Bisnis Untung, Tapi Rekening Kosong. Kok Bisa?

Bisnis Untung, Tapi Rekening Kosong. Kok Bisa?

“Omzet bulan ini naik.”

“Penjualan meningkat.”

“Bahkan laporan laba rugi menunjukkan perusahaan memperoleh keuntungan.”

Namun ketika membuka mobile banking, saldonya justru hampir habis.

Kalau Anda pernah mengalami kondisi seperti ini, jangan langsung berpikir bahwa ada kesalahan pada laporan keuangan. Justru kondisi tersebut sangat sering terjadi di dunia bisnis.

Banyak pemilik usaha merasa bingung karena perusahaan terlihat untung, tetapi uang tunai yang tersedia sangat sedikit. Bahkan ada yang sampai kesulitan membayar gaji karyawan, membeli stok barang, atau melunasi tagihan supplier.

Lalu sebenarnya ke mana perginya keuntungan tersebut?

Jawabannya adalah karena laba tidak selalu sama dengan kas.

Inilah salah satu konsep yang paling penting dalam akuntansi sekaligus paling sering disalahpahami oleh para pelaku usaha.

Laba Tidak Selalu Berarti Uang Sudah Diterima

Banyak orang menganggap bahwa setiap penjualan otomatis akan menambah saldo rekening perusahaan.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Misalnya Anda menjual produk kepada pelanggan senilai Rp50 juta.

Barang sudah dikirim.

Pelanggan sudah menerima barang.

Namun pelanggan baru akan membayar 30 hari kemudian.

Dari sudut pandang akuntansi, perusahaan sudah boleh mengakui penjualan tersebut sebagai pendapatan. Artinya, laba perusahaan mulai bertambah.

Namun dari sisi kas, uang tersebut belum masuk ke rekening perusahaan.

Jadi perusahaan bisa saja terlihat untung, padahal belum menerima uang sepeser pun dari transaksi tersebut.

Keuntungan Bisa Berubah Menjadi Piutang

Pada saat penjualan dilakukan secara tempo, keuntungan yang muncul belum berubah menjadi kas.

Sebaliknya, keuntungan tersebut berubah menjadi piutang usaha.

Artinya perusahaan memiliki hak untuk menerima pembayaran dari pelanggan pada waktu yang telah disepakati.

Selama pelanggan belum melakukan pembayaran, saldo rekening perusahaan tidak akan bertambah.

Inilah alasan mengapa laba yang besar belum tentu diikuti oleh kas yang besar.

Contoh yang Mudah Dipahami

Bayangkan Anda memiliki toko material bangunan.

Hari ini Anda menjual semen dan besi kepada kontraktor dengan nilai Rp200 juta.

Karena kontraktor merupakan pelanggan lama, Anda memberikan tempo pembayaran selama 60 hari.

Secara akuntansi:

  • Penjualan bertambah.
  • Laba mulai dihitung.
  • Piutang usaha bertambah.

Tetapi:

  • Rekening bank tetap belum bertambah.

Kalau selama dua bulan tersebut Anda harus membayar gaji karyawan, listrik, sewa gudang, dan membeli stok barang baru, maka seluruh pembayaran tersebut tetap harus menggunakan uang yang ada di kas perusahaan.

Akibatnya, perusahaan terlihat untung tetapi uang tunainya semakin sedikit.

Mengapa Cash Flow Sangat Penting?

Di sinilah pentingnya memahami laporan arus kas (cash flow).

Laporan laba rugi hanya menjelaskan apakah perusahaan memperoleh keuntungan atau mengalami kerugian.

Sedangkan laporan arus kas menjelaskan apakah perusahaan benar-benar memiliki uang untuk menjalankan operasional bisnis.

Banyak perusahaan yang sebenarnya memperoleh laba, tetapi mengalami kesulitan membayar kewajiban karena arus kasnya tidak sehat.

Sebaliknya, ada juga perusahaan yang sedang mengalami kerugian, tetapi masih memiliki kas yang cukup karena mendapatkan suntikan modal dari investor atau pinjaman dari bank.

Artinya, kondisi laba dan kondisi kas bisa saja berbeda.

Ke Mana Perginya Uang Perusahaan?

Kalau bukan hilang, lalu ke mana uang perusahaan?

Jawabannya bisa bermacam-macam.

Sebagian masih menjadi piutang karena pelanggan belum membayar.

Sebagian digunakan untuk membeli persediaan.

Sebagian dipakai membeli mesin atau kendaraan operasional.

Sebagian lagi digunakan untuk membayar utang, gaji, pajak, sewa, atau biaya operasional lainnya.

Dengan kata lain, keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak selalu mengendap dalam bentuk uang tunai di rekening.

Jangan Hanya Melihat Laporan Laba Rugi

Kesalahan yang sering dilakukan pelaku usaha adalah hanya fokus pada satu laporan keuangan, yaitu laporan laba rugi.

Padahal laporan keuangan terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan.

Laporan laba rugi menunjukkan apakah bisnis menghasilkan keuntungan.

Laporan posisi keuangan (neraca) menunjukkan aset, utang, dan modal yang dimiliki perusahaan.

Sedangkan laporan arus kas menunjukkan pergerakan uang masuk dan uang keluar.

Ketiga laporan tersebut harus dibaca secara bersamaan agar kondisi keuangan perusahaan dapat dipahami secara utuh.

Bagaimana Cara Menjaga Agar Kas Tetap Sehat?

Salah satu cara yang paling sederhana adalah mengelola piutang dengan baik.

Semakin lama pelanggan menunda pembayaran, semakin lama pula perusahaan harus menunggu uang masuk ke rekening.

Selain itu, perusahaan juga perlu mengendalikan pengeluaran, merencanakan pembelian aset dengan matang, dan memastikan bahwa kas yang tersedia cukup untuk membiayai operasional sehari-hari.

Keuntungan yang besar memang penting, tetapi kemampuan perusahaan menjaga arus kas jauh lebih menentukan apakah bisnis dapat terus berjalan.

Kesimpulan

Banyak orang mengira bahwa perusahaan yang untung pasti memiliki banyak uang.

Padahal dalam praktiknya tidak selalu demikian.

Perusahaan dapat memperoleh laba tanpa langsung menerima uang karena sebagian penjualan masih berbentuk piutang. Di sisi lain, perusahaan tetap harus membayar berbagai kebutuhan operasional menggunakan kas yang tersedia.

Itulah sebabnya seorang pemilik bisnis tidak cukup hanya memahami laporan laba rugi. Memahami laporan arus kas juga sama pentingnya agar dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.

Ingatlah bahwa laba menunjukkan seberapa baik bisnis menghasilkan keuntungan, sedangkan arus kas menunjukkan apakah bisnis memiliki cukup uang untuk tetap beroperasi. Memahami perbedaan keduanya akan membantu Anda mengambil keputusan yang lebih tepat dalam mengelola usaha.

Apakah COD Termasuk Piutang Usaha? Banyak Pelaku Usaha Masih Salah Memahaminya

Apakah COD Termasuk Piutang Usaha? Banyak Pelaku Usaha Masih Salah Memahaminya

Kediri – Pernahkah Anda berpikir seperti ini?

“Barang sudah saya kirim ke pembeli, tetapi uangnya belum saya terima. Berarti itu sudah menjadi piutang usaha, kan?”

Kalau Anda pernah memiliki pemikiran tersebut, Anda tidak sendirian. Bahkan banyak pelaku UMKM, pemilik toko online, hingga pengusaha yang baru belajar akuntansi memiliki pertanyaan yang sama.

Sekilas logika tersebut memang terdengar benar. Barang sudah keluar dari gudang, pembeli sudah melakukan pemesanan, dan tinggal menunggu pembayaran. Bukankah itu berarti penjual memiliki hak untuk menerima uang?

Sayangnya, dalam dunia akuntansi jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan piutang usaha dan kapan sebuah penjualan sebenarnya dianggap telah terjadi.

Apa Itu Piutang Usaha?

Secara sederhana, piutang usaha (Accounts Receivable) adalah hak perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan atas penjualan barang atau jasa yang telah diakui.

Perhatikan kalimat “telah diakui”.

Kalimat inilah yang sering terlewat oleh banyak pelaku usaha.

Banyak orang menganggap bahwa selama uang belum diterima, otomatis semuanya menjadi piutang. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Piutang hanya muncul apabila penjualan tersebut memang sudah memenuhi syarat untuk diakui menurut prinsip akuntansi.

Mengapa Banyak Orang Menganggap COD Sama dengan Piutang?

Mari kita lihat dari sudut pandang seorang penjual.

Misalnya Anda memiliki toko online.

Suatu hari ada pelanggan membeli sebuah produk dengan metode Cash on Delivery (COD).

Anda kemudian:

  • Mengemas barang.
  • Menyerahkan barang kepada kurir.
  • Barang sedang dalam perjalanan menuju pembeli.

Pada saat itu biasanya muncul pertanyaan:

“Barang sudah saya kirim. Saya tinggal menunggu uangnya. Bukankah itu berarti saya memiliki piutang?”

Logika tersebut memang masuk akal.

Karena secara bisnis Anda memang berharap menerima pembayaran.

Namun dalam akuntansi, kita tidak hanya melihat apakah uang sudah diterima atau belum. Kita juga harus melihat apakah penjualan tersebut sudah benar-benar terjadi.

Barang Sudah Dikirim Belum Tentu Sudah Menjadi Penjualan

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami.

Banyak orang menganggap bahwa ketika barang sudah keluar dari gudang, maka penjualan otomatis telah terjadi.

Padahal belum tentu.

Dalam akuntansi modern, pengakuan penjualan tidak hanya ditentukan oleh perpindahan fisik barang, tetapi juga oleh kapan pengendalian atas barang tersebut berpindah kepada pelanggan.

Mengapa demikian?

Karena selama barang masih dalam perjalanan, masih ada berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Misalnya:

  • Barang hilang selama pengiriman.
  • Pembeli menolak menerima barang.
  • Barang mengalami kerusakan di perjalanan.
  • Transaksi dibatalkan.

Apabila kondisi-kondisi tersebut masih mungkin terjadi, maka dalam banyak kasus penjualan belum dapat diakui.

Artinya, belum tentu muncul piutang usaha.

Lalu Kapan Piutang Usaha Muncul?

Piutang usaha biasanya muncul ketika dua kondisi telah terpenuhi.

Pertama, penjualan telah diakui.

Kedua, pelanggan belum melakukan pembayaran.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan menjual produk kepada pelanggan dengan syarat pembayaran 30 hari.

Barang telah diterima pelanggan.

Penjualan telah diakui.

Namun pelanggan baru akan membayar satu bulan kemudian.

Dalam kondisi inilah perusahaan mencatat piutang usaha.

Artinya, perusahaan memang memiliki hak untuk menagih pembayaran kepada pelanggan.

Bagaimana dengan Transaksi COD?

Sekarang kita kembali ke pertanyaan utama.

Apakah transaksi COD termasuk piutang usaha?

Jawabannya adalah:

Tidak selalu.

Mengapa?

Karena proses COD memiliki beberapa tahapan.

Pelanggan melakukan pemesanan.

↓

Penjual mengirim barang.

↓

Kurir mengantarkan barang.

↓

Pembeli menerima barang.

↓

Pembeli melakukan pembayaran kepada kurir.

↓

Dana diteruskan kepada penjual.

Pada setiap tahapan tersebut, perlakuan akuntansinya bisa berbeda tergantung pada kapan penjualan diakui.

Itulah sebabnya tidak semua barang yang sedang dikirim otomatis menjadi piutang usaha.

Jangan Hanya Melihat Apakah Uangnya Sudah Masuk

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan pelaku usaha adalah hanya melihat satu hal.

“Uangnya sudah masuk atau belum?”

Padahal akuntansi melihat lebih banyak dari itu.

Akuntansi melihat:

  • Apakah penjualan sudah terjadi?
  • Apakah hak atas barang sudah berpindah?
  • Apakah perusahaan sudah memiliki hak untuk menagih?
  • Apakah pelanggan masih memiliki hak untuk membatalkan transaksi?

Semua pertanyaan tersebut akan menentukan apakah transaksi tersebut sudah menjadi penjualan, piutang usaha, atau bahkan belum bisa dicatat sama sekali.

Hubungan COD dengan Laporan Keuangan

Transaksi COD juga menunjukkan bahwa laporan keuangan saling berhubungan.

Apabila penjualan telah diakui tetapi pelanggan belum membayar, maka akan muncul piutang usaha pada laporan posisi keuangan (neraca).

Ketika pelanggan akhirnya melakukan pembayaran, piutang akan berkurang dan kas akan bertambah.

Yang menarik adalah, laba perusahaan tidak bertambah lagi ketika uang diterima.

Mengapa?

Karena laba sudah diakui pada saat penjualan terjadi.

Inilah alasan mengapa perusahaan bisa saja memiliki laba yang besar, tetapi kas yang dimiliki belum tentu banyak.

Kesimpulan

Apakah COD termasuk piutang usaha?

Jawabannya adalah tidak selalu.

Barang yang sudah dikirim belum tentu langsung menjadi piutang usaha. Semua bergantung pada apakah penjualan tersebut sudah memenuhi syarat untuk diakui menurut prinsip akuntansi.

Bagi pelaku usaha, memahami perbedaan antara penjualan, piutang usaha, dan arus kas merupakan hal yang sangat penting. Ketiga hal tersebut saling berkaitan, tetapi bukan berarti memiliki arti yang sama.

Semakin baik Anda memahami hubungan ketiganya, semakin mudah pula Anda membaca kondisi keuangan bisnis secara benar dan mengambil keputusan yang lebih tepat.

Jangan Anggap Remeh Hipertensi, Dampaknya Bisa Sangat Berbahaya

Jangan Anggap Remeh Hipertensi, Dampaknya Bisa Sangat Berbahaya

Liputan6.com, Jakarta – Komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Temon meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) dalam umur 59 tahun. Temon meninggal sakit apa pun menjadi pertanyaan yang paling banyak dicari di Google. Sebelum mengembuskan napas terakhir, kondisi Temon dilaporkan mendadak memburuk. Dia mengalami nyeri hebat di dada sebelah kiri hingga dilarikan ke rumah sakit. Dokter menyatakan penyebab kematiannya adalah serangan jantung.

Berdasarkan keterangan keluarga, Temon juga memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi. Melansir The Harley Street Clinic, hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri berada di atas batas normal. Tekanan ini muncul saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Jika tekanan darah terus-menerus tinggi, pembuluh darah dan organ vital dapat mengalami kerusakan.

Tekanan darah diukur menggunakan dua angka, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik menunjukkan tekanan di dalam arteri saat jantung berkontraksi atau berdetak, sedangkan tekanan diastolik menunjukkan tekanan saat jantung berelaksasi di antara detak.

Tekanan darah normal berada di bawah 120/80 mmHg. Sementara itu, berdasarkan pedoman American College of Cardiology dan American Heart Association, seseorang dinyatakan mengalami hipertensi stadium 1 apabila tekanan darah mencapai 130/80 mmHg atau lebih. Hipertensi stadium 2 didiagnosis ketika tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

Mengapa Hipertensi Berbahaya?

Hipertensi kerap dijuluki sebagai silent killer atau “pembunuh diam-diam” karena sering kali tidak menimbulkan gejala. Banyak penderita tidak menyadari bahwa tekanan darahnya sudah tinggi hingga muncul komplikasi serius.

Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat merusak pembuluh darah secara perlahan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke, gagal ginjal, hingga gangguan pada pembuluh darah.

Cara Mengendalikan Hipertensi

Mengontrol tekanan darah sangat penting untuk mencegah kerusakan organ vital, terutama jantung, otak, dan ginjal. Pada beberapa kondisi, hipertensi dapat memicu gejala seperti nyeri dada dan sesak napas. Sementara itu, jika sudah menyebabkan stroke, gejalanya dapat berupa gangguan bicara, kehilangan keseimbangan, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berjalan.

Untuk membantu mengendalikan tekanan darah sekaligus menurunkan risiko komplikasi, berikut beberapa langkah yang dianjurkan:

  • Perbanyak konsumsi buah dan sayuran.
  • Batasi asupan garam.
  • Rutin berolahraga.
  • Hindari konsumsi alkohol.
  • Berhenti merokok dan menghindari semua produk tembakau.
  • Jaga berat badan tetap ideal.

Selain menjalani pola hidup sehat, sebagian penderita hipertensi juga memerlukan obat penurun tekanan darah yang diresepkan dokter. Pengobatan ini bertujuan menjaga tekanan darah tetap terkendali sekaligus menurunkan risiko komplikasi serius.

Meski dapat memicu berbagai penyakit berbahaya, hipertensi bukanlah kondisi yang tidak bisa dikendalikan. Dengan pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup, dan pengobatan yang sesuai, tekanan darah dapat tetap terkontrol sehingga risiko kerusakan organ maupun komplikasi dapat diminimalkan.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8245311/jangan-anggap-remeh-hipertensi-dampaknya-bisa-sangat-berbahaya

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Badan Komunikasi (Bakom) RI menyebut, pemerintah fokus melindungi konsumen saat bertransaksi perdagangan digital, melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).

Menurut Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, regulasi tersebut, tidak hanya mempertegas tanggung jawab pelaku usaha. Namun juga mengatur transparansi penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pemasaran, hingga mewajibkan marketplace menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen.

“Permendag 19 Tahun 2026 diterbitkan salah satunya untuk memperkuat perlindungan konsumen dengan meningkatkan tanggung jawab pelaku usaha dalam penyelenggaraan PMSE,” kata Kurnia di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

Dia menjelaskan, penguatan perlindungan konsumen dilakukan melalui serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi pelaku usaha. Mulai dari penyediaan informasi produk yang akurat, peningkatan legalitas usaha, transparansi biaya dan promosi, hingga pengaturan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas pemasaran.

Sementara itu, regulasi tersebut juga mewajibkan Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) menyediakan layanan pengaduan sebagai jalur penyelesaian awal apabila terjadi sengketa antara konsumen dan pelaku usaha.

Mekanisme ini diharapkan mampu mempercepat penyelesaian persoalan tanpa harus langsung berlanjut ke proses hukum. “Platform PPMSE juga diwajibkan menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen yang diharapkan menjadi mekanisme penyelesaian awal sehingga permasalahan yang timbul dapat ditangani secara cepat, efektif, dan proporsional,” jelasnya.

Di sisi lain, apabila penyelesaian melalui layanan pengaduan di platform tidak mencapai kesepakatan, konsumen tetap memiliki hak untuk menempuh jalur penyelesaian sengketa sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Apabila kemudian penyelesaian melalui mekanisme pengaduan pada platform belum menghasilkan penyelesaian, konsumen dapat menempuh mekanisme penyelesaian sengketa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk melalui saluran pengaduan kepada Kementerian Perdagangan atau mekanisme-mekanisme lainnya,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah menegaskan penerapan aturan baru ini tetap mempertimbangkan kondisi pelaku usaha, terutama UMKM. Seluruh kewajiban dalam Permendag Nomor 19 Tahun 2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha dan dilengkapi masa transisi agar proses penyesuaian dapat berjalan secara bertahap.

“Kewajiban Permendag 19/2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha serta dilengkapi masa transisi yang memadai,” ucapnya.

Karena itu, regulasi ini tidak hanya berisi kewajiban, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing UMKM di tengah kompetisi perdagangan digital yang semakin ketat.

“Dengan demikian, pengaturan ini tidak hanya memuat kewajiban bagi pelaku usaha, tetapi juga memberikan dukungan dan afirmasi bagi UMKM untuk meningkatkan daya saingnya di platform digital,” tuturnya.

sumber : https://www.inilah.com/perkuat-perlindungan-konsumen-saat-transaksi-online-bakom-pemerintah-luncurkan-permendag-192026

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya

Sholat safar merupakan salat sunah dua rakaat yang dilakukan sebelum melakukan safar atau perjalanan jauh.

Ibadah itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar atau permohonan perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT.

Amalan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian jauh, sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik berikut:

“Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan salat dua rakaat.”

Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan apa keutamaan sholat safar?

Niat Sholat Safar

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatas safari rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Safar

Cara salat safar tidak berbeda dengan salat sunah pada umumnya, yakni diawali niat, takbiratul ihram, rukuk, iktidal, sujud, dan tasyahud.

Berikut adalah tata cara sholat safar secara lengkap:

  1. Membaca niat
  2. Melakukan takbiratul ihram
  3. Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan surah Al-Kafirun
  4. Surah lain yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah Al-Falaq
  5. Rukuk, iktidal, sujud
  6. Berdiri untuk mengerjakan rakaat kedua
  7. Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas atau An-Nas
  8. Melakukan gerakan seperti rakaat pertama
  9. Setelah salat, dianjurkan memperbanyak membaca ayat kursi dan surah Quraisy

Kapan Waktu Salat Safar?

Salat safar boleh dilakukan kapan pun oleh seorang Muslim yang hendak bepergian jauh. Artinya, boleh dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam sebelum perjalanan.

Doa setelah Salat Safar

Di bawah ini adalah doa yang dibaca setelah mengerjakan salat safar:

اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ

Allahumma bika asta’inu, wa ‘alaika atawakkalu. Allahumma zallil li su’ubata amri, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safari, warzuqni minal khairi mim ma atlubu, wasrif ‘anni kulla syarr, rabbisrah li sadri wa yassir li amri.

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”

Apa Keutamaan Salat Safar?

Beberapa keutamaan salat safar di antaranya:

  • Memohon perlindungan Allah SWT dari segala keburukan dan bahaya selama perjalanan
  • Menghalangi keburukan setelah keluar dari rumah
  • Bekal untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah
  • Mendapat keberkahan dari Allah SWT

Selain itu, mengerjakan salat Safar dan salat sunah lainnya juga bisa menjadi penyempurna salat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Wa minal laili fatahajjad bihee naafilatal laka ‘asaaa any yab’asaka Rabbuka Maqaamam Mahmoodaa

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/salat-sunah-safar-tata-cara-niat-doa-dan-keutamaannya

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu

Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri.

Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.”

Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.”

Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)

Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”.

Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.

So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik.

Moga kita dapat hidayah.

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq

Mengaku Ahlus sunnah, akhlaqnya kok gitu? Ahlus sunnah kok tidak murah senyum pada orang lain? Ahlus sunnah kok enggan mengucapkan salam atau membalas salam orang lain? Ahlus sunnah kok kasar dengan orang tua, keras pada yang lain? Ahlus Sunnah kok cepat mencap sesat orang lain?

Yang benar, Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlaq. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku aqidah mereka.

Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,

وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .

“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.”

Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.

Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.

Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlaq yang mulia dan melarang dari akhlaq yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaqlah yang mulia. Jangan berakhlaq bengis, kasar, dan bejat.

Hanya Allah yang memberi taufiq.

Sumber : https://radiomutiaraquran.com/2026/07/14/mengaku-ahlus-sunnah-namun-tidak-berakhlaq/

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?

Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.

Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.

Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).

Takdir Abu Lahab

Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)

Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.

Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?

Mukjizat Al-Qur’an

Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.

Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.

Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.

Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.

Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.

Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.

Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.

Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.

Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.

Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.

Wallahu A’lam.

Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

Menghadirkan Rasa Nikmat dalam Berjuang

QARUN adalah orang yang mendapat ujian nikmat harta. Tetapi ia terlena, teranestesi, oleh kekayaan itu. Ia bahkan merasa bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri.

Sementara itu, Utsman bin Affan ra. adalah sahabat Nabi SAW yang juga dalam kondisi mengalami ujian kekayaan. Namun, Utsman ra. mampu memilih jalan takwa. Mengapa kedua orang itu berbeda pilihan hidup?

Jelas, masalahnya bukan pada harta, tapi dari cara keduanya dalam menjadikan harta sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT. Qarun bangga dan kagum pada harta. Utsman ra. sadar bahwa ia harus lebih kagum, takjub dan taat kepada yang memberi nikmat kekayaan itu.

Dalam hal ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa manusia selalu bergerak menuju sesuatu yang ia anggap paling bernilai. Nilai tertinggi seseorang menentukan arah hidupnya. Jika nilai tertingginya diri dan materi, nikmat menjadi pusat. Jika nilai tertingginya Allah dan kemaslahatan, nikmat menjadi sarana.

Berjuang adalah Nikmat

Nikmat itu netral. Pada realitanya, nikmat akan semakin bernilai ketika kita sikapi sebagai penggerak jiwa terus dalam kebaikan. Pada kondisi itu nikmat bisa jadi bahan bakar perjuangan.

Namun, ketika sikap kita keliru, maka nikmat juga bisa menjadi bantal empuk yang menidurkan idealisme, cita-cita, bahkan visi.

Untuk itu, penting kita merenung sejenak, bagaimana cara kita memperlakukan nikmat iman, nikmat hidup ini untuk merasakan nikmat dalam berjuang.

Ini karena otak manusia secara biologis memang cenderung mencari kenyamanan dan menghindari risiko. Itu mekanisme bertahan hidup. Namun, manusia bukan hanya makhluk biologis; ia makhluk bernilai dan bermakna. Ketika seluruh hidup hanya mengikuti dorongan nyaman, manusia turun derajatnya menjadi sekadar pencari sensasi aman.

Karena manusia menemukan makna ketika ia berkorban untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, maka sebenarnya berjuang itu nikmat. Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, sebagaimana Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, KH. Hamim Tohari tegaskan dalam kajian online yang Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah selenggarakan (Jumat, 27/2/26), bahwa berjuang adalah kenikmatan.

Lelahnya orang yang berjuang, sakitnya orang yang berjuang, merupakan anak tangga merasakan kenikmatan iman yang luar biasa.

“Kenikmatan hidup tidak hanya karena makanan yang lezat, tidur di atas kasur yang empuk atau istirahat yang cukup. Justru dari kelelahan berjuang kenikmatan itu hadir, timbul kelezatan dan kenikmatan iman. Maka berjuang, jihad, menjadi pilihan kita karena di sana tersedia berbagai kelezatan dan kenikmatan iman,” tegas KH. Hamim Tohari.

Semakin Berat Semakin Nikmat

Secara umum, otak manusia suka pada hal-hal yang ringan, menghemat energi dan tak terlalu makan tenaga apalagi biaya. Begitupun secara psikologis, rasa nyaman selalu menjadi prioritas bagi kebanyakan orang. Meski itu beresiko terhadap kurangnya sens of urgency.

Logikanya sederhana, seringkali kesulitan memaksa manusia keluar dari zona nyaman dan zona otomatis. Ia menjadi lebih sadar, lebih fokus, lebih bergantung pada Allah. Kesadaran yang meningkat itulah yang menghadirkan rasa nikmat iman.

Sebagaimana dahulu semakin ada tantangan semakin datang rasa nikmat. Seperti sikap mental kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW.

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).

Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa itu adalah sikap mental orang beriman. Ketika tantangan besar, yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan koalisi kaum kuffar terjadi, umat Islam tidak gentar apalagi mengeluh. Mereka malah semakin yakin bahwa janji Allah dan Rasul-Nya akan segera menjadi kenyataan. Tantangan yang tidak ringan itu malah meningkatkan kualitas iman mereka.

Makna Hidup

Belajar dari sejarah tersebut, tepat sekali apa yang Ust. Abdullah Said sampaikan. Bahwa berjuang adalah kenikmatan. Hal ini karena manusia adalah makhluk relasional. Ia tidak bisa hidup hanya untuk dirinya. Ketika ia memusatkan hidup pada diri sendiri, ruang jiwanya menyempit. Ketika ia memberi, ruang jiwanya melebar.

Secara empiris kita mengetahui bahwa manusia semakin punya kontribusi bagi kehidupan umat manusia semakin bahagia. Sikap mental yang selalu ingin mengambil peran, berkontribusi pada kebaikan, akan melahirkan hidup yang penuh makna. Makna itu akan mendatangkan ketenangan.

Sebaliknya kita memahami bahwa semakin orang individualis, mau menggenggam harta sebagai sandaran kebahagiaan, semakin ia akan gelisah. Hidupnya pun mengalami stagnasi. Stagnasi menjadi sebab hidup yang penuh kehampaan.

Belajar Pada Kader dan Santri Awal Hidayatullah

Oleh karena itu kalau kita belajar kepada kader dan santri awal Hidayatullah. Bukan karena mereka kebal terhadap kesulitan, tetapi karena mereka memiliki visi yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi.

Alhasil, mereka tidak takut akan segala kondisi. Bukan karena mereka tahu, ada uang dan punya hal yang bisa diandalkan. Tetapi karena mereka yakin, hidup yang nikmat adalah ketika diri mau totalitas berjuang.

Lantas bagaimana dengan saat ini? Jika dahulu bisa, apa yang menghambat hari ini kita menjadi tidak bisa merasakan nikmat dalam berjuang. Di sinilah kita penting terus ingat akan nikmat-nikmat hebat dalam perjuangan.

Sungguh perbedaan masa bukanlah kunci jawaban untuk melegitimasi bahwa berjuang bisa kita kurangi powernya. Perbedaan masa adalah sunnatullah, tapi tekad dan semangat adalah sikap mental yang harus kita rawat agar sama, menyala-nyala sebagaimana generasi terdahulu.

Tidak samanya masa hanyalah sebuah kondisi yang menuntut kita lebih adaptif dalam hal cara dan strategi. Bukan mengubah apalagi mengganti nilai dan idealisme dengan logika materi.

Dengan demikian, kita sampai pada satu kesimpulan penting, bahwa nikmat yang tidak diarahkan pada perjuangan akan mempersempit jiwa. Nikmat yang digunakan untuk perjuangan akan meluaskan makna hidup.[]

Mas Imam Nawawi

Sumber : https://hidayatullah.or.id/menghadirkan-rasa-nikmat-dalam-berjuang/

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

Mengapa Muslim dan Kafir Dibedakan

SETIAP muslim pasti meyakini bahwa ia lebih unggul, mulia, luhur derajatnya daripada kafir. Sehingga realitas kehidupan diliputi keamanan, kejayaan, kesucian, keberkahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 139)

Allah memberi rahmat, maghfirah, pertolongan di dunia kepada muslim dan memasukkannya ke dalam surga-Nya sebagai wujud perhatian dan kecintaan-Nya kepadanya.

Sedangkan Allah tidak merahmati, tidak mengampuni, dan tidak mencintai orang kafir dan memasukkannya ke dalam neraka-Nya secara permanen.

Yang diperlu diberi garis tebal di sini, mengapa demikian mulia posisi muslim dan demikian rendah/hina kedudukan kafir disisi Allah ? Sedangkan sama-sama hamba-Nya, sama-sama manusia, sama-sama keturunan Nabi Adam, sama-sama menikmati wasilatul hayah (sarana kehidupan) secara gratis, sama-sama mengkonsumsi karunia-Nya, sama-sama penghuni bumi dan langit-Nya.

Mereka juga sama-sama dilahirkan oleh ibu dalam keadaan lemah dan sama-sama meninggal dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa, dan sama-sama dikubur di alam barzakh-Nya!

Kalau tidak ada perbedaan atribut lahiriyahnya muslim dengan kafir, mengapa demikian menganga perbedaan kedua makhluk-Nya tersebut ?

Apakah karena muslim bernama Ahmad, Sumayya, Shabiyya dan kafir bernama Robert, Kristiani, Kristianto? Apakah karena muslim berkhitan, tidak makan daging babi, yang menjadi standar perbedaan kedudukan keduanya? Bukankah Allah sudah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya untuk memperlakukan seluruh makhluk-Nya di muka bumi ini?

Perbedaan

Sesungguhnya Islam tidak membedakan seseorang dengan lainnya karena faktor keturunan, status sosial, jabatan, asesoris lahiriyah, tetapi yang paling mulia disisi-Nya adalah yang paling berkulitas ketakwaannya (QS. Al Hujurat : 13).

Dengan demikian, perbedaan muslim dan kafir adalah diukur dari seberapa jauh sikap ridha Allah sebagai Rabbul Alamin, Islam sebagai din, Rasulullah sebagai utusan-Nya. Jadi, turunnya rahmat, maghfirah, pertolongan, keberkahan berbanding lurus dengan keterikatannya yang kokoh (iltizam) dengan Rabb, Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu diantara zikir yang matsur, dapat menjamin seseorang masuk surga, jika zikir berikut ia panjatkan dengan hati yang tulus. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda :

من قال رضيت بالله ربا وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم رسولا وجبت له الجنة

“Barang siapa yang mengucapkan ‘Radhiitu billahi rabbaa wa bil islaami diinaa wa bi muhammadin shallaa allahu ‘alaihi sa sallama rasuulaa’ (Aku rela Allah Swt sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Saw sebagai Rasul) Maka surga merupakan suatu kepastian baginya” (HR. Abu Dawud & dishahihkan Albani).

Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa hadits ini mengandung inti dari pada rukun iman. Ridha Allah sebagai Rabb mengandung makna bahwa ia rela hanya akan menyembah dan mentauhidkan-Nya semata, sadar bahwa hanya Dia tempat bergantung dan meminta pertolongan. Ridha dengan Nabi Muhammad sebagai rasulnya berarti ia rela dan tulus dan total mengikuti ajarannya. Ridha dengan Islam sebagai agamanya berarti ia rela dan ikhlas menjadikan islam sebagai jalan hidupnya (manhajul hayah).

Setelah hadits di atas, Imam Nawawi mengaitkan sabda Rasul tersebut dengan hadits lainnya. Beliau menyebut riwayat yang terdapat di dalam kitab Imam Tirmidzi, yang berasal dari sahabat Abdullah Ibnu Busr Ra, berkata,

أن رَجُلاً قال : يا رسول الله إن شرائِع الإسلام قد كثُرت عليه فأخبرني بشيئ أتشبَّث به، فقال : لا يزال لِسانك رَطبًا مِن ذكر الله تعالى

Seorang lelaki mengatakan, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat-syariat Islam telah banyak atas diriku, maka beritahukanlah kepadaku suatu amalan yang akan kupegang erat-erat.” Nabi Saw menjawab, “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir menyebut Allah Swt.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, kualitas hadis ini hasan. Lafaz atasyabbatsu mengandung makna atamassaku (berpegang teguh), yakni (zikir) yang bisa aku jadikan sebagai pegangan dan amalan andalanku. Yaitu zikir yang mudah dipanjatkan kapanpun agar bisa menambal kekurangan ibadah-ibadah wajib yang hilang yang karenanya pahala amalan wajib menjadi tidak sempurna.

Dalam hadits terakhir, Rasul tidak menyebutkan apa zikir yang bisa dijadikan pegangan oleh sahabat tersebut. Beliau hanya menekankan agar ia selalu berzikir hingga bibirnya selalu basah karena menyebut nama Allah dan itu bisa dengan melafalkan zikir apapun.

Jika berharap zikir yang menjamin masuk surga, maka bisa mengamalkan zikir yang diajarkan Rasulullah dalam hadis pertama. Namun jika ingin membuat timbangan amalnya berat, maka bisa dengan melantunkan zikir yang lain.

ومعناه اي قنعت بان الله تعالى هو الخالق والسيد والمالك والمصلح والمربي لخلقه والمدبر امورهم ولستُ بمكره على ذلك بل انا راضٍ به ، وكذلك رضيت ان ادين بدين الاسلام عما سواه من الاديان ، وكذلك رضيت بحمّد صلى الله عليه وسلم رسولا من الله مخالفا من عائدٍ وكفر به ، اي : ان من يقول هذا الدعاء كان حقّا على الله ان يدخله الجنة

Makna hadits di atas, aku puas bahwa Allah sebagai Al Kholiq, Tuan, Raja, Mushlih dan Murabbi kepada seluruh makhluk-Nya, dan Pengatur segala urusannya, dan aku tidak benci dengan itu semua, bahkan aku ridha dengannya, demikian pula aku ridha untuk memeluk dinul Islam yang unggul diatas seluruh agama.

Disamping itu aku ridha Muhammad sebagai Rasulullah, menyelisihi dengan para pengingkar dan penentangnya. Sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut, merupakan kewajiban Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika seorang muslim yang tidak ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai manhajul hayah, dan Rasulullah sebagai figur sentralnya ?

Apakah perlu dibedakan jika ucapan dan perilaku muslim beririsan (tasyabbuh) dengan orang kafir? Bahkan secara lahiriyah negara kafir lebih bersih, jujur, disiplin, manajemen lebih rapi, sumber daya manusianya lebih berkelas.

Realitas kehidupan kaum muslimin menjadi bukti, paradok dengan isi kitab sucinya. Al Islamu mahjubun bilmuslimin. Umat islam lebih culas, tidak disiplin, konsumtif, kurang bersih dan kurang disiplin dan mutu sumber daya mukmin yang dibawah standar umum.

Jika muslim tidak melakukan cabang keimanan yang prinsip, mentauhidkan Rabb, mencintai Islam, memuliakan Rasulullah, karena faktor kebodohan, maka urusannya terserah Allah diampuni ataupun disiksa dengan azab-Nya.

Berbeda status hukumnya jika muslim sengaja secara struktur dan masif untuk menentang Rabb, menyudutkan dinul Islam, merendahkan derajat Rasulullah, secara otomatis bisa menggugurkan keislamannya.

Langkah kongkritnya adalah meyakinkan diri dan orang lain agar lebih mengenal Rabb, memahami dan mengamalkan Islam, meneladani Rasulullah, agar kaum muslimin lebih berkualitas dalam berbagai dimensi kehidupannya..

Justru ketetapan Allah membedakan yang berbeda dan menyamakan yang sama adalah sikap adil. Alangkah zalimnya jika manusia yang shalih di dunia dengan kafir yang kerjanya berbuat kerusakan, ujung kehidupannya disamakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ

“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (QS. Al-Qalam 68: 35)

مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ

“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)

Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.

فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)

Ust. Sholih Hasyim, penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

Sumber : https://hidayatullah.or.id/mengapa-muslim-dan-kafir-dibedakan/