Bahlil: Indonesia tak Lagi Impor Solar setelah Program B50 Diterapkan

Bahlil: Indonesia tak Lagi Impor Solar setelah Program B50 Diterapkan

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan Indonesia berhenti mengimpor solar setelah penerapan kebijakan mandatori biodiesel B50.

“Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali, Bapak Presiden,” ujar Bahlil dalam peluncuran

Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Bahlil memaparkan total konsumsi solar dalam negeri berada pada kisaran 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. “Awalnya, kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun,” ujar Bahlil.

Kini, lanjut dia, Indonesia tidak lagi mengimpor solar setelah penerapan B50. Dengan demikian, Bahlil menegaskan Indonesia tidak hanya meluncurkan B50, tetapi juga mengambil langkah besar menuju Indonesia yang semakin berdaulat di sektor energi.

Capaian tersebut selaras dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan energi. Penerapan B50 pada Juli 2026 juga dilatarbelakangi oleh arahan Prabowo kepada Bahlil untuk meningkatkan kedaulatan di sektor energi.

“Kami memaknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa agar bisa menghasilkan energi dari negara kita sendiri,” ujar Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis.

Dasar hukum pelaksanaan Program Mandatori Biodiesel B50 adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Solar sebesar 50 persen.

Program B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. Dalam pelaksanaannya, badan usaha bahan bakar nabati, badan usaha bahan bakar minyak, dan badan usaha penyalur wajib menerapkan standar mutu sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia.

sumber : https://ekonomi.republika.co.id/berita/thwh5r423/bahlil-indonesia-tak-lagi-impor-solar-setelah-program-b50-diterapkan-part2

Dulu Disebut Sepatu Terjelek, Bagaimana Crocs Kuasai Pasar Global?

Dulu Disebut Sepatu Terjelek, Bagaimana Crocs Kuasai Pasar Global?

Liputan6.com, Jakarta – Dalam industri alas kaki dunia, kenyamanan sering kali harus dikorbankan demi mengejar estetika yang ramping dan elegan. Namun, Crocs Inc. berhasil membalikkan logika tersebut secara radikal.

Sejak pertama kali diluncurkan pada awal tahun 2000-an, sepatu bakiak karet busa ini kerap dihujani kritik tajam karena bentuknya yang tebal, berlubang, dan dianggap jauh dari standar keindahan konvensional. Bukannya mundur atau mendesain ulang produknya agar terlihat seperti sepatu biasa, Crocs justru bersandar penuh pada keunikan bentuk tersebut.

Melalui strategi pemasaran yang berani, adaptif, dan sangat memahami psikologi generasi muda, mereka bertransformasi dari alas kaki praktis pekerja kapal menjadi salah satu tren streetwear paling dicari di panggung mode global.

Dilansir dari Indigo9 Digital, Kamis (9/7/2026), salah satu pilar utama kebangkitan Crocs adalah keberanian mereka untuk merangkul polarisasi publik. Merek ini secara sadar memanfaatkan fakta bahwa orang-orang hanya memiliki dua sikap ekstrem terhadap produk mereka: sangat menyukainya atau sangat membencinya.

Crocs tidak membuang energi untuk meyakinkan para pembencinya, melainkan fokus memperkuat basis penggemar setia melalui pesan yang jujur tentang kenyamanan mutlak.

Selain itu, akuisisi terhadap Jibbitz, aksesori pesona yang dapat dipasang pada lubang-lubang sepatu Crocs menjadi langkah genius yang mengubah produk massal menjadi kanvas ekspresi pribadi. Di era digital di mana konsumen sangat menghargai individualitas, Jibbitz memungkinkan setiap pengguna untuk mengustomisasi sepatu mereka sesuai dengan suasana hati, hobi, atau kepribadian. Langkah ini sukses menciptakan keterikatan emosional yang mendalam antara konsumen dan produk.

Kolaborasi Ekstrem dan Orkestrasi Kelangkaan

Mengutip Medium, lompatan besar penjualan Crocs dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh strategi kolaborasi tingkat tinggi yang tak terduga serta penerapan taktik kelangkaan (scarcity marketing).

Crocs mendobrak batasan industri dengan menggandeng figur publik papan atas serta merek-merek mewah yang kontradiktif. Mulai dari musisi seperti Justin Bieber dan Post Malone, desainer kelas dunia seperti Christopher Kane dan Balenciaga, hingga kolaborasi unik bersama merek makanan seperti KFC.

Setiap edisi kolaborasi ini diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas dan dijual melalui sistem peluncuran kilat (drop system). Strategi ini sengaja dirancang untuk menciptakan efek FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan konsumen, terutama Generasi Z.

Ketika produk kolaborasi tersebut habis terjual dalam hitungan menit, nilai prestise dan perbincangan organik di media sosial otomatis melesat tajam. Taktik ini berhasil menaikkan status Crocs dari sekadar sepatu karet fungsional menjadi sebuah barang koleksi bernilai tinggi yang merepresentasikan subkultur modern yang berani dan autentik.

Disiplin Nilai dan Relevansi Budaya

Keberhasilan Crocs membuktikan bahwa pemasaran yang sukses tidak selalu harus mengikuti arus utama, melainkan tentang bagaimana sebuah merek mampu mendikte tren dengan tetap setia pada fungsi intinya.

Ketika dunia sempat dilanda pandemi yang memaksa orang-orang beraktivitas di dalam rumah, Crocs berada di posisi yang sangat diuntungkan karena mereka telah bertahun-tahun mengampanyekan kenyamanan harian.

Dengan terus mempertahankan material busa Croslite yang ringan dan ergonomis, dipadukan dengan strategi komunikasi digital yang adaptif, Crocs berhasil membuktikan bahwa keunikan fisik bukanlah sebuah kelemahan.

Di tengah lanskap mode yang sering kali melelahkan dengan standar kerapian yang kaku, kejujuran ekstrem dan kenyamanan tanpa kompromi yang ditawarkan oleh Crocs justru menjadi sebuah kemewahan baru yang dicari oleh konsumen global.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8241999/dulu-disebut-sepatu-terjelek-bagaimana-crocs-kuasai-pasar-global

Bisnis Harus Berdasarkan Data dan Riset, Bukan Sekadar Passion

Bisnis Harus Berdasarkan Data dan Riset, Bukan Sekadar Passion

Kediri – Banyak orang percaya bahwa untuk memulai bisnis, seseorang harus mengikuti passion. Tidak sedikit motivator maupun konten di media sosial yang menyarankan agar kita mencari pekerjaan atau membangun usaha sesuai dengan apa yang disukai.

Namun, Pak Eggy memiliki sudut pandang yang berbeda. Menurut beliau, bisnis seharusnya dibangun berdasarkan data dan riset, bukan semata-mata karena idealisme atau passion.

Pesan ini mengingatkan bahwa tujuan utama bisnis adalah menciptakan nilai sekaligus menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, keputusan bisnis sebaiknya didasarkan pada fakta, kebutuhan pasar, dan peluang yang nyata.

Data dan Riset Menjadi Fondasi Bisnis

Sebelum memulai sebuah usaha, seorang pengusaha perlu memahami kondisi pasar. Apa yang sedang dibutuhkan masyarakat? Seberapa besar permintaannya? Bagaimana tingkat persaingannya? Apakah bisnis tersebut memiliki potensi keuntungan yang baik?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak diperoleh dari perasaan, melainkan melalui data dan riset.

Dengan melakukan riset, seorang pengusaha dapat mengambil keputusan yang lebih objektif. Risiko memang tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tetapi keputusan yang didasarkan pada data biasanya memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar dibandingkan keputusan yang hanya mengandalkan keyakinan pribadi.

Passion Tidak Selalu Menjadi Dasar Memulai Bisnis

Menurut Pak Eggy, bisnis bukanlah soal mengejar passion semata. Bahkan, jika sebuah peluang bisnis terbukti menguntungkan berdasarkan hasil riset, maka peluang tersebut layak dipertimbangkan meskipun bukan bidang yang paling disukai.

Beliau menyampaikan bahwa seorang pengusaha tidak boleh terlalu terikat pada idealisme hingga menutup mata terhadap peluang yang ada di depan.

Dalam dunia bisnis, yang lebih penting adalah kemampuan melihat kebutuhan pasar dan memberikan solusi yang dibutuhkan pelanggan.

Contoh Nyata dalam Dunia Usaha

Sebagai contoh, Pak Eggy menceritakan pengalamannya ketika membuka usaha stasiun pengisian dan pengangkutan boks elpiji.

Beliau mengakui bahwa bisnis tersebut sama sekali bukan passion-nya.

Bahkan beliau mempertanyakan, siapa yang sejak awal bercita-cita atau memiliki passion untuk menjalankan usaha jasa pengisian elpiji? Hampir tidak ada.

Namun, keputusan tersebut tetap diambil karena didasarkan pada hasil riset yang menunjukkan adanya peluang bisnis yang menjanjikan.

Contoh ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya, banyak bisnis besar lahir bukan karena pemiliknya mencintai bidang tersebut sejak awal, melainkan karena mereka mampu melihat peluang yang belum dimanfaatkan oleh orang lain.

Bisnis Adalah Bentuk Tanggung Jawab

Pak Eggy juga menekankan bahwa menjalankan bisnis bukan hanya soal mengikuti apa yang disukai, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab.

Seorang pengusaha memiliki tanggung jawab untuk membangun usaha yang sehat, menciptakan lapangan pekerjaan, memberikan pelayanan kepada pelanggan, dan menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Karena itu, keputusan yang diambil harus bersifat rasional dan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti emosi atau kesukaan pribadi.

Mengutamakan Peluang, Bukan Perasaan

Bukan berarti passion tidak penting. Passion dapat menjadi energi yang membuat seseorang lebih bersemangat dalam menjalankan usahanya.

Namun, menurut sudut pandang Pak Eggy, passion sebaiknya bukan menjadi satu-satunya dasar dalam memilih bisnis.

Jika hasil riset menunjukkan bahwa suatu bidang memiliki pasar yang luas, permintaan yang tinggi, dan peluang keuntungan yang baik, maka peluang tersebut layak diambil.

Dengan kata lain, seorang pengusaha perlu belajar menyeimbangkan antara logika bisnis dan semangat pribadi.

Berpikir Seperti Seorang Pengusaha

Cara berpikir seorang pengusaha berbeda dengan seorang hobiis. Hobiis biasanya memilih sesuatu karena menyukainya, sedangkan pengusaha melihat apakah ada kebutuhan pasar yang bisa dipenuhi.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:

  • Apakah saya menyukai bisnis ini?

Tetapi juga:

  • Apakah pasar membutuhkannya?
  • Apakah bisnis ini memiliki potensi keuntungan?
  • Apakah hasil riset menunjukkan peluang yang baik?
  • Apakah bisnis ini bisa berkembang dalam jangka panjang?

Ketika keputusan diambil berdasarkan data dan riset, peluang untuk membangun bisnis yang berkelanjutan akan menjadi lebih besar.

Penutup

Menurut Pak Eggy, bisnis sebaiknya tidak dibangun hanya berdasarkan passion atau idealisme. Seorang pengusaha perlu mengutamakan data, melakukan riset, dan memahami kebutuhan pasar sebelum mengambil keputusan.

Passion memang dapat menjadi penyemangat dalam bekerja, tetapi keberhasilan bisnis lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membaca peluang dan mengambil keputusan secara objektif.

Pada akhirnya, bisnis bukan tentang melakukan apa yang paling kita sukai, melainkan tentang menciptakan solusi yang dibutuhkan pasar dan membangun usaha yang memberikan manfaat sekaligus menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Toko Offline Masih Bisa Berkembang, Asalkan Mau Berkolaborasi dengan Digital

Toko Offline Masih Bisa Berkembang, Asalkan Mau Berkolaborasi dengan Digital

Kediri – Banyak pelaku usaha mulai bertanya-tanya apakah toko offline masih memiliki masa depan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Munculnya marketplace, media sosial, hingga live shopping membuat sebagian orang khawatir bahwa toko fisik akan semakin ditinggalkan.

Menurut Pak Eggy, toko offline tetap memiliki peluang untuk berkembang. Namun, ada satu syarat penting yang tidak boleh diabaikan, yaitu berkolaborasi dengan dunia digital.

Offline Tidak Harus Ditinggalkan

Pak Eggy tidak mengatakan bahwa toko offline sudah tidak relevan. Justru sebaliknya, toko fisik tetap bisa berjalan dan tetap menghasilkan keuntungan. Yang perlu diubah bukanlah model usahanya, melainkan cara memasarkan produk kepada calon pelanggan.

Saat ini, pelanggan tidak hanya datang dari orang yang melewati depan toko. Mereka juga datang dari media sosial, platform video, dan berbagai kanal digital yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Karena itu, bisnis offline tidak lagi cukup hanya menunggu pembeli datang. Pemilik usaha juga perlu aktif mendatangi calon pelanggan melalui platform digital.

Gabungkan Toko Offline dengan Live TikTok

Salah satu contoh yang disampaikan Pak Eggy adalah toko cat.

Bayangkan sebuah toko cat yang hanya membuka pintu setiap hari dan menunggu pelanggan datang. Cara ini memang masih bisa menghasilkan penjualan, tetapi jangkauannya sangat terbatas.

Sekarang bandingkan jika pemilik toko melakukan live TikTok setiap hari. Selama siaran langsung, ia dapat memperkenalkan berbagai jenis cat, menjelaskan kelebihan dan kekurangannya, memberikan tips memilih warna, hingga menjawab pertanyaan calon pembeli secara langsung.

Dengan cara tersebut, satu toko tidak lagi hanya dikenal oleh warga sekitar, tetapi berpotensi dikenal oleh ribuan bahkan jutaan pengguna internet.

Perhatian Masyarakat Sudah Berpindah ke Platform Digital

Pak Eggy juga memberikan gambaran menarik mengenai perubahan perilaku masyarakat saat ini.

Di platform seperti TikTok, aktivitas sederhana pun mampu menarik perhatian banyak orang. Ada orang yang melakukan tantangan ringan, berinteraksi dengan penonton, hingga mendapatkan hadiah (gift) saat melakukan siaran langsung.

Pesan yang ingin disampaikan bukanlah meniru konten tersebut, melainkan memahami bahwa perhatian masyarakat kini banyak berada di platform digital. Jika perhatian calon pelanggan ada di sana, maka pengusaha juga perlu hadir di sana.

Modal Saja Tidak Cukup

Menurut Pak Eggy, akan sangat disayangkan apabila seseorang sudah memiliki modal, sudah memiliki toko, memiliki produk yang berkualitas, tetapi belum memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran.

Padahal, melalui media sosial dan live streaming, sebuah usaha memiliki peluang untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang tanpa harus membuka cabang baru.

Digital bukan pengganti toko offline, melainkan alat untuk memperbesar jangkauan bisnis.

Ketika Usaha Sepi, Jangan Menyalahkan Keadaan

Pesan yang selalu ditekankan Pak Eggy adalah jangan memiliki mental BJE (Blame, Justify, Excuse).

Saat penjualan menurun, jangan langsung menyalahkan kondisi ekonomi, persaingan, ataupun perubahan zaman. Sebaliknya, lakukan evaluasi terhadap diri sendiri dan bisnis yang sedang dijalankan.

  • Apakah cara pemasaran masih relevan?
  • Apakah pelanggan sudah mengetahui produk yang kita jual?
  • Apakah kita sudah memanfaatkan media digital secara maksimal?
  • Apakah kita terus belajar mengikuti perkembangan zaman?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih bermanfaat daripada terus mencari alasan mengapa bisnis belum berkembang.

Usia Bukan Alasan untuk Berhenti Belajar

Tidak sedikit pengusaha yang merasa sudah terlambat mempelajari teknologi karena faktor usia.

Pak Eggy memberikan contoh bahwa orang tuanya yang telah berusia 74 tahun masih terus berusaha agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Artinya, belajar tidak mengenal usia. Selama masih memiliki kemauan untuk berkembang, selalu ada kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

Dunia bisnis akan terus berubah. Yang menentukan keberhasilan bukanlah usia, melainkan kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Kolaborasi Adalah Kunci

Di era digital, memilih antara bisnis offline atau online bukan lagi pertanyaan yang tepat. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya dapat saling melengkapi.

  • Toko offline membangun kepercayaan pelanggan.
  • Media sosial memperluas jangkauan pasar.
  • Live streaming meningkatkan interaksi dengan calon pembeli.
  • Konten digital membantu memperkenalkan produk secara konsisten.

Ketika semua saluran tersebut berjalan bersama, peluang bisnis untuk berkembang akan semakin besar.

Penutup

Perubahan zaman tidak bisa dihentikan, tetapi selalu bisa diikuti. Menurut Pak Eggy, toko offline tetap memiliki masa depan selama pemilik usaha bersedia beradaptasi dan memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari strategi bisnis.

Jangan menunggu pelanggan datang hanya karena memiliki toko yang bagus. Datangi pelanggan melalui platform yang mereka gunakan setiap hari. Jadikan media digital sebagai jembatan untuk memperkenalkan produk, membangun kepercayaan, dan memperluas pasar.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis bukan hanya ditentukan oleh lokasi toko atau besarnya modal, tetapi juga oleh kemauan pemilik usaha untuk terus belajar, beradaptasi, dan tidak pernah berhenti mengikuti perkembangan zaman.

Sumber : https://www.instagram.com/p/DYy-OIFsTSj/

Jangan BJE, Mentalitas Pemimpin di Tengah Ekonomi yang Sulit

Jangan BJE, Mentalitas Pemimpin di Tengah Ekonomi yang Sulit

Kediri – Setiap kali kondisi ekonomi memburuk, selalu ada alasan yang bisa dijadikan pembenaran. Nilai tukar mata uang naik turun, harga bahan baku semakin mahal, daya beli masyarakat menurun, konflik geopolitik memengaruhi pasar, hingga regulasi yang semakin kompleks. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Namun, menurut Pak Eggy, seorang pemimpin tidak boleh menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Justru di saat keadaan sulit, kualitas seorang pemimpin benar-benar diuji.

Ekonomi Sulit Adalah Fakta, Bukan Alasan

Tidak ada yang menyangkal bahwa dunia usaha saat ini menghadapi banyak tantangan. Fluktuasi kurs, kenaikan harga, perubahan kebijakan pemerintah, hingga persaingan yang semakin ketat menjadi bagian dari dinamika bisnis modern.

Dalam dunia konstruksi misalnya, proses perizinan kini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Jika dahulu masyarakat mengenal IMB, kini terdapat PBG, SLF, serta berbagai persyaratan administrasi lainnya. Bahkan untuk membangun sebuah hotel, dokumen yang harus dipersiapkan bisa mencapai puluhan berkas.

Semua itu memang membuat proses menjadi lebih panjang. Namun menurut Pak Eggy, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menyalahkan keadaan.

Jangan BJE (Blame, Justify, Excuse)

Salah satu pesan yang paling ditekankan oleh Pak Eggy adalah menghindari mentalitas BJE.

  • Blame — Menyalahkan orang lain atau keadaan.
  • Justify — Membenarkan kegagalan dengan berbagai alasan.
  • Excuse — Terlalu banyak mencari pembenaran sehingga tidak mengambil tindakan.

Ketiga hal tersebut sering kali menjadi penghambat terbesar dalam perkembangan bisnis. Saat seorang pemimpin terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, ia kehilangan waktu untuk mencari solusi.

Pemimpin Harus Memiliki Mental Pemenang

Pak Eggy mengingatkan bahwa seorang pengusaha harus memiliki mental pemenang dan pola pikir yang positif. Mental pemenang bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan mampu menghadapi setiap tantangan tanpa kehilangan fokus.

Orang dengan mental pemenang akan bertanya:

  • Apa yang masih bisa saya lakukan?
  • Bagaimana cara saya beradaptasi?
  • Apa yang harus saya perbaiki?

Sebaliknya, orang yang terjebak dalam BJE lebih sering bertanya:

  • Kenapa ekonomi sedang buruk?
  • Kenapa pemerintah membuat aturan seperti ini?
  • Kenapa pesaing saya lebih mudah berkembang?

Pertanyaan seperti itu tidak menghasilkan perubahan karena fokusnya berada pada sesuatu yang berada di luar kendali kita.

Evaluasi Boleh, Menyalahkan Jangan

Pesan lain yang tidak kalah penting adalah mengenai evaluasi. Menurut Pak Eggy, seorang pemimpin tetap harus melakukan evaluasi terhadap tim maupun perusahaan. Evaluasi merupakan bagian dari proses perbaikan.

Namun evaluasi berbeda dengan menyalahkan.

Evaluasi bertujuan menemukan akar masalah dan mencari solusi, sedangkan menyalahkan hanya mencari pihak yang harus bertanggung jawab tanpa menghasilkan perbaikan yang nyata.

Karena itu, sebelum menunjuk kesalahan orang lain, seorang pemimpin sebaiknya terlebih dahulu mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah strategi yang digunakan sudah tepat? Apakah sistem yang dibangun sudah berjalan dengan baik? Apakah komunikasi kepada tim sudah jelas?

Ketika seorang pemimpin mau memulai evaluasi dari dirinya sendiri, budaya belajar dan bertumbuh akan lebih mudah tercipta di dalam organisasi.

Fokus Pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Banyak hal dalam bisnis yang tidak dapat kita kendalikan. Kita tidak bisa mengatur nilai tukar mata uang, menghentikan perang, menentukan kebijakan pemerintah, ataupun mengendalikan kondisi ekonomi global.

Yang dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita merespons semua perubahan tersebut.

  • Meningkatkan kualitas pelayanan.
  • Memperbaiki efisiensi operasional.
  • Mengembangkan kemampuan tim.
  • Mencari peluang baru.
  • Beradaptasi dengan perubahan.

Di situlah letak perbedaan antara pemimpin yang terus bertumbuh dengan pemimpin yang terjebak dalam alasan.

Penutup

Keadaan ekonomi mungkin tidak selalu berpihak kepada kita. Regulasi bisa berubah, biaya operasional dapat meningkat, dan tantangan bisnis akan terus bermunculan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan seorang pengusaha.

Namun seperti yang disampaikan oleh Pak Eggy, seorang pemimpin tidak boleh memiliki mental BJE. Jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan orang lain, dan jangan terus mencari alasan.

Bangun mental pemenang, miliki pola pikir yang positif, lakukan evaluasi secara objektif, lalu fokuslah pada tindakan yang benar-benar bisa kita lakukan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis lebih banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan daripada kondisi yang sedang dihadapi.

sumber : https://www.instagram.com/p/DYy-OIFsTSj/

MINDSET CERDAS SAAT MENGHADAPI MASALAH

MINDSET CERDAS SAAT MENGHADAPI MASALAH

Kediri – Masalah adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Setiap orang, tanpa terkecuali, pasti pernah menghadapi tantangan, tekanan, maupun situasi sulit. Kehadiran masalah bukan selalu sesuatu yang buruk, karena sering kali masalah menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami, diperbaiki, atau diputuskan dengan lebih bijak.

Cara seseorang menghadapi masalah sering kali menentukan kualitas keputusan yang diambil. Dengan mindset yang tepat, masalah tidak hanya menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi sarana pembelajaran dan pendewasaan diri.

Kembali kepada Allah

Saat menghadapi masalah, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah kembali kepada Allah. Mendekatkan diri melalui doa dan shalat sunnah dapat membantu menenangkan hati sekaligus menguatkan mental.

Ingatlah bahwa sabar adalah kunci. Setiap masalah yang datang adalah ujian yang memiliki tujuan, dan setiap ujian selalu membawa pelajaran bagi orang yang mau mengambil hikmahnya.

Cari Solusi dengan Kepala Dingin, Bukan Emosi

Ketika emosi menguasai, keputusan yang diambil sering kali terburu-buru dan kurang tepat. Karena itu, penting untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mengambil langkah.

Pahami inti masalahnya, lihat dari berbagai sudut pandang, lalu pilih solusi yang paling bijak. Masalah akan jauh lebih mudah diselesaikan ketika pikiran berada dalam keadaan tenang dan jernih.

Evaluasi Diri

Tidak semua masalah datang dari faktor luar. Ada kalanya masalah muncul karena kesalahan atau kekurangan dalam diri sendiri yang belum disadari.

Melalui evaluasi diri, kita dapat memahami bagian mana yang perlu diperbaiki. Sikap ini membantu kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijak, dan tidak mudah mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Diskusikan dengan Rekan atau Atasan

Terkadang masalah terasa berat karena kita mencoba memikul semuanya sendirian. Dalam situasi seperti ini, berdiskusi dengan rekan kerja atau atasan bisa menjadi langkah yang sangat membantu.

Masukan dari orang lain sering kali membuka sudut pandang baru yang sebelumnya tidak kita pikirkan. Dengan diskusi yang baik, peluang menemukan jalan keluar yang tepat akan semakin besar.

Yakin Bahwa Setiap Masalah Pasti Ada Hikmah dan Jalan Keluarnya

Setiap masalah pasti membawa hikmah, meskipun terkadang kita belum langsung memahaminya. Karena itu, tetaplah yakin, terus berdoa, dan jangan kehilangan harapan.

Percayalah bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya. Tidak ada keadaan sulit yang berlangsung selamanya, dan selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bersabar dan berusaha.

Orang cerdas bukanlah orang yang tidak pernah memiliki masalah. Orang cerdas adalah mereka yang mampu tetap tenang, berpikir jernih, dan mengambil keputusan dengan bijak saat masalah datang.

Sumber : https://www.instagram.com/p/DaMscDtgDpE/?img_index=1

Investasi Asing di Indonesia Tetap Tangguh

Investasi Asing di Indonesia Tetap Tangguh

TVRINews – Jakarta

Realisasi Penanaman Modal Asing mencapai Rp250 triliun pada kuartal pertama 2026, membuktikan ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.

Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dunia, Indonesia mencatatkan performa investasi yang solid pada awal tahun ini.

Data terbaru dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa kepercayaan investor mancanegara tetap kuat, dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) menyentuh angka Rp250 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026.

Angka tersebut merepresentasikan lebih dari separuh, tepatnya 50,1 persen, dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren pertumbuhan investasi asing yang konsisten dalam lima tahun terakhir.

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriandi, menekankan bahwa investasi langsung (FDI) merupakan indikator yang lebih mencerminkan keyakinan jangka panjang dibandingkan volatilitas pasar keuangan.

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriand (Foto: Bakom RI)

“Menarik investasi bukanlah pekerjaan yang mudah di tengah situasi geopolitik global saat ini. Data menunjukkan investor asing tetap tertarik berinvestasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari realisasi investasi yang terus tumbuh,” ujar Dendy dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu 1 Juli 2026

Dalam analisis data historis yang dirilis kementerian, pertumbuhan PMA menunjukkan kenaikan bertahap: dari Rp147,2 triliun pada kuartal pertama 2022, hingga mencapai angka Rp250 triliun di kuartal pertama 2026.

Sejumlah negara tercatat sebagai kontributor utama, dengan Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang menempati posisi lima besar asal investasi.

Selain nilai nominal, pemerintah menyoroti dampak ekonomi riil yang dihasilkan dari aliran modal tersebut. Sektor-sektor strategis yang menjadi fokus hilirisasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menggerakkan roda ekonomi domestik.

Dampak nyata bagi sektor ketenagakerjaan juga cukup signifikan. Berdasarkan laporan kementerian, realisasi investasi pada kuartal pertama tahun ini berhasil menyerap 706.569 tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.

Menghadapi tantangan global ke depan, Dendy menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membenahi ekosistem investasi melalui penyederhanaan birokrasi perizinan dan penguatan regulasi hilirisasi.

“Investasi hari ini menentukan masa depan generasi selanjutnya. Karena itu, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang semakin ramah bagi investor agar investasi terus tumbuh dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Dendy.

Stabilitas arus investasi ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi Indonesia tahun 2026, di tengah upaya pemerintah mempertahankan daya saing di pasar internasional melalui agenda hilirisasi yang berkelanjutan.

Sumber : https://nasional.tvrinews.com/berita/twgsayy-investasi-asing-di-indonesia-tetap-tangguh

Pertamina Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Hari Ini

Pertamina Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Hari Ini

PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan penyesuaian harga untuk sejumlah produk bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di seluruh Indonesia mulai Rabu 1 Juli 2026, Diantaranya mencakup penurunan signifikan pada harga produk bensin RON 98 serta varian diesel berkualitas tinggi.

Berdasarkan data terbaru di SPBU wilayah Jakarta, Pertamax Turbo kini dipatok pada harga Rp 19.300 per liter, turun sebesar Rp 1.450 dari periode sebelumnya.

Penurunan lebih tajam terjadi pada produk diesel; Pertamina Dex kini dijual seharga Rp 21.150 per liter, sementara harga Dexlite terkoreksi menjadi Rp 19.700 per liter.

Di sisi lain, perusahaan memutuskan untuk mempertahankan harga produk BBM lainnya. Pertamax (RON 92) tetap stabil di angka Rp 16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 di angka Rp 17.000 per liter.

Begitu pula dengan bahan bakar bersubsidi, yaitu Pertalite dan Solar, yang harganya tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap di angka Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Tidak hanya sektor otomotif darat, penyesuaian harga juga menyentuh bahan bakar penerbangan. Harga Avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kini tercatat sebesar Rp 19.190 per liter, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 22.190 per liter.

Pada laman resmi Pertamina Rabu 1 juli 2026 menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari prosedur rutin perusahaan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan fluktuasi harga komoditas minyak mentah di pasar global serta keselarasan dengan regulasi pemerintah yang berlaku.

Kebijakan ini mencerminkan dinamika pasar energi global yang belakangan menunjukkan tren positif bagi konsumen domestik, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas biaya operasional transportasi dan logistik di Indonesia.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tn7le8p-pertamina-turunkan-harga-bbm-non-subsidi-hari-ini

Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Indonesia resmi memperkenalkan skema pembiayaan baru yang menyasar pelaku usaha mikro perempuan guna memperluas akses permodalan yang lebih terjangkau, sebagai upaya strategis untuk mengakselerasi inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata hingga ke level akar rumput.

Hingga 28 Juni 2026, total realisasi penyaluran Kredit Program nasional telah mencapai Rp167,97 triliun, atau merepresentasikan 49,20 persen dari target tahunan sebesar Rp341,39 triliun.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi motor utama dengan kontribusi Rp147,70 triliun yang tersalurkan kepada 2,32 juta debitur, dengan tingkat rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga di angka 2,39 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menyempurnakan ekosistem pembiayaan agar lebih inklusif dan tepat sasaran.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa pemerintah berupaya memastikan pelaku usaha memiliki daya saing yang lebih baik melalui akses modal yang terjangkau.

“Pemerintah tidak hanya memastikan akses pembiayaan bagi UMKM tetap tersedia, tetapi juga terus menyempurnakan berbagai skema Kredit Program agar semakin tepat sasaran, lebih inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha di berbagai sektor.

Melalui penguatan Kredit Program, kita ingin mendorong semakin banyak masyarakat yang naik kelas dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usahanya,” ujar Haryo dalam keterangan resminya.

Efisiensi Biaya bagi Pelaku Usaha Perempuan

Salah satu terobosan kunci dalam skema baru ini adalah transformasi pembiayaan bagi perempuan pelaku usaha mikro yang sebelumnya berada dalam ekosistem PNM Mekaar. Pemerintah memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga secara signifikan, dari kisaran 18–25 persen per tahun menjadi hanya 8 persen (flat) per tahun.

“Selama ini pembiayaan PNM Mekaar berada pada kisaran 18–25 persen. Melalui Kredit Program bagi perempuan pelaku usaha mikro, pemerintah menurunkan suku bunganya menjadi 8 persen (flat) per tahun sehingga ibu-ibu yang mau berusaha, yang sedang berusaha, dan yang pernah serta akan kembali berusaha dapat memperoleh pembiayaan yang jauh lebih terjangkau,” tambah Haryo.

Skema ini menawarkan plafon pembiayaan hingga Rp15 juta per debitur dengan masa pengembalian atau tenor antara 6 hingga 24 bulan. Kebijakan ini diharapkan mampu meringankan beban biaya modal bagi pelaku usaha mikro perempuan secara berkelanjutan.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, pemerintah telah menyiapkan dukungan fiskal berupa subsidi bunga atau subsidi marjin senilai Rp2,62 triliun sepanjang tahun 2026. Regulasi pendukung saat ini tengah dirampungkan guna memastikan implementasi di lapangan berjalan optimal, melengkapi ekosistem Kredit Program yang telah ada sebelumnya, yakni KUR, Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya, dan Kredit Program Perumahan.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tvb7a2u-pemerintah-luncurkan-skema-pembiayaan-baru-umkm

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kediri – Di era digital saat ini, informasi berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Hanya dengan sekali klik, seorang pengusaha bisa mendapatkan ribuan strategi bisnis, tips pemasaran, hingga puluhan jadwal workshop. Namun, apakah melimpahnya informasi ini selalu berdampak baik? Nyatanya, tidak sedikit pelaku usaha yang justru merasa bingung, stres, bahkan kehilangan arah karena terjebak dalam information overload.

Dalam sebuah kesempatan, bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group, membagikan pandangannya yang sangat tajam mengenai fenomena ini. Beliau menceritakan sebuah realitas di lapangan yang sering dialami oleh para pengusaha hari ini.

Ketika “Banjir Ilmu” Justru Membawa Kebuntuan

bapak Eggy Adityawan menceritakan pengalaman salah satu rekannya yang enggan lagi mengikuti pelatihan bisnis.

“Ada teman saya coba kasih insight untuk ikut workshop, jawabnya: ‘Saya enggak mau ikut workshop-workshop lagi, karena antara satu workshop dengan workshop lain tuh keilmuannya berbeda’.”
Eggy Adityawan

Fenomena ini sangat sering terjadi. Ketika seorang pengusaha menelan semua informasi dan teori dari berbagai mentor tanpa filter, mereka akan menemukan kontradiksi. Mentor A menyarankan strategi X, sementara Mentor B menyarankan strategi Y. Akibatnya? Bukannya mengeksekusi bisnis, pengusaha justru mengalami analysis paralysis—lumpuh karena terlalu banyak berpikir dan bingung harus mulai dari mana.

Solusi Bukan Berhenti Belajar, tapi Mengasah Filter

Melihat kebingungan tersebut, bapak Eggy Adityawan menegaskan bahwa solusinya bukan dengan menutup diri dari ilmu baru. Menolak informasi dengan menganggap semua pelatihan itu sama saja atau menggeneralisasi bahwa semua informasi luar itu tidak berguna adalah sebuah kekeliruan besar.

Menurut beliau, seorang pengusaha sejati harus tetap mempertahankan mentalitas seorang murid. Namun, ada satu skill krusial yang wajib dimiliki di zaman sekarang: Kecerdasan Emosional (EQ) dalam memilah informasi.

Skill Abad 21: Pilih, Cacah, dan Sesuaikan dengan Goal

Kecerdasan emosional dalam konteks ini bukan sekadar mengatur emosi saat marah, melainkan kemampuan untuk tetap tenang, objektif, dan tidak impulsif di tengah gempuran informasi.

Berikut adalah langkah cerdas dalam mengelola informasi menurut pemimpin Trisna Group ini:

  • Tidak Menelan Mentah-mentah: Jangan langsung mempraktikkan setiap tren atau tips bisnis yang Anda dengar tanpa menganalisis situasinya terlebih dahulu.
  • Tidak Apatis: Jangan malas mencari tahu hanya karena merasa informasi terlalu banyak atau menganggap semua informasi itu bohong.
  • Mencacah dan Memilah: Ambil informasi, bedah isinya, dan saring bagian mana yang benar-benar relevan.
  • Fokus pada Goal: Ambil ilmu yang hanya sesuai dengan target atau tujuan besar (goal) bisnis Anda saat ini. Jika suatu informasi tidak mendukung goal Anda, singkirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi beban pikiran.

Kesimpulan: Menjadi Pembelajar yang Cerdas

Ilmu dan informasi adalah bahan bakar bagi pertumbuhan bisnis, tetapi kecerdasan emosional adalah kemudinya. Tanpa kemudi yang kuat, banyaknya informasi hanya akan membuat bisnis Anda berputar-putar di tempat tanpa arah yang jelas.

Pesan dari bapak Eggy Adityawan mengingatkan kita semua: Jadilah pembelajar yang baik, miliki kecerdasan emosional yang matang untuk menyaring informasi, dan pastikan setiap ilmu yang Anda ambil bekerja untuk mewujudkan goal bisnis Anda, bukan justru menghambatnya.

sumber : https://www.instagram.com/eggy_adityawan/reels/