JP Radar Kediri – Ketika emosi sedang memuncak, seseorang cenderung ingin langsung bertindak atau memberikan respons.
Namun, penelitian terbaru dari University of Sydney menunjukkan bahwa memberi jeda untuk memeriksa kembali respons sebelum bertindak dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik.
Penelitian yang dipimpin Riley Leckie bersama Carolyn MacCann dan Kit S. Double tersebut memperkenalkan peran metakognisi, yakni kemampuan seseorang untuk memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri, dalam pengelolaan emosi. Studi itu diterbitkan di jurnal Affective Science pada Juni 2026.
Berpikir Sebelum Bereaksi
Metakognisi umumnya dikenal dalam konteks proses berpikir dan belajar. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memantau pikiran juga berkaitan dengan cara seseorang menghadapi situasi emosional.
Saat mengalami perubahan emosi, seseorang dapat memperhatikan apa yang sedang dirasakan, menilai seberapa kuat emosinya, mencari kemungkinan penyebab, kemudian mempertimbangkan apakah perlu memberikan respons tertentu.
Dengan kata lain, ada ruang di antara emosi yang muncul dan tindakan yang dilakukan. Ruang singkat tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah respons yang akan diberikan memang sesuai dengan situasi.
Contohnya, ketika seorang teman tiba-tiba membatalkan janji, rasa kecewa atau marah bisa muncul. Alih-alih langsung mengirim pesan dengan nada keras, seseorang dapat berhenti sejenak dan mempertimbangkan kemungkinan alasan di balik pembatalan tersebut.
Diuji dalam Dua Studi
Penelitian ini dilakukan melalui dua studi.
Pada studi pertama, sebanyak 226 peserta mengikuti tugas yang mengukur kemampuan metakognitif dan pengelolaan emosi.
Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan seseorang menyesuaikan tingkat keyakinannya dengan ketepatan respons berkaitan positif dengan kemampuan mengelola emosi.
Sebaliknya, tingkat keyakinan yang terlalu tinggi secara umum berkaitan negatif dengan performa pengelolaan emosi.
Pada studi kedua, 200 peserta dibagi secara acak ke dalam kondisi yang meminta mereka memberikan penilaian terhadap keyakinan atau tanpa penilaian tersebut ketika mengerjakan tugas pengelolaan emosi.
Peserta yang diminta melakukan penilaian metakognitif menunjukkan performa yang lebih baik. Temuan ini memberikan bukti bahwa keterlibatan dalam proses memantau pikiran tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan emosi, tetapi juga dapat membantu meningkatkannya.
Jeda Tidak Berarti Menekan Emosi
Memberi waktu sebelum bereaksi bukan berarti mengabaikan atau menekan emosi. Justru, jeda tersebut dapat digunakan untuk memahami apa yang sedang terjadi sebelum menentukan tindakan.
Menurut penelitian, proses pemantauan membantu seseorang mengenali perubahan emosi, menilai intensitas dan penyebabnya, lalu menentukan strategi yang paling sesuai dengan situasi.
Karena itu, ketika sedang marah, kecewa, atau tersinggung, seseorang tidak selalu harus langsung mencari cara untuk menghilangkan perasaan tersebut.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyadari bahwa emosi sedang muncul dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengevaluasi respons.
Kebiasaan sederhana seperti bertanya, “Apakah saya benar-benar perlu merespons seperti ini?” dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Pada akhirnya, mengelola emosi bukan hanya soal menahan reaksi. Kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami apa yang dirasakan, dan menilai kembali pilihan respons dapat membantu seseorang mengambil tindakan yang lebih tepat.




