Ponorogo (beritajatim.com) – Di balik jalan kecil Jl Tanggulangi di Desa Purwosari, Kecamatan Babadan, berdiri sebuah warung makan sederhana yang namanya sudah tidak asing lagi bagi pencinta kuliner di Ponorogo dan sekitarnya.
Warung Ayam Goreng Mbok Mi, menjadi salah satu destinasi kuliner yang tak pernah kehilangan pelanggan sejak mulai beroperasi pada 2005 silam. Reputasinya terus bertahan, karena tetap mempertahankan resep turun-temurun dan cita rasa khas yang konsisten hingga sekarang.
Meski tampil sederhana, warung tersebut hampir selalu ramai didatangi pembeli. Tidak hanya warga Ponorogo, pelanggan juga datang dari berbagai daerah di luar kota. Mereka sengaja mampir untuk menikmati sajian ayam kampung yang telah lama menjadi ikon kuliner di Bumi Reog.
Pemilik Warung Mbok Mi, Mbah Parmi, mengatakan sejak awal membuka usaha, dirinya tidak pernah mengubah resep maupun bahan baku yang digunakan. Ayam kampung menjadi bahan utama di warung ini. Baginya, menjaga kualitas adalah kunci agar pelanggan tetap datang dari waktu ke waktu.
“Dari dulu masaknya tetap seperti ini. Ayam kampung diungkep pakai kayu bakar supaya empuk,” kata Mbah Parmi, ditulis Minggu (26/7/2026).
Konsistensi tersebut terbukti membuat Warung Mbok Mi tetap eksis di tengah berkembangnya berbagai tempat makan modern. Dalam sehari, warung ini mampu menghabiskan sekitar 20 ekor ayam kampung. Saat akhir pekan maupun musim liburan, jumlahnya bahkan meningkat hingga sekitar 50 ekor ayam.
“Akhir pekan atau saat liburan permintaan meningkat, bisa menghabiskan kurang lebih 50 ekor ayam,” katanya.
Selain ayam goreng kampung, warung ini menyajikan menu rumahan khas pedesaan. Seporsi nasi hangat disajikan bersama aneka sayur, sambal bawang yang dibuat saat dipesan, serta minuman tradisional seperti sinom maupun kunyit asam. Kombinasi menu sederhana itu, jstru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan.
Suasana pedesaan yang masih kental juga menjadi nilai tambah. Area memasak tradisional yang menyatu dengan ruang makan, menghadirkan kesan hangat dan sederhana. Pengunjung dapat menikmati hidangan sambil merasakan suasana kampung yang kini mulai sulit ditemukan.
Salah seorang pelanggan asal Surabaya, Nana Suryo Sudarmadi, mengaku selalu menyempatkan diri mampir setiap kali berkunjung ke Ponorogo. Menurutnya, Warung Mbok Mi memiliki karakter rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.
“Kalau ke Ponorogo wajib mampir ke sini. Rasanya khas sekali, mungkin karena dimasak menggunakan kayu bakar. Saya paling suka sayur tempe, sambalnya, ayam kampungnya, sampai dengan minuman sinomnya,” kata Nana Suryo Sudarmadi.
Dengan harga sekitar Rp35 ribu per porsi, pengunjung sudah dapat menikmati satu paket lengkap berisi nasi, ayam kampung, aneka sayur, sambal bawang, dan minuman tradisional. Perpaduan antara resep yang tetap terjaga, suasana sederhana, dan statusnya sebagai kuliner legendaris membuat Ayam Goreng Mbok Mi masih menjadi salah satu tujuan wisata kuliner yang wajib dikunjungi saat berada di Ponorogo.
Sumber : https://beritajatim.com/sejak-2005-tetap-bertahan-ayam-goreng-mbok-mi-jadi-ikon-kuliner-ponorogo




