Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Tiga faktor pemicu penuaan lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Pakar kedokteran fungsional yang berbasis di Pennsylvania, Dr. Will Cole menyampaikan faktor dalam gaya hidup modern hingga paparan lingkungan dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi sel yang memengaruhi kesehatan, salah satunya penuaan biologis.

Menurut dia, genetika dalam tubuh tidak berubah selama ribuan tahun, namun, dunia tempat hidup telah berubah secara drastis dalam waktu yang sangat singkat.

“Ini berkaitan dengan makanan yang kita konsumsi atau tidak kita konsumsi, racun lingkungan yang sebelumnya tidak ada di sekitar kita, serta stres dan trauma,” kata Cole, dikutip laporan New York Post, Kamis (27/8) waktu setempat.

Cole mengatakan berbagai tekanan tersebut dapat berkontribusi yang dinilainya mempercepat penuaan, yaitu kondisi ketika usia biologis seseorang berbeda dari usia kronologisnya.

“Banyak orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an memiliki sel seperti orang lanjut usia. Hal itu umum terjadi, tetapi bukan sesuatu yang normal,” ujar dia.

Ia mengidentifikasi tiga faktor yang paling mengganggu komunikasi antarsel, sehingga menciptakan cellular noise atau kebisingan seluler yang berpotensi terhadap penuaan lebih cepat dan penyakit.

Pola makan yang tidak sehat

Menurut Cole, mengonsumsi makanan yang tidak memberikan manfaat bagi tubuh menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengganggu kesehatan sel, terutama makanan yang memicu peradangan.

Selain itu, tidak memiliki waktu makan yang konsisten juga dapat mengganggu keseimbangan sel. Alih-alih memberikan jeda bagi tubuh untuk mencerna makanan dan berpuasa, makan dalam rentang waktu yang terlalu panjang sepanjang hari dinilai dapat memengaruhi keseimbangan tersebut.

Paparan racun dari lingkungan

Cole menyoroti sejumlah paparan dari lingkungan, termasuk pestisida, herbisida yang terkadang disebut sebagai forever chemicals atau bahan kimia yang sulit terurai, sebagai hal yang berpotensi memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

Para ahli menyebut dampak paparan bergantung pada jenis zat, dosis, serta lamanya seseorang terpapar.

Cole juga menyebut patogen penyebab infeksi, seperti bakteri dan virus, serta paparan jamur sebagai faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan.

Paparan cahaya yang kaya cahaya biru pada malam hari juga dapat mengganggu ritme sirkadian pada sebagian orang.

Sebaliknya, menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta mendapatkan paparan cahaya pada siang hari dapat membantu mendukung kualitas tidur dan kesehatan sel.

Stres kronis, trauma, dan kurangnya koneksi sosial

Cole juga menyampaikan stres kronis, trauma yang belum terselesaikan, serta kurangnya hubungan sosial atau spiritual sebagai faktor yang mungkin berkaitan dengan meningkatnya kebisingan seluler.

Sejumlah penelitian observasional mengaitkan keterlibatan dalam aktivitas keagamaan atau spiritual dengan tingkat beberapa penanda peradangan yang lebih rendah serta kondisi kesehatan yang lebih baik.

Menurut Cole, seseorang dapat memperoleh manfaat serupa melalui sistem kepercayaan atau komunitas apa pun yang dapat “mengubah kondisi diri”, termasuk melalui hubungan dengan alam.

Cole menilai berbagai tekanan kehidupan modern dapat memengaruhi tubuh dengan cara yang tidak selalu langsung terlihat.

Ia menyarankan menjaga kesejahteraan fisik, mental-emosional, dan spiritual dapat membantu mengurangi apa yang disebutnya sebagai epigenetic noise atau kebisingan epigenetik.

“Sel menjadi kebingungan dan tidak tahu bagaimana berfungsi dengan baik maupun memperbaiki dirinya sendiri. Kita hanya perlu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melawan dan mampu mendengar di tengah kebisingan tersebut,” ujar dia.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5715083/tiga-faktor-pemicu-penuaan-lebih-cepat

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Lima tanda diri sedang masuk dalam mode bertahan hidup

Jakarta (ANTARA) – Ketika sedang menghadapi masa-masa yang berat, apakah itu yang berkaitan dengan masalah pribadi atau pekerjaan, seseorang biasanya berada pada survival mode (mode bertahan hidup) dalam menjalani hari-harinya.

Seseorang yang berada dalam mode bertahan hidup seringkali terlihat baik-baik saja, namun, di dalam hatinya sedang berada dalam tekanan.

Menurut siaran Real Simple, Kamis (27/8) seseorang yang berada dalam kondisi itu cenderung menjalani hari-hari dengan penuh semangat, menutup mata terhadap hal-hal lain, dan melakukan segala yang hal yang bisa dilakukan untuk sampai ke sisi lain tanpa menambah stres.

Berikut adalah tanda-tanda sedang memasuki mode bertahan hidup.

1. Pelupa

Pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Temperance Psychotherapy Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan bahwa salah satu tanda otak sudah kelelahan adalah menjadi pelupa. Gejala yang umum terjadi, seseorang lupa arah cerita yang ingin disampaikan atau lupa di mana meletakkan barang.

“Karena otak anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif,” kata Ivelevitch.

2. Sering terbangun dini hari

Dokter spesialis gawat darurat bersertifikasi, ahli pemulihan kelelahan kerja, dan kepala petugas kesehatan di Physician Wellness Solutions Archana Shrestha, MD, menyampaikan terbangun secara konsisten dan sulit untuk kembali tidur di tengah malam bukanlah hal yang normal.

Menurut dia, ini merupakan tanda bahwa meski fisik sudah beristirahat, pikiran dalam kepala tidak sepenuhnya berhenti sehingga seseorang terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir tentang berbagai hal.

“Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik anda,” kata Shrestha.

3. Mudah tersinggung

Ivelevitch menambahkan bahwa ketika mengalami kelelahan kerja dan sistem saraf menjadi tidak teratur, seseorang menjadi lebih mudah marah.

Hal ini disebabkan oleh amigdala menjadi lebih reaktif, dan korteks prefrontal menjadi kurang berperan. Apa yang dulunya hanya gangguan kecil kini dapat memicu emosi negatif.

“Pada dasarnya, alih-alih naik dari nol ke lima, Anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat Anda mencapai angka sepuluh,” ujar Ivelevitch.

4. Terlalu lama merenungkan emosi

Jika berada dalam mode bertahan hidup, seseorang mungkin mendapati diri merenungkan emosi negatif lebih dari biasanya. Sangat sedikit emosi positif yang muncul.

Meskipun tidak apa-apa untuk merasakan emosi ini dari waktu ke waktu, Shrestha mencatat bahwa merenungkan emosi tersebut terlalu lama dapat menyebabkan stres kronis dan masalah kesehatan lainnya.

5. Ingin mengendalikan situasi

Ketika segala sesuatu dalam hidup terasa kacau, seseorang cenderung mencoba mengendalikan situasi untuk menghilangkan potensi ancaman.

“Seseorang yang biasanya cukup santai (ketika berada dalam mode bertahan hidup) mungkin mulai merasa lebih perfeksionis atau merasa perlu segala sesuatunya berjalan persis seperti yang direncanakan,” kata Ivelevitch.

Menurut dia, ini bukan upaya untuk mengendalikan orang lain, tetapi upaya untuk menciptakan prediktabilitas.

Shrestha menyampaikan sebenarnya terdapat sebuah cara untuk keluar dari mode tersebut. Biasakanlah untuk berkata pada diri sendiri bahwa semuanya tetap membuat diri kita aman, sambil menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan kembali melalui mulut.

Perhatikan apa yang ada di sekitar kita sambil melihat, mendengar dan merasakannya. Lalu ulangi berkata pada diri sendiri bahwa kita aman.

“Ini sangat efektif untuk membantu orang beralih dari mode bertahan hidup ‘lawan atau lari’, di mana sistem saraf simpatik mereka diaktifkan dan mengalihkan mereka ke sistem saraf parasimpatik,” kata Shrestha.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5714756/lima-tanda-diri-sedang-masuk-dalam-mode-bertahan-hidup

Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak Hingga Tumbuh Kembang Anak

Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak Hingga Tumbuh Kembang Anak

Jakarta, CNN Indonesia — Kekurangan zat besi pada anak menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan orang tua. Meski kerap tidak disadari sejak awal, kondisi ini dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi dan memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang anak.

Zat besi merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh, salah satunya untuk membentuk hemoglobin. Protein dalam sel darah merah tersebut berfungsi membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh, termasuk otak.

Dokter Spesialis Anak Ria Yoanita mengatakan kecukupan zat besi memiliki kaitan dengan aktivitas dan kemampuan belajar anak.

“Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Kecukupan zat besi sangat memengaruhi aktivitas, kemampuan belajar, dan perkembangan anak sesuai usianya,” jelas Ria dalam keterangannya.

Ketika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, tubuh dapat kesulitan memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.

Pada anak, anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kekurangan zat besi juga perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari serta proses belajar dan perkembangan sesuai usia.

“Karena itu, pemenuhan zat besi sebaiknya menjadi bagian dari pola makan anak sehari-hari. Orang tua juga perlu memperhatikan variasi makanan agar kebutuhan berbagai zat gizi dapat terpenuhi,” katanya.

Ria menyarankan orang tua memberikan makanan dengan gizi seimbang yang mengandung sumber zat besi, seperti daging merah, ikan, telur, sayuran hijau, hingga susu. Selain memilih sumber makanan yang beragam, orang tua juga dapat memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi anak untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Menurut Ria, susu yang telah difortifikasi juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi asupan nutrisi anak. Ia menyarankan orang tua lebih cermat membaca label nutrisi pada kemasan sebelum memilih produk susu.

“Orang tua perlu lebih cermat membaca label nutrisi kemasan untuk memastikan produk yang dipilih memiliki kandungan nutrisi yang lengkap,” ujarnya.

Pada dasarnya, pemenuhan zat gizi anak perlu disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan kebutuhannya. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang.

Pentingnya perhatian terhadap kebutuhan nutrisi anak juga menjadi salah satu hal yang diangkat dalam rangkaian perayaan 72 tahun PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada). Sarihusada berkolaborasi dengan Raja Susu menggelar kegiatan edukasi nutrisi dan aktivitas keluarga secara serentak di 17 titik wilayah Jabodetabek.

Kegiatan tersebut mencakup edukasi bersama pakar kesehatan, permainan edukatif untuk ibu dan anak, serta sesi minum susu bersama. Dalam kesempatan tersebut, General Secretary Director Danone Indonesia Agung Laksamana mengatakan pemenuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga membutuhkan edukasi agar orang tua dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai kebutuhan anak.

Sementara itu, Sales Director Danone Specialized Nutrition Indonesia Rizki Imam Ardhi menilai kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan agar informasi mengenai nutrisi dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

“Kegiatan edukasi menjadi bagian dari upaya kami untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dini,” kata dia.

Bagi orang tua, perhatian terhadap asupan zat besi dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyediakan makanan yang beragam, memperhatikan kebutuhan nutrisi sesuai usia, serta membiasakan diri membaca informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman yang diberikan kepada anak.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260827234230-255-1397172/kekurangan-zat-besi-bisa-ganggu-otak-hingga-tumbuh-kembang-anak

Calon Pengantin Wajib Tahu, Ini 5 Tes Kesehatan Sebelum Nikah

Calon Pengantin Wajib Tahu, Ini 5 Tes Kesehatan Sebelum Nikah

Liputan6.com, Jakarta – Menjelang pernikahan, pasangan biasanya sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari tempat acara hingga daftar tamu. Namun, ada satu persiapan yang tidak kalah penting, yaitu tes kesehatan sebelum nikah atau premarital medical check-up (MCU).

Menurut laman EMC dalam tulisan praktisi umum dr. Levica A. Tiranda, MKK, pemeriksaan kesehatan pranikah bukan sekadar formalitas. Pemeriksaan ini merupakan langkah preventif untuk membantu pasangan mengetahui kondisi kesehatan masing-masing sebelum membangun keluarga.

Pemeriksaan tersebut juga dapat membantu mendeteksi penyakit yang mungkin belum menimbulkan gejala, tetapi berpotensi memengaruhi pasangan maupun keturunan, dikutip pada Senin (24/8/2026).

Melalui MCU pranikah, pasangan dapat:

  • Mengetahui kondisi kesehatan satu sama lain.
  • Mendeteksi penyakit lebih awal.
  • Mengurangi risiko penularan penyakit tertentu.
  • Merencanakan kehamilan dengan lebih aman.
  • Mendapatkan edukasi kesehatan yang sesuai.

Jenis pemeriksaan dapat berbeda-beda, tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing pasangan serta rekomendasi dokter. Namun, secara umum, premarital medical check-up dapat meliputi beberapa pemeriksaan berikut.

1. Tes Darah Rutin

Pemeriksaan darah menjadi salah satu bagian dari MCU pranikah. Tes ini dapat membantu melihat kondisi umum tubuh, termasuk kadar hemoglobin, gula darah, serta fungsi hati dan ginjal.

2. Skrining Penyakit Menular

Pasangan juga dapat menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi sejumlah penyakit menular, seperti:

  • Hepatitis B
  • Hepatitis C
  • HIV
  • Sifilis

Menurut Levica, deteksi lebih awal penting untuk membantu mencegah penularan kepada pasangan maupun calon bayi di masa mendatang.

3. Pemeriksaan Golongan Darah dan Rhesus

Pemeriksaan selanjutnya adalah mengetahui golongan darah dan rhesus. Rhesus merupakan jenis protein yang terdapat pada permukaan sel darah merah.

Levica melalui laman EMC menjelaskan bahwa perbedaan rhesus tertentu dapat berpengaruh terhadap kehamilan. Karena itu, informasi mengenai rhesus penting diketahui sejak awal.

4. Skrining Penyakit Genetik

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penyakit genetik, seperti talasemia.

Pemeriksaan ini terutama dapat dipertimbangkan jika terdapat riwayat penyakit genetik dalam keluarga.

5. Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi

Pemeriksaan kesehatan reproduksi mencakup evaluasi organ reproduksi serta konsultasi mengenai rencana kehamilan.

Jenis pemeriksaan yang dilakukan dapat berbeda pada setiap pasangan, sesuai kondisi kesehatan dan rekomendasi dokter.

Manfaat Jangka Panjang

MCU pranikah tidak hanya bermanfaat bagi pasangan, tetapi juga dapat membantu mempersiapkan kesehatan generasi selanjutnya.

Deteksi dini memungkinkan suatu kondisi kesehatan ditangani lebih cepat dan dikendalikan secara efektif. Pasangan juga dapat merencanakan kehamilan dengan lebih aman.

Misalnya, jika salah satu pasangan mengalami anemia, infeksi, atau kondisi medis tertentu, penanganan dapat dilakukan sebelum pasangan mulai menjalani program kehamilan.

Kapan Sebaiknya Dilakukan?

MCU pranikah idealnya dilakukan beberapa bulan sebelum pernikahan. Dengan demikian, pasangan masih memiliki waktu untuk menjalani pemeriksaan lanjutan atau mendapatkan pengobatan jika ditemukan masalah kesehatan.

Pemeriksaan ini juga tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk kecurigaan terhadap pasangan. Sebaliknya, MCU pranikah dapat menjadi bentuk keterbukaan dan tanggung jawab dalam mempersiapkan kehidupan bersama.

Pemeriksaan pranikah pun tidak berarti setiap pasangan harus menjalani seluruh jenis tes. Jenis pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, riwayat kesehatan, dan rekomendasi dokter.

Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari, melainkan perjalanan panjang bersama. Selain kesiapan mental, emosional, dan finansial, kesiapan kesehatan juga menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak sebelum menikah.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/relationship/read/8276842/calon-pengantin-wajib-tahu-ini-5-tes-kesehatan-sebelum-nikah

Stop Jilati Bibir! Begini Cara Paling Efektif Atasi Bibir Kering

Stop Jilati Bibir! Begini Cara Paling Efektif Atasi Bibir Kering

Jakarta – Bibir kering dan pecah-pecah kerap dianggap masalah sepele yang bisa diatasi dengan lip balm sembarangan. Padahal, bibir termasuk bagian dari jaringan lunak rongga mulut yang punya karakteristik berbeda dari kulit wajah pada umumnya.

Dikutip dari sejumlah studi, ada penjelasan ilmiah di balik kenapa beberapa pelembab bibir bekerja lebih efektif dibanding yang lain. Berikut penjelasannya.

Bibir Rentan Pecah karena Terus Bergerak

Bibir menjadi semacam “jembatan” antara kulit wajah dan bagian dalam mulut. Area ini aktif bergerak saat seseorang berbicara, makan, atau tersenyum, sehingga rentan mengalami retakan-retakan halus atau microcracks ketika kondisinya kering.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi peradangan pada bibir atau yang dikenal dengan istilah cheilitis. Pada kasus tertentu, peradangan juga bisa muncul di sudut mulut, dikenal sebagai angular cheilitis, dengan gejala kulit merah, perih, dan retak di ujung bibir kiri-kanan.

Tiga Cara Kerja Pelembab Bibir

Secara umum, pelembab bibir bekerja lewat tiga mekanisme berbeda.

  • Oklusif, yaitu membentuk lapisan tipis di permukaan bibir agar air yang sudah ada di kulit tidak menguap. Bahan seperti petroleum jelly masuk kategori ini.
  • Humektan, yang bekerja menarik air dari udara atau lapisan kulit yang lebih dalam ke permukaan. Gliserin dan hyaluronic acid adalah contohnya.
  • Emolien, yang berfungsi mengisi celah-celah kecil di antara sel kulit sehingga bibir terasa lebih halus. Lanolin dan shea butter termasuk dalam golongan ini.

Petroleum Jelly Disebut Paling Efektif Kunci Air

Dari ketiga mekanisme tersebut, petroleum jelly kerap disebut sebagai salah satu bahan paling efektif dalam mencegah penguapan air dari kulit. Petrolatum merupakan bahan oklusif yang sangat efektif dalam mengurangi kehilangan air dari kulit. Sejumlah literatur melaporkan penurunan transepidermal water loss sekitar 50-99%, bergantung pada kondisi penggunaannya.

Meski begitu, petroleum jelly perlu dipahami bukan sebagai bahan yang menambahkan kelembapan baru, melainkan hanya mengunci kelembapan yang sudah ada di bibir. Karena itu, penggunaannya disarankan saat bibir masih dalam kondisi agak lembap, misalnya setelah minum air atau mandi, bukan ketika bibir sudah dalam kondisi kering.

Lazim Dipakai di Praktik Dokter Gigi

Di dunia kedokteran gigi, petroleum jelly grade medis bukan bahan asing. Bahan ini biasa dipakai untuk melumasi area sekitar mulut pasien saat prosedur gigi berlangsung, agar sarung tangan dokter tidak lengket ke gusi maupun bibir. Hal ini menunjukkan bahan tersebut relatif aman digunakan di area mulut.

Berkaitan dengan Masalah Mulut Kering

Kesehatan bibir ternyata juga berkaitan dengan kondisi mulut kering atau xerostomia. Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan pelembab khusus rongga mulut secara rutin dapat mengurangi rasa tidak nyaman pada pasien, sekaligus membantu menjaga produksi air liur tetap normal.

Jadi Pilihan Pertama untuk Sudut Bibir Pecah

Untuk kasus sudut bibir pecah-pecah atau angular cheilitis, penggunaan salep berbahan petroleum jelly kerap menjadi langkah pertama yang disarankan. Sebab, penyebab utama kondisi ini biasanya berasal dari kulit yang terus-menerus terpapar air liur hingga mengalami iritasi atau maserasi.

Perlu Diimbangi dengan Hentikan Kebiasaan Menjilat Bibir

Meski terbilang efektif, penggunaan pelembab bibir berbahan petroleum jelly secara berlebihan tanpa menghentikan kebiasaan menjilat bibir justru bisa berisiko. Area yang terus-menerus lembap berpotensi memicu munculnya infeksi jamur atau cheilocandidiasis.

Dengan kata lain, pelembab bibir berfungsi sebagai pelindung, bukan pengganti untuk menghilangkan kebiasaan menjilat bibir yang sebaiknya tetap dihentikan.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8633438/stop-jilati-bibir-begini-cara-paling-efektif-atasi-bibir-kering

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Ahli ungkap manfaat kopi pagi bagi konsentrasi dan kesehatan otak

Jakarta (ANTARA) – Secangkir kopi pada pagi hari dapat membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus berpotensi mendukung kesehatan otak dalam jangka panjang, menurut laporan Eating Well pada Selasa (25/8) waktu setempat.

Kandungan kafein dan polifenol dalam kopi disebut dapat membantu meningkatkan konsentrasi sekaligus dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Ahli gizi Talia Follador, RDN, LDN, menjelaskan kafein bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa dalam otak yang mendorong rasa kantuk.

Satu cangkir kopi seduh berukuran sekitar 237 mililiter mengandung rata-rata 96 miligram kafein. Penelitian menunjukkan konsumsi satu hingga dua cangkir kopi atau hingga sekitar 200 miligram kafein dapat membantu meningkatkan waktu reaksi dan akurasi pada orang dewasa sehat.

Namun, konsumsi kafein dalam jumlah lebih tinggi tidak selalu memberikan manfaat tambahan. Dosis 300 miligram atau lebih menunjukkan hasil yang tidak konsisten dan dapat meningkatkan rasa gelisah atau tubuh terasa gemetar.

Ahli gizi Caitlin Beale, M.S., RDN, mengatakan kopi kaya akan antioksidan yang membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada otak. Kopi juga dapat mendukung aliran darah ke otak.

Sebuah penelitian populasi besar yang dikutip Eating Well menemukan bahwa peminum kopi harian memiliki risiko demensia terkait Alzheimer 34 persen lebih rendah dan risiko Parkinson 37 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Namun, manfaat tersebut terlihat pada konsumsi kopi berkafein tanpa tambahan gula.

Follador juga mengatakan konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi berkafein per hari dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah dan hasil kognitif yang lebih baik.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa kopi dapat mencegah demensia atau penurunan fungsi kognitif. Penelitian jangka panjang terhadap lebih dari 130.000 orang selama 43 tahun menemukan bahwa kelompok dengan konsumsi kafein dari kopi tertinggi memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi sangat sedikit atau tanpa kafein.

Ahli gizi Johannah Katz, M.A., RD, menyarankan konsumsi kopi dilakukan pada pagi atau awal siang hari agar kafein membantu meningkatkan kewaspadaan tanpa mengganggu tidur malam. Ia juga menyarankan memberikan jarak sekitar sembilan jam antara konsumsi kopi terakhir dan waktu tidur.

Katz juga mengingatkan setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) merekomendasikan konsumsi kafein tidak lebih dari 400 miligram per hari bagi orang dewasa, meski jumlah tersebut belum tentu dapat ditoleransi semua orang.

Bagi orang yang tidak dapat mengonsumsi kopi, para ahli menyarankan teh hijau atau hitam, air putih, dan kefir sebagai alternatif minuman yang dapat mendukung kesehatan otak. Teh mengandung kafein dalam jumlah lebih rendah serta polifenol, sementara kefir menyediakan probiotik yang mendukung kesehatan mikrobioma usus dan kaitannya dengan otak.

Follador mengatakan menjaga hidrasi dengan minum air juga membantu komunikasi sel otak, aliran darah, serta pengiriman nutrisi ke otak yang berperan dalam menjaga fokus dan konsentrasi.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5711473/ahli-ungkap-manfaat-kopi-pagi-bagi-konsentrasi-dan-kesehatan-otak

Jeruk punya khasiat untuk redakan pilek sampai cerahkan kulit

Jeruk punya khasiat untuk redakan pilek sampai cerahkan kulit

Jakarta (ANTARA) – Jeruk merupakan salah satu buah yang rendah kalori dan mengandung banyak nutrisi yang berkhasiat meredakan pilek sampai mencerahkan kulit.

Nutrisi dalam jeruk bergantung kepada jenisnya, namun secara umum buah itu rendah kalori, lemak, dan natrium, serta tinggi antioksidan, serat, dan vitamin menurut siaran Health pada Kamis (20/8). Satu buah jeruk kecil misalnya, mengandung 45,1 kalori dan 0,115 gram atau sekitar 0,15 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Berikut adalah sejumlah manfaat jeruk yang baik bagi tubuh.

1. Memberikan asupan serat yang cukup

Orang dewasa membutuhkan sekitar 25 sampai 38 gram serat setiap hari atau 14 gram per 1.000 kalori.

Mengonsumsi buah jeruk dapat membantu memenuhi 2,3 gram serat per buahnya, sedangkan jeruk mandarin besar memiliki 2,1 gram serat. Sebagian besar serat ini adalah pektin, sejenis serat larut yang membentuk zat seperti gel yang membantu memperlambat pencernaan dan mencegah lonjakan gula darah.

Selain itu, serat juga mengikat kolesterol untuk mengeluarkannya dari tubuh dan menurunkan kadar kolesterol. Serat yang tersisa tidak larut, yang menambah volume tinja dan mengatur pergerakan usus.

2. Mengurangi durasi dan keparahan pilek

Vitamin C tidak dapat mencegah pilek, tetapi, beberapa bukti menunjukkan bahwa vitamin C dapat mengurangi durasi dan tingkat keparahannya.

Enam ons jus jeruk mengandung 103 persen dari AKG yang direkomendasikan untuk vitamin C. Satu buah jeruk utuh mengandung 78 persen dan setengah buah jeruk bali ukuran sedang mengandung 43 persen.

3. Membuat kulit jadi lebih sehat

Vitamin C berperan dalam produksi kolagen, yang membuat beberapa peneliti percaya bahwa vitamin C dapat membantu menjaga kulit tetap kenyal dan halus.

Sebuah tinjauan tahun 2017 menemukan bahwa asupan buah dan sayuran yang tinggi dapat mencegah tanda-tanda penuaan yang terlihat. Para peneliti mencatat bahwa vitamin C dapat melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV) yang berbahaya.

4. Meminimalisir risiko penyakit jantung

Jeruk mengandung flavonoid dan vitamin C, yang merupakan antioksidan yang meningkatkan kesehatan jantung.

Flavonoid membantu mengurangi peradangan, sementara vitamin C dapat melindungi terhadap aterosklerosis. Penumpukan plak di dinding arteri meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Buah jeruk merupakan sumber nutrisi lain yang menyehatkan jantung, termasuk folat dan kalium.

Folat membantu memecah homosistein, asam amino yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi dalam kadar tinggi. Sementara itu, kalium dalam buah jeruk membantu mengimbangi efek berbahaya natrium untuk mengontrol tekanan darah.

Beberapa metabolit, atau zat yang dihasilkan tubuh saat memecah jeruk, juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

5. Mengandung banyak kalium

Buah jeruk kaya akan kalium, yang membantu mengatur cairan dan mengontraksikan otot. Kalium menyeimbangkan jumlah natrium dalam makanan dengan membantu tubuh membuangnya dan membantu mengontrol tekanan darah.

Membatasi asupan natrium dapat membantu mengurangi risiko dan mengobati tekanan darah tinggi. Mengonsumsi banyak makanan kaya kalium dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan memperkuat tulang.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5704913/jeruk-punya-khasiat-untuk-redakan-pilek-sampai-cerahkan-kulit

Studi: Berpikir sejenak sebelum bereaksi tingkatkan pengelolaan emosi

Studi: Berpikir sejenak sebelum bereaksi tingkatkan pengelolaan emosi

Jakarta (ANTARA) – Kemampuan berhenti sejenak dan menilai kembali respons sebelum bereaksi dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik, menurut penelitian terbaru dari University of Sydney.

Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang dipimpin Riley Leckie dan tim menyoroti peran metakognisi atau kemampuan seseorang untuk memantau dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri dalam kecerdasan emosional.

Kemampuan tersebut membantu seseorang mengenali perubahan perasaan, menilai intensitas dan penyebabnya, serta menentukan kapan emosi perlu diatur.

Peneliti mula-mula menguji hubungan antara kemampuan metakognitif dan pengelolaan emosi. Hasil awal hanya menunjukkan bukti yang lemah mengenai hubungan keduanya.

Namun, pada penelitian berikutnya, peserta diminta menilai tingkat keyakinan mereka terhadap jawaban dalam sejumlah situasi yang menguji kemampuan mengelola emosi.

Hasilnya menunjukkan bahwa tindakan sederhana berupa menilai kembali seberapa yakin seseorang terhadap responsnya dapat meningkatkan kualitas cara mereka merespons situasi emosional.

Peneliti menilai proses tersebut dapat mendorong seseorang untuk berpikir lebih dalam, memperhatikan isyarat emosional yang relevan, dan mempertimbangkan apakah strategi yang dipilih sudah sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Dengan kata lain, seseorang dapat memberi jeda sebelum bereaksi dan bertanya pada diri sendiri apakah respons yang akan dilakukan merupakan pilihan terbaik.

Misalnya, ketika merasa marah setelah seorang teman membatalkan janji secara mendadak, seseorang dapat menahan diri sebelum mengirim pesan bernada emosional.

Jeda tersebut dapat digunakan untuk mempertimbangkan kemungkinan lain dan memilih cara yang lebih tepat untuk menyampaikan kekecewaan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mengelola emosi tidak selalu membutuhkan proses yang rumit. Membiasakan diri untuk memantau respons dan mengevaluasinya sebelum bertindak dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih baik saat menghadapi situasi emosional.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5703572/studi-berpikir-sejenak-sebelum-bereaksi-tingkatkan-pengelolaan-emosi

Kemenkes Bangun RS Lapangan Steril di Ruteng, Ada Ruang Operasi Patah Tulang Korban Gempa

Kemenkes Bangun RS Lapangan Steril di Ruteng, Ada Ruang Operasi Patah Tulang Korban Gempa

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bergerak cepat membangun rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fasilitas darurat ini didirikan untuk memastikan tindakan operasi, terutama bagi korban patah tulang akibat gempa, tetap dapat berlangsung di ruang steril dan aman.
Langkah ini diambil untuk menangani penuh operasional RSUD Ruteng yang mengalami kerusakan struktur akibat gempa bumi. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung kesiapan rumah sakit lapangan tersebut pada Selasa (18/8/2026).

“Di sini sudah kita pasang lima tenda. Empat untuk pasien, masing-masing bisa menampung 20 pasien, kemudian satu khusus untuk ruang operasi karena ruangnya steril dan bisa dibuat terisolasi. Kita harapkan besok sudah mulai beroperasi,” ujar Menkes dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Rabu (19/8).

Kehadiran ruang operasi darurat menjadi salah satu prioritas utama Kemenkes. Pasalnya, mayoritas korban gempa membutuhkan penanganan kasus trauma, seperti patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan, yang butuh tindakan bedah cepat.

Tenda pembedahan dibangun secara khusus agar tetap memenuhi standar ruang steril dan terisolasi untuk menekan risiko infeksi pascaoperasi. Fasilitas ini dilengkapi meja operasi, lampu khusus pembedahan, hingga area sterilisasi alat medis.

Menkes menjelaskan model ruang operasi lapangan terisolasi seperti ini sebelumnya pernah terbukti efektif menangani penanganan medis darurat, saat bencana di Sumedang hingga Aceh.

Kapasitas Ditargetkan Capai 100 Tempat Tidur

Selain area pembedahan, rumah sakit lapangan ini dilengkapi satu tenda khusus Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan beberapa tenda rawat inap. Pada tahap awal, fasilitas ini menyediakan sekitar 60 tempat tidur pasien.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien cedera, Kemenkes menambah unit tenda standar internasional yang dikirim langsung dari Bali untuk memicu daya tampung hingga minimal 100 tempat tidur.

“Kita akan tambah lagi sehingga minimal menjadi 100 rawat inap. Kita sedang kirim tenda tambahan dari Bali,” terang Menkes.

Seluruh tenda menggunakan material standar tanggap bencana yang tahan cuaca dan dilengkapi lantai khusus untuk menjaga higienitas, mencegah genangan air saat hujan, serta mempermudah mobilisasi alat medis.

Dengan membawa konsep yang sama, Kemenkes mengonfirmasi akan mereplikasi pembangunan rumah sakit lapangan serupa di Kabupaten Nagekeo. Langkah ini dilakukan mengingat fasilitas RSUD Nagekeo juga turut terdampak gempa sehingga tidak bisa beroperasi optimal.

“Kita akan replikasi rumah sakit lapangan ini selain di Ruteng juga di Nagekeo,” pungkasnya.

Melalui pengerahan rumah sakit lapangan steril, mobilisasi dokter spesialis ortopedi, hingga pasokan logistik medis, Kemenkes memastikan seluruh korban terdampak gempa NTT mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, aman, dan memadai.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8624961/kemenkes-bangun-rs-lapangan-steril-di-ruteng-ada-ruang-operasi-patah-tulang-korban-gempa

Psikolog Ungkap Waktu Terbaik Anak Kerjakan PR, Bukan Sepulang Sekolah

Psikolog Ungkap Waktu Terbaik Anak Kerjakan PR, Bukan Sepulang Sekolah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Banyak orang tua masih menganggap waktu terbaik anak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) adalah segera setelah pulang sekolah. Namun, pandangan tersebut ternyata tidak selalu tepat dan bisa berdampak pada kondisi fokus anak.

Psikolog Anak dan Keluarga, Irma Gustiana, menegaskan tidak ada waktu baku yang sama untuk semua anak dalam mengerjakan PR.

Penentuan waktu belajar, menurutnya, harus disesuaikan dengan rutinitas dan kondisi masing-masing anak di rumah.

Bukan Waktu Tetap, Tapi Rutinitas Anak yang Paling Penting

Irma menjelaskan bahwa setiap keluarga memiliki pola aktivitas yang berbeda, sehingga waktu mengerjakan PR tidak bisa diseragamkan.

“Sebetulnya kerjain PR itu bagusnya itu ketika kapan? Kalau aku ya melihatnya, ini kan balik lagi kepada rutinitas harian tiap keluarga, itu kan pasti beda-beda,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, pendekatan yang terlalu kaku justru bisa membuat anak merasa tertekan dan kehilangan konsentrasi saat belajar.

Jangan Langsung Disuruh Kerjakan PR Sepulang Sekolah

Kebiasaan langsung menyuruh anak mengerjakan PR setelah pulang sekolah dinilai kurang efektif. Pasalnya, anak baru saja menjalani aktivitas belajar yang cukup padat di sekolah.

Kondisi tersebut membuat anak membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu.

“Contohnya dia pulang udah hektik banget, jangan disuruh main PR, dia main dulu, jadi biar otaknya itu ada waktu buat carry charge, jadi gak panas,” jelasnya.

Waktu jeda ini penting agar anak bisa kembali segar sebelum melanjutkan aktivitas belajar.

Waktu Ideal Saat Anak Sudah Tenang dan Siap

Menurut Irma, waktu yang lebih ideal untuk mengerjakan PR adalah ketika anak sudah berada dalam kondisi tenang dan siap belajar kembali.

Biasanya, setelah anak bermain dan beristirahat sejenak, fokusnya akan lebih stabil dan mudah menerima pelajaran.

Dengan kondisi tersebut, proses pengerjaan PR menjadi lebih efektif dan tidak terasa sebagai beban.

Rutinitas Harian Jadi Kunci Utama

Irma menekankan bahwa yang lebih penting bukan sekadar menentukan jam belajar, melainkan bagaimana orang tua mengatur rutinitas harian anak secara seimbang.

“Jadi lebih kepada bagaimana orang tua itu mengatur daily routine, jadi waktu rutinitas hariannya sudah terarah,” katanya.

Keseimbangan antara belajar, bermain, dan istirahat menjadi kunci agar anak tidak mengalami kelelahan mental.

Bermain Justru Membantu Anak Lebih Fokus

Masih banyak anggapan bahwa bermain hanya membuang waktu. Padahal, aktivitas bermain justru memiliki peran penting dalam membantu anak kembali segar setelah belajar.

Bermain membantu anak mengurangi stres, melepas penat, dan mengembalikan energi sebelum kembali belajar.

Selain itu, bermain juga menjadi sarana anak untuk mengembangkan kreativitas dan emosi secara alami.

Peran Orang Tua Menjadi Penentu Pola Belajar

Pada akhirnya, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola belajar anak di rumah. Bukan hanya soal jadwal, tetapi juga memahami kondisi fisik dan emosional anak setiap hari.

Anak yang diberi waktu istirahat dan ruang bermain cenderung lebih siap saat kembali mengerjakan tugas sekolah.

Sebaliknya, anak yang dipaksa belajar saat lelah berisiko kehilangan minat belajar.

Bukan Soal Jam, Tapi Kesiapan Anak

Pertanyaan tentang kapan waktu terbaik mengerjakan PR bukan semata soal jam tertentu, melainkan kesiapan anak itu sendiri.

Ketika anak merasa rileks, tidak tertekan, dan dalam kondisi fokus, proses belajar akan berjalan lebih optimal.

Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, PR dapat menjadi bagian dari proses belajar yang lebih sehat, efektif, dan menyenangkan bagi anak.

Sumber : https://www.tribunnews.com/kesehatan/7821172/psikolog-ungkap-waktu-terbaik-anak-kerjakan-pr-bukan-sepulang-sekolah