876788/terapi-sel-imun-untuk-kanker-bukan-pengganti-kemoterapi-begini-penjelasan-pakar

Menikah Tapi Tidur Terpisah, Apakah Bermanfaat buat Hubungan?

Menikah Tapi Tidur Terpisah, Apakah Bermanfaat buat Hubungan?

Jakarta, CNN Indonesia — Banyak pasangan tidur di kasur yang sama. Tapi beberapa pasangan lain memilih tidur terpisah, bahkan dengan kamar yang juga berbeda.

Survei yang pernah dilakukan oleh Sleep Foundation pada 2023 lalu menemukan, 2 persen orang dewasa berada dalam situasi ‘sleep divorce’ atau tidur berpisah.

Survei lain terhadap 2.200 warga Amerika Serikat menemukan, 1 dari 5 pasangan tak cuma tidur di kasur yang berbeda, tapi juga kamar terpisah. Dari pasangan yang tidur terpisah itu, hampir dua pertiganya melakukannya setiap malam.

Temuan di atas menimbulkan pertanyaan tentang apakah tidur terpisah dengan pasangan sehat untuk hubungan. Psikolog pernikahan Hope Eliasof mengatakan, jawabannya tergantung pada niat.

“Jika bagi satu pasangan itu berarti mereka akan tidur lebih nyenyak dengan tidur terpisah, itu bagus. Tapi, jika tidur terpisah dilakukan karena misalnya aroma tubuh pasangan yang menjijikan, maka keputusan itu bisa berbeda,” ujar Eliasof, mengutip How Stuff Works.

Beberapa pasangan populer sebenarnya telah menerapkan konsep tidur terpisah. Di antaranya David dan Victoria Beckham, Gwyneth Paltrow dan suaminya Brad Falchuk, Donald dan Melania Trump, hingga mendiang Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip.

Alasan pasangan tidur terpisah

Setidaknya, ada beberapa alasan memilih tidur secara terpisah. Berikut di antaranya.

1. Mendengkur
Memiliki pasangan yang mendengkur dapat menurunkan kualitas tidur. Survei yang dilakukan Sleep Foundation menemukan, 47 persen responden perempuan mengaku bahwa dengkuran sangat berdampak besar.

Psychology Today juga menyebut, mendengkur dapat sangat membebani hubungan. Masalah mendengkur sering kali tak cuma menimbulkan kelelahan, tapi juga frustrasi dan kebencian di antara pasangan.

2. Gerak tubuh pasangan

Beberapa orang bergerak dalam tidur tanpa sadar. Bagi orang yang mudah terbangun, kehadiran pasangan dengan tubuh yang lincah saat tidur bisa menjadi hambatan.

Pasangan yang suka merebut selimut juga bisa membuat tidur menjadi tidak menyenangkan.

3. Kebiasaan tidur yang berbeda

Pasangan dengan jadwal tidur berbeda sangat mungkin untuk memilih tidur di kamar terpisah. Hal ini untuk mencegah salah satu pasangan membangunkan pasangan lainnya di waktu yang kurang tepat.

4. Kebutuhan anak

Beberapa anak sedang tidur bersama orang tua. Namun, tiga orang di dalam satu kasur akan terasa sangat penuh.

Akibatnya, banyak orang tua menambahkan tempat tidur ke dalam kamar atau memilih tidur di ruangan berbeda.

Selain di atas, masih banyak faktor-faktor lainnya yang menyebabkan pasangan memilih tidur secara terpisah.

Apakah tidur terpisah bermanfaat untuk hubungan?

Sekali lagi, manfaat ‘sleep divorce’ akan bergantung pada niat di baliknya. Jika pasangan saling marah atau tidak bahagia, maka tidur terpisah sebenarnya tidak menyelesaikan apa pun.

Tidur terpisah juga dapat menyebabkan masalah emosional, tergantung pada situasinya.

Untuk itu, Eliasof meminta pasangan agar mendiskusikan solusi yang tersedia, yang bisa berdampak positif untuk hubungan. Orang yang biasanya pasrah menerima dengkuran pasangannya cenderung kurang menyukai sleep divorce.

Namun, mereka yang tidak keberatan dengan sleep divorce melaporkan adanya manfaat yang didapat. Masih dari survei yang sama, lebih dari setengahnya mengatakan bahwa tidur terpisah membantu meningkatkan kualitas tidur masing-masing secara keseluruhan, dengan rata-rata tambahan 37 menit setiap malam.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20241223172653-284-1180363/menikah-tapi-tidur-terpisah-apakah-bermanfaat-buat-hubungan

Kunyit Dapur, Manfaatnya Tak Sesederhana Bentuknya

Kunyit Dapur, Manfaatnya Tak Sesederhana Bentuknya

Hampir setiap rumah di Indonesia memiliki kunyit sebagai bumbu masakan. Warnanya yang kuning keemasan membuat makanan terlihat lebih menarik dan menggugah selera. Karena terlalu sering digunakan untuk memasak, banyak orang menganggap kunyit hanya sekadar penyedap dan pewarna alami. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, kunyit menyimpan kandungan alami yang berpotensi memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa kunyit mengandung senyawa aktif yang berpotensi membantu menjaga kesehatan secara menyeluruh. Tidak heran jika kunyit telah digunakan sejak lama dalam pengobatan tradisional dan kini juga banyak diteliti dalam dunia kesehatan modern.

Kandungan Utama Kunyit

Kunyit (Curcuma longa) mengandung senyawa aktif bernama kurkumin, yaitu antioksidan alami yang juga memberi warna kuning khas pada kunyit. Dalam jumlah kecil sebagaimana biasa dikonsumsi sebagai bumbu, kunyit juga mengandung:

  • Vitamin C
  • Mineral seperti kalium dan zat besi
  • Serat
  • Senyawa antiinflamasi alami

Perlu dicatat, kurkumin sebenarnya sulit diserap tubuh secara maksimal jika dikonsumsi sendiri. Penyerapannya dapat meningkat bila dikombinasikan dengan lemak atau piperin (senyawa yang ditemukan pada lada hitam), sehingga manfaatnya lebih optimal saat kunyit diolah bersama bahan makanan lain, bukan dikonsumsi mentah dalam jumlah sedikit.

Manfaat Kunyit yang Sering Tidak Disadari

1. Membantu Melawan Peradangan

Peradangan merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi atau cedera. Namun, peradangan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Kurkumin pada kunyit dikenal memiliki sifat antiinflamasi yang berpotensi membantu mengurangi proses peradangan dalam tubuh.

2. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Di Indonesia, kunyit sudah lama digunakan dalam minuman tradisional seperti kunyit asam. Kunyit dipercaya dapat membantu merangsang produksi empedu sehingga proses pencernaan, terutama pencernaan lemak, menjadi lebih baik. Kunyit juga sering digunakan secara tradisional untuk membantu mengurangi rasa begah dan tidak nyaman pada perut.

3. Berpotensi Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Kandungan antioksidan pada kunyit membantu tubuh melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Dengan berkurangnya stres oksidatif, sistem imun berpotensi bekerja lebih optimal dalam melawan kuman penyebab penyakit.

4. Membantu Mengurangi Nyeri Haid

Banyak perempuan mengonsumsi kunyit asam saat menstruasi karena dipercaya dapat membantu mengurangi kram dan nyeri haid. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurkumin berpotensi membantu meredakan nyeri yang berkaitan dengan kontraksi otot rahim, meski penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya.

5. Menjaga Kesehatan Kulit

Sifat antioksidan dan antibakteri pada kunyit membuatnya sering digunakan sebagai bahan perawatan tradisional untuk membantu menjaga kulit tetap sehat dan tampak lebih segar.

Kunyit merupakan contoh nyata bahwa bahan dapur yang setiap hari kita gunakan ternyata menyimpan potensi manfaat kesehatan yang menarik untuk terus diteliti. Kandungan kurkumin di dalamnya berpotensi membantu melawan peradangan, menjaga kesehatan pencernaan, mendukung daya tahan tubuh, membantu meredakan nyeri haid, serta melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Meski demikian, manfaat-manfaat di atas bersifat pendukung, bukan pengganti pengobatan medis. Bila Anda memiliki keluhan kesehatan tertentu atau berencana mengonsumsi kunyit dalam bentuk suplemen, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan profesional.

Sumber : https://www.biofarma.co.id/id/announcement/detail/kunyit-dapur-manfaatnya-tak-sesederhana-bentuknya

Cegah Anak Salah Pergaulan, Ini Pentingnya “Kurikulum Keluarga”

Cegah Anak Salah Pergaulan, Ini Pentingnya “Kurikulum Keluarga”

KOMPAS.com – Orangtua perlu membangun pola pendidikan di dalam keluarga sejak anak masih dini untuk membantu mereka menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan.

Hal ini menjadi perhatian Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang mendorong calon orangtua menyiapkan “kurikulum keluarga” sebelum menikah.

Gagasan tersebut disampaikan Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Talqis Nurdianto dalam kajian Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pada Senin (31/8/2026).

Menurutnya, keluarga memiliki peran sebagai “madrasah” pertama bagi anak, sehingga orangtua perlu memiliki pedoman dalam mendidik dan membimbing anak.

“Kurikulum keluarga harus ada,” kata Talqis dalam kajian tersebut.

“Kurikulum keluarga sebaiknya disiapkan sejak seseorang hendak membangun rumah tangga. Pedoman tersebut nantinya dapat digunakan orangtua untuk menentukan arah pendidikan anak di lingkungan keluarga,” kata Talqis.

Pendidikan di dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pelajaran akademik.

Orangtua juga memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter, memberikan pemahaman mengenai hubungan sosial, serta membantu anak menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam proses pertumbuhan.

Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam tumbuh kembang remaja.

Dukungan tersebut mencakup pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan, dan perlindungan agar remaja dapat tumbuh sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakatnya.

Dengan demikian, keterlibatan orangtua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan anak.

Komunikasi dan pendampingan juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan keluarga yang aman bagi anak.

Pendidikan Relasi Perlu Diberikan Sejak Dini

Talqis menyoroti pentingnya pendidikan mengenai relasi antara laki-laki dan perempuan.

Menurutnya, anak perlu mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai hubungan dengan lawan jenis agar tidak mencari informasi secara bebas tanpa pendampingan.

Ia juga menilai pendidikan seksual tidak seharusnya menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan dalam keluarga.

Pendidikan tersebut dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang membantu anak memahami batasan diri, tanggung jawab, serta menjaga diri dalam pergaulan.

Pembahasan mengenai kesehatan dan perkembangan remaja juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan.

Kemenkes menyebut remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan. Karena itu, remaja perlu dibekali kemampuan mengambil keputusan yang baik dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Pendidikan mengenai relasi pun perlu disampaikan dengan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Orangtua dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk bertanya dan memperoleh informasi yang benar.

Tantangan Pengasuhan di Era Digital

Perkembangan teknologi membuat tantangan orangtua dalam mendampingi anak semakin kompleks.

Anak dapat memperoleh informasi dan berinteraksi dengan orang lain melalui perangkat digital tanpa selalu diketahui orangtua.

Talqis menilai kondisi tersebut membuat kedekatan fisik antara orangtua dan anak belum tentu menunjukkan adanya kedekatan dalam komunikasi.

Orangtua bisa saja berada di rumah bersama anak, tetapi tidak mengetahui aktivitas maupun persoalan yang sedang dihadapi anak.

Karena itu, pengawasan tidak cukup dilakukan dengan sekadar mengetahui keberadaan anak. Orangtua juga perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Kementerian Kesehatan melalui laman kesehatan resminya juga menekankan pentingnya orangtua mengenal lingkungan pertemanan anak.

Mengenal teman anak bukan berarti membatasi pergaulan, melainkan membantu memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan positif.

Kurikulum Keluarga Bukan Sekadar Aturan

Kurikulum keluarga dapat dipahami sebagai pedoman bagi orangtua dalam menentukan nilai dan kebiasaan yang ingin dibangun bersama anak.

Dengan adanya pedoman tersebut, pendidikan anak diharapkan tidak berjalan tanpa arah.

Namun, penerapannya bukan berarti keluarga harus membuat aturan yang kaku. Pendidikan keluarga justru membutuhkan komunikasi dan keteladanan dari orangtua.

Anak dapat belajar mengenai tanggung jawab dari kebiasaan yang diterapkan di rumah. Begitu pula dengan cara menghargai orang lain, menjaga batasan diri, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan.

Hubungan yang sehat antara orangtua dan anak juga dapat membantu anak menghadapi berbagai persoalan yang muncul ketika memasuki usia remaja.

Orangtua Perlu Membangun Komunikasi

Keluarga memiliki posisi penting dalam membantu anak menghadapi lingkungan sosialnya. Karena itu, komunikasi antara orangtua dan anak perlu dibangun sejak dini, bukan baru dilakukan ketika muncul masalah.

Orangtua dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak, mengetahui lingkungan pertemanannya, serta memberikan penjelasan ketika anak menghadapi situasi yang belum dipahaminya.

Pendekatan tersebut juga membuat anak memiliki tempat untuk meminta pertimbangan sebelum mengambil keputusan.

Kemenkes menegaskan bahwa dukungan keluarga diperlukan untuk membantu remaja tumbuh sehat.

Selain pendidikan dan perlindungan, keluarga juga berperan dalam membantu remaja mengembangkan kemampuan dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai.

Pada akhirnya, gagasan mengenai kurikulum keluarga menempatkan rumah sebagai ruang pendidikan yang penting bagi anak.

Orangtua tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membangun nilai, memberikan pengetahuan, dan mendampingi anak menghadapi perubahan zaman.

Dengan pendidikan dan komunikasi yang dibangun sejak dini, keluarga diharapkan dapat menjadi lingkungan pertama yang membantu anak memahami dirinya, menjaga batasan dalam pergaulan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26I01124830390/cegah-anak-salah-pergaulan-ini-pentingnya-kurikulum-keluarga

Jalan kaki singkat usai makan bantu kendalikan gula darah

Jalan kaki singkat usai makan bantu kendalikan gula darah

Jakarta (ANTARA) – Berjalan kaki selama beberapa menit atau melakukan aktivitas fisik ringan setelah makan dapat membantu mengurangi kenaikan kadar gula darah.

Menurut laporan laman Health pada Kamis (27/8) waktu setempat, tinjauan terhadap 31 penelitian yang melibatkan 573 orang dewasa, termasuk peserta sehat serta mereka yang mengalami pradiabetes atau diabetes tipe 2, menunjukkan aktivitas fisik singkat dapat membantu mengendalikan kadar gula darah setelah makan. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Complementary Therapies in Medicine.

Para peneliti mengamati aktivitas fisik singkat yang berlangsung maksimal 10 menit dan dilakukan setidaknya dua kali sehari dengan jeda minimal 30 menit. Aktivitas yang diteliti meliputi berjalan kaki, bersepeda, latihan tangan, tai chi, yoga, hingga latihan kekuatan ringan seperti heel raises.

Hasil analisis menunjukkan aktivitas fisik singkat berkaitan dengan kadar gula darah dan insulin setelah makan yang lebih rendah dibandingkan dengan duduk tanpa jeda dalam waktu lama.

Manfaat paling terlihat pada peserta yang bergerak setidaknya setiap 30 menit serta mereka yang memilih berjalan kaki. Sebaliknya, sekadar berdiri setiap satu jam tidak menunjukkan manfaat yang sama terhadap kadar gula darah.

Ahli gizi yang berfokus pada diabetes Erin Palinski-Wade, RD, CDCE, menjelaskan aktivitas fisik membuat otot lebih mudah mengambil gula dari aliran darah.

Karena itu, aktivitas singkat yang dilakukan beberapa kali sepanjang hari berpotensi membantu mengatur kadar gula darah. Gerakan tersebut juga tidak harus selalu berupa olahraga formal.

Palinski-Wade menyarankan aktivitas selama satu hingga lima menit, seperti menaiki tangga, melakukan squat, atau berjalan di tempat, bagi orang yang memiliki waktu terbatas.

Ahli endokrinologi dan profesor klinis kedokteran di NYU Langone Health Rachel Pessah-Pollack, MD, mengatakan temuan tersebut sejalan dengan rekomendasi American Diabetes Association untuk memutus periode duduk terlalu lama setidaknya setiap 30 menit.

Selain bergerak sepanjang hari, Palinski-Wade menyarankan aktivitas fisik ringan dalam 30 menit setelah makan. Penelitian sebelumnya menunjukkan berjalan segera setelah makan dapat membantu pengelolaan gula darah pada orang dengan diabetes.

Kebiasaan bergerak secara berkala dapat bermanfaat bagi orang yang banyak menghabiskan waktu dengan duduk. Manfaatnya juga berpotensi lebih besar bagi orang dengan pradiabetes atau diabetes tipe 2.

Meski demikian, jalan kaki singkat tidak menggantikan pengobatan diabetes, pola makan sehat, maupun aktivitas fisik yang dianjurkan. Kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga kesehatan metabolik.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5718827/jalan-kaki-singkat-usai-makan-bantu-kendalikan-gula-darah

Kandungan air dan serat semangka bantu lancarkan BAB

Kandungan air dan serat semangka bantu lancarkan BAB

Jakarta (ANTARA) – Mengonsumsi semangka dapat membantu melancarkan buang air besar (BAB) karena buah tersebut kaya akan air dan mengandung serat yang mendukung kesehatan pencernaan.

Ahli gizi Chelsea Rae Bourgeois, RDN, LD, pada laman Health, Senin, menjelaskan bahwa sekitar 92 persen kandungan semangka merupakan air. Kandungan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan menjaga tinja tetap lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Semangka juga mengandung serat, meski jumlahnya tidak terlalu tinggi. Serat membantu menambah volume tinja dan mendukung pergerakannya melalui saluran pencernaan.

Satu potong semangka, atau sekitar seperenam bagian dari buah berukuran sedang, mengandung sekitar 1,14 gram serat. Sementara itu, dua cangkir semangka mengandung kurang dari dua gram serat.

Mengonsumsi semangka dapat menjadi salah satu cara untuk menambah asupan cairan dan buah dalam pola makan sehari-hari. Namun, semangka sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber serat karena kebutuhan serat tubuh juga perlu dipenuhi dari makanan lain.

Beberapa makanan yang kaya serat antara lain kacang-kacangan, lentil, biji-bijian utuh, sayuran, buah beri, serta buah-buahan lain.

Meski dapat membantu pencernaan, konsumsi semangka dalam jumlah banyak juga dapat menimbulkan gangguan pada sebagian orang.

Semangka mengandung fruktosa, yaitu salah satu jenis gula alami. Pada sebagian orang, fruktosa dapat sulit diserap tubuh dan mencapai usus besar. Di sana, fruktosa dapat difermentasi oleh bakteri sehingga menghasilkan gas dan memicu kembung, sakit perut, atau diare.

Orang dengan sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS) juga dapat lebih sensitif terhadap makanan yang mengandung fruktosa dan karbohidrat tertentu yang mudah difermentasi.

Karena itu, jumlah semangka yang dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan keluhan dapat berbeda pada setiap orang.

Bourgeois juga menyarankan agar konsumsi buah dilakukan secara beragam. Buah seperti apel, pir, jeruk, kiwi, beri, dan alpukat dapat menjadi sumber serat tambahan dalam pola makan.

Selain makanan, kecukupan cairan juga penting untuk membantu serat bekerja dengan baik. Peningkatan asupan serat secara tiba-tiba tanpa diimbangi cairan yang cukup justru dapat menyebabkan kembung atau sembelit.

Bagi orang dewasa sehat, konsumsi sekitar dua cangkir semangka dalam sehari secara umum masih dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, kebutuhan setiap orang dapat berbeda tergantung kondisi tubuh dan pola makan secara keseluruhan.

Dengan kandungan air dan seratnya, semangka dapat membantu mendukung kelancaran BAB. Namun, manfaat tersebut tetap perlu didukung dengan konsumsi makanan kaya serat yang beragam, cukup minum, serta aktivitas fisik yang teratur.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5718888/kandungan-air-dan-serat-semangka-bantu-lancarkan-bab

Benarkah Uban Tanda Tubuh Sedang Lawan Kanker? Ini Kata Pakar IPB

Benarkah Uban Tanda Tubuh Sedang Lawan Kanker? Ini Kata Pakar IPB

KOMPAS.com – Mungkin ada beberapa kalangan masyarakat yang memercayai bahwa kemunculan uban merupakan tanda tubuh sedang melawan penyakit kanker.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) Institut Pertabian Bogor (IPB) University dr Yenny Rachmawati, MBiomed, anggapan tersebut tidak tepat karena munculnya uban tidak berarti sistem imun sedang bekerja melindungi tubuh dari kanker.

“Warna rambut dihasilkan oleh melanosit yang memproduksi pigmen melanin. Sel tersebut berasal dari sel punca melanosit yang tersimpan di folikel rambut,” kata dr Yenny dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (1/9/2026).

“Seiring bertambahnya usia, sebagian sel punca dapat berkurang, kehilangan fungsi, atau tidak lagi berada pada lokasi yang tepat. Akibatnya, rambut yang tumbuh kekurangan pigmen sehingga tampak putih atau abu-abu,” lanjut dia.

Belum terdapat bukti epidemiologis yang memadai

Yenny menjelaskan, penelitian eksperimental pada tikus menunjukkan bahwa ketika sel punca melanosit mengalami kerusakan DNA, sel dapat mengambil jalur berbeda.

Sebagian mengalami penuaan sel yang berujung pada pemutihan rambut. Namun, dalam kondisi tertentu.

Terutama ketika dipengaruhi zat karsinogenik, sel dapat mempertahankan diri dan berpotensi berkembang menjadi lesi melanositik yang mengarah pada melanoma.

Meski demikian, dr Yenny menegaskan belum terdapat bukti epidemiologis yang memadai bahwa orang yang cepat beruban memiliki risiko melanoma atau kanker lain yang lebih rendah.

Cepat beruban tidak berarti seseorang lebih terlindungi

Oleh karena itu, cepat beruban tidak berarti seseorang lebih terlindungi, begitu pula belum beruban tidak otomatis menunjukkan risiko kanker lebih tinggi.

Menurut dr Yenny, kecepatan munculnya uban dipengaruhi berbagai faktor seperti usia dan genetik menjadi faktor utama.

Sementara stres oksidatif, merokok, polusi, serta paparan lingkungan tertentu juga dapat berperan. Stres psikologis berat diduga mempercepat berkurangnya sel punca melanosit melalui aktivasi sistem saraf simpatis.

Selain itu, uban yang muncul dini dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin B12 atau zat besi, gangguan tiroid, maupun beberapa penyakit autoimun.

Uban tidak selalu menunjukkan kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu.

Namun, uban tidak selalu menunjukkan kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu.

“Oleh karena itu, kita tidak perlu mengaitkan kemunculan uban dengan kemampuan tubuh menghentikan kanker. Pemahaman yang tepat ini penting agar kita tidak mengabaikan faktor risiko kanker hanya karena rambut mulai memutih,” ungkapnya.

Sebaliknya, lanjut dia, perubahan pada kulit, terutama tahi lalat yang berubah bentuk, warna, ukuran, atau menimbulkan keluhan, perlu diperhatikan dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Pemeriksaan juga dapat dipertimbangkan bila uban muncul sangat dini dan disertai keluhan lain.

Sehingga kemungkinan faktor nutrisi atau gangguan kesehatan dapat dinilai sesuai kondisi individu.

“Pencegahan kanker tetap perlu dilakukan tanpa melihat warna rambut, antara lain dengan pola hidup sehat, menghindari rokok, melindungi kulit dari paparan ultraviolet berlebihan, serta memperhatikan perubahan tahi lalat atau lesi kulit yang mencurigakan,” pungkas dia.

Sumber : https://www.kompas.com/edu/read/2026/09/01/100632771/benarkah-uban-tanda-tubuh-sedang-lawan-kanker-ini-kata-pakar-ipb

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Liputan6.com, Jakarta Jeruk nipis selama ini lebih akrab sebagai bahan pelengkap di dapur. Rasa asamnya dapat memberikan sentuhan segar pada makanan dan minuman, tetapi buah berwarna hijau ini juga kerap digunakan dalam berbagai perawatan kulit alami. Tidak sedikit orang yang mengoleskan perasan jeruk nipis pada wajah karena percaya kandungan vitamin C di dalamnya dapat membantu membuat kulit tampak lebih cerah. Dari kebiasaan tersebut kemudian muncul pertanyaan yang cukup penting: apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari, atau penggunaan terlalu sering justru dapat menimbulkan masalah pada kulit?

Keinginan untuk memanfaatkan bahan alami sebagai bagian dari rutinitas perawatan wajah memang cukup umum. Bahan yang mudah ditemukan di rumah sering dianggap lebih praktis dan aman karena berasal dari alam. Padahal, alami tidak selalu berarti cocok digunakan secara langsung pada kulit, terlebih jika diaplikasikan terlalu sering. Jeruk nipis memiliki sifat yang sangat asam sehingga penggunaannya pada wajah perlu dilakukan dengan lebih hati-hati. Pemakaian setiap hari umumnya tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko kulit mengalami iritasi, terutama pada kulit yang sensitif atau memiliki kondisi skin barrier yang sedang terganggu.

Kandungan vitamin C memang menjadi salah satu alasan jeruk nipis banyak dilirik sebagai bahan perawatan kulit. Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta membuat perasan jeruk nipis aman dijadikan pengganti produk skincare dan digunakan setiap hari. Konsentrasi asam, cara pemakaian, kondisi kulit, serta paparan sinar matahari setelah penggunaannya menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, sebelum mencoba tren perawatan wajah berbahan jeruk nipis, penting untuk memahami terlebih dahulu bagaimana bahan tersebut dapat bereaksi terhadap kulit.

Penggunaan jeruk nipis sebagai bagian dari pengobatan atau perawatan tradisional sebenarnya bukan hal baru. Dalam buku Khasiat dan Manfaat Jeruk Nipis karya B. Sarwono, disebutkan bahwa bangsa-bangsa di Asia Tenggara telah lama memanfaatkan jeruk nipis sebagai bahan dalam berbagai ramuan tradisional. Pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa jeruk nipis memang memiliki sejarah panjang dalam pemanfaatan sehari-hari. Meski demikian, penggunaan secara tradisional tetap perlu dibedakan dengan penerapan langsung pada kulit wajah yang memiliki karakteristik lebih sensitif. Memahami manfaat sekaligus risikonya dapat membantu menentukan cara penggunaan yang lebih bijak, sehingga keinginan mendapatkan manfaat dari jeruk nipis tidak justru berakhir dengan masalah pada kulit, berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (1/9/2026).

Mengenal Jeruk Nipis untuk Perawatan Wajah

Jeruk nipis (Citrus aurantiifolia) merupakan buah sitrus berukuran kecil dengan rasa asam yang khas. Buah ini mengandung vitamin C, asam sitrat, serta berbagai senyawa antioksidan yang membuatnya kerap dilirik sebagai salah satu bahan dalam perawatan kulit alami. Kandungan tersebut pula yang membuat jeruk nipis cukup populer dalam berbagai resep skincare rumahan, terutama untuk membantu membuat kulit tampak lebih cerah.

Dilansir dari Healthline, vitamin C sebagai antioksidan berperan dalam membantu melindungi kulit dari radikal bebas yang dapat merusak kolagen. Kolagen sendiri merupakan salah satu protein penting yang membantu menjaga struktur dan elastisitas kulit. Pemanfaatan bahan yang mengandung vitamin C kemudian sering dikaitkan dengan upaya menjaga kulit agar tetap tampak sehat dan halus.

Hal tersebut turut membuat berbagai manfaat jeruk nipis untuk wajah banyak dibicarakan dan dipromosikan melalui resep perawatan alami. Jeruk nipis dipercaya dapat membantu mencerahkan kulit, mengurangi minyak berlebih, hingga membantu mengangkat sel kulit mati. Harganya yang relatif murah dan mudah ditemukan juga membuat buah ini menarik bagi orang yang ingin mencoba perawatan kulit dengan bahan sederhana yang tersedia di rumah.

Namun, penggunaan jeruk nipis pada wajah tidak cukup hanya mempertimbangkan kandungan vitamin C atau manfaat yang dipercaya dimilikinya. Sifatnya yang asam menjadi hal penting yang perlu diperhatikan, terutama ketika air perasan jeruk nipis digunakan secara langsung tanpa melalui proses formulasi khusus.

Kekuatan air perasan jeruk nipis juga tidak dapat ditakar secara pasti. Tingkat keasaman setiap buah dapat berbeda, sehingga jumlah asam yang mengenai kulit ketika seseorang mengoleskannya secara langsung pun tidak selalu sama. Pada kulit tertentu, paparan bahan yang terlalu asam dapat menyebabkan rasa perih, kemerahan, kering, atau iritasi. Risiko tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan jika penggunaannya dilakukan berulang kali.

Kondisi ini menjadi salah satu perbedaan mendasar antara jeruk nipis segar dan produk skincare yang memang diformulasikan untuk kulit. Produk perawatan kulit umumnya dibuat dengan mempertimbangkan konsentrasi bahan aktif, tingkat keasaman, stabilitas formula, serta cara penggunaan yang sesuai. Karena itu, meski jeruk nipis memiliki kandungan yang menarik untuk kulit, penggunaannya secara langsung tetap membutuhkan kehati-hatian, terlebih jika hendak dijadikan bagian dari rutinitas perawatan wajah sehari-hari.

Apakah Boleh Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah Setiap Hari?

Jika pertanyaannya adalah apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari, jawaban praktisnya adalah sebaiknya tidak. Meski jeruk nipis mengandung vitamin C dan senyawa lain yang menarik untuk perawatan kulit, air perasannya memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Penggunaan langsung dan terlalu sering dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi, terlebih jika kondisi skin barrier sedang tidak optimal.

Risikonya tidak hanya berkaitan dengan rasa perih atau kemerahan yang mungkin muncul setelah pemakaian. Senyawa tertentu dalam buah sitrus juga dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari. Ketika kulit yang terkena bahan tersebut kemudian terpapar sinar matahari, reaksi pada kulit dapat menjadi lebih berat. Karena itu, penggunaan jeruk nipis secara sembarangan justru berpotensi menimbulkan masalah baru alih-alih memberikan manfaat seperti yang diharapkan.

Ulasan dalam jurnal Clinical and Molecular Allergy juga mencatat bahwa Citrus aurantiifolia termasuk buah yang memiliki sejumlah reaksi merugikan dan manifestasi klinis yang telah terdokumentasi. Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa bahan alami tetap dapat menimbulkan reaksi tertentu ketika bersentuhan dengan kulit. Risiko tersebut dapat lebih besar pada orang yang memiliki kulit sensitif, kering, atau sedang mengalami iritasi.

Pendapat serupa juga disampaikan dermatolog Melissa Piliang, MD, yang dikutip oleh Cleveland Clinic. Menurutnya, reaksi kulit akibat paparan buah sitrus berkaitan dengan jumlah bahan yang mengenai kulit dan lamanya seseorang berada di bawah sinar matahari. Artinya, cara penggunaan dan kondisi setelah pemakaian menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan ketika membicarakan keamanan bahan sitrus untuk kulit.

Lantas, apakah jeruk nipis sama sekali tidak boleh digunakan pada wajah? Tidak selalu demikian. Persoalannya terletak pada cara dan frekuensi pemakaian. Mengoleskan air perasan jeruk nipis murni secara rutin bukan pilihan yang ideal untuk perawatan wajah, terutama karena konsentrasi asamnya tidak dapat dikontrol seperti pada produk skincare yang telah diformulasikan khusus untuk kulit.

Jika tetap ingin mencoba perawatan berbahan jeruk nipis, penggunaan sebaiknya tidak dilakukan setiap hari dan perlu menghindari paparan sinar matahari setelahnya. Namun, perlu diingat bahwa mengencerkan air perasan jeruk nipis di rumah pun tidak memberikan ukuran konsentrasi yang benar-benar pasti. Bagi pemilik kulit sensitif atau yang memiliki masalah kulit tertentu, berkonsultasi dengan dokter kulit merupakan pilihan yang lebih aman sebelum mencoba bahan tersebut secara langsung.

Manfaat Jeruk Nipis untuk Wajah

Sebelum membahas lebih jauh mengenai batasan penggunaannya, wajar jika muncul pertanyaan mengapa jeruk nipis begitu populer sebagai bahan perawatan kulit alami. Ketertarikan tersebut tidak lepas dari kandungan vitamin C, asam sitrat, dan berbagai senyawa antioksidan di dalamnya. Kandungan tersebut memang memiliki peran tertentu dalam kesehatan kulit, tetapi manfaatnya perlu dipahami secara proporsional agar tidak membuat penggunaan jeruk nipis secara langsung dianggap sama dengan penggunaan produk skincare yang telah diformulasikan.

Salah satu kandungan yang menarik perhatian adalah senyawa flavonoid dalam buah sitrus. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Investigative Dermatology pada 2007, misalnya, meneliti nobiletin, salah satu flavonoid yang ditemukan pada buah sitrus, dan kaitannya dengan produksi sebum serta proliferasi sebosit dalam penelitian pada hewan. Temuan semacam ini memberikan gambaran awal mengenai potensi senyawa dari buah sitrus terhadap kulit, tetapi hasil penelitian pada hewan belum dapat digunakan untuk memastikan efek yang sama ketika jeruk nipis digunakan langsung pada kulit manusia.

Berbagai manfaat jeruk nipis untuk wajah yang beredar di masyarakat pun umumnya berkaitan dengan kandungan-kandungan tersebut. Berikut beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan penggunaan jeruk nipis pada kulit:

  1. Membantu mencerahkan kulit – Vitamin C dikenal sebagai antioksidan yang dapat berperan dalam proses pembentukan melanin pada kulit. Karena itu, vitamin C sering digunakan dalam produk perawatan untuk membantu membuat warna kulit tampak lebih merata. Namun, efek tersebut tidak berarti bahwa mengoleskan air perasan jeruk nipis secara langsung akan memberikan hasil yang sama.
  2. Membantu merawat kulit yang rentan berjerawat – Jeruk nipis kerap dikaitkan dengan perawatan jerawat karena sifat asam dan kandungan senyawa tertentu di dalamnya. Klaim mengenai manfaat jeruk nipis untuk membantu mengatasi jerawat memang cukup populer, tetapi bukti klinis yang secara khusus mendukung penggunaan air perasan jeruk nipis langsung pada wajah masih terbatas.
  3. Memberikan efek eksfoliasi – Asam sitrat termasuk kelompok alpha hydroxy acid (AHA) yang dalam formulasi skincare dapat membantu melepaskan sel-sel kulit mati dari permukaan kulit. Meski demikian, kandungan asam dalam jeruk nipis segar tidak dapat disamakan begitu saja dengan AHA dalam produk skincare yang konsentrasinya telah diatur dan diformulasikan untuk penggunaan pada kulit.
  4. Membantu mengurangi minyak berlebih – Jeruk nipis juga sering digunakan dalam resep perawatan alami yang ditujukan untuk kulit berminyak. Beberapa penelitian terhadap senyawa buah sitrus menunjukkan adanya potensi pengaruh terhadap produksi sebum, tetapi temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa air perasan jeruk nipis dapat secara aman dan efektif mengontrol minyak berlebih ketika dioleskan langsung ke wajah.
  5. Membantu menyamarkan tampilan noda gelap – Kandungan vitamin C sering digunakan dalam skincare untuk membantu meratakan warna kulit dan mengurangi tampilan hiperpigmentasi. Karena alasan tersebut, jeruk nipis juga kerap dipercaya dapat membantu menyamarkan noda atau bekas jerawat. Namun, penggunaan air perasan secara langsung justru dapat memicu iritasi pada sebagian orang, yang berpotensi membuat perubahan warna kulit semakin terlihat.
  6. Mendukung pembentukan kolagen – Vitamin C memiliki peran penting dalam proses pembentukan kolagen. Protein ini membantu menjaga struktur dan elastisitas kulit. Manfaat vitamin C tersebut telah menjadi salah satu alasan bahan ini banyak digunakan dalam produk skincare, meskipun bukan berarti penggunaan jeruk nipis segar pada wajah merupakan cara yang paling aman untuk mendapatkan manfaat tersebut.
  7. Membantu melindungi kulit dari radikal bebas – Vitamin C dan senyawa antioksidan lainnya dapat membantu melindungi sel dari stres oksidatif akibat paparan lingkungan. Potensi antioksidan inilah yang turut membuat buah sitrus menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan kulit.

Berbagai manfaat tersebut perlu dipahami dengan konteks yang tepat. Sebagian merupakan manfaat yang berkaitan dengan kandungan tertentu dalam jeruk nipis, sementara sebagian lainnya masih berupa klaim populer atau didukung oleh penelitian awal yang belum secara khusus menguji penggunaan air perasan jeruk nipis pada wajah manusia. Karena itu, manfaatnya tidak bisa dianggap sebagai hasil yang pasti, apalagi diperoleh secara instan.

Hal yang tidak kalah penting, manfaat suatu bahan aktif tidak selalu berarti bahan mentah yang mengandungnya aman digunakan langsung pada kulit. Dalam skincare, konsentrasi, pH, stabilitas, serta kombinasi bahan diperhitungkan untuk mendapatkan manfaat sekaligus meminimalkan risiko iritasi. Inilah alasan mengapa kandungan vitamin C dalam jeruk nipis tidak otomatis membuat air perasannya cocok digunakan sebagai skincare harian.

Efek Samping Memakai Jeruk Nipis Setiap Hari

Sisi yang tidak kalah penting untuk dibahas adalah risikonya. Popularitas jeruk nipis sebagai bahan perawatan kulit alami terkadang membuat aspek keamanannya terlewatkan. Padahal, memahami efek samping jeruk nipis dapat membantu menentukan apakah bahan ini memang layak digunakan pada wajah, terutama jika pemakaiannya direncanakan sebagai rutinitas.

Salah satu risiko yang paling perlu diperhatikan adalah fitofotodermatitis. Kondisi ini terjadi ketika kulit bersentuhan dengan senyawa fototoksik yang terdapat pada tumbuhan atau buah tertentu, kemudian terpapar sinar ultraviolet, khususnya UVA. Buah sitrus seperti jeruk nipis termasuk salah satu sumber yang dapat memicu reaksi tersebut karena mengandung senyawa furokumarIn. Reaksinya dapat menyerupai luka bakar atau masalah kulit lainnya sehingga terkadang tidak langsung dikenali sebagai fitofotodermatitis.

Reaksi tersebut tidak selalu muncul seketika setelah kulit terkena air perasan jeruk nipis. Gejala dapat berkembang beberapa jam hingga beberapa hari kemudian, terutama setelah area kulit yang terpapar kembali terkena sinar matahari. Tingkat keparahannya pun dapat berbeda pada setiap orang. Berikut beberapa efek yang perlu diperhatikan:

  1. Fitofotodermatitis atau “margarita burn” – Setelah kulit terkena jeruk nipis dan kemudian terpapar sinar matahari, dapat muncul kemerahan, rasa gatal, nyeri, pembengkakan, bahkan lepuhan. Reaksi ini dikenal sebagai fitofotodermatitis dan tidak sama dengan alergi kulit biasa.
  2. Hiperpigmentasi yang sulit hilang – Setelah peradangan mereda, kulit pada area yang terkena dapat meninggalkan bercak berwarna lebih gelap. Hiperpigmentasi pascaperadangan ini dapat bertahan selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada tingkat keparahan reaksi dan kondisi kulit masing-masing.
  3. Perubahan warna kulit atau chemical leukoderma – Penggunaan bahan berbasis buah sitrus pada kulit juga pernah dikaitkan dengan munculnya bercak putih akibat hilangnya pigmen pada area tertentu. Sebuah laporan kasus mendokumentasikan kondisi tersebut setelah penggunaan toner lemon buatan sendiri. Meski kasus seperti ini tergolong jarang, hal tersebut menunjukkan bahwa bahan alami tetap dapat menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan.
  4. Iritasi dan sensasi terbakar – Tingkat keasaman jeruk nipis dapat membuat kulit terasa perih, panas, atau terbakar. Reaksi ini lebih mungkin terasa pada kulit yang sensitif, kering, atau sedang mengalami gangguan pada lapisan pelindungnya.
  5. Kulit kering dan terganggunya skin barrier – Penggunaan bahan yang terlalu asam dan terlalu sering dapat membuat kulit terasa semakin kering dan tidak nyaman. Jika lapisan pelindung kulit terganggu, kulit juga dapat menjadi lebih mudah bereaksi terhadap produk atau bahan lain.
  6. Reaksi yang lebih berat pada kondisi tertentu – Risiko reaksi fototoksik dapat dialami siapa saja, tetapi tingkat keparahannya dipengaruhi oleh jumlah bahan yang mengenai kulit, durasi paparan sinar matahari, serta kondisi kulit masing-masing. Karena itu, tidak tepat menganggap jeruk nipis aman hanya karena sebelumnya tidak pernah menimbulkan masalah pada kulit.

Dermatolog Samer Jaber, MD, dari Washington Square Dermatology di New York, dikutip CBS News, menjelaskan bahwa reaksi tersebut berkaitan dengan paparan senyawa furanokumarin yang membuat kulit lebih rentan terhadap sinar UVA. Penjelasan ini menunjukkan mengapa penggunaan jeruk nipis pada kulit perlu memperhitungkan aktivitas setelah pemakaian, bukan hanya reaksi yang muncul sesaat setelah air perasan dioleskan.

Risiko tersebut menjadi alasan penting untuk tidak menjadikan air perasan jeruk nipis sebagai bahan skincare harian. Jika setelah menggunakan jeruk nipis kulit mengalami kemerahan, nyeri, lepuhan, atau perubahan warna yang menetap, sebaiknya hentikan penggunaannya dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit.

Cara Aman Memakai Jeruk Nipis untuk Wajah

Jika kamu tetap ingin mencoba jeruk nipis sebagai bagian dari perawatan kulit, kehati-hatian menjadi hal yang paling penting. Berbagai resep memutihkan wajah dengan jeruk nipis memang banyak ditemukan, tetapi tidak semua cara tersebut memiliki tingkat keamanan yang sama. Mengingat air perasan jeruk nipis dapat menyebabkan iritasi dan meningkatkan risiko reaksi fototoksik, penggunaannya sebaiknya tidak diperlakukan seperti produk skincare biasa.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelah kulit terkena jeruk nipis. Menurut Poison Control, mencuci area kulit yang terkena sesegera mungkin dapat membantu mengurangi paparan senyawa furokumarin pada kulit. Perlindungan dari sinar matahari juga penting, sebab tabir surya tidak selalu dapat mencegah terjadinya fitofotodermatitis sepenuhnya. Karena itu, paparan sinar matahari setelah kulit bersentuhan dengan jeruk nipis sebaiknya benar-benar dihindari.

Kesalahan dalam menggunakan bahan alami juga dapat terjadi ketika seseorang menganggap bahan tersebut otomatis aman hanya karena berasal dari buah. Doro Cubillo, kreator konten kecantikan, yang dikutip dari Stylecraze, pernah mengingatkan melalui pengalamannya tentang penggunaan air lemon secara langsung pada wajah. Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa bahan alami tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati, terutama ketika digunakan pada kulit wajah.

Jika kamu masih mempertimbangkan penggunaannya, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko:

  1. Lakukan uji tempel terlebih dahulu – Sebelum mengaplikasikan bahan apa pun pada wajah, lakukan uji tempel pada area kulit yang kecil. Namun, perlu dipahami bahwa uji tempel tidak dapat menjamin seseorang terbebas dari reaksi fototoksik, karena reaksi tersebut juga dipengaruhi oleh paparan sinar ultraviolet.
  2. Jangan mengoleskan air perasan jeruk nipis murni secara langsung – Konsentrasi dan tingkat keasaman air perasan buah tidak dapat dikontrol dengan pasti di rumah. Pengenceran mungkin mengurangi keasaman, tetapi tidak membuat campuran tersebut otomatis aman atau bebas dari risiko fototoksik.
  3. Hindari paparan sinar matahari – Jangan menggunakan jeruk nipis pada kulit sebelum beraktivitas di luar ruangan. Senyawa fotoreaktif dari buah sitrus dapat berinteraksi dengan sinar UVA dan memicu reaksi pada kulit.
  4. Jauhkan dari area mata dan bagian kulit yang terluka – Kulit di sekitar mata relatif tipis dan lebih rentan mengalami iritasi. Air perasan jeruk nipis juga sebaiknya tidak digunakan pada kulit yang sedang mengalami luka, peradangan, atau iritasi.
  5. Jangan menjadikannya perawatan harian – Tidak ada alasan untuk menggunakan air perasan jeruk nipis setiap hari demi mendapatkan hasil yang lebih cepat. Paparan berulang justru dapat meningkatkan kemungkinan kulit mengalami iritasi dan gangguan pada lapisan pelindungnya.
  6. Segera bilas jika terkena kulit – Jika air perasan jeruk nipis mengenai kulit, terutama sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari, segera cuci area tersebut dengan air dan sabun. Langkah ini dapat membantu mengurangi sisa senyawa yang masih menempel pada permukaan kulit.
  7. Hentikan penggunaan jika muncul reaksi – Rasa perih, panas, kemerahan, gatal, pembengkakan, atau lepuhan merupakan tanda bahwa kulit sedang mengalami reaksi. Jangan memaksakan penggunaan dengan harapan kulit akan terbiasa. Jika reaksinya cukup berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya periksakan kondisi kulit kepada dokter.

Tips singkat: jeruk nipis sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti skincare harian. Jika tujuanmu adalah mencerahkan kulit, merawat noda hitam, atau mendapatkan manfaat vitamin C secara rutin, produk skincare yang telah diformulasikan dengan konsentrasi dan cara penggunaan yang jelas merupakan pilihan yang lebih terukur. Bahan aktif dalam produk tersebut juga dapat dirancang agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan toleransi kulit dibandingkan penggunaan air perasan buah secara langsung.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Jeruk Nipis untuk Wajah

Apakah boleh memakai jeruk nipis untuk wajah setiap hari?

Sebaiknya tidak. Kandungan asam yang tinggi membuat pemakaian harian berisiko menimbulkan iritasi, kekeringan, dan kerusakan barier kulit. Lebih aman digunakan sesekali dalam kondisi sudah diencerkan.

Kenapa jeruk nipis tidak boleh terkena sinar matahari langsung?

Karena kandungan furokumarin di dalamnya membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar UV. Kombinasi jeruk nipis dan matahari bisa memicu fitofotodermatitis, yaitu reaksi seperti luka bakar yang meninggalkan bercak gelap.

Apa alternatif jeruk nipis yang lebih aman untuk mencerahkan wajah?

Serum atau produk perawatan berbahan vitamin C yang sudah diformulasikan bisa menjadi pilihan. Kadarnya terukur, teruji secara dermatologis, dan risikonya jauh lebih kecil dibanding air perasan jeruk nipis murni.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8272158/apakah-boleh-memakai-jeruk-nipis-untuk-wajah-setiap-hari