12 Cara Mengatasi Anak Takut Gelap saat Tidur, Hindari Kesalahan Ini

12 Cara Mengatasi Anak Takut Gelap saat Tidur, Hindari Kesalahan Ini

Liputan6.com, Jakarta – Waktu tidur di malam hari bisa menjadi momen yang menegangkan bagi anak takut gelap. Tidak sedikit anak yang membangunkan orang tuanya agar bisa tidur bersama. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kualitas tidur anak tapi juga membuat waktu istirahat orang tua ikut terganggu.

Jika Anda sedang mencari cara mengatasi anak yang takut gelap, tidak perlu khawatir. Kondisi ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak.

Menurut psikolog klinis anak dan remaja di Children’s Hospital Colorado, Benjamin Mullin, PhD, anak yang takut gelap saat tidur merupakan kondisi yang umum terjadi. Rasa takut ini biasanya muncul menjelang waktu tidur dan dapat berlangsung hingga anak berumur sekitar 12 tahun.

“Ketika Anda menunjukkan kepercayaan pada kemampuan anak untuk mengatasi rasa takut, mereka pun akan mulai mempercayainya,” kata Benjamin.

Penyebab Anak Takut Gelap

Anak takut gelap, atau yang dikenal sebagai nyctophobia, merupakan salah satu ketakutan yang paling sering dialami anak. Benjamin, menjelaskan, ada beberapa penyebab anak takut gelap, yaitu:

  • Anak banyak menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya.
  • Tayangan televisi, film, internet, maupun berita sering menampilkan kejadian menyeramkan di tempat gelap.
  • Imajinasi anak membuat rasa takut menjadi semakin besar.
  • Anak dapat meniru ketakutan orang lain terhadap gelap.
  • Rasa takut dapat semakin kuat ketika anak sedang mengalami stres, misalnya setelah pindah rumah atau mulai bersekolah di tempat baru.

“Ketika Anda bertanya kepada anak-anak apa yang menakutkan tentang kegelapan, mereka sering menunjuk pada hal-hal yang mereka lihat di TV, internet, atau bahkan berita,” ujar Benjamin.

Dia menambahkan bahwa berbagai adegan menyeramkan tersebut sering melekat dalam ingatan anak dan muncul kembali saat menjelang tidur.

Cara Mengatasi Anak yang Takut Gelap

Jika anak takut gelap, orang tua tidak perlu langsung membiarkannya tidur bersama. Ada beberapa cara mengatasi anak yang takut gelap yang disarankan.

1. Gunakan Imajinasi untuk Mengurangi Rasa Takut

Salah satu cara mengatasi anak yang takut gelap adalah memanfaatkan imajinasi sebagai alat untuk membangun keberanian.

Benjamin menjelaskan bahwa imajinasi tidak hanya dapat memperbesar rasa takut, tetapi juga membantu anak merasa lebih percaya diri dan mampu mengendalikan ketakutannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

Membuat surat atau kontrak ‘anti-monster’

Ajak anak membuat aturan lucu untuk monster imajinernya, misalnya monster hanya boleh datang pada hari tertentu dan harus diam di bawah tempat tidur.

Membuat suasana gelap menjadi menyenangkan

Perkenalkan aktivitas atau buku yang membantu anak mengasosiasikan kegelapan dengan pengalaman positif.

Melatih paparan secara bertahap

Ajak anak berada di ruangan gelap selama sekitar 30 detik pada siang hari, lalu beri pujian atas keberaniannya. Cara ini membantu membangun rasa percaya diri sedikit demi sedikit.

2. Validasi Perasaan Anak

Cara mengatasi anak yang takut gelap berikutnya adalah mengakui perasaan anak tanpa menghakimi.

Saat anak mengatakan dirinya takut, jangan langsung menyangkal atau menganggap remeh ketakutannya. Sebaliknya, tunjukkan bahwa Anda memahami perasaannya sekaligus yakin ia mampu mengatasinya.

3. Jangan Langsung Mengajak Anak Tidur Bersama

Meski terasa lebih mudah, membiarkan anak takut gelap tidur bersama orang tua setiap kali merasa takut justru dapat memperkuat rasa takut tersebut dalam jangka panjang.

Jika anak terbangun di malam hari, dampingi dengan tenang, yakinkan bahwa dia aman, lalu arahkan kembali ke tempat tidurnya.

Menurut Benjamin Mullin, sikap orang tua yang tenang dan penuh keyakinan akan membantu anak percaya bahwa ia mampu mengatasi ketakutannya sendiri.

Tips Lain Mengatasi Anak Takut Gelap

Selain langkah di atas, cara mengatasi anak yang takut gelap menurut Cincinnati Children’s meliputi:

1. Pahami Penyebab Ketakutan Anak

Berikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan apa yang membuatnya takut sebelum tidur. Namun, jangan memaksanya jika belum siap.

Perlu diingat bahwa anak yang lebih kecil sering kali belum mampu membedakan antara kenyataan dan khayalan. Oleh sebab itu, jangan pernah mengabaikan atau menertawakan ketakutannya.

2. Jangan Memperkuat Ketakutan

Setelah mengetahui penyebabnya, hindari tindakan yang justru membuat anak semakin yakin bahwa ketakutannya nyata.

Misalnya, jika anak takut monster, jangan berpura-pura mengusir monster menggunakan semprotan atau sapu. Meski bertujuan menghibur, tindakan tersebut dapat membuat anak berpikir bahwa monster benar-benar ada.

3. Berikan Benda yang Membuat Anak Merasa Aman

Boneka, selimut favorit, atau mainan kesayangan dapat membantu anak merasa lebih rileks dan nyaman saat tidur.

4. Gunakan Lampu Tidur Bila Diperlukan

Lampu tidur dengan cahaya redup dapat memberikan rasa aman selama tidak mengganggu kualitas tidur anak. Membiarkan pintu kamar sedikit terbuka juga bisa membantu mengurangi kecemasan saat berpisah dari orang tua.

5. Batasi Tontonan yang Menyeramkan

Hindari film, video, acara televisi, atau buku cerita yang mengandung unsur horor karena dapat memperparah anak takut gelap, terutama menjelang waktu tidur.

6. Bangun Rasa Percaya Diri Anak di Siang Hari

Pengalaman positif dan keberhasilan anak saat beraktivitas di siang hari dapat meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga ia merasa lebih aman ketika malam tiba.

7. Yakinkan Anak Tanpa Membiarkannya Keluar Kamar

Jika anak menangis setelah ditidurkan, datangi dan yakinkan bahwa dia aman. Usahakan anak tetap berada di tempat tidurnya agar ia belajar bahwa kamarnya adalah tempat yang aman.

8. Dampingi Bila Anak Sangat Ketakutan

Jika anak benar-benar tidak sanggup tidur sendiri, orang tua boleh sesekali menemani di samping tempat tidur hingga ia tertidur. Namun, jangan menjadikannya kebiasaan karena anak bisa bergantung pada kehadiran orang tua.

Bila perlu, beri tahu anak bahwa Anda akan memeriksanya secara berkala, misalnya setelah 5 menit, kemudian 10, 15, hingga 20 menit.

9. Jika Anak Terbangun di Malam Hari

Saat anak terbangun karena takut, yakinkan secara singkat bahwa dia aman, lalu antar kembali ke tempat tidurnya. Hindari membiarkannya tidur di kamar orang tua agar ia tetap belajar bahwa kamarnya merupakan tempat yang aman dan nyaman.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/psikologi/read/8255267/12-cara-mengatasi-anak-takut-gelap-saat-tidur-hindari-kesalahan-ini

Dokter Ungkap Jenis Obat yang Berisiko Memicu Batu Ginjal

Dokter Ungkap Jenis Obat yang Berisiko Memicu Batu Ginjal

Tak sedikit orang khawatir terlalu sering minum obat atau suplemen dapat memicu batu saluran kemih. Faktanya, tidak semua obat memiliki efek tersebut, tetapi ada beberapa jenis obat dan suplemen yang memang dapat meningkatkan risikonya jika digunakan dalam jangka panjang atau tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat.

Menurut Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U, tidak semua obat dapat menyebabkan batu ginjal alias batu saluran kemih.

Jenis Obat yang Berisiko Memicu Batu Saluran Kemih

Menurut dr. Teguh, beberapa jenis obat yang diketahui dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal antara lain obat imunosupresan, obat antivirus yang digunakan dalam jangka panjang, misalnya untuk terapi hepatitis atau HIV, serta obat antiepilepsi.

Selain itu, beberapa jenis multivitamin juga dapat berkontribusi terhadap pembentukan batu ginjal Namun, suplemen yang paling sering dikaitkan dengan kondisi ini adalah kalsium.

Minum Kalsium Harus Diimbangi dengan Bergerak

Selain itu, dr. Teguh pun menegaskan bahwa kalsium tetap penting untuk menjaga kesehatan tulang. Namun, konsumsi suplemen ini perlu diimbangi dengan aktivitas fisik agar penyerapannya ke tulang lebih optimal.

“Karena sebenarnya kalsium yang dibentuk tubuh itu dapat menghasilkan kalsium sendi dan kalsium kalau dikonsumsi dia akan diserap oleh tulang kalau dia bergerak,” ujarnya dalam acara Media Gathering Penangan Terkini Batu Saluran Kemih bersama RS Premier Bintaro di Jakarta Selatan, Rabu (22/7).

Menurutnya, jika seseorang rutin mengonsumsi kalsium tetapi jarang bergerak, kelebihan kalsium dapat dikeluarkan melalui urine dan pada orang yang memiliki faktor risiko dapat berpotensi membentuk batu ginjal.

Ia menambahkan, anjuran untuk berjalan kaki atau rutin berolahraga setelah mengonsumsi kalsium bukan sekadar slogan. Selain mengikuti dosis yang dianjurkan dokter, masyarakat juga perlu menjaga gaya hidup aktif agar manfaat kalsium dapat diperoleh secara optimal sekaligus membantu mengurangi risiko terbentuknya batu ginjal.

“Makanya ada beberapa iklan kalsium yang bilang kalau kalian minum kalsium harus bergerak 10.000 langkah. Itu benar. Jadi kalau dia tidak jalan, kalsiumnya nggak akan diserap oleh tulang. Cuma akan keluar di urine dan dibuang jadi batu Kalau dia ada potensi jadi batu,” tegas dr.Teguh.

Sumber : https://kumparan.com/kumparanmom/dokter-ungkap-jenis-obat-yang-berisiko-memicu-batu-ginjal-27qUOKgWN5T

7 Makanan yang Mengandung Zinc Tinggi

7 Makanan yang Mengandung Zinc Tinggi

Memasukkan makanan yang mengandung zinc dalam menu makanan sehari-hari merupakan cara agar kebutuhan zinc harian terpenuhi. Pilihannya pun terbilang beragam, mulai dari sumber nabati hingga hewani.

Zinc adalah mineral penting yang berperan meningkatkan imunitas, mempercepat penyembuhan luka, dan mengurangi peradangan. Suplementasi zinc juga digunakan dalam terapi diare pada anak.

Zinc tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga konsumsi makanan yang mengandung zinc perlu dilakukan agar kebutuhan harian nutrisi ini terpenuhi.

Pilihan Makanan yang Mengandung Zinc

Kebutuhan zinc berbeda-beda tergantung usia dan jenis kelamin. Perempuan dewasa memerlukan sekitar 8 mg per hari, sedangkan laki-laki dewasa sekitar 11 mg per hari. Kekurangan zinc dapat menyebabkan rambut rontok, perubahan mood lebih cepat, berkurangnya nafsu makan, dan diare.

Beberapa makanan kaya zinc yang bisa dikonsumsi antara lain:

1. Tiram

Tiram merupakan sumber makanan yang mengandung zinc. Dalam 1 buah tiram, terkandung 5,5 miligram zinc. Artinya, konsumsi 1 buah tiram sudah bisa memenuhi setengah kebutuhan zinc harian orang dewasa.

Selain zinc, tiram juga mengandung nutrisi lain, seperti vitamin B12 dan selenium yang juga bermanfaat dalam meningkatkan imunitas tubuh.

2. Daging sapi

Setiap 100 gram daging sapi mentah mengandung 6,4 mg zinc. Kandungan zinc yang tinggi ini membuat konsumsi daging sapi matang bisa membantu memenuhi kebutuhan zinc harian orang dewasa.

Meski tinggi akan kandungan zinc, Anda tetap harus membatasi konsumsi daging sapi. Pasalnya, terlalu banyak mengonsumsi daging merah dapat meningkatkan kadar kolesterol yang berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya penyakit jantung.

3. Kacang-kacangan

Untuk yang menerapkan pola makan vegan atau vegetarian, kebutuhan zinc harian dapat dipenuhi dengan mengonsumsi kacang-kacangan, seperti lentil, kacang hitam, edamame, dan buncis. Dalam 1 cangkir lentil contohnya, terkandung 2,5 miligram zinc.

Sementara kandungan zinc pada edamame, kacang hitam, dan buncis bisa mencapai 2 miligram. Selain memuat kandungan zinc, kacang-kacangan juga menjadi sumber makanan rendah lemak yang tinggi akan kandungan protein, vitamin, dan serat, sehingga membawa banyak manfaat untuk kesehatan.

4. Susu dan produk olahannya

Tak hanya tinggi akan kandungan kalsium, susu dan produk olahannya, seperti keju yoghurt, juga termasuk dalam makanan yang mengandung zinc tinggi. Dalam 1 cangkir susu rendah lemak, terkandung sekitar 1 miligram zinc. Sementara 1 cangkir yoghurt rendah lemak, memuat sekitar 2,2 miligram zinc.

Untuk meningkatkan kandungan zinc dari susu ataupun yogurt, Anda dapat menambahkan susu atau yoghurt ke dalam sereal, oats, atau biji-bijian lain seperti chia seed, Pasalnya, sereal, oats, dan chia seed juga mengandung zinc.

5. Cokelat hitam

Cokelat hitam termasuk salah satu makanan yang mengandung zinc. Semakin pekat cokelatnya, semakin tinggi kandungan zinc-nya. Dalam 100 gram cokelat hitam (70–85% kakao) terkandung 3,3 mg zinc, cukup untuk memenuhi sekitar 30% kebutuhan harian laki-laki dewasa dan 41% perempuan dewasa.

Meski begitu, perhatikan kadar cokelat yang dipilih, karena cokelat dengan kadar rendah mengandung zinc lebih sedikit.

6. Telur

Jumlah zinc yang terkandung dalam 1 butir telur memang tidak terlalu banyak, yaitu sekitar 1 miligram. Namun, Anda tetap dapat menjadikannya sebagai sumber makanan yang mengandung zinc.

Alasannya, walau zinc di dalam telur tidak sebanyak pada makanan lain, jenis makanan satu ini memuat nutrisi seperti protein, lemak sehat, vitamin B, selenium, dan kolin, yang baik untuk kesehatan.

7. Bayam

Bayam merupakan sumber protein nabati yang juga mengandung zinc. Jadi, Anda bisa memasukkan sayuran ini ke dalam menu makanan yang dikonsumsi guna membantu memenuhi kebutuhan zinc harian.

Selain zinc, bayam mengandung mineral penting lain yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagam macam fungsi tubuh, seperti menjaga kadar gula darah dan memelihara kesehatan jantung. Mineral yang terkandung dalam bayam di antaranya adalah magnesium, mangan, zat besi, fosfor, serta kalium.

Selain yang sudah disebutkan, Anda juga bisa mendapatkan zinc dari makanan lain, seperti daging domba, kepiting, udang, lobster, jamur, biji wijen, biji labu, kale, dan brokoli.

Namun, konsumsi zinc tetap perlu dibatasi, karena kelebihan zinc dapat menimbulkan mual, muntah, diare, kram perut, atau sakit kepala. Asupan zinc yang terlalu tinggi juga berisiko mengganggu penyerapan tembaga dan zat besi.

Sumber : https://www.alodokter.com/7-makanan-yang-mengandung-zinc-tinggi

Dokter Ungkap Jenis Olahraga Paling Efektif Atasi Kolesterol Tinggi

Dokter Ungkap Jenis Olahraga Paling Efektif Atasi Kolesterol Tinggi

Jakarta, Beritasatu.com – Olahraga diyakini sangat mampu mengatasi kolesterol tinggi. Hanya saja masih ada banyak pertanyaan olahraga jenis apa yang sebaiknya dilakukan untuk melawan kolesterol tinggi.

Dikutip Mens Health, Minggu (11/1/2026), berdasarkan studi ilmiah, kombinasi antara latihan aerobik (kardio) dan latihan beban (resistance training) terbukti paling optimal. Kedua jenis olahraga ini bekerja pada lemak darah dengan mekanisme yang berbeda, menghasilkan efek sinergi yang lebih baik daripada salah satunya.

Menurut Dr Neil Smart, Profesor Ilmu Olahraga dari University of New England Australia, jawabannya adalah kombinasi keduanya. Penelitiannya yang terbit di jurnal Sports Medicine menggarisbawahi pentingnya sinergi antara kardio dan latihan beban untuk mengelola profil lipid. Secara rata-rata, olahraga terbukti sangat bermanfaat dalam mengurangi kolesterol LDL (“kolesterol jahat”) dan trigliserida, serta menaikkan HDL (kolesterol baik).

Meskipun penurunan angka LDL mungkin terlihat kecil dibandingkan efek obat, Dr Smart menjelaskan satu keunggulan besar olahraga: kemampuannya untuk meningkatkan HDL. Peningkatan HDL ini sulit dicapai hanya dengan obat-obatan seperti statin. Hampir semua orang dengan kadar lipid berbahaya yang tinggi juga memiliki HDL yang rendah, dan menaikkan HDL adalah aspek penting dari solusi masalah kolesterol mereka yang memerlukan bantuan ekstra.

Latihan kardio atau aerobik, seperti berjalan kaki, berlari, berenang, dan bersepeda, memiliki dampak instan. Jenis olahraga ini tidak hanya mengurangi total kolesterol, tetapi juga mulai membakar trigliserida yang ada dalam aliran darah segera setelah Anda mulai beraktivitas. Kardio juga mengubah sifat LDL sehingga lebih mudah dibersihkan dari darah, mengurangi risiko penyumbatan pembuluh darah.

Latihan beban (resistance training) dapat menaikkan kadar HDL hampir sama efektifnya dengan latihan aerobik, dan kombinasi keduanya jauh lebih baik. Latihan beban dianggap membantu HDL memindahkan lipid yang menyumbat arteri ke hati untuk dibuang. Karena angkat beban adalah aktivitas membangun protein, masuk akal jika HDL, yang kaya protein, merespons dengan baik terhadapnya.

Untuk mendapatkan manfaat optimal dalam mengendalikan kolesterol, Anda perlu membakar sekitar 1.000 hingga 1.200 kalori melalui olahraga per minggu. Misalnya, berjalan kaki selama 50 menit sebanyak lima kali seminggu dengan kecepatan sedang dapat mencapai target ini. Konsistensi terbayar: peningkatan satu menit dalam sesi latihan mingguan dapat menaikkan HDL sebesar 2 mg/dL. Untuk latihan beban, lakukan dua hingga tiga kali per minggu, fokus pada kelompok otot besar.

Dr Sara K Rosenkranz menekankan bahwa efek olahraga pada LDL relatif kecil dibandingkan dengan perubahan pola makan dan obat-obatan. “Anda tidak bisa mengalahkan diet buruk dengan lari,” katanya.

Namun, menggabungkan olahraga dan perubahan diet dapat mengurangi LDL hingga 20 hingga 30 persen. Selain itu, olahraga juga meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan kronis, yang secara keseluruhan mengurangi risiko kerusakan arteri dari kolesterol tinggi.

sumber : https://www.beritasatu.com/lifestyle/2957192/dokter-ungkap-jenis-olahraga-paling-efektif-atasi-kolesterol-tinggi

Dokter: Orang Kurus Bukan Jaminan Bebas Kolesterol Tinggi

Dokter: Orang Kurus Bukan Jaminan Bebas Kolesterol Tinggi

Jakarta, Beritasatu.com – Tubuh kurus ternyata tidak menjadi jaminan terbebas dari risiko kolesterol tinggi maupun penyakit jantung dan pembuluh darah. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), dr Susetyo Atmojo, orang dengan tubuh kurus atau normal tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi.

Dokter Susetyo menuturkan, kondisi tersebut karena berat badan yang tergolong normal tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan kardiovaskular seseorang. Seseorang dapat terlihat kurus, tetapi tetap memiliki kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang tinggi.

Ia menilai anggapan masyarakat awam yang menilai penyakit jantung hanya menyerang orang dengan tubuh gemuk adalah hal keliru. Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan, orang bertubuh kurus juga dapat memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular yang signifikan.

“Jadi kurus itu bukan berarti aman, karena yang lebih menentukan adalah bagaimana profil faktor risiko seseorang, terutama kadar kolesterol LDL di dalam darah,” kata dr Susetyo, mengutip Antara, Sabtu (25/7/2026).

Bahkan, berdasarkan hasil studi populasi, hampir satu dari empat orang bertubuh kurus memiliki kumpulan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, bentuk tubuh bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan jantung seseorang.

Orang bertubuh kurus dengan kadar kolesterol LDL yang tinggi memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih besar mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan mereka yang memiliki kadar LDL normal.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain kelainan genetik seperti familial hypercholesterolemia, pola makan yang tinggi makanan berminyak atau digoreng, kurangnya aktivitas fisik, hingga penumpukan lemak viseral yang menyebabkan obesitas sentral.

Karena itu, menurutnya, penilaian risiko penyakit jantung tidak cukup hanya berdasarkan angka pada timbangan. Lingkar perut, kadar kolesterol LDL, serta faktor risiko lain juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari evaluasi kesehatan secara menyeluruh.

Ia menambahkan, obesitas sentral dapat terjadi meskipun seseorang memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang normal. Kondisi ini ditandai dengan lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria Asia dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan Asia.

Dokter Susetyo, mengingatkan kadar kolesterol tinggi umumnya tak bergejala. Akibatnya, banyak orang baru mengetahui dirinya berisiko mengidap penyakit jantung setelah menjalani pemeriksaan kesehatan. Oleh sebab itu, pemeriksaan kolesterol secara berkala tetap diperlukan, termasuk bagi orang-orang dengan berat badan ideal hingga yang bertubuh kurus.

“Tak hanya angka di timbangan yang menentukan risiko penyakit jantung. Namun, lingkar perut, kadar kolesterol LDL, dan faktor risiko lainnya juga harus diperhatikan,” tutup dr Susetyo.

Sumber : https://www.beritasatu.com/lifestyle/3013782/dokter-orang-kurus-bukan-jaminan-bebas-kolesterol-tinggi

Sering Diabaikan, Waspada Diabetes dan Hipertensi Bisa Picu Kebutaan

Sering Diabaikan, Waspada Diabetes dan Hipertensi Bisa Picu Kebutaan

Jakarta, CNBC Indonesia – Para penderita diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) diimbau untuk tidak menyepelekan kesehatan mata. Kerusakan organ penglihatan akibat kedua penyakit kronis ini sering kali terjadi secara diam-diam (silent) tanpa disertai rasa sakit atau kaburnya penglihatan pada tahap awal.

Diabetes diketahui dapat merusak pembuluh darah halus pada retina (retinopati diabetik). Sementara itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang mampu mengganggu sirkulasi serta struktur pendukung fungsi penglihatan.

Ironisnya, proses kerusakan ini bisa berlangsung saat pasien masih merasa bisa membaca, menyetir, dan beraktivitas normal sehari-hari.

“Banyak pasien secara rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, serta fungsi jantung dan ginjal, tetapi mungkin belum menyadari bahwa mata juga dapat terdampak,” ujar Dr. Low Jin Rong, dokter spesialis mata konsultan di Cornerstone Eye Centre saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).

Lebih lanjut, Dr. Low menjelaskan bahwa meskipun diabetes dan hipertensi sudah sangat sering dikaitkan dengan risiko fatal seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal, dampak buruknya terhadap mata jarang dibahas dengan tingkat urgensi yang sama.

Glaukoma: Sang Pencuri Penglihatan

Salah satu ancaman terbesar yang dipicu oleh kondisi ini adalah Glaukoma, penyakit yang kerap dijuluki sebagai “pencuri penglihatan”. Glaukoma merusak saraf optik secara bertahap dan umumnya menyerang penglihatan samping (perifer) terlebih dahulu.

Lantaran fungsi penglihatan tengah masih jernih, pasien kerap tidak sadar bahwa sebagian lapang pandang mereka telah hilang secara permanen.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma dan masalah mata serius lainnya meliputi:

– Tekanan bola mata yang tinggi

– Riwayat glaukoma dalam keluarga

– Miopia (mata minus) tinggi & pertambahan usia

– Riwayat cedera mata & penggunaan kortikosteroid jangka panjang

– Kondisi sistemik seperti diabetes dan hipertensi

Penting diketahui, kerusakan penglihatan akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan (ireversibel). Namun, diagnosis dini dan pemeriksaan rutin ke dokter spesialis mata dapat memperlambat keparahan penyakit melalui penanganan yang tepat, seperti obat-obatan, terapi laser, atau tindakan operasi.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260725013116-33-753730/sering-diabaikan-waspada-diabetes-dan-hipertensi-bisa-picu-kebutaan

Cegah Stroke Sejak Dini, Ini 8 Makanan yang Wajib Masuk Menu Menurut Ahli

Cegah Stroke Sejak Dini, Ini 8 Makanan yang Wajib Masuk Menu Menurut Ahli

Jakarta – Stroke masih menjadi salah satu ancaman kesehatan utama yang dapat mengubah hidup seseorang secara drastis dalam sekejap. Meski ada faktor yang tidak bisa diubah seperti usia dan genetik, risiko stroke sebenarnya bisa ditekan melalui perubahan gaya hidup, terutama dari apa yang kita makan.

Ahli kardiologi intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center, CA, Dr Cheng-Han Chen, MD, menjelaskan bahwa pola makan sehat berperan penting dalam mengontrol tekanan darah, kolesterol, hingga gula darah.

Pola makan yang dianjurkan umumnya mengadopsi diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Itu merupakan pola makan khusus untuk menurunkan tekanan darah), dan ada juga diet Mediterania yang kaya akan bahan makanan nabati serta lemak sehat.

“Diet yang kaya makanan anti-inflamasi (pereda peradangan) dan nutrisi yang menjaga pembuluh darah tetap terbuka dapat meningkatkan fleksibilitas arteri serta mengurangi pembekuan darah,” jelas Scott Keatley, RDN, dari Keatley Medical Nutrition Therapy.

Dikutip dari laman Prevention, berikut 8 makanan yang direkomendasikan ahli gizi dan dokter spesialis jantung untuk membantu menurunkan risiko stroke:

1. Sayuran Berdaun Hijau
Bayam, kale, dan arugula kaya akan nitrat. Dalam tubuh, nitrat diubah menjadi oksida nitrat, senyawa yang berfungsi melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah lancar dan tekanan darah menurun.

Sayuran hijau juga kaya vitamin K yang membantu mengatur proses pembekuan darah atau koagulasi.

2. Buah Citrus
Berbagai macam buah jeruk, termasuk jeruk bali, mengandung vitamin C, folat, serta kalium yang kaya antioksidan dan anti-inflamasi. Serat larut di dalamnya juga efektif memangkas kadar kolesterol jahat.

Meski begitu, konsumsi jeruk bali sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Terutama jika sedang menjalani pengobatan tertentu, karena dapat memicu interaksi obat.

3. Kacang Kenari
Kenari kaya akan asam alfa-linolenat (ALA), yaitu jenis asam lemak omega-3 nabati. Studi menunjukkan bahwa rutin mengonsumsi kenari dapat menekan kadar kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein) atau ‘kolesterol jahat’, yang sering menjadi pemicu utama penyumbatan pembuluh darah.

4. Yogurt
Selain kaya kalsium dan kalium, yogurt mengandung probiotik yang berkontribusi menyeimbangkan kadar lemak atau lipid darah serta menurunkan tekanan darah. Disarankan untuk memilih yogurt yang rendah gula atau plain.

5. Oat
Makanan tinggi serat ini kaya akan magnesium dan vitamin B. Serat larut pada oat membantu menjaga stabilitas gula darah, dan mencegah lonjakan insulin yang bisa merusak pembuluh darah jika terjadi terus-menerus.

6. Ikan Berlemak
Salmon, sarden, dan makarel kaya akan EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid). Keduanya merupakan jenis asam lemak omega-3 yang dapat membuat trombosit (sel pembeku darah) menjadi tidak terlalu ‘lengket’.

Hal tersebut dapat meminimalkan risiko gumpalan darah yang bisa saja menyumbat di otak.

7. Makanan Kaya Serat Larut
Apel, pir, wortel, dan ubi jalar mengandung serat larut yang akan berubah menjadi gel di saluran pencernaan. Proses ini memperlambat penyerapan gula dan menyerap kolesterol jahat sebelum masuk ke aliran darah.

8. Protein Nabati
Kacang-kacangan seperti kacang merah dan kacang hitam merupakan sumber protein bebas lemak jenuh. Mengganti sebagian protein hewani dengan protein nabati terbukti menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 19 persen.

Makanan dan Minuman Pendukung Lainnya

Selain makanan-makanan di atas, ada beberapa asupan lain yang juga memiliki efek perlidungan terhadap pembuluh darah, jika dikonsumsi dengan bijak, seperti:

  • Kopi dan teh hijau: Kaya akan senyawa polifenol dan katekin yang bertindak sebagai antioksidan untuk mengurangi stres oksidatif atau kerusakan sel akibat radikal bebas.
  • Buah bit atau beet: Tinggi kandungan nitrat alami untuk mendukung pembentukan oksida nitrat.
    Alpukat: Kaya akan lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk fleksibilitas pembuluh darah.
  • Cokelat hitam atau dark chocolate: Mengandung flavonoid yang dapat membantu merilekskan pembuluh darah dan sedikit menurunkan tekanan darah

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8588136/cegah-stroke-sejak-dini-ini-8-makanan-yang-wajib-masuk-menu-menurut-ahli

Cari Keseimbangan Hidup dan Kerja? Ini 10 Negara dengan Work-Life Balance Terbaik

Cari Keseimbangan Hidup dan Kerja? Ini 10 Negara dengan Work-Life Balance Terbaik

Jakarta – Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance kini menjadi salah satu faktor dalam menentukan kualitas hidup. Tak hanya soal jam kerja, tetapi juga mencakup hak cuti, fleksibilitas bekerja, hingga kesempatan untuk beristirahat dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan.

Sejumlah negara di dunia berhasil menciptakan budaya kerja yang lebih sehat dengan memberikan perhatian besar pada kesejahteraan karyawan. Lantas, negara mana saja yang memiliki work-life balance terbaik?

10 Negara dengan Work-Life Balance Terbaik

Dikutip dari laman Immigrant Invest, OECD Better Life Index membandingkan kesejahteraan antarnegara berdasarkan beberapa aspek, seperti jam kerja hingga masa cuti yang diberikan. Berikut 10 negara dengan work-life balance terbaik.

1. Norwegia

Rata-rata jam kerja di Norwegia adalah 37,5 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja. Banyak perusahaan menerapkan sistem jam kerja fleksibel (flexitime) yang memungkinkan pegawai menentukan sendiri waktu mulai dan selesai bekerja, selama total jam kerja mingguan tetap terpenuhi.

Peraturan ketenagakerjaan di Norwegia memperbolehkan lembur, tetapi penerapannya diatur secara ketat. Total lembur umumnya tidak boleh melebihi 200 jam per tahun, kecuali ada kesepakatan lain. Upah lembur juga diberikan dengan tarif lebih tinggi, yakni sekitar 40 hingga 100 persen di atas upah reguler.

Salah satu nilai penting dalam kehidupan masyarakat Norwegia adalah konsep friluftsliv, yang berarti kehidupan di alam terbuka. Karena itu, banyak pekerja memanfaatkan waktu istirahat untuk berjalan-jalan di taman atau menikmati alam sekitar, bahkan saat jam makan siang.

Setelah jam kerja berakhir, aktivitas luar ruangan seperti mendaki, bersepeda, atau bermain ski sesuai musim juga menjadi bagian dari rutinitas banyak warga Norwegia.

Karyawan memiliki 25 hari cuti berbayar per tahun atau setara dengan lima minggu. Banyak karyawan juga mendapat tunjangan liburan.

2. Belanda

Jam kerja di Belanda umumnya berkisar antara 36 hingga 40 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat. Namun, banyak pekerja yang memilih empat hari kerja dalam seminggu atau memanfaatkan pengaturan jam kerja yang lebih fleksibel.

Budaya lembur tidak terlalu umum di Belanda karena perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Jika lembur memang diperlukan, pekerja biasanya akan menerima kompensasi berupa upah tambahan atau waktu istirahat pengganti, sesuai dengan perjanjian kerja yang berlaku.

Salah satu budaya yang mencerminkan keseimbangan kehidupan sosial dan pekerjaan di Belanda adalah borrel, yaitu tradisi berkumpul secara santai bersama rekan kerja setelah jam kantor untuk menikmati minuman dan camilan.

Kegiatan ini umumnya diadakan pada hari Jumat sebagai cara bagi para pekerja untuk melepas penat sekaligus mempererat hubungan sosial setelah menjalani satu pekan bekerja.

Karyawan memiliki jatah empat minggu cuti berbayar atau setara dengan 20 hari kerja. Namun, dalam praktiknya banyak karyawan yang menerima cuti lebih banyak daripada yang ditetapkan undang-undang.

3. Swedia

Jam kerja di Swedia umumnya mencapai 40 jam per minggu. Sistem kerja yang fleksibel juga banyak diterapkan sehingga karyawan dapat menyesuaikan jadwal kerja dengan kebutuhan keluarga maupun urusan pribadi.

Peraturan ketenagakerjaan Swedia serta perjanjian kerja bersama mengatur pelaksanaan lembur secara ketat. Karyawan diperbolehkan bekerja lembur hingga maksimal 200 jam per tahun. Jam lembur tersebut dibayar dengan tarif lebih tinggi, umumnya sekitar 50 hingga 100 persen di atas upah normal, tergantung waktu dan hari pelaksanaannya.

Di banyak tempat kerja di Swedia, terutama saat musim panas, karyawan kerap diperbolehkan pulang lebih awal pada hari Jumat. Tradisi ini dikenal sebagai Fredagsmys atau “Friday Cosiness”, yang mencerminkan budaya menikmati suasana santai dan menghabiskan waktu berkualitas menjelang akhir pekan.

Swedia menawarkan hak cuti yang cukup banyak, yaitu 25 hari per tahun.

4. Finlandia

Jam kerja penuh waktu di Finlandia umumnya berkisar antara 37,5 hingga 40 jam per minggu. Sistem jam kerja fleksibel banyak diterapkan sehingga karyawan dapat menyesuaikan jadwal kerja dengan kebutuhan pribadi dan keluarga. Selain itu, bekerja dari jarak jauh (remote work) juga menjadi praktik yang umum di berbagai sektor.

Salah satu ciri khas budaya kerja di Finlandia adalah keberadaan sauna yang dianggap sebagai bagian penting dari gaya hidup dan kesejahteraan masyarakat. Banyak kantor, termasuk perusahaan besar, memiliki sauna sendiri.

Tidak jarang rekan kerja menghabiskan waktu bersama di sauna setelah jam kerja sebagai cara untuk bersantai sekaligus mempererat hubungan sosial.
Perihal cuti, pekerja Finlandia berhak atas 30 hari cuti berbayar per tahun.

5. Denmark

Jam kerja di Denmark umumnya 37 jam per minggu yang dibagi dalam lima hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat. Sejumlah perusahaan di Denmark juga mulai menguji penerapan empat hari kerja dalam seminggu, meski kebijakan ini belum diwajibkan oleh pemerintah.

Penerapannya bergantung pada kesepakatan antara perusahaan dan karyawan atau kebijakan internal perusahaan yang bertujuan meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja, mengurangi stres, serta meningkatkan produktivitas. Dalam sistem ini, karyawan tetap menyelesaikan jumlah jam kerja yang sama, tetapi dalam jumlah hari yang lebih sedikit.

Budaya lembur tidak terlalu umum di Denmark karena masyarakat sangat menjunjung tinggi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, jika lembur diperlukan, karyawan biasanya memperoleh kompensasi berupa waktu istirahat pengganti atau upah tambahan, sesuai dengan kontrak kerja maupun perjanjian kerja bersama.

Denmark memberikan hak cuti berbayar selama lima minggu per tahun bagi karyawan.

6. Swiss

Jam kerja penuh waktu di Swiss umumnya berkisar antara 40 hingga 42 jam per minggu, tergantung sektor industri dan kebijakan masing-masing perusahaan. Meski demikian, banyak perusahaan menawarkan pengaturan jam kerja yang fleksibel, sementara sistem kerja paruh waktu juga cukup umum diterapkan.

Ketentuan mengenai lembur di Swiss diatur secara jelas. Karyawan yang bekerja melebihi jam kerja normal berhak menerima kompensasi berupa upah lembur sebesar 125 persen dari upah biasa atau waktu istirahat pengganti, sesuai dengan kesepakatan yang berlaku. Secara umum, jumlah lembur dibatasi hingga 140 jam per tahun bagi sebagian besar pekerja.

Sama seperti di sejumlah negara Eropa lainnya, Swiss memiliki tradisi Büroapéro, yaitu kebiasaan berkumpul secara santai bersama rekan kerja setelah jam kantor. Dalam kegiatan ini, para karyawan biasanya menikmati minuman dan camilan ringan sambil mengobrol dalam suasana yang informal.
Swiss memberikan karyawan minimal empat minggu atau 20 hari cuti berbayar per tahun. Karyawan di bawah usia 20 tahun berhak atas lima minggu cuti.

7. Prancis

Jam kerja di Prancis untuk karyawan penuh waktu umumnya ditetapkan 35 jam per minggu sesuai ketentuan hukum. Meskipun beberapa sektor memiliki perjanjian kerja yang berbeda, angka 35 jam tetap menjadi standar di sebagian besar industri.

Jika karyawan bekerja melebihi 35 jam, jam tersebut dihitung sebagai lembur. Upah lembur diatur oleh undang-undang, yaitu 25 persen lebih tinggi dari upah normal untuk delapan jam lembur pertama dan 50 persen lebih tinggi untuk jam lembur berikutnya.

Selain pembayaran tambahan, pekerja juga dapat memperoleh RTT days atau hari libur tambahan sebagai pengganti kompensasi lembur.

Salah satu kebijakan paling menarik terkait keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi di Prancis adalah “hak untuk terputus” (right to disconnect) yang mulai berlaku pada tahun 2017.

Aturan ini memberikan hak hukum kepada karyawan untuk tidak menanggapi email atau pesan pekerjaan di luar jam kerja. Tujuannya adalah mengurangi risiko kelelahan kerja dan stres, sekaligus memastikan pekerja dapat benar-benar menikmati waktu pribadinya tanpa tekanan dari pekerjaan.

Terkait cuti, karyawan Prancis berhak atas minimal lima minggu atau 25 hari kerja per tahun. Beberapa perjanjian atau kontrak kolektif juga menawarkan hari libur tambahan.

8. Italia

Jam kerja di Italia umumnya 40 jam per minggu yang biasanya dibagi ke dalam lima hari kerja. Meski demikian, batas maksimum jam kerja yang diizinkan oleh hukum adalah 48 jam per minggu, termasuk jam lembur.

Ketentuan mengenai lembur diatur melalui undang-undang dan perjanjian kerja bersama. Total lembur tidak boleh melebihi 250 jam per tahun. Karyawan yang bekerja lembur berhak menerima upah lebih tinggi dibandingkan upah normal, dengan besaran yang disesuaikan berdasarkan waktu pelaksanaan maupun jenis pekerjaan.

Italia juga memiliki tradisi aperitivo, yaitu kebiasaan berkumpul bersama teman atau rekan kerja setelah jam kerja untuk menikmati minuman dan camilan ringan sebelum makan malam. Tradisi yang biasanya berlangsung antara pukul 17.00 hingga 19.00 ini menjadi cara bagi masyarakat Italia untuk melepas penat sekaligus mempererat hubungan sosial.

Karyawan Italia berhak atas setidaknya empat minggu atau 20 hari cuti berbayar per tahun.

9. Spanyol

Jam kerja penuh waktu di Spanyol umumnya mencapai 40 jam per minggu yang dibagi ke dalam lima hari kerja. Jadwal kerja dapat berbeda-beda tergantung sektor industrinya.

Ketentuan mengenai lembur di Spanyol juga diatur secara jelas. Jumlah lembur tidak boleh melebihi 80 jam per tahun. Kompensasinya dapat berupa upah tambahan dengan tarif lebih tinggi atau waktu istirahat pengganti, tergantung pada kontrak kerja maupun perjanjian kerja bersama.

Setelah jam kerja usai, masyarakat Spanyol juga terbiasa menghabiskan waktu bersama teman atau rekan kerja dengan menikmati tapas, yaitu aneka hidangan ringan yang menjadi bagian dari budaya bersosialisasi di negara tersebut.

Hukum ketenagakerjaan Spanyol memberikan 22 hari kerja cuti berbayar per tahun bagi karyawan.

10. Hungaria

Jam kerja di Hungaria umumnya 40 jam per minggu. Lembur diperbolehkan di Hungaria, tetapi pelaksanaannya diatur oleh undang-undang.

Karyawan yang bekerja melebihi jam kerja normal berhak memperoleh upah lembur sebesar 50 hingga 100 persen lebih tinggi dari upah biasa atau mendapatkan waktu istirahat pengganti, sesuai dengan ketentuan dalam kontrak kerja. Selain itu, hukum juga menetapkan batas maksimum jumlah jam lembur yang dapat dilakukan seorang pekerja setiap tahunnya.

Hungaria dikenal dengan pemandian air panas (thermal baths) yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakatnya. Banyak orang memanfaatkan fasilitas ini setelah jam kerja atau saat akhir pekan untuk bersantai, menghilangkan penat, dan memulihkan kebugaran.

Sejumlah perusahaan di Hungaria juga menyediakan program kebugaran atau hari spa sebagai salah satu bentuk fasilitas dan dukungan terhadap kesehatan serta keseimbangan kehidupan kerja para pegawainya.

Karyawan di Hungaria berhak memperoleh minimal 20 hari kerja cuti berbayar setiap tahun. Jumlah cuti ini akan bertambah seiring bertambahnya usia pekerja, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Agar Performa Olahraga Bisa Maksimal

Agar Performa Olahraga Bisa Maksimal

Meningkatkan performa olahraga tidak hanya dilakukan berdasarkan intensitas latihan

DOKTER Spesialis Kedokteran Olahraga di Seraphim Medical Center RS Bethsaida Nahum, menjelaskan bahwa performa optimal harus dibangun melalui program yang terukur, bukan hanya berdasarkan intensitas latihan. “Dalam olahraga seperti padel, tubuh dituntut bergerak cepat, melakukan rotasi, berhenti mendadak, dan berpindah arah berulang kali. Karena itu, atlet membutuhkan evaluasi kondisi fisik, latihan yang tepat, strategi recovery, serta pemantauan yang sesuai agar dapat menjaga performa sekaligus mengurangi risiko cedera,” ujar Nahum dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 19 Juli 2026.

Tentu saja gizi juga perlu diperhatikan demi penampilan terbaik. Seperti dilansir laman resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga, atlet maupun masyarakat yang rutin berolahraga disarankan memperhatikan pola makan dan asupan gizi. Pilih karbohidrat kompleks, seperti nasi merah atau roti gandum, sebagai sumber energi yang lebih tahan lama. Konsumsi camilan yang mengandung karbohidrat dan protein sekitar 1–2 jam sebelum berolahraga, lalu penuhi kembali kebutuhan energi dan protein setelah latihan untuk membantu pemulihan otot.

Hidrasi juga tidak kalah penting. Pastikan tubuh mendapat cukup cairan sebelum, selama, dan setelah berolahraga untuk mencegah penurunan performa. Selain itu, penuhi kebutuhan protein dari daging tanpa lemak, ikan, telur, atau kacang-kacangan, serta konsumsi lemak sehat, seperti alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun.

Jangan lupakan asupan vitamin dan mineral, seperti zat besi, kalsium, dan vitamin D, yang berperan dalam menjaga kebugaran tubuh. Karena kebutuhan gizi setiap orang berbeda, pola makan sebaiknya disesuaikan dengan jenis olahraga, intensitas latihan, dan kondisi masing-masing, bila perlu dengan berkonsultasi kepada ahli gizi.

Menurut Nahum, pendekatan kedokteran olahraga juga berperan dalam proses back to sport, yaitu pendampingan bertahap setelah cedera agar seseorang tidak hanya bebas dari rasa sakit. Dokter juga berperan membuat pasien olahraga memiliki kekuatan, fungsi gerak, kontrol tubuh, dan kesiapan fisik untuk kembali berolahraga.

Sementara itu Dokter Spesialis Ortopedi & Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga, di Bethsaida Hospital Gading Serpong Herryanto Agustriadi Simanjuntak pun menekankan pentingnya diagnosis dan penanganan yang tepat pada cedera otot, sendi, ligamen, tulang, maupun tulang belakang.

“Cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian dapat ditangani secara konservatif melalui obat-obatan, fisioterapi, dan rehabilitasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki struktur yang mengalami kerusakan dan mengembalikan fungsi gerak pasien,” kata Herryanto.

Sebelumnya, Bethsaida Hospital Gading Serpong dan Seraphim Medical Center menjadi Official Medical Partner FIP Bronze Banten 2026 di turnamen padel internasional pertama yang digelar di Banten. Ajang yang berlangsung pada 14–19 Juli 2026 ini merupakan bagian dari kompetisi internasional di bawah International Padel Federation (FIP).

Dukungan tersebut mencakup peningkatan performa, pencegahan dan penanganan cedera, tindakan medis maupun operatif apabila diperlukan, pemulihan, hingga pendampingan agar atlet dapat kembali berolahraga secara aman.

Peserta juga memperoleh dukungan fisioterapi, sports massage, pemeriksaan kesehatan, dan layanan kebugaran sesuai kebutuhan.

Melalui fasilitas Medical Gym, peserta dan masyarakat aktif dapat menjalani asesmen kondisi fisik serta latihan yang disusun untuk meningkatkan kekuatan, stabilitas, mobilitas, daya tahan, dan performa olahraga. Layanan ini didukung program fisioterapi dan latihan terapeutik yang disesuaikan dengan kondisi serta target masing-masing individu.

Untuk menunjang proses recovery, Seraphim Medical Center juga menghadirkan layanan seperti whole-body cryotherapy, sauna, dan sports massage. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program pemulihan yang dirancang untuk membantu tubuh kembali siap setelah latihan maupun kompetisi.

Sebagai Official Medical Partner FIP Bronze Banten 2026, Bethsaida Healthcare untuk mendukung perkembangan olahraga melalui layanan kesehatan yang komprehensif, profesional, dan berorientasi pada performa serta pemulihan jangka panjang.

Sumber : https://www.tempo.co/gaya-hidup/agar-performa-olahraga-bisa-maksimal-2276906

Indonesia torehkan dua medali emas di nomor vertical 7km SEATRC 2026

Indonesia torehkan dua medali emas di nomor vertical 7km SEATRC 2026

Jakarta (ANTARA) – Kontingen lari trail Indonesia menorehkan dua medali emas di nomor vertical 7km Southeast Asian Trail Running Confederation (SEATRC) 2026.

Di nomor vertical 7km putra, Putra Aldio menjadi yang tercepat setelah mencatatkan waktu 1 jam 3 menit 54 detik. Pelari asal Jakarta ini mengungguli atlet Filipina Christone Dinawanao yang mencatatkan 1 jam 4 menit 14 detik dan atlet Thailand Surachat Thaesi yang mencatatkan waktu 1 jam 4 menit 46 detik.

Sedangkan di nomor vertical 7km putri, Fitri menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 1 jam 20 menit 59 detik. Atlet asal Sulawesi Selatan ini mengungguli atlet Kamboja Laurie Phai yang mengunci waktu 1 jam 22 menit 55 detik dan atlet Thailand Pitchanan Mahachot dengan catatan 1 jam 23 menit 42 detik.

“Sebagai Ketua Kontingen, saya sangat berbangga atas prestasi putra dan putri kita yang mendapatkan emas Vertical 7km, kita berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Putra Aldio dan Fitri,” jelas Ketua Kontingen Indonesia pada SEATRC Donny Gahral Adian dalam keterangan resmi, Jumat.

“Harapan kami, pada kategori lain, kita bisa dapatkan emas agar kita bisa menjadi juara umum,” tegas Donny yang juga Sekum PP ALTI.

Apresiasi diberikan oleh Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman yang menilai bahwa prestasi ini mampu memantik atlet lainnya untuk bisa lebih berprestasi lagi.

“Semoga, atlet-atlet lari trail kebanggaan Indonesia dapat kembali mempersembahkan prestasi pada nomor pertandingan selanjutnya,” ujar Marciano.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5664789/indonesia-torehkan-dua-medali-emas-di-nomor-vertical-7km-seatrc-2026