Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Ketika Rezeki Dicari, Tapi Hati Tak Pernah Merasa Cukup

Banyak orang bekerja keras siang dan malam, namun hatinya tetap gelisah. Rezeki datang, tetapi rasa cukup tidak pernah menetap. Yang sedikit terasa sempit, yang banyak pun tak menenangkan. Permasalahannya cenderung bukan pada berapa banyak rupiah yang diperoleh, tetapi pada cara hati memandang rezeki.

Di tengah dunia yang membuka pintu halal dan haram tanpa sekat, godaan untuk “sedikit melenceng” terasa biasa. Demi kebutuhan, demi tuntutan hidup, demi alasan yang tampak masuk akal, dengan gampang semua di-gas. Kadang pun dicari pembenaran dalilnya. Padahal satu langkah kecil ke arah yang haram sering kali membuka pintu panjang kegelisahan.

Islam tidak membiarkan seorang hamba berjalan tanpa pegangan. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang ringkas, namun mengandung makna ketundukan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Doa itu adalah doa memohon kecukupan dengan yang halal dan ketergantungan total hanya kepada Allah.

Doa yang mengajarkan rasa cukup

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa,

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ
وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terjauh dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1319 dan Sunan at-Tirmidzi no. 3563, serta dihasankan oleh Al-Hafizh Abu Thahir. Sebuah doa yang mengandung pelajaran agar seorang hamba menjunjung tinggi adab dalam meminta kepada Allah Ta’ala.

Dalam doa ini, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita meminta kaya, tetapi meminta cukup. Karena cukup adalah kekayaan yang sebenarnya, sedangkan banyak tanpa cukup hanyalah kelelahan yang panjang. Pada kenyataannya, banyak orang yang mempunyai gaji 1 juta itu lebih bahagia dari mereka yang memiliki gaji 10 juta. Karena mereka yang bergaji tinggi juga punya tuntutan kebutuhan yang tinggi. Tak jarang pula seseorang yang bergaji tinggi merasa selalu kekurangan bahkan meminjam uang kepada orang yang bergaji jauh lebih rendah darinya.

Cukup dengan yang halal

Kalimat “cukupkanlah aku dengan yang halal” menunjukkan bahwa halal sejatinya telah mencukupi. Tidak ada satu pun kebutuhan hamba yang mengharuskan ia menabrak yang haram. Jika seseorang jatuh dalam perkara yang haram, itu bukan karena halal tidak ada, tetapi karena hati tidak sabar dan iman tidak kokoh.

Kita bisa perhatikan. Ketika Allah mengharamkan khamar, bukankah tersedia air susu, air hujan, air kelapa, air tebu, air sumur, air mata air, dan berbagai sumber halal lainnya? Begitu pula ketika keharaman babi ditetapkan, bukankah tersedia ayam, sapi, burung, ikan, kambing, dan berbagai sumber halal dari hewan-hewan yang secara syariat dihalalkan?

Begitu pula dalam hal pekerjaan. Di antara banyaknya celah pekerjaan yang haram mungkin terbesit di pikiran kita, maka berikhtiarlah untuk pekerjaan halal, insyaa Allah engkau akan menemukan lebih banyak sumber pekerjaan halal yang Allah berkahi.

Rezeki haram mungkin tampak cepat dan mudah, tetapi ia membawa akibat yang berat: doa sulit diijabah (dikabulkan), ibadah kehilangan manisnya, dan hati kehilangan ketenangan. Para salaf berkata, “Dosa itu menghalangi rezeki, sebagaimana takwa mendatangkan kecukupan.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an ad-Dawā’ asy-Syāfī menjelaskan,

وَمِنْ عُقُوبَاتِهَا: أَنَّهَا تَحْرِمُ الْعَبْدَ الرِّزْقَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ يُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ، كَمَا أَنَّ التَّقْوَى تَجْلِبُ الرِّزْقَ، فَتَرْكُ التَّقْوَى يَحْرِمُهُ الرِّزْقَ

“Di antara akibat dosa adalah terhalangnya rezeki. Sebagaimana takwa mendatangkan rezeki, maka meninggalkannya (karena maksiat) akan menghalangi datangnya rezeki.” [1]

Kaya karena Allah

Bagian kedua doa ini lebih dalam dan lebih halus: “cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung kepada selain-Mu.” Ini bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga soal ketergantungan hati.

Betapa banyak orang yang memiliki penghasilan, namun jiwanya bergantung pada manusia. Takut kehilangan relasi, takut ditinggal atasan, takut tidak disukai. Padahal, ketakutan-ketakutan itu lahir karena hati tidak benar-benar merasa cukup dengan Allah. Akhirnya, segala batasan syariat tak lagi dipedulikan demi mengejar karir, proyek, dan keuntungan duniawi lainnya. Waliyadzubillah.

Ketika Allah mencukupkan seorang hamba dengan karunia-Nya, ia tetap bekerja, tetapi hatinya tenang. Ia tetap berusaha, tetapi tidak menjual prinsip. Ia memberi tanpa takut miskin, dan menolak yang haram tanpa takut kekurangan.

Dampak rezeki halal

Tidak sedikit orang yang rajin ibadah, tetapi sulit khusyuk. Salah satu sebabnya adalah rezeki yang tidak dijaga dengan baik. Hati yang dipenuhi syubhat dan haram akan sulit tunduk dalam salat dan berat dalam tilawah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ؟

“… Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku’, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim no. 1015)

Pengakuan kehambaan

Doa ini juga mengandung pengakuan yang jujur, “Ya Allah, aku lemah.” Lemah menghadapi godaan, lemah menghadapi kebutuhan, dan lemah menghadapi rasa takut akan masa depan. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berkata, “Aku bisa,” tetapi berkata, “Ya Allah, cukupkan aku.”

Seperti inilah adab seorang mukmin. Ia tidak membanggakan kekuatannya, tetapi memohon penjagaan Rabb-nya. Dan siapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, Allah tidak akan membiarkannya hina. Sebaliknya, orang yang merasa bahwa ia tidak butuh kepada kasih sayang Allah, maka tentu ia akan merasakan kehampaan dalam kehidupannya.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. ath-Thalaq: 2–3)

Doa ini singkat, tetapi jika benar-benar dihayati, dengan doa ini seorang hamba mampu mengubah caranya bekerja, memilih, dan bersikap dalam hidup. Seorang hamba yang berhasil menginternalisasikan makna doa ini dalam kehidupannya, maka ia akan merasakan kecukupan, membangun keteguhan, dan melahirkan keberanian untuk berkata tidak pada yang haram. Insyaa Allah.

Maka jadikan doa ini bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi permohonan yang hidup di hati. Karena ketika Allah mencukupkanmu dengan yang halal, dan mengkayakanmu dengan karunia-Nya, saat itulah hidup menjadi ringan—meski dunia tidak selalu mudah.

Wallahu a’lam.

Sumber : https://muslim.or.id/113774-ketika-rezeki-dicari-tapi-hati-tak-pernah-merasa-cukup.html

Beramal Karena Allah: Ketika Apresiasi Manusia Bukan Lagi Tujuan

Beramal Karena Allah: Ketika Apresiasi Manusia Bukan Lagi Tujuan

Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah merasakan kecewa karena kebaikannya tidak dihargai. Kita telah berusaha membantu, melayani, atau berkorban, namun tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Bahkan terkadang yang kita terima justru sikap acuh tak acuh.

Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi keadaan seperti ini?

Salah satu penjelasan yang sangat menyentuh disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam sebuah kajiannya. Beliau mengingatkan bahwa orang yang benar-benar beriman tidak akan mudah kecewa hanya karena tidak mendapatkan apresiasi dari manusia.

Orang Beriman Tidak Mudah Kecewa

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan:

“Orang-orang beriman kan nggak gampang kecewa, hadirin, ketika bertepuk sebelah tangan, ketika kebaikannya nggak diapresiasi oleh manusia.”

Kalimat ini mengajak kita untuk melihat kembali tujuan kita ketika berbuat baik.

Sering kali rasa kecewa bukan muncul karena amal kita tidak bernilai, tetapi karena kita berharap manusia memberikan penghargaan, pujian, atau sekadar ucapan terima kasih. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati pun menjadi sedih.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa setiap ibadah dan amal saleh harus dilakukan dengan niat yang tulus kepada-Nya.

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…”

(QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan utama seorang muslim adalah mencari ridha Allah, bukan mencari penilaian manusia.

Tujuan Utama Adalah Dicintai Allah

Beliau melanjutkan:

“Wanita-wanita solehah itu nggak kecewa, karena tujuan utamanya adalah dicintai oleh Allah.”

Kalimat ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi wanita, tetapi bagi setiap muslim dan muslimah.

Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah, seorang ibu yang mengurus rumah tangga, seorang guru yang mengajar, seorang pedagang yang jujur, bahkan seseorang yang sekadar membantu tetangganya, semuanya dapat menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Ketika tujuan itu benar, maka keadaan di sekitar tidak mudah menggoyahkan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”

(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai sebuah amal bergantung pada niat yang ada di dalam hati.

Contoh yang Sangat Dekat dengan Kehidupan

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri memberikan contoh yang sangat sederhana namun sering terjadi di dalam rumah tangga.

“Kalau ibu-ibu buat sarapan, eh nggak dimakan sama suami karena buru-buru, ‘Udah deh, aku duluan aja deh.’ Udah capek-capek nggak dimakan.”

Situasi seperti ini mungkin pernah dialami banyak keluarga.

Secara manusiawi, tentu seseorang bisa merasa sedih. Islam tidak melarang adanya perasaan tersebut. Namun yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa kecewa membuat kita kehilangan keikhlasan atau berhenti berbuat baik.

Beliau kemudian menjelaskan:

“Istri yang solehah itu nggak terpukul, nggak baper, gitu loh. Kenapa? Karena tujuan utama dia buat sarapan buat suaminya, dan itu adalah kebaikan agar dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Contoh ini juga dapat diterapkan dalam banyak keadaan.

Ketika membantu teman.

Ketika melayani orang tua.

Ketika bekerja dengan jujur.

Ketika berdakwah.

Ketika bersedekah.

Semua amal tersebut akan terasa ringan apabila orientasinya adalah Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

(QS. Az-Zalzalah: 7)

Tidak ada satu pun amal yang hilang dari pengetahuan Allah, meskipun manusia sama sekali tidak mengetahuinya.

Diapresiasi Alhamdulillah, Tidak Diapresiasi Pun Alhamdulillah

Kemudian beliau mengatakan:

“Kalau diapresiasi, alhamdulillah. Kalau nggak diapresiasi, alhamdulillah.”

Kalimat yang sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.

Bukan berarti seorang muslim tidak senang ketika dihargai. Menghargai dan dihargai tetap merupakan bagian dari akhlak yang baik.

Namun kebahagiaannya tidak bergantung pada penghargaan tersebut.

Jika dipuji, ia bersyukur kepada Allah.

Jika tidak dipuji, ia tetap bersyukur kepada Allah.

Mengapa?

Karena yang memberikan balasan terbaik bukan manusia, melainkan Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. At-Taubah: 120)

Selama amal dilakukan dengan ikhlas, tidak ada sedikit pun usaha yang sia-sia di sisi Allah.

Islam Tetap Mengajarkan Menghargai Kebaikan Orang Lain

Pembahasan tentang ikhlas terkadang disalahpahami.

Ada yang mengira, karena kita harus ikhlas, maka orang lain bebas untuk tidak menghargai kebaikan kita. Anggapan ini tidak tepat.

Islam tetap mengajarkan agar kita berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

(HR. Abu Dawud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)

Artinya, ada dua adab yang berjalan bersamaan.

Orang yang berbuat baik menjaga keikhlasannya.

Orang yang menerima kebaikan menjaga rasa syukurnya.

Dengan demikian, hubungan antarmanusia tetap baik, sementara hati tetap bergantung kepada Allah.

Buah dari Tauhid yang Benar

Di bagian akhir ceramahnya, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan:

“Kalau kita benar-benar punya tauhid yang sangat baik dan mengamalkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab ini, maka akan ada perubahan besar dalam hidup kita. Kita akan jauh lebih tenang, gitu loh, jauh lebih nyaman. Karena yang terpenting adalah mendapatkan wajah Allah dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Inilah inti dari seluruh pembahasan.

Tauhid bukan sekadar mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan kita. Tauhid juga membentuk cara hati memandang kehidupan.

Semakin kuat tauhid seseorang, semakin sedikit ia menggantungkan kebahagiaan kepada manusia.

Ia tetap berbuat baik meskipun tidak dilihat.

Ia tetap membantu meskipun tidak dipuji.

Ia tetap memberi meskipun tidak dibalas.

Karena ia yakin bahwa penilaian Allah jauh lebih berharga daripada penilaian seluruh manusia.

Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.”

(QS. Saba’: 39)

Kepercayaan kepada janji Allah inilah yang melahirkan ketenangan dalam hati seorang mukmin.

Penutup

Tidak semua kebaikan akan mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua pengorbanan akan dipahami oleh manusia. Bahkan, ada kalanya amal terbaik yang kita lakukan justru tidak diketahui oleh siapa pun.

Namun seorang mukmin tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan hidupnya.

Ia berusaha meluruskan niat, memperbaiki amal, lalu menyerahkan balasannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika dipuji, ia mengucapkan Alhamdulillah.

Ketika tidak dipuji, ia pun tetap mengucapkan Alhamdulillah.

Karena ia yakin, selama Allah menerima amalnya, maka ia tidak kehilangan apa pun.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa beramal dengan ikhlas, mengharap ridha-Nya semata, dan diberikan keteguhan hati untuk terus berbuat baik meskipun tanpa sanjungan manusia. Aamiin.


Isi Cuplikasn Ceramah

Orang-orang beriman kan nggak gampang kecewa, hadirin, ketika bertepuk sebelah tangan, ketika kebaikannya nggak diapresiasi oleh manusia.

Wanita-wanita solehah itu nggak kecewa, karena tujuan utamanya adalah dicintai oleh Allah.

Kalau ibu-ibu buat sarapan, eh nggak dimakan sama suami karena buru-buru, “Udah deh, aku duluan aja deh.” Udah capek-capek nggak dimakan.

Istri yang solehah itu nggak terpukul, nggak baper, gitu loh. Kenapa? Karena tujuan utama dia buat sarapan buat suaminya, dan itu adalah kebaikan agar dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau diapresiasi, alhamdulillah. Kalau nggak diapresiasi, alhamdulillah.

Nah, ibu-ibu ini masih baper apa nggak nih kalau diginiin?

Kalau kita benar-benar punya tauhid yang sangat baik dan mengamalkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab ini, maka akan ada perubahan besar dalam hidup kita. Kita akan jauh lebih tenang, gitu loh, jauh lebih nyaman.

Karena yang terpenting adalah mendapatkan wajah Allah dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pembicara : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri

Sumber : https://www.instagram.com/p/DL80D24ptP_/

Jangan Menggantungkan Harapan kepada Manusia, Gantungkanlah Hanya kepada Allah

Jangan Menggantungkan Harapan kepada Manusia, Gantungkanlah Hanya kepada Allah

Allah Adalah Sebaik-Baik Tempat Bergantung

Salah satu penyakit hati yang sering tidak disadari adalah terlalu menggantungkan harapan kepada manusia. Kita berharap manusia membantu kita, memberi kita rezeki, atau menjadi sebab kebahagiaan kita. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kita kecewa, marah, bahkan putus asa.

Padahal seorang muslim diajarkan untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukan berarti kita tidak boleh menerima bantuan dari manusia. Jika ada orang yang memberikan sesuatu kepada kita, maka terimalah dengan rasa syukur. Namun jangan pernah meyakini bahwa manusia itulah sumber rezeki kita. Mereka hanyalah perantara. Hakikat pemberi rezeki hanyalah Allah.

Allah berfirman:

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Ayat ini memberikan ketenangan bagi setiap hamba. Selama kita masih hidup, Allah telah menjamin adanya rezeki untuk setiap makhluk-Nya.

Allah Menciptakan Makhluk dan Menjamin Rezekinya

Renungkanlah.

Siapakah yang menciptakan kita?

Jawabannya tentu Allah.

Kalau Allah yang menciptakan kita, apakah mungkin Allah membiarkan ciptaan-Nya tanpa rezeki?

Tentu tidak.

Allah pasti memberikan rezeki kepada setiap makhluk yang Dia ciptakan. Bahkan seekor burung yang terbang di langit, ikan yang hidup di lautan, atau hewan yang tinggal di puncak gunung sekalipun, semuanya memperoleh rezeki dari Allah.

Allah berfirman:

“Dan berapa banyak makhluk bergerak yang tidak dapat mengusahakan rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabut: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki bukan semata-mata karena kemampuan makhluk, melainkan karena karunia Allah.

Rezeki Tidak Hanya untuk Orang Beriman

Sering kali kita mengira bahwa hanya orang saleh yang diberi rezeki. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya.

  • Orang yang beriman diberi rezeki.
  • Orang kafir juga diberi rezeki.
  • Orang yang taat diberi rezeki.
  • Orang yang bermaksiat pun tetap diberi rezeki.
  • Ahli ibadah diberi rezeki.
  • Orang fasik juga tetap mendapatkan rezeki.

Mengapa demikian?

Karena rezeki merupakan bagian dari rahmat Allah yang bersifat umum bagi seluruh makhluk di dunia. Adapun yang membedakan seorang mukmin adalah keberkahan rezekinya serta balasan yang Allah siapkan di akhirat.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Adz-Dzariyat: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa sumber seluruh rezeki hanyalah Allah, bukan manusia, bukan perusahaan, bukan jabatan, dan bukan usaha semata.

Manusia Hanyalah Sebab

Dalam kehidupan sehari-hari, Allah menjadikan manusia sebagai sebab datangnya rezeki.

Ada yang mendapat gaji dari perusahaan.

Ada yang memperoleh keuntungan dari pelanggan.

Ada yang diberi hadiah oleh saudaranya.

Semua itu hanyalah sebab yang Allah ciptakan.

Maka jangan sampai hati bergantung kepada sebab, tetapi lupakan kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut.

Ketika seseorang tidak jadi membantu kita, jangan kecewa berlebihan. Bisa jadi Allah sedang membuka pintu rezeki melalui jalan yang lain.

Karena jika Allah telah menetapkan rezeki untuk seorang hamba, tidak ada seorang pun yang mampu menghalanginya.

Sebaliknya, jika Allah belum menghendaki sesuatu, seluruh manusia di dunia tidak akan mampu memberikannya.

Tawakal yang Benar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2344, dinilai hasan sahih)

Perhatikan bahwa burung tetap keluar dari sarangnya. Ia berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung kepada usaha tersebut. Rezekinya datang karena Allah.

Demikian pula seorang muslim. Ia bekerja, berdagang, bertani, atau menjalankan usaha, tetapi keyakinannya tetap bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.

Penutup

Jangan menggantungkan harapan kepada manusia.

Harapkanlah segala sesuatu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika ada manusia yang membantu, bersyukurlah karena Allah telah menggerakkan hatinya.

Jika tidak ada yang membantu, jangan berputus asa, karena pintu rezeki Allah tidak pernah tertutup.

Allah yang menciptakan kita, dan Allah pula yang menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Tidak ada seekor hewan di puncak gunung, tidak ada seekor ikan di dasar lautan, bahkan tidak ada satu makhluk pun di bumi ini yang luput dari rezeki yang telah Allah tetapkan.

Maka perbaikilah tawakal, kuatkan keyakinan, teruslah berikhtiar dengan cara yang halal, dan gantungkan seluruh harapan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bandeng Presto, Olahan Ikan dengan Tekstur Lembut dan Kaya Nutrisi

Bandeng Presto, Olahan Ikan dengan Tekstur Lembut dan Kaya Nutrisi

Bandeng presto merupakan salah satu olahan ikan bandeng khas Indonesia yang dimasak menggunakan panci bertekanan tinggi (presto) hingga durinya menjadi lunak. Berkat proses ini, bandeng presto lebih mudah dikonsumsi tanpa perlu repot memisahkan duri, sehingga menjadi pilihan lauk yang praktis untuk keluarga.

Bandeng presto tidak hanya digemari karena durinya yang lunak dan mudah dimakan, tetapi juga karena dapat menjadi pilihan lauk yang praktis untuk berbagai kalangan. Proses memasak dengan teknik presto membuat ikan matang hingga ke bagian durinya tanpa menghilangkan sebagian besar zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, bandeng presto dapat menjadi salah satu menu bergizi yang melengkapi pola makan sehat jika diolah dan dikonsumsi dengan tepat.

Kandungan Nutrisi Bandeng Presto

Dalam sekitar 100 gram bandeng presto, terdapat sekitar 170–200 kalori dan beberapa nutrisi berikut:

  • 20–22 gram protein
  • 8–11 gram lemak
  • 250–350 miligram kalsium
  • 180–220 miligram fosfor
  • 25–35 miligram magnesium
  • 300–400 miligram kalium
  • 2 miligram zat besi

Selain itu, bandeng presto juga mengandung asam lemak omega-3, vitamin B12, selenium, serta vitamin D, yang baik untuk kesehatan.

Manfaat Bandeng Presto untuk Kesehatan

Bandeng presto mengandung berbagai nutrisi yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di antaranya:

1. Membantu memenuhi kebutuhan protein harian

Bandeng presto merupakan sumber protein hewani yang baik. Protein dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, menjaga massa otot, mendukung pembentukan enzim dan hormon, serta membantu menjaga daya tahan tubuh.

Mengonsumsi bandeng presto sebagai bagian dari pola makan seimbang dapat membantu memenuhi kebutuhan protein harian.

2. Mendukung kesehatan jantung

Bandeng presto mengandung asam lemak omega-3 yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Nutrisi ini diketahui dapat membantu menjaga kadar trigliserida tetap normal, mengurangi peradangan, serta mendukung fungsi pembuluh darah.

Agar manfaatnya lebih optimal, konsumsi bandeng presto sebaiknya diimbangi dengan pola makan sehat dan gaya hidup aktif.

3. Mendukung kesehatan tulang dan gigi

Proses memasak dengan teknik presto membuat duri bandeng menjadi lunak sehingga dapat ikut dikonsumsi. Duri tersebut mengandung kalsium dan fosfor yang dibutuhkan untuk menjaga kepadatan tulang dan kekuatan gigi. Kedua mineral ini juga berperan dalam mendukung fungsi otot dan saraf agar bekerja dengan baik.

4. Mendukung fungsi otak dan saraf

Kandungan omega-3 dan vitamin B12 pada bandeng presto berperan penting dalam menjaga fungsi otak dan sistem saraf. Nutrisi ini membantu proses komunikasi antarsel saraf, mendukung pembentukan sel darah merah, serta berkontribusi terhadap fungsi kognitif yang optimal.

5. Membantu melindungi sel tubuh

Bandeng presto juga mengandung selenium, yaitu mineral yang berfungsi sebagai antioksidan. Selenium membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sekaligus mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh dan membantu menjaga kesehatan kelenjar tiroid.

6. Membantu mencegah anemia

Bandeng presto mengandung vitamin B12 dan zat besi yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah. Asupan kedua nutrisi ini yang cukup dapat membantu mencegah anemia akibat kekurangan vitamin B12 atau zat besi, sekaligus mendukung penyaluran oksigen ke seluruh tubuh agar tetap optimal.

7. Membantu menjaga daya tahan tubuh

Beragam nutrisi dalam bandeng presto, seperti protein, selenium, dan vitamin B12, berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh. Nutrisi tersebut mendukung kerja sistem kekebalan sehingga tubuh lebih mampu melindungi diri dari berbagai penyebab infeksi.

Untuk memperoleh manfaatnya secara optimal, imbangi konsumsi bandeng presto dengan pola makan sehat, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

Tips Memilih, Mengolah, dan Mengonsumsi Bandeng Presto

Agar manfaat bandeng presto dapat diperoleh secara optimal sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Pilih bandeng presto yang masih segar. Pastikan kemasannya utuh, tidak bocor atau menggembung, serta tanggal kedaluwarsanya masih berlaku. Jika membeli produk rumahan, pilih yang baru dibuat dan disimpan dengan baik.
  • Simpan bandeng presto di dalam kulkas jika tidak langsung dikonsumsi. Untuk penyimpanan lebih lama, simpan di dalam freezer dengan wadah kedap udara.
  • Panaskan bandeng presto hingga matang merata sebelum disajikan, terutama jika sebelumnya disimpan di dalam kulkas.
  • Batasi penggunaan minyak, garam, dan santan saat mengolah kembali bandeng presto agar hidangan tetap lebih sehat.
  • Sajikan bandeng presto bersama sayuran dan sumber karbohidrat, seperti nasi, kentang, atau ubi, untuk melengkapi kebutuhan gizi harian.

Bandeng presto dapat diolah kembali menjadi berbagai hidangan, seperti pepes, balado, atau tumisan. Namun, jangan membiarkan bandeng presto berada pada suhu ruang terlalu lama karena dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang menyebabkan keracunan makanan.

Selain itu, bandeng presto merupakan pilihan lauk bergizi yang praktis untuk dikonsumsi sehari-hari. Dengan kandungan protein, omega-3, vitamin, dan mineral di dalamnya, makanan ini dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar dan diimbangi dengan makanan bergizi lainnya.

Bila setelah mengonsumsi bandeng presto Anda mengalami gejala, seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, atau muncul tanda-tanda alergi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Sumber : https://www.alodokter.com/bandeng-presto-olahan-ikan-dengan-tekstur-lembut-dan-kaya-nutrisi

Susu Kolagen, Solusi Praktis Jaga Kesehatan Kulit, Tulang, dan Sendi

Susu Kolagen, Solusi Praktis Jaga Kesehatan Kulit, Tulang, dan Sendi

Susu kolagen bisa jadi solusi praktis untuk menyehatkan kulit, tulang, dan sendi setelah usia 20-an. Kehadiran susu ini bisa membantu mempertahankan kadar kolagen yang menurun akibat pertambahan usia, paparan sinar matahari, polusi, stres, kurang tidur, atau pola makan yang kurang sehat.

Kolagen merupakan protein utama penyusun jaringan kulit, tulang rawan, dan sendi. Ketika jumlahnya berkurang, kulit menjadi lebih mudah kehilangan kelembapan dan elastisitasnya, sehingga tampak kusam, muncul garis halus, dan menjadi kurang kenyal.

Selain itu, penurunan kadar kolagen juga dapat memengaruhi kesehatan tulang dan sendi, sehingga sendi bisa terasa lebih kaku atau nyeri setelah beraktivitas. Nah, salah satu cara untuk mendapatkan asupan kolagen adalah dengan mengonsumsi susu kolagen.

Pentingnya Konsumsi Susu Kolagen

Memenuhi kebutuhan kolagen harian merupakan salah satu langkah untuk membantu menjaga kesehatan kulit, mencegah tanda-tanda penuaan dini, sekaligus mendukung kekuatan tulang dan kelenturan sendi. Namun, makanan sumber kolagen alami, seperti ikan, daging, atau kaldu tulang, belum tentu mudah dikonsumsi setiap hari.

Karena itu, susu kolagen dapat menjadi pilihan praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan kolagen harian. Kombinasi susu berkualitas dan tambahan kolagen di dalamnya dapat membantu menjaga kelembapan dan elastisitas kulit, sekaligus mendukung kesehatan tulang dan sendi agar tubuh tetap nyaman beraktivitas.

Manfaat Susu Kolagen untuk Tubuh

Dengan mengonsumsi susu kolagen secara rutin sebagai bagian dari pola hidup sehat, kebutuhan kolagen harian dapat lebih terpenuhi sehingga kesehatan tubuh tetap terjaga.

Berikut ini adalah berbagai manfaat yang bisa didapatkan dengan minum susu kolagen:

1. Menjaga kekuatan dan kepadatan tulang 

Kolagen merupakan bagian penting tulang. Jika asupan kolagen cukup, salah satunya dengan minum susu kolagen, struktur tulang akan lebih padat dan kuat, sehingga menurunkan risiko terkena osteoporosis dan cedera akibat benturan.

2. Menjaga dan memperkuat struktur sendi 

Kolagen adalah komponen utama tulang rawan di sendi. Kekurangan kolagen bisa membuat sendi menjadi kaku dan mudah nyeri. Nah, mengonsumsi susu kolagen secara rutin bisa membantu memperkuat jaringan sendi agar lebih lentur, sehingga Anda bebas dari rasa sakit ketika bergerak.

3. Menjaga kelembapan dan kekencangan kulit 

Selain bermanfaat untuk tulang dan sendi, kolagen juga berperan penting dalam menjaga kelembapan sekaligus kekencangan kulit. Dengan rutin mengonsumsi susu kolagen, kulit akan lebih mampu menahan air sehingga tetap lembap, lembut, dan tidak mudah kering.

Tak hanya itu, kolagen juga membantu memperbaiki struktur lapisan kulit dan meminimalkan kerutan halus. Hasilnya, kulit tampak lebih kencang, segar, dan elastis, serta terhindar dari masalah kusam atau pecah-pecah meskipun Anda beraktivitas padat setiap hari.

4. Menjaga kekenyalan kulit 

Kolagen berperan membangun struktur kulit, menjaga kelenturan, dan membantu mempercepat regenerasi sel. Dengan begitu, kulit tidak mudah kendur, tampak lebih cerah, dan terasa kenyal.

5. Merangsang pertumbuhan rambut dan kuku 

Kolagen mendukung pembentukan keratin yang merupakan bahan utama rambut. Selain itu, kolagen juga diperlukan untuk membentuk jaringan kuku. Ada penelitian yang menyebutkan bahwa suplemen kolagen dapat memperkuat kuku dan rambut, serta mendukung proses pertumbuhannya.

Selain berbagai manfaat di atas, susu kolagen juga dapat mendukung proses berikut:

  • Membantu meningkatkan massa otot, sehingga tubuh tetap kuat dan bertenaga
  • Menjaga elastisitas dinding pembuluh darah, yang penting untuk kelancaran sirkulasi darah dan kesehatan jantung
  • Membantu proses regenerasi sel tubuh secara menyeluruh, sehingga bisa mempercepat penyembuhan cedera maupun luka ringan

Menjaga tubuh tetap sehat dan bugar memang tak selalu mudah di tengah aktivitas yang padat. Karena itu, memilih sumber yang praktis dapat menjadi salah satu cara untuk membantu memenuhi kebutuhan kolagen harian, salah satunya dengan susu kolagen steril Collagena.

Collagena merupakan Pelopor Susu Steril yang mengandung 1.000 mg dilengkapi protein tinggi, vitamin A, dan tanpa tambahan gula. Kombinasi nutrisi tersebut menjadikan susu steril Collagena sebagai pilihan untuk membantu menjaga kesehatan kulit, sendi, dan daya tahan tubuh.

Jika Anda ingin memulai gaya hidup sehat dengan cara yang mudah, pertimbangkan konsumsi susu kolagen sebagai langkah awal yang tepat. Jangan lupa, imbangi dengan pola makan bernutrisi dan aktivitas fisik teratur agar manfaat yang didapat makin maksimal.

Fikih Tata Kelola: Jabatan Publik Harus Diserahkan kepada Ahlinya

Fikih Tata Kelola: Jabatan Publik Harus Diserahkan kepada Ahlinya

Naskah Fikih Tata Kelola hasil ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah memberikan perhatian besar pada satu prinsip yang kerap dilupakan dalam hiruk-pikuk pergantian pejabat, yaitu rekrutmen yang sehat.

Seiring bergulirnya waktu, satu per satu pejabat publik digantikan. Ada yang karena habis masa jabatan, ada pula karena alasan yang lebih mendesak. Jabatan publik bukanlah warisan yang otomatis turun kepada orang terdekat. Jabatan publik adalah amanah yang harus ditempatkan pada orang yang paling tepat.

Fikih Tata Kelola menegaskan bahwa rekrutmen yang sehat merupakan salah satu dari delapan prinsip sistem tata kelola. Prinsip ini menuntut proses pengisian jabatan bebas dari praktik transaksional dan beraroma investif, di mana seseorang menduduki posisi bukan karena kapabilitas dan kredibilitas moral yang dimilikinya.

Tanpa rekrutmen yang sehat, pilar-pilar lain dalam Fikih Tata Kelola seperti akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan akan berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Islam telah memberikan pedoman jelas tentang bagaimana seharusnya proses pengangkatan pejabat publik ini berlangsung. Firman Allah dalam QS. Al-Qashash ayat 26.

قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

“Salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku, pekerjakanlah dia. Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26).

Dua kriteria dalam ayat di atas disebut sekaligus. Pertama, kekuatan, yang berarti kompetensi, kemampuan, dan keahlian. Kedua, kepercayaan, yang berarti integritas, kejujuran, dan amanah. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Seseorang mungkin kuat secara kapasitas tetapi tidak bisa dipercaya. Yang lain mungkin jujur tetapi lemah dalam menjalankan tugas. Rekrutmen yang sehat menuntut pemenuhan kedua syarat ini secara bersamaan.

Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan al-Baihaqi menegaskan bahwa mengangkat seseorang menjadi pejabat sementara mengetahui ada orang yang lebih layak untuk jabatan itu, lebih memahami Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, adalah bentuk pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum muslimin.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اسْتَغْفَلَ عَامِلًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ أَوْلَى بِذَلِكَ مِنْهُ وَأَعْلَمَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَجَمِيعَ الْمُؤْمِنِينَ. (رواه البيهقي)

“Dari Ibnu Abbas ra, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Barang siapa mengangkat seorang pejabat dari kalangan orang-orang beriman, sementara ia mengetahui bahwa di antara mereka ada orang yang lebih berhak atas jabatan itu daripadanya dan lebih memahami Kitab Allah serta Sunnah Nabi-Nya, maka sungguh ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan seluruh orang-orang beriman.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis ini menempatkan rekrutmen sebagai urusan agama, bukan sekadar administrasi. Setiap orang yang terlibat dalam proses pengangkatan pejabat memikul tanggung jawab moral di hadapan Allah.

Sering kali, pergantian pejabat hanya dilihat dari aspek legal formal. Surat keputusan terbit, nama baru tercantum, proses dianggap selesai. Yang luput dari perhatian adalah apakah orang yang baru itu benar-benar telah melewati proses seleksi yang ketat, apakah kompetensinya telah teruji, apakah rekam jejaknya menunjukkan integritas yang tidak tercela. Atau semua itu dikalahkan oleh faktor lain seperti kedekatan personal, loyalitas politik, atau sekadar kemudahan prosedural.

Firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 58:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58).

Ayat ini turun dalam konteks kepemimpinan. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa menyampaikan amanah kepada ahlinya mencakup setiap posisi dan tanggung jawab publik. Menempatkan seseorang pada jabatan yang tidak sesuai dengan kapasitasnya berarti melanggar perintah Allah secara langsung.

Rasulullah Saw juga memperingatkan dalam sebuah hadis:

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ (رواه البخاري)

“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)

Peringatan dalam hadis di atas sangat tegas. Kehancuran yang dimaksud tidak selalu datang dalam bentuk ledakan besar. Kehancuran itu bisa datang dalam bentuk pelayanan publik yang memburuk, kebijakan yang tumpul, program yang gagal mencapai sasaran, dan lambat laun kepercayaan masyarakat yang runtuh.

Prinsip keadilan dalam Al-Qur’an menuntut agar setiap kebijakan, termasuk kebijakan rekrutmen, ditegakkan di atas landasan kebenaran, bukan di atas kepentingan kelompok atau kedekatan personal.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

Karena itu, setiap kali sebuah jabatan publik kosong, pertanyaan yang paling awal dan paling akhir haruslah pertanyaan yang sama. Apakah orang ini yang terbaik, yang terkuat, dan yang paling dapat dipercaya di antara yang tersedia. Jika jawabannya tidak, maka proses itu telah melahirkan pengkhianatan baru, sebagaimana ditegaskan dalam Fikih Tata Kelola.

Dan umat hanya bisa menunggu kehancuran yang dijanjikan Rasulullah, meskipun kehancuran itu datang dengan langkah yang perlahan dan sering tidak disadari sampai semuanya terlambat.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/06/fikih-tata-kelola-jabatan-publik-harus-diserahkan-kepada-ahlinya/

Hukum Membaca Basmalah di Kamar Mandi Saat Berwudhu

Hukum Membaca Basmalah di Kamar Mandi Saat Berwudhu

Banyak rumah masa kini menempatkan kamar mandi dan tempat wudhu dalam satu ruangan. Ketika hendak berwudhu, seorang Muslim pun sering dihadapkan pada pertanyaan sederhana tetapi penting.

Apakah basmalah tetap diucapkan meskipun berada di dalam kamar mandi? Bukankah tempat tersebut termasuk lokasi yang tidak layak untuk menyebut nama Allah? Di sisi lain, bukankah membaca basmalah merupakan bagian dari tuntunan wudhu?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa fikih memperhatikan kondisi yang dihadapi umat dalam kehidupan sehari-hari. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menjelaskan bahwa persoalan tersebut perlu dipahami dengan menggabungkan seluruh dalil yang berkaitan, bukan mengambil satu dalil lalu mengabaikan dalil lainnya.

Landasan pertama adalah anjuran membaca basmalah ketika berwudhu. Rasulullah Saw bersabda:

لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Tidak sempurna wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah ketika memulainya.”

Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dan menjadi dasar bahwa membaca بِسْمِ اللَّهِ sebelum berwudhu merupakan amalan yang dianjurkan. Sebagian ulama bahkan memandangnya wajib, sedangkan mayoritas ulama menilainya sebagai sunah muakkadah yang sangat dianjurkan. Dalam pandangan Majelis Tarjih, basmalah tetap menjadi bagian dari adab dan kesempurnaan wudhu.

Di sisi lain, syariat juga mengajarkan penghormatan terhadap nama Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ

“Nabi ﷺ apabila memasuki tempat buang hajat, beliau melepaskan cincin beliau.”

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa cincin tersebut bertuliskan:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Hadis ini dipahami para ulama sebagai isyarat agar nama Allah tidak dibawa ke tempat yang digunakan untuk buang hajat sebagai bentuk penghormatan terhadap lafaz yang mulia. Namun, penghormatan ini tidak serta-merta berarti seluruh zikir menjadi terlarang secara mutlak di setiap jenis kamar mandi. Yang perlu dibedakan ialah antara tempat yang memang dipakai untuk membuang najis dan tempat yang hanya difungsikan untuk berwudhu atau mandi.

Majelis Tarjih menjelaskan bahwa kondisi kamar mandi modern tidak selalu sama dengan tempat buang hajat pada masa dahulu. Pada masa Nabi, tempat buang hajat umumnya berada di lokasi yang terpisah dan identik dengan keberadaan najis. Adapun sekarang, banyak rumah menggabungkan toilet, pancuran, dan tempat wudhu dalam satu ruangan. Bahkan ada pula kamar mandi yang sama sekali tidak memiliki kloset dan hanya dipakai untuk mandi serta berwudhu. Perbedaan kondisi ini memiliki konsekuensi terhadap penerapan hukum fikih.

Karena itu, apabila seseorang berwudhu di kamar mandi yang di dalamnya terdapat toilet, Majelis Tarjih menganjurkan agar basmalah tidak diucapkan dengan suara keras. Cukup dibaca secara lirih atau di dalam hati sebagai bentuk menggabungkan dua tuntunan syariat sekaligus, yaitu mengamalkan sunah membaca basmalah ketika berwudhu dan tetap menjaga penghormatan terhadap nama Allah di tempat yang kurang pantas untuk memperbanyak zikir. Dengan cara ini, tidak ada dalil yang ditinggalkan dan tidak pula ada tuntunan yang diabaikan.

Apabila tempat wudhunya terpisah dari toilet, atau hanya berupa ruang mandi tanpa tempat buang hajat, maka tidak ada alasan untuk meninggalkan basmalah. Bahkan dianjurkan untuk mengucapkannya sebagaimana tuntunan umum sebelum memulai wudhu. Hal ini sejalan dengan kaidah bahwa hukum mengikuti keadaan tempatnya. Tempat yang bersih dan tidak digunakan untuk buang hajat tidak termasuk lokasi yang dilarang untuk berzikir kepada Allah.

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 41)

Allah juga berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa zikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Akan tetapi, syariat juga mengajarkan adab dalam melaksanakannya. Islam tidak hanya memerintahkan banyak berzikir, tetapi juga mengajarkan tempat, waktu, dan cara yang tepat agar penghormatan kepada Allah tetap terjaga.

Dalam pembahasan fikih, Majelis Tarjih juga mengingatkan pentingnya memahami hubungan antara nash dan realitas. Perubahan bentuk bangunan rumah menyebabkan sebagian persoalan fikih memerlukan penyesuaian penerapan tanpa mengubah prinsip-prinsip dasarnya.

Oleh sebab itu, hukum membaca basmalah di kamar mandi tidak dapat dipukul rata, melainkan harus melihat fungsi ruangan tersebut. Jika di dalamnya terdapat toilet, basmalah cukup dibaca pelan atau di dalam hati. Jika hanya digunakan untuk mandi atau berwudhu, maka basmalah tetap dianjurkan diucapkan sebagaimana biasa.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/07/hukum-membaca-basmalah-di-kamar-mandi-saat-berwudhu/

Meniup Lilin Saat Ulang Tahun, Bolehkah?

Meniup Lilin Saat Ulang Tahun, Bolehkah?

Setiap tahun jutaan orang merayakan ulang tahun. Kue dihiasi lilin, lagu selamat ulang tahun dinyanyikan, kemudian lilin ditiup bersama doa dan harapan. Bagi sebagian orang, prosesi itu hanyalah tradisi yang dianggap biasa.

Namun bagi seorang Muslim, pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah apakah tradisi itu populer, melainkan apakah ia memiliki landasan dalam syariat Islam.

Islam pada dasarnya tidak melarang seseorang bergembira atas nikmat usia yang Allah berikan. Bahkan rasa syukur merupakan salah satu ajaran utama agama. Persoalannya terletak pada bentuk ekspresi syukur tersebut. Syariat mengajarkan bahwa setiap tradisi perlu diukur dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunah, bukan semata-mata karena telah menjadi kebiasaan masyarakat.

Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menjelaskan bahwa peringatan ulang tahun, baik untuk individu maupun organisasi, termasuk persoalan ijtihadiyah. Tidak terdapat nash yang secara langsung memerintahkan ataupun melarang perayaan ulang tahun, dan para sahabat Nabi juga tidak dikenal memiliki tradisi memperingatinya.

Karena itu, penilaiannya dikembalikan kepada kaidah-kaidah umum syariat, yaitu sejauh mana suatu kegiatan menghadirkan kemaslahatan atau justru membuka jalan kepada kemudaratan.

Prinsip tersebut berangkat dari firman Allah SWT:

﴿وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104).

Ayat ini menjadi dasar bahwa setiap aktivitas sosial dinilai dari kandungannya. Apabila sebuah peringatan ulang tahun diisi dengan pengajian, santunan, bakti sosial, silaturahmi, atau kegiatan yang menguatkan keimanan serta memberi manfaat bagi masyarakat, maka kegiatan semacam itu termasuk dalam kategori makruf yang dianjurkan.

Sebaliknya, jika diwarnai kemaksiatan, pemborosan, minuman keras, atau perilaku yang menjauhkan manusia dari Allah, maka ia menjadi sesuatu yang tercela. Hal itu sejalan dengan firman Allah:

﴿يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ ۖ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ﴾

“Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta bersegera mengerjakan berbagai kebajikan. Mereka itulah termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 114).

Lalu bagaimana dengan meniup lilin?

Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa menyalakan dan meniup lilin tidak memiliki tuntunan dalam ajaran Islam sehingga tidak perlu dilakukan. Penjelasan itu bukan semata-mata karena lilin sebagai benda, melainkan karena sejarah tradisi tersebut. Berdasarkan penelusuran sejarah yang dikemukakan dalam fatwa, tradisi menyalakan lilin merupakan cara masyarakat Yunani Kuno mempersembahkan semacam upeti kepada dewi bulan Artemis. Asap lilin dipercaya membawa doa-doa mereka menuju sang dewi.

Dengan demikian, meniup lilin bukan sekadar kebiasaan tanpa makna, melainkan memiliki akar historis yang berkaitan dengan ritual keagamaan masyarakat pagan Yunani.

Karena memiliki hubungan dengan praktik peribadatan agama lain, Majelis Tarjih mengaitkannya dengan sabda Rasulullah saw.:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis ini dipahami sebagai peringatan agar umat Islam tidak mengadopsi simbol ataupun ritual keagamaan yang menjadi ciri khas agama lain. Oleh sebab itu, meniup lilin bukan dipandang sekadar persoalan meniup api, tetapi dipertimbangkan dari asal-usul dan makna historis tradisi tersebut.

Pandangan ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam membedakan antara adat yang bersifat duniawi dengan ritual yang memiliki dimensi keagamaan. Tidak semua tradisi otomatis ditolak. Fatwa yang sama menjelaskan bahwa adat pada dasarnya boleh dilakukan selama tidak mengandung unsur syirik, tidak menimbulkan pemborosan, tidak memberatkan masyarakat, dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Artinya, Islam tidak memusuhi budaya, tetapi menyeleksinya berdasarkan nilai tauhid.

Karena itu pula Muhammadiyah tetap memperingati Milad setiap tahun. Perbedaannya terletak pada substansi. Milad Muhammadiyah tidak dibangun di atas simbol-simbol ritual tertentu, melainkan menjadi momentum memperluas syiar Islam, mengenang perjuangan para pendiri, memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah, serta menghadirkan manfaat nyata melalui pengajian, pelayanan sosial, dan berbagai amal usaha.

Dalam perspektif ini, yang diperingati bukan sekadar bertambahnya usia, tetapi bertambahnya kesempatan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi umat.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/07/meniup-lilin-saat-ulang-tahun-bolehkah/

Belajar pada Kehidupan Sang Daun

Belajar pada Kehidupan Sang Daun

Islamedia – “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran 190-191).
Saudaraku, apa yang kau rasakan saat membaca ayat tersebut? Adakah kau merasakan ajakan Allah Azza wa Jalla untuk memikirkan ciptaan-Nya, yang mana bila kau lakukan maka Dia akan memberi tanda/petunjuk-Nya padamu?
Bila kita merenungi ayat tersebut kemudian mencoba mengikutinya maka akan terasa tanda-tanda itu bicara pada kita. Sebagai contoh sederhana, kau tahu daun kan? Saking banyaknya daun di sekitar kita, mungkin kita tak pernah memikirkan pelajaran apa yang dapat kita petik dari kehidupan daun.
Mungkin saat mengenyam ilmu di sekolah atau kampus yang berkaitan dengan ilmu biologi atau pertanian, ada sedikit pengetahuan akan kehidupan daun kita peroleh dari ulasan guru atau dosen, baik tentang proses fotosintesis, kemanfaatannya buat alam, manusia, hewan juga tanaman itu sendiri. Tetapi bisa jadi kita menelaahnya hanya sebatas itu, tanpa pernah menyentuh hal ini dari sudut pandang iman.
Oleh karenanya Saudaraku, mari sejenak kita perhatikan daun. Ya, sejenak saja dari sekian banyak waktu yang kau habiskan dengan segala rutinitasmu. Kau pasti tahu bahwa sang daun sejak tumbuh ia memiliki peran penting untuk proses kehidupannya sendiri dan tak diragukan lagi teramat banyak manfaat bagi sekitanya termasuk untuk kita. Kau pun pasti sangat faham saat sang daun luruh ke bumi, ia tetap memberi manfaat sebagai humus yang menyuburkan tanah.
Tidakkah kita bisa mengambil hikmah/pelajaran dari siklus hidupnya ini? Ada sebuah tanda yang Allah tunjukkan pada kita tentang kehidupan daun. Mari kita garisbawahi, bahwa sejak tumbuh hingga luruh ke bumi ia bermanfaat untuk sekitarnya.
Tidakkah kita menginginkan kehidupan kita bisa bermanfaat seperti kehidupan sang daun? Di mana hal ini selaras  dengan apa yang diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
 
Mari sejenak kita renungi pula hadits ini, dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)
Mereka, kata Rasulullah, adalah sebaik-baik manusia. Mereka mendapatkan cinta Allah karena kebaikan dan manfaat hidupnya terhadap orang lain. Para sahabat pada masa Nabi memahami secara mendalam sebuah kaidah usul fiqih yang menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri.
Tidakkah kita ingin mendapat cinta Allah dengan menjadi bagian dari “Khairunnas anfa’uhum linnas?” Kurasa tak ada seorang pun yang tak menginginkan dicintai Allah. Bila demikian, mari kita tengok diri kita, apa saja yang sudah diperbuat sepanjang perjalanan hidup kita, adakah yang kita lakukan telah bermanfaat tak hanya untuk diri pribadi tetapi berguna pula untuk orang lain? Bagaimana peran kita selama ini sebagai anak, sebagai suami atau isteri, sebagai ayah atau bunda, sebagai bagian dari masyarakat,  sebagai pengajar, pekerja, pedagang, pencari ilmu, atau peran apa pun yang saat ini sedang dilakoni? Dan, apa pula yang kita ingin orang lain sebutkan tentang diri kita saat meninggalkan kefanaan dunia?
Bila perjalanan hidupmu Saudaraku… masih sama denganku, masih jauh dari bermanfaat untuk sekitar, mulai saat ini mari menyusun langkah dan menata aktivitas kita dengan berorientasi pada kemanfaatan untuk orang banyak. Dengan segenap potensi yang Allah karuniakan, mari kita berjuang menjadi pribadi yang dicintai-Nya.
Indah sekali rasanya bila hidup kita diwarnai semangat untuk selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain. Elok juga rasanya bila ajal telah tiba mengakhiri aktivitas kita di dunia, namun nilai kemanfaatan dari apa yang kita lakukan tetap dirasakan oleh mereka yang masih berkelana di dunia.
Sungguh sangat bermakna pula ketika kita dapat memikirkan tanda-tanda dari ciptaan-Nya, seperti sang daun itu. Mari kita segera bergerak untuk belajar pada kehidupannya : dari tumbuh hingga luruh meninggalkan manfaat untuk sekitar.
Semoga dengan mengingat dan belajar pada salah satu ciptaan Allah ini, membuat kita terpacu menjadi bagian dari Khairunnas anfa’uhum linnas.

Sumber : https://www.islamedia.id/2011/11/belajar-pada-kehidupan-sang-daun.html

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Emir Dubai Bangun Mesin Roti Gratis 24 Jam, Ubah Sedekah Jadi Sistem Ketahanan Pangan

Di banyak negara, bantuan pangan masih identik dengan pembagian sembako atau dapur umum saat terjadi bencana. Namun Dubai memilih pendekatan berbeda.

Kota Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di Jazirah Arab dan terkenal sebagai pusat modernitas ini membangun sebuah sistem yang memungkinkan masyarakat memperoleh makanan pokok kapan saja melalui teknologi, tanpa antre, tanpa birokrasi, dan tetap menjaga martabat penerima manfaat.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Bread for All, sebuah inisiatif kemanusiaan yang digagas oleh Penguasa Dubai, Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Program tersebut menghadirkan mesin pintar yang memproduksi roti segar selama 24 jam dan dapat diakses secara gratis oleh warga yang membutuhkan.

Berbeda dengan bantuan sosial konvensional yang bersifat insidental, Bread for All dirancang sebagai model filantropi yang berkelanjutan.

Teknologi ditempatkan sebagai penghubung antara para dermawan dan masyarakat yang membutuhkan, sehingga bantuan dapat terus mengalir tanpa bergantung pada momentum tertentu.

Syekh Mohammed ingin memastikan kebutuhan paling mendasar masyarakat tetap terpenuhi. Dia tak ingin ada warga Dubai yang tidur dalam keadaan lapar.

Dilansir dari Khaleej Times, Selasa (14/7/2026), melalui yayasannya, The Mohammed bin Rashid Global Centre for Endowment Consultancy (MBRGCEC), ia meluncurkan Bread for All sebagai bagian dari visi membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Menurut laporan itu, inisiatif digital tersebut telah diluncurkan sejak 2022. Mesin pintar Bread for All memproduksi roti segar yang dapat diambil secara gratis sebagai bagian dari model kerja amal modern dan berkelanjutan. Mesin-mesin itu ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Dubai.

Sedekah tak Lagi Sekadar Memberi, tetapi Membangun Sistem

Keunikan Bread for All bukan hanya pada mesin pembuat rotinya. Program tersebut juga membuka ruang partisipasi publik.

Siapa pun dapat menyumbang langsung melalui mesin tersebut atau bahkan berkontribusi menghadirkan mesin baru di lokasi lain. Dengan demikian, setiap mesin bukan sekadar tempat mengambil roti, melainkan menjadi simpul filantropi yang terus bergerak.

Pendekatan seperti ini menunjukkan perubahan besar dalam praktik wakaf dan sedekah di era digital. Jika selama ini donasi umumnya diberikan secara langsung kepada penerima, kini teknologi memungkinkan bantuan dikelola sebagai sistem yang bekerja sepanjang waktu.

Visi besar itu sejalan dengan pesan yang disampaikan Syekh Mohammed pada awal pandemi COVID-19. Proyek itu mewujudkan visi Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden dan Perdana Menteri UEA dan Penguasa Dubai, yang menekankan bahwa ‘Di UEA, tidak seorang pun tidur dalam keadaan lapar atau kekurangan’ pada awal pandemi COVID-19.”

Wakaf Produktif Berbasis Teknologi

Direktur MBRGCEC, Zainab Juma Al Tamimi, menegaskan Bread for All merupakan bagian dari pengembangan model wakaf yang mampu menjawab tantangan sosial masa depan.

“Wakaf inovatif adalah alat yang berkontribusi pada pembangunan sosial-ekonomi. Masyarakat Emirat adalah masyarakat yang simpatik, dan kami ingin mengembangkan solusi untuk masa depan yang lebih baik dan orang-orang lebih bahagia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan wakaf tidak lagi dipandang sebatas pembangunan masjid atau fasilitas pendidikan, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi dan perlindungan sosial.

Dalam konteks ini, mesin roti pintar menjadi aset wakaf produktif yang manfaatnya terus mengalir kepada masyarakat setiap hari.

MBRGCEC juga menyebut Bread for All sebagai inisiatif pertama yang menerapkan konsep short-term community funding, yaitu pendanaan gotong royong masyarakat yang langsung dihubungkan dengan layanan sosial.

Selain melalui mesin, masyarakat dapat berdonasi menggunakan aplikasi Dubai Now, layanan pesan singkat (SMS), maupun situs resmi MBRGCEC dengan nominal sesuai kemampuan.

Pendekatan tersebut membuat setiap warga dapat menjadi bagian dari solusi tanpa harus menjadi donatur besar. Dengan kata lain, teknologi menghilangkan jarak antara pemberi dan penerima manfaat.

Sekretaris Jenderal Awqaf and Minors Affairs Foundation (AMAF), Ali Al Mutawa, menilai Bread for All merupakan contoh baru pengelolaan wakaf yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Inisiatif tersebut, lanjutnya, merupakan model teladan bagi wakaf komunitas yang inovatif yang memungkinkan semua orang berpartisipasi, menciptakan gerakan amal yang menyeluruh serta memperkuat semangat solidaritas di berbagai lapisan masyarakat.

“Kami berharap dapat memperluas kerja sama dengan para mitra agar manfaatnya menjangkau lebih banyak penerima,” ujarnya.

Menjaga Martabat Penerima Bantuan

Bread for All bekerja sama dengan jaringan supermarket Aswaaq untuk memasang mesin roti pintar di sejumlah cabang, seperti Al Mizhar, Al Warqa’a, Mirdif, Nad Alsheba, Nadd Al Hamar, Al Qouz, dan Al Bada’a.

Mesin tersebut dirancang sederhana dan mudah digunakan. Pengguna cukup menekan tombol pemesanan, kemudian mesin akan memanggang roti hangat dan mengeluarkannya beberapa saat kemudian.

Selain di supermarket, layanan ini juga tersedia di sejumlah masjid. Menurut Dubai Scoops, roti segar tersedia selama 24 jam bagi masyarakat yang memenuhi syarat.

Hanya dengan memindai Kartu Identitas Emirates mereka di supermarket dan masjid-masjid terpilih yang berpartisipasi, warga bisa mengambil roti harian mereka dengan mudah, pribadi, dan bermartabat.

Aspek terakhir itulah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Program ini tidak hanya memastikan bantuan tersedia, tetapi juga menjaga harga diri penerimanya. Mereka tidak perlu mengantre panjang atau memperlihatkan kondisi ekonominya di depan publik.

Deputi CEO Aswaaq, Affan Khouri, menyebut Bread for All sebagai bagian dari pembangunan social safety net atau jaring pengaman sosial.

“Kami senang dapat bermitra dengan MBRGCEC dalam inisiatif Bread for All yang menciptakan jaring pengaman sosial, di mana semua orang dapat bekerja sama untuk membantu keluarga kurang mampu, individu, dan para pekerja. Kami berharap dapat menyediakan roti bagi mereka yang membutuhkan di sejumlah cabang supermarket di seluruh Dubai,” pungkasnya.

Konsep jaring pengaman sosial inilah yang menjadi pembeda utama Bread for All. Bantuan tidak hadir sebagai respons terhadap krisis semata, melainkan sebagai layanan permanen yang selalu tersedia.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi negara-negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia, Bread for All menawarkan pelajaran penting. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf nasional sangat besar, tetapi efektivitas distribusi masih menjadi tantangan.

Model yang dikembangkan Dubai memperlihatkan teknologi dapat mengubah filantropi dari sekadar kegiatan karitatif menjadi infrastruktur sosial yang bekerja tanpa henti.

Jika konsep serupa diterapkan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga zakat, badan wakaf, pelaku usaha, dan komunitas, bukan tidak mungkin mesin-mesin pangan berbasis wakaf produktif dapat hadir di kawasan padat penduduk, kampus, rumah sakit, terminal, hingga masjid-masjid besar di Indonesia.

Dengan demikian, filantropi Islam tidak lagi berhenti pada pemberian bantuan sesaat, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu menjaga ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Bread for All pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang roti gratis. Program ini merupakan contoh bagaimana kepemimpinan, teknologi, dan nilai-nilai Islam dipadukan menjadi sistem ketahanan pangan yang menjaga martabat manusia sekaligus memperkuat budaya berbagi di tengah masyarakat modern.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/berbagi/emir-dubai-bangun-mesin-roti-gratis-24-jam-ubah-sedekah-jadi-sistem-ketahanan-pangan