Mengapa Emas Selalu Menjadi Primadona di Dunia Investasi? Ini Penjelasan Analis dan Sejarahnya

Mengapa Emas Selalu Menjadi Primadona di Dunia Investasi? Ini Penjelasan Analis dan Sejarahnya

Kediri – Di tengah gempuran instrumen keuangan modern seperti aset kripto, saham sektor teknologi, hingga berbagai produk derivatif yang menjanjikan keuntungan kilat, ada satu instrumen klasik yang posisinya tak pernah tergoyahkan. Pertanyaan yang kemudian sering muncul di kalangan investor adalah: mengapa logam mulia bernama emas ini selalu berhasil mempertahankan mahkotanya sebagai primadona investasi lintas generasi?

Tidak sedikit investor yang beralih ke aset digital saat kondisi pasar sedang bergairah karena tergiur dengan volatilitasnya yang tinggi. Namun, ketika roda ekonomi berputar dan ketidakpastian global mulai melanda, sebagian besar dari mereka justru berbondong-bondong kembali melirik emas sebagai penyelamat modal.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat daya tarik emas begitu magis di mata para pelaku pasar?

Kelangkaan yang Menjaga Nilai Intrinsik

Faktor mendasar yang membuat emas begitu diagungkan adalah sifatnya yang tidak bisa dimanipulasi. Berbeda dengan mata uang kertas yang nilainya bisa merosot tajam saat bank sentral memutuskan untuk mencetaknya secara massal demi kebijakan stimulus ekonomi, emas memiliki keterbatasan fisik yang nyata dari alam.

Untuk mendapatkan satu troy ons emas, diperlukan proses eksplorasi geologis yang memakan waktu tahunan, belanja modal yang masif, serta operasional penambangan yang rumit. Karakteristik pasokan yang terbatas inilah yang secara otomatis menciptakan harga dasar yang kokoh di pasar global, sehingga emas terbebas dari risiko devaluasi ekstrem yang sering menimpa mata uang konvensional.

Pelindung Alami dari Gerogotan Inflasi

Banyak pakar keuangan sepakat bahwa inflasi adalah musuh tersembunyi yang perlahan tapi pasti menghancurkan daya beli uang tunai yang disimpan di dalam tabungan. Di sinilah emas mengambil peran krusialnya sebagai instrumen pelindung nilai atau inflation hedge.

Secara historis, pergerakan harga emas cenderung mengalami penyesuaian naik secara signifikan saat inflasi struktural melonjak. Emas terbukti mampu menjaga nilai kekayaan agar tetap utuh secara riil dalam jangka panjang. Daya beli emas pada ratusan tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia tidak banyak berubah jika dibandingkan dengan daya belinya di era modern saat ini.

Benteng Pertahanan Saat Terjadi Krisis

Dalam dunia pasar modal, emas memegang predikat tertinggi sebagai aset safe haven. Status ini merujuk pada kemampuan emas untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya ketika pasar saham, obligasi, dan sektor properti sedang mengalami guncangan akibat resesi atau ketegangan geopolitik.

Saat terjadi krisis finansial, insting psikologis para pengelola dana besar maupun investor ritel secara universal akan beralih dari aset yang berisiko tinggi menuju aset yang dinilai paling aman. Emas dipilih karena tidak memiliki risiko gagal bayar, tidak bergantung pada performa laporan keuangan korporasi mana pun, dan terbukti tidak bisa bangkrut.

Likuiditas Global Tanpa Batas Negara

Kelebihan lain yang membuat emas tak tertandingi oleh alternatif investasi fisik lainnya adalah tingkat likuiditasnya yang luar biasa tinggi. Pasar perdagangan logam mulia beroperasi tanpa henti secara global selama 24 jam.

Emas batangan dengan standar sertifikasi internasional diakui di belahan dunia mana pun. Pemiliknya dapat dengan mudah mengonversi aset fisik ini menjadi uang tunai dalam waktu singkat, baik melalui jaringan toko emas lokal, pegadaian, hingga bursa komoditas besar. Fleksibilitas inilah yang memberikan rasa tenang karena dana darurat dapat dicairkan kapan saja tanpa harus mengorbankan nilai aset secara drastis.

Habis Olahraga, Haruskah Keramas Pakai Sampo Setiap Hari? Ini Penjelasan Pakar dan Penelitian

Habis Olahraga, Haruskah Keramas Pakai Sampo Setiap Hari? Ini Penjelasan Pakar dan Penelitian

Kediri – Bagi banyak orang yang rutin berolahraga, terutama lari pagi, ada satu pertanyaan yang sering muncul setelah latihan selesai: apakah rambut yang basah oleh keringat harus selalu dicuci menggunakan sampo?

Tidak sedikit orang yang memilih keramas setiap hari karena merasa rambut menjadi lengket dan tidak nyaman. Namun, ada juga yang justru merasakan kulit kepala menjadi kering setelah terlalu sering menggunakan sampo.

Lalu, mana yang sebenarnya lebih baik?

Keringat Bukan Berarti Rambut Kotor

Saat berolahraga, tubuh mengeluarkan keringat sebagai mekanisme alami untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Keringat sebagian besar terdiri dari air dan elektrolit seperti natrium serta kalium.

Artinya, keringat itu sendiri bukanlah kotoran.

Masalah mulai muncul ketika keringat bercampur dengan minyak alami (sebum), debu, polusi, sel kulit mati, atau sisa produk perawatan rambut. Campuran inilah yang dapat membuat kulit kepala terasa lengket, menimbulkan bau, bahkan memicu iritasi jika dibiarkan terlalu lama.

Karena itu, membilas rambut setelah berolahraga merupakan langkah yang baik untuk membantu membersihkan sisa keringat.

Apakah Harus Menggunakan Sampo Setiap Hari?

Jawabannya adalah tidak selalu.

Menurut dermatolog Dr. Melissa Piliang dari Cleveland Clinic, frekuensi keramas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit kepala, jenis rambut, dan produksi minyak masing-masing orang. Orang yang rutin berolahraga tidak otomatis harus menggunakan sampo setiap hari.

Pendapat ini menunjukkan bahwa tidak ada aturan yang berlaku untuk semua orang. Ada orang yang memang nyaman menggunakan sampo setiap hari, tetapi ada pula yang justru mengalami kulit kepala kering jika terlalu sering keramas.

Penelitian Mendukung Pendekatan yang Seimbang

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Skin Appendage Disorders pada tahun 2021 meneliti hubungan antara frekuensi keramas dan kesehatan kulit kepala.

Peneliti menemukan bahwa terlalu jarang keramas dapat menyebabkan penumpukan minyak, sel kulit mati, dan oksidasi sebum yang berpotensi mengganggu kesehatan kulit kepala.

Namun, penelitian tersebut juga menegaskan bahwa frekuensi keramas yang ideal tidak bisa disamaratakan. Kondisi kulit kepala, jenis rambut, tingkat aktivitas, serta lingkungan tempat seseorang beraktivitas perlu menjadi pertimbangan.

Dengan kata lain, menjaga keseimbangan jauh lebih penting daripada mengikuti aturan “harus keramas setiap hari.”

Mengapa Kulit Kepala Bisa Terasa Kering?

Sampo bekerja dengan mengangkat minyak dan kotoran dari rambut maupun kulit kepala.

Masalahnya, minyak alami atau sebum juga memiliki fungsi penting sebagai pelindung kulit kepala dan menjaga kelembapan rambut.

Jika sampo digunakan terlalu sering, terutama produk dengan kandungan pembersih yang cukup kuat, sebagian orang dapat mengalami:

  • kulit kepala terasa kering;
  • rasa seperti kulit tertarik setelah keramas;
  • rambut menjadi lebih kasar;
  • rambut tampak kusam.

Kondisi ini tidak selalu terjadi pada semua orang, tetapi cukup sering dialami mereka yang memiliki kulit kepala sensitif atau rambut cenderung kering.

Kapan Cukup Membilas dengan Air?

Bagi orang yang rutin berolahraga setiap hari, membilas rambut menggunakan air bersih setelah latihan dapat menjadi pilihan yang baik, terutama jika:

  • rambut tidak menggunakan banyak produk penata rambut;
  • kulit kepala tidak terlalu berminyak;
  • tidak mengalami ketombe atau infeksi kulit kepala;
  • tidak muncul bau yang mengganggu.

Membilas rambut sambil memijat lembut kulit kepala menggunakan ujung jari juga dapat membantu menghilangkan keringat, garam, dan sebagian minyak tanpa harus selalu menggunakan sampo.

Lalu Seberapa Sering Sebaiknya Menggunakan Sampo?

Tidak ada angka yang berlaku untuk semua orang.

Sebagai panduan umum:

  • kulit kepala berminyak mungkin memerlukan keramas lebih sering;
  • kulit kepala normal umumnya cukup beberapa kali dalam seminggu;
  • rambut kering atau keriting biasanya membutuhkan frekuensi keramas yang lebih jarang.

Jika setelah keramas setiap hari kulit kepala terasa kering, sementara pola sehari menggunakan sampo dan sehari hanya membilas rambut membuat kondisi lebih nyaman, maka pola tersebut dapat menjadi pilihan yang sesuai selama kulit kepala tetap bersih dan tidak mengalami masalah seperti gatal berlebihan atau ketombe.

Dengarkan Kondisi Kulit Kepala Anda

Sering kali kita mencari jawaban yang sama untuk semua orang. Padahal, kesehatan rambut dan kulit kepala sangat dipengaruhi oleh kondisi masing-masing individu.

Tubuh biasanya memberikan sinyal ketika sesuatu tidak sesuai. Jika kulit kepala terasa kering, gatal, atau tidak nyaman setelah terlalu sering menggunakan sampo, bisa jadi itu pertanda bahwa frekuensi keramas perlu disesuaikan.

Sebaliknya, jika kulit kepala mulai berminyak, berbau, atau muncul ketombe karena terlalu lama tidak menggunakan sampo, mungkin sudah waktunya untuk membersihkannya dengan sampo.

Kesimpulan

Rambut yang basah oleh keringat setelah berolahraga tidak selalu harus dicuci menggunakan sampo setiap hari. Membilas rambut dengan air bersih dapat membantu menghilangkan keringat, sedangkan penggunaan sampo sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit kepala dan jenis rambut.

Pendapat para dermatolog serta hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada aturan yang benar untuk semua orang. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara kebersihan dan kelembapan alami kulit kepala.

Jadi, daripada terpaku pada jadwal keramas tertentu, lebih baik perhatikan bagaimana kulit kepala Anda bereaksi. Kulit kepala yang sehat adalah indikator terbaik bahwa rutinitas perawatan yang Anda lakukan sudah sesuai.

Bisnis Untung, Tapi Rekening Kosong. Kok Bisa?

Bisnis Untung, Tapi Rekening Kosong. Kok Bisa?

“Omzet bulan ini naik.”

“Penjualan meningkat.”

“Bahkan laporan laba rugi menunjukkan perusahaan memperoleh keuntungan.”

Namun ketika membuka mobile banking, saldonya justru hampir habis.

Kalau Anda pernah mengalami kondisi seperti ini, jangan langsung berpikir bahwa ada kesalahan pada laporan keuangan. Justru kondisi tersebut sangat sering terjadi di dunia bisnis.

Banyak pemilik usaha merasa bingung karena perusahaan terlihat untung, tetapi uang tunai yang tersedia sangat sedikit. Bahkan ada yang sampai kesulitan membayar gaji karyawan, membeli stok barang, atau melunasi tagihan supplier.

Lalu sebenarnya ke mana perginya keuntungan tersebut?

Jawabannya adalah karena laba tidak selalu sama dengan kas.

Inilah salah satu konsep yang paling penting dalam akuntansi sekaligus paling sering disalahpahami oleh para pelaku usaha.

Laba Tidak Selalu Berarti Uang Sudah Diterima

Banyak orang menganggap bahwa setiap penjualan otomatis akan menambah saldo rekening perusahaan.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Misalnya Anda menjual produk kepada pelanggan senilai Rp50 juta.

Barang sudah dikirim.

Pelanggan sudah menerima barang.

Namun pelanggan baru akan membayar 30 hari kemudian.

Dari sudut pandang akuntansi, perusahaan sudah boleh mengakui penjualan tersebut sebagai pendapatan. Artinya, laba perusahaan mulai bertambah.

Namun dari sisi kas, uang tersebut belum masuk ke rekening perusahaan.

Jadi perusahaan bisa saja terlihat untung, padahal belum menerima uang sepeser pun dari transaksi tersebut.

Keuntungan Bisa Berubah Menjadi Piutang

Pada saat penjualan dilakukan secara tempo, keuntungan yang muncul belum berubah menjadi kas.

Sebaliknya, keuntungan tersebut berubah menjadi piutang usaha.

Artinya perusahaan memiliki hak untuk menerima pembayaran dari pelanggan pada waktu yang telah disepakati.

Selama pelanggan belum melakukan pembayaran, saldo rekening perusahaan tidak akan bertambah.

Inilah alasan mengapa laba yang besar belum tentu diikuti oleh kas yang besar.

Contoh yang Mudah Dipahami

Bayangkan Anda memiliki toko material bangunan.

Hari ini Anda menjual semen dan besi kepada kontraktor dengan nilai Rp200 juta.

Karena kontraktor merupakan pelanggan lama, Anda memberikan tempo pembayaran selama 60 hari.

Secara akuntansi:

  • Penjualan bertambah.
  • Laba mulai dihitung.
  • Piutang usaha bertambah.

Tetapi:

  • Rekening bank tetap belum bertambah.

Kalau selama dua bulan tersebut Anda harus membayar gaji karyawan, listrik, sewa gudang, dan membeli stok barang baru, maka seluruh pembayaran tersebut tetap harus menggunakan uang yang ada di kas perusahaan.

Akibatnya, perusahaan terlihat untung tetapi uang tunainya semakin sedikit.

Mengapa Cash Flow Sangat Penting?

Di sinilah pentingnya memahami laporan arus kas (cash flow).

Laporan laba rugi hanya menjelaskan apakah perusahaan memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian.

Sedangkan laporan arus kas menjelaskan apakah perusahaan benar-benar memiliki uang untuk menjalankan operasional bisnis.

Banyak perusahaan yang sebenarnya memperoleh laba, tetapi mengalami kesulitan membayar kewajiban karena arus kasnya tidak sehat.

Sebaliknya, ada juga perusahaan yang sedang mengalami kerugian, tetapi masih memiliki kas yang cukup karena mendapatkan suntikan modal dari investor atau pinjaman dari bank.

Artinya, kondisi laba dan kondisi kas bisa saja berbeda.

Ke Mana Perginya Uang Perusahaan?

Kalau bukan hilang, lalu ke mana uang perusahaan?

Jawabannya bisa bermacam-macam.

Sebagian masih menjadi piutang karena pelanggan belum membayar.

Sebagian digunakan untuk membeli persediaan.

Sebagian dipakai membeli mesin atau kendaraan operasional.

Sebagian lagi digunakan untuk membayar utang, gaji, pajak, sewa, atau biaya operasional lainnya.

Dengan kata lain, keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak selalu mengendap dalam bentuk uang tunai di rekening.

Jangan Hanya Melihat Laporan Laba Rugi

Kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah hanya fokus pada satu laporan keuangan, yaitu laporan laba rugi.

Padahal laporan keuangan terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan.

Laporan laba rugi menunjukkan apakah bisnis menghasilkan keuntungan.

Laporan posisi keuangan (neraca) menunjukkan aset, utang, dan modal yang dimiliki perusahaan.

Sedangkan laporan arus kas menunjukkan pergerakan uang masuk dan uang keluar.

Ketiga laporan tersebut harus dibaca secara bersamaan agar kondisi keuangan perusahaan dapat dipahami secara utuh.

Bagaimana Cara Menjaga Agar Kas Tetap Sehat?

Salah satu cara yang paling sederhana adalah mengelola piutang dengan baik.

Semakin lama pelanggan menunda pembayaran, semakin lama pula perusahaan harus menunggu uang masuk ke rekening.

Selain itu, perusahaan juga perlu mengendalikan pengeluaran, merencanakan pembelian aset dengan matang, dan memastikan bahwa kas yang tersedia cukup untuk membiayai operasional sehari-hari.

Keuntungan yang besar memang penting, tetapi kemampuan perusahaan menjaga arus kas jauh lebih menentukan apakah bisnis dapat terus berjalan.

Kesimpulan

Banyak orang mengira bahwa perusahaan yang untung pasti memiliki banyak uang.

Padahal dalam praktiknya tidak selalu demikian.

Perusahaan dapat memperoleh laba tanpa langsung menerima uang karena sebagian penjualan masih berbentuk piutang. Di sisi lain, perusahaan tetap harus membayar berbagai kebutuhan operasional menggunakan kas yang tersedia.

Itulah sebabnya seorang pemilik bisnis tidak cukup hanya memahami laporan laba rugi. Memahami laporan arus kas juga sama pentingnya agar dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.

Ingatlah bahwa laba menunjukkan seberapa baik bisnis menghasilkan keuntungan, sedangkan arus kas menunjukkan apakah bisnis memiliki cukup uang untuk tetap beroperasi. Memahami perbedaan keduanya akan membantu Anda mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola usaha.

Apakah COD Termasuk Piutang Usaha? Banyak Pelaku Usaha Masih Salah Memahaminya

Apakah COD Termasuk Piutang Usaha? Banyak Pelaku Usaha Masih Salah Memahaminya

Kediri – Pernahkah Anda berpikir seperti ini?

“Barang sudah saya kirim ke pembeli, tetapi uangnya belum saya terima. Berarti itu sudah menjadi piutang usaha, kan?”

Kalau Anda pernah memiliki pemikiran tersebut, Anda tidak sendirian. Bahkan banyak pelaku UMKM, pemilik toko online, hingga pengusaha yang baru belajar akuntansi memiliki pertanyaan yang sama.

Sekilas logika tersebut memang terdengar benar. Barang sudah keluar dari gudang, pembeli sudah melakukan pemesanan, dan tinggal menunggu pembayaran. Bukankah itu berarti penjual memiliki hak untuk menerima uang?

Sayangnya, dalam dunia akuntansi jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan piutang usaha dan kapan sebuah penjualan sebenarnya dianggap telah terjadi.

Apa Itu Piutang Usaha?

Secara sederhana, piutang usaha (Accounts Receivable) adalah hak perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan atas penjualan barang atau jasa yang telah diakui.

Perhatikan kalimat “telah diakui”.

Kalimat inilah yang sering terlewat oleh banyak pelaku usaha.

Banyak orang menganggap bahwa selama uang belum diterima, otomatis semuanya menjadi piutang. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Piutang hanya muncul apabila penjualan tersebut memang sudah memenuhi syarat untuk diakui menurut prinsip akuntansi.

Mengapa Banyak Orang Menganggap COD Sama dengan Piutang?

Mari kita lihat dari sudut pandang seorang penjual.

Misalnya Anda memiliki toko online.

Suatu hari ada pelanggan membeli sebuah produk dengan metode Cash on Delivery (COD).

Anda kemudian:

  • Mengemas barang.
  • Menyerahkan barang kepada kurir.
  • Barang sedang dalam perjalanan menuju pembeli.

Pada saat itu biasanya muncul pertanyaan:

“Barang sudah saya kirim. Saya tinggal menunggu uangnya. Bukankah itu berarti saya memiliki piutang?”

Logika tersebut memang masuk akal.

Karena secara bisnis Anda memang berharap menerima pembayaran.

Namun dalam akuntansi, kita tidak hanya melihat apakah uang sudah diterima atau belum. Kita juga harus melihat apakah penjualan tersebut sudah benar-benar terjadi.

Barang Sudah Dikirim Belum Tentu Sudah Menjadi Penjualan

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami.

Banyak orang menganggap bahwa ketika barang sudah keluar dari gudang, maka penjualan otomatis telah terjadi.

Padahal belum tentu.

Dalam akuntansi modern, pengakuan penjualan tidak hanya ditentukan oleh perpindahan fisik barang, tetapi juga oleh kapan pengendalian atas barang tersebut berpindah kepada pelanggan.

Mengapa demikian?

Karena selama barang masih dalam perjalanan, masih ada berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Misalnya:

  • Barang hilang selama pengiriman.
  • Pembeli menolak menerima barang.
  • Barang mengalami kerusakan di perjalanan.
  • Transaksi dibatalkan.

Apabila kondisi-kondisi tersebut masih mungkin terjadi, maka dalam banyak kasus penjualan belum dapat diakui.

Artinya, belum tentu muncul piutang usaha.

Lalu Kapan Piutang Usaha Muncul?

Piutang usaha biasanya muncul ketika dua kondisi telah terpenuhi.

Pertama, penjualan telah diakui.

Kedua, pelanggan belum melakukan pembayaran.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan menjual produk kepada pelanggan dengan syarat pembayaran 30 hari.

Barang telah diterima pelanggan.

Penjualan telah diakui.

Namun pelanggan baru akan membayar satu bulan kemudian.

Dalam kondisi inilah perusahaan mencatat piutang usaha.

Artinya, perusahaan memang memiliki hak untuk menagih pembayaran kepada pelanggan.

Bagaimana dengan Transaksi COD?

Sekarang kita kembali ke pertanyaan utama.

Apakah transaksi COD termasuk piutang usaha?

Jawabannya adalah:

Tidak selalu.

Mengapa?

Karena proses COD memiliki beberapa tahapan.

Pelanggan melakukan pemesanan.

↓

Penjual mengirim barang.

↓

Kurir mengantarkan barang.

↓

Pembeli menerima barang.

↓

Pembeli melakukan pembayaran kepada kurir.

↓

Dana diteruskan kepada penjual.

Pada setiap tahapan tersebut, perlakuan akuntansinya bisa berbeda tergantung pada kapan penjualan diakui.

Itulah sebabnya tidak semua barang yang sedang dikirim otomatis menjadi piutang usaha.

Jangan Hanya Melihat Apakah Uangnya Sudah Masuk

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan pelaku usaha adalah hanya melihat satu hal.

“Uangnya sudah masuk atau belum?”

Padahal akuntansi melihat lebih banyak dari itu.

Akuntansi melihat:

  • Apakah penjualan sudah terjadi?
  • Apakah hak atas barang sudah berpindah?
  • Apakah perusahaan sudah memiliki hak untuk menagih?
  • Apakah pelanggan masih memiliki hak untuk membatalkan transaksi?

Semua pertanyaan tersebut akan menentukan apakah transaksi tersebut sudah menjadi penjualan, piutang usaha, atau bahkan belum bisa dicatat sama sekali.

Hubungan COD dengan Laporan Keuangan

Transaksi COD juga menunjukkan bahwa laporan keuangan saling berhubungan.

Apabila penjualan telah diakui tetapi pelanggan belum membayar, maka akan muncul piutang usaha pada laporan posisi keuangan (neraca).

Ketika pelanggan akhirnya melakukan pembayaran, piutang akan berkurang dan kas akan bertambah.

Yang menarik adalah, laba perusahaan tidak bertambah lagi ketika uang diterima.

Mengapa?

Karena laba sudah diakui pada saat penjualan terjadi.

Inilah alasan mengapa perusahaan bisa saja memiliki laba yang besar, tetapi kas yang dimiliki belum tentu banyak.

Kesimpulan

Apakah COD termasuk piutang usaha?

Jawabannya adalah tidak selalu.

Barang yang sudah dikirim belum tentu langsung menjadi piutang usaha. Semua bergantung pada apakah penjualan tersebut sudah memenuhi syarat untuk diakui menurut prinsip akuntansi.

Bagi pelaku usaha, memahami perbedaan antara penjualan, piutang usaha, dan arus kas merupakan hal yang sangat penting. Ketiga hal tersebut saling berkaitan, tetapi bukan berarti memiliki arti yang sama.

Semakin baik Anda memahami hubungan ketiganya, semakin mudah pula Anda membaca kondisi keuangan bisnis secara benar dan mengambil keputusan yang lebih tepat.

Jangan Anggap Remeh Hipertensi, Dampaknya Bisa Sangat Berbahaya

Jangan Anggap Remeh Hipertensi, Dampaknya Bisa Sangat Berbahaya

Liputan6.com, Jakarta – Komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Temon meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) dalam umur 59 tahun. Temon meninggal sakit apa pun menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari di Google. Sebelum mengembuskan napas terakhir, kondisi Temon dilaporkan mendadak memburuk. Dia mengalami nyeri hebat di dada sebelah kiri hingga dilarikan ke rumah sakit. Dokter menyatakan penyebab kematiannya adalah serangan jantung.

Berdasarkan keterangan keluarga, Temon juga memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Melansir The Harley Street Clinic, hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri berada di atas batas normal. Tekanan ini muncul saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Jika tekanan darah terus-menerus tinggi, pembuluh darah dan organ vital dapat mengalami kerusakan.

Tekanan darah diukur menggunakan dua angka, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik menunjukkan tekanan di dalam arteri saat jantung berkontraksi atau berdetak, sedangkan tekanan diastolik menunjukkan tekanan saat jantung berelaksasi di antara detak.

Tekanan darah normal berada di bawah 120/80 mmHg. Sementara itu, berdasarkan pedoman American College of Cardiology dan American Heart Association, seseorang dinyatakan mengalami hipertensi stadium 1 apabila tekanan darah mencapai 130/80 mmHg atau lebih. Hipertensi stadium 2 didiagnosis ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Mengapa Hipertensi Berbahaya?

Hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer atau “pembunuh diam-diam” karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Banyak penderita tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi hingga muncul komplikasi serius.

Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat merusak pembuluh darah secara perlahan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke, gagal ginjal, hingga gangguan pada pembuluh darah.

Cara Mengendalikan Hipertensi

Mengontrol tekanan darah sangat penting untuk mencegah kerusakan organ vital, terutama jantung, otak, dan ginjal. Pada beberapa kondisi, hipertensi dapat memicu gejala seperti nyeri dada dan sesak napas. Sementara itu, jika sudah menyebabkan stroke, gejalanya dapat berupa gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berjalan.

Untuk membantu mengendalikan tekanan darah sekaligus menurunkan risiko komplikasi, berikut beberapa langkah yang dianjurkan:

  • Perbanyak konsumsi buah dan sayuran.
  • Batasi asupan garam.
  • Rutin berolahraga.
  • Hindari konsumsi alkohol.
  • Berhenti merokok dan menghindari semua produk tembakau.
  • Jaga berat badan tetap ideal.

Selain menjalani pola hidup sehat, sebagian penderita hipertensi juga memerlukan obat penurun tekanan darah yang diresepkan dokter. Pengobatan ini bertujuan menjaga tekanan darah tetap terkendali sekaligus menurunkan risiko komplikasi serius.

Meski dapat memicu berbagai penyakit berbahaya, hipertensi bukanlah kondisi yang tidak bisa dikendalikan. Dengan pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup, dan pengobatan yang sesuai, tekanan darah dapat tetap terkontrol sehingga risiko kerusakan organ maupun komplikasi dapat diminimalkan.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8245311/jangan-anggap-remeh-hipertensi-dampaknya-bisa-sangat-berbahaya

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Badan Komunikasi (Bakom) RI menyebut, pemerintah fokus melindungi konsumen saat bertransaksi perdagangan digital, melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).

Menurut Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, regulasi tersebut, tidak hanya mempertegas tanggung jawab pelaku usaha. Namun juga mengatur transparansi penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pemasaran, hingga mewajibkan marketplace menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen.

“Permendag 19 Tahun 2026 diterbitkan salah satunya untuk memperkuat perlindungan konsumen dengan meningkatkan tanggung jawab pelaku usaha dalam penyelenggaraan PMSE,” kata Kurnia di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

Dia menjelaskan, penguatan perlindungan konsumen dilakukan melalui serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi pelaku usaha. Mulai dari penyediaan informasi produk yang akurat, peningkatan legalitas usaha, transparansi biaya dan promosi, hingga pengaturan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas pemasaran.

Sementara itu, regulasi tersebut juga mewajibkan Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) menyediakan layanan pengaduan sebagai jalur penyelesaian awal apabila terjadi sengketa antara konsumen dan pelaku usaha.

Mekanisme ini diharapkan mampu mempercepat penyelesaian persoalan tanpa harus langsung berlanjut ke proses hukum. “Platform PPMSE juga diwajibkan menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen yang diharapkan menjadi mekanisme penyelesaian awal sehingga permasalahan yang timbul dapat ditangani secara cepat, efektif, dan proporsional,” jelasnya.

Di sisi lain, apabila penyelesaian melalui layanan pengaduan di platform tidak mencapai kesepakatan, konsumen tetap memiliki hak untuk menempuh jalur penyelesaian sengketa sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Apabila kemudian penyelesaian melalui mekanisme pengaduan pada platform belum menghasilkan penyelesaian, konsumen dapat menempuh mekanisme penyelesaian sengketa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk melalui saluran pengaduan kepada Kementerian Perdagangan atau mekanisme-mekanisme lainnya,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah menegaskan penerapan aturan baru ini tetap mempertimbangkan kondisi pelaku usaha, terutama UMKM. Seluruh kewajiban dalam Permendag Nomor 19 Tahun 2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha dan dilengkapi masa transisi agar proses penyesuaian dapat berjalan secara bertahap.

“Kewajiban Permendag 19/2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha serta dilengkapi masa transisi yang memadai,” ucapnya.

Karena itu, regulasi ini tidak hanya berisi kewajiban, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing UMKM di tengah kompetisi perdagangan digital yang semakin ketat.

“Dengan demikian, pengaturan ini tidak hanya memuat kewajiban bagi pelaku usaha, tetapi juga memberikan dukungan dan afirmasi bagi UMKM untuk meningkatkan daya saingnya di platform digital,” tuturnya.

sumber : https://www.inilah.com/perkuat-perlindungan-konsumen-saat-transaksi-online-bakom-pemerintah-luncurkan-permendag-192026

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Sholat safar merupakan salat sunah dua rakaat yang dilakukan sebelum melakukan safar atau perjalanan jauh.

Ibadah itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar atau permohonan perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT.

Amalan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian jauh, sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik berikut:

“Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan salat dua rakaat.”

Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan apa keutamaan sholat safar?

Niat Sholat Safar

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatas safari rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Safar

Cara salat safar tidak berbeda dengan salat sunah pada umumnya, yakni diawali niat, takbiratul ihram, rukuk, iktidal, sujud, dan tasyahud.

Berikut adalah tata cara sholat safar secara lengkap:

  1. Membaca niat
  2. Melakukan takbiratul ihram
  3. Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan surah Al-Kafirun
  4. Surah lain yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah Al-Falaq
  5. Rukuk, iktidal, sujud
  6. Berdiri untuk mengerjakan rakaat kedua
  7. Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas atau An-Nas
  8. Melakukan gerakan seperti rakaat pertama
  9. Setelah salat, dianjurkan memperbanyak membaca ayat kursi dan surah Quraisy

Kapan Waktu Salat Safar?

Salat safar boleh dilakukan kapan pun oleh seorang Muslim yang hendak bepergian jauh. Artinya, boleh dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam sebelum perjalanan.

Doa setelah Salat Safar

Di bawah ini adalah doa yang dibaca setelah mengerjakan salat safar:

اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ

Allahumma bika asta’inu, wa ‘alaika atawakkalu. Allahumma zallil li su’ubata amri, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safari, warzuqni minal khairi mim ma atlubu, wasrif ‘anni kulla syarr, rabbisrah li sadri wa yassir li amri.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”

Apa Keutamaan Salat Safar?

Beberapa keutamaan salat safar di antaranya:

  • Memohon perlindungan Allah SWT dari segala keburukan dan bahaya selama perjalanan
  • Menghalangi keburukan setelah keluar dari rumah
  • Bekal untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah
  • Mendapat keberkahan dari Allah SWT

Selain itu, mengerjakan salat Safar dan salat sunah lainnya juga bisa menjadi penyempurna salat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal laili fatahajjad bihee naafilatal laka ‘asaaa any yab’asaka Rabbuka Maqaamam Mahmoodaa

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/salat-sunah-safar-tata-cara-niat-doa-dan-keutamaannya

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri.

Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.”

Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.”

Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)

Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”.

Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.

So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik.

Moga kita dapat hidayah.

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus sunnah, akhlaqnya kok gitu? Ahlus sunnah kok tidak murah senyum pada orang lain? Ahlus sunnah kok enggan mengucapkan salam atau membalas salam orang lain? Ahlus sunnah kok kasar dengan orang tua, keras pada yang lain? Ahlus Sunnah kok cepat mencap sesat orang lain?

Yang benar, Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlaq. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku aqidah mereka.

Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,

وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .

“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.”

Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.

Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlaq yang mulia dan melarang dari akhlaq yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaqlah yang mulia. Jangan berakhlaq bengis, kasar, dan bejat.

Hanya Allah yang memberi taufiq.

Sumber : https://radiomutiaraquran.com/2026/07/14/mengaku-ahlus-sunnah-namun-tidak-berakhlaq/

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.

Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.

Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).

Takdir Abu Lahab

Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)

Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.

Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?

Mukjizat Al-Qur’an

Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.

Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.

Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.

Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.

Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.

Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.

Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.

Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.

Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.

Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.

Wallahu A’lam.

Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/