Studi Harvard: Kecelakaan Fatal Naik 15% Saat Peluncuran Album Musik

Studi Harvard: Kecelakaan Fatal Naik 15% Saat Peluncuran Album Musik

Liputan6.com, Jakarta – Saat masa perilisan album musik baru, angka kecelakaan meningkat 15% di Amerika Serikat. Hal ini terungkap melalui studi terbaru dari para peneliti di Harvard Medical School. Studi tersebut menganalisis 233.809 kecelakaan pada rentang tahun 2017 hingga 2022 dengan membandingkan tingkat kecelakaan pada hari sebelum dan sesudah peluncuran album.

Para peneliti mencocokkan data kecelakaan dari Fatality Analysis Reporting System (FARS) dengan data pemutaran lagu harian dari Spotify.

Dikutip dari Engadget, Sabtu (22/8/2026), data menunjukkan adanya lonjakan aktivitas pemutaran musik secara nasional sebesar 43% pada hari pertama peluncuran album musisi besar.

Terdapat rata-rata 18,2 kematian tambahan setiap kali lonjakan tersebut terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa para pengemudi cenderung sibuk mengoperasikan dan memilih musik saat menyetir.

Distraksi Layar Sentuh dan Profil Korban

Pengemudi berpotensi tinggi terdistraksi karena belum akrab dengan daftar lagu baru di layar navigasi mobil.

Menariknya, jika kecelakaan lalu lintas biasanya terjadi pada malam hari atau saat cuaca buruk, studi ini menemukan bahwa lonjakan kecelakaan fatal akibat pemutaran musik justru terjadi saat cuaca cerah.

Selain itu, tercatat tambahan 13,9 angka kematian pada pengemudi yang tidak dalam pengaruh alkohol. Peneliti menduga fenomena ini berkaitan dengan penurunan kewaspadaan pengemudi saat berkendara dalam situasi lingkungan yang tenang.

Korban kecelakaan fatal paling dominan berasal dari kelompok pengemudi laki-laki berusia muda, dengan rata-rata 13,5 kasus kematian pada hari peluncuran album. Pengemudi yang berkendara seorang diri juga lebih berisiko karena tidak memiliki penumpang yang bisa membantu mengoperasikan musik.

Hubungan Sebab-Akibat

Kehadiran layar sentuh pada mobil modern terbukti memperparah risiko distraksi. Meski fitur asisten suara seperti Siri atau Gemini dan antarmuka yang simpel memberikan kesan praktis, hal tersebut justru membuat pengemudi lengah dan makin tergiur untuk terus mengganti lagu di layar.

Meski peneliti belum dapat membuktikan secara pasti hubungan sebab-akibat langsung antara penggunaan ponsel atau streaming musik dengan tiap kasus kecelakaan, gelombang kritik publik mulai berdampak. Beberapa pabrikan mobil mulai mengurangi ketergantungan pada layar sentuh. Bahkan, merek mewah seperti Porsche dan Mercedes-Benz kembali menghadirkan tombol fisik agar pengemudi tidak perlu sering menatap layar.

Langkah ini sejalan dengan temuan survei J.D. Power yang mencatat bahwa 46% gangguan saat berkendara bersumber dari sistem layar sentuh bawaan kendaraan.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8275200/studi-harvard-kecelakaan-fatal-naik-15-saat-peluncuran-album-musik

Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

Tekanan Ekonomi, Ratusan Orang di Kota Kediri Idap Gangguan Jiwa, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

KEDIRI, JP Radar Kediri–Tekanan ekonomi memicu bertambahnya kasus gangguan jiwa di Kota Kediri. Hingga Juni lalu, sedikitnya ada total ada 361 warga di Kota Kediri yang mengidap skizofrenia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Suprianto mengatakan, di periode yang sama 2025 lalu, total ada 287 penderita skizofrenia. Adapun hingga Juni 2026 ini, total ditemukan 361 kasus.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 185 di antaranya berjenis kelamin laki-laki. Adapun sisanya perempuan. “2026 ini penderita gangguan jiwa juga didominasi laki-laki,” kata Hendik.

Terkait peningkatan penderita gangguan jiwa, menurut Hendik penyakit gangguan mental kronis itu terdeteksi lewat kesehatan gratis (CKG). Selebihnya, kesadaran publik untuk melapor atau berobat juga semakin tinggi.

“Masyarakat kini semakin teredukasi dengan baik. Keluarga juga tidak lagi takut atau malu melaporkan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa,” lanjutnya.

Dari sembilan puskesmas di Kota Kediri, penderita gangguan mental terbanyak ditemukan dari Puskesmas Campurejo dan Puskesmas Pesantren II. Rinciannya, masing-masing ada 82 orang. Sebanyak 57 orang laki-laki dan 25 lainnya perempuan.

Hendik menegaskan, ratusan penderita skizofrenia ditangani di total sembilan puskesmas. “Semua puskesmas di Kota Kediri sudah mampu menangani dan mengobati pasien. Jika kondisi pasien memerlukan penanganan lanjutan, maka akan segera dirujuk ke rumah sakit,” terang Hendik.

Mengapa ratusan orang tersebut mengalami skizofrenia? Hendik menyebut ada beberapa faktor pemicunya. Di antaranya karena faktor bilogis dan genetik.

Misalnya ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa, keturunannya akan berisiko besar untuk mengalaminya. Yang kedua adalah faktor fisik, medis, dan perkembangan janin. Masalah saat di dalam kandungan seperti kekurangan nutrisi berat, infeksi virus, dan paparan racun bisa berdampak pada perkembangan otak janin.

Termasuk mereka yang memiliki riwayat cedera kepala akibat kecelakaan. Serta penyakit fisik tertentu yang menyerang sistem saraf pusat. Selebihnya, faktor psikologis dan trauma. Seseorang yang memiliki pengalaman buruk di masa lalu, mulai kekerasan fisik, pelecehan seksual, hingga perundungan (bullying) berat bisa mengalami gangguan jiwa.

“Ada pula yang menderita karena faktor sosial dan ekonomi. Tekanan hidup yang berat dan menahun,” tandasnya sembari menyebut lingkungan dan gaya hidup juga bisa membuat seseorang menderita gangguan jiwa.

Termasuk mereka yang terbiasa mengonsumsi obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jangka panjang. Kebiasaan itu bisa merusak sel-sel otak dan memicu gangguan mental berat.

Dengan banyaknya pengidap, Hendik menyebut pihaknya terus melakukan pembinaan pada posyandu jiwa di setiap puskesmas. Melalui posyandu jiwa dan program pembinaan, para penyintas dilatih berbagai keterampilan. Baik bernyanyi, membuat kerajinan tangan hingga diikutsertakan dalam berbagai festival dan lomba khusus.

“Berkat pengobatan yang terkontrol, banyak penderita (skizofrenia, Red) yang kondisinya membaik dan dapat kembali berdaya,” tegasnya.

Sumber : https://radarkediri.jawapos.com/kesehatan/2608240013/tekanan-ekonomi-ratusan-orang-di-kota-kediri-idap-gangguan-jiwa-ini-yang-wajib-kamu-ketahui

Ketika Perubahan Iklim Menguji Ketahanan Air Indonesia

Ketika Perubahan Iklim Menguji Ketahanan Air Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap kali musim hujan datang, berita tentang banjir hampir selalu memenuhi ruang media. Sungai meluap, jalan-jalan terendam, ribuan rumah tergenang. Namun hanya beberapa bulan kemudian, ketika kemarau tiba, berita berubah drastis. Waduk menyusut, sawah mengering, masyarakat mengantri air bersih, dan pemerintah harus mengirimkan bantuan air ke berbagai daerah.

Paradoks ini terus berulang dari tahun ke tahun. Di musim hujan kita seolah kelebihan air, tetapi pada musim kemarau justru mengalami kekurangan air. Pertanyaannya sederhana, bagaimana mungkin negara yang memiliki lebih dari 5.500 sungai, sekitar 840 danau, serta curah hujan rata-rata sekitar 2.700 milimeter per tahun justru semakin rentan mengalami krisis air?

Jawabannya terletak pada satu kata yang semakin sering kita dengar, tetapi mungkin belum sepenuhnya kita pahami dampaknya, yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim bukan hanya menyebabkan suhu bumi meningkat. Dampaknya jauh lebih kompleks, termasuk mengubah pola hujan, memperpanjang musim kemarau, meningkatkan intensitas hujan ekstrem, memperbesar risiko banjir, dan pada saat yang sama meningkatkan ancaman kekeringan.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan dan kejadian cuaca ekstrem. Seperti yang sudah terjadi, Indonesia mengalami musim hujan yang semakin tidak menentu, hujan ekstrem yang lebih sering, serta periode kemarau yang lebih panjang di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berimplikasi langsung terhadap ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, industri, dan pembangkit listrik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan bahwa fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña kini semakin memengaruhi distribusi hujan di Indonesia. Tahun-tahun ketika El Niño kuat terjadi, ratusan kabupaten mengalami kekeringan, debit sungai menurun drastis, dan produksi pertanian ikut terdampak. Sebaliknya, pada saat La Niña, curah hujan meningkat tajam sehingga memicu banjir dan longsor di banyak daerah.

Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya menyediakan air, melainkan menjaga ketahanan air (water security) di tengah iklim yang semakin tidak menentu.

Ketahanan Air Belum Menjadi Arus Utama Kebijakan

Selama ini kebijakan pembangunan air di Indonesia cenderung masih didominasi oleh pendekatan penyediaan infrastruktur. Ini meliputi pembangunan bendungan, embung, jaringan irigasi, dan sistem penyediaan air minum. Dalam satu dekade terakhir, Pemerintah telah membangun puluhan bendungan baru yang meningkatkan kapasitas tampungan air nasional. Namun, perubahan iklim menghadirkan tantangan baru yang tidak selalu dapat dijawab hanya dengan pembangunan infrastruktur.

Persoalan utama adalah kebijakan ketahanan air masih cenderung bersifat sektoral. Pengelolaan sumber daya air, tata ruang, kehutanan, pertanian, energi, dan pembangunan perkotaan sering kali berjalan sendiri-sendiri. Padahal, perubahan pada satu sektor akan berdampak langsung terhadap sektor lainnya.

Sebagai contoh, pembukaan kawasan hutan di daerah hulu dapat meningkatkan limpasan air pada musim hujan, Namun, pada saat yang sama mengurangi cadangan air tanah pada musim kemarau. Juga pembangunan kawasan perkotaan yang semakin masif tanpa ruang resapan menyebabkan air hujan lebih cepat mengalir ke laut daripada disimpan sebagai cadangan air.

Masalah lain adalah tingginya kehilangan air (non-revenue water) pada sistem penyediaan air minum di berbagai daerah. Kebocoran jaringan, sambungan ilegal, dan inefisiensi operasional menyebabkan sebagian air yang telah diproduksi tidak pernah sampai kepada pelanggan. Dalam kondisi perubahan iklim, setiap liter air yang hilang merupakan kerugian yang semakin mahal.

Ketahanan air juga belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan rencana pembangunan daerah. Banyak pemerintah daerah masih lebih fokus pada penanganan banjir ketika musim hujan dan penyediaan bantuan air bersih saat kemarau. Mereka tidak membangun sistem yang mampu mengurangi risiko kedua bencana tersebut secara bersamaan.

Penyebab Ancaman Ketahanan Air

Beberapa faktor saling berkaitan dan memperbesar ancaman terhadap ketahanan air Indonesia. Pertama, perubahan iklim mengubah pola hidrologi. Hujan turun dalam intensitas yang lebih tinggi tetapi dalam durasi yang lebih singkat. Air tidak sempat meresap ke dalam tanah dan lebih banyak menjadi limpasan yang memicu banjir.

Kedua, kerusakan daerah aliran sungai (DAS). Berkurangnya tutupan hutan dan kawasan resapan menyebabkan kemampuan alam menyimpan air terus menurun. Padahal, hutan merupakan “waduk alami” yang menjaga ketersediaan air sepanjang tahun.

Ketiga, pertumbuhan penduduk dan urbanisasi meningkatkan kebutuhan air secara signifikan. Kota-kota besar membutuhkan pasokan air yang terus bertambah, sementara sumber air baku tidak berkembang secepat pertumbuhan kebutuhan.

Keempat, pengelolaan air yang belum terintegrasi. Konsep Integrated Water Resources Management (IWRM) yang direkomendasikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan bahwa air harus dikelola secara menyeluruh, mulai dari daerah hulu hingga hilir, lintas sektor, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia.

Kelima, rendahnya efisiensi penggunaan air. Sektor pertanian masih menjadi pengguna air terbesar, sementara sebagian sistem irigasi belum efisien. Di kawasan perkotaan, konsumsi air juga terus meningkat tanpa diimbangi budaya hemat air.

Dalam perspektif teori Water Security, ketahanan air tidak hanya berarti tersedia cukup air. Tetapi harus menjamin kualitas, keterjangkauan, keberlanjutan, dan kemampuan masyarakat menghadapi risiko banjir dan kekeringan. Didasarkan atas teori tersebut, tantangan Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar membangun lebih banyak bendungan.

Alternatif Solusi

Menghadapi perubahan iklim, diperlukan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya air. Pertama, membangun ketahanan air berbasis ekosistem. Konservasi hutan, rehabilitasi daerah aliran sungai, perlindungan mata air, dan pemulihan lahan basah harus dipandang sebagai investasi infrastruktur alami yang sama pentingnya dengan pembangunan bendungan.

Untuk itu Pemerintah perlu menyusun “Strategi Nasional Ketahanan Air Berbasis Adaptasi Perubahan Iklim” yang mengintegrasikan kebijakan sumber daya air, kehutanan, pertanian, tata ruang, energi, dan pembangunan daerah.

Kedua, mempercepat penerapan konsep kota spons (sponge city). Melalui ruang terbuka hijau, taman resapan, sumur resapan, kolam retensi, serta pemanenan air hujan, kota dapat menyimpan lebih banyak air ketika musim hujan dan menggunakannya kembali pada musim kemarau. Untuk itu, anggaran rehabilitasi hutan dan perlindungan kawasan imbuhan perlu dipandang sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur, bukan sekadar program lingkungan.

Ketiga, meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui teknologi irigasi hemat air, pemanfaatan kembali air limbah yang telah diolah (water recycling), dan pengurangan kebocoran jaringan air minum. Untuk itu, perlu mempercepat perluasan layanan air minum perpipaan dan mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, terutama di kota-kota besar yang mengalami penurunan muka tanah.

Keempat, memperkuat sistem informasi iklim dan hidrologi. Data BMKG, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Informasi Geospasial, serta pemerintah daerah perlu diintegrasikan sehingga perencanaan sumber daya air lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Kelima, memperluas edukasi publik. Ketahanan air tidak mungkin diwujudkan hanya melalui kebijakan Pemerintah. Masyarakat juga harus memahami bahwa menghemat air hari ini merupakan investasi untuk menghadapi iklim masa depan.

Sumber : https://analisis.republika.co.id/berita/tk3wab368/ketika-perubahan-iklim-menguji-ketahanan-air-indonesia

Kawal Transparansi Pengadaan BBM hingga LPG, PPN Gandeng Jamintel

Kawal Transparansi Pengadaan BBM hingga LPG, PPN Gandeng Jamintel

Liputan6.com, Jakarta – Pertamina Patra Niaga menggandeng Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI untuk memperkuat tata kelola perusahaan, meningkatkan transparansi, serta meminimalkan risiko hukum dalam proses pengadaan Minyak Mentah (Crude Oil), Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk periode 2026–2027.

Kesepakatan dituangkan dalam penandatanganan Pakta Integritas Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Direktur Niaga Pertamina Patra Niaga, Erwin Suryadi, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi benteng utama dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah tingginya volatilitas harga minyak dunia, dinamika supply-demand, serta ketidakpastian geopolitik global.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat, tetapi juga memicu fluktuasi harga komoditas yang signifikan.

“Kami menyadari bahwa Direktorat Niaga adalah garda terdepan dalam menjamin pasokan energi, baik crude oil untuk kilang maupun BBM dan LPG untuk masyarakat. Dengan adanya pendampingan Jamintel, kami ingin memastikan setiap keputusan pengadaan dilakukan secara terbuka, sesuai hukum, dan berorientasi pada kepentingan bangsa,” ujar Erwin.

Erwin menambahkan, hadirnya pendampingan dari Jamintel Kejaksaan Agung merupakan langkah Pertamina Patra Niaga dalam membuka diri secara transparan pada setiap proses tender dan pengadaan.

Selain itu, perusahaan siap menerima masukan serta evaluasi demi perbaikan tata kelola secara berkelanjutan yang selaras dengan hukum positif Indonesia dan regulasi internasional.

“Kerja sama ini menjadi panduan strategis yang sangat berharga. Kami berharap sinergi ini menjadi awal yang baik untuk menunjukkan bahwa pengelolaan energi Indonesia semakin profesional, efisien, akuntabel, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ungkapnya.

Awasi 3 Kegiatan

Plt. Sekretaris Jamintel Kejaksaan Agung, Sarjono Turin, menyampaikan bahwa pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG oleh Pertamina Patra Niaga merupakan bagian dari proyek pembangunan prioritas nasional dalam Program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.

Menurut Sarjono, disinilah titik temu diantara Kejagung dan Pertamina Patra Niaga. Ia mengatakan, kerja sama ini selaras dengan tugas dan wewenang kejaksaan di bidang intelijen untuk menciptakan kondisi yang mendukung dan mengamankan pelaksanaan pembangunan strategis melalui fungsi Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS).

“Tugas dan wewenang kejaksaan ini tertuang dalam Pasal 30B Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2021,” jelas Sarjono.

Adapun ruang lingkup Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) periode 2026–2027 ini mencakup tiga kegiatan pengadaan impor utama, yakni impor crude oil, impor BBM serta impor LPG.

Sarjono menegaskan, pendampingan ini dilakukan secara profesional, netral, dan akuntabel sesuai Pedoman Jaksa Agung Nomor 5 Tahun 2023. Tim PPS disiagakan untuk memitigasi potensi Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) dalam rantai pasok energi.

“Pengadaan energi ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kami mengapresiasi transformasi tata kelola yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga. Kejaksaan hadir untuk memastikan seluruh proses berjalan transparan, tepat waktu, tepat guna, serta taat regulasi sehingga menjadi percontohan tata kelola energi yang bersih,” tegas Sarjono.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8273553/kawal-transparansi-pengadaan-bbm-hingga-lpg-ppn-gandeng-jamintel

Tabung CNG Masih Impor, PGN Gagas Gandeng Pindad Produksi Dalam Negeri

Tabung CNG Masih Impor, PGN Gagas Gandeng Pindad Produksi Dalam Negeri

Liputan6.com, Jakarta – PT Gagas Energi Indonesia atau PGN Gagas bersama PT Pindad tengah mengkaji pengembangan tabung compressed natural gas (CNG) yang dapat diproduksi di dalam negeri.

Langkah tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan CNG di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, mengatakan tabung CNG yang digunakan saat ini masih didatangkan dari luar negeri.

“Karena memang bisa berproduksi hari ini dari luar. Ada Cina, ada Eropa,” ujar Santiaji di Yogyakarta, dikutip Kamis (20/8/2026).

Menurut dia, Pertamina Group bersama Pindad kini tengah melakukan kajian untuk mengembangkan kemampuan produksi tabung CNG di dalam negeri.

“Kita lagi, Pertamina Group, termasuk kami, sudah punya CIG. Mudah-mudahan nanti di akhir-akhir tahun sudah muncul produk yang dari Pindad lah yang bisa dibutuhkannya,” jelas Santiaji.

Dia menekankan, proses pengembangan produk tersebut tetap harus memperhatikan aspek keselamatan. Pasalnya, tabung CNG digunakan untuk menyimpan gas dengan tekanan tinggi.

“Mudah-mudahan lah ya, karena kajiannya terus-lagi terus proseskan ya, supaya safety, lagi-lagi kita harus safety-safety, karena ini kan dipakai untuk masyarakat,” ujarnya.

CNG Bertekanan Tinggi

Tabung CNG memiliki fungsi penting dalam sistem distribusi gas bumi untuk pelanggan komersial.

Berbeda dengan sistem jaringan pipa, CNG dapat dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM) maupun tabung untuk kemudian disalurkan kepada pelanggan.

Tekanan gas saat berada dalam sistem transportasi dapat mencapai sekitar 200 bar. Karena itu, aspek keselamatan menjadi perhatian utama mulai dari proses pengisian, pengangkutan, penyimpanan hingga penyaluran kepada pelanggan.

Untuk pelanggan komersial, PGN Gagas menempatkan tabung CNG di ruang khusus atau gas room. Dari lokasi tersebut, gas kemudian dialirkan menuju dapur atau area penggunaan melalui jaringan.

Santiaji mengatakan tabung yang ditempatkan secara permanen dapat diisi kembali menggunakan sistem CTF sehingga tidak perlu dilakukan penggantian tabung secara berkala.

“Jadi kita gak bolak-balik ganti? Karena satu tabung besar itu, tabungnya CNG itu 180 kilo,” katanya.

Sementara untuk pelanggan dengan kebutuhan lebih kecil, sistem penggantian tabung masih dapat dilakukan.

Tabung Milik PGN Gagas

Dalam sistem pemanfaatan CNG tersebut, tabung yang digunakan pelanggan bukan berarti menjadi milik pelanggan.

Santiaji menjelaskan aset tabung tetap berada pada pihak penyedia, sementara pelanggan membayar gas berdasarkan volume yang digunakan.

“Alat milik aset kita. Mereka hanya beli isinya saja. Jadi semua tabungnya Pindad punya kita. Mereka hanya isi saja,” katanya.

Penggunaan gas juga tetap menggunakan meter untuk memastikan transparansi transaksi antara penjual dan pembeli.

“Dan mereka nanti walaupun tabung, tapi tetap pakai meteran. Jadi ada meterannya, karena itu transparansi kita berkontrak penjual-beli supaya tetap ada meter,” jelas Santiaji.

Dengan sistem tersebut, pelanggan membayar berdasarkan konsumsi gas yang tercatat pada meter.

“Intinya sama lah kalau gas pipa atau CNG, pakai dulu baru bayar. Itu mudah. Pakai dulu baru bayar,” tambahnya.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8273369/tabung-cng-masih-impor-pgn-gagas-gandeng-pindad-produksi-dalam-negeri

Senja Kala Toko Buku UI: Dulu Diburu Mahasiswa, Kini Menanti Pembeli di Gang Sepi

Senja Kala Toko Buku UI: Dulu Diburu Mahasiswa, Kini Menanti Pembeli di Gang Sepi

DEPOK, KOMPAS.com – Gang kecil selepas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Stasiun Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, tampak lengang siang itu.

Deretan toko yang dulu ramai kini banyak yang tutup. Hanya beberapa toko makanan, minuman, dan aksesori yang masih bertahan menjajakan dagangannya.

Di tengah deretan toko yang semakin sepi, dua toko buku masih berdiri.

Tumpukan buku memenuhi bagian dalam toko hingga teras. Sebagian buku tampak telah lama tersimpan, menunggu pembeli yang datang. Salah satunya adalah Toko Buku Jenny.

Pemilik Toko Buku Jenny, Rahidin Manullang (59), masih bertahan di tengah kondisi tersebut. Dari tokonya, ia menyaksikan satu per satu toko buku di sekitar UI tutup.

“Di sini, dari sini ada 10 dulu. Sekarang tinggal dua. Tutup semua baru-baru ini,” ujar Wahidin saat ditemui Kompas.com di tokonya, Depok, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 10 toko buku yang dulu berjejer di kawasan tersebut menjadi bagian dari ramainya aktivitas mahasiswa.

Buku kuliah, buku referensi, hingga buku-buku yang menjadi kebutuhan mahasiswa mudah ditemukan di sana.

Kini, pemandangan itu berubah. Toko-toko yang sebelumnya menjadi tempat mahasiswa mencari buku sudah banyak yang tutup.

Sebagian pedagang, kata Rahidin, memilih tidak lagi menyewa tempat dan membawa buku-buku mereka ke rumah untuk dijual secara daring. Rahidin pun sebenarnya berencana melakukan hal serupa akhir tahun ini.

Dari Senen hingga Bertahan di Sekitar UI

Rahidin bukan orang baru dalam bisnis buku. Sejak muda, ia sudah berjualan buku.

Sebelum membuka Toko Buku Jenny di sekitar kampus UI sekitar lima tahun lalu, ia lebih dulu berjualan di kawasan Senen, Jakarta Pusat dan Stasiun Pondok Cina, Depok.

Kala itu, berjualan buku masih menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Ketika pindah ke kawasan UI, kondisi toko juga masih cukup baik. Mahasiswa menjadi pembeli utama, terutama ketika memasuki tahun ajaran baru.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik perubahan. Ketika perkuliahan beralih ke sistem pembelajaran daring, mahasiswa tidak lagi datang ke kampus seperti sebelumnya. Kebutuhan membeli buku fisik pun ikut menurun.

“Di sini sebelum Covid bagus, mahasiswa masih banyak yang beli buku. Setelah Covid itu karena belajar di rumah, online, jadi langsung turun,” kata Rahidin.

Penurunan tersebut dirasakan sangat tajam. Sebelum pandemi, omzet toko Rahidin bisa mencapai sekitar Rp 2 juta dalam sehari.

Ketika memasuki tahun ajaran baru, pendapatannya bahkan bisa lebih besar karena mahasiswa biasanya membeli beberapa buku sekaligus.

Satu mahasiswa bisa membeli dua hingga lima buku dalam sekali datang. Buku untuk berbagai jurusan, mulai dari hukum, ilmu sosial dan politik, sastra hingga matematika dan ilmu pengetahuan alam, dulu masih banyak dicari.

Namun kini, situasinya jauh berbeda. Untuk mendapatkan omzet Rp 1 juta dalam sebulan saja, Rahidin mengaku tidak selalu berjalan mulus. “Dulu satu hari bisa Rp 2 juta. Sekarang kan enggak nentu sih, kalau terjual satu buku sehari saja sudah syukur kalau musim-musim begini,” ucapnya.

Hanya Ramai Saat Tahun Ajaran Baru

Penjualan buku di toko Rahidin kini sangat bergantung pada musim. Momen paling ramai biasanya terjadi ketika tahun ajaran baru dimulai. Itu pun tidak berlangsung sepanjang tahun.

Mahasiswa baru biasanya masih membeli buku-buku dasar yang dianggap penting untuk perkuliahan. Setelah masa tersebut berlalu, jumlah pembeli kembali turun.

“Kalau tahun ajaran baru itu biasa buku-buku dasar, kayak hukum, buku-buku wajibnya harus beli dulu dasarnya semua,” kata dia.

Untuk semester berikutnya, penjualan biasanya semakin menurun. Di sekitar UI, buku hukum menjadi salah satu jenis buku yang masih dicari.

Lokasi toko yang berdekatan dengan fakultas hukum membuat mahasiswa dari jurusan tersebut masih datang untuk mencari buku.

Namun, jumlahnya tidak lagi seperti dulu.

Perubahan kebutuhan perkuliahan juga ikut berpengaruh. Ia menyebut sejumlah buku dasar yang dahulu hampir pasti dibeli mahasiswa kini sudah jarang dicari.

Buku-buku seperti Pancasila, kewarganegaraan, hingga mata kuliah dasar lainnya tidak lagi menjadi barang yang rutin dibeli mahasiswa seperti pada masa lalu.

“Kalau dulu mahasiswa masuk semester satu, namanya PKN harus satu seorang, Pancasila satu seorang. Sekarang enggak ada lagi,” tuturnya.

Lima Tahun Tak Lagi Berani Menambah Stok

Sepinya pembeli membuat Wahidin harus berhati-hati dalam mengelola stok. Ia tidak lagi berani berbelanja buku dalam jumlah banyak kepada penerbit.

Buku-buku yang berada di tokonya sebagian besar merupakan stok lama yang sudah dimiliki sejak beberapa tahun lalu.

“Kalau bikin stok enggak berani lagi belanja,” katanya.

Sudah sekitar lima tahun Rahidin tidak banyak menambah stok buku. Kondisi tersebut berbeda dengan masa ketika toko masih ramai.

Dulu, ia bisa memesan buku dari penerbit dan stok tersebut kemudian dijual kepada mahasiswa. Kini, membeli stok baru justru berisiko membuat modal tertahan.

Perubahan itu juga terasa pada buku-buku hukum. Buku hukum memiliki pasar tersendiri karena mahasiswa masih membutuhkannya.

Namun, perubahan undang-undang membuat buku lama tidak selalu bisa dijual. Materi yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan harus mengikuti aturan terbaru. Buku yang memuat ketentuan lama akhirnya semakin sulit dicari pembelinya.

“Yang lama enggak laku. Harus diselesaikan. Paling pengantar-pengantarnya enggak berubah. Kalau masalah undang-undang kan berubah,” ucapnya.

Meski begitu, buku lama tetap memiliki pembeli. Menurutnya, mahasiswa terkadang masih mencari buku lama untuk memahami dasar suatu materi.

Oleh karena itu, ia tidak serta-merta membuang seluruh stok yang tersisa. Buku-buku tersebut tetap disimpan sambil menunggu seseorang datang mencarinya.

Ketika Buku Mulai Ditinggalkan

“Apalagi teknologi baru sekarang AI itu sudah lebih canggih lagi,” ujarnya.

Tak hanya itu, menurut dia kebiasaan membaca generasi muda saat ini juga ikut berubah. Rahidin melihat mahasiswa sekarang tidak lagi sebanyak dulu membeli buku untuk menunjang perkuliahan lantaran sebagian materi bisa diperoleh dari internet atau sumber digital lainnya.

Buku-buku komunikasi, misalnya, yang dahulu cukup banyak dicari kini tidak lagi menjadi andalan penjualan.

“Anak komunikasi dulu paling banyak bukunya. Sekarang enggak jalan itu komunikasi semua. Pengantar komunikasi, komunikasi antarbudaya, enggak pernah dicari lagi,” katanya.

Bertahan Lewat Toko Online

Di tengah penjualan toko fisik yang terus merosot, Rahidin akhirnya beralih mengandalkan penjualan daring.

Ia memiliki toko online bernama Catherine Book yang dipasarkan melalui sejumlah platform, termasuk Shopee dan TikTok Shop.

Ia mengaku pesanannya memang tidak langsung membanjir. Biasanya hanya ada satu atau dua pesanan dalam sehari. Pada kondisi paling ramai, pesanan bisa mencapai lima buku sehari.

Namun, bagi Rahidin, pesanan tersebut cukup berarti untuk membuatnya tetap bertahan.

“Lebih sering ada dari online. Ini kadang-kadang laku dalam satu minggu ada satu hari, dua,” kata dia.

Buku yang dijual secara daring bukan hanya berasal dari toko fisik. Sebagian besar stok justru berada di rumah Rahidin.

Toko yang berada di sekitar UI kini hanya menjadi salah satu tempat penyimpanan buku karena rumahnya tidak dapat menampung seluruh buku-buku dagangannya.

Ia bercerita, setiap pagi ia sendiri yang menyiapkan dan mengemas pesanan sebelum berangkat ke toko pada siang harinya.

Jika menggunakan jasa ekspedisi yang mengharuskan paket diantar, ia akan membawa paket tersebut ke agen. Sementara beberapa layanan lain memungkinkan paket dijemput oleh kurir.

Aktivitas tersebut menjadi rutinitas baru bagi Wahidin. Pagi hari, ia bisa menghabiskan waktu di rumah untuk merapikan pesanan daring. Setelah itu, ia datang ke toko sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB.

Ia menuturkan, Toko Buku Jenny biasanya buka hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Sebab, pada pagi dan malam hari tidak banyak orang datang.

Sewa Toko Tetap Berjalan

Masalahnya, toko fisik tetap membutuhkan biaya meskipun pembeli datang semakin jarang.

Rahidin harus membayar sewa sekitar Rp 1 juta setiap bulan.

Pada masa toko masih ramai, biaya tersebut tidak menjadi persoalan besar. Namun, ketika omzet merosot, biaya sewa menjadi beban tersendiri.

Rahidin bahkan mengaku saat ini ia tengah menunggak pembayaran hingga dua bulan.

“Kadang-kadang ketutup, kadang-kadang enggak,” ujarnya.

Ia masih mempertahankan toko karena tidak ingin begitu saja meninggalkan buku-buku yang tersisa.

Selain itu, rumahnya tidak cukup luas untuk menampung seluruh stok buku. Buku-buku yang tidak ditempatkan di toko disimpan di rumah dan sebagian diletakkan hingga ke teras. Yang penting, kata Rahidin, buku-buku tersebut tidak terkena air.

Namun, bertahan dengan kondisi seperti ini tentu tidak mudah. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, istrinya ikut mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pengemudi ojek daring dan mengantarkan pesanan makanan.

Menunggu Tahun Ajaran Baru

Karena penjualan sangat bergantung pada musim, Rahidin kini hanya bisa berharap pada tahun ajaran baru.

Saat mahasiswa baru mulai berdatangan, toko biasanya kembali mendapat pembeli.

Untuk satu bulan, pada periode tersebut, penjualan bisa mencapai sekitar 10 buku per hari.

Namun setelah masa tahun ajaran baru selesai, pembeli kembali sepi. Rahidin pun tidak tahu sampai kapan kondisi tersebut bisa dipertahankan.

Ia dan istrinya sudah mulai membicarakan kemungkinan menutup toko jika penjualan tidak juga membaik. Rencananya, jika hingga tahun ini kondisi masih sama, toko fisik akan ditutup.

Buku-buku yang masih layak jual akan dibawa ke rumah dan dipasarkan secara daring. Sementara buku yang benar-benar tidak laku akan dijual ke tempat loak.

“Kalau enggak dipilih lagi, yang kira-kira enggak laku kita buang, kita kiloin lagi. Jadi sampah,” tutur Rahidin.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2026/08/14/14372631/senja-kala-toko-buku-ui-dulu-diburu-mahasiswa-kini-menanti-pembeli-di

Pertamina Patra Niaga turunkan harga LPG Bright Gas per 15 Agustus

Pertamina Patra Niaga turunkan harga LPG Bright Gas per 15 Agustus

Jakarta (ANTARA) – PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga produk LPG nonsubsidi jenis Bright Gas, yang berlaku efektif mulai 15 Agustus 2026.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, mengatakan penyesuaian harga Bright Gas merupakan bagian dari evaluasi berkala perusahaan untuk menghadirkan produk LPG nonsubsidi yang kompetitif bagi masyarakat.

“Penyesuaian harga Bright Gas dilakukan melalui evaluasi secara berkala dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi pasar, serta tetap mengacu pada mekanisme yang berlaku,” ujarnya.

Melalui evaluasi tersebut, menurut Kitty, harga Bright Gas kemasan tabung 12 kg mengalami penurunan dari Rp220.000/tabung menjadi Rp218.000/tabung atau turun Rp2.000/tabung.

Sementara, untuk harga LPG Bright Gas kemasan tabung 5,5 kg dari Rp103.000/tabung menjadi Rp102.000/tabung atau turun Rp1.000/tabung.

Harga itu merupakan harga jual agen Bright Gas untuk wilayah Pulau Jawa yang berlaku efektif mulai 15 Agustus 2026.

Sementara, harga di wilayah lain dapat berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.

“Selain menghadirkan harga yang lebih kompetitif, kami juga terus memastikan kualitas Bright Gas tetap terjaga, sehingga masyarakat dapat menikmati LPG yang aman, praktis, dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” terang Kitty.

Lebih lanjut, Kitty menjelaskan bahwa pada periode 15-23 Agustus 2026, Pertamina Patra Niaga juga menghadirkan program diskon Semarak Merdeka MyPertamina.

Program itu berlaku untuk pembelian refill Bright Gas 5,5 kg dan Bright Gas 12 kg secara langsung di Bright Store dan pembelian daring di aplikasi dan website Klik Indomaret tanpa minimum pembelian menggunakan seluruh metode pembayaran.

“Selama periode promo, konsumen yang melakukan pembelian isi ulang Bright Gas 5,5 kg akan memperoleh diskon Rp4.050 per tabung, sedangkan pembelian isi ulang Bright Gas 12 Kg mendapatkan diskon Rp8.100 per tabung,” jelas Kitty.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5695731/pertamina-patra-niaga-turunkan-harga-lpg-bright-gas-per-15-agustus

BMKG Ungkap Pemicu Gempa NTT, Potensi Maksimal Capai M 7,9

BMKG Ungkap Pemicu Gempa NTT, Potensi Maksimal Capai M 7,9

Liputan6.com, Jakarta – Gempa yang mengguncang Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), dipicu aktivitas sesar naik di Busur Belakang Flores. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kawasan tersebut memiliki potensi gempa maksimum hingga Magnitudo (M) 7,8–7,9.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan gempa yang terjadi hari ini tercatat memiliki kekuatan M 7,7. Menurutnya, mekanisme gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik di kawasan Busur Belakang Flores.

“Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores. Di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8–7,9. Hari ini sudah rilis 7,7,” kata Wijayanto dalam konferensi pers, Sabtu (15/8/2026).

Wijayanto menjelaskan, gempa besar dengan mekanisme serupa pernah terjadi di wilayah tersebut pada 1992. Saat itu, gempa berkekuatan M 7,5 dan menyebabkan kerusakan besar.

“Dari sejarah yang ada, itu pernah terjadi tahun 1992 dengan magnitudo 7,5. Ini juga sangat luar biasa kerusakannya waktu itu,” ujarnya.

BMKG Pantau Terus Perkembangan Terkini

Gempa besar kembali mengguncang kawasan tersebut setelah lebih dari tiga dekade. BMKG kini masih memantau perkembangan aktivitas seismik, termasuk kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Meski peringatan dini tsunami telah berakhir, pemantauan terhadap kondisi di wilayah terdampak tetap dilakukan. BMKG juga terus mengawasi perubahan tinggi muka air laut melalui stasiun tide gauge.

“BMKG akan terus monitor aktivitas gempa susulannya dan akan terus menyampaikan ke masyarakat,” kata Wijayanto.

Pemantauan tinggi muka air laut tetap dilakukan melalui sejumlah stasiun tide gauge BMKG untuk memastikan kondisi tetap aman setelah peringatan dini tsunami berakhir.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/8270398/bmkg-ungkap-pemicu-gempa-ntt-potensi-maksimal-capai-m-79

Macan Kumbang Gunung Prau Masuk Permukiman Warga di Batang, Dievakuasi ke BDC

Macan Kumbang Gunung Prau Masuk Permukiman Warga di Batang, Dievakuasi ke BDC

BATANG, iNews.id – Seekor macan kumbang yang masuk ke permukiman warga di Dusun Ngasinan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kini menjalani perawatan intensif di Batang Dolphin Center (BDC). Satwa dilindungi tersebut dievakuasi petugas gabungan setelah sempat membuat geger warga setempat.

Proses evakuasi dilakukan tim gabungan dengan menggunakan obat bius. Macan kumbang jantan yang diperkirakan berusia 10 tahun tersebut langsung dilarikan ke BDC untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal tim dokter hewan, kaki kanan depan macan kumbang tersebut mengalami luka yang diduga sudah berlangsung selama beberapa hari. Kondisi ini membuat satwa liar tersebut kesulitan berburu mangsa di habitat aslinya.

Saat dievakuasi, berat badan macan kumbang itu hanya sekitar 25 kilogram, tergolong sangat kurus untuk ukuran macan dewasa seusianya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Dyah Sulistyari menyatakan, kondisi satwa saat ini masih dalam pengawasan ketat oleh tim medis sebelum nantinya siap dilepasliarkan kembali.

“Saat ini kondisi satwa masih dalam pengawasan ketat dan mendapatkan penanganan intensif dari tim dokter,” ujar Kepala BKSDA Jateng, Dyah Sulistyari, Jumat(14/8/2026).

BKSDA Jawa Tengah mengidentifikasi macan kumbang tersebut berasal dari kawasan lereng Gunung Prau di sekitar Dataran Tinggi Dieng. Turunnya satwa pemangsa ini ke pemukiman warga diduga kuat dipengaruhi oleh kondisi musim kemarau, yang memaksa satwa liar bergerak lebih jauh untuk mencari makanan.

Sebelum akhirnya berhasil dievakuasi tanpa menimbulkan korban jiwa, macan kumbang tersebut sempat memangsa beberapa ternak milik warga berupa ayam dan marmut.

Sebagai langkah antisipasi dan pemantauan aktivitas satwa liar, BKSDA telah memasang camera trap di lokasi awal munculnya macan kumbang. Selain di Bawang, pemasangan kamera pemantau juga dilakukan di sejumlah kawasan konservasi lain di Jawa Tengah, seperti Gunung Muria, Gunung Lawu, Gunung Ungaran, hingga Pulau Nusakambangan.

Sumber : https://www.inews.id/regional/jateng/macan-kumbang-gunung-prau-masuk-permukiman-warga-di-batang-dievakuasi-ke-bdc

10 Perusahaan dengan Laba Bersih Terbesar di Indonesia

10 Perusahaan dengan Laba Bersih Terbesar di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Sektor perbankan kembali menjadi penguasa daftar perusahaan paling menguntungkan di Indonesia. Dalam pemeringkatan Fortune Indonesia 100 2026, tiga posisi teratas perusahaan dengan laba bersih terbesar ditempati Bank Central Asia (BCA), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Mandiri dengan laba masing-masing di atas Rp 56 triliun berdasarkan kinerja tahun fiskal 2025.

Daftar terbaru Fortune Indonesia 100 2026 menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar Indonesia masih mampu mencetak keuntungan jumbo meskipun tekanan terhadap profitabilitas meningkat.

Fortune Indonesia mencatat hanya 49 dari 100 perusahaan yang berhasil meningkatkan laba bersih, sementara 51 perusahaan lainnya mengalami penurunan, menandakan pertumbuhan pendapatan belum otomatis berujung pada kenaikan keuntungan.

Editor-in-Chief Fortune Indonesia Hendra Soeprajitno mengatakan bahwa pertumbuhan pendapatan belum tentu sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan.

“Pertumbuhan topline belum otomatis diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba,” kata Hendra dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

Secara keseluruhan, total pendapatan 100 perusahaan dalam daftar Fortune Indonesia 100 mencapai Rp 6.224,01 triliun, setara sekitar 26,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia 2025.

Daftar 10 Perusahaan dengan Laba Bersih Terbesar

Berdasarkan data Fortune Indonesia 100 2026, berikut daftar perusahaan dengan laba bersih terbesar pada tahun fiskal 2025:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 57.537,29 miliar
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 56.652,38 miliar
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 56.293,95 miliar
  4. PT Pertamina (Persero): Rp 56.231,43 miliar
  5. PT Astra International Tbk (ASII): Rp 32.769,00 miliar
  6. MIND ID: Rp 25.120,39 miliar
  7. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp 20.040,70 miliar
  8. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 17.814,00 miliar
  9. PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Rp 12.887,16 miliar
  10. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 12.757,34 miliar

Data tersebut menegaskan dominasi sektor perbankan, yang mengisi empat dari sepuluh posisi terbesar, yakni BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI.

Fortune Indonesia juga mencatat bahwa tiga perusahaan dengan laba bersih terbesar seluruhnya berasal dari sektor perbankan.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8268867/10-perusahaan-dengan-laba-bersih-terbesar-di-indonesia