Muktamar NU ke-35 Harus Jadi Ajang Adu Gagasan dan Jaga Ukhuwah

Muktamar NU ke-35 Harus Jadi Ajang Adu Gagasan dan Jaga Ukhuwah

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan agar forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut berlangsung dalam suasana riang gembira, penuh persaudaraan, dan mengedepankan adu gagasan.

Seruan itu disampaikan dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU yang mempertemukan sejumlah tokoh dan kader NU untuk membahas kepemimpinan serta arah organisasi menjelang Muktamar.

Dalam forum tersebut, kandidat Ketua Umum PBNU Hery Haryanto Azumi menilai seluruh kandidat yang maju dalam kontestasi kepemimpinan merupakan kader terbaik NU yang memiliki niat untuk mengabdi. Karena itu, kompetisi seharusnya tidak menjadi alasan untuk merusak hubungan persaudaraan di antara warga Nahdliyin.

“Muktamar ke depan harus menjadi forum yang riang gembira bagi semua kandidat. Siapa pun yang maju adalah kader terbaik Nahdlatul Ulama yang memiliki niat mengabdi. Karena itu, yang harus dikedepankan adalah adu gagasan, kompetisi yang sehat, dan ukhuwah antarsesama Nahdliyin,” ujar Hery.

Menurut Hery, dinamika kontestasi kepemimpinan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Namun, seluruh tahapan menuju Muktamar harus tetap berpegang pada akhlak, etika organisasi, serta tradisi persaudaraan yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan Nahdlatul Ulama.

Ia mengingatkan agar Muktamar tidak berubah menjadi arena yang mempertajam perpecahan. Sebaliknya, forum tersebut harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan mengenai arah NU di tengah perubahan zaman.

Silatnas Majelis Alumni IPNU yang dimoderatori Idy Muzayyad tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh NU, di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, KH Zulfa Musthofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Prof Masykuri Abdillah, dan KH Marsudi Syuhud.

Selain membahas kontestasi kepemimpinan, forum tersebut juga menyoroti tantangan NU memasuki abad kedua. Perubahan teknologi, ekonomi, geopolitik, sosial, hingga perkembangan peradaban global dinilai membutuhkan respons organisasi yang lebih adaptif.

Hery mengatakan NU harus mampu mempertahankan tradisi sekaligus menghadirkan jawaban atas persoalan baru yang muncul di masyarakat.

“NU harus tetap relevan terhadap situasi yang semakin kompleks. NU harus relevan bagi jam’iyah, relevan bagi negara, dan relevan untuk dunia. Memasuki abad kedua, NU dituntut mampu menjaga tradisi sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan zaman,” tegasnya.

Ia menyebut jaringan pesantren, kekuatan ulama, dan jutaan warga Nahdliyin yang tersebar di Indonesia maupun berbagai negara sebagai modal besar NU untuk memperkuat perannya.

Dengan kekuatan tersebut, NU dinilai memiliki peluang untuk tidak hanya mempertahankan tradisi keislaman, tetapi juga meningkatkan kontribusi dalam pembangunan bangsa dan menghadapi berbagai persoalan di tingkat global.

Silatnas Majelis Alumni IPNU menjadi salah satu ruang dialog menjelang Muktamar NU ke-35. Berbagai gagasan yang muncul diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai kepemimpinan dan masa depan organisasi.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/news/muktamar-nu-ke-35-harus-jadi-ajang-adu-gagasan-dan-jaga-ukhuwah