Tren ‘Fitness Travel’ Gen Z demi Kebugaran, Padel di Spanyol-Maraton di Tokyo

Tren ‘Fitness Travel’ Gen Z demi Kebugaran, Padel di Spanyol-Maraton di Tokyo

Jakarta – Tren fitness travel kini mulai diminati oleh mereka yang mengusung gaya hidup aktif untuk menghabiskan liburan. Rutinitas bersantai yang identik dengan liburan, sekarang diganti dengan aktivitas yang menguras keringat.

Dikutip dari Far Out Magazine, para generasi muda sekarang mulai mencoba ‘keluar’ dari stigma sedentary lifestyle, dengan menjadikan aktivitas fisik seperti padel dan maraton sebagai bagian utama saat liburan.

Dalam tren ini, aplikasi pelacak kebugaran Strava memegang satu peran penting. Berdasarkan survei dari aplikasi tersebut terhadap lebih dari 30.000 orang, menemukan bahwa Generasi Z merasa menjaga kebugaran saat liburan merupakan hal mutlak, bahkan 23 persen lebih tinggi daripada Generasi X.

Berbeda dengan wellness travel yang membuat generasi milenial berbondong-bondong ke Bali untuk mengikuti retret yoga dan melakukan detoks dengan jus sayuran, fitness travel lebih menyenangkan dan aktif.

Banyak yang ‘Terpadel-padel’

Salah satu olahraga yang menjadi favorit banyak generasi muda saat ini adalah padel, yakni olahraga raket olahraga raket yang memadukan unsur permainan tenis lapangan dan squash.

Di Eropa sendiri, padel jadi olahraga yang paling cepat berkembang, khususnya di Inggris. Namun, Spanyol masih dikenal sebagai negara dengan pelatih dan pemain padel terbaik di Benua Biru.

Tak ayal, banyak orang-orang yang memilih berlibur ke Spanyol dengan salah satu agendanya untuk mendapatkan pelatihan padel.

Antusiasme Tinggi di Lari

Tak jauh berbeda dengan padel, olahraga lari seperti maraton juga banyak digandrungi para generasi muda. Banyak para pelari yang berwisata untuk menjelajahi berbagai negara, sekaligus mengejar personal best (PB) atau catatan waktu pribadi terbaik.

Saat ini Tokyo menjadi destinasi populer untuk wisata maraton. Pada 2025, dilaporkan bahwa 18.000 dari 38.000 pelari Tokyo Marathon berasal dari luar Jepang, mewakili 130 negara dan wilayah di seluruh dunia.

Selain Tokyo, Kota Berlin di Jerman juga dikenal dengan medannya yang relatif datar, dan Amerika Serikat juga memiliki sejumlah maraton kelas dunia.

Sumber : https://health.detik.com/kebugaran/d-8634564/tren-fitness-travel-gen-z-demi-kebugaran-padel-di-spanyol-maraton-di-tokyo

Makin Populer, Ini Alasan Lari Bagus untuk Kesehatan

Makin Populer, Ini Alasan Lari Bagus untuk Kesehatan

Jakarta, CNN Indonesia — Lari biasanya identik dengan target jarak, catatan waktu, atau mengejar garis finis. Padahal, dari sisi kesehatan, manfaat olahraga ini sebenarnya tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh seseorang mampu berlari.

Berlari merupakan salah satu bentuk olahraga aerobik yang dapat membantu menjaga kebugaran jantung dan paru-paru. Jika dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh, aktivitas ini dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif.

Karena itu, mengikuti event lari tidak selalu tentang menjadi yang tercepat. Menyelesaikan beberapa kilometer sesuai kemampuan pun dapat menjadi kesempatan untuk bergerak sekaligus membangun kebiasaan olahraga.

Belakangan, makna event lari juga berkembang. Sejumlah penyelenggara mulai menggabungkan aktivitas olahraga dengan misi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Hal tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Deloitte Runify 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/8). Lebih dari 600 karyawan Deloitte, klien, mitra, dan anggota komunitas mengikuti kegiatan tersebut dengan pilihan jarak 5 kilometer (km) dan 10 km.

Lari dan manfaatnya bagi tubuh

Sebagai olahraga aerobik, lari membuat tubuh bekerja lebih aktif untuk memenuhi kebutuhan energi selama bergerak. Aktivitas ini melibatkan kerja jantung dan paru-paru sehingga, apabila dilakukan secara rutin, dapat membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi.

Namun, kemampuan setiap orang dalam berlari tentu berbeda. Pemula tidak perlu langsung mengejar jarak jauh atau kecepatan tinggi. Intensitas dan jarak sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta kemampuan tubuh.

Hal yang tidak kalah penting, olahraga sebaiknya dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, lari tidak hanya menjadi aktivitas sesekali ketika mengikuti event, tetapi bagian dari gaya hidup aktif.

Konsep tersebut menjadi salah satu hal yang dapat dilihat dari event lari yang kini mulai membawa pesan lebih luas. Aktivitas fisik tetap menjadi inti kegiatan, tetapi peserta juga diajak memberikan dampak di luar dirinya sendiri.

Dalam Deloitte Runify 2026, aktivitas lari dipadukan dengan misi sosial melalui penggalangan dana. Dari penjualan tiket dan donasi, terkumpul lebih dari Rp170 juta yang akan digunakan untuk mendukung program pendidikan bagi pelajar dari kelompok masyarakat kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia Leader sekaligus Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, Brian Indradjaja, mengatakan kegiatan tersebut telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.

“Setiap peserta yang terlibat seperti karyawan, klien Deloitte, relawan, pendukung, dan donatur, telah berkontribusi dengan membantu memperluas akses terhadap pendidikan bagi generasi muda Indonesia sekaligus membuka jalan menuju berbagai peluang di masa depan,” kata Brian.

Dengan demikian, kilometer yang ditempuh peserta tidak hanya berhenti pada pencapaian pribadi. Aktivitas olahraga juga dikaitkan dengan dukungan terhadap akses pendidikan.

Selain manfaat kesehatan dan dampak sosial, penyelenggaraan event olahraga juga menghadapi persoalan lingkungan. Mobilitas peserta, transportasi, hingga kebutuhan operasional selama acara dapat menghasilkan emisi karbon.

Karena itu, Deloitte bekerja sama dengan Jejakin untuk mengukur jejak karbon Deloitte Runify 2026. Pengukuran mencakup emisi yang berkaitan dengan aktivitas peserta, transportasi, dan operasional acara.

Jejak karbon yang dihasilkan kemudian akan dikompensasi melalui penanaman mangrove. Upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Aspek lingkungan juga diterapkan melalui pengelolaan limbah. Deloitte mengumpulkan limbah elektronik atau e-waste dengan mengajak karyawan menyumbangkan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan.

Bersama Olah Plastic, limbah plastik dan elektronik yang dikumpulkan dari kantor Deloitte kemudian dimanfaatkan menjadi sejumlah bagian acara, seperti medali finisher, elemen panggung, dinding foto, dan instalasi seni.

Konsep ini menunjukkan bahwa material yang berpotensi menjadi sampah dapat dialihkan untuk digunakan kembali. Edukasi mengenai ekonomi sirkular juga dilakukan melalui lokakarya upcycling yang diikuti 50 karyawan Deloitte. Dalam kegiatan tersebut, keyboard komputer yang sudah tidak digunakan diubah menjadi gantungan kunci.

Sumber :https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260824221736-255-1396026/makin-populer-ini-alasan-lari-bagus-untuk-kesehatan

Aktivitas Sederhana yang Bikin Jantung Sehat

Aktivitas Sederhana yang Bikin Jantung Sehat

Liputan6.com, Jakarta – Naik tangga mungkin terasa biasa. Namun, kebiasaan sederhana ini ternyata dapat memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.

Penelitian yang dilakukan peneliti dari Norfolk and Norwich University Hospital (NNUH), Inggris dan University of East Anglia, Inggris terhadap lebih dari 480.000 orang menemukan bahwa orang yang sering naik tangga memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit kardiovaskular.

Studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Cardiovascular Drugs tersebut menemukan, orang yang sering menaiki tangga memiliki risiko 39 persen lebih rendah meninggal akibat masalah jantung. Mereka juga memiliki risiko 24 persen lebih rendah meninggal karena penyakit lain.

Selain itu, kebiasaan naik tangga juga dikaitkan dengan risiko lebih rendah mengalami gagal jantung, stroke, dan serangan jantung.

Para peneliti mendapatkan temuan tersebut setelah melakukan meta-analisis dan tinjauan terhadap sembilan penelitian. Para peserta penelitian berusia 35 hingga 84 tahun dan diikuti selama rata-rata 14 tahun.

Meski demikian, peneliti belum dapat memastikan frekuensi optimal seseorang perlu menaiki tangga untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Salah satu penelitian kohort besar yang dianalisis menunjukkan bahwa naik tangga sekitar enam kali sehari sudah memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.

Namun, peneliti menekankan bahwa jumlah tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.

“Beberapa penelitian yang kami tinjau menunjukkan bahwa semakin banyak tangga yang dinaiki, semakin besar manfaat kesehatannya. Namun, perubahan kecil sekalipun memberikan dampak yang dapat diukur,” ujar penulis studi Sophie Paddock mengutip Huffpost.

Aktivitas fisik singkat seperti ini kerap disebut “exercise snacks”. Aktivitas tersebut diketahui dapat membantu meningkatkan energi, fungsi kardiovaskular, kualitas tidur, hingga kesehatan mental.

Ada Keterbatasan Penelitian

Meski menemukan hubungan antara kebiasaan menaiki tangga dan kesehatan jantung, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan.

Salah satunya adalah frekuensi menaiki tangga sebagian dilaporkan sendiri oleh peserta. Kondisi tersebut memungkinkan adanya kesalahan dalam mengingat seberapa sering mereka menggunakan tangga.

Selain itu, orang yang terbiasa memilih tangga mungkin sudah memiliki gaya hidup yang lebih sehat. Mereka bisa saja memiliki tingkat aktivitas fisik atau kebugaran yang lebih tinggi secara keseluruhan sehingga risiko penyakit jantungnya memang lebih rendah.

“Kita tahu bahwa kebiasaan menaiki tangga dapat berjalan beriringan dengan perilaku lain yang mendukung kesehatan. Mereka yang cenderung memilih tangga mungkin secara keseluruhan memiliki tingkat aktivitas fisik atau kebugaran yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukannya,” kata Paddock.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/diet-dan-kebugaran/read/8275115/aktivitas-sederhana-yang-bikin-jantung-sehat

Fakta-fakta Scaling, Kerap Disangka Bikin Gigi Goyang dan Merenggang

Fakta-fakta Scaling, Kerap Disangka Bikin Gigi Goyang dan Merenggang

Jakarta – Sudah rajin sikat gigi tapi masih ada endapan keras berwarna kekuningan atau kecokelatan di sekitar gigi? Bisa jadi itu karang gigi atau dental calculus dan sayangnya, sikat gigi saja tidak akan bisa menghilangkannya.

Untuk memahami mengapa karang gigi sulit dibersihkan, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana endapan tersebut terbentuk.

1. Karang Gigi Berasal dari Plak yang Mengeras

Plak adalah lapisan lengket yang terbentuk dari bakteri, sisa makanan, dan komponen saliva. Jika tidak dibersihkan dengan baik, plak dapat mengalami mineralisasi dalam waktu beberapa hari saja dan mengeras menjadi karang gigi.

Ada dua jenis karang gigi yang perlu diketahui:

  • Karang gigi supragingival: terbentuk di atas garis gusi, biasanya terlihat jelas dengan warna putih kekuningan.
  • Karang gigi subgingival: terbentuk di bawah garis gusi, tidak terlihat langsung, warnanya cenderung lebih gelap (kecokelatan hingga kehitaman), dan justru lebih berisiko karena letaknya dekat dengan akar gigi dan jaringan pendukung gigi.

2. Kenapa Sikat Gigi Saja Tidak Cukup

Plak yang masih lunak bisa diangkat dengan sikat gigi dan benang gigi. Namun begitu mengeras menjadi karang gigi, teksturnya sudah menyatu erat dengan permukaan gigi.

Sikat gigi, sekeras apa pun cara menyikatnya, tidak dirancang dan tidak mampu mengikis lapisan yang sudah termineralisasi ini. Yang dibutuhkan adalah alat khusus dari tenaga profesional.

3. Dampaknya ke Kesehatan Gusi Kalau Dibiarkan

Penumpukan plak dan karang gigi di sekitar garis gusi memicu peradangan (gingivitis). Tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

  • Gusi mudah berdarah saat menyikat gigi
  • Gusi tampak merah atau bengkak
  • Bau mulut yang tidak kunjung hilang
  • Gusi terasa tidak nyaman atau nyeri ringan

Jika dibiarkan berlarut-larut, gingivitis bisa berkembang menjadi periodontitis – kondisi yang lebih serius di mana jaringan dan tulang penyangga gigi ikut rusak. Efek jangka panjangnya bisa berupa resesi gusi (gusi turun), gigi goyang, hingga risiko kehilangan gigi.

4. Apa yang Terjadi Saat Scaling

Scaling adalah prosedur pembersihan gigi oleh dokter gigi atau tenaga profesional untuk mengangkat plak dan karang gigi, termasuk di area yang tidak terjangkau sikat gigi.

Alat yang digunakan: umumnya ultrasonic scaler (getaran + semburan air) untuk mengangkat karang gigi dalam jumlah banyak, kadang dilengkapi hand scaler manual untuk area detail.

  • Durasi: biasanya 30-60 menit, tergantung banyaknya karang gigi dan kondisi gusi.
  • Rasa sakit: umumnya tidak memerlukan bius. Sensasi ngilu atau tidak nyaman bisa terasa, terutama jika gusi sedang meradang atau karang gigi cukup banyak.
  • Perlu diluruskan: scaling bukan prosedur pemutihan gigi. Efek gigi terlihat lebih putih dan bersih setelah scaling terjadi karena karang gigi dan noda permukaan (stain) sudah terangkat, bukan karena warna email gigi berubah.

Setelah Scaling
Beberapa keluhan yang sering muncul setelah scaling:

  • Gigi bisa terasa lebih sensitif untuk sementara waktu
  • Gusi mungkin sedikit berdarah atau nyeri ringan, khususnya jika sebelumnya ada peradangan
  • Sebaiknya hindari dulu makanan/minuman yang terlalu panas atau dingin dalam 1-2 hari pertama
  • Celah antar gigi yang sebelumnya “tertutup” karang gigi mungkin jadi lebih terasa ini normal, bukan gigi jadi renggang

5. Seberapa Sering Perlu Scaling?

Kebutuhan scaling berbeda pada setiap orang. Frekuensinya perlu disesuaikan dengan kondisi kebersihan mulut, jumlah karang gigi, kesehatan gusi, serta risiko penyakit periodontal.

Tidak ada jadwal scaling yang berlaku sama untuk semua orang. Pada orang dengan risiko penyakit gusi yang lebih tinggi atau memiliki riwayat penyakit periodontal, perawatan dan pemeriksaan dapat dilakukan lebih sering. Dalam perawatan periodontal, interval kunjungan yang digunakan dalam penelitian umumnya berkisar 3-6 bulan, tergantung kondisi dan kebutuhan pasien.

Karena itu, sebaiknya jangan menentukan jadwal scaling sendiri. Dokter gigi dapat menentukan kapan scaling diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan gigi dan gusi.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah scaling merusak lapisan enamel gigi? Tidak, jika dilakukan oleh tenaga profesional dengan teknik yang tepat. Scaling hanya mengangkat karang gigi dan plak, bukan mengikis lapisan email.

Apakah scaling bikin gigi jadi renggang? Bukan renggang, tapi celah antar gigi yang sebelumnya terisi karang gigi memang jadi lebih terlihat setelah karang gigi diangkat. Ini kondisi normal dan bukan kerusakan.

Kesimpulan

Sikat gigi membantu mencegah penumpukan plak sejak awal, sedangkan scaling diperlukan untuk mengangkat karang gigi yang sudah terlanjur terbentuk dan mengeras. Keduanya punya peran berbeda tapi saling melengkapi mengandalkan salah satunya saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi dalam jangka panjang.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8631751/fakta-fakta-scaling-kerap-disangka-bikin-gigi-goyang-dan-merenggang

Jeruk punya khasiat untuk redakan pilek sampai cerahkan kulit

Jeruk punya khasiat untuk redakan pilek sampai cerahkan kulit

Jakarta (ANTARA) – Jeruk merupakan salah satu buah yang rendah kalori dan mengandung banyak nutrisi yang berkhasiat meredakan pilek sampai mencerahkan kulit.

Nutrisi dalam jeruk bergantung kepada jenisnya, namun secara umum buah itu rendah kalori, lemak, dan natrium, serta tinggi antioksidan, serat, dan vitamin menurut siaran Health pada Kamis (20/8). Satu buah jeruk kecil misalnya, mengandung 45,1 kalori dan 0,115 gram atau sekitar 0,15 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Berikut adalah sejumlah manfaat jeruk yang baik bagi tubuh.

1. Memberikan asupan serat yang cukup

Orang dewasa membutuhkan sekitar 25 sampai 38 gram serat setiap hari atau 14 gram per 1.000 kalori.

Mengonsumsi buah jeruk dapat membantu memenuhi 2,3 gram serat per buahnya, sedangkan jeruk mandarin besar memiliki 2,1 gram serat. Sebagian besar serat ini adalah pektin, sejenis serat larut yang membentuk zat seperti gel yang membantu memperlambat pencernaan dan mencegah lonjakan gula darah.

Selain itu, serat juga mengikat kolesterol untuk mengeluarkannya dari tubuh dan menurunkan kadar kolesterol. Serat yang tersisa tidak larut, yang menambah volume tinja dan mengatur pergerakan usus.

2. Mengurangi durasi dan keparahan pilek

Vitamin C tidak dapat mencegah pilek, tetapi, beberapa bukti menunjukkan bahwa vitamin C dapat mengurangi durasi dan tingkat keparahannya.

Enam ons jus jeruk mengandung 103 persen dari AKG yang direkomendasikan untuk vitamin C. Satu buah jeruk utuh mengandung 78 persen dan setengah buah jeruk bali ukuran sedang mengandung 43 persen.

3. Membuat kulit jadi lebih sehat

Vitamin C berperan dalam produksi kolagen, yang membuat beberapa peneliti percaya bahwa vitamin C dapat membantu menjaga kulit tetap kenyal dan halus.

Sebuah tinjauan tahun 2017 menemukan bahwa asupan buah dan sayuran yang tinggi dapat mencegah tanda-tanda penuaan yang terlihat. Para peneliti mencatat bahwa vitamin C dapat melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya.

4. Meminimalisir risiko penyakit jantung

Jeruk mengandung flavonoid dan vitamin C, yang merupakan antioksidan yang meningkatkan kesehatan jantung.

Flavonoid membantu mengurangi peradangan, sementara vitamin C dapat melindungi terhadap aterosklerosis. Penumpukan plak di dinding arteri meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Buah jeruk merupakan sumber nutrisi lain yang menyehatkan jantung, termasuk folat dan kalium.

Folat membantu memecah homosistein, asam amino yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi dalam kadar tinggi. Sementara itu, kalium dalam buah jeruk membantu mengimbangi efek berbahaya natrium untuk mengontrol tekanan darah.

Beberapa metabolit, atau zat yang dihasilkan tubuh saat memecah jeruk, juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

5. Mengandung banyak kalium

Buah jeruk kaya akan kalium, yang membantu mengatur cairan dan mengontraksikan otot. Kalium menyeimbangkan jumlah natrium dalam makanan dengan membantu tubuh membuangnya dan membantu mengontrol tekanan darah.

Membatasi asupan natrium dapat membantu mengurangi risiko dan mengobati tekanan darah tinggi. Mengonsumsi banyak makanan kaya kalium dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan memperkuat tulang.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5704913/jeruk-punya-khasiat-untuk-redakan-pilek-sampai-cerahkan-kulit

Bugar Bukan Berarti Jantung Pasti Sehat

Bugar Bukan Berarti Jantung Pasti Sehat

KITA mungkin pernah mendengar seseorang tiba-tiba kolaps saat berolahraga. Usianya masih muda, rutin berlatih, mampu berlari 5 km, 10 km, bahkan half marathon atau full marathon. Tubuhnya terlihat atletis dan bugar.

Lalu, muncul pertanyaan: bagaimana mungkin orang yang rutin berolahraga mengalami serangan jantung atau henti jantung? Jawabannya, bugar dan sehat bukanlah hal yang sama.

Bugar menggambarkan kemampuan tubuh melakukan aktivitas fisik, termasuk kemampuan jantung, paru, pembuluh darah, dan otot dalam menggunakan oksigen secara efisien.

Sementara itu, sehat mencakup kondisi tubuh secara menyeluruh, termasuk ada atau tidaknya penyakit.

Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki kebugaran yang sangat baik, tetapi mungkin memiliki faktor risiko atau penyakit jantung yang belum terdeteksi.

Meski demikian, kebugaran kardiorespirasi tetap menjadi salah satu penanda penting kesehatan kardiovaskular. Aktivitas fisik teratur juga terbukti memberikan manfaat besar dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan kematian.

Olahraga membuat jantung bekerja lebih keras

Saat berolahraga, kebutuhan oksigen meningkat. Jantung merespons dengan meningkatkan denyut, tekanan darah, serta mengalirkan lebih banyak darah ke otot yang bekerja. Pada jantung yang sehat, respons tersebut merupakan hal fisiologis yang normal.

Olahraga teratur dapat membantu mengendalikan tekanan darah, berat badan, gula darah, dan kolesterol. Aktivitas fisik juga berperan penting dalam meningkatkan kebugaran kardiorespirasi.

Namun, pada seseorang yang memiliki penyakit atau faktor risiko penyakit jantung, aktivitas fisik yang sangat berat dapat mencetuskan kejadian kardiovaskular.

Risiko tersebut dapat muncul bila intensitas olahraga jauh melebihi kebiasaan latihan sebelumnya. Karena itu, latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan ditingkatkan secara bertahap.

Olahraga sebagai pemicu, bukan penyebab utama

Ketika seseorang mengalami kejadian jantung saat berolahraga, sering muncul anggapan bahwa olahraga menyebabkan serangan jantung.

Padahal, pada sebagian kasus, olahraga berperan sebagai pencetus pada kondisi jantung yang sebenarnya sudah ada.

Aktivitas fisik berat dapat menjadi semacam stress test fisiologis. Masalah yang tidak terlihat saat aktivitas sehari-hari dapat muncul ketika jantung bekerja jauh lebih keras.

Dengan kata lain, olahraga dapat mengungkap atau mencetuskan masalah yang sudah ada. Hal ini bukan berarti olahraga menyebabkan penyakit jantung.

Secara keseluruhan, manfaat aktivitas fisik rutin tetap jauh lebih besar daripada risiko kejadian kardiovaskular tersebut.

Mengapa orang yang sangat bugar bisa mengalami masalah jantung?

Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa orang yang tampak bugar tetap bisa mengalami masalah jantung saat berolahraga.

Pertama, adanya penyakit arteri koroner yang belum diketahui. Kondisi ini dapat terjadi terutama pada individu dengan faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, obesitas, atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung. Penyakit arteri koroner juga dapat berkembang tanpa gejala yang khas.

Kedua, adanya kelainan struktur atau otot jantung. Pada usia muda, kondisi seperti hypertrophic cardiomyopathy (HCM), kelainan struktural, atau kelainan bawaan lain dapat ditemukan.

Ketiga, adanya gangguan listrik jantung. Kelainan sistem listrik jantung, termasuk channelopathy atau kelainan bawaan pada saluran ion jantung, dapat memicu aritmia ventrikel. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat menyebabkan henti jantung mendadak.

Serangan jantung berbeda dengan henti jantung

Serangan jantung atau heart attack terjadi ketika aliran darah ke otot jantung berkurang atau terhenti. Kondisi ini umumnya disebabkan penyakit arteri koroner.

Sementara itu, henti jantung atau cardiac arrest terjadi ketika jantung tiba-tiba tidak mampu memompa darah secara efektif.

Keduanya dapat berkaitan, tetapi bukan kondisi yang sama. Serangan jantung dapat menyebabkan henti jantung. Namun, tidak semua henti jantung disebabkan oleh serangan jantung.

Karena itu, istilah “serangan jantung” sebaiknya tidak digunakan untuk setiap kejadian ketika seseorang tiba-tiba kolaps.

Belajar dari Christian Eriksen

Christian Eriksen menjadi salah satu contoh atlet sepak bola profesional yang mengingatkan kita bahwa kebugaran fisik tidak membuat seseorang kebal terhadap gangguan jantung.

Ia mengalami henti jantung saat pertandingan Euro 2020 dan berhasil diselamatkan melalui cardiopulmonary resuscitation (CPR) dan defibrilasi yang cepat.

Setelah menjalani evaluasi dan penanganan medis, termasuk pemasangan implantable cardioverter-defibrillator (ICD), Eriksen dapat kembali berlaga di lapangan sepak bola.

Kisah itu memberi dua pelajaran penting. Pertama, kebugaran fisik yang sangat baik tidak menjamin seseorang bebas dari penyakit atau gangguan jantung tertentu. Kedua, pada henti jantung, setiap detik sangat berharga.

Pengenalan kejadian secara cepat, CPR berkualitas, dan defibrilasi sedini mungkin merupakan bagian penting dari rantai penyelamatan nyawa.

Namun, kisah tersebut bukan alasan untuk takut berolahraga. Sebaliknya, olahraga tetap perlu dilakukan dengan tepat, bertahap, terukur, dan sesuai kondisi kesehatan.

Kenali risiko, tetap bergerak

Tidak semua orang yang ingin berolahraga membutuhkan pemeriksaan jantung lengkap.

Namun, evaluasi medis perlu dipertimbangkan pada orang yang memiliki penyakit atau faktor risiko kardiovaskular, riwayat keluarga dengan kematian mendadak, atau akan memulai olahraga dengan intensitas jauh lebih tinggi dari biasanya.
Evaluasi juga penting bila muncul gejala seperti nyeri dada, sesak yang tidak biasa, pusing, jantung berdebar, atau pingsan saat berolahraga.

Pada kondisi tersebut, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan target latihan. Pingsan saat berolahraga bukan sekadar tanda “kurang fit” dan perlu dievaluasi sebelum seseorang kembali berolahraga.

Pada orang sehat dan tidak bergejala, pemeriksaan jantung rutin sebelum berolahraga umumnya tidak diperlukan.

Namun, seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 35-40 tahun, penting untuk mengenali profil risiko dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Bila diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), exercise test atau treadmill/ergocycle, serta ekokardiografi sesuai kondisi dan indikasi klinis.

Di era fitness tracker dan running challenge, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada prinsip “semakin berat, semakin sehat”. Sebab, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Mulailah sesuai kemampuan. Setelah itu, tingkatkan durasi, frekuensi, dan intensitas latihan secara bertahap.

Bahkan, bagi pasien dengan penyakit jantung, olahraga tetap penting sebagai bagian dari rehabilitasi dan pencegahan sekunder kardiovaskular. Namun, jenis dan dosis latihannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Jadi, apakah kita perlu takut berolahraga? Tidak. Kita justru perlu lebih takut menjadi tidak aktif.

Tetap bergerak, tetapi kenali kondisi kesehatan, pahami kemampuan tubuh, tingkatkan latihan secara bertahap, dan dengarkan sinyal tubuh.

Sebab, tujuan olahraga bukan sekadar menjadi lebih cepat, lebih jauh, atau lebih kuat. Tujuan utamanya adalah menjadi lebih sehat dan memiliki hidup yang lebih berkualitas.

Bugar itu penting. Sehat itu harus diusahakan dan yang terbaik adalah memiliki keduanya. Oleh karena itu, mari tetap bergerak.

Sumber : https://health.kompas.com/read/26H21140827668/bugar-bukan-berarti-jantung-pasti-sehat

Sering Menatap Layar? Kenali Computer Vision Syndrome Dan Cara Mencegahnya

Sering Menatap Layar? Kenali Computer Vision Syndrome Dan Cara Mencegahnya

Pernahkah mata terasa perih, kering, atau pandangan mulai kabur setelah bekerja berjam-jam di depan komputer? Keluhan ini sering dianggap sebagai rasa lelah biasa, padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda Computer Vision Syndrome (CVS) atau sindrom kelelahan mata akibat penggunaan layar digital. Di era kerja dan belajar berbasis teknologi, keluhan ini semakin sering dialami oleh berbagai kalangan. Kabar baiknya, CVS umumnya dapat dicegah dengan perubahan kebiasaan sederhana.

Apa itu Computer Vision Syndrome?

Computer Vision Syndrome atau sering juga disebut digital eye strain adalah kumpulan keluhan pada mata, penglihatan, leher dan bahu, yang muncul akibat penggunaan komputer, laptop, tablet, atau ponsel dalam waktu lama. Keluhan ini sering terjadi pada orang yang bekerja dengan layar digital setiap hari, terutama bila posisi kerja, pencahayaan, jarak pandang, atau kebiasaan istirahat mata kurang baik.

 Siapa saja yang  berisiko?

Computer Vision Syndrome dapat dialami oleh siapa saja yang sering menggunakan perangkat digital, terutama pekerja kantor, programmer, desainer grafis, analis data, guru, dosen, mahasiswa, maupun pekerja lain yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar. Berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa sekitar dua dari tiga pengguna perangkat digital mengalami satu atau lebih gejala CVS. Hal ini menunjukkan bahwa keluhan pada mata akibat penggunaan perangkat digital merupakan masalah yang cukup sering dialami masyarakat di era digital.  Keluhan ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan mata permanen, tetapi dapat mengganggu kenyamanan, konsentrasi, dan produktivitas kerja bila terjadi berulang.

 Apa penyebabnya?

Computer Vision Syndrome terjadi karena mata bekerja lebih berat saat menatap layar dalam waktu lama. Saat melihat layar, mata harus terus mempertahankan fokus pada tulisan, gambar, cahaya, dan kontras yang berubah-ubah. Selain itu, saat menatap layar, seseorang cenderung lebih jarang berkedip. Padahal, berkedip penting untuk menjaga kelembaban permukaan mata.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan atau memperberat Computer Vision Syndrome antara lain:

  • Durasi menatap layar terlalu lama. Semakin lama seseorang bekerja di depan layar tanpa jeda, semakin besar kemungkinan mata menjadi lelah.
  • Jarak mata ke layar tidak sesuai. Layar yang terlalu dekat atau terlalu jauh membuat mata bekerja lebih keras untuk fokus.
  • Posisi layar kurang ergonomis. Layar yang terlalu tinggi, terlalu rendah, atau tidak sejajar dapat menyebabkan mata, leher, bahu, dan punggung bekerja lebih berat.

  • Pencahayaan ruangan kurang baik. Ruangan yang terlalu gelap, terlalu terang, atau memiliki pantulan cahaya pada layar dapat membuat mata cepat lelah.

  • Ukuran huruf terlalu kecil. Tulisan yang kecil membuat mata harus lebih fokus dan dapat memicu sakit kepala atau pandangan kabur.

  • Gangguan refraksi yang belum dikoreksi. Mata minus, plus, silinder, atau mata tua yang tidak dikoreksi dengan kacamata sesuai dapat memperberat keluhan.

  • Kebiasaan kerja tanpa istirahat. Pekerja yang terus menerus menggunakan komputer tanpa jeda berisiko lebih tinggi mengalami keluhan mata dan otot.

Apa saja gejalanya?

Gejala Computer Vision Syndrome dapat berbeda pada setiap orang. Keluhan biasanya muncul setelah bekerja lama di depan layar dan dapat membaik setelah mata diistirahatkan. Gejala tersebut tidak hanya berkaitan dengan mata, tetapi juga dapat melibatkan keluhan otot dan postur tubuh. Karena itu, Computer Vision Syndrome penting dibahas sebagai masalah kesehatan kerja, bukan sekadar keluhan mata biasa.

Gejala yang sering dirasakan antara lain:

  • Mata terasa lelah
  • Mata kering, perih, panas, atau seperti berpasir
  • Pandangan kabur
  • Sulit fokus setelah lama menatap layar
  • Mata merah atau berair
  • Sakit kepala
  • Mata terasa sensitif terhadap cahaya
  • Penglihatan ganda pada sebagian orang
  • Leher, bahu, atau punggung terasa pegal

Kapan harus ke Dokter?

Sebagian besar keluhan CVS akan membaik setelah mata diistirahatkan dan kebiasaan penggunaan layar diperbaiki. Namun, segera periksa ke dokter apabila:

  1. Mata merah tidak membaik.
  2. Pandangan kabur terus-menerus.
  3. Nyeri mata hebat.
  4. Sakit kepala berulang.
  5. Keluhan tetap muncul meski sudah mengurangi penggunaan layar.

 Bagaimana mencegahnya?

Sebagian besar keluhan Computer Vision Syndrome (CVS) dapat dicegah atau dikurangi dengan menerapkan kebiasaan yang baik saat menggunakan komputer, laptop, tablet, maupun ponsel. Langkah-langkah sederhana berikut dapat membantu menjaga kesehatan mata sekaligus meningkatkan kenyamanan saat bekerja atau belajar.

  • Terapkan aturan 20-20-20

Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik. Cara sederhana ini membantu otot mata menjadi lebih rileks dan mengurangi ketegangan akibat fokus terus-menerus pada layar.

  • Gunakan kacamata sesuai kebutuhan

Bila memiliki mata minus, plus, silinder, atau mata tua, gunakan kacamata sesuai hasil pemeriksaan dokter. Koreksi penglihatan yang tepat dapat membantu mengurangi keluhan saat bekerja di depan layar.

  • Lebih sering berkedip
    Saat menatap layar, frekuensi berkedip biasanya berkurang sehingga mata lebih mudah kering. Biasakan berkedip secara sadar agar permukaan mata tetap lembab dan nyaman.

  • Atur posisi layar dan tempat kerja
    Posisikan layar sekitar 50–70 cm dari mata. Bagian atas monitor sebaiknya sedikit lebih rendah dari tinggi mata, sehingga pandangan mengarah sekitar 15–20° ke bawah. Posisi ini membantu mengurangi ketegangan pada mata, leher, dan bahu.

  • Gunakan pencahayaan yang nyaman

Hindari ruangan yang terlalu terang atau terlalu gelap. Kurangi pantulan cahaya pada layar dan sesuaikan tingkat kecerahan monitor dengan kondisi ruangan agar mata tidak bekerja terlalu keras.

  • Perbesar ukuran huruf

Tulisan yang terlalu kecil membuat mata harus terus berusaha fokus. Atur ukuran huruf dan tampilan layar agar lebih mudah dibaca tanpa harus memicingkan mata.

Peran Tempat Kerja?

Pencegahan Computer Vision Syndrome juga memerlukan dukungan dari lingkungan kerja. Perusahaan atau instansi dapat membantu mengurangi risiko keluhan dengan menyediakan meja dan kursi yang ergonomis, mengatur pencahayaan ruangan agar tidak menyilaukan, mengurangi pantulan cahaya pada monitor, memberikan edukasi mengenai posisi kerja yang benar, serta mendorong pekerja untuk mengambil jeda singkat secara berkala. Selain itu, pemeriksaan kesehatan mata secara rutin bagi pekerja yang menggunakan komputer dalam waktu lama juga dapat membantu mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini. Penerapan prinsip ergonomi di tempat kerja merupakan salah satu upaya penting untuk mengurangi keluhan akibat penggunaan komputer, termasuk kelelahan mata serta nyeri pada leher, bahu, dan punggung.

Sumber : https://ayosehat.kemkes.go.id/sering-menatap-layar–kenali-computer-vision-syndrome-dan-cara-mencegahnya-

Japanese Walking, Metode Jalan Cepat-Lambat yang Viral di Media Sosial

Japanese Walking, Metode Jalan Cepat-Lambat yang Viral di Media Sosial

Liputan6.com, Jakarta – Metode jalan cepat-lambat Japanese Interval Walking Training (IWT) mendadak viral di media sosial. Ilmuwan Jepang sebenarnya telah meneliti metode ini sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum tren tersebut ramai dibicarakan di dunia maya.

Riset menunjukkan latihan ini dapat meningkatkan kebugaran aerobik, menurunkan tekanan darah, dan membangun kekuatan otot jika dilakukan minimal empat hari dalam seminggu. Jalan kaki biasa umumnya dilakukan dengan kecepatan yang stabil sepanjang waktu.

Namun, Japanese walking mengharuskan pelakunya berganti kecepatan untuk menantang otot, jantung, dan paru-paru. Fase jalan cepat dilakukan pada intensitas sekitar 70 persen dari kemampuan maksimal tubuh, sedangkan fase jalan lambat berada di kisaran 40 persen.

Kombinasi keduanya membuat tubuh bekerja lebih keras dibandingkan berjalan dengan ritme konstan. Shawn G. Anthony, dokter bedah ortopedi sekaligus associate chief sports medicine di Mount Sinai Health System New York, menjelaskan perubahan intensitas ini memberi manfaat ganda bagi tubuh.

“Perubahan intensitas memacu jantung dan otot bekerja lebih keras, namun latihan ini tetap ringan bagi sendi pinggul dan lutut,” katanya, melansir Web MD, Jumat (21/8/2026). Karakter inilah yang membuat Japanese walking dianggap relatif aman bagi sendi dibandingkan olahraga intensitas tinggi lainnya.

Barbara Walker, psikolog kesehatan integratif sekaligus profesor psikiatri dan neurosains perilaku di University of Cincinnati College of Medicine, menyoroti efisiensi waktu dari metode ini. “Secara umum, rutinitas ini hanya membutuhkan dua jam per minggu, dibandingkan sekitar 10 jam untuk mencapai target 10.000 langkah setiap hari,” sebutnya.

Manfaat Kesehatan

Sejumlah manfaat kesehatan turut menyertai penerapan rutin Japanese walking. Pembakaran kalori meningkat karena tubuh bekerja lebih keras selama fase cepat, sementara kekuatan otot kaki ikut terbangun sehingga koordinasi dan keseimbangan tubuh membaik.

Daya tahan tubuh juga meningkat dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan rutinitas jalan kaki biasa, sedangkan kesehatan jantung terdorong oleh interval yang memacu detak jantung secara berkala.

Kadar gula darah turut membaik karena otot menyerap gula darah lebih banyak saat bekerja keras, sementara suasana hati ikut membaik berkat efek relaksasi dari aktivitas berjalan, terutama bila dilakukan di ruang terbuka dengan udara segar dan pemandangan alam.

Kebutuhan untuk terus memperhatikan waktu dan kecepatan selama sesi interval juga membuat pelakunya tetap fokus, sehingga variasi ritme ini dinilai membantu menjaga motivasi berolahraga dalam jangka panjang.

Kata Studi

Sebuah studi pada 2007 menemukan metode ini memperbaiki kekuatan, kebugaran, dan tekanan darah lebih baik dibandingkan jalan kaki biasa.

Penelitian lanjutan menunjukkan penerapan rutin selama empat bulan mampu menurunkan gula darah, tekanan darah, kolesterol, serta indeks massa tubuh, sekaligus meningkatkan VO2 max hingga sekitar 20 persen, yang menjadi indikator utama tingkat kebugaran kardiovaskular seseorang.

Studi lain pada kelompok lansia berusia 65 tahun ke atas menemukan peserta yang menjalani latihan interval memiliki daya tahan dan fleksibilitas lebih baik dibandingkan kelompok yang hanya berjalan dengan ritme biasa, meski kedua kelompok sama-sama mengalami perbaikan suasana hati dan kualitas tidur.

Penerapan Japanese walking tidak memerlukan peralatan rumit selain sepatu yang mendukung, pakaian nyaman, dan pengatur waktu.

Mulai Sesi Latihan

Sesi latihan dimulai dengan pemanasan berjalan lambat selama beberapa menit, dilanjutkan tiga menit jalan cepat, kemudian tiga menit jalan lambat, dan diulang sebanyak lima kali hingga total waktu mencapai 30 menit. Latihan ditutup dengan pendinginan berupa jalan lambat dan peregangan.

Bagi yang kesulitan meluangkan waktu 30 menit sekaligus, sesi ini dapat dipecah menjadi tiga kali jalan kaki selama 10 menit sepanjang hari. Metode ini dinilai cocok bagi banyak kalangan, termasuk lansia, meski intensitas intervalnya tidak selalu sesuai untuk semua orang.

Orang dengan riwayat gangguan jantung, sendi, atau keseimbangan disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mencoba metode ini. Bagi pemula yang belum terbiasa berolahraga, memulai dengan ritme stabil sebelum menambahkan interval cepat secara bertahap menjadi pilihan yang lebih aman.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8274753/japanese-walking-metode-jalan-cepat-lambat-yang-viral-di-media-sosial

Minuman Manis Bisa Picu Kanker Lambung, Peneliti Ungkap Alasannya

Minuman Manis Bisa Picu Kanker Lambung, Peneliti Ungkap Alasannya

Jakarta – Bahaya dari konsumsi berlebihan minuman manis selama ini identik dengan ancaman kenaikan berat badan hingga diabetes tipe 2. Tetapi, riset yang dipublikasikan dalam jurnal Gastro Hep Advances membeberkan fakta baru yang tak kalah mengejutkan.

Minuman tinggi gula, kini resmi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung lewat studi yang telah menganalisis lebih dari 112.000 peserta.

Peneliti menemukan bahwa orang yang rutin mengonsumsi setidaknya satu porsi minuman manis (237 ml) per hari, berisiko 2,45 kali lipat lebih tinggi terkena kanker lambung. Risiko ini bahkan melonjak hingga 3 kali lipat pada kelompok wanita.

Lantas, mengapa minuman manis menjadi pemicu timbulnya kanker lambung?

Deretan Alasan Biologis di Balik Risiko Kanker Lambung

Meskipun riset ini bersifat observasional, artinya baru menunjukkan korelasi dan bukan sebab-akibat langsung. Para peneliti dari Massachusetts General Hospital mengungkapkan beberapa dugaan mekanisme biologis yang melatarbelakanginya.

Ketika tubuh terus-menerus ‘diguyur’ asupan gula tinggi dari minuman seperti soda, limun, es buah, hingga minuman berenergi, ada serangkaian dampak buruk yang terjadi pada organ pencernaan, di antaranya:

  • Kerusakan DNA dan stres oksidatif: Asupan gula berlebih memicu stres oksidatif dalam sel yang berpotensi merusak rantai DNA dan memicu mutasi sel kanker.
  • Peradangan (inflamasi) kronis: Gula tinggi merangsang reaksi peradangan terus-menerus di jaringan tubuh, termasuk pada dinding lambung.
  • Resistensi insulin: Lonjakan gula darah yang sering terjadi mengganggu kerja insulin, yang diketahui berkaitan erat dengan pembentukan lingkungan pro-kanker.
  • Disbiosis (gangguan mikrobioma usus): Konsumsi gula dapat merusak keseimbangan bakteri baik di dalam saluran pencernaan.
  • Ketidakseimbangan hormon steroid: Tingginya asupan gula memicu gangguan pada keseimbangan hormon dalam tubuh.

“Beberapa mekanisme mendasar telah diusulkan, termasuk kenaikan berat badan, resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon steroid, peradangan, kerusakan DNA, dan dysbiosis,” kata tim peneliti.

“Namun, mekanisme pasti dari efek karsinogenik minuman manis masih harus diselidiki. Penelitian di masa mendatang diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini serta menginvestigasi mekanisme biologis yang terlibat,” sambung mereka.

Mengingat kanker lambung merupakan penyebab kematian akibat kanker kelima terbesar di dunia, penulis senior dr Andrew T Chan mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menyepelekan kebiasaan minum manis dan mulai membatasinya demi kesehatan jangka panjang.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8628154/minuman-manis-bisa-picu-kanker-lambung-peneliti-ungkap-alasannya

Studi: Berpikir sejenak sebelum bereaksi tingkatkan pengelolaan emosi

Studi: Berpikir sejenak sebelum bereaksi tingkatkan pengelolaan emosi

Jakarta (ANTARA) – Kemampuan berhenti sejenak dan menilai kembali respons sebelum bereaksi dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik, menurut penelitian terbaru dari University of Sydney.

Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang dipimpin Riley Leckie dan tim menyoroti peran metakognisi atau kemampuan seseorang untuk memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri dalam kecerdasan emosional.

Kemampuan tersebut membantu seseorang mengenali perubahan perasaan, menilai intensitas dan penyebabnya, serta menentukan kapan emosi perlu diatur.

Peneliti mula-mula menguji hubungan antara kemampuan metakognitif dan pengelolaan emosi. Hasil awal hanya menunjukkan bukti yang lemah mengenai hubungan keduanya.

Namun, pada penelitian berikutnya, peserta diminta menilai tingkat keyakinan mereka terhadap jawaban dalam sejumlah situasi yang menguji kemampuan mengelola emosi.

Hasilnya menunjukkan bahwa tindakan sederhana berupa menilai kembali seberapa yakin seseorang terhadap responsnya dapat meningkatkan kualitas cara mereka merespons situasi emosional.

Peneliti menilai proses tersebut dapat mendorong seseorang untuk berpikir lebih dalam, memperhatikan isyarat emosional yang relevan, dan mempertimbangkan apakah strategi yang dipilih sudah sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Dengan kata lain, seseorang dapat memberi jeda sebelum bereaksi dan bertanya pada diri sendiri apakah respons yang akan dilakukan merupakan pilihan terbaik.

Misalnya, ketika merasa marah setelah seorang teman membatalkan janji secara mendadak, seseorang dapat menahan diri sebelum mengirim pesan bernada emosional.

Jeda tersebut dapat digunakan untuk mempertimbangkan kemungkinan lain dan memilih cara yang lebih tepat untuk menyampaikan kekecewaan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mengelola emosi tidak selalu membutuhkan proses yang rumit. Membiasakan diri untuk memantau respons dan mengevaluasinya sebelum bertindak dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik saat menghadapi situasi emosional.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5703572/studi-berpikir-sejenak-sebelum-bereaksi-tingkatkan-pengelolaan-emosi