Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah merasakan kecewa karena kebaikannya tidak dihargai. Kita telah berusaha membantu, melayani, atau berkorban, namun tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan. Bahkan terkadang yang kita terima justru sikap acuh tak acuh.
Lalu, bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi keadaan seperti ini?
Salah satu penjelasan yang sangat menyentuh disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri dalam sebuah kajiannya. Beliau mengingatkan bahwa orang yang benar-benar beriman tidak akan mudah kecewa hanya karena tidak mendapatkan apresiasi dari manusia.
Orang Beriman Tidak Mudah Kecewa
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan:
“Orang-orang beriman kan nggak gampang kecewa, hadirin, ketika bertepuk sebelah tangan, ketika kebaikannya nggak diapresiasi oleh manusia.”
Kalimat ini mengajak kita untuk melihat kembali tujuan kita ketika berbuat baik.
Sering kali rasa kecewa bukan muncul karena amal kita tidak bernilai, tetapi karena kita berharap manusia memberikan penghargaan, pujian, atau sekadar ucapan terima kasih. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati pun menjadi sedih.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa setiap ibadah dan amal saleh harus dilakukan dengan niat yang tulus kepada-Nya.
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan utama seorang muslim adalah mencari ridha Allah, bukan mencari penilaian manusia.
Tujuan Utama Adalah Dicintai Allah
Beliau melanjutkan:
“Wanita-wanita solehah itu nggak kecewa, karena tujuan utamanya adalah dicintai oleh Allah.”
Kalimat ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi wanita, tetapi bagi setiap muslim dan muslimah.
Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah, seorang ibu yang mengurus rumah tangga, seorang guru yang mengajar, seorang pedagang yang jujur, bahkan seseorang yang sekadar membantu tetangganya, semuanya dapat menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.
Ketika tujuan itu benar, maka keadaan di sekitar tidak mudah menggoyahkan hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)
Hadis ini menunjukkan bahwa nilai sebuah amal bergantung pada niat yang ada di dalam hati.
Contoh yang Sangat Dekat dengan Kehidupan
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri memberikan contoh yang sangat sederhana namun sering terjadi di dalam rumah tangga.
“Kalau ibu-ibu buat sarapan, eh nggak dimakan sama suami karena buru-buru, ‘Udah deh, aku duluan aja deh.’ Udah capek-capek nggak dimakan.”
Situasi seperti ini mungkin pernah dialami banyak keluarga.
Secara manusiawi, tentu seseorang bisa merasa sedih. Islam tidak melarang adanya perasaan tersebut. Namun yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa kecewa membuat kita kehilangan keikhlasan atau berhenti berbuat baik.
Beliau kemudian menjelaskan:
“Istri yang solehah itu nggak terpukul, nggak baper, gitu loh. Kenapa? Karena tujuan utama dia buat sarapan buat suaminya, dan itu adalah kebaikan agar dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Contoh ini juga dapat diterapkan dalam banyak keadaan.
Ketika membantu teman.
Ketika melayani orang tua.
Ketika bekerja dengan jujur.
Ketika berdakwah.
Ketika bersedekah.
Semua amal tersebut akan terasa ringan apabila orientasinya adalah Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Tidak ada satu pun amal yang hilang dari pengetahuan Allah, meskipun manusia sama sekali tidak mengetahuinya.
Diapresiasi Alhamdulillah, Tidak Diapresiasi Pun Alhamdulillah
Kemudian beliau mengatakan:
“Kalau diapresiasi, alhamdulillah. Kalau nggak diapresiasi, alhamdulillah.”
Kalimat yang sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.
Bukan berarti seorang muslim tidak senang ketika dihargai. Menghargai dan dihargai tetap merupakan bagian dari akhlak yang baik.
Namun kebahagiaannya tidak bergantung pada penghargaan tersebut.
Jika dipuji, ia bersyukur kepada Allah.
Jika tidak dipuji, ia tetap bersyukur kepada Allah.
Mengapa?
Karena yang memberikan balasan terbaik bukan manusia, melainkan Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Selama amal dilakukan dengan ikhlas, tidak ada sedikit pun usaha yang sia-sia di sisi Allah.
Islam Tetap Mengajarkan Menghargai Kebaikan Orang Lain
Pembahasan tentang ikhlas terkadang disalahpahami.
Ada yang mengira, karena kita harus ikhlas, maka orang lain bebas untuk tidak menghargai kebaikan kita. Anggapan ini tidak tepat.
Islam tetap mengajarkan agar kita berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(HR. Abu Dawud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954)
Artinya, ada dua adab yang berjalan bersamaan.
Orang yang berbuat baik menjaga keikhlasannya.
Orang yang menerima kebaikan menjaga rasa syukurnya.
Dengan demikian, hubungan antarmanusia tetap baik, sementara hati tetap bergantung kepada Allah.
Buah dari Tauhid yang Benar
Di bagian akhir ceramahnya, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri mengatakan:
“Kalau kita benar-benar punya tauhid yang sangat baik dan mengamalkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab ini, maka akan ada perubahan besar dalam hidup kita. Kita akan jauh lebih tenang, gitu loh, jauh lebih nyaman. Karena yang terpenting adalah mendapatkan wajah Allah dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Inilah inti dari seluruh pembahasan.
Tauhid bukan sekadar mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan kita. Tauhid juga membentuk cara hati memandang kehidupan.
Semakin kuat tauhid seseorang, semakin sedikit ia menggantungkan kebahagiaan kepada manusia.
Ia tetap berbuat baik meskipun tidak dilihat.
Ia tetap membantu meskipun tidak dipuji.
Ia tetap memberi meskipun tidak dibalas.
Karena ia yakin bahwa penilaian Allah jauh lebih berharga daripada penilaian seluruh manusia.
Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.”
(QS. Saba’: 39)
Kepercayaan kepada janji Allah inilah yang melahirkan ketenangan dalam hati seorang mukmin.
Penutup
Tidak semua kebaikan akan mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua pengorbanan akan dipahami oleh manusia. Bahkan, ada kalanya amal terbaik yang kita lakukan justru tidak diketahui oleh siapa pun.
Namun seorang mukmin tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan hidupnya.
Ia berusaha meluruskan niat, memperbaiki amal, lalu menyerahkan balasannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika dipuji, ia mengucapkan Alhamdulillah.
Ketika tidak dipuji, ia pun tetap mengucapkan Alhamdulillah.
Karena ia yakin, selama Allah menerima amalnya, maka ia tidak kehilangan apa pun.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa beramal dengan ikhlas, mengharap ridha-Nya semata, dan diberikan keteguhan hati untuk terus berbuat baik meskipun tanpa sanjungan manusia. Aamiin.
Isi Cuplikasn Ceramah
Orang-orang beriman kan nggak gampang kecewa, hadirin, ketika bertepuk sebelah tangan, ketika kebaikannya nggak diapresiasi oleh manusia.
Wanita-wanita solehah itu nggak kecewa, karena tujuan utamanya adalah dicintai oleh Allah.
Kalau ibu-ibu buat sarapan, eh nggak dimakan sama suami karena buru-buru, “Udah deh, aku duluan aja deh.” Udah capek-capek nggak dimakan.
Istri yang solehah itu nggak terpukul, nggak baper, gitu loh. Kenapa? Karena tujuan utama dia buat sarapan buat suaminya, dan itu adalah kebaikan agar dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kalau diapresiasi, alhamdulillah. Kalau nggak diapresiasi, alhamdulillah.
Nah, ibu-ibu ini masih baper apa nggak nih kalau diginiin?
Kalau kita benar-benar punya tauhid yang sangat baik dan mengamalkan apa yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab ini, maka akan ada perubahan besar dalam hidup kita. Kita akan jauh lebih tenang, gitu loh, jauh lebih nyaman.
Karena yang terpenting adalah mendapatkan wajah Allah dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pembicara : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri




