Bahlil: Indonesia tak Lagi Impor Solar setelah Program B50 Diterapkan

Bahlil: Indonesia tak Lagi Impor Solar setelah Program B50 Diterapkan

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan Indonesia berhenti mengimpor solar setelah penerapan kebijakan mandatori biodiesel B50.

“Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali, Bapak Presiden,” ujar Bahlil dalam peluncuran

Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Bahlil memaparkan total konsumsi solar dalam negeri berada pada kisaran 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. “Awalnya, kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun,” ujar Bahlil.

Kini, lanjut dia, Indonesia tidak lagi mengimpor solar setelah penerapan B50. Dengan demikian, Bahlil menegaskan Indonesia tidak hanya meluncurkan B50, tetapi juga mengambil langkah besar menuju Indonesia yang semakin berdaulat di sektor energi.

Capaian tersebut selaras dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan energi. Penerapan B50 pada Juli 2026 juga dilatarbelakangi oleh arahan Prabowo kepada Bahlil untuk meningkatkan kedaulatan di sektor energi.

“Kami memaknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa agar bisa menghasilkan energi dari negara kita sendiri,” ujar Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis.

Dasar hukum pelaksanaan Program Mandatori Biodiesel B50 adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Solar sebesar 50 persen.

Program B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. Dalam pelaksanaannya, badan usaha bahan bakar nabati, badan usaha bahan bakar minyak, dan badan usaha penyalur wajib menerapkan standar mutu sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia.

sumber : https://ekonomi.republika.co.id/berita/thwh5r423/bahlil-indonesia-tak-lagi-impor-solar-setelah-program-b50-diterapkan-part2

Soal Ikhlas Ternyata Kita Semua Masih Amatir

Soal Ikhlas Ternyata Kita Semua Masih Amatir

Sepenggal lirik dari lagu Sesi Potret ini mampu menyentuh hati banyak orang. Barangkali hampir setiap orang pernah berada di titik itu, yaitu ketika kehilangan seseorang yang begitu dicintai. Entah ayah, ibu, pasangan, saudara, atau sahabat, kepergian mereka meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi.

Di hadapan kematian, sering kali kita baru menyadari bahwa ternyata mengucapkan kata ikhlas jauh lebih mudah daripada benar-benar menjalaninya.

Kalimat “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir” sesungguhnya menggambarkan sisi paling manusiawi dari diri kita. Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap menerima perpisahan abadi. Air mata mengalir, kenangan terus bermunculan, dan hati terasa berat untuk menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini menemani hidup kini hanya tinggal nama dan doa.

Namun, Islam mengajarkan bahwa kesedihan itu bukanlah tanda lemahnya iman. Menangis bukan berarti tidak menerima takdir Allah. Bahkan Rasulullah Saw, manusia yang paling sempurna keimanannya, pernah menangis ketika kehilangan orang-orang yang beliau cintai.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: شَهِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ، فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ، فَقَالَ: هَلْ فِيكُمْ رَجُلٌ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: أَنَا. قَالَ: فَانْزِلْ. فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا

“Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Kami menghadiri pemakaman putri Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw. duduk di sisi kuburnya. Aku melihat kedua mata beliau bercucuran air mata. Lalu beliau bersabda, ‘Apakah di antara kalian ada seorang laki-laki yang tadi malam tidak menggauli istrinya?’ Abu Thalhah menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Turunlah ke dalam kuburnya.’ Maka Abu Thalhah pun turun ke dalam kubur tersebut.” (H.R. al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak menahan air mata beliau. Beliau menangis karena kasih sayang kepada putrinya. Akan tetapi, tangisan itu tidak disertai penolakan terhadap takdir Allah. Beliau tidak meratap, dan tidak mengucapkan kata-kata yang menunjukkan ketidakrelaan kepada keputusan Allah.

Inilah pelajaran penting bagi setiap Muslim. Islam tidak pernah mengharamkan air mata. Yang dilarang adalah kehilangan kendali hingga kesedihan berubah menjadi bentuk protes kepada Allah.

Rasulullah Saw bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah.” (H.R. al-Bukhari)

Karena itu, ketika mendengar lirik “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir”, seorang Muslim tidak perlu merasa bersalah apabila masih menangis saat mengingat orang yang telah meninggal. Menangis adalah hal lumrah. Air mata merupakan bahasa cinta yang tidak selalu mampu diterjemahkan oleh kata-kata. Yang perlu dijaga adalah agar kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan dan penolakan terhadap ketetapan Allah.

Kematian adalah Kepastian

Bagaimanapun juga, kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” (QS. az-Zumar [39]: 30)

Dua ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang kekal di dunia. Orang tua kita akan meninggal. Pasangan kita akan meninggal. Sahabat kita akan meninggal. Bahkan kita sendiri pun suatu hari akan dipanggil menghadap Allah. Yang berbeda hanyalah waktunya.

Maka, ikhlas bukanlah kemampuan menghilangkan rasa sedih. Ikhlas adalah menerima bahwa setiap pertemuan di dunia memang memiliki batas waktu. Kita boleh menangis, tetapi kita tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa semua yang terjadi berada dalam ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana.

Ketika musibah itu datang, Allah mengajarkan kalimat yang sangat agung.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’” (QS. al-Baqarah [2]: 156)

Agar Keikhlasan Kita tidak lagi Amatir

Islam tidak menghendaki seorang Mukmin berhenti pada kesedihan. Setelah mengajarkan bahwa menangis merupakan fitrah manusia, Islam juga menunjukkan jalan agar cinta kepada orang yang telah meninggal tetap dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih bermakna.

Orang yang telah meninggal tidak lagi membutuhkan ratapan. Yang mereka butuhkan adalah doa dan amal-amal yang Allah jadikan bermanfaat bagi mereka. Karena itu, kerinduan hendaknya diubah menjadi ibadah, sebab itulah hadiah terbaik bagi mereka yang telah mendahului kita.

Berikut adalah amalan-amalan yang bisa kita lakukan untuk jenazah orang terkasih yang bis akita lakukan:

Doa Orang yang Masih Hidup

Amal pertama yang paling utama ialah mendoakan orang yang telah meninggal. Al-Qur’an mengajarkan bahwa orang-orang beriman yang datang setelah generasi terdahulu diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi saudara-saudara mereka yang telah lebih dahulu beriman.

Allah SWT berfirman,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا ۚ رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. al-Hasyr [59]: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa doa orang yang masih hidup bermanfaat bagi mereka yang telah meninggal dunia.

Karena itu, ketika rasa rindu datang, jangan hanya menangis. Angkatlah kedua tangan dan doakan mereka. Boleh jadi, doa itulah hadiah yang paling berharga bagi mereka.

Melunasi Utang Orang yang Meninggal

Apabila orang yang meninggal masih memiliki utang kepada sesama manusia, maka melunasinya merupakan amal yang sangat dianjurkan.

Dari Salamah bin al-Akwa’ r.a. diriwayatkan,

أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِجَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟ قَالُوا: لَا. فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالَ: هَلْ عَلَيْهِ مِنْ دَيْنٍ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ. فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: عَلَيَّ دَيْنُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ (رواه البخاري)

“Didatangkan kepada Nabi Saw satu jenazah agar beliau menyalatkannya. Beliau bertanya, ‘Apakah ia mempunyai utang?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Maka beliau menyalatkannya. Kemudian didatangkan jenazah yang lain. Beliau bertanya, ‘Apakah ia mempunyai utang?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Salatkanlah teman kalian ini.’ Abu Qatadah berkata, ‘Wahai Rasulullah, biarlah utangnya menjadi tanggunganku.’ Maka Rasulullah Saw pun menyalatkannya.” (H.R. al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap penyelesaian hak-hak manusia. Melunasi utang orang yang telah meninggal merupakan bentuk kasih sayang yang sangat besar.

Menunaikan Utang Ibadah

Selain utang kepada sesama manusia, terdapat pula kewajiban ibadah tertentu yang dapat ditunaikan oleh wali atau kerabatnya sesuai tuntunan syariat, seperti utang puasa.

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ (رواه البخاري)

“Barang siapa meninggal dunia sedangkan ia masih mempunyai kewajiban puasa, maka walinya berpuasa untuknya.” (H.R. al-Bukhari)

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah Saw bersabda,

فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى (رواه البخاري ومسلم)

“Utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada orang yang telah meninggal juga diwujudkan dengan membantu menyelesaikan kewajiban ibadah yang masih menjadi tanggungannya sesuai ketentuan syariat.

Menjadi Anak Saleh

Di antara hadiah terbesar bagi orang tua yang telah meninggal adalah melihat anak-anaknya terus hidup dalam ketaatan kepada Allah.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ (رواه النسائي)

“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya anaknya termasuk hasil usahanya.” (H.R. al-Nasa’i)

Karena anak merupakan hasil jerih payah orang tua, maka amal saleh anak menjadi sebab mengalirnya pahala kepada kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, salah satu cara terbaik mengenang ayah dan ibu bukan sekadar mengingat mereka setiap hari, melainkan menjadi pribadi yang semakin bertakwa, semakin bermanfaat, dan semakin dekat kepada Allah.

Melanjutkan Amal Kebaikan yang Pernah Ditanam

Selain amal yang dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup, Islam juga mengajarkan bahwa ada amal yang pahalanya terus mengalir dari usaha orang yang telah meninggal semasa hidupnya.

Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم)

“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw menjelaskan bentuk-bentuk amal yang terus mengalir tersebut.

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ (رواه ابن ماجه)

“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap sampai kepadanya setelah ia meninggal dunia ialah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf Al-Qur’an yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk musafir, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkannya dari hartanya ketika masih sehat dan hidup. Semua itu akan terus mengalir pahalanya setelah ia meninggal dunia.” (H.R. Ibnu Majah)

Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan seorang Mukmin tidak berhenti di liang kubur. Selama kebaikan yang pernah ia tanam masih memberi manfaat kepada orang lain, selama itu pula pahala terus mengalir kepadanya.

Karena itu, apabila hari ini kita masih berkata, “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir,” jangan biarkan kalimat itu berhenti pada kesedihan. Menangislah sebagaimana Rasulullah Saw pernah menangis. Bersabarlah sebagaimana Allah memerintahkan kesabaran. Lalu bangkitlah. Doakan mereka, lunasi hak-haknya jika masih ada, tunaikan kewajiban yang masih menjadi tanggungannya sesuai syariat, jadilah anak yang saleh, dan teruskan kebaikan yang pernah mereka tanam.

Dengan cara itulah, kerinduan tidak lagi hanya menjadi air mata, tetapi berubah menjadi pahala yang terus mengalir hingga Allah mempertemukan kembali orang-orang yang saling mencintai di surga-Nya.

Referensi:

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Tanfidz Fikih Takziah dan Kematian Keputusan Musyawarah Nasional XXVIII Tarjih Muhammadiyah”, Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 229/Kep/I.0/B/2026.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/07/soal-ikhlas-ternyata-kita-semua-masih-amatir/

Putus Mata Rantai Kolagen Berbahan Babi, Guru Besar IPB Kembangkan Alternatif Halal dari Kulit Ikan

Putus Mata Rantai Kolagen Berbahan Babi, Guru Besar IPB Kembangkan Alternatif Halal dari Kulit Ikan

Tegal, MUI Digital—Menghadapi tantangan tingginya ketergantungan industri pangan, kosmetik, dan farmasi nasional terhadap gelatin serta kolagen impor yang mayoritas berbasis babi, para Guru Besar IPB University turun tangan.

Lewat sebuah langkah strategis, tim peneliti menyelenggarakan Workshop Kolagen Gelatin Halal dari Kulit Ikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (1/7/2026) lalu.

Langkah nyata ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek yang diinisiasi oleh IPB University untuk mentransformasikan hasil penelitian laboratorium menjadi inovasi siap pakai yang dapat diterapkan langsung oleh industri dan masyarakat.

Ketua Pusat Sains Halal IPB University, Prof Khaswar, mengungkapkan bahwa pasar domestik saat ini masih sangat bergantung pada pasokan gelatin luar negeri yang titik kritis kehalalannya sangat tinggi.

“Kolagen dan gelatin selama ini mayoritas berasal dari babi. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengembangkan teknologi proses yang tepat guna menghasilkan alternatif yang dijamin suci dan halal,” ujar Prof Khaswar dalam keterangan yang diterima MUI Digital, di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Dia menambahkan, pemanfaatan kolagen dan gelatin ini sangat luas, mulai dari cangkang kapsul di industri farmasi, pengental produk pangan, hingga bahan aktif kosmetik.

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi luar biasa yang belum tergarap optimal. Ketua Tim Pelaksana Workshop sekaligus Ketua Asosiasi Co-product Akuatik Indonesia (InCoPro), Prof Mala Nurilmala, menjelaskan bahwa kulit ikan, yang selama ini kerap berakhir di tempat pembuangan sebagai limbah industri filat atau pengolahan ikan, sebenarnya adalah sumber kolagen halal berkualitas tinggi.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kulit ikan bukan lagi dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi berupa hydrolyzed collagen atau gelatin halal. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis bioekonomi sirkular,” papar Prof Mala.

Tidak sekadar memaparkan teori, para Profesor IPB University ini memboyong para peserta, yang terdiri dari pelaku usaha, akademisi, dan perwakilan pemerintah daerah, langsung ke laboratorium pengolahan SUPM Tegal.

Di sana, peserta dilatih secara runut mulai dari penyiapan bahan baku kulit ikan, proses ekstraksi teknologi tepat guna, hingga mengenali karakteristik akhir produk hydrolyzed collagen.

Antusiasme tinggi tampak sepanjang sesi praktikum. Banyak peserta melemparkan pertanyaan strategis mengenai standar mutu produk, sertifikasi halal, hingga proyeksi kelayakan bisnis jika diproduksi dalam skala rumahan maupun industri kecil.

Melalui pendekatan ini, peserta disadarkan bahwa menjual kulit ikan dalam bentuk olahan teknologi memiliki nilai jual berkali-kali lipat dibanding menjualnya sebagai bahan mentah atau pakan ternak. Kegiatan ini menjadi potret ideal kolaborasi A-G-C-M (Akademisi, Pemerintah, Industri, dan Masyarakat).

Dengan bersatunya IPB University, SUPM Tegal, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal, akselerasi kemandirian bahan baku halal nasional dinilai bukan lagi hal yang mustahil.

Melalui Program Bestari Saintek, para Guru Besar IPB University menegaskan komitmennya untuk terus mengawal inovasi ini agar tidak berhenti di rak perpustakaan atau jurnal ilmiah belaka.

Output akhir yang dibidik adalah terciptanya ekosistem hilirisasi riset yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, serta mendongkrak daya saing sektor perikanan Indonesia di kancah global.

 

Sumber : https://mui.or.id/baca/halal/putus-mata-rantai-kolagen-berbahan-babi-guru-besar-ipb-kembangkan-alternatif-halal-dari-kulit-ikan

Ini Perbedaan Dharibah dan Pajak Dalam Islam

Ini Perbedaan Dharibah dan Pajak Dalam Islam

Eramuslim – Dalam syariat Islam, pajak disebut dengan dharibah. Kata dharibah berasal dari akar kata dharaba-yadhribu-dharban. Ada banyak arti dari akar kata itu, di antaranya adalah mewajibkan, menetapkan, menentukan, memukul, menerangkan, dan membebankan.

Menurut pakar fikih, Gazy Inayah, kata dharibah dalam syariat Islam berarti beban. Diartikan demikian, katanya, karena dharibah atau pajak merupakan kewajiban lain yang harus dikeluarkan seorang Muslim selain zakat. Namun, syariat Islam telah menetapkan bahwa dharibah hanya dapat digunakan untuk kemaslahatan umat Muslim. Tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan yang melibatkan orang non-Muslim.

Syariat Islam juga mengenal pembayaran yang mirip dengan dharibah, yaitu jizyah dan kharraj. Perbedaan ketiganya terletak pada objek yang dikenakan beban. Dharibah adalah pajak yang dikenakan atas al-mal atau harta benda.

Sedangkan jizyah adalah pembayaran yang dibebankan kepada orang non-Muslim untuk menjamin keselamatan jiwa yang bersangkutan. Adapun kharraj merupakan kewajiban pembayaran atas tanah atau hasil bumi.

Lantas, apa definisi dharibah menurut syariat Islam? Abdul Qadim Zallum, seperti dikutip Gusfahmi dalam Pajak Menurut Syariah, mendefinisikan dharibah sebagai harta yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum Muslim untuk membiayai berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan atas mereka, ketika kondisi baitul mal tidak ada uang atau harta.

Berdasarkan definisi itu, Gusfahmi menyimpulkan ada lima unsur dalam dharibah. Pertama, dharibah itu diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam. Kedua, objeknya adalah harta benda. Ketiga, pelakunya terbatas orang-orang Muslim yang kaya. Keempat, tujuannya untuk membiayai keperluan umat Muslim saja. Dan kelima, diberlakukan dalam kondisi darurat.

Definisi Zallum itu juga menarik perhatian Gusfahmi untuk mengupasnya lebih dalam. Katanya, berdasarkan penjelasan Zallum itu, dharibah bersifat kondisional. Seorang penguasa baru boleh menarik dharibah ketika baitul mal mengalami kekosongan uang. Dan setelah uang di baitul mal sudah banyak maka dharibah kembali tidak diberlakukan.

Di samping itu, dharibah hanya diberlakukan bagi umat Muslim dan digunakan untuk kepentingan umat Muslim, sebagai wujud jihad mereka untuk mencegah datangnya bahaya yang lebih besar jika baitul mal kosong.

Atas dasar itulah, konsep dharibah punya perbedaan dengan konsep pajak modern. Jika dharibah bersifat kondisional, pajak berlaku secara berkelanjutan. Di samping itu, dharibah hanya dipungut dari orang-orang Islam yang kaya sedangkan pajak diambil dari siapa saja tanpa membedakan agama.

Perbedaan lainnya, dharibah hanya dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat Islam, tetapi pajak digunakan untuk kepentingan umum. Dan, dharibah hanya dipungut untuk memenuhi target yang telah ditentukan, dan setelah itu dharibah dihapuskan. Sedangkan, pajak tidak mungkin dihapuskan.

Puasa dan Kejujuran

Puasa dan Kejujuran

Eramuslim.com – Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.

Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.

Nabi muhammad Saw pernah mempredeksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim).

Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas.

Era reformasi yang telah berlangsung lebih tujuh tahun, dengan tekad untuk memberantas segala bentuk kolusi,korupsi dan nepotisme, -bahkan telah ditetapkan lewat Tap MPR- belum menunjukkan tanda-tanda dan hasil yang mengembirakan,sebab, praktek kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan.

Puasa melatih kejujuran

Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt..

Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.

Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong

Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.

Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.

Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai bagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.

Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita.

Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.

Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak semakin parah.

PENUTUP

Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orang tersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.

Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa.

Oleh : Agustianto,  Dosen Pascasarjana UI

sumber : https://www.eramuslim.com/agustianto-mingka-puasa-dan-kejujuran

S&P Global vs S&P Dow Jones Indices, Apa Bedanya?

S&P Global vs S&P Dow Jones Indices, Apa Bedanya?

Liputan6.com, Jakarta – Penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia dan Turki ke dalam daftar pantau (watchlist) yang berpotensi mengalami reklasifikasi dari pasar emerging market menjadi frontier market dalam tinjauan tahunan 2027.

Keputusan tersebut memicu pertanyaan mengenai perbedaan antara S&P Global dan S&P Dow Jones Indices. Meski sama-sama berada dalam ekosistem S&P Global, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam industri keuangan global.

Mengutip laman Spglobal.com, Rabu (8/7/2026), S&P Global merupakan perusahaan jasa keuangan yang dikenal luas sebagai penyedia peringkat kredit, data pasar, analisis risiko, hingga penyusunan indeks keuangan. Lembaga ini membantu investor, pemerintah, maupun perusahaan dalam menilai tingkat kelayakan kredit dan risiko investasi.

Cikal bakal perusahaan ini berasal dari dua entitas, yakni Poor’s Publishing yang berdiri pada 1868 dan Standard Statistics Bureau yang didirikan pada 1906. Keduanya bergabung pada 1941 menjadi Standard & Poor’s sebelum akhirnya berada di bawah McGraw-Hill.

Pada 2012, operasi indeks Standard & Poor’s digabungkan dengan Dow Jones Indices. Selanjutnya, pada 2016, McGraw Hill Financial resmi berganti nama menjadi S&P Global yang membawahi sejumlah divisi, termasuk Ratings, Market Intelligence, Platts, dan S&P Dow Jones Indices.

Saat ini S&P Global memiliki lebih dari 1.500 analis kredit dan telah menerbitkan lebih dari satu juta peringkat kredit bagi pemerintah, korporasi, lembaga keuangan, hingga berbagai instrumen utang di seluruh dunia.

Peringkat kredit yang diterbitkan S&P Global berkisar dari level tertinggi AAA hingga D. Selain itu, perusahaan juga menyediakan penilaian prospek kredit dalam jangka waktu enam bulan hingga dua tahun sebagai acuan investor dalam mengukur risiko.

S&P Dow Jones Indices Berperan Menyusun Indeks Pasar Saham

Berbeda dengan S&P Global yang berfokus pada analisis kredit, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) merupakan divisi yang bertugas mengembangkan dan mengelola berbagai indeks pasar saham global.

Perusahaan ini menjadi salah satu penyedia indeks terbesar di dunia yang produknya digunakan investor sebagai tolok ukur kinerja pasar, evaluasi portofolio, hingga dasar penyusunan berbagai produk investasi seperti reksa dana indeks dan ETF.

Jejak sejarah S&P DJI bermula ketika Charles Dow menciptakan indeks pasar saham pertama pada 1896. Dari sana lahir sejumlah indeks ikonik seperti Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 yang kini menjadi acuan utama pergerakan pasar saham global. Dalam operasionalnya, S&P DJI mengedepankan empat prinsip utama, yakni independensi, transparansi, keandalan, dan integritas.

Seluruh metodologi penyusunan indeks dipublikasikan secara terbuka agar dapat dipahami pelaku pasar dan meminimalkan potensi konflik kepentingan.

Melalui jaringan kemitraan dengan berbagai bursa saham di dunia, S&P DJI juga menggabungkan perspektif global dengan keahlian lokal untuk menyusun indeks yang mencerminkan dinamika masing-masing pasar. Salah satu tugasnya adalah melakukan klasifikasi pasar negara, termasuk menempatkan Indonesia dalam daftar pantau yang berpotensi turun status dari emerging market menjadi frontier market pada evaluasi 2027.

Sumber : https://www.liputan6.com/saham/read/8241810/sampp-global-vs-sampp-dow-jones-indices-apa-bedanya

Dulu Disebut Sepatu Terjelek, Bagaimana Crocs Kuasai Pasar Global?

Dulu Disebut Sepatu Terjelek, Bagaimana Crocs Kuasai Pasar Global?

Liputan6.com, Jakarta – Dalam industri alas kaki dunia, kenyamanan sering kali harus dikorbankan demi mengejar estetika yang ramping dan elegan. Namun, Crocs Inc. berhasil membalikkan logika tersebut secara radikal.

Sejak pertama kali diluncurkan pada awal tahun 2000-an, sepatu bakiak karet busa ini kerap dihujani kritik tajam karena bentuknya yang tebal, berlubang, dan dianggap jauh dari standar keindahan konvensional. Bukannya mundur atau mendesain ulang produknya agar terlihat seperti sepatu biasa, Crocs justru bersandar penuh pada keunikan bentuk tersebut.

Melalui strategi pemasaran yang berani, adaptif, dan sangat memahami psikologi generasi muda, mereka bertransformasi dari alas kaki praktis pekerja kapal menjadi salah satu tren streetwear paling dicari di panggung mode global.

Dilansir dari Indigo9 Digital, Kamis (9/7/2026), salah satu pilar utama kebangkitan Crocs adalah keberanian mereka untuk merangkul polarisasi publik. Merek ini secara sadar memanfaatkan fakta bahwa orang-orang hanya memiliki dua sikap ekstrem terhadap produk mereka: sangat menyukainya atau sangat membencinya.

Crocs tidak membuang energi untuk meyakinkan para pembencinya, melainkan fokus memperkuat basis penggemar setia melalui pesan yang jujur tentang kenyamanan mutlak.

Selain itu, akuisisi terhadap Jibbitz, aksesori pesona yang dapat dipasang pada lubang-lubang sepatu Crocs menjadi langkah genius yang mengubah produk massal menjadi kanvas ekspresi pribadi. Di era digital di mana konsumen sangat menghargai individualitas, Jibbitz memungkinkan setiap pengguna untuk mengustomisasi sepatu mereka sesuai dengan suasana hati, hobi, atau kepribadian. Langkah ini sukses menciptakan keterikatan emosional yang mendalam antara konsumen dan produk.

Kolaborasi Ekstrem dan Orkestrasi Kelangkaan

Mengutip Medium, lompatan besar penjualan Crocs dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh strategi kolaborasi tingkat tinggi yang tak terduga serta penerapan taktik kelangkaan (scarcity marketing).

Crocs mendobrak batasan industri dengan menggandeng figur publik papan atas serta merek-merek mewah yang kontradiktif. Mulai dari musisi seperti Justin Bieber dan Post Malone, desainer kelas dunia seperti Christopher Kane dan Balenciaga, hingga kolaborasi unik bersama merek makanan seperti KFC.

Setiap edisi kolaborasi ini diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas dan dijual melalui sistem peluncuran kilat (drop system). Strategi ini sengaja dirancang untuk menciptakan efek FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan konsumen, terutama Generasi Z.

Ketika produk kolaborasi tersebut habis terjual dalam hitungan menit, nilai prestise dan perbincangan organik di media sosial otomatis melesat tajam. Taktik ini berhasil menaikkan status Crocs dari sekadar sepatu karet fungsional menjadi sebuah barang koleksi bernilai tinggi yang merepresentasikan subkultur modern yang berani dan autentik.

Disiplin Nilai dan Relevansi Budaya

Keberhasilan Crocs membuktikan bahwa pemasaran yang sukses tidak selalu harus mengikuti arus utama, melainkan tentang bagaimana sebuah merek mampu mendikte tren dengan tetap setia pada fungsi intinya.

Ketika dunia sempat dilanda pandemi yang memaksa orang-orang beraktivitas di dalam rumah, Crocs berada di posisi yang sangat diuntungkan karena mereka telah bertahun-tahun mengampanyekan kenyamanan harian.

Dengan terus mempertahankan material busa Croslite yang ringan dan ergonomis, dipadukan dengan strategi komunikasi digital yang adaptif, Crocs berhasil membuktikan bahwa keunikan fisik bukanlah sebuah kelemahan.

Di tengah lanskap mode yang sering kali melelahkan dengan standar kerapian yang kaku, kejujuran ekstrem dan kenyamanan tanpa kompromi yang ditawarkan oleh Crocs justru menjadi sebuah kemewahan baru yang dicari oleh konsumen global.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8241999/dulu-disebut-sepatu-terjelek-bagaimana-crocs-kuasai-pasar-global

Indonesia Amankan Stok Beras Antisipasi El Nino

Indonesia Amankan Stok Beras Antisipasi El Nino

Indonesia resmi membukukan volume Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tertinggi dalam sejarah nasional, mencapai 5,2 juta ton. Angka ini menjadi instrumen krusial bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah ancaman fenomena iklim El Nino yang berpotensi memengaruhi produktivitas sektor pertanian.

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy, menegaskan bahwa akumulasi cadangan tersebut berfungsi sebagai bantalan strategis yang memberikan fleksibilitas bagi negara untuk melakukan intervensi pasar, guna menekan potensi volatilitas harga yang kerap muncul akibat gangguan pada rantai pasok maupun penurunan produksi musiman.

“Cadangan ini bukan sekedar angka, tetapi merupakan bantalan strategis yang memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan sekaligus meredam gejolak harga ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi akibat musim kemarau,” ujar Sarwo Edhy dalam keterangan resminya yang dikutip Selasa 7 Juli 2026.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah mengimplementasikan serangkaian intervensi di seluruh wilayah. Hingga awal Juni 2026, tercatat lebih dari 5.573 unit Gerakan Pangan Murah (GPM) telah dilaksanakan di 37 provinsi.

Selain itu, pendistribusian beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus diakselerasi dengan realisasi mencapai 463.000 ton untuk memastikan keterjangkauan harga di tingkat konsumen akhir.

Pencapaian stok pangan nasional ini berakar pada peningkatan produktivitas di sektor hulu. Melalui optimalisasi lahan, perbaikan sistem irigasi, serta program pompanisasi yang masif, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan produksi beras sebesar 13,29 persen pada 2025 dibandingkan periode sebelumnya.

Keberhasilan ini mendapatkan pengakuan global. Berdasarkan laporan FAO Food Outlook edisi Juni 2026, Indonesia kini menempati posisi produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia.

“FAO Food Outlook edisi Juni 2026 menuliskan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat di dunia. Ini menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan Indonesia diakui oleh lembaga pangan internasional,” tambah Sarwo Edhy.

Pemerintah menyatakan akan terus melakukan pengawasan ketat dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan ketersediaan komoditas pokok tetap terjaga meski tantangan iklim global masih membayangi.

Stimulus ekonomi berupa bantuan pangan yang telah menjangkau 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) direncanakan berlanjut hingga triwulan ketiga tahun ini sebagai bentuk komitmen perlindungan daya beli masyarakat.

sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/t4r5cau-indonesia-amankan-stok-beras-antisipasi-el-nino

Investasi Rp1 Triliun, Gambir Menjadi Teras Jakarta

Investasi Rp1 Triliun, Gambir Menjadi Teras Jakarta

PT Kereta Api Indonesia (Persero) secara resmi mengumumkan rencana transformasi besar-besaran bagi Stasiun Gambir, Jakarta. Proyek strategis yang menelan anggaran hingga Rp1 triliun ini bertujuan mengintegrasikan moda transportasi dengan ruang publik ikonik, menjadikan stasiun tersebut sebagai “teras” bagi kawasan Monumen Nasional (Monas).

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa seluruh pendanaan proyek ini sepenuhnya berasal dari kas internal perusahaan. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari upaya KAI untuk mengembangkan bisnis di luar operasional utama transportasi kereta api.

“Anggaran yang disiapkan mencapai Rp1 triliun. Kami mendanai sendiri karena ini adalah murni langkah bisnis,” ujar Bobby dikutip Kamis 9 Juli 2026.

Pengerjaan revitalisasi direncanakan mulai bergulir pada akhir tahun ini dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada 2028. Fokus utama pengembangan ini bukan sekadar meningkatkan efisiensi layanan kereta api, melainkan menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung dan penumpang.

Integrasi Wisata dan Transportasi

Selama ini, kawasan pusat Jakarta dinilai belum memiliki ruang publik yang optimal bagi masyarakat untuk menikmati panorama Monas secara leluasa. KAI ingin mengubah Stasiun Gambir menjadi titik pandang utama yang menyatu dengan estetika kawasan Monas.

“Monas adalah panggung besar Indonesia, namun hingga kini belum ada area yang benar-benar berfungsi sebagai ‘teras’ untuk memandangnya. Kami ingin menghadirkan in-journey experience, di mana pelanggan tidak hanya datang untuk bepergian, tetapi juga merasakan kenyamanan menikmati Monas,” tambah Bobby.

Sebagai bagian dari penataan kawasan Monas, proyek ini nantinya akan menyinergikan berbagai elemen penting, mulai dari transportasi antarkota, mobilitas urban, hingga sektor kuliner dan ritel.

Gambir akan diposisikan sebagai simpul kedatangan yang menghubungkan mobilitas harian dengan ruang publik yang lebih tertata dan ramah bagi warga.

Strategi ini dinilai krusial mengingat posisi strategis Stasiun Gambir yang berdekatan langsung dengan jantung ibu kota. Ke depan, KAI berharap wajah baru stasiun ini dapat memperkuat fungsi Monas sebagai pusat kegiatan sosial dan wisata nasional, sekaligus memberikan impresi positif bagi setiap orang yang menginjakkan kaki di Jakarta.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/t81i2ph-investasi-rp1-triliun-gambir-menjadi-teras-jakarta

Bisnis Harus Berdasarkan Data dan Riset, Bukan Sekadar Passion

Bisnis Harus Berdasarkan Data dan Riset, Bukan Sekadar Passion

Kediri – Banyak orang percaya bahwa untuk memulai bisnis, seseorang harus mengikuti passion. Tidak sedikit motivator maupun konten di media sosial yang menyarankan agar kita mencari pekerjaan atau membangun usaha sesuai dengan apa yang disukai.

Namun, Pak Eggy memiliki sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, bisnis seharusnya dibangun berdasarkan data dan riset, bukan semata-mata karena idealisme atau passion.

Pesan ini mengingatkan bahwa tujuan utama bisnis adalah menciptakan nilai sekaligus menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, keputusan bisnis sebaiknya didasarkan pada fakta, kebutuhan pasar, dan peluang yang nyata.

Data dan Riset Menjadi Fondasi Bisnis

Sebelum memulai sebuah usaha, seorang pengusaha perlu memahami kondisi pasar. Apa yang sedang dibutuhkan masyarakat? Seberapa besar permintaannya? Bagaimana tingkat persaingannya? Apakah bisnis tersebut memiliki potensi keuntungan yang baik?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak diperoleh dari perasaan, melainkan melalui data dan riset.

Dengan melakukan riset, seorang pengusaha dapat mengambil keputusan yang lebih objektif. Risiko memang tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tetapi keputusan yang didasarkan pada data biasanya memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar dibandingkan keputusan yang hanya mengandalkan keyakinan pribadi.

Passion Tidak Selalu Menjadi Dasar Memulai Bisnis

Menurut Pak Eggy, bisnis bukanlah soal mengejar passion semata. Bahkan, jika sebuah peluang bisnis terbukti menguntungkan berdasarkan hasil riset, maka peluang tersebut layak dipertimbangkan meskipun bukan bidang yang paling disukai.

Beliau menyampaikan bahwa seorang pengusaha tidak boleh terlalu terikat pada idealisme hingga menutup mata terhadap peluang yang ada di depan.

Dalam dunia bisnis, yang lebih penting adalah kemampuan melihat kebutuhan pasar dan memberikan solusi yang dibutuhkan pelanggan.

Contoh Nyata dalam Dunia Usaha

Sebagai contoh, Pak Eggy menceritakan pengalamannya ketika membuka usaha stasiun pengisian dan pengangkutan boks elpiji.

Beliau mengakui bahwa bisnis tersebut sama sekali bukan passion-nya.

Bahkan beliau mempertanyakan, siapa yang sejak awal bercita-cita atau memiliki passion untuk menjalankan usaha jasa pengisian elpiji? Hampir tidak ada.

Namun, keputusan tersebut tetap diambil karena didasarkan pada hasil riset yang menunjukkan adanya peluang bisnis yang menjanjikan.

Contoh ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya, banyak bisnis besar lahir bukan karena pemiliknya mencintai bidang tersebut sejak awal, melainkan karena mereka mampu melihat peluang yang belum dimanfaatkan oleh orang lain.

Bisnis Adalah Bentuk Tanggung Jawab

Pak Eggy juga menekankan bahwa menjalankan bisnis bukan hanya soal mengikuti apa yang disukai, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab.

Seorang pengusaha memiliki tanggung jawab untuk membangun usaha yang sehat, menciptakan lapangan pekerjaan, memberikan pelayanan kepada pelanggan, dan menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Karena itu, keputusan yang diambil harus bersifat rasional dan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti emosi atau kesukaan pribadi.

Mengutamakan Peluang, Bukan Perasaan

Bukan berarti passion tidak penting. Passion dapat menjadi energi yang membuat seseorang lebih bersemangat dalam menjalankan usahanya.

Namun, menurut sudut pandang Pak Eggy, passion sebaiknya bukan menjadi satu-satunya dasar dalam memilih bisnis.

Jika hasil riset menunjukkan bahwa suatu bidang memiliki pasar yang luas, permintaan yang tinggi, dan peluang keuntungan yang baik, maka peluang tersebut layak diambil.

Dengan kata lain, seorang pengusaha perlu belajar menyeimbangkan antara logika bisnis dan semangat pribadi.

Berpikir Seperti Seorang Pengusaha

Cara berpikir seorang pengusaha berbeda dengan seorang hobiis. Hobiis biasanya memilih sesuatu karena menyukainya, sedangkan pengusaha melihat apakah ada kebutuhan pasar yang bisa dipenuhi.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

  • Apakah saya menyukai bisnis ini?

Tetapi juga:

  • Apakah pasar membutuhkannya?
  • Apakah bisnis ini memiliki potensi keuntungan?
  • Apakah hasil riset menunjukkan peluang yang baik?
  • Apakah bisnis ini bisa berkembang dalam jangka panjang?

Ketika keputusan diambil berdasarkan data dan riset, peluang untuk membangun bisnis yang berkelanjutan akan menjadi lebih besar.

Penutup

Menurut Pak Eggy, bisnis sebaiknya tidak dibangun hanya berdasarkan passion atau idealisme. Seorang pengusaha perlu mengutamakan data, melakukan riset, dan memahami kebutuhan pasar sebelum mengambil keputusan.

Passion memang dapat menjadi penyemangat dalam bekerja, tetapi keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membaca peluang dan mengambil keputusan secara objektif.

Pada akhirnya, bisnis bukan tentang melakukan apa yang paling kita sukai, melainkan tentang menciptakan solusi yang dibutuhkan pasar dan membangun usaha yang memberikan manfaat sekaligus menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.