Ada Desa Muslim di Amerika, Dibangun oleh Mualaf dan Arsitek Mesir

Ada Desa Muslim di Amerika, Dibangun oleh Mualaf dan Arsitek Mesir

Jakarta – Di tengah bentang gurun New Mexico, Amerika Serikat, terdapat sebuah kawasan yang memiliki sejarah unik dalam perkembangan Islam di negeri tersebut. Namanya Dar al Islam, sebuah komunitas dan pusat pendidikan Islam yang berada di Abiquiu, New Mexico.

Dilansir dari laman Dar Al Islam, desa unik ini awalnya dibangun dengan gagasan membentuk komunitas muslim Amerika yang mandiri dan memiliki kehidupan bersama berlandaskan nilai-nilai Islam.

Meski kerap disebut sebagai “desa muslim” atau “desa Islam” di Amerika, Dar al Islam perlu dipahami bukan sebagai desa administratif yang seluruh penduduknya saat ini tercatat sebagai muslim. Lebih tepatnya, kawasan ini merupakan komunitas Islam yang sejak awal dirancang sebagai permukiman muslim sekaligus pusat pendidikan.

Bahkan, organisasi Dar al Islam kini menyebut dirinya sebagai institusi Islam berbasis alam yang terbuka bagi komunitas muslim maupun nonmuslim.

Menariknya, komunitas ini lahir dari gagasan seorang mualaf Amerika dan kemudian diwujudkan melalui arsitektur khas karya Hassan Fathy, arsitek ternama asal Mesir.

Berawal dari Gagasan Seorang Mualaf Amerika

Dar al Islam didirikan pada 1979 dengan visi membangun komunitas muslim yang dapat menjalankan kehidupan bersama berdasarkan nilai-nilai Islam.

Nuruddin Durkee, seorang warga Amerika yang kemudian menjadi muslim, merupakan salah satu tokoh utama di balik gagasan tersebut. Ia sebelumnya memiliki pengalaman membangun komunitas dan kemudian mempelajari Islam lebih jauh, termasuk di Makkah.

Dalam perjalanannya di Makkah, Durkee bertemu dengan Sahl Kabbani, seorang pengusaha asal Saudi yang pernah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Keduanya kemudian memiliki gagasan untuk membangun sebuah komunitas Islam di Amerika. Gagasan tersebut berkembang menjadi proyek Dar al Islam.

Abdullah Nasseef, yang saat itu dikenal sebagai tokoh akademik dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, juga ikut terlibat dalam pendirian proyek tersebut. Dukungan finansial dari sejumlah pihak di Arab Saudi turut membantu pembelian lahan dan pembangunan fasilitas komunitas.

Dengan demikian, Dar al Islam bukanlah kawasan yang muncul secara spontan. Ia dirancang sejak awal sebagai sebuah komunitas yang diharapkan dapat menjadi tempat tinggal, belajar, beribadah, dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam lingkungan muslim.

Bukan Sekadar Masjid di Tengah Gurun

Dar al Islam berada di kawasan Abiquiu, New Mexico, tepatnya di lembah Sungai Chama. Lokasinya berada di dataran tinggi berbukit yang berhadapan dengan desa bersejarah Abiquiu.

Menurut pengelola Dar al Islam, kampus tersebut kini berpusat pada masjid dan kompleks pendidikan. Bangunan aslinya terbuat dari adobe, yakni batu bata berbahan tanah liat.

Kompleks tersebut pada awalnya dirancang dengan cakupan yang jauh lebih besar. Selain masjid dan sekolah, gagasan awalnya mencakup rumah, lahan pertanian, serta fasilitas yang dapat menopang kehidupan komunitas.

Dalam kajian arsitektur, Dar al Islam bahkan disebut sebagai proyek komunitas Islam terencana pertama di Amerika Serikat. Organisasi tersebut didirikan pada akhir 1970-an dan bangunan utama mulai diwujudkan pada awal 1980-an.

Dibangun dengan Arsitektur Tanah Liat Khas Mesir

Salah satu hal yang membuat Dar al Islam menarik adalah arsitekturnya.

Masjid dan madrasah di kawasan tersebut dirancang oleh Hassan Fathy, arsitek Mesir yang dikenal karena mengembangkan arsitektur berbasis material lokal dan teknik bangunan tradisional.

Fathy menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dari bangunan modern yang umumnya menggunakan beton dan baja. Di Dar al Islam, ia mengembangkan teknik konstruksi adobe yang memiliki akar kuat dalam tradisi arsitektur Afrika Utara dan kawasan Timur Tengah.

Menurut Society of Architectural Historians, masjid dan madrasah Dar al Islam merupakan satu-satunya karya Hassan Fathy yang benar-benar dibangun di belahan bumi Barat.

Fathy datang langsung ke Abiquiu pada 1980 bersama dua ahli konstruksi dari Nubia. Mereka membantu mengajarkan teknik pembuatan batu bata tanah dan konstruksi kubah kepada para pekerja lokal serta orang-orang yang datang untuk membantu pembangunan.

Hasilnya adalah bangunan yang tampak seperti berada di Afrika Utara atau Timur Tengah, tetapi sesungguhnya berdiri di tengah lanskap gurun New Mexico.

Society of Architectural Historians mencatat organisasi tersebut pernah memiliki area lapang seluas sekitar 8.500 acre atau sekitar 3.400 hektare di sisi utara dan selatan Sungai Chama. Sebagian besar lahan tersebut kemudian dijual pada 2005-2006 sehingga luas properti yang tersisa kini sekitar 1.350 acre.

Sumber lain yang terbit pada 1988 menggambarkan Dar al Islam sebagai komunitas yang saat itu berkembang di kawasan yang jauh lebih luas. Lahan tersebut tidak hanya digunakan untuk masjid dan sekolah, tetapi juga mencakup rumah, lahan pertanian, serta fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang Tinggal di Dar al Islam

Pada masa perkembangannya, Dar al Islam dihuni oleh muslim dengan latar belakang yang beragam.

Ada mualaf Amerika, imigran muslim, keluarga, serta anak-anak yang tumbuh di antara tradisi Islam dan kehidupan Amerika.

Karena itu, komunitas tersebut sejak awal memiliki karakter yang unik. Islam yang tumbuh di sana bukan hanya dibawa oleh imigran dari negara-negara muslim, tetapi juga berkembang melalui orang-orang Amerika yang memilih memeluk Islam.

Namun, penting dicatat bahwa istilah “desa 100 persen muslim” tidak sebaiknya digunakan secara harfiah untuk menggambarkan kondisi Dar al Islam saat ini. Sumber resmi Dar al Islam tidak menyebut kawasan tersebut sebagai desa administratif dengan komposisi penduduk 100 persen muslim. Saat ini, Dar al Islam justru secara terbuka menyambut komunitas muslim maupun nonmuslim untuk mengikuti berbagai kegiatan.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8620260/ada-desa-muslim-di-amerika-dibangun-oleh-mualaf-dan-arsitek-mesir

Mukena Dipakai Berkali-kali, Apakah Tetap Suci untuk Salat?

Mukena Dipakai Berkali-kali, Apakah Tetap Suci untuk Salat?

Jakarta – Dalam ajaran Islam, salah satu syarat yang harus dipenuhi agar ibadah salat sah adalah suci. Kesucian ini tak hanya untuk badan, tetapi juga pakaian atau alat salat yang dikenakan.

Persoalan kerap dialami muslimah yang mengenakan mukena berulang kali. Debu, kotoran, atau aroma tidak sedap yang menempel di mukena kadang membuat ragu, apakah tetap sah untuk salat atau justru sebaliknya.

Hukum Kesucian Memakai Mukena Berulang Kali

Pada dasarnya, mukena yang dipakai berulang kali tetap sah digunakan untuk salat asal tidak terkena najis. Najis adalah sesuatu yang kotor yang menyebabkan terhalangnya ibadah.

Disebutkan dalam Buku Lengkap Fiqh Wanita oleh Abdul Syukur al-Azizi, apabila pakaian terkena najis seperti kotoran dan kencing manusia atau hewan, maka harus dibersihkan karena mengakibatkan ibadahnya tidak sah. Oleh karenanya, diwajibkan bagi setiap umat Islam untuk menyucikan diri apabila terkena najis agar kesahihan ibadahnya tidak rusak atau batal.

Terdapat riwayat hadits yang menyebutkan bahwa seorang mukmin tidaklah menjadi najis karena ia telah menyucikan diri.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا بَكْرٌ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَقِيَهُ فِي بَعْضِ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ وَهْوَ جُنُبٌ، فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ، فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ ” أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ “. قَالَ كُنْتُ جُنُبًا، فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ. فَقَالَ ” سُبْحَانَ اللَّهِ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ “.

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bertemu denganku di salah satu jalan di Madinah dan pada saat itu aku dalam keadaan junub. Maka aku menjauh darinya dan pergi untuk mandi. Saat kembali, Rasulullah berkata, “Wahat Abu Hurairah! Di mana kamu?” Aku menjawab, “Aku dalam keadaan junub, jadi aku tidak suka duduk bersamamu dalam keadaan tidak suci.” Rasulullah berkata, “Subhan Allah! Seorang mukmin tidak menjadi najis.” (HR Bukhari).

Perbedaan Kotor dan Najis

Dalam Islam, kotor bukan berarti najis. Umat Islam perlu memperhatikan perbedaan kotor dan najis agar lebih berhati-hati dalam menjaga kesucian diri.

Kotor merujuk kepada keringat, debu, dan bau, sementara najis merupakan hal-hal yang telah diyakini dapat merusak kesucian diri seperti air kencing, darah haid, dan kotoran manusia atau hewan.

Kendati pakaian kotor tidak merusak kesahihan ibadah, hendaklah menggunakan pakaian dan mukena atau alat ibadah lainnya yang bersih dan wangi karena dalam firman-Nya, Allah SWT menganjurkan umat Islam untuk mengenakan pakaian yang indah.

Sesungguhnya Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ ۝٣١

Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

 

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/muslimah/d-8617006/mukena-dipakai-berkali-kali-apakah-tetap-suci-untuk-salat

Orang Tua Meninggal Tinggalkan Utang, Anak Wajib Bayar atau Tidak?

Orang Tua Meninggal Tinggalkan Utang, Anak Wajib Bayar atau Tidak?

Jakarta – Muslim yang berutang harus melunasi utangnya sesuai dengan tenggat yang ditentukan. Meski praktik utang piutang diperbolehkan dalam Islam, kewajiban membayarnya sangat ditekankan.
Kewajiban membayar utang ditegaskan dalam surah Al Baqarah ayat 282. Allah SWT berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya.”

Saking pentingnya membayar utang, dalam sebuah hadits dikatakan utang jadi penghalang mati syahid seseorang. Dari Muhammad Abdillah bin Jahsy, dari ayahnya dia berkata:

“Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku berjihad di jalan Allah lalu mati, di manakah tempatku?’ Rasulullah menjawab, ‘Surga.’ Namun ketika lelaki itu beranjak pergi, Rasulullah memanggilnya kembali dan berkata, ‘Kecuali jika engkau masih memiliki utang. Utang dapat menghalangimu masuk surga. Jibril baru saja membisikkan hal itu kepadaku’.” (HR Ahmad)

Menurut buku Magnet Rezeki Suami Istri yang disusun Ibnu Mas’ad M, dalam Islam utang memiliki dampak yang mendalam terhadap keberkahan hidup, begitu pun dengan rezeki dan kehormatan seseorang. Tidak membayar utang bisa berdampak buruk bagi individu yang berutang dan keluarganya.

Saat seseorang meninggal dunia dalam keadaan masih memiliki utang, perkara tersebut menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan dan menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga maupun ahli warisnya.

Lalu, bagaimana dengan utang orang tua yang meninggal dunia? Apakah wajib dilunasi oleh anaknya?

Anak Tidak Wajib Membayar Utang Orang Tua yang Meninggal, Tapi…

KH Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya) dalam ceramahnya mengatakan secara hukum Islam utang adalah urusan masing-masing. Seorang anak tidak wajib melunasi utang orang tuanya yang meninggal dunia.

Tetapi, jika orang tua yang wafat itu meninggalkan harta maka harta peninggalannya harus digunakan untuk membayar utang. Buya Yahya menyebut haram hukumnya bagi sang anak mengambil harta peninggalan sang ayah apabila utang orang tuanya belum lunas.

“Kalau dia punya peninggalan, ingat ahli warisnya awas haram mengambil sepeser pun dari harta peninggalan kecuali dahulukan utang. Utang bayar dulu, biarpun sampai habis (harta warisnya) karena itu milik orang yang berutang,” katanya dalam YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip channel tersebut.

Buya Yahya menegaskan orang yang diutangi lebih berhak atas harta peninggalan si mayit ketimbang ahli warisnya.

“Setelah (orang yang berutang) meninggal dunia, (maka) diambil dari harta warisnya karena yang ngutang itu lebih berhak sebelum anak-anaknya,” ujarnya.

Turut disebutkan dalam buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillatuhu oleh Wahbah Az Zuhaili (Edisi Indonesia terbitan Gema Insani), utang jenazah wajib dibayar dari seluruh harta yang tersisa. Pembayaran utang harus lebih didahulukan sebelum wasiat, ini jadi bukti kewajiban utang yang harus dilunasi meski orang tersebut telah meninggal dunia.

Dari Ali bin Abi Thalib RA, dia berkata:

“Aku melihat Rasulullah SAW mulai mengurus utang mayit daripada wasiat.” (HR Tirmidzi)

Bagaimana Jika Orang Tua yang Berutang Meninggal dan Tidak Mampu Bayar?

Menurut Buya Yahya, jika orang tua sudah meninggal dan tidak mampu membayar utang meski dia sudah berusaha sekeras mungkin untuk melunasi maka tidak mengapa. Dengan catatan, orang tersebut benar-benar tidak mampu dan dia berutang untuk kebaikan, bukan maksiat seperti judi.

“Ada orang pinjem duit gak mampu membayar tapi sudah berusaha keras, dia berusaha kerja, gak bisa bayar sampe mati ya tidak dosa. Orang dia tidak mampu? Kalau dia niat minjamnya benar untuk rawat anaknya sakit dan sebagainya untuk tujuan benar bukan pinjam untuk judi, ternyata dia belum bisa membayarnya sampe mati? Tidak dosa dia di hadapan Allah. Karena memang dia tidak bisa bayar, tapi dengan catatan memang betul-betul dia tidak mampu,” jelas Buya Yahya menguraikan.

Dia juga menuturkan jika sang anak masih hidup, berkecukupan dan memiliki harta berlebih untuk membayar utang orang tuanya yang meninggal dunia, alangkah baiknya dibayarkan. Menurut Buya Yahya tindakan ini jadi bentuk balas budi terhadap orang tua, terlebih jika utang yang diajukan orang tuanya untuk biaya hidup sang anak.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8599055/orang-tua-meninggal-tinggalkan-utang-anak-wajib-bayar-atau-tidak

Rajin Ibadah tetapi Hati Masih Gelisah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Rajin Ibadah tetapi Hati Masih Gelisah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ketenangan hati merupakan salah satu kenikmatan yang didambakan setiap manusia. Kekuatan fisik, kecantikan rupa, kekayaan, dan berbagai kemewahan lahiriah tidak akan terasa sempurna tanpa ketenangan hati. Sebab, hati yang tenteram membuat seseorang mampu menikmati kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Sebaliknya, kegelisahan hati merupakan keadaan yang tidak diinginkan siapa pun. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh ketenangan dan menghindarkan diri dari perasaan gelisah. Namun, kenyataan terkadang berkata lain. Kegelisahan tetap datang meskipun seseorang merasa telah rajin beribadah.

Pertanyaan pun muncul: mengapa hati masih gelisah padahal shalat telah dijaga, zikir telah dibaca, dan ibadah lainnya rutin dilaksanakan?

Dalam keadaan seperti ini, ibadah seakan-akan belum memberikan pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Ia belum sepenuhnya menjadi penenang ketika seseorang menghadapi musibah, konflik rumah tangga, tekanan pekerjaan, maupun kesulitan hidup lainnya.

Tentu, kegelisahan dapat muncul karena banyak faktor. Tulisan ini secara khusus mengajak pembaca melakukan evaluasi dari sisi spiritual dan sosial. Setidaknya, terdapat tiga kemungkinan yang perlu direnungkan, yaitu kualitas ibadah yang belum terjaga, kemaksiatan yang masih menutupi hati, dan hubungan sosial yang belum baik.

Kemungkinan Pertama: Kualitas Ibadah Belum Terjaga

Tidak ada yang salah dengan kerajinan dalam beribadah. Kebiasaan tersebut harus terus dijaga dengan sabar. Sebab, bersabar dalam menjalankan ketaatan merupakan salah satu bentuk kesabaran yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Namun, selain menjaga kuantitas, kita juga perlu meningkatkan kualitas ibadah. Cobalah merenung: apakah ibadah yang kita kerjakan sudah benar-benar menyentuh hati? Apakah syarat dan rukunnya telah dilaksanakan sesuai tuntunan syariat? Apakah ibadah tersebut telah disertai keikhlasan, kekhusyukan, dan kesadaran menghadap Allah?

Jawabannya tentu terdapat dalam hati kita masing-masing. Mari mengambil contoh ibadah shalat. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Artinya, “Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 45).

Ayat tersebut secara tegas menyatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Namun, mengapa masih ada orang yang rajin shalat, tetapi tetap melakukan keburukan?

Salah satu jawabannya terletak pada kualitas shalat yang dikerjakan. Shalat seseorang mungkin telah sah secara fiqih dan menggugurkan kewajiban, tetapi pengaruhnya terhadap jiwa dan perilaku belum tentu sempurna.

Berkaitan dengan hal ini, Imam Al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat tentang Ibnu Mas‘ud:

وَقِيلَ لِابْنِ مَسْعُودٍ: إِنَّ فُلَانًا كَثِيرُ الصَّلَاةِ فَقَالَ: إِنَّهَا لَا تَنْفَعُ إِلَّا مَنْ أَطَاعَهَا

Artinya, “Dikatakan kepada Ibnu Mas‘ud, ‘Sesungguhnya si fulan adalah orang yang rajin shalat.’ Ia kemudian berkata, ‘Sesungguhnya shalat tidak akan memberikan manfaat kecuali kepada orang yang menaati tuntunan shalat tersebut.’” (Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Tafsirul Qurthubi, [Mesir: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1964], jilid XIII, hlm. 348).

Manfaat yang dimaksud dalam penjelasan tersebut adalah pengaruh shalat dalam mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Adapun dari sisi hukum fiqih, shalat yang telah memenuhi syarat dan rukunnya tetap menggugurkan kewajiban.
Lalu, seperti apakah shalat yang mampu mencegah kemungkaran? Jawabannya tergambar dalam penjelasan Imam Abu al-‘Aliyah yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir:

وَقَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ فِي قَوْلِهِ: إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، قَالَ: إِنَّ الصَّلَاةَ فِيهَا ثَلَاثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلَاةٍ لَا يَكُونُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الْخِصَالِ فَلَيْسَتْ بِصَلَاةٍ: الْإِخْلَاصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللَّهِ

Artinya, “Imam Abu al-‘Aliyah berkata mengenai firman Allah, ‘Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.’ Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya di dalam shalat terdapat tiga unsur. Setiap shalat yang tidak memiliki ketiga unsur tersebut belum mencapai kesempurnaannya, yaitu keikhlasan, khasyyah atau rasa takut kepada Allah, dan mengingat Allah.’” (Imam Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1999], jilid VI, hlm. 282).

Keikhlasan, rasa takut kepada Allah, dan mengingat-Nya merupakan tiga unsur yang membuat shalat mampu membentuk perilaku seseorang. Dalam kelanjutan penjelasannya, Ibnu Katsir menerangkan bahwa keikhlasan mendorong seseorang melakukan kebaikan, khasyyah mencegahnya dari kemungkaran, sedangkan mengingat dan merenungkan Al-Qur’an mengajaknya kepada kebaikan sekaligus mencegahnya dari keburukan.

Dengan demikian, solusi pertama ketika hati masih gelisah meskipun telah rajin beribadah adalah mengevaluasi kualitas ibadah. Jangan hanya memperhatikan seberapa sering ibadah dilakukan, tetapi perhatikan pula keikhlasan, kekhusyukan, kesadaran, dan pengaruhnya terhadap perilaku sehari-hari.

Kemungkinan Kedua: Maksiat Masih Menutupi Hati

Kemungkinan berikutnya yang perlu direnungkan adalah adanya kemaksiatan yang belum benar-benar ditinggalkan. Maksiat yang dilakukan terus-menerus dapat menumpuk menjadi noda yang menutupi hati, sehingga pengaruh baik dari ibadah sulit dirasakan.

Masih dalam konteks penafsiran ayat sebelumnya, Imam Al-Qurthubi menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani:

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا

Artinya, “Siapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalat tersebut tidak menambah apa pun baginya selain semakin jauh dari Allah.” (HR At-Thabrani).

Dalam mengomentari hadits tersebut, Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

فَالْمَعْنَى الْمَقْصُودُ بِالْحَدِيثِ: لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا وَلَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللَّهِ إِلَّا مَقْتًا، إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مُرْتَكِبَ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَا قَدْرَ لِصَلَاتِهِ، لِغَلَبَةِ الْمَعَاصِي عَلَى صَاحِبِهَا

Artinya, “Maksud hadits, ‘Shalat itu tidak menambah apa pun baginya selain semakin jauh dari Allah dan semakin mendapatkan kemurkaan-Nya,’ merupakan isyarat bahwa orang yang melakukan perbuatan keji dan mungkar tidak memperoleh kadar manfaat dari shalatnya karena dirinya telah dikuasai oleh kemaksiatan.” (Imam Al-Qurthubi, Tafsirul Qurthubi, jilid XIII, hlm. 348–349).

Penjelasan Imam Al-Qurthubi tersebut menunjukkan bahwa ibadah sama sekali tidak memberikan pengaruh. Akan tetapi, pengaruh baiknya dapat tertutupi oleh kemaksiatan yang terus dilakukan.

Karena itu, solusinya adalah memperbarui taubat dengan sungguh-sungguh. Taubat tidak cukup hanya dengan mengucapkan istighfar, tetapi juga harus disertai penyesalan, meninggalkan kemaksiatan, serta bertekad untuk tidak mengulanginya. Apabila kemaksiatan tersebut berkaitan dengan hak orang lain, hak itu juga harus dikembalikan atau diselesaikan dengan baik.

Di samping itu, ibadah tetap harus dijaga dan kualitasnya terus ditingkatkan. Dengan taubat dan istighfar yang dilakukan secara istiqamah, kita berharap noda-noda kemaksiatan yang menutupi hati perlahan dihapuskan sehingga ibadah dapat menghadirkan ketenangan.

Kemungkinan Ketiga: Hubungan Sosial Belum Baik

Kemungkinan terakhir adalah adanya hubungan sosial yang perlu diperbaiki. Hubungan seseorang dengan Allah mungkin telah dijaga melalui ibadah dan ketaatan. Namun, bagaimana hubungannya dengan sesama manusia?

Apakah lisannya pernah menyakiti orang lain? Apakah perilakunya merugikan keluarga, tetangga, rekan kerja, atau masyarakat? Apakah masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan? Jawabannya kembali kepada hati kita masing-masing.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa salah satu ciri Muslim yang baik adalah tidak menyakiti orang lain. Beliau bersabda:

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya, “Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, Islam yang paling utama itu seperti apa?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.’” (HR Al-Bukhari).

Dalam menjelaskan hadits tersebut, Syekh Badruddin Al-‘Aini mengatakan:

الْمُرَادُ أَفْضَلُ الْمُسْلِمِينَ مَنْ جَمَعَ إِلَى أَدَاءِ حُقُوقِ اللَّهِ أَدَاءَ حُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ وَالْكَفَّ عَنْ أَعْرَاضِهِمْ

Artinya, “Yang dimaksud adalah bahwa Muslim terbaik ialah orang yang mampu menggabungkan pelaksanaan hak-hak Allah dengan pelaksanaan hak-hak kaum Muslimin, serta menahan diri dari merusak kehormatan mereka.” (Syekh Badruddin Al-‘Aini, Umdatul Qari Syarhu Shahihil Bukhari, [Beirut: Dar Ihya’it Turats Al-‘Arabi, tanpa tahun], jilid I, hlm. 132).

Hadits tersebut mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Rajin beribadah harus berjalan beriringan dengan menjaga lisan, menunaikan hak orang lain, meminta maaf atas kesalahan, dan menghindari tindakan yang merugikan sesama.

Boleh jadi, kegelisahan yang dirasakan merupakan dorongan batin agar kita segera memperbaiki hubungan yang rusak, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, menyelesaikan perselisihan, atau menunaikan hak yang selama ini terabaikan.

Terus Beribadah dan Melakukan Muhasabah

Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa rajin beribadah tetapi masih merasakan kegelisahan bukanlah alasan untuk meninggalkan ibadah. Justru dalam keadaan seperti itu, seseorang perlu bersabar, mempertahankan ketaatan, dan melakukan muhasabah secara jujur.

Pertama, tingkatkan kualitas ibadah dengan menghadirkan keikhlasan, kekhusyukan, rasa takut, dan kesadaran mengingat Allah. Kedua, perbarui taubat serta tinggalkan kemaksiatan yang dapat menutupi hati. Ketiga, perbaiki hubungan dengan sesama manusia dengan menjaga lisan, perilaku, dan kehormatan mereka.

Dengan menjalankan ketiga ikhtiar tersebut secara istiqamah, insyaallah kegelisahan perlahan berkurang dan digantikan dengan hati yang lebih tenang dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Wallahu a’lam bis shawab.

Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, perumus LBM Nurul Cholil, dan pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

Sumber : https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/rajin-ibadah-tetapi-hati-masih-gelisah-ini-penyebab-dan-cara-mengatasinya-k9yPv

Bengkak Kebiruan di Sekitar Luka Suntikan, Berbahayakah?

Bengkak Kebiruan di Sekitar Luka Suntikan, Berbahayakah?

Tidak jarang, bekas suntikan berubah menjadi bengkak kebiruan. Apakah hal ini wajar atau harus diwaspadai? Berikut penjelasannya.

Menyuntik terkadang harus dilakukan pada mereka yang sedang sakit. Tak jarang, area di sekitar suntikan berubah menjadi bengkak kebiruan.

Apakah kondisi bengkak setelah disuntik termasuk normal, atau ada sesuatu yang tidak beres?

Setelah injeksi, pembengkakan dan inflamasi (peradangan) dapat terjadi pada area di mana jarum masuk ke kulit. Ini adalah reaksi yang normal terhadap jarum atau obat yang disuntikkan. Atau mungkin reaksi terhadap keduanya.

Reaksi bisa terjadi segera setelah penyuntikan atau beberapa jam setelahnya. Dalam kebanyakan kasus, reaksinya tidak serius dan hilang dengan sendirinya.

Namun, pembengkakan yang abnormal juga bisa terjadi. Pembengkakan ini terasa lunak, lembek, dan sangat nyeri. Untuk lebih jelasnya, baca selengkapnya di bawah ini.

Penyebab Biru dan Bengkak Setelah Disuntik

Penyebab paling umum dari bengkak kebiruan setelah disuntik adalah respons kulit terhadap jarum atau obat.

Lalu, penyebab yang kurang umum adalah reaksi alergi terhadap obat. Atau Anda mungkin mengalami infeksi di tempat suntikan.

Fakta lain, bengkak kebiruan di sekitar luka suntikan terjadi akibat adanya perdarahan dan rusaknya jaringan di bawah kulit.

Hal ini karena pembuluh darah vena, pembuluh darah kecil, serta jaringan-jaringan yang terletak di sekitarnya mudah sekali pecah.

Alhasil, robekan pembuluh darah dan kerusakan jaringan di bawah kulit bisa saja terjadi.

Robekan pembuluh darah tersebut membuat darah keluar, menumpuk, dan menyebabkan kebiruan di sekitar bekas suntikan. Sedangkan kerusakan jaringan menyebabkan bengkak.

Cara Menghilangkan Bengkak Bekas Suntikan

Jika hal ini terjadi, jangan panik. Dalam keadaan normal, bengkak kebiruan setelah disuntik dapat hilang dengan sendirinya. Hanya saja, proses ini memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Namun, jika bengkak kebiruan semakin meradang, terasa nyeri, timbul nanah, bertambah besar dari hari ke hari, Anda perlu waspada. Karena hal ini menjadi pertanda bahwa luka Anda sudah terjangkit infeksi.

Berikut adalah cara menghilangkan bengkak bekas suntikan:

1. Kompres Dingin

Pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan mengompres bengkak kebiruan tersebut dengan air dingin atau es batu selama 10-20 menit.

Jika keluhan tidak kunjung membaik, apalagi ditambah dengan kejadian demam, jangan ragu untuk segera membawa diri ke dokter.

2. Gunakan Obat Pereda Nyeri

Anda juga bisa menggunakan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol atau ibuprofen.

Obat ini dapat membantu mengurangi rasa sakit dan peradangan yang terjadi.

3. Periksa ke Dokter

Jika terjadi tanda-tanda infeksi atau abses, Anda disarankan periksa ke dokter untuk mendapatkan resep antibiotik sebagai penanganan.

Tanda-tanda benjolan abses meliputi:

  • Benjolan merembes atau mengeluarkan cairan seperti nanah atau darah.
  • Pembengkakan tumbuh dari ukuran yang kecil dan semakin membesar. Jika benjolan ini terus berkembang dan tak ada perbaikan, segera hubungi dokter.
  • Disertai gejala sistemik seperti demam, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri otot, badan lemas, dan sakit kepala.

Anda tidak boleh memencet abses tersebut, guna mencegah infeksi menyebar ke seluruh tubuh.

Sekarang Anda sudah tahu bahwa bengkak kebiruan di area injeksi setelah disuntik tidak selalu berbahaya. Tapi tetaplah waspada dan jaga kesehatan Anda pasca injeksi.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/bengkak-kebiruan-di-sekitar-luka-suntikan-berbahayakah

Sederet Efek Minum Kopi, Usir Kantuk hingga Jadi Booster Energi

Sederet Efek Minum Kopi, Usir Kantuk hingga Jadi Booster Energi

Jakarta – Di tengah pidato yang berlangsung cukup panjang, Prabowo terlihat menyeruput kopi yang telah tersedia di meja sebelum kembali melanjutkan pidatonya. Ia meminta izin untuk minum kopi di tengah pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Kopi memang kerap hadir dalam berbagai agenda yang berlangsung cukup lama, termasuk rapat, seminar, konferensi hingga acara resmi. Dari sisi gizi, kebiasaan ini menarik karena kopi mengandung kafein yang dapat memberikan efek stimulan pada tubuh.

Lantas, apa saja manfaat kopi ketika diminum di tengah pidato?

Membantu Mengurangi Rasa Kantuk

Manfaat kopi yang paling dikenal adalah membantu mengurangi rasa kantuk.

Kopi mengandung kafein yang bekerja pada sistem saraf pusat dengan menghambat kerja adenosin. Senyawa adenosin berperan dalam memunculkan rasa kantuk ketika kadarnya meningkat selama tubuh beraktivitas.

Ketika kerja adenosin dihambat oleh kafein, rasa kantuk dapat berkurang sehingga tubuh terasa lebih terjaga.

Hal ini tentu bisa membantu ketika pidato berlangsung cukup panjang. Pembicara perlu tetap terjaga dan berkonsentrasi dari awal hingga akhir penyampaian materi.

Membantu Menjaga Fokus

Kafein juga dapat membantu mempertahankan perhatian dan konsentrasi.

Ketika tubuh mulai lelah, fokus dapat ikut menurun. Rasa kantuk membuat perhatian lebih mudah teralihkan dan kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi menjadi lebih sulit.

Kafein membantu menekan rasa kantuk tersebut sehingga kondisi tetap fokus. Dalam pidato yang membutuhkan konsentrasi tinggi, efek ini dapat membantu pembicara tetap mengikuti materi yang sedang disampaikan.

Memberikan Dorongan Energi Saat Mulai Lelah

Kopi juga dapat memberikan dorongan energi ketika tubuh mulai lelah setelah berdiri dan berbicara secara intens dalam waktu cukup lama. Kafein dapat membuat tubuh terasa berenergi dan mengurangi persepsi terhadap kelelahan, sehingga tubuh terasa lebih siap untuk melanjutkan aktivitas.

Jika kopi ditambahkan gula, efeknya bisa semakin terasa. Gula merupakan sumber karbohidrat sederhana yang dapat digunakan tubuh sebagai energi. Saat tubuh mulai lelah, asupan gula dapat memberikan tambahan energi yang lebih cepat tersedia.

Jadi, dalam kopi manis terdapat dua komponen yang dapat mendukung kondisi tubuh saat aktivitas berlangsung lama. Kafein membantu meningkatkan fokus sekaligus memberikan dorongan energi, sedangkan gula menyediakan sumber energi yang cepat bagi tubuh.

Budaya di Indonesia

Di luar manfaat kafeinnya, kopi memang sudah lama menjadi bagian dari kebiasaan sosial dan budaya kerja di Indonesia.

Kopi sering disajikan dalam rapat, seminar, konferensi hingga berbagai acara resmi. Minuman ini juga kerap menjadi bagian dari jamuan yang tersedia selama agenda berlangsung.

Karena itu, keberadaan kopi di meja saat pidato kenegaraan bukan sesuatu yang asing. Dalam situasi seperti yang dialami Prabowo, kopi dapat menjadi minuman pendamping sekaligus membantu menjaga fokus dan energi ketika harus menyampaikan pidato dalam waktu cukup panjang

Sumber : https://health.detik.com/diet/d-8619477/sederet-efek-minum-kopi-usir-kantuk-hingga-jadi-booster-energi

Google mungkinkan hapus tanda air terlihat pada gambar dan video AI

Google mungkinkan hapus tanda air terlihat pada gambar dan video AI

Jakarta (ANTARA) – Pengguna layanan kecerdasan artifisial (AI) Google akan dapat menghapus watermark atau tanda air yang terlihat dari gambar maupun video, kata Wakil Direktur Google Josh Woodward melalui unggahan di media sosial.

Opsi untuk memasang dan menghapus tanda air tersebut akan tersedia untuk model AI Nano Banana, Omni, dan Lyria. Pada ketiga model AI itu setiap konten biasanya ditandai oleh Google dengan ikon kilauan yang familiar untuk menunjukkan konten buatan AI, menurut laporan laman Endgadget, Jumat (14/8).

Fitur tersebut juga disiapkan hadir di Gemini maupun layanan editor video dari Google bernama Flow.

Perusahaan teknologi beberapa waktu belakangan menggunakan tanda air atau keterangan lainnya jika sebuah konten dibuat dengan AI, untuk membedakan dengan konten yang dibuat secara manual. Google memastikan konten-konten video maupun gambar yang dibuat model AI mereka tetap disertai oleh tanda air, namun, yang bersifat tidak terlihat.

Tanda yang dimaksud adalah SynthID dan metadata C2PA. Keduanya mungkin sulit diidentifikasi oleh pengguna biasa atau masyarakat awam dan mereka harus melakukan pencarian lebih dalam untuk mengecek kedua hal itu.

Woodward mengatakan fitur opsi menghilangkan tanda air pada konten AI buatan Google itu dirilis hampir di banyak negara kecuali “di negara-negara yang diwajibkan oleh hukum untuk mempertahankannya”.

Fitur itu artinya tidak akan tersedia di Uni Eropa yang baru-baru ini mengumumkan aturan mengenai transparansi AI dan mewajibkan tanda air perlu terlihat pada konten AI yang “tampak autentik”. Tidak hanya itu, Korea Selatan juga telah melakukan langkah serupa di awal 2026.

Tanda air terkadang menjadi penghalang bagi pengguna yang memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan kreatif.

“Kami tengah menyeimbangkan antara kendali kreatif dan keamanan,” kata Woodward.

Penanda untuk konten AI saat ini tengah menjadi salah satu sorotan banyak pihak secara global. Selain Google, terbaru ada Suno yang menawarkan layanan AI untuk membuat musik dan mengumumkan sistem pelabelan untuk menunjukkan kontennya memang dibuat oleh AI.

Pelabelan itu juga dapat berfungsi untuk menunjukkan konten buatan AI itu dapat diidentifikasi juga oleh platform audio lainnya.

Selain itu, Anthropic juga mengumumkan bahwa mereka telah menambahkan penanda konten AI yang tidak terlihat berbasis C2PA pada konten teks ataupun file yang dihasilkan oleh Claude.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5695788/google-mungkinkan-hapus-tanda-air-terlihat-pada-gambar-dan-video-ai?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=editor_picks

Pertamina Patra Niaga turunkan harga LPG Bright Gas per 15 Agustus

Pertamina Patra Niaga turunkan harga LPG Bright Gas per 15 Agustus

Jakarta (ANTARA) – PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga produk LPG nonsubsidi jenis Bright Gas, yang berlaku efektif mulai 15 Agustus 2026.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, mengatakan penyesuaian harga Bright Gas merupakan bagian dari evaluasi berkala perusahaan untuk menghadirkan produk LPG nonsubsidi yang kompetitif bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Bright Gas dilakukan melalui evaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi pasar, serta tetap mengacu pada mekanisme yang berlaku,” ujarnya.

Melalui evaluasi tersebut, menurut Kitty, harga Bright Gas kemasan tabung 12 kg mengalami penurunan dari Rp220.000/tabung menjadi Rp218.000/tabung atau turun Rp2.000/tabung.

Sementara, untuk harga LPG Bright Gas kemasan tabung 5,5 kg dari Rp103.000/tabung menjadi Rp102.000/tabung atau turun Rp1.000/tabung.

Harga itu merupakan harga jual agen Bright Gas untuk wilayah Pulau Jawa yang berlaku efektif mulai 15 Agustus 2026.

Sementara, harga di wilayah lain dapat berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.

“Selain menghadirkan harga yang lebih kompetitif, kami juga terus memastikan kualitas Bright Gas tetap terjaga, sehingga masyarakat dapat menikmati LPG yang aman, praktis, dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” terang Kitty.

Lebih lanjut, Kitty menjelaskan bahwa pada periode 15-23 Agustus 2026, Pertamina Patra Niaga juga menghadirkan program diskon Semarak Merdeka MyPertamina.

Program itu berlaku untuk pembelian refill Bright Gas 5,5 kg dan Bright Gas 12 kg secara langsung di Bright Store dan pembelian daring di aplikasi dan website Klik Indomaret tanpa minimum pembelian menggunakan seluruh metode pembayaran.

“Selama periode promo, konsumen yang melakukan pembelian isi ulang Bright Gas 5,5 kg akan memperoleh diskon Rp4.050 per tabung, sedangkan pembelian isi ulang Bright Gas 12 Kg mendapatkan diskon Rp8.100 per tabung,” jelas Kitty.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5695731/pertamina-patra-niaga-turunkan-harga-lpg-bright-gas-per-15-agustus

4 Rempah untuk Bantu Atasi Susah BAB, Pencernaan Jadi Lancar

4 Rempah untuk Bantu Atasi Susah BAB, Pencernaan Jadi Lancar

Jakarta, CNN Indonesia — Sering mengalami sembelit alias susah buang air besar (BAB)? Kondisi ini memang membuat perut terasa tak nyaman, begah, bahkan mengganggu aktivitas.

Selain memastikan asupan serat dan cairan, beberapa rempah yang biasa digunakan dalam masakan ternyata dapat melancarkan pencernaan dan mengatasi susah BAB.

“Rempah-rempah tertentu diimbangi dengan kebiasaan gaya hidup dapat mendukung kelancaran buang air besar dengan bekerja sama dengan proses pencernaan alami tubuh Anda,” ujar dietisien Payton Brewer, dikutip dari EatingWell.

Berikut beberapa rempah yang disebut dapat membantu melancarkan buang air besar.

1. Jahe

Jahe dikenal dapat membantu meredakan berbagai masalah pencernaan, termasuk mual, kembung, sembelit, sakit perut, refluks, dan gangguan pencernaan.

“Jahe dapat meningkatkan pergerakan usus yang sehat dengan menurunkan peradangan, meningkatkan motilitas usus, meningkatkan fungsi penghalang usus dan mendukung mikrobioma usus yang sehat,” ujar ahli diet Avery Zenker.

Jahe juga dapat membantu mempercepat pengosongan lambung sehingga makanan dapat bergerak melalui sistem pencernaan dengan lebih baik.

Namun, dosis perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak mengonsumsi jahe dalam satu waktu. Meski begitu, menambahkan sedikit jahe segar atau bubuk jahe ke dalam makanan tetap dapat menjadi salah satu cara menambah variasi dalam pola makan.

2. Kunyit

Kunyit mengandung senyawa bernama kurkumin yang bertanggung jawab atas banyak manfaat rempah tersebut.

“Penelitian mengenai kunyit masih terus berkembang, namun sebuah studi menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi suplemen kurkumin mengalami perbaikan kondisi sembelit,” ujar dietisien Amanda Sauceda.

Penelitian lain menunjukkan bahwa kurkumin mungkin memiliki efek yang serupa dengan jahe dengan membantu mendukung motilitas atau pergerakan usus.

Namun, penelitian tersebut umumnya menggunakan suplemen kurkumin dalam konsentrasi tinggi. Karena itu, belum diketahui secara pasti apakah konsumsi kunyit dalam jumlah yang digunakan untuk memasak dapat memberikan efek yang sama.

Kunyit tetap dapat ditambahkan ke berbagai makanan, seperti nasi, sup, sayuran panggang, atau minuman berbahan kunyit.

3. Biji adas

Biji adas secara tradisional digunakan untuk membantu meredakan gangguan pencernaan, termasuk kembung, gas, dan kram perut. Rempah ini juga disebut dapat membantu menjaga pergerakan sistem pencernaan.

“Adas mengandung senyawa yang disebut fenchone, yang dapat mempercepat waktu transit dan membantu mengoordinasikan kontraksi kolon di saluran pencernaan, sehingga dapat membantu mengurangi penumpukan tinja,” kata Zenker.

Biji adas dapat ditambahkan ke sayuran akar panggang atau hidangan ikan. Rempah ini juga dapat digunakan untuk membuat teh yang diminum setelah makan.

4. Kayu manis

Kayu manis tidak hanya berfungsi sebagai penambah aroma dan rasa makanan. Rempah ini mengandung polifenol bioaktif bernama cinnamaldehyde.

Menurut Zenker, senyawa tersebut dapat mendorong gerakan peristaltik usus, yakni kontraksi otot berulang yang membantu memindahkan isi saluran pencernaan.

Dengan mendukung proses peristaltik, kayu manis berpotensi membantu mempermudah pengeluaran feses, terutama pada orang yang mengalami sembelit sebagai gejala utama sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS).

Demikian rempah-rempah yang bisa membantu melancarkan buang air besar. Meski begitu, konsumsinya bukan lantas menggantikan asupan serat dan air putih dalam tubuh.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260812103543-262-1391343/4-rempah-untuk-bantu-atasi-susah-bab-pencernaan-jadi-lancar

Arti La Hawla Wala Quwwata Illa Billah Beserta Manfaat dan Keutamaannya, Simpanan Surga yang Berharga

Arti La Hawla Wala Quwwata Illa Billah Beserta Manfaat dan Keutamaannya, Simpanan Surga yang Berharga

Liputan6.com, Jakarta – Arti la hawla wala quwwata illa billah beserta manfaat dan keutamaannya kerapkali menjadi pertanyaan sebagian awam yang ingin mengamalkan dzikir agung ini. Kalimat yang juga dikenal dengan sebutan hauqalah ini merupakan salah satu dzikir yang paling ringan namun begitu besar fadhilahnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu suatu simpanan dari berbagai simpanan surga?” Aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bersabda: “La haula wala quwwata illa billah.” (HR. al-Bukhari).

Hadits ini menjadi landasan utama keutamaan dzikir ini sebagai salah satu simpanan surga yang paling berharga. Inilah salah satu alasan muslim yang mengamalkannya. Di samping itu, bacaan ini disebut oleh Rasulullah sebagai ringan di lisan, tetapi berat di timbangan pahala.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa kalimat ini adalah ungkapan kepasrahan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Kementerian Agama RI dalam Buku Kumpulan Doa Sehari-hari juga mencantumkan kalimat ini sebagai dzikir yang dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari.

Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Buku Dzikir Pagi dan Petang dan Sesudah Sholat Fardhu (terjemahan dari kitab Hisnul Muslim) menyusun dzikir ini sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan, termasuk saat mendengar adzan.

Tulisan Arab, Latin, dan Arti La Hawla Wala Quwwata Illa Billah

Berikut adalah bacaan lengkap dzikir la hawla wala quwwata illa billah dengan tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

Teks Arab: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Latin: Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīm

Artinya: “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

Makna Mendalam La Hawla Wala Quwwata Illa Billah

1. Kepatuhan dan Kepasrahan kepada Allah

Imam Nawawi memberikan penjelasan yang mendalam tentang makna kalimat ini. Kalimat ‘la haula wala quwwata illa billah’ adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah) dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah swt.

Hauqalah adalah ungkapan penyerahan diri total (istislām) dan kepasrahan penuh (tafwīḍ) seorang hamba kepada Allah SWT. Seseorang yang mengucapkannya mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kuasa apa pun atas urusannya sendiri—baik untuk menolak keburukan maupun meraih kebaikan—kecuali dengan izin dan pertolongan Allah.

2. Bersandar pada Pertolongan Allah

Kalimat hauqalah mengandung dua makna fundamental. Pertama menolak kemaksiatan, “Tiada daya” bermakna seorang hamba tidak memiliki kemampuan untuk menghindari maksiat tanpa pertolongan Allah.

Kedua, melaksanakan ketaatan, “Tiada kekuatan” bermakna seorang hamba tidak memiliki kekuatan untuk beribadah dan taat kepada Allah kecuali dengan pertolongan-Nya.

3. Pengakuan Keterbatasan Manusia

Syekh M Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa lafal hauqalah merupakan pengakuan keterbatasan manusia atas kuasa Allah SWT. Ini adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba di hadapan Rabb-nya, yang menyadari bahwa dirinya tidak berdaya tanpa pertolongan Allah.

Dalam setiap kesulitan, seorang Muslim diajarkan untuk mengucapkan kalimat ini sebagai bentuk ketergantungan penuh kepada Allah.

4. Inti Ajaran Tauhid dan Tawakal

Kalimat ini juga mengajarkan bahwa seluruh kekuatan, kemampuan, dan pertolongan sejatinya hanya berasal dari Allah SWT. Seorang Muslim tetap diperintahkan berikhtiar, tetapi hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah sebagai bentuk tawakal. Ini adalah inti dari ajaran tauhid—hanya kepada Allah tempat bergantung dan memohon pertolongan.

Manfaat dan Keutamaan La Hawla Wala Quwwata Illa Billah

1. Simpanan Surga (Kanzun Min Kunuzil Jannah)

Keutamaan paling utama dari kalimat ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari bahwa hauqalah adalah simpanan dari berbagai simpanan surga.

Syekh Muhammad Asyraf bin Amir Syaraful Haq as-Siddiqi (wafat 1329 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan simpanan (kanzun) dalam hadits tersebut adalah pahala yang oleh Allah disimpan di dalam surga yang kelak di akhirat akan diberikan kepada orang-orang yang membaca kalimat ini.

Bisa juga diartikan sebagai barang surga yang sangat indah yang sudah dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang membacanya.

2. Terhindar dari Kefakiran Seumur Hidup

Salah satu keutamaan besar dari membaca hauqalah adalah perlindungan dari kefakiran. Syekh M Nawawi Al-Bantani mengutip hadits riwayat Ibnu Abid Dunya:

“Siapa saja yang membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran.”

Amalan ini dianjurkan oleh banyak ulama dan diamalkan oleh para salihin sebagai bentuk ikhtiar spiritual memohon kemudahan rezeki dan pelunasan utang. Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan La hawla Wala Quwwata Illa billah”.

3. Obat bagi 99 Penyakit, Terkecil Adalah Kegelisahan

Para ulama menyebutkan bahwa membaca la hawla wala quwwata illa billah memiliki khasiat sebagai obat bagi 99 penyakit, dan penyakit yang paling ringan di antaranya adalah kegelisahan (ghamm atau hamm).

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa kalimat ini memiliki pengaruh dalam menangkal kecemasan dan depresi karena ia mengandung kepasrahan total, pengakuan bahwa tidak ada kekuatan dan daya kecuali dengan Allah. Dengan mengucapkan hauqalah, seorang Muslim menyerahkan segala kekhawatiran dan kecemasannya kepada Allah, sehingga hati menjadi tenang dan tenteram.

4. Pembuka Pintu Rezeki dan Jalan Keluar dari Kesulitan

Kalimat hauqalah juga dikenal sebagai kalimat pembuka pintu rezeki. Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Bila kebimbangan hinggap di hati seseorang lalu ia membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 300 kali, niscaya Allah membukakan jalan keluar baginya, maksudnya Allah mengurangi beban kesulitannya.”

5. Perlindungan dari Berbagai Marabahaya Membaca la haula wala quwwata illa billah juga menjadi benteng perlindungan dari berbagai marabahaya. Dalam riwayat disebutkan bahwa malaikat akan turun memberikan kesehatan dan kesembuhan bagi orang yang membacanya.

6. Mendapat Kemuliaan dan Keselamatan

Kalimat ini tidak hanya menjadi media untuk mendapatkan pahala, namun juga menjadi penyebab orang mendapat kenikmatan di surga serta sarana untuk mendapatkan kemuliaan abadi dan keselamatan atas pertolongan-Nya.

Cara Pengamalan La Hawla Wala Quwwata Illa Billah

Berikut adalah panduan tata cara mengamalkan dzikir hauqalah yang dianjurkan:

1. Membaca 100 Kali Setiap Hari

Amalan yang paling dianjurkan adalah membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 100 kali setiap hari. Dengan mengamalkannya secara istiqamah, seseorang akan dihindarkan dari kefakiran dan mendapatkan perlindungan Allah.

2. Dibaca Setelah Shalat Lima Waktu

Habib Sholeh menjelaskan bahwa doa ini sebaiknya dibaca setelah shalat lima waktu, sebanyak 100 kali. Ini menjadi amalan rutin yang mudah dan tidak memberatkan.

3. Dibaca 300 Kali Saat Mengalami Kesulitan

Ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan, dianjurkan untuk membaca hauqalah sebanyak 300 kali. Dengan izin Allah, kesulitan akan teratasi dan jalan keluar akan terbuka.

4. Saat Mendengar Adzan

Dalam Hisnul Muslim, diajarkan bahwa ketika muadzin mengucapkan “Hayya ‘alal falah” (marilah menuju kemenangan), kita dianjurkan untuk mengucapkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh

“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

5. Saat Keluar Rumah

Dalam doa keluar rumah, Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāhi, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh

“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

6. Dilafalkan dengan Penuh Keyakinan dan Kekhusyukan

Yang terpenting dalam mengamalkan dzikir ini adalah membacanya dengan penuh keyakinan dan menghayati maknanya. Dzikir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ungkapan hati yang mengakui kelemahan diri dan kekuasaan mutlak Allah SWT.

Pertanyaan Seputar arti la hawla wala quwwata illa billah

1. Apa arti la hawla wala quwwata illa billah?

Arti la hawla wala quwwata illa billah adalah “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Kalimat ini merupakan pengakuan bahwa segala kemampuan dan pertolongan hanya berasal dari Allah SWT.

2. Berapa kali membaca la hawla wala quwwata illa billah setiap hari?

Dianjurkan membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 100 kali setiap hari, yang dapat diamalkan setelah shalat lima waktu. Amalan ini akan melindungi dari kefakiran sepanjang hayat.

3. Apa keutamaan membaca la hawla wala quwwata illa billah?

Keutamaan membacanya antara lain: menjadi simpanan surga, terhindar dari kefakiran, obat bagi 99 penyakit (terkecil adalah kegelisahan), pembuka pintu rezeki, serta mendapatkan kemuliaan dan keselamatan dari Allah SWT.

4. Kapan sebaiknya membaca la hawla wala quwwata illa billah?

Sebaiknya dibaca setiap hari sebanyak 100 kali, saat mendengar adzan (mengganti ucapan “Hayya ‘alal falah”), saat keluar rumah, dan 300 kali ketika sedang menghadapi kesulitan berat.

5. Apakah la hawla wala quwwata illa billah termasuk simpanan surga?

Ya, Rasulullah SAW bersabda bahwa kalimat ini adalah salah satu simpanan dari simpanan surga (kanzun min kunuzil jannah). Pahala membaca kalimat ini disimpan oleh Allah di surga dan akan diberikan kepada orang yang membacanya di akhirat kelak.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8270323/arti-la-hawla-wala-quwwata-illa-billah-beserta-manfaat-dan-keutamaannya-simpanan-surga-yang-berharga