TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menjadi orangtua yang dekat dengan anak bukan sekadar membuat mereka nyaman bercerita.
Kedekatan dapat menjadi fondasi agar anak memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan perasaan, meminta bantuan, hingga berdiskusi ketika menghadapi masalah.
Namun, menjadi “bestie” bagi anak bukan berarti orangtua harus selalu menuruti keinginan anak atau menghilangkan batas antara orangtua dan anak.
Kedekatan justru perlu dibangun dengan memahami cara anak berpikir, mengenali karakternya, serta menyesuaikan pola komunikasi dengan kebutuhannya.
Praktisi neuroparenting, dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt, CI, mengatakan langkah awal membangun kedekatan adalah memahami bahwa anak memiliki cara berpikir dan merespons lingkungan yang berbeda dengan orang dewasa.
“Kita manusia punya rata-rata neuron atau sel otak sebanyak 100 miliar,” ujar Aisah dalam seminar parenting bertajuk “Maukah Menjadi Orangtua yang Bahagia dan Bestie Anak Kita?” yang digelar SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, anak-anak yang tumbuh di era digital juga menghadapi lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terbiasa mengakses informasi dengan cepat melalui berbagai perangkat dan sumber.
“Sekarang era baru yang lebih canggih. Ibarat komputer, anak zaman sekarang RAM-nya lebih besar. Daya akses mencari data juga lebih cepat,” katanya.
Karena itu, menurut Aisah, pola pengasuhan juga perlu berkembang. Orangtua tidak cukup hanya mengandalkan cara mendidik yang pernah diterima ketika kecil.
Salah satu pendekatan yang perlu dikedepankan adalah komunikasi yang lebih lembut atau soft touch. Anak tetap membutuhkan aturan dan disiplin, tetapi prosesnya tidak harus melalui kekerasan, bentakan atau ancaman.
Kenali Karakter Anak
Aisah juga mengajak orangtua memahami bahwa setiap anak memiliki karakter berbeda sehingga pola pengasuhan tidak bisa diterapkan secara seragam.
Dalam seminar tersebut, orangtua diperkenalkan dengan empat kategori watak, yakni sanguinis, plegmatis, koleris dan melankolis. Peserta juga diajak mengenali kecenderungan kepribadian introvert, ekstrovert atau ambivert.
Pemahaman mengenai karakter dapat membantu orangtua melihat perilaku anak dari sudut pandang yang berbeda.
Anak yang banyak berbicara, misalnya, belum tentu sekadar “cerewet”. Begitu pula anak yang lebih banyak diam belum tentu tidak memiliki pendapat.
“Mengenali karakter bukan berarti memberikan label permanen kepada anak. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi pijakan bagi orangtua untuk menemukan cara komunikasi yang lebih sesuai,” kata Aisyah.
Tetap Ada Batasan
Menjadi “bestie” dalam pengasuhan bukan berarti orangtua berubah menjadi teman sebaya anak.
Orangtua tetap memiliki tanggung jawab menetapkan batasan, mengajarkan konsekuensi dan membantu anak memahami mana yang baik dan tidak baik.
Kedekatan justru akan lebih sehat jika berjalan bersama batasan yang jelas. Orangtua dapat memulainya dengan mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi, menanyakan perasaannya, menghargai pendapat, dan memberikan ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan.
“Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua juga dapat membuka dialog melalui pertanyaan seperti, “Menurut kamu, apa yang terjadi?” atau “Kalau kejadian ini terulang, apa yang bisa kamu lakukan berbeda?,” katanya.
Dengan cara tersebut, disiplin tetap berjalan tanpa membuat anak merasa hubungan dengan orangtuanya terancam ketika melakukan kesalahan.
Kepala SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Manar Imam Muhammadi, mengatakan kegiatan parenting penting karena membangun kedekatan dengan anak tidak selalu mudah.
“Parenting ini sangat bermanfaat, terutama bagi orangtua yang ingin menjadi bestie bagi anaknya,” ujar Manar.
Ketua Komite SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Indah Chairun Nisa, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari upaya mendampingi orangtua dalam membimbing anak.
“Ini sebagai bentuk komitmen untuk selalu membersamai orangtua murid SD Muhammadiyah 5 untuk menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam membimbing buah hati,” kata Indah.




