Jawa Timur Park Group Bangun Museum Mega Science Center dan Budaya, Perkuat Ekosistem Wisata Edukasi Nasional

Jawa Timur Park Group Bangun Museum Mega Science Center dan Budaya, Perkuat Ekosistem Wisata Edukasi Nasional

Jawa Timur Park Group terus memperkuat portofolio wisata edukasinya dengan membangun Museum Mega Science Center dan Budaya di kawasan Jatim Park 1, Kota Batu. Proyek yang saat ini masih dalam tahap pembangunan tersebut menjadi bagian dari pengembangan berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat ekosistem wisata edukasi nasional sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan sarana pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Manajer Marketing dan Public Relations Jawa Timur Park Group Titik S. Ariyanto, menjelaskan bahwa pembangunan museum ini merupakan bagian dari visi perusahaan untuk terus berkontribusi dalam pengembangan sektor pendidikan nonformal melalui pariwisata berbasis edukasi.

“Museum Mega Science Center dan Budaya merupakan salah satu langkah pengembangan yang kami lakukan untuk menghadirkan sarana pembelajaran yang lebih komprehensif. Melalui fasilitas ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap sains, teknologi, dan budaya, sekaligus memperkuat posisi Kota Batu sebagai destinasi wisata edukasi yang memiliki daya saing di tingkat nasional,” ujar Titik.

Museum Mega Science Center dan Budaya dirancang sebagai pusat edukasi yang mengintegrasikan unsur sains, teknologi, dan budaya dalam satu kawasan. Kehadirannya diharapkan dapat melengkapi berbagai fasilitas pembelajaran yang selama ini telah dikembangkan oleh Jawa Timur Park Group melalui pendekatan edutainment yang menjadi karakter utama perusahaan.

Dibangun di atas lahan seluas sekitar 18.000 meter persegi, museum ini akan menghadirkan beragam zona tematik yang mencakup bidang ruang angkasa, fisika, matematika, biologi, kimia, teknologi, kebencanaan, hingga budaya. Setiap zona dirancang untuk mendukung proses pembelajaran melalui media interaktif, alat peraga, simulasi, serta teknologi yang memungkinkan pengunjung memahami berbagai konsep ilmu pengetahuan secara lebih aplikatif.

Pengembangan Museum Mega Science Center dan Budaya dilatarbelakangi oleh komitmen Jawa Timur Park Group dalam mendukung peningkatan literasi sains, teknologi, dan budaya di Indonesia. Selain menjadi destinasi wisata edukasi, museum ini diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar, akademisi, keluarga, maupun masyarakat umum.

Selain memperluas portofolio destinasi yang dimiliki perusahaan, pembangunan Museum Mega Science Center dan Budaya juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap pengembangan sektor pariwisata dan pendidikan di Kota Batu. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya Jawa Timur Park Group dalam menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Saat ini proses pembangunan masih terus berlangsung. Jawa Timur Park Group akan menginformasikan perkembangan proyek secara berkala hingga museum tersebut siap diperkenalkan kepada publik.

Dengan pembangunan Museum Mega Science Center dan Budaya, Jawa Timur Park Group menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan destinasi yang mendukung pembelajaran, pelestarian budaya, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengalaman edukatif yang dapat diakses oleh berbagai kalangan.

Informasi tiket dan promo terbaru dapat diakses melalui website resmi jtp.id serta Instagram dan TikTok @megasciencecenter @jawatimurpark.

Sumber : https://www.beritasatu.com/lifestyle/3006792/jawa-timur-park-group-bangun-museum-mega-science-center-dan-budaya-perkuat-ekosistem-wisata-edukasi-nasional

Mengenal Umair Firdaus, Parfum Oud Premium dengan Karakter Maskulin dan Elegan

Mengenal Umair Firdaus, Parfum Oud Premium dengan Karakter Maskulin dan Elegan

Kediri – Mari mengenal Umair Firdaus lebih dekat.

Umair Firdaus merupakan varian pertama dari parfum Umair. Dengan perpaduan aroma oud dan woody, parfum ini menghadirkan karakter aroma yang manly, elegan, dan berkelas tanpa terasa terlalu menyengat.

Aroma oud dipilih bukan hanya karena terinspirasi dari parfum Arabian Oud yang menjadi awal lahirnya brand Umair, tetapi juga sebagai positioning pasar yang menyasar segmen muslim menengah atas yang identik dengan karakter aroma eksklusif dan premium.

Dari sisi visual, Umair Firdaus hadir dengan botol kotak berwarna hijau yang elegan, dilengkapi penutup spray yang kokoh. Desain ini memberikan kesan premium, berkarakter, dan selaras dengan aroma yang dibawanya.

Umair Firdaus menggunakan konsentrasi Extrait de Parfum, yaitu konsentrasi parfum tertinggi yang dikenal memiliki ketahanan aroma lebih lama dan kualitas yang lebih eksklusif. Hal ini semakin mengukuhkan Umair Firdaus sebagai parfum high class dengan kualitas premium.

Dalam setiap pembelian, Anda akan mendapatkan isi bersih 30 ml beserta bonus vial Umair ADN, varian kedua dari parfum Umair yang juga memiliki karakter aroma yang khas.

Bagi para pecinta parfum, aroma Umair Firdaus sering kali memberikan kesan seperti parfum impor dari Timur Tengah. Banyak orang bahkan mengira parfum ini adalah parfum Arab, padahal Umair Firdaus merupakan parfum lokal asli Kediri dengan kualitas yang mampu bersaing di kelas premium.

Umair Firdaus sangat cocok digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja di kantor, digunakan saat beribadah ke masjid, hingga menemani aktivitas sehari-hari.

Dengan harga Rp300.000, Anda sudah bisa memiliki Umair Firdaus melalui marketplace seperti Shopee, TikTok Shop, maupun Tokopedia.

Perjalanan Umair dan Zalilla: Dari Inspirasi Aroma hingga Menjadi Brand Parfum Berkualitas Indonesia

Perjalanan Umair dan Zalilla: Dari Inspirasi Aroma hingga Menjadi Brand Parfum Berkualitas Indonesia

Kediri – Berawal dari kecintaan seorang pengusaha muda asal Kediri, Eggy Adityawan, terhadap parfum.
Kepribadiannya yang maskulin dan rapi membuat parfum menjadi bagian yang hampir tidak pernah lepas dari kesehariannya.

Pada suatu kesempatan saat melaksanakan ibadah Umrah, beliau menemukan parfum Arabian Oud di Madinah.
Aroma yang kalem, elegan, dan nyaman itu langsung menarik perhatiannya. Beliau pun jatuh cinta pada wangian tersebut dan membelinya.

Sepulang ke Tanah Air, muncul sebuah pemikiran dalam benaknya: aroma parfum ini suatu saat pasti akan habis.
Dari situlah naluri bisnisnya sebagai seorang pengusaha mulai bekerja. Ia berpikir, mengapa tidak menciptakan parfum sendiri
dengan aroma yang memiliki karakter serupa dengan Arabian Oud?

Gagasan tersebut segera direalisasikan dengan mendirikan pabrik maklon parfum bernama
PT Trizie Lab Indonesia (TLI). Setelah TLI berdiri, berbagai tenaga ahli di bidang farmasi dan kimia
dikumpulkan untuk melakukan riset dan pengembangan parfum.

Setelah melalui proses riset yang panjang, lahirlah parfum pertama yang diberi nama
Umair dengan varian perdana Firdaus.

Nama Umair sendiri terinspirasi dari salah satu sahabat Nabi yang luar biasa,
yaitu Mush’ab bin Umair, yang dikenal sebagai duta atau delegasi pertama dalam sejarah Islam
yang diutus oleh Rasulullah. Sementara itu, nama Firdaus diambil dari nama surga tertinggi
dalam ajaran Islam, yaitu Surga Firdaus.

Setelah parfum berhasil diciptakan, naluri bisnis Eggy Adityawan tidak berhenti sampai di situ.
Beliau menyadari bahwa parfum ini tidak seharusnya dinikmati sendiri. Akan lebih baik jika produk ini
juga bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Atas dasar pemikiran tersebut, beliau kemudian mendirikan perusahaan kedua yang berfokus pada pemasaran
dan administrasi produk parfum Umair, yaitu PT Evomen Fitamiin Indonesia.

Perusahaan ini bergerak cepat. Langkah awalnya dimulai dengan mengikuti pameran di Jakarta, kemudian berlanjut
ke berbagai pameran di Jawa Barat. Hasilnya sangat menggembirakan—banyak masyarakat yang menyukai parfum Umair
dengan karakter aroma oud yang khas.

Untuk memperluas pasar, PT Evomen Fitamiin Indonesia juga mulai merambah marketplace seperti Shopee,
Tokopedia, dan TikTok Shop.

Hingga saat ini, parfum Umair terus berkembang melalui inovasi dan pengembangan produk.
Berbagai varian baru pun terus dihadirkan, seperti Umair ADN,
Umair Royyan, Umair Active Core, dan varian unggulan lainnya.

Melihat antusiasme pasar yang terus meningkat, PT Evomen Fitamiin Indonesia tidak berhenti hanya pada parfum pria.
Perusahaan kemudian melakukan ekspansi dengan menghadirkan lini parfum khusus wanita bernama Zalilla.

Kehadiran Zalilla menjadi langkah strategis untuk menjangkau pasar yang lebih luas, khususnya wanita
yang menginginkan parfum dengan karakter aroma elegan, anggun, dan berkelas.

Beberapa varian unggulan yang telah diperkenalkan dalam lini Zalilla antara lain
Umair Kartini, Zalilla Fatmawati, dan Zalilla Lestari.
Setiap varian dirancang dengan karakter aroma yang unik untuk merepresentasikan keanggunan,
kelembutan, serta kekuatan perempuan Indonesia.

Dengan hadirnya lini Umair dan Zalilla, PT Evomen Fitamiin Indonesia menunjukkan komitmennya untuk terus
berinovasi dalam menghadirkan produk parfum berkualitas yang dapat dinikmati oleh berbagai segmen pasar.

Dari Prancis ke Dunia, Evolusi Parfum Menjadi Identitas Modern

Dari Prancis ke Dunia, Evolusi Parfum Menjadi Identitas Modern

Kediri – Setelah melewati perjalanan panjang dari ritual kuno, pengobatan tradisional, hingga perlindungan dari wabah penyakit, dunia wewangian akhirnya memasuki era baru yang mengubah segalanya.

Era ini berpusat pada satu negara yang hingga kini identik dengan dunia parfum: France.

Di sinilah parfum berkembang dari sekadar produk mewah menjadi industri besar yang memadukan seni, sains, dan bisnis. Parfum tidak lagi hanya tentang aroma harum, tetapi mulai menjadi ekspresi karakter, citra diri, dan identitas modern.

Dari Prancis, pengaruh parfum menyebar ke seluruh dunia.

Prancis dan Lahirnya Pusat Dunia Parfum

Prancis memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah parfum modern. Sejak berabad-abad lalu, negara ini dikenal sebagai pusat mode, kemewahan, dan gaya hidup elegan.

Budaya parfum berkembang pesat di kalangan bangsawan Prancis, terutama ketika aroma harum menjadi bagian penting dari kehidupan istana.

Pada masa itu, parfum digunakan untuk:

  • Mengharumkan tubuh
  • Mengharumkan pakaian
  • Menambah kesan elegan
  • Menunjukkan status sosial

Permintaan yang tinggi terhadap wewangian mendorong berkembangnya industri parfum secara serius.

Grasse, Kota Kecil yang Mengubah Industri Parfum

Ketika membahas sejarah parfum modern, nama Grasse hampir selalu menjadi pusat perhatian.

Kota kecil di selatan Prancis ini awalnya dikenal sebagai pusat industri kulit. Namun seiring waktu, Grasse bertransformasi menjadi jantung industri parfum dunia.

Wilayah ini sangat ideal untuk budidaya tanaman aromatik karena iklimnya mendukung pertumbuhan bunga berkualitas tinggi.

Bahan-bahan terkenal dari Grasse antara lain:

  • Mawar
  • Melati
  • Lavender
  • Tuberose

Kualitas bahan aromatik dari Grasse menjadikannya sumber utama bagi banyak rumah parfum besar.

“Grasse became the perfume capital of the world.”

Revolusi Kimia Mengubah Dunia Parfum

Selama ribuan tahun, parfum bergantung sepenuhnya pada bahan alami seperti bunga, kayu, resin, dan rempah-rempah. Namun semuanya berubah ketika dunia memasuki era revolusi sains dan industri.

Perkembangan ilmu kimia membuka jalan baru dalam dunia parfum.

Para ilmuwan mulai memahami struktur molekul aroma dan menemukan cara untuk menciptakan wangi melalui proses kimia.

Inilah awal dari revolusi besar dalam industri parfum modern.

Lahirnya Aroma Sintetis

Salah satu perubahan paling penting adalah hadirnya aroma sintetis.

Bahan sintetis memungkinkan parfum berkembang jauh melampaui keterbatasan bahan alami.

Keunggulan aroma sintetis antara lain:

  1. Lebih stabil
  2. Lebih konsisten
  3. Lebih terjangkau
  4. Mampu menciptakan aroma baru yang tidak ada di alam

Ini menjadi momen revolusioner.

Parfum kini tidak hanya meniru alam, tetapi juga mampu menciptakan aroma yang benar-benar baru—lebih abstrak, modern, dan inovatif.

Dunia parfum berubah dari sekadar ekstraksi aroma menjadi seni merancang pengalaman olfaktori.

Munculnya Rumah Parfum Besar

Seiring berkembangnya teknologi dan permintaan pasar, lahirlah berbagai rumah parfum besar yang mulai mendefinisikan industri modern.

Rumah parfum ini menggabungkan:

  • Seni meracik aroma
  • Teknologi produksi
  • Branding
  • Luxury lifestyle

Mereka tidak sekadar menjual parfum, tetapi menjual pengalaman, emosi, dan citra.

Setiap parfum dirancang untuk memiliki karakter unik, cerita, dan target pengguna tertentu.

Dari sinilah parfum mulai memiliki identitas yang sangat kuat di pasar global.

Parfum Sebagai Identitas Modern

Di era modern, fungsi parfum telah berkembang jauh dari masa lalu.

Jika dahulu parfum digunakan untuk ritual, kesehatan, atau status sosial, kini parfum juga menjadi bentuk ekspresi personal.

Banyak orang memilih parfum berdasarkan:

  • Kepribadian
  • Suasana hati
  • Gaya hidup
  • Citra yang ingin ditampilkan

Seseorang bisa memilih aroma segar untuk kesan energik, aroma floral untuk kesan elegan, atau aroma woody untuk kesan hangat dan berkarakter.

“Perfume is no longer just worn. It represents identity.”

Parfum telah berubah menjadi bahasa tanpa kata. Aroma mampu meninggalkan kesan, membangkitkan memori, dan membentuk persepsi orang lain terhadap diri kita.

Dari Ritual Kuno ke Identitas Personal

Perjalanan parfum adalah cerminan perjalanan manusia itu sendiri.

Dari asap kayu pada masa purba, ritual suci Mesir, attar India, oud Timur Tengah, gaya hidup Yunani-Romawi, hingga revolusi parfum modern di Prancis—setiap era memberi warna baru dalam sejarah wewangian.

Hari ini, parfum bukan hanya produk.

Ia adalah perpaduan antara sejarah, seni, ilmu pengetahuan, budaya, dan identitas manusia.

Dan mungkin itulah alasan mengapa hingga sekarang, manusia masih terus mencari aroma yang terasa paling merepresentasikan dirinya.

Mengapa Orang Abad Pertengahan Percaya Wewangian Bisa Menangkal Penyakit?

Mengapa Orang Abad Pertengahan Percaya Wewangian Bisa Menangkal Penyakit?

Kediri – Setelah era Yunani dan Romawi menjadikan parfum sebagai bagian dari gaya hidup dan simbol status, perjalanan sejarah wewangian memasuki fase yang sangat berbeda saat dunia masuk ke Europe abad pertengahan.

Masa ini dikenal sebagai periode yang penuh tantangan. Perang, sanitasi yang buruk, dan wabah penyakit menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, hubungan manusia dengan wewangian kembali berubah.

Jika sebelumnya aroma harum identik dengan kemewahan dan kenyamanan, kini wewangian mulai dianggap sebagai sesuatu yang mampu melindungi manusia dari ancaman penyakit.

Bagi banyak orang di abad pertengahan, aroma harum bukan hanya soal wangi. Aroma bisa menjadi benteng pertahanan.

Kehidupan di Eropa Abad Pertengahan

Kehidupan di Eropa pada abad pertengahan jauh dari kondisi higienis seperti saat ini. Sistem sanitasi masih sangat buruk, limbah sering dibuang sembarangan, dan bau tidak sedap menjadi bagian dari lingkungan sehari-hari.

Kota-kota besar sering dipenuhi oleh:

  • Bau limbah
  • Sampah organik
  • Bau hewan ternak
  • Udara yang dianggap kotor

Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika masyarakat mulai menghubungkan bau buruk dengan penyakit.

Mereka percaya bahwa udara yang berbau busuk berbahaya bagi tubuh manusia.

Black Death dan Ketakutan Besar terhadap Penyakit

Ketakutan terbesar pada era ini memuncak saat munculnya Black Death, salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah manusia.

Pada pertengahan abad ke-14, wabah ini menyebar ke berbagai wilayah Eropa dan menewaskan jutaan orang dalam waktu yang relatif singkat.

Dampaknya sangat besar:

  1. Populasi menurun drastis
  2. Kota-kota lumpuh
  3. Kepanikan menyebar luas
  4. Masyarakat hidup dalam ketakutan

Karena ilmu kedokteran saat itu masih sangat terbatas, masyarakat tidak memahami penyebab sebenarnya dari wabah tersebut.

Mereka mencari penjelasan berdasarkan pengetahuan yang tersedia pada masa itu.

Teori Miasma dan Udara Beracun

Salah satu penjelasan yang paling dipercaya pada masa itu adalah teori Miasma.

Teori ini menyatakan bahwa penyakit berasal dari udara buruk atau udara beracun yang muncul dari lingkungan kotor, pembusukan, atau bau busuk.

Menurut kepercayaan ini:

  • Bau buruk = udara berbahaya
  • Udara berbahaya = sumber penyakit

Karena itu, masyarakat percaya bahwa jika udara kotor bisa menyebabkan penyakit, maka aroma harum dapat membantu melindungi tubuh dari ancaman tersebut.

“Bad air was believed to carry disease.”

Pemahaman ini memang keliru menurut ilmu modern, tetapi pada masa itu teori miasma menjadi dasar bagi banyak praktik kesehatan.

Wewangian sebagai Bentuk Perlindungan

Dari sinilah wewangian mendapatkan peran baru sebagai alat perlindungan.

Orang-orang mulai menggunakan bahan aromatik untuk melawan udara yang dianggap berbahaya. Aroma harum dipercaya mampu membersihkan udara dan menciptakan lapisan perlindungan bagi tubuh.

Bahan yang umum digunakan antara lain:

  • Herbal aromatik
  • Rempah-rempah
  • Bunga kering
  • Resin dan dupa

Penggunaannya pun beragam.

  1. Dibakar di rumah
  2. Dibawa dalam kantong kecil
  3. Diletakkan di pakaian
  4. Dioleskan ke tubuh

Banyak orang membawa pouch kecil berisi campuran bunga dan rempah harum ke mana-mana sebagai perlindungan pribadi.

Bagi mereka, aroma harum adalah pelindung yang selalu siap digunakan.

Dokter dan Aroma Pelindung

Bahkan para tabib dan dokter pada masa itu juga memanfaatkan wewangian.

Beberapa menggunakan kain atau masker sederhana yang diisi dengan bahan aromatik untuk menyaring udara yang dihirup.

Tujuannya adalah mengurangi paparan udara buruk yang diyakini membawa penyakit.

Praktik ini kemudian menjadi salah satu simbol paling ikonik dari dunia medis abad pertengahan.

Ketika Aroma Menjadi Harapan

Dari sudut pandang modern, kita tahu bahwa wewangian tidak dapat menghentikan wabah seperti Black Death. Penyebab sesungguhnya jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan bakteri serta penyebaran melalui kutu dan tikus.

Namun jika melihat dari konteks sejarah, kepercayaan ini sangat masuk akal.

Ketika dunia dipenuhi ketakutan, ketidakpastian, dan minimnya pengetahuan medis, manusia mencari perlindungan dari apa pun yang mereka yakini bisa membantu.

Dalam masa penuh kecemasan itu, aroma harum memberi rasa aman, harapan, dan ketenangan.

Dan sekali lagi, sejarah menunjukkan bahwa wewangian selalu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kebutuhan manusia—baik secara fisik maupun emosional.

Ketika Bangsawan Yunani dan Romawi Menjadikan Wewangian Sebagai Gaya Hidup

Ketika Bangsawan Yunani dan Romawi Menjadikan Wewangian Sebagai Gaya Hidup

Kediri – Jika Mesir Kuno menjadikan wewangian sebagai bagian dari ritual suci, dan India serta Timur Tengah menyempurnakan seni meracik parfum, maka peradaban Ancient Greece dan Ancient Rome membawa dunia parfum ke arah yang berbeda.

Di tangan bangsa Yunani dan Romawi, wewangian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Aroma harum tidak lagi hanya digunakan untuk ritual keagamaan atau pengobatan, tetapi juga menjadi simbol kemewahan, kebersihan, keanggunan, dan status sosial.

Di sinilah parfum mulai terasa sangat dekat dengan konsep penggunaannya di dunia modern.

Ancient Greece dan Awal Budaya Wewangian Sehari-hari

Bangsa Yunani Kuno memiliki hubungan yang erat dengan aroma. Mereka memandang tubuh yang bersih dan harum sebagai bagian dari peradaban, estetika, dan kehormatan diri.

Wewangian digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:

  • Setelah mandi
  • Sebelum menghadiri acara penting
  • Dalam ritual keagamaan
  • Untuk relaksasi

Bangsa Yunani juga mulai mengembangkan minyak wangi berbasis herbal, bunga, dan rempah-rempah. Minyak ini disimpan dalam botol-botol kecil yang dibuat dengan indah.

Bagi mereka, aroma bukan hanya soal harum, tetapi juga tentang keseimbangan tubuh dan pikiran.

Parfum untuk Tubuh Menjadi Hal Biasa

Salah satu perubahan besar pada era Yunani dan Romawi adalah penggunaan parfum langsung pada tubuh.

Jika sebelumnya aroma lebih sering berasal dari dupa, asap, atau minyak ritual, kini parfum mulai dipakai sebagai bagian dari perawatan diri.

Minyak wangi dioleskan ke:

  • Rambut
  • Leher
  • Tangan
  • Dada

Bahkan beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa setiap bagian tubuh terkadang diberi aroma berbeda sesuai preferensi pemiliknya.

“Fragrance became an extension of personal identity.”

Konsep ini sangat mirip dengan cara orang modern memilih parfum berdasarkan karakter dan kepribadian.

Ancient Rome dan Ledakan Budaya Kemewahan

Jika bangsa Yunani memperkenalkan budaya parfum dalam kehidupan sehari-hari, maka bangsa Romawi membawanya ke level yang jauh lebih besar.

Ancient Rome terkenal dengan gaya hidup mewah, dan wewangian menjadi salah satu simbol utama kemewahan tersebut.

Bangsa Romawi sangat menyukai aroma harum. Mereka mengimpor bahan-bahan aromatik dari berbagai wilayah, termasuk Mesir, Arab, India, dan Persia.

Permintaan terhadap parfum meningkat pesat, terutama di kalangan bangsawan dan kaum elite.

Parfum menjadi komoditas yang sangat bernilai.

Wewangian untuk Rumah dan Pakaian

Di Romawi, penggunaan wewangian meluas jauh melampaui tubuh manusia.

Aroma harum juga digunakan untuk:

  1. Mengharumkan rumah
  2. Menyegarkan pakaian
  3. Mengharumkan ruang jamuan
  4. Menciptakan kesan mewah dalam acara sosial

Bahkan di rumah-rumah elite, parfum dan minyak aromatik dapat digunakan hampir setiap hari.

Pakaian disimpan bersama bahan aromatik agar selalu harum. Ruangan pesta sering dipenuhi aroma bunga, minyak wangi, dan dupa.

Bagi kaum bangsawan, lingkungan yang harum mencerminkan kemakmuran dan kelas sosial.

Parfum sebagai Simbol Status Sosial

Pada masa Yunani dan terutama Romawi, parfum mulai memiliki makna sosial yang sangat kuat.

Semakin mahal dan langka bahan parfum yang digunakan, semakin tinggi pula status seseorang di mata masyarakat.

Bahan-bahan mewah seperti:

  • Mawar berkualitas tinggi
  • Resin langka
  • Rempah impor
  • Minyak aromatik premium

menjadi simbol kekayaan dan prestise.

Memakai parfum bukan sekadar untuk wangi. Itu adalah cara untuk menunjukkan kelas, selera, dan kekuasaan.

“Luxury could be seen, touched, and even smelled.”

Inilah salah satu momen penting dalam sejarah parfum: ketika aroma mulai memiliki nilai sosial yang kuat.

Dari Ritual Menjadi Lifestyle

Yunani dan Romawi memainkan peran besar dalam mengubah posisi wewangian dalam kehidupan manusia.

Mereka membawa parfum keluar dari ruang ritual dan menjadikannya bagian dari keseharian. Aroma harum kini hadir di tubuh, pakaian, rumah, hingga acara sosial.

Dari sinilah dunia mulai melihat parfum bukan hanya sebagai kebutuhan spiritual atau medis, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.

Transformasi ini menjadi fondasi penting bagi budaya parfum modern yang kita kenal sekarang.

Menelusuri Awal Seni Meracik Parfum dari Mawar hingga Oud

Menelusuri Awal Seni Meracik Parfum dari Mawar hingga Oud

Kediri – Setelah Mesir Kuno menjadikan wewangian sebagai bagian penting dari ritual, spiritualitas, dan simbol kemewahan, perkembangan dunia parfum terus bergerak ke wilayah lain. Dua kawasan yang memiliki peran sangat besar dalam evolusi parfum adalah India dan Timur Tengah.

Di wilayah inilah seni meracik parfum berkembang semakin kompleks. Manusia tidak lagi hanya membakar bahan aromatik atau merendam bunga dalam minyak, tetapi mulai memahami cara mengekstrak aroma secara lebih halus dan efektif.

Dari mawar yang lembut hingga oud yang dalam dan misterius, lahirlah fondasi seni parfum yang masih memengaruhi dunia modern hingga hari ini.

India dan Tradisi Aroma yang Sangat Tua

India memiliki sejarah panjang dalam penggunaan wewangian. Sejak ribuan tahun lalu, aroma telah menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual, pengobatan tradisional, dan budaya sehari-hari.

Dalam tradisi India kuno, wewangian digunakan untuk:

  • Ritual keagamaan
  • Meditasi
  • Pengobatan Ayurveda
  • Perawatan tubuh

Bunga, rempah, kayu, dan herbal menjadi sumber aroma utama. Beberapa bahan yang sangat populer antara lain:

  • Mawar
  • Melati
  • Cendana
  • Vetiver
  • Kapur barus

Di India, aroma tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga dipercaya mampu memengaruhi pikiran, tubuh, dan keseimbangan batin.

Lahirnya Attar, Parfum Tradisional Berbasis Minyak

Salah satu kontribusi terbesar India dalam dunia parfum adalah Attar.

Attar adalah parfum alami berbasis minyak yang dibuat dari bunga, rempah, herbal, atau kayu aromatik. Berbeda dengan parfum modern berbasis alkohol, attar lebih pekat dan kaya karakter.

Attar terkenal karena aromanya yang:

  • Natural
  • Hangat
  • Tahan lama
  • Melekat dekat pada kulit

Beberapa attar klasik yang terkenal antara lain:

  • Attar mawar
  • Attar melati
  • Attar cendana
  • Attar oud

Hingga sekarang, attar masih memiliki tempat istimewa di dunia wewangian, terutama di India dan kawasan Timur Tengah.

Timur Tengah dan Kecintaan pada Aroma Mewah

Jika India dikenal dengan tradisi aromatiknya yang kaya, maka Timur Tengah dikenal sebagai wilayah yang mengangkat parfum menjadi bagian penting dari budaya dan identitas.

Di banyak wilayah Timur Tengah, memakai parfum bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari gaya hidup.

Wewangian digunakan dalam:

  1. Kehidupan sehari-hari
  2. Penyambutan tamu
  3. Acara keluarga
  4. Ritual keagamaan

Budaya ini melahirkan kecintaan mendalam terhadap aroma yang kaya, kuat, dan tahan lama.

Oud, Emas Cair dari Dunia Timur

Salah satu bahan parfum paling ikonik dari Timur Tengah adalah Oud.

Oud berasal dari kayu pohon agar yang terinfeksi jamur tertentu. Proses alami ini menghasilkan resin gelap yang sangat aromatik dan bernilai tinggi.

Oud dikenal sebagai salah satu bahan parfum termahal di dunia.

Aromanya sangat khas:

  • Hangat
  • Woody
  • Smoky
  • Dalam dan mewah

Banyak orang menyebut oud sebagai “emas cair” dalam dunia parfum karena nilainya yang tinggi dan aromanya yang sangat eksklusif.

“Oud is one of the most precious raw materials in perfumery.”

Hingga saat ini, oud tetap menjadi simbol kemewahan dalam industri parfum global.

Revolusi Distilasi dalam Dunia Parfum

Salah satu lompatan terbesar dalam sejarah parfum adalah pengembangan teknik distilasi.

Distilasi memungkinkan manusia mengekstrak aroma dari bunga, kayu, dan tanaman dengan cara yang jauh lebih efisien dibanding metode lama.

Secara sederhana, proses distilasi melibatkan:

  1. Pemanasan bahan aromatik
  2. Penguapan molekul aroma
  3. Pendinginan uap menjadi cairan aromatik

Teknik ini mengubah dunia parfum secara drastis. Aroma yang sebelumnya sulit ditangkap kini dapat diekstrak dengan lebih baik dan lebih murni.

Inilah fondasi bagi perkembangan parfum modern.

Ibn Sina dan Tokoh Penting di Balik Revolusi Parfum

Ketika membahas distilasi dalam sejarah parfum, nama Ibn Sina atau Avicenna hampir selalu muncul.

Ibn Sina adalah ilmuwan besar dari dunia Islam yang memberikan kontribusi besar dalam bidang kedokteran, kimia, dan farmasi.

Ia dikenal karena menyempurnakan metode distilasi uap untuk mengekstrak minyak esensial, terutama dari bunga mawar.

Penemuan ini menjadi titik penting dalam sejarah parfum.

Melalui metode tersebut, aroma mawar dapat diekstrak secara lebih halus, bersih, dan elegan dibanding metode sebelumnya.

“Ibn Sina’s refinement of steam distillation changed perfume history forever.”

Banyak sejarawan parfum menganggap inilah salah satu momen paling penting dalam evolusi seni meracik wewangian.

Dari Mawar hingga Oud, Seni Parfum Semakin Matang

India dan Timur Tengah memberi dunia lebih dari sekadar bahan parfum. Mereka memberi fondasi tentang bagaimana aroma dapat diracik menjadi seni yang kompleks.

Dari attar berbasis minyak, oud yang mewah, hingga revolusi distilasi oleh Ibn Sina, dunia parfum memasuki era baru.

Wewangian kini bukan hanya soal aroma harum, tetapi tentang teknik, budaya, identitas, dan keahlian meracik yang terus berkembang dari generasi ke generasi.

Dari sinilah parfum perlahan berubah menjadi bentuk seni yang mendekati apa yang kita kenal saat ini.

Mesir Kuno dan Lahirnya Wewangian Sakral untuk Para Dewa

Mesir Kuno dan Lahirnya Wewangian Sakral untuk Para Dewa

Kediri – Jika pada awalnya manusia mengenal wewangian dari asap kayu dan getah yang dibakar, maka di tangan bangsa Mesir Kuno, wewangian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Aroma harum bukan lagi sekadar bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi telah menjadi simbol spiritualitas, kekuasaan, kesehatan, dan kemewahan.

Peradaban Ancient Egypt atau Mesir Kuno menjadi salah satu tonggak paling penting dalam sejarah dunia parfum. Di sinilah wewangian mulai diolah dengan lebih serius menggunakan minyak, bunga, rempah, resin, dan berbagai bahan aromatik lainnya.

Bagi orang Mesir, aroma harum bukan hanya untuk dinikmati manusia. Aroma adalah sesuatu yang suci.

Mesir Kuno dan Hubungannya dengan Aroma Harum

Bangsa Mesir hidup sangat dekat dengan ritual, simbol, dan kepercayaan spiritual. Hampir setiap aspek kehidupan mereka—dari kelahiran hingga kematian—memiliki unsur religius yang kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan berbagai bahan aromatik seperti:

  • Kemenyan
  • Myrrh (mur)
  • Kayu aromatik
  • Bunga-bungaan
  • Resin pohon

Bahan-bahan ini didapat melalui perdagangan dengan wilayah Afrika, Arab, dan kawasan Asia Barat. Mesir menjadi salah satu pusat perdagangan bahan wewangian terbesar pada zamannya.

Tak heran jika bangsa Mesir dianggap sebagai salah satu peradaban pertama yang benar-benar memuliakan aroma.

Wewangian dalam Ritual Keagamaan

Di Mesir Kuno, wewangian memiliki peran yang sangat besar dalam ritual keagamaan. Para pendeta membakar dupa dan bahan aromatik di kuil setiap hari sebagai persembahan kepada para dewa.

Mereka percaya bahwa aroma harum adalah sesuatu yang disukai para dewa. Asap wangi yang naik ke udara dianggap sebagai medium penghubung antara manusia dan dunia ilahi.

Penggunaan wewangian dalam ritual biasanya memiliki tujuan:

  1. Menghormati para dewa
  2. Menyucikan ruang ibadah
  3. Menciptakan suasana sakral
  4. Mengiringi doa dan persembahan

“Perfume of the gods was considered sacred in ancient Egypt.”

Bahkan beberapa kuil memiliki ruangan khusus untuk menyimpan bahan-bahan aromatik yang dianggap sangat berharga.

Lahirnya Minyak Aromatik

Salah satu inovasi terbesar bangsa Mesir adalah pengembangan minyak aromatik. Karena teknologi distilasi modern belum ada, mereka belum membuat parfum berbasis alkohol seperti saat ini.

Sebagai gantinya, bangsa Mesir mencampurkan bahan aromatik ke dalam minyak atau lemak.

Proses sederhananya meliputi:

  1. Merendam bunga, rempah, atau resin ke dalam minyak
  2. Membiarkan aroma menyatu perlahan
  3. Menggunakan hasilnya sebagai minyak wangi tubuh

Minyak aromatik ini dipakai untuk berbagai kebutuhan, mulai dari ritual keagamaan, perawatan tubuh, hingga kecantikan.

Bagi kalangan bangsawan, minyak wangi adalah simbol status sosial. Semakin mahal bahan aromatiknya, semakin tinggi pula prestise pemiliknya.

Wewangian dalam Mumi dan Proses Pengawetan

Salah satu penggunaan wewangian yang paling unik di Mesir Kuno adalah dalam proses pembuatan mumi.

Bangsa Mesir percaya bahwa tubuh harus diawetkan dengan baik agar jiwa dapat menjalani kehidupan setelah kematian. Karena itu, proses mumifikasi dilakukan dengan sangat teliti.

Dalam proses ini, bahan aromatik memiliki peran penting.

  • Membantu mengurangi bau pembusukan
  • Membantu proses pengawetan tubuh
  • Memberikan penghormatan kepada orang yang meninggal

Resin, minyak aromatik, dan rempah-rempah digunakan selama proses pembungkusan tubuh. Aroma harum menjadi bagian dari penghormatan terakhir sekaligus simbol kesucian.

Di sini kita bisa melihat bahwa bagi bangsa Mesir, wewangian tidak hanya terkait kehidupan, tetapi juga kematian.

Cleopatra dan Simbol Kemewahan Aroma

Ketika berbicara tentang wewangian di Mesir Kuno, sulit untuk tidak menyebut nama Cleopatra.

Cleopatra dikenal bukan hanya karena kecerdasannya dan kekuatan politiknya, tetapi juga karena citranya yang lekat dengan kemewahan, kecantikan, dan aroma harum.

Banyak kisah menggambarkan bagaimana Cleopatra menggunakan wewangian sebagai bagian dari identitas dan strategi diplomasi.

Konon, ia menggunakan minyak wangi dalam jumlah besar pada tubuh, pakaian, bahkan ruangannya. Beberapa cerita legendaris menyebutkan kapal Cleopatra dapat tercium aromanya bahkan sebelum kapal itu terlihat dari kejauhan.

“Her perfume announced her arrival before she appeared.”

Terlepas dari unsur dramatis dalam cerita tersebut, satu hal jelas: pada masa Cleopatra, wewangian telah berkembang menjadi simbol kemewahan dan kekuasaan.

Warisan Mesir Kuno bagi Dunia Parfum

Mesir Kuno membawa dunia wewangian ke level yang benar-benar baru. Mereka mengubah aroma dari sekadar pengalaman indera menjadi bagian dari agama, budaya, kesehatan, dan identitas sosial.

Dari ritual kuil hingga istana Cleopatra, wewangian telah menjadi bagian penting dari kehidupan Mesir.

Warisan inilah yang kemudian memengaruhi banyak peradaban setelahnya—mulai dari Yunani, Romawi, hingga dunia modern.

Jika manusia purba memulai kisah wewangian dari asap kayu, maka bangsa Mesirlah yang mengubahnya menjadi seni dan simbol peradaban.

Dari Asap Kayu hingga Aroma Harum, Awal Mula Manusia Menyukai Wewangian

Dari Asap Kayu hingga Aroma Harum, Awal Mula Manusia Menyukai Wewangian

Kediri – Hari ini parfum, pengharum ruangan, sabun wangi, hingga aroma terapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang memakai wewangian untuk tampil lebih percaya diri, merasa nyaman, atau sekadar menikmati aroma yang disukai. Namun, pernahkah kita bertanya, sejak kapan manusia mulai menyukai wewangian?

Jawabannya jauh lebih tua dari yang banyak orang bayangkan. Kecintaan manusia terhadap aroma harum bukanlah hal modern. Hubungan manusia dengan wewangian kemungkinan sudah dimulai sejak ribuan, bahkan ratusan ribu tahun lalu—ketika manusia pertama kali mengenal api.

1. Penemuan Api Menjadi Awal Segalanya

Penemuan api adalah salah satu titik balik terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Api memberi kehangatan, perlindungan dari hewan buas, serta memungkinkan manusia memasak makanan. Namun tanpa disadari, api juga memperkenalkan manusia pada dunia aroma.

Saat kayu dibakar, manusia purba mulai mencium berbagai jenis bau yang muncul dari api. Ada aroma kayu yang hangat, bau daun kering yang khas, hingga asap yang terasa menenangkan. Tidak semua bau dari pembakaran terasa menyenangkan, tetapi dari situlah manusia mulai belajar bahwa benda berbeda menghasilkan aroma berbeda.

Pengalaman sederhana ini kemungkinan menjadi langkah awal manusia mengenal konsep aroma harum dan tidak harum.

“Penguasaan terhadap api tidak hanya mengubah cara manusia bertahan hidup, tetapi juga cara mereka berinteraksi dengan lingkungan.”

2. Aroma dari Kayu dan Getah Mulai Menarik Perhatian

Seiring waktu, manusia mulai menyadari bahwa beberapa jenis kayu atau getah menghasilkan aroma yang jauh lebih menarik ketika dibakar.

Misalnya:

  • Kayu tertentu menghasilkan aroma hangat dan lembut.
  • Getah pohon menghasilkan asap yang manis dan pekat.
  • Daun atau tanaman tertentu memberi wangi segar.

Dari sini, manusia kemungkinan mulai sengaja memilih bahan-bahan tertentu untuk dibakar, bukan hanya untuk menghasilkan api tetapi juga untuk menikmati aromanya.

Inilah bentuk paling awal dari penggunaan wewangian—sangat sederhana, tetapi menjadi fondasi penting bagi perkembangan parfum di masa depan.

3. Wewangian Menjadi Bagian dari Ritual Awal Manusia

Dalam banyak peradaban kuno, aroma harum kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kesenangan indera. Wewangian mulai memiliki makna spiritual.

Asap harum dari kayu, resin, atau getah sering digunakan dalam ritual keagamaan dan upacara adat. Manusia kuno percaya bahwa asap yang naik ke langit membawa doa, penghormatan, atau pesan kepada kekuatan yang lebih tinggi.

Beberapa fungsi ritual ini antara lain:

  1. Sebagai persembahan kepada dewa atau roh leluhur.
  2. Menciptakan suasana sakral dalam ritual.
  3. Membersihkan tempat dari energi buruk menurut kepercayaan mereka.

Bahkan hingga hari ini, jejak praktik tersebut masih terlihat di banyak budaya melalui dupa, kemenyan, atau kayu aromatik.

Hal ini menunjukkan bahwa aroma sejak lama memiliki hubungan kuat dengan emosi, spiritualitas, dan pengalaman manusia.

4. Fungsi Praktis Wewangian dalam Kehidupan Sehari-hari

Selain fungsi spiritual, manusia juga menemukan manfaat praktis dari aroma tertentu.

Mengurangi Bau Tidak Sedap

Pada masa ketika sanitasi belum berkembang, bau tidak sedap adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Membakar kayu aromatik atau tanaman tertentu membantu menyamarkan bau lingkungan.

Mengusir Serangga

Asap dari tanaman atau getah tertentu ternyata efektif mengusir serangga seperti nyamuk. Ini sangat berguna terutama saat malam hari.

Menciptakan Ketenangan

Tanpa memahami ilmu modern tentang psikologi atau saraf, manusia sejak dulu tampaknya sudah menyadari bahwa aroma tertentu bisa memengaruhi suasana hati. Beberapa aroma terasa menenangkan, membuat rileks, atau membantu tidur lebih nyaman.

Hari ini kita mengenalnya sebagai efek aromaterapi, tetapi praktik dasarnya sudah dilakukan manusia sejak zaman purba.

Awal dari Hubungan Panjang Manusia dan Aroma

Dari api sederhana yang membakar kayu, manusia perlahan belajar mengenali aroma. Dari rasa penasaran, berkembang menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, berubah menjadi ritual, kebutuhan praktis, dan akhirnya bagian dari budaya.

Perjalanan manusia dengan wewangian dimulai bukan dari botol parfum mewah, melainkan dari asap kayu yang perlahan naik ke udara.

Dan dari situlah kisah panjang dunia wewangian benar-benar dimulai.

Kisah seorang apoteker yang tidak sengaja menciptakan korek api modern

Kisah seorang apoteker yang tidak sengaja menciptakan korek api modern

Pada 1826, umat manusia mendapat manfaat dari sebuah peristiwa keberuntungan—atau mungkin kecerobohan—yang kemudian selamanya mengubah cara kita menciptakan cahaya dan panas.

Kisah ini bermula ketika seorang apoteker asal Inggris, John Walker, sedang bereksperimen membuat bahan peledak dengan mencampur bahan kimia. Tanpa dia sengaja, sebuah batang kayu yang dilapisi campuran tersebut menggesek batu di bagian depan perapian dan api langsung menyala.

Walker lahir di kota pelabuhan Stockton-on-Tees, Durham, pada 1781, di tengah Revolusi Industri. Penggeraknya, mesin uap ciptaan James Watt, telah digunakan secara komersial sejak 1776.

Adapun jalur kereta api publik pertama yang menggunakan lokomotif uap mencapai Stockton pada 1825. Empat tahun kemudian, Rocket karya George Stephenson membuktikan bahwa lokomotif uap dapat menarik kereta penumpang dengan kecepatan 50 km/jam. Tak lama berselang, perjalanan yang sebelumnya memakan waktu 12 hari dengan kuda dapat ditempuh hanya dalam delapan jam.

Namun untuk menyalakan api yang menghasilkan tenaga tersebut, orang-orang masih harus bersusah payah menjaga bara tetap menyala.

Penemuan tak sengaja Walker merevolusi produksi, penggunaan, dan kemudahan “membawa” api ke manapun.

Siapa John Walker?

Walker sejatinya merupakan seorang ahli bedah terlatih.

Karena merasa tidak nyaman dengan ruang operasi abad ke-18 yang penuh darah, dia lantas beralih menjadi peracik obat.

Pada 1826, dia menghabiskan sebagian besar waktunya membuat obat untuk manusia, kuda, sapi, dan bahkan ayam, menurut Alan Middleton, penulis A Tale of Hope and Despair: North of England Match Co West Hartlepool 1932–1954.

Namun yang terpenting, Walker juga bereksperimen dengan bahan kimia.

“Walker adalah pria yang cerdas dan sangat baik, dan beberapa orang mengatakan ia mungkin seorang yang nyentrik,” kata Middleton.

“Salah satu kegemarannya adalah kimia. Dia mencampur bahan kimia untuk membuat tutup perkusi [alat yang membuat senjata api bisa ditembakkan] bagi teman-temannya yang petani,” sambungnya.

Bagaimana dia menciptakan korek api?

Menurut Alan MIddleton, korek api diciptakan secara tidak sengaja.

“Suatu hari, ia mencampur suatu komposisi dan membiarkannya mengering. Setelah kering, ia menggesekkan potongan kayu itu di perapian dan menyala,” jelasnya.

“Itulah momen kejeniusan yang belum pernah dilakukan siapa pun di dunia sebelumnya,” imbuhnya.

“Dia menyadari potensi komersialnya. Ini terjadi sekitar tahun 1826. Kami tidak tahu tanggal pastinya, tetapi penjualan pertama terjadi pada April 1827.

“Dia menyebutnya korek gesek dan awalnya dijual dalam jumlah ratusan dalam sebuah kaleng.”

“Friction Lights” buatan Walker berupa batang kayu pipih yang sangat tipis. Setiap ujung batang dicelupkan ke dalam pasta kalium klorat, sulfida antimon, getah arab, dan air.

Ketika dijepit dengan kertas amplas yang dilipat, korek itu akan menyala.

Apakah Walker juga memproduksi massal korek api modern?

Walker merahasiakan formulanya tetapi tidak pernah mematenkannya. Produknya terjangkau dan ia mampu memenuhi permintaan di Stockton.

Namun, menurut Pharmaceutical Journal: “Korek Walker tidak sempurna. Lapisan belerang yang terbakar terkadang terlepas dari batangnya, dengan risiko merusak lantai atau pakaian pengguna.”

Pada 1829, Samuel Jones dari London meluncurkan “Lucifers”, dengan menjiplak Friction Lights buatan Walker.

Lucifers justru yang menjadi korek api pertama yang diproduksi secara massal.

Tak lama kemudian, pihak lain mulai menyempurnakan formulanya, menurut Derek Judd, ketua British Matchbox Label and Bookmatch Society (BML&BS).

Ukuran dan bentuk wadah kaleng juga mengalami perubahan.

Baru pada 1844, korek api moden menjadi populer berkat produksi Swedia.

“Itu adalah kotak korek pertama yang benar-benar dipatenkan,” kata Judd.

Bagaimana Walker dikenang?

Di banyak daerah, pembuatan korek menjadi industri rumahan. Korek api diproduksi di rumah, memberikan tambahan penghasilan yang cukup berisiko bagi keluarga.

“Perempuan dan anak-anak di sekitar pabrik membuat kotak dengan sistem borongan [dibayar berdasarkan jumlah produksi, bukan upah tetap],” kata Judd.

“Kemudian mesin datang dan menjadi bisnis bernilai jutaan dolar.”

Meski demikian, penemuan lain, yakni pemantik rokok, menyebabkan keuntungan korek api menurun signifikan.

“Bisnis ini menyusut selama bertahun-tahun,” kata Judd. “Sejumlah perusahaan menghilang.”

Meski begitu, korek api tetap umum digunakan secara luas. Selain menjadi barang penting, kini juga menjadi aksesori mode, kata Middleton, dengan kemasan khusus yang dijual hingga US$250.

Namun penciptanya tetap kurang dikenal. Baik Middleton maupun Judd sepakat bahwa setelah 200 tahun, Walker layak mendapat pengakuan lebih besar.

“Walker adalah sosok dalam sejarah yang tidak ingin mengejar penemuannya,” kata Judd.

“Seandainya ia melakukannya, ia bisa menjadi terkenal.”

Warga Stockton punya pandangan yang sama.

Banyak yang berharap perayaan 200 tahun korek api modern—yang dimulai pada 29 Mei, hari kelahiran Walker—akhirnya memberikan penghargaan yang layak bagi penemu yang luar biasa ini.

“Kami berharap melalui berbagai acara tahun ini dan tahun depan, lebih banyak orang akan mengetahui perannya dalam mengembangkan korek api sehari-hari yang kita kenal sekarang,” kata pemimpin dewan kota, Lisa Evans.

“Penemuan korek gesek memungkinkan api dibuat seketika, dengan sedikit usaha.

“Penggunaan korek api membuat tugas sehari-hari di lingkungan industri maupun rumah tangga menjadi jauh lebih mudah dan cepat.

“Percikan yang ia ciptakan terus menginspirasi orang hingga saat ini.”

Sumber : https://www.bbc.com/indonesia/articles/cwy2lnk6795o