7 Cara Efektif Membantu Anak Lebih Berani Bicara di Depan Orang Lain

7 Cara Efektif Membantu Anak Lebih Berani Bicara di Depan Orang Lain

Jakarta, CNN Indonesia — Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu menyampaikan pendapatnya dengan baik.

Namun, tidak sedikit anak yang memilih diam, merasa malu, atau ragu untuk berbicara di hadapan orang lain. Berikut cara efektif membantu anak berani bicara.

Kemampuan berbicara merupakan bekal penting yang dibutuhkan anak hingga dewasa nanti. Sayangnya, kebiasaan orang tua yang sering mengambil alih percakapan justru dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri anak.

Padahal, anak perlu diberi kesempatan untuk mengutarakan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya secara mandiri.

Melalui latihan yang konsisten dan dukungan yang tepat, anak dapat belajar bicara sendiri serta lebih berani menghadapi berbagai situasi sosial.

Cara membantu anak berani bicara

Dikutip dari Our Children, berikut cara membantu anak berani bicara yang perlu diketahui orang tua.

1. Kurangi kebiasaan berbicara atas nama anak

Banyak orang tua secara refleks menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada anak. Meski dilakukan dengan niat baik, kebiasaan ini dapat menghambat kemampuan anak untuk berpikir dan merespons secara mandiri.

Mulailah memperhatikan kapan Anda terlalu sering mengambil alih percakapan. Berikan kesempatan kepada anak untuk menjawab sendiri, meskipun mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk merangkai kata-kata.

Dengan begitu, anak akan memahami bahwa mereka diharapkan mampu menyampaikan pendapatnya sendiri.

2. Beri ruang dan waktu untuk menyampaikan pendapat

Salah satu cara membantu anak berani bicara adalah memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan solusi dan jawaban sendiri. Saat anak menghadapi pertanyaan atau masalah sederhana, hindari langsung memberikan jawaban.

Biarkan mereka berpikir, mencoba, dan mengungkapkan pendapatnya. Pengalaman kecil yang terjadi setiap hari akan membantu anak belajar menggunakan suaranya sendiri dan membangun rasa percaya diri secara bertahap.

3. Biasakan anak berbicara di rumah

Rumah merupakan tempat terbaik bagi anak untuk berlatih mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Orang tua dapat menciptakan suasana yang mendukung dengan mengadakan diskusi keluarga secara rutin.

Ajak anak membahas berbagai topik, mulai dari aturan di rumah hingga isu sosial yang sesuai dengan usianya. Berikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota keluarga untuk berbicara dan dengarkan pendapat mereka tanpa menghakimi.

4. Dorong anak berani keluar dari zona nyaman

Keberanian berbicara sering kali tumbuh ketika anak berani mencoba hal-hal baru. Oleh karena itu, dorong mereka untuk mengambil risiko kecil yang positif.
Misalnya, ajak anak mengangkat tangan saat ingin menjawab pertanyaan di kelas, menyampaikan ide kepada guru, atau berbicara dalam kelompok kecil.

Jika masih merasa gugup, mereka dapat menuliskan ide terlebih dahulu sebelum menyampaikannya secara lisan. Semakin sering anak mencoba, semakin besar pula rasa percaya dirinya.

5. Latih dengan skenario dan simulasi percakapan

Terkadang anak mengetahui apa yang ingin disampaikan, tetapi bingung bagaimana mengatakannya. Dalam kondisi seperti ini, orang tua dapat membantu dengan membuat skenario percakapan sederhana.

Misalnya saat anak ingin berbicara kepada guru, pelatih, atau temannya, ajak mereka berlatih terlebih dahulu di rumah. Lakukan simulasi percakapan secara santai hingga anak merasa nyaman.

Metode ini membantu anak lebih siap menghadapi situasi nyata dan mengurangi rasa cemas ketika harus berbicara sendiri.

6. Ajarkan cara membela diri secara asertif
Bagian penting dari cara membantu anak berani bicara adalah mengajarkan keterampilan berbicara secara tegas namun tetap sopan. Anak perlu memahami bahwa mereka tidak dapat mengendalikan perilaku orang lain, tetapi dapat mengendalikan responsnya sendiri.

Orang tua dapat mengenalkan strategi sederhana berikut:

  • Tenangkan diri terlebih dahulu dengan menarik napas dalam-dalam.
  • Sampaikan pendapat secara tegas menggunakan kalimat singkat dan jelas.
  • Gunakan bahasa tubuh yang percaya diri, seperti berdiri tegak dan menatap lawan bicara.
  • Berbicara dengan suara yang mantap, tanpa berteriak atau terdengar marah.

Keterampilan ini sangat berguna ketika anak menghadapi tekanan dari teman sebaya atau situasi yang membuatnya tidak nyaman.

7. Berlatih setiap hari dan hargai prosesnya

Keberanian berbicara tidak terbentuk dalam semalam. Karena itu, biasakan anak untuk berbicara untuk dirinya sendiri setidaknya sekali setiap hari.

Anak yang lebih kecil dapat dilatih memesan makanan sendiri di restoran atau menjawab pertanyaan guru di kelas. Sementara itu, anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam aktivitas yang membutuhkan komunikasi mandiri sesuai usianya.

Yang tidak kalah penting, beri apresiasi atas setiap usaha yang mereka lakukan. Ketika anak melakukan kesalahan atau merasa gagal, yakinkan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari proses belajar. Dukungan dan kepercayaan dari orang tua akan menjadi modal besar bagi anak untuk terus berkembang.

Itulah cara membantu anak berani bicara sejak dini untuk membangun kepercayaan diri.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260622113822-284-1371761/7-cara-efektif-membantu-anak-lebih-berani-bicara-di-depan-orang-lain

Stop Bilang ‘Tak Punya Uang’ ke Anak, Psikolog Sarankan 3 Kalimat Ini

Stop Bilang ‘Tak Punya Uang’ ke Anak, Psikolog Sarankan 3 Kalimat Ini

Jakarta, CNN Indonesia — Anak pasti pernah merengek meminta dibelikan sesuatu kepada orang tuanya. Dalam situasi seperti itu, banyak orang tua spontan menjawab, “Nggak punya uang”, “Nggak ada uangnya”, atau “Kita nggak mampu beli itu.”

Kalimat tersebut memang terdengar remeh dan sering kali menjadi respons paling cepat untuk menghentikan rengekan anak.

Namun, menurut psikologi, respons tersebut sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Meski diucapkan dengan niat baik agar tidak boros, misalnya, kalimat “kita tidak punya uang atau kita tidak mampu membelinya” ternyata dapat membentuk cara pandang anak terhadap uang sejak dini.

Alih-alih memahami bahwa orang tua sedang membuat keputusan finansial, anak justru bisa menangkap pesan yang berbeda.

Dikutip dari Times of India, menurut American Psychological Association (APA), uang merupakan salah satu topik yang paling jarang dibicarakan secara terbuka dalam keluarga. Padahal, cara anak memandang uang terbentuk sejak masa anak-anak, jauh sebelum mereka dewasa hingga bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

Ketika anak terus-menerus mendengar kalimat, “Kita tidak punya uang,” mereka tidak memaknainya seperti orang dewasa. Anak yang masih kecil bisa benar-benar mengira kondisi keuangan keluarganya sedang buruk.

Kalimat yang awalnya dimaksudkan sebagai solusi mengakhiri percakapan, justru bisa menanamkan kecemasan dalam diri anak tentang kondisi finansial keluarga.

Karena itu, psikolog menyarankan orang tua mengganti kalimat “tidak punya uang” dengan ungkapan yang lebih edukatif.

Lantas, bagaimana kalimat yang lebih tepat untuk mengganti ungkapan “tidak punya uang” ke anak? Ini alternatif respons yang bisa disampaikan orang tua.

1. “Saat ini uangnya untuk kebutuhan yang lain”

Kalimat ini dinilai lebih baik daripada mengatakan “kita tidak mampu membelinya”. Menurut psikologi, frasa tersebut mengajarkan bahwa keputusan keuangan bukan semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya uang, melainkan oleh pilihan dan prioritas keluarga.

Dengan cara ini, anak belajar bahwa setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan. Mereka memahami bahwa uang bisa saja tersedia, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi karena ada kebutuhan lain yang lebih penting.

Pola pikir seperti ini akan membantu anak membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak saat dewasa.

2. “Kita perlu menabung dulu, ya”

Kalimat ini memperkenalkan konsep delayed gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan demi tujuan yang lebih besar. Menurut APA, keterampilan ini merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

Selain mengurangi kekecewaan, mengajak anak menabung juga mengajarkan bahwa mendapatkan sesuatu membutuhkan proses, perencanaan, dan usaha.

Anak tidak hanya belajar sabar menunggu, tetapi juga memahami nilai dari barang yang mereka inginkan.

3. “Masukkan ke daftar kado ulang tahunmu”

Jika barang tersebut bukan kebutuhan mendesak, orang tua dapat mengarahkan anak untuk memasukkannya ke daftar keinginan atau hadiah ulang tahun atau momen spesial lainnya, misal kenaikan kelas, sunat, berhasil puasa sebulan penuh, atau hadiah Natal.

Respons ini tetap mengakui keinginan anak tanpa langsung menolaknya. Di saat yang sama, anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi saat itu juga.

Kebiasaan ini membantu mereka menahan keinginan sekaligus memahami bahwa ada waktu yang tepat untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260716160916-284-1381532/stop-bilang-tak-punya-uang-ke-anak-psikolog-sarankan-3-kalimat-ini

Uang Terlanjur Ditransfer ke Penipu? Begini Cara Mengembalikannya

Uang Terlanjur Ditransfer ke Penipu? Begini Cara Mengembalikannya

Global Fraud Index menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 111 dengan skor 6,53 sebagai negara yang paling tidak terlindungi (least protected) terhadap penipuan.

Lebih lanjut, sumber menyebutkan bahwa skor aktivitas penipuan di Indonesia mencapai 4,93, nilai yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata dunia sebesar 2,07.

Angka yang sangat wajar, mengingat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa Indonesia Anti Scam Centre (IASC) telah menerima 608 ribu laporan selama periode November 2024 hingga 26 Juni 2026.

Ini artinya, ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang menjadi korban penipuan, termasuk financial scam.

Jika Anda salah satu korban dan telah terlanjur mengirim sejumlah uang kepada tersangka, jangan khawatir.

Sebab Anda bisa mendapatkan uang kembali dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

Cara Mendapatkan Uang Kembali yang Sudah Ditransfer ke Penipu

1. Buat Laporan ke Polisi

Setelah sadar telah menjadi korban penipuan dan telah mengirim sejumlah uang kepada tersangka, segera ke Kantor Polsek setempat untuk membuat laporan penipuan kepada petugas.

Di sana Anda akan diminta untuk mengisi formulir laporan. Isi formulir tersebut dengan data diri, jenis kasus, ringkasan kronologi dan lain sebagainya.

Kumpulkan seluruh barang bukti, mulai dari nomor telepon penipu, nomor rekening, serta bukti tangkapan layar transfer.

Setelah mengisi formulir dan menyerahkan bukti-bukti, polisi akan memberikan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) yang bisa dijadikan bukti bahwa Anda telah melaporkan tindak kejahatan.

2. Buat Laporan ke Pihak Perbankan

Langkah berikutnya segera datang ke kantor cabang perbankan terdekat untuk membuat laporan.

Prosedurnya hampir sama, yaitu menjelaskan kronologi penipuan serta memberikan bukti-bukti seperti tangkapan layar transfer dan nomor rekening penipu.

Jika terbukti terjadi penipuan, pihak perbankan akan membantu Anda untuk memblokir atau membekukan akun rekening penipu.

Bank juga akan menghubungi pihak penipu untuk memberikan klarifikasi terkait riwayat penerimaan uang dari Anda.

3. Lapor ke Komdigi

Jika sudah membuat laporan ke pihak bank dan kepolisian tetapi masih belum ada tindakan lebih lanjut, Anda bisa membuat pengaduan kasus penipuan online ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Komdigi menyediakan layanan pengaduan khusus penipuan yang bisa diakses secara langsung di halaman resminya.

Cara ini tidak bisa mengembalikan uang, tetapi bisa membantu orang lain untuk mengantisipasi terjadinya penipuan di masa mendatang.

Berikut adalah langkah-langkahnya:

  • Buka halaman https://aduannomor.id/
  • Masukkan nomor seluler yang digunakan penipu.
  • Pilih nama operator dari nomor seluler yang digunakan penipu.
  • Klik “Selanjutnya”
  • Isi seluruh data yang diminta, seperti kronologi penipuan.
  • Unggah bukti-bukti penipuan, seperti tangkapan layar pesan atau bukti pengiriman uang.
  • Tunggu verifikasi nomor oleh petugas.
  • Jika terbukti bersalah, operator akan melakukan pemblokiran pada nomor tersebut.

Sumber : https://www.inilah.com/uang-terlanjur-ditransfer-ke-penipu-begini-cara-mengembalikannya

Jangan Ditiru! Pria Gelantungan di Luar KRL Priok Berujung Diamankan

Jangan Ditiru! Pria Gelantungan di Luar KRL Priok Berujung Diamankan

Jakarta – Video seorang pria bergelantungan di luar kereta rel listrik (KRL) viral di media sosial (medsos). Petugas KAI Commuter Indonesia (KCI) mengamankan pria tersebut.

Public Relations Manager KAI Commuter, Leza Arlan, mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, pria tidak dikenal tersebut mengakui berada dalam pengaruh alkohol sehingga bergelantungan di sisi luar kereta sejak kereta berangkat dari Stasiun Jakarta International Stadium hingga tiba di Stasiun Ancol.

“Sebelum kejadian, yang bersangkutan juga diketahui memasuki area jalur rel tanpa hak meskipun telah mendapat teguran dari petugas,” kata Leza, Jumat (24/7/2026).

Pria tersebut melakukan tindakan membahayakan bergelantungan di sisi luar rangkaian Commuter Line No. 2247A relasi Tanjung Priok-Jakarta Kota pada Kamis (23/7) kemarin.

Peristiwa tersebut diketahui saat rangkaian Commuter Line memasuki Stasiun Ancol sekitar pukul 16.48 WIB. Petugas Pengamanan stasiun yang sedang bertugas melihat seorang pria yang tidak dikenal berada di sisi luar pintu kereta kedua dari depan.

Petugas kemudian segera mengamankan yang bersangkutan dan membawanya ke Pos Pengamanan di Stasiun Ancol untuk dilakukan pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Sanksi Blacklist

Setelah dilakukan pemeriksaan yang bersangkutan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Pihak KCI juga memberikan sanksi dengan memasukkan pria itu ke daftar hitam (blacklist) dalam database CCTV analytics.

Selanjutnya, petugas mengeluarkan yang bersangkutan dari area layanan Commuter Line sesuai prosedur yang berlaku.

KAI Commuter menegaskan bahwa tindakan bergelantungan di sisi luar kereta maupun memasuki jalur rel tanpa izin merupakan perilaku yang sangat berbahaya dan berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri maupun perjalanan kereta.

“Kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di area jalur rel maupun bergelantungan di bagian luar kereta. Tindakan tersebut sangat membahayakan keselamatan dan dapat mengganggu operasional perjalanan Commuter Line. Keselamatan pengguna dan masyarakat merupakan prioritas utama kami,” ujar Leza.

KAI Commuter juga mengajak masyarakat untuk selalu mematuhi seluruh peraturan yang berlaku di area stasiun maupun selama menggunakan Commuter Line. Apabila masyarakat melihat adanya tindakan yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta, diharapkan segera melaporkannya kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti.

“Kami berkomitmen menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan selamat bagi seluruh pengguna dengan memperkuat pengawasan serta mengedepankan edukasi mengenai pentingnya keselamatan di lingkungan perkeretaapian,” tutup Leza.

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-8588620/jangan-ditiru-pria-gelantungan-di-luar-krl-priok-berujung-diamankan

Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi

Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika banjir dan longsor memutus akses menuju sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya keterbatasan bahan pangan. Energi juga menjadi kebutuhan yang paling mendesak.

Bahan bakar dibutuhkan untuk kendaraan evakuasi, LPG diperlukan agar dapur umum tetap beroperasi, sementara pasokan listrik menjadi penopang berbagai layanan darurat.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan pengalaman tersebut kembali menegaskan bahwa energi merupakan salah satu fondasi utama dalam proses pemulihan pascabencana.

“Inti dari survival adalah energi,” ujar Arya dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, pengalaman menghadapi bencana hidrometeorologi itu juga menjadi alasan Pertamina memilih memperingati hari ulang tahunnya pada Desember lalu melalui operasi kemanusiaan, bukan kegiatan seremonial.

Dalam operasi tersebut, Pertamina bekerja sama dengan TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendistribusikan LPG dan memastikan pasokan energi tetap tersedia di wilayah yang akses daratnya terputus.

Ratusan pekerja Pertamina bersama operator SPBU turut membantu menjaga distribusi energi di berbagai titik terdampak. Namun bagi Pertamina, penanganan darurat hanya menjadi langkah awal.

Arya mengatakan tantangan yang lebih besar adalah bagaimana masyarakat tetap memiliki akses terhadap energi ketika harus menghadapi situasi terisolasi akibat bencana.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pertamina mengembangkan program “Desa Energi Berdikari”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat memanfaatkan sumber energi yang tersedia di lingkungan sekitar.

Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 262 desa di berbagai wilayah Indonesia.

Berbeda dengan bisnis utama perusahaan yang bergerak di sektor energi, dalam program ini masyarakat justru didorong untuk memanfaatkan energi nonfosil sesuai potensi daerah masing-masing, mulai dari biogas, tenaga surya, mikrohidro, hingga gas metana dari tempat pembuangan akhir.

“Kami tidak mengajarkan mereka menggunakan energi fosil. Yang kami lakukan adalah membantu masyarakat melihat potensi energi yang ada di sekitar mereka sehingga tetap memiliki sumber energi ketika menghadapi situasi darurat,” kata Arya.

Mitigasi risiko

Menurut dia, pendekatan tersebut bertujuan membangun ketahanan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana maupun keterisolasian.

Salah satu contoh penerapan program tersebut berada di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Wilayah yang sebelumnya belum terjangkau jaringan listrik kini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi utama.

Ketersediaan listrik tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dimanfaatkan nelayan untuk mengoperasikan mesin pendingin hasil tangkapan sehingga kualitas ikan dapat dipertahankan lebih lama. Di wilayah yang sama, masyarakat juga mulai memanfaatkan sistem peringatan dini banjir rob berbasis Internet of Things (IoT).

Selain mendukung akses energi, Pertamina menyebut sejumlah desa binaan juga memanfaatkan pasokan energi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pengelolaan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Arya menambahkan bahwa pengalaman menangani berbagai bencana juga mendorong perusahaan memanfaatkan kemampuan teknis yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk penyediaan air bersih.

Dengan keahlian yang selama ini digunakan dalam kegiatan eksplorasi migas, tim teknis Pertamina melakukan pemboran air di sejumlah wilayah terdampak bencana. Menurut Arya, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara memanfaatkan kompetensi perusahaan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat.

Baginya, ketahanan energi tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan bakar atau listrik, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk tetap bertahan ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.

Melalui pendekatan itu, keberlanjutan dipandang bukan sekadar upaya mengurangi emisi, melainkan membangun komunitas yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai risiko di masa depan.

Sumber : https://lestari.kompas.com/read/2026/07/24/144807486/ini-upaya-pertamina-membangun-desa-mandiri-energi

Mana lebih penting: Bertanya atau menjawab?

Mana lebih penting: Bertanya atau menjawab?

Jakarta (ANTARA) – “Silakan, siapa yang bisa menjawab?” Kalimat itu mungkin merupakan pertanyaan yang paling sering terdengar di ruang-ruang kelas. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, peserta didik dibiasakan untuk menjawab pertanyaan pendidik.

Ujian pun hampir selalu mengukur kemampuan menjawab. Semakin banyak jawaban yang benar, semakin tinggi nilai yang diperoleh. Sebaliknya, sangat jarang pendidik bertanya, “Siapa yang dapat mengajukan pertanyaan yang paling baik hari ini?”

Hampir semua lompatan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan justru diawali oleh satu pertanyaan yang baik, bukan oleh satu jawaban.

Isaac Newton tidak memulai teorinya dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan mengapa apel jatuh ke bawah. Charles Darwin bertanya mengapa makhluk hidup memiliki keragaman yang begitu besar. Menurut Albert Einstein, merumuskan satu masalah sering kali lebih penting daripada menemukan solusinya.

Pengetahuan berkembang karena manusia bertanya, bukan karena manusia berhenti bertanya.

Ironisnya, pendidikan kita masih lebih banyak memberi penghargaan kepada jawaban daripada pertanyaan. Selama berabad-abad, pendekatan itu mungkin sudah memadai.

Ketika buku sulit diperoleh dan pendidik menjadi sumber utama pengetahuan, kemampuan menjawab memang menjadi indikator keberhasilan belajar. Peserta didik perlu menguasai sebanyak mungkin pengetahuan yang dimiliki pendidiknya.

Internet kemudian mengubah dunia. Informasi tidak lagi langka. Hampir semua jawaban dapat ditemukan melalui mesin pencari. Pendidikan pun mulai bergeser. Hal yang penting bukan lagi menghafal, melainkan mengetahui bagaimana mencari informasi.

Kini, kecerdasan artifisial (AI) kembali mengubah lanskap pendidikan secara lebih mendasar. AI tidak hanya membantu mencari informasi, tetapi juga menghasilkan jawaban. Dalam hitungan detik, AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan dengan bahasa yang runtut, lengkap, dan meyakinkan.

Jika demikian, masihkah kemampuan menjawab menjadi ukuran utama kecerdasan? Pertanyaan inilah yang perlu dijawab kembali oleh dunia pendidikan.

Di era AI, jawaban menjadi semakin murah. Hampir semua orang dapat memperolehnya kapan saja. Hal yang justru semakin mahal adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat dan menilai apakah jawaban yang diterima benar atau tidak.

AI dapat menghasilkan jawaban yang sangat meyakinkan, tetapi tidak selalu benar. AI dapat menciptakan rujukan yang tidak pernah ada, mengutip penelitian yang keliru, atau menyusun argumentasi yang tampak logis tetapi sesungguhnya lemah.

Oleh karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar memperoleh jawaban, melainkan memeriksa kebenaran jawaban. Pendidikan perlu melakukan perubahan paradigma.

Sekolah tidak cukup mengajarkan peserta didik bagaimana menjawab. Sekolah juga harus mengajarkan bagaimana bertanya.

Pertanyaan yang baik lahir dari rasa ingin tahu, keraguan yang sehat, kemampuan mengamati, dan keberanian mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar. Semua penemuan ilmiah berawal dari kebiasaan seperti itu. Sayangnya, budaya bertanya belum tumbuh kuat di banyak ruang kelas kita.

Tidak sedikit peserta didik yang memilih diam karena takut pertanyaannya dianggap bodoh. Sebaliknya, pendidik sering merasa berhasil apabila mampu menjelaskan semua materi tanpa menyisakan pertanyaan. Padahal, kelas yang baik bukanlah kelas yang dipenuhi jawaban, melainkan kelas yang dipenuhi pertanyaan bermakna.

Pertanyaan memaksa peserta didik berpikir. Pertanyaan mendorong mereka mencari bukti. Pertanyaan mengajak mereka membandingkan berbagai sudut pandang. Pertanyaan melatih mereka menyadari bahwa satu persoalan sering kali memiliki lebih dari satu kemungkinan jawaban.

Pertanyaan yang baik membentuk kerendahan hati intelektual. Orang yang terbiasa bertanya tidak mudah merasa paling benar. Ia selalu membuka ruang bagi kemungkinan bahwa pemahamannya masih belum lengkap. Sebaliknya, orang yang hanya terbiasa menjawab sering kali merasa telah selesai belajar.

Di era media sosial, kemampuan bertanya menjadi semakin penting. Banyak pertengkaran di ruang digital sebenarnya berawal dari kegagalan mengajukan pertanyaan sederhana: Benarkah informasi ini? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah ada penjelasan lain? Mungkinkah informasi ini telah dipotong dari konteksnya?

Karena pertanyaan-pertanyaan itu tidak diajukan, orang lebih cepat bereaksi daripada memeriksa. Emosi mendahului penalaran. Akibatnya, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya.

Dalam konteks inilah arah kebijakan Pembelajaran Mendalam menemukan relevansinya. Pembelajaran yang mendalam tidak mungkin terjadi apabila peserta didik hanya menerima informasi apa adanya. Mereka harus memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan. Ketiga proses itu selalu diawali oleh pertanyaan yang baik.

Oleh karena itu, salah satu tugas penting pendidik pada abad ke-21 bukan lagi menjadi orang yang memiliki semua jawaban, melainkan menjadi orang yang mampu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna.

Pendidik tidak kehilangan perannya karena hadirnya AI. Justru perannya menjadi semakin penting. AI dapat memberikan jawaban, tetapi AI tidak dapat menggantikan guru dalam membimbing peserta didik membangun rasa ingin tahu, berpikir kritis, berdialog secara sehat, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Barangkali di sinilah letak perubahan terbesar pendidikan pada abad ini.

Selama ini kita lebih banyak berbicara tentang transfer pengetahuan. Kini, pendidikan harus bergerak menuju validasi pengetahuan. Peserta didik tidak cukup mengetahui sesuatu; mereka harus mampu menilai apakah sesuatu itu layak dipercaya.

Konsekuensinya, cara pendidik mengajar pun perlu berubah. Keberhasilan pembelajaran tidak lagi cukup diukur dari banyaknya jawaban benar yang diberikan peserta didik, tetapi juga dari mutu pertanyaan yang mampu mereka ajukan.

Pendidik perlu mulai memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, meragukan, menguji, dan mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban. Kelas yang hidup bukanlah kelas yang sunyi karena semua siswa mendengarkan, melainkan kelas yang dipenuhi pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu.

Perubahan itu juga harus tercermin dalam asesmen. Selama ini sebagian besar penilaian mengukur kemampuan memilih atau memberikan jawaban yang benar. Ke depan, asesmen perlu semakin banyak mengukur kemampuan menyusun pertanyaan yang bermakna, mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, membedakan fakta, opini, dan interpretasi, serta menjelaskan mengapa suatu jawaban dapat dipercaya atau justru harus diragukan.

Kemampuan seperti inilah yang akan menentukan keberhasilan seseorang hidup di tengah banjir informasi dan pesatnya perkembangan AI.

Pertanyaan dalam judul tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan bertanya dan menjawab. Keduanya sama-sama penting. Namun, urutannya tidak boleh terbalik. Jawaban yang baik selalu lahir dari pertanyaan yang baik.

Di era kecerdasan artifisial, ketika hampir semua jawaban dapat dihasilkan oleh mesin dalam hitungan detik, pendidikan harus semakin menghargai mereka yang mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa bukti dengan jujur, dan mengubah pendapatnya ketika kebenaran menunjukkan arah yang berbeda. Mungkin itulah ciri manusia terdidik pada abad 21.

*) Ali Saukah, Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur dan anggota Dewan Pendidikan Nasional

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5663987/mana-lebih-penting-bertanya-atau-menjawab

Pentingnya hadirkan ekosistem kreatif bebas narkoba bagi generasi muda

Pentingnya hadirkan ekosistem kreatif bebas narkoba bagi generasi muda

Jakarta (ANTARA) – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya menghadirkan ekosistem industri kreatif yang aman dan bebas dari narkoba bagi generasi muda.

“Penyediaan wadah ekspresi yang positif dan produktif sangat penting bagi para pemuda agar mereka terhindar dari bahaya penyalahgunaan narkotika,” kata Riefky dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 di Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/7), Riefky menyoroti perkembangan ekosistem kreatif menjadi sangat krusial, mengingat ekonomi kreatif kini berperan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang efektif membentengi serta menyalurkan potensi generasi muda.

“Ekonomi kreatif menawarkan jalan bagi anak muda untuk membuktikan diri serta meraih kesuksesan melalui bakat dan karya nyata. Dengan iklim berkarya yang sehat, kita menjauhkan mereka dari jerat bahaya narkotika,” kata Riefky.

Ia menambahkan kehadirannya merupakan tindak lanjut pertemuan dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 9 Juni 2026 guna memperluas edukasi dan mitigasi risiko narkotika, sekaligus menegaskan komitmen sektor ekonomi kreatif dalam melindungi generasi muda.

Kementerian Ekonomi Kreatif dan BNN berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkotika melalui riset, penguatan SDM, sosialisasi di Creative Hub, pengembangan konten edukatif, serta kewirausahaan bagi generasi muda pada tujuh subsektor prioritas ekonomi kreatif.

Pelibatan generasi muda dinilai menjadi kunci karena Generasi Z dan Milenial mendominasi 63 persen tenaga kerja sektor kreatif. Melalui ruang berkarya yang produktif, ekonomi kreatif diharapkan mampu membentengi mereka dari penyalahgunaan narkotika.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menekankan bahwa pemberantasan narkoba merupakan komitmen strategis nasional dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Pemerintah akan terus melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan zat terlarang, termasuk dengan penguatan peran BNN, pencegahan dan deteksi dini serta berkolaborasi lintas kementerian dalam menghadapi perkembangan modus kejahatan narkotika dan kemunculan jenis narkotika baru (NPS).

“Saya ulangi, pemberantasan narkoba adalah syarat mutlak untuk mewujudkan Indonesia Emas Tahun 2045, bentuk komitmen politik dan strategis nasional yang tegas,” ujar Djamari.

Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto turut menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan pemberantasan narkotika tidak hanya sebatas penindakan hukum, tetapi juga kerja sama dalam membangun ketahanan diri generasi muda agar terhindar dari jerat narkoba sejak usia dini.

“Melalui kolaborasi lintas sektor, kita dapat memutus akar masalah sosial ekonomi sekaligus menyediakan pilihan kehidupan yang produktif dan bernilai bagi masa depan anak bangsa,” tambah Suyudi.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5663924/pentingnya-hadirkan-ekosistem-kreatif-bebas-narkoba-bagi-generasi-muda

3 Orang Istimewa Tak Butuh Paspor untuk Keliling Dunia, Siapa Saja?

3 Orang Istimewa Tak Butuh Paspor untuk Keliling Dunia, Siapa Saja?

Jakarta, CNN Indonesia — Kehilangan paspor, menunggu berminggu-minggu untuk proses perpanjangan, atau tertahan di pemeriksaan imigrasi karena masa berlaku dokumen kurang dari enam bulan adalah masalah umum yang kerap dialami para pelancong dunia. Namun, aturan tersebut tidak berlaku bagi tiga orang di planet ini.
Tiga sosok istimewa ini dapat terbang ke mana saja di seluruh belahan dunia tanpa pernah harus menunjukkan paspor di pintu imigrasi. Lantas, siapakah mereka dan mengapa mereka mendapatkan hak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain?

Yang pertama, Raja Inggris yang bertakhta saat ini, Raja Charles III, tidak pernah membawa paspor saat bepergian ke luar negeri. Hal ini bukan semata-mata karena perlakuan khusus kerajaan, melainkan karena prinsip dasar dari sistem pembuatan paspor Inggris itu sendiri.

Melansir Flight Delayed, setiap paspor Inggris diterbitkan atas nama monarki yang bertakhta. Pada sampul bagian dalam paspor Inggris, terdapat kalimat permohonan resmi atas nama “His Britannic Majesty’s Secretary of State” yang meminta agar pemegang paspor diizinkan melintas secara bebas tanpa hambatan.

Karena Raja adalah otoritas tertinggi yang menerbitkan dokumen tersebut, rasanya tidak logis jika sang Raja harus memegang dokumen penerbitan atas namanya sendiri.

Aturan ini bukan hal baru. Mendiang Ratu Elizabeth II juga tidak pernah memiliki paspor sepanjang hidupnya, meskipun telah mengunjungi lebih dari 100 negara selama 70 tahun masa pemerintahannya.

Namun, terdapat dua catatan penting terkait aturan ini: Keistimewaan ini hanya berlaku untuk Monarki yang Bertakhta. Ratu Camilla, Pangeran William, Kate Middleton, dan seluruh anggota keluarga kerajaan lainnya tetap wajib membawa paspor saat bepergian (meskipun yang mereka gunakan adalah paspor diplomatik).

Aturan logika yang sama berlaku pada Surat Izin Mengemudi (SIM). Raja secara teknis tidak memerlukan SIM Inggris karena dokumen lisensi tersebut juga diterbitkan atas namanya.

Dalam praktiknya, saat Raja melakukan kunjungan kenegaraan, sekretaris pribadinya akan berkoordinasi secara diplomatik dan memberikan pemberitahuan resmi kepada negara tujuan tanpa perlu membawa paspor fisik.

Kaisar Jepang, Naruhito, berada di posisi yang sama. Berdasarkan arahan Kementerian Luar Negeri Jepang yang ditetapkan sejak 10 Mei 1971, otoritas setempat memutuskan bahwa tidak sepantasnya seorang Kaisar memegang paspor biasa atau melewati prosedur imigrasi dan visa seperti warga sipil pada umumnya.

Sebagai kepala negara tertinggi Jepang, Kaisar dianggap berada di atas proses administratif imigrasi. Saat Kaisar melakukan kunjungan internasional, Pemerintah Jepang akan memberikan pemberitahuan resmi terlebih dahulu kepada negara penerima, dan dokumen khusus kementerian akan diserahkan pada saat kedatangan sebagai pengganti paspor.

Arahan resmi tahun 1971 dari Kementerian Luar Negeri Jepang tersebut juga berlaku bagi sang Permaisuri, yang saat ini dijabat oleh Permaisuri Masako.

Sama seperti suaminya, Permaisuri Masako dapat melakukan perjalanan internasional tanpa paspor dan mengandalkan koordinasi diplomatik antar-pemerintah. Sama halnya dengan Inggris, pengecualian ini berorientasi sangat sempit. Putra Mahkota, Putri Mahkota, serta anggota keluarga Kekaisaran Jepang lainnya tetap diwajibkan membawa paspor diplomatik saat bepergian ke luar negeri.

Benang merah dari keistimewaan ini terletak pada kedaulatan, bukan sekadar kepopuleran semata.

Paspor pada dasarnya adalah dokumen permohonan resmi dari suatu negara kepada negara lain yang dibuat atas nama kepala negara atau otoritas penerbit negara tersebut. Ketika seseorang adalah pemegang otoritas tertinggi itu sendiri, keberadaan dokumen paspor secara logika menjadi tidak diperlukan.

Oleh karena itu, pengecualian ini secara ketat hanya berlaku bagi monarki yang bertakhta dan kepala negara dalam kerangka hukum tertentu-tidak berlaku bagi perdana menteri, presiden dalam sistem republik, ataupun anggota keluarga kerajaan lainnya.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260723154349-269-1384154/3-orang-istimewa-tak-butuh-paspor-untuk-keliling-dunia-siapa-saja

5 Trik Baca Buku tanpa Menghabiskan Banyak Waktu dari Tokoh Sukses

5 Trik Baca Buku tanpa Menghabiskan Banyak Waktu dari Tokoh Sukses

“Buku adalah jendela dunia.” Ini pepatah lama yang menyadarkan kita betapa pentingnya membaca buku. Ya, berbagai informasi dan ilmu memang bisa didapatkan darinya. Itulah mengapa, tak sedikit orang sukses seperti Bill Gates, Ellon Musk, Tony Robbins, Warren Buffet, dan lainnya menyempatkan waktu untuk membaca buku setiap harinya.

Tapi, apakah kamu penasaran bagaimana caranya orang sukses tetap bisa menyediakan waktunya untuk membaca buku sedangkan mereka dikenal super sibuk? Eits, jangan salah, ternyata mereka memiliki metode khusus untuk membaca buku yang tak menghabiskan banyak waktu, lho. Untuk lebih jelasnya, yuk intip di bawah ini.

1. Hanya membaca buku yang diperlukan

Jangan hanya membaca buku yang sedang tren dan ternyata informasinya belum kamu butuhkan. Karena tak jarang, buku yang tren ya hanya sekedar mengikuti euforia yang ada.

Tak sedikit buku yang direkomendasikan orang sukses adalah buku yang tidak diketahui oleh banyak orang, tapi memiliki esensi yang penting untuk kamu, lho. Jadi, tak ada salahnya membaca dari rekomendasi mereka.

Kalau ternyata buku tersebut sulit dimengerti, coba cari buku lain yang membahas topik yang sama tapi mudah dimengerti. Ketika kamu sudah memahaminya, coba baca kembali buku yang direkomendasikan itu.

2. Memperhatikan hal kecil yang ada dalam buku

Tak sedikit orang yang membaca buku, langsung melihat bab pertama tanpa mencari tahu kisi-kisinya. Alhasil, kamu jadi perlu mencerna setiap bab lebih lama.

Sebaiknya kamu perlu pratinjau sebelum lebih serius membaca sebuah buku. Untuk melakukannya, kamu perlu membaca kata pengantar dan pendahuluan, melihat daftar isi, melihat kisi-kisi setiap bab dan poin penting di setiap bab (beberapa buku nonfiksi mempunyai hal ini), memindai indeks, baca deskripsi buku, catat hal yang ingin kamu dapatkan melalui buku tersebut, dan baca setiap bagian buku yang perlu dieksplorasi lebih lanjut.

Meski terkesan merepotkan di awal, tapi dengan beberapa tindakan di atas, kamu bisa meningkatkan kecepatan dan efektivitas dalam membaca. Tak hanya itu, pratinjau ini juga membuatmu bisa menentukan lanjut membaca atau pending.

3. Fokus saat membaca

Mengikuti waktu yang kamu miliki, pasang timer agar kamu bisa fokus membaca buku. Tidak masalah kamu menyetel waktu 30 menit atau dua jam, yang terpenting kamu fokus untuk membaca saat timer berjalan.

Agar hasilnya maksimal, jauhkan gadget atau hal-hal yang menganggu konsentrasimu ketika membaca. Kalau perlu, kamu juga bisa menyalakan musik yang menenangkan agar kamu semakin fokus seperti musik klasik, musik meditasi, dan musik menenangkan lainnya.

4. Tidak terpaku pada buku konvensional

Semakin berkembangnya teknologi, kemudahan dalam membaca buku pun ikut berkembang. Kini alasan tidak membaca buku karena tidak membawa buku saat kamu di luar rumah sangat ketinggalan zaman.

Kamu bisa menggunakan waktu luang ketika ada di luar rumah dengan membaca buku elektronik (e-book) yang ada di Google Books, Kindle Amazon, dan aplikasi lainnya. Masih beralasan tidak ada waktu, kamu bisa bekerja sambil mendengarkan bacaan buku melalui audio books yang banyak disediakan Android atau iOS.

5. Mencatat isi buku di setiap bab

Malas mencatat setiap bab yang sudah kamu baca dapat membuatmu berulang kali membaca buku yang sama karena lupa apa informasi yang kamu dapatkan dari buku itu. Menulis catatan hingga mencoret-coret tulisan yang dirasa penting di setiap bab bisa membuatmu ingat apa yang sudah dibaca.

Tak harus 100 persen meniru tulisan dalam buku tersebut. Kamu bisa membuat catatan dengan kata-katamu sendiri sesuai dengan pemahamanmu, kok. Kemudian, baca ulang setiap catatan di setiap bab dan cari benang merahnya. Pilih ide-ide besar yang menarik di kepalamu dan ingat kembali apa saja yang sudah kamu baca serta pelajari.

Mulailah menerapkan beberapa trik tersebut satu per satu sampai kamu terbiasa. Tanpa terasa, cara membaca bukumu jadi lebih cepat, mudah dipahami, dan efektif. Semoga cara ini berhasil, ya!

Sumber : https://jogja.idntimes.com/news/jogja/5-trik-baca-buku-tanpa-menghabiskan-banyak-waktu-dari-tokoh-sukses-01-6cnpl-jpfhbj

7 Ide Aktivitas saat Waktu Luang, Biar Hidup Lebih Berkualitas

7 Ide Aktivitas saat Waktu Luang, Biar Hidup Lebih Berkualitas

Punya waktu luang sering kali malah bikin bingung mau ngapain. Ujung-ujungnya, waktu habis untuk rebahan atau scroll media sosial tanpa arah. Padahal, momen ini bisa jadi kesempatan buat melakukan hal-hal yang lebih bermakna dan bermanfaat.

Dengan memilih aktivitas yang tepat, waktu luang gak cuma jadi jeda dari rutinitas, tapi juga bisa membantu kamu berkembang, baik secara skill maupun mental. Ada banyak cara sederhana yang bisa kamu coba agar waktu luang terasa lebih produktif dan menyenangkan.

1. Menghabiskan waktu bersama keluarga

Sering kali kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri. Padahal ada sosok mereka yang selalu memberikan dukungan serta doa tanpa henti dan membersamai kita hingga di posisi seperti saat ini. Cobalah gunakan waktu luangmu untuk menghabiskan waktu bersama mereka.
Tak harus berpergian ke luar kota, bercengkerama dengan keluarga juga bisa. Bila mereka ada di lokasi yang cukup jauh, sempatkan diri untuk bersua melalui telepon atau video call. Karena saat mereka tiada momen seperti inilah yang akan kita rindukan. Selagi masih ada, yuk rekatkan lagi kedekatan kamu dengan keluarga.

2. Olahraga

Mungkin kamu sampai bosan mendengarnya tapi memang begitulah faktanya bahwa mengonsumsi makanan sehat juga tetap harus diimbangi dengan berolahraga. Kebanyakan dari kita justru mencoba mengonsumsi makanan yang sehat saja tapi mengabaikan olahraga. Sesibuk apapun kita usahakan untuk tetap berolahraga, ya.

Entah hanya workout sederhana, bersepeda, jogging, atau bahkan berjalan kaki sekalipun. Jika ada waktu luang jangan hanya dihabiskan untuk rebahan coba, deh mulai juga untuk berolahraga.

3. Membaca buku

Apapun genre buku yang kamu baca pasti akan selalu ada pembelajaran atau informasi baru yang akan kamu temukan di dalamnya. Oleh sebab itu, di waktu luang, cobalah manfaatkan untuk membaca sebuah buku. Tak harus sekali waktu selesai, kok.

Kamu bisa melanjutkan lagi bila kamu memiliki waktu luang yang lain. Hal ini bisa kamu lakukan dalam upaya mencegah penyakit kepikunan juga, lho. Pilihan bentuk buku zaman sekarang juga beragam tak harus buku fisik, buku non fisik juga bisa jadi alternatif.

4. Membangun bisnis sampingan

Membangun bisnis sampingan di waktu luang? Kenapa tidak? Justru berawal dari sini pula bisa jadi pundi-pundi uangmu akan terkumpul. Sudah bukan rahasia umum lagi, ya salah satu cara agar cepat ‘kaya’ adalah dengan memiliki passive income yang berasal dari bisnis sampingan.

Wujudnya bisa beragam hal ini tentu bisa kamu sesuaikan dengan minat atau bakat kamu. Di zaman yang serba canggih seperti sekarang semuanya bisa dijadikan uang, kok.

Namun, tetap ingat bahwa semua perlu perjuangan, tekad, dan usaha yang keras untuk mencapai kesuksesan. Jangan anggap dengan memiliki bisnis sampingan kamu langsung jadi orang yang kaya raya, ya.

5. Melakukan me time

Guna meminimalisir stres kamu bisa coba untuk melakukan me time. Me time bisa punya definisi yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang merasa me time berarti rebahan sambil scroll media sosial, shopping, pergi ke salon, memasak, melukis, bermain game dan sebagainya. Hanya kamu sendiri, deh yang tahu apa me time yang paling tepat untuk mengalihkan sejenak pikiranmu dari peliknya kehidupan.

Selain mendistraksi stres, memanfaatkan waktu luang dengan me time juga berguna untuk menyegarkan kembali pikiranmu. Bukan tidak mungkin, usai me time kamu jadi menemukan ide-ide segar yang berguna bagi karier atau akademis kamu.

6. Mempelajari skill baru

Cara lain memanfaatkan waktu luang agar tak terbuang sia-sia adalah dengan mencoba untuk mempelajari skill baru. Dunia sudah sebegitu canggihnya, perkembangan internet juga sudah sedemikan pesatnya. Hal ini jauh lebih memudahkan kita untuk mengakses sesuatu atau bahkan mencoba sesuatu yang baru.

Skill baru dengan mudahnya bisa kamu pelajari lewat internet. Ada yang dibagikan secara gratis ada juga beberapa situs berbayar untuk mencoba pelatihan. Lumayan banget, kan mumpung ada waktu kenapa tidak untuk mencoba skill baru?

7. Coba memperluas networking

Entah bergabung dengan komunitas, bertemu kawan baru atau bersua lagi dengan kawan lama bila kamu memang ada waktu luang maka, sempatkanlah. Bukan tidak mungkin dari mereka jugalah akan tercipta networking baru yang bisa jadi akan membuka peluang bagimu ke depannya.

Banyak yang beranggapan semakin luas dan banyak networking kita, akan jauh lebih memudahkan kita dalam hidup. Tak melulu perkara pekerjaan, kok mana tahu dari networking ini pula kamu bertemu dengan jodohmu, kan?

Pada akhirnya, bagaimana kamu mengisi waktu luang sepenuhnya ada di tanganmu. Mau sekadar bersantai atau melakukan hal yang lebih produktif, semuanya kembali ke pilihan masing-masing.

Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, waktu luang bisa jadi peluang untuk berkembang dan menemukan hal baru yang sebelumnya belum pernah kamu coba. Jadi, jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna.