Vitamin D3 vs K2: Kenapa Justru Lebih Baik Dikonsumsi Bersamaan?

Vitamin D3 vs K2: Kenapa Justru Lebih Baik Dikonsumsi Bersamaan?

Pernahkah Kalian berbelanja suplemen akhir-akhir ini? Jika diperhatikan, produk vitamin D3 sekarang tak jarang dijual sendirian dengan embel-embel vitamin K2 di sampingnya.

Banyak yang mikir, “Ah, paling ini cuma trik pabrik biar harganya lebih mahal.” Padahal, duet dua nutrisi ini sebenarnya didasari oleh sains yang sangat kuat. Mereka ibarat tim sukses yang bekerja di belakang layar untuk memastikan tulang kita kuat dan pembuluh darah tetap bersih dari plak kalsium (kalsifikasi).

Untuk tahu kenapa mereka harus selalu “nempel”, kita perlu membedah cara kerjanya satu per satu secara sederhana.

Peran Vitamin D3 dalam Tubuh

Vitamin D3, atau nama medisnya cholecalciferol, punya tugas utama yang sangat spesifik. Biar gampang membayangkannya, anggap saja ia seperti satpam penjaga pintu di usus kita.

Tiap kali kita minum susu atau makan makanan kaya kalsium, mineral tersebut nggak bisa langsung nyelonong masuk ke dalam peredaran darah. Nah, di sinilah vitamin D3 beraksi.

Dialah yang memegang kunci dan membukakan pintu supaya kalsium itu bisa terserap masuk melalui saluran pencernaan. Nggak cuma urusan kalsium, D3 ini rupanya lumayan sibuk berperan dalam hal lain di tubuh kita, seperti:

  • Menjaga sistem imun biar kita nggak gampang tumbang kena penyakit
  • Memastikan otot dan saraf kita berfungsi sebagaimana mestinya
  • Mengawal proses pembentukan tulang sejak kita masih kecil

Bayangkan kalau tubuh sampai kekurangan vitamin ini, efeknya bisa merembet ke mana-mana. Mulai dari tulang yang gampang keropos sampai pertahanan tubuh yang melemah.

Untuk memahami lebih jauh, kamu bisa membaca juga tentang gejala kekurangan vitamin D dan penyakit karena kekurangan vitamin D.

Peran Vitamin K2 yang Sering Terlewat

Sayangnya, bagian ini yang sering kali luput dari perhatian. Setelah vitamin D3 sukses membawa masuk kalsium ke aliran darah, si kalsium ini bingung harus menuju kemana.  Dititik inilah vitamin K2 berperan untuk mengarahkan kalsium. Fungsi utama vitamin K2:

  • Menghidupkan Osteocalcin: Ini semacam “lem alami” yang bakal menempelkan kalsium kuat-kuat ke tulang dan gigi. Di situlah kalsium memang seharusnya berada.
  • Membangunkan Matrix Gla Protein (MGP): Ini adalah rambu dilarang masuk. MGP mencegah kalsium menumpuk dan menjadi kerak keras di dinding pembuluh darah.

Coba bayangkan kalau nggak ada vitamin K2. Kalsium yang sudah dibawa oleh vitamin D3 bisa saja nyasar dan mengendap di pembuluh darah jantung atau ginjal. Endapan inilah yang menyebabkan pembuluh darah jadi kaku (kalsifikasi) dan diam-diam memicu penyakit jantung.

Manfaat Kombinasi Vitamin D3 dan K2

Melihat fungsi keduanya, kita bisa menyimpulkan bahwa vitamin D3 dan K2 ibarat dua sisi mata uang dalam proses metabolisme kalsium. Mereka berdua memiliki ikatan kerja yang tidak bisa dipisahkan.

Ketika vitamin D3 bekerja keras menambah pasokan kalsium ke dalam aliran darah, vitamin K2 mengambil peran penting untuk memastikan kalsium tersebut sampai ke sasaran yang tepat. Bayangkan jika Anda rutin menelan vitamin D3 dalam dosis tinggi namun melupakan K2. Kadar kalsium di dalam darah memang akan melonjak, tetapi karena tidak ada yang ‘memandu’ arahnya, mineral tersebut justru sangat rentan mengendap menjadi plak di dinding pembuluh darah.

Sebaliknya, konsumsi yang seimbang antara keduanya akan memberikan perlindungan yang maksimal bagi tubuh. Beberapa manfaat utamanya meliputi:

Tulang yang Lebih Padat: Membantu memperkuat struktur tulang sekaligus mencegah ancaman pengeroposan atau osteoporosis di kemudian hari.

Perlindungan Jantung: Melindungi sistem kardiovaskular dari risiko penyumbatan yang diakibatkan oleh pengapuran (kalsifikasi) arteri.

Metabolisme yang Optimal: Memastikan siklus kalsium di dalam tubuh berjalan secara aman, efisien, dan tepat sasaran.

Kombinasi ini sangat relevan bagi individu yang ingin menjaga kesehatan tulang sekaligus melindungi sistem kardiovaskular. Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, kamu juga bisa membaca tentang cara menjaga kesehatan tulang.

Siapa yang Membutuhkan Kombinasi Ini?

Memang benar bahwa nutrisi dasar ini sejatinya bisa kita peroleh secara alami melalui menu makanan bergizi dan kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari pagi. Sayangnya, ritme gaya hidup modern sering kali membuat target asupan alami tersebut sulit untuk tercapai setiap harinya.

Oleh karena itu, ada beberapa kelompok masyarakat yang sangat disarankan untuk lebih waspada dan mempertimbangkan tambahan suplemen ini:

  • Pekerja di Dalam Ruangan: Anda yang menghabiskan waktu dari pagi hingga petang di balik meja kantor tentu sangat minim, atau bahkan tidak pernah, mendapatkan paparan sinar matahari langsung.
  • Kelompok Lanjut Usia (Lansia): Seiring bertambahnya usia, kemampuan alami tubuh untuk memproduksi vitamin D akan menurun, begitu pula dengan kekuatan massa tulangnya.
  • Mereka yang Rentan Mengalami Osteoporosis: Terutama bagi individu yang memiliki garis keturunan masalah tulang keropos atau yang sudah mulai merasakan gejala awalnya.
  • Individu dengan Pola Makan Spesifik: Jika Anda jarang menyajikan sumber alami vitamin K2 di meja makan seperti produk fermentasi, sayuran berdaun hijau gelap, atau ikan laut berlemak maka mengkonsumsi suplemen menjadi jalan keluar yang logis.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Konsumsi

Walaupun paduan vitamin D3 dan K2 ini menawarkan segudang manfaat kesehatan, penggunaannya tetap harus terukur dan tidak boleh sembarangan. Terdapat beberapa catatan medis yang wajib menjadi perhatian bersama:

  • Waspadai Risiko Hiperkalsemia: Mengonsumsi konsumsi vitamin D3 berlebihan tanpa adanya pantauan medis justru dapat berbalik membahayakan. Kondisi ini dapat memicu lonjakan kalsium yang berlebihan hingga berujung pada keracunan darah.
  • Perhatikan Interaksi Obat: Vitamin K2 diketahui dapat bereaksi dengan beberapa jenis obat pengencer darah, seperti Warfarin. Bagi Anda yang saat ini rutin menjalani pengobatan terkait jantung atau sirkulasi darah, suplemen ini hanya boleh dikonsumsi di bawah pengawasan ketat.
  • Pentingnya Konsultasi Medis: Cara paling bijak sebelum memutuskan untuk rutin mengonsumsi suplemen adalah dengan berkonsultasi terlebih dahulu. Langkah yang paling ideal adalah melakukan pemeriksaan darah (khususnya tes 25-OH Vitamin D) di laboratorium. Hasil tes medis inilah yang akan memandu dokter dalam meresepkan dosis yang paling presisi dan aman sesuai dengan kondisi unik tubuh Anda.

Untuk kondisi tertentu, pemeriksaan kadar vitamin dalam tubuh bisa menjadi langkah awal yang lebih aman. Kamu bisa mempertimbangkan untuk melakukan medical check-up secara rutin guna mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat.

Ingin mulai menjaga kesehatan tulang dan jantung dari sekarang? Pastikan asupan vitamin D3 dan K2 terpenuhi setiap hari. Kamu bisa mempertimbangkan suplemen seperti Prove DK2 sebagai langkah praktis untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian mu.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/vitamin-d3-vs-k2-kenapa-justru-lebih-baik-dikonsumsi-bersamaan-

Cara Alami Mengurangi Nyamuk di Rumah Tanpa Bahan Kimia

Cara Alami Mengurangi Nyamuk di Rumah Tanpa Bahan Kimia

Kehadiran nyamuk di dalam rumah sering kali hanya dianggap sekadar “tamu tak diundang” yang bikin gatal. Padahal, selain mengganggu kenyamanan karena gigitannya yang menimbulkan rasa gatal. Gigitan nyamuk juga bisa menjadi perantara berbagai penyakit serius, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, chikungunya, hingga kaki gajah (filariasis). Oleh karena itu, mengurangi populasi nyamuk di rumah menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

Untuk mengusir serangga ini, banyak dari kita yang terbiasa menggunakan obat nyamuk semprot, bakar, atau elektrik karena praktis. Namun, bagaimana jika di rumah ada bayi, anak kecil, lansia, atau hewan peliharaan yang sensitif terhadap paparan zat kimia secara terus-menerus?

Tenang saja, ada banyak alternatif alami yang terbukti ampuh membuat nyamuk enggan mampir ke rumah.

Kenapa Nyamuk Suka “Nongkrong” di Rumah Kita?

Sebelum mulai mengusirnya, kita harus tahu dulu apa yang membuat nyamuk betah berlama-lama di dalam rumah.

Nyamuk sangat menyukai area yang lembab, gelap dan memiliki genangan air. Mereka tidak membutuhkan kolam besar untuk berkembang biar. Bahkan, air sisa siraman di tatakan pot tanaman, ember di kamar mandi yang jarang dikuras, atau talang air yang mampet akibat tumpukan daun kering sudah lebih dari cukup untuk dijadikan “sarang” bertelur. Selain itu, rumah yang sirkulasi udaranya buruk dan kurang cahaya matahari juga menjadi tempat istirahat favorit mereka. Dengan memahami kebiasaan nyamuk, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Cara Alami Mengusir Nyamuk di Rumah

Ada berbagai cara alami usir nyamuk yang dapat diterapkan di rumah. Meskipun metode ini memang tidak langsung membunuh nyamuk seketika layaknya racun serangga. Namun, jika dilakukan secara rutin, cara-cara dibawah ini efektif memutus siklus hidup nyamuk dan menekan populasinya di rumah.

1. Hilangkan Genangan Air

Ini merupakan langkah paling krusial. Jika tidak ada air menggenang, nyamuk tidak akan bisa bertelur. Biasakan untuk mengecek dan melakukan hal ini secara rutin:

  • Kuras bak mandi setidaknya seminggu sekali
  • Buang air yang menggenang di tatakan pot bunga atau kaleng bekas
  • Tutup rapat ember atau tong penampungan air
  • Ganti air vas bunga di ruang tamu secara berkala

Langkah sederhana ini merupakan bagian dari gerakan 3M Plus yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan untuk mencegah demam berdarah.

2. Manfaatkan Tanaman Anti Nyamuk

Alih-alih menyemprotkan pewangi ruangan berbahan kimia, coba manfaatkan tanaman yang memiliki aroma pekat. Beberapa tanaman dipercaya memiliki aroma yang kurang disukai nyamuk sehingga sering dimanfaatkan sebagai tanaman pengusir nyamuk. Kamu bisa menempatkan beberapa pot kecil tanaman berikut di dekat jendela, pintu masuk, atau area teras:

  • Serai wangi (Citronella)
  • Lavender
  • Kemangi
  • Rosemary
  • Mint
  • Marigold

Namun, perlu dipahami bahwa efektivitas tanaman tersebut dalam mengusir nyamuk secara langsung masih bervariasi berdasarkan hasil penelitian. Oleh karena itu, penggunaannya sebaiknya dikombinasikan dengan langkah pencegahan lainnya.

3. Pasang Kawat Kasa pada Ventilasi

Salah satu penyebab banyaknya nyamuk di rumah adalah akses masuk yang terbuka melalui jendela atau ventilasi.Menutup rapat jendela seharian penuh memang bisa mencegah nyamuk masuk, tapi rumah akan terasa pengap. Solusi terbaiknya adalah memasang kawat kasa anti nyamuk pada ventilasi dan jendela. Udara segar tetap bisa berputar ke dalam rumah, namun serangga dari luar tidak akan bisa menerobos masuk, terutama di jam-jam rawan seperti sore dan malam hari.

4. Jaga Kebersihan Halaman Rumah

Pekarangan yang dibiarkan rimbun dan tak terawat adalah surga bagi nyamuk. Karena itu, biasakan untuk:

  • Memangkas tanaman secara rutin
  • Membersihkan dedaunan yang menumpuk
  • Menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan

Lingkungan yang bersih akan membantu mengurangi tempat istirahat nyamuk.

5. Gunakan Kelambu Saat Tidur

Ini adalah cara jadul yang efektivitasnya tak lekang oleh waktu. Memasang kelambu di atas tempat tidur, terutama untuk boks bayi dan balita, memberikan perlindungan fisik yang sangat aman sepanjang malam tanpa melibatkan residu kimia apa pun.

6. Maksimalkan Sirkulasi Udara

Tahukah kamu kalau nyamuk merupakan penerbang yang sangat lemah? Mereka kesulitan terbang melawan hembusan angin. Dengan menyalakan kipas angin di ruang keluarga atau kamar tidur bukan hanya menyejukkan ruangan, tetapi juga membantu mengurangi aktivitas nyamuk sekaligus membuat mereka lebih sulit mendekati manusia.

Sumber : https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/cara-alami-mengurangi-nyamuk-di-rumah-tanpa-bahan-kimia

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian Menurut Ajaran Islam, Jangan Menunda

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian Menurut Ajaran Islam, Jangan Menunda

Liputan6.com, Jakarta – Dalam perspektif Islam, kematian adalah gerbang awal menuju alam keabadian, akhirat. Untuk itu, umat perlu melakukan berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian menurut ajaran Islam. Sebab, kehidupan akhirat kelak tergantung pada amal dan perbuatan semasa di dunia.

Menurut para ulama, melalaikan persiapan di dunia adalah sebuah kerugian besar. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa meyakini adanya alam barzakh dan mempersiapkannya adalah bagian dari akidah. Persiapan ini tidak bisa ditunda.

Padahal tiap manusia akan menemui ajal. Allah berfirman: “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat…” (QS. Al-Waqi’ah: 83-84). Ayat ini menjadi pengingat akan datangnya maut.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur mengutip pandangan ulama salaf seperti Umar bin Abdul Aziz yang menangis membayangkan kubur, menyadarkan kita bahwa dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal amal.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya menggambarkan bahwa kesusahan dunia terasa ringan bila dibandingkan dengan apa yang mungkin akan menimpa diri dalam gelap dan sempitnya kubur. Kesadaran akan realitas ini seharusnya membangkitkan semangat untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya.

Merujuk berbagai literatur, berikut ini adalah berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian dalam ajaran Islam.

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian

1. Memperbanyak Amal Saleh

Amal saleh adalah bekal utama yang paling fundamental dalam menghadapi kematian. Allah SAW berfirman: “Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Amal saleh yang dimaksud adalah segala bentuk perbuatan baik yang steril dari riya (pamer) dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Para ulama mendefinisikan amal saleh dengan syarat-syarat yang ketat. Syekh Sahl at-Tustari berkata: “Amal saleh adalah amal yang sunyi dari pamer dan diikat dengan (tuntunan) sunah Nabi”.

Syekh Mu’adz, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa amal saleh adalah amal yang di dalamnya terdapat empat hal: ilmu, niat, kesabaran, dan ikhlas. Amal saleh ini harus dilakukan secara istiqamah atau terus-menerus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik amal adalah yang paling kontinu (terus-menerus) meskipun sedikit”.

Profesor Quraish Shihab mengibaratkan amal saleh sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Sekalipun sakaratul maut itu menyakitkan, namun jika seseorang telah “dibius” dengan amal saleh, maka ia tidak akan terlalu berat merasakan kesakitan menjelang wafat.

2. Mengingat Kematian Secara Terus-Menerus

Mengingat kematian adalah kunci untuk membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan segala kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu juga menyebut bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti tapi seringkali dilupakan oleh manusia.

Orang yang gemar mengingat kematian akan memperoleh beberapa keutamaan, di antaranya: menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk akhirat.

Mengingat kematian juga akan menumbuhkan optimisme dalam kesempitan dan membantu seseorang mengendalikan diri karena mengingat kehidupan akhirat.

Allah SAW berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (QS. Al-Anbiya: 1). Kelalaian inilah yang harus diwaspadai. Sebaliknya, orang yang bertaubat akan banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya, lalu ia menyempurnakan taubatnya.

3. Menjaga Shalat Lima Waktu dengan Khusyuk

Shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya salat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan bagi pemiliknya pada hari Kiamat” (HR. Ahmad). Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan ikhlas akan menjadi penerang di alam kubur.

Gus Fahmi Amrullah Hadzik, Ketua PCNU Jombang, menyebutkan bahwa menjaga shalat adalah salah satu dari empat perkara yang dapat menerangi alam kubur. Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa.

Konsistensi dalam menjaga shalat dengan penuh kesadaran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk memperoleh keselamatan di akhirat, termasuk di alam kubur.

4. Membaca, Menghafal, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia dan akan menjadi syafaat (pemberi pertolongan) bagi orang-orang yang rajin membacanya pada hari Kiamat (HR. Muslim). Membaca Al-Qur’an secara rutin tidak hanya akan memberikan pahala, tetapi juga menjadi cahaya penerang di alam kubur.

Beberapa surat memiliki keutamaan khusus sebagai bekal di alam kubur:

• Surat Al-Mulk: Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Mulk dapat memberikan perlindungan dari siksa kubur (HR. Tirmidzi). Surat ini juga disebut sebagai al-Mani’ah (yang menghalangi) karena akan membela dan melindungi pembacanya dari azab kubur.

• Surat Yasin: Membaca Surat Yasin pada hari-hari tertentu dan membacakannya untuk orang yang sedang sakit atau menjelang wafat memiliki keutamaan besar.

• Surat Al-Ikhlas: Meskipun pendek, Surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali setara dengan membaca sepertiga Al-Qur’an (HR. Abu Dawud).

5. Memperbanyak Sedekah dan Amal Jariyah

Sedekah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan memadamkan api siksaan di dalam kubur dan menjadi penerang di alam barzakh.

Amal jariyah seperti membangun masjid, menggali sumur, menanam pohon yang bermanfaat, atau mewakafkan Al-Qur’an akan terus mengalir pahalanya meskipun pelakunya telah tiada. Inilah yang disebut sebagai investasi akhirat yang tidak akan pernah rugi.

6. Memperbanyak Dzikir dan Kalimat Thayyibah

Dzikir adalah amalan yang sangat ringan di lisan tetapi berat timbangannya di sisi Allah. Gus Fahmi menyebutkan bahwa memperbanyak membaca kalimat thayyibah adalah salah satu amalan yang dapat menerangi alam kubur.

Kalimat-kalimat seperti Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu Akbar akan menjadi bekal yang sangat berharga.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati” (HR. Bukhari).

Dzikir akan menghidupkan hati dan menjadi cahaya di alam kubur. Bergabung dalam majelis dzikir dan tarekat juga disebut sebagai salah satu cara untuk mempersiapkan datangnya kematian dengan terus-menerus mengingat Allah.

7. Menjaga Silaturahmi dan Berbuat Baik kepada Sesama

Menjaga tali silaturahmi adalah amalan yang sangat dianjurkan dan dapat menjadi penerang di alam kubur. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memutuskan tali silaturahmi, maka ia tidak akan masuk surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang kita jaga silaturahminya akan terus mendoakan kita setelah kita meninggal.

Selain itu, berbuat baik kepada sesama, seperti memberi makan orang lapar, membantu orang yang kesulitan, melunasi utang orang lain, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah amalan-amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

8. Mempersiapkan Wasiat dan Menyelesaikan Utang

Persiapan menghadapi kematian juga mencakup aspek duniawi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan, untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya tertulis di sisinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menulis wasiat dan menyelesaikan utang-utang adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan sesama manusia yang harus diselesaikan sebelum ajal menjemput.

9. Belajar Ilmu Agama dan Memperbaiki Akidah

Ilmu agama adalah bekal utama untuk menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Memperdalam pemahaman tentang tauhid, rukun iman, dan rukun Islam akan memudahkan seseorang dalam menghadapi ujian kubur.

Imam Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam kitab Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa keyakinan adanya adzab dan nikmat kubur adalah bagian dari akidah Islam yang absolut. Mempelajari dan meyakini hal ini adalah bentuk persiapan fundamental.

10. Berzikir dan Berdoa Memohon Husnul Khatimah

Husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik adalah dambaan setiap Muslim. Tanda-tanda husnul khatimah antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat.

Berdoa memohon husnul khatimah adalah bagian dari persiapan spiritual. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Ya Allah, jadikanlah akhir kehidupanku adalah husnul khatimah, dan janganlah Engkau jadikan akhir kehidupanku adalah su’ul khatimah.”

Memohon perlindungan dari siksa kubur dalam setiap shalat juga merupakan bentuk persiapan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Pertanyaan Seputar Bekal Menghadapi Kematian Dalam Islam

1. Apa bekal terbaik untuk menghadapi kematian menurut Islam?

Bekal terbaik untuk menghadapi kematian adalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian” (HR. Tirmidzi). Amal saleh ini mencakup ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, serta amalan sunnah seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir.

2. Bagaimana cara mempersiapkan diri menghadapi sakaratul maut?

Persiapan menghadapi sakaratul maut dilakukan dengan memperbanyak amal saleh selama hidup, karena amal saleh diibaratkan sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Selain itu, dianjurkan untuk selalu berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah, bertaubat dari segala dosa, dan membaca kalimat syahadat sebagai ucapan terakhir.

3. Amalan apa saja yang pahalanya terus mengalir setelah meninggal?

Ada tiga amalan yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (seperti membangun masjid, menggali sumur, atau mewakafkan Al-Qur’an), ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya (HR. Muslim). Selain itu, amal yang sifatnya memberkahi dan bermanfaat bagi orang lain juga akan terus mengalir pahalanya.

4. Mengapa mengingat kematian itu penting dalam Islam?

Mengingat kematian sangat penting karena dapat membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri untuk kehidupan setelah kematian. Orang yang gemar mengingat kematian akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan. Rasulullah SAW menyeru umatnya untuk memperbanyak mengingat kematian karena dengan begitu hidup akan lebih berhati-hati.

5. Apa yang dimaksud dengan husnul khatimah dan bagaimana cara meraihnya?

Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik, di mana seseorang meninggal dalam keadaan beriman dan diridhai oleh Allah. Tanda-tandanya antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat. Cara meraihnya adalah dengan senantiasa beramal saleh, bertaubat dari dosa, dan berdoa memohon husnul khatimah kepada Allah.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8245977/10-persiapan-menghadapi-kehidupan-setelah-kematian-menurut-ajaran-islam-jangan-menunda

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Malapetaka di Alam Barzakh

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Malapetaka di Alam Barzakh

Liputan6.com, Jakarta – Keadaan mayit di alam barzahh tergantung pada amal dan perbuatannya semasa di dunia. Maka itu, selain menghindarkan diri dari dosa-dosa besar, umat Islam perlu sungguh-sungguh mewaspadai penyebab siksa kubur yang sering dianggap sepele.

Sebab dosa kecil yang dilakukan dalam keseharian itu seringkali justru menjadi pemicu malapetaka di alam barzakh. Gara-gara dosa yang dianggap sepele tersebut, seseorang justru menghadapi siksa kubur.

Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan, kondisi di alam kubur ini wajib diimani setiap muslim. Rasulullah SAW mengisahkan dua penghuni kubur yang disiksa bukan karena dosa besar, melainkan murni akibat kebiasaan harian yang selalu diremehkan.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya Sampai ke Hari Kebangkitan juga mengingatkan agar umat Islam tak lalai. Sebab, dosa-dosa kesalahan-kesalahan yang dianggap sepele itu akan turut dihisab di hari kiamat.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah penyebab-penyebab siksa kubur yang kerap kali dianggap sepele sehingga sering dilakukan tanpa sadar.

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele

1. Tidak Bersuci (Istinja’) Secara Sempurna

Kecerobohan dalam membersihkan sisa buang air kecil merupakan pemicu utama datangnya azab barzakh. Percikan najis yang tertinggal di pakaian atau badan akan merusak keabsahan shalat seorang hamba.

Rasulullah SAW melewati dua kuburan dan bersabda, “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa yang dianggap besar… yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut memaparkan bahwa menyepelekan percikan air kencing membatalkan kesucian yang merupakan syarat mutlak shalat. Hal ini sejalan dengan pandangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari yang menegaskan bahwa mayoritas azab kubur bermula dari kecerobohan menjaga kebersihan dari najis ringan ini.

2. Namimah (Mengadu Domba)

Menyebarkan perkataan untuk merusak hubungan antarmanusia adalah kejahatan lisan yang dampaknya sangat merusak. Meskipun terkesan sekadar “obrolan ringan”, hukumannya dibayar tunai di alam kubur.

Lanjutan dari hadits di atas, Rasulullah SAW bersabda, “…dan yang lainnya disiksa karena ia senantiasa berjalan ke sana-kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyebutkan bahwa dosa lisan mematikan empati dan ukhuwah sosial. Imam An-Nawawi dalam Kitab Syarh Shahih Muslim menguraikan bahwa adu domba menghancurkan kehormatan masyarakat, sehingga Allah menyegerakan balasan fisik di alam barzakh bagi pelakunya.

3. Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain)

Menggunjing saudara sesama muslim acapkali dianggap sebagai bumbu pergaulan. Namun, di alam kubur, ghibah termanifestasi menjadi siksaan fisik yang mengerikan.

“Ketika aku dimi’rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakari wajah dan dada mereka sendiri… merekalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah).” (HR. Abu Dawud).

Abu Asma Andre merujuk dalil ini untuk menekankan betapa hinanya ghibah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Majmu’ Al-Fatawa menyatakan bahwa ghibah adalah kezaliman hak manusia (Haqqul Adami) yang tidak akan dimaafkan Allah SWT sebelum orang yang dighibahi memberikan kemaafan.

4. Berkhianat dan Korupsi Skala Kecil (Ghulul)

Mengambil hak orang lain atau barang fasilitas umum secara diam-diam (ghulul), walau nominalnya teramat kecil, akan mendatangkan kobaran api di alam kubur.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mantel yang ia ambil dari harta rampasan perang pada hari Khaibar… benar-benar akan menyala menjadi api yang membakarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut, Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi menjelaskan bahwa korupsi selembar kain atau hal remeh lainnya langsung menjadi api di dalam kubur.

Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi dalam Kitab At-Tadzkirah mengategorikan ghulul sebagai dosa besar yang mengunci rahmat Tuhan di alam barzakh.

5. Utang yang Dibiarkan Tidak Terbayar

Menunda-nunda pembayaran utang padahal mampu, atau meninggal dunia dengan meninggalkan utang tanpa wasiat penyelesaian, akan menyandera kebebasan roh di alam penantian.

“Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung (tertahan) karena utangnya, sampai utangnya itu dilunasi.” (HR. Tirmidzi).

Sutejo Ibnu Pakar melalui Buku Tradisi Amaliyah Warga NU Tahlilan, Hadiyuan, Dzikir, Yasinan, Ziarah Kubur memaparkan urgensi solidaritas sosial di mana keluarga yang ditinggalkan atau kerabat harus segera mengambil alih dan melunasi utang jenazah.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain secara spesifik menegaskan bahwa utang menahan roh dari nikmat dan ampunan, sehingga pembebasan tanggungan menjadi prioritas sebelum pemakaman.

6. Niyahah (Meratapi Jenazah Secara Berlebihan)

Banyak keluarga yang meratap, menjerit, dan memukul-mukul dada karena kehilangan sanak famili. Ratapan yang melampaui batas kewajaran ini justru menyiksa jenazah di alam kubur.

“Sesungguhnya mayit itu disiksa di dalam kuburnya karena ratapan (keluarganya) kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyoroti bahwa bersedih dan menangis diperbolehkan, namun meratap histeris (niyahah) adalah bentuk ketidakterimaan terhadap takdir Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Ar-Ruh merincikan bahwa azab ini menimpa mayit apabila semasa hidup ia membiarkan atau bahkan mewasiatkan keluarganya untuk meratap dengan tradisi jahiliyah.

Pertanyaan Seputar Penyebab Siksa Kubur

1. Apa penyebab utama siksa kubur menurut Islam?

Penyebab utama siksa kubur terbagi menjadi dosa akidah (kesyirikan, kekafiran, kemunafikan) dan dosa maksiat harian (seperti tidak suci usai kencing, ghibah, adu domba, dan utang) yang terus dilakukan tanpa bertaubat sebelum maut menjemput.

2. Apakah kencing sembarangan benar-benar bisa menyebabkan siksa kubur?

Ya. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim secara definitif menyebutkan bahwa salah satu dari dua penghuni kubur yang diazab adalah karena ia tidak membersihkan sisa kencingnya dengan benar, yang berakibat langsung pada batalnya ibadah shalat yang ia kerjakan.

3. Mengapa adu domba (namimah) dihukum sangat berat di alam kubur?

Karena namimah adalah penyakit lisan yang merusak tatanan sosial, memutus tali silaturahmi, dan memicu permusuhan serta pertumpahan darah di antara manusia. Islam sangat melindungi kehormatan dan persaudaraan sesama muslim.

4. Bagaimana cara agar mayit terhindar dari azab kubur akibat utang?

Ahli waris wajib mengambil alih tanggung jawab tersebut dengan segera melunasi utang sang mayit menggunakan harta peninggalan (tirkah) sang mayit. Jika tirkah tidak mencukupi, keluarga sangat dianjurkan melunasinya dari harta pribadi mereka agar roh mayit terbebas dari penangguhan.

5. Apakah menangisi orang meninggal akan menyebabkan mayit disiksa?

Menangis secara wajar karena kesedihan yang fitri diperbolehkan dalam Islam. Yang menyebabkan mayit disiksa adalah niyahah, yakni ratapan berlebihan seperti menjerit-jerit, merobek pakaian, menampar pipi, dan melontarkan kata-kata yang menentang takdir Allah.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8244902/6-penyebab-siksa-kubur-yang-sering-dianggap-sepele-malapetaka-di-alam-barzakh

Pelajaran dari Dua Pendiri Rokok Terbesar Indonesia: Mewariskan Bisnis atau Menjual Masa Depan?

Pelajaran dari Dua Pendiri Rokok Terbesar Indonesia: Mewariskan Bisnis atau Menjual Masa Depan?

Kediri – Di dunia bisnis, membangun sebuah perusahaan hingga menjadi pemimpin pasar bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan keberanian mengambil risiko, ketekunan menghadapi berbagai tantangan, serta kemampuan membaca peluang di tengah perubahan zaman. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan terletak pada saat membangun perusahaan, melainkan ketika perusahaan tersebut harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Banyak perusahaan keluarga yang mampu tumbuh menjadi raksasa pada tangan pendirinya, tetapi perlahan kehilangan arah ketika kepemimpinan berpindah. Sebaliknya, ada pula perusahaan yang justru berkembang jauh lebih besar setelah memasuki generasi kedua dan ketiga. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian para ahli bisnis keluarga di berbagai negara.

Indonesia memiliki banyak contoh menarik mengenai keberhasilan maupun kegagalan menjaga warisan bisnis keluarga. Salah satu perbandingan yang paling menarik dapat ditemukan pada dua nama besar di industri rokok nasional, yaitu Djarum dan Bentoel. Keduanya pernah menjadi simbol kejayaan industri kretek Indonesia, sama-sama dibangun oleh kerja keras para pendiri, dan sama-sama memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian nasional. Akan tetapi, perjalanan kedua perusahaan tersebut kemudian mengambil arah yang sangat berbeda.

Djarum hingga kini masih identik dengan keluarga pendirinya. Bahkan pengaruh keluarga tersebut terus berkembang melalui berbagai investasi di sektor perbankan, teknologi, properti, elektronik, perkebunan, hingga kegiatan sosial yang dikenal luas masyarakat. Sebaliknya, Bentoel mengalami perjalanan yang berbeda. Setelah melalui berbagai perubahan kepemilikan, perusahaan tersebut akhirnya berada di bawah kendali perusahaan multinasional. Nama keluarga pendiri pun perlahan semakin jarang terdengar dalam percakapan publik mengenai dunia usaha.

Perbedaan tersebut sering memunculkan pertanyaan sederhana tetapi penting. Mengapa dua perusahaan yang sama-sama besar dapat menghasilkan kisah lintas generasi yang begitu berbeda? Apakah penyebabnya hanya karena kondisi pasar? Apakah karena keputusan bisnis tertentu? Atau justru karena cara masing-masing keluarga memandang arti sebuah warisan?

Artikel ini tidak bertujuan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Setiap keluarga memiliki situasi, tantangan, dan pertimbangan yang berbeda pada zamannya. Sebaliknya, tulisan ini mengajak pembaca melihat kedua kisah tersebut sebagai sebuah studi kasus mengenai bagaimana sebuah bisnis diwariskan, dipertahankan, atau akhirnya berpindah tangan.

Industri Rokok dan Lahirnya Para Pengusaha Besar Indonesia

Sebelum membahas Djarum dan Bentoel secara lebih jauh, penting untuk memahami posisi industri rokok dalam sejarah ekonomi Indonesia. Jauh sebelum sektor teknologi, pertambangan modern, maupun ekonomi digital berkembang pesat, industri kretek telah menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Ribuan tenaga kerja menggantungkan hidup pada industri ini, mulai dari petani tembakau, petani cengkeh, pekerja linting, distributor, hingga para pedagang kecil.

Industri rokok juga menjadi salah satu sektor yang mampu melahirkan pengusaha-pengusaha besar dari berbagai daerah. Banyak perusahaan yang bermula dari usaha rumahan kemudian berkembang menjadi perusahaan nasional dengan jaringan distribusi yang menjangkau seluruh Indonesia.

Dalam lingkungan bisnis seperti itulah Djarum dan Bentoel tumbuh. Masing-masing memiliki perjalanan yang unik, tetapi sama-sama membuktikan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan sering kali berawal dari keberanian seseorang melihat peluang yang belum tentu mampu dilihat orang lain.

Dua Perusahaan, Dua Perjalanan yang Berbeda

Djarum berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia dengan tetap mempertahankan identitas sebagai perusahaan keluarga. Seiring waktu, keluarga pendiri tidak hanya mempertahankan bisnis utamanya, tetapi juga melakukan diversifikasi ke berbagai sektor strategis. Langkah tersebut membuat sumber pendapatan perusahaan tidak lagi bergantung pada satu industri saja.

Diversifikasi merupakan salah satu strategi yang banyak digunakan perusahaan keluarga besar di dunia. Ketika satu sektor menghadapi perlambatan, sektor lain dapat membantu menjaga stabilitas perusahaan. Dengan demikian, risiko bisnis menjadi lebih tersebar.

Sementara itu, perjalanan Bentoel mengambil arah yang berbeda. Perusahaan mengalami berbagai perubahan struktur kepemilikan hingga akhirnya menjadi bagian dari perusahaan rokok internasional. Dari sudut pandang bisnis, keputusan menjual perusahaan bukanlah sesuatu yang otomatis dapat dinilai sebagai kegagalan. Dalam banyak kasus, penjualan perusahaan justru menjadi strategi terbaik untuk menghadapi perubahan pasar, kebutuhan modal yang semakin besar, atau meningkatnya persaingan global.

Namun, dari sudut pandang sejarah bisnis keluarga, hasil akhirnya memang berbeda. Ketika kepemilikan berpindah, hubungan antara nama keluarga pendiri dan perusahaan secara perlahan ikut memudar. Generasi berikutnya tidak lagi dikenal sebagai pengendali perusahaan sebagaimana generasi pendahulunya.

Apakah Menjual Perusahaan Selalu Berarti Kehilangan Warisan?

Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan. Banyak orang menganggap bahwa menjual perusahaan berarti mengakhiri perjuangan pendiri. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dalam praktik bisnis modern, menjual perusahaan merupakan keputusan yang cukup lazim. Banyak pendiri perusahaan teknologi, manufaktur, hingga jasa memilih menjual usahanya karena melihat nilai perusahaan telah mencapai titik yang sangat tinggi. Hasil penjualan kemudian digunakan untuk membangun investasi baru, mendirikan perusahaan lain, atau mengelola kekayaan keluarga melalui berbagai instrumen investasi.

Artinya, ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak selalu ditentukan oleh apakah perusahaan masih dimiliki atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah nilai yang dihasilkan perusahaan mampu terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Meskipun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara mewariskan perusahaan dan mewariskan hasil penjualan perusahaan. Ketika sebuah perusahaan tetap dimiliki keluarga, generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis tersebut menjadi lebih besar. Sebaliknya, setelah perusahaan dijual, peluang tersebut secara otomatis berakhir karena kendali telah berpindah kepada pihak lain.

Pelajaran dari Djarum

Jika melihat perjalanan Djarum, terdapat satu hal yang menarik, yaitu kemampuan keluarga pendiri menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus melakukan transformasi bisnis. Mereka tidak hanya mempertahankan usaha yang sudah ada, tetapi juga berinvestasi pada sektor-sektor yang memiliki prospek jangka panjang.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa menjaga warisan bukan berarti menolak perubahan. Justru sebaliknya, warisan dapat bertahan apabila mampu beradaptasi terhadap perubahan ekonomi, teknologi, serta perilaku masyarakat.

Kemampuan melakukan diversifikasi juga membuat identitas keluarga tidak hanya melekat pada industri rokok, tetapi juga pada berbagai sektor ekonomi lainnya. Hal ini memperkuat posisi mereka sebagai kelompok usaha yang memiliki fondasi lebih luas dibandingkan sekadar produsen rokok.

Pelajaran dari Bentoel

Perjalanan Bentoel memberikan pelajaran yang berbeda. Dunia bisnis tidak selalu berjalan sesuai harapan pendiri. Perubahan regulasi, meningkatnya persaingan, kebutuhan investasi yang semakin besar, hingga masuknya perusahaan multinasional dapat mengubah peta persaingan secara drastis.

Dalam kondisi tertentu, menjual perusahaan bisa menjadi pilihan yang dianggap paling rasional. Keputusan tersebut mungkin diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang tidak selalu diketahui masyarakat umum.

Karena itu, akan kurang adil apabila perjalanan Bentoel hanya disimpulkan sebagai kisah kegagalan. Lebih tepat jika kisah tersebut dipahami sebagai contoh bahwa mempertahankan perusahaan keluarga hingga lintas generasi merupakan tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar membangun perusahaan pada generasi pertama.

Mewariskan Bisnis atau Mewariskan Nilai?

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah sebuah perusahaan tetap dimiliki keluarga, melainkan apa yang sebenarnya ingin diwariskan oleh seorang pendiri.

Apakah warisan tersebut berupa saham perusahaan? Kekayaan finansial? Reputasi keluarga? Nilai-nilai kerja keras? Atau kemampuan generasi berikutnya untuk kembali membangun sesuatu dari nol?

Setiap keluarga memiliki jawaban yang berbeda. Ada yang memilih mempertahankan kendali atas perusahaan selama mungkin. Ada pula yang memilih mengubah aset bisnis menjadi kekayaan yang lebih fleksibel untuk dikelola generasi berikutnya.

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua. Namun sejarah menunjukkan bahwa keluarga yang mampu bertahan lintas generasi umumnya memiliki visi jangka panjang, tata kelola yang baik, serta proses regenerasi yang dipersiapkan jauh sebelum pergantian kepemimpinan terjadi.

Penutup

Kisah Djarum dan Bentoel bukan sekadar cerita mengenai dua perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Di balik perjalanan keduanya terdapat pelajaran berharga mengenai arti sebuah warisan, kepemimpinan, dan pentingnya mempersiapkan masa depan jauh sebelum tantangan datang.

Djarum memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan keluarga dapat terus berkembang melalui regenerasi dan diversifikasi. Di sisi lain, perjalanan Bentoel mengingatkan bahwa dunia bisnis selalu berubah, dan setiap keputusan yang diambil memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap keberlangsungan sebuah dinasti usaha.

Pada akhirnya, sejarah bisnis tidak hanya mencatat siapa yang berhasil membangun perusahaan besar, tetapi juga siapa yang mampu menjaga agar warisan tersebut tetap hidup melewati pergantian generasi. Sebab, membangun sebuah perusahaan mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun, tetapi mempertahankannya agar tetap menjadi milik keluarga selama beberapa generasi sering kali merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

Memahami Persamaan Dasar Akuntansi dan Likuiditas Melalui Ilustrasi Sederhana

Memahami Persamaan Dasar Akuntansi dan Likuiditas Melalui Ilustrasi Sederhana

Kediri – Bagi pemula yang baru terjun ke dunia bisnis atau keuangan, istilah seperti Aset, Ekuitas, dan Likuiditas sering kali terdengar membingungkan. Salah satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi adalah anggapan bahwa ketika perusahaan membelanjakan uang untuk membeli fasilitas operasional, maka modal pemilik akan langsung berkurang.

Mari kita bedah konsep dasar ini menggunakan sebuah studi kasus sederhana: “Pemilik menyetor modal Rp500 juta, lalu perusahaan membeli komputer senilai Rp20 juta.” Bagaimana pencatatan akuntansinya? Apakah modal di ekuitas berkurang menjadi Rp480 juta? Mari kita temukan jawabannya melalui ulasan di bawah ini.

1. Logika Persamaan Dasar Akuntansi

Dalam akuntansi, ada satu rumus sakral yang selalu menjadi fondasi dalam melihat kesehatan keuangan perusahaan:

Aset (Harta) = Liabilitas (Utang) + Ekuitas (Modal)

Persamaan ini harus selalu seimbang (balance). Mari kita terapkan rumus ini ke dalam dua tahap transaksi perusahaan Anda:

Tahap Awal: Setoran Modal Pemilik

Ketika Anda menyetorkan uang tunai sebesar Rp500 juta ke dalam perusahaan, perusahaan menerima uang tunai (Kas) dan mengakui adanya hak milik Anda (Modal).

  • Sisi Aset: Kas perusahaan bertambah Rp500 juta.
  • Sisi Ekuitas: Modal Pemilik bertambah Rp500 juta.

Pada tahap ini, kedua sisi seimbang di angka Rp500 juta.

Tahap Kedua: Pembelian Komputer Rp20 Juta

Di sinilah titik kerancuan yang sering terjadi. Ketika perusahaan membeli komputer operasional seharga Rp20 juta secara tunai, transaksi ini sebenarnya tidak memotong ekuitas/modal Anda. Mengapa?

Karena transaksi ini merupakan transaksi internal sesama aset atau disebut perubahan komposisi aset. Perusahaan hanya menukar satu jenis harta dengan jenis harta lainnya.

  • Kas (Aset) berkurang Rp20 juta, sehingga tersisa Rp480 juta.
  • Peralatan/Komputer (Aset) bertambah Rp20 juta.
  • Ekuitas (Modal) tetap utuh di angka Rp500 juta.

Mari kita lihat visualisasi strukturnya melalui tabel berikut:

Kondisi Keuangan Aset (Kas) Aset (Komputer) Total Aset Ekuitas (Modal)
Setelah Setor Modal Rp500.000.000 Rp0 Rp500.000.000 Rp500.000.000
Setelah Beli Komputer Rp480.000.000 Rp20.000.000 Rp500.000.000 Rp500.000.000

Kesimpulannya, nilai modal Anda di sisi Ekuitas tidak berkurang sepeser pun. Total aset perusahaan pun tetap Rp500 juta, hanya saja bentuknya yang kini terbagi menjadi kas dan komputer.

2. Dampak terhadap Likuiditas Perusahaan

Meskipun total aset dan modal tidak berubah, transaksi pembelian komputer ini membawa dampak besar pada aspek lain, yaitu Likuiditas.

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya menggunakan aset lancar yang tersedia. Dengan kata lain: seberapa cepat aset tersebut bisa diubah menjadi uang tunai untuk membayar sesuatu?

Dari transaksi di atas, kita bisa melihat adanya pergeseran tingkat likuiditas:

Uang Kas Rp480 Juta (Likuiditas Sangat Tinggi)

Uang tunai atau kas adalah raja dalam hal likuiditas. Uang Rp480 juta yang tersisa di rekening perusahaan dapat langsung digunakan kapan saja secara instan. Baik itu untuk membayar gaji karyawan, membeli bahan baku, atau membayar tagihan darurat, uang ini siap dieksekusi tanpa hambatan waktu.

Komputer Rp20 Juta (Likuiditas Rendah / Aset Tetap)

Di sisi lain, komputer senilai Rp20 juta dikategorikan sebagai Aset Tetap. Komputer ini dibeli bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk mendukung operasional bisnis sehari-hari.

Jika besok pagi perusahaan membutuhkan uang tunai mendesak sebesar Rp20 juta, komputer ini tidak bisa langsung dicairkan. Perusahaan harus mencari pembeli, melakukan negosiasi harga, dan menanggung risiko penurunan nilai pasar (depresiasi). Proses tersebut memakan waktu dan tenaga, itulah mengapa aset ini disebut memiliki likuiditas rendah.

Kesimpulan untuk Pemilik Bisnis

  1. Belanja aset produktif (seperti laptop, mesin, atau gedung) secara tunai tidak mengurangi modal (ekuitas) perusahaan, melainkan hanya merubah bentuk kekayaan perusahaan dari uang kas menjadi aset fisik.
  2. Setiap pembelian aset tetap akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan. Oleh karena itu, pemilik bisnis harus bijak dalam menyeimbangkan porsi aset lancar (kas) untuk menjaga keamanan operasional jangka pendek, dan aset tetap untuk mendorong produktivitas jangka panjang.
Hutan Tropis Terancam Kehilangan Kemampuan Serap Karbon Akibat El Nino

Hutan Tropis Terancam Kehilangan Kemampuan Serap Karbon Akibat El Nino

Hutan hujan tropis merupakan salah satu penyerap karbon terbesar di Bumi. Hutan Amazon di Amerika Selatan, misalnya, menyimpan sekitar 123 miliar ton karbon, jumlah terbesar dibandingkan ekosistem daratan lainnya di dunia. Namun, kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon kini menghadapi ancaman serius akibat El Nino.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2023 mengungkap bahwa hutan tropis di Amerika Selatan semakin rentan terhadap cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ilmuwan itu menemukan fakta bahwa selama fenomena El Nino, sebagian besar hutan tropis Amazon bahkan kehilangan kemampuannya dalam menyerap karbon (carbon sink).

Temuan ini relate dengan keadaan saat ini di mana fenomena El Nino yang sangat kuat terjadi lebih sering dibandingkan beberapa dekade lalu. Dalam 60 tahun terakhir, jumlah El Nino dengan kategori sangat kuat tercatat dua kali lebih banyak dibandingkan periode 60 tahun sebelumnya. Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat juga telah mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño kembali terjadi.

El Nino Hambat Proses Fotosintesis

Pada kondisi normal, hutan tropis menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi biomassa yang tersimpan di batang, daun, dan jaringan pohon. Namun, proses tersebut sangat bergantung pada suhu dan ketersediaan air.

Ketika suhu meningkat dan kondisi menjadi lebih kering, tumbuhan akan menutup pori-pori daun untuk mengurangi kehilangan air. Di sisi lain, pori-pori tersebut juga menjadi jalur utama masuknya karbon dioksida. Akibatnya, pohon kekurangan pasokan karbon yang dibutuhkan untuk melakukan fotosintesis dan tumbuh.

Selama tahun-tahun El Nino, suhu yang lebih tinggi dari biasanya membuat hutan mengalami tekanan iklim berkepanjangan. Dampaknya, pertumbuhan pohon melambat dan angka kematian pohon meningkat. Ketika pohon mati dan membusuk, karbon yang selama ini tersimpan kembali dilepaskan ke atmosfer. Dampaknya dapat berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa saat El Nino 2015–2016, ketika suhu daratan rata-rata meningkat lebih dari 1 derajat Celsius dibandingkan kondisi normal, sebagian hutan tropis di Amerika Selatan praktis berhenti menyerap karbon.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran bahwa El Nino yang terjadi saat ini dapat memberikan dampak serupa terhadap Hutan Amazon dan iklim global. Para peneliti lantas mengamati lebih dari 500 ribu pohon dari lebih dari 4.000 spesies di enam negara Amerika Selatan selama lebih dari 30 tahun. Dengan menggunakan pita ukur, mereka memantau pertumbuhan diameter batang pohon secara berkala. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung jumlah karbon yang tersimpan pada biomassa di atas permukaan tanah.

Studi menunjukkan tingkat kerentanan setiap hutan terhadap El Nino sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dasar. Meski hutan hujan tropis identik dengan curah hujan tinggi, kenyataannya sebagian kawasan Amazon mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama wilayah yang berada di tepian hutan.

Daerah-daerah tersebut cenderung memiliki suhu lebih panas dan kondisi lebih kering dibandingkan bagian tengah Amazon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan di wilayah pinggiran Amazon menjadi kawasan yang paling terdampak saat El Nino ekstrem terjadi.

Kenaikan suhu 0,5 derajat Celsius sudah cukup menyebabkan hutan kehilangan sekitar 0,5 persen cadangan karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah. Pohon-pohon berukuran besar menjadi kelompok yang paling rentan.

Selama El Nino, tingkat kematian pohon di seluruh hutan tropis Amerika Selatan meningkat dari sekitar 1,8 persen menjadi 3 persen per tahun. Namun, pada pohon berukuran sedang dan besar—yang memiliki diameter batang lebih dari 20 sentimeter—angka kematiannya hampir dua kali lipat.

Menurut para peneliti, tingginya kematian pada pohon besar terutama yang memiliki kepadatan kayu lebih rendah, penyebab utamanya adalah kegagalan sistem hidrolik pohon (hydraulic failure).

Dalam kondisi udara yang sangat kering, kebutuhan air meningkat drastis sehingga aliran air di dalam jaringan pohon terputus. Kondisi ini dinilai lebih berperan dibandingkan sekadar kekurangan karbon akibat terganggunya fotosintesis.

Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan hutan tropis beradaptasi terhadap musim kemarau semakin mengkhawatirkan, mereka tak lagi mampu menghadapi iklim ekstrem yang semakin sering terjadi.

Para peneliti memperingatkan, hutan di tepian Amazon kini mungkin telah melampaui batas kemampuan adaptasinya sehingga berisiko mengalami kehilangan karbon dalam jumlah besar.

Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah sejumlah ilmuwan memprediksi 2026 berpotensi kembali menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa El Nino kali ini dimulai ketika suhu lautan dan suhu udara global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.

Selain itu, selama tiga dekade terakhir, wilayah tepian Amazon mengalami salah satu laju pemanasan tercepat di kawasan tropis. Menurut para peneliti, struktur hutan akan semakin rapuh apabila fenomena iklim ekstrem datang sebelum ekosistem sempat pulih dari tekanan iklim yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Jika kondisi tersebut terus berulang, dunia berisiko menyaksikan kematian pohon dan hilangnya cadangan karbon dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, hutan tropis merupakan salah satu aset terpenting dalam upaya menekan laju perubahan iklim.

Karena itu, para peneliti menekankan bahwa perlindungan terhadap hutan tropis harus menjadi prioritas. Kemampuan hutan untuk terus berfungsi sebagai penyerap karbon sangat bergantung pada keberhasilan menjaga kelestariannya sekaligus membatasi kenaikan suhu global.

“Masa depan Amazon bergantung pada upaya tersebut. Begitu pula masa depan kita,” tulis para peneliti.

Sumber : https://kumparan.com/kumparansains/hutan-tropis-terancam-kehilangan-kemampuan-serap-karbon-akibat-el-nino-27mTjYMAiZ7

Apple Gugat OpenAI, Tuding Curi Rahasia Dagang demi Kembangkan Perangkat AI

Apple Gugat OpenAI, Tuding Curi Rahasia Dagang demi Kembangkan Perangkat AI

Apple resmi menggugat OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang dan pelanggaran kontrak. Apple menuduh OpenAI secara sistematis memperoleh informasi rahasia dari mantan karyawan Apple untuk mempercepat pengembangan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan (artifical intelligence/AI).

Gugatan tersebut diajukan pada Jumat (10/10) ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara California. Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa dugaan pelanggaran itu dilakukan atas arahan jajaran petinggi OpenAI, termasuk Chief Hardware Officer Tang Tan, yang sebelumnya menghabiskan 24 tahun berkarier di Apple dan terakhir menjabat sebagai Vice President of Product Design untuk iPhone dan Apple Watch.

Gugatan ini muncul di tengah rumor OpenAI yang disebut sedang mengembangkan perangkat keras pertamanya dan diperkirakan akan bersaing langsung dengan iPhone.

Pada April lalu, analis industri Ming-Chi Kuo menyebut perangkat tersebut kemungkinan berupa smartphone yang mengandalkan agen AI sebagai pengganti aplikasi konvensional. Jika benar, produk itu berpotensi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi bisnis perangkat keras Apple.

Ambisi OpenAI di sektor perangkat keras semakin kuat setelah perusahaan itu mengakuisisi startup perangkat milik mantan kepala desain Apple, Jony Ive, yakni io, dalam kesepakatan senilai 6,5 miliar dolar AS tahun lalu. Meski nama io disebut dalam gugatan, Jony Ive sendiri tidak menjadi pihak yang dituduh.

Selain Tang Tan, Apple juga menyeret nama mantan karyawan lain yang kini bekerja di OpenAI, Chang Liu. Apple menuduh Liu tidak mengembalikan laptop milik perusahaan setelah keluar dari Apple pada 2026. Selama masih menguasai perangkat tersebut, Liu diduga mengunduh berbagai dokumen teknis rahasia milik Apple.

Menurut Apple, dokumen yang diambil mencakup informasi mengenai teknologi, fitur, dan produk yang belum dirilis, termasuk spesifikasi teknis, presentasi internal untuk tim rekayasa, hingga data proyek yang bersifat rahasia.

Liu juga dituduh membagikan informasi rahasia Apple kepada mantan rekan kerjanya yang sedang melamar pekerjaan di OpenAI. Bahkan, ia disebut memberi arahan mengenai materi yang perlu dipelajari sebelum mengikuti proses wawancara.

Apple Sebut OpenAI Terapkan Strategi Sistematis

Dalam gugatannya, Apple mengeklaim telah mengirim surat kepada OpenAI pada Februari untuk menyampaikan kekhawatiran terkait dugaan penyalahgunaan informasi rahasia. Namun, OpenAI tidak pernah memberikan tanggapan.

Apple menilai tindakan para mantan karyawannya tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi OpenAI untuk memperoleh informasi rahasia perusahaan. Menurut Apple, OpenAI diduga meminta calon karyawan membawa desain, prototipe, hingga menjelaskan proses pemilihan komponen dan pemasok yang digunakan Apple dalam mengembangkan produknya.

Apple juga mengeklaim investigasi internal menemukan OpenAI dan sejumlah mitranya telah memanfaatkan informasi rahasia dari Apple dalam mengembangkan perangkat keras mereka sendiri.

Salah satu contohnya adalah penggunaan metal finishing yang dipatenkan Apple. Dalam gugatan disebut OpenAI membuat salah satu mitranya percaya mereka telah mendapatkan izin untuk menggunakan teknologi milik Apple tersebut. Apple menegaskan praktik semacam ini menjadi ancaman serius terhadap hak kekayaan intelektual perusahaan.

“Ini hanyalah puncak gunung es. Apple tidak memiliki visibilitas terhadap apa yang terjadi di balik pintu tertutup OpenAI, tempat praktik semacam ini dinormalisasi dan dicontohkan oleh para pemimpinnya,” tulis Apple dalam dokumen gugatan.

Perusahaan itu juga menuduh bisnis perangkat keras OpenAI dibangun di atas fondasi yang rapuh karena bergantung pada rahasia dagang yang diperoleh secara ilegal.

Apple Minta Pengadilan Hentikan Penggunaan Rahasia Dagang

Melalui gugatan tersebut, Apple meminta pengadilan melarang OpenAI menggunakan atau mengungkapkan rahasia dagang miliknya. Apple juga meminta seluruh dokumen dan materi rahasia dikembalikan, serta memerintahkan OpenAI untuk menyimpan seluruh bukti yang berkaitan dengan perkara ini. Dalam pernyataan resminya, Apple tegas akan terus melindungi hasil inovasi para insinyurnya.

“Di Apple, tim kami terus mengembangkan teknologi terobosan untuk menghadirkan produk dan layanan terbaik di dunia. Melindungi hasil kerja dan kekayaan intelektual mereka merupakan hal yang kami anggap sangat serius,” tulis Apple.

“Baru-baru ini muncul bukti kuat yang menunjukkan bahwa individu yang bekerja di OpenAI secara tidak sah mengambil informasi rahasia Apple terkait teknologi, proses, dan produk yang belum dirilis. Kami akan selalu membela hasil kerja keras dan inovasi tim kami, serta mengambil langkah yang diperlukan untuk melindunginya.”

Menanggapi gugatan tersebut, OpenAI menyatakan tidak memiliki kepentingan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Melalui pernyataan yang diunggah di platform X.

“Kami tidak memiliki ketertarikan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Fokus kami tetap pada pengembangan teknologi inovatif yang memberdayakan masyarakat di seluruh dunia,” papar OpenAI.

Sumber : https://kumparan.com/kumparantech/apple-gugat-openai-tuding-curi-rahasia-dagang-demi-kembangkan-perangkat-ai-27laYwxz4U4

Apakah Semua Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal? Simak Penjelasan Ini

Apakah Semua Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal? Simak Penjelasan Ini

Jakarta, MUI Digital — Sertifikasi halal selama ini lebih banyak dikaitkan dengan makanan dan minuman. Namun, hal ini juga dikembangkan lebih luas menyangkut barang gunaan.

Lalu terkait hal itu, menjelang pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal bagi sejumlah kategori barang gunaan pada 17 Oktober 2026, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: Mengapa produk seperti pakaian, alat masak, botol minum, alat tulis, hingga perlengkapan ibadah juga perlu bersertifikat halal? Apakah ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar mengikuti tren?

Dikutip dari Jurnal Halal LPPOM, sertifikasi halal pada barang gunaan bukan sekadar mengikuti perkembangan pasar. Kebijakan ini lahir sebagai upaya menjaga kehalalan produk dari potensi kontaminasi najis sepanjang proses produksi hingga digunakan oleh konsumen, sehingga memberikan kepastian dan ketenangan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat.

Dalam Islam, konsep halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup upaya menjaga diri dari najis. Karena itu, kehalalan suatu produk tidak dapat dipisahkan dari proses produksi, bahan yang digunakan, hingga kemungkinan terjadinya kontaminasi selama proses pengolahan.

Dalam fiqih, najis dibagi menjadi tiga kategori, yakni najis ringan (mukhaffafah), najis sedang (mutawassithah), dan najis berat (mughalladhah). Masing-masing memiliki tata cara penyucian yang berbeda.

Najis berat, seperti babi, anjing, dan turunannya, menjadi salah satu perhatian dalam proses produksi barang gunaan. Pasalnya, bahan turunan babi dapat ditemukan pada berbagai komponen industri, seperti gelatin, enzim, lemak, hingga senyawa kimia yang digunakan dalam pelumas mesin, bahan plastik, pewarna tekstil, maupun perekat. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya kontaminasi pada barang yang digunakan sehari-hari.

Karena itu, sertifikasi halal pada barang gunaan tidak hanya berfokus pada bahan utama produk, tetapi juga mencakup penelusuran asal bahan, bahan penolong, fasilitas produksi, serta penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).

Seluruh tahapan tersebut bertujuan memastikan produk yang digunakan masyarakat bebas dari unsur najis dan memenuhi ketentuan halal. Meski demikian, tidak semua barang gunaan diwajibkan memiliki sertifikat halal.

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 741 Tahun 2021 yang kemudian disempurnakan dengan KMA Nomor 944 Tahun 2024 telah menetapkan jenis barang gunaan yang termasuk dalam kategori wajib bersertifikat halal.

Kelompok tersebut meliputi sandang, penutup kepala, aksesori, peralatan rumah tangga, alat kesehatan, perlengkapan ibadah, alat tulis kantor, kemasan produk, serta bahan penyusun barang gunaan.

Sementara itu, produk di luar kelompok tersebut, seperti kendaraan atau peralatan pertukangan, tidak termasuk kategori yang wajib bersertifikat halal selama tidak bersentuhan langsung dengan konsumsi maupun penggunaan yang berkaitan dengan kebutuhan umat.

Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus menjadi panduan bagi masyarakat mengenai produk apa saja yang wajib memenuhi ketentuan sertifikasi halal.

Dengan demikian, kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk mewajibkan seluruh barang memiliki sertifikat halal, melainkan diterapkan pada kelompok produk yang telah ditetapkan dalam regulasi.

Menjelang batas waktu implementasi pada 17 Oktober 2026, pelaku usaha di sektor barang gunaan didorong untuk mulai mempersiapkan proses sertifikasi halal.

Pada tanggal yang sama, kewajiban sertifikasi halal juga mulai berlaku bagi sejumlah kategori lain, seperti kosmetik, sebagian jenis obat, produk impor, dan produk usaha mikro dan kecil (UMK).

Di sisi lain, sertifikasi halal juga memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Selain meningkatkan kepercayaan konsumen, sertifikasi halal dapat memperkuat daya saing produk serta membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar halal global.

Sumber : https://mui.or.id/baca/halal/apakah-semua-barang-gunaan-wajib-bersertifikat-halal-simak-penjelasan-ini

Sekjen MUI: Gagasan Penguatan UMKM APKLI Jadi Masukan Strategis di KUII VIII

Sekjen MUI: Gagasan Penguatan UMKM APKLI Jadi Masukan Strategis di KUII VIII

Jakarta, MUI Digital–Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan bahwa gagasan penguatan ekonomi kerakyatan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan menjadi salah satu masukan materi yang sangat strategis dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang akan digelar pada 24-26 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Hal tersebut ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Dr H Amirsyah Tambunan, saat menerima audiensi dari jajaran Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (DPP APKLI) di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026).

​”Gagasan dan aspirasi yang disampaikan APKLI hari ini menjadi bagian penting yang akan memperkaya rekomendasi dalam Kongres Umat Islam Indonesia VIII nanti. Ini momentum besar untuk merumuskan arah baru kedaulatan ekonomi umat,” ujar tokoh yang akrab disapa Buya Amirsyah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum APKLI, Dr Ali Mahsun Atmo, menyampaikan sejumlah poin krusial terkait peran organisasi sebagai mitra pemerintah.

Ali menegaskan tiga fungsi utama APKLI saat ini yakni memperjuangkan aspirasi kesejahteraan rakyat di tingkat nasional hingga daerah, melakukan advokasi kebijakan agar UMKM naik kelas, serta mendampingi akses permodalan bagi para pedagang di berbagai daerah.

Merespons paparan tersebut, Buya Amirsyah memberikan apresiasi tinggi terhadap struktur kepengurusan APKLI yang mengakar kuat dari pusat (DPP), provinsi (DPW), hingga kota/kabupaten (DPD). Namun, di tengah situasi ekonomi nasional yang sedang lesu, ia mengingatkan bahwa UMKM harus didorong untuk bergerak lebih agresif.

Menurut Buya Amirsyah, saat ini ada sekitar 65,5 juta hingga 66 juta unit usaha mikro di Indonesia yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Sektor ini terbukti menyerap 117 juta tenaga kerja atau mencakup 97 persen angkatan kerja, serta menyumbang hingga 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

​”Sektor ini adalah stabilisator kita saat krisis. Maka kuncinya ada dua: pertama, penguatan sistem penyaluran pembiayaan yang langsung dirasakan masyarakat di bawah. Kedua, penguatan SDM melalui pelatihan usaha dan kemudahan akses modal dari pemerintah,” jelasnya.

Untuk memaksimalkan langkah tersebut, Buya Amirsyah menyarankan agar APKLI segera membangun sinergi konkret dengan lembaga internal MUI, seperti Badan Arbitrase Syariah Nasional (Basyarnas) untuk fungsi mediasi/advokasi hukum, serta Lembaga Penggerak Ekonomi Umat (LPEU) MUI.

Lebih lanjut, Sekjen MUI ini mendorong APKLI untuk melakukan gerakan progresif yang spektakuler demi mewujudkan kedaulatan ekonomi rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Menurutnya, Kedaulatan ini, harus mencakup tiga aspek utama yakni ketahanan nasional di komunitas lokal, pemerataan pendapatan ke daerah, dan kemandirian finansial melalui transformasi digital seperti pemanfaatan platform KADIN Indonesia serta sistem pembayaran QRIS.

Buya Amirsyah juga memberikan catatan kepada pemerintah agar lebih tegas melindungi produk lokal dari serbuan barang impor, seperti gawai, pakaian jadi, alas kaki, kosmetik, hingga perabotan rumah tangga.

​”Pemerintah harus konsisten menerapkan aturan pembatasan, termasuk pengenaan bea masuk dan pajak yang ketat bagi produk luar negeri. Ini penting untuk memperkuat neraca perdagangan kita, sekaligus sebagai bukti nyata bahwa Indonesia berdaulat, baik secara ekonomi maupun politik,” kata Buya Amirsyah.

Sumber : https://mui.or.id/baca/berita/sekjen-mui-gagasan-penguatan-umkm-apkli-jadi-masukan-strategis-di-kuii-viii