Mengawali Usaha dari Pesanan Teman, Hanif Kini Sukses Rakit Rumah Joglo Beromzet Ratusan Juta

Mengawali Usaha dari Pesanan Teman, Hanif Kini Sukses Rakit Rumah Joglo Beromzet Ratusan Juta

KEBUMEN, KOMPAS.com – Di sebuah sudut Desa Sarwogadung, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, denting palu yang menghantam kayu tua terdengar bersahutan sejak pagi.

Aroma khas kayu jati lawas memenuhi area bengkel kerja sederhana milik Hanif. Di tempat itulah, potongan-potongan kayu berusia puluhan hingga ratusan tahun kembali “dihidupkan” menjadi rumah joglo yang sarat nilai sejarah dan budaya.

Siapa sangka, usaha yang kini mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah tersebut justru berawal dari sebuah permintaan sederhana seorang teman.

Sekitar lima tahun lalu, Hanif sama sekali tidak membayangkan bakal menjadi perajin rumah joglo yang dikenal hingga luar daerah.

Saat itu, ia hanya diminta membantu membuat sebuah rumah joglo. Tanpa strategi bisnis yang matang maupun promosi besar-besaran, ia mengerjakan pesanan tersebut dengan sepenuh hati.

Hasilnya di luar dugaan. Rumah joglo yang dibangunnya mendapat apresiasi tinggi dari sang pemesan. Dari situlah, namanya mulai melambung melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Satu pesanan disusul pesanan berikutnya, hingga perlahan usahanya berkembang menjadi bisnis yang sangat menjanjikan.

“Dulu kan ada teman yang minta dibuatkan rumah joglo. Alhamdulillah hasilnya memuaskan, kemudian iseng-iseng nyoba ternyata banyak yang suka dan banyak yang merekomendasikan,” kata Hanif pada Rabu (22/7/2026).

Kini, rumah-rumah joglo buatannya telah berdiri anggun di berbagai wilayah, mulai dari Yogyakarta, Magelang, Purwokerto, Kebumen, hingga sejumlah kota lain di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan, karya Hanif telah menyeberang hingga ke Pulau Bali.

“Pernah dipesan orang Bali juga, ya macam-macam daerah sudah banyak,” katanya.

Tidak hanya rumah joglo, pelanggan dari Bali juga mempercayakan pembuatan berbagai furnitur berbahan kayu, seperti meja, kursi, hingga lemari. Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa kualitas pekerjaan menjadi modal utama yang terus dijaga selama menjalankan usaha.

Berburu Bahan Jati Tua Hingga Pantura

Bagi Hanif, membuat rumah joglo bukan sekadar menyusun balok-balok kayu menjadi sebuah bangunan. Setiap kayu yang digunakan memiliki cerita panjang. Sebagian besar berasal dari bangunan tua yang telah berdiri selama puluhan bahkan lebih dari seratus tahun.

Kayu-kayu tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Hanif, kayu jati tua memiliki karakter yang jauh lebih stabil, kuat, serta memiliki motif alami yang tidak dapat ditemukan pada kayu baru.

“Untuk bahan, kayu dari bangunan lama karena kualitasnya sudah terbukti. Selain lebih kuat, karakter kayunya juga lebih bagus sehingga nilai estetikanya tetap terjaga,” ujarnya.

Ketelitian memilih bahan menjadi prinsip yang tidak pernah ditinggalkan. Ia rela menempuh perjalanan lintas kota demi mendapatkan material terbaik. Berbagai daerah di Jawa menjadi lokasi berburu bangunan joglo lawas yang masih layak dipugar.

Hanif rutin mendatangi Yogyakarta, Purworejo, Kebumen, Magelang, Purwokerto, hingga Wonosobo untuk mencari rumah-rumah tua yang sudah tidak ditempati. Sementara untuk memperoleh kayu jati berkualitas, ia menjalin jaringan hingga kawasan Pantai Utara Jawa, seperti Rembang, Pati, Pemalang, Tegal, dan Cirebon.

Tak jarang proses pencarian material memakan waktu berminggu-minggu. Ia juga mengandalkan informasi dari sesama perajin maupun pencari kayu lawas yang tersebar di berbagai daerah.

Kesabaran itu terbayar ketika material berkualitas berhasil ditemukan. Menurut Hanif, kualitas kayu merupakan investasi utama yang menentukan usia bangunan sekaligus kepuasan pelanggan.

Patok Harga Rp 70 Juta hingga Rp 300 Juta

Harga rumah joglo yang ditawarkan pun menyesuaikan spesifikasi dan tingkat kerumitan pengerjaan.

“Untuk tipe sederhana, pelanggan cukup menyiapkan dana sekitar Rp 70 juta. Sementara rumah joglo dengan ukuran besar, material premium, umpak batu pilihan, serta ukiran yang rumit dapat mencapai sekitar Rp 300 juta,” katanya.

Meski memiliki harga yang tidak murah, permintaan terhadap rumah joglo justru terus berdatangan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa rumah tradisional Jawa masih memiliki tempat di hati masyarakat, baik sebagai hunian, restoran, vila, homestay, maupun bangunan komersial yang mengedepankan nuansa etnik.

“Pemesan rata-rata area Jawa. Pernah sampai Bali juga, sampai sekarang juga masih kontinyu. Paling banyak area Jogja sampai Purwokerto,” tutur Hanif.

Di tengah derasnya pembangunan rumah bergaya modern dan minimalis, Hanif melihat rumah joglo memiliki daya tarik tersendiri. Selain menawarkan nilai estetika, bangunan tradisional itu juga menyimpan filosofi serta identitas budaya yang tidak lekang oleh waktu.

Baginya, setiap proyek yang dikerjakan bukan hanya soal menyelesaikan pesanan pelanggan. Lebih dari itu, ia merasa ikut menjaga keberlangsungan warisan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Semangat itulah yang membuatnya terus mempertahankan kualitas, mulai dari pemilihan material, proses pengerjaan, hingga detail ukiran yang menjadi ciri khas rumah joglo.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya lokal juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selama kualitas dijaga, rumah joglo tetap memiliki pasar dan diminati banyak orang,” katanya.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2026/07/22/134436778/mengawali-usaha-dari-pesanan-teman-hanif-kini-sukses-rakit-rumah-joglo