Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Sholat safar merupakan salat sunah dua rakaat yang dilakukan sebelum melakukan safar atau perjalanan jauh.

Ibadah itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar atau permohonan perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT.

Amalan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian jauh, sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik berikut:

“Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan salat dua rakaat.”

Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan apa keutamaan sholat safar?

Niat Sholat Safar

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatas safari rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Safar

Cara salat safar tidak berbeda dengan salat sunah pada umumnya, yakni diawali niat, takbiratul ihram, rukuk, iktidal, sujud, dan tasyahud.

Berikut adalah tata cara sholat safar secara lengkap:

  1. Membaca niat
  2. Melakukan takbiratul ihram
  3. Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan surah Al-Kafirun
  4. Surah lain yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah Al-Falaq
  5. Rukuk, iktidal, sujud
  6. Berdiri untuk mengerjakan rakaat kedua
  7. Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas atau An-Nas
  8. Melakukan gerakan seperti rakaat pertama
  9. Setelah salat, dianjurkan memperbanyak membaca ayat kursi dan surah Quraisy

Kapan Waktu Salat Safar?

Salat safar boleh dilakukan kapan pun oleh seorang Muslim yang hendak bepergian jauh. Artinya, boleh dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam sebelum perjalanan.

Doa setelah Salat Safar

Di bawah ini adalah doa yang dibaca setelah mengerjakan salat safar:

اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ

Allahumma bika asta’inu, wa ‘alaika atawakkalu. Allahumma zallil li su’ubata amri, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safari, warzuqni minal khairi mim ma atlubu, wasrif ‘anni kulla syarr, rabbisrah li sadri wa yassir li amri.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”

Apa Keutamaan Salat Safar?

Beberapa keutamaan salat safar di antaranya:

  • Memohon perlindungan Allah SWT dari segala keburukan dan bahaya selama perjalanan
  • Menghalangi keburukan setelah keluar dari rumah
  • Bekal untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah
  • Mendapat keberkahan dari Allah SWT

Selain itu, mengerjakan salat Safar dan salat sunah lainnya juga bisa menjadi penyempurna salat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal laili fatahajjad bihee naafilatal laka ‘asaaa any yab’asaka Rabbuka Maqaamam Mahmoodaa

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/salat-sunah-safar-tata-cara-niat-doa-dan-keutamaannya

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri.

Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.

Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.

Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)

Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”.

Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.

So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik.

Moga kita dapat hidayah.

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus sunnah, akhlaqnya kok gitu? Ahlus sunnah kok tidak murah senyum pada orang lain? Ahlus sunnah kok enggan mengucapkan salam atau membalas salam orang lain? Ahlus sunnah kok kasar dengan orang tua, keras pada yang lain? Ahlus Sunnah kok cepat mencap sesat orang lain?

Yang benar, Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlaq. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku aqidah mereka.

Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,

وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .

“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.”

Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.

Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlaq yang mulia dan melarang dari akhlaq yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaqlah yang mulia. Jangan berakhlaq bengis, kasar, dan bejat.

Hanya Allah yang memberi taufiq.

Sumber : https://radiomutiaraquran.com/2026/07/14/mengaku-ahlus-sunnah-namun-tidak-berakhlaq/

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.

Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.

Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).

Takdir Abu Lahab

Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)

Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.

Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?

Mukjizat Al-Qur’an

Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.

Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.

Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.

Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.

Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.

Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.

Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.

Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.

Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.

Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.

Wallahu A’lam.

Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

QARUN adalah orang yang mendapat ujian nikmat harta. Tetapi ia terlena, teranestesi, oleh kekayaan itu. Ia bahkan merasa bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri.

Sementara itu, Utsman bin Affan ra. adalah sahabat Nabi SAW yang juga dalam kondisi mengalami ujian kekayaan. Namun, Utsman ra. mampu memilih jalan takwa. Mengapa kedua orang itu berbeda pilihan hidup?

Jelas, masalahnya bukan pada harta, tapi dari cara keduanya dalam menjadikan harta sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT. Qarun bangga dan kagum pada harta. Utsman ra. sadar bahwa ia harus lebih kagum, takjub dan taat kepada yang memberi nikmat kekayaan itu.

Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang ia anggap paling bernilai. Nilai tertinggi seseorang menentukan arah hidupnya. Jika nilai tertingginya diri dan materi, nikmat menjadi pusat. Jika nilai tertingginya Allah dan kemaslahatan, nikmat menjadi sarana.

Berjuang adalah Nikmat

Nikmat itu netral. Pada realitanya, nikmat akan semakin bernilai ketika kita sikapi sebagai penggerak jiwa terus dalam kebaikan. Pada kondisi itu nikmat bisa jadi bahan bakar perjuangan.

Namun, ketika sikap kita keliru, maka nikmat juga bisa menjadi bantal empuk yang menidurkan idealisme, cita-cita, bahkan visi.

Untuk itu, penting kita merenung sejenak, bagaimana cara kita memperlakukan nikmat iman, nikmat hidup ini untuk merasakan nikmat dalam berjuang.

Ini karena otak manusia secara biologis memang cenderung mencari kenyamanan dan menghindari risiko. Itu mekanisme bertahan hidup. Namun, manusia bukan hanya makhluk biologis; ia makhluk bernilai dan bermakna. Ketika seluruh hidup hanya mengikuti dorongan nyaman, manusia turun derajatnya menjadi sekadar pencari sensasi aman.

Karena manusia menemukan makna ketika ia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, maka sebenarnya berjuang itu nikmat. Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, sebagaimana Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari tegaskan dalam kajian online yang Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah selenggarakan (Jumat, 27/2/26), bahwa berjuang adalah kenikmatan.

Lelahnya orang yang berjuang, sakitnya orang yang berjuang, merupakan anak tangga merasakan kenikmatan iman yang luar biasa.

“Kenikmatan hidup tidak hanya karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman. Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” tegas KH. Hamim Tohari.

Semakin Berat Semakin Nikmat

Secara umum, otak manusia suka pada hal-hal yang ringan, menghemat energi dan tak terlalu makan tenaga apalagi biaya. Begitupun secara psikologis, rasa nyaman selalu menjadi prioritas bagi kebanyakan orang. Meski itu beresiko terhadap kurangnya sens of urgency.

Logikanya sederhana, seringkali kesulitan memaksa manusia keluar dari zona nyaman dan zona otomatis. Ia menjadi lebih sadar, lebih fokus, lebih bergantung pada Allah. Kesadaran yang meningkat itulah yang menghadirkan rasa nikmat iman.

Sebagaimana dahulu semakin ada tantangan semakin datang rasa nikmat. Seperti sikap mental kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW.

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa itu adalah sikap mental orang beriman. Ketika tantangan besar, yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan koalisi kaum kuffar terjadi, umat Islam tidak gentar apalagi mengeluh. Mereka malah semakin yakin bahwa janji Allah dan Rasul-Nya akan segera menjadi kenyataan. Tantangan yang tidak ringan itu malah meningkatkan kualitas iman mereka.

Makna Hidup

Belajar dari sejarah tersebut, tepat sekali apa yang Ust. Abdullah Said sampaikan. Bahwa berjuang adalah kenikmatan. Hal ini karena manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya. Ketika ia memusatkan hidup pada diri sendiri, ruang jiwanya menyempit. Ketika ia memberi, ruang jiwanya melebar.

Secara empiris kita mengetahui bahwa manusia semakin punya kontribusi bagi kehidupan umat manusia semakin bahagia. Sikap mental yang selalu ingin mengambil peran, berkontribusi pada kebaikan, akan melahirkan hidup yang penuh makna. Makna itu akan mendatangkan ketenangan.

Sebaliknya kita memahami bahwa semakin orang individualis, mau menggenggam harta sebagai sandaran kebahagiaan, semakin ia akan gelisah. Hidupnya pun mengalami stagnasi. Stagnasi menjadi sebab hidup yang penuh kehampaan.

Belajar Pada Kader dan Santri Awal Hidayatullah

Oleh karena itu kalau kita belajar kepada kader dan santri awal Hidayatullah. Bukan karena mereka kebal terhadap kesulitan, tetapi karena mereka memiliki visi yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.

Alhasil, mereka tidak takut akan segala kondisi. Bukan karena mereka tahu, ada uang dan punya hal yang bisa diandalkan. Tetapi karena mereka yakin, hidup yang nikmat adalah ketika diri mau totalitas berjuang.

Lantas bagaimana dengan saat ini? Jika dahulu bisa, apa yang menghambat hari ini kita menjadi tidak bisa merasakan nikmat dalam berjuang. Di sinilah kita penting terus ingat akan nikmat-nikmat hebat dalam perjuangan.

Sungguh perbedaan masa bukanlah kunci jawaban untuk melegitimasi bahwa berjuang bisa kita kurangi powernya. Perbedaan masa adalah sunnatullah, tapi tekad dan semangat adalah sikap mental yang harus kita rawat agar sama, menyala-nyala sebagaimana generasi terdahulu.

Tidak samanya masa hanyalah sebuah kondisi yang menuntut kita lebih adaptif dalam hal cara dan strategi. Bukan mengubah apalagi mengganti nilai dan idealisme dengan logika materi.

Dengan demikian, kita sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa nikmat yang tidak diarahkan pada perjuangan akan mempersempit jiwa. Nikmat yang digunakan untuk perjuangan akan meluaskan makna hidup.[]

Mas Imam Nawawi

Sumber : https://hidayatullah.or.id/menghadirkan-rasa-nikmat-dalam-berjuang/

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

SETIAP muslim pasti meyakini bahwa ia lebih unggul, mulia, luhur derajatnya daripada kafir. Sehingga realitas kehidupan diliputi keamanan, kejayaan, kesucian, keberkahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 139)

Allah memberi rahmat, maghfirah, pertolongan di dunia kepada muslim dan memasukkannya ke dalam surga-Nya sebagai wujud perhatian dan kecintaan-Nya kepadanya.

Sedangkan Allah tidak merahmati, tidak mengampuni, dan tidak mencintai orang kafir dan memasukkannya ke dalam neraka-Nya secara permanen.

Yang diperlu diberi garis tebal di sini, mengapa demikian mulia posisi muslim dan demikian rendah/hina kedudukan kafir disisi Allah ? Sedangkan sama-sama hamba-Nya, sama-sama manusia, sama-sama keturunan Nabi Adam, sama-sama menikmati wasilatul hayah (sarana kehidupan) secara gratis, sama-sama mengkonsumsi karunia-Nya, sama-sama penghuni bumi dan langit-Nya.

Mereka juga sama-sama dilahirkan oleh ibu dalam keadaan lemah dan sama-sama meninggal dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa, dan sama-sama dikubur di alam barzakh-Nya!

Kalau tidak ada perbedaan atribut lahiriyahnya muslim dengan kafir, mengapa demikian menganga perbedaan kedua makhluk-Nya tersebut ?

Apakah karena muslim bernama Ahmad, Sumayya, Shabiyya dan kafir bernama Robert, Kristiani, Kristianto? Apakah karena muslim berkhitan, tidak makan daging babi, yang menjadi standar perbedaan kedudukan keduanya? Bukankah Allah sudah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya untuk memperlakukan seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini?

Perbedaan

Sesungguhnya Islam tidak membedakan seseorang dengan lainnya karena faktor keturunan, status sosial, jabatan, asesoris lahiriyah, tetapi yang paling mulia disisi-Nya adalah yang paling berkulitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat : 13).

Dengan demikian, perbedaan muslim dan kafir adalah diukur dari seberapa jauh sikap ridha Allah sebagai Rabbul Alamin, Islam sebagai din, Rasulullah sebagai utusan-Nya. Jadi, turunnya rahmat, maghfirah, pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan keterikatannya yang kokoh (iltizam) dengan Rabb, Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu diantara zikir yang matsur, dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir berikut ia panjatkan dengan hati yang tulus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda :

من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة

“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya” (HR. Abu Dawud & dishahihkan Albani).

Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung inti dari pada rukun iman. Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah dan mentauhidkan-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus dan total mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya (manhajul hayah).

Setelah hadits di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadits lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,

أن رَجُلاً قال : يا رسول الله إن شرائِع الإسلام قد كثُرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبَّث به، فقال : لا يزال لِسانك رَطبًا مِن ذكر الله تعالى

Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassaku (berpegang teguh), yakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku. Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.

Dalam hadits terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut. Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.

Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama. Namun jika ingin membuat timbangan amalnya berat, maka bisa dengan melantunkan zikir yang lain.

ومعناه اي قنعت بان الله تعالى هو الخالق والسيد والمالك والمصلح والمربي لخلقه والمدبر امورهم ولستُ بمكره على ذلك بل انا راضٍ به ، وكذلك رضيت ان ادين بدين الاسلام عما سواه من الاديان ، وكذلك رضيت بحمّد صلى الله عليه وسلم رسولا من الله مخالفا من عائدٍ وكفر به ، اي : ان من يقول هذا الدعاء كان حقّا على الله ان يدخله الجنة

Makna hadits di atas, aku puas bahwa Allah sebagai Al Kholiq, Tuan, Raja, Mushlih dan Murabbi kepada seluruh makhluk-Nya, dan Pengatur segala urusannya, dan aku tidak benci dengan itu semua, bahkan aku ridha dengannya, demikian pula aku ridha untuk memeluk dinul Islam yang unggul diatas seluruh agama.

Disamping itu aku ridha Muhammad sebagai Rasulullah, menyelisihi dengan para pengingkar dan penentangnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, merupakan kewajiban Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika seorang muslim yang tidak ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai manhajul hayah, dan Rasulullah sebagai figur sentralnya ?

Apakah perlu dibedakan jika ucapan dan perilaku muslim beririsan (tasyabbuh) dengan orang kafir? Bahkan secara lahiriyah negara kafir lebih bersih, jujur, disiplin, manajemen lebih rapi, sumber daya manusianya lebih berkelas.

Realitas kehidupan kaum muslimin menjadi bukti, paradok dengan isi kitab sucinya. Al Islamu mahjubun bilmuslimin. Umat islam lebih culas, tidak disiplin, konsumtif, kurang bersih dan kurang disiplin dan mutu sumber daya mukmin yang dibawah standar umum.

Jika muslim tidak melakukan cabang keimanan yang prinsip, mentauhidkan Rabb, mencintai Islam, memuliakan Rasulullah, karena faktor kebodohan, maka urusannya terserah Allah diampuni ataupun disiksa dengan azab-Nya.

Berbeda status hukumnya jika muslim sengaja secara struktur dan masif untuk menentang Rabb, menyudutkan dinul Islam, merendahkan derajat Rasulullah, secara otomatis bisa menggugurkan keislamannya.

Langkah kongkritnya adalah meyakinkan diri dan orang lain agar lebih mengenal Rabb, memahami dan mengamalkan Islam, meneladani Rasulullah, agar kaum muslimin lebih berkualitas dalam berbagai dimensi kehidupannya..

Justru ketetapan Allah membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama adalah sikap adil. Alangkah zalimnya jika manusia yang shalih di dunia dengan kafir yang kerjanya berbuat kerusakan, ujung kehidupannya disamakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ

Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam 68: 35)

مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ

“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)

Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)

Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

Sumber : https://hidayatullah.or.id/mengapa-muslim-dan-kafir-dibedakan/

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Catatan Adab bagi Penuntut Ilmu di Era AI (Artificial Intelligence)

Di zaman ini, banyak yang terlena dengan kemudahan mendapatkan jawaban agama dalam hitungan detik. Cukup beberapa ketikan, lalu penjelasan pun datang, ringkas, dan terasa meyakinkan. Kemudahan ini memang menggiurkan; namun di balik kesan tersebut, tersembunyi bahaya besar. Ia bisa membuat seorang penuntut ilmu merasa cukup tanpa melalui proses yang semestinya. Padahal, Rasulullah ﷺ telah bersabda,

إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَإِنَّمَا الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَمَنْ يَتَحَرَّ الخَيْرَ يُعْطَهُ وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ

“Sesungguhnya ilmu itu didapat dengan belajar, kesabaran itu didapat dengan melatih diri untuk sabar. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, ia akan diberi; dan barang siapa menjaga diri dari keburukan, ia akan dilindungi darinya.” [1]

Ilmu tidak hadir hanya dengan mendapatkan jawaban, tetapi melalui proses belajar yang panjang duduk bersama guru, membaca, mengulang, dan bersabar. Di sinilah letak perbedaan antara kemudahan akses dan keberkahan ilmu. Maka, ketika AI (Artificial Intelligence) hadir di tengah dunia belajar, seorang penuntut ilmu perlu kembali menata sikap. Jangan menjadikannya sandaran utama yang menggeser talaqqi dan melemahkan semangat muthala’ah.

Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi

Ilmu dalam Islam bukan sekadar kumpulan tulisan atau ucapan yang bisa diakses kapan saja. Ia memiliki ruh yang harus dimuliakan, memiliki adab diindahkan, dan memiliki jalan tempuh yang harus diusahakan. Anas bin Malik rahimahullah berkata kepada murid-muridnya,

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” [2]

Ini bukan sekadar nasihat tata krama. Ini adalah pernyataan bahwa ilmu yang benar tidak bisa dipisahkan dari cara mendapatkannya. Di sinilah letak pentingnya talaqqi, mengambil ilmu langsung dari guru yang bersanad. Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata,

الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, niscaya siapa saja akan berkata sesuka hatinya.” [3]

Ketika ilmu diambil langsung dari guru yang bersanad, ada proses pemeriksaan, koreksi, dan bimbingan yang menyertai setiap pemahaman yang terbentuk. Inilah yang membuat ilmu itu berkah, bukan hanya benar secara isi, tetapi terjaga secara proses dan tersambung secara sanad kepada para ulama yang mulia.

AI sebagai alat bantu, bukan sandaran

Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan sarana yang memudahkan proses belajar. Para ulama di setiap zaman memanfaatkan apa yang tersedia, dari penulisan di pelepah kurma, kertas, hingga percetakan kitab. Teknologi adalah sarana, dan sarana dinilai dari cara penggunaannya.

AI boleh dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat men-support saja, seperti memperbaiki penulisan atau merapikan catatan. Pada batas-batas yang proporsional inilah AI bisa bermanfaat. Masalah muncul ketika AI dijadikan sandaran utama dalam memahami agama. As-Safadi rahimahullah berkata,

ولهذا قال العلماء: لا تأخذ العلم من صُحُفِيٍّ ولا مُصْحَفِيٍّ

“Karena itu para ulama berkata: janganlah engkau mengambil ilmu dari seorang yang hanya belajar dari lembaran-lembaran, dan jangan pula dari seorang yang hanya berpegang pada tulisan-tulisan (buku-buku).” [4]

Apabila kitab tertulis saja tidak cukup tanpa guru, maka AI yang hanya merangkum sebagian teks yang beredar di internet tentu lebih tidak memadai lagi. AI tidak bisa meluruskan niat, tidak bisa membimbing saat salah paham, dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas jawaban yang ia berikan.

Satu hal yang perlu dicermati secara khusus adalah penggunaan AI dalam penerjemahan teks-teks agama. Bahasa Arab dalam khazanah keilmuan Islam bukan bahasa percakapan biasa. Ia penuh dengan lapisan makna dan istilah teknis yang hanya bisa dipahami secara tepat oleh mereka yang mempelajarinya dari sumbernya. Satu kata dalam kitab fikih bisa memiliki makna yang berbeda dengan kata yang sama dalam kitab tafsir atau ilmu hadis. Ketika terjemahan diserahkan sepenuhnya kepada AI tanpa peninjauan yang seksama, ada risiko nyata bahwa makna yang sampai kepada pendengar adalah makna yang tidak utuh atau bahkan keliru. Dan jika itu terjadi dalam konteks pengajaran agama, ia tidak sekadar menjadi kesalahan teknis, tetapi berpotensi menjadi sebab pemahaman yang salah bagi orang-orang yang mempercayainya.

Risiko ketika terlalu bergantung pada AI

Bergantung kepada AI memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

Pertama, berkurangnya keberkahan talaqqi. Keberkahan talaqqi bukan sekadar soal kebenaran informasi, melainkan juga tentang doa guru kepada murid, keteladanan yang terlihat langsung, dan tarbiyah yang mengalir dalam proses belajar bersama. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

لا يزالُ الناسُ بخيرٍ ما أخذُوا العلمَ عن أكابرِهم فإذا أخذُوه من أصاغرِهم وشرارِهم هلَكوا

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu datang kepada mereka dari orang-orang besar mereka. Apabila ilmu datang dari kalangan kecil mereka dan hawa nafsu mereka terpecah-pecah, maka binasalah mereka.” [5]

Sumber dan jalur ilmu menentukan keselamatan beragama seseorang. AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, dan tidak terbentuk melalui proses talaqqi yang panjang. Ilmu yang diambil darinya pun kehilangan dimensi keberkahan yang seharusnya menyertai setiap ilmu syar’i. Keberkahan ini berlaku pula bagi pengajar. Seorang pengajar yang menyampaikan ilmu dari apa yang ia pelajari langsung dari gurunya, yang ia renungkan sendiri sebelum ia ucapkan, menyampaikan sesuatu yang berbeda kualitasnya dibanding yang hanya meneruskan hasil ringkasan mesin.

Kedua, melemahnya semangat muthala’ah. Membaca kitab memerlukan waktu, kesabaran, dan kesiapan untuk bingung, lalu merenungkan, lalu memahami secara bertahap. Proses yang terasa lambat itu justru yang membentuk pemahaman yang kuat dan melekat. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata,

ولا بد في هذا العلم من طول الممارسة، وكثرة المذاكرة؛ فإذا عدم المذاكرة به فليكثر طالبه المطالعة في كلام الأئمة

Dalam ilmu ini, harus ada latihan yang panjang dan banyak saling mengulang. Jika tidak ada kesempatan untuk saling mengulang, maka hendaklah penuntut ilmu memperbanyak membaca perkataan para imam.” [6]

Ketika seseorang terbiasa mendapat jawaban dalam hitungan detik, ia kehilangan kemampuan dan kemauan untuk bersabar dalam proses panjang yang membentuk kedalaman pemahaman. Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan, melainkan sudah terkonfirmasi oleh riset ilmiah. Doshi dan Hauser (2023) dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances menegaskan bahwa penggunaan AI generatif yang intensif dapat mengurangi keragaman dan orisinalitas pemikiran. Ketika seseorang terlalu bergantung pada jawaban yang dihasilkan AI, kapasitas untuk berpikir kritis dan mandiri (effortful thinking) akan melemah seiring waktu. [7]

Ketiga, terasa paham padahal dangkal. AI memberikan jawaban yang terdengar lengkap dan meyakinkan, padahal seringkali hanya permukaan dari pembahasan yang jauh lebih dalam di dalam kitab-kitab ulama. Tidak ada pembahasan ikhtilaf secara menyeluruh, tidak ada penjelasan sebab perbedaan pendapat, dan tidak ada bimbingan penerapan ilmu dalam situasi yang nyata. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ

“Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa kepadanya.” [8]

Dalam konteks AI, tidak ada yang menanggung dosa itu. AI tidak punya beban pertanggungjawaban. Maka orang yang menyebarkan kesalahan berdasarkan jawaban AI itulah yang menanggung sendiri akibatnya. Ini menjadi lebih serius ketika yang menyampaikan adalah seorang pengajar, karena jemaah atau murid mempercayai bahwa apa yang disampaikan telah melalui proses pemahaman yang mendalam dan pertanggungjawaban yang benar.

Keempat, referensi AI hanya sebatas apa yang ada di internet. AI bekerja berdasarkan data teks yang dihimpun dari internet dan sumber-sumber digital. Ia tidak bisa mengakses apa yang tidak tersedia dalam bentuk digital. Kenyataannya, masih sangat banyak kitab-kitab turats yang belum terdigitalisasi hingga hari ini. Ribuan manuskrip tulisan tangan para ulama tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia. Ketika seorang penuntut ilmu hanya mengandalkan AI, ia hanya berputar di sekitar sebagian kecil khazanah ilmu yang sudah ada di internet, sementara lautan ilmu yang sesungguhnya sebagian besar tidak tersentuh.

Para ulama salaf justru menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan satu hadis dari sumbernya yang asli. As-Safarini dalam kitabnya Ghidha’ al-Albab fi Sharh Manzumat al-Adab mensifati Imam Ahmad dengan perkataannya,

أَخَذَ يُحَضُّ عَلَى الاجْتِهَادِ فِي طَلَبِ الْعُلُومِ وَالرِّحْلَةِ فِي إِدْرَاكِ مَنْطُوقِهَا وَالْمَفْهُومِ

“Ia mulai mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menempuh perjalanan demi memahami ungkapan-ungkapan lahiriahnya dan makna-maknanya.” [9]

Semangat mendatangi sumber ilmu, bukan menunggu ilmu datang secara instan, adalah metode yang para ulama jaga untuk menjaga keilmuan Islam yang tidak boleh pudar.

Adab penuntut ilmu dalam memanfaatkan AI

Di era kemudahan akses dan fasilitas, para penuntut ilmu harus memperhatikan beberapa catatan.

Pertama, menggunakannya sebatas alat bantu awal

AI boleh dimanfaatkan untuk mencari gambaran awal suatu topik atau menerjemahkan kosakata, bukan untuk memahami hukum dan akidah secara mandiri. Sumber utama tetap kitab para ulama yang terpercaya dengan bimbingan guru. Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam Hilyah Thalib al-Ilm mengingatkan,

الأصل في الطلب أن يكون بطريق التلقين والتلقي عن الأساتيذ، والمثافنة للأشياخ، والأخذ من أفواه الرجال لا من الصحف وبطون الكتب

Pada dasarnya, dalam menuntut ilmu itu yang pokok adalah belajar dengan bimbingan dan mendengarkan langsung dari para guru, serta duduk bersama para syekh. Dan mengambil ilmu itu dari penjelasan langsung lisan para ulama, bukan hanya dari lembaran-lembaran dan isi kitab.” [10]

Jika mengambil ilmu dari seseorang yang hanya belajar melalui buku-buku saja diperingatkan, maka menjadikan mesin yang merangkum internet itu sebagai sumber utama tentu lebih patut untuk diwaspadai. Kewaspadaan itu berlipat ganda ketika apa yang bersumber dari sana kemudian disampaikan kepada orang lain atas nama ilmu agama.

Kedua, serahkan kembali kepada para ahli ilmu

Apa pun yang didapatkan dari AI wajib dikembalikan kepada guru atau ulama yang bisa dipertanggungjawabkan. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43)

Imam Malik rahimahullah juga menegaskan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” [11]

AI bukan ahlul zikr (ahli ilmu). Ia tidak memiliki kapasitas dan tidak menanggung pertanggungjawaban apa pun atas apa yang ia sampaikan. Maka apa pun yang diperoleh darinya, sebelum digunakan apalagi sebelum disampaikan kepada orang lain, semestinya melewati proses verifikasi yang sungguh-sungguh kepada mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, jangan jadikan AI sebagai rujukan dan dalil

Jangan terlena dan terpedaya dengan kemudahan AI dalam mencari sesuatu, lalu mencari referensi potongan bahasan. Buka kitabnya, baca konteksnya, pahami penjelasan lengkapnya, kemudian konsultasikan bersama ulama. Saking berharganya ilmu dan dalam rangka penjagaan ilmu, pemahaman agama harus menggunakan bahasa Arab yang mengerti maksud dan konteks dalam berbahasa. Imam asy-Syathibi rahimahullah dalam al-Muwafaqat menyebutkan,

إنه لا بدّ في فهم الشريعة من اتباع معهود الأميين؛ وهم العرب الذين نزل القرآن بلسانهم

Sesungguhnya dalam memahami syariat, wajib mengikuti apa yang dikenal oleh orang-orang Arab (umat yang ummī), yaitu orang-orang Arab yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka.” [12]

Hal ini berlaku pula dalam urusan penerjemahan. Ketika AI menghasilkan terjemahan suatu teks Arab, terjemahan itu bukan titik akhir, melainkan titik awal yang masih harus diperiksa. Menyampaikan terjemahan yang belum diverifikasi dengan seksama kepada khalayak adalah risiko yang tidak sepele. Karena pemahaman pendengar akan terbentuk dari terjemahan AI itu, bukan dari teks aslinya.

Keempat, jaga semangat muthala’ah dan duduk bersama guru

Kemudahan AI tidak boleh menjadi alasan meninggalkan kebiasaan membaca kitab dan duduk bersama guru. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” [13]

Jalan yang dimaksud adalah jalan yang benar-benar ditempuh dengan kesungguhan, bukan jalan pintas yang mengandalkan kemudahan teknologi. Bagi seorang pengajar, menjaga semangat muthala’ah adalah bagian dari tanggung jawab kepada mereka yang duduk di hadapannya dengan penuh kepercayaan.

Kelima, perbaiki niat sejak awal

Pertanyaan yang perlu dijawab sebelum membuka AI: apakah saya menggunakannya karena benar-benar ingin memahami dan mengamalkan, ataukah hanya ingin mendapat jawaban cepat? Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan.” [14]

Bagi seorang pengajar, pertanyaan ini lebih berat lagi. Apakah materi ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh karena ingin menyampaikan ilmu yang benar, ataukah hanya mengejar kemudahan penyiapan tanpa benar-benar menyelami apa yang akan disampaikan kepada jemaah?

Kesimpulan

Ujian penuntut ilmu di zaman ini bukan tidak adanya akses, melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berpikir mandiri. [15] Para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya. Syekh Munajjid dalam kitabnya menceritakan,

وقال ابن المبارك: نحن إلى قليلٍ من الأدب أحوج منا إلى كثيرٍ من العلم

“Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada membutuhkan banyak ilmu.’” [16]

Ketika orientasi belajar hanya pada mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya tanpa memperhatikan adab, proses, dan keberkahan jalan yang ditempuh, maka yang didapat hanyalah tumpukan informasi tanpa ruh ilmu.

Gunakan AI dengan semestinya. Jadikan AI hanya sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti yang mengambil alih prosesnya. Kembalilah kepada guru, kepada kitab, dan kepada adab yang telah diwariskan oleh para ulama salaf (terdahulu).

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’” (QS. Thaha: 114)

Doa ini diajarkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Di dalamnya ada pelajaran bahwa ilmu adalah sesuatu yang diminta dengan sungguh-sungguh dan ditempuh dengan penuh kesabaran, bukan sesuatu yang sekadar dicari dengan cara yang paling mudah.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Sumber : https://muslim.or.id/113560-catatan-adab-bagi-penuntut-ilmu-di-era-ai-artificial-intelligence.html

Pria Wajib Tahu, 6 Makanan Ini Baik untuk Kesehatan Prostat

Pria Wajib Tahu, 6 Makanan Ini Baik untuk Kesehatan Prostat

Jakarta, CNN Indonesia — Bagi pria, menjaga organ prostat menjadi kewajiban. Pasalnya, prostat merupakan organ tubuh penting yang perannya sangat krusial dalam sistem reproduksi pria.

Salah satu cara menjaga prostat bisa dilakukan dengan mengatur strategi makanan. Lantas, apa saja makanan yang baik untuk kesehatan prostat?

Secara umum, prostat memiliki tiga fungsi utama, yaitu memproduksi air mani, melindungi sperma, hingga membantu mengontrol keluarnya urine. Namun, seiring bertambahnya usia, pria lebih rentan mengalami berbagai masalah pada prostat.

Jenis makanan yang baik untuk kesehatan prostat

Mengutip buku 15 Keajaiban Penyembuhan Prostat yang ditulis oleh Eagle Oseven, berikut beberapa makanan yang baik bagi kesehatan prostat.

1. Brokoli

Brokoli termasuk sayuran cruciferous yang kaya akan senyawa sulforaphane. Zat ini dikenal memiliki sifat antioksidan dan dapat membantu melawan peradangan di dalam tubuh.

Selain itu, kandungan nutrisi pada brokoli dipercaya mampu mendukung kesehatan prostat dan membantu menurunkan risiko terjadinya gangguan pada organ tersebut.

2. Kubis

Tak hanya brokoli, sayuran lain seperti kubis pun baik untuk kesehatan prostat. Kubis mengandung berbagai vitamin, mineral, dan antioksidan yang membantu menjaga sel-sel tubuh tetap sehat.

Mengonsumsi kubis secara rutin juga diyakini dapat membantu mengurangi peradangan yang berkaitan dengan masalah prostat.

Terlebih, sayur kubis sebenarnya dapat diolah menjadi berbagai olahan yang enak dan bergizi. Misalnya, membuat tumis kubis dengan orak-arik telur hingga salad yang cocok untuk sarapan.

3. Sarden

Sarden merupakan salah satu sumber lemak sehat yang kaya akan asam lemak omega-3. Nutrisi ini diketahui memiliki efek antiinflamasi yang dapat membantu menjaga kesehatan prostat.

Bukan itu saja, mengonsumsi ikan berlemak seperti sarden juga dapat mendukung keseimbangan hormon dan menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan.

Bagi yang mempunyai uang lebih, mengonsumsi ikan salmon bisa jadi alternatif tepat. Sebab, ikan ini dikenal kaya omega 3.

4. Tomat

Tomat mengandung likopen, yang merupakan antioksidan alami yang memberi warna merah pada buah tersebut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa likopen dapat membantu menjaga kesehatan prostat dan menurunkan risiko gangguan pada organ ini.

Agar penyerapan likopen lebih optimal, tomat bisa dikonsumsi dalam bentuk matang atau diolah menjadi saus dan sup. Harga tomat juga relatif murah ketimbang jenis makanan lainnya.

5. Minyak zaitun

Minyak zaitun mengandung lemak tak jenuh yang baik bagi kesehatan tubuh, termasuk prostat. Kandungan antioksidan di dalamnya dipercaya dapat membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan sel.

Menggunakan minyak zaitun sebagai pengganti minyak goreng biasa juga dapat menjadi pilihan untuk menerapkan pola makan yang lebih sehat.

6. Kedelai

Mengutip buku 100 Questions & Answers Gangguan Prostat yang diterbitkan oleh Alex Media Komputindo, jenis makanan olahan kedelai bisa dikonsumsi untuk mencegah penyakit prostat.

Kenapa? Sebab, kedelai mengandung isoflavon yang dipercaya bisa membantu menghambat gangguan pada prostat, termasuk kanker prostat. Berbagai penelitian menemukan bahwa makanan yang mengandung isoflavon dari kedelai, seperti tahu, tempe, dan susu kedelai, dapat membantu memperlambat perkembangan kanker prostat.

Itulah beberapa makanan yang baik untuk kesehatan prostat. Semoga bermanfaat!

sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260710105117-255-1379074/pria-wajib-tahu-6-makanan-ini-baik-untuk-kesehatan-prostat

Vitamin D3 vs K2: Kenapa Justru Lebih Baik Dikonsumsi Bersamaan?

Vitamin D3 vs K2: Kenapa Justru Lebih Baik Dikonsumsi Bersamaan?

Pernahkah Kalian berbelanja suplemen akhir-akhir ini? Jika diperhatikan, produk vitamin D3 sekarang tak jarang dijual sendirian dengan embel-embel vitamin K2 di sampingnya.

Banyak yang mikir, “Ah, paling ini cuma trik pabrik biar harganya lebih mahal.” Padahal, duet dua nutrisi ini sebenarnya didasari oleh sains yang sangat kuat. Mereka ibarat tim sukses yang bekerja di belakang layar untuk memastikan tulang kita kuat dan pembuluh darah tetap bersih dari plak kalsium (kalsifikasi).

Untuk tahu kenapa mereka harus selalu “nempel”, kita perlu membedah cara kerjanya satu per satu secara sederhana.

Peran Vitamin D3 dalam Tubuh

Vitamin D3, atau nama medisnya cholecalciferol, punya tugas utama yang sangat spesifik. Biar gampang membayangkannya, anggap saja ia seperti satpam penjaga pintu di usus kita.

Tiap kali kita minum susu atau makan makanan kaya kalsium, mineral tersebut nggak bisa langsung nyelonong masuk ke dalam peredaran darah. Nah, di sinilah vitamin D3 beraksi.

Dialah yang memegang kunci dan membukakan pintu supaya kalsium itu bisa terserap masuk melalui saluran pencernaan. Nggak cuma urusan kalsium, D3 ini rupanya lumayan sibuk berperan dalam hal lain di tubuh kita, seperti:

  • Menjaga sistem imun biar kita nggak gampang tumbang kena penyakit
  • Memastikan otot dan saraf kita berfungsi sebagaimana mestinya
  • Mengawal proses pembentukan tulang sejak kita masih kecil

Bayangkan kalau tubuh sampai kekurangan vitamin ini, efeknya bisa merembet ke mana-mana. Mulai dari tulang yang gampang keropos sampai pertahanan tubuh yang melemah.

Untuk memahami lebih jauh, kamu bisa membaca juga tentang gejala kekurangan vitamin D dan penyakit karena kekurangan vitamin D.

Peran Vitamin K2 yang Sering Terlewat

Sayangnya, bagian ini yang sering kali luput dari perhatian. Setelah vitamin D3 sukses membawa masuk kalsium ke aliran darah, si kalsium ini bingung harus menuju kemana.  Dititik inilah vitamin K2 berperan untuk mengarahkan kalsium. Fungsi utama vitamin K2:

  • Menghidupkan Osteocalcin: Ini semacam “lem alami” yang bakal menempelkan kalsium kuat-kuat ke tulang dan gigi. Di situlah kalsium memang seharusnya berada.
  • Membangunkan Matrix Gla Protein (MGP): Ini adalah rambu dilarang masuk. MGP mencegah kalsium menumpuk dan menjadi kerak keras di dinding pembuluh darah.

Coba bayangkan kalau nggak ada vitamin K2. Kalsium yang sudah dibawa oleh vitamin D3 bisa saja nyasar dan mengendap di pembuluh darah jantung atau ginjal. Endapan inilah yang menyebabkan pembuluh darah jadi kaku (kalsifikasi) dan diam-diam memicu penyakit jantung.

Manfaat Kombinasi Vitamin D3 dan K2

Melihat fungsi keduanya, kita bisa menyimpulkan bahwa vitamin D3 dan K2 ibarat dua sisi mata uang dalam proses metabolisme kalsium. Mereka berdua memiliki ikatan kerja yang tidak bisa dipisahkan.

Ketika vitamin D3 bekerja keras menambah pasokan kalsium ke dalam aliran darah, vitamin K2 mengambil peran penting untuk memastikan kalsium tersebut sampai ke sasaran yang tepat. Bayangkan jika Anda rutin menelan vitamin D3 dalam dosis tinggi namun melupakan K2. Kadar kalsium di dalam darah memang akan melonjak, tetapi karena tidak ada yang ‘memandu’ arahnya, mineral tersebut justru sangat rentan mengendap menjadi plak di dinding pembuluh darah.

Sebaliknya, konsumsi yang seimbang antara keduanya akan memberikan perlindungan yang maksimal bagi tubuh. Beberapa manfaat utamanya meliputi:

Tulang yang Lebih Padat: Membantu memperkuat struktur tulang sekaligus mencegah ancaman pengeroposan atau osteoporosis di kemudian hari.

Perlindungan Jantung: Melindungi sistem kardiovaskular dari risiko penyumbatan yang diakibatkan oleh pengapuran (kalsifikasi) arteri.

Metabolisme yang Optimal: Memastikan siklus kalsium di dalam tubuh berjalan secara aman, efisien, dan tepat sasaran.

Kombinasi ini sangat relevan bagi individu yang ingin menjaga kesehatan tulang sekaligus melindungi sistem kardiovaskular. Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, kamu juga bisa membaca tentang cara menjaga kesehatan tulang.

Siapa yang Membutuhkan Kombinasi Ini?

Memang benar bahwa nutrisi dasar ini sejatinya bisa kita peroleh secara alami melalui menu makanan bergizi dan kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari pagi. Sayangnya, ritme gaya hidup modern sering kali membuat target asupan alami tersebut sulit untuk tercapai setiap harinya.

Oleh karena itu, ada beberapa kelompok masyarakat yang sangat disarankan untuk lebih waspada dan mempertimbangkan tambahan suplemen ini:

  • Pekerja di Dalam Ruangan: Anda yang menghabiskan waktu dari pagi hingga petang di balik meja kantor tentu sangat minim, atau bahkan tidak pernah, mendapatkan paparan sinar matahari langsung.
  • Kelompok Lanjut Usia (Lansia): Seiring bertambahnya usia, kemampuan alami tubuh untuk memproduksi vitamin D akan menurun, begitu pula dengan kekuatan massa tulangnya.
  • Mereka yang Rentan Mengalami Osteoporosis: Terutama bagi individu yang memiliki garis keturunan masalah tulang keropos atau yang sudah mulai merasakan gejala awalnya.
  • Individu dengan Pola Makan Spesifik: Jika Anda jarang menyajikan sumber alami vitamin K2 di meja makan seperti produk fermentasi, sayuran berdaun hijau gelap, atau ikan laut berlemak maka mengkonsumsi suplemen menjadi jalan keluar yang logis.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Konsumsi

Walaupun paduan vitamin D3 dan K2 ini menawarkan segudang manfaat kesehatan, penggunaannya tetap harus terukur dan tidak boleh sembarangan. Terdapat beberapa catatan medis yang wajib menjadi perhatian bersama:

  • Waspadai Risiko Hiperkalsemia: Mengonsumsi konsumsi vitamin D3 berlebihan tanpa adanya pantauan medis justru dapat berbalik membahayakan. Kondisi ini dapat memicu lonjakan kalsium yang berlebihan hingga berujung pada keracunan darah.
  • Perhatikan Interaksi Obat: Vitamin K2 diketahui dapat bereaksi dengan beberapa jenis obat pengencer darah, seperti Warfarin. Bagi Anda yang saat ini rutin menjalani pengobatan terkait jantung atau sirkulasi darah, suplemen ini hanya boleh dikonsumsi di bawah pengawasan ketat.
  • Pentingnya Konsultasi Medis: Cara paling bijak sebelum memutuskan untuk rutin mengonsumsi suplemen adalah dengan berkonsultasi terlebih dahulu. Langkah yang paling ideal adalah melakukan pemeriksaan darah (khususnya tes 25-OH Vitamin D) di laboratorium. Hasil tes medis inilah yang akan memandu dokter dalam meresepkan dosis yang paling presisi dan aman sesuai dengan kondisi unik tubuh Anda.

Untuk kondisi tertentu, pemeriksaan kadar vitamin dalam tubuh bisa menjadi langkah awal yang lebih aman. Kamu bisa mempertimbangkan untuk melakukan medical check-up secara rutin guna mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat.

Ingin mulai menjaga kesehatan tulang dan jantung dari sekarang? Pastikan asupan vitamin D3 dan K2 terpenuhi setiap hari. Kamu bisa mempertimbangkan suplemen seperti Prove DK2 sebagai langkah praktis untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian mu.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/vitamin-d3-vs-k2-kenapa-justru-lebih-baik-dikonsumsi-bersamaan-

Cara Alami Mengurangi Nyamuk di Rumah Tanpa Bahan Kimia

Cara Alami Mengurangi Nyamuk di Rumah Tanpa Bahan Kimia

Kehadiran nyamuk di dalam rumah sering kali hanya dianggap sekadar “tamu tak diundang” yang bikin gatal. Padahal, selain mengganggu kenyamanan karena gigitannya yang menimbulkan rasa gatal. Gigitan nyamuk juga bisa menjadi perantara berbagai penyakit serius, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, chikungunya, hingga kaki gajah (filariasis). Oleh karena itu, mengurangi populasi nyamuk di rumah menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

Untuk mengusir serangga ini, banyak dari kita yang terbiasa menggunakan obat nyamuk semprot, bakar, atau elektrik karena praktis. Namun, bagaimana jika di rumah ada bayi, anak kecil, lansia, atau hewan peliharaan yang sensitif terhadap paparan zat kimia secara terus-menerus?

Tenang saja, ada banyak alternatif alami yang terbukti ampuh membuat nyamuk enggan mampir ke rumah.

Kenapa Nyamuk Suka “Nongkrong” di Rumah Kita?

Sebelum mulai mengusirnya, kita harus tahu dulu apa yang membuat nyamuk betah berlama-lama di dalam rumah.

Nyamuk sangat menyukai area yang lembab, gelap dan memiliki genangan air. Mereka tidak membutuhkan kolam besar untuk berkembang biar. Bahkan, air sisa siraman di tatakan pot tanaman, ember di kamar mandi yang jarang dikuras, atau talang air yang mampet akibat tumpukan daun kering sudah lebih dari cukup untuk dijadikan “sarang” bertelur. Selain itu, rumah yang sirkulasi udaranya buruk dan kurang cahaya matahari juga menjadi tempat istirahat favorit mereka. Dengan memahami kebiasaan nyamuk, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Cara Alami Mengusir Nyamuk di Rumah

Ada berbagai cara alami usir nyamuk yang dapat diterapkan di rumah. Meskipun metode ini memang tidak langsung membunuh nyamuk seketika layaknya racun serangga. Namun, jika dilakukan secara rutin, cara-cara dibawah ini efektif memutus siklus hidup nyamuk dan menekan populasinya di rumah.

1. Hilangkan Genangan Air

Ini merupakan langkah paling krusial. Jika tidak ada air menggenang, nyamuk tidak akan bisa bertelur. Biasakan untuk mengecek dan melakukan hal ini secara rutin:

  • Kuras bak mandi setidaknya seminggu sekali
  • Buang air yang menggenang di tatakan pot bunga atau kaleng bekas
  • Tutup rapat ember atau tong penampungan air
  • Ganti air vas bunga di ruang tamu secara berkala

Langkah sederhana ini merupakan bagian dari gerakan 3M Plus yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan untuk mencegah demam berdarah.

2. Manfaatkan Tanaman Anti Nyamuk

Alih-alih menyemprotkan pewangi ruangan berbahan kimia, coba manfaatkan tanaman yang memiliki aroma pekat. Beberapa tanaman dipercaya memiliki aroma yang kurang disukai nyamuk sehingga sering dimanfaatkan sebagai tanaman pengusir nyamuk. Kamu bisa menempatkan beberapa pot kecil tanaman berikut di dekat jendela, pintu masuk, atau area teras:

  • Serai wangi (Citronella)
  • Lavender
  • Kemangi
  • Rosemary
  • Mint
  • Marigold

Namun, perlu dipahami bahwa efektivitas tanaman tersebut dalam mengusir nyamuk secara langsung masih bervariasi berdasarkan hasil penelitian. Oleh karena itu, penggunaannya sebaiknya dikombinasikan dengan langkah pencegahan lainnya.

3. Pasang Kawat Kasa pada Ventilasi

Salah satu penyebab banyaknya nyamuk di rumah adalah akses masuk yang terbuka melalui jendela atau ventilasi.Menutup rapat jendela seharian penuh memang bisa mencegah nyamuk masuk, tapi rumah akan terasa pengap. Solusi terbaiknya adalah memasang kawat kasa anti nyamuk pada ventilasi dan jendela. Udara segar tetap bisa berputar ke dalam rumah, namun serangga dari luar tidak akan bisa menerobos masuk, terutama di jam-jam rawan seperti sore dan malam hari.

4. Jaga Kebersihan Halaman Rumah

Pekarangan yang dibiarkan rimbun dan tak terawat adalah surga bagi nyamuk. Karena itu, biasakan untuk:

  • Memangkas tanaman secara rutin
  • Membersihkan dedaunan yang menumpuk
  • Menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan

Lingkungan yang bersih akan membantu mengurangi tempat istirahat nyamuk.

5. Gunakan Kelambu Saat Tidur

Ini adalah cara jadul yang efektivitasnya tak lekang oleh waktu. Memasang kelambu di atas tempat tidur, terutama untuk boks bayi dan balita, memberikan perlindungan fisik yang sangat aman sepanjang malam tanpa melibatkan residu kimia apa pun.

6. Maksimalkan Sirkulasi Udara

Tahukah kamu kalau nyamuk merupakan penerbang yang sangat lemah? Mereka kesulitan terbang melawan hembusan angin. Dengan menyalakan kipas angin di ruang keluarga atau kamar tidur bukan hanya menyejukkan ruangan, tetapi juga membantu mengurangi aktivitas nyamuk sekaligus membuat mereka lebih sulit mendekati manusia.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/cara-alami-mengurangi-nyamuk-di-rumah-tanpa-bahan-kimia