Inilah Alasan Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal Mulai Oktober 2026

Inilah Alasan Barang Gunaan Wajib Bersertifikat Halal Mulai Oktober 2026

Perbincangan mengenai sertifikasi halal selama ini hampir selalu identik dengan makanan dan minuman.

Padahal, memasuki 17 Oktober 2026, cakupan kewajiban sertifikasi halal akan meluas ke sejumlah kategori barang gunaan, mulai dari pakaian, alat masak, botol minum, alat tulis, perlengkapan ibadah, hingga berbagai produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perluasan ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa barang yang tidak dikonsumsi juga harus bersertifikat halal? Apakah kebijakan tersebut sekadar mengikuti perkembangan industri halal global, atau memang memiliki landasan syariat dan pertimbangan ilmiah yang kuat?

Di balik kebijakan tersebut, terdapat satu aspek yang selama ini jarang menjadi perhatian publik, yakni potensi kontaminasi unsur najis dalam rantai produksi industri barang gunaan.

Inilah alasan strategis yang menjadi dasar lahirnya kebijakan sertifikasi halal pada kelompok produk tersebut.

Mengutip Jurnal Halal LPPOM, sertifikasi halal pada barang gunaan bukan sekadar mengikuti perkembangan pasar.

Kebijakan ini lahir sebagai upaya menjaga kehalalan produk dari potensi kontaminasi najis sepanjang proses produksi hingga digunakan oleh konsumen, sehingga memberikan kepastian dan ketenangan bagi umat Islam dalam menjalankan syariat.

Perspektif tersebut menunjukkan konsep halal tidak berhenti pada makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Dalam ajaran Islam, menjaga diri dari najis merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah. Karena itu, suatu produk dinilai bukan hanya dari fungsi akhirnya, tetapi juga dari seluruh proses pembuatannya.

Dalam Islam, konsep halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup upaya menjaga diri dari najis.

Karena itu, kehalalan suatu produk tidak dapat dipisahkan dari proses produksi, bahan yang digunakan, hingga kemungkinan terjadinya kontaminasi selama proses pengolahan.

Kontaminasi yang tak Terlihat

Salah satu isu yang selama ini kurang dipahami masyarakat adalah penggunaan bahan turunan hewan dalam industri manufaktur modern.

Banyak orang mengira persoalan halal hanya berkaitan dengan bahan makanan, padahal sejumlah komponen industri juga berpotensi menggunakan material yang berasal dari unsur haram atau najis.

Dalam fiqih, najis dibagi menjadi tiga kategori, yakni najis ringan (mukhaffafah), najis sedang (mutawassithah), dan najis berat (mughalladhah). Masing-masing memiliki tata cara penyucian yang berbeda.

Najis berat, seperti babi, anjing, dan turunannya, menjadi salah satu perhatian dalam proses produksi barang gunaan.

Pasalnya, bahan turunan babi dapat ditemukan pada berbagai komponen industri, seperti gelatin, enzim, lemak, hingga senyawa kimia yang digunakan dalam pelumas mesin, bahan plastik, pewarna tekstil, maupun perekat.

Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya kontaminasi pada barang yang digunakan sehari-hari.

Artinya, persoalan halal pada barang gunaan bukan semata-mata melihat apakah produk tersebut mengandung bahan haram sebagai komponen utama.

Hal yang menjadi perhatian adalah seluruh mata rantai produksi, termasuk bahan penolong, pelumas mesin, perekat, hingga fasilitas produksi yang digunakan.

Karena itu, sertifikasi halal pada barang gunaan tidak hanya berfokus pada bahan utama produk, tetapi juga mencakup penelusuran asal bahan, bahan penolong, fasilitas produksi, serta penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).

Seluruh tahapan tersebut bertujuan memastikan produk yang digunakan masyarakat bebas dari unsur najis dan memenuhi ketentuan halal.

Tidak Semua Barang Wajib Bersertifikat Halal

Di tengah berkembangnya berbagai informasi di media sosial, muncul anggapan seluruh produk nantinya harus memiliki sertifikat halal. Padahal, ketentuan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 741 Tahun 2021 yang kemudian disempurnakan dengan KMA Nomor 944 Tahun 2024 telah menetapkan secara spesifik kelompok barang gunaan yang wajib memiliki sertifikat halal.

Kelompok tersebut meliputi sandang, penutup kepala, aksesori, peralatan rumah tangga, alat kesehatan, perlengkapan ibadah, alat tulis kantor, kemasan produk, serta bahan penyusun barang gunaan.

Sebaliknya, produk di luar kelompok tersebut, seperti kendaraan maupun peralatan pertukangan, tidak termasuk kategori wajib bersertifikat halal selama tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan konsumsi maupun penggunaan yang bersentuhan dengan kepentingan umat.

Dengan demikian, kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk mewajibkan seluruh barang memiliki sertifikat halal, melainkan diterapkan pada kelompok produk yang telah ditetapkan dalam regulasi.

Momentum Besar Industri Halal Nasional

Batas waktu implementasi pada 17 Oktober 2026 menjadi tonggak penting bagi industri halal Indonesia.

Pada tanggal yang sama, kewajiban sertifikasi halal juga mulai berlaku bagi sejumlah kategori lain, seperti kosmetik, sebagian jenis obat, produk impor, serta produk usaha mikro dan kecil (UMK).

Bagi pelaku usaha, momentum ini bukan hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi.

Sertifikasi halal juga menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, memperkuat daya saing produk, sekaligus membuka akses menuju pasar halal global yang nilainya terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, bagi masyarakat, sertifikasi halal pada barang gunaan memberikan kepastian bahwa produk yang digunakan sehari-hari telah melalui proses pemeriksaan yang mempertimbangkan aspek bahan, proses produksi, hingga potensi kontaminasi najis.

Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak sekadar menghadirkan label halal, melainkan membangun ekosistem industri yang memberikan jaminan kepastian hukum, perlindungan konsumen, sekaligus ketenangan dalam menjalankan syariat Islam.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/halal-living/inilah-alasan-barang-gunaan-wajib-bersertifikat-halal-mulai-oktober-2026

VASA Hotel Surabaya Hadirkan AYCE Gochisō Yakiniku Grill, Nikmati Yakiniku Premium Mulai Rp498 Ribu

VASA Hotel Surabaya Hadirkan AYCE Gochisō Yakiniku Grill, Nikmati Yakiniku Premium Mulai Rp498 Ribu

Surabaya (beritajatim.com) – VASA Hotel Surabaya menghadirkan pengalaman kuliner baru melalui promo All You Can Eat (AYCE) Gochisō Yakiniku Grill di Nagano Restaurant. Mengusung konsep panggangan ala Jepang, program ini menawarkan beragam pilihan daging premium dan hidangan khas Negeri Sakura dalam suasana restoran yang modern.

Konsep gochisō, yang berarti jamuan istimewa, menjadi tema utama dalam promo tersebut. Para tamu dapat memanggang sendiri berbagai pilihan daging sapi, ayam, hingga makanan laut segar sesuai selera.

General Manager VASA Hotel Surabaya, Eko Setiawan Winarto, mengatakan program ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman bersantap yang menggabungkan kualitas bahan baku, kenyamanan, serta pelayanan khas hotel berbintang.

“Kami menghadirkan pengalaman yakiniku yang memadukan kualitas bahan, kenyamanan, dan standar layanan hotel kami,” ujar Eko Setiawan Winarto, Senin (20/7/2026).

Selain menu utama berupa yakiniku, pengunjung juga dapat menikmati beragam hidangan pendamping. Pilihan menu meliputi sushi, sashimi, tempura, mi ramen, hingga aneka hidangan penutup yang melengkapi pengalaman makan sepuasnya.

Menurut Eko, bersantap bersama bukan hanya soal menikmati makanan, tetapi juga menciptakan momen kebersamaan yang berkesan.

“Bersantap bukan hanya tentang mencicipi makanan. Ini juga tentang ruang untuk menciptakan momen kebersamaan yang berkesan bagi setiap tamu,” katanya.

Nagano Restaurant juga mengusung desain interior bernuansa Jepang modern yang dirancang untuk menghadirkan suasana nyaman. Konsep tersebut dinilai cocok untuk berbagai kesempatan, mulai dari makan siang bersama rekan kerja hingga perayaan bersama keluarga.

Promo Gochisō Yakiniku Grill ditawarkan dengan harga mulai Rp498.000++ per orang. Penawaran ini tersedia setiap Jumat malam, Sabtu sepanjang hari, serta Minggu siang.

Manajemen VASA Hotel Surabaya juga memberikan berbagai keuntungan tambahan berupa diskon hingga 30 persen bagi pemegang kartu bank mitra. Potongan harga serupa juga dapat dinikmati oleh anggota VASA Privilege serta tamu yang menginap di hotel.

Sumber : https://beritajatim.com/vasa-hotel-surabaya-hadirkan-ayce-gochiso-yakiniku-grill-nikmati-yakiniku-premium-mulai-rp498-ribu

Kemenperin Percepat Hilirisasi Singkong Perkuat Industri Pangan Nasional

Kemenperin Percepat Hilirisasi Singkong Perkuat Industri Pangan Nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat hilirisasi komoditas berbasis agro sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal sekaligus memperkuat daya saing industri pangan nasional.

Salah satu komoditas yang menjadi prioritas adalah singkong yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari tepung tapioka, Modified Cassava Flour (MOCAF), pati termodifikasi, glukosa, sorbitol hingga beragam produk turunan lainnya yang dibutuhkan sektor industri.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, hilirisasi singkong memiliki peran penting dalam mendukung agenda penganekaragaman pangan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

“Hilirisasi dan penganekaragaman pangan bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam mewujudkan industri pangan nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Faisol, dikutip dari siaran persnya, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut Faisol, pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk memastikan hilirisasi singkong berjalan secara optimal.

“Sudah ada kebijakan yang menjadi instrumen penting untuk melindungi industri singkong nasional sekaligus menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan di dalam negeri,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat perlindungan industri singkong melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta mekanisme persetujuan impor berbasis pertimbangan teknis.

Berbagai kebijakan tersebut dirancang dengan pendekatan keterkaitan hulu-hilir (backward dan forward linkages) sehingga mampu menciptakan rantai nilai industri yang lebih kuat serta memanfaatkan keunggulan komparatif daerah melalui pengembangan kawasan sentra produksi pangan.

“Regulasi yang baik harus diikuti dengan peningkatan kapasitas industri. Oleh karena itu, kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi produksi modern menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri pangan nasional,” pungkas Faisol.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tjy4gul-kemenperin-percepat-hilirisasi-singkong-perkuat-industri-pangan-nasional

Suhu Minus Nol Derajat di Dieng Lebih Sering Terjadi Tahun Ini, BMKG Ingatkan Wisatawan

Suhu Minus Nol Derajat di Dieng Lebih Sering Terjadi Tahun Ini, BMKG Ingatkan Wisatawan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berpotensi lebih sering terjadi selama musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dari dua tahun sebelumnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Guruh Tjiptanto mengatakan suhu nol derajat Celsius atau bahkan minus yang kerap dilaporkan saat embun upas muncul bukan merupakan suhu udara, melainkan suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus.

“Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput,” ujar Guruh saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu (18/7/2026).

Di Bawah Kondisi Normal

Selanjutnya Guruh menerangkan, peluang munculnya embun upas akan semakin besar apabila sifat musim kemarau lebih kering atau berada di bawah kondisi normal.

“Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya,” kata dia.

Ia juga menjelaskan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan kondisi kering masih berlanjut hingga September.

Oleh karena itu, peluang terbentuknya embun upas diprakirakan meningkat pada periode tersebut.

Menurut Guruh, musim kemarau 2026 diprakirakan lebih dingin dibandingkan musim kemarau 2025 maupun 2024, bahkan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan musim kemarau 2023 yang juga ditandai kemunculan embun upas di kawasan Dieng.

“Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September ‘mbediding’ (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa,” katanya.

Persiapkan Diri

Lebih jauh Guruh mengimbau wisatawan yang ingin menyaksikan embun upas mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian berlapis (layering system), mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal tahan angin agar tetap hangat selama berada di kawasan Dieng.

Selain itu, wisatawan disarankan menggunakan kupluk yang menutup telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu yang nyaman, serta memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat.

Bagi yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin, diminta membawa obat-obatan pribadi atau inhaler.

Ia juga mengingatkan udara pegunungan pada musim kemarau sangat kering sehingga pengunjung dianjurkan membawa pelembap kulit dan pelembap bibir untuk mencegah kulit maupun bibir pecah-pecah.

“Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi,” ungkap Guruh menambahkan.

Sumber : https://www.inilah.com/suhu-minus-nol-derajat-di-dieng-lebih-sering-terjadi-tahun-ini-bmkg-ingatkan-wisatawan

Ramai-Ramai Kembali ke Perpustakaan

Ramai-Ramai Kembali ke Perpustakaan

Liputan6.com, Jakarta – Minat masyarakat terhadap Perpustakaan Jakarta terus menunjukkan tren peningkatan. Hal itu tercermin dari tingginya angka kunjungan sepanjang Semester I 2026 hingga antusiasme warga yang langsung memenuhi kuota kegiatan Night at the Library (NATL) dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat, 17 Juli 2026 malam.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono mengatakan, ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Menurut dia, perpustakaan kini tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial.

“Ekosistem literasi di Jakarta terus berkembang. Perpustakaan kini tak lagi sekadar menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berkumpul, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring sosial,” tutur Nasruddin, Sabtu (18/7/2026), seperti dilansir dari Antara.

Ia berharap, Perpustakaan Jakarta dapat terus menjadi inovasi layanan yang menghadirkan konsep third place atau ruang ketiga bagi masyarakat.

Nasruddin menjelaskan, HUT ke-4 Perpustakaan Jakarta yang diperingati pada 7 Juli 2026 bertepatan dengan peluncuran Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu yang telah diresmikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Menurut dia, kehadiran perpustakaan baru tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang bahkan mampu menarik sekitar 1.000 pengunjung setiap hari.

“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Jakarta terus meningkat,” jelas dia.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dalam penyelenggaraan Night at the Library. Seluruh kuota peserta sebanyak 800 orang habis hanya sesaat setelah pendaftaran dibuka.

Data Peningkatan Minat

Data Dispusip DKI Jakarta mencatat, sepanjang Semester I 2026, Perpustakaan Jakarta menerima 320.352 kunjungan atau rata-rata sekitar 13 ribu pengunjung setiap pekan. Sementara sejak kembali dibuka hingga memasuki usia empat tahun, jumlah kunjungan telah mencapai sekitar 1,96 juta orang.

“Angka ini menunjukkan bahwa perpustakaan semakin diterima sebagai ruang publik yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdiskusi, berkarya, dan membangun jejaring,” ungkap Nasruddin.

Nasruddin menambahkan, penguatan budaya literasi menjadi bagian penting dalam menyongsong 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui ruang-ruang literasi yang terbuka dan inklusif.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin, Diki Lukman Hakim mengatakan, transformasi layanan perpustakaan bertujuan memperkuat perannya sebagai third place atau ruang ketiga yang nyaman bagi masyarakat.

“Kami berharap transformasi layanan ini dapat memantapkan peran Perpustakaan Jakarta sebagai ruang ketiga tempat interaksi sosial yang inklusif, nyaman, dan hidup di luar rumah serta tempat kerja,” ujarnya.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim mengapresiasi inovasi layanan yang terus dilakukan Dispusip DKI Jakarta. Menurut dia, perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi ruang publik yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan kreativitas, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

”Kami berharap, program seperti Night at the Library terus digelar agar Perpustakaan Jakarta semakin menjadi pusat literasi, kreativitas, pengembangan sumber daya manusia, sekaligus ruang kolaborasi yang memperkuat interaksi sosial masyarakat Jakarta,” Ali menandaskan.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/8249057/ramai-ramai-kembali-ke-perpustakaan

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Di banyak negara, bantuan pangan masih identik dengan pembagian sembako atau dapur umum saat terjadi bencana. Namun Dubai memilih pendekatan berbeda.

Kota Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di Jazirah Arab dan terkenal sebagai pusat modernitas ini membangun sebuah sistem yang memungkinkan masyarakat memperoleh makanan pokok kapan saja melalui teknologi, tanpa antre, tanpa birokrasi, dan tetap menjaga martabat penerima manfaat.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Bread for All, sebuah inisiatif kemanusiaan yang digagas oleh Penguasa Dubai, Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Program tersebut menghadirkan mesin pintar yang memproduksi roti segar selama 24 jam dan dapat diakses secara gratis oleh warga yang membutuhkan.

Berbeda dengan bantuan sosial konvensional yang bersifat insidental, Bread for All dirancang sebagai model filantropi yang berkelanjutan.

Teknologi ditempatkan sebagai penghubung antara para dermawan dan masyarakat yang membutuhkan, sehingga bantuan dapat terus mengalir tanpa bergantung pada momentum tertentu.

Syekh Mohammed ingin memastikan kebutuhan paling mendasar masyarakat tetap terpenuhi. Dia tak ingin ada warga Dubai yang tidur dalam keadaan lapar.

Dilansir dari Khaleej Times, Selasa (14/7/2026), melalui yayasannya, The Mohammed bin Rashid Global Centre for Endowment Consultancy (MBRGCEC), ia meluncurkan Bread for All sebagai bagian dari visi membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Menurut laporan itu, inisiatif digital tersebut telah diluncurkan sejak 2022. Mesin pintar Bread for All memproduksi roti segar yang dapat diambil secara gratis sebagai bagian dari model kerja amal modern dan berkelanjutan. Mesin-mesin itu ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Dubai.

Sedekah tak Lagi Sekadar Memberi, tetapi Membangun Sistem

Keunikan Bread for All bukan hanya pada mesin pembuat rotinya. Program tersebut juga membuka ruang partisipasi publik.

Siapa pun dapat menyumbang langsung melalui mesin tersebut atau bahkan berkontribusi menghadirkan mesin baru di lokasi lain. Dengan demikian, setiap mesin bukan sekadar tempat mengambil roti, melainkan menjadi simpul filantropi yang terus bergerak.

Pendekatan seperti ini menunjukkan perubahan besar dalam praktik wakaf dan sedekah di era digital. Jika selama ini donasi umumnya diberikan secara langsung kepada penerima, kini teknologi memungkinkan bantuan dikelola sebagai sistem yang bekerja sepanjang waktu.

Visi besar itu sejalan dengan pesan yang disampaikan Syekh Mohammed pada awal pandemi COVID-19. Proyek itu mewujudkan visi Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA dan Penguasa Dubai, yang menekankan bahwa ‘Di UEA, tidak seorang pun tidur dalam keadaan lapar atau kekurangan’ pada awal pandemi COVID-19.”

Wakaf Produktif Berbasis Teknologi

Direktur MBRGCEC, Zainab Juma Al Tamimi, menegaskan Bread for All merupakan bagian dari pengembangan model wakaf yang mampu menjawab tantangan sosial masa depan.

“Wakaf inovatif adalah alat yang berkontribusi pada pembangunan sosial-ekonomi. Masyarakat Emirat adalah masyarakat yang simpatik, dan kami ingin mengembangkan solusi untuk masa depan yang lebih baik dan orang-orang lebih bahagia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan wakaf tidak lagi dipandang sebatas pembangunan masjid atau fasilitas pendidikan, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan perlindungan sosial.

Dalam konteks ini, mesin roti pintar menjadi aset wakaf produktif yang manfaatnya terus mengalir kepada masyarakat setiap hari.

MBRGCEC juga menyebut Bread for All sebagai inisiatif pertama yang menerapkan konsep short-term community funding, yaitu pendanaan gotong royong masyarakat yang langsung dihubungkan dengan layanan sosial.

Selain melalui mesin, masyarakat dapat berdonasi menggunakan aplikasi Dubai Now, layanan pesan singkat (SMS), maupun situs resmi MBRGCEC dengan nominal sesuai kemampuan.

Pendekatan tersebut membuat setiap warga dapat menjadi bagian dari solusi tanpa harus menjadi donatur besar. Dengan kata lain, teknologi menghilangkan jarak antara pemberi dan penerima manfaat.

Sekretaris Jenderal Awqaf and Minors Affairs Foundation (AMAF), Ali Al Mutawa, menilai Bread for All merupakan contoh baru pengelolaan wakaf yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Inisiatif tersebut, lanjutnya, merupakan model teladan bagi wakaf komunitas yang inovatif yang memungkinkan semua orang berpartisipasi, menciptakan gerakan amal yang menyeluruh serta memperkuat semangat solidaritas di berbagai lapisan masyarakat.

“Kami berharap dapat memperluas kerja sama dengan para mitra agar manfaatnya menjangkau lebih banyak penerima,” ujarnya.

Menjaga Martabat Penerima Bantuan

Bread for All bekerja sama dengan jaringan supermarket Aswaaq untuk memasang mesin roti pintar di sejumlah cabang, seperti Al Mizhar, Al Warqa’a, Mirdif, Nad Alsheba, Nadd Al Hamar, Al Qouz, dan Al Bada’a.

Mesin tersebut dirancang sederhana dan mudah digunakan. Pengguna cukup menekan tombol pemesanan, kemudian mesin akan memanggang roti hangat dan mengeluarkannya beberapa saat kemudian.

Selain di supermarket, layanan ini juga tersedia di sejumlah masjid. Menurut Dubai Scoops, roti segar tersedia selama 24 jam bagi masyarakat yang memenuhi syarat.

Hanya dengan memindai Kartu Identitas Emirates mereka di supermarket dan masjid-masjid terpilih yang berpartisipasi, warga bisa mengambil roti harian mereka dengan mudah, pribadi, dan bermartabat.

Aspek terakhir itulah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Program ini tidak hanya memastikan bantuan tersedia, tetapi juga menjaga harga diri penerimanya. Mereka tidak perlu mengantre panjang atau memperlihatkan kondisi ekonominya di depan publik.

Deputi CEO Aswaaq, Affan Khouri, menyebut Bread for All sebagai bagian dari pembangunan social safety net atau jaring pengaman sosial.

“Kami senang dapat bermitra dengan MBRGCEC dalam inisiatif Bread for All yang menciptakan jaring pengaman sosial, di mana semua orang dapat bekerja sama untuk membantu keluarga kurang mampu, individu, dan para pekerja. Kami berharap dapat menyediakan roti bagi mereka yang membutuhkan di sejumlah cabang supermarket di seluruh Dubai,” pungkasnya.

Konsep jaring pengaman sosial inilah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Bantuan tidak hadir sebagai respons terhadap krisis semata, melainkan sebagai layanan permanen yang selalu tersedia.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi negara-negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia, Bread for All menawarkan pelajaran penting. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf nasional sangat besar, tetapi efektivitas distribusi masih menjadi tantangan.

Model yang dikembangkan Dubai memperlihatkan teknologi dapat mengubah filantropi dari sekadar kegiatan karitatif menjadi infrastruktur sosial yang bekerja tanpa henti.

Jika konsep serupa diterapkan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga zakat, badan wakaf, pelaku usaha, dan komunitas, bukan tidak mungkin mesin-mesin pangan berbasis wakaf produktif dapat hadir di kawasan padat penduduk, kampus, rumah sakit, terminal, hingga masjid-masjid besar di Indonesia.

Dengan demikian, filantropi Islam tidak lagi berhenti pada pemberian bantuan sesaat, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Bread for All pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang roti gratis. Program ini merupakan contoh bagaimana kepemimpinan, teknologi, dan nilai-nilai Islam dipadukan menjadi sistem ketahanan pangan yang menjaga martabat manusia sekaligus memperkuat budaya berbagi di tengah masyarakat modern.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/berbagi/emir-dubai-bangun-mesin-roti-gratis-24-jam-ubah-sedekah-jadi-sistem-ketahanan-pangan

Prancis Segera Legalkan Aturan Pasien Akhiri Hidup Secara Medis

Prancis Segera Legalkan Aturan Pasien Akhiri Hidup Secara Medis

Liputan6.com, Paris – Prancis semakin dekat menjadi salah satu negara yang melegalkan hak untuk meninggal dengan bantuan medis (assisted dying) setelah parlemen menyetujui rancangan undang-undang yang didukung Presiden Emmanuel Macron.

Jika nantinya disahkan oleh Dewan Konstitusi, regulasi tersebut akan menjadi salah satu reformasi sosial terbesar di negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (17/7/2026), Macron sebelumnya berjanji akan mendorong lahirnya undang-undang mengenai assisted dying setelah kembali terpilih sebagai presiden untuk masa jabatan kedua pada 2022. Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu perubahan sosial paling signifikan sejak Prancis melegalkan pernikahan sesama jenis pada 2012.

Melalui unggahan di platform X, Macron menyatakan bahwa komitmen yang ia buat kepada rakyat Prancis akhirnya berhasil diwujudkan.

“Saya berjanji pada 2022 untuk membuka jalan ini bersama rakyat Prancis. Dengan keseriusan, kerendahan hati, dan penghormatan penuh terhadap demokrasi, komitmen itu kini telah dipenuhi,” tulis Macron.

Apabila Dewan Konstitusi menyatakan undang-undang tersebut sesuai dengan konstitusi, Prancis akan bergabung dengan sejumlah negara seperti Belanda, Belgia, Swiss, dan Kanada yang telah lebih dulu melegalkan assisted dying.

Rancangan undang-undang tersebut sebelumnya lolos dengan mudah di Majelis Nasional. Namun, Senat yang didominasi partai-partai konservatif menolaknya. Meski demikian, pemerintah memanfaatkan ketentuan konstitusi yang memungkinkan Majelis Nasional memberikan persetujuan akhir tanpa harus memperoleh restu dari Senat.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu kemudian meminta Dewan Konstitusi untuk meninjau kembali isi undang-undang tersebut sebelum resmi diberlakukan. Pemerintah menilai minimnya pembahasan di Senat membuat naskah akhir belum sepenuhnya mengakomodasi aspirasi para pendukung maupun kekhawatiran pihak yang menolak penerapannya.

Dewan Konstitusi memiliki kewenangan untuk menyatakan suatu undang-undang sah atau tidak. Dalam kondisi tertentu, lembaga tersebut bahkan dapat membatalkan seluruh isi undang-undang atau memberikan catatan terhadap pasal-pasal tertentu.

Sejumlah tokoh dari Partai Republik yang menguasai Senat tetap menentang kebijakan tersebut. Di antaranya Ketua Senat Gerard Larcher dan mantan Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau yang sejak awal menyuarakan penolakan terhadap legalisasi assisted dying.

Siapa yang Berhak Mengajukan?

Undang-undang ini memberikan hak untuk mengakhiri hidup dengan bantuan medis kepada orang dewasa yang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Pemohon harus mampu menyampaikan keinginannya secara bebas dan sadar, serta mengalami penderitaan fisik yang berat. Rasa sakit tersebut harus tidak lagi dapat diatasi melalui pengobatan atau dianggap tidak tertahankan oleh pasien, termasuk jika pasien memilih menghentikan atau menolak pengobatan.

Seorang dokter akan memverifikasi apakah pasien memenuhi seluruh persyaratan. Setelah itu, sebuah panel akan melakukan penilaian sebelum dokter mengambil keputusan akhir. Pasien juga berhak membatalkan persetujuannya kapan saja sebelum prosedur dilakukan.

Dalam pelaksanaannya, pasien diwajibkan memberikan sendiri obat yang mengakhiri hidupnya. Namun, bagi pasien yang secara fisik tidak mampu melakukannya, tenaga kesehatan dapat memberikan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.

Agnes Firmin Le Bodo, anggota parlemen dari kubu tengah-kanan sekaligus mantan Menteri Kesehatan yang ikut menyusun rancangan undang-undang tersebut pada 2024, menilai regulasi ini akan disahkan karena telah disusun secara seimbang dan mempertimbangkan berbagai kepentingan.

Sebaliknya, Christophe Bentz dari partai sayap kanan National Rally menilai aturan tersebut sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan penyalahgunaan dalam praktiknya.

Polemik mengenai legalisasi assisted dying masih terus berlangsung di Prancis. Meski mendapat dukungan luas dari kelompok yang memperjuangkan hak pasien untuk menentukan akhir hidupnya, kebijakan tersebut juga menuai penolakan dari kalangan konservatif yang mengkhawatirkan dampak etis dan potensi penyalahgunaannya.

Sumber : https://www.liputan6.com/global/read/8247517/prancis-segera-legalkan-aturan-pasien-akhiri-hidup-secara-medis

Arab Saudi Naikkan Tarif Impor hingga 15 Persen

Arab Saudi Naikkan Tarif Impor hingga 15 Persen

KEMENTERIAN Perdagangan Indonesia mengumumkan Pemerintah Arab Saudi menaikkan mayoritas tarif bea masuk terhadap komoditas impor dari semua negara. “Perubahan tarif oleh Pemerintah Arab Saudi perlu kita sikapi sebagai upaya membuka peluang baru,” kata Atase Perdagangan Republik Indonesia di Riyadh, Zulvri Yenni, dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 Juli 2026.

Pemerintah Arab Saudi menetapkan perubahan tarif bea masuk terhadap 51 komoditas. Sejumlah kategori barang yang mengalami perubahan tarif adalah produk pertanian, peternakan, perikanan, dan pangan.

Dari 51 barang, hanya ada dua komoditas yang tidak mengalami perubahan tarif. Komoditas tersebut adalah udang air dingin dan udang lainnya dengan tarif bea masuk sebesar 6 persen.

Sementara itu, Arab Saudi memberlakukan tarif bea masuk terhadap puluhan kategori barang yang sebelumnya bebas tarif alias 0 persen.

Tarif bea masuk terendah ditetapkan sebesar 6 persen sedangkan yang terbesar adalah 15 persen. Sejumlah komoditas yang memiliki tarif bea masuk 6 persen adalah kentang, karkas utuh atau setengah karkas, dan potongan bertulang lainnya.

Sementara sejumlah komoditas yang mendapat tarif bea masuk terbesar, yakni 15 persen adalah kalkun, bebek, dan ayam indukan.

Penetapan tersebut disampaikan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1447-88-10 tertanggal 15 Juni 2026, yang berlaku mulai 26 Juni 2026.

Menurut Zulvri, perubahan tarif bea masuk tersebut dilakukan pemerintah Arab Saudi untuk melindungi dan mendorong perkembangan produk pertanian lokal. Ia mengatakan kebijakan tersebut tetap sesuai dengan komitmen Arab Saudi pada

Zulvri optimistis pelaku usaha Indonesia dapat memanfaatkan berbagai peluang untuk tetap menembus pasar Arab Saudi di tengah perubahan bea masuk. Agar dapat bersaing di pasar Arab Saudi, Zulvr mendorong pelaku usaha Indonesia dapat memperhatikan efisiensi biaya, kepatuhan terhadap standar keamanan pangan, dan pengembangan produk bernilai.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki peluang memperluas ekspor produk pangan dan perikanan bernilai tambah. Khususnya produk yang belum diproduksi secara memadai oleh industri domestik Arab Saudi seperti kerupuk udang.

Penguatan sektor pertanian dan akuakultur Arab Saudi berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi budi daya, sistem rantai dingin, pakan, benih, dan jasa pendukung lainnya yang dimiliki Indonesia. “Berbagai kebutuhan yang akan mengiringi kebijakan ini dapat menjadi peluang kerja sama antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi,” kata Zulvri.

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/arab-saudi-naikkan-tarif-impor-hingga-15-persen-2276146

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Perkuat Perlindungan Konsumen Saat Transaksi Online, Bakom: Pemerintah Luncurkan Permendag 19/2026

Badan Komunikasi (Bakom) RI menyebut, pemerintah fokus melindungi konsumen saat bertransaksi perdagangan digital, melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).

Menurut Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Bakom RI, Kurnia Ramadhana, regulasi tersebut, tidak hanya mempertegas tanggung jawab pelaku usaha. Namun juga mengatur transparansi penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pemasaran, hingga mewajibkan marketplace menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen.

“Permendag 19 Tahun 2026 diterbitkan salah satunya untuk memperkuat perlindungan konsumen dengan meningkatkan tanggung jawab pelaku usaha dalam penyelenggaraan PMSE,” kata Kurnia di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).

Dia menjelaskan, penguatan perlindungan konsumen dilakukan melalui serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi pelaku usaha. Mulai dari penyediaan informasi produk yang akurat, peningkatan legalitas usaha, transparansi biaya dan promosi, hingga pengaturan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas pemasaran.

Sementara itu, regulasi tersebut juga mewajibkan Penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE) menyediakan layanan pengaduan sebagai jalur penyelesaian awal apabila terjadi sengketa antara konsumen dan pelaku usaha.

Mekanisme ini diharapkan mampu mempercepat penyelesaian persoalan tanpa harus langsung berlanjut ke proses hukum. “Platform PPMSE juga diwajibkan menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen yang diharapkan menjadi mekanisme penyelesaian awal sehingga permasalahan yang timbul dapat ditangani secara cepat, efektif, dan proporsional,” jelasnya.

Di sisi lain, apabila penyelesaian melalui layanan pengaduan di platform tidak mencapai kesepakatan, konsumen tetap memiliki hak untuk menempuh jalur penyelesaian sengketa sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Apabila kemudian penyelesaian melalui mekanisme pengaduan pada platform belum menghasilkan penyelesaian, konsumen dapat menempuh mekanisme penyelesaian sengketa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk melalui saluran pengaduan kepada Kementerian Perdagangan atau mekanisme-mekanisme lainnya,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah menegaskan penerapan aturan baru ini tetap mempertimbangkan kondisi pelaku usaha, terutama UMKM. Seluruh kewajiban dalam Permendag Nomor 19 Tahun 2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha dan dilengkapi masa transisi agar proses penyesuaian dapat berjalan secara bertahap.

“Kewajiban Permendag 19/2026 disusun dengan memperhatikan kapasitas pelaku usaha serta dilengkapi masa transisi yang memadai,” ucapnya.

Karena itu, regulasi ini tidak hanya berisi kewajiban, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing UMKM di tengah kompetisi perdagangan digital yang semakin ketat.

“Dengan demikian, pengaturan ini tidak hanya memuat kewajiban bagi pelaku usaha, tetapi juga memberikan dukungan dan afirmasi bagi UMKM untuk meningkatkan daya saingnya di platform digital,” tuturnya.

sumber : https://www.inilah.com/perkuat-perlindungan-konsumen-saat-transaksi-online-bakom-pemerintah-luncurkan-permendag-192026

Hutan Tropis Terancam Kehilangan Kemampuan Serap Karbon Akibat El Nino

Hutan Tropis Terancam Kehilangan Kemampuan Serap Karbon Akibat El Nino

Hutan hujan tropis merupakan salah satu penyerap karbon terbesar di Bumi. Hutan Amazon di Amerika Selatan, misalnya, menyimpan sekitar 123 miliar ton karbon, jumlah terbesar dibandingkan ekosistem daratan lainnya di dunia. Namun, kemampuan hutan tropis dalam menyerap karbon kini menghadapi ancaman serius akibat El Nino.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2023 mengungkap bahwa hutan tropis di Amerika Selatan semakin rentan terhadap cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ilmuwan itu menemukan fakta bahwa selama fenomena El Nino, sebagian besar hutan tropis Amazon bahkan kehilangan kemampuannya dalam menyerap karbon (carbon sink).

Temuan ini relate dengan keadaan saat ini di mana fenomena El Nino yang sangat kuat terjadi lebih sering dibandingkan beberapa dekade lalu. Dalam 60 tahun terakhir, jumlah El Nino dengan kategori sangat kuat tercatat dua kali lebih banyak dibandingkan periode 60 tahun sebelumnya. Sementara itu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat juga telah mengonfirmasi bahwa fenomena El Niño kembali terjadi.

El Nino Hambat Proses Fotosintesis

Pada kondisi normal, hutan tropis menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis, kemudian mengubahnya menjadi biomassa yang tersimpan di batang, daun, dan jaringan pohon. Namun, proses tersebut sangat bergantung pada suhu dan ketersediaan air.

Ketika suhu meningkat dan kondisi menjadi lebih kering, tumbuhan akan menutup pori-pori daun untuk mengurangi kehilangan air. Di sisi lain, pori-pori tersebut juga menjadi jalur utama masuknya karbon dioksida. Akibatnya, pohon kekurangan pasokan karbon yang dibutuhkan untuk melakukan fotosintesis dan tumbuh.

Selama tahun-tahun El Nino, suhu yang lebih tinggi dari biasanya membuat hutan mengalami tekanan iklim berkepanjangan. Dampaknya, pertumbuhan pohon melambat dan angka kematian pohon meningkat. Ketika pohon mati dan membusuk, karbon yang selama ini tersimpan kembali dilepaskan ke atmosfer. Dampaknya dapat berlangsung selama puluhan tahun.

Dalam studi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa saat El Nino 2015–2016, ketika suhu daratan rata-rata meningkat lebih dari 1 derajat Celsius dibandingkan kondisi normal, sebagian hutan tropis di Amerika Selatan praktis berhenti menyerap karbon.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran bahwa El Nino yang terjadi saat ini dapat memberikan dampak serupa terhadap Hutan Amazon dan iklim global. Para peneliti lantas mengamati lebih dari 500 ribu pohon dari lebih dari 4.000 spesies di enam negara Amerika Selatan selama lebih dari 30 tahun. Dengan menggunakan pita ukur, mereka memantau pertumbuhan diameter batang pohon secara berkala. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung jumlah karbon yang tersimpan pada biomassa di atas permukaan tanah.

Studi menunjukkan tingkat kerentanan setiap hutan terhadap El Nino sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dasar. Meski hutan hujan tropis identik dengan curah hujan tinggi, kenyataannya sebagian kawasan Amazon mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama wilayah yang berada di tepian hutan.

Daerah-daerah tersebut cenderung memiliki suhu lebih panas dan kondisi lebih kering dibandingkan bagian tengah Amazon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan di wilayah pinggiran Amazon menjadi kawasan yang paling terdampak saat El Nino ekstrem terjadi.

Kenaikan suhu 0,5 derajat Celsius sudah cukup menyebabkan hutan kehilangan sekitar 0,5 persen cadangan karbon yang tersimpan di atas permukaan tanah. Pohon-pohon berukuran besar menjadi kelompok yang paling rentan.

Selama El Nino, tingkat kematian pohon di seluruh hutan tropis Amerika Selatan meningkat dari sekitar 1,8 persen menjadi 3 persen per tahun. Namun, pada pohon berukuran sedang dan besar—yang memiliki diameter batang lebih dari 20 sentimeter—angka kematiannya hampir dua kali lipat.

Menurut para peneliti, tingginya kematian pada pohon besar terutama yang memiliki kepadatan kayu lebih rendah, penyebab utamanya adalah kegagalan sistem hidrolik pohon (hydraulic failure).

Dalam kondisi udara yang sangat kering, kebutuhan air meningkat drastis sehingga aliran air di dalam jaringan pohon terputus. Kondisi ini dinilai lebih berperan dibandingkan sekadar kekurangan karbon akibat terganggunya fotosintesis.

Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan hutan tropis beradaptasi terhadap musim kemarau semakin mengkhawatirkan, mereka tak lagi mampu menghadapi iklim ekstrem yang semakin sering terjadi.

Para peneliti memperingatkan, hutan di tepian Amazon kini mungkin telah melampaui batas kemampuan adaptasinya sehingga berisiko mengalami kehilangan karbon dalam jumlah besar.

Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah sejumlah ilmuwan memprediksi 2026 berpotensi kembali menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa El Nino kali ini dimulai ketika suhu lautan dan suhu udara global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi.

Selain itu, selama tiga dekade terakhir, wilayah tepian Amazon mengalami salah satu laju pemanasan tercepat di kawasan tropis. Menurut para peneliti, struktur hutan akan semakin rapuh apabila fenomena iklim ekstrem datang sebelum ekosistem sempat pulih dari tekanan iklim yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Jika kondisi tersebut terus berulang, dunia berisiko menyaksikan kematian pohon dan hilangnya cadangan karbon dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, hutan tropis merupakan salah satu aset terpenting dalam upaya menekan laju perubahan iklim.

Karena itu, para peneliti menekankan bahwa perlindungan terhadap hutan tropis harus menjadi prioritas. Kemampuan hutan untuk terus berfungsi sebagai penyerap karbon sangat bergantung pada keberhasilan menjaga kelestariannya sekaligus membatasi kenaikan suhu global.

“Masa depan Amazon bergantung pada upaya tersebut. Begitu pula masa depan kita,” tulis para peneliti.

Sumber : https://kumparan.com/kumparansains/hutan-tropis-terancam-kehilangan-kemampuan-serap-karbon-akibat-el-nino-27mTjYMAiZ7