Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.
Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.
Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).
Takdir Abu Lahab
Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)
Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.
Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?
Mukjizat Al-Qur’an
Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.
Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.
Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.
Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.
Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.
Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.
Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.
Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.
Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.
Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.
Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.
Wallahu A’lam.
Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/




