Uban Muncul di Usia 20-an, Normalkah atau Ada Penyebabnya?

Uban Muncul di Usia 20-an, Normalkah atau Ada Penyebabnya?

Liputan6.com, Jakarta – Munculnya beberapa helai uban saat masih berumur 20-an mungkin terasa mengejutkan. Namun, kondisi tersebut ternyata tidak sesering yang dibayangkan dan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan.

Mengutip Cosmopolitan pada Rabu, 23 September 2026, tidak ada usia yang benar-benar dianggap sebagai waktu ‘normal’ seseorang mulai beruban.

Sebagian orang mungkin hanya menemukan beberapa helai rambut putih, sementara yang lain mengalami perubahan warna rambut dalam jumlah lebih banyak.

Menurut dermatolog Mona Gohara, MD, waktu munculnya uban sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Mengapa Rambut Bisa Berubah Menjadi Abu-Abu?

Warna rambut ditentukan oleh jumlah dan kombinasi melanin yang terdapat di dalam folikel rambut. Seiring bertambahnya usia, produksi melanin di folikel rambut secara bertahap menurun.

“Produksi melanin pada folikel rambut menurun seiring waktu,” kata Gohara.

Ketika jumlah melanin berkurang, rambut kehilangan sebagian pigmennya sehingga mulai terlihat abu-abu. Sementara itu, rambut yang benar-benar putih tidak memiliki pigmen sama sekali.

Menurut Gohara, kebanyakan orang mulai melihat uban pada pertengahan usia 30-an.

Meski demikian, uban dapat muncul lebih awal, termasuk pada usia 20-an dan, dalam beberapa kasus, sejak akhir masa remaja.

Faktor Genetik Berpengaruh

Jika orang tua atau kakek-nenek mengalami uban lebih awal, kemungkinan seseorang mengalami hal serupa juga menjadi lebih besar.

Gohara menjelaskan bahwa ketika rambut mulai beruban lebih dini, kondisi tersebut sering kali bersifat turun-temurun. Artinya, waktu dan seberapa cepat rambut berubah warna banyak ditentukan oleh faktor genetik.

Selain faktor keturunan, proses penuaan tetap menjadi alasan utama rambut kehilangan pigmen.

Namun, Gohara menyebut stres oksidatif, faktor gaya hidup, serta kondisi kesehatan tertentu juga dapat mempercepat munculnya uban, meski kondisi medis merupakan penyebab yang lebih jarang.

Kekurangan Vitamin hingga Masalah Tiroid

Dalam beberapa kasus, uban yang muncul terlalu dini dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan atau kekurangan nutrisi tertentu.

Gohara menyebut kekurangan vitamin B12, masalah pada kelenjar tiroid, dan gangguan pada kelenjar pituitari dapat menyebabkan uban muncul lebih awal.

Sebuah penelitian terhadap orang berusia di bawah 20 tahun yang mengalami uban dini menemukan kadar tembaga yang lebih rendah pada kelompok tersebut.

Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hubungan tersebut secara menyeluruh.

Oleh sebab itu, Gohara mengingatkan agar seseorang tidak mendiagnosis dirinya sendiri. Jika mencurigai adanya masalah kesehatan atau kekurangan nutrisi, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.

Benarkah Stres Bisa Bikin Uban?

Hubungan antara stres dan uban juga menjadi salah satu hal yang banyak diperbincangkan.

Menurut Gohara, penelitian memang menunjukkan bahwa stres dapat berkontribusi terhadap berkurangnya sel punca yang berperan dalam mempertahankan warna rambut.

Namun, ia menegaskan bahwa rambut tidak akan berubah menjadi abu-abu dalam semalam hanya karena mengalami stres. Stres kronis berpotensi mempercepat proses tersebut.

Selain itu, kebiasaan merokok juga dikaitkan dengan uban dini. Cosmopolitan menyebut penelitian menemukan perokok memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar mengalami uban prematur dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Bisakah Uban Dicegah atau Dikembalikan?

Untuk uban yang terutama dipengaruhi faktor genetik, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.

Namun, jika uban berkaitan dengan masalah kesehatan atau kekurangan vitamin tertentu, kondisi tersebut mungkin dapat diperbaiki setelah penyebabnya ditangani.

Gohara juga memperingatkan agar tidak mudah percaya pada produk yang mengklaim dapat mengembalikan warna rambut.

Menurutnya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung penggunaan pil, losion, atau ramuan tertentu untuk membalikkan uban.

Dengan demikian, munculnya uban pada usia 20-an atau bahkan akhir masa remaja tidak selalu perlu dikhawatirkan.

Namun, jika kemunculannya disertai kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan tertentu, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8296538/uban-muncul-di-usia-20-an-normalkah-atau-ada-penyebabnya

Cuaca Panas dan Lembap Bikin Ketombe Makin Parah

Cuaca Panas dan Lembap Bikin Ketombe Makin Parah

Liputan6.com, Jakarta – Ketombe yang banyak muncul saat cuaca panas dan lembap dapat berkaitan dengan meningkatnya keringat, produksi minyak, serta penumpukan sel kulit mati dan sisa produk perawatan rambut di kulit kepala.

Dilansir dari Innovist, Selasa (22/9/2026), kombinasi panas, kelembapan, dan keringat dapat membuat kulit kepala menjadi lebih berminyak dan memperburuk ketombe serta iritasi.

Kelembapan sendiri tidak secara langsung menyebabkan ketombe. Namun, kondisi kulit kepala yang hangat dan berminyak dapat mendukung aktivitas Malassezia, jenis ragi yang berkaitan dengan ketombe pada orang yang rentan.

Bagaimana Lembap Membentuk Ketombe?

Ketika cuaca lembap, produksi keringat pada kulit kepala dapat meningkat, kemudian bercampur dengan sebum atau minyak alami kulit kepala, sel kulit mati, serta sisa produk rambut.

Penumpukan tersebut dapat membuat kulit kepala terasa lebih berminyak dan tidak nyaman sekaligus membuat rasa gatal dan serpihan ketombe semakin terlihat.

Pada orang yang rentan mengalami ketombe, kelebihan minyak dapat mendukung aktivitas Malassezia. Proses tersebut dapat berkontribusi terhadap iritasi dan peradangan kulit kepala, sehingga pengelupasan kulit meningkat dan serpihan semakin terlihat.

Keringat dan Minyak Turut Berpengaruh

Keringat turut memperburuk keadaan ketika dibiarkan terlalu lama. Selain menciptakan lingkungan yang lembap, keringat dapat bercampur dengan minyak dan sisa produk rambut.

Kombinasi kelembapan, garam, dan minyak juga berpotensi mengiritasi kulit kepala, terutama pada kulit yang sensitif. Menggaruk kulit kepala yang gatal kemudian dapat meningkatkan iritasi dan membuat serpihan semakin terlihat.

Sementara itu, ketombe lebih sering berkaitan dengan kelebihan minyak, iritasi, dan Malassezia, sedangkan kulit kepala kering umumnya berkaitan dengan kurangnya kelembapan.

Ketombe cenderung menghasilkan serpihan yang lebih besar dan berminyak, sementara kulit kepala kering biasanya menghasilkan serpihan yang lebih kecil dan kering.

Cara Menekan Produksi Ketombe

Untuk membantu mengendalikan ketombe saat cuaca lembap, menjaga kebersihan kulit kepala menjadi langkah penting.

Rambut perlu dicuci secara teratur untuk menghilangkan keringat, minyak berlebih, sel kulit mati, dan sisa produk. Frekuensi mencuci rambut pun dapat disesuaikan dengan kondisi kulit kepala serta intensitas keringat dan minyak.

Selain menjaga kebersihan, sejumlah bahan aktif umum digunakan dalam produk antiketombe., seperti salicylic acid yang membantu mengangkat sel kulit mati dan serpihan, piroctone olamine untuk membantu mengelola jamur Malassezia, dan lainnya.

Yang paling penting adalah kebiasaan sehari-hari juga harus diperhatikan.

  • Menggaruk atau mengorek kulit kepala sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan iritasi.
  • Penggunaan produk penata rambut yang berat perlu dibatasi jika menyebabkan penumpukan.
  • Sisir dan sikat rambut perlu dijaga kebersihannya.
  • Kulit kepala juga sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi berkeringat atau lembap.

Ketombe umumnya dapat dikelola melalui perawatan kulit kepala yang konsisten dan penanganan yang sesuai. Namun, kondisi ini dapat kembali muncul karena ketombe merupakan masalah kulit kepala yang cenderung berulang.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8296238/cuaca-panas-dan-lembap-bikin-ketombe-makin-parah

Nyeri Lutut Saat Naik Tangga Tak Selalu karena Usia, Kenali Penyebab dan Penanganannya

Nyeri Lutut Saat Naik Tangga Tak Selalu karena Usia, Kenali Penyebab dan Penanganannya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nyeri lutut saat naik tangga kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, keluhan tersebut dapat disebabkan berbagai kondisi, mulai dari osteoartritis, cedera ligamen atau meniskus, peradangan, hingga gangguan otot di sekitar lutut.

Studi yang dipublikasikan pada 2025 terhadap 3.597 orang dewasa di 15 kota di Indonesia menemukan osteoartritis lutut pada sekitar 15 persen peserta.

Dokter spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut Prof. Nicolaas C. Budhiparama mengatakan, perubahan aktivitas akibat nyeri juga perlu diperhatikan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Prof. Nicolaas, yang juga menjabat President of Asia Pacific Orthopaedic Association (APOA) 2025-2026.

Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan melihat pola nyeri, riwayat cedera, aktivitas yang memicu keluhan, serta dampaknya terhadap pergerakan. Pemeriksaan fisik dapat dilengkapi rontgen atau MRI bila diperlukan. Hasil pencitraan juga perlu dinilai bersama kondisi pasien karena tidak selalu mencerminkan tingkat nyeri yang dirasakan.

Menurut Prof Nicolaas, penanganan tidak selalu membutuhkan operasi. Pada banyak kasus, dokter dapat merekomendasikan penyesuaian aktivitas, latihan penguatan otot, fisioterapi, pengelolaan berat badan, atau obat sesuai kondisi pasien.

Operasi total knee replacement umumnya dipertimbangkan jika kerusakan sendi sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pertimbangannya antara lain nyeri yang menetap, kekakuan, lutut tidak stabil, perubahan bentuk kaki, atau keterbatasan gerak. Karena itu, keputusan operasi tidak hanya didasarkan pada usia atau hasil rontgen.

Pada operasi dengan bantuan robotik, dokter dapat melakukan perencanaan secara virtual, termasuk menentukan posisi implan dan menilai keseimbangan ligamen.

Namun, teknologi tetap menjadi alat bantu dan keputusan tindakan disesuaikan dengan anatomi serta kondisi masing-masing pasien.

“Teknologi saja tidak cukup. Semua informasi tersebut tetap harus diterjemahkan oleh dokter berdasarkan anatomi dan kondisi setiap pasien,” jelas Prof. Nicolaas.

Pemulihan juga menjadi bagian dari proses perawatan. Pasien umumnya mulai berlatih berdiri dan berjalan secara bertahap beberapa jam setelah operasi, kemudian menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan, rentang gerak, dan fungsi lutut.

Hospital Director RS Medistra.Dr. Adhitya Wardhana, MARS menambahkan bahwa, teknologi perlu diikuti keputusan klinis yang tepat, komunikasi dengan pasien, serta rehabilitasi yang konsisten.

Masyarakat sebaiknya memeriksakan diri jika nyeri lutut berulang atau semakin sering muncul, disertai pembengkakan, rasa tidak stabil atau terkunci, maupun mulai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Sumber : https://www.tribunnews.com/kesehatan/7879808/nyeri-lutut-saat-naik-tangga-tak-selalu-karena-usia-kenali-penyebab-dan-penanganannya

Kurangi Screen Time Anak dengan Olahraga yang Menyenangkan

Kurangi Screen Time Anak dengan Olahraga yang Menyenangkan

Jakarta, CNN Indonesia — Layar gadget kini menjadi bagian dari keseharian banyak anak. Menonton video, bermain gim, belajar, hingga berkomunikasi membuat waktu yang dihabiskan di depan perangkat digital semakin panjang.

Di tengah kondisi tersebut, mengajak anak kembali aktif bergerak menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah memperkenalkan olahraga sebagai aktivitas yang menyenangkan.

Olahraga tidak hanya membantu anak lebih aktif secara fisik. Aktivitas ini juga memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mencoba hal baru, bermain bersama teman, sekaligus menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Pilihan olahraga untuk anak pun semakin beragam. Anak tidak harus selalu bermain sepak bola atau bersepeda. Basket, senam, tenis, padel, hingga olahraga air dapat menjadi pilihan, tergantung minat dan karakter anak.

Yang terpenting, olahraga tidak diperkenalkan sebagai kewajiban. Ketika anak menemukan aktivitas yang disukai, bergerak bisa menjadi bagian dari rutinitas yang justru mereka nantikan.

Olahraga jadi alternatif screen time

Mengurangi screen time bukan berarti orangtua harus sepenuhnya menjauhkan anak dari teknologi. Yang lebih penting adalah menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik.

Orangtua dapat mengajak anak mencoba olahraga yang mereka minati, mengikuti kelas, bermain bersama, atau sekadar menghabiskan waktu di luar rumah. Keterlibatan orangtua juga dapat membuat pengalaman tersebut lebih menyenangkan. Saat mencoba olahraga baru, misalnya, anak memiliki kesempatan untuk belajar berbagai hal, mulai dari mengikuti aturan, bekerja sama, beradaptasi, hingga menerima kesalahan.

Pengalaman tersebut juga dapat membantu membangun kepercayaan diri anak. Mereka belajar bahwa mencoba sesuatu yang baru tidak selalu harus berakhir sempurna. Namun, agar aktivitas olahraga berlangsung nyaman, ada hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yakni pakaian yang dikenakan.

Sportswear anak bukan sekadar pakaian olahraga dalam ukuran lebih kecil. Desain, material, ukuran, hingga potongannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak yang banyak bergerak.

Saat berolahraga, tubuh anak akan lebih aktif dan menghasilkan keringat. Karena itu, material pakaian menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kenyamanan.

Material dry-fit, misalnya, dirancang untuk membantu mengelola kelembapan dari keringat sehingga pakaian lebih cepat kering. Karakter material yang ringan juga membuat pakaian tidak terasa semakin berat ketika anak berlari, bermain basket, atau melakukan aktivitas dengan banyak gerakan.

Meski demikian, material saja tidak cukup. Sportswear juga perlu memiliki sirkulasi udara yang baik serta cutting yang memungkinkan anak bergerak dengan leluasa.

Ukuran juga perlu menjadi perhatian. Anak memang tumbuh dengan cepat sehingga orangtua mungkin tergoda membeli pakaian yang sedikit lebih besar agar dapat digunakan lebih lama. Namun, pertimbangan tersebut tidak selalu berlaku untuk sportswear. Pakaian yang terlalu besar dapat memengaruhi fungsi dan kenyamanan saat digunakan berolahraga.

Pada swimsuit, misalnya, ukuran yang terlalu longgar dapat membuat coverage kurang optimal. Begitu pula pada pakaian yang memiliki fungsi support, ukuran yang tidak sesuai dapat mengurangi manfaatnya. Karena itu, sportswear idealnya memiliki ukuran yang pas, tetapi tetap memberikan ruang bagi anak untuk bergerak bebas.

Sportswear anak tak sekadar soal tampilan

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bohopanna ketika mengembangkan lini sportswear anak. Setelah sekitar satu setengah tahun mengembangkan kategori tersebut, brand fashion anak di bawah naungan Hypefast itu menghadirkan koleksi olahraga untuk berbagai aktivitas.

Koleksinya mencakup kebutuhan untuk swimming, football, basketball, racket sports, tennis, hingga padel. Co-Founder Bohopanna, Devy Natalia, mengatakan pengembangan koleksi tersebut salah satunya didorong oleh semakin aktifnya anak mengikuti berbagai kegiatan olahraga.

“Kami melihat anak-anak semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan olahraga. Karena itu, kami ingin menghadirkan sportswear yang nyaman, fungsional, dan bisa mendukung anak bergerak lebih bebas dalam berbagai aktivitas,” kata dia.

Perhatian terhadap detail menjadi penting karena setiap olahraga memiliki kebutuhan gerak yang berbeda. Posisi karet pada pakaian, material yang bersentuhan langsung dengan kulit, hingga cutting pada bagian bahu dan ketiak dapat memengaruhi kenyamanan anak saat bergerak.

Pada racket sports, misalnya, kebutuhan tidak berhenti pada tampilan rok yang terlihat sporty. Pakaian juga dapat dilengkapi shorts di bagian dalam serta detail untuk menyimpan bola yang menyesuaikan aktivitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa sportswear anak membutuhkan pertimbangan yang berbeda dari pakaian sehari-hari.

Sportswear Collection dari Bohopanna ditujukan untuk anak usia 1-14 tahun dengan sejumlah pilihan, seperti sport bra, sporty jacket, sport tee, jersey, legging, skort, dan pants. Salah satu produk yang dikembangkan khusus untuk kebutuhan anak adalah sport bra untuk usia 4-14 tahun. Desainnya mempertimbangkan kebutuhan support dan coverage sesuai perkembangan anak yang mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan olahraga.

Sejumlah produk juga dilengkapi teknologi perlindungan UV. Sementara material genuine dry-fit digunakan untuk membantu menjaga kenyamanan ketika anak berkeringat saat beraktivitas. Co-Founder Bohopanna, Irene Kristy, mengatakan material dan cutting menjadi bagian penting dalam pengembangan sportswear anak.

“Anak bergerak sangat aktif saat berolahraga, sehingga material sportswear menjadi hal yang penting. Dengan dry-fit dan cutting yang sesuai, kami ingin memastikan anak tetap nyaman saat berkeringat dan dapat bergerak dengan lebih leluasa,” jelasnya.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260907224302-277-1401225/kurangi-screen-time-anak-dengan-olahraga-yang-menyenangkan

Waktu terbaik minum teh hijau untuk meningkatkan fokus

Waktu terbaik minum teh hijau untuk meningkatkan fokus

Jakarta (ANTARA) – Setiap cangkir teh hijau mengandung sekitar 35 miligram kafein, antioksidan dan asam amino yang disebut L-theanine yang sangat baik untuk meningkatkan fokus.

Menurut siaran Eating Well pada Kamis (3/9) waktu setempat, L-theanine adalah asam amino yang ditemukan dalam teh hijau. Ini membantu menetralisir efek stimulan kafein untuk memberikan ketajaman mental yang lebih tenang dan tidak terlalu gelisah. Seperti kafein pada umumnya, dibutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai puncaknya di dalam tubuh.

Terkait dengan teh hijau, sebagian orang mengonsumsinya pada akhir pagi atau pertengahan siang hari untuk mencegah fokus menurun.

“Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa dibutuhkan sekitar satu jam untuk mencapai tingkat penyerapan kafein dan antioksidan puncak dalam teh hijau,” kata ahli diet terdaftar sekaligus ahli herbal Jenna Volpe, RDN, LD, IFNCP, CLT.

Namun, menurut ahli diet terdaftar Jennifer Pallian, B.Sc., RD, sebenarnya belum ada bukti bahwa teh hijau memiliki satu waktu terbaik universal dalam sehari untuk diminum agar fokus lebih baik,

Meski demikian, keduanya merekomendasikan minum teh hijau di pertengahan pagi atau di awal siang hari.

Bagi orang-orang yang gemar meminum matcha, manfaatnya mungkin akan lebih cepat dirasakan dibandingkan saat mengonsumsi teh hijau karena daunnya telah digiling menjadi bubuk.

Menurut Volpe, teh hijau yang telah menjadi bubuk akan lebih meningkatkan potensi dan penyerapan kafein, L-theanine, dan katekin.

Ahli gizi Priscilla Swahn, M.S., RD menyampaikan lebih baik meminum teh hijau di sore hari supaya tidak mengganggu kualitas tidur kita.

“Kafein dapat tetap berada di dalam tubuh selama berjam-jam, jadi mengandalkan teh hijau di sore hari untuk mengatasi penurunan energi pada akhirnya dapat merugikan anda jika mempengaruhi kualitas tidur,” tambah Swahn.

Dia menyampaikan efeknya pada setiap orang berbeda, dan beberapa orang lebih sensitif terhadap kafein, jadi kita mungkin perlu bereksperimen dengan waktu terbaik untuk tubuh Anda.

Swahn kemudian menyampaikan apabila meminum teh hijau di pagi hari menjadi waktu yang tepat karena memungkinkan kita untuk sarapan terlebih dahulu daripada mengganti makan dengan teh. Meskipun kafein, L-theanine, dan antioksidannya dapat membantu meningkatkan fokus, teh hijau tidak dapat menggantikan bahan bakar yang didapatkan otak dan tubuh dari makanan.

“Menggabungkan teh pagi Anda dengan makanan seimbang yang mengandung protein, karbohidrat kaya serat, dan lemak sehat dapat membantu mendukung energi dan konsentrasi yang lebih stabil sepanjang pagi,” kata Swahn.

Sedangkan Pallian menilai teh hijau hanyalah satu bagian dari gambaran keseluruhan dalam hal tetap fokus sepanjang hari. Cara lain untuk menjaga fokus adalah dengan beristirahat sejenak untuk memulihkan energi dan fokus.

Bawalah botol air isi ulang dan minumlah sedikit demi sedikit sepanjang hari. Ini bisa membantu jika menenangkan diri untuk memikirkan hal apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Berikutnya jangan melewatkan waktu makan. Tanpa makanan yang cukup, kita tidak akan memiliki cukup energi.

“Lonjakan dan penurunan gula darah dapat merugikan fokus dan fungsi kognitif. Untuk energi yang stabil, makanlah tiga kali makan seimbang, ditambah camilan sesuai kebutuhan,” ujar Volpe.

Berolahragalah secara teratur seperti latihan aerobik, latihan beban, dan latihan gabungan pun sangat membantu fungsi kognitif.

Bahkan jalan kaki singkat pun dapat menjadi penyegaran yang bermanfaat ketika konsentrasi mulai memudar,” kata Swahn.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5725651/waktu-terbaik-minum-teh-hijau-untuk-meningkatkan-fokus

Penggunaan celana dalam ketat dapat pengaruhi kesuburan pria

Penggunaan celana dalam ketat dapat pengaruhi kesuburan pria

Jakarta (ANTARA) – Sebuah studi baru yang diterbitkan pada bulan Juli di Jurnal Medis Chulalongkorn menemukan bahwa penggunaan celana dalam yang terlalu ketat dapat mempengaruhi kesuburan pria.

Para peneliti di Fakultas Kedokteran, Universitas Chulalongkorn merekrut pria Thailand berusia 20 hingga 55 tahun yang mencari perawatan infertilitas di Unit Biologi Reproduksi Rumah Sakit Memorial Raja Chulalongkorn antara Maret dan Juni 2024.

Menurut siaran Medical Daily pada Selasa (1/9), masing-masing mengisi kuesioner yang mencakup demografi, riwayat medis, dan jenis celana dalam, dan memberikan satu sampel air mani yang dianalisis berdasarkan edisi keenam manual laboratorium WHO.

Di antara 116 peserta yang memenuhi syarat, 93,1 persen mengenakan celana dalam ketat di siang hari, sementara 74,1 persen beralih ke celana boxer atau tidak mengenakan apa pun di malam hari.

Hasilnya, didapati ada dua temuan yang dinyatakan bahwa pria yang mengenakan celana dalam longgar baik siang maupun malam memiliki volume air mani yang lebih tinggi dengan rata-rata 1,2 mililiter.

Kemudian, pria yang mengenakan celana dalam ketat baik siang maupun malam memiliki persentase sperma berbentuk normal yang lebih tinggi, rata-rata setengah poin persentase.

Para peneliti menarik kesimpulan bahwa pilihan gaya hidup seperti pakaian dalam dapat mempengaruhi volume air mani dan morfologi sperma.

Sebelumnya, sebuah surat di Lancet tiga dekade lalu meneliti pakaian dalam ketat dan kualitas sperma. Analisis yang lebih besar terhadap pria yang mengunjungi pusat kesuburan menemukan bahwa mereka yang sebagian besar mengenakan celana boxer memiliki konsentrasi sperma dan jumlah total yang lebih tinggi daripada pria yang mengenakan gaya yang lebih ketat.

Sebuah kohort prakonsepsi berbasis populasi yang meneliti pilihan pakaian dalam dan kesuburan pria mencapai kesimpulan yang lebih lunak, dan satu ulasan secara langsung mempertanyakan apakah celana boxer benar-benar lebih baik.

Ada mekanisme yang masuk akal di balik perdebatan ini. Testis berada di luar tubuh karena produksi sperma sensitif terhadap suhu, dan studi yang mengukur suhu skrotum secara langsung telah menunjukkan bahwa jenis pakaian dalam yang dikenakan mengubahnya.

Apakah perbedaan suhu tersebut cukup besar atau cukup berkelanjutan untuk memengaruhi hasil kesuburan belum pernah diselesaikan, dan postur serta pakaian juga mempengaruhi suhu skrotum.

Penting juga untuk memperjelas apa arti sebenarnya dari kedua ukuran ini. Volume semen adalah jumlah cairan yang diproduksi, sebagian besar berasal dari vesikula seminalis dan prostat daripada testis, dan dipengaruhi oleh hidrasi dan berapa lama waktu telah berlalu sejak ejakulasi terakhir.

Sementara morfologi adalah proporsi sperma dengan bentuk normal, dinilai berdasarkan kriteria ketat di bawah mikroskop, dan bervariasi antar laboratorium. Baik angka tersebut maupun morfologi tidak menentukan sendiri apakah seorang pria dapat memiliki anak.

Studi ini memang mencakup fragmentasi DNA sperma, ukuran kualitas sperma yang lebih modern yang semakin banyak digunakan di klinik kesuburan. Kesesuaian pakaian dalam tidak dikaitkan dengan hal tersebut.

Adapun penyebab sebenarnya yang mempengaruhi kesuburan pria adalah pakaian dalam merupakan variabel kecil dibandingkan dengan hal-hal yang paling banyak diperhatikan oleh spesialis kesuburan.

Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, obat-obatan tertentu, infeksi, varikokel, dan usia semuanya memiliki hubungan yang jauh lebih mapan dengan kualitas semen.

Bagi pihak yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kesuburannya dapat melakukan analisis sperma dan konsultasi dengan ahli urologi atau spesialis reproduksi daripada hanya mengganti pakaian dalamnya.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5725663/penggunaan-celana-dalam-ketat-dapat-pengaruhi-kesuburan-pria

Ngeri! Studi Temukan 96% Tuna Terinfeksi Cacing Parasit

Ngeri! Studi Temukan 96% Tuna Terinfeksi Cacing Parasit

Jakarta – Sebuah studi di Brasil menemukan fakta mengejutkan tentang ikan tuna. Sebanyak 96% tuna skipjack yang diperiksa peneliti diketahui terinfeksi cacing parasit, termasuk pada jaringan otot atau daging yang biasa dikonsumsi manusia.

Penelitian yang dilakukan tim dari Federal University of Santa Catarina, Brasil, tersebut memeriksa 53 ekor tuna skipjack (Katsuwonus pelamis). Dari seluruh sampel, peneliti menemukan lebih dari 1.600 cacing parasit.

Hasil penelitian dipublikasikan sebagai brief communication di jurnal Ocean and Coastal Research. Perlu dicatat, angka 96% tersebut hanya menggambarkan sampel dalam studi dan bukan berarti 96% tuna di Brasil atau dunia terinfeksi parasit.

Tuna skipjack merupakan spesies yang banyak dikonsumsi manusia. Ikan yang juga dikenal sebagai oceanic bonito atau katsuo ini antara lain digunakan untuk produk tuna kalengan dan hidangan berbahan ikan mentah.

Cacing Parasit Ditemukan di Daging Tuna

Dengan bantuan mikroskop, peneliti memeriksa sejumlah organ tuna. Hasilnya, ginjal dan jantung menjadi satu-satunya organ yang selalu bebas parasit pada seluruh sampel.

Usus mencatat tingkat infeksi tertinggi, kemudian jaringan otot atau daging yang biasa dikonsumsi manusia, disusul lambung. Dua kelompok cacing yang dominan diidentifikasi sebagai Trypanorhyncha dan Anisakis.

“Temuan ini menegaskan pentingnya inspeksi kesehatan dan eviserasi segera untuk mencegah larva berpindah dari organ dalam ke daging ikan,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Skipjack termasuk komoditas perikanan penting. Secara global, spesies ini menjadi spesies laut ketiga yang paling banyak ditangkap pada 2022, dengan total tangkapan sekitar 3,1 juta ton.

Meski hasilnya mencolok, penelitian ini memiliki keterbatasan. Sampelnya hanya 53 ikan dan dikumpulkan pada satu titik waktu, sehingga hasil tersebut belum bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi tuna secara global.

Apakah Tuna yang Terinfeksi Cacing Aman Dimakan?

Keberadaan cacing parasit tidak otomatis membuat semua tuna berbahaya untuk dikonsumsi. Pengolahan dan pemasakan yang tepat dapat membunuh sebagian besar parasit.

Risiko lebih perlu diperhatikan ketika ikan dikonsumsi mentah atau tidak dimasak dengan benar. Parasit tertentu, termasuk beberapa jenis Anisakis, dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada manusia seperti sakit perut, mual, muntah, dan diare.

Industri makanan laut dan chef sushi umumnya juga melakukan pemeriksaan serta membuang parasit yang terlihat sebelum ikan disajikan. Namun parasit berukuran sangat kecil masih berpotensi lolos dari pemeriksaan visual.

Menariknya, keberadaan parasit pada ikan tidak selalu dianggap sebagai pertanda buruk bagi ekosistem.

Chelsea Wood, ahli parasitologi dari University of Washington yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, sebelumnya menemukan jumlah cacing Anisakis pada makanan laut mentah meningkat drastis sejak era 1970-an.

Siklus hidup cacing anisakid melibatkan berbagai organisme dalam rantai makanan laut, termasuk mamalia laut. Karena itu, peningkatan jumlah parasit diduga antara lain berkaitan dengan pulihnya populasi sejumlah mamalia laut berkat program konservasi.

Dengan kata lain, cacing pada ikan bisa menjadi salah satu indikator berlangsungnya rantai makanan laut yang kompleks dan sehat. Namun dari sisi keamanan pangan, penanganan dan pengolahan ikan dengan benar tetap penting untuk mengurangi risiko parasit sampai ke konsumen, demikian dilansir dari Science Alert.

Sumber : https://inet.detik.com/science/d-8647801/ngeri-studi-temukan-96-tuna-terinfeksi-cacing-parasit

Sering Makan Larut Malam? Begini Dampak Buruknya pada Tubuh

Sering Makan Larut Malam? Begini Dampak Buruknya pada Tubuh

Jakarta, CNN Indonesia — Beberapa orang mungkin sulit menghindari kebiasaan makan larut malam, terutama setelah seharian sibuk beraktivitas.

Masalahnya, jika makan malam terlalu larut dilakukan hampir setiap hari atau terlalu dekat dengan waktu tidur dapat membawa dampak buruk buat tubuh.

Menurut ahli diet, waktu makan malam umumnya dianjurkan sekitar pukul 17.00-19.00 atau setidaknya tiga jam sebelum tidur.

Apabila waktu makan terlalu dekat dengan jam tidur, tubuh akan tetap bekerja ketika seharusnya mulai beristirahat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi sejumlah fungsi tubuh dan, dalam jangka panjang, berdampak pada kesehatan.

Lantas, apa yang terjadi pada tubuh jika sering makan larut malam?

1. Mengganggu fungsi pencernaan

Dikutip dari laman Realsimple, fungsi metabolisme dan pencernaan tubuh mulai menurun menjelang malam hari. Hal ini berkaitan dengan ritme sirkadian atau jam internal tubuh yang turut mengatur berbagai fungsi tersebut.

Akibatnya, pergerakan saluran pencernaan menjadi lebih lambat sehingga makan terlalu larut misalnya pada tengah malam, terutama dalam porsi besar, dapat meningkatkan risiko kembung, refluks asam, kram, hingga perubahan buang air besar.

“Selain itu, berbaring segera setelah makan dapat membuat refluks asam atau heartburn lebih mungkin terjadi, karena asam lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan,” ujar ahli diet Marissa Karp.

Karena itu, tetap berada dalam posisi tegak setelah makan dapat membantu makanan bergerak ke arah yang semestinya.

2. Cenderung memilih makanan kurang sehat

Karp menambahkan, sering kali makan larut membuat seseorang kurang selektif dalam memilih makanan.

Misalnya, seseorang tidak cukup makan pada hari itu sehingga sangat lapar pada malam hari, atau makan karena stres dan bosan, bukan karena benar-benar lapar.

Dengan begitu, mereka akan cenderung makan lebih banyak atau memilih yang cepat dan praktis, misalnya makanan instan, cepat saji, atau olahan.

“Seiring waktu, pola-pola ini dapat membuat seseorang lebih mudah mengonsumsi kalori melebihi kebutuhan tubuh yang dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko kondisi kesehatan kronis,” imbuh Karp.

3. Menurunkan kualitas tidur

Makan malam terlalu larut membuat tubuh tetap bekerja mencerna makanan ketika seharusnya mulai beristirahat.

Ahli gizi lainnya, Nadja Abada mengatakan kadar gula darah dapat meningkat secara bertahap setelah makan larut malam, sementara sistem pencernaan tetap aktif.

Makan dalam porsi besar menjelang tidur juga dapat membuat seseorang lebih sulit terlelap. Keluhan seperti heartburn, refluks, dan kembung saat berbaring dapat semakin mengganggu tidur.

“Ditambah lagi, jika Anda mengalami ketidaknyamanan pencernaan seperti heartburn, refluks, atau kembung ketika berbaring, hal itu tentu dapat mengganggu tidur,” kata Karp.

Jika memang lapar sebelum tidur, ahli menyarankan makanan ringan dan mudah dicerna, seperti yoghurt dengan buah, keju dengan biskuit gandum utuh, atau roti gandum dengan selai kacang, ketimbang snack olahan, minuman atau kue-kue manis.

 

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260831153137-255-1398346/sering-makan-larut-malam-begini-dampak-buruknya-pada-tubuh

Dokter Gizi Ungkap Risiko Kebiasaan Makan Nasi ‘Segunung’

Dokter Gizi Ungkap Risiko Kebiasaan Makan Nasi ‘Segunung’

Jakarta – Video anak sekolah yang makan di warung makan menarik perhatian di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat sepiring nasi dengan porsi yang cukup besar hingga tampak menggunung.

Porsi nasi seperti itu memang terlihat mengenyangkan, terlebih setelah menjalani aktivitas sekolah sejak pagi. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan ketika porsi nasi dalam jumlah besar menjadi kebiasaan makan sehari-hari.

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan konsumsi nasi dalam jumlah besar berarti tubuh mendapatkan karbohidrat dalam jumlah tinggi dalam satu waktu.

“Kalau sebanyak ini, kalau jadi kebiasaan, bisa jadi masalah. Meskipun sekarang orangnya ngerasa sehat-sehat aja,” ujar dr Yaze.

Lonjakan Gula Darah Terus-menerus Tingkatkan Risiko Resistensi Insulin

Nasi merupakan salah satu sumber karbohidrat yang umum dikonsumsi sehari-hari. Setelah dikonsumsi, karbohidrat akan dicerna dan menghasilkan glukosa yang kemudian digunakan tubuh sebagai sumber energi.

Ketika nasi dikonsumsi dalam jumlah sangat banyak dalam satu waktu, jumlah karbohidrat yang masuk ke tubuh juga menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat kadar gula darah meningkat tinggi setelah makan.

“Karbohidrat dalam jumlah besar bisa meningkatkan gula darah cukup tinggi setelah makan,” jelas dr Yaze.

Menurut dr Yaze, kebiasaan mengonsumsi nasi dalam jumlah besar dapat menjadi masalah ketika dilakukan terus-menerus. Pola tersebut dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, prediabetes hingga diabetes.

Resistensi insulin berkaitan dengan menurunnya respons tubuh terhadap insulin dalam mengatur kadar gula darah normal.

“Kalau berlangsung terus-menerus, bisa meningkatkan resiko resistensi insulin, prediabetes, sampai diabetes,” kata dr Yaze.

Awalnya Bisa Tanpa Gejala

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi tersebut pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas. Tubuh dapat tetap terasa sehat meskipun sudah terdapat gangguan dalam pengaturan kadar gula darah.

Ketika gejala mulai muncul, beberapa keluhan yang dapat dirasakan antara lain:

  • Sering haus
  • Sering buang air kecil
  • Sering lapar
  • Mudah lelah

Karena itu, tidak adanya keluhan pada tubuh setelah terbiasa makan nasi dalam jumlah besar bukan berarti pola makan tersebut sudah pasti aman untuk dilakukan terus-menerus.

Nasi Tetap Boleh Dikonsumsi

dr Yaze menegaskan nasi tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Perhatian utamanya terletak pada jumlah yang dikonsumsi dan kesesuaiannya dengan kebutuhan tubuh.

“Jadi, nasi bukan berarti nggak boleh, tapi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh kita,” ujar dr Yaze.

Porsi makan juga perlu dibuat lebih seimbang dengan keberadaan lauk sebagai sumber protein serta sayuran dan buah. Ikuti Pedoman Gizi Seimbang yaitu panduan Isi Piringku untuk mengetahui dengan mudah porsi masing-masing makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dalam satu hari. Dengan begitu, satu kali makan tidak didominasi oleh nasi dalam jumlah yang terlalu besar.

Bagi anak sekolah, kebutuhan energi memang penting untuk menunjang aktivitas dan proses pertumbuhan. Porsi nasi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi, usia, aktivitas fisik dan keseluruhan pola makan dalam sehari.

Nasi pun tidak perlu dihindari hanya karena khawatir terhadap gula darah. Yang perlu diperhatikan adalah jumlahnya agar tetap sesuai dengan kebutuhan tubuh dan tidak menjadi kebiasaan mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan dalam satu waktu.

Sumber : https://health.detik.com/diet/d-8646509/dokter-gizi-ungkap-risiko-kebiasaan-makan-nasi-segunung

Kenapa Suka Pusing atau Berkunang-kunang Saat Berdiri?

Kenapa Suka Pusing atau Berkunang-kunang Saat Berdiri?

Jakarta, CNN Indonesia — Pernah merasa kepala tiba-tiba ringan, pandangan berkunang-kunang, atau seperti mau jatuh ketika bangkit dari duduk? Sebagian orang merasakan sensasi ini. Simak penjelasannya.

Sensasi pusing atau berkunang-kunang biasanya hanya berlangsung beberapa detik sebelum tubuh kembali terasa normal.

Meski sering dianggap sepele, kondisi tersebut sebenarnya berkaitan dengan cara tubuh menyesuaikan diri ketika posisi berubah. Dalam istilah medis, salah satu penyebabnya adalah orthostatic hypotension atau hipotensi ortostatik.

Melansir studi dari Academy of Family Physicians, saat seseorang berdiri, gravitasi membuat sekitar 500 hingga 1.000 mililiter darah berkumpul sementara di tungkai dan area perut.

Akibatnya, darah yang kembali ke jantung berkurang. Tubuh kemudian seharusnya merespons dengan mempercepat denyut jantung dan menyempitkan pembuluh darah agar tekanan darah tetap terjaga.

Jika respons tersebut tidak cukup cepat atau tidak cukup kuat, maka aliran darah ke otak dapat berkurang sementara. Inilah yang dapat membuat seseorang merasa pusing, pandangan kabur atau menghitam, lemas, bahkan hampir pingsan.

Gejalanya dapat berupa kepala terasa ringan, pandangan terganggu, jantung berdebar, sesak, nyeri dada, hingga pingsan. Mengutip The Lancet Neurology, bentuk dan waktu munculnya gejala dapat berbeda-beda. Ada yang muncul segera setelah berdiri, ada pula yang baru terasa beberapa menit kemudian.

Kenapa tekanan darah bisa turun saat berdiri?

Ada beberapa kondisi yang dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan tekanan darah ketika berpindah posisi.

1. Berdiri terlalu cepat

Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perubahan posisi. Ketika seseorang langsung bangkit dari duduk atau berbaring, perubahan tekanan darah dapat terjadi sangat cepat sebelum mekanisme kompensasi tubuh bekerja optimal.

2. Kurang cairan

Dehidrasi merupakan salah satu penyebab yang cukup umum. Ketika tubuh kekurangan cairan, volume darah ikut berkurang sehingga tubuh lebih sulit mempertahankan tekanan darah saat berdiri.

Kondisi ini bisa terjadi setelah banyak berkeringat, muntah, diare, atau sekadar kurang minum.

3. Anemia atau kekurangan darah

Jumlah sel darah merah yang rendah, termasuk akibat anemia, dapat membuat tubuh lebih sulit memasok oksigen ke jaringan. Kekurangan darah juga dapat mengurangi volume darah sehingga gejala lebih mudah muncul ketika berdiri.

Oleh karena itu, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah jika keluhan terus berulang untuk mencari kemungkinan anemia atau penyebab lain.

4. Efek obat tertentu

Menukil jurnal JAMA Internal Medicine, sejumlah obat dapat menurunkan tekanan darah atau mengganggu respons tubuh terhadap perubahan posisi. Di antaranya beberapa obat hipertensi, diuretik, obat pelebar pembuluh darah, dan jenis obat tertentu untuk kondisi lain.

Jika keluhan muncul setelah mulai mengonsumsi obat tertentu, jangan langsung menghentikannya sendiri. Konsultasikan dengan dokter untuk melihat apakah obat tersebut berperan.

5. Diabetes

Diabetes juga dapat berkaitan dengan hipotensi ortostatik. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf yang mengatur fungsi otomatis tubuh, termasuk respons terhadap perubahan posisi. Akibatnya, pembuluh darah tidak selalu dapat menyempit dengan optimal ketika seseorang berdiri.

6. Gangguan jantung

Masalah seperti gangguan irama jantung atau kondisi yang membuat kemampuan jantung memompa darah terganggu juga dapat menyebabkan atau memperburuk keluhan saat berdiri.

7. Gangguan sistem saraf

Pada sebagian orang, masalahnya bukan sekadar kurang minum atau berdiri terlalu cepat. Sistem saraf otonom yang mengatur tekanan darah dan denyut jantung dapat mengalami gangguan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sejumlah penyakit saraf, termasuk penyakit Parkinson dan beberapa bentuk neuropati.

Sesekali merasa sedikit berkunang-kunang setelah berdiri cepat bisa saja terjadi. Namun, jika keluhan sering berulang, semakin berat, menyebabkan jatuh atau pingsan, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, maka sebaiknya diperiksakan.

Dokter dapat mengevaluasi tekanan darah dan denyut jantung dalam posisi berbaring maupun berdiri, kemudian mencari kemungkinan penyebab seperti dehidrasi, anemia, efek obat, diabetes, gangguan jantung, atau masalah sistem saraf.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260902152726-255-1399223/kenapa-suka-pusing-atau-berkunang-kunang-saat-berdiri