TRIBUNNEWS.COM – Bagi banyak orang, mempertahankan konsistensi dalam menjalani program penurunan berat badan atau diet terasa seperti perjuangan yang tak pernah menang. Banyak yang meyakini kegagalan diet disebabkan oleh minimnya disiplin diri atau kurangnya niat.
Padahal, riset medis menunjukkan adanya gangguan biologis di balik dorongan makan yang tak tertahankan, yang dikenal sebagai food noise.
Food noise adalah kondisi psikologis dan biologis ketika pikiran seseorang terus-menerus dipenuhi oleh obsesi atau keinginan terhadap makanan, meskipun tubuh sebenarnya tidak sedang membutuhkan asupan energi.
Medical Manager LIGHT Group, dr. Guadelupe Maria Melissa, menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami kelebihan berat badan dalam waktu lama, otak menyesuaikan titik acuan berat badan. Ketika diet dimulai dan berat badan turun, tubuh justru meresponsnya sebagai ancaman dan memicu gangguan sinyal hormon incretin seperti GLP-1 dan GIP yang diproduksi oleh usus.
“Akibatnya, rasa lapar meningkat dan rasa kenyang berkurang. Penurunan berat badan merangsang otak untuk memicu food noise. Jadi, kegagalan diet bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan ada mekanisme pengaturan nafsu makan di otak yang terganggu,” ujar dr. Guadelupe dalam keterangannya.
Senada dengan dr. Guadelupe, Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menegaskan bahwa food noise sering kali menimbulkan stigma keliru bahwa penderita obesitas tidak memiliki kontrol diri.
“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang mengambil keputusan terkait makanan. Food noise memiliki keterkaitan kompleks antara faktor biologis, emosional, dan kebiasaan,” terang Tara.
Inilah alasan program penanganan obesitas tidak boleh hanya berfokus pada angka timbangan. Selama lebih dari dua dekade, LIGHThouse menitikberatkan pendekatan berbasis perubahan perilaku dan edukasi nutrisi yang berkelanjutan.
“Pendekatan psikologis sangat dibutuhkan untuk mengatasi dorongan makan yang tidak tepat dari akar masalahnya. Tujuannya bukan hanya membantu pasien menurunkan berat badan, tetapi juga membangun kemampuan untuk mempertahankan hasil tersebut dalam jangka panjang,” lanjut dia.
Menjawab tantangan tersebut, hadir inovasi medis berbasis tirzepatide melalui terapi TirzePen dan TirzeSlim. Terapi ini bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh.
“Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise,” terang dr. Guadelup.
Kendati demikian, para ahli sepakat bahwa terapi medis berbasis injeksi hanyalah satu bagian dari proses penyembuhan.
Keberhasilan jangka panjang tetap menuntut pendekatan multidisiplin yang memadukan intervensi medis, edukasi nutrisi dari ahli gizi, serta pendampingan psikologis guna mengubah perilaku makan secara berkelanjutan.




